Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina

Category Archives: Palestina

Iklan

Felicia-Amalia Langer in Memoriam

Tanggal 21 Juni lalu, seorang pembela Palestina meninggal dunia. Namanya Felicia Amalia Langer, ia seorang pengacara Yahudi. Ia adalah survivor [orang yang selamat dari] Holocaust. Ia pindah ke Israel pada 1950, setelah menikah dengan Mieciu Langer, juga seorang survivor Holocaust. Di Israel, ia kuliah di fakultas hukum, lalu tahun 1966 ia membuka kantor pengacara.

Selama 1966-1990, Felicia menjadi pengacara di Israel yang fokus membela orang-orang Palestina warga Israel yang menghadapi kasus perampasan lahan, penghancuran rumah, pengusiran, dan penyiksaan oleh tentara Israel. Felicia adalah pengacara Israel pertama yang melakukan pembelaan kepada mereka. Namun ia lebih sering kalah di pengadilan.

Tahun 1990, ia menutup kantor pengacaranya lalu pindah ke Jerman karena menurutnya ‘orang Palestina tidak mungkin lagi mengharapkan keadilan di Israel’. Felicia menulis sejumlah buku yang mengkritik pelanggaran HAM yang dilakukan Israel.

Berikut ini saya terjemahkan sebagian pidatonya, yang sangat menarik untuk disimak, antara lain karena menyebut-nyebut Albert Einstein; dan menjadi jawaban bagi orang yang suka berargumen: “orang Muslim aja banyak kok di Israel!”

(lebih…)

Iklan

NU dan Palestina

Pagi ini saya membaca dua artikel menarik di NU Online, terkait Palestina. Ada pengetahuan baru yang saya dapatkan, mengenai bagaimana ulama-ulama kita zaman dahulu, sebelum masa kemerdekaan, sudah sangat paham geopolitik.

Pada tahun 1938, tepatnya dalam Muktamar NU ke-13 (12-15 Juli 1938) di Menes, Pandeglang, Banten, KH Abdul Wahab Chasbullah berpidato, “Pertolongan-pertolongan yang telah diberikan oleh beberapa komite di tanah Indonesia ini berhubung dengan masalah Palestina, tidaklah begitu memuaskan adanya. Kemudian guna dapat mencukupi akan adanya beberapa keperluan yang tak mungkin tentu menjadi syarat yang akan dipakai untuk turut menyatakan merasakan duka cita, sebagai perhatian dari pihak umat Islam di tanah ini. Atas nasib orang malang yang diderita oleh umat Islam di Palestina itu, maka sebaiknyalah NU dijadikan Badan Perantara dan Penolong Kesengsaraan umat Islam di Palestina. Maka pengurus atau anggota NU seharusnyalah atas namanya sendiri-sendiri mengikhtiarkan pengumpulan uang yang pendapatannya itu terus diserahkan kepada NU untuk diurus dan dibereskan sebagaimana mestinya.” [1]

Artinya apa? Bayangkan, tahun 1938, sama sekali tidak ada internet. Informasi berputar sangat lambat. Tetapi hal itu tidak menghalangi munculnya pemahaman geopolitik global yang sangat cerdas serta munculnya solidaritas global yang melintasi jarak ribuan kilometer.

(lebih…)

Kunjungan Anak Sang Jenderal Israel ke Iran

Dulu saya pernah ceritakan di fanpage ini tentang Miko Peled. Ia adalah anak dari seorang jenderal di IDF (tentara Israel). Miko sendiri Yahudi asli, lahir dan besar di Yerusalem. Dalam sebuah video ia menceritakan sulitnya proses yang ia lalui saat menyadari bahwa bangsanya telah melakukan kejahatan besar terhadap bangsa Palestina. Ia juga menulis buku “The General’s Son” yang menceritakan pengalaman pribadinya dan apa yang sesungguhnya terjadi di Palestina. [1]

Baru-baru ini, Miko ternyata datang ke Iran dan berbicara di beberapa forum, antara lain di depan anak-anak SMA di kota Yazd. Tulisan lengkapnya silahkan baca sendiri [2].

Ada seorang siswa yang mengajukan pernyataan, dan dijawab dengan sangat menarik oleh Miko. Saya terjemahkan sebagian tulisannya.

========
Seorang pemuda tinggi dan tampan berdiri, dan berkata, “Palestina cuma bisa dibebaskan jika ada Hitler lagi.” Para orang dewasa di ruangan itu terlihat tidak nyaman atas perkataan ini. Tetapi, ini adalah kesempatan. Saya paham bahwa jika ada anak SMA mengungkapkan apa yang dia pikirkan, meskipun Anda tidak suka, itu adalah kesempatan emas.

Saya mengingatkan anak itu tentang pernyataan pemimpin Iran [Ayatullah Khamenei], bahwa 25 tahun dari sekarang, Israel tidak akan ada lagi.

Saya menantang anak itu, dan yang lain di ruangan, untuk berpikir: apakah yang sebenarnya dimaksud oleh Ayatullah Khamenei? Apakah dia menginginkan kematian orang lain? Apakah dia menghendaki perempuan dan anak-anak menderita dan menjadi pengungsi?

(lebih…)

Kesamaan Antara ZSM dengan ISIS/Al Qaida

Sebuah video disebar luas oleh ZSM (dan fans Israel di berbagai negara) untuk menutupi kejahatan Israel di Gaza (tentara Israel membunuhi para demonstran yang menuntut hak kembali ke rumah-rumah mereka yang dirampas Israel).

Dalam video itu terlihat mayat-mayat bergerak. Kata ZSM: “Inilah akting orang-orang Palestina, ngaku-ngaku korban tentara Israel, padahal cuma pura-pura mati.”

Dan.. tak butuh waktu lama, ketahuan itu HOAX.

Video ini aslinya tahun 2013, aksi demo mahasiswa Al Azhar yang protes di dalam kampus. (https://www.youtube.com/watch?v=bJhYaF-xxOo)

Dan video yang sama sudah pernah diviralkan oleh fans Israel tahun 2014 (ketika itu Israel membantai 2200 orang Palestina dan melukai ribuan lainnya), dengan narasi sama: orang Palestina pura-pura mati.

Saya sudah tulis berkali-kali, kesamaan antara fans Israel dan fans ISIS/Al Qaida adalah: sama-sama suka menjustifikasi kejahatan kemanusiaan dengan (1) hoax (2) ayat Kitab Suci dengan tafsiran semau mereka.

Para “jihadis” berangkat ke Suriah berbekal info-info hoax mengenai “saudara-saudara Sunni dibantai Syiah”.

Para ZSM menjustifikasi kejahatan Israel dengan menyebar hoax: yang dibunuh tentara Israel itu TERORIS! Bahkan Ibu Menlu RI yang mengecam kekerasan tentara Israel pun dikatain mendukung teroris oleh seleb ZSM.

Bila pejuang yang berusaha memerdekakan tanah air mereka sebut teroris, bagaimana dengan para pahlawan kita dulu yang berjuang melawan Belanda? Oh, mereka dulu juga dihina sebagai teroris/ekstrimis, termasuk oleh orang-orang Indonesia yang jadi anteknya Belanda.

(lebih…)

Kisah Para Pengungsi: Antara Palestina dan Sampang

Sepekan setelah perayaan Idul Fitri tahun 2012, warga dusun Nangkernang, desa Karang Gayam, Sampang (Madura) yang bermazhab Syiah diserang oleh segerombolan massa fanatik. Rumah-rumah dan hewan ternak mereka dibakar habis. Awalnya mereka mengungsi ke GOR Sampang, lalu pemerintah daerah merelokasi paksa mereka ke rusun di Sidoarjo. Hingga hari ini, mereka masih tinggal di rusun itu.

Menjelang Idul Fitri 2018, tepatnya tanggal 13 Juni lalu, salah seorang pengungsi yang bernama Kurriyah (ada juga yang menulis ‘Qurriyah’) meninggal dunia pada usia 24 tahun. Sanak keluarga membawa jasadnya ke kampung halaman untuk dimakamkan, namun ditolak oleh oknum warga. Tak ada perlindungan dan pembelaan dari pemerintah. Jasad Kurriyah pun dimakamkan di tanah pengungsian.

Kata ‘pengungsi’ akan selalu mengingatkan kita pada Palestina.

Entitas Zionis dengan berbekal ‘surat izin pendirian negara’ yang dirilis DK PBB tahun 1947 melakukan pembersihan etnis Arab dari kawasan yang akan mereka jadikan negara. Taktik mereka (sebagaimana ditulis oleh sejarawan Yahudi, Ilan Pappe) adalah seperti ini: desa-desa dikepung dari tiga arah dan arah keempat dibuka untuk pelarian dan evakuasi.

(lebih…)

Solusi untuk Palestina

Secara umum, ada dua jenis opsi yang ditawarkan para pemikir dan pengkaji Timteng sebagai solusi untuk Palestina.

OPSI PERTAMA

PBB mendukung two-state solution (dua negara berdiri berdampingan). Ada lubang besar dalam tawaran ini, yaitu sifat alami (nature) dari Rezim Zionis sendiri.

Seperti ditulis sejarawan Yahudi, Ilan Pappe, sifat alami Rezim Zionis sejak didirikan adalah menyerang, mengusir, dan menduduki wilayah milik orang-orang Palestina. Terbukti, hingga hari ini, Israel masih terus melakukan kekerasan, pembangunan permukiman illegal, bahkan ditambah pula dengan pembangunan Tembok Zionis. Tembok ini bahkan juga memblokade nghalangi warga desa-desa Kristen di Betlehem.

Hamas, yang selalu dicitrakan oleh Israel dan para pendukungnya sebagai teroris, sebenarnya bahkan pernah menerima opsi ini. Hamas bersedia berhenti angkat senjata, ikut dalam proses demokratis (pemilu), dan mau mengakui Israel, asal Palestina juga dibiarkan berdiri menjadi sebuah negara merdeka. Namun yang terjadi: Hamas menang pemilu di Gaza pada 2006 (pemilu yang amat demokratis, diawasi oleh pengamat dari berbagai negara/organisasi internasional) dan Israel pun memblokade Gaza, sampai hari ini. Gaza menjadi penjara terbuka terbesar di dunia; sewaktu-waktu Israel melancarkan operasi militer membombardir Gaza.

Sementara di Tepi Barat, Israel terus merampas rumah dan tanah milik Palestina (6 bulan pertama thn 2016 saja, yang dirampas 3000 hektar dan 450 rumah), kemudian di atasnya dibangun permukiman khusus Yahudi, yang dijaga oleh militer Israel.

(lebih…)

Palestina adalah Kita (New Version)

Ini tulisan yang saya janjikan kemarin. Selama ini, saya sudah berkali-kali menulis artikel dengan judul yang sama atau mirip dan isinya pengulangan. Kali ini, ada hal baru yang akan saya ceritakan.

Begini, frasa ‘Palestina adalah Kita” saya ambil dari seorang penulis Yahudi yang lahir dan besar di Israel, Gilad Atzmon. Di masa dewasanya, ia menyadari kejahatan Israel terhadap bangsa Palestina dan memilih pergi keluar, tinggal di Inggris, lalu aktif menulis mengkritik Israel dan membela Palestina. Dia bahkan menyebut diri sebagai orang Palestina. “Saya seorang Palestina yang berbahasa Ibrani,” kata Gilad kepada saya, saat kami berjumpa di Bandung tahun 2017.

Bertemu Gilad, yang sudah saya kenal via medsos beberapa tahun sebelumnya, cukup mendebarkan. Saya membaca bukunya, The Wandering Who, dan bisa merasakan pergulatan batin dan pikirannya terkait ras/leluhur/agama-nya sendiri. Ini perjumpaan kedua saya dengan orang Yahudi; yang pertama kali, bertahun yang lalu, di Tokyo.

Saya mengajak teman baik saya, Syarif, seorang penstudi HI. Kami berbincang akrab di lobby Hotel Papandayan, karena Gilad akan manggung di hotel itu malam harinya. Sikapnya hangat dan menyenangkan.

(lebih…)

Selalu Ada Israel di Balik Bebagai Kekacauan

Akhir-akhir ini beruntun muncul peristiwa yang (menurut saya) berjalin-berkelindan:

1. Aksi demo bela Palestina, tapi anehnya, digagas oleh kelompok-kelompok yang selama 7 tahun terakhir justru berperan aktif dalam membawa narasi perang Suriah ke Indonesia. (Suriah adalah penyuplai logistik untuk pejuang Palestina dan pelayan bagi jutaan pengungsi Palestina).

Kelompok-kelompok ini bicara atas nama Islam, tapi aktivitasnya terkait Suriah malah sejalan dengan kepentingan Israel. Imbasnya pun dirasakan oleh bangsa Indonesia: radikalisme/esktrimisme semakin marak sejak konflik Suriah dibawa-bawa ke Indonesia oleh mereka demi menggalang dana dan merekrut petempur. [1]

2. Aksi terorisme beruntun di berbagai kota di Indonesia. Siapa pelakunya? Tak lain teroris yang berjejaring dengan kelompok-kelompok teror di Suriah.

(lebih…)

Mengapa Mengidolakan Erdogan?

Erdogan naik daun dan dipuja (sebagian) kaum muslimin dunia sejak tahun 2009. Tapi, sejak Pakde Jokowi jadi presiden, entah mengapa, pemuja Erdogan di Indonesia semakin histeris. Banyak sekali mitos yang mereka buat tentang Erdogan. Padahal periode 2009-2013 mereka tidak sehisteris itu.

Kekaguman sebagian orang pada Erdogan bermula dari kejadian di sebuah konferensi internasional di Davos, Swiss, Januari 2009. Saat itu, Erdogan blak-blakan mengkritik Israel dengan mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel Simon Peres membunuh anak-anak dan wanita-wanita tak berdosa di Gaza. Setelah berbicara demikian, Erdogan melakukan aksi walk out dari konferensi tersebut.

Karena umat muslim umumnya sangat bersimpati pada Palestina, bisa dimaklumi bila peristiwa itu dalam sekejap menaikkan pamor Erdogan. Tahun 2010, sikap keras Erdogan terhadap Israel berlanjut dengan aksi pengiriman bantuan ke Gaza. Bantuan itu dibawa para aktivis pembela Palestina dengan menggunakan kapal milik Turki, yang bernama Mavi Marmara. Dengan gagah berani, kapal berserta para penumpangnya melabrak blokade laut tentara Israel.

(lebih…)

“Umat Islam” Jahat Kepada Yahudi?

Ada sebuah tulisan yang membuat saya mikir dan prihatin. Judulnya “Persekongkolan Nazi-Islamis”. Pasalnya, banyak sekali ia gunakan frasa “Umat Islam”. Digambarkan dalam artikel itu betapa “umat Islam” ini jahat sekali, beraliansi dengan Hitler melakukan perang di mana-mana atas nama Islam; yang jadi korbannya adalah Yahudi dan Kristen.

Saya menulis ini untuk berbagi cara berpikir kritis kepada follower fanpage ini.

Saat kita berargumen, biasakan memakai kata dengan definisi yang benar. Kesalahan definisi akan menyeret kita pada kesalahan berargumen. Ini kaidah dasar dalam ilmu logika (saya sudah tulis seri ‘kuliah logika’, di FP ini).

Saat saya menyebut Islamis, atau “jihadis” (kata jihad dengan tanda kutip) artinya saya sedang merujuk pada satu kelompok tertentu. Islamis adalah istilah yang akhir-akhir ini dipakai publik (terutama di Barat) untuk menyebut sebagian kalangan Islam yang beraliran ekstrim dan gemar mengusung “jihad” ala Al Qaida/ISIS / al Nusra/ Jaysh al Islam/FSA. Ikhwanul muslimin dan Hizbut Tahrir, juga diistilahkan Islamis.

Jadi Islamis tidak sama dengan UMAT ISLAM. Fundamentalis Islam tidak sama dengan UMAT ISLAM. Umat Islam adalah sebuah rumah sangat besar dengan banyak kelompok/bagian di dalamnya.

(lebih…)