Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Iran

Category Archives: Politik Iran

Israel Mengebom Damaskus dan Gaza (Lagi)

Kemarin, Selasa dini hari (12/11/2019) Israel mengebom dua target sekaligus, dalam jeda waktu sekitar 1 jam: kediaman Baha’ Abu Atha di Gaza dan kediaman Akram Ajour di Damaskus. Abu Atha tewas, Akram Ajour selamat (tapi anaknya dan cucu perempuannya tewas).

Kedua orang itu adalah pimpinan Jihad Islam, sebuah milisi perlawanan di Gaza. Dari info ini, ada beberapa poin yang perlu dicatat:

1. Suriah sejak dulu adalah pendukung utama pejuang Palestina melawan Israel. Hamas dan Jihad Islam punya markas di Damaskus. Anehnya, banyak orang yang mengaku pro Palestina malah mendukung penggulingan Assad. Ini artinya mereka belum paham geopolitik, mungkin hanya dengar info dari ustad-ustad IM/HTI/Al Qaida.

(lebih…)

Demo di Irak dan Relasi Iran-Irak

Hari-hari ini Irak dilanda demonstrasi besar. Isu yang diangkat, tak jauh bedalah dengan isu-isu demo di berbagai negara berkembang, yaitu mengecam pemerintah yang dituduh korup, tidak menyediakan lapangan kerja, harga-harga mahal, dan bahkan: memprotes kerjasama Irak dengan China. Mirip ya dengan fenomena di sebuah negara di Asia Tenggara?

Pertanyaannya: mengapa harus bakar-bakaran? Mengapa melakukan perusakan fasilitas umum sehingga akhirnya bentrok dengan aparat? Kelihatan ya, “template” demo-nya? (Baca tulisan saya sebelumnya yang berjudul “template”).

Yang tidak banyak orang tahu: kedutaan besar AS di Baghdad adalah kedutaan yang terbesar yang dimiliki AS di seluruh dunia. Luasnya 42 hektar, dengan staf lebih dari 16.000 orang, termasuk 2000-an diplomat asli AS. Belum kalau dihitung “aktivis” dari berbagai negara asing (setahu saya, dulu juga ada tuh orang Indonesia), yang bebas keluar masuk Irak, blusukan kemana-mana. Yang tidak banyak orang tahu juga: massa diprovokasi melalui medsos, 79% cuitan seruan demo berasal dari Arab Saudi. Tentu media massa Barat tak ketinggalan memanaskan situasi.

(lebih…)

Untuk yang tertarik dengan studi terorisme, ini pembahasan yang menggelitik: AS memasukkan IRGC (Garda Revolusi Iran) sebagai organisasi teroris asing (Foreign Terrorist Organization/FTO). Iran membalas, mendeklarasikan bahwa CENTCOM (Komando Sentral AS) dan segenap tentara AS di Timur Tengah adalah “organisasi teroris”. Nah bagaimana analisisnya? Siapa yang sebenarnya bisa dikategorikan FTO?

Silahkan dibaca, ditulis oleh Prihandono Wibowo (Staf Pengajar di UPN “Veteran” Jawa Timur)

Masalah Pelabelan “Teroris” Terhadap Garda Revolusi Iran

China dan Timur Tengah

Masih saja beberapa orang nanyain pendapat saya tentang Uyghur, cuma mohon maaf banget, masih belum sempat menuliskannya.

Sementara, ini saya share artikel saya yang baru saja tayang, berjudul “Strategi Soft Power dalam Ekspansi Ekonomi China Di Timur Tengah: Studi Kasus Kerjasama China-Iran” [dimuat di Jurnal Mandala, UPN Veteran Jakarta]

**
Intinya adalah: China sangat bersemangat menjalin hubungan baik dengan negara-negara Timteng dan Sejak 2010, China telah menggantikan AS sebagai partner perdagangan terkuat di kawasan.

Di saat yang sama, semua tahu, China mengalami ‘pembunuhan karakter’ (dicitrakan sebagai ‘ancaman’), sehingga China berupaya kuat untuk menunjukkan kepada negara-negara Timur Tengah bahwa dirinya bukanlah ancaman. Uniknya, China mampu menjalin hubungan baik dengan semua pihak, bahkan termasuk dengan negara-negara Timteng yang satu sama lain saling berseteru.

Misalnya, ketika di saat yang sama China seolah menjadi ‘pelindung’ bagi Iran di tengah embargo yang dilancarkan AS (China merupakan partner dagang terbesar Iran, yaitu sekitar 22,3% dari nilai total perdagangan Iran), China merupakan partner yang serius bagi Arab Saudi yang merupakan rival Iran di kawasan.

(lebih…)

Reportase Saya dari Iran, Soal Hezbollah

Pagi-pagi baca postingan di Fanpage Felix Irianto Winardi membuat saya teringat pada arsip tulisan lama saya. Romo Felix menulis apa saja kunci kemenangan Hez lawan Israel selama ini (https://www.facebook.com/felix.irianto.winardi/posts/368004823955639).

Tahun 2006, saya menulis ‘laporan pandangan mata’ dari Iran, karena saat Perang 34 Hari Hez vs Israel berlangsung, saya sedang berada di Iran, bekerja sebagai jurnalis di IRIB.

***

Menatap Wajah Hezbollah dari Iran (Dina Sulaeman, dimuat di Padang Ekspres, 3 Agustus 2006)

Sejak meletusnya perang di Lebanon, suasana perang amat terasa di Iran, terutama jika kita banyak menonton televisi. Betapa tidak, tiap sebentar diputar filler (film pendek) berisi adegan-adegan perang, dilatarbelakangi lagu-lagu heroik berbahasa Arab. Pidato Sayid Hasan Nasrallah, pemimpin Hezbollah Lebanon, yang berisi ancaman-ancaman terhadap Israel disiarkan live atau siaran tunda. Laporan-laporan reporter televisi Iran disampaikan secara live dari Lebanon, bahkan ada reporter yang melaporkan kondisi terakhir dengan diiringi suara bom beruntutan dan asap hitam di belakang punggungnya. Setiap hari, berita channel satu pukul sembilan malam akan dimulai dengan kalimat, “Perjuangan hari kesekian (ketiga.. ke sembilan..ke duapuluh)…” lalu mengabarkan kondisi terbaru di medan perang.

(lebih…)

Seandainya ini foto dari Teheran (atau Damaskus)…

Kalau kejadian ini (aksi protes, dihadapi dengan gas air mata) terjadi di Teheran, seorang so called “pengamat Timur Tengah senior” , akan segera menulis di koran terkemuka: inilah kegagalan rezim Mullah!

Dia pernah menulis, “Ideologi kubu konservatif dapat dikenali dari kebijakan luar negeri yang resisten terhadap Barat dan pandangan budaya Iran lebih kaya ketimbang bangsa lain. Akibatnya, parabola dilarang, internet dikontrol, ada pengawas kode berpakaian. AKIBATNYA program kerja pemerintahan kubu moderat tidak maksimal.”

Jadi logika dia: karena parabola dilarang, internet dikontrol, perempuan musti pake hijab —> EKONOMI susah!

Penulis perempuan [feminist] pun banyak yang demen menimpakan masalah di Iran pada urusan hijab. Seolah-olah gara-gara pake hijablah ekonomi sebuah negara ruwet.

(lebih…)

Medsos dan Pergeseran Gaya Diplomasi

Ini mungkin bisa jadi ide untuk mahasiswa HI yang sedang cari-cari topik skripsi/tesis. Perhatikan, seiring dengan meluasnya penggunaan medsos oleh para elit, terutama setelah Trump jadi presiden, terjadi perubahan pada cara-cara diplomasi. Bila di masa lalu, pesan disampaikan di publik dalam bahasa samar [diplomatis], kini pesan disebar terbuka, blak-blakan, dan menjangkau publik yang luas, baik domestik maupun asing. Seperti dikatakan Harder (2012), Twitter makes ‘foreign policy less foreign to the public’.

Perhatikan di kasus perang medsos AS vs Iran ini. Bulan Juli lalu, Trump mencuit dengan menggunakan CAPSLOCK (huruf besar semua), mengancam Iran; dan langsung dibalas tajam oleh Menlu Javad Zarif.

Kini, Trump mencuit dengan menggunakan meme ala GoT: sanksi akan datang pada 5 Nov. Yang dimaksud adalah sanksi terhadap Iran; AS terus menuduh Iran sedang membuat senjata nuklir dan memberi sanksi ekonomi [melarang negara-negara dunia menjalin bisnis dengan Iran].

(lebih…)

Q&A Tentang Iran (3): Perempuan, Jilbab, dan Ekonomi

Iranian-women

Baca bagian pertama

Baca bagian kedua

Q:Apakah benar sistem pemerintahan Islam Iran (yang di antaranya menetapkan aturan jilbab) merupakan akar masalah ekonomi?

A: Sebelum menjawab, saya cerita dulu.

Pemberitaan media mainstream tentang aksi demo antipemerintah Iran Desember 2017-Januari 2018, berusaha mengangkat perempuan tak berhijab sebagai bukti bahwa “Iran ingin perubahan [tidak lagi pemerintahan Islam].”

Berbagai website memakai foto yang ini lagi-ini lagi  (mungkin karena tidak ada lagi yang lain):

iran women

Lalu, diviralkan pula (dan diberitakan luas) video seorang perempuan yang membuka jilbabnya di depan umum. Video itu pertama kali dipublish oleh web “My Stealthy Freedom”. Situs ini dimiliki oleh Masoumeh Masih Alinejad, seorang perempuan iran yang tinggal di New York. Menurutnya, kampanye membuka hijab adalah “silent protest against women’s subordination under sharia.”

(lebih…)

Q&A Tentang Iran (2): Tentang Aset dan JCPOA

JCPOA

Baca Q&A bagian pertama.

Q:  Apa benar uang Iran yang dibekukan AS sudah dicairkan?

A:  Dalam studi HI, pernyataan-pernyataan kepala negara dan pejabat penting negara adalah data primer. Jadi, silahkan cek pernyataan-pernyataan Presiden Iran di media, apa ada pengakuan bahwa uang Iran yang dibekukan AS sudah dicairkan? Tidak ada. Ketika tidak ada, lalu seorang ‘pengamat’ mengutip media massa, dan media massa itu juga entah mengutip darimana, nilai validitasnya lebih rendah.

Salah satu di antara pernyataan pemerintah Iran adalah pernyataan Presiden Rouhani pada 1 Februari 2018. Ia mengatakan:

“No-one in Washington is allowed to make decisions for the great Iranian nation…”

“If you are being sincere [about your compassion for the Iranian nation], then how about returning the confiscated properties of the Iranian people?…”

[Jika Anda –Amerika- benar-benar tulus terhadap bangsa Iran, bagaimana bila Anda mengembalikan harta bangsa Iran yang Anda rampas?]

Q: Mengapa kekayaan Iran dibekukan AS?

A: Memang inilah modus AS merampok uang bangsa-bangsa di dunia dengan alasan ‘demokrasi’. Saat Presiden Qaddafi kerepotan menghadapi “jihadis” (yang kemudian dibantu oleh NATO), aset-aset Libya senilai 150 M USD yang disimpan di AS, Perancis, Inggris, Belgia, Netherland, Italia, Kanada, dibekukan. Benar-benar sebuah ‘kebetulan’ bahwa negara-negara ini bersama-sama bergabung dalam NATO. Setelah pemerintahan transisi Libya (pro AS) terbentuk, uang itu dicairkan tapi diberikan kepada Libya dalam bentuk hutang. Mengapa pemerintah transisi Libya mau? Simpel sekali, karena mereka bisa naik ke tampuk kekuasaan berkat ‘bantuan’ NATO.  (baca: Perampokan ala NATO)

Itu pula yang terjadi di Iran. Karena pemerintah baru Iran pasca tergulingnya Shah Pahlevi adalah pemerintahan yang anti-AS, semua aset Iran dibekukan. Pembekuan aset ini tidak hanya terkait uang yang berada di DALAM negeri AS, tapi juga di bank-bank lain di berbagai penjuru dunia.

Bank-bank dan perusahaan Iran tidak bisa mengambil uang yang mereka simpan di Eropa, bahkan termasuk uang penjualan minyak Iran. Misalnya, Shell mengaku menyimpan 2,3 miliar USD uang Iran, yang seharusnya dibayarkan atas pembelian minyak Iran.

(lebih…)

Q&A Tentang Iran (1)

Sebagai bantuan untuk para pemerhati Timteng dan para mahasiswa yang sedang menulis tesis/skripsi/disertasi tentang Iran, saya akan menjelaskan beberapa hal tentang Iran, dengan merujuk ke data yang valid (bukan disuplai kedutaan). 🙂  Btw, saya nulis ini dengan sukarela lho ya, bukan dibayar kedutaan. 🙂  Soalnya ada saja tuh yang mengontak saya, minta saran-saran dan info karena sedang nulis skripsi/tesis/disertasi tentang Iran.

1.Q (Question): Bagaimana sebenarnya posisi Wali Faqih/Rahbar/Leader dalam sistem pemerintahan Iran? Apakah bila Rahbar tidak bisa menjalankan tugasnya (baik itu dilengserkan, lengser sukarela, atau meninggal), posisinya otomatis digantikan presiden?

A (Answer):

Di UUD RII [Republik Islam Iran] Bab 8 Pasal 107, disebutkan bahwa setelah kematian Imam Khomeini yang dipilih rakyat sebagai Rahbar [1], Rahbar selanjutnya ditetapkan oleh Dewan Pakar (Majles-e Khubregan-e Rahbari) yang DIPILIH OLEH RAKYAT [2]. Dewan Pakar harus mencari orang-orang yang memenuhi seluruh syarat sebagai Rahbar [3]

Terakhir ada kalimat: Rahbar dar bara bare qawanin ba sayer-e afrad-e keshwar musawi ast. Artinya: Rahbar di hadapan hukum SETARA dengan individu warga negara lainnya.

107

Bab 8 Pasal 107 UUD RII

(lebih…)