Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina

Category Archives: Palestina

Tentang terorisme dan radikalisme di Indonesia

https://youtu.be/6Zq-3kzDcjI

Perempuan Palestina

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/255137039423169

Tanggal 8 Maret 2021 adalah Hari Perempuan Internasional

Sehari untuk merayakan kekuatan wanita Palestina tidak akan pernah cukup. Suara mereka selalu lebih keras dari suara penindas mereka. Mereka berdiri tegak, tanpa senjata, menghadapi tentara yang dijuluki “salah satu militer terkuat di dunia.”

Selamat Hari Perempuan, untuk para perempuan tangguh.

sumber video dan caption: @eye.on.palestine

Selamat merayakan Natal untuk teman-teman FB saya dan follower FP ini yang merayakannya.

Semoga Anda semua berbahagia bersama keluarga dan kerabat.

Semoga Tuhan selalu melindungi kita semua.

Semoga pandemi segera hilang, perdamaian segera terwujud, penjajahan dan kejahatan segera sirna. Aamiin.

Video: perayaan Natal umat Kristiani di Jerusalem dan Betlehem (Palestina)video: @middleeastmonitor, foto: @mustafaallbadan

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/437606597647226

“Anda Tidak Perlu Jadi Yahudi untuk Menjadi Zionis”

Alhamdulillah, meskipun media Israel (dan digemakan oleh media lokal) berusaha menggiring opini publik Indonesia, “pemerintah Indonesia akan menormalisasi hubungan dengan Israel”, Kemenlu sudah menyatakan tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel dan akan tetap konsisten membela Palestina.

Indonesia adalah negara demokratis dan suara masyarakat sangat berperan dalam pengambilan keputusan. Indonesia berbeda dengan UAE, Bahrain, Maroko; mereka adalah negara monarki. Apa kata pemimpinnya, itulah yang dilakukan. Rakyat ga bisa protes. Sementara, sudah bukan rahasia bahwa sejak Arab Spring, raja-raja Arab ketakutan akan digulingkan oleh rakyatnya. Mereka butuh perlindungan agar tetap di singgasananya dan yang menawarkan perlindungan adalah AS.

Sebaliknya, pemerintah Indonesia didukung rakyatnya dan tidak butuh perlindungan kekuatan asing.

(lebih…)

Antara Biden dan Trump, Mana yang Lebih Baik untuk Timur Tengah?

Konflik antara Amerika Serikat dengan Timur Tengah telah berlangsung sejak lama dalam beberapa dekade terakhir. Permasalahannya adalah Amerika Serikat (AS) sering kali menerapkan kebijakan-kebijakan ektrem, terlebih pada masa kekuasaan Donald Trump yang membuat hubungan antara AS dan negara-negara Timur Tengah semakin memanas. Lalu, bagaimanakah dampak Pilpres AS 2020 terhadap negara-negara di Timur Tengah?

Silakan baca selengkapnya, wawancara saya dengan Ketik Unpad 🙂https://ketik.unpad.ac.id/…/antara-biden-dan-trump-mana…

Salah Kaprah Soal Boikot

Membaca berbagai aksi boikot yang berupa perusakan (dan tentu saja langsung jadi bahan ejekan rame-rame), saya jadi merasa perlu nulis, apa sih esensi boikot itu?

Saya jelaskan dulu posisi saya: saya tidak memboikot produk Prancis, tapi selama bertahun-tahun BERUSAHA (sebisa saya) menghindari membeli produk-produk yang terbukti memberikan sebagian profitnya kepada Israel; atau jelas-jelas bikin pabriknya di atas tanah pendudukan Palestina (Occupied Palestine). Kalau kebetulan ada produk Prancis yang juga dukung Zionis, nah produk ini juga saya hindari.

Ada 7 poin penting soal boikot ini.

(lebih…)

Mengenang Qaddafi

Tanggal 20 Oktober 2011 adalah hari terbunuhnya pemimpin Libya, Moammar Qaddafi. Ada banyak versi berita tentang Qaddafi. Sangat banyak media yang mengisahkan hal-hal buruk tentangnya.

Namun, untuk cross-check, kita bisa merujuk data dari PBB. Tahun 2010, Libya adalah negara dengan Human Development Index (HDI) tertinggi di Afrika, dan di peringkat 57 dunia. Ini adalah posisi yang jauh lebih baik daripada Indonesia yang pada tahun yang sama, cuma di peringkat 112.

Dalam situs UNDP dicantumkan bahwa pengukuran HDI dimaksudkan untuk mengetahui kondisi kehidupan manusia, dengan berbasis tiga hal berikut ini: kehidupan yang sehat, panjang umur, dan kreatif; memiliki pengetahuan, serta memiliki akses terhadap sumber daya yang diperlukan untuk memiliki kehidupan yang layak.

(lebih…)

Kabar duka dari Suriah

Pagi ini, saya membuka hp dan mendapati kabar duka. Mufti Agung Damaskus, Syekh Muhammad Adnan Al-Afyouni, gugur akibat bom mobil. T_T Semua pasti bisa menduga siapa yang memasang bom itu.

Alm. Syekh Al-Afyouni pernah datang ke Indonesia tahun 2016, bertemu dengan para ulama Indonesia, antara lain Habib Luthfi. Alm. dikenal sebagai ulama sufi dan moderat.

Saya copas sebagian wawancara alm. dengan Republika:

Republika: Syekh, banyak bertebaran fatwa wajib jihad di Suriah. Bagaimana menurut Anda?

Syekh: Saya yakin, fatwa semacam ini salah kaprah. Bertentangan dengan ruh Islam. Fatwa jihad di Suriah yang dikeluarkan sejumlah kalangan itu, tak sejalan dengan prinsip dan kaedah jihad yang diperintahkan agama.

Islam datang untuk mempertahankan kelangsungan hidup umat manusia, bukan malah sebaliknya, yaitu membunuh mereka.

Islam hadir untuk membawa umat manusia tinggal di Surga, dan bukan neraka. Tak pernah sekalipun Islam datang untuk membunuh.

Ajaran-ajaran Islam yang luhur memperlihatkan, bagaimana perempuan yang mengurung kucing divonis masuk neraka, sementara ini lebih mulia lagi, konteksnya adalah manusia.

Bagaimana dengan dampak puluhan, ratusan, hingga ribuan korban yang meninggal akibat fatwa itu? Entah anak-anak, perempuan, lansia, dan seterusnya. Islam menjaga keutuhan nyawa.

Jihad yang disyariatkan oleh Allah SWT melawan penguasa, itu hanya sebatas memastikan agar manusia bisa memeluk dan menjalankan agama dengan baik (Lihat QS al-Anfaal [8]: 39).

Lantas apakah kita akan menamakan perang yang membunuhi umat Islam sendiri itu sebagai jihad?

Mereka sama-sama bersyahadat. Ada ribuan masjid di sini, pesantren, dan madrasah. Bagaimana itu disebut jihad?

Jihad diperbolehkan bila kita umat Islam diperangi oleh musuh yang memerangi negara kita. Ini wajib hukumnya bentuk bela negara. (Lihat QS al-Hajj [22]: 39). Bagaimana bisa jihad memerangi sesama Mukmin dan Muslim dinamakan jihad?

Saya tanya anda satu pertanyaan penting. Jika kita yakin Zionis Israel telah merebut Masjid al-Aqsha dan Palestina, mengapa kita tidak alihkan jihad tersebut ke sana?

Mereka tak menembakkan satu peluru pun untuk kemerdekaan Palestina. Bagaimana mereka membolehkan jihad di Suriah, sementara mereka tidak mengeluarkan fatwa mendesaknya jihad membebaskan al-Aqsha?

Apakah agama itu ditentukan dengan standar manusia? Atau agama adalah syariat Allah yang wajib kita sikapi hati-hati?

Republika: Bisa Anda gambarkan kondisi Suriah sebelum konflik meletus?

Syekh: Mahasiswa Indonesia di Suriah bisa merasakan sendiri bagaimana kondisi di Suriah sebelum konflik. Contoh kecil, kita tak pernah ada kasus kriminal seperti pencurian atau pembunuhan, sekalinya ada, kita akan terkejut. Dulu, perempuan jalan sendirian dini hari, aman-aman saja.

Tak pernah pula terjadi perserteruan antarkabilah. Negara kami aman, penduduknya ramah. Sambutan mereka terhadap tamu sangat luarbiasa. Kami sambut dengan baik warga Irak pada 2003, rakyat Palestina sejak 1960-an, dan bagaimana kami perlakukan baik orang Lebanon pada 2006, atau warga Kuwait saat perang dengan Irak.

Mereka yang tinggal di Damaskus, akan merasa seolah ia penduduk asli. Dan tiba-tiba, Arab Spring memporak-porandakan semua.

Suriah, sejak awal, adalah satu dari sekian negara dengan stabilitas, keamanan, dan kesejahteraan yang tinggi. Sistem sosialnya yang sangat teratur di antara segenap elemennya. Suriah merupakan potret negara percontohan yang sukses merekatkan unsur masyarakat yang berbeda, baik etnis, suku, mazhab, dan agama.

Dan, ketahuilah, alhamdulillah, sejak awal, Suriah termasuk negara paling aman di dunia. Suriah adalah negara yang tak ada fakir miskin, tak ada orang kelaparan. Orang bisa tinggal di suriah dengan biaya hidup termurah di dunia.

Warga menikmati kondisi itu. Pendidikan gratis dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi strata tiga (doktoral). Kesehatan gratis, baik untuk bedah atau selain bedah. Listrik semigratis. Warga bisa mendapatkan fasilitas-fasilitas dengan mudah dan gratis berkat subsidi negara. Tapi, yang terjadi sudah terjadi.

Selengkapnya silakan baca di https://republika.co.id/berita/odo5l9320/eksklusif-mufti-damaskus-serukan-setop-fatwa-jihad-suriah.

**

Untuk Anda yang ingin lebih memahami konflik Suriah, bisa download ebook Prahara Suriah (gratis). Buku itu terbit tahun 2013. Awalnya saya sempat tak sanggup menyelesaikan penulisannya, karena dahsyatnya bully-an yang saya terima (yang berimbas pada kehidupan nyata, bukan cuma di dunia maya) akibat menulis soal Suriah sejak 2011. Tapi, tiba-tiba ada kabar duka, Syekh Buthy (ulama besar Suriah, aswaja) gugur syahid karena bom bunuh diri teroris pro-khilafah pada 21 Maret 2013).

Kedukaan itu justru memotivasi saya untuk segera menyelasaikan buku itu, menolak kalah dari para peneror pro-khilafah itu. Karena, sejak awal saya sudah memprediksi bahwa konflik dan cara-cara teror mereka di Suriah pasti akan dibawa ke Indonesia. Dan sayangnya, prediksi saya benar 😦 https://dinasulaeman.wordpress.com/2019/01/01/pdf-prahara-suriah/

**Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu anhu wakrim nuzulahu… Alfaatihah ma’ash shalawaat**

Benarkah Membuka Hubungan Diplomatik dengan Israel Akan Membawa Keuntungan Ekonomi?

Para pendukung Israel, dari kelas netizen-pake-akun-palsu hingga politisi, sering memuji-muji setengah mati “kecanggihan dan kemajuan ekonomi” Israel, lalu menyatakan, “membuka hubungan diplomatik dengan Israel akan membawa keuntungan ekonomi.”

Benarkah demikian?

Sebelum saya masuk ke analisis, saya akan kutip tulisannya Hinnebusch (International Politics of Middle East), untuk menunjukkan bahwa persoalan ini sudah pernah dia bahas sejak 2003; jadi saya tidak “mengira-ngira” atau “tidak ilmiah” saat berpendapat. Di hlm 229-230, ia menulis bahwa salah satu cara yang ditawarkan untuk mendamaikan Arab-Israel adalah melalui integrasi ekonomi dan globalisasi. Berbagai konferensi digelar untuk mencapai “normalisasi ekonomi” Arab-Israel. Dalam pandangan liberalis: saling ketergantungan ekonomi akan mencegah konflik.

Tapi kenyataannya, karena GNP (penghasilan Israel) sangat tinggi dibanding negara-negara sekitarnya, hasilnya, “..integrasi ekonomi kemungkinan besar akan menjadikan Israel sebagai pusat ekonomi regional, memungkinkannya untuk mengeksploitasi tenaga kerja dan sumber energi –migas- Arab; dan menjadikan negara tetangganya seperti Yordania dan entitas Palestina menjadi “satelit ekonomi.”

Hinnebusch juga menulis, “…adalah Israel yang paling berhasil meraih globalisasi sebagai alternatif integrasi regional, memanfaatkan perjanjian Oslo untuk mengakhiri boikot Arab yang telah secara efektif membatasi hubungan ekonominya; dan memanfaatkan “proses perdamaian” untuk menarik perusahaan-perusahaan multinasional –agar investasi di Israel—yang kemudian mengekspor produk ke Asia Timur dan Eropa.”

Juga kata Hinnebusch, akibatnya, yang terjadi adalah “false peace” (perjanjian damai palsu) dan perlawanan tetap muncul.

Kalimat singkatnya: dalam kerjasama ekonomi Israel-Arab, yang untung itu Israel.

Nah, mari kita cek. Apakah ketika UAE menjalin “normalisasi” dengan Israel, yang untung Israel atau UAE? Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Kalau dilihat dari GDP perkapita: Israel 41.715 USD dan UEA 43.004 USD (2018). Keduanya sama-sama termasuk negara kaya. Tapi, di antara dua negara ini, Israel-lah yang butuh UAE. UAE sebelumnya de facto memboikot Israel (meskipun sebenarnya tetap menjalin perdagangan, antara lain di bidang instrumen intelijen). UU boikot ini secara resmi UAE dicabut tanggal 29 Agustus. Bloomberg menuliskan antusiasme bisnismen Israel atas normalisasi ini sbb. “Sementara UEA tidak menyatakan aspirasinya untuk bidang kerja sama tertentu, maskapai penerbangan dan bank Israel sudah bersemangat untuk bekerja di UEA, dan pejabat Israel juga mengungkapkan harapan untuk bekerja sama dalam teknologi dan kedirgantaraan. ..Pejabat Kementerian Keuangan juga melihat potensi untuk merundingkan perjanjian tentang investasi bilateral, perpajakan, bea cukai dan pembiayaan perdagangan..”[1]

Jadi, sudah jelas Israel yang akan meraih untung. Kontrak yang langsung ditandatangani pun jualan senjata dari Israel ke UAE. Haaretz (koran Israel) menulis, “Deal yang sebenarnya antara Israel-UAE adalah senjata.”

Pertanyaan ini juga layak diajukan ke Indonesia. Apa benar Indonesia akan untung kalau buka hubungan diplomatik dengan Israel? Untuk Indonesia, karena perbandingan GDP-nya sudah sangat jomplang [Indonesia 3.893 USD; Israel 41.715 USD (2018)], sebenarnya mudah sekali dideteksi, siapa yang akan untung.

Penduduk Indonesia 270 juta, sementara populasi Israel sekitar 8 juta. Dari perbandingan ini saja, sudah bisa dipastikan, Israel-lah yang akan mendapatkan keuntungan ekonomi sangat besar bila hubungan diplomatik dibuka.

Indonesia adalah pasar yang sangat besar dan menggiurkan bagi produk-produk Israel. Produksi unggulan Israel adalah produk-produk berbasis teknologi tinggi, terutama senjata dan teknologi komunikasi, serta layanan jasa. Kalaupun ada keuntungan yang didapat, pertanyaannya: siapa yang untung? Rakyat, atau segelintir pengusaha?

Saya ingin mengutip John Perkins, penulis buku Confessions of an Economic Hit Man. Menurut kesaksiannya, modus operandi lembaga-lembaga keuangan AS dalam mengeruk uang adalah dengan memberikan hutang raksasa kepada negara-negara berkembang. Kata Perkins:

**

“Salah satu kondisi pinjaman itu –katakanlah US $ 1milyar untuk negara seperti Indonesia atau Ekuador—negara ini kemudian harus memberikan 90% dari uang pinjaman itu kepada satu atau beberapa perusahaan AS untuk membangun infrastruktur—misalnya Halliburton atau Bechtel. Ini adalah perusahaan yang besar. Perusahaan-perusahaan ini kemudian akan membangun sistem listrik atau pelabuhan atau jalan tol, dan pada dasarnya proyek seperti ini hanya melayani sejumlah kecil keluarga-keluarga terkaya di negara-negara itu. Rakyat miskin di negara-negara itu akan terbentur pada hutang yang luar biasa besar, yang tidak mungkin mereka bayar.”

**

Lalu siapakah pemilik Halliburton atau Bechtel yang disebut Perkins? Silakan google saja, akan ketemu nama-nama pengusaha Yahudi. Haaretz (koran Israel) pernah menulis bahwa ada istilah Ibrani yang menjadi standar nilai moral di kalangan Yahudi, yaitu ‘tzedakah’. Haaretz mengutip seorang peneliti yang menyebutkan bahwa orang-orang kaya Yahudi memiliki keterikatan kekeluargaan yang sangat erat dan menjadikan ‘tzedakah’ sebagai sebuah kewajiban moral. Inilah yang membuat Israel ‘hidup’ hingga hari ini, mampu melanjutkan kejahatannya di Palestina, serta tak pernah bisa diajak bernegosiasi secara adil demi kehidupan damai di Palestina.

Gilad Atzmon, seorang penulis dan aktivis asal Israel (tapi pro-Palestina) menulis:

**

Israel mungkin kaya karena, “dari tujuh oligarki yang menguasai 50% ekonomi Rusia selama tahun 1990-an, enam adalah Yahudi.” Selama dua dekade terakhir, banyak oligarki Rusia telah memperoleh kewarganegaraan Israel. …Wikileaks baru-baru ini mengungkapkan bahwa “sumber di kepolisian (Israel) memperkirakan bahwa kejahatan terorganisir Rusia (Mafia Rusia) telah mencuci sebanyak US $ 10 miliar di Israel.”

Ekonomi Israel berkembang pesat karena penipu besar seperti Bernie Madoff telah menyalurkan uang mereka melalui Zionis dan institusi Israel selama beberapa dekade. Israel ‘baik-baik saja’ karena merupakan pedagang “berlian berdarah” (blood diamond) terkemuka. Israel juga merupakan penjual senjata terbesar keempat di planet ini. Jelas, “berlian berdarah” dan senjata terbukti sangat cocok.

Seolah-olah ini tidak cukup, Israel juga makmur karena, perdagangan organ. Singkatnya, kinerja Israel lebih baik daripada negara lain karena menjalankan salah satu ekonomi non-etis terkotor di dunia. [2]

***

Akhir kata: membela Palestina dan menolak membuka hubungan diplomatik dengan Israel pada hakikatnya adalah membela diri kita, melepaskan diri dari imperium ekonomi kotor yang hanya memperkaya segelintir orang.

[1] https://www.bloomberg.com/news/articles/2020-08-31/israel-sees-6-5-billion-in-trade-as-uae-peace-talks-kick-off

[2] https://www.middleeastwatch.net/Israeli-Economy-for-Beginners

Soal blood diamond Israel: https://www.middleeastmonitor.com/20191119-the-kimberley-process-israels-multi-billion-dollar-blood-diamond-laundry/ Foto: Gaza

Cara Cerdas dalam Menganalisis Konflik

ZSM (netizen pro Israel) kan umumnya juga pro Papua merdeka. Bendera Bintang David juga banyak berkibar di Papua. Untuk menarik hati publik, ada yang nekad bawa-bawa Palestina.

ZSM: “Papua itu nasibnya sama kayak Palestina. Sama-sama dalam kondisi terjajah.”

Jawab: “Oh, berarti di matamu, Indonesia sama kejamnya dengan Israel ya? Berarti kamu ngaku juga ya, kalau Israel itu penjajah??”

(lebih…)