Kajian Timur Tengah

Beranda » Perempuan Berpolitik

Category Archives: Perempuan Berpolitik

Apakah Kewajiban Berhijab Memundurkan Perempuan?

Kemarin saya lihat ada video yang isinya memperingatkan publik akan bahaya radikalisme. Tapi contoh yang dipakai adalah Afghanistan dan Iran, diperlihatkan bahwa dulu perempuan di 2 negara itu bebas tidak pakai jilbab, sekarang tertindas karena pemaksaan syariat (pakai jilbab). Saya pun menulis ini. Ada grafik/tabel, untuk melihatnya, cek ke web ya.

***

Apakah Kewajiban Berhijab Memundurkan Perempuan?

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah: bergantung sistem dan kinerja pemerintahan yang mewajibkan hijab tersebut. Kita tidak bisa menggeneralisasi, masing-masing negara atau provinsi (di Indonesia ada provinsi dengan Perda Syariah) yang mewajibkan hijab memiliki kondisi yang berbeda.

Misalnya, kewajiban hijab di Afghanistan dan Iran, sangat berbeda output-nya karena di Afghanistan, kelompok yang berkeras mewajibkan hijab adalah Taliban yang berhaluan Wahabi; sementara di Iran pemerintahan dibangun atas syariah versi Syiah Ja’fariah. Jadi, saat bicara soal Syiah, perlu juga ditanyakan ‘Syiah versi mana?’ Shah Pahlevi pun bermazhab Syiah; akhir-akhir ini juga muncul “Syiah London” yang kontroversial.

(lebih…)

Siapa Jejaring NED di Indonesia?

Note: sebelum baca ini, sebaiknya tonton dulu video ini [1] dan tulisan saya berjudul “Template” [2]. Di dua postingan itu, Anda akan ketemu nama National Endowment for Democracy Forum (NED). Sebuah organisasi yang kata pendirinya, Allan Weinstein, “melakukan hal-hal yang dulu dilakukan CIA secara rahasia”.

**

Bila NED terang-terangan memberi dana: “nih uang, hancurkan negaramu!”, hampir pasti tidak ada yang mau. Mungkin karena takut (kalau terang-terangan makar tentu bahaya), atau sangat mungkin memang ada banyak orang yang tulus memperjuangkan sesuatu untuk negerinya. Orang-orang tulus ini mungkin perlu uang untuk berjuang, eh, ada organisasi kaya raya bagi-bagi duit, ya sudah, terima aja.

Karena itulah jejaring NED mengangkat isu yang sangat beragam. Toleransi, agama, pertanian, demokrasi, pendidikan, pembelaan terhadap masyarakat adat, hingga ke pembelaan terhadap LGBT.

(lebih…)

Indonesia on Fire (?)

[repost dari akun personal]

Sejak kemarin, viral tulisan berjudul “Teriak Kafir”, yang mengisahkan pengalaman seorang saudara sebangsa kita yang ‘kebetulan’ keturunan (mungkin) Tionghoa. Ia diteriakin kafir oleh seorang ibu Muslim. Postingan itu segera di-take down [dihapus oleh FB karena banyak yang report]. Tapi banyak yang mengcopas dan memposting ulang di wall masing-masing, dan tersebar di WA.

Peristiwa ini memang sangat memprihatinkan. Empati saya sebagian juga dipicu karena pengalaman sendiri, pernah dikata-katai kafir (padahal saya Muslim). Mau jadi apa bangsa ini jika kebencian sedemikian menyebar? Baru-baru ini, lembaga riset Analityca merilis hasil riset mereka tentang “penyebaran narasi anti-Tionghoa”. Temuannya antara lain (saya copas utuh):

**
Kata “kafir” menegaskan stereotipe etnis Tionghoa sebagai identitas liyan Islam: cebong kafir, penjaga gereja, dan kelompok pembubar pengajian. Kata “kafir” juga merujuk pada pemerintah kafir, polisi kafir, Cina kafir, pun sesama kaumnya Ahok. Dua kata “jual” dan “hutang” muncul bersamaan sebagai ekspresi ketidakpuasan warganet terhadap kebijakan pemerintah yang dituduh menjual Indonesia kepada Tiongkok dengan skema hutang sejumlah proyek infrastruktur. Kata “jual” merujuk pada aset negara, gadai infrastruktur kepada Cina dan dikelola asing.

[baca laporan selengkapnya di https://www.indonesiana.id/read/136020/narasi-anti-tionghoa-di-pusaran-jagat-maya#whmljXLSe67zgw5g.99%5D

**

(lebih…)

(Berita 2015) Asma Al Assad: Dukungan Indonesia Sangat Berarti bagi Kami

Tetap beroperasinya Kedutaan Besar Republik Indonesia dengan kehadiran seorang Duta Besar di Damaskus merupakan dukungan yang amat besar bagi pemerintah dan rakyat Suriah. Sementara banyak negara-negara lain yang meninggalkan Suriah dengan menarik Duta Besar dan menutup kedutaannya di Damaskus.

Hal itu terungkap dalam pertemuan antara istri Duta Besar RI untuk Suriah, Rosa Triana Harjanto, dengan Ibu Negara Suriah, Asmaa al-Assad, di kantor Ibu Negara di daerah Qasiyoun Damaskus pada Sabtu, 4 Juli 2015.

Pada pertemuan penuh keakraban itu, Rosa Harjanto menyampaikan bahwa Indonesia akan terus mendukung penyelesaian konflik dengan damai di Suriah. Maka dari itu, Indonesia tetap mempertahankan KBRI dan duta besarnya di Damaskus meskipun di tengah kecamuk peperangan dan krisis yang melanda. “Sahabat yang baik tentu tidak akan meninggalkan temannya yang sedang kesulitan,” ujar Rosa mengutip perkataan Dubes Djoko Harjanto.

(lebih…)

Contoh Kasus

***
Status sebelumnya saya hapus karena ga tega sama oknum ibu ini. Ini saya posting ulang dengan disamarkan namanya 🙂

***

Ini komentator di status saya sebelumnya yang menjawab Fahri Hamzah. Ini adalah contoh kasus, seperti apa sih hasil dari industri radikalisme itu [yang kata Fahri “cuma satu dua ceramah”].

Hasil dari ceramah kaum radikalis yang sangat masif adalah semakin banyaknya orang-orang yang merasa lebih suci dan merasa berhak menghina orang lain (istilah lainnya: kaum takfiri, suka mengkafir-kafirkan orang lain). Salah satu bentuk hinaannya adalah “kamu ga paham Quran”, “kamu Muslim?”, atau “kamu Syiah!”

Khusus untuk tuduhan Syiah, ini sangat terkait dengan Perang Suriah. Para “industrialis perang Suriah” berkepentingan untuk membuat orang Muslim Sunni membenci Syiah sehingga mau direkrut jadi “jihadis” atau setidaknya mau merogoh kocek untuk menyumbang gerakan “jihad”.

Mereka tidak (mau) tahu bahwa ulama-ulama besar sepakat bahwa Syiah adalah salah satu mazhab yang diakui dalam Islam (baca Deklarasi Amman). Tidak mau tahu bahwa mayoritas ulama-ulama Sunni di Suriah justru mendukung Bashar Assad dan pemerintahan Assad sama sekali bukan rezim Syiah.

Ibu ini radikalnya masih di level verbal dan mungkin masih level awam.

Semakin diprovokasi (oleh pemilik “industri”), mereka ini akan semakin teradikalisasi. Saya sudah kenyang dimaki-maki jauuuh… lebih kasar oleh kelompok ini, selama 8 tahun terakhir (selama Perang Suriah berlangsung). Sungguh ngeri, mereka mengaku membela Islam tapi kasarnya benar-benar level binatang. Something wrong with their brain. Zombie.

Dan level selanjutnya, beralih ke level “menyetujui kekerasan” dan bahkan menjadi pelaku kekerasan itu sendiri. Contohnya, perempuan yang bawa anaknya sendiri sambil bawa bom bunuh diri di gereja.

Ibu ini sepertinya tidak pro ISIS (karena mengatai perempuan ISIS tidak paham Quran), tapi kelompok “jihad” itu bukan cuma ISIS. Di antara kelompok-kelompok “jihad” yang berbeda (dan simpatisannya) biasanya memang suka saling mengkafirkan.

***
Yang belum baca tulisan saya soal “industri radikalisme” ini linknya: https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/1185451128313011/)

Dulu waktu saya posting foto ini saya menjanjikan share kalau papernya udah publish.

Ada di link ini, klik tautan PDF CFP-Vol.5 : http://www.iidss.org/proceeding/

**
NB: mohon maaf belum sempat melanjutkan tulisan ttg Rojava.

DISKUSI PUBLIK

“Krisis Ideologi Era Millenial: Konflik Timur Tengah hingga Agenda Setting di Indonesia”

Narasumber:
Husein Ja’far Al-Hadar (Dai Milenial, Content Creator)
Dr. Dina Sulaeman (Pengamat Timur Tengah)
🗓: Minggu, 3 November 2019
🏢 : Aula Insan Cita HMI Ciputat
⏰: 08.00 WIB – Selesai

FREE ENTRY, SNACK, AND DOORPRIZE
Pendaftaran bit.ly/DiskusiPublikSK
Contact Person Whatsapp: 081584033547 (Fulki) / 0895353093651 (Lia)

To the point saja…

Saya tidak ada toleransi sedikit pun pada facebooker fans Israel, baik yang terang-terangan atau yang pura-pura netral (saya punya ‘penciuman’ yang cukup tajam untuk mendeteksi orang-orang seperti ini). Kalau mereka friend di FB, saya langsung unfriend tanpa sungkan.

Setiap orang punya garis merah, dan sikap politik saya, memang begini ini.

Apa saya benci Yahudi? Tidak sama sekali. Di fanpage ini berkali-kali saya menulis tentang orang Yahudi pro Palestina dan penentang kejahatan Israel. Saya juga senang berteman dengan orang Yahudi yang pandangan politiknya pro Palestina.

Jadi, kalian fans Israel tidak usah caper lah, mengundang saya lewat status terbuka di medsos. Selain bahwa cara mengundang narasumber seperti itu sangat-sangat tidak sopan, sungguh kalian itu sedang mimpi di siang bolong, mengira saya bakal mau hadir di acara yang jelas-jelas dibiayai lembaga pendukung Israel, meski judulnya manipulatif “TOLERANSI”.

Bahkan kalian suap tiket gratis ke Masjidil Aqsa pun saya ogah.

So, my answer is: no thanks. Dan ga usahlah playing victim.

Nantikan saja tulisan-tulisan saya selanjutnya, membongkar kemunafikan kata “TOLERANSI” versi fans Israel.

Foto: para rabi Yahudi ASLI (jelas bukan ZSM) yang demo menolak Zionis Israel.

Dua Film

Ada beberapa yang inbox nanya pendapat saya soal dua film yang sedang dihebohkan itu (Hayya dan Santri).

Sebenarnya saya bukan pengamat film, tapi karena ini ada kaitannya dengan Timteng, saya jawab singkat saja. Saya cuma lihat trailernya, belum nonton filmnya.

Untuk film Hayya, betul sekali, bendera yang terlihat di trailer film itu adalah bendera FSA (yang oleh media Barat disebut ‘pemberontak moderat’, tapi fakta lapangan membuktikan cara-cara mereka sama saja dengan milisi teror lainnya, bahkan terkadang di beberapa front bekerja sama dengan Al Nusra yang sudah resmi masuk list teroris PBB). Ustad-ustad peng-endorse film ini pun, silahkan cek rekam jejak digital mereka, adalah peng-endorse “jihad” di Suriah, pendukung gerakan milisi bersenjata untuk menggulingkan pemerintah Suriah yang sah.

Nah, kok bisa, mengaku bela Palestina tapi di saat yang sama pro FSA? Bukankah dengan mendukung FSA artinya mengobrak-abrik kubu resistensi/perlawanan terhadap Israel? (Pemerintah Suriah ada di garis depan kubu ini karena berbatasan darat dengan Israel; menampung jutaan pengungsi Palestina dan diperlakukan sama seperti warga asli; serta menyuplai senjata dan logistik kepada pejuang Palestina selama puluhan tahun).

(lebih…)

Ada cerita menggelikan…

Alkisah ada Paijo, doktor jurusan saluran air lulusan Kutub Selatan, selama ini kadang nulis status soal Palestina-Israel. Dia tipe sok netral dan sok toleran, dan suka menuduh orang yang pro Palestina adalah radikalis yang mendasarkan diri pada klaim-klaim Al Quran (sialnya, emang banyak radikalis yang suka bawa-bawa bendera Palestina kalo demo).

Si Paijo ini temenan baik dengan seorang perempuan cantik pro Israel, sebut saja namanya Mawar. Paijo suka membela Mawar dengan alasan “toleransi”.

Fakta yang diabaikan oleh Paijo (maklum kan dia sibuk bikin saluran air, jadi tentu tidak maksimal membaca-baca soal Timteng), kubu pro-Palestina itu banyak, bukan cuma yang pro-Hamas. Ada Muslim moderat, ada Muslim sekuler, ada komunis, ada Katolik (orang-orang Venezuela, dan Paus Francis, misalnya), dan bahkan ada orang Yahudi-Israel sendiri (saya pernah cerita soal Gilad Atzmon dan Miko Peled, 2 penulis Israel yang sangat aktif membela Palestina dan mengecam rezim Zionis).

(lebih…)