Kajian Timur Tengah

Beranda » My Daily Life

Category Archives: My Daily Life

Kesaksian

Di obrolan-obrolan di kolom komen, ada kesaksian menarik dari orang yang tinggal Turki; ada juga cerita dari orang yang tinggal di Suriah. Saya juga nimbrung, cerita sedikit pengalaman waktu ke Suriah dulu.

Lalu, saya jadi teringat pada kisah lama ini.

Tahun 2013, saya dipertemukan dengan jurnalis Suriah yang datang ke Bandung. Kami mengobrol di sebuah tempat yang sangat terhormat, Museum Konperensi Asia Afrika. Beliau datang sebagai tamu dalam acara di sana. Suriah memang sahabat lama Indonesia, negara kedua yang mengakui kemerdekaan Indonesia [negara pertama: Mesir pada 1946; Suriah pada 1947]. Suriah hadir memenuhi undangan Bung Karno dalam KAA 1955. Asal tahun saja, waktu itu Barat mengintimidasi negara-negara berkembang agar jangan hadir ke KAA. Tapi Suriah tetap datang.

(lebih…)

Troll Israel

Di berita tahun 2013 ini disebutkan: Kantor Perdana Menteri Israel memiliki rencana jangka panjang untuk memanfaatkan pelajar dan pendukung Israel lainnya di SELURUH DUNIA dalam upaya membela Israel di media sosial.

Program ini juga melibatkan pemberian beasiswa untuk mahasiswa lokal yang akan menyebarkan pesan tentang Israel di media interaktif, serta pengkoordinasian upaya media sosial dengan organisasi Yahudi, kelompok Facebook dan dengan kelompok mahasiswa pro-Israel di seluruh dunia.

**

(lebih…)

Absurditas Tatanan Dunia

(tulisan saya, dimuat di koran Pikiran Rakyat, 13/1)

Serangan udara militer AS terhadap dua tokoh penting dalam peperangan melawan ISIS di Timur Tengah, Jenderal Qassem Soleimani (komandan Pasukan Al Quds, Iran) dan Abu Mahdi Al Muhandisi (komandan pasukan Hashd Al Shaabi, Irak), telah memunculkan kegaduhan besar di dunia internasional. Apalagi kemudian Iran melakukan serangan balasan dengan meluncurkan rudal ke pangkalan militer AS di Ain Al Assad Irak pada Rabu dini hari (8/1). Kekhawatiran akan terjadinya Perang Dunia ke-3 muncul seiring dengan kekhawatiran akan naiknya harga minyak dunia yang pasti akan berimbas kepada perekonomian dunia, termasuk Indonesia.

Presiden AS Donald Trump merespon serangan itu dengan pernyataan de-eskalasi (penurunan ketegangan), yaitu AS tidak akan berperang dengan Iran. Ada banyak analisis yang dikemukakan atas respon Trump, di antaranya, AS ditengarai mengkhawatirkan keamanan Israel yang akan terancam bila perang berlanjut. Analisis lainnya menyatakan bahwa pernyataan yang lunak itu muncul karena sekutu AS di kawasan dan di NATO ternyata tidak memberikan dukungan kepada AS untuk melanjutkan perang.

Sementara ini ketegangan terlihat semakin menurun karena fokus negara-negara yang terlibat terdistraksi oleh kasus kecelakaan pesawat Ukraine Airlines. Pesawat itu lepas landas dari Imam Khomeini International Airport, Teheran, lima jam setelah penembakan rudal ke Ain Al Assad. Angkatan Bersenjata Iran telah mengakui, dan menyatakan penyesalan mendalam, atas terjadinya human error yang menyebabkan pesawat itu tertembak oleh Sistem Pertahanan Udara (Air Defence System).

(lebih…)

Pendiri White Helmets Tewas Bunuh Diri?

Baru saja berbagai media memberitakan matinya pendiri White Helmets, James Le Mesurier. Ia tewas terjatuh dari balkon apartemennya di Istanbul. Entah bunuh diri, entah dibunuh. [1]

Saya nyaris speechless. Saya teringat kejadian Agustus 2016, ketika menulis klarifikasi tentang kisah “si bocah di kursi oranye” yang diproduksi White Helmets. Tulisan saya dibalas sangat sadis oleh para “ikhwan” dan “akhwat”, yaitu dengan mencuri foto saya yang sedang memangku anak, lalu membuat meme sadis dan disebar masif. Karena bawa-bawa anak saya, rasa sakit hati saya saat itu tentu lebih besar.

Lalu saya menulis ini (status FB tahun 2016, sedikit diedit supaya lebih ringkas):

***

Alih-alih memberikan jawaban yang logis untuk menjawab argumen-argumen yang saya berikan, mereka malah sibuk menghujat, membully, dan bahkan membuat meme yang menggunakan foto saya dan anak saya.

(lebih…)

Contoh Kasus

***
Status sebelumnya saya hapus karena ga tega sama oknum ibu ini. Ini saya posting ulang dengan disamarkan namanya 🙂

***

Ini komentator di status saya sebelumnya yang menjawab Fahri Hamzah. Ini adalah contoh kasus, seperti apa sih hasil dari industri radikalisme itu [yang kata Fahri “cuma satu dua ceramah”].

Hasil dari ceramah kaum radikalis yang sangat masif adalah semakin banyaknya orang-orang yang merasa lebih suci dan merasa berhak menghina orang lain (istilah lainnya: kaum takfiri, suka mengkafir-kafirkan orang lain). Salah satu bentuk hinaannya adalah “kamu ga paham Quran”, “kamu Muslim?”, atau “kamu Syiah!”

Khusus untuk tuduhan Syiah, ini sangat terkait dengan Perang Suriah. Para “industrialis perang Suriah” berkepentingan untuk membuat orang Muslim Sunni membenci Syiah sehingga mau direkrut jadi “jihadis” atau setidaknya mau merogoh kocek untuk menyumbang gerakan “jihad”.

Mereka tidak (mau) tahu bahwa ulama-ulama besar sepakat bahwa Syiah adalah salah satu mazhab yang diakui dalam Islam (baca Deklarasi Amman). Tidak mau tahu bahwa mayoritas ulama-ulama Sunni di Suriah justru mendukung Bashar Assad dan pemerintahan Assad sama sekali bukan rezim Syiah.

Ibu ini radikalnya masih di level verbal dan mungkin masih level awam.

Semakin diprovokasi (oleh pemilik “industri”), mereka ini akan semakin teradikalisasi. Saya sudah kenyang dimaki-maki jauuuh… lebih kasar oleh kelompok ini, selama 8 tahun terakhir (selama Perang Suriah berlangsung). Sungguh ngeri, mereka mengaku membela Islam tapi kasarnya benar-benar level binatang. Something wrong with their brain. Zombie.

Dan level selanjutnya, beralih ke level “menyetujui kekerasan” dan bahkan menjadi pelaku kekerasan itu sendiri. Contohnya, perempuan yang bawa anaknya sendiri sambil bawa bom bunuh diri di gereja.

Ibu ini sepertinya tidak pro ISIS (karena mengatai perempuan ISIS tidak paham Quran), tapi kelompok “jihad” itu bukan cuma ISIS. Di antara kelompok-kelompok “jihad” yang berbeda (dan simpatisannya) biasanya memang suka saling mengkafirkan.

***
Yang belum baca tulisan saya soal “industri radikalisme” ini linknya: https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/1185451128313011/)

Dulu waktu saya posting foto ini saya menjanjikan share kalau papernya udah publish.

Ada di link ini, klik tautan PDF CFP-Vol.5 : http://www.iidss.org/proceeding/

**
NB: mohon maaf belum sempat melanjutkan tulisan ttg Rojava.

DISKUSI PUBLIK

“Krisis Ideologi Era Millenial: Konflik Timur Tengah hingga Agenda Setting di Indonesia”

Narasumber:
Husein Ja’far Al-Hadar (Dai Milenial, Content Creator)
Dr. Dina Sulaeman (Pengamat Timur Tengah)
🗓: Minggu, 3 November 2019
🏢 : Aula Insan Cita HMI Ciputat
⏰: 08.00 WIB – Selesai

FREE ENTRY, SNACK, AND DOORPRIZE
Pendaftaran bit.ly/DiskusiPublikSK
Contact Person Whatsapp: 081584033547 (Fulki) / 0895353093651 (Lia)

Karma (?)

Lagi heboh UAS ditolak di berbagai tempat ya? Sejujurnya, perasaan saya agak ambigu. Di satu sisi, saya merasa positif karena kesadaran publik terhadap bahayanya narasi sektarian ala UAS (dan gerombolannya) semakin meningkat.

Tapi di sisi lain, saya pernah berada di posisi UAS itu: kehadiran saya ditolak, acara saya dibubarkan. Yang memprovokasi penolakan terhadap saya, ya para gerombolan yang sealiran sama UAS ini. Jadi, ada terselip ucapan dalam hati saya “rasain lo!” Tapi tak bisa saya pungkiri, terselip juga rasa kasian, karena teringat tidak enaknya diperlakukan demikian.

[Btw, jangan salah, sebuah koran besar yang mengaku “merayakan perbedaan” (berarti bukan “radikal” dong), juga tidak menyebut nama dan buku saya sama sekali dalam liputannya, padahal acara yang dia liput itu memasang back drop yang sangat besar, sepenuh dinding, yang jelas-jelas menyebut nama dan buku saya.]

(lebih…)

Diskusi dengan Kaum Bigot Itu Pekerjaan Sia-Sia

[Bigot adalah kata dalam bahasa Inggris, artinya fanatik buta. Bigot bisa berasal dari agama apa saja, atau ‘isme’ apa saja.]

Suatu hari, saya pernah hadir di sebuah acara diskusi yang diselenggarakan sebuah ormas besar untuk bicara soal Suriah. Saya dipanelkan dengan seorang ustadz terkemuka di daerah itu (dari kalangan pro “jihadis”) dan seorang ustadz Syiah. Si ustadz Syiah mengklarifikasi (membantah) semua tuduhan-tuduhan yang diberikan ustadz anti-Syiah dengan argumen dan data.

Lalu, saya menjelaskan panjang lebar soal konflik Suriah. Saya tampilkan foto-foto dan video-video untuk memperlihatkan betapa banyak hoax yang tersebar. Saya jelaskan soal geopolitik Timteng. Saya bicara soal perebutan jalur pipa gas. Semua itu saya sampaikan untuk mendukung argumen saya bahwa konflik Suriah bukan konflik antarmazhab.

Anda tahu apa yang terjadi? Si ustadz anti-Syiah mengabaikan sama sekali semua paparan ustadz Syiah dan mengulangi tuduhannya. Jadi misalnya, “Qur’an-nya Syiah itu beda”. Padahal sudah diklarifikasi dengan argumen yang sangat logis, tapi si ustadz kembali mengulangi tuduhannya: “Qur’an-nya Syiah itu beda”.

(lebih…)

Dua Film

Ada beberapa yang inbox nanya pendapat saya soal dua film yang sedang dihebohkan itu (Hayya dan Santri).

Sebenarnya saya bukan pengamat film, tapi karena ini ada kaitannya dengan Timteng, saya jawab singkat saja. Saya cuma lihat trailernya, belum nonton filmnya.

Untuk film Hayya, betul sekali, bendera yang terlihat di trailer film itu adalah bendera FSA (yang oleh media Barat disebut ‘pemberontak moderat’, tapi fakta lapangan membuktikan cara-cara mereka sama saja dengan milisi teror lainnya, bahkan terkadang di beberapa front bekerja sama dengan Al Nusra yang sudah resmi masuk list teroris PBB). Ustad-ustad peng-endorse film ini pun, silahkan cek rekam jejak digital mereka, adalah peng-endorse “jihad” di Suriah, pendukung gerakan milisi bersenjata untuk menggulingkan pemerintah Suriah yang sah.

Nah, kok bisa, mengaku bela Palestina tapi di saat yang sama pro FSA? Bukankah dengan mendukung FSA artinya mengobrak-abrik kubu resistensi/perlawanan terhadap Israel? (Pemerintah Suriah ada di garis depan kubu ini karena berbatasan darat dengan Israel; menampung jutaan pengungsi Palestina dan diperlakukan sama seperti warga asli; serta menyuplai senjata dan logistik kepada pejuang Palestina selama puluhan tahun).

(lebih…)