Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Global

Category Archives: Politik Global

Indonesia Mau Belajar Pertanian ke Israel? (2)

Di bagian (1), ada komentator yang memuji-muji kemajuan teknologi pertanian Israel, bisa bikin subur gurun, katanya.

Foto yang saya upload ini adalah seorang warga Arab-Bedouin di gurun Negev, Israel, yang sedang dibekuk oleh tentara Israel. Ini kejadian kemarin (13/1), difoto oleh jurnalis Israel, Oren Ziv. Selain ditangkap, dibekuk, warga juga ditembaki gas air mata.

Penyebabnya, karena mereka melakukan aksi protes, menolak penanaman pohon di atas tanah mereka. Orang-orang Israel, bersama organisasi Dana Nasional Yahudi (Jewish National Fund), berencana menanam pohon di lahan seluas 1.250 acre di sepanjang aliran sungai Anim. Sebagian lahan yang akan ditanami pohon oleh JNF itu adalah tanah pertanian warga Arab Bedouin; karena itulah mereka protes.

Orang-orang Arab Bedouin hidup di sana sejak sebelum berdirinya Israel. Ketika tanah tempat mereka hidup tiba-tiba berubah status jadi Israel, otomatis mereka jadi warga Israel juga. Tapi, mereka mengalami diskriminasi; mereka dianggap penduduk ilegal. Selama ini sudah sering terjadi pengusiran dan penghancuran rumah-rumah warga Arab Bedouin oleh Israel. Inilah salah satu bukti bahwa Israel adalah negara apartheid: warga Arab (non-Yahudi-Zionis) mendapatkan perlakuan diskriminatif dan represif.

(lebih…)

Kabar Gembira?

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/683637052800654

Bulan Juli 2021, beberapa media di Indonesia secara serempak memunculkan berita dengan judul mirip “Kabar Gembira…” Yang mereka maksud kabar gembira adalah masuknya produk baru, nasal spray, atau semprotan hidung yang berfungsi sebagai “hand-sanitizer untuk hidung” alias pencuci hidung.

Misalnya, ditulis sebuah media: Eno*** [sengaja disamarkan, ogah kasih iklan gratis], merupakan obat yang diproduksi perusahaan ***** di Israel. Dalam penelitian, obat itu telah terbukti mengurangi viral load pada kasus Covid-19 yang dikonfirmasi sebesar 95% dalam 24 jam dan 99% dalam 72 jam.

Menurut berita dari media asing, spray hidung itu harganya 42 dollar (600ribuan rupiah). Di Tokopedia, ada yang jual dengan harga Rp.1,6 jt, ada yang jual 4 jt.

Perusahaan lain di AS juga ada yang membuat cairan antivirus di hidung, mereknya Nan**** tapi ini sistemnya diusapkan ke bagian dalam hidung. Kata media di sana: ini mirip dengan konsep pembersih tangan, tetapi dirancang untuk digunakan pada kulit di dalam dan di sekitar hidung di mana kuman sering masuk ke dalam tubuh dan dapat diaplikasikan dengan kapas.

Harganya? Lebih murah, cuma 24 dollar kok.. cincay lah…

(lebih…)

Kisah Seorang Lelaki Penumpas ISIS

Lelaki ini tidak bisa disebut namanya karena algoritma Facebook hari-hari terakhir ini sepertinya disetel untuk memblokir akun-akun yang menyebut namanya.

Mengapa mereka sedemikian takut pada lelaki ini, sehingga segala upaya dilakukan agar namanya hilang dari ingatan publik? Nanti saya ceritakan.

Dini hari, hari ini, tanggal 3 Januari, 2 tahun yang lalu, lelaki ini dan sahabatnya, serta para pengawal mereka, dibunuh oleh militer AS. Presiden Trump secara terbuka mengakui bahwa dia menginstruksikan pembunuhan itu. Sedemikian besarkah pengaruh si lelaki ini di Timur Tengah sehingga pembunuhan atasnya dilakukan secara “resmi” oleh AS? Apa yang sudah dilakukannya?

(lebih…)

Tragedi RS Al Kindi

Tepat 8 tahun yang lalu, Desember 2013, sejumlah tentara Suriah yang menjaga Rumah Sakit Al-Kindi di Aleppo, dieksekusi para “jihadis”. Sebagian netizen menjuluki para tentara ini “the last man of Aleppo” (para lelaki terakhir di Aleppo).

RS Al Kindi diserbu oleh beberapa milisi teroris, seperti FSA, Harakah Fajr Al Syam (sebagian besar termasuk militan berkebangsaan Turki), Ahrar al-Sham, Jabhat al-Nusra.

Mereka menyerbu Rumah Sakit Al-Kindi pada Desember 2013 dengan mengirim dua truk – bunuh diri yang memuat sekitar 40 ton bahan peledak. Lalu, mereka menduduki RS itu dan membunuhi orang-orang yang masih bertahan/tertahan di sana. Pada Mei 2014, para teroris meledakkan RS ini, setelah mereka mencuri isinya, senilai miliaran pound Suriah.

(lebih…)

Israel Kembali Menyerang Suriah

Tanggal 15 Desember 2021, sekitar pukul 12:50 waktu setempat, “Israel melakukan serangan udara dengan beberapa rudal ke arah Golan dan menargetkan beberapa posisi di selatan,” demikian dilaporkan kantor berita Suriah -SANA, hari Kamis (16 Des).

Pertahanan udara Suriah berhasil menembak jatuh sebagian besar rudal. Serangan tersebut menyebabkan kematian seorang tentara Suriah dan kerusakan material.[1]

(lebih…)

“Normalisasi” Itu Seharusnya Kayak Gini

Istilah “normalisasi” dengan Israel, sebenarnya agak aneh. Indonesia didorong pihak-pihak tertentu untuk “menormalisasi” hubungan dengan Israel. Indonesia kan tidak pernah menjalin hubungan diplomatik sebelumnya dengan Israel dengan alasan “penjajahan Israel pada Palestina.” Jadi apanya yang dinormalkan? Menormalkan [=menganggap normal] penjajahan?

Ada fenomena yang lebih tepat disebut “normalisasi”, misalnya kembalinya hubungan baik antara Suriah dan Yordania. Selama perang Suriah, Yordania sudah berkhianat kepada tetangganya itu, dengan menyuplai senjata kepada para “demonstran” di Daraa dan membiarkan perbatasannya ditempati “pasukan-pasukan asing yang tidak berbahasa Arab” (demikian dilaporkan sejumlah media, di tahun 2011, di awal-awal konflik Suriah).

(lebih…)

Karena ini masalah internasional, saya bahas juga di sini ya.

Mengapa ada perbedaan soal vaksin di pemberitaan internasional? Misalnya, Bloomberg memberitakan “Vaccine Makers Race to Create a Booster in 100 Days to Beat Omicron [para pembuat vaksin berlomba-lomba membuat booster dalam 100 hari untuk mengalahkan omikron].

Sebaliknya, Polly Roy, profesor virology dari London School of Hygiene & Tropical Medicine berkomentar soal Omikron, “Tidak ada perbedaan sebenarnya karena akibat dari penyakit pernafasan adalah sama. Pertanyaannya adalah tentang sistem kekebalan orang yang terinfeksi.” Lebih lanjut, Roy mengatakan bahwa vaksin yang lama masih bekerja.

(lebih…)

“Berdamai” dengan Israel? (2)

Kesalahkaprahan istilah “berdamai” dalam isu Israel-Palestina, sudah saya bahas di bagian pertama. Sekarang kita bahas “normalisasi.” Mengapa ada pihak yang mendorong Indonesia “menormalisasi” hubungan dengan Israel? Mengapa dipakai kata “normal”?

Kalau dalam teori resolusi konflik, normalisasi artinya mengembalikan hubungan diplomatik, kerjasama di bidang ekonomi, pengaturan keamanan, dll.

Tapi ada hal yang lebih “dalam” di balik kata “normalisasi” ini, yaitu “menganggap normal” atau “proses di mana gagasan dan perilaku yang mungkin berada di luar norma sosial menjadi dianggap normal.”

Status Israel adalah menjajah [dokumen resmi PBB dipakai istilah “occupy” atau “menduduki”] tanah bangsa Palestina. Israel melakukan berbagai kejahatan kemanusiaan terhadap orang Palestina dan melakukan sistem apartheid. Karena dilandasi keyakinan bahwa ras Yahudi lebih unggul dan istimewa dibanding ras lain sedunia, Israel memberlakukan aturan-aturan apartheid terhadap orang Palestina. Human Rights Watch sudah melaporkan soal ini, April 2021.

(lebih…)

“Berdamai” dengan Israel? (1)

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/244696037733127

Ada saja suara-suara yang bicara “perdamaian” dengan Israel. Memang, Israel ingin sekali membuka hubungan diplomatik dengan Indonesia. Sebagian orang Indonesia pro-Israel juga menginginkannya. Banyaklah iming-iming dari mereka, “Kita bisa mengakses kecanggihan teknologi Israel; kita bisa belajar teknologi pertanian Israel, bla..bla..bla..”

Buat Israel, jika saja Indonesia, negara dengan populasi-mayoritas-Muslim terbesar di dunia, mau membuka hubungan diplomatik dengan Israel, ini akan jadi “kemenangan” diplomatik sangat besar bagi Israel.

Ibaratnya, mereka akan bilang, “Lihat nih, Indonesia yang Muslim aja mau damai kok sama kami, kenapa Palestina ga mau damai?!”

(lebih…)

Pakar : Wahabisme Sumber Doktrin Perpecahan Umat

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COM – Pakar “Wahabisme, Sumber Doktrin Perpecahan Umat”, Dina Yulianti Sulaeman dalam wawancaranya dengan Tehran Times, sebuah media berbahasa Inggris paling terkemuka di Iran mengatakan bahwa Wahabisme “tidak mendorong pemikiran rasionalis”. “Doktrin yang dikemukakan Wahabisme adalah purifikasi dan takfirisme. Doktrin-doktrin seperti itu akan menimbulkan perpecahan dan konflik di antara dunia Muslim,” kata Dina.

Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran ini berpendapat bahwa peradaban Islam membutuhkan rasionalitas dan persatuan. “Jadi, bagaimana mungkin ajaran seperti itu menjadi pemimpin dunia Islam?”, dia bertanya.

Berikut ini teks wawancaranya:

T: Apa evaluasi Anda tentang beberapa ketegangan sektarian di Asia Barat/Timur Tengah yang disponsori oleh Barat untuk menabur benih perselisihan antara Syiah dan Sunni?

(lebih…)