Kajian Timur Tengah

Beranda » Nuklir Iran (Laman 2)

Category Archives: Nuklir Iran

Iklan

Siapa di Balik Wikileaks?

Wikileaks disebut-sebut sebagai sebuah perjuangan melawan disinformasi media dan membongkar kebohongan AS. Presiden Ahmadinejad memberi tanggapan berbeda, “Materi itu bukan bocor, melainkan dilepas secara terorganisir. Pemerintah AS melepas data-data itu, yang tidak memiliki nilai legal dan tidak akan memiliki dampak politis atas kepentingan mereka.”

‘Seharusnya’ Ahmadinejadi kesal atau marah, karena salah satu bocoran Wikileaks adalah adanya upaya negara-negara Arab untuk menggalang serangan ke Iran. Tapi dia bersikap cool, “Negara-negara di kawasan [Timur Tengah] itu seperti sahabat dan saudara. Informasi yang menyimpang tidak akan mengganggu hubungan mereka.”

Saya jadi ingin tahu, siapa sebenarnya di balik Wikileaks. Artikel ini adalah intisari&saduran dari artikel panjang Prof. Michel Chassudovsky di Global Research. Silahkan merujuk ke artikel asli bila memerlukan informasi lebih detil.

Wikileaks mendefinisikan misinya sbb, “Our primary interests are oppressive regimes in Asia, the former Soviet bloc, Sub-Saharan Africa and the Middle East.” Di dalam kesempatan lain, Assange berkata, “Our primary targets are those highly oppressive regimes in China, Russia and Central Eurasia.

Coba perhatikan, sejak awalnya fokus geopolitik Wikileaks adalah  “oppressive regimes” di Eurasia dan Timteng, sungguh cocok dengan orientasi politik AS bukan? Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi sesudah Wikileaks ‘membocorkan’ sebuah dokumen. Dokumen itu akan didistribusikan secara lebih luas justru oleh media-media mainstream, macam The New York Times, the Guardian dan  Der Spiegel. Masyarakat dunia umumnya mengetahui ‘apa yang dibocorkan oleh Wikileaks’ dari media, bukan dengan merujuk sendiri ke Wikileaks. Mereka menerima berita dan analisis dari media-media mainstream, yang disebarluaskan ke seluruh dunia. Peran utama dalam proses distribusi ulang ini adalah The New York Time (NYT).

David E Sanger dari NYT mengatakan, “Kami menelaah dokumen itu dengan sangat hati-hati untuk berupaya mengurangi material yang kami pikir dapat merusak [citra] individu-individu tertentu atau mengganggu operasi yang sedang berlangsung. Meskipun kami memunculkan 100 cables [kawat diplomatik], kami menulis [surat] kepada pemerintah AS dan menanyakan saran dari mereka, seandainya ada lagi yang harus dikurangi.”

Pertanyaan penting di sini: siapa yang mengontrol dan mengawasi proses seleksi, distribusi, dan editing dari dokumen-dokumen yang ‘dibocorkan’ Wikileaks itu?

Fakta lain yang patut menjadi perhatian, sejak awal project Wikileaks, Assange telah berkerjasama dengan jurnalis-jurnalis dari media mainstream: David E Sanger dari  NYT, Richard Stengel dari Time Magazine, dan Raffi Khatchadurian  dari The New Yorker’s.

Jadi, apakah benar Wikileaks adalah sebuah upaya upaya untuk membangkitkan opini publik melawan kebohongan media dunia? Bila benar, lalu bagaimana mungkin ‘perjuangan’ Wikileaks dilakukan dengan partisipasi dan kerjasama dengan media-media dunia yang justru adalah  arsitek dari sebuah disinformasi dunia?

Seperti sudah disebutkan di atas, NYT adalah poros utama dalam pengeditan dan pendistribusian ulang isi Wikileaks. NYT adalah media yang terkait erat dengan Wall Street, the Washington think tanks, dan  the Council on Foreign Relations (CFR). NYT adalah bagian dari jaringan media mainstream yang dikendalikan oleh dinasti Rockefeller dan sejak awal sudah berperan sebagai media yang melayani kepentingan bisnis dinasti ini.

NYT memusatkan perhatiannya pada dokumen-dokumen Wikilekas yang berkaitan dengan kepentingan politik luar negeri AS, seperti nuklir Iran, Korea Utara, Saudi Arabia, dukungan Pakistan pada Al Qaeda, hubungan China dengan Korut, dll. Dokumen ‘bocoran’ Wikileaks digunakan sebagai sumber data NYT untuk kemudian diramu jadi artikel dan analisis. Pemerintah AS pun memanfaatkan dokumen-dokumen itu untuk kepentingannya. Misalnya, bocoran kawat diplomatik yang menyebutkan bahwa pemerintah negara-negara Arab meminta agar AS menyerang Iran karena khawatir Iran akan membangun senjata nuklir, segera disambut oleh Clinton, “Hal ini membuktikan bahwa kekhawatiran AS atas program nuklir Iran adalah kekhawatiran bersama komunitas internasional.”

Jadi, siapa sebenarnya di balik Wikileaks dan Julian Assange? Tentu tidak bisa dicari jawaban pasti karena semua serba rahasia (bahkan Assange pun menolak memberitahu siapa donatur Wikileaks). Tapi dari uraian di atas, kita bisa mengira-ngira sendiri, siapa yang sebenarnya sedang berupaya berbuat makar.

Iklan

Basa-Basi Obama yang Mempesona

Pidato Obama di Kairo bisa disebut sebagai pidato bersejarah, karena untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada seorang Presiden AS yang mampu berbicara dengan penuh empati kepada negara-negara muslim. Obama dan tim penulis pidato kepresidenannya mampu menyusun kata-kata tepat seperti apa yang ingin didengar sebagian besar pendengarnya. Dengan mengakui kesalahan Amerika di masa lalu dan memuji-muji Islam, bahkan menyatakan “akan memerangi stereotip negative terhadap Islam”, Obama berhasil meraih simpati besar dari Dunia Muslim.

Namun, bila kita menelaah lebih rinci apa yang disampaikannya (dan melepaskan diri dari eforia kekaguman pada Obama), bisa disimpulkan bahwa tidak ada hal baru. Ini lima di antara sekian banyak poin basa-basi ala Amerika yang dikemas ulang dengan cara canggih:

1. Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, tapi semua negara berhak menguasai teknologi nuklir damai. Hal ini sudah diutarakan berkali-kali oleh para pejabat AS; tak ada yang aneh. Yang aneh: mengapa Iran selalu dituduh dan dicurigai membuat senjata nuklir? Padahal tim investigasi IAEA berkali-kali menyusun laporan: tidak ada bukti yang menunjukkan Iran sedang membuat senjata nuklir)

2. Kaum muslim harus menolak kekerasan (dan Obama menyitir ayat Al Quran: membunuh satu orang sama seperti membunuh seluruh manusia). Ini juga bukan hal baru. Kalimat serupa pernah disampaikan Obama, dengan cara lain. Yang aneh: mengapa kekerasan segelintir Islam yang dikritik? Mengapa Obama lupa tentara AS yang dikirim ke berbagai negara di dunia sudah menewaskan jutaan orang?

3. AS dan Israel memiliki ikatan kuat yang takkan terpatahkan. Ini sudah ribuan kali diucapkan para presiden AS dan senator2 Amerika. Ini merupakan bukti bahwa paradigma AS adalah ‘perlindungan dan penyelamatan Israel’. Jika Israel berbuat salah, AS hanya menegur. Tapi tetap membiarkan Israel berbuat salah (yaitu: melakukan kekerasan masif setiap hari di Palestina) dan tetap mengucurkan dana bantuan ke Israel.

4. Israel harus menghentikan pembangunan permukiman. Ini bukan hal baru. Bahkan era Bush pun, pemerintah AS rajin mengkritik Israel yang terus saja mengusir penduduk Palestina, lalu membangun permukiman di atas tanah mereka. Tapi hanya sebatas mengkritik.

5. Hamas harus menghentikan kekerasan dan mengakui hak Israel. Ini sudah sering diungkapkan pejabat AS. Namun yang aneh: mengapa sumber kekerasan itu tidak disebut2? Bukankah Hamas sekedar melakukan perlawanan dari aksi kekejaman Israel yang sudah berlangsung 60 tahun lebih? Apa Obama berharap Hamas duduk nongkrong sementara tentara Israel setiap hari melakukan patroli, membuldozer rumah-rumah, dan menangkapi orang2 Palestina?

Apapun juga, perbuatan jauh lebih berarti dari kata-kata. Kita tunggu saja, apa pidato Obama di Mesir hanya retorika atau ditindaklanjuti dengan perbuatan. Minimalnya: penaarikan pasukan dari Irak, Afgan, Pakistan, dan hentikan aksi pengusiran dan pembangunan permukiman illegal di tanah Palestina.

Iran, Nuklir, Khomeini

Koran Kayhan edisi kemarin menurunkan headline berjudul “Tuhan, Pelindung Kami Telah Pergi” dan gambar orang-orang yang menangisi kematian Imam Khomeini. Ya, kemarin adalah hari wafatnya Imam Khomeini. Berikut posting ulang tulisan di blog saya yg satu lagi, tentang resolusi nuklir Iran-dukacita Asyura-dan Imam Khomeini.

Februari 04, IAEA menyetujui resolusi yang memerintahkan Iran menghentikan proyek nuklir sipilnya dan mengadukan kasus ini ke Dewan Keamanan PBB. Saat itu, tepat tanggal 1 Muharam, ketika kaum muslimin di berbagai negara saling mengucapkan “Selamat Tahun Baru Hijriyah”, justru orang-orang Iran mulai memasang bendera hitam di mana-mana. Satu Muharam merupakan hari awal duka cita. Selama sepuluh hari, majelis-majelis duka cita diselenggarakan di berbagai sudut jalan atau gang, di rumah-rumah yang menyediakan open-house, atau di masjid-masjid. Orang-orang berpakaian hitam-hitam. Pawai-pawai duka cita pun diarak setiap malam mengelilingi jalanan dan gang-gang. Taksi-taksi, bis, bahkan mall-mall pun memperdengarkan kaset rekaman azadari (ratapan duka cita).

(lebih…)

Bangsa yang Gila Demo

Catatan: Bbrp orang minta data ke saya ttg dukungan rakyat Iran terhadap nuklir. Sayang saya blm sempat studi soal ini, karena kesibukan ngepak barang–mau mudik nih. Memang ada sih polling yg menyatakan bahwa 80 persen warga Teheran dukung nuklir Iran. Tapi, yah itulah, sayangnya kalo polling-nya dilakukan orang Iran sendiri, kok malah dianggap tdk valid ya? Mengapa yg valid itu yg dilakukan Barat? Aneh. Parameter yg sejauh ini teraba secara visual ya kehadiran jutaan rakyat Iran dalam demo2, yg tema besarnya: dukung nuklir, anti AS-Israel. Mungkin tulisan di bawah bisa memberi sedikit gambaran. Dimuat di koran Jurnal Nasional.

————-

Bangsa yang Gila Demo

oleh: Dina Sulaeman

Orang-orang Iran memang gila demonstrasi. Di panas terik atau di dinginnya salju, mereka tak segan turun ke jalan. Tiap kali ada seruan demo (disiarkan melalui televisi dan radio) mereka dengan spontan datang memenuhinya. (lebih…)

Nuklir Untuk Rakyat

Oleh: Dina Y. Sulaeman

Isu nuklir Iran seolah tak ada habisnya. Ahmadinejad ber-“keras kepala”, Barat pun ngotot. Embargo sudah dilancarkan. Saling ancam pun sudah terjadi. Barat (baca: Amerika) mengancam akan menyerang Iran; Leader Iran, Ayatullah Khamenei pun bersuara keras, “Jika AS nekad menyerang Iran, semua kepentingan AS di seluruh dunia juga akan terancam.”

Bagaimana di dalam negeri Iran sendiri? (lebih…)

Embargo di Musim Semi

oleh: Dina Sulaeman

Di saat para anggota tetap dan tidak tetap Dewan Keamanan (DK) PBB bersidang untuk menetapkan sanksi lanjutan bagi Iran, rakyat Iran sedang disibukkan oleh perayaan penyambutan tahun baru kalender Iran. Tanggal 21 Maret lalu bertepatan dengan awal musim semi, dan bertepatan dengan tanggal 1 awal tahun kalender Iran tahun 1386. Kalender ini dimulai sejak hijrahnya Nabi Muhammad, tapi karena didasarkan pada perputaran matahari, perpindahan tahunnya lebih lambat daripada tahun Hijriah. Kesibukan rakyat Iran menyambut tahun baru sudah dimulai sejak dua pekan sebelumnya, antara lain dengan membersihkan rumah, membeli baju baru dan mebel baru, serta persiapan mudik.

Ketika tanggal 24 Maret 2007 DK mengesahkan Resolusi 1747, rakyat Iran sedang (lebih…)

Resolusi Embargo Iran dan Self Delegitimation PBB

Oleh: Dina Y. Sulaeman

Dewan Keamanan (DK) PBB tanggal 23 Desember lalu akhirnya mengeluarkan resolusi embargo terhadap Iran, yang memerintahkan semua negara untuk menghentikan suplai material dan teknologi yang terkait dengan proyek nuklir Iran. Menanggapi embargo ini, Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad dengan nada santai, dalam pidatonya di depan para “veteran perang pencipta lapangan kerja” Teheran, (24/12), mengatakan, “Apakah kalian—Barat—selama ini memberi kami peralatan (untuk reaktor nuklir), sehingga kini kalian menghentikan suplai peralatan itu? (lebih…)