Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina

Category Archives: Palestina

Indonesia Mau Belajar Pertanian ke Israel? (2)

Di bagian (1), ada komentator yang memuji-muji kemajuan teknologi pertanian Israel, bisa bikin subur gurun, katanya.

Foto yang saya upload ini adalah seorang warga Arab-Bedouin di gurun Negev, Israel, yang sedang dibekuk oleh tentara Israel. Ini kejadian kemarin (13/1), difoto oleh jurnalis Israel, Oren Ziv. Selain ditangkap, dibekuk, warga juga ditembaki gas air mata.

Penyebabnya, karena mereka melakukan aksi protes, menolak penanaman pohon di atas tanah mereka. Orang-orang Israel, bersama organisasi Dana Nasional Yahudi (Jewish National Fund), berencana menanam pohon di lahan seluas 1.250 acre di sepanjang aliran sungai Anim. Sebagian lahan yang akan ditanami pohon oleh JNF itu adalah tanah pertanian warga Arab Bedouin; karena itulah mereka protes.

Orang-orang Arab Bedouin hidup di sana sejak sebelum berdirinya Israel. Ketika tanah tempat mereka hidup tiba-tiba berubah status jadi Israel, otomatis mereka jadi warga Israel juga. Tapi, mereka mengalami diskriminasi; mereka dianggap penduduk ilegal. Selama ini sudah sering terjadi pengusiran dan penghancuran rumah-rumah warga Arab Bedouin oleh Israel. Inilah salah satu bukti bahwa Israel adalah negara apartheid: warga Arab (non-Yahudi-Zionis) mendapatkan perlakuan diskriminatif dan represif.

(lebih…)

Indonesia Mau Belajar Pertanian ke Israel? (1)

Tentu saja ini sangat absurd. Indonesia sudah sangat banyak ahli yang mampu memaksimalkan produksi tanaman pangan. Masalahnya tinggal di kebijakan dan implementasi. Disertasi saya membahas soal ini, jadi saya tidak asal klaim. Salah satu informan riset saya adalah Prof. Mubiar (alm) dari ITB. Beliau berhasil menciptakan sebuah metode penanaman padi yang berbasis kearifan lokal Sunda, dengan tingkat panen yang sangat tinggi dengan modal rendah (tanpa perlu bergantung pada benih pabrik, insektisida kimia, dan pupuk pabrik).

Ketika saya tanya beliau, “Mengapa metode ini tidak diimplementasikan secara besar-besaran di seluruh Indonesia?” Beliau menjawab, “Itu juga pertanyaan saya.” Metode beliau ini sudah sampai kok ke level elit, sudah pernah panen massal juga dihadiri Pak SBY.

Karena itulah, sangat absurd kalau pertanian digadang-gadang sebagai “pintu” untuk membuka hubungan diplomatik Indonesia-Israel. Berita Jerusalem Post (11 Jan 2022) yang saya tampilkan screenshotnya ini, berjudul “Bagaimana pertanian membuat menteri pertahanan Indonesia berbicara tentang normalisasi dengan Israel.”

Berikut ini saya terjemahkan sebagian isinya:

**

(lebih…)

Emma Watson Bukan Anti-Semit

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/1584788258542335

Bintang film Harry Potter dan aktivis PBB, Emma Watson, memposting foto di IG-nya, bertuliskan “Solidarity is a verb,” solidaritas adalah kata kerja.

Di caption foto IG itu, Emma mengutip pernyataan Sara Ahmed, “Solidaritas tidak menyamakan semua perjuangan, tidak menyamakan semua rasa sakit atau menyamakan harapan untuk masa depan yang sama. Solidaritas melibatkan komitmen, dan tindakan, serta pengakuan bahwa meskipun kita tidak memiliki perasaan yang sama, atau kehidupan yang sama, atau tubuh yang sama, kita hidup dalam dunia yang sama.”

Postingan IG Emma langsung ditanggapi dengan marah oleh netizen pro-Israel dan pejabat Israel, seperti Dubes Danny Danon (ingat, dia dalam sidang PBB tahun 2019 telah mengangkat kitab suci dan berkata, “inilah AKTE tanah kami’).

(lebih…)

Ada “Komunis” di Palestina?

Warga Gaza kemarin memperingati hari berdirinya PFLP (Popular Front for the Liberation of Palestine).

PFLP adalah organisasi sosialis/Marxis revolusioner yang didirikan pada tahun 1967 untuk melawan Israel dan memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Awalnya, PFLP bernama Harakat al-Qawmiyyin al-Arab, atau Gerakan Nasionalis Arab (ANM), yang didirikan pada tahun 1953 oleh George Habash.

Habash beragama Kristiani, seorang dokter. Perjuangannya dipicu oleh tragedi yang dialaminya sendiri. Ia dan keluarganya terusir dari kota kelahirannya di Lydda pada 1948, saat itu Habash masih mahasiswa kedokteran. Teroris Israel menyerang Lydda dan mengusir warga kota itu. Lydda sekarang menjadi bagian Israel (disebut Lod).

***

(lebih…)

“Berdamai” dengan Israel? (2)

Kesalahkaprahan istilah “berdamai” dalam isu Israel-Palestina, sudah saya bahas di bagian pertama. Sekarang kita bahas “normalisasi.” Mengapa ada pihak yang mendorong Indonesia “menormalisasi” hubungan dengan Israel? Mengapa dipakai kata “normal”?

Kalau dalam teori resolusi konflik, normalisasi artinya mengembalikan hubungan diplomatik, kerjasama di bidang ekonomi, pengaturan keamanan, dll.

Tapi ada hal yang lebih “dalam” di balik kata “normalisasi” ini, yaitu “menganggap normal” atau “proses di mana gagasan dan perilaku yang mungkin berada di luar norma sosial menjadi dianggap normal.”

Status Israel adalah menjajah [dokumen resmi PBB dipakai istilah “occupy” atau “menduduki”] tanah bangsa Palestina. Israel melakukan berbagai kejahatan kemanusiaan terhadap orang Palestina dan melakukan sistem apartheid. Karena dilandasi keyakinan bahwa ras Yahudi lebih unggul dan istimewa dibanding ras lain sedunia, Israel memberlakukan aturan-aturan apartheid terhadap orang Palestina. Human Rights Watch sudah melaporkan soal ini, April 2021.

(lebih…)

“Berdamai” dengan Israel? (1)

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/244696037733127

Ada saja suara-suara yang bicara “perdamaian” dengan Israel. Memang, Israel ingin sekali membuka hubungan diplomatik dengan Indonesia. Sebagian orang Indonesia pro-Israel juga menginginkannya. Banyaklah iming-iming dari mereka, “Kita bisa mengakses kecanggihan teknologi Israel; kita bisa belajar teknologi pertanian Israel, bla..bla..bla..”

Buat Israel, jika saja Indonesia, negara dengan populasi-mayoritas-Muslim terbesar di dunia, mau membuka hubungan diplomatik dengan Israel, ini akan jadi “kemenangan” diplomatik sangat besar bagi Israel.

Ibaratnya, mereka akan bilang, “Lihat nih, Indonesia yang Muslim aja mau damai kok sama kami, kenapa Palestina ga mau damai?!”

(lebih…)

Perjuangan Seorang Penyair Muda

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/312145700728567

Berikut ini potongan pidato Mohammed El Kurd, di Sidang Majelis Umum PBB, New York., 29 November 2021. Mungkin ada yang ingat, video “Yakoov,” pemukim Zionis asal AS yang didatangi para aktivis Palestina karena dia secara ilegal menduduki rumah milik keluarga El Kurd di Sheikh Jarrah? Saat itu, Muna El Kurd (saudari kembar Mohammed) mengatakan, “You are stealing my house!” (Kamu mencuri rumahku).

Yakoov menjawab, “Kalau saya tidak mencurinya, orang lain yang akan mencurinya.”

Mohammed dan Muna El Kurd adalah dua di antara sangat banyak anak muda Palestina yang aktif menggunakan media sosial untuk menggalang dukungan masyarakat sipil di dunia. Mereka mendokumentasikan kejahatan Israel terhadap mereka melalui video/konten medsos. Mohammed yang sangat fasih berbahasa Inggris juga menulis artikel opini yang dimuat di media-media internasional. Dia diwawancarai media-media mainstream dan dengan pemaparan yang sangat baik, mampu menjelaskan kepada publik, bahwa yang terjadi di Palestina sesungguhnya adalah penjajahan.

Majalah Time menempatkan Mohammed dan Muna El Kurd dalam daftar “100 most influential people of 2021”

Apa jawaban Mohammed?”

(lebih…)

Kemerdekaan yang Tidak Bisa Dicapai dengan Cuitan Keprihatinan

Empat puluh empat tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1977, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal 29 November sebagai Hari Solidaritas Internasional dengan Rakyat Palestina. Ketetapan yang dikukuhkan oleh Resolusi PBB No. 32/40 B ini mengawali peringatan di tahun-tahun berikutnya. Peringatan yang terus memunculkan pertanyaan: kapankah bangsa Palestina akan merdeka?

Dalam peringatan tahun ini, seperti biasa, PBB mengadakan sidang di Markas PBB New York. Sebagian pembicara hadir secara langsung, sebagian lagi menyampaikan pendapatnya melalui rekaman video, mengingat situasi pandemi yang membatasi mobilitas. Selain perwakilan negara-negara, aktivis sipil juga diminta menyampaikan pandangannya. Salah satunya adalah seorang pemuda Palestina yang baru-baru ini dinobatkan sebagai satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia versi majalah TIME, Mohammed El Kurd.

Salah satu kalimat El Kurd yang sangat menohok adalah bahwa kejahatan perang yang dilakukan Israel “tidak akan bisa dihentikan hanya dengan pernyataan kecaman” atau “cuitan keprihatinan” (tweets of concerns).

Lalu, apakah kita, masyarakat sipil yang mendukung Palestina, sia-sia saja bersuara di medsos? Jawabannya, simak dalam tulisan berikut ini. https://fixindonesia.com/…/kemer…/WxAAHrvBjX94TLvhJFDQPR

Pengusiran dan Penghancuran Rumah Orang Palestina Terus Dilakukan oleh Israel

Kemarin, Rabu, 3 November 2021, sekitar pukul 06.30 pagi waktu setempat, aparat Israel membuldoser sebuah rumah di Jabal al-Mukkaber, di kawasan Yerusalem Timur. Rumah itu dihuni oleh tiga keluarga inti dari keluarga besar yang sama, total penghunia sembilan orang, termasuk tiga anak di bawah umur. [lihat video]

Ini “hanya” satu dari sangat banyak pengusiran yang terus dilakukan oleh para pemukim-penjajah (settler-colonialist) Zionis, hingga hari ini. Mereka mengklaim punya hak atas Yerusalem dengan dilandasi kisah ribuan tahun yll dan mengabaikan hukum internasional.

(lebih…)

Yerusalem 1940

Barusan menemukan video ini dari akun IG @oldpalestine. Caption video menyebutkan bahwa ini di Yerusalem, tahun 1940, menjelang perayaan Paskah.

Israel berdiri 1948 dan mengusir sebagian besar warga Yerusalem, sampai Yerusalem bagian barat sepenuhnya diduduki Israel. Kini Israel bersama para pemukim ilegal (orang-orang Yahudi-Zionis yang didatangkan dari berbagai negara, mengaku “pulang kampung”), sedang melanjutkan operasi perampasan Yerusalem timur (salah satunya: kasus Sheikh Jarrah).

Tentang perjuangan warga Sheikh Jarrah menolak pengusiran pernah saya tulis (di status tgl 16 Sept, berjudul Perempuan-Perempuan Palestina).