Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina (Laman 2)

Category Archives: Palestina

Iklan

Tentang Palestina (1): Berdirinya Israel dan Pengkhianatan Arab

tenda palestina 1948

tenda-tenda pengungsi Palestina pasca perang 1948, di Lebanon

[Catatan: setelah seri “Logika Falasi Para Pembela Israel”, saya lanjutkan seri berikutnya. Sebaiknya, baca dulu seri logika falasi.]

Dalam dokumen resmi PBB [1] disebutkan bahwa pada 1947, Special Committee on Palestine (UNSCOP) yang dibentuk untuk menyelesaikan masalah Palestina (yang saat itu berada di bawah kekuasaan/mandat Inggris) memutuskan untuk membagi 3 wilayah tersebut, 56% untuk warga Yahudi, 44% untuk warga Arab, dan kota Yerusalem menjadi wilayah internasional. Saat itu, delegasi Yahudi menerima tapi keberatan atas jumlah wilayah yang diberikan kepada mereka [ingin lebih luas lagi], sementara delegasi Palestina dan delegasi negara-negara Arab menolaknya, dengan alasan: melanggar Piagam PBB yang menjamin hak setiap orang untuk memutuskan nasibnya sendiri.

Ini yang dicantumkan dalam dokumen itu (perhatikan kata ‘negara’ yang dipakai di kalimat ini), “Mereka [Palestina dan negara-negara Arab] mengatakan bahwa Majelis telah mengusulkan sebuah rencana yang tidak layak bagi PBB dan bahwa bangsa Arab Palestina akan menolak segala bentuk skema yang dimaksudkan untuk membagi, mensegregasi, atau memecah NEGARA mereka, atau yang akan memberikan hak istimewa kepada minoritas.” [yang dimaksud minoritas adalah imigran Yahudi]

Mengenai situasi ini ada penjelasan yang simpel, disampaikan seorang jamaah haji Palestina, “Mereka itu pendatang yang membeli tanah dengan ukuran kecil, lalu mendirikan negara di atasnya dan mengganggu tetangga-tetangganya.” [2]

Meskipun ada penentangan dari pihak Palestina dan negara-negara Arab lainnya, Resolusi Pembagian Wilayah (UN Partition Plan 1947) tetap disahkan (33 suara setuju, 13 menolak, 10 abstain). Dari banyak sumber yang lain disebutkan bahwa AS telah memberikan ‘tekanan yang sangat besar’ kepada negara-negara Amerika Latin agar menyetujui resolusi ini, mereka pun terpaksa setuju karena kuatir kehilangan bantuan dari AS (antara lain dicatat oleh Richard Harman dalam bukunya America Betrayed).

(lebih…)

Iklan

Konflik-Konflik Pembuka Tabir

topeng
 
Suriah membuka tabir kelompok-kelompok Islam radikal (istilah yang tepat sebenarnya ‘ekstrim’), tapi ngaku-ngaku gerakan dakwah damai (kayak yang barusan dibubarkan itu, dan para pembelanya, termasuk yang berafiliasi dengan IM itu lho). Di Suriah terbukti, ideologi mereka sebenarnya sama sekali tidak toleran, bahkan menghalalkan kekerasan terhadap orang-orang yang “bukan kelompok kami”.
 
Palestina membuka tabir, mana netizen yang toleran asli, mana orang-orang yang sebenarnya juga rasis tapi ‘menunggangi’ gerakan kelompok toleran dan nasionalis yang sedang berjuang melawan kelompok intoleran/ekstrim muslim. Pas giliran intoleransi dan kebrutalan Yahudi-Israel yang dibahas, langsung deh keluar aslinya.
 
Tapi orang-orang ‘tercerahkan’ akan selalu mampu melihat peta konflik dengan jernih, tidak akan tertipu oleh kedok kedua kelompok yang pemikirannya setali tiga uang itu.

Falasi Logika Para Pembela Israel (3-tamat)

partmap3Dulu (2007-2011) ketika saya masih sering ‘perang’ di blog melawan para pembela Israel, saya pernah komen kesal, “Ngomong sama kalian nih kayak ngomong sama tembok ya!” Pasalnya, apapun yang saya tulis, mereka akan balik lagi ke teks-teks agama, ke klaim-klaim sejarah jadul, ke tuduhan-tuduhan yang tidak terverifikasi.

Eh, sekarang, model-model debat seperti ini masih mereka pakai rupanya (baca komen-komen di status saya sebelumnya). Padahal saya sedang menguliti falasi klaim-klaim mereka, tapi komentarnya balik lagi ke teks agama dan klaim sejarah (plus komen tak nyambung, misalnya: tanahnya kan sudah dibeli Israel, diusir kok mewek! Atau ‘Palestina itu tanah yang tandus ga ada orangnya!).

Sorry to say, di titik ini mereka ini setali tiga uang dengan para bigot pro-jihad palsu Suriah. Kedua kelompok ini sama-sama tekstualis, “Pokoknya ini kata Hadis /ini kata Alkitab/ini catatan sejarah versi saya! Apapun yang kautulis, pokoknya aku yang benar!” Para komentator pro Israel ini, meski santun dan seolah pintar berargumen, terlihat sekali mereka MENGABAIKAN apapun yang saya tulis.

Tapi no problemo buat saya, akan saya lanjutkan mengupas falasi mereka 🙂

Di bagian-2 saya tulis: sesuatu yang masih debatable (diperdebatkan) tidak bisa dijadikan premis, sehingga tidak bisa diambil kesimpulan yang logis.

Saya ulangi lagi dengan contoh:

(lebih…)

Falasi Logika Para Pembela Israel (2)

palestina1Dari sekian banyak komentar yang datang dari para pembela Israel, saya simpulkan, mereka berkeras mengemukakan 2 poin ini:

  1. Hak untuk tinggal di suatu wilayah berdasarkan kepada klaim sejarah
  2. Hak untuk melakukan kejahatan (pengusiran, pembunuhan) atas dasar hak no. 1

Dengan asumsi bahwa mereka ini (para pembela Israel) lebih mampu berargumen dengan cara-cara beradab, saya akan mengupas kedua poin itu dengan teknik logika.

Premis mayor: setiap bangsa berhak untuk kembali ke tempat dimana nenek moyangnya pernah tinggal lebih dulu (dibanding penduduk yang ada di tempat itu)

Premis minor: Yahudi adalah bangsa yang nenek moyangnya pernah tinggal lebih dulu di Palestina

Kesimpulan: Orang Yahudi (dari negara manapun ia berasal) berhak kembali dan tinggal di Palestina

Mari kita uji satu-persatu premisnya:

Premis Mayor. Apa yang dimaksud ‘berhak tinggal’? Kalau ‘berhak tinggal’ dengan MENGIKUTI ATURAN HUKUM yang berlaku saat itu, tentu premis mayor ini benar.

(lebih…)

Falasi Logika Para Pembela Israel

palestina1947-2008Dulu, sejak saya aktif menulis tentang konflik Palestina di blog dan kompasiana (sekitar tahun 2007), saya juga banyak diserang (tapi tidak semasif setelah saya nulis tentang Suriah, mulai 2011 akhir). Para penyerang saya itu amat pro-Israel, mengata-ngatai saya seenaknya, antara lain penganut teori konspirasi, bigot, kurang baca sejarah, pro teroris, dll. Setelah konflik Suriah meledak, mereka ongkang-ongkang kaki, mungkin sambil tertawa, karena yang menyerang saya sudah amat banyak dan sadis (yaitu orang-orang Islam pro-jihadis alias teroris Suriah).

Kini, konflik Suriah agak mereda, dan kejahatan Israel kembali jadi sorotan, sehingga para pembela Israel ini mulai bangkit bergerilya di medsos. Kali ini saya coba mengupas logical fallacy-nya orang-orang ini.

Ada penulis status fesbuk nulis gini. “Nggak kebayang betapa frustasinya tentara Israel ngadepin orang Palestina, mau dikerasin mewek, bilangnya melanggar HAM, kalo ga diantisipasi, nyawa bisa melayang kapan aja.”

Dalam bab falasi (silahkan baca lagi status kuliah logika di fanpage ini), ada yang disebut Falasi Non Causa Pro Causa, berargumentasi yang salah karena keliru mengindentifikasi sebab. Dalam kalimat di atas, yang dianggap sebagai sebab kekerasan/kejahatan tentara Israel adalah sikap orang Palestina-nya. Israel hanya defensif demi melindungi nyawa.

Logika ini disampaikan banyak media, coba perhatikan, kalimat yang diulang-ulang adalah, “Bentrokan ini terjadi setelah dua tentara Israel dibunuh oleh warga Palestina…” Dulu ketika serangan besar Israel ke Gaza, yang diberitakan “Serangan ini terjadi setelah Hamas melemparkan roket ke Israel…”

Sayangnya, yang berfalasi ini bukan cuma orang-orang pro-Israel, tapi juga yang sebenarnya pro-Palestina, tapi tidak menyadari adanya falasi dalam kalimat ini.

(lebih…)

Palestina di Tengah Keabsurdan Dunia Islam

palestineHari ini, Jumat terakhir di bulan Ramadhan adalah Hari Al Quds Internasional. Sebaiknya, kita ikut demo menyatakan solidaritas pada Palestina. Demonstrasi mungkin saat ini tak mampu mengubah apa-apa. Namun penting dilakukan dalam rangka merawat ingatan bahwa masih tersisa satu bangsa di muka bumi yang masih terjajah hingga saat ini, ketika dunia semakin tak peduli, teralihkan fokusnya gara-gara “demam jihad Suriah”.

Kalau tidak bisa demo, minimalnya, kita ramaikan medsos dengan share berita tentang Palestina, kita kembalikan fokus publik agar mau kembali membelanya. Perjuangan membela Palestina bukan cuma urusan kaum Muslimin, tapi semua orang yang peduli pada kemanusiaan, karena di Palestina juga ada banyak yang beragama Kristen, Yahudi, dan ada banyak ‘aliran’, termasuk Partai Komunis.

Ini tulisan saya terbaru, tentang Palestina, dimuat di Geotimes:

Palestina di Tengah Keabsurdan Dunia Islam [Hari Al Quds Internasional]

Silahkan klik:
https://geotimes.co.id/palestina-di-tengah-keabsurdan-duni…/

Dari Jabar ke Palestina, Suriah, Balik ke Indonesia

kekeringan-sukabumi-620x330

warga menderita kekeringan (beritadaerah.co.id)

Barusan saya menonton film dokumenter, ada sebuah desa di Jawa Barat yang kaya sumber air bersih, kini kesulitan air. Ada ratusan perusahaan menyedot air di kabupaten dimana desa tsb berada. Perusahaan terbanyak yang menyedot air di sana adalah perusahaan air mineral terkenal. Produknya dijual ke berbagai penjuru Indonesia dan per tahun meraih keuntungan triliunan rupiah. Sementara, warga sekitar harus mandi dan mencuci di air yang keruh.[1]

Dan kalau dicek, siapa pemilik saham perusahaan air minum tersebut, ternyata sebuah perusahaan milik asing, yang masuk daftar boikot Zionis.[2]

Jadi begini, di dunia ini ada gerakan boikot produk-produk perusahaan yang berinvestasi di Israel atau terbukti mengirimkan dana untuk Israel. Kok bisa tahu? Karena di Barat transparansi informasi cukup bagus, jadi bisa dilacak. Jadi, ini bukan gerakan asal boikot atau asal-benci-Yahudi. Yang diboikot adalah perusahaan yang memberi keuntungan kepada Israel.

(lebih…)

Perempuan Israel

Copas status FB

peledSeorang profesor perempuan Israel bernama Nurit Peled Elhanan aktif menyuarakan penghentian pendudukan Palestina sejak putrinya, Smadar, 13 tahun, tewas akibat bom bunuh diri di Jerusalem, September 1997. Alih-alih membenci orang Palestina, justru muncul kesadaran dalam diri Elhanan, bahwa berbagai kekerasan yang terjadi di Palestina-Israel bersumber dari pendudukan dan kebrutalan militer Zionis sendiri.

Pada 2007, dia pernah berpidato yang isinya menggetarkan, dan membuktikan bahwa semua manusia sudah dikaruniai fitrah yang sama oleh Tuhan, fitrah kemanusiaan dan kasih-sayang. Namun kemudian faktor-faktor eksternal (antara lain, pendidikan yang salah) menutupi fitrah dalam diri sebagian orang sehingga menjelma menjadi makhluk-makhluk yang kejam.

Berikut terjemahannya, saya salin dari buku saya, Ahmadinejad on Palestine.

(lebih…)

Refleksi Yaumul Quds, Persatuan Yahudi vs Persatuan Muslim

demo al quds bandung

Demo Hari Al Quds di Bandung 2011

Dina Y. Sulaeman*

AS dikuasai oleh kaum Yahudi, fakta ini sudah banyak diketahui dan diterima orang. Meski jumlah Yahudi hanya 5% dari total penduduk AS (sekitar 5 juta orang) tetapi mereka menguasai mayoritas bisnis dan finansial di AS. Bahkan The Fed yang berkuasa mencetak mata uang dollar (dan pemerintah AS harus membeli dollar kepada the Fed) sebenarnya adalah konsorsium bank-bank milik Yahudi.

Namun, bagaimana sejarahnya sampai Yahudi bisa berkuasa di AS, dan akhirnya menancapkan kekuasaan bisnis di seantero dunia?

Buku ‘The International Jew’ yang ditulis mendiang Henry Ford menceritakan sejarahnya. Berikut ini beberapa kutipan dari buku tersebut.
(lebih…)

Palestina: One State Solution

Opsi solusi konflik Palestina cukup beragam. Kelompok radikal biasanya menginginkan perang habis-habisan (Israel menghabisi Palestina, atau Palestina menghabisi orang Yahudi). PBB mendukung two-state solution (dua negara berdiri berdampingan). Ide ini banyak bolongnya, di tulisan ini sudah saya bahas sedikit. Ada juga opsi one state solution (antara lain, ini diusulkan Iran), yaitu adalah ide untuk mendirikan sebuah negara bersama Palestina-Israel, dengan dihuni oleh semua ras dan agama yang semuanya memiliki hak suara. Bila ide ini diterima, konsekuensinya, Rezim Zionis dibubarkan, begitu pula Otoritas Palestina; semua batas wilayah Palestina-Israel dihapus dan dilebur ke dalam satu negara; para pengungsi diizinkan kembali ke tanah/rumah mereka masing-masing; serta dilakukan referendum untuk menentukan bentuk pemerintahan dan menetapkan pejabat pemerintahan itu.

Ide ini dilandaskan pada pemikiran berikut:
1. Bila Rezim Zionis terus berdiri, perang tidak akan pernah berhenti karena cita-cita Zionis adalah mendirikan negara khusus Yahudi dan untuk itu, mereka akan terus mengusir orang-orang Palestina demi memperluas wilayahnya.
2. Bila Palestina ingin mendirikan negara khusus Palestina dan mengusir keluar orang-orang Yahudi, perang juga akan terus berlanjut. Namun dalam perang ini, Palestina berada dalam posisi yang lebih lemah: wilayahnya lebih kecil dan terpisah, dikepung oleh wilayah Israel, serta kekurangan logistik karena blokade Israel. Akibatnya, lagi-lagi, penindasan akan terus berlangsung di Palestina.

Pertanyaannya, mungkinkah kedua pihak mau menerima ide ini?

(lebih…)