Kajian Timur Tengah

Beranda » Neoliberalisme (Laman 2)

Category Archives: Neoliberalisme

Pemerintah Baru: Cabut Subsidi BBM atau Tidak?

sumber foto: bisnis.com

sumber foto: bisnis.com

Saat berusaha mencari tahu siapa Rini Soewandi (Kepala Staf “Kantor Transisi Jokowi-JK”), saya menemukan artikel lama, tahun 2001. Terlepas dari preferensi politik, artikel ini penting dibaca untuk memahami betapa paradigma ekonomi sangat mempengaruhi kebijakan yang diambil pemerintah. Betapa pentingnya kesatuan paradigma para pengambil kebijakan ekonomi kita. Hanya satu orang saja yang antineolib tidak akan berdaya ketika pejabat di sektor-sektor lain pro-neolib. Ujungnya hanya perdebatan tak habis-habis. Dan betapa, neoliberalisme itu anti rakyat. Isu paling ‘panas’ yang akan menghadang pemerintah baru mendatang adalah pencabutan subsidi BBM. Di satu sisi, BBM memang mahal (karena kita harus impor, itupun harus lewat makelar di Singapura -mafia migas) sehingga subsidi sangat membebani anggaran negara. Di sisi lain, mencabut subsidi akan semakin menyengsarakan masyarakat miskin.

Sebagai pembanding, bisa dibaca tulisan lama saya, bagaimana cara Iran mencabut subsidi BBM transportasinya: Dan Iran pun Cabut Subsidi BBM Transportasinya.

KONTROVERSI PASARISASI HARGA BBM

Oleh: Revrisond Baswir
Staf Pengajar FE UGM, Yogyakarta

Silang pendapat dalam tubuh Kabinet Gotong Royong (KGR) akhir-akhir ini semakin sering muncul ke permukaan. Para menteri yang memiliki keterikatan politis terhadap Presiden Megawati, cenderung lebih akomodatif terhadap aspirasi yang berkembang. Sebaliknya, para menteri yang sama sekali tidak memiliki keterikatan politis terhadap Presiden cenderung lebih sejalan
dengan Dana Moneter Internasional (IMF).

Selang empat bulan belakangan ini, silang pendapat antara dua kubu dalam tubuh KGR itu, setidak-tidaknya telah mengemuka sebanyak tiga kali.

Pertama, ketika kurs rupiah kembali merosot dari Rp8.650 menjadi di atas Rp10.000 pada bulan pertama pemerintahan Presiden Megawati. Menanggapi kemerosotan kurs rupiah yang sangat diluar dugaan tersebut, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Ketua Bappenas Kwik Kian Gie segera angkat suara mengusulkan dipertimbangkannya kembali kemungkinan penerapan sistem kurs tetap.

Tetapi sehari setelah pernyataan Kwik Kian Gie tersebut, bantahan segera muncul dari Menteri Keuangan Boediono. Menurut Boediono, ” Gagasan Kwik Kian Gie memang sangat menarik, tetapi pemerintah akan tetap mempertahankan sistem kurs mengambang bebas sebagai berlangsung saat ini.”

(lebih…)

Goenawan dan Cara Pandang Hitam-Putih Kita

Dina Y. Sulaeman*

imagesJujur, saya bukan pembaca aktif tulisan Goenawan Mohamad. Namun suatu ketika, saat saya diminta oleh sebuah komunitas (sebut saja komunitas A) untuk memberikan pelatihan penulisan, saya menemukan salah satu tulisannya yang menarik untuk dijadikan contoh. Saya menemukan kalimat-kalimat yang menurut saya dahsyat dan patut dipelajari saat mendeskripsikan sesuatu. Betapa misalnya, ‘hanya’ untuk membahas banjir, dia menceritakan kisah banjir dalam berbagai cerita purba di Mesopotamia maupun Yunani; lalu membandingkannya dengan cerita banjir di agama-agama, termasuk dalam Quran; lalu menuliskan refleksinya tentang keabadian. Saya sampaikan kepada peserta pelatihan, suatu tema sederhana pun bisa dieksplorasi dengan luas dan menarik seperti yang dilakukan Goenawan.

Singkat cerita, peserta pelatihan merasa puas dan antusias untuk melanjutkan diskusi pada beberapa waktu mendatang. Namun sejak itu, saya tak pernah diundang lagi. Lama kemudian, bertahun-tahun, saya baru menyadari bahwa komunitas A itu adalah komunitas yang sangat strict. Buat mereka, segala sesuatu yang berbau liberalisme adalah haram dan Goenawan adalah simbol liberalisme. Saya rupanya telah “berdosa besar” memberikan contoh tulisan Goenawan dalam pelatihanitu, padahal yang dibahas hanya kata-katanya dan cara menulisnya (dan itupun hanya satu dari beberapa contoh tulisan yang saya bawa waktu itu).

(lebih…)

Jakarta Kota Fasis (Andre Vltchek)

Artikel yang sangat bagus ini sudah lama saya baca versi Inggris-nya. Waktu itu saya sempat terpikir untuk menerjemahkan, atau setidaknya menulis ulasan. Tapi akhirnya saya hanya mampu menaruh link-nya di FB saya. Akhirnya, saya menemukan terjemahannya di Kaskus.

Kota Fasis yang Sempurna: Naik Kereta Api di Jakarta

Ditulis oleh Andre Vltchek
Diterjemahkan oleh Fitri Bintang Timur
Disunting oleh Rossie Indira

Kalau anda naik kereta api di Jakarta, berhati-hatilah: pemandangan yang anda lihat di balik jendela mungkin akan membuat resah anda yang bukan wartawan perang atau dokter. Terlihat ratusan ribu orang merana tinggal di sepanjang jalur kereta. Rasanya seperti seluruh sampah di Asia Tenggara ditumpahkan di sepanjang rel kereta; mungkin sudah seperti neraka di atas bumi ini, bukan lagi ancaman yang didengung-dengungkan oleh ajaran agama.

Memandang keluar dari jendela kereta yang kotor, anda akan melihat segala macam penyakit yang diderita oleh manusia. Ada luka-luka yang terbuka, wajah terbakar, hernia ganas, tumor yang tak terobati dan anak-anak kurang gizi berperut buncit. Dan masih banyak pula hal-hal buruk yang bisa anda lihat yang bahkan sulit untuk digambarkan atau difoto.

andre-1

Jakarta, ibu kota negara yang oleh media Barat diberi predikat ‘demokratis’, ‘toleran’ dan ‘perekonomian terbesar di Asia Tenggara’ sebenarnya adalah tempat dimana mayoritas penduduknya tidak memiliki kendali atas masa depan mereka sendiri. Dari dekat makin nyata bahwa kota ini punya indikator sosial yang levelnya lazim ditemui di Sub-Sahara Afrika, bukan di Asia Timur. Selain itu, kota ini juga semakin keras dan tidak toleran terhadap kaum minoritas (agama maupun etnik), termasuk mereka yang menuntut keadilan sosial. Perlu kedisiplinan yang luar biasa untuk tidak menyadari ini semua.

(lebih…)

Dan Iran pun Cabut Subsidi BBM-Transportasi

Dina Y. Sulaeman

Pemerintah mulai mewacanakan lagi pengurangan subsidi BBM.  Seperti biasa, tulisan seorang pengamat ekonomi soal ‘kebohongan subsidi BBM’ kembali disebarluaskan di media sosial (FB, blog, dll).  Argumen soal ‘kebohongan subsidi’ memang membuat nyaman masyarakat yang memang umumnya anti pencabutan subsidi. Namun, menurut sebagian orang, hitung-hitungan yang dilakukan sang pengamat ekonomi ini sangat banyak menyederhanakan, terlalu banyak berasumsi, dan banyak variabel yang  tidak dilibatkan, terutama yang dari segi keteknikan. Saya tidak akan membahas detil soal hitungan ini karena bukan bidang saya. Yang jelas, di internet kita bisa menemukan cukup banyak tulisan yang dengan detil menjelaskan dimana letak kesalahan kalkulasi sang pengamat ekonomi.

Ada argumen yang banyak diulang-ulang oleh pihak-pihak yang antipencabutan subsidi, yang saya tahu pasti kesalahannya, yaitu argumen yang melibatkan Iran. Iran disebut-sebut sebagai negara yang menjual minyak dengan harga sangat rendah kepada rakyatnya, yaitu Rp 1287/liter. Ini tidak benar. Harga bensin di Iran saat ini minimalnya 4000 IRR/liter dan ada pembatasan pembelian; akan saya jelaskan nanti. (IRR= Iranian Riyal; per 21 April 2013, 4000 IRR= Rp3160)[1]

Yang mungkin akan mengejutkan banyak orang, Iran pun MENCABUT subsidi BBM-nya. Pernah di suatu masa, harga bensin di Iran memang sangat murah, sekitar Rp1500/liter. Tapi, itu bukan harga asli, melainkan disubsidi 80%.

Sejak akhir tahun 2006, pembelian bensin bersubsidi dibatasi (setiap mobil cuma boleh beli bensin 120 liter/bulan/mobil), dan akhirnya mulai akhir 2010 subsidi pun dikurangi. Menariknya, semua itu terjadi tanpa gejolak (tentu saja, kalau protes-protes minor, selalu ada dalam masyarakat Iran yang memang karakternya outspoken –blak-blakan-itu). Yang lebih menarik, Wamen ESDM kita dulu, Dr. Widjajono Partowidagdo (alm) pernah berkunjung ke Iran untuk mempelajari apa yang dilakukan Iran dalam efisiensi energi. Tapi, sayang sebelum beliau bisa mengaplikasikan apapun , beliau meninggal dunia (yang menurut pengamatan sebagian orang, agak ‘misterius’).

(lebih…)

Jokowi, Ahok, dan Bank Dunia

Pagi ini –seperti biasa- saya memulai aktivitas dengan browsing. Ada artikel luar biasa yang saya baca, terkait sikap Jokowi dan Ahok terhadap Bank Dunia/World Bank/WB. Dan, saya nggak bisa menahan diri untuk berkomentar, WOW, mantaaap!!! Minimalnya ada dua hal penolakan Ahok kepada WB:

1)WB minta agar warga pinggir kali yang digusur dikasih ganti rugi uang. Kata Ahok: no way, mereka akan diganti dengan jatah rusun

2) WB akan menyelesaikan proyek dalam 5 thn. Kata Ahok: nunggu buat tanda tangan aja 5 tahun, trus membangunnya 5 tahun; keburu abis tuh duit.

(eh, ini kalimat kutipan ala saya sendiri ya)

Semoga semakin banyak pemimpin yang berani melawan WB (dan para ‘economic hitmen/women’-nya). Sayangnya, banyak pemuja WB di Indonesia (antara lain dengan argumen: “salah satu direkturnya orang Indonesia lho..keren banget! Ini bukti betapa orang Indonesia diakui dunia”). Buat para pemuja WB, ketahuilah WB itu tak lebih dari renternir penghisap darah negara-negara Dunia Ketiga.

Anggoro (2008), peneliti dari Institute of Global Justice, menulis, kerugian yang diderita Indonesia karena menerima pinjaman dari Bank Dunia adalah sebagai berikut.

(lebih…)

Chavez, In Memoriam

Dina Y. Sulaeman*

chavez

Chavez adalah pemimpin yang fenomenal dan spirit perjuangannya melintasi batas agama dan bangsa. Saat dunia beramai-ramai melakukan pembunuhan karakter terhadap Ahmadinejad dan pemerintahan Islam Iran, yang tampil sebagai pembela terdepan justru seorang Nasrani dari Amerika Latin: Hugo Chavez. Saat pemimpin negara-negara Arab berbaik-baik dengan Israel, justru Chavez menolak dubes Israel. Menyusul operasi ‘Menuang Timah’ yang dilancarkan Israel di Gaza 2009, Chavez mengecam keras Israel dan menyebut bahwa holocaust tengah terjadi di Gaza. Dia pun mengusir Dubes Israel keluar dari Venezuela. Saat negara-negara Arab bergandengan tangan dengan AS, Prancis, dan Inggris untuk menyuplai dana dan senjata kepada Al Qaida (atau kelompok yang ‘sejenis’ Al Qaida) di Syria, Chavez justru mengirimkan minyak untuk membantu bangsa Syria yang sedang diblokade ekonominya.  Dengan blak-blakan Chavez menyindir Barat, “Mereka berkata, ‘kami akan beri sanksi pemerintah.. kami akan membekukan aset mereka.. kami akan memblokade mereka, mengebom mereka, demi membela rakyat.’ Wow, betapa sinisnya. Tapi itulah imperium, itulah kegilaan imperium.”

Sebagaimana juga pemimpin negara-negara yang berani melawan ‘imperium’, Chavez pun tak luput dari ancaman kudeta dan pembunuhan, serta pembunuhan karakter.  Kejadian tahun 2002 adalah salah satu upaya terbesar yang dilakukan imperium untuk menggulingkan Chavez, meski gagal. Saat itu, Chavez mengalami pembunuhan karakter yang dilakukan oleh media-media mainstream AS. Saat itu, sebagaimana juga sekarang, standar objektivitas jurnalistik telah dibuang lewat jendela. Chavez difitnah. Sementara lawannya, yang sebagian besar terdiri dari kaum oligarki Venezuela dan kalangan menengah ke atas, dicitrakan sebagai pejuang demokrasi. Pernyataan dari pihak oposisi dilaporkan sebagai fakta dan diperlakukan dengan penuh respek, sementara pernyataan dari pihak pemerintah dicemooh.

Mari kita lihat beberapa kutipan dari New York Times antara Maret-April 2002. Pada 26 Maret, New York Times menulis, “Para pegawai (pemerintahan) pemberontak telah memberi energi bagi gerakan oposisi yang terpecah-pecah namun terus tumbuh, yang menggunakan protes regular di jalanan untuk melemahkan Mr Chavez yang memiliki gaya aristocrat dan memiliki kebijakan sayap kiri yang telah menindas orang-orang yang jumlahnya terus bertambah. …”

(lebih…)