Kajian Timur Tengah

Beranda » My Events

Category Archives: My Events

Pascakonflik Rusia-Ukraina

(Dina Y. Sulaeman)

“We will win,” demikian kata Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva, saat menutup orasinya dalam seminar ekonomi bertajuk “Pasca Konflik Rusia-Ukraina Menuju Multipolarisme” yang diadakan di Bandung 24 Januari lalu.

Keyakinan Vorobieva bukan tanpa alasan. Ia memaparkan data-data bahwa hingga kini pemerintah Rusia berhasil memitigasi dampak perang berkat berbagai kemandirian yang dimiliki negara tersebut, terutama pangan dan berbagai kebutuhan dasar lainnya. Kontraksi ekonomi hanya terjadi 2 persen meskipun Rusia diembargo dari berbagai penjuru; belum pernah ada di dalam sejarah modern ada negara yang disanksi sebanyak yang dialami Rusia saat ini.

Ada isu penting yang diangkat oleh Vorobieva dalam seminar yang diadakan oleh Komite Persahabatan Indonesia-Rusia dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Cabang Bandung ini, yaitu konstelasi geopolitik global yang semakin bergeser ke arah multipolarisme. Menurutnya, posisi Rusia saat ini adalah melawan hegemoni Barat, yang dipimpin Amerika Serikat, yang selama ini selalu berusaha menekan negara-negara lain dalam rangka mengeruk kekayaan dan sumber daya alam.

(lebih…)
Iklan

Perjalanan ke Tehran (3)

Pertanyaan terbesar saat datang ke Tehran (saya juga pergi ke beberapa kota lainnya) adalah: seberapa aman Iran? Bukankah di sana kabarnya ada demo besar-besaran antipemerintah?

Selain ke Tehran, saya juga pergi beberapa kota yang lain. Yang saya saksikan, situasi aman-aman saja. Perempuan lalu-lalang seperti biasa (terakhir saya ke Iran tahun 2017). Cuma bedanya, kali ini, ada perempuan-perempuan tidak berjilbab yang lalu-lalang. Dulu, tidak ada yang demikian. Kalau dulu, banyak yang pakai jilbab jambul (pakai pashmina/kerudung, tapi rambutnya tetap terlihat sebagian), tapi tidak ada yang benar-benar buka jilbab.

Tapi, secara umum, di jalanan, di tempat-tempat publik, di pasar, bahkan di hotel (yang cenderung lebih privat; apalagi di hotel elit), jumlah perempuan yang tidak berjilbab dibanding yang tetap berjilbab (meski jilbab jambul), ya jauh lebih banyak yang berjilbab.

Artinya, meski sudah bebas (dalam arti, penegakan aturan berjilbab tidak ketat lagi.. tapi dulu pun emang ga ketat, yang jilbab jambul sangat banyak di jalanan dan tempat-tempat publik), kebanyakan kaum perempuan di sana ya tetap memilih pakai jilbab.

(lebih…)

Perjalanan ke Tehran (2)

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/873821443867138

Suhu Tehran 1 derajat Celcius saat saya tiba. Saya cuma membawa jaket tipis karena keberangkatan saya yang mendadak. Saya pulang dari Aceh, tidak balik ke Bandung, tapi stay di Jakarta karena waktu yang mepet. Baju-baju di-laundry ekspres untuk dibawa ke Tehran.

Jaket musim dingin sudah dikirim dari Bandung dengan Si Cepat Best (yang menjanjikan 24 jam sampai), ke hotel saya, tapi ternyata sampai detik-detik saya harus berangkat ke bandara jaket itu tidak sampai juga (benar-benar mengecewakan layanan kurir satu ini, sudah bolak-balik nelpon ke CS, mereka cuma bermanis mulut, tapi tidak ada tindakan apapun.)

Walhasil saya berangkat dengan jaket pinjaman yang tipis (lalu di Tehran pinjam jaketnya teman). Untungnya, karena status tamu VIP, saya tidak pakai jalur umum saat turun pesawat, langsung dijemput mobil khusus kementerian luar negeri, jadi hanya beberapa detik saja kena angin dingin. Tapi segitu juga sudah ambruk (mungkin karena kecapean bepergian terus), saya demam di hari pertama (untungnya, saya bawa herbal sapu jagad, besoknya sudah segar lagi).

(lebih…)

Perjalanan ke Tehran (1)

Ini catatan singkat saya, perjalanan ke Tehran bulan Desember yll. Mungkin banyak yang bertanya-tanya, seperti apa Iran saat ini? Apakah sekacau balau yang digambarkan oleh media internasional (termasuk yang dicopy-paste, seperti biasa, oleh media-media lokal)?

Jawabannya, tentu saja, seperti selama ini sering terjadi, dalam berbagai isu, heboh di media belum tentu mencerminkan realitas. Nanti saya ceritakan.

Cerita pertama, adalah mengenai Tehran Dialogue Forum III (TDF). TDF adalah pertemuan tahunan yang diadakan oleh IPIS (Institute for Political and International Studies), lembaga think tank kebijakan luar negeri yang berafiliasi dengan Kementerian Luar Negeri Iran. Tahun 2023 ini adalah pertemuan ke-3, tapi untuk pertama kalinya saya diundang hadir.

Di TDF, para pemikir (kebanyakan adalah perwakilan dari berbagai lembaga think tank, tahun 2022 ini yang datang dari 36 negara, termasuk beberapa negara Teluk) berkumpul untuk sharing pendapat masing-masing mengenai isu-isu keamanan dunia.

Acara pembukaan TDF diisi oleh talkshow antara Menlu Iran, Amir Hossein Amir-Abdollahian dan beberapa tokoh dari beberapa negara.

Berikut ini beberapa foto dari acara pembukaan.

(bersambung)

Dokumen Abu Dhabi

Mungkin gambar 10 orang, orang berdiri dan teks yang menyatakan 'KOTA PANLING TALKSHOW DOKUMEN ABU DHABI 100% Beriman 100% Urang Band fatigo PROMUN'

Hari Sabtu tanggal 3 Des yll, saya hadir di acara Talkshow “Dokumen Abu Dhabi” dengan tagline “100% beriman, 100% urang Bandung”. Pembicara selain saya, ada Romo Aloy (belum pernah saya ketemu Romo se-funky [gaul/rame/unconventional] ini 😃 ), ada Prof Koerniatmanto yang meskipun prof pakar hukum, tapi ternyata suka melempar candaan lucu, dan ada si cantik Christine, seorang arsitek, foto model, dan aktivis kerukunan umat dari Bandung. Oiya, ada Pak Bambang, Kepala Kesbangpol Bandung juga (mewakili Pak Walikota yang batal hadir).

Diskusi hari itu dipandu dengan seru oleh moderator, Kang Wawan, yang susah ditebak, kapan serius, kapan becandanya. (Blio ini ketua Jaringan Kerja Antar Umat Beragama -Jakatarub). Walhasil kami sering tertawa-tawa sepanjang acara, padahal yang dibicarakan ya isu-isu yang -mungkin- di kalangan lain dianggap sensi.

Saat itu, tentu tidak terbayang, bahwa hari Rabunya, 7 Desember, akan ada aksi teror bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar, Bandung. Ada seorang polisi yang gugur (Alfaatihah untuk almarhum). Selain itu, 9 polisi dan seorang warga (perempuan) yang terluka, semoga mereka segera sembuh kembali. Aamiin..

Aksi terorisme adalah aksi kekerasan dengan target perubahan politik. Spirit Dokumen Abu Dhabi adalah upaya mengajak seluruh umat manusia untuk kembali pada nilai-nilai kemanusiaan. Apapun agamanya, kita semua ini adalah bersaudara dalam kemanusiaan. Kekerasan atas nama agama, padahal sebenarnya bertujuan politik, uang, dan kekuasaan, jelas SALAH.

(lebih…)

Cerita dari Beirut (5)

“Khiam Detention Center”

Salah satu situs yang saya kunjungi di Lebanon adalah Penjara Khiam. Penjara ini, dulu dikenal sangat mengerikan karena orang-orang yang dipenjara di sana disiksa dengan cara-cara yang sangat brutal.

Awalnya, kompleks bangunan Khiam ini berfungsi sebagai barak militer, dibangun oleh Prancis tahun 1933 (saat itu Prancis berstatus sebagai penguasa “mandat” atas Lebanon). Lokasinya di atas bukit di kawasan Lebanon selatan. Jadi, perjalanan menuju ke Khiam dari Beirut kita naik ke arah perbukitan, di kanan jalan terlihat lautan Mediterrania yang birunya indah banget (beda dengan laut lain yang saya lihat sebelumnya). Di kiri jalan, terlihat bukit-bukit dengan perumahan di atasnya (jadi rumah/gedung apartemen di sana seperti vila, ada di perbukitan.

Dari lokasi penjara Khiam yang ada di atas bukit, kita bisa melihat ke bawah: dataran tinggi Golan dan jalur Galilee yang kini diduduki Israel. Tahun 1943, setelah Lebanon merdeka dan Prancis angkat kaki, barak Khiam dikuasai militer Lebanon. Tahun 1982, Israel menginvasi dan menduduki Lebanon selatan. Tahun 1985, Khiam dikuasai Zionis dan milisi Lebanon (South Lebanese Army-SLA) yang bekerja sama dengan Zionis. Barak ini kemudian difungsikan sebagai penjara dan pusat penyiksaan terhadap para pejuang Lebanon yang melawan pendudukan Israel.

(lebih…)

Cerita dari Beirut (4)

Sekarang, cerita yang ringan-ringan saja. Suatu pagi, saya berkesempatan jalan-jalan, ditemani oleh dua mahasiswi Indonesia yang kuliah di University of Tripoli, sekitar 50 km dari Beirut. Saya sempat nitip belikan kartu telpon Lebanon ke mereka. Harganya 20 USD, tapi 3 hari, kuotanya habis dan saya terpaksa mengandalkan wifi hotel lagi. Berbahagialah kita di Indonesia yang biaya internetnya murah banget.

Tujuan awal kami, mau ziarah ke makam Imam Auza’i. Imam Al-Auza’i adalah ulama besar Ahlussunnah yang hidup di tahun 706-774 M. Saya copy dari Wiki: “Al-Auza’i adalah nisbah ke daerah Al-Auza’, salah satu wilayah di Damaskus. Menurut Adz-Dzahabi, dia adalah seorang “Syaikh Islam, ‘alim dari Syam.” Dia bertempat-tinggal di Al-Auza’, sebuah kampung kecil di daerah Bab al-Faradis, di dekat Damaskus, kemudian dia pindah ke Beirut hingga meninggal di sana.”

(lebih…)

Cerita dari Beirut (3)

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/1768699256824776

Dengan diantar Hendri, mahasiswa S2 Indonesia di Beirut, saya sempat datang ke kamp Pengungsi Palestina Sabra-Shatila. Kamp ini saat ini tidak hanya dihuni oleh pengungsi Palestina, tetapi juga Suriah. Rekamannya silakan lihat di video. Di dalam kamp rupanya ada sekolah (madrasah) informal untuk anak-anak pengungsi ini, yang didirikan oleh Muhammadiyah.

Mengenai kisah Sabra Shatila, saya copas terjemahan saya atas tulisan Dr. Ang Swee Chai.

****

Tiga puluh lima tahun yang lalu, ketika Israel menyerbu Beirut Barat, milisi Kristen Lebanon memasuki kamp pengungsi Palestina Sabra dan Shatila di Beirut Barat. Selama tiga hari, pasukan Israel menyegel kamp dan mengizinkan mereka membantai beberapa ribu pengungsi. Saya saat itu adalah seorang ortopedik muda yang mengundurkan diri dari Rumah Sakit St. Thomas di London untuk bergabung dengan tim medis Christian Aid, membantu mereka yang terluka selama invasi Israel ke Lebanon beberapa bulan sebelumnya.

Beirut dikepung. Air, makanan, listrik dan obat-obatan diblokir. Invasi tersebut menyebabkan ribuan orang tewas dan terluka, dan membuat sekitar 100.000 orang kehilangan tempat tinggal. Saya diperbantukan ke Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina untuk memimpin departemen ortopedi di Rumah Sakit Gaza di kamp Sabra dan Shatila di Beirut Barat.

Saya bertemu para pengungsi Palestina di rumah mereka yang dibom dan mempelajari bagaimana mereka bisa menjadi pengungsi di salah satu dari 12 kamp Palestina di Lebanon itu. Sebelumnya, saya tidak tahu bahwa orang Palestina itu ada. Mereka mengingat bagaimana mereka diusir dari rumah mereka di Palestina pada tahun 1948, seringkali dengan todongan senjata. Mereka melarikan diri dengan harta apa pun yang bisa mereka bawa dan akhirnya menjadi pengungsi di negara-negara tetangga, seperti Lebanon, Yordania, dan Suriah.

(lebih…)

Cerita dari Beirut (2)

Acara penyerahan Palestine Prize dilaksanakan di Beirut tanggal 2 November. Selain para sastrawan yang menang dan meraih penghargaan (berupa piala dan uang), dalam acara ini diundang juga tokoh, akademisi, dan aktivis pro-Palestina. Antara lain, ada Dr. Tim Anderson mantan dosen University of Sidney. Beberapa bulan yll, gara-gara menulis tentang Palestina, Dr. Tim dipecat sebagai dosen. Dia kemudian mengajukan tuntutan ke pengadilan, dan menang (hakim memutuskan bahwa universitas tidak boleh memecatnya, karena ada ‘kebebasan akademik’). Ada juga Leila Khaled, veteran pejuang Palestina dari FPLP; serta beberapa aktivis pro Palestina dari Afrika, dan AS. Hadir juga dalam acara ini, Menteri Kebudayaan Lebanon, Mohammad Mortada.

Para sastrawan yang meraih penghargaan Palestine Prize:

Kategori memoar: Munir Shafiq (Palestina), Abu Ala Mansur (Palestina), Rafat al-Burini (Palestina)

Kategori cerita pendek: Sina Kamil Sha’lan (Palestina, mengungsi ke Yordania), Turiyat al-Huriya, Raeda Ali Ahmad (Lebanon)

(lebih…)

Cerita dari Beirut (1)

Tanggal 31 Oktober yll saya berangkat ke Beirut, Lebanon, sendirian. Saya ke sana untuk menghadiri acara puncak pemberian Penghargaan International Palestina untuk Sastra (Palestine International Prize for Literature) atau disingkat “Palestine Prize” yang berlangsung tanggal 2 November di Beirut.

Karena karya-karya sastra (yang berisi kisah tentang Palestina) berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia, saya sejak awal digagasnya Palestine Prize ini sudah berstatus sebagai anggota dewan juri yang mewakili Asia Tenggara. Lebih lanjut, akan saya ceritakan di postingan no (2).

Yang jelas, rencananya 2 tahun lagi, akan ada lagi pemberian penghargaan ini. Para novelis, penulis puisi, dan buku anak-anak dari Indonesia yang ingin karyanya diikutkan dalam penilaian (dan berkesempatan untuk meraih penghargaan Palestine Prize) bisa kontak saya mulai dari sekarang. Semoga dua tahun lagi, ada karya dari Indonesia yang menang.

Demikian dulu sebagai permulaan. Banyak sekali yang ingin saya ceritakan, tapi dicicil dikit-dikit, masih jetlag 🙂

#CeritaBeirut