Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Global

Category Archives: Politik Global

IRAN 2019


 

NED dan Demo di Iran

Note: sebelum membaca ini, silahkan baca dulu tulisan saya sebelumnya, “Siapa Jejaring NED di Indonesia?” [1] dan “Template” [2] biar tidak perlu mengulang-ulang, apa itu NED dan CANVAS

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/429831111295449/?t=0

**

Kalau ada yang bilang NED dan CANVAS tidak menargetkan Iran, itu namanya HHB [Halu-Halu Berjamaah]. Lha di negeri-negeri yang berbaik-baik sama AS saja mereka bekerja, masa untuk Iran mereka adem ayem?

Nah kalau kita googling, dengan mudah ketemu info antara lain: CANVAS saat ini memberi pelatihan kepada aktivis pro-demokrasi di lebih 50 negara, termasuk Iran. Handbook pelatihan CANVAS telah didownload 17.000 kali di Iran -thn 2015. [3]

Sementara itu, kalau cek ke web resmi NED, disebutkan bahwa untuk Iran (tahun 2018) NED sudah mengeluarkan dana untuk program akuntabilitas & pemerintahan, HAM, kebebasan informasi dan jurnalisme. Kalau dihitung (dana disebar ke beberapa organisasi), totalnya mencapai 600 ribu-an USD. [4]

Upaya untuk mengganggu Iran kebanyakan dengan penyebaran opini khas NED dkk: sistem Iran tidak demokratis, buktinya: adanya kekuasaan besar di tangan ulama, pemaksaan pakai jilbab, LGBT dihukum mati, penerapan syariat Islam [yang dianggap menindas perempuan], dll. Intinya, massa diprovokasi untuk membenci sistem pemerintahan.

(lebih…)

Siapa Jejaring NED di Indonesia?

Note: sebelum baca ini, sebaiknya tonton dulu video ini [1] dan tulisan saya berjudul “Template” [2]. Di dua postingan itu, Anda akan ketemu nama National Endowment for Democracy Forum (NED). Sebuah organisasi yang kata pendirinya, Allan Weinstein, “melakukan hal-hal yang dulu dilakukan CIA secara rahasia”.

**

Bila NED terang-terangan memberi dana: “nih uang, hancurkan negaramu!”, hampir pasti tidak ada yang mau. Mungkin karena takut (kalau terang-terangan makar tentu bahaya), atau sangat mungkin memang ada banyak orang yang tulus memperjuangkan sesuatu untuk negerinya. Orang-orang tulus ini mungkin perlu uang untuk berjuang, eh, ada organisasi kaya raya bagi-bagi duit, ya sudah, terima aja.

Karena itulah jejaring NED mengangkat isu yang sangat beragam. Toleransi, agama, pertanian, demokrasi, pendidikan, pembelaan terhadap masyarakat adat, hingga ke pembelaan terhadap LGBT.

(lebih…)

Revolusi Berkedok Agama

Di status sebelumnya (Lithium di Bolivia), saya tuliskan kesamaan pola agenda “penggulingan rezim” antara Bolivia dan Suriah, yaitu perebutan sumber daya alam. Nah, di video ini terlihat kesamaan kedua: Elang Gundul [AS] menggunakan kelompok agama radikal/fundamentalis sebagai proxy. Apa itu proxy? Istilah lainnya “kaki tangan”. Mereka dibiayai, dilatih, didukung melalui propaganda media, dll, oleh AS, untuk menggulingkan rezim-rezim yang tidak sejalan dengan kepentingan AS. Tapi pelakunya tetap saja orang lokal.

Biasanya kalau saya bilang: “di belakang ISIS/Al Qaida ada AS” yang ngamuk ada 2: pembela AS dan pendukung ISIS.

Pembela AS biasanya akan mengolok-olok “kamu pakai teori konspirasi!”. Di kolom komen saya taruh video anggota parlemen AS yang berpidato di depan parlemen AS, mengecam pemerintahnya yang selama bertahun-tahun mendanai ISIS dan Al Qaida. Kalian mau lebih Amerika dari anggota parlemen Amerika?

(lebih…)

Israel Mengebom Damaskus dan Gaza (Lagi)

Kemarin, Selasa dini hari (12/11/2019) Israel mengebom dua target sekaligus, dalam jeda waktu sekitar 1 jam: kediaman Baha’ Abu Atha di Gaza dan kediaman Akram Ajour di Damaskus. Abu Atha tewas, Akram Ajour selamat (tapi anaknya dan cucu perempuannya tewas).

Kedua orang itu adalah pimpinan Jihad Islam, sebuah milisi perlawanan di Gaza. Dari info ini, ada beberapa poin yang perlu dicatat:

1. Suriah sejak dulu adalah pendukung utama pejuang Palestina melawan Israel. Hamas dan Jihad Islam punya markas di Damaskus. Anehnya, banyak orang yang mengaku pro Palestina malah mendukung penggulingan Assad. Ini artinya mereka belum paham geopolitik, mungkin hanya dengar info dari ustad-ustad IM/HTI/Al Qaida.

(lebih…)

Pierre Le Corf ini salah satu narasumber saya dalam menulis buku Salju di Aleppo. Beberapa foto karyanya saya muat juga di buku (tentu sudah minta izin).

Pierre Le Corf adalah seorang blogger Perancis yang berada di Aleppo di masa konflik. Le Corf menggagas misi kemanusiaan “We Are Superheroes” yang mengumpulkan cerita orang-orang dari berbagai negara. Namun sepertinya, Aleppo-lah yang menguras emosinya. Di Aleppo, ia tinggal bersama sebuah keluarga Suriah di sebuah apartemen yang berlubang akibat tembakan teroris Al Qaida.

Sehari-hari, Le Corf berkeliling mengunjungi keluarga-keluarga di Aleppo. Ia berjalan sambil sesekali berlari menghindari sniper. Ia mendengar dan mencatat kisah warga Aleppo, sambil menyerahkan kotak P3K dan mengajari mereka teknik pertolongan pertama jika sewaktu-waktu mereka terkena tembakan atau ledakan bom.

Le Corf kerap mengunggah tulisan dan foto-foto bocah-bocah Aleppo di Facebook. Cerita-cerita yang ditampilkannya mengguncang narasi yang disebarluaskan berbagai media arus utama bahwa warga sipil menjadi korban pembantaian Assad dan untuk itu dunia harus segera menggulingkannya.

Cerita-cerita Le Corf justru memperlihatkan betapa orang-orang Aleppo menjadi sengsara setelah Al Qaida mengambil alih kota itu. Banyak anak-anak dan orang tua menjadi cacat, bahkan tewas, akibat bom yang diledakkan oleh Al Qaida, bukan oleh gempuran rezim.

Di foto terbaru karya Le Corf ini, terlihat senyum bahagia anak Aleppo yang kini sudah bebas dari teroris.

**
[sekedar info, kalau status ini dishare, karena ini juga share status orang, tulisan pengantar dari saya tidak akan terbawa]

Demo di Irak dan Relasi Iran-Irak

Hari-hari ini Irak dilanda demonstrasi besar. Isu yang diangkat, tak jauh bedalah dengan isu-isu demo di berbagai negara berkembang, yaitu mengecam pemerintah yang dituduh korup, tidak menyediakan lapangan kerja, harga-harga mahal, dan bahkan: memprotes kerjasama Irak dengan China. Mirip ya dengan fenomena di sebuah negara di Asia Tenggara?

Pertanyaannya: mengapa harus bakar-bakaran? Mengapa melakukan perusakan fasilitas umum sehingga akhirnya bentrok dengan aparat? Kelihatan ya, “template” demo-nya? (Baca tulisan saya sebelumnya yang berjudul “template”).

Yang tidak banyak orang tahu: kedutaan besar AS di Baghdad adalah kedutaan yang terbesar yang dimiliki AS di seluruh dunia. Luasnya 42 hektar, dengan staf lebih dari 16.000 orang, termasuk 2000-an diplomat asli AS. Belum kalau dihitung “aktivis” dari berbagai negara asing (setahu saya, dulu juga ada tuh orang Indonesia), yang bebas keluar masuk Irak, blusukan kemana-mana. Yang tidak banyak orang tahu juga: massa diprovokasi melalui medsos, 79% cuitan seruan demo berasal dari Arab Saudi. Tentu media massa Barat tak ketinggalan memanaskan situasi.

(lebih…)

Template

Seorang mahasiswa bertanya, setelah kita mempelajari geopolitik Timur Tengah, apa pelajaran yang bisa kita ambil sebagai rakyat Indonesia?

Jawaban saya singkat: pelajari polanya, template-nya. Lihat siapa power yang berkepentingan untuk mendistribusi ruang (dengan segenap sumber daya alamnya) di Timteng, lalu selidiki, apakah aktor-aktor yang sama juga “bermain” di Indonesia?

Berikut ini saya copas tulisan lama saya soal Suriah. Mungkin nama-nama orang dan organisasi yang saya sebut ini tidak ‘terlihat’ di Indonesia. Apalagi keterbukaan informasi di negeri kita sangat minim, terlalu banyak info yang kita tidak tahu, jadi sulit mengidentifikasi siapa saja yang ‘bermain’ (kecuali bila kita orang lapangan, bisa masuk ke ‘dalam’). Tapi dengan sedikit kerajinan ‘melacak’, minimalnya bisa ketemu jejaringnya di Indonesia dan memperkirakan apakah template yang sama sedang dipakai di Indonesia.

***

The NGOs

Berbagai NGO (Non-Government Organization) atau LSM, bersama lembaga-lembaga “think tank” (pusat studi) memiliki rekam jejak dalam upaya penggulingan rezim di berbagai penjuru dunia. Di Mesir, misalnya, aksi-aksi demo penggulingan Mobarak dimotori oleh aktivis LSM yang dilatih oleh AS (melalui Freedom House dan National Endowment for Democracy/NED) agar mahir menggalang massa dan mengelola isu. FH dan NED juga bermain di Suriah. Bedanya, bila di Mesir aksi demo bisa tereskalasi (jumlah pendemo sangat masif) sehingga Mobarak terguling dengan mudah, di Suriah modus ini gagal total. Yang muncul malah demo tandingan yang jauh lebih masif, menunjukkan dukungan kepada Assad. Kejadian sama juga terlihat di Libya, aksi demo tidak pernah tereskalasi, bahkan yang terjadi demo luar biasa besar di Tripoli mendukung Qaddafi. [1]

Ada lagi LSM bernama CANVAS, yang memberikan pelatihan berbagai strategi revolusi kepada para aktivis yang ingin menggulingkan rezim di negara mereka. Para pendukung dana CANVAS adalah lembaga-lembaga terkemuka seperti United States Institute for Peace (USIP) yang didanai Kongres AS, New Tactics (didanai Ford Foundation dan Soros Foundation), dan lain-lain. Foreign Policy melaporkan, selama enam bulan pertama tahun 2012, 40 aktivis oposisi Syria mengadakan pertemuan di Jerman yang dikoordinir oleh USIP untuk merancang bentuk dan agenda pemerintahan pasca-Assad.

Nah karena aksi demo “damai” tidak berhasil di Libya dan Suriah, masuklah para “jihadis” untuk melakukan “tugas” mereka. Kali ini tentu saja mereka tidak membawa isu demokrasi, melainkan khilafah (dan khusus di Suriah, mereka membawa isu Sunni-Syiah, yang terbukti sangat efektif dalam menggalang pasukan dan dana dari kaum Muslim di berbagai penjuru dunia). Untuk Libya, terbukti, setelah Qaddafi tumbang, tidak ada khilafah, meski bendera Al Qaida sempat berkibar-kibar di gedung pemerintah. Kapitalis Barat berpesta pora menguasai sumber daya alam sementara sebagian rakyat sibuk bertempur satu sama lain; sebagian lagi mengungsi ke negeri-negeri jauh dan banyak yang mati di tengah jalan.

Jadi, dalam menganalisis soal Suriah, penting untuk menoleh tajam ke arah NGOs dan think-tank yang berkeliaran di sana (atau bersuara berisik dari luar negeri). Di awal konflik, Amnesty International dan Federation of Human Rights (FHR) menggalang aksi demo massa di jalanan Paris dengan membawa bendera Suriah era mandat Prancis (hijau-putih-hitam). FHR didanai oleh NED. Mantan Sekjen PBB, Kofi Annan, yang awalnya ditugasi menjadi mediator perdamaian di Syria, ternyata adalah trustee (penasehat) di International Crisis Group (ICG), bersama tokoh-tokoh Zionis, seperti George Soros, Zbigniew Brzezinski, dan Shimon Peres. Brooking Institution juga berperan, antara lain menerbitkan desain perubahan rezim di Libya, Suriah, dan Iran. Baik NED, ICG, Brooking, dll, didanai oleh Big Oil (Conoco-Philips, Chevron, ExxonMobil), Coca Cola, Bank of America, Microsoft, Standard Chartered, Citigroup, Hilton, McDonald, GoldmanSach, dll. (Goldman Sachs dan Rockefeller juga berada di belakang Médecins Sans Frontières, relawan di bidang medis, yang ‘bermain’ di Suriah).

Ada dua LSM yang sering sekali dikutip media Barat (dan media jihad), Syrian Observatory of Human Rights dan Syrian Network of Human Rights yang berkantor di Inggris. Keduanya seolah paling tahu atas setiap serangan, jumlah korban, nama-nama, dan berbagai hal soal Suriah (dan datanya jelas beda dengan data yang dimiliki media-media alternatif). Donaturnya, Uni Eropa dan Soros. Silahkan browsing, rekam jejak Soros dan upaya penggulingan rezim di berbagai negara, terutama Eropa Timur (juga penggulingan Soeharto). Soros juga ada di balik CANVAS. Aliran dana untuk the White Helmets (yang juga mengaku ‘relawan medis’), juga terlink dengan Soros.

See the template, follow the money.

***
[1] video bisa lihat di sini: https://dinasulaeman.wordpress.com/2016/05/04/prahara-aleppo-3-tamat/

Tulisan Miko Peled yang sudah diterjemahkan tim ICMES

Late post
Ini tulisan Miko Peled yang sudah diterjemahkan tim ICMES. Saya sudah pernah cerita ya, siapa Miko Peled ini. Dia anak seorang jenderal Israel yang akhirnya berbalik membela Palestina.

Di paragraf terakhir, ia menulis:

Proyek Zionis memperoleh banyak sekali keuntungan dari konflik ini. Untuk melawan keteguhan para pejuang keadilan dan kemerdekaan Palestina, mereka melakukan operasi-operasi yang melibatkan seluruh aparat negara Israel dan pengumpulan dana besar-besaran. Dengan dukungan penuh militer, intelejen, serta keuangan yang tak terbatas, Israel mampu melakukan perlawanan di sangat banyak front, jauh lebih banyak daripada yang disebutkan di artikel ini. Sementara itu, para pejuang keadilan untuk Palestina tidak mendapatkan dukungan dari aparat pemerintah, tak ada militer dan intelijen yang melindungi, dan tidak ada dana yang cukup. Tapi jika ingin merdeka, kubu Palestina harus terus bertahan, hadir dengan gigih dan waspada di semua front, dan bila memungkinkan, menciptakan front-front perjuangan baru.

Selengkapnya:
https://ic-mes.org/…/pertempuran-tiada-henti-demi-palestina/

Presiden Turki Erdogan dijuluki oleh beberapa analis geopol (misalnya, Pepe Escobar) ‘Sultan Teflon’ karena dia licin sekali, anti lengket, bisa berpindah haluan dengan sangat enteng. Kalau pakai perspektif HI, Erdogan ini bisa disebut tipe realis tulen, apapun yang penting buat negaranya, itulah yang ia lakukan, bahkan bila harus membantai tetangga sendiri. Baru hari ini Erdogan tertawa-tawa bersama Assad dan istrinya, menyebut Assad ‘my brother’, esoknya dia sudah memberi dukungan pada milisi bersenjata untuk menggulingkan Assad.
 
Selama bertahun-tahun (sejak 2012) ia membuka perbatasan Turki-Suriah untuk lalu-lalang pasukan teror termasuk ISIS untuk keluar-masuk Suriah, serta membeli minyak yang dicolong dari kilang-kilang Suriah, namun kini (17 September 2019) ia menceramahi para pemimpin negara Muslim soal ukhuwah. Padahal dulu Maret 2015, dia menyatakan mendukung intervensi Saudi di Yaman dan bahkan siap bantu logistik. Benar-benar sultan anti lengket.
 
Anda bisa tonton di video ini, pernyataan terbaru Erdogan soal Yaman. Patut diakui, apa yang dikatakan Erdogan kali ini benar adanya. Kata dia, “Kita harus melihat bagaimana konflik ini dimulai, siapa yang menyebabkannya? Mereka telah menghancurkan Yaman.” Siapa? Tak lain, Arab Saudi. Saat Yaman mengalami konflik internal, Saudi ikut campur dengan membombardir warga sipil serta infrastruktur sipil. Sebelum menjatuhkan bom pertama kalinya (Maret 2015), Menlu Saudi saat itu, Adel Al Juber ke Washington dan bertemu Obama, minta restu.