Kajian Timur Tengah

Beranda » Mesir (Laman 2)

Category Archives: Mesir

Kekuatan Blogger

Baru saja saya membaca tulisan seorang blogger yang sepertinya baru belajar ngeblog. Dia menuliskan rasa bangganya karena jumlah kunjungannya meningkat drastis. Yang membuat miris, sesuai yang diakuinya sendiri dengan penuh bangga, traffic blognya naik berkat tulisannya yang “menganalisis” seorang blogger lainnya, yaitu Dina Y. Sulaeman. Ckckckck… Luar biasa, dia menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan keimanan saya, mengira-ngira (atau dalam versi dia : ‘menganalisis’) apakah saya ini Syiah atau bukan, lalu menuliskannya. Dan dia bangga bisa menarik pengunjung dengan cara memfitnah orang lain.  Masya Allah, laa hawlaa walaa quwwata illaa billaah.

Ada blog lain lagi, yang anonim, tapi akhirnya saya tahu, penulisnya seorang dosen Unand bergelar Lc (artinya ngerti agama dong ya). Kalau ini sih bukan “menganalisis” lagi, tapi sudah menyerukan serangan fisik ke saya, karena tulisan saya (yang dituduhnya Syiah sesat) konon sudah “membuat fitnah soal senjata kimia di Suriah”. Sekali lagi, masya Allah… laa hawlaa walaa quwwata illaa billaah. (Eh, saya dapat info juga, ternyata si dosen blogger ini aktif mengumpulkan dana masyarakat untuk mujahidin Suriah. Begitu saya dapat info ini, langsung deh saya bilang ‘Ooooo..panteeeessss… ” You know what I mean?). Dan suer, saya sama sekali tidak mencari-cari atau mikirin blog ancaman ini dengan seksama, tapi info-info berdatangan begitu saja dari teman-teman saya (bahkan saya sampai tahu alamat rumah si dosen pengancam ini, insya Allah akan saya serahkan kepada polisi bila terjadi apa-apa atas diri saya).

Saya tidak akan membuat tulisan bantahan atas tulisan mereka. Toh semua isi pikiran saya sudah saya tuangkan di blog ini. Silahkan saja dibaca dan dibandingkan argumen-argumennya. Dan, yang jadi korban seperti saya ini juga bukan cuma saya. Ada teman blogger saya yang juga mengalami intimidasi serupa (bahkan lebih parah lagi), hanya gara-gara beliau selalu memberikan pengimbangan informasi. Yang disuarakan teman blogger saya ini sama dengan saya: konflik sektarian (adu domba sesama muslim) adalah strategi yang dimainkan Zionis Israel untuk melemahkan kaum muslimin. Buktinya jelas kan: perhatian terhadap Palestina sekarang sangat jauh berkurang. Semua energi dan fokus kaum muslimin berusaha dialihkan untuk membantu penggulingan Assad. Bahkan relawan yang aktif membantu perjuangan Palestina, Dr Joserizal dari MER-C pun dituduh Syiah hanya gara-gara menyuarakan hal serupa.

Saya hanya ingin menyoroti, bahwa ternyata nulis di blog itu memiliki kekuatan. Makanya seorang ibu rumah tangga kayak saya, yang ga punya karir apapun selain karir sebagai pengurus rumah tangga, ternyata membuat sebagian pihak takut dan melancarkan berbagai intimidasi.

(lebih…)

Menyikapi Kebijakan Luar Negeri Indonesia di Timur Tengah

Dina Y. Sulaeman*

“Selamatkan Mesir!”, “Kembalikan Mursi!” “Hancurkan Al Sisi!”, begitu pekik ribuan massa yang tergabung dalam Masyarakat Magelang Peduli Kemanusiaan (MMPK) saat menggelar aksi solidaritas untuk Mesir di pertigaan Palbapang Mungkid, Kabupaten Magelang, Jumat siang (23/8/2013). Dalam orasi, mereka menuntut Presiden SBY dan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk berperan aktif mengembalikan hak demokrasi Mesir yang disandera militer pimpinan Jenderal Abdul Fatah Al Sisi serta mengecam pembantaian Muslim pro-Mursi.

Demikian kutipan liputan Kompas (23/8). Dalam berbagai berita lain disebutkan bahwa tokoh-tokoh salah satu partai mendesak Presiden SBY untuk menarik Duta Besar RI berkuasa penuh di Mesir; SBY juga didesak agar aktif mendorong dikeluarkannya resolusi PBB untuk bisa menyeret pimpinan Militer Mesir ke Internasional Criminal Court atau ICC.

Masih belum cukup, dari luar pun ada tekanan untuk SBY. Republika (22/8) memberitakan bahwa PM Turki, Erdogan dan tokoh politik Malaysia, Anwar Ibrahim, meminta agar Presiden SBY lebih berperan menangani kemelut di dunia Arab (jelas yang dimaksud keduanya adalah Mesir, karena Erdogan secara verbal sudah berkonfrontasi dengan militer dan pemerintahan interim Mesir).

Berita lain yang dirilis Republika (23/8) lebih memprihatinkan lagi. KBRI Kairo menyayangkan pemberitaan di salah satu media online di Indonesia yang menggambarkan adanya sniper yang diarahkan ke Kantor KBRI Kairo. Dan bahkan, rupanya media online itu memuat foto yang ternyata sama sekali bukan foto di lokasi KBRI di Distrik Garden City, pusat Kota Kairo, ataupun Kantor Konsuler KBRI di Distrik Nasr City, Kairo Timur. Selain itu, KBRI menyayangkan klaim adanya pemuatan foto pasokan sembako dari KBRI Kairo di Kantor Konsuler Nasr City tersebut sebagai posko kemanusiaan yang dibuka oleh salah satu LSM.  “Perlu kami tegaskan bahwa KBRI Kairo adalah institusi pemerintah yang bebas dari kepentingan-kepentingan kelompok atau golongan, dan tidak diperkenankan untuk dimanfaatkan bagi kepentingan kelompok tertentu,” demikian KBRI.

Ulama asal Mesir yang banyak dipuja kaum muslimin Indonesia, Syekh Qaradhawi pun secara eksplisit menyebutkan nama Indonesia dalam seruannya kepada kaum muslimin seluruh dunia untuk berjihad mengembalikan ‘kebenaran’, yaitu mengembalikan Mursi yang telah dikudeta oleh militer ke kursi kepresidenan.

Hal-hal yang saya kutip di atas menunjukkan adanya upaya yang cukup masif untuk menyeret Indonesia, negara muslim terbesar di dunia, ke dalam konflik Timur Tengah.

Lalu, apa yang harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam hal ini? Bagaimana sebaiknya kebijakan LN Indonesia di Timteng?

Publik selama ini (terutama di jejaring sosial) mengecam presiden yang seolah cuma bisa ngomong ‘prihatin’ atau ‘menyerukan agar semua pihak menahan diri’. Kalau ngomong gitu aja sih semua juga bisa!  demikian kata sebagian orang. Benarkah demikian? (lebih…)

Tangan Israel di Suriah dan Mesir

(Diterjemahkan dan diberi ulasan oleh Dina Y. Sulaeman dari artikel Syria chemical mayhem: Another Israeli false-flag? karya Dr. Kevin Barret)

Pada hari Rabu, hanya beberapa jam setelah pembunuhan massal ratusan orang Suriah dengan senjata kimia,  Menteri Militer [karena tidak cocok diterjemahkan jadi ‘Menteri Pertahanan’, mereka tidak bertahan tapi menjajah] Israel, Moshe Yaalon, mengklaim bahwa dia tahu siapa pelaku pembunuhan missal itu: pemerintah Suriah.

Para pemimpin dunia lainnya, termasuk President AS, Barack Obama, tidak tergesa-gesa memberi penilaian. Mereka ‘hanya’ mengimbau PBB untuk menyelidiki. Banyak ahli, termasuk Frank Gardner dari BBC, mantan inspektur senjata PBB  Rolf Ekeus, dan ahli senjata kimia Swedia, Ake Sellstrom, menertawakan atau meragukan tuduhan bahwa Presiden Suriah, Assad, akan melancarkan serangan senjata kimia pada saat bersamaan dengan keberadaan para penyelidik PBB di Suriah. Sementara itu, Perdana Menteri Rusia, menyebut bahwa serangan senjata kimia itu sebagai ‘provokasi yang sudah direncanakan sebelumnya’

Tapi, Direncanakan Oleh Siapa?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu bertanya pula: bagaimana mungkin Israel langsung tahu siapa pelaku serangan senjata kimia itu?

Selama ini, para pemimpin Israel memang memiliki kemampuan yang ‘mengagumkan’ dalam urusan ‘meramal’. Kapan saja ada kejadian serangan teror besar yang mengubah sejarah, orang Israel langsung tahu, siapa pelakunya. Belum lagi asap mereda, mereka sudah berdiri dan mengatakan kepada dunia apa yang sedang terjadi dan menyediakan ‘naskah’ kepada dunia supaya bereaksi sebagaimana yang mereka inginkan.

Misalnya saja, dalam kasus terror di gedung WTC (peristiwa 9-11). Jurnalis Christopher Bollyn mengatakan, “Hanya dalam hitungan menit setelah pesawat menabrak gedung WTC pada 9/11, Ehud Barak (pendiri dan pemimpin satuan operasi militer rahasia Israel, the Sayeret Matkal) berada di London, di studio BBC, siap menyediakan penjelasan yang ‘masuk akal’ (dan politis) kepada dunia. Barak, yang sebenarnya merupakan arsitek 9/11, justru orang pertama yang menyebutkan ‘Perang Melawan Terorisme’ dan seruan intervensi AS di Afghanistan Timur Tengah.”

(lebih…)

Perlukah Mendukung IM (Ahmad Sadzali)

Sebelumnya, militer, pemerintahan interim, dan Al Azhar sudah mengajak IM untuk bernegosiasi, namun ditolak IM. Dalam teori resolusi konflik, memang sulit diadakan negosiasi bila pihak yang inferior (dalam posisi lebih lemah) berkeras meminta semua (win-lose solution). Yang seharusnya dicapai adalah win-win solution, tetapi untuk itu masing-masing pihak musti mau memberi konsesi. Nah menghadapi situasi ini, yang dilakukan IM malah menyerukan jihad (bahkan yang diseru jihad oleh ulama IM, Yusuf Qaradhawi, juga umat Islam Indonesia dan Malaysia). Akhirnya kemarin militer Mesir melakukan kekerasan untuk membubarkan demonstran, ratusan demonstran IM tewas, meskipun di saat yang sama, belasan polisi/militer juga tewas/terluka (karena demonstran IM ternyata juga memiliki senjata dan bahkan melontarkan roket ke tentara).  [angka ratusan ini yang paling moderat, setelah dibanding-bandingkan antara berbagai media; namun media pro IM umumnya mengklaim ada ribuan yang tewas].

Lalu bagaimana kita (bangsa Indonesia) musti bersikap? Tulisan berikut ini dengan jernih memberikan jawabannya,

Oleh: Ahmad Sadzali
(mahasiswa Universitas al-Azhar, Kairo, asal Martapura)

Berbicara soal kudeta di Mesir mungkin tidak akan ada habisnya. Banyak sekali fenomena dan pelajaran yang dapat kita ambil. Salah satu fenomena dan pelajaran yang paling penting dari krisis Mesir ini adalah terbuktinya ukhuwah Islamiah yang sangat kuat di antara sesama umat Islam.

Melihat presiden Mesir Dr Muhammad Mursi dari kelompok Islamis Ikhwanul Muslimin dikudeta militer Mesir, hampir serentak umat Islam di berbagai penjuru dunia mengecam kudeta tersebut.

Terlebih lagi ketika melihat kedzaliman yang dilakukan oleh militer Mesir dengan menembaki pendukung Mursi hingga ratusan korban jiwa telah berjatuhan, umat Islam semakin geram dengan ulah militer tersebut. Sebagai sesama Muslim, kita tentu pasti membela saudara kita yang tengah didzalimi.

Namun ada hal yang sangat disayangkan di sini yaitu ketika ukhuwah Islamiah yang begitu kuat itu dipolitisi untuk ambisi politik. Kisruh di Mesir yang aslinya adalah murni krisis politik, lantas dihubungkan dengan agama Islam, dengan alasan ukhuwah, solidaritas, jihad, dan lain sebagainya.

Perkembangan pola pikir seperti ini tentunya tidak baik dan tidak sehat bagi ukhuwah umat Islam itu sendiri. Genderang solidaritas, apalagi jihad yang ditujukan kepada sesama Muslim hanya akan memperburuk kondisi umat Islam saja. Hasilnya, umat Islam akan semakin terpecah-belah.

Sangat riskan jika selanjutnya terdapat tuduhan bahwa yang mengkudeta Mursi itu adalah musuh umat Islam. Apa kita lupa bawah rakyat Mesir yang mendukung kudeta itu juga beragama Islam? Bahkan di belakangnya juga ada kelompok Islamis seperti Salafi dan institusi keagamaan terbesar, al-Azhar. Lantas apakah kita sudah menganggap sesama Muslim sendiri sebagai musuh?

Oleh karena itulah, ulama-ulama al-Azhar lantas dengan tegas menyatakan bahwa kisruh politik Mesir saat ini tidak ada sangkut-pautnya dengan agama Islam. Jadi jangan sampai membawa simbol-simbol Islam dalam perkara itu, hanya untuk mencari simpati dari kekuatan ukhuwah Islamiah. Itu murni urusan politik dan perebutan kekuasaan.

Namun pernyataan ulama-ulama al-Azhar itu lantas banyak yang diselewengkan dan tidak dipahami secara benar. Untuk itulah penting sekali pernyataan seperti itu dijelaskan secara baik, sehingga tidak terjadi salah paham.

Sikap ulama-ulama Al-Azhar sebenarnya bukan pro-militer, tapi mengedepankan maslahat dan benar-benar berpegang teguh pada prisip syariat Islam. Pernyataan bahwa urusan Ikhwanul Muslimin dan krisis di Mesir sekarang memang benar tidak ada sangkut pautnya dengan agama Islam. Itu adalah masalah politik dan perebutan kekuasaan, tidak ada sangkut pautnya dengan agama.

Namun sayangnya, terkadang di poin ini tidak sedikit orang-orang yang salah memahaminya. Mendengar bahwa politik tidak ada hubungannya dengan agama, lantas pernyataan itu dinilai sekular atau liberal. Padahal yang dimaksud bukan demikian.

Politik dan agama Islam itu sangat erat hubungannya. Bahkan tidak bisa dipisahkan. Konsep politik Islam selalu berlandaskan nilai-nilai dan ajaran agama Islam. Bukan hanya politik saja, melainkan seluruh aspek kehidupan manusia telah diatur oleh Islam. Jadi, sangat tidak mungkin jika konsep politik dalam Islam justru terlepas dari Islam.

Akan tetapi, yang dimaksud para ulama al-Azhar dengan pernyataan tersebut adalah, kasus yang terjadi sekarang di Mesir, bukan perjuangan agama apalagi perang agama, melainkan perjuangan perebutan kekuasaan.

(lebih…)

Pemetaan Konflik Mesir

Dina Y. Sulaeman*

Pengantar: Dalam artikel panjang ini penulis akan melakukan pemetaan konflik dengan harapan agar publik bisa melihat situasinya dengan lebih jernih. Ini penting karena opini publik Indonesia atas konflik ini terlihat mulai keruh oleh sikap-sikap takfiriah. Yang tidak mendukung Mursi dituduh anti-Islam. Bahkan banyak yang seenaknya berkata: yang anti-Mursi pasti Syiah atau Yahudi (dan keduanya bersekongkol!). Jelas ini pernyataan yang tidak logis, tidak cerdas, dan semata didasarkan pada kebencian yang membabi-buta. Sebaliknya, yang menolak kudeta pun, belum tentu pro-Mursi atau pro-takfiri. Bahkan, negara yang paling awal mengecam penggulingan Mursi dan menyebutnya sebagai kudeta militer justru Iran. Sebaliknya, yang pertama kali memberikan ucapan selamat kepada militer Mesir justru Arab Saudi.

(1)   Ikhwanul Muslimin

Muhammad Mursi, doktor lulusan AS dan aktivis Ikhwanul Muslimin (IM) naik ke tampuk kekuasaan dengan memenangi 52% suara dalam pemilu bulan Juni 2012. Jumlah turn-out vote saat itu hanya sekitar 50%. Artinya, secara real Mursi hanya mendapatkan dukungan seperempat dari 50 juta rakyat Mesir yang memiliki hak suara (karena ‘lawan’ Mursi saat itu hanya satu orang, Ahmad Shafiq, mantan perdana menteri era Mubarak). Dalam posisi seperti ini, bila benar-benar menganut azas demokrasi, idealnya Mursi melakukan pembagian kekuasaan dengan berbagai pihak.

Awalnya, Mursi memang memberikan sebagian jabatan dalam kabinetnya kepada tokoh-tokoh yang tadinya berada di pemerintahan interim militer. Namun sikap kompromistis Mursi tak bertahan lama. Pada bulan Agustus 2012, Mursi mulai melakukan ‘pembersihan’ di tubuh pemerintahannya. Bahkan pada bulan November 2012, Mursi mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa semua produk hukum yang dihasilkan anggota parlemen (yang didominasi Ikhwanul Muslimin) tidak bisa dibatalkan pengadilan. Dekrit ini ditentang kaum sekuler dan minoritas karena mengkhawatirkan produk UU yang meng- ‘Ikhwanisasi’ Mesir. Mereka pun berdemo besar-besaran di Tahrir Square.

Situasi semakin memanas seiring dengan sikap sektarianisme yang ditunjukkan para aktivis IM dan aliansi utama mereka, kalangan Salafi. Bila pada era Mubarak semua sikap politik-relijius  dari semua pihak diberangus, pada era Mursi yang terjadi adalah pembiaran kelompok berideologi takfiri (gemar mengkafirkan pihak lain) untuk menyebarluaskan pidato-pidato kebencian melalui berbagai kanal televisi dan radio.

Tidak cukup dengan pidato, aksi-aksi kekerasan fisik pun mereka lakukan. Korban sikap radikal mereka ini bahkan ulama Al Azhar. Pada 28 Mei 2013 kantor Grand Sheikh Al Azhar diserbu kelompok takfiri yang meneriakkan caci-maki, menyebut Al-Azhar sebagai institusi kafir. Tudingan ini dilatarbelakangi sikap moderat yang selalu diambil ulama Al Azhar dalam berbagai isu. Label kafir memang sering disematkan oleh pihak  pro-Mursi terhadap para penentangnya.  Puncaknya adalah peristiwa pembantaian terhadap orang-orang Syiah yang sedang mengadakan acara maulid Nabi di kawasan Zawiyat Abu Musallem.

Dalam kebijakan luar negerinya, Mursi pun tidak mendahulukan kepentingan nasional Mesir, melainkan kepentingan ideologis transnasional IM. Dalam konflik Suriah misalnya, di mana IM Suriah berperan aktif, Mursi memilih berpihak kepada kelompok oposisi. Mursi bahkan menjadi tuan rumah bagi muktamar para ulama di Kairo pada Juni 2012 yang merekomendasikan jihad, bantuan dana, dan suplai senjata untuk pemberontak Suriah. Ratusan jihadis asal Mesir pun ternyata sudah tewas di Suriah. Istilah gampangnya: negara sedang susah kok malah menghabiskan energi untuk ngurusin perang di negara lain?

(lebih…)

Apakah Sunni = Takfiri?

Dina Y. Sulaeman*
Mau tak mau, ada beberapa istilah yang sepertinya harus kita pahami bersama saat menganalisis atau membaca analisis tentang konflik Timur Tengah. Beberapa istilah yang sering muncul dalam membahas konflik Suriah adalah takfiri dan wahabi. Era Muslim baru-baru ini dalam sebuah artikel yang mengutip pidato Sayyid Hassan Nasrallah, membuat judul yang provokatif : Hasan Nasrallah : Kami Tidak akan Biarkan Suriah Jatuh Ke ‘Takfiri’ (Muslim Sunni).

Eits, sebentar, judul ini cukup mengganggu pikiran saya. Takfiri adalah perilaku mengkafir-kafirkan sesama muslim dan melakukan kekerasan terhadap orang yang mereka anggap kafir. Apakah benar takfiri itu adalah muslim Sunni? Saya tanya kepada Anda semua yang mengaku Sunni, apakah Anda menyukai perilaku demikian? Apakah Anda menyukai perilaku main serang ke sebuah lembaga atau sebuah kampung hanya dengan alasan lembaga itu kafir atau penduduk kampung itu kafir (muslim tapi karena dinilai ‘sesat’, jadi dikategorikan kafir)? Atau apa Anda setuju dengan perilaku pemberontak Suriah yang makan jantung mayat atau memutilasi mayat sambil berteriak takbir? Saya yakin, jawaban sebagian besar dari kita semua adalah TIDAK.

Baru-baru ini ada kejadian yang menurut saya membuktikan bahwa kaum takfiri itu beda dengan Sunni. Kejadian ini berlangsung di kantor Grand Shaikh Al-Azhar Kairo Mesir (Masyikhah). Wah, para syekh Al Azhar ini kurang Sunni apa? Mereka kan benar-benar Sunni tulen, sudah tingkat ulama ‘Grand” pula? Tapi, kantor mereka digeruduk oleh para demonstran dari kalangan ‘Islam radikal’ (ini istilah yang dipakai dalam berita ini. Tapi, di berita itu disebutkan pula bahwa mereka meneriakkan yel-yel dan cacian terhadap instansi Al-Azhar, Grand Shaikh Al-Azhar Prof. DR. Ahmad Thayeb, dan seluruh pegawai Al-Azhar. Mereka menyatakan bahwa Al-Azhar adalah instansi kafir. So tak salah lagi, inilah kaum takfiri itu. Bahwa para penentang ulama Al Azhar adalah kaum takfiri, bisa dibaca juga dalam pernyataan seorang Syekh Al Azhar, Dr. Ahmad Karimah di sini.

Saya pun bertanya kepada Bapak Agus Nizami, blogger http://www.kabarislam.wordpress.com dan owner web http://www.media-islam.or.id yang aktif memberikan analisis konflik Timur Tengah dengan menggunakan landasan teks agama.  Berikut kutipan diskusi kami.

(lebih…)

Apa Kabar Gaza?

Apa Kabar Gaza?

Dina Y. Sulaeman*

Hiruk-pikuk aksi ‘jihad’ di Syria, serbuan Prancis dan sekutunya ke Mali untuk ‘menumpas terorisme’, atau eskalasi konflik politik di Kairo, seolah mengalihkan perhatian publik terhadap nasib warga Gaza. Apa kabar mereka sekarang?  Ternyata, nasib mereka masih belum berubah. Mereka masih berada dalam penjara virtual raksasa yang diciptakan Israel. Mereka dihalangi keluar melewati laut atau daratan yang berbatasan dengan Israel.  Satu-satunya jalan adalah dengan menggali ratusan terowongan yang menghubungkan Gaza dengan Mesir. Terowongan-terowongan itu adalah lifeline rakyat Gaza, jalur yang memberikan mereka kehidupan. Terowongan-terowongan itulah yang memberi mereka akses keluar-masuk yang sangat dibutuhkan untuk membeli barang-barang kebutuhan hidup, termasuk makanan dan obat-obatan, serta menjual barang produksi mereka agar mereka bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan perut, serta untuk membawa para penderita sakit ke rumah sakit di Mesir.

Kemenangan Mursi dalam pilpres Mesir membawa harapan baru bagi rakyat Gaza. Mursi dikenal sebagai presiden saleh yang hafal Quran dan berasal dari gerakan Ikhwanul Muslimin, mana mungkin tega membiarkan saudara seimannya terpenjara di Gaza?  Namun harapan tinggal harapan. Pada bulan Juli 2012, rezim Mursi sempat membuka gerbang Rafah. Namun sejak Agustus 2012, gara-gara ada 16 tentara Mesir yang dibunuh teroris, Mesir kembali menutupnya.

Israel mengklaim bahwa setelah membunuh tentara Mesir, para teroris itu membajak dua kendaraan militer Israel lalu melarikan diri memasuki wilayah Israel. Mereka pun kemudian  ditembak oleh tentara Israel. Pernyataan ini tentu saja terasa aneh. Bila benar demikian, sudah dipastikan teroris itu bukan pejuang Palestina, lalu mengapa perbatasan Rafah yang ditutup? Apa untungnya bagi orang Palestina membunuh tentara Mesir?

Apapun jawabannya, Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak sudah memberi pernyataan, “Serangan itu menandakan Pemerintah Mesir perlu mengambil tindakan untuk menegakkan keamanan dan mencegah teror di Sinai.”  Dan, Mursi pun menurut: gerbang  Rafah kembali ditutup. Meskipun beberapa kali ada berita Mursi membuka gerbang, namun secara umum, gerbang Rafah dinyatakan tertutup. Dan rakyat Gaza kembali menggantungkan harapan kepada terowongan galian mereka.

(lebih…)

Antara Mesir, Iran, dan Syria

Dina Y. Sulaeman*

“Saya yakin di era baru ini, bangsa Mesir akan bergerak menuju puncak kehormatan dan kemajuan.”

[ucapan selamat Ahmadinejad kepada Mursi, atas keberhasilan referendum Mesir, 25/12/12]

Menarik sekali mengamati fenomena Mesir akhir-akhir ini. Setelah sebelumnya pemimpin Barat dan medianya sangat pro-revolusi Mesir, memberikan dukungan besar-besaran atas apa yang mereka sebut ‘proses demokratisasi Mesir’, angin pun berbalik. Sejak Presiden Mursi ‘nekad’ mengeluarkan Dekrit 22 November, media Barat beramai-ramai menghujatnya. Simak saja liputan CNN, AlJazeera (yang meskipun bermarkas di Qatar namun sejatinya corong Barat di Timur Tengah), atau New York Times. Sudut pandang pemberitaan mereka seragam: kelangsungan revolusi Mesir telah terancam; demokrasi telah disingkirkan oleh Ikhwanul Muslimin. Dengan gaya liputan yang seperti biasanya selama ini, mereka mewawancarai orang-orang di jalanan yang anti Mursi, sehingga seolah-olah sebagian besar rakyat Mesir memang marah pada Mursi. Tokoh-tokoh anti-Mursi pun naik daun, diwawancarai berkali-kali dan suara mereka seolah menjadi mewakili keinginan rakyat Mesir. Demo anti Mursi dibesar-besarkan, sementara demo pro-Mursi tidak diliput seimbang.

Dan, tentu saja, media-media yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin pun berjuang sebisanya meng-counter pemberitaan Barat itu. Blogger-blogger dari Al Azhar sibuk menulis, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di Mesir. Intinya, menurut versi mereka, sesungguhnya niat Mursi itu baik, karena tanpa dekrit, upaya perumusan konstitusi baru Mesir akan selalu diganggu oleh kelompok yang pro-Mubarak dan pro-Barat.

Hey, tidakkah ini seharusnya menimbulkan deja vu?

(lebih…)

Terungkapnya Jati Diri Para Aktor di Syria

(dimuat di IRIB dan The Global Review)

Dina Y. Sulaeman*

Konflik di Syria telah memasuki fase baru. Bila sebelumnya kaum oposisi ‘berjuang’ di bawah bendera Syrian National Council dan Free Syrian Army (FSA), kini masing-masing faksi di dalamnya mulai berpecah dan menampakkan ideologinya masing-masing. SNC dan FSA dibentuk di Turki. Di dalam FSA bernaung sebagian besar milisi (sebagian pihak menyebutnya ‘mujahidin’), termasuk Al Qaida. Mereka menjadikan Sheikh Adnan Al-Arour yang tinggal di Arab Saudi sebagai pemimpin spiritual. Dalam salah satu pidatonya yang bisa dilihat di You Tube, Al Arour menjanjikan bahwa bila pasukan mujahidin menang, kaum Alawi akan ‘dicincang lalu dberikan ke anjing’.

Kaum muslim ‘moderat’, dipimpin oleh Ikhwanul Muslimin, memilih untuk bergabung dalam National Coalition for Syrian Revolutionary and Opposition Forces yang baru dibentuk bulan November lalu di Doha, Qatar. Koalisi baru ini didukung oleh Qatar, Arab Saudi, AS, Inggris, dan Prancis. Negara-negara tersebut selama ini memang sudah membiayai, mengirimi senjata, dan memfasilitasi kedatangan pasukan ‘jihad’ dari berbagai negara Arab dan Libya untuk membantu FSA, namun kini secara terbuka telah menyatakan akan mengirim bantuan senjata kepada koalisi baru tersebut. Jadi, meskipun ‘moderat’, koalisi baru ini tetap akan angkat senjata melawan rezim Assad.

(lebih…)

Mengapa Iran Tak Serang Israel?

Oleh: Dina Y. Sulaeman

Pertanyaan ini sering muncul di dalam berbagai diskusi di dunia maya, “Kalau Iran betul-betul anti-Israel, mengapa Iran sampai sekarang tidak jua menyerang Israel?” Pertanyaan ini konteksnya adalah menuduh Iran omdo (omong doang), bahkan ada yang lebih parah lagi, menggunakan teori konspirasi, “Ini bukti bahwa ada kerjasama di balik layar antara Iran dan Israel.”

Bila memakai kalkulasi hard power, harus diakui bahwa sebenarnya kekuatan Iran masih jauh di bawah AS. Apalagi, doktrin militer Iran adalah defensive (bertahan, tidak bertujuan menginvasi negara lain). Iran hanya menganggarkan 1,8% dari pendapatan kotor nasional (GDP)-nya untuk militer (atau sebesar 7 M dollar). Sebaliknya, AS adalah negara dengan anggaran militer terbesar di dunia, yaitu 4,7% dari GDP atau sebesar  687 M dollar. Bahkan, AS telah membangun pangkalan-pangkalan militer di berbagai wilayah di sekitar Iran. AS adalah pelindung penuh Israel dan penyuplai utama dana dan senjata untuk militer Israel. Bujet militer Israel sendiri, pertahunnya mencapai 15 M Dollar (dua kali lipat Iran).

(lebih…)