Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Iran

Category Archives: Politik Iran

Artikel jurnal yang saya tulis (bersama dua kolega) menjadi most popular paper.

Isinya: kajian hukum internasional terhadap pembunuhan atas Jend Qassem Soleimani (dia datang ke Irak dengan pesawat sipil, dengan status sebagai undangan pemerintah Irak, dibunuh oleh militer AS yang menduduki Irak dengan alasan melawan ISIS; padahal Jend Soleimani berperan sangat penting membantu pemerintah Irak melawan ISIS).

Yang berminat membaca, bisa download free di sini: https://scholarhub.ui.ac.id/ijil/vol18/iss4/6/

(written in English)

Posisi Indonesia dalam Perseteruan Nuklir AS-Iran

Dina Yulianti (Dosen Prodi Hubungan Internasional Unpad)Dina

Oleh:

Dina Yulianti (Dosen Prodi Hubungan Internasional Unpad)

Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, baru-baru ini berkunjung ke Indonesia dan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi serta Presiden Joko Widodo.

Press release dari Kementerian Luar Negeri Iran antara lain mengapresiasasi posisi Jakarta di Dewan Keamanan PBB yang mendukung dan mempertahankan JCPOA.

JCPOA (Joint Comprehensive Plan Action) adalah perjanjian nuklir yang ditandantangani oleh P5+1, atau negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB plus Uni Eropa (diwakili oleh Jerman) pada 14 Juli 2015.

Perjanjian yang merupakan hasil upaya diplomasi panjang sekitar dua belas tahun ini dikacaukan oleh aksi mantan Presiden Donald Trump yang secara sepihak menarik diri dari JCPOA pada Mei 2018.

(lebih…)

Kata Pengantar untuk Buku tentang Sang Penumpas ISIS

Beberapa bulan yang lalu, buku ini terbit. Ini buku terjemahan, dan saya diminta menuliskan kata pengantar. Saya terlewat untuk mengabarkannya di FP ini. Karena kemarin artikel saya yang mereview posisi hukum internasional terhadap pembunuhan yang dilakukan oleh AS terhadap Jend Qassem Soleimani dimuat di jurnal [1], saya jadi teringat lagi pada buku ini. Selain, itu, kemarin juga ada yang nanya soal IRGC yang dikatain “teroris” oleh AS (sehingga, salah satu atlet Iran yang menang Olimpiade, yang berprofesi sebagai perawat di RS yang dikelola IRGC, dikatain teroris).

Berikut ini ringkasan kata pengantar saya untuk buku tsb. (selengkapnya bisa baca di bukunya).

***

Seiring dengan maraknya aksi terorisme yang dilakukan oleh ISIS, Al Qaida (dan afiliasinya, seperti Al Nusra, Jaysh al Islam, dll di Suriah), kata-kata “jihad” dan “syahid” jadi memiliki konotasi negatif.

Sebagian pihak Muslim membela diri, menyebut “teroris tidak mengenal agama.” Bila kita mau jujur, ini adalah pernyataan yang tidak ditunjang oleh bukti. Bila teroris tidak mengenal agama, bukankah sangat banyak bukti video para teroris bawa-bawa ayat Quran atau hadis?

(lebih…)

Untuk teman-teman yang berminat membaca artikel ilmiah, berikut ini tulisan saya (artikel jurnal) yang membahas “Review Hukum Internasional terhadap Pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani.”

Terjemahan abstrak: Hukum internasional dibentuk oleh komunitas global untuk menetapkan aturan hukum, norma, dan standar perilaku antara negara-negara berdaulat untuk menciptakan tatanan dunia yang damai. Namun, karena tatanan dunia adalah anarki, tanpa otoritas eksekutif tertinggi, kepatuhan dan ketidaktaatan terhadap hukum internasional seringkali bergantung pada kekuatan negara. Misalnya, pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani, seorang jenderal terkemuka Iran, oleh militer AS di wilayah Irak memicu perdebatan tentang hukum internasional. Artikel ini menunjukkan bahwa tindakan AS melanggar International Humanitarian Law (IHL) & International Human Rights Law (IHRL). Selain itu, AS melanggar the UN Convention for the Suppression of Terrorist Bombings and Convention on the Prevention and Punishment of Crimes against Internationally Protected Persons, including Diplomatic Agents. Argumen-argumen ini didasarkan pada klaim pembelaan diri dan serangan yang akan segera terjadi (imminent attack) dan pelanggaran kebutuhan dan proporsionalitas (necessity and proportionality) yang tidak terbukti. Selanjutnya, AS melakukan terorisme negara (state terrorism) terbatas berdasarkan karakteristik perilakunya dalam kasus ini.

Artikel (berbahasa Inggris) bisa didownload di sini: https://scholarhub.ui.ac.id/ijil/vol18/iss4/6

Pilpres dan Vaksin Iran

Begitu Raisi menang dalam pilpres Iran, media mainstream Barat, maupun media Indonesia (yang bermodal copas-terjemah) dan para “pengamat” yang juga cuma modal copas dari media Barat, demikian juga para pemimpin Israel, ramai menyebarkan narasi yang SERAGAM: presiden baru Iran ini “tukang jagal”, kata mereka.

Bahkan koran Sindo, membuat infografis yang isinya: Raisi pernah “memerintahkan penyiksaan pada wanita hamil”, “tahanan dilempar dari tebing”, “orang-orang dicambuk dengan kabel listrik”.

Orang yang otaknya cerdas, dikiiit aja, bisa merasakan keanehan dari berita ini. Apa mereka pikir, Iran itu negara barbar di benua antah-berantah? Kalau benar Iran negara se-barbar itu, mengapa Human Development Index-nya jauh lebih tinggi dari pada Indonesia?

Iran dan Indonesia itu sama-sama negara berkembang. Bahkan Iran lebih sengsara dari Indonesia karena sejak 1980 sampai sekarang terus-menerus dihajar embargo dan propaganda sektarian dari berbagai penjuru angin. Tapi, di tengah berbagai kepayahan itu, Human Development Index-nya Iran jauh di atas Indonesia (Iran ranking 70, Indonesia di ranking 107). Siapa yang mengukur HDI? PBB. Di antara poin penilaiannya: pendidikan, kesehatan, kondisi perempuan, dll, dan itu semua tidak bisa dicapai dalam waktu semalam. Trend angka HDI Iran terus naik, pun bila dibandingkan dengan HDI di era Shah Pahlevi dulu.

“Mana mungkin media mainstream berdusta!” mungkin ada yang bilang demikian.

(lebih…)

Ada orang bernama Luthfie Assyaukani, salah satu founder Jaringan Islam Liberal (latar belakang pendidikannya Islamic Studies, bukan HI/Politik Internasional) menulis begini di FB-nya:

Bulan Sabit Syiah

Ancaman terbesar bagi stabilitas di Timur Tengah bukanlah Israel, tapi Bulan Sabit Syiah. Pernyataan ini saya dengar dari Prof. Ruhaini Dzuhayatin, tenaga ahli di Kantor Staf Presiden yang juga dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dalam sebuah diskusi tentang konflik Israel-Palestina baru-baru ini.

(lebih…)

Ancaman dari Facebook

Beberapa hari yll, postingan saya bulan Januari, berupa foto Jend. QS dan info webinar tentang beliau, dihapus FB disertai ancaman pemblokiran page.

Hari ini muncul ancaman lagi, dengan menyebut kesalahan yang sama disertai tuduhan “Anda telah melanggar standar komunitas kami terus-menerus”.

Terus-menerus? Lha saya baru sekali itu posting foto Jend QS.

(lebih…)

Mengapa Israel Membunuh Saintis Iran?

Seorang saintis top Iran, Dr. Mohsen Fakhrizadeh, gugur akibat serangan teror (Jumat, 27/11/2020). Dr. Mohsen mengepalai Organisasi Riset dan Inovasi Pertahanan Iran. Selain mengurusi proyek nuklir Iran, dia juga terlibat dalam pembuatan test-kit Covid dan vaksin Covid, yang kini sedang di tahap ujicoba pada manusia.

Pemerintah Iran dengan segera menyebut Israel sebagai pelaku pembunuhan ini. Mereka yang mengikuti dengan intens konflik Iran-Israel akan tahu, bahwa ini bukanlah tuduhan kosong.

Alasannya, pertama, karena yang paling berkepentingan dengan tewasnya saintis Iran adalah Israel. Dalam berbagai forum, mulai dari sekelas Sidang Umum PBB, hingga wawancara biasa, para petinggi Israel sangat sering menyebut nuklir Iran sebagai ancaman bagi dunia.

(lebih…)

Tulisan terbaru di ic-mes.org “AS dan State-Terrorism (Mengenang Qassem Soleimani)”

Penulis: Mu’min Elmin (Dosen Hubungan Internasional Univ. Sulawesi Barat)
Ketika dunia sedang disibukkan oleh pandemi Covid-19, ISIS masih melanjutkan aksi-aksi terornya. Menurut data dari Terrorism Research and Analysis Consortium (TRAC), selama bulan Juli 2020, sisa-sisa ISIS di Irak telah mengklaim 100 serangan di negara tersebut. Pada tanggal 24 Agustus lalu, sebuah ledakan besar di pipa gas Suriah terjadi, yang menyebabkan terjadinya pemadaman listrik secara massal di sana. AS (yang saat ini bercokol di Suriah) menyatakan bahwa pelakunya adalah ISIS. Di Indonesia, selama masa pandemi, Densus 88 juga melakukan penangkapan terhadap sejumlah terduga teroris.
Kejadian-kejadian ini mengingatkan penulis pada pahlawan yang berada di garis depan melawan ISIS, Jenderal Qassem Soleimani. Pada 3 Januari 2020, Soleimani dan rekannya, tokoh milisi Irak yang juga berada di garis depan dalam perang melawan ISIS, Abu Mahdi Al Muhandisi dan tujuh pengawal mereka gugur dibom oleh militer AS. Padahal kedatangan Jenderal Soleimani merupakan undangan resmi kenegaraan dari pemerintah Iraq untuk mengupayakan perdamaian di Irak. Dengan demikian kehadirannya di Irak merupakan representasi resmi negara (Iran) untuk misi diplomasi perdamaian, bukan untuk memulai perang.

AS Mau “Menolong” Tawanan ISIS?

Ini lanjutan dari status kemarin ya. Saya bilang soal “tujuan jangka menengah” dari upaya adu domba di Indonesia akhir-akhir ini adalah “menjauhkan Indonesia dari China dan Iran” (sebenarnya, satu lagi, lupa disebut: Rusia). Argumen dari pernyataan saya ini adalah perkembangan geopolitik global akhir-akhir ini.
Antara lain, sejak awal tahun 2020, AS itu sudah koar-koar bahwa China dan komunisme adalah ancaman dunia. Narasi ini diulang-ulang dalam banyak kesempatan. Antara lain, bulan Juni lalu, Menlu AS, Mike Pompeo menyatakan akan meningkatkan kehadiran pasukannya di Laut China Selatan untuk menghadang bahaya komunisme. Bahkan, secara khusus Pompeo menyebut INDONESIA sebagai salah satu negara Asia Tenggara yang menghadapi ancaman komunisme. Bulan Juli, Pompeo bilang, “Kami melihat Chinese Communist Party (CCP) sebagaimana adanya, yaitu sebagai ancaman utama zaman ini.”
Kebijakan politik luar negeri AS memang sangat dominatif dan hegemonik. AS akan segera mengantisipasi setiap kali ada, sedikit saja, kecenderungan sebuah negara untuk netral atau berbaik-baik dengan China, Rusia, dan Iran.

(lebih…)