Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Global (Laman 2)

Category Archives: Politik Global

Iklan

Para Frater [plus paper]

sotoro

Milisi Kristen Suriah, lihat benderanya merah-putih-hitam dengan 2 bintang; itu tandanya mereka pro-pemerintah. Bendera pemberontak=bendera Suriah era mandat Perancis: hijau-putih-hitam dengan 3 bintang.

Copas status FB
Para Frater

Pekan yll saya berkesempatan bicara tentang Timteng/Suriah di depan para frater (calon pastur). Di ruangan itu ada patung Yesus besar banget, di tiang salib. Terus-terang saya grogi. Dan kata si Akang, saya memang terlihat grogi. Tapi kata Kirana, “Mama keren.” Ya sudahlah terserah saja, toh sudah berlalu 😀

Yang saya jelaskan sebenarnya kurang-lebih sama dengan apa yang selama ini saya tulis maupun saya sampaikan di berbagai forum (hanya beda-beda titik tekan saja). Kali ini, presentasi saya awali dengan menampilkan foto-foto gereja yang hancur dibom, biarawati yang disandera oleh Al Nusra (tapi kemudian dibebaskan dalam skema pertukaran sandera dengan pemerintah), dan milisi Kristiani Suriah.

Saya katakan, perang Suriah mencapai titik balik dimana rakyat sipil akhirnya ikut angkat senjata untuk membela tanah air mereka dari gempuran pasukan asing (yang menyebut diri ‘mujahidin’ itu). Orang-orang Kurdi, Sunni, Syiah, Kristen, Druze, bangkit membentuk milisi bersenjata yang membela hal-hal penting bagi mereka. Orang Kurdi (Sunni) dan Kristen/Katolik mempertahankan tanah dan warga mereka dari kejahatan para perompak asing; orang Syiah kebanyakan turun tangan membela makam-makam Ahlul Bait Nabi (misalnya, makam Sayidah Zainab, cucu Rasulullah) agar tidak dihancurkan oleh bom kaum ‘mujahidin’, dll.

Salah satu milisi Kristiani adalah MSF (Mawtbo Fulhoyo Suryoyo, bahasa Assyria; dalam bahasa Inggris disebut ‘Syriac Military Council’). Di web al-monitor disebutkan bahwa milisi Kristiani berhasil mempertahankan wilayah Hasakah sehingga tidak jadi diduduki oleh ISIS. (http://www.al-monitor.com/pulse/originals/2015/10/syria-christians-militias-liberation-battle.html)
(lebih…)

Iklan

Prahara Aleppo (4)

al quds hospital

MSF DAN HOAX SOAL PENGEBOMAN RS AL QUDS

MSF (Médecins Sans Frontières atau Dokter Without Borders) oleh sebagian orang dikenal sebagai LSM yang baik karena menolong orang di berbagai wilayah konflik. Tapi kiprahnya di Suriah terlihat “aneh”, namun ini bukan kejutan bagi yang terbiasa melihat siapa di balik apa [1]

Berikut ini hal-hal mencurigakan di balik “dibom”-nya RS Al Quds yang bikin banyak orang Indonesia histeris dan berteriak “save Aleppo”. (Ya, Aleppo memang harus diselamatkan, tapi dari cengkeraman mujahidin dan NATO; sementara mereka yang histeris itu mengira Aleppo harus diselamatkan dari “kekejaman Assad dan Rusia”). Saya sarikan dari tulisan Rick Sterling, jurnalis independen asal AS yang terjun langsung ke Suriah (dan bahkan anaknya pun lahir di RS Al Dabeet di Aleppo yang pada 3 Mei 2016 dibom mujahidin).[2] Di catatan kaki, saya tambahkan berbagai info.

  1. RS Al Quds (RSQ) diklaim sebagai RS tempat beroperasinya MSF. Pada tanggal 27 April, konon RSQ dibom. Staf MSF Pablo Marco, saat diinterview oleh CNN dan PBS Newshour pada 28 April, mengatakan, “Ada 2 barrel bombs yang jatuh dekat RSQ, lalu bom ketiga jatuh di pintu depan RSQ”. Tetapi, press rilis MSF justru kontradiktif, “RSQ dihancurkan oleh minimalnya 1 serangan udara yang secara langsung menimpa bangunan dan membuatnya jadi puing2 (rubble).” Tapi foto yang ditunjukkan tidaklah berupa “puing-puing”. Versi berita mana yang benar?

(lebih…)

Mengapa Mereka Mendadak Heboh Soal Aleppo?

Di bawah ini saya copas status dr Joserizal yang menjelaskan mengapa kok mendadak para fans Erdogan di Indonesia (*presiden yang tertukar*) secara masif dan serempak menebar hashtag “save Aleppo” dan sibuk menggalang dana. Asal dijamin sampai ke warga sipil korban perang sih, kita dukung dong. Masalahnya, seperti kata Dubes Djoko, kan di tengah jalan bantuan itu sering diserobot pemberontak. Thanks to Allah, akhirnya kubu pro-mujahidin keceplosan ngaku bahwa senjata mrk dapat dari AS  dan bahwa dana yg mrk kumpulkan di Indonesia adalah utk mujahidin (lihat foto di bawah) Selain itu, kenapa sih pake menyebar foto-foto palsu dan memfitnah orang? Apa berbuat baik itu boleh saja didului dengan kejahatan?

(lebih…)

Prahara Aleppo (3)

brookingsThe NGOs

Berbagai NGO (Non-Government Organization) atau LSM, bersama lembaga-lembaga “think tank” (pusat studi) memiliki rekam jejak dalam upaya penggulingan rezim di berbagai penjuru dunia. Di Mesir, misalnya, aksi-aksi demo penggulingan Mobarak dimotori oleh aktivis NGO yang dilatih oleh AS (melalui Freedom House dan National Endowment for Democracy/NED) agar mahir menggalang massal. FH dan NED (dan LSM bernama CANVAS) juga bermain di Suriah. Bedanya, bila di Mesir aksi demo bisa tereskalasi (jumlah pendemo sangat masif) sehingga Mobarak terguling dengan mudah, di Suriah modus ini gagal total. Yang muncul malah demo tandingan yang jauh lebih masif, menunjukkan dukungan kepada Assad.[1] Kejadian sama juga terlihat di Libya, aksi demo tidak pernah tereskalasi, bahkan yang terjadi demo luar biasa besar di Tripoli mendukung Qaddafi. [2]

Nah karena aksi demo “damai” tidak berhasil di Libya dan Suriah, masuklah para jihadis untuk melakukan tugas mereka. Kali ini tentu saja mereka tidak membawa isu demokrasi, melainkan khilafah (dan khusus di Suriah, mereka membawa isu Sunni-Syiah, yang terbukti sangat efektif dalam menggalang pasukan dan dana dari seluruh dunia). Terbukti, ketika khilafah terbentuk di Libya, tetap saja kapitalis Barat yang menguasai ekonomi; sang khalifah sibuk bertempur melawan rakyatnya, serta melebarkan sayap pertempuran ke Suriah.

(lebih…)

Prahara Aleppo (2)

The White Helmets

Aleppo adalah kota terbesar di Suriah. Sejak 2012, jihadis/teroris dari berbagai kubu menduduki Aleppo. Mereka sempat menguasai 70% kota, namun tentara Suriah (SAA) kemudian melancarkan operasi pembebasan Aleppo. Saat ini, tinggal wilayah selatan Aleppo yang diduduki oleh jihadis/teroris.

Sejak 23 April 2016, jihadis/teroris di Aleppo secara masif menghujani wilayah Aleppo yang dikontrol SAA dengan mortar, rocket, dan Hell Cannon (sebelumnya, selama 2012-2016 mereka juga sering menyerang secara sporadis,  kali ini benar-benar masif). Korban terbesar adalah warga sipil, termasuk anak-anak. Awalnya media Barat bungkam (hanya media-media Suriah, PressTV, XinHua, RT, dan media-media alternatif  lainnya yang ‘berteriak’). Namun setelah SAA melakukan serangan balasan untuk membebaskan Aleppo dari jihadis/teroris, dengan serempak muncul pemberitaan masif dari media Barat/pro-jihadis: SAA dan Rusia membunuhi warga sipil Aleppo.

Salah satu korban serangan bom adalah RS Al Quds (di wilayah yang dikuasai jihadis/teroris dibom), 27 April 2016. Berita versi Barat/jihadis, pelakunya adalah SAA atau Rusia. Namun Rusia memiliki data bahwa pesawat yang terbang di udara Aleppo pada hari itu justru satu pesawat dari pihak koalisi anti ISIS (yang dimaksud: kubu AS&Turki).  AS dengan segala kecanggihan militernya tentu seharusnya juga punya data radar, tinggal diperlihatkan saja ke publik, kalau memang benar pengebomnya Suriah/Rusia. Modus sama telah terjadi pada 10 Februari 2016. Saat itu dua rumah sakit di Aleppo dibom dan jubir Pentagon langsung menyebut Rusia sebagai pelakunya, tanpa menyebut waktu dan koordinat lokasi serangan. Jubir Menhan Rusia membalas dengan mengungkap data rinci bahwa pada hari itu jam 10:55 GMT dua pesawat AS A-10 memasuki udara Suriah melalui Turki dan terbang langsung ke Aleppo dan mengebom 9 target di sana. Pada Oktober 2015, pesawat AS juga mengebom beberapa pusat pembangkit listrik di Aleppo.

(lebih…)

Prahara Aleppo (1)

Bernard Kouchner

French Foreign Minister Bernard Kouchner takes off a Jewish skull-cap, or Kippa, at the end of a visit to the Yad Vashem Holocaust Memorial in Jerusalem, Tuesday, Sept. 11, 2007. Kouchner is on an official visit to Israel and the Palestinian Territories. (AP Photo/Kevin Frayer)

Eskalasi konflik di Aleppo beberapa hari terakhir diwarnai propaganda anti-rezim Suriah yang sangat masif, baik oleh media Barat, maupun oleh media-media “jihad” di Indonesia. Dan inilah mengapa kita (orang Indonesia) harus peduli: karena para propagandis Wahabi/takfiri seperti biasa, mengangkat isu “Syiah membantai Sunni” (lalu menyamakan saudara-saudara Syiah dengan PKI, karena itu harus dihancurkan, lalu diakhiri dengan “silahkan kirim sumbangan dana ke no rekening berikut ini”). Perilaku para propagandis perang itu sangat membahayakan kita (mereka berupaya mengimpor konflik Timteng ke Indonesia), dan untuk itulah penting bagi kita untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Suriah.

Tulisan ini akan dibagi dalam beberapa judul yang membahas aktor-aktor utama konflik. Berikut ini bagian pertama.

The Medecins sans Frontieres (MSF)

Dalam beberapa hari ini ada video yang jadi viral, tentang seorang dokter anak terakhir (the last pediatrician) yang tewas akibat serangan udara yang dilakukan tentara Suriah (berita versi pro-jihadis/teroris). Dokter tersebut bekerja di MSF (Dokter Tanpa Batas, LSM yang bergerak memberi bantuan medis di berbagai wilayah konflik di dunia). MSF di Aleppo membuka rumah sakit justru di wilayah yang dikuasai pemberontak/jihadis Suriah. Pihak rezim Suriah telah menolak tuduhan bahwa mereka yang mengebom rumah sakit MSF. Tapi tulisan ini tidak sedang membahas siapa yang sebenarnya mengebom rumah sakit (dalam berbagai kasus pengeboman rumah sakit sebelumnya di Aleppo -di wilayah yang dikontrol tentara Suriah–, pelakunya justru pihak teroris/jihadis), melainkan tentang siapa MSF sebenarnya.

(lebih…)

Daud Melawan Goliath

republika1Fariba, tetangga saya di Teheran (2003-2007) mudah sekali sedih dan stress. Pasalnya, suaminya selalu berada dalam bahaya. Suaminya anggota Garda Revolusi Iran, dan sewaktu-waktu “menghilang” untuk misi anti-terorisme. Fariba selalu ketakutan, suatu saat giliran suaminya yang syahid dibunuh teroris. Dan benar saja, tahun 2009, saat saya sudah di Indonesia, suaminya dan beberapa rekannya syahid dalam aksi bom bunuh diri yang dilakukan teroris di Zahedan (perbatasan Pakistan).

Sejak Republik Islam Iran dibentuk dan AS ditendang keluar Iran (padahal sebelumnya AS sedemikian berkuasa di Iran, baik ekonomi maupun politik), aksi-aksi teror tak habis-habisnya menyerang Iran. Sejak 1979-2014, korban terorisme di Iran (bom bunuh diri/ledakan bom) mencapai 17.180 orang, menjadikan Iran sebagai negara dengan korban terorisme terbesar di dunia. Sebagian yang menjadi korban tewas itu adalah para pejabat tinggi negara seperti Presiden Rajai, PM Bahonar, Ketua MA Beheshti, dan Panglima Militer Shirazi. Ayatollah Khamenei sendiri tangan kanannya kisut dan tak bisa digerakkan akibat terkena serpihan bom saat sedang berceramah di Masjid Abu Dzar, Teheran (1981). Beberapa tahun terakhir, yang menjadi korban teror adalah ilmuwan-ilmuwan nuklir Iran.

Jurnalis investigatif terkemuka, Seymour Hersh (2008) pernah menulis laporannya tentang kucuran dana AS untuk membiayai kelompok-kelompok teror (antara lain, Jundullah, the Mujahideen-e-Khalq/MEKdan kelompok separatis Kurdithe Party for a Free Life in Kurdistan/PJAK). Tim Shipman dari the Telegraph sebelumnya (2007) juga sudah merilis informasi bahwa Bush meluncurkan “operasi hitam” untuk menggulingkan rezim. Pada tahun itu pula, pemerintah Iran mengumumkan telah menangkap 10 anggota Jundullah membawa uang cash USD500.000 bersama “peta daerah sensitif” dan “peralatan mata-mata modern”.

(lebih…)

Pejuang Kemanusiaan

archipelagoSejak konflik Libya 2011, saya menemukan bahwa di dunia ini ada yang disebut ‘jurnalis independen’. Mereka tidak terikat pada media mainstream. Jangan harap berita dan artikel yang mereka tulis bisa kita baca di situs-situs terkenal macam CNN atau Aljazeera. Tapi yang mereka lakukan sangat berarti untuk dunia, meskipun mungkin baru dirasakan ‘nanti’ atau ‘kelak’.

Misalnya saja, saat saya menulis tentang Libya tahun 2011, sebenarnya saya sejak awal sudah mendeteksi bahwa serangan masif media internasional mendiskreditkan Moamar Qaddafi sangat terkait dengan proyek minyak Imperium. Tapi bagaimana saya bisa menuliskannya kalau data-data dari lapangan sangat minim? Yang tersedia umumnya berita senada, disuguhkan oleh media mainstream dan diberitakan ulang oleh media-media lokal (yang ironisnya, tiba-tiba saja untuk kasus Libya, media-media “kafir” bisa senada dengan media-media “Islam”).

Jadi, waktu itu saya stay tune di globalresearch.ca. Dari situs itu saya tahu ada beberapa jurnalis pemberani mempertaruhkan nyawa untuk memberitakan kejadian yang sebenarnya di Libya, antara lain Mehdi Darius Nazemroaya dan Thierry Mayssan. Dari merekalah ‘dunia’ (yang mau membaca media anti-mainstream, tentu saja) tahu bahwa ada demo sangat besar di Tripoli MENDUKUNG Qaddafi; bahwa NATO tidak sedang melakukan humanitarian intervention, tetapi membombardir Libya habis-habisan.

Berita yang mereka bawa jelas menghantam narasi media Barat + media “Islam” bahwa Qaddafi adalah rezim “thoghut” yang dibenci rakyatnya, sampai-sampai rakyatnya meminta bantuan NATO. Lalu NATO turun tangan ‘membantu’ dengan cara menghancur-leburkan infrastruktruktur Libya. Lalu, tentu saja untuk membangun kembali, pemerintah baru Libya berhutang ke Barat dan proyek-proyek rekonstruksi diserahkan kepada perusahaan Barat. Ini cerita lama, terulang terus, tapi opini publik mudah sekali tertipu berkali-kali.

Mehdi dan Thierry sempat hampir mati dibunuh para sniper saat mereka berada di Libya. Nasib lebih tragis dialami oleh jurnalis perempuan cantik, Sherena Shim. Di saat kaum “Islamis” mengelu-elukan Erdogan dan Turki, dia justru mengungkap support Turki dan Barat kepada ISIS. Dia mati dalam kecelakaan misterius, di perbatasan Turki-Suriah, tak lama setelah itu (Okt 2014). Tanggal 27 Desember kemarin, Naji Jerf, jurnalis Suriah pembuat film dokumenter anti-ISIS, tewas akibat tembakan di kepalanya, juga di Turki.

Jurnalis anti-mainstream lain yang saya hormati adalah Andre Vltchek. Dia keliling dunia dan memberitakan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Imperium. Andre istimewa karena banyak menulis tentang Indonesia. Pertama kali saya terpana membaca tulisannya yang berjudul Jakarta Kota Fasis. Lalu, saya membaca bukunya yang sudah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia, “Indonesia, Archipelago of Fear”.

Beberapa waktu yang lalu, saya dan putri saya Kirana, berkesempatan bertemu dengannya. Kami berbincang-bincang cukup lama, hampir dua jam. Dan saya mendapat jawaban dari beberapa pertanyaan yang mengganggu saya selama ini. Lalu saya membaca ulang buku Andre. Rupanya diskusi langsung dengan Andre memberi saya ‘mata’ yang berbeda saat kembali membaca buku itu. Menurut saya, buku ini penting sekali dibaca orang Indonesia. Mungkin nanti saya akan tuliskan panjang lebar di blog, tapi sekarang saya cuma ingin cerita bahwa Kirana melakukan wawancara singkat dengan Andre dan sudah ditulis di blognya. Ada yang menohok dalam jawaban Andre: “sulit buatmu untuk bisa jadi pejuang kemanusiaan, karena lingkunganmu pasti akan mencegahmu; di Indonesia orang-orang masih egois…”

Waduh… saya jadi bertanya dalam hati, benarkah saya ingin anak saya jadi pejuang kemanusiaan? Relakah saya kalau kelak dia tewas terbunuh saat menyuarakan kebenaran seperti Sherena Shim? Ah, jangan jauh-jauh punya impian idealis, bila sekarang saja, saya sudah berkeberatan dengan impiannya sekolah di luar negeri dan mendoktrinnya, “Masuk HI Unpad aja, biar kakak ga jauh dari mama!”

Interview Kirana dengan Andre, bisa dibaca di kiranams.wordpress.com

Globalisasi Konflik

Copas status di facebook:

Sering saya temukan, ketika saya (atau orang lain) menulis “Barat ada di balik konflik negara X”, muncul bantahan seperti ini “Jangan nyalah-nyalahin Barat! Itu kan salah warga negara X sendiri karena..bla..bla..” atau “Anda ini pakai teori konspirasi!” atau kecaman senada dengan berbagai model. Saya sungguh heran, di zaman internet begini, masih juga banyak yang belum paham bahwa dunia sudah jauh berubah. Tidak ada konflik yang berdiri sendiri di era globalisasi ini.

Tentu saja, yang dimaksud ‘Barat’ adalah politisi, korporasi, media mainstream yang memang sangat krusial perannya dalam konflik. Jadi, sangat tidak setara (not apple-to-apple; qiyas ma’al faariq) bila kita bilang Barat itu ‘baik’ hanya dengan bukti betapa baiknya rakyatnya (civil society) mengurusi para pengungsi. Ya, secara kemanusiaan, sangat mungkin civil society di Barat sangat humanis dan baik hati. Tapi kita sedang bicara soal politik internasional, soal siapa yang mendalangi perang.

(lebih…)

[Public Lecture] Global Leadership by Dina Y. Sulaeman

Tanggal 29 April-2 Mei 2015, digelar Konferensi Pelajar/Mahasiswa Asia Afrika di Gedung Merdeka (selanjutnya akan disingkat AASC- Asian-African Student Conference), Bandung. Saya diminta memberikan kuliah umum dengan tema ‘Global Leadership’. Sebelum saya menuliskan di sini, apa yang saya sampaikan dalam kuliah umum itu, saya ingin bercerita sedikit tentang sejarah AASC.

AASC pertama kali diselenggarakan tahun 1956, setahun setelah Konperensi Asia-Afrika pertama. Delegasi Indonesia waktu itu diketuai oleh Emil Salim. AASC 2015 dibuka oleh Wakil Menlu, Bpk AM Fachir dan diawali dengan keynote speech dari Bapak Emil Salim. Dalam pidatonya, Emil Salim mengenang, banyak peserta AASC yang di kemudian hari menjadi menteri-menteri di negara mereka (termasuk Emil Salim sendiri).

aasc2015

Pimpinan AASC 2015

Andrew Philips dan Tim Dunne (keduanya pemikir HI terkemuka dari Australia), menulis, ada 3 nilai penting KAA, yaitu:

  1. KAA menghasilkan “statemen melawan kolonialisme” pertama yang paling sistematik. Imperialisme Eropa telah runtuh pasca Perang Dunia II, namun, berkumpulnya 24 negara yang baru merdeka dalam KAA, telah mempercepat keruntuhannya. [Pasca KAA, semakin banyak bangsa terjajah yang meraih kemerdekaannya; pada tahun 1965, sudah ada 75 negara merdeka]. Menariknya, KAA tidak hanya anti-imperialisme Barat. Beberapa negara peserta KAA yang pro-Barat juga mengkritik dominasi Uni Soviet di Eropa Timur. Karena itulah komunike akhir KAA mengkritik kolonialisme “dalam segala bentuk” (in all its manifestations).
  1. KAA menandai masuknya China sebagai kekuatan politik baru dunia. Diundangnya China membuat khawatir sebagian negara peserta KAA. Dari 29 negara yang menghadiri, 22 di antaranya tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Menlu China, Zhou Enlai, berhasil menghapus ketakutan ini dengan menekankan kerjasama damai. [Enlai mengawali pidatonya dengan kalimat “Saya datang tidak untuk bertengkar…”]
  2. KAA membuka jalan bagi munculnya bentuk baru diplomasi keamanan; yaitu tidak memihak pada salah satu kekuatan besar dunia (Gerakan Non Blok).
AASC 1956 sumber: http://aasc2015.com/?p=323

AASC 1956 sumber: http://aasc2015.com/?p=323

Potensi munculnya kekuatan baru dunia yang menentang imperialisme modern (penjajahan ekonomi) membuat AS dan negara-negara Barat lainnya sangat mengkhawatirkan KAA. Sejak awal mereka berusaha menjegal terlaksananya KAA dengan berbagai cara, antara lain melalui intimidasi media (“beggars who never will learn“). Sebelum KAA, belum pernah ada pemimpin Asia dan Afrika yang berani menyelenggarakan konferensi internasional tanpa sponsor dari AS/Eropa (atau Soviet).

(lebih…)