Kajian Timur Tengah

Beranda » My Events

Category Archives: My Events

Wawancara dengan Fix Indonesia

PBB Dinilai Mandul Sikapi Konflik Israel-Palestina https://fixindonesia.com/…/pbb…/ZA5xC5UDPjRunRdM8LGiuF

Kata “apartheid” biasanya identik dengan Afrika Selatan. Kata ini memang berasal dari Afrika Selatan, yang bermakna pemisahan atau segregasi. Pada tahun 1948, Afrika Selatan secara resmi menerapkan sistem pemerintahan apartheid yang memisahkan kehidupan sosial, ekonomi, dan politik berdasarkan ras.

Kaum kulit putih memiliki status dan hak-hak yang jauh lebih besar dibandingkan kaum kulit hitam. Pada tahun 1994, rezim apartheid tumbang. Kini, di tahun 2021, tiba-tiba saja, Human Right Watch mengeluarkan laporan yang menyebut Israel sebagai pemerintahan apartheid.

Penyebutan Israel sebagai rezim apartheid sebenarnya sudah sering dilakukan oleh para pengamat, penulis, atau diplomat yang mendukung Palestina.

Konvensi Internasional 1973 tentang Penindasan dan Hukuman Kejahatan Apartheid dan Statuta Roma 1998 untuk Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mendefinisikan apartheid sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan yang terdiri dari tiga elemen utama: niat untuk mempertahankan dominasi satu kelompok ras atas yang lain; penindasan sistematis oleh kelompok dominan atas kelompok yang terpinggirkan; dan tindakan tidak manusiawi.

Yang dimaksud “tindakan tidak manusiawi” antara lain adalah penangkapan sewenang-wenang dan pemenjaraan ilegal, membagi populasi menurut garis ras dengan membuat lokasi terpisah untuk ras tertentu, pemindahan paksa, perampasan tanah, menolak hak untuk “pergi dan kembali ke negara mereka”, dan menolak hak kewarganegaraan atas ras tertentu.

Silakan dibaca lanjutannya di https://fixindonesia.com/…/wYZDaHCPMVVDBnCYKHn9t7…

Jawaban Untuk ZSM Penyembah Israel (2)

Jawaban bagian ke-2 saya gabung aja sekalian dalam podcast Serial Kajian Timur Tengah.

Buat yang ketinggalan berita.. jadi ceritanya gini, ada akun yayasan pendukung Zionis di Indonesia; mereka orang Indonesia asli tapi fanatik membabi-buta membela Israel, membuat video ngawur membantah pernyataan saya. Istilah untuk orang macam ini adalah ZSM (Zionis Sawo Matang).

Isinya propaganda dengan berbagai narasi yang menyesatkan. Misalnya, “Palestina itu udah merdeka kok, buktinya punya Presiden, ngapain dibela-bela mulu?” atau “Milisi Palestina, Hamas, itu kan teroris?! Berarti kalian bela teroris dong?”

Di Serial Kajian Timur Tengah #5 ini, saya berikan jawaban terhadap beberapa propaganda menyesatkan dari kelompok Zionis-Indonesia itu.

Podcast ini dibuat dalam rangka Al Quds International Day yang diperingati setiap hari Jumat terakhir di bulan Ramaadhan. Video saya upload tanggal 7 Mei 2021 / 25 Ramadhan 1442 H, hari Jumat.

https://www.youtube.com/watch?v=Dc3isxgPX4w

Dalam episode ke-4 ini saya akan menunjukkan cara memverifikasi data. Ketika di media atau medsos, beredar info-info hoax seputar “Assad membantai rakyatnya sendiri” dll, bagaimana cara memverifikasinya?

Di video ini ada satu caranya, yaitu mewawancarai pihak yang berbeda. Yang bilang bahwa “Assad membantai rakyatnya sendiri” biasanya sumber infonya dari milisi teror/kubu pro-pemberontak. Nah, kita perlu cek ke pihak lain yang lebih netral, misalnya, mahasiswa Indonesia di Suriah, KBRI, jurnalis independen, dll.

Selain itu, kita perlu mempelajari dokumen resmi, misal data Human Development Index, dll. Ini disebut “triangulasi data”

Kali ini, saya mewawancarai Lion Fikyanto, mahasiswa Indonesia di Suriah. Mohon maaf di sebagian video, suaranya agak bergema, ada kesalahan teknis. Kecilin aja volumenya ya. 🙂

Videonya cukup panjang, ini topik-topik utamanya:

02:20 awal mula Lion bisa kuliah di Suriah

11:11 kisah gugurnya Syekh Al Afyouni dan pemakaman beliau

14:57 salju di Suriah

16:37 aktivitas kaum muda Suriah, keragaman cara berpakaian mereka

20:36 wisata ke makam anaknya Nabi Adam (Habil)

23:20 Lion mengalami langsung serangan-serangan bom dari para teroris yang mengepung Damaskus

32:18 kisah pembebasan Ghouta

37:16 tentang umat Kristiani di Suriah

39:05 Ramadhan di Suriah

40:58 bagaimana kondisi di bawah sistem sosialis-demokratis (banyak subsidi negara)

43:27 murahnya biaya hidup mahasiswa, peluang beasiswa ke Suriah

https://www.youtube.com/watch?v=MnOJEpYF5Cw

Tulisan terbaru sayaBiden dan Kebijakan Luar Negeri AS di Timteng.

https://fixindonesia.com/…/cb3c830a-d715-4a10-b9c2…

Bongkar Fakta #1

Simak IG live dengan mahasiswa Indonesia di Suriah.Logika aja ya, yang kuliah di Suriah selama ini tuh mayoritasnya Ahlussunnah, mereka belajar dengan dosen-dosen/ulama cendekiawan yang Ahlussunnah.

Artinya, kalau ada yang bilang bahwa “orang Sunni di Suriah dibantai oleh rezim Syiah”, kemungkinannya dua: sengaja bohong (demi mengepul donasi, misalnya) atau salah info (dengar kata orang, diterima begitu saja).

Yuk kita simak apa kesaksian Lion Fikyanto (mahasiswa Ahlussunnah) yang saat ini sedang kuliah di Suriah.

Tentang terorisme dan radikalisme di Indonesia

https://youtu.be/6Zq-3kzDcjI

Kenangan: Obrolan di Persian Kabab

Hari Sabtu kemarin adalah awal musim semi di Iran dan dirayakan sebagai hari tahun baru (Nowruz). Menurut film pendek yang ditayangkan BBC, Nowruz bukan cuma dirayakan di Iran, tapi juga di Tajikistan, Rusia, India, Turki, Irak; dan totalnya ada 300 juta orang sedunia yang merayakan awal musim semi ini. [1]

Beberapa teman dari Iran mengirimkan WA ucapan selamat Nowruz ke saya, tentu sebagai bagian dari tradisi mereka saja. Soalnya, di Indonesia kan tidak ada musim semi.

Lalu masuk WA dari seorang teman, orang Indonesia, yang menikah dengan pria Iran. Namanya Shinta. Dia juga mengucapkan selamat tahun baru.

Saya jadi teringat pertemuan saya pertama kali dengan Shinta, bulan Januari 2021. Shinta dan suaminya membuka kedai kebab Persia (bisa cek di GoFood: Persian Kabab) di Lotte Mart, Bintaro. Karena kebetulan saya ada urusan di Bintaro, sekalian kopdar deh.

Shinta adalah pembaca tulisan-tulisan saya di FB, lalu kami bertegur sapa via FB dan berlanjut di WA. Jadi, Shinta dari jauh “menyaksikan” perjalanan saya selama ini, ups and down hidup saya “gara-gara” menulis soal Suriah.

Sebaliknya, saya tidak tahu apa-apa tentang Shinta, sampai pertemuan kami itu. Rupanya, di saat saya (dan netizen lainnya) sibuk “perang” di dunia maya bertahun-tahun melawan narasi media mainstream + narasi pro-radikalis/teroris Suriah, Shinta mengalami “pertempuran” yang riil [tahun 2014-2016; ISIS berdiri 2013].

Di kedai kebabnya, dia menghadapi hinaan orang-orang. Mall itu ramai oleh pengunjung, dan ada saja orang yang mampir sekedar untuk melemparkan hinaan. Iran, kafir! Syiah sesat!

Untungnya, suami Shinta waktu itu belum bisa bahasa Indonesia, jadi dia tidak menangkap kekasaran orang-orang Indonesia yang termakan hoax soal Suriah itu.

[hoax -nya: “Syiah membantai Sunni di Suriah”… Karena mazhab mayoritas di Iran adalah Syiah dan Iran membantu pemerintah Suriah dalam melawan ISIS dan milisi teror lainnya, Shinta yang berjualan makanan Iran jadi sasaran kebencian para pendukung teroris itu.]

Saya terharu mendengar kisah Shinta. Rasanya, “penderitaan” saya dulu ga ada apa-apanya. Setidaknya, radikalis/pro-teroris Suriah itu tidak bicara kasar secara langsung di depan saya. Mereka “cuma” main ancam atau menghina di medsos, mengghibah, main boikot (kalau saya diundang jadi pembicara, mereka berupaya membubarkan; saya dulu punya TK, mereka hasut ortu-ortu agar keluar dari TK saya, dll).

Anyway, Shinta terus bertahan, dan lambat-laun, seiring dengan keoknya ISIS (dan kelompok teroris lainnya ) di Suriah (mulai akhir tahun 2016), hate speech yang dialaminya juga semakin berkurang. Bisnisnya juga semakin maju. Kehidupan pernikahannya juga semakin membahagiakan karena status suaminya akhirnya disetujui untuk menjadi Permanent Residence (KITAP). Dengan ekspresi ceria, Shinta bercerita bahwa berbeda dari era pemerintahan yang dulu, kini urusan birokrasi terkait pernikahan campur jauh lebih mudah.

Sambil mengobrol, Shinta dengan cekatan menyiapkan berbagai jenis kebab yang dipesan pembeli (umumnya via GoFood). Dulu dia ada pegawai, tapi sekarang, gara-gara c*v*d, penjualan menurun drastis sehingga Shinta sendirian mengurus kedainya. Sang suami mempersiapkan bahan-bahan masakan di rumah. Namun itulah hidup, selalu ada naik dan turun. Tugas kita adalah menjalaninya dengan sabar.

Saya menyantap kebab buatan Shinta dengan lahap, enak banget. Shinta juga menyiapkan minuman hangat, terbuat dari saffron. Hm.. rasa lezatnya masih terbayang sampai sekarang.

Sebelum pulang, Shinta mendesak saya untuk datang lagi sekeluarga, dan menginap di Bintaro. Shinta janji akan memasakkan masakan Iran khusus buat saya sekeluarga. Benar-benar tawaran yang menggiurkan.

Sejujurnya, saya terharu sekali, tapi saya tahan-tahan. Saya teringat ceritanya tentang kesulitannya di masa lalu, dan kesulitan saya sendiri. Tapi, Allah selalu memberi ganti dengan kebahagiaan. Memang demikian janji-Nya kan, setiap kesulitan selalu datang bersama kemudahan.

Saya ingin memeluknya, tapi terhalang protolol c*v*d.

Di tahun baru ini, saya mengucapkan doa ini buat Shinta:

روزهای سلامتی، شادی، پیروزی، مهر و دوستی و عشق را برای شما آرزومندم ..عید نوروزتان مبارک باد.

(Artinya, tanyakan saja pada google translate ya)

[1] https://www.youtube.com/watch?v=on9KQ5UTq4U&t=24s

Beberapa waktu yang lalu, Menkopolhukam kita, Prof. Mahfud MD, bicara soal FPI di podcastnya Deddy Corbuzier. Poin penting yang beliau sampaikan adalah bahwa ada dua jenis hukum yang harus ditegakkan oleh negara, yaitu hukum pidana dan hukum administratif. Nah, pembubaran sebuah ormas adalah wilayah hukum administratif, yang tidak perlu didahului dengan pengadilan. Jika objek hukum tidak puas, silakan gugat ke pengadilan. Di pengadilan, bisa saja “negara” kalah saat dituntut oleh warganya.

Pendapat Prof Mahfud dikritik oleh Dr. Refly Harun…. Siapa yang menang di antara adu argumen ini? Baca sendiri di web yah 🙂

https://sangkhalifah.co/prof-mahfud-md-versus-refly…/

Diskusi Dina Y. Sulaeman dengan Gus Najih, Habib Nuruzzaman, dan Eko Kuntadhi

https://www.youtube.com/watch?v=GJw3opEYdv0