Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina

Category Archives: Palestina

Perempuan Israel

Copas status FB

peledSeorang profesor perempuan Israel bernama Nurit Peled Elhanan aktif menyuarakan penghentian pendudukan Palestina sejak putrinya, Smadar, 13 tahun, tewas akibat bom bunuh diri di Jerusalem, September 1997. Alih-alih membenci orang Palestina, justru muncul kesadaran dalam diri Elhanan, bahwa berbagai kekerasan yang terjadi di Palestina-Israel bersumber dari pendudukan dan kebrutalan militer Zionis sendiri.

Pada 2007, dia pernah berpidato yang isinya menggetarkan, dan membuktikan bahwa semua manusia sudah dikaruniai fitrah yang sama oleh Tuhan, fitrah kemanusiaan dan kasih-sayang. Namun kemudian faktor-faktor eksternal (antara lain, pendidikan yang salah) menutupi fitrah dalam diri sebagian orang sehingga menjelma menjadi makhluk-makhluk yang kejam.

Berikut terjemahannya, saya salin dari buku saya, Ahmadinejad on Palestine.

(lebih…)

Refleksi Yaumul Quds, Persatuan Yahudi vs Persatuan Muslim

demo al quds bandung

Demo Hari Al Quds di Bandung 2011

Dina Y. Sulaeman*

AS dikuasai oleh kaum Yahudi, fakta ini sudah banyak diketahui dan diterima orang. Meski jumlah Yahudi hanya 5% dari total penduduk AS (sekitar 5 juta orang) tetapi mereka menguasai mayoritas bisnis dan finansial di AS. Bahkan The Fed yang berkuasa mencetak mata uang dollar (dan pemerintah AS harus membeli dollar kepada the Fed) sebenarnya adalah konsorsium bank-bank milik Yahudi.

Namun, bagaimana sejarahnya sampai Yahudi bisa berkuasa di AS, dan akhirnya menancapkan kekuasaan bisnis di seantero dunia?

Buku ‘The International Jew’ yang ditulis mendiang Henry Ford menceritakan sejarahnya. Berikut ini beberapa kutipan dari buku tersebut.
(lebih…)

Palestina: One State Solution

Opsi solusi konflik Palestina cukup beragam. Kelompok radikal biasanya menginginkan perang habis-habisan (Israel menghabisi Palestina, atau Palestina menghabisi orang Yahudi). PBB mendukung two-state solution (dua negara berdiri berdampingan). Ide ini banyak bolongnya, di tulisan ini sudah saya bahas sedikit. Ada juga opsi one state solution (antara lain, ini diusulkan Iran), yaitu adalah ide untuk mendirikan sebuah negara bersama Palestina-Israel, dengan dihuni oleh semua ras dan agama yang semuanya memiliki hak suara. Bila ide ini diterima, konsekuensinya, Rezim Zionis dibubarkan, begitu pula Otoritas Palestina; semua batas wilayah Palestina-Israel dihapus dan dilebur ke dalam satu negara; para pengungsi diizinkan kembali ke tanah/rumah mereka masing-masing; serta dilakukan referendum untuk menentukan bentuk pemerintahan dan menetapkan pejabat pemerintahan itu.

Ide ini dilandaskan pada pemikiran berikut:
1. Bila Rezim Zionis terus berdiri, perang tidak akan pernah berhenti karena cita-cita Zionis adalah mendirikan negara khusus Yahudi dan untuk itu, mereka akan terus mengusir orang-orang Palestina demi memperluas wilayahnya.
2. Bila Palestina ingin mendirikan negara khusus Palestina dan mengusir keluar orang-orang Yahudi, perang juga akan terus berlanjut. Namun dalam perang ini, Palestina berada dalam posisi yang lebih lemah: wilayahnya lebih kecil dan terpisah, dikepung oleh wilayah Israel, serta kekurangan logistik karena blokade Israel. Akibatnya, lagi-lagi, penindasan akan terus berlangsung di Palestina.

Pertanyaannya, mungkinkah kedua pihak mau menerima ide ini?

(lebih…)

Amnesia Kedua: ISIS Adalah Pengalihan Isu Gaza ?!

salah satu individu yang menyebut ISIS adalah pengalihan isu Gaza, masih banyak yang lain

salah satu individu yang menyebut ISIS adalah pengalihan isu Gaza, masih banyak yang lain

Kalian ciptakan narasi baru: ISIS adalah ‘aktor’ baru yang tiba-tiba muncul. Blow-up berita tentang ISIS adalah pengalihan atas isu Gaza. Lihatlah di Gaza, umat Islam sedang berjuang melawan Israel. Tapi kini gara-gara ISIS, Israel bisa semena-mena menggempur Gaza tanpa ada kepedulian dari dunia.

Maaf, saya terpaksa katakan, inilah bentuk amnesia kalian yang lain.

Induk ISIS adalah Al Qaida; Al Qaida muncul sejak 1988 di Afghanistan. Al Qaida menyebar ke berbagai penjuru dunia dengan berbagai nama dan kedok, salah satunya ISIS. Jadi, dalam menganalisis, perhatikan ideologi dan geneologinya, jangan terpaku pada nama. (btw, coba browsing: tokoh politik di Indonesia yang pernah membuat puisi memuja Osama bin Laden).

Lalu, coba ingat, bukankah sudah 66 tahun Israel menjajah bangsa Palestina? Sejak berdiri tahun 1948, Israel terus membunuh, mengusir dari rumah dan tanah; menghancurkan kebun-kebun bangsa Arab-Palestina. Sejak 2005 Israel memblokade Gaza sehingga distribusi orang, barang, jasa sangat terhambat. Warga Gaza seolah berada dalam penjara terbesar di dunia.

Lalu, selama ini, apa yang kalian lakukan untuk membantu Palestina? “Hanya” demo, orasi, penggalangan dana (tentu saja, bantuan dana tetap penting, tapi tidak cukup, ini hanya panadol yang menghilangkan rasa sakit sementara).

Lalu, apa yang dilakukan para jihadis untuk Palestina selama ini? Tidak ada. Mereka justru sibuk meledakkan bom di negeri-negeri muslim.

Ada 3 kekuatan yang riil membantu Palestina (dengan politik, dana, dan senjata) selama ini:

  1. Hizbullah: organisasi militan ini berdiri dengan tujuan melawan Israel (karena Israel dulu juga menjajah wilayah Lebanon selatan) dan menjaga Lebanon agar Israel tidak kembali lagi. Hizbullah bukan tentara resmi Lebanon, sehingga tidak bisa disebut representasi ‘negara’. Backing utama logistik Hizbullah adalah Iran.
  2. Suriah: inilah negara Arab terakhir yang tetap menentang Israel, setelah tumbangnya Saddam. Saddam, meskipun tokoh zalim (terutama terhadap Iran: Saddam memerangi Iran selama 8 tahun, termasuk dengan senjata kimia yang sadis), namun ia menentang Israel. Dia memutus jalur minyak Kirkuk-Haifa yang sebelumnya menjadi urat nadi kehidupan Israel. Begitu Saddam digulingkan AS, minyak itu kembali mengalir bebas. Sedangkan Suriah memberikan perlindungan kepada tokoh-tokoh Hamas, menampung para pengungsi Palestina. UNHCR menyebut Suriah sebagai negara yang memberikan pelayanan terbaik di antara semua negara-negara Arab lain. Pengungsi Palestina diperlakukan sama dengan warga asli Suriah. Suriah adalah negara sosialis yang memberikan layanan kesehatan dan sekolah gratis, serta subsidi berbagai bahan pokok. Suriah juga menyuplai bantuan senjata kepada Hamas. Salah satu buktinya, dalam perang tahun ini, Hamas ketahuan menggunakan roket M302 Khaibar dari Suriah.
  3. Iran: selain menyuplai dana segar untuk Hamas secara rutin (digunakan untuk menjalankan roda pemerintahan), Iran juga menyuplai senjata dan teknologi militer. Salah satu buktinya: Hamas menggunakan roket Fajr 5 yang dibuat Iran.

Lalu, apa yang dilakukan ISIS (dan para kelompok mujahidin lain dengan berbagai ‘nama’, tapi jika dilihat ideologi dan geneologinya, mereka sama saja) selama ini?

  1. Mereka justru memorak-porandakan Suriah. Pembantaian dengan cara sangat barbar (kepala digorok, dipanggang, ditendang-tendang bak bola, memakan jantung mayat) yang dilakukan ISIS bukan hanya terhadap muslim Syiah, tetapi juga muslim Sunni (termasuk ulamanya, seperti Syekh Buthi), dan Kristen (termasuk dengan menancapkan salib ke dalam mulut jasad Kristen).
  2. Di Irak, pasca Saddam mereka melakukan berbagai pemboman dan pembunuhan atas dasar mazhab untuk adu-domba. Kehadiran mereka membuat Irak tak pernah berhenti bergolak (dan minyak Irak tetap leluasa mengalir ke Israel). Dan kebrutalan ISIS di Irak-lah yang kini membuat dunia terperangah. Bagaimana mungkin ada manusia (mengaku muslim pula) melakukan kejahatan masif sedemikian sadis dan brutal?
  3. Di Lebanon, dalam perang Gaza tahun ini, ketika Hizbullah sudah ancang-ancang membantu Gaza (dan sudah meluncurkan roket-roketnya ke wilayah Israel), justru Al Nusra (organisasi teror ‘keturunan Al Qaida juga) menyerang Hizbullah.
  4. Target utama ISIS (dan organisasi teror sejenis) adalah Iran (selama ini  narasi yang mereka ungkapkan sebagai landasan perjuangan adalah :melawan rezim Syiah; bahkan menyebut Iran sebagai sekutu Israel, karena itu Iran harus dilawan). Iran memang belum tersentuh, tetapi berbagai kepentingan Iran di luar negeri sudah kena, antara lain pengeboman kedubes Iran di Lebanon. Iran ‘diganggu’ melalui tekanan politik dan embargo oleh Barat dan Israel.

Intinya, kekuatan-kekuatan yang memback-up pejuang Gaza untuk melawan Israel justru diganggu dengan sangat dahsyat oleh ISIS.

Jadi, siapa yang ‘mengalihkan’ siapa?

Think!

Baca:

Amnesia-nya Pendukung ISIS

Amnesia Ketiga: Mereka yang Mendadak Anti-Hoax

Q&A: Benarkah Yahudi itu Beda Dengan Zionis?

giladBenarkah Yahudi itu Beda Dengan Zionis? Selama ini, dalam tulisan-tulisan saya, saya jawab ‘ya’. Buktinya, ada orang-orang Yahudi yang menolak Israel dan Zionisme, misalnya para Rabi Yahudi yang tergabung dalam Neturei Karta.

Tapi, sejak saya baca buku Gilad Atzmon (The Wandering Who), berteman dengannya di facebook dan mengikuti blognya, saya mendapatkan pemahaman yang lain. Inti pemikiran Atzmon adalah: konflik di Palestina justru sebenarnya berakar dari ideologi rasisme Yahudi. Mengapa perdamaian sulit sekali tercapai hingga kini? Karena memang world-view-nya orang Yahudi yang merasa lebih mulia dari ras lain (apapun itu, tidak hanya Arab), sehingga menyulitkan negosiasi dan rekonsiliasi.

Pemikiran Atzmon ini mendapat penentangan dari sesama Yahudi (mereka berkeras, harusnya sebut yang salah itu ‘Zionis’, tidak ada kaitan dengan ‘keyahudian’), dan bahkan dari sebagian aktivis Palestina sendiri, misalnya Ali Abunimah. Abunimah mengecam Atzmon karena menggunakan the J-word (blak-blakan menyebut ‘Yahudi’, ini dianggap ‘tidak sopan’ karena ‘akan menyinggung saudara-saudara kita kaum Yahudi’). Abunimah bahkan menggalang petisi untuk ‘mengingkari’ (disavow) Atzmon. Tapi, banyak juga akademisi dan aktivis pro-Palestina (baik itu Yahudi, Arab, maupun orang-orang Barat) yang menyetujui pemikirannya. Professor Marc Elis, seorang teologis Yahudi, bahkan menyebut Atzmon sebagai ‘nabi baru’ karena memberikan pencerahan kepada orang Yahudi.

Buku Atzmon sendiri sangat filosofis, tapi relatif mudah dicerna (terutama kalau setidaknya Anda pernah belajar sedikit filsafat); hanya saja, saya kesulitan mengungkapkan kembali dalam bahasa Indonesia. Tapi ini ada wawancara Atzmon dengan Alimuddin Usmani, yang relatif lebih mudah saya terjemahkan, yang bisa merangkum apa sebenarnya yang dipikirkan Atzmon:

(lebih…)

Penjelasan Soal Adanya Tentara Israel yang Muslim

Pagi ini saya dapati, berita di Republika tentang adanya ribuan muslim yang jadi tentara Israel, banyak disebar ulang di jejaring sosial. Untung saja yang merilis berita ini Republika. Coba kalau Kompas atau Tempo, pasti sebagian orang langsung teriak-teriak ‘media kafir tukang fitnah!’ Penjelasan dari fenomena ini sebenarnya sederhana saja. Kita tinggal merunut sejarah terbentuknya Israel-Palestina.

Pada tahun 1947, PBB mengeluarkan resolusi 181 yang membagi tiga wilayah Palestina: 56.5% untuk pendirian negara Yahudi, 43% untuk negara Arab, dan Jerusalem menjadi wilayah internasional. Tapi kelak, pada tahun 1967 –setelah terjadinya Perang 6 Hari Arab-Israel—Israel menduduki Sinai, Golan, dan seluruh wilayah Palestina.

Perhatikan, awalnya seluruh wilayah adalah Palestina (warna hijau), kini wilayah Palestina sangat sedikit (sekitar 3%)

Perhatikan, awalnya seluruh wilayah adalah Palestina (warna hijau), kini wilayah Palestina sangat sedikit (sekitar 3%)

Wilayah Palestina saat itu tidak kosong, bangsa Palestina (baik Arab Islam, Arab Kristen, maupun Arab Yahudi) menyebar di seluruh wilayah. Jadi, ketika tanah mereka dibagi tiga, ada yang berada di wilayah yang dijatah untuk Israel, ada yang hidup di wilayah yang dijatah untuk Palestina.

Lalu, orang Yahudinya ada berapa banyak? Orang Yahudi ‘asli’ yang sejak lama hidup berbaur dengan bangsa Arab, memang ada, tapi tidak banyak (dan mereka ini justru dianggap rendahan oleh Israel, sama seperti warga Arab Islam&Kristen). Setelah Theodor Herzl, pada 1896 menyerukan pendirian sebuah negara Yahudi, Jewish Colonization Association (Asosiasi Kolonisasi Yahudi, didirikan 1891 di London) memulai pendanaan dalam mendirikan permukiman Zionis di Palestina.

(lebih…)

Palestina Adalah Kita

Berikut ini tulisan terbaru saya di Nefosnews.com. Pembelaan pada Palestina seharusnya tidak sekedar histeria mengutuk serangan fisik di Gaza tapi melupakan aspek ekonomi-politik internasional. Tulisan ini mencoba mengangkat aspek ekonomi-politik internasional itu.

Palestina Adalah Kita

Dina Y. Sulaeman

DINA-SULAIMAN-OKEHiruk-pikuk perdebatan Pilpres di media sosial, akhir-akhir berganti dengan seruan “Peduli Palestina”. Kedua pasangan capres yang tengah menanti hasil real count KPU pun sama-sama telah mengeluarkan pernyataan kepedulian pada Palestina. Ini bisa dijadikan indikasi bahwa ada pertalian nurani yang kuat antara bangsa Indonesia dan Palestina.

Presiden Soekarno pun pada tahun 1962 dengan tegas menolak kehadiran Israel (dan Taiwan) dalam Asian Games 1962 di Jakarta. “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel,” kata Bung Karno saat itu.

Penjajahan Israel atas Palestina merupakan aib besar sepanjang sejarah manusia modern pasca PD II. Aib yang dimulai dari Resolusi PBB 181/1947 yang menyetujui dibangunnya sebuah negara khususYahudi di atas tanah yang telah ditempati bangsa Arab Palestina selama ribuan tahun. PBB mengalokasikan 56,5 persen wilayah Palestina untuk pendirian negara Yahudi, 43 persen untuk negara Arab, dan Jerusalem menjadi wilayah internasional. Tapi kelak, pada tahun 1967 –setelah terjadinya Perang 6 Hari Arab-Israel—Israel menduduki Sinai, Golan, dan seluruh wilayah Palestina.

Hiruk-pikuk perdebatan pilpres di media sosial, akhir-akhir berganti dengan seruan ‘Peduli Palestina’. Kedua pasangan capres yang tengah menanti hasil real count KPU pun sama-sama telah mengeluarkan pernyataan kepedulian pada Palestina. Ini bisa dijadikan indikasi bahwa ada pertalian nurani yang kuat antara bangsa Indonesia dan Palestina.

Presiden Soekarno pun pada tahun 1962 dengan tegas menolak kehadiran Israel (dan Taiwan) dalam Asian Games 1962 di Jakarta. “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel,” kata Bung Karno saat itu.

Penjajahan Israel atas Palestina merupakan aib besar sepanjang sejarah manusia modern pasca PD II. Aib yang dimulai dari Resolusi PBB181/1947 yang menyetujui dibangunnya sebuah negara khususYahudi di atas tanah yang telah ditempati bangsa Arab Palestina selama ribuan tahun. PBB mengalokasikan 56,5% wilayah Palestina untuk pendirian negara Yahudi, 43% untuk negara Arab, dan Jerusalem menjadi wilayah internasional. Tapi kelak, pada tahun 1967 –setelah terjadinya Perang 6 Hari Arab-Israel—Israel menduduki Sinai, Golan, dan seluruh wilayah Palestina.

Begitu Israel ‘disahkan’ untuk berdiri, pasukan Israel pun melakukan pengusiran dan pembunuhan orang-orang Palestina dari tanah mereka. Jutaan orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia didatangkan untuk menjadi warga ‘negara’ yang baru berdiri itu. Untuk menjustifikasi kisah kelam di balik berdirinya Israel, berbagai upaya pengaburan sejarah dan distorsi opini dilakukan. Akibatnya, sebagian orang masih memandang Israel sebagai entitas yang perlu diakui ‘hak’-nya. Tak kurang Presiden Obama, saat mengomentari Operasi Cast Lead Israel di Gaza, Januari 2009, justru menyalahkan Hamas.

Obama berkata, “Biarkan saya jelaskan, Amerika berkomitmen pada keamanan Israel. Dan kita akan selalu mendukung hak Israel untuk membela dirinya di hadapan ancaman yang nyata. Selama bertahun-tahun Hamas telah meluncurkan ribuan roket kepada warga Israel yang tak berdosa.”

Pernyataan senada, menyalahkan Hamas juga diulangi Obama menyusul serangan militer Israel ke Gaza bulan Juli ini. Pernyataan Obama ini telah melepaskan aksi Hamas dari konteksnya. Bukankah Hamas melempar roket sebagai bentuk perlawanan atas penjajahan Israel? Bagaimana mungkin orang terjajah disalahkan ketika melawan penjajah?

Bangsa Indonesia umumnya membela Palestina dengan landasan argumen UUD 1945 bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Namun terkadang ada yang menggugat, “Negeri kita ini masih banyak masalah. Orang Arab saja tidak peduli pada Palestina, mengapa kita harus sibuk membantu?”

Untuk menjawabnya, mari kita dengar dulu apa yang diceritakan John Perkins, penulis buku Confessions of an Economic Hit Man. Menurut kesaksiannya, modus operandi lembaga-lembaga keuangan AS dalam mengeruk uang adalah dengan memberikan hutang raksasa kepada negara-negara berkembang. Kata Perkins,

Salah satu kondisi pinjaman itu –katakanlah US $ 1milyar untuk negara seperti Indonesia atau Ekuador—negara ini kemudian harus memberikan 90% dari uang pinjaman itu kepada satu atau beberapa perusahaan AS untuk membangun infrastruktur—misalnya Halliburton atau Bechtel. Ini adalah perusahaan yang besar. Perusahaan-perusahaan ini kemudian akan membangun sistem listrik atau pelabuhan atau jalan tol, dan pada dasarnya proyek seperti ini hanya melayani sejumlah kecil keluarga-keluarga terkaya di negara-negara itu. Rakyat miskin di negara-negara itu akan terbentur pada hutang yang luar biasa besar, yang tidak mungkin mereka bayar.

Lalu siapakah pemilik Halliburton atau Bechtel yang disebut Perkins? Sebagian saham Halliburton dikuasai Soros, bisnismen Yahudi yang berperan penting dalam ambruknya perekonomian Asia (termasuk Indonesia, tentu saja) tahun 1997. Bechtel pun dimiliki oleh keluarga Yahudi Amerika. Ini baru dua di antara sekian banyak perusahaan transnasional yang mengeruk uang sangat-sangat banyak di seluruh dunia. Bila kita mempelajari bagaimana sepak terjang berbagai perusahaan transnasional yang dikuasai oleh pebisnis Yahudi dalam mengeruk uang (sebagiannya telah ditulis oleh Perkins), kita dapat menyimpulkan bahwa mereka melakukan aktivitas ekonomi yang kotor dan menghalalkan segala cara. Indonesia adalah saksinya. Anda bisa mulai mengecek siapa saja pemilik saham perusahaan-perusahaan minyak transnasional yang mengeruk minyak kita, sementara kita setiap hari harus impor minyak dari luar.

Lalu, kemana mereka mengalirkan uang itu? Haaretz (koran Israel) pernah menulis bahwa ada istilah Ibrani yang menjadi standar nilai moral di kalangan Yahudi, yaitu ‘tzedakah’. Haaretz mengutip seorang peneliti yang menyebutkan bahwa orang-orang kaya Yahudi memiliki keterikatan kekeluargaan yang sangat erat dan menjadikan ‘tzedakah’ sebagai sebuah kewajiban moral. Inilah yang membuat Israel ‘hidup’ hingga hari ini, mampu melanjutkan kejahatannya di Palestina, serta tak pernah bisa diajak bernegosiasi secara adil demi kehidupan damai di Palestina.

Jadi, membela Palestina pada hakikatnya adalah membela diri kita. Kita pun adalah korban dari tatanan ekonomi dunia yang tidak adil, yang diatur oleh para pebisnis Yahudi. Karena itu, pembelaan pada Palestina seharusnya tidak sekedar histeria mengutuk serangan fisik di Gaza, tapi melupakan aspek ekonomi-politik internasional. Palestina adalah kita karena kita menghadapi musuh yang sama.

 

*mahasiswi Program Doktor Hubungan Internasional Unpad

One States Solution, Jalan Keluar untuk Palestina-Israel

gazaOleh: Dina Y. Sulaeman*

PBB, AS, (bahkan juga pemerintah Indonesia), mengusulkan solusi dua negara (two states solution) untuk mendamaikan Palestina-Israel. Tawaran solusi ini adalah: Israel dan Palestina menjadi dua negara yang hidup berdampingan secara damai.

Ada lobang besar dalam tawaran ini, yaitu sifat alami (nature) dari Rezim Zionis sendiri. Penyelesaian dengan cara mendirikan dua negara terpisah yang berdampingan secara damai, sementara wilayah Palestina sendiri (Tepi Barat dan Gaza) letaknya terpisah satu sama lain, sulit terwujud. Sifat alami Rezim Zionis sejak didirikan adalah menyerang, mengusir, dan menduduki wilayah milik orang-orang Palestina. Terbukti, hingga hari ini, Israel masih terus melakukan kekerasan, yang dibalas oleh para pejuang Palestina; pembangunan permukiman terus dilanjutkan, bahkan ditambah pula dengan pembangunan Tembok Zionis. Israel juga melancarkan perang terbuka secara terang-terangan, seolah mengejek dunia internasional yang tidak mampu berbuat apa-apa. Pada tahun 2006, Israel membombardir Gaza dengan  Summer Rains and Autumn Clouds Operation, tahun 2009 dengan ‘Cast Lead Operation’, tahun 2012 dengan ‘Pillar of Defence Operation, dan kini tahun 2014 aksinya diulang lagi dengan diberi nama ‘Protective Edge Operation’.

Dr. Ilan Pappe, sejarawan Yahudi, mengatakan,

Two-state solution lebih merupakan sebuah cara untuk mengatur sejenis pemisahan antara penjajah dan yang dijajah, daripada sebuah solusi permanen yang terkait dengan kriminalitas Israel tahun 1948, dengan keberadaan 20% orang Palestina di dalam wilayah Israel, dan dengan populasi para pengungsi yang terus meningkat sejak 1948.

Ketika ide two-state menjadi landasan dari proses perdamaian, ide itu memberikan payung bagi Israel untuk meneruskan operasi pendudukannya tanpa takut. Hal ini karena pemerintah Israel, siapapun perdana menterinya, dianggap terlibat dalam proses perdamaian—dan Anda tidak bisa mengkritik sebuah negara yang terlibat dalam proses perdamaian.

Di bawah kedok ‘proses perdamaian’, atau bisa juga disebut “di bawah kedok dua negara untuk dua bangsa, permukiman-permukiman diperluas, kekerasan dan penindasan terhadap bangsa Palestina semakin mendalam.[1]

Virginia Tilley, profesor ilmu politik asal AS, penulis buku The One State Solution, juga menyatakan kepesimisannya atas ide two-state solution.

“Two-state solution untuk konflik Israel-Palestina adalah ide, dan kemungkinan, yang waktunya telah habis. Kematian ide ini dikaburkan oleh tontonan sehari-hari: wacana ‘Peta Jalan’ yang tak berguna, lingkaran pembunuhan yang dilakukan tentara Israel dan bom bunuh diri orang Palestina, pertarungan politik internal Palestina, penghancuran rumah-rumah dan angka kematian – semua memperlihatkan konflik yang selalu mendominasi wilayah itu.”[2]

 Di Mana Jalan Keluar?

(lebih…)

Ternyata, ISIS yang Menculik Tiga Remaja Israel Itu

three-boys

tiga warga Israel yang terbunuh (sumber: times of israel)

Riuhnya urusan pilpres di Indonesia membuat banyak pihak lupa pada nasib Palestina. Padahal, seperti berkali-kali saya tulis di blog ini, membela Palestina pada dasarnya membela ‘kita’.Israel ‘hidup’ hingga hari ini, mampu melanjutkan kejahatannya di Palestina, tak pernah bisa diajak bernegosiasi secara adil demi kehidupan damai di Palestina, berkat suplai uang dari seluruh dunia, melalui perusahaan-perusahaan transnasional (terutama minyak dan gas) yang dikuasai oleh orang-orang kaya Zionis. Demi meraup uang sebanyak-banyaknya, mereka berbuat makar di berbagai penjuru dunia lewat aktivitas ekonomi kotornya. Ini membuat Gilad Atzmon (penulis Yahudi yang gigih mengkritik Israel dan Zionisme) menyimpulkan, “Kita semua ini adalah bangsa Palestina dan kita memiliki satu musuh yang sama (yaitu Israel)”

Saya juga pernah menulis bahwa pola ‘jihad’ kelompok-kelompok radikal Islam ternyata bersesuaian dengan agenda Israel. Mereka justru   memorak-porandakan negara-negara yang memang ingin dipecah-pecah menjadi negara-negara kecil oleh Israel. Agenda Israel itu bisa dibaca dalam dokumen The Oded Yinon’s Plan.

Sejak Juni lalu, Israel meningkatkan serangannya terhadap Palestina. Alasan yang dipakai Israel: untuk mencari tiga warga Yahudi hilang di dekat Al-Khalil (Hebron) di bagian selatan Tepi Barat pada Kamis (12/6).  Israel menuduh HAMAS terlibat dalam penculikan tersebut sehingga militernya melancarkan operasi di Gaza dan Tepi Barat, dan menangkap lebih dari 600 orang Palestina, termasuk anggota parlemen, mantan tahanan dan pemimpin masyarakat. Mereka menggeledah setiap rumah bahkan hingga ke pemakaman dan saluran air. Padahal, baik Hamas maupun Fatah menolak mentah-mentah tuduhan ini.

Dan, siapakah ternyata penculik dan pembunuh ketiga warga Israel? Tak lain, organisasi teror ‘cabang’ ISIS. Lagi-lagi aksi mereka sesuai dengan pola sebelumnya di Suriah dan Irak: membuka jalan masuk bagi Israel. Di Suriah, kehadiran Front Al Nusra dan ISIS (keduanya ‘anak kandung Al Qaida, namun akhirnya berseteru satu sama lain), telah melemahkan pemerintahan Assad, satu-satunya negara Arab yang menolak berdamai dengan Israel (dan bahkan penjadi tuan rumah terbaik bagi para pengungsi Palestina, baca: Syria: Prahara di Negeri Pengungsi). Di Irak, perpecahan antar suku dan mazhab yang dipicu oleh ISIS, berpotensi memunculkan perpecahan dan terbentuknya negara-negara kecil  berlandaskan mazhab (persis seperti yang diagendakan oleh The Oded Yinon’s Plan). Tapi untungnya, bangsa Irak tidak terprovoklasi dan bahkan bersatu-pada melawan ISIS. Keuntungan bagi Israel: minyak Irak kini leluasa mengalir ke Israel (dulu Saddam menghentikan ekspor minyaknya ke Israel).

Berikut berita tentang siapa pelaku penculikan dan pembunuhan warga Israel itu, yang saya copas dari situs Liputan Islam:

Sebuah kelompok yang menamakan diri “Ansar al-Daulah al-Islamiyyah fi Bait al-Maqdis” menyatakan bertanggungjawab atas penculikan dan pembunuhan tiga pemuda Yahudi di al-Khalil. Mereka mengancam masih akan menyerang Israel. Tapi, naifnya, mereka juga mengancam akan menyerang para pemimpin Palestina.

“Aksi ini dilakukan dalam rangka membantu kekhalifahan Islam dan Abu Bakar al-Baghdadi,” ungkap kelompok tersebut dalam situs resminya, sebagaimana diberitakan kantor berita Palestina, Maan Senin (1/7/2014).

Ansar al-Daulah al-Islamiyyah juga menyatakan bertanggungjawab atas penembakan roket dari Jalur Gaza dan serangan terhadap sasaran-sasaran Israel dalam satu setengah bulan terakhir. Kelompok ekstrimis itu mengancam masih akan melancarkan operasi serangan terhadap sasaran-sasaran Israel di wilayah pendudukan.

Lebih lanjut, kelompok itu juga mengancam akan menyerang pemerintah dan para pemimpin Palestina di Tepi Barat maupun Jalur Gaza.

Kelompok ini diduga kuat terafiliasi dengan jaringan teroris al-Qaeda dan Daulat Islam Irak dan Suriah (ISIS). Mereka juga mengecam Hamas dan menganggapnya sebagai gerakan ambisius.

Semula kelompok itu bernama “Ansar Bait al-Maqdis”, namun berganti nama setelah ada deklarasi kekhalifahan Abu Bakar al-Baghdadi Ahad (29/6/14) .

Sejak terjadi penemuan tiga mayat warga Yahudi korban penculikan tersebut pada Senin malam (30/6/14) tentara Israel mempersengit serangannya terhadap Palestina. Malam itu tentara Israel mendatangi dan meledakkan rumah dua warga Palestina di al-Khalil yang dituduh Israel sebagai pelaku penculikan. Rumah keduanya hancur bersama semua isi yang ada di dalamnya. Satu di antara dua rumah itu merupakan bangunan apartemen yang dihuni oleh 25 orang.

Tentara Israel juga mendatangi Jenin, Tepi Barat, dan membunuh seorang pemuda Palestina. Israel menuduh Hamas sebagai pelaku penculikan, namun Hamas membantahnya. (mm/liputanislam.com)

 

Tentu saja, media Israel tidak mengungkap ini. Times of Israel misalnya, menyebut Hizbullah-lah pelaku penculikan itu. Dan berita dari media Israel itulah yang disebarluaskan oleh media-media di Indonesia. Contohnya, ini:

sumber foto: LiputanIslam.com

sumber foto: LiputanIslam.com

Jangan lupa pula, bahwa ISIS  sudah memiliki cabang di Indonesia. 

 

Jokowi, Anis, dan Palestina

free-palestineKata beberapa pengamat politik yang secara selintas saya dengar di televisi atau saya baca di media online, Debat Capres hanya akan bermanfaat untuk swing voters (mereka yang belum menentukan pilihan), sementara bagi pemilih fanatik, apapun yang dikatakan Capres lawan, tidak akan memberi efek.

Sebagai seorang swing voter yang sejak 2001 mulai aktif menulis tentang perjuangan Palestina, terus-terang saja, saya respek pada pernyataan Jokowi dalam Debat Capres tadi malam (22/6/2014): akan membantu kemerdekaan Palestina dan akan mendukung masuknya Palestina sebagai negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Memang sangat mungkin, apa yang disampaikan Jokowi adalah ‘jualan’ atau hasil masukan timses-nya yang paham, bahwa di luar sana ada banyak swing voter yang pro-Palestina. Tapi, menurut saya, yang penting itu adalah keberanian Jokowi mengucapkannya. Sehingga, saya kelak bisa mengkritiknya bila dia tidak melakukan apa yang diucapkannya itu. Sama seperti saya bisa mengkritik Tifatul Sembiring menteri dari PKS, yang tak melakukan apa yang selama ini digembar-gemborkan PKS melalui demo-demo mereka. Surat terbuka saya untuk Tifatul bisa dibaca di sini: https://dinasulaeman.wordpress.com/2010/02/06/selamat-datang-israel-surat-untuk-pak-tifatul/

Dan pagi ini, saya  membaca sebuah berita di media online sungguh mengecewakan (tapi, tidak mengejutkan, karena itu artinya bersesuaian dengan mantan Presiden PKS, Tifatul), Presiden PKS Anis Matta menyebut misi Jokowi soal Palestina itu tidak penting. Saya membandingkan dengan beberapa media online lain, untuk mengecek akurasinya kalimat Anis ini, di media lain kata ‘penting’ memang tak diucapkan, tapi rupanya itu penambahan redaktur sesuai dengan konteks yang ditangkap. Selengkapnya kalimat Anis:

Bisnis.com:

“Tidak (terlalu penting), jadi itu bukan suatu yang spesifik. Itu sudah ada dalam konstitusi kita,”

Beritasatu.com:

“Tidak (penting),” kata Anis singkat saat ditanya wartawan usai debat capres di Hotel Holiday Inn, Jakarta, Minggu (22/6).

Lagipula, menurut dia, membantu kemerdekaan Palestina adalah tugas konstitusi.

“Bagi siapa yang memimpin pemerintahan. Jadi itu bukan suatu yang spesifik. Itu sudah ada dalam konstitusi kita,” kata Anis. 

Merdeka.com:

“Tidak, jadi itu bukan suatu yang spesifik. Hal itu sudah ada dalam konstitusi kita,” kata dia usai debat capres ketiga di hotel Holiday Inn Jakarta Utara, Minggu (22/6)

(lebih…)