Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Global

Category Archives: Politik Global

Iran dan Covid-19

Permintaan Iran kepada IMF untuk memberi pinjaman uang dalam rangka penanganan Covid-19 memunculkan banyak pertanyaan, intinya: apakah Iran akhirnya tunduk kepada Barat?

Selama ini, IMF dikenal sebagai perpanjangan tangan negara-negara kaya Barat untuk mengacak-acak perekonomian negara berkembang. Pasalnya , IMF (dan Bank Dunia) saat memberi pinjaman selalu memberi syarat: negara penerima pinjaman harus meliberalisasi ekonominya. Antara lain: harus menghemat fiskal, harus memprivatisasi BUMN, dan menderegulasi keuangan dan pasar tenaga kerja.

Menurut Thomas Gangale, dampak dari kebijakan liberalisasi ekonomi ini justru negatif, antara lain dikuranginya pelayanan pemerintah dan subsidi makanan telah memberi pukulan kepada masyarakat kelas menengah ke bawah. BUMN yang dijual untuk membayar utang kepada IMF justru dibeli oleh perusahaan swasta yang kemudian menghentikan pelayanan bersubsidi dan menaikkan harga-harga untuk mencari keuntungan sebanyak mungkin. Kebijakan moneter seperti penaikan suku bunga dengan tujuan untuk menarik investor asing justru menghancurkan perusahaan domestik sehingga pengangguran meningkat. [1]

(lebih…)

Corona alias Covid 19 ini benar-benar menjadi ujian bagi manusia di berbagai level, mulai individu hingga negara, bahkan aliansi/komunitas negara. Siapa kawan sejati, dan siapa kawan yang hanya mau bersama di saat suka, semakin terlihat jelas.

Juga, fenomena ini semakin membongkar hipokritas (kemunafikan) Barat yang selama ini mengaku sebagai penjunjung HAM dan demokrasi. Dalam kondisi yang sangat sulit seperti sekarang, Iran dibiarkan kewalahan sendiri, embargo tidak dicabut, sehingga bahkan untuk mengimpor peralatan medis dan obat-obatan pun tidak bisa. Untungnya kemudian China datang membawa bantuan yang diangkut dalam 8 pesawat Mahan Air.

(lebih…)

Milisi teror yang dihadapi oleh tentara Suriah memang bukan kaleng-kaleng. Mereka punya senjata lengkap, disuplai oleh negara-negara kaya raya (plus dari uang sumbangan rakyat berbagai negara, termasuk Indonesia).

Jadi aneh bila ini dibilang “perang saudara” atau
“rezim menindas rakyat”. Rakyat model apa yang punya persediaan senjata sekuat/lebih kuat dari negara?

Beberapa tahun pertama perang (2012- akhir 2016), tentara Suriah kelabakan, bahkan sekitar 70% wilayahnya dikuasai milisi teror ini. Karena itulah Suriah minta bantuan Iran, Rusia, dan Hizbullah. Sejak Desember 2016, posisi berbalik, satu persatu wilayah Suriah berhasil dibebaskan. Kini tersisa 1 provinsi yang berbatasan dg Turki, Idlib. Inilah front terakhir para teroris. Turki dan AS pun turun tangan membantu para teroris ini.

[kalau dishare, pengantar dari saya tidak terbawa, perlu dicopas dulu]

https://web.facebook.com/theSyriainsider/videos/138045994227094/?t=0

Siapa tahu ada yang butuh tulisan ilmiah, bukan sekedar analisis ringan di medsos. Ditulis thn 2016, tapi masih relevan untuk mengetahui aspek ideologi pemimpin dalam mengindentifikasi national interest dalam kebijakan luar negeri Turki.

Di tulisan ini, bab kajian teori dan daftar pustaka sengaja tidak ditampilkan karena tadinya, paper ini akan dikembangkan lagi untuk keperluan publikasi (jurnal). Tapi meski sudah 3 thn berlalu, paper yang rencanakan itu belum beres juga. Soalnya, perubahan sikap beliau ini sangat cepat. Jadi ribet. Nunggu konflik selesai ajalah, baru dianalisis.

*Kesimpulan*

(lebih…)

Bahasa Diplomatik Putin dan Erdogan

Kemarin, Putin dan Erdogan bertemu di Moskow. Kesepakatan mereka: semua pihak, termasuk para “jihadis” melakukan gencatan senjata di Idlib. Kita tunggu saja, siapa yang pertama kali mengkhianati. Kemungkinan besar sih milisi teror yang akan ngebom duluan, setelah “amunisi” yang dijanjikan AS datang. [1]

Menarik juga menafsirkan bahasa diplomatik yang dipakai kedua tokoh ini.[2]

Di awal percakapannya, Putin menyatakan selamat datang, dan turut belasungkawa atas kematian tentara Turki. Lalu, Putin mengatakan, “Seperti saya sudah sampaikan kepada Anda lewat telepon, tidak ada, termasuk tentara Suriah, yang mengetahui/menyadari lokasi tentara Anda.”

Secara tersirat, yang dimaksud Putin, “Makanya tentara lo jangan gabung dengan “jihadis” dong.. kan kami sedang mengebomi para “jihadis”, siapa sangka tentara lo bareng sama mereka?”

(lebih…)

AS secara terang-terangan membantu para teroris di Idlib.

Foto ini adalah Duta Besar AS untuk PBB, Kelly Craft, bersalaman (ada video dan foto lain juga), berpose bersama anggota White Helmets. Saya sudah sering menulis, siapa WH ini, yang tak lain anggota milisi teroris yang berganti baju supaya tampil seolah ‘relawan kemanusiaan’.

Craft menjanjikan bantuan untuk para pengungsi Idlib. Craft datang bersama pejabat AS lainnya, Perwakilan Khusus AS untuk Suriah, James Jeffrey.

Jeffrey mengatakan, “Kami siap untuk menyediakan – seperti dikatakan Presiden – amunisi.. Turki adalah sekutu NATO. Kami punya program penjualan alat militer yang sangat-sangat besar; sebagian besar dari peralatan militer Turki menggunakan perlengkapan [produk] AS. Kami akan memastikan bahwa perlengkapan itu siap [disuplai]. Sebagai rekan NATO, kami berbagi informasi intelijen…dan kami akan memastikan bahwa Turki memiliki apa yang mereka butuhkan di sini [Suriah].” [1]

(lebih…)

Muda, cantik, cerdas, pemberani. Salut banget sama Carla Ortiz.
Dia datang ke Aleppo, meliput langsung detik-detik pembebasan Aleppo timur 2016

Antara lain yang dia saksikan: sebelum pembebasan Aleppo tentara Suriah membuat koridor kemanusiaan dimana warga sipil dipersilahkan keluar sebelum perang terjadi

Lalu dia datang ke bekas markas White Helmets, dan ia temukan bendera yang kata orang HTI “bendera tauhid” di sana. Anehnya, Netflix bikin film yang memuji-muji WH dan dapat piala Oscar.

https://web.facebook.com/cerdasgeopolitik/videos/337048067070454/?t=0

Mengapa Sesama pro Jihadis Jadi Saling Serang?

Adakah yang heran, mengapa negara-negara sesama pendukung “jihad” Suriah (Saudi, Emirat, Mesir) tiba-tiba menyerang Turki, memblow up rekam jejak digital hubungan Erdogan-Israel? Padahal mereka ini selama 8 tahun bersekutu dalam proyek jihad penggulingan Assad.

Fanpage sebelah (Sahara) tadi posting video lagi, ternyata bahkan Syekh Aid Al Qarni ikut marah-marah ke om Erdie. (Tau kan, beliau itu penulis buku Laa Tahzan, yang sangat digemari akhi wal ukhti. Semoga tidak ada bunuh diri massal saking stress melihat ulama pujaan kok berbalik arah).

[Dalam waktu singkat video tsb diblokir sama FB. Tapi ada copy-nya di youtube [1]]

(lebih…)

Gelembung Sabun dari Utara

Pidato Assad beberapa hari yll, menyusul kemenangan atas front terakhir para teroris di kawasan seputar Aleppo (sebagian petempurnya berasal dari Uighur, menurut anggota parlemen Suriah asal Aleppo, Fares Shehabi), menggunakan kata “gelembung suara kosong dari utara”.

Yang paham bahasa Arab atau Inggris akan bisa menangkap bahwa Assad selama ini, setiap diwawancara televisi atau berpidato, selalu menggunakan bahasa yang halus dan tertata rapi, dengan suara yang rendah (tidak meledak-ledak).

Di awal konflik, Hamas yang yang bertahun-tahun diberi perlindungan (diberi kantor di Damaskus, disuplai logistik) justru berkhianat. Sebelum perang, ada lebih dari setengah juta pengungsi Palestina di Suriah (data UNRWA), mereka dilayani sama seperti warga asli. Hamas mendukung penggulingan Assad dan bergabung dengan milisi teror. Alasannya, karena Hamas lebih memilih bergabung dengan sesama Ikhwanul Muslimin, daripada bergabung dengan poros resistensi anti-Israel. Ironis, padahal Palestina sedang dijajah Israel. [Tapi sekarang Hamas sudah ‘tobat’ dan kembali gabung ke poros resistensi.]

(lebih…)