Kajian Timur Tengah

Beranda » My Daily Life

Category Archives: My Daily Life

Iklan

Late post.
Tanggal 5 April yang lalu saya diwawancarai Kumparan dot com terkait proklamasi Trump atas kedaulatan Israel di Golan.

https://kumparan.com/@kumparannews/tujuan-trump-akui-golan-bantu-israel-atau-persiapan-hadapi-pemilu-1qpLMprs0RE

Iklan

Prahara Suriah, Hoax, Media Sosial, Perpecahan Bangsa

Banyak orang resah melihat semakin meningkatnya radikalisme di Indonesia dan semakin kerasnya friksi antarumat akibat perbedaan posisi politik. Banyak yang luput memahami fenomena ini dari perspektif geopolitik global, khususnya yang terkait dengan Perang Suriah.

Inilah era Facebook, Twitter, dan WA, ketika perang tidak hanya terjadi di Damaskus, Homs, Idlib, atau Aleppo, melainkan merasuk hingga ke rumah dan mimbar-mimbar di Indonesia. Kemarahan terhadap orang-orang yang terlibat perang nun jauh di sana, ditumpahkan melalui narasi penuh kebencian di berbagai forum, disertai dengan berbagai foto dan video palsu, dengan tujuan merekrut petempur dan donasi.

(lebih…)

BEDAH BUKU “PRAHARA SURIAH” & “SALJU DI ALEPPO”

BEDAH BUKU “PRAHARA SURIAH” & “SALJU DI ALEPPO”ย (karya Dina Y. Sulaeman) dan “MUSIM SEMI SURIAH” (karya Trias Kuncahyono)

HOAX…MEDIA SOSIAL…PERPECAHAN BANGSA

Narasumber :
1. Kombes Pol.R.Ahmad Nurwahid,S.E.,M.M., Kabagbanops Densus 88 AT POLRI
2. Prof Dr Henry Subiakto, Staf Ahli Menkominfo
3. M.Najih Arromadhoni, Sekjen Alumni Suriah
4. Trias Kuncahyono, Penulis Buku
5. Dr. Dina Y. Sulaeman, Penulis Buku
Moderator: Dr. Ahmad Najib Burhani

Lokasi : Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat
Tanggal : Jum’at, 18 Januari 2019
Waktu : 13.00 – 16.00 WIB

PENGUMUMAN

Kemungkinan besar, terkait dua postingan terakhir saya, ada pihak-pihak yang lapor ke FB sehingga akun personal saya dinonaktifkan oleh FB.

Bersama ini diumumkan:
1. Saya tidak membuat akun baru dengan nama Dina Sulaeman.

2. Apabila fanpage ini tumbang juga, tulisan saya selanjutnya bisa dibaca di blog: www. dinasulaeman.wordpress.com

Tetap berpikir merdeka ๐Ÿ™‚

Bahasa, Logika, Ekstrimisme

Tadi, di kelas, saya bilang, “Tolong tugas Anda ini dicatat dulu, saya mau matikan power point.” Dan serempak beberapa mahasiswa mengeluarkan hape lalu memotret slide saya. Saya spontan tertawa. Saya lupa, mereka ini gen Z, yang sangat digital. Dicatet? Difoto, kaleee… ๐Ÿ˜€

*

Soal gen Z ini.. saya pernah tulis di fanpage ini juga (yang judulnya “Kontra Narasi): …Salah satu karakter utama gen Z (kelahiran 1996-2012) adalah mereka ini sangat aktif berinternet, rata-rata 3-5 jam sehari.

Dalam survei yang dilakukan PPIM UIN Jakarta pada Sept-Okt 2017, di antara hasil yang terpenting digarisbawahi: sekitar 1/3 siswa Muslim percaya bahwa jihad adalah peperangan melawan nonmuslim, setuju bahwa orang murtad harus dibunuh, dan intoleran kepada minoritas itu bukan masalah.

Satu dari 5 siswa SETUJU bahwa aksi bom bunuh diri adalah jihad.

Penting digarisbawahi: darimana mereka mendapatkan pemahaman seperti ini? Ternyata 50,89% dari MEDSOS !

Di penelitian yang lain disebutkan bahwa setiap hari setidaknya 90 ribu konten bermuatan kekerasan dan ekstrimisme dimuat ke ranah Internet, oleh ISIS dan afiliasinya.

*

Ini ada acara seminar yang akan membahas “Urgensi dan Strategi Efektif Pencegahan Ekstrimisme di Indonesia”.

Monggo yang berminat, silahkan hadir, tapi daftar dulu ya ke CP yang tertera di poster.

Sports and IR (Olahraga dan Hubungan Internasional)

Hari ini saya berkesempatan bertemu dan selfie dengan Menpora Imam Nahrawi saat beliau memberikan kuliah umum di Unpad Training Center Bandung. Ini saya share foto hasil kamera hp saya jadi harap maklum kalau rada blur). Foto selfienya? Buat kolpri aja ๐Ÿ™‚

Yang ingin saya share ini adalah isi sebagian kuliah pak Imam yang menurut saya menarik untuk diteliti lebih lanjut oleh penstudi HI. Apalagi, saya tadi google, rupanya sudah ada yang menulis di jurnal bahwa olahraga dapat menjadi subjek atau alat dalam HI.

Olahraga dapat digunakan oleh negara atau blok geopolitik untuk menampilkan superioritas mereka atau karakteristik lain yang diinginkan. Kemenangan dalam olahraga dapat digunakan oleh negara untuk menunjukkan kekuatannya (Kobierecki, 2013).

(lebih…)

Sesekali tidak membahas Timteng ๐Ÿ™‚

Tadi saya berkesempatan mempresentasikan paper berjudul “Food Security or Food Sovereignty? Questioning the Paradigm of Indonesian Military Involvement in Agriculture” dalam International Conference on Security Studies bertema “Security for Sovereignty” yang diadakan Pusat Studi Keamanan Nasional dan Global Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan Experts of Academic Excellence Research Centre.

Kalau tante yang di “sana” bangga popotoan sama Netanyahu, ibuk-ibuk yang ini bangga berfoto sama Menlu Palestina, Riyad Al Maliki. ๐Ÿ™‚

Cerita lengkap menyusul ya…

Yang jelas, pekan ini adalah Pekan Solidaritas Indonesia untuk Palestina (Indonesian Solidarity Week for Palestine).

Indonesia selalu bersama Palestina, selalu konsisten membantu perjuangan Palestina hingga menjadi negara yang merdeka dan berdaulat.

**
“Kita bersama rakyat Indonesia akan terus berjuang bersama rakyat Palestina. Palestina akan selalu ada dalam setiap helaan napas diplomasi Indonesia.” (kutipan pidato Presiden Joko Widodo, 11 Mei 2018)

Personal Report:)

Lama tak posting, karena disibukkan oleh urusan penyelesaian studi, dll.

Alhamdulillah, kini saya sudah berhasil lulus dari Magister Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. Laporan ini bukan untuk berbangga diri, hanya sekedar mencatat bahwa setelah sekian lama berusaha konsisten menulis secara kritis tentang berbagai fenomena politik internasional, alhamdulillah, kini ada ‘buahnya’ secara akademis.

Awalnya, saya menulis analisis-analisis yang dimuat di blog ini secara independen saja, lebih mengandalkan intuisi dan kerajinan membaca. Setelah menuntut ilmu di jurusan yang memang bersesuaian dengan minat saya, eh, ternyata apa yang saya tulis selama ini bersesuaian dengan landasan-landasan teori yang diakui oleh akademisi. Tentu, ada banyak perspektif dalam menganalisis politik internasional, tapi perspektif yang saya gunakan selama ini ternyata bersesuaian dengan salah satu perspektif yang memang ada landasan teoritisnya.

Tentu saja, kesesuaian ini bukanlah segalanya. Toh kata Antonio Gramsci, ‘semua orang itu teoritisi’. Tapi menemukan bahwa analisis saya tidak ngawur dan ada banyak pakar di luar sana yang berada di satu mainstream yang sama, seakan memberikan sebuah pengakuan intelektual kepada saya.

Ada banyak cita-cita yang ingin saya raih setelah mendapatkan ‘pengakuan intelektual’ ini, terutama terkait dengan penulisan buku-buku teks. Penstudi HI kebanyakan membaca buku-buku teks karya penulis Barat. Saya ingin menulis buku teks dengan berlandaskan teori yang sudah berkembang di luar sana, tetapi tetap dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai parameter. Semoga Allah memberi saya kekuatan dan kemampuan untuk itu…

Oiya, soal kuis. Hanya satu orang yang mengirimkan jawabannya, yaitu Savitri, pemilik blog anisavitri.wordpress.com. Jadi hanya dia yang saya kirimi hadiah buku. Buku-buku lainnya yang sudah saya niatkan untuk disumbangkan akhirnya saya kirim by post ke beberapa perpustakaan.

Terakhir, sekedar renungan… Ada satu ‘konsep’ yang saya dapatkan selama kuliah: perubahan melawan kezaliman di dunia ini bisa terjadi melalui upaya penyadaran (istilahnya ’emansipasi’). Setiap orang, semampunya, bisa berkontribusi dalam penyadaran ini. Untuk itu, kita perlu bersikap kritis. Menurut Robert Cox, kritis berarti โ€˜memisahkan diri dari tatanan dunia yang sedang berlangsung, dan bertanya bagaimana tatanan itu bisa terjadiโ€™.

Temukan hakikat dunia ini, kenalilah siapa monster di sekitar kita yang setiap saat menghisap darah manusia-manusia di muka bumi (salah satu contoh konkritnya: perusahaan-perusahaan transnasional yang dengan cara-cara licik mengeruk kekayaan negara-negara dunia ketiga). Banyak orang yang tidak menyadari ini, sehingga mereka larut dalam ‘permainan’ yang mengekalkan keberadaan monster-monster itu. Di sinilah pentingnya kesadaran, penyadaran.

Di sinilah pentingnya terus bicara, terus menulis, terus menyebarluaskan penyadaran. Tidak harus menjadi orang ‘penting’ untuk bisa berkontribusi. Seorang ibu yang sedang memberikan penyadaran kepada anaknya, atau tetangganya, agar tidak ikut-ikutan gaya hidup konsumerisme, sejatinya sedang bergerak dalam proyek ’emansipasi’ ini [jangan disamakan dg ’emansipasi Kartini’ ya, ini istilah yang berbeda ๐Ÿ™‚ ].

Jadi, mari bergerak!