Kajian Timur Tengah

Beranda » PBB

Category Archives: PBB

Iklan

Diskusi dengan Kaum Bigot Itu Pekerjaan Sia-Sia

[Bigot adalah kata dalam bahasa Inggris, artinya fanatik buta. Bigot bisa berasal dari agama apa saja, atau ‘isme’ apa saja.]

Suatu hari, saya pernah hadir di sebuah acara diskusi yang diselenggarakan sebuah ormas besar untuk bicara soal Suriah. Saya dipanelkan dengan seorang ustadz terkemuka di daerah itu (dari kalangan pro “jihadis”) dan seorang ustadz Syiah. Si ustadz Syiah mengklarifikasi (membantah) semua tuduhan-tuduhan yang diberikan ustadz anti-Syiah dengan argumen dan data.

Lalu, saya menjelaskan panjang lebar soal konflik Suriah. Saya tampilkan foto-foto dan video-video untuk memperlihatkan betapa banyak hoax yang tersebar. Saya jelaskan soal geopolitik Timteng. Saya bicara soal perebutan jalur pipa gas. Semua itu saya sampaikan untuk mendukung argumen saya bahwa konflik Suriah bukan konflik antarmazhab.

Anda tahu apa yang terjadi? Si ustadz anti-Syiah mengabaikan sama sekali semua paparan ustadz Syiah dan mengulangi tuduhannya. Jadi misalnya, “Qur’an-nya Syiah itu beda”. Padahal sudah diklarifikasi dengan argumen yang sangat logis, tapi si ustadz kembali mengulangi tuduhannya: “Qur’an-nya Syiah itu beda”.

(lebih…)

Iklan
Presiden Turki Erdogan dijuluki oleh beberapa analis geopol (misalnya, Pepe Escobar) ‘Sultan Teflon’ karena dia licin sekali, anti lengket, bisa berpindah haluan dengan sangat enteng. Kalau pakai perspektif HI, Erdogan ini bisa disebut tipe realis tulen, apapun yang penting buat negaranya, itulah yang ia lakukan, bahkan bila harus membantai tetangga sendiri. Baru hari ini Erdogan tertawa-tawa bersama Assad dan istrinya, menyebut Assad ‘my brother’, esoknya dia sudah memberi dukungan pada milisi bersenjata untuk menggulingkan Assad.
 
Selama bertahun-tahun (sejak 2012) ia membuka perbatasan Turki-Suriah untuk lalu-lalang pasukan teror termasuk ISIS untuk keluar-masuk Suriah, serta membeli minyak yang dicolong dari kilang-kilang Suriah, namun kini (17 September 2019) ia menceramahi para pemimpin negara Muslim soal ukhuwah. Padahal dulu Maret 2015, dia menyatakan mendukung intervensi Saudi di Yaman dan bahkan siap bantu logistik. Benar-benar sultan anti lengket.
 
Anda bisa tonton di video ini, pernyataan terbaru Erdogan soal Yaman. Patut diakui, apa yang dikatakan Erdogan kali ini benar adanya. Kata dia, “Kita harus melihat bagaimana konflik ini dimulai, siapa yang menyebabkannya? Mereka telah menghancurkan Yaman.” Siapa? Tak lain, Arab Saudi. Saat Yaman mengalami konflik internal, Saudi ikut campur dengan membombardir warga sipil serta infrastruktur sipil. Sebelum menjatuhkan bom pertama kalinya (Maret 2015), Menlu Saudi saat itu, Adel Al Juber ke Washington dan bertemu Obama, minta restu.

Konsep di Balik Tulisan

Ada yang bilang, tulisan saya yang sebelumnya itu tidak ada gunanya, tidak menambah pengetahuan. Meski orang bebas berpendapat apa saja (lagian ada gitu, aturan “kalau nulis status harus bermanfaat”?), tapi saya jadi tergelitik untuk ngasih kuliah singkat pagi. Ini khusus buat yang mau dan ‘nyambung’ aja 🙂

Di tulisan saya itu sebenarnya ada beberapa konsep yang sedang saya ‘ajarkan’:

1. Falasi ‘argumentum ad hominem’. Ini adalah cara berargumen yang salah dan tidak logis, yaitu menjatuhkan lawan dengan menyerang pribadinya, baik itu fakta atau fitnah. Contoh: “Dia berpendapat demikian kan karena dia Syiah dan antek Iran, pantas saja…”

2. Falasi saliba bi intifaa’il maudhu (ini istilah dalam ilmu mantiq klasik, artinya: tertolak karena objeknya tidak ada). Saat Anda berdebat atau berargumen, pastikan dulu fakta dan datanya benar. Percuma Anda berbusa-busa berargumen, eh ternyata yang terjadi sama sekali bukan yang Anda maksud.

(lebih…)

Ada cerita menggelikan…

Alkisah ada Paijo, doktor jurusan saluran air lulusan Kutub Selatan, selama ini kadang nulis status soal Palestina-Israel. Dia tipe sok netral dan sok toleran, dan suka menuduh orang yang pro Palestina adalah radikalis yang mendasarkan diri pada klaim-klaim Al Quran (sialnya, emang banyak radikalis yang suka bawa-bawa bendera Palestina kalo demo).

Si Paijo ini temenan baik dengan seorang perempuan cantik pro Israel, sebut saja namanya Mawar. Paijo suka membela Mawar dengan alasan “toleransi”.

Fakta yang diabaikan oleh Paijo (maklum kan dia sibuk bikin saluran air, jadi tentu tidak maksimal membaca-baca soal Timteng), kubu pro-Palestina itu banyak, bukan cuma yang pro-Hamas. Ada Muslim moderat, ada Muslim sekuler, ada komunis, ada Katolik (orang-orang Venezuela, dan Paus Francis, misalnya), dan bahkan ada orang Yahudi-Israel sendiri (saya pernah cerita soal Gilad Atzmon dan Miko Peled, 2 penulis Israel yang sangat aktif membela Palestina dan mengecam rezim Zionis).

(lebih…)

Wawancara dengan Geotimes [Geolive]

 

Menyambung Status Kemarin…

Menanggapi berbagai komen (sebagian sih sudah saya jawab langsung), ada yang perlu saya jelaskan. Ingat, ini bukan dalam rangka membela teroris atau tidak bersimpati sama korban ISIS ya (saya akan blokir orang-orang yang berani komen kayak gini lagi, sialan bener).

1. Kasus yang kita bahas adalah: petempur ISIS dan keluarganya asal Indonesia yang SEDANG DITAWAN oleh otoritas Kurdi Suriah (=pemerintah daerah). FYI, Kurdi itu suku, agamanya mayoritas Muslim Sunni.

2. Mereka ini ditahan karena MENYERAH. Jadi, secara hukum internasional, mereka harus “dilindungi”, ga bisa ditembakin semena-mena oleh SAA (tentara Suriah). Coba saja Assad berani melakukan pembantaian massal kepada mereka, besoknya pesawat tempur NATO akan langsung menyerbu dengan tuduhan “Assad melakukan kejahatan kemanusiaan”.

(lebih…)

Eks-ISIS, Dipulangkan atau Tidak?

Konvensi internasional mengatur bahwa tidak boleh ada satu manusia pun yang stateless (tak berwarga negara). Makanya kita membantu Rohingya, yang tidak diakui sebagai warga negara oleh pemerintah Myanmar.

Nah, orang-orang Indonesia yang bergabung dengan ISIS, jika tidak diakui oleh Indonesia (sebagai negeri kelahiran mereka), lalu, siapa yang harus mengurus? Anda bayangkan posisi Suriah saat ini: sudahlah diperangi 8 tahun, warganya dibantai secara brutal, diusir, diperkosa, diperbudak oleh orang-orang ISIS ini (yang datang dari berbagai penjuru dunia), apakah kini juga harus terus menampung dan mengurus mereka?

Dan memang, hukum internasionalnya: negara asal yang seharusnya mengurus.

Tapi kan tidak adil, mengerikan? Masa kita harus menerima para radikal itu? Kalau mereka mengebom di sini gimana? Kalau mereka menyebarkan virus radikalisme di sini gimana?

(lebih…)

Diplomasi Zaman Now vs Diplomasi Era Zadoel

Debat Keempat Pilpres kemarin saya ikuti dengan seksama karena temanya cocok dengan bidang studi saya, Hubungan Internasional. Ada hal yang menarik untuk ditelaah, soal diplomasi dan ‘kepentingan nasional’.

Pertanyaan dari panelis adalah, “…Keberhasilan dalam diplomasi internasional tergantung pada kemampuan negara menawarkan keunggulannya kepada negara-negara lain. Keunggulan tersebut bisa dalam bentuk kebudayaan, ekonomi, pertahanan, dan gagasan solutif. …Menurut Bapak apa keunggulan bangsa Indonesia yang akan ditawarkan dalam diplomasi internasional dan bagaimana strategi utk mewujudkannya?

Jawaban Presiden Jokowi, keunggulan kita adalah “Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.”

Hal ini direspon Capres Prabowo bahwa diplomat asing itu “menghitung kekuatan kita”. Yang dimaksud Prabowo adalah kekuatan militer, karena selanjutnya yang disebutnya adalah ‘berapa kapal selam, pesawat, peluru kendali yang kita punya?’

Dalam tulisan singkat ini, saya hanya ingin menjelaskan bahwa secara paradigmatik, kedua tokoh ini berbeda bagai bumi dan langit.

(lebih…)

Kesetiaan Indonesia Pada Palestina

Dalam KTT OKI 2017 di Turki, banyak yang tidak tahu, sebenarnya yang paling tegas dan blak-blakan bicara bukanlah Erdogan, melainkan Presiden Indonesia, Joko Widodo.

Pernyataan yang “terkeras” Pak Jokowi adalah, “Negara anggota OKI yang memiliki hubungan dengan Israel agar mengambil langkah-langkah diplomatik, termasuk kemungkinan meninjau kembali hubungan dengan Israel sesuai dengan berbagai Resolusi OKI.”

Jangan harap Erdogan akan berani mengusulkan hal tersebut karena Kedubes Israel berdiri aman sentosa di Jalan Mahatma Gandhi no 85, Ankara, Turki; serta ada dua konsulat di Istanbul dan Izmir.

Presiden Jokowi juga menyatakan bahwa OKI harus secara tegas menolak pengakuan unilateral [bahwa Jerusalem adalah ibu kota Israel] yang dilakukan Trump.

Jokowi menyerukan, OKI harus konsisten memperjuangkan berdirinya negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

(lebih…)

Anak-Anak Palestina

Awal musim panas di Beit Sira, sebuah desa sekitar 15 kilometer dari Ramallah, Tepi Barat. Mahmoud Rafat Badran (15) siang itu baru saja bersenang-senang di kolam renang bersama beberapa sepupunya. Mereka pulang ke rumah dengan menggunakan mobil. Tiba-tiba saja, di Rute 443, seorang tentara Israel (IDF) menghujani mobil mereka dengan peluru. Mahmoud tewas dan beberapa saudaranya terluka parah. IDF kemudian merilis statemen bahwa terjadi salah tembak dan akan menyelidiki kasus ini.

Mahmoud hanya satu dari sekitar 2 juta anak-anak Palestina di Tepi Barat yang setiap hari mengalami berbagai ancaman. Menurut The Palestinian Medical Relief Society (PMRS), anak-anak di Tepi Barat sangat dibatasi mobilitasnya. Anak-anak itu harus melewati posko pemeriksaan militer yang sangat mengancam keselamatan mereka di banyak tempat saat bepergian antardesa dan antarkota.

(lebih…)