Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Global

Category Archives: Politik Global

Iklan

Indonesia, Pelajarilah Perilaku Ikhwanul Muslimin di Suriah

Beberapa waktu terakhir, orang-orang IM pendukung “jihad” Suriah sibuk ber”jihad” di Indonesia, menyebut pemerintah sebagai “rezim yang zalim dan curang” dan “antek China-Komunis”.

Nah, setelah beberapa pentolan gerakan mereka kabur ke luar negeri, atau diperiksa polisi, sepertinya instruksi dari “bos” sudah berganti: balik lagi ke isu Suriah & pengkafiran Syiah. Pokoknya, Indonesia harus dibuat gaduh terus.

Hoax lama pun didaur ulang lagi, antara lain: “kota Hama adalah pusat dakwah Sunni dan pada 1982 penduduknya dibantai oleh Hafez Assad (ayah presiden yang sekarang) yang berpaham Syiah.”

Mereka yang gemar sekali menyodorkan ‘cerita’ ini menghilangkan satu fakta penting: mengapa Hafez Assad menyerbu Hama tahun 1982? Apa dia membunuhi warganya semata-mata karena Sunni-Syiah?

(lebih…)

Iklan

Catatan Harian Warga AS: “Kelompok Teroris Adalah Sekutu Kita”

Artikel ini bagus sekali, menjelaskan ‘apa yang dipikirkan dan dilakukan elit AS’ di berbagai penjuru dunia, mulai dari Afghanistan tahun 1980-an, lalu Eropa Timur, lalu Afrika, Timur Tengah, bahkan Indonesia.

Ditulis oleh orang AS, Chris Kanthan (penulis buku “Deconstructing the Syrian War”). Sudah diterjemahkan ICMES ke Bahasa Indonesia.

Cara nulisnya juga menarik dan mudah dicerna. Wajib baca bila ingin memahami bagaimana peran yang dilakukan kelompok-kelompok “jihad” atas nama Islam untuk membantu elit AS menguasai sumber daya alam di berbagai penjuru dunia.

https://ic-mes.org/politics/catatan-harian-warga-as-kelompok-teroris-adalah-sekutu-kita/

Prahara Suriah, Hoax, Media Sosial, Perpecahan Bangsa

Banyak orang resah melihat semakin meningkatnya radikalisme di Indonesia dan semakin kerasnya friksi antarumat akibat perbedaan posisi politik. Banyak yang luput memahami fenomena ini dari perspektif geopolitik global, khususnya yang terkait dengan Perang Suriah.

Inilah era Facebook, Twitter, dan WA, ketika perang tidak hanya terjadi di Damaskus, Homs, Idlib, atau Aleppo, melainkan merasuk hingga ke rumah dan mimbar-mimbar di Indonesia. Kemarahan terhadap orang-orang yang terlibat perang nun jauh di sana, ditumpahkan melalui narasi penuh kebencian di berbagai forum, disertai dengan berbagai foto dan video palsu, dengan tujuan merekrut petempur dan donasi.

(lebih…)

BEDAH BUKU “PRAHARA SURIAH” & “SALJU DI ALEPPO”

BEDAH BUKU “PRAHARA SURIAH” & “SALJU DI ALEPPO” (karya Dina Y. Sulaeman) dan “MUSIM SEMI SURIAH” (karya Trias Kuncahyono)

HOAX…MEDIA SOSIAL…PERPECAHAN BANGSA

Narasumber :
1. Kombes Pol.R.Ahmad Nurwahid,S.E.,M.M., Kabagbanops Densus 88 AT POLRI
2. Prof Dr Henry Subiakto, Staf Ahli Menkominfo
3. M.Najih Arromadhoni, Sekjen Alumni Suriah
4. Trias Kuncahyono, Penulis Buku
5. Dr. Dina Y. Sulaeman, Penulis Buku
Moderator: Dr. Ahmad Najib Burhani

Lokasi : Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat
Tanggal : Jum’at, 18 Januari 2019
Waktu : 13.00 – 16.00 WIB

Reportase Saya dari Iran, Soal Hezbollah

Pagi-pagi baca postingan di Fanpage Felix Irianto Winardi membuat saya teringat pada arsip tulisan lama saya. Romo Felix menulis apa saja kunci kemenangan Hez lawan Israel selama ini (https://www.facebook.com/felix.irianto.winardi/posts/368004823955639).

Tahun 2006, saya menulis ‘laporan pandangan mata’ dari Iran, karena saat Perang 34 Hari Hez vs Israel berlangsung, saya sedang berada di Iran, bekerja sebagai jurnalis di IRIB.

***

Menatap Wajah Hezbollah dari Iran (Dina Sulaeman, dimuat di Padang Ekspres, 3 Agustus 2006)

Sejak meletusnya perang di Lebanon, suasana perang amat terasa di Iran, terutama jika kita banyak menonton televisi. Betapa tidak, tiap sebentar diputar filler (film pendek) berisi adegan-adegan perang, dilatarbelakangi lagu-lagu heroik berbahasa Arab. Pidato Sayid Hasan Nasrallah, pemimpin Hezbollah Lebanon, yang berisi ancaman-ancaman terhadap Israel disiarkan live atau siaran tunda. Laporan-laporan reporter televisi Iran disampaikan secara live dari Lebanon, bahkan ada reporter yang melaporkan kondisi terakhir dengan diiringi suara bom beruntutan dan asap hitam di belakang punggungnya. Setiap hari, berita channel satu pukul sembilan malam akan dimulai dengan kalimat, “Perjuangan hari kesekian (ketiga.. ke sembilan..ke duapuluh)…” lalu mengabarkan kondisi terbaru di medan perang.

(lebih…)

Seandainya ini foto dari Teheran (atau Damaskus)…

Kalau kejadian ini (aksi protes, dihadapi dengan gas air mata) terjadi di Teheran, seorang so called “pengamat Timur Tengah senior” , akan segera menulis di koran terkemuka: inilah kegagalan rezim Mullah!

Dia pernah menulis, “Ideologi kubu konservatif dapat dikenali dari kebijakan luar negeri yang resisten terhadap Barat dan pandangan budaya Iran lebih kaya ketimbang bangsa lain. Akibatnya, parabola dilarang, internet dikontrol, ada pengawas kode berpakaian. AKIBATNYA program kerja pemerintahan kubu moderat tidak maksimal.”

Jadi logika dia: karena parabola dilarang, internet dikontrol, perempuan musti pake hijab —> EKONOMI susah!

Penulis perempuan [feminist] pun banyak yang demen menimpakan masalah di Iran pada urusan hijab. Seolah-olah gara-gara pake hijablah ekonomi sebuah negara ruwet.

(lebih…)

Jurnal

Dua hari yang lalu, saya punya kesempatan kongkow-kongkow di restoran dengan beberapa orang yang sangat intens berurusan dengan kebijakan luar negeri Indonesia. Topik obrolan ke sana-kemari, termasuk cerita-cerita menarik di balik layar soal diplomasi RI-1 di luar negeri.

Ada satu yang penting dicatat dan dishare di sini, terutama buat para mahasiswa follower Fanpage ini. Salah satu yang hadir adalah nama besar di penulisan isu kebijakan luar negeri Indonesia dan jadi narasumber untuk diskusi-diskusi rumit soal kebijakan luar negeri kita.

Dia bilang [mengomentari percakapan sebelumnya], “Yah..gampanglah, bikin aja paper 5000 kata. Dua hari juga selesai! Ya kan?”

Saya senyum ga ikhlas. Apa? Dua hari bikin paper?

Dia sepertinya paham. Lalu berkata, “Mau tahu, tipsnya supaya bisa nulis dengan cepat?”

“Apa pak?”

“Tiap pagi, baca semua media terkemuka, lalu dalam sehari, baca minimalnya 6 artikel jurnal, dan dalam sepekan baca 3 buku.”

Emmm.. baiklah. 😀

Nah, sebagai langkah awal untuk membiasakan diri membaca artikel jurnal, silahkan mampir ke Jurnal ICMES, yang sekarang ditayangkan online.

Jurnal terbaru Vol. 2 No 1 (Juni 2018) sudah tayang, membahas berbagai isu aktual Timur Tengah. Silahkan unduh gratis di http://ic-mes.org/jurnal/index.php/jurnalICMES/issue/view/3

All About Kurdi

BHL Kurdi-2

Barzani (Kurdi) dan BHL, makelar perang Zionis

Referendum Kurdi Irak (menginginkan kemerdekaan penuh dari Irak, membentuk negara khusus Kurdi) telah membuat pembahasan tentang Kurdi semakin intens di media. Yang banyak dikemukakan oleh media Barat (dan diulang-ulang oleh sebagian netizen adalah: mereka adalah suku yang tertindas dan ingin meraih kemerdekaan.

Pertanyaannya: mengapa Israel yang sangat gigih mendukung kemerdekaan Kurdi, mengapa Barat menjadikan milisi Kurdi sebagai pion baru dalam mendestabilisasi Timteng? Sudah banyak diketahui, milisi ISIS di Suriah kini berganti baju, bergabung dengan SDF (milisi Suriah yang dibentuk AS, mayoritas anggotanya orang Kurdi) atau Peshmerga (tentara Kurdi di Irak).

(lebih…)

Penindasan Rohingya, Hoax atau Bukan?

pengungsi-rohingya-di-aceh

pengungsi Rohingya di Aceh (viva.co.id)

Sejujurnya, saya tidak ahli soal Myanmar. Membaca sejarahnya yang panjang dan rumit, dengan nama-nama yang terasa asing buat saya, membuat saya pusing. Karena itu dua hari ini di facebook saya cuma sharing tulisan orang (yang menurut saya tulisannya bisa dipercaya) soal sejarah Myanmar. Kenapa harus tau sejarahnya? Karena menganalisis konflik tidak bisa ujug-ujug pada momen tertentu saja.

Lalu bagaimana dengan isu akhir-akhir ini yang heboh disebar di medsos (orang-orang Rohingya dibakar hidup2, dll)? Saya juga tidak tahu. Yang jelas, terbukti beberapa foto yang disebarkan adalah hoax. Tentu perlu dikirim peneliti ke sana (misalnya, dari Human Right Watch dan sejenisnya) dan kita tunggu hasilnya.

Lalu, kemarin Dubes Indonesia untuk Myanmar menyatakan bahwa isu soal Rohingya “tidak sepenuhnya benar”. Ini saya copas sebagian beritanya.

(lebih…)

Dunia Kita (2)

dunia kitaDi tulisan  “Dunia Kita (1), saya memberi link ke artikelnya Andre Vltchek (ia minta Rusia dan China untuk menyelamatkan Venezuela yang hampir tumbang dikuasai oleh Imperium). Jadi, secara global, ada negara-negara yang posisinya berlawanan dengan Imperium, yang terbesar dan terkuat adalah Rusia dan China. Di Timteng, Iran, Irak, Suriah, dan Hizbullah pun bersekutu dengan kedua kekuatan ini.

Pertanyaannya: Apa artinya kalau mau melawan Imperium, Indonesia juga harus bersekutu dengan China? Siapa yang jamin Indonesia akan jaya kalau kerjasama dengan China? Konon produk/proyek China di Indonesia banyak yang ga mutu [ini KONON ya, saya tidak mendalaminya]. Lalu, China juga mendatangkan pekerja dari China, padahal Indonesia surplus tenaga kerja (misal: kasus PLTU di Bali).

Cara melihatnya begini:

(1) Di tataran global, perlu diakui, memang Rusia dan China adalah dua negara yang punya kekuatan untuk melawan Imperium. Tak ada pilihan lain bagi negara-negara yang lebih kecil yang dalam keadaan terjepit, selain bekerja sama dengan keduanya. Misalnya, Iran dan Suriah; mereka melawan Imperium sendirian jelas sangat sulit. Sejauh ini Iran dan Suriah berkali-kali sudah ditolong oleh Rusia dan China lewat kekuasaan veto di PBB. Kalau dua negara besar itu tidak melakukan veto, NATO sudah dari kemarin-kemarin menyerbu Suriah (sebagaimana yang terjadi di Libya, hanya dalam hitungan hari, Qaddafi sudah tumbang diserbu NATO). Kalau Rusia tidak terjun langsung ke medan perang ‘menjaga’ Suriah, mungkin NATO (yang sebenarnya juga sudah menyerang Suriah, namun alasannya untuk membasmi ISIS) juga sudah merebut Damaskus.

(lebih…)