Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina (Laman 2)

Category Archives: Palestina

Falasi Logika Para Pembela Israel (2)

palestina1Dari sekian banyak komentar yang datang dari para pembela Israel, saya simpulkan, mereka berkeras mengemukakan 2 poin ini:

  1. Hak untuk tinggal di suatu wilayah berdasarkan kepada klaim sejarah
  2. Hak untuk melakukan kejahatan (pengusiran, pembunuhan) atas dasar hak no. 1

Dengan asumsi bahwa mereka ini (para pembela Israel) lebih mampu berargumen dengan cara-cara beradab, saya akan mengupas kedua poin itu dengan teknik logika.

Premis mayor: setiap bangsa berhak untuk kembali ke tempat dimana nenek moyangnya pernah tinggal lebih dulu (dibanding penduduk yang ada di tempat itu)

Premis minor: Yahudi adalah bangsa yang nenek moyangnya pernah tinggal lebih dulu di Palestina

Kesimpulan: Orang Yahudi (dari negara manapun ia berasal) berhak kembali dan tinggal di Palestina

Mari kita uji satu-persatu premisnya:

Premis Mayor. Apa yang dimaksud ‘berhak tinggal’? Kalau ‘berhak tinggal’ dengan MENGIKUTI ATURAN HUKUM yang berlaku saat itu, tentu premis mayor ini benar.

(lebih…)

Iklan

Falasi Logika Para Pembela Israel

palestina1947-2008Dulu, sejak saya aktif menulis tentang konflik Palestina di blog dan kompasiana (sekitar tahun 2007), saya juga banyak diserang (tapi tidak semasif setelah saya nulis tentang Suriah, mulai 2011 akhir). Para penyerang saya itu amat pro-Israel, mengata-ngatai saya seenaknya, antara lain penganut teori konspirasi, bigot, kurang baca sejarah, pro teroris, dll. Setelah konflik Suriah meledak, mereka ongkang-ongkang kaki, mungkin sambil tertawa, karena yang menyerang saya sudah amat banyak dan sadis (yaitu orang-orang Islam pro-jihadis alias teroris Suriah).

Kini, konflik Suriah agak mereda, dan kejahatan Israel kembali jadi sorotan, sehingga para pembela Israel ini mulai bangkit bergerilya di medsos. Kali ini saya coba mengupas logical fallacy-nya orang-orang ini.

Ada penulis status fesbuk nulis gini. “Nggak kebayang betapa frustasinya tentara Israel ngadepin orang Palestina, mau dikerasin mewek, bilangnya melanggar HAM, kalo ga diantisipasi, nyawa bisa melayang kapan aja.”

Dalam bab falasi (silahkan baca lagi status kuliah logika di fanpage ini), ada yang disebut Falasi Non Causa Pro Causa, berargumentasi yang salah karena keliru mengindentifikasi sebab. Dalam kalimat di atas, yang dianggap sebagai sebab kekerasan/kejahatan tentara Israel adalah sikap orang Palestina-nya. Israel hanya defensif demi melindungi nyawa.

Logika ini disampaikan banyak media, coba perhatikan, kalimat yang diulang-ulang adalah, “Bentrokan ini terjadi setelah dua tentara Israel dibunuh oleh warga Palestina…” Dulu ketika serangan besar Israel ke Gaza, yang diberitakan “Serangan ini terjadi setelah Hamas melemparkan roket ke Israel…”

Sayangnya, yang berfalasi ini bukan cuma orang-orang pro-Israel, tapi juga yang sebenarnya pro-Palestina, tapi tidak menyadari adanya falasi dalam kalimat ini.

(lebih…)

Palestina di Tengah Keabsurdan Dunia Islam

palestineHari ini, Jumat terakhir di bulan Ramadhan adalah Hari Al Quds Internasional. Sebaiknya, kita ikut demo menyatakan solidaritas pada Palestina. Demonstrasi mungkin saat ini tak mampu mengubah apa-apa. Namun penting dilakukan dalam rangka merawat ingatan bahwa masih tersisa satu bangsa di muka bumi yang masih terjajah hingga saat ini, ketika dunia semakin tak peduli, teralihkan fokusnya gara-gara “demam jihad Suriah”.

Kalau tidak bisa demo, minimalnya, kita ramaikan medsos dengan share berita tentang Palestina, kita kembalikan fokus publik agar mau kembali membelanya. Perjuangan membela Palestina bukan cuma urusan kaum Muslimin, tapi semua orang yang peduli pada kemanusiaan, karena di Palestina juga ada banyak yang beragama Kristen, Yahudi, dan ada banyak ‘aliran’, termasuk Partai Komunis.

Ini tulisan saya terbaru, tentang Palestina, dimuat di Geotimes:

Palestina di Tengah Keabsurdan Dunia Islam [Hari Al Quds Internasional]

Silahkan klik:
https://geotimes.co.id/palestina-di-tengah-keabsurdan-duni…/

Dari Jabar ke Palestina, Suriah, Balik ke Indonesia

kekeringan-sukabumi-620x330

warga menderita kekeringan (beritadaerah.co.id)

Barusan saya menonton film dokumenter, ada sebuah desa di Jawa Barat yang kaya sumber air bersih, kini kesulitan air. Ada ratusan perusahaan menyedot air di kabupaten dimana desa tsb berada. Perusahaan terbanyak yang menyedot air di sana adalah perusahaan air mineral terkenal. Produknya dijual ke berbagai penjuru Indonesia dan per tahun meraih keuntungan triliunan rupiah. Sementara, warga sekitar harus mandi dan mencuci di air yang keruh.[1]

Dan kalau dicek, siapa pemilik saham perusahaan air minum tersebut, ternyata sebuah perusahaan milik asing, yang masuk daftar boikot Zionis.[2]

Jadi begini, di dunia ini ada gerakan boikot produk-produk perusahaan yang berinvestasi di Israel atau terbukti mengirimkan dana untuk Israel. Kok bisa tahu? Karena di Barat transparansi informasi cukup bagus, jadi bisa dilacak. Jadi, ini bukan gerakan asal boikot atau asal-benci-Yahudi. Yang diboikot adalah perusahaan yang memberi keuntungan kepada Israel.

(lebih…)

Perempuan Israel

Copas status FB

peledSeorang profesor perempuan Israel bernama Nurit Peled Elhanan aktif menyuarakan penghentian pendudukan Palestina sejak putrinya, Smadar, 13 tahun, tewas akibat bom bunuh diri di Jerusalem, September 1997. Alih-alih membenci orang Palestina, justru muncul kesadaran dalam diri Elhanan, bahwa berbagai kekerasan yang terjadi di Palestina-Israel bersumber dari pendudukan dan kebrutalan militer Zionis sendiri.

Pada 2007, dia pernah berpidato yang isinya menggetarkan, dan membuktikan bahwa semua manusia sudah dikaruniai fitrah yang sama oleh Tuhan, fitrah kemanusiaan dan kasih-sayang. Namun kemudian faktor-faktor eksternal (antara lain, pendidikan yang salah) menutupi fitrah dalam diri sebagian orang sehingga menjelma menjadi makhluk-makhluk yang kejam.

Berikut terjemahannya, saya salin dari buku saya, Ahmadinejad on Palestine.

(lebih…)

Refleksi Yaumul Quds, Persatuan Yahudi vs Persatuan Muslim

demo al quds bandung

Demo Hari Al Quds di Bandung 2011

Dina Y. Sulaeman*

AS dikuasai oleh kaum Yahudi, fakta ini sudah banyak diketahui dan diterima orang. Meski jumlah Yahudi hanya 5% dari total penduduk AS (sekitar 5 juta orang) tetapi mereka menguasai mayoritas bisnis dan finansial di AS. Bahkan The Fed yang berkuasa mencetak mata uang dollar (dan pemerintah AS harus membeli dollar kepada the Fed) sebenarnya adalah konsorsium bank-bank milik Yahudi.

Namun, bagaimana sejarahnya sampai Yahudi bisa berkuasa di AS, dan akhirnya menancapkan kekuasaan bisnis di seantero dunia?

Buku ‘The International Jew’ yang ditulis mendiang Henry Ford menceritakan sejarahnya. Berikut ini beberapa kutipan dari buku tersebut.
(lebih…)

Palestina: One State Solution

Opsi solusi konflik Palestina cukup beragam. Kelompok radikal biasanya menginginkan perang habis-habisan (Israel menghabisi Palestina, atau Palestina menghabisi orang Yahudi). PBB mendukung two-state solution (dua negara berdiri berdampingan). Ide ini banyak bolongnya, di tulisan ini sudah saya bahas sedikit. Ada juga opsi one state solution (antara lain, ini diusulkan Iran), yaitu adalah ide untuk mendirikan sebuah negara bersama Palestina-Israel, dengan dihuni oleh semua ras dan agama yang semuanya memiliki hak suara. Bila ide ini diterima, konsekuensinya, Rezim Zionis dibubarkan, begitu pula Otoritas Palestina; semua batas wilayah Palestina-Israel dihapus dan dilebur ke dalam satu negara; para pengungsi diizinkan kembali ke tanah/rumah mereka masing-masing; serta dilakukan referendum untuk menentukan bentuk pemerintahan dan menetapkan pejabat pemerintahan itu.

Ide ini dilandaskan pada pemikiran berikut:
1. Bila Rezim Zionis terus berdiri, perang tidak akan pernah berhenti karena cita-cita Zionis adalah mendirikan negara khusus Yahudi dan untuk itu, mereka akan terus mengusir orang-orang Palestina demi memperluas wilayahnya.
2. Bila Palestina ingin mendirikan negara khusus Palestina dan mengusir keluar orang-orang Yahudi, perang juga akan terus berlanjut. Namun dalam perang ini, Palestina berada dalam posisi yang lebih lemah: wilayahnya lebih kecil dan terpisah, dikepung oleh wilayah Israel, serta kekurangan logistik karena blokade Israel. Akibatnya, lagi-lagi, penindasan akan terus berlangsung di Palestina.

Pertanyaannya, mungkinkah kedua pihak mau menerima ide ini?

(lebih…)

Amnesia Kedua: ISIS Adalah Pengalihan Isu Gaza ?!

salah satu individu yang menyebut ISIS adalah pengalihan isu Gaza, masih banyak yang lain

salah satu individu yang menyebut ISIS adalah pengalihan isu Gaza, masih banyak yang lain

Kalian ciptakan narasi baru: ISIS adalah ‘aktor’ baru yang tiba-tiba muncul. Blow-up berita tentang ISIS adalah pengalihan atas isu Gaza. Lihatlah di Gaza, umat Islam sedang berjuang melawan Israel. Tapi kini gara-gara ISIS, Israel bisa semena-mena menggempur Gaza tanpa ada kepedulian dari dunia.

Maaf, saya terpaksa katakan, inilah bentuk amnesia kalian yang lain.

Induk ISIS adalah Al Qaida; Al Qaida muncul sejak 1988 di Afghanistan. Al Qaida menyebar ke berbagai penjuru dunia dengan berbagai nama dan kedok, salah satunya ISIS. Jadi, dalam menganalisis, perhatikan ideologi dan geneologinya, jangan terpaku pada nama. (btw, coba browsing: tokoh politik di Indonesia yang pernah membuat puisi memuja Osama bin Laden).

Lalu, coba ingat, bukankah sudah 66 tahun Israel menjajah bangsa Palestina? Sejak berdiri tahun 1948, Israel terus membunuh, mengusir dari rumah dan tanah; menghancurkan kebun-kebun bangsa Arab-Palestina. Sejak 2005 Israel memblokade Gaza sehingga distribusi orang, barang, jasa sangat terhambat. Warga Gaza seolah berada dalam penjara terbesar di dunia.

Lalu, selama ini, apa yang kalian lakukan untuk membantu Palestina? “Hanya” demo, orasi, penggalangan dana (tentu saja, bantuan dana tetap penting, tapi tidak cukup, ini hanya panadol yang menghilangkan rasa sakit sementara).

Lalu, apa yang dilakukan para jihadis untuk Palestina selama ini? Tidak ada. Mereka justru sibuk meledakkan bom di negeri-negeri muslim.

Ada 3 kekuatan yang riil membantu Palestina (dengan politik, dana, dan senjata) selama ini:

  1. Hizbullah: organisasi militan ini berdiri dengan tujuan melawan Israel (karena Israel dulu juga menjajah wilayah Lebanon selatan) dan menjaga Lebanon agar Israel tidak kembali lagi. Hizbullah bukan tentara resmi Lebanon, sehingga tidak bisa disebut representasi ‘negara’. Backing utama logistik Hizbullah adalah Iran.
  2. Suriah: inilah negara Arab terakhir yang tetap menentang Israel, setelah tumbangnya Saddam. Saddam, meskipun tokoh zalim (terutama terhadap Iran: Saddam memerangi Iran selama 8 tahun, termasuk dengan senjata kimia yang sadis), namun ia menentang Israel. Dia memutus jalur minyak Kirkuk-Haifa yang sebelumnya menjadi urat nadi kehidupan Israel. Begitu Saddam digulingkan AS, minyak itu kembali mengalir bebas. Sedangkan Suriah memberikan perlindungan kepada tokoh-tokoh Hamas, menampung para pengungsi Palestina. UNHCR menyebut Suriah sebagai negara yang memberikan pelayanan terbaik di antara semua negara-negara Arab lain. Pengungsi Palestina diperlakukan sama dengan warga asli Suriah. Suriah adalah negara sosialis yang memberikan layanan kesehatan dan sekolah gratis, serta subsidi berbagai bahan pokok. Suriah juga menyuplai bantuan senjata kepada Hamas. Salah satu buktinya, dalam perang tahun ini, Hamas ketahuan menggunakan roket M302 Khaibar dari Suriah.
  3. Iran: selain menyuplai dana segar untuk Hamas secara rutin (digunakan untuk menjalankan roda pemerintahan), Iran juga menyuplai senjata dan teknologi militer. Salah satu buktinya: Hamas menggunakan roket Fajr 5 yang dibuat Iran.

Lalu, apa yang dilakukan ISIS (dan para kelompok mujahidin lain dengan berbagai ‘nama’, tapi jika dilihat ideologi dan geneologinya, mereka sama saja) selama ini?

  1. Mereka justru memorak-porandakan Suriah. Pembantaian dengan cara sangat barbar (kepala digorok, dipanggang, ditendang-tendang bak bola, memakan jantung mayat) yang dilakukan ISIS bukan hanya terhadap muslim Syiah, tetapi juga muslim Sunni (termasuk ulamanya, seperti Syekh Buthi), dan Kristen (termasuk dengan menancapkan salib ke dalam mulut jasad Kristen).
  2. Di Irak, pasca Saddam mereka melakukan berbagai pemboman dan pembunuhan atas dasar mazhab untuk adu-domba. Kehadiran mereka membuat Irak tak pernah berhenti bergolak (dan minyak Irak tetap leluasa mengalir ke Israel). Dan kebrutalan ISIS di Irak-lah yang kini membuat dunia terperangah. Bagaimana mungkin ada manusia (mengaku muslim pula) melakukan kejahatan masif sedemikian sadis dan brutal?
  3. Di Lebanon, dalam perang Gaza tahun ini, ketika Hizbullah sudah ancang-ancang membantu Gaza (dan sudah meluncurkan roket-roketnya ke wilayah Israel), justru Al Nusra (organisasi teror ‘keturunan Al Qaida juga) menyerang Hizbullah.
  4. Target utama ISIS (dan organisasi teror sejenis) adalah Iran (selama ini  narasi yang mereka ungkapkan sebagai landasan perjuangan adalah :melawan rezim Syiah; bahkan menyebut Iran sebagai sekutu Israel, karena itu Iran harus dilawan). Iran memang belum tersentuh, tetapi berbagai kepentingan Iran di luar negeri sudah kena, antara lain pengeboman kedubes Iran di Lebanon. Iran ‘diganggu’ melalui tekanan politik dan embargo oleh Barat dan Israel.

Intinya, kekuatan-kekuatan yang memback-up pejuang Gaza untuk melawan Israel justru diganggu dengan sangat dahsyat oleh ISIS.

Jadi, siapa yang ‘mengalihkan’ siapa?

Think!

Baca:

Amnesia-nya Pendukung ISIS

Amnesia Ketiga: Mereka yang Mendadak Anti-Hoax

Q&A: Benarkah Yahudi itu Beda Dengan Zionis?

giladBenarkah Yahudi itu Beda Dengan Zionis? Selama ini, dalam tulisan-tulisan saya, saya jawab ‘ya’. Buktinya, ada orang-orang Yahudi yang menolak Israel dan Zionisme, misalnya para Rabi Yahudi yang tergabung dalam Neturei Karta.

Tapi, sejak saya baca buku Gilad Atzmon (The Wandering Who), berteman dengannya di facebook dan mengikuti blognya, saya mendapatkan pemahaman yang lain. Inti pemikiran Atzmon adalah: konflik di Palestina justru sebenarnya berakar dari ideologi rasisme Yahudi. Mengapa perdamaian sulit sekali tercapai hingga kini? Karena memang world-view-nya orang Yahudi yang merasa lebih mulia dari ras lain (apapun itu, tidak hanya Arab), sehingga menyulitkan negosiasi dan rekonsiliasi.

Pemikiran Atzmon ini mendapat penentangan dari sesama Yahudi (mereka berkeras, harusnya sebut yang salah itu ‘Zionis’, tidak ada kaitan dengan ‘keyahudian’), dan bahkan dari sebagian aktivis Palestina sendiri, misalnya Ali Abunimah. Abunimah mengecam Atzmon karena menggunakan the J-word (blak-blakan menyebut ‘Yahudi’, ini dianggap ‘tidak sopan’ karena ‘akan menyinggung saudara-saudara kita kaum Yahudi’). Abunimah bahkan menggalang petisi untuk ‘mengingkari’ (disavow) Atzmon. Tapi, banyak juga akademisi dan aktivis pro-Palestina (baik itu Yahudi, Arab, maupun orang-orang Barat) yang menyetujui pemikirannya. Professor Marc Elis, seorang teologis Yahudi, bahkan menyebut Atzmon sebagai ‘nabi baru’ karena memberikan pencerahan kepada orang Yahudi.

Buku Atzmon sendiri sangat filosofis, tapi relatif mudah dicerna (terutama kalau setidaknya Anda pernah belajar sedikit filsafat); hanya saja, saya kesulitan mengungkapkan kembali dalam bahasa Indonesia. Tapi ini ada wawancara Atzmon dengan Alimuddin Usmani, yang relatif lebih mudah saya terjemahkan, yang bisa merangkum apa sebenarnya yang dipikirkan Atzmon:

(lebih…)

Penjelasan Soal Adanya Tentara Israel yang Muslim

Pagi ini saya dapati, berita di Republika tentang adanya ribuan muslim yang jadi tentara Israel, banyak disebar ulang di jejaring sosial. Untung saja yang merilis berita ini Republika. Coba kalau Kompas atau Tempo, pasti sebagian orang langsung teriak-teriak ‘media kafir tukang fitnah!’ Penjelasan dari fenomena ini sebenarnya sederhana saja. Kita tinggal merunut sejarah terbentuknya Israel-Palestina.

Pada tahun 1947, PBB mengeluarkan resolusi 181 yang membagi tiga wilayah Palestina: 56.5% untuk pendirian negara Yahudi, 43% untuk negara Arab, dan Jerusalem menjadi wilayah internasional. Tapi kelak, pada tahun 1967 –setelah terjadinya Perang 6 Hari Arab-Israel—Israel menduduki Sinai, Golan, dan seluruh wilayah Palestina.

Perhatikan, awalnya seluruh wilayah adalah Palestina (warna hijau), kini wilayah Palestina sangat sedikit (sekitar 3%)

Perhatikan, awalnya seluruh wilayah adalah Palestina (warna hijau), kini wilayah Palestina sangat sedikit (sekitar 3%)

Wilayah Palestina saat itu tidak kosong, bangsa Palestina (baik Arab Islam, Arab Kristen, maupun Arab Yahudi) menyebar di seluruh wilayah. Jadi, ketika tanah mereka dibagi tiga, ada yang berada di wilayah yang dijatah untuk Israel, ada yang hidup di wilayah yang dijatah untuk Palestina.

Lalu, orang Yahudinya ada berapa banyak? Orang Yahudi ‘asli’ yang sejak lama hidup berbaur dengan bangsa Arab, memang ada, tapi tidak banyak (dan mereka ini justru dianggap rendahan oleh Israel, sama seperti warga Arab Islam&Kristen). Setelah Theodor Herzl, pada 1896 menyerukan pendirian sebuah negara Yahudi, Jewish Colonization Association (Asosiasi Kolonisasi Yahudi, didirikan 1891 di London) memulai pendanaan dalam mendirikan permukiman Zionis di Palestina.

(lebih…)