Beranda » Perang Melawan Terorisme

Category Archives: Perang Melawan Terorisme

Perangi ISIS, Rusia Kerahkan Kekuatan Spektakuler

Oleh : Pepe Escobar

bom-kaleng-300x300Teroris transnasional Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) harusnya sekarang belajar. Mereka telah memilih lawan yang salah.

Apalagi, setelah majalah propaganda ISIS, Dabiq, mempublikasikan sebuah foto yang menunjukkan ‘rakitan bom’ yang kabarnya digunakan untuk meledakkan pesawat penumpang Rusia beberapa waktu yang lalu. Menurut Dabiq, sebuah kaleng Schweppes Gold diisi dengan bom rakitan, lalu diletakkan di salah satu kursi penumpang. Mereka juga mempublikasikan foto paspor salah satu korban – warga Rusia – yang diambil oleh kelompok teroris.

Sebelumnya, Direktur Federal Security Service Aleksandr Bortnikov mengatakan kepada Presiden Putin tentang jatuhnya Metrojet pada 31 Oktober di Mesir, “Kami meyakini bahwa hal ini merupakan ulah teroris.”

Khalifah mungkin saja bisa melarikan diri menuju gurun-gurun di Suriah dan sekitarnya, tapi mereka tidak akan bisa bersembunyi. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rusia,”Kami akan mencari mereka di setiap tempat, dimanapun mereka berada. Kami akan menemukan mereka di suatu lokasi di planet ini dan kami akan menghukum mereka. Ancaman ini tidak main-main, uang sebesar 50 juta dollar ditawarkan oleh FSB untuk siapapun yang bisa memberikan informasi terkait tragedi jatuhnya pesawat Rusia di Sinai tersebut.

Putin juga menyampaikan pesan dengan cara lain. Pesawat temput Rusia melakukan serangan yang masif dan impresif ke 140 target bahkan lebih, yang diluncurkan melalui 34 rudal jelajah yang mutakhir. Rusia juga menggunakan pesawat pengebom supersonik sayap rendah Tu-160, Tu-22, dan Tu-95Mc. Inilah kali pertama Rusia menggunakan kekuatan peledak strategis jarak jauh setelah perang pada tahun 1980-an di Afghanistan. Dan sebentar lagi, Rusia juga akan menempatkan 25 peledak strategis di Suriah, ditambah dengan 8 buah pesawat temput Su-34 ‘Fullback’, dan empat Su-27 ‘Flanker’.

Selanjutnya bisa dibaca di situs ICMES

Bagaimana Cara AS Mendirikan Al Qaida/ISIS?

Ini copas status saya di FB tgl 18 Nov (yang dg segera di-report oleh takfiri, sehingga status tsb dihapus FB dan saya diblokir, tidak bisa posting di FB selama beberapa hari). Saya tambahi beberapa info baru.

====

Mungkin ada yang bertanya-tanya, gimana cara AS mendirikan Al Qaeda, ISIS, dll.? Sedemikian begonyakah orang Muslim sampai nggak nyadar kalo dikerjain? Tentu saja, caranya enggak blak-blakan dong. Sangat tersistematis (emangnya AS itu bego, apa?). AS tidak langsung hadir di lapangan, tetapi pakai tangan “ustadz-ustadz” dan aliran dananya pun kadang lewat negara-negara kroninya (seperti diakui oleh Hillary Clinton, CIA bekerja sama dengan Pakistan dan Arab Saudi). Makanya ada status FB orang Indonesia yang saat ini sedang jihad di Suriah, dia bilang, “Senjata mujahidin itu memang dari Amerika; malah bagus kan, canggih! [halooo…???] tapi bukan gratisan, melainkan sumbangan dari Arab Saudi dll.” (browsing aja, itu status dicopas pkspiyungan).

Poin penting pertama: berpikirlah kritis, jangan membeo melulu dan berkata “kata ustadz ana..” melulu.

Poin kedua: yang perlu kita -terutama ibuk-ibuk- catet adalah metode indoktrinasi paham kebencian dan teror kepada anak-anak melalui buku. Kalau ditemukan buku-buku semacam itu, segeralah perbaiki pemahaman anak; ingatkan bahwa Islam adalah agama yang welas asih.

Foto di bawah ini adalah salah satu halaman di buku sekolah dasar anak-anak Afghan (zaman Soviet).

afgh-textbook-jihad

(lebih…)

[Makalah Seminar] Perempuan dan Globalisasi

Ilham, seorang perempuan Yazidi di kamp pengungsian (26 Feb 2015). Dia baru diselamatkan setelah diculik ISIS pada Agustus 2014 dan diperkosa oleh jihadis. (sumber foto: Straits Times 14/4)

Ilham, seorang perempuan Yazidi di kamp pengungsian (26 Feb 2015). Dia baru diselamatkan setelah diculik ISIS pada Agustus 2014 dan diperkosa oleh jihadis. (sumber foto: Straits Times 14/4)

Dalam seminar internasional di Makassar (9 April 2015), saya sebenarnya sudah menyiapkan makalah, tapi rupanya panitia memang tidak mengagendakan pembagian makalah tersebut. Lalu, ada seorang peserta seminar meminta file makalah, saya janjikan untuk saya upload di blog saya. Jadi ini pemenuhan janji saja.

Berikut ini makalah singkat yang saya tulis untuk seminar tersebut, saya tambahkan data yang kebetulan saya dapatkan hari ini, yaitu laporan PBB terbaru, bahwa JIHADIS MENGGUNAKAN PEMERKOSAAN PEREMPUAN SEBAGAI STRATEGI PERANG.

===

Perempuan dan Globalisasi: Think Global Act Local

Dina Y. Sulaeman*

Globalisasi adalah fenomena semakin terhubungnya antar-negara dan antar-individu di dunia, baik melalui hubungan ekonomi, politik, maupun sosial. Berkat kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi, lalu-lintas orang, barang, jasa, dan ide menjadi semakin mudah sehingga seolah-olah batas antarnegara menjadi kabur.

Di balik berbagai kemudahan dan kenyamanan hidup, serta ‘kemajuan’ yang diberikan oleh globalisasi, sesungguhnya ada masalah besar yang diderita oleh mayoritas manusia di bumi. Arus globalisasi didorong oleh kekuatan-kekuatan ekonomi dunia (korporasi) yang ingin mencari profit yang lebih besar dengan cara menguasai sumber-sumber ekonomi di berbagai penjuru dunia. Dengan cara ini, akumulasi uang terbanyak berada di tangan segelintir manusia, sementara sebagian besar penduduk bumi harus bekerja keras memperebutkan sisanya.

Archer (2009) memetakan ada tiga dampak negatif globalisasi bagi perempuan. Secara umum, menurut Archer, dampak globalisasi memang beragam. Perempuan yang berada dalam tingkat ekonomi dan sosial tinggi lebih mampu meraih keuntungan dari globalisasi. Misalnya, mereka mampu berbisnis online dengan pendapatan yang sangat besar. Namun, bagi perempuan yang berada di tingkat ekonomi dan sosial yang lemah, globalisasi justru semakin memarjinalisasi dan memiskinkan mereka.

(lebih…)

Charlie Hebdo dan Absurditas di Tanah Voltaire

(terjemahan: saya bukan Charlie)

(terjemahan: saya bukan Charlie)

Oleh: Dina Y. Sulaeman* (Dimuat di Sindo Weekly Magazine**, 15/1/2015)

Charb, Cabu, Wolinski dan Tignous tewas. Empat kartunis Perancis yang gemar mengolok-olok lewat kartun yang mereka publikasikan itu seolah menjadi tumbal bagi kebebasan berbicara (freedom of speech). Kebebasan berbicara konon salah satu kredo utama di Perancis. Kredo yang dibangun oleh Voltaire, “Saya tidak menyetujui perkataan Anda, tapi saya akan membela hak Anda untuk mengatakannya.”

Pembunuhan atas empat kartunis dan tujuh orang lainnya yang bekerja di tabloid satire Charlie Hebdo, serta seorang polisi, sesungguhnya dipenuhi kejanggalan. Sulit diterima bahwa dua bersaudara keturunan Aljazair yang bekerja sebagai pengantar pizza, Said dan Cherif Kouachi, bebas mendapatkan logistik yang sempurna: Kalashnikov, roket peluncur, amunisi, rompi, sepatu tentara, dan Citroen hitam. Keduanya pernah ditangkap pada kasus terorisme tahun 2008, sehingga semestinya selalu dalam pengawasan Sous-direction de l’anti-terrorisme (Sub Direkturat Anti Terorisme).

Polisi mengetahui identitas Kouachi bersaudara karena mereka kebetulan (?) meninggalkan kartu identitas di Citroen hitam. Sungguh mirip dengan peristiwa 911. Penyelidik mengetahui identitas pengebom Menara Kembar WTC dari paspor yang ditemukan di sela-sela puing-puing bangunan. Gilad Atzmon, penulis Yahudi yang selalu mengkritik Israel pun menulis, “Sejak kapan seorang teroris membawa kartu identitas saat beraksi?”

Namun, tak urung, diskusi publik dipenuhi oleh perdebatan mengenai ‘kebebasan berbicara’. Narasi yang terus diulang: Islam anti kritik dan anti kebebasan, dan lebih suka melawan pena dengan pedang. Sayangnya, narasi itu memang memiliki konteks yang nyata. Citra Islam akhir-akhir ini semakin buram akibat aksi-aksi pemenggalan kepala oleh ISIS. Mereka membunuh –dengan cara terbrutal yang bisa dibayangkan manusia modern—siapa saja yang bukan bagian dari mereka, baik itu Muslim Sunni dan Syiah, Alawi, Kurdi, Kristen, atau Yazidi. Sesama jihadis tetapi berbeda ‘imam’, tak luput dari aksi barbar ISIS. Ini pula agaknya yang dimaksud Charlie Hebdo dalam salah satu kartun satirenya: bahkan Nabi Muhammad pun dipenggal oleh ISIS.

(lebih…)

Resolusi PBB Tentang ISIS

John McCain dan para pemberontak Suriah

John McCain dan para pemberontak Suriah

Pada tanggal 24 September 2014, Obama memimpin sidang Dewan Keamanan PBB; ini sebuah momen yang langka. Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat (15-0) mengeluarkan resolusi yang isinya memerintahkan kepada negara-negara anggota PBB agar melarang warga mereka melakukan perjalanan untuk bergabung dengan ISIS.

Dalam sidang itu, Obama mengatakan, tidak ada satu negara pun dapat melawan ancaman ISIS/IS, yang dalam beberapa bulan terakhir telah ‘mencemooh’ batas kedaulatan untuk memindahkan milisi, sumber daya dan uang, serta untuk memulai serangan. Sebagian besar pemimpin dunia pada pertemuan tersebut mendukung pernyataan Obama, terutama negara- negara Arab yang bergabung dengan koalisi militer AS melawan ISIS (dan mereka sejak sekitar tanggal 20-an September sudah mulai menyerang Suriah dengan alasan menggempur ISIS).

Menurut Chossudovsky, yang tidak disebut dalam pemberitaan media massa, adalah bahwa para kepala negara-negara yang mendukung kampanye AS melawan IS, sebagaimana disarankan oleh agen intelejen mereka, sebenarnya sangat menyadari bahwa intelijen AS adalah arsitek –diam-diam- dari IS, dan menjadi bagian dari jaringan sangat luas entitas teroris ini. Negara-negara anggota DK PBB, sebagiannya dipaksa untuk mendukung Resolusi yang disponsori AS; sebagian lainnya terlibat dalam agenda teror AS.

Jangan dilupakan, Saudi Arabia, Qatar,  telah membiayai dan melatih teroris ISIS (sebelum kemudian berganti nama jadi IS) atas nama AS.  Israel memberikan perlindungan kepada ISIS di dataran tinggi Golan, NATO bekerja sama dengan Turki [Turki adalah anggota NATO] sejak Maret 2011 telah terlibat dalam mengkoordinasikan proses rekrutmen jihadis yang dikirim ke Suriah. Lebih jauh lagi, brigade-brigade di Suriah dan Irak diintegrasikan oleh para penasehat militer dan pasukan khusus Barat.

mcCain sedang rapat dengan pemberontak Suriah

mcCain sedang rapat dengan pemberontak Suriah

Semua ini diketahui dan terdokumentasikan, hampir tidak ada kepala negara yang memiliki keberanian untuk menunjukkan absurditas resolusi DK PBB yang disetujui penuh pada September 24; selain Presiden Argentina, Cristina Fernandez yang mengkritik AS yang telah mempersenjatai pemberontak oposisi Suriah dan mentraining mereka di kamp-kamp di Arab Saudi. Dia juga menyebut kasus Afganistan dimana AS-lah yang mempersenjatai mujahidin Afghanistan melawan penjajah Soviet, dan kasus Irak, dimana AS memberikan bantuan militer kepada pemerintah Saddam Hussein pada 1980-an (dalam memerangi Iran).

“Absurditas” pun bukan istilah yang tepat karena yang kita saksikan sesungguhnya adalah sebuah kejahatan yang dilakukan di bawah naungan PBB.

Meskipun diplomasi internasional memang sering didasarkan pada ‘tipuan’, namun AS sudah terang-terangan melakukan kebohongan politik luar negeri. Apa yang kita saksikan saat ini adalah penghancuran total dari bangunan praktik diplomasi. Dalam kasus ISIS, ada kebenaran yang disembunyikan [the “Forbidden Truth”] yaitu bahwa IS adalah instrumen Washington; dan aset intelijen AS.

Resolusi DK PBB menyeru negara-negara anggota untuk “suppress the recruiting, organizing, transporting, equipping” and financing of foreign terrorist fighters.”

Secara khusus, resolusi itu menunjuk kepada ISIS, Al Nusrah, dll: the particular and urgent need to implement this resolution with respect to those foreign terrorist fighters who are associated with ISIL [Islamic State of Iraq and the Levant], ANF [Al-Nusrah Front] and other cells, affiliates, splinter groups or derivatives of Al-Qaida…”

Bukankah nama-nama kelompok yang disebut itu adalah ‘pejuang oposisi’ yang selama ini dilatih dan direkrut oleh sekutu militer Barat [Qatar, Jordan, Turki, Arab Saudi], dalam upaya untuk menggulingkan pemerintahan Bashar Al Assad?

Yang dilakukan Obama saat ini adalah tahap lanjutan dari proyek George W. Bush tahun 2001, saat dia mengancam dunia “kalau kalian tidak bersama kami, maka kalian adalah musuh kami.” Kini AS dalam Sidang PBB mengajak dunia internasional untuk bergabung dalam “Perang Melawan ISIS”, padahal AS sendiri yang terlibat dalam menciptakan sebuah jaringan teror itu. ISIS telah dimanfaatkan untuk memuluskan keinginan AS untuk menggulingkan pemerintah berdaulat di Suriah dan Irak. Ironisnya, PBB pun terlibat dalam usaha ini.
referensi:

-http://www.globalresearch.ca/the-terrorists-r-us-the-islamic-state-big-lie-and-the-criminalization-of-the-united-nations/5404146

http://www.usnews.com/news/articles/2014/09/24/obama-led-un-security-council-unanimously-passes-anti-isis-resolution

 

Michael Moore, Irak, dan Dilema Demokrasi

DINA-SULAIMAN-OKETulisan terbaru saya di Nefosnews.com

“Mosul fell. Mosul is the second largest city in Iraq. The Iraqi government we “installed”, has now lost Fallujah, Ramadi, Mosul and other large swaths of the country we invaded at the cost of thousands of American lives, tens of thousands of Iraqi lives and a couple trillion dollars.”

Demikian tulis Michael Moore, sutradara kawakan AS, di fanpage-nya, pada Rabu (11/6/2014). Moore mengungkapkan kekesalannya terhadap pemerintah AS yang telah menginvasi Irak atas nama demokrasi. Uang triliunan US$ dihabiskan pemerintah AS, ribuan tentaranya tewas. Dan yang lebih menderita tentu saja rakyat Irak. Janji demokrasi yang dibawa AS pada tahun 2003 ternyata bohong belaka. Setiap detik kehidupan mereka kini terancam oleh bom dan letusan senjata.

Moore pernah membuat film dokumenter Fahrenheit 911 yang mengungkap berbagai kebohongan yang dilakukan rezim Bush. Salah satu adegan yang sangat melekat di benak saya adalah ekspresi wajah Bush saat dibisiki oleh pengawalnya, menginformasikan serangan terhadap WTC pada 11 September 2001. Bush saat itu sedang berada di sebuah kelas taman kanak-kanak. Dia diam saja, tidak menunjukkan keterkejutan, dan meneruskan membacakan buku kepada anak-anak TK. Dan buku yang dibacanya itu terbalik.

Entah apa yang sebenarnya ada di benak Bush saat itu. Yang jelas, sejak saat itu, AS melancarkan Perang Melawan Terorisme. AS menggempur Irak pada tahun 2003, dengan alasan Saddam memiliki senjata pembunuh massal yang mengancam keselamatan umat manusia. Dan ternyata keberadaan senjata pembunuh massal di Irak hanya isapan jempol. Bush pun pada 2004 mengakuinya, namun menyalahkan CIA yang memberinya laporan palsu. Pretext (alasan) perang Irak pun diubah, bukan lagi untuk memusnahkan senjata massal, melainkan untuk menggulingkan Saddam yang diktator dan menegakkan demokrasi di Irak.

Segera setelah AS mendirikan pemerintahan “demokratis” di Irak, tiba-tiba saja muncul kelompok-kelompok teror yang berafiliasi dengan Al Qaeda. Mereka menyerang rakyat sipil, meledakkan bom bunuh diri di berbagai tempat. Situasi ini dijadikan alasan oleh AS untuk tetap mempertahankan pasukannya di Irak. Di saat yang sama, perusahaan-perusahaan minyak dan kontraktor Barat juga terus mengeruk uang di Irak, mengendalikan berbagai proyek.

 

…. mengapa penegakan demokrasi harus ditebus dengan harga jutaan nyawa? apa kaitannya dengan demokrasi dan pilpres kita?

baca selengkapnya di Nefosnews

Nasib Muslim Tatar dan Jihad Ukraina

Analisis terbaru saya, dimuat di www.LiputanIslam.com

Nasib Muslim Tatar : Isu Jihad Baru di Ukraina?

Doku Umarov dan pasukan jihadnya

Doku Umarov dan pasukan jihadnya

Mereka yang intens mengikuti konflik Suriah dan Timteng pada umumnya, semestinya merasakan adanya alarm yang berbunyi, saat membaca tulisan koran Republika edisi cetak halaman 25 (10/3) berjudul “Tanda X di Pintu Rumah Muslim Crimea”. Track record Republika yang ikut bergabung dalam koor media mainstream soal Suriah, menyebarluaskan ilusi bahwa konflik di Suriah adalah kekejian kaum Syiah pro-Assad terhadap kaum Sunni (salah satunya bisa dibaca di artikel ini: Syria di Republika), membuat saya melihat tulisan itu dengan cara berbeda.

Dalam artikel yang ditulis oleh Ferry Kisihandi (dan bersumber dari Reuters, jaringan berita milik keluarga Rothschild) diceritakan tragedi 1944, ketika diktator Soviet, Josef Stalin, memerintahkan polisi membuat tanda X pada pintu-pintu rumah Muslim Tatar. Dalam beberapa hari, 200 ribu Muslim diusir dari rumahnya dan dikirim ke wilayah Uzbekistan. Ribuan orang kehilangan nyawa dalam perjalanan itu. Pada 1960-an, Uni Soviet mulai mengizinkan Muslim Tatar yang masih hidup di pengasingan untuk kembali ke Krimea.

Menurut Republika, pengusiran tahun 1944 itu berpotensi berulang pada tahun ini, menyusul masuknya tentara Rusia ke Krimea dan menghendaki Krimea memisahkan diri dari Ukraina. Pasalnya, Muslim Tatar warga Krimea lebih memilih untuk bergabung dengan Ukraina. Dan pilihan itu melahirkan konsekuensi, karena akhir-akhir ini muncul goresan tanda X di pintu-pintu rumah beberapa muslim Krimea, tulis Republika.

Mengingat mayoritas kaum muslim kelihatannya sedemikian mudah diprovokasi tanpa mau sejenak merenung dan mencari ‘berita di balik berita’, isu penindasan Muslim Tatar saya perkirakan akan dipakai untuk menggalang jihad melawan Rusia. Masih belum luput dari ingatan, betapa mudahnya kaum Muslim di Indonesia diprovokasi dengan berbagai foto dan video palsu. Mereka pun rela merogoh kocek dalam-dalam, sehingga terkumpul ratusan juta rupiah tanpa audit yang jelas, demi ‘menolong kaum Sunni yang ditindas Assad’. Jihadis dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari Indonesia berbondong-bondong datang ke Suriah demi menggulingkan Assad. Dan ironisnya, akhir-akhir ini di antara mereka (para jihadis) malah saling bunuh dengan cara-cara barbar, karena perebutan wilayah, jarahan, dan legitimasi (mana yang ‘khilafah asli’).

Umat muslim dunia kebanyakan menerima saja apa yang dicekokkan media kepada mereka. Dan ironisnya, sejak kasus Suriah, banyak media berlabel Islam yang bergotong royong dengan media mainstream tanpa mau mengaitkan konflik lokal dengan konstelasi politik global. Dalam artikel saya berjudul L’Ukraine est une autre Syrie (Ukraina adalah Suriah yang lain), saya sudah menulis berbagai persamaan antara konflik Suriah dan Ukraina. Berbeda dengan Suriah yang perlu dua tahun sebelum (sebagian) publik menyadari konspirasi Barat, di Ukraina, kecurangan Barat terungkap dengan sangat cepat.

Baca selanjutnya di LiputanIslam.com ya :)

Tuduhan Makar Terhadap Mahasiswa Indonesia di Iran

tehran university

tehran university

Saya benar-benar tersinggung saat membaca reportase berikut ini. Disebutkan, dalam sebuah bedah buku, ada seorang USTAD yang menyatakan bahwa pemerintah Iran memberi beasiswa kepada orang-orang Indonesia untuk belajar di Iran, lalu di sana mereka cuma makan dan tidur, tidak belajar, hanya didoktrin, lalu kembali ke Indonesia untuk mendirikan negara Syiah Indonesia. Kalau benar dia USTAD tentu dia tidak akan sembarangan memfitnah (tentu dia sudah lebih banyak membaca Quran dibanding yang bukan USTAD, sehingga tahu apa itu fitnah).

Saya memang cuma kuliah bahasa Persia 1 semester dan kuliah pra-pasca 1 semester di Tehran University, lalu keluar (karena alasan pribadi), lalu kerja sebagai jurnalis di IRIB. Tapi dalam masa yang singkat itu tentu saja saya mengalami sendiri bahwa saya TIDAK makan dan tidur belaka. Saya juga TIDAK pernah didoktrin bikin negara SYIAH. Bahkan saya dulu sangat sering bergadang supaya lulus ujian (dan ujiannya, parahnya, sulit banget, yang ditanyain biasanya yang tidak ada di buku panduan, jadi musti baca buku banyak-banyak di perpus), supaya nggak malu-maluin Indonesia (kalau nilai saya jelek, rasanya semua orang akan menengok ke saya dan bertanya dalam hati, Indonesia?). Hal yang sama saya lakukan saat kuliah musim panas di Sophia University, Tokyo, dulu. Saya tahu, nilai saya tidak ada ‘arti’-nya, toh cuma kuliah musim panas. Tapi saya tetap bergadang untuk belajar. Saya harus dapat nilai A supaya tidak mempermalukan Indonesia dan khususnya almamater saya, Unpad.

Meskipun dulu saya kuliah cuma setahun, tapi saya juga kenal hampir semua mahasiswa Indonesia di Iran (karena jumlahnya cuma segelintir, waktu itu ga sampai 100-an), dan saya kadang berkunjung ke rumah mereka. Setiap rumah pasti penuh dengan buku-buku. Dan ya, mereka belajar dengan tekun. Seorang teman perempuan, saat saya berkunjung ke rumahnya, bahkan membawa bukunya ke dapur, dan sambil memasak untuk tamunya (yaitu saya), dia membaca buku!

(lebih…)

Teroris vs Densus 88: Logika Tabrir?

Dina Y. Sulaeman

Penggerebekan terhadap ‘terduga’ teroris di Ciputat pada malam Tahun Baru oleh Densus 88 yang mengakibatkan kematian enam orang, memunculkan tuduhan bahwa Densus 88 telah melanggar HAM. Bahkan Kontras telah merilis pernyataan bahwa “Berangkat dari temuan awal dan informasi media massa, KontraS menganggap kematian enam terduga teroris; Hidayat, Nurul Haq, Fauzi, Rizal, Hendi, dan Edo- tidak wajar dan mengandung unsur-unsur pelanggaran prosedur hukum serta hak asasi manusia, termasuk hak asasi warga yang terkena dampak.”

Bahwa Densus 88 sangat berkepentingan dengan ‘proyek’ terorisme dan menerima dana asing untuk proyek ini, memang menimbulkan kecurigaan besar. Apalagi, seperti diungkapkan KontraS dalam pernyataannya, terlihat memang banyak kejanggalan dalam operasi terorisme ini.

Sayangnya, fakta kejanggalan ini kemudian ‘digoreng’ pihak-pihak tertentu untuk mengaburkan fakta soal terorisme itu sendiri. Mereka menggunakan kesalahan Densus 88 sebagai argumen bahwa: (1) korban ‘terduga’ teroris adalah orang-orang tak bersalah,  (2) korban tidak ada kaitan sama sekali dengan terorisme, (3) dan bahkan ‘teroris’ itu sendiri sebenarnya tidak ada, hanya buat-buatan Densus 88 untuk mencari dana besar dari luar negeri.

Untuk kesekian kalinya di blog ini, saya mengajak kita semua untuk menjauhi logika ‘tabrir’ (menganggap kesalahan si A sebagai bukti dari ketidakbersalahan si B). Bukankah sangat mungkin, A dan B sama-sama salah?

Selain info soal kejanggalan operasi Densus, bukankah ada info lain yang mengindikasikan bahwa memang para ‘terduga’ teroris itu ada kaitannya dengan organisasi Islam transnasional? Coba perhatikan, sebuah group di facebook bernama “Khilafah Solusinya” memposting foto ini:

anak-anak pendukung teroris Ciputat (salah satu teroris itu ternyata punya paspor dan sedang bersiap ke Suriah)

“selamat jalan kafilah syuhada ciputat, kami akan meneruskan perjuanganmu”

(lebih…)

Penghancuran Situs Kuno: dari Suriah hingga Yogya

Dina Y. Sulaeman

Robert Fisk, jurnalis dari The Guardian secara rutin menyampaikan laporan perkembangan konflik Suriah. Akhir Desember yang lalu, ada yang menarik dalam laporannya. Pemberontak Suriah yang berafiliasi dengan Al Qaida (Jabhah Al Nusra) rupanya telah menghancurkan situs-situs bersejarah. Patung penyair Abu Tammam Habib ibn Aws di Daraa, diledakkan. Patung penyair al-Ma’arri, dipenggal kepalanya. Fisk berusaha menganalisis, mungkin karena syair-syair keduanya dianggap sesat oleh Al Nusra. Patung Harun Al Rasyid di Rakaa pun tak luput dari ‘pembantaian’ mereka, juga makam salah satu sahabat Rasulullah, Hujr ibn Adi di pinggiran Damaskus. Sebatang pohon tua berusia 150 tahun di kota Atmeh pun menjadi korban: ditebang habis. Seorang pemberontak mengatakan kepada wartawan Perancis bahwa pohon itu ditebang karena sudah jadi sesembahan warga. Inilah jihad mereka. Selain menggorok leher orang-orang ‘kafir’ Suriah, mereka pun membasmi patung, makam, dan pohon.

Lalu Fisk menulis, “Tetapi, bukankah ini cerita lama? Bukankah dulu Taliban juga menghancurkan patung Buddha di Bamiyan, sebagaimana rezim Saud membongkar bangunan-bangunan kuno di Mekah; seperti juga para ‘Islamis’ yang menghancurkan makam-makam di Pakistan? Belum lagi bila kita sebut penghancuran di Timbuktu.”

Sebentar. Timbuktu? Ada apa di Timbuktu?

(lebih…)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 6.001 pengikut lainnya