Kajian Timur Tengah

Beranda » Nuklir Iran

Category Archives: Nuklir Iran

Iran Bekerjasama dengan Israel?

Tuduhan ini sering diungkapkan oleh ‘pengamat’ dengan dua model:

-pengamat ‘takfiri’ : mereka memakai teori konspirasi yang salah kaprah, misalnya Iran itu pura-pura saja anti-Israel karena sebenarnya Syiah itu sama saja dengan Yahudi, buktinya di Iran banyak orang Yahudi dibiarkan hidup, tetapi orang Sunni dibunuhi. Kesalahan argumen ini tentu saja dari validitas datanya. Siapa bilang orang Sunni di Iran dibunuhi? Sunni, Yahudi, Majusi, Kristen, dan Syiah Iran hidup berdampingan dengan damai, dan semua mazhab dilindungi haknya oleh undang-undang.Baru-baru ini, seorang wanita muslim Sunni bahkan terpilih menjadi walikota di kota Kalat, provinsi Sistan-Baluchistan. Bisa dibaca di sini.

-pengamat ‘intelektual’: rasanya jarang ada intelektual yang menggunakan teori konspirasi kebablasan untuk menyebut adanya kerjasama di balik layar antara Iran dan Israel; tapi bukannya tidak ada. Antara lain, Dinna Wisnu Ph,D, dosen Hubungan Internasional dari Univ Paramadina. Tulisannya bisa dibaca di sini.

Purkon Hidayat, jurnalis dari Iran Broadcasting (IRIB), menulis tanggapan atas tulisan itu dengan mengoperasionalisasikan teori speech act-nya Onuf. Saya sangat menikmati tulisan ini. Mantap! Silahkan membacanya di sini:

Trita Parsi, Iran dan Israel  (bagian 1)

Trita Parsi, Iran, dan Israel (bagian 2)

Tulisan saya sebelumnya, untuk membantah teori konspirasi kebablasan adanya kerjasama Iran-Israel, bisa baca di sini:

Mengapa Iran Tak Serang Israel?

Ada lagi tulisan lain yang sederhana, tak pakai teori-teori, hanya pakai data empirik, tapi cukup telak menjawab pertanyaan ini,

Kenapa Iran Tak Pernah Menyerang Israel?

Iran dan Opera Bouffe (Purkon Hidayat)

Ini tulisan bagus, terutama buat beberapa mahasiswa yang mengontak saya, yang minta saran dalam penulisan untuk skripsi/tesis soal Iran. Intinya, gunakan paradigma yang integral saat menganalisis Iran.

 

Iran dan Opera Bouffe

Oleh: Purkon Hidayat

Lebih dari seabad lalu, Morgan Shuster pernah berseloroh menyebut politik Iran seperti Opera Bouffe. Sebuah opera dengan para pemain yang gonta-ganti kostum begitu cepat dan tidak mudah ditebak. Bagi saya banker Amerika itu tidak sedang bercanda. Ia serius di tengah kebingungannya menganalisis Iran. Itu bukan hanya menimpa Shuster. Betapa banyak para analis dan politikus kecele.

Mungkin, Jimmy Carter perlu ditanya sekedar mengingatkan tentang prediksinya yang meleset mengenai Iran. Lebih dari tiga dekade silam, ketika kedutaan AS di Tehran diduduki para mahasiswa, sang Presiden Paman Sam itu pernah sesumbar, “Tehran akan kita kuasai dalam hitungan jam.” Dan Pentagon pun mengirimkan pasukan elit militer terbaiknya dari kapal induk yang diparkir di salah satu negara Arab.

Operasi militer dengan sandi Eagle Claw ini menggunakan Hercules C-130, jenis pesawat tercanggih kala itu. Tapi, tim militer yang dibanggakan tersebut luluh lantak dihantam badai di Tabas, Iran Tengah. Sisanya, melarikan diri tunggang langgang. Misi Gedung Putih gagal, Carter pucat pasi. Amerika merana dipermalukan sebuah negara kecil yang baru saja mendeklarasikan sistem kenegaraan barunya.

Gagal menjalankan operasi militernya sendirian, Washington tidak kehilangan akal. Diktator Irak Saddam Hussein diprovokasi untuk menginvasi Iran. AS pun memasok kebutuhan militer pemimpin rezim Baath Irak itu. Tapi prediksi Barat kembali meleset. Alih-alih bertekuk lutut dan menyerah, Iran dengan bendera barunya “Republik Islam” yang baru seumur jagung justru memberikan perlawanan telak terhadap rezim Saddam Irak yang dibantu negara-negara Barat dan Arab.

(lebih…)

Israel Inside

©Dina Y. Sulaeman

Membaca analisis orang ‘luar’ terhadap Israel, mungkin sudah biasa. Mendengar Ahmadinejad berkali-kali menyatakan prediksinya bahwa Israel sebentar lagi akan tumbang, juga sudah biasa. Namun, cukup menarik bila kita membaca analisis orang Israel terhadap negaranya sendiri.  Di dalam Israel, sesungguhnya ada juga segelintir orang yang ‘tercerahkan’ dan bisa menilai dengan jernih kebobrokan ‘negara’ dan pemerintahan Zionis. Mereka menulis, melakukan aksi-aksi perdamaian, dan berorasi di berbagai negeri untuk membangkitkan kesadaran sesama Yahudi dan umat manusia umumnya, supaya berhenti mendukung Zionisme.  Kelompok “Women in Black” misalnya. Mereka secara rutin melakukan aksi berdiri dalam diam dengan mengenakan pakaian hitam-hitam, sambil membawa spanduk-spanduk anti penjajahan Palestina. Tak pelak, mereka dikata-katai ‘pelacur’ dan ‘pengkhianat’ oleh orang-orang Israel.

Apa yang membangkitkan kesadaran orang-orang itu? Tak lain, karena kondisi di dalam negeri Israel memang sangat buruk. Uri Avnery dan Gilad Atzmon adalah dua penulis Israel yang sering menyuarakan kritik terhadap pemerintahan Zionis. Dalam tulisan berjudul “Why Israel Will Not Attack Iran”, Avnery dengan gaya sarkasmenya menyebut Israel bagaikan anak sekolah yang mengancam “Hold me back, before I break his bones!”

(lebih…)

Iran Adalah Aktor Rasional, Bagaimana Dengan AS?

©Dina Y. Sulaeman

Pemberitaan yang dirilis PressTV dan IRIB Indonesia baru-baru terkait pernyataan komandan staff gabungan militer AS, Gen. Dempsey sangat menarik. Dalam wawancaranya dengan CNN, Dempsey menyebut Iran sebagai ‘aktor rasional’. Saya sulit menilai bahwa ini sebuah pujian, sehingga saya mencari transkrip asli wawancaranya. Ternyata, Dempsey menyebut kerasionalan Iran itu terkait dengan sanksi embargo bertubi-tubi yang tengah diarahkan kepada Iran. Dempsey yakin bahwa karena rasionalitas itu, lambat-laun Iran akan tunduk pada kemauan Barat.

Saya pun membuka-buka kembali text-book Foreign Policy Analysis yang sudah pasti memuat bahasan soal ‘aktor rasional’. Dalam kajian Hubungan Internasional, pelaku aktivitas politik internasional itu diistilahkan dengan ‘aktor’. Aktor ini bisa berupa negara, perusahaan, LSM, atau bahkan individu. Dalam analisis Kebijakan Luar Negeri (selanjutnya saya singkat KLN), sebuah negara (yang diistilahkan dengan ‘aktor’) diharapkan bertindak rasional sehingga menguntungkan kepentingan nasionalnya. Dalam kasus Iran, ketika sudah ‘habis-habisan’ diembargo—menurut perspektif AS—tindakan rasional yang dilakukan Iran seharusnya adalah tunduk kepada AS. Tentu saja, bagi Iran, tunduk kepada AS jelas bukan KLN yang rasional. Dalam tulisan saya sebelumnya, saya sudah menjelaskan bahwa kekuatan soft power Iran justru sangat tangguh dan ketundukan pada AS sangat kontradiktif dengan soft power yang dimiliki Iran.

(lebih…)

Soft Power, Sumber Kekuatan Iran

Dina Y. Sulaeman*

Dalam studi Hubungan Internasional, power, atau kekuatan negara-negara biasanya didefinisikan dalam dua kategori, hard power dan soft power. Hard power secara singkat bisa dimaknai sebagai kekuatan material, semisal senjata, jumlah pasukan, dan uang yang dimiliki sebuah negara. Umumnya pemikir Barat (atau pemikir Timur yang westernized) lebih memfokuskan pembahasan pada  hitung-hitungan hard power ini. Contohnya saja, seberapa mungkin Indonesia bisa menang melawan Malaysia jika terjadi perang? Yang dikedepankan biasanya adalah kalkulasi seberapa banyak senjata, kapal perang, kapal selam, dan jumlah pasukan yang dimiliki kedua negara.

Begitu juga, di saat AS dan Israel berkali-kali melontarkan ancaman serangan kepada Iran, yang banyak dihitung oleh analis Barat adalah berapa banyak pasukan AS yang kini sudah dipindahkan ke pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan sekitar Teluk Persia; seberapa banyak rudal yang dimililiki Iran, seberapa jauh jarak jelajahnya, dst.

Bila memakai kalkulasi hard power, harus diakui bahwa sebenarnya kekuatan Iran masih jauh di bawah AS. Apalagi, doktrin militer Iran adalah defensive (bertahan, tidak bertujuan menginvasi Negara lain). Iran hanya menganggarkan 1,8% dari pendapatan kotor nasional (GDP)-nya untuk militer (atau sebesar 7 M dollar). Sebaliknya, AS adalah negara dengan anggaran militer terbesar di dunia, yaitu 4,7% dari GDP atau sebesar  687 M dollar. Bahkan, AS telah membangun pangkalan-pangkalan militer di berbagai penjuru dunia yang mengepung Iran. Bisa diperhatikan di gambar ini. Daerah berwarna ungu adalah kawasan di mana ada pangkalan militer AS.

Tapi, dalam kasus Iran, memperhatikan kalkulasi hard power saja tidak cukup. Sebabnya adalah karena kunci kekuatan Iran justru di soft power-nya. Dan ini sepertinya diabaikan  oleh banyak analis Barat, mungkin sengaja, atau mungkin juga ketidaktahuan. Dalam papernya di The Iranian Journal of International Affairs, Manouchehr Mohammadi (Professor Hubungan Internasional dari Tehran University) menyebutkan bahwa kemampuan Republik Islam Iran untuk bertahan hingga hari ini adalah bergantung pada faktor-faktor yang sangat langka ditemukan dalam masyarakat Barat yang materialistis, yaitu faktor-faktor spiritual. Tentu saja, faktor hard power tetap diperhatikan oleh Republik Islam Iran, namun basisnya adalah soft power.

(lebih…)

Serangan Militer ke Iran: Kisah dari Pulau Diego Garcia

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

 

Berita-berita tentang ancaman serangan militer dari AS dan Israel terhadap Iran akhir-akhir ini semakin intens. Dalam doktrin militer AS, Iran memang dikategorikan sebagai ‘ancaman utama bagi kestabilan di Timur Tengah dan Asia Tengah’. Menurut Chomsky, kestabilan dalam terminologi AS bermakna ‘berada di dalam kontrol AS’. Artinya, bila ada sebuah rezim yang tidak berada dalam cengkeraman kontrol AS, rezim itu menjadi ancaman bagi ‘kestabilan’. Dalam menghadapi ‘ancaman’ ini, AS sudah melakukan berbagai langkah. Antara lain sejak November lalu, AS dan Eropa beramai-ramai memperketat sanksi:  bank Inggris memutus hubungan finansial dengan bank sentral Iran, Kanada menutup pintu ekspor untuk barang-barang yang dianggap berkaitan dengan industri petrokimia, gas, dan minyak Iran, beberapa negara Eropa mem-black-list tokoh-tokoh Iran yang dianggap berperan penting dalam proyek nuklir, dll.

Hal yang tidak banyak dibahas adalah kisah dari sebuah pulau bernama Diego Garcia. Seiring dengan meningkatnya intensitas ancaman serangan ke Iran, pemerintahan Obama juga diberitakan telah menambah kapasitas militernya di pulau Diego Garcia. Konon di sana bercokol lebih dari 2000 tentara, pelabuhan yang muat untuk 30 kapal perang, tempat pembuangan limbah nuklir, stasiun mata-mata satelit, dan tempat hiburan untuk para tentara: mall, bar, dan lapangan golf. Pada bulan Maret 2010, Sunday Herald melaporkan bahwa AS telah mengirimkan 10 kontainer berisi amunisi ke Diego Garcia, di antara bom “Blu” yang mampu meledakkan struktur bawah tanah secara masif. Kapal-kapal selam bertenaga nuklir yang bisa meluncurkan rudal Tomahawk  juga ‘mangkal’ di sana; rudal Tomahawk sendiri bisa dipasangi hulu ledak nuklir.

Pada masa perang Irak, John Pilger mencatat bahwa ada berita sekilas yang berbunyi, “Pengebom Amerika, B-52 dan Stealth, tadi malam dilepaskan dari  sebuah pulau-tak berpenduduk-milik-Inggris untuk mengebom Irak dan Afghanistan.”

Ya, Diego Garcia ternyata adalah sebuah pulau yang dijadikan pangkalan militer AS; salah satu yang terbesar di dunia. Serangan-serangan udara AS ke Irak dan Afghanistan diketahui dilancarkan dari Diego Garcia. Namun, di balik kecanggihan perlengkapan militer yang disimpan di sana, Diego Garcia menyimpan kisah pilu yang semakin menunjukkan wajah bengis negara-negara arogan dan haus perang: AS dan Inggris.

(lebih…)

Ke Iran setelah 30 Tahun Diembargo Amerika (by Dahlan Iskan)

Tulisan menarik karya Dahlan Iskan (Dirut PLN). Panjang, tetapi ditulis dengan gaya bahasa yang mengalir cepat sehingga tidak menjemukan.

Kuasai Teknologi Pembangkit Canggih saat Kepepet

BARU sekali ini saya ke Iran. Kalau saja PLN tidak mengalami kesulitan mendapatkan gas dari dalam negeri, barangkali tidak akan ada pikiran untuk melihat kemungkinan mengimpor gas dari Negara Para Mullah ini. Sudah setahun lebih PLN berjuang untuk mendapatkan gas dari negeri sendiri. Tapi, hasilnya malah sebaliknya. Jatah gas PLN justru diturunkan terus-menerus.

Kalau awal 2010 PLN masih mendapatkan jatah gas 1.100 MMSCFD (million metric standard cubic feet per day atau juta standar metrik kaki kubik per hari), saat tulisan ini dibuat justru tinggal 900 MMSCFD. Perjuangan untuk mendapatkan tambahan gas yang semula menunjukkan tanda-tanda berhasil belakangan redup kembali.

Gas memang sulit diraba sehingga tidak bisa terlihat ke mana larinya. Bisa jadi gas itu akan berbelok-belok dulu entah ke mana, baru dari sana dijual ke PLN dengan harga yang sudah berbeda. Padahal, PLN memerlukan 1,5 juta MMSCFD gas. Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas sebanyak itu, penghematannya bisa mencapai Rp 15 triliun setiap tahun. Angka penghematan yang mestinya menggiurkan siapa pun.

Maka, saya memutuskan ke Iran.

(lebih…)

Seandainya Einstein Masih Hidup

©Dina Y. Sulaeman

Siapa tak kenal Albert Eistein? Jenius fisika ini pada tahun 1905 berhasil merumuskan teori relativitas yang intinya: massa dapat diubah jadi energi. Berlandaskan teori ini, para ilmuwan lainnya mengembangkan teknologi senjata nuklir. Meskipun sejatinya energi nuklir bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia, misalnya untuk membangkitkan energi listrik, atau untuk inovasi di bidang kedokteran, namun sayang sejarah kelam sudah tertoreh. Teori relativitas Einstein telah dikembangkan untuk sebuah teknologi paling mematikan: pembuatan bom nuklir. Bom itu telah diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki, meluluhlantakkan kedua kota dan menewaskan 200.000 jiwa seketika, dan puluhan ribu lainnya mati perlahan akibat radiasi nuklir. Meski demikian, sejumlah negara masih tetap memroduksi dan menyimpan senjata nuklir sehingga konon, jumlah senjata nuklir yang ada di muka bumi saat ini, bila diledakkan, bisa menghancurkan bumi ini lima kali (ledakan pertama, bumi hancur lebur, lalu seandainya, bumi bisa utuh kembali, masih bisa diledakkan lagi sampai hancur, dan bila bumi bisa kembali utuh, persediaan nuklir yang ada masih cukup untuk menghancurkannya lagi, dst, sampai lima kali).

(lebih…)

Siapa di Balik Wikileaks?

Wikileaks disebut-sebut sebagai sebuah perjuangan melawan disinformasi media dan membongkar kebohongan AS. Presiden Ahmadinejad memberi tanggapan berbeda, “Materi itu bukan bocor, melainkan dilepas secara terorganisir. Pemerintah AS melepas data-data itu, yang tidak memiliki nilai legal dan tidak akan memiliki dampak politis atas kepentingan mereka.”

‘Seharusnya’ Ahmadinejadi kesal atau marah, karena salah satu bocoran Wikileaks adalah adanya upaya negara-negara Arab untuk menggalang serangan ke Iran. Tapi dia bersikap cool, “Negara-negara di kawasan [Timur Tengah] itu seperti sahabat dan saudara. Informasi yang menyimpang tidak akan mengganggu hubungan mereka.”

Saya jadi ingin tahu, siapa sebenarnya di balik Wikileaks. Artikel ini adalah intisari&saduran dari artikel panjang Prof. Michel Chassudovsky di Global Research. Silahkan merujuk ke artikel asli bila memerlukan informasi lebih detil.

Wikileaks mendefinisikan misinya sbb, “Our primary interests are oppressive regimes in Asia, the former Soviet bloc, Sub-Saharan Africa and the Middle East.” Di dalam kesempatan lain, Assange berkata, “Our primary targets are those highly oppressive regimes in China, Russia and Central Eurasia.

Coba perhatikan, sejak awalnya fokus geopolitik Wikileaks adalah  “oppressive regimes” di Eurasia dan Timteng, sungguh cocok dengan orientasi politik AS bukan? Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi sesudah Wikileaks ‘membocorkan’ sebuah dokumen. Dokumen itu akan didistribusikan secara lebih luas justru oleh media-media mainstream, macam The New York Times, the Guardian dan  Der Spiegel. Masyarakat dunia umumnya mengetahui ‘apa yang dibocorkan oleh Wikileaks’ dari media, bukan dengan merujuk sendiri ke Wikileaks. Mereka menerima berita dan analisis dari media-media mainstream, yang disebarluaskan ke seluruh dunia. Peran utama dalam proses distribusi ulang ini adalah The New York Time (NYT).

David E Sanger dari NYT mengatakan, “Kami menelaah dokumen itu dengan sangat hati-hati untuk berupaya mengurangi material yang kami pikir dapat merusak [citra] individu-individu tertentu atau mengganggu operasi yang sedang berlangsung. Meskipun kami memunculkan 100 cables [kawat diplomatik], kami menulis [surat] kepada pemerintah AS dan menanyakan saran dari mereka, seandainya ada lagi yang harus dikurangi.”

Pertanyaan penting di sini: siapa yang mengontrol dan mengawasi proses seleksi, distribusi, dan editing dari dokumen-dokumen yang ‘dibocorkan’ Wikileaks itu?

Fakta lain yang patut menjadi perhatian, sejak awal project Wikileaks, Assange telah berkerjasama dengan jurnalis-jurnalis dari media mainstream: David E Sanger dari  NYT, Richard Stengel dari Time Magazine, dan Raffi Khatchadurian  dari The New Yorker’s.

Jadi, apakah benar Wikileaks adalah sebuah upaya upaya untuk membangkitkan opini publik melawan kebohongan media dunia? Bila benar, lalu bagaimana mungkin ‘perjuangan’ Wikileaks dilakukan dengan partisipasi dan kerjasama dengan media-media dunia yang justru adalah  arsitek dari sebuah disinformasi dunia?

Seperti sudah disebutkan di atas, NYT adalah poros utama dalam pengeditan dan pendistribusian ulang isi Wikileaks. NYT adalah media yang terkait erat dengan Wall Street, the Washington think tanks, dan  the Council on Foreign Relations (CFR). NYT adalah bagian dari jaringan media mainstream yang dikendalikan oleh dinasti Rockefeller dan sejak awal sudah berperan sebagai media yang melayani kepentingan bisnis dinasti ini.

NYT memusatkan perhatiannya pada dokumen-dokumen Wikilekas yang berkaitan dengan kepentingan politik luar negeri AS, seperti nuklir Iran, Korea Utara, Saudi Arabia, dukungan Pakistan pada Al Qaeda, hubungan China dengan Korut, dll. Dokumen ‘bocoran’ Wikileaks digunakan sebagai sumber data NYT untuk kemudian diramu jadi artikel dan analisis. Pemerintah AS pun memanfaatkan dokumen-dokumen itu untuk kepentingannya. Misalnya, bocoran kawat diplomatik yang menyebutkan bahwa pemerintah negara-negara Arab meminta agar AS menyerang Iran karena khawatir Iran akan membangun senjata nuklir, segera disambut oleh Clinton, “Hal ini membuktikan bahwa kekhawatiran AS atas program nuklir Iran adalah kekhawatiran bersama komunitas internasional.”

Jadi, siapa sebenarnya di balik Wikileaks dan Julian Assange? Tentu tidak bisa dicari jawaban pasti karena semua serba rahasia (bahkan Assange pun menolak memberitahu siapa donatur Wikileaks). Tapi dari uraian di atas, kita bisa mengira-ngira sendiri, siapa yang sebenarnya sedang berupaya berbuat makar.

Basa-Basi Obama yang Mempesona

Pidato Obama di Kairo bisa disebut sebagai pidato bersejarah, karena untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada seorang Presiden AS yang mampu berbicara dengan penuh empati kepada negara-negara muslim. Obama dan tim penulis pidato kepresidenannya mampu menyusun kata-kata tepat seperti apa yang ingin didengar sebagian besar pendengarnya. Dengan mengakui kesalahan Amerika di masa lalu dan memuji-muji Islam, bahkan menyatakan “akan memerangi stereotip negative terhadap Islam”, Obama berhasil meraih simpati besar dari Dunia Muslim.

Namun, bila kita menelaah lebih rinci apa yang disampaikannya (dan melepaskan diri dari eforia kekaguman pada Obama), bisa disimpulkan bahwa tidak ada hal baru. Ini lima di antara sekian banyak poin basa-basi ala Amerika yang dikemas ulang dengan cara canggih:

1. Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, tapi semua negara berhak menguasai teknologi nuklir damai. Hal ini sudah diutarakan berkali-kali oleh para pejabat AS; tak ada yang aneh. Yang aneh: mengapa Iran selalu dituduh dan dicurigai membuat senjata nuklir? Padahal tim investigasi IAEA berkali-kali menyusun laporan: tidak ada bukti yang menunjukkan Iran sedang membuat senjata nuklir)

2. Kaum muslim harus menolak kekerasan (dan Obama menyitir ayat Al Quran: membunuh satu orang sama seperti membunuh seluruh manusia). Ini juga bukan hal baru. Kalimat serupa pernah disampaikan Obama, dengan cara lain. Yang aneh: mengapa kekerasan segelintir Islam yang dikritik? Mengapa Obama lupa tentara AS yang dikirim ke berbagai negara di dunia sudah menewaskan jutaan orang?

3. AS dan Israel memiliki ikatan kuat yang takkan terpatahkan. Ini sudah ribuan kali diucapkan para presiden AS dan senator2 Amerika. Ini merupakan bukti bahwa paradigma AS adalah ‘perlindungan dan penyelamatan Israel’. Jika Israel berbuat salah, AS hanya menegur. Tapi tetap membiarkan Israel berbuat salah (yaitu: melakukan kekerasan masif setiap hari di Palestina) dan tetap mengucurkan dana bantuan ke Israel.

4. Israel harus menghentikan pembangunan permukiman. Ini bukan hal baru. Bahkan era Bush pun, pemerintah AS rajin mengkritik Israel yang terus saja mengusir penduduk Palestina, lalu membangun permukiman di atas tanah mereka. Tapi hanya sebatas mengkritik.

5. Hamas harus menghentikan kekerasan dan mengakui hak Israel. Ini sudah sering diungkapkan pejabat AS. Namun yang aneh: mengapa sumber kekerasan itu tidak disebut2? Bukankah Hamas sekedar melakukan perlawanan dari aksi kekejaman Israel yang sudah berlangsung 60 tahun lebih? Apa Obama berharap Hamas duduk nongkrong sementara tentara Israel setiap hari melakukan patroli, membuldozer rumah-rumah, dan menangkapi orang2 Palestina?

Apapun juga, perbuatan jauh lebih berarti dari kata-kata. Kita tunggu saja, apa pidato Obama di Mesir hanya retorika atau ditindaklanjuti dengan perbuatan. Minimalnya: penaarikan pasukan dari Irak, Afgan, Pakistan, dan hentikan aksi pengusiran dan pembangunan permukiman illegal di tanah Palestina.