Kajian Timur Tengah

Beranda » Perang Melawan Terorisme

Category Archives: Perang Melawan Terorisme

Iklan

#10yearschallenge of Syria

Sedang musim bikin foto #10yearschallenge ya? Konflik Suriah dimulai 2011, sekarang 2019, belum 10 tahun, tapi semoga bisa selesai sepenuhnya tanpa menunggu 10 tahun.

Apa hasil perang ini?

Tentu saja, kehancuran sebagian besar wilayah Suriah (yang harus dibangun lagi dengan biaya yang amat sangat besar) dan penderitaan teramat pahit yang diderita warganya (yang entah kapan bisa disembuhkan).

Dalam perspektif geopolitik, inilah ‘hasil’ Perang Suriah. Saya terjemahkan dari sebagian tulisan Elijah Magnier, seorang analis Timteng senior.

***

Suriah kini menjadi pusat perhatian publik sedunia, terutama di Timur Tengah. Posisinya bahkan lebih kuat daripada 2011. Suriah kini memiliki rudal presisi canggih yang dapat menghantam setiap bangunan di Israel. Assad juga memiliki sistem pertahanan udara yang tidak akan pernah ia impikan sebelum 2011, karena pelanggaran udara yang dilakukan terus-menerus oleh Israel yang berarti mengganggu kepentingan Rusia. Hizbullah telah membangun pangkalan untuk rudal presisi jarak jauh dan menengah di pegunungan dan telah menciptakan ikatan yang amat kuat dengan Suriah; sesuatu yang tidak akan pernah bisa dibangun jika saja perang Suriah tak terjadi. Iran juga telah membentuk persaudaraan strategis dengan Suriah berkat perannya dalam mengalahkan agenda perubahan rezim [yang dilancarkan Barat]. Dukungan NATO terhadap ISIS telah menciptakan ikatan kuat antara Suriah dan Irak; sesuatu yang tidak dapat diciptakan sebelumnya. Irak kini memiliki keleluasaan untuk mengebom lokasi ISIS di Suriah tanpa perlu izin dari otoritas Suriah (menyusul restu penuh dari Assad kepada Irak untuk bergabung dalam perang melawan ISIS). Tentara Irak bahkan bisa masuk ke Suriah kapan saja mereka memutuskan untuk menyerbu ISIS. Aliansi anti-Israel tidak pernah lebih kuat dari sekarang. Inilah hasil dari perang 2011-2018 yang dipaksakan [Barat] kepada Suriah.”

***

Orang-orang di foto ini adalah sebagian para tokoh dunia yang pernah meneriakkan “Assad harus pergi” tapi merekalah yang ‘pergi’ duluan [dalam arti tidak berkuasa lagi; atau ada juga yang meninggal]. Di Indonesia sejak 2012 juga ada beberapa tokoh yang meneriakkan kata-kata yang sama, yang saat ini sudah ‘pergi’ duluan. Tak perlulah disebut namanya.

***

Perang Suriah dimulai dan dipertahankan dengan menggunakan kebohongan, yang disebarkan dengan amat canggih dan tersistematis, sampai-sampai hampir semua orang di dunia ini percaya bahwa rezim Assad itu bajingan yang harus dilengserkan. Bagi mereka, sulit untuk menerima bahwa media-media terkemuka dunia bisa melakukan kebohongan. (Bahkan sebagian muslim mau mengorbankan nyawa untuk berperang di Suriah). Padahal, bila kita amati sejarah, Suriah bukan pertama kalinya. Dalam satu abad terakhir, sangat banyak kebohongan yang disebarkan AS untuk memicu perang, detilnya baca di sini: https://dinasulaeman.wordpress.com/2013/09/06/sejarah-kebohongan-perang-as/

Iklan

Prahara Suriah, Hoax, Media Sosial, Perpecahan Bangsa

Banyak orang resah melihat semakin meningkatnya radikalisme di Indonesia dan semakin kerasnya friksi antarumat akibat perbedaan posisi politik. Banyak yang luput memahami fenomena ini dari perspektif geopolitik global, khususnya yang terkait dengan Perang Suriah.

Inilah era Facebook, Twitter, dan WA, ketika perang tidak hanya terjadi di Damaskus, Homs, Idlib, atau Aleppo, melainkan merasuk hingga ke rumah dan mimbar-mimbar di Indonesia. Kemarahan terhadap orang-orang yang terlibat perang nun jauh di sana, ditumpahkan melalui narasi penuh kebencian di berbagai forum, disertai dengan berbagai foto dan video palsu, dengan tujuan merekrut petempur dan donasi.

(lebih…)

BEDAH BUKU “PRAHARA SURIAH” & “SALJU DI ALEPPO”

BEDAH BUKU “PRAHARA SURIAH” & “SALJU DI ALEPPO” (karya Dina Y. Sulaeman) dan “MUSIM SEMI SURIAH” (karya Trias Kuncahyono)

HOAX…MEDIA SOSIAL…PERPECAHAN BANGSA

Narasumber :
1. Kombes Pol.R.Ahmad Nurwahid,S.E.,M.M., Kabagbanops Densus 88 AT POLRI
2. Prof Dr Henry Subiakto, Staf Ahli Menkominfo
3. M.Najih Arromadhoni, Sekjen Alumni Suriah
4. Trias Kuncahyono, Penulis Buku
5. Dr. Dina Y. Sulaeman, Penulis Buku
Moderator: Dr. Ahmad Najib Burhani

Lokasi : Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat
Tanggal : Jum’at, 18 Januari 2019
Waktu : 13.00 – 16.00 WIB

TENTANG CHINA DAN UYGHUR (2)

A. TEORI KEDAULATAN

Setiap bangsa punya sejarahnya sendiri. Aceh dulu sebuah kerajaan, lalu setelah Republik Indonesia dibentuk oleh para Bapak Bangsa, Aceh menjadi bagian RI. Seandainya, hari ini, warga Aceh ingin merdeka, apa boleh? Papua melalui referendum sudah bergabung dengan Indonesia tahun 1969. Bila kini, karena tidak puas dengan pemerintah pusat, mereka ingin merdeka dan mendirikan negara sendiri, apa boleh? Jawa Barat adalah bagian Indonesia. Seandainya, sangat banyak warga Jabar yang terpengaruh ideologi HTI ingin merdeka dan mendirikan kekhilafahan sendiri, apa boleh?

Jawabannya akan bergantung pada teori yang dipakai.

Orang yang menolak teori kedaulatan mungkin bilang begini, “Berdasarkan sejarahnya, Aceh itu.. Papua itu.. Jawa Barat itu… bla.. bla…” Kesimpulan: sah-sah saja bila mereka ingin bikin negara sendiri!

Tapi bila kita pakai teori kedaulatan, kita akan memandang bahwa sebuah negara berhak mempertahankan keutuhan negaranya dengan harga berapapun, dengan perang sekalipun. Itulah sebabnya, kalau ada aksi separatisme di negara manapun, pemerintahnya pasti akan berusaha memadamkan aksi tersebut.

(lebih…)

Tentang China dan Uyghur (1) : Metodologi

Kasus Uyghur sebenarnya pengulangan dari konflik-konflik lain yang disikapi emosional oleh orang Indonesia. Jadi, ini adalah tulisan ‘metodologis’, tentang bagaimana cara kita menyikapi konflik yang terjadi nuh jauh di luar sana.

Mengapa ini penting? Karena melelahkan sekali, juga tidak mungkin, bila kita harus mengecek satu-satu setiap isu yang disebar; perlu langkah metodologis yang kita kuasai sehingga dengan cepat mampu menangkap ‘bau’ hoax.

Tahap pertama: FAKTA

Fakta artinya: benarkah terjadi? Ketika disebut “orang Muslim dibunuh pemerintah China” atau “orang Sunni dibunuh orang Syiah”, perlu dicek (1) benarkah terjadi? (2) kalau benar, dalam kondisi apa, atas alasan apa?

(lebih…)

Reportase Saya dari Iran, Soal Hezbollah

Pagi-pagi baca postingan di Fanpage Felix Irianto Winardi membuat saya teringat pada arsip tulisan lama saya. Romo Felix menulis apa saja kunci kemenangan Hez lawan Israel selama ini (https://www.facebook.com/felix.irianto.winardi/posts/368004823955639).

Tahun 2006, saya menulis ‘laporan pandangan mata’ dari Iran, karena saat Perang 34 Hari Hez vs Israel berlangsung, saya sedang berada di Iran, bekerja sebagai jurnalis di IRIB.

***

Menatap Wajah Hezbollah dari Iran (Dina Sulaeman, dimuat di Padang Ekspres, 3 Agustus 2006)

Sejak meletusnya perang di Lebanon, suasana perang amat terasa di Iran, terutama jika kita banyak menonton televisi. Betapa tidak, tiap sebentar diputar filler (film pendek) berisi adegan-adegan perang, dilatarbelakangi lagu-lagu heroik berbahasa Arab. Pidato Sayid Hasan Nasrallah, pemimpin Hezbollah Lebanon, yang berisi ancaman-ancaman terhadap Israel disiarkan live atau siaran tunda. Laporan-laporan reporter televisi Iran disampaikan secara live dari Lebanon, bahkan ada reporter yang melaporkan kondisi terakhir dengan diiringi suara bom beruntutan dan asap hitam di belakang punggungnya. Setiap hari, berita channel satu pukul sembilan malam akan dimulai dengan kalimat, “Perjuangan hari kesekian (ketiga.. ke sembilan..ke duapuluh)…” lalu mengabarkan kondisi terbaru di medan perang.

(lebih…)

Bahasa, Logika, Ekstrimisme

Tadi, di kelas, saya bilang, “Tolong tugas Anda ini dicatat dulu, saya mau matikan power point.” Dan serempak beberapa mahasiswa mengeluarkan hape lalu memotret slide saya. Saya spontan tertawa. Saya lupa, mereka ini gen Z, yang sangat digital. Dicatet? Difoto, kaleee… 😀

*

Soal gen Z ini.. saya pernah tulis di fanpage ini juga (yang judulnya “Kontra Narasi): …Salah satu karakter utama gen Z (kelahiran 1996-2012) adalah mereka ini sangat aktif berinternet, rata-rata 3-5 jam sehari.

Dalam survei yang dilakukan PPIM UIN Jakarta pada Sept-Okt 2017, di antara hasil yang terpenting digarisbawahi: sekitar 1/3 siswa Muslim percaya bahwa jihad adalah peperangan melawan nonmuslim, setuju bahwa orang murtad harus dibunuh, dan intoleran kepada minoritas itu bukan masalah.

Satu dari 5 siswa SETUJU bahwa aksi bom bunuh diri adalah jihad.

Penting digarisbawahi: darimana mereka mendapatkan pemahaman seperti ini? Ternyata 50,89% dari MEDSOS !

Di penelitian yang lain disebutkan bahwa setiap hari setidaknya 90 ribu konten bermuatan kekerasan dan ekstrimisme dimuat ke ranah Internet, oleh ISIS dan afiliasinya.

*

Ini ada acara seminar yang akan membahas “Urgensi dan Strategi Efektif Pencegahan Ekstrimisme di Indonesia”.

Monggo yang berminat, silahkan hadir, tapi daftar dulu ya ke CP yang tertera di poster.

KONTRA NARASI

Aksi teror di Mako Brimob dan aksi teror di 3 gereja Surabaya, membuat kita berduka amat dalam. Mungkin, ada yang berpikir, adakah yang bisa dilakukan?

Untuk menangani mereka yang sudah terlanjur terpapar virus ekstrimisme, jelas sulit. Kita, orang biasa, mungkin berat melakukannya.

Tapi untuk mencegah generasi muda yang masih bersih dan sehat agar tidak terpapar virus itu, kita BISA, asal mau.

Pertama, kita lihat dulu, akar masalahnya dimana.

Dalam video yang saya upload ini, ada paparan menarik atas hasil penelitian yang dilakukan PPIM UIN Jakarta. Pada Sept-Okt 2017 mereka meneliti 2181orang (1522 siswa; 337 mahasiswa; 264 guru/dosen) di 34 provinsi.

Survei itu dilakukan untuk melihat bagaimana generasi Z (kelahiran 1996-2012) memandang agama. Salah satu karakter utama gen Z adalah mereka ini sangat aktif berinternet, rata-rata 3-5 jam sehari.

Hasil survei yang terpenting, di antaranya: sekitar 1/3 siswa Muslim percaya bahwa jihad adalah peperangan melawan nonmuslim, setuju bahwa orang murtad harus dibunuh, dan intoleran kepada minoritas itu bukan masalah.

Satu dari 5 siswa SETUJU bahwa aksi bom bunuh diri adalah jihad.

Penting digarisbawahi: darimana mereka mendapatkan pemahaman seperti ini? Ternyata 50,89% dari MEDSOS !

Di penelitian yang lain disebutkan bahwa setiap hari setidaknya 90 ribu konten bermuatan kekerasan dan ekstrimisme dimuat ke ranah Internet, oleh ISIS dan afiliasinya.

Bayangkan, ISIS saja menyebar 90 ribu konten terorisme perhari. Padahal masih banyak kelompok teror lainnya. Al Qaida, Al Nusra, Jaish al Islam, Jamaah Anshoru Tauhid/Daulah, dll. Betapa banyaknya! Belum lagi yang disampaikan secara langsung lewat pengajian-pengajian.

Konten mereka terutama adalah hoax soal Timteng dan politik-ekonomi dalam negeri. Mereka menanamkan ketakutan dan kebencian atas nama agama & rasisme, sehingga publik terhipnotis dan percaya pada doktrin-doktrin mereka selanjutnya.

Apa yang dapat kita (masyarakat sipil, orang biasa) lakukan untuk melawan semua itu dan melindungi generasi muda dari virus radikalisme/intoleran/ekstrimisme?

Satu yang PASTI: NARASI HARUS DILAWAN DENGAN KONTRA NARASI.

Narasi radikalisme/intolerasi/ekstrimisme harus dilawan dengan menyebarluaskan narasi kontra-nya, misalnya, kasih sayang, persaudaraan, toleransi.

Narasi kontra yang paling tepat untuk Indonesia yang majemuk ini adalah PANCASILA. Di dalamnya terkandung nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah (tidak mau menang sendiri), dan keadilan.

Ironis sekali, nilai-nilai Pancasila yang sedemikian dalam (dan sebenarnya bersesuaian dengan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin), hanya tinggal hafalan. Sudah saatnya kita menyebarkan nilai-nilai Pancasila melalui cara-cara yang memang ‘nyambung’ dengan gen Z (kaum muda).

Cara yang ‘nyambung’ itu apa? Sudah pasti, pakai kalimat-kalimat yang mudah dipahami. Jangan membully, mengejek, apalagi menceramahi. Gen Z bete banget sama narasi model begini.

Yang punya skill menggambar, bisa membuat komik atau karikatur yang kocak.

Yang bisa bikin lagu, buatlah lagu yang easy listening buat gen Z.

Yang aktif di institusi/keorganisasian, bisa membuat lomba-lomba seru untuk gen Z yang bisa membuat mereka mengenali nilai-nilai Pancasila.

Yang berkecimpung di dunia film, bisa membuat film yang bertema aktualisasi/implementasi nilai-nilai Pancasila.

Untuk film, artis Lola Amaria sudah memulainya. Dia bersama 4 rekannya (jadi ada 5 sutradara) membuat film berjudul LIMA. Kisahnya tentang sebuah keluarga yang bergelut menyelesaikan perbedaan di antara mereka dan keputusan-keputusan yang mereka ambil sangat bersesuaian dengan nilai-nilai Pancasila.

Dan, banyak lagi yang bisa dilakukan masyarakat sipil. Misalnya, yang punya ilmu agama secara mendalam (mampu mengakses kitab), perlu terjun untuk melawan narasi ekstrim dari para da’i intoleran.

Bila takut/ragu, buat saja akun khusus lalu bergerilya di kalangan gen Z.

Mari kita jaga negeri ini dengan cara menegakkan kelima pilarnya, Pancasila. Lima silanya adalah kontra narasi bagi narasi radikalisme yang mengancam tegaknya NKRI.

 

 

Unlearn ISIS

Unlearn artinya, kurang lebih, melepaskan diri dari apa yang sudah dipelajari selama ini. Manusia lahir dengan kebahagiaan, penuh prasangka baik. Namun lambat laun dia belajar untuk bersedih dan mencurigai orang lain. Seseorang tidak terlahir untuk membenci orang yang berbeda dari diri dan kelompoknya, apalagi membunuhnya. Dia belajar (learn) untuk itu.

Lama-lama, manusia pun ‘ahli’ dalam hal itu. Dia ahli dalam bersedih dan galau, sehingga lupa cara untuk bahagia. Ada pula yang sedemikian ahlinya dalam membenci sehingga ia menganggap benar pembunuhan kepada orang yang tak seideologi dengannya. Lalu, bagaimana caranya untuk melepaskan hal-hal yang sudah dikuasai? Caranya adalah dengan unlearn.

Ketika ISIS sudah terusir dari Suriah tahun 2017, beberapa LSM berupaya melatih masyarakat di kawasan Raqqa dan Deir el Zour yang selama 3 tahun dikuasai ISIS untuk unlearn ideologi yang sudah ditanamkan oleh ISIS kepada mereka selama tiga tahun terakhir.

(lebih…)

Terorisme dan Cara Mencegahnya

A Syrian refugee child cries at the Al Zaatri refugee camp in the Jordanian city of Mafraq, near the border with SyriaDefinisi Terorisme
Hingga kini tidak ada kesepakatan global mengenai definisi terorisme. Berbagai lembaga, organisasi, dan cendekiawan memberikan definisi mereka masing-masing atas terorisme. Menurut Crenshaw (2007:68) meskipun PBB telah mengeluarkan berbagai konvensi anti terorisme, namun negara-negara anggota PBB hingga kini tidak bersepakat atas definisi terorisme karena dua alasan. Pertama, negara-negara anggota PBB masih belum bersepakat apakah negara dikategorikan teroris bila angkatan bersenjata mereka melakukan serangan kepada warga sipil. Kedua, terkait dengan justifikasi moral terhadap aksi kekerasan; apakah gerakan perlawanan melawan pendudukan asing (misalnya di Palestina, Irak, atau Afghanistan) dikategorikan teroris.
Menurut KBBI, terorisme berarti: penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik).