Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina Pendudukan (a.k.a Israel)

Category Archives: Palestina Pendudukan (a.k.a Israel)

Iklan

Diskusi dengan Kaum Bigot Itu Pekerjaan Sia-Sia

[Bigot adalah kata dalam bahasa Inggris, artinya fanatik buta. Bigot bisa berasal dari agama apa saja, atau ‘isme’ apa saja.]

Suatu hari, saya pernah hadir di sebuah acara diskusi yang diselenggarakan sebuah ormas besar untuk bicara soal Suriah. Saya dipanelkan dengan seorang ustadz terkemuka di daerah itu (dari kalangan pro “jihadis”) dan seorang ustadz Syiah. Si ustadz Syiah mengklarifikasi (membantah) semua tuduhan-tuduhan yang diberikan ustadz anti-Syiah dengan argumen dan data.

Lalu, saya menjelaskan panjang lebar soal konflik Suriah. Saya tampilkan foto-foto dan video-video untuk memperlihatkan betapa banyak hoax yang tersebar. Saya jelaskan soal geopolitik Timteng. Saya bicara soal perebutan jalur pipa gas. Semua itu saya sampaikan untuk mendukung argumen saya bahwa konflik Suriah bukan konflik antarmazhab.

Anda tahu apa yang terjadi? Si ustadz anti-Syiah mengabaikan sama sekali semua paparan ustadz Syiah dan mengulangi tuduhannya. Jadi misalnya, “Qur’an-nya Syiah itu beda”. Padahal sudah diklarifikasi dengan argumen yang sangat logis, tapi si ustadz kembali mengulangi tuduhannya: “Qur’an-nya Syiah itu beda”.

(lebih…)

Iklan

Tulisan Miko Peled yang sudah diterjemahkan tim ICMES

Late post
Ini tulisan Miko Peled yang sudah diterjemahkan tim ICMES. Saya sudah pernah cerita ya, siapa Miko Peled ini. Dia anak seorang jenderal Israel yang akhirnya berbalik membela Palestina.

Di paragraf terakhir, ia menulis:

Proyek Zionis memperoleh banyak sekali keuntungan dari konflik ini. Untuk melawan keteguhan para pejuang keadilan dan kemerdekaan Palestina, mereka melakukan operasi-operasi yang melibatkan seluruh aparat negara Israel dan pengumpulan dana besar-besaran. Dengan dukungan penuh militer, intelejen, serta keuangan yang tak terbatas, Israel mampu melakukan perlawanan di sangat banyak front, jauh lebih banyak daripada yang disebutkan di artikel ini. Sementara itu, para pejuang keadilan untuk Palestina tidak mendapatkan dukungan dari aparat pemerintah, tak ada militer dan intelijen yang melindungi, dan tidak ada dana yang cukup. Tapi jika ingin merdeka, kubu Palestina harus terus bertahan, hadir dengan gigih dan waspada di semua front, dan bila memungkinkan, menciptakan front-front perjuangan baru.

Selengkapnya:
https://ic-mes.org/…/pertempuran-tiada-henti-demi-palestina/

Presiden Turki Erdogan dijuluki oleh beberapa analis geopol (misalnya, Pepe Escobar) ‘Sultan Teflon’ karena dia licin sekali, anti lengket, bisa berpindah haluan dengan sangat enteng. Kalau pakai perspektif HI, Erdogan ini bisa disebut tipe realis tulen, apapun yang penting buat negaranya, itulah yang ia lakukan, bahkan bila harus membantai tetangga sendiri. Baru hari ini Erdogan tertawa-tawa bersama Assad dan istrinya, menyebut Assad ‘my brother’, esoknya dia sudah memberi dukungan pada milisi bersenjata untuk menggulingkan Assad.
 
Selama bertahun-tahun (sejak 2012) ia membuka perbatasan Turki-Suriah untuk lalu-lalang pasukan teror termasuk ISIS untuk keluar-masuk Suriah, serta membeli minyak yang dicolong dari kilang-kilang Suriah, namun kini (17 September 2019) ia menceramahi para pemimpin negara Muslim soal ukhuwah. Padahal dulu Maret 2015, dia menyatakan mendukung intervensi Saudi di Yaman dan bahkan siap bantu logistik. Benar-benar sultan anti lengket.
 
Anda bisa tonton di video ini, pernyataan terbaru Erdogan soal Yaman. Patut diakui, apa yang dikatakan Erdogan kali ini benar adanya. Kata dia, “Kita harus melihat bagaimana konflik ini dimulai, siapa yang menyebabkannya? Mereka telah menghancurkan Yaman.” Siapa? Tak lain, Arab Saudi. Saat Yaman mengalami konflik internal, Saudi ikut campur dengan membombardir warga sipil serta infrastruktur sipil. Sebelum menjatuhkan bom pertama kalinya (Maret 2015), Menlu Saudi saat itu, Adel Al Juber ke Washington dan bertemu Obama, minta restu.

Dua Film

Ada beberapa yang inbox nanya pendapat saya soal dua film yang sedang dihebohkan itu (Hayya dan Santri).

Sebenarnya saya bukan pengamat film, tapi karena ini ada kaitannya dengan Timteng, saya jawab singkat saja. Saya cuma lihat trailernya, belum nonton filmnya.

Untuk film Hayya, betul sekali, bendera yang terlihat di trailer film itu adalah bendera FSA (yang oleh media Barat disebut ‘pemberontak moderat’, tapi fakta lapangan membuktikan cara-cara mereka sama saja dengan milisi teror lainnya, bahkan terkadang di beberapa front bekerja sama dengan Al Nusra yang sudah resmi masuk list teroris PBB). Ustad-ustad peng-endorse film ini pun, silahkan cek rekam jejak digital mereka, adalah peng-endorse “jihad” di Suriah, pendukung gerakan milisi bersenjata untuk menggulingkan pemerintah Suriah yang sah.

Nah, kok bisa, mengaku bela Palestina tapi di saat yang sama pro FSA? Bukankah dengan mendukung FSA artinya mengobrak-abrik kubu resistensi/perlawanan terhadap Israel? (Pemerintah Suriah ada di garis depan kubu ini karena berbatasan darat dengan Israel; menampung jutaan pengungsi Palestina dan diperlakukan sama seperti warga asli; serta menyuplai senjata dan logistik kepada pejuang Palestina selama puluhan tahun).

(lebih…)

Jawaban Atas Beberapa Penyesatan Opini Soal Palestina

Status sebelumnya saya hapus karena saat dishare, pengantar dari saya tidak terbawa. Ini saya copas ulang plus tambahan.

Jadi gini, karena ada seleb facebook kampung Indonesia yang sedang pelesiran di Israel dan berkoar-koar soal kaum Muslim di Israel, dan menurut si seleb ini, kaum Muslim “baik-baik saja” (bahkan ada yang jadi tentara), ini saya posting ulang tulisan lama saya yang menjawab beberapa penyesatan opini yang dia lakukan.

Pertama, benarkah kaum Muslim di Palestina hidup baik-baik saja? Mungkin ada, segelintir. Tapi kita orang cerdas akan pakai data untuk memverifikasi. Ini tulisan lama saya:

“Diskriminasi Terhadap Warga Arab di Israel”

Si seleb (yang mengaku Muslim) itu ingin menggiring opini bahwa yang bela Palestina adalah orang-orang rasis, benci Yahudi, radikalis, bela “teroris” dll.

Tentu ini penyesatan opini yang jahat dan penghinaan intelektual bagi bangsa Indonesia. Kita bangsa Indonesia sejak zaman Bung Karno dulu membela Palestina bukan karena benci Yahudi tetapi karena Palestina sedang dijajah/diduduki Israel. Perampasan tanah dan rumah warga Palestina di Tepi Barat masih terus berlangsung sampai hari ini. Gaza diblokade sejak 2007 dan akibatnya, menurut berbagai laporan PBB, kondisi ekonomi dan kesehatan warga di sana sudah sangat memburuk. Kalian mau bilang PBB itu lembaga rasis antiYahudi?

(lebih…)

Kisah Para Pemuda Yahudi yang Menolak Disuap Tiket Gratis

Sejak tahun 1999, kelompok Zionis AS mendirikan sebuah yayasan yang memberikan “hadiah” (gift, istilah mereka) kepada kaum muda Yahudi dari berbagai negara yang berusia 18-32 tahun untuk jalan-jalan gratis ke Israel selama 10 hari. Menurut situsnya, program yang diberi nama “Birthright Israel” ini bertujuan untuk “memperkuat identitas Yahudi, komunitas Yahudi, dan hubungan dengan Israel”. [1]

Namun akhir-akhir ini, seiring dengan era keterbukaan informasi, semakin banyak kaum muda Yahudi yang kritis. Kelompok aktivis Yahudi-Amerika anti pendudukan Israel atas Palestina bernama “IfNotNow” mengecam program Birthright Israel dan menulis di web mereka:

(lebih…)

Konsep di Balik Tulisan

Ada yang bilang, tulisan saya yang sebelumnya itu tidak ada gunanya, tidak menambah pengetahuan. Meski orang bebas berpendapat apa saja (lagian ada gitu, aturan “kalau nulis status harus bermanfaat”?), tapi saya jadi tergelitik untuk ngasih kuliah singkat pagi. Ini khusus buat yang mau dan ‘nyambung’ aja 🙂

Di tulisan saya itu sebenarnya ada beberapa konsep yang sedang saya ‘ajarkan’:

1. Falasi ‘argumentum ad hominem’. Ini adalah cara berargumen yang salah dan tidak logis, yaitu menjatuhkan lawan dengan menyerang pribadinya, baik itu fakta atau fitnah. Contoh: “Dia berpendapat demikian kan karena dia Syiah dan antek Iran, pantas saja…”

2. Falasi saliba bi intifaa’il maudhu (ini istilah dalam ilmu mantiq klasik, artinya: tertolak karena objeknya tidak ada). Saat Anda berdebat atau berargumen, pastikan dulu fakta dan datanya benar. Percuma Anda berbusa-busa berargumen, eh ternyata yang terjadi sama sekali bukan yang Anda maksud.

(lebih…)

Ada cerita menggelikan…

Alkisah ada Paijo, doktor jurusan saluran air lulusan Kutub Selatan, selama ini kadang nulis status soal Palestina-Israel. Dia tipe sok netral dan sok toleran, dan suka menuduh orang yang pro Palestina adalah radikalis yang mendasarkan diri pada klaim-klaim Al Quran (sialnya, emang banyak radikalis yang suka bawa-bawa bendera Palestina kalo demo).

Si Paijo ini temenan baik dengan seorang perempuan cantik pro Israel, sebut saja namanya Mawar. Paijo suka membela Mawar dengan alasan “toleransi”.

Fakta yang diabaikan oleh Paijo (maklum kan dia sibuk bikin saluran air, jadi tentu tidak maksimal membaca-baca soal Timteng), kubu pro-Palestina itu banyak, bukan cuma yang pro-Hamas. Ada Muslim moderat, ada Muslim sekuler, ada komunis, ada Katolik (orang-orang Venezuela, dan Paus Francis, misalnya), dan bahkan ada orang Yahudi-Israel sendiri (saya pernah cerita soal Gilad Atzmon dan Miko Peled, 2 penulis Israel yang sangat aktif membela Palestina dan mengecam rezim Zionis).

(lebih…)

Tentang Bukalapak dan ACT

Sejak kemarin dumay dihebohkan oleh tulisan facebooker bernama Dahono Prasetyo yang berjudul “Bukalapak Bukalah Topengmu”; dicopas di mana-mana, antara lain di [1].

Sebagai ‘martir’ untuk isu Suriah (menulis soal Suriah sejak 2011, habis-habisan dibully, bahkan diancam bunuh, tapi terbukti bahwa kemuliaan tidak akan tertukar; karma itu ada, lihat siapa yang sekarang ketakutan dan tiarap), saya merasa perlu menulis tanggapan.

1. Poin utama kasus ini adalah: BL (dan sangat banyak lembaga lainnya) bekerjasama dengan ACT. Nah, masalahnya, untuk isu Suriah, ACT selama ini secara jelas menunjukkan keberpihakan kepada pemberontak Suriah (oleh fans disebut “mujahidin”). Lihat di foto, bendera pemberontak Suriah-lah yang dipakai saat penggalangan dana ACT (hijau-putih-hitam, bintang 3), bukan bendera resmi Suriah (merah-putih-hitam, bintang 2).

2. Perlu diketahui, ada ratusan kelompok teror di Suriah, mulai dari FSA, Jaish al Islam, Faylaq ar Rahman, Harakat Nour al-Din al-Zenki, dan Harakat Ahrar al-Sham al-Islamiyya, hingga ISIS. ISIS ini adalah “keturunan” dari kelompok teroris yang berafiliasi dengan Al Qaida, namanya Al Nusra. Jadi, di antara mereka ini berkoalisi, lalu pecah, lalu ganti nama, dll. Kalau khilafah berdiri di Suriah, dipastikan mereka akan saling bunuh satu sama lain, rebutan jabatan.

(lebih…)

Menolak Buta Sejarah: Palestina 1896

Sebenarnya, konflik Palestina-Israel ini mudah dipahami, siapa yang salah, siapa yang benar. Pakai logika pun cukup. [1]
 
Yang bikin orang gagal paham adalah karena terlalu banyak noise (kebisingan gak jelas, mengaburkan akar masalah). Ada ahli kimia, ahli geologi, atau ahli saluran air mendadak berlagak jadi “pengamat Palestina-Israel”. [2]
 
Kalau untuk jadi dokter, orang musti kuliah bersusah-payah bertahun-tahun, tapi untuk jadi “pengamat Palestina-Israel”, banyak yang merasa, sekedar modal googling pun sudah jadi “ahlinya ahli”, lalu berlagak menjadi “pejuang toleransi” demi membela Israel.