Kajian Timur Tengah

Beranda » Mesir

Category Archives: Mesir

Iklan

Menolak Buta Sejarah: Palestina 1896

Sebenarnya, konflik Palestina-Israel ini mudah dipahami, siapa yang salah, siapa yang benar. Pakai logika pun cukup. [1]
 
Yang bikin orang gagal paham adalah karena terlalu banyak noise (kebisingan gak jelas, mengaburkan akar masalah). Ada ahli kimia, ahli geologi, atau ahli saluran air mendadak berlagak jadi “pengamat Palestina-Israel”. [2]
 
Kalau untuk jadi dokter, orang musti kuliah bersusah-payah bertahun-tahun, tapi untuk jadi “pengamat Palestina-Israel”, banyak yang merasa, sekedar modal googling pun sudah jadi “ahlinya ahli”, lalu berlagak menjadi “pejuang toleransi” demi membela Israel.
Iklan

Mesir dan Mursi

Berikut ini beberapa tulisan lama saya soal Mesir pasca tergulingnya Mursi:
1. Pemetaan Konflik Mesir
https://dinasulaeman.wordpress.com/2013/07/28/pemetaan-konflik-mesir/
2. Ikhwanul Muslimin vs Militer: Analisis Psikologi Politik https://dinasulaeman.wordpress.com/2013/11/03/ikhwanul-muslimin-vs-militer-analisis-psikologi-politik/
3. Kedok Militer Mesir Akhirnya Terungkap https://dinasulaeman.wordpress.com/2013/11/30/kedok-militer-mesir-akhirnya-terungkap/
4. Mesir Pada Akhirnya
https://dinasulaeman.wordpress.com/2014/05/19/mesir-pada-akhirnya/

Ini tulisan baru, pernah diposting di fanpage ini tgl 9 Juni 2019
“Indonesia, Pelajarilah Perilaku Ikhwanul Muslimin di Suriah”
https://dinasulaeman.wordpress.com/2019/06/11/indonesia-pelajarilah-perilaku-ikhwanul-muslimin-di-suriah/

Ini yang lebih lama lagi, tahun 2012, mengenai apa yang dilakukan Mursi saat datang ke Teheran:
Dua Suara Miring dari KTT GNB Tehran
https://dinasulaeman.wordpress.com/2012/09/03/dua-suara-miring-dari-ktt-gnb-tehran/

Foto: Mursi mengibarkan bendera Mesir dan bendera FSA (pemberontak Suriah).

Innalillaahi wa inna ilahi roojiuun, lahul Faatihah.

Waspadai Bisnis Penggulingan “Rezim”

Mengamati perkembangan politik dalam negeri akhir-akhir ini, sebagai pengamat Timteng, saya langsung melihat persamaan polanya dengan apa yang terjadi di Timteng. Mengapa bisa sama? Ya karena memang para inisiator Arab Spring ‘berguru’ pada konsultan yang sama. Google saja nama NED atau Srdja Popovic. Keduanya adalah proxy dari kekuatan adidaya ekonomi dunia. Saya juga pernah cerita tentang hal ini di buku saya Prahara Suriah, bisa didonlot gratis. [1]

Revolusi Tunisia dipicu oleh tewasnya Bouazizi (membakar diri). Sebelum Bouazizi, sudah ada beberapa pemuda frustasi yang bunuh diri, tapi 17 Desember 2010 (hari kematian Bouazizi) adalah momen di mana para inisiator demo dengan kekuatan penuh memanfaatkan kematiannya dengan memainkan isu yang memang ‘relate’ (terhubung) dengan keresahan masyarakat umum (misal, kesulitan ekonomi, korupsi elit, dll) sehingga massa bisa didorong untuk turun ke jalan secara besar-besaran. Akhirnya, Presiden Ben Ali tumbang.

Di Mesir, ketika aksi-aksi protes mulai terjadi di awal Februari 2011 (dengan isu kesulitan ekonomi), tiba-tiba saja beberapa orang berkuda dan ber-unta menerobos kerumunan, terjadi kerusuhan, dan yang dituduh pelakunya tentu saja rezim Mubarak. Aksi-aksi demo semakin tereskalasi, semakin banyak korban berjatuhan, massa semakin marah, demo semakin besar, dan akhirnya, Mubarak tumbang.

(lebih…)

Reportase Saya dari Iran, Soal Hezbollah

Pagi-pagi baca postingan di Fanpage Felix Irianto Winardi membuat saya teringat pada arsip tulisan lama saya. Romo Felix menulis apa saja kunci kemenangan Hez lawan Israel selama ini (https://www.facebook.com/felix.irianto.winardi/posts/368004823955639).

Tahun 2006, saya menulis ‘laporan pandangan mata’ dari Iran, karena saat Perang 34 Hari Hez vs Israel berlangsung, saya sedang berada di Iran, bekerja sebagai jurnalis di IRIB.

***

Menatap Wajah Hezbollah dari Iran (Dina Sulaeman, dimuat di Padang Ekspres, 3 Agustus 2006)

Sejak meletusnya perang di Lebanon, suasana perang amat terasa di Iran, terutama jika kita banyak menonton televisi. Betapa tidak, tiap sebentar diputar filler (film pendek) berisi adegan-adegan perang, dilatarbelakangi lagu-lagu heroik berbahasa Arab. Pidato Sayid Hasan Nasrallah, pemimpin Hezbollah Lebanon, yang berisi ancaman-ancaman terhadap Israel disiarkan live atau siaran tunda. Laporan-laporan reporter televisi Iran disampaikan secara live dari Lebanon, bahkan ada reporter yang melaporkan kondisi terakhir dengan diiringi suara bom beruntutan dan asap hitam di belakang punggungnya. Setiap hari, berita channel satu pukul sembilan malam akan dimulai dengan kalimat, “Perjuangan hari kesekian (ketiga.. ke sembilan..ke duapuluh)…” lalu mengabarkan kondisi terbaru di medan perang.

(lebih…)

Mesir, Pada Akhirnya

sumber foto: nationalpost.com

sumber foto: nationalpost.com

Dina Y. Sulaeman*

Pada akhirnya, selalu terbukti bahwa politik yang membawa kemaslahatan umat adalah politik yang dijalankan oleh orang-orang visioner, mampu melihat jauh ke depan, dan mampu membedakan mana musuh, mana kawan. Misalnya, betapa dulu Rasulullah dicerca sebagian sahabatnya karena mau menandatangani perjanjian Hudaibiyah yang sekilas terlihat merugikan kaum muslimin. Namun waktu memberi bukti bahwa langkah Rasulullah itu sangat tepat dan membuktikan betapa beliau adalah politisi yang sangat visioner.

Sayangnya, hingga kini sangat banyak politisi yang mengusung perjuangan Islam yang terjebak pada kepentingan sesaat dan tidak mampu mendeteksi siapa sesungguhnya teman sejati.

Inilah yang tengah terjadi pada kelompok Ikhwanul Muslimin di Mesir. Perjuangan panjang mereka ‘mewarnai’ Mesir dengan nilai-nilai Islam dan ‘menguasai’ berbagai lini kehidupan sosial melalui berbagai aktivitas sosial yang simpatik, akhirnya buyar dalam hitungan bulan setelah mereka berhasil meraih tampuk kekuasaan. IM bahkan telah dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Sebelumnya pun, menurut kesaksian rekan saya, pejabat yang pernah tinggal di Mesir, tidak sengaja sholat di masjid yang dicap sebagai masjid IM-pun sudah bisa membuat seorang stafnya dijebloskan ke penjara. Hanya memasang foto pejuang Palestina di kamar kos juga telah membuat seorang mahasiswa Indonesia dipenjara. Bisa dibayangkan betapa mencekamnya kehidupan orang-orang IM di Mesir saat ini ketika ormas ini resmi dinyatakan terlarang.

Ada kisah menarik yang saya dapat dari pejabat Iran yang pernah berkunjung ke Indonesia, disampaikan secara informal, namun saya mempercayai akurasinya. Menurutnya, sejak awal Mursi naik ke tampuk kekuasaan, telah terjalin lobi-lobi diplomatik antara Iran dan Mesir (sebelumnya, pada era Mubarak, kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik akibat perbedaan tajam keduanya atas isu Israel; Mubarak sangat berpihak pada Israel). Di antara pesan penting yang disampaikan misi diplomatik Iran adalah: berdasarkan pengalaman revolusi Islam Iran, ada 3 langkah yang harus dilakukan agar pemerintahan Islam di Mesir tetap tegak, yaitu selalu bersama rakyat, jauhi eksklusivitas dan takfirisme, dan hati-hati dengan jebakan Barat.

(lebih…)

Kedok Militer Mesir Akhirnya Terungkap

Tak lama setelah Mursi terguling, saya menulis analisis Pemetaan Konflik Mesir. Artikel ini mendapat respon sangat luas, di FB telah di-share 5000 kali lebih, di IRIB dibaca lebih 60.000, dan entah berapa banyak yang membaca di situs The Global Review, atau yang memosting ulang di tempat-tempat lain. Bahkan staf Kemenlu pun memberikan apresiasinya, alhamdulillah.

Dalam artikel ini, selain mengungkapkan kesalahan-kesalahan fatal pemerintahan Mursi yang membuat jutaan rakyat Mesir turun ke jalan untuk mendemonya, saya juga sudah mengingatkan bahwa militer Mesir sama sekali bukan aktor baik (protagonis). Militer Mesir selama 30 tahun menjadi backing rezim Mubarak yang sangat keras terhadap oposisi, menerima hibah rutin 1,5 M Dollar pertahun dari AS, dan setelah melakukan kudeta militer (dengan mengatasnamakan kehendak rakyat), militer membentuk pemerintahan interim yang banyak diisi oleh orang-orang pro-AS. Saya juga menulis bahwa kudeta militer ini hanya akan memadamkan harapan bagi rakyat tertindas di berbagai negara muslim.

(lebih…)

Ikhwanul Muslimin vs Militer: Analisis Psikologi Politik

Ada dua berita tentang Mesir yang menarik untuk diamati lebih dalam. Pertama, terkait dengan aksi kekerasan mahasiswa pro-IM di kampus-kampus, terutama Al Azhar. Mereka menghalangi proses perkuliahan, merusak gedung-gedung kampus, termasuk membakar dan mencoret-coret dindingnya. Beberapa mahasiswa Indonesia yang tengah studi di Al Azhar menyatakan kekecewaaan mereka terhadap aksi ini di facebook. Ungkapan seperti atau “Kalau ingin meraih kekuasaan kembali, mengapa kampus dan proses perkuliahan yang diganggu?” atau “Katanya pejuang syariah, tapi mengapa perilakunya jauh dari syar’i?”

Sikap anarkhis aktivis IM, baik saat mereka berdemo di Rabaa (dokumentasi kekerasan mereka bisa dilihat di sini) maupun di kampus Al Azhar (videonya bisa dilihat di sini),  seolah membuat sebagian pihak menjustifikasi kekerasan militer terhadap mereka, sehingga muncul kalimat semaacam ini, “Pantas saja militer turun tangan membubarkan para demonstran IM karena perilaku mereka yang anarkhis!”

Para mahasiswa pro-IM membalas kecaman ini, “Yang dilakukan aktivisi IM itu masih belum seberapa dibanding kejahatan kudeta, pembunuhan, dan penangkapan para pemimpin IM yang dilakukan militer!” Meskipun ini adalah jawaban yang tidak logis karena menggunakan kaidah tabrir (menjustifikasi perilaku salah dengan menyebutkan kesalahan pihak lain), namun bukan berarti ini jawaban yang perlu diabaikan dalam analisis psikologi politik. Jawaban justifikasi ini justru menunjukkan apa yang ada dalam benak terdalam para aktivis IM.

Berita kedua adalah sebuah tulisan di The Guardian (dan sejalan isinya dengan tulisan di beberapa blog orang Mesir): tentang naik daunnya Jenderal El Sisi. (Sebagian) rakyat Mesir diberitakan mengelu-elukan El Sisi dan mengharapkan dia jadi presiden dalam pemilu mendatang. Berita ini benar-benar mengacaukan logika demokrasi. Hampir tiga tahun yang lalu, rakyat Mesir berdemo massal di Tahrir Square untuk menggulingkan pemerintahan korup Mubarak; pemerintahan despotik yang sangat didukung militer (bahkan militerlah tulang punggung rezim ini). Banyak demonstran yang menjadi korban kekerasan militer waktu itu. Lalu, bagaimana mungkin kini mereka malah menganggap militer sebagai pahlawan? Bagaimana mungkin, sosok El Sisi yang jelas-jelas dididik oleh AS dan bahkan ternyata keturunan Yahudi, dan punya paman yang anggota teroris Israel, Haganah; bahkan ketahuan berkomunikasi langsung dengan Israel menjelang masa penggulingan Mursi, tiba-tiba jadi pahlawan?

Apa yang sebenarnya terjadi? Untuk mencari jawabannya, analisis psikologi politik agaknya menarik untuk digunakan.

(lebih…)

Palestina dan Dr Jose

Sebelum ‘ribut-ribut’ soal Suriah, saya hanya ‘kenal nama’ saja dengan Dr. Joserizal. Beliau relawan MER-C yang aktif memberikan pertolongan kemanusiaan di berbagai wilayah konflik dan bencana, terutama Palestina. Ketika saya mulai sering disudutkan gara-gara bersuara melawan mainstream soal Suriah, saya mendapatkan tulisan beliau ‘Mengapa Harus Suriah‘ dan saya posting ulang di blog ini. Lalu, ketika saya selesai menulis buku Prahara Suriah, saya mengontak beliau via FB dan meminta endorsment dari beliau, alhamdulillah bersedia.

Lalu tiba-tiba, sebuah situs penebar kebencian menyebut Dr Joserizal Syiah, hanya gara-gara pendapat beliau soal Suriah. Saya spontan nulis status di FB membela beliau. Bukan apa-apa, saya sangat sadar bahwa fitnah terhadap Dr Jose sangat melemahkan upaya penggalangan bantuan untuk rakyat Palestina. Waktu itu, sudah ada yang bikin blog fitnahan terhadap saya. Foto saya, suami, dan anak-anak secara illegal ditaruh di blog itu dan dijelek-jelekkan. Tapi, saya pikir, saya toh ibu RT biasa. Kalau karakter saya dibunuh sedemikian rupa, sebenarnya ga banyak ‘rugi’. Emangnya siapa gue, gitu loh? Tapi, kalau Dr Jose yang merupakan tokoh penting perjuangan kita melawan Israel (lewat misi kemanusiaan), efeknya akan sangat besar.

Beberapa waktu yll, di FB, seorang wartawan (Hendi Jo) menulis status (karena dishare utk publik, saya pikir tidak salah bila saya copas di sini):

Beberapa hari lalu saya bertemu dengan dr.Joserizal Jurnalis di RS. Siaga, Pasar Minggu, niat ingin wawancara tapi jadi ngobrol-ngobrol santai ngalor ngidul. Saat saya tanya tentang tuduhan ia sudah menjadi Syiah sekarang, ia hanya tertawa saja.”Ya tuduhan itu membuat saya banyak kehilangan kawan, tapi ga apa-apa. Toh, saya yakin mereka tau siapa saya bahkan sejak dulu. Saya hanya ingin berdiri di tengah sekaligus memberitahukan bahwa apa yang saat ini kita tengah hadapi adalah murni soal politik bukan soal agama. Saya tak akan mati untuk mazhab atau organisasi. Kalau MER-C pun ternyata ke depannya tidak benar, bubarkan saja. Kan gampang?”

Subhanallah, sikap dan kalimatnya yang sedemikian tawakal dan positive thinking, memberi semangat ke saya yang sempat down gara-gara berbagai intimidasi ke saya. Iya ya.. emang saya rugi apa sih difitnah dan dijelek2in sedemikian parah oleh banyak orang begitu? Karir? Gw kaga punya karir pun.. *logat Upin Ipin* Uang..? Lha, emang itu media online, FB-er dan blogger yang menjelek-jelekkan saya itu selama ini ngasih duit gitu, ke saya? Bahkan yang remove-remove saya di FB itu aslinya juga tidak saya kenal. Yang memberi rizki itu Allah kok. Keselamatan? Saya sangat yakin, Allah akan melindungi saya sekeluarga. Laa hawlaa wa laa quwwata illaa billaah…

Dan, baru saja saya menonton video paparan Dr Jose soal konflik Timteng. Bagus sekali cara beliau memaparkan. Ini pertama kali saya menyaksikan beliau bicara.

(lebih…)

Kekuatan Blogger

Baru saja saya membaca tulisan seorang blogger yang sepertinya baru belajar ngeblog. Dia menuliskan rasa bangganya karena jumlah kunjungannya meningkat drastis. Yang membuat miris, sesuai yang diakuinya sendiri dengan penuh bangga, traffic blognya naik berkat tulisannya yang “menganalisis” seorang blogger lainnya, yaitu Dina Y. Sulaeman. Ckckckck… Luar biasa, dia menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan keimanan saya, mengira-ngira (atau dalam versi dia : ‘menganalisis’) apakah saya ini Syiah atau bukan, lalu menuliskannya. Dan dia bangga bisa menarik pengunjung dengan cara memfitnah orang lain.  Masya Allah, laa hawlaa walaa quwwata illaa billaah.

Ada blog lain lagi, yang anonim, tapi akhirnya saya tahu, penulisnya seorang dosen Unand bergelar Lc (artinya ngerti agama dong ya). Kalau ini sih bukan “menganalisis” lagi, tapi sudah menyerukan serangan fisik ke saya, karena tulisan saya (yang dituduhnya Syiah sesat) konon sudah “membuat fitnah soal senjata kimia di Suriah”. Sekali lagi, masya Allah… laa hawlaa walaa quwwata illaa billaah. (Eh, saya dapat info juga, ternyata si dosen blogger ini aktif mengumpulkan dana masyarakat untuk mujahidin Suriah. Begitu saya dapat info ini, langsung deh saya bilang ‘Ooooo..panteeeessss… ” You know what I mean?). Dan suer, saya sama sekali tidak mencari-cari atau mikirin blog ancaman ini dengan seksama, tapi info-info berdatangan begitu saja dari teman-teman saya (bahkan saya sampai tahu alamat rumah si dosen pengancam ini, insya Allah akan saya serahkan kepada polisi bila terjadi apa-apa atas diri saya).

Saya tidak akan membuat tulisan bantahan atas tulisan mereka. Toh semua isi pikiran saya sudah saya tuangkan di blog ini. Silahkan saja dibaca dan dibandingkan argumen-argumennya. Dan, yang jadi korban seperti saya ini juga bukan cuma saya. Ada teman blogger saya yang juga mengalami intimidasi serupa (bahkan lebih parah lagi), hanya gara-gara beliau selalu memberikan pengimbangan informasi. Yang disuarakan teman blogger saya ini sama dengan saya: konflik sektarian (adu domba sesama muslim) adalah strategi yang dimainkan Zionis Israel untuk melemahkan kaum muslimin. Buktinya jelas kan: perhatian terhadap Palestina sekarang sangat jauh berkurang. Semua energi dan fokus kaum muslimin berusaha dialihkan untuk membantu penggulingan Assad. Bahkan relawan yang aktif membantu perjuangan Palestina, Dr Joserizal dari MER-C pun dituduh Syiah hanya gara-gara menyuarakan hal serupa.

Saya hanya ingin menyoroti, bahwa ternyata nulis di blog itu memiliki kekuatan. Makanya seorang ibu rumah tangga kayak saya, yang ga punya karir apapun selain karir sebagai pengurus rumah tangga, ternyata membuat sebagian pihak takut dan melancarkan berbagai intimidasi.

(lebih…)

Menyikapi Kebijakan Luar Negeri Indonesia di Timur Tengah

Dina Y. Sulaeman*

“Selamatkan Mesir!”, “Kembalikan Mursi!” “Hancurkan Al Sisi!”, begitu pekik ribuan massa yang tergabung dalam Masyarakat Magelang Peduli Kemanusiaan (MMPK) saat menggelar aksi solidaritas untuk Mesir di pertigaan Palbapang Mungkid, Kabupaten Magelang, Jumat siang (23/8/2013). Dalam orasi, mereka menuntut Presiden SBY dan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk berperan aktif mengembalikan hak demokrasi Mesir yang disandera militer pimpinan Jenderal Abdul Fatah Al Sisi serta mengecam pembantaian Muslim pro-Mursi.

Demikian kutipan liputan Kompas (23/8). Dalam berbagai berita lain disebutkan bahwa tokoh-tokoh salah satu partai mendesak Presiden SBY untuk menarik Duta Besar RI berkuasa penuh di Mesir; SBY juga didesak agar aktif mendorong dikeluarkannya resolusi PBB untuk bisa menyeret pimpinan Militer Mesir ke Internasional Criminal Court atau ICC.

Masih belum cukup, dari luar pun ada tekanan untuk SBY. Republika (22/8) memberitakan bahwa PM Turki, Erdogan dan tokoh politik Malaysia, Anwar Ibrahim, meminta agar Presiden SBY lebih berperan menangani kemelut di dunia Arab (jelas yang dimaksud keduanya adalah Mesir, karena Erdogan secara verbal sudah berkonfrontasi dengan militer dan pemerintahan interim Mesir).

Berita lain yang dirilis Republika (23/8) lebih memprihatinkan lagi. KBRI Kairo menyayangkan pemberitaan di salah satu media online di Indonesia yang menggambarkan adanya sniper yang diarahkan ke Kantor KBRI Kairo. Dan bahkan, rupanya media online itu memuat foto yang ternyata sama sekali bukan foto di lokasi KBRI di Distrik Garden City, pusat Kota Kairo, ataupun Kantor Konsuler KBRI di Distrik Nasr City, Kairo Timur. Selain itu, KBRI menyayangkan klaim adanya pemuatan foto pasokan sembako dari KBRI Kairo di Kantor Konsuler Nasr City tersebut sebagai posko kemanusiaan yang dibuka oleh salah satu LSM.  “Perlu kami tegaskan bahwa KBRI Kairo adalah institusi pemerintah yang bebas dari kepentingan-kepentingan kelompok atau golongan, dan tidak diperkenankan untuk dimanfaatkan bagi kepentingan kelompok tertentu,” demikian KBRI.

Ulama asal Mesir yang banyak dipuja kaum muslimin Indonesia, Syekh Qaradhawi pun secara eksplisit menyebutkan nama Indonesia dalam seruannya kepada kaum muslimin seluruh dunia untuk berjihad mengembalikan ‘kebenaran’, yaitu mengembalikan Mursi yang telah dikudeta oleh militer ke kursi kepresidenan.

Hal-hal yang saya kutip di atas menunjukkan adanya upaya yang cukup masif untuk menyeret Indonesia, negara muslim terbesar di dunia, ke dalam konflik Timur Tengah.

Lalu, apa yang harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam hal ini? Bagaimana sebaiknya kebijakan LN Indonesia di Timteng?

Publik selama ini (terutama di jejaring sosial) mengecam presiden yang seolah cuma bisa ngomong ‘prihatin’ atau ‘menyerukan agar semua pihak menahan diri’. Kalau ngomong gitu aja sih semua juga bisa!  demikian kata sebagian orang. Benarkah demikian? (lebih…)