Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Luar Negeri

Category Archives: Politik Luar Negeri

Telah terbit: “Message for Humanity – Selections of essays and writings by Andre Vltchek”. Buku ini berisi 15 esai dan tulisan karya Andre Vltchek yang dipilih oleh 11 teman, kolega, dan kawan Andre dari berbagai belahan dunia. Mereka menjelaskan mengapa esai / tulisan tersebut penting bagi kemanusiaan.

[Saya, Dina Y. Sulaeman, salah satu di antara yang mendapatkan kehormatan untuk berbagi dalam buku ini.]

Buku ini mencakup berbagai masalah di berbagai wilayah seperti Afghanistan, Suriah, China, Oseania.

Jurnalis senior terkemuka, John Pilger, menulis uraian singkat untuk buku ini. Dia menulis: “Andre Vltchek is humanity’s and journalism’s immeasurable loss. Andre honoured the description ‘maverick’ — he was a maverick without peer. Whenever a vital issue was pushed into the recesses of our memory, Andre would rescue it and remind us why we should never forget: why we should keep fighting for what was right. Perhaps above all, he understood the nature of imperialism and tore away its modern disguises with his powerfully moral, bracing prose. I salute him.”

Buku ini diterbitkan oleh Badak Merah Pte. Ltd. Buku (edisi kindle) bisa dibeli di: https://www.amazon.com/dp/B08RDXJ31S/

“Anda Tidak Perlu Jadi Yahudi untuk Menjadi Zionis”

Alhamdulillah, meskipun media Israel (dan digemakan oleh media lokal) berusaha menggiring opini publik Indonesia, “pemerintah Indonesia akan menormalisasi hubungan dengan Israel”, Kemenlu sudah menyatakan tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel dan akan tetap konsisten membela Palestina.

Indonesia adalah negara demokratis dan suara masyarakat sangat berperan dalam pengambilan keputusan. Indonesia berbeda dengan UAE, Bahrain, Maroko; mereka adalah negara monarki. Apa kata pemimpinnya, itulah yang dilakukan. Rakyat ga bisa protes. Sementara, sudah bukan rahasia bahwa sejak Arab Spring, raja-raja Arab ketakutan akan digulingkan oleh rakyatnya. Mereka butuh perlindungan agar tetap di singgasananya dan yang menawarkan perlindungan adalah AS.

Sebaliknya, pemerintah Indonesia didukung rakyatnya dan tidak butuh perlindungan kekuatan asing.

(lebih…)

Berita yang terlewat…

Ada berita yang terlewat: “Indonesia membuka layanan calling visa untuk Israel”

Saya copas sebagian isinya;

Saat seluruh perbatasan Indonesia masih ditutup untuk kunjungan orang asing karena pandemik COVID-19, pemerintah mendadak membuka layanan “calling visa”. Layanan ini dibuka untuk delapan negara, termasuk Israel, Ketujuh negara lain adalah Afghanistan, Guinea, Korea Utara, Kamerun, Liberia, Nigeria dan Somalia.

Dalam keterangan tertulisnya, Kabag Humas dan Umum Dirjen Imigrasi, mengatakan: alasan dibukanya kembali pelayanan calling visa ialah karena banyaknya tenaga ahli dan investor yang berasal dari negara-negara calling visa.

Menilik situasi, waktu, serta alasan dibukanya layanan calling visa ini menarik. Sampai saat ini, praktis Indonesia masih menutup perbatasannya dari kunjungan warga negara asing, sesuai dengan Permenhukham No. 1/2020, yang kemudian diganti dengan Permenhukman No. 26/2020 tentang Visa dan Izin Tinggal Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru.

Jadi, kalau payung besar penutupan perbatasan negara untuk perlindungan dari COVID-19 masih diberlakukan, mengapa justru Ditjen Imigrasi secara khusus membuka layanan calling visa untuk delapan negara itu? Alasan tenaga ahli, investor, kawin campur menurut saya kurang cocok dikenakan ke delapan negara, mengingat kondisi ekonomi dan politik yang sama atau di bawah Indonesia. Kecuali Israel.

Mungkinkah, ketujuh negara itu hanyalah “pelengkap” bagi Israel?

Baca selengkapnya tulisan jurnalis senior, Uni Lubis, membahas masalah ini: https://www.idntimes.com/opinion/politic/amp/uni-lubis/mendadak-pemerintah-indonesia-buka-visa-calling-untuk-israel

——————–

Komentar saya: pihak-pihak yang menghendaki dibukanya hubungan diplomatik Indonesia-Israel memang kelihatannya semakin kuat. Kalau masih ada yang berani bersuara dukung Palestina biasanya langsung dicap “radikal” dan disamakan dengan kelompok onoh yang memang -sayangnya- terbukti radikal.

Padahal pembela Palestina itu sangat luas faksinya.. bahkan orang-orang non-Muslim pun sangat gigih menjadi pembela Palestina (misalnya, para aktivis BDS di negara-negara Barat atau aktivis di Amerika Latin).

Pembelaan pada Palestina dan penolakan atas penjajahan Israel, mengecam kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan Israel adalah AMANAH UUD 1945 kita: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Semoga pemerintah Indonesia bisa tetap menjaga amanah ini, dan tidak tertipu oleh jargon-jargon kosong seperti “kalau mau mendamaikan dua pihak ya harus berteman dengan kedua pihak dong!” atau “Israel itu negara sangat kaya dan sangat canggih, kita bisa untung besar kalau buka hubungan diplomatik dengan Israel!”

Sekedar mengingatkan: tanggal 29 November adalah hari yang ditetapkan PBB sebagai “Hari Solidaritas Internasional Bersama Bangsa Palestina”

Mengapa Israel Membunuh Saintis Iran?

Seorang saintis top Iran, Dr. Mohsen Fakhrizadeh, gugur akibat serangan teror (Jumat, 27/11/2020). Dr. Mohsen mengepalai Organisasi Riset dan Inovasi Pertahanan Iran. Selain mengurusi proyek nuklir Iran, dia juga terlibat dalam pembuatan test-kit Covid dan vaksin Covid, yang kini sedang di tahap ujicoba pada manusia.

Pemerintah Iran dengan segera menyebut Israel sebagai pelaku pembunuhan ini. Mereka yang mengikuti dengan intens konflik Iran-Israel akan tahu, bahwa ini bukanlah tuduhan kosong.

Alasannya, pertama, karena yang paling berkepentingan dengan tewasnya saintis Iran adalah Israel. Dalam berbagai forum, mulai dari sekelas Sidang Umum PBB, hingga wawancara biasa, para petinggi Israel sangat sering menyebut nuklir Iran sebagai ancaman bagi dunia.

(lebih…)

Diskusi Dina Y. Sulaeman dengan Gus Najih, Habib Nuruzzaman, dan Eko Kuntadhi

https://www.youtube.com/watch?v=GJw3opEYdv0

Antara Biden dan Trump, Mana yang Lebih Baik untuk Timur Tengah?

Konflik antara Amerika Serikat dengan Timur Tengah telah berlangsung sejak lama dalam beberapa dekade terakhir. Permasalahannya adalah Amerika Serikat (AS) sering kali menerapkan kebijakan-kebijakan ektrem, terlebih pada masa kekuasaan Donald Trump yang membuat hubungan antara AS dan negara-negara Timur Tengah semakin memanas. Lalu, bagaimanakah dampak Pilpres AS 2020 terhadap negara-negara di Timur Tengah?

Silakan baca selengkapnya, wawancara saya dengan Ketik Unpad 🙂https://ketik.unpad.ac.id/…/antara-biden-dan-trump-mana…

Salah Kaprah Soal Boikot

Membaca berbagai aksi boikot yang berupa perusakan (dan tentu saja langsung jadi bahan ejekan rame-rame), saya jadi merasa perlu nulis, apa sih esensi boikot itu?

Saya jelaskan dulu posisi saya: saya tidak memboikot produk Prancis, tapi selama bertahun-tahun BERUSAHA (sebisa saya) menghindari membeli produk-produk yang terbukti memberikan sebagian profitnya kepada Israel; atau jelas-jelas bikin pabriknya di atas tanah pendudukan Palestina (Occupied Palestine). Kalau kebetulan ada produk Prancis yang juga dukung Zionis, nah produk ini juga saya hindari.

Ada 7 poin penting soal boikot ini.

(lebih…)

Beberapa Poin Penting Soal Kasus Prancis (2)

Ada poin yang perlu saya perdalam (lanjutan dari tulisan kemarin). Begini, apa sih sebenarnya masalah utama dalam kartun-kartun karya Charlie Hebdo tentang Nabi Muhammad?

Sebagian komentator berkata, “Yang digambar itu bukan Nabi, darimana lo tau itu wajah Nabi, jadi ngapain marah?” Ini sudah saya jawab kemarin ya.

Ada yang bilang, “Nabi aja ga marah kalau dihina, ngapain lo marah?” Saya juga sudah jawab kemarin. Emang ada UU yang melarang orang marah saat sosok yang dicintainya dihina? Kadar kecintaan kan beda-beda. Yang salah adalah kalau lo ngamuk dan menyakiti orang lain.

Sebagian yang lain bicara soal “haram memvisualisasikan wajah Nabi”. Ini biasanya dibantah oleh pembela CH: ya kan haram buat elo Muslim, kalau non-Muslim kan ga terikat oleh hukum Islam?

Nah, ini yang perlu saya perdalam.

Kalau soal haram-halalnya visualisasi wajah Nabi, itu urusan teologi. Silakan para teolog berdebat. Orang Iran, tahun 2015 (dalam rangka membalas aksi-aksi penghinaan yang dilakukan Barat terhadap Nabi) pernah membuat film yang sangat bagus tentang masa kecil Nabi Muhammad. Film ini tidak memperlihatkan wajahnya (yang disorot tangan, kaki, bagian belakang kepala, dengan cara yang artistik). Yang membuat filmnya adalah sutradara sangat terkenal, Majid Majidi, yang berkali-kali dapat penghargaan dalam festival film internasional. Film ini diprotes oleh sebagian ulama Arab, dengan alasan “haram visualisasi wajah Nabi”. Kontennya yang sangat bagus diabaikan oleh mereka.

Komentar saya: kalau urusan fiqih mah terserah; tapi saya tetap nonton filmnya. [1]

Menurut saya, yang penting dikritisi adalah KONTEN kartunnya.

Saya mencoba mencari tahu apa pendapat penulis Barat (bukan orang awam) terhadap kartun ini. Saya sebagai Muslim, mungkin dianggap tidak objektif. Apalagi kan para pemuja Prancis berbusa-busa bercerita soal “nilai-nilai” Prancis dan berkata, “Jangan samakan dong cara mikir orang Islam dengan cara mikir orang Prancis!”

Saya temukan tulisan Jon Wiener (editor thenation.com). Posisi dia adalah membela Charlie Hebdo, tapi mengkritik kartunnya. [2]

Ini saya terjemahkan bagian pentingnya:

***

Tapi kita semua setuju bahwa Charlie Hebdo harus dibela. Pertanyaannya adalah apakah kartun mereka harus dirayakan? … Masalahnya adalah kartunnya. Kita disebut tidak memahami mereka…

Hal yang paling tidak menyenangkan yang pernah saya lihat adalah pada gambar yang diberi label “Muhammad” dan menunjukkan ia telanjang di tangan dan lututnya dengan pantat di udara, mengundang seks anal; kartunis menggambar bintang di atas anusnya, dan judulnya bertuliskan “bintang telah lahir”.

Dalam kartun kedua, sosok “Muhammad” telanjang yang jelek dalam pose yang sama bertanya kepada sutradara yang merekamnya, “Apakah kamu suka pantatku?”

Kartun Charlie Hebdo, kata Katha [pemberi penghargaan pada CH], benar-benar “kebalikan dari apa yang tampak bagi pembaca Amerika”; Anda harus “tenggelam dalam budaya kartun Prancis” untuk memahaminya.

Mungkin, tapi bagi saya tidak. Faktanya, konteks kartun “seorang bintang telah lahir” tidak sulit ditemukan: Charlie Hebdo mengomentari video YouTube yang terkenal, “The Innocence of Muslim,” yang dirilis pada tahun 2012, yang menurut The New York Times, menggambarkan Nabi Muhammad sebagai “badut, wanita, homoseksual, penganiaya anak, dan preman rakus haus darah.”

Charlie Hebdo di sini tampaknya terus menumpuk rasisme, alih-alih menunjukkan upaya Prancis untuk [melawan] rasisme. Sulit membayangkan bahwa seorang Muslim Prancis akan melihat kartun “seorang bintang telah lahir” di Charlie Hebdo ini sebagai sesuatu yang bukan ofensif dan mengerikan…

…Katha berpendapat bahwa kartun tersebut sebenarnya mengejek penguasa Muslim fundamentalis yang menindas wanita. Tapi lihatlah kartun itu lagi: kartun itu bukan tentang membela wanita Muslim dari para imam fundamentalis; kartun itu tentang “Muhammad” yang mengajak seks anal.

Saya ragu apakah wanita Muslim Prancis sekuler atau moderat akan melihat kartun ini mewakili pandangan mereka atau membela posisi mereka. Saya membayangkan itu akan memiliki efek sebaliknya dan menarik mereka kembali ke kubu untuk membela Islam. —akhir kutipan—

***

Perhatikan, bahkan di mata orang Barat yang sekuler pun (dan dia membela “hak” Charlie Hebdo), kartun ini memang kurang ajar. Tapi yang dilakukan pemerintah Prancis adalah melindunginya, bahkan memberikan bantuan dana. Apa pemerintah Prancis benar-benar mau melawan ekstremisme atau justru sedang memupuknya dengan cara terus memprovokasi?

Karya karikatur adalah sebuah pemikiran, nilainya sama dengan tulisan, tetapi ini menggunakan media gambar dan teks. Jadi, melawan Charlie Hebdo (dan aksi-aksi serupa atas nama “kebebasan berekspresi”) adalah melawan pemikiran yang salah, sesat, jahat, dan penuh penghinaan tentang Nabi Muhammad.

Nah, melawannya bagaimana?

Seperti saya bilang kemarin, antara lain dengan menulis atau demo. Tapi, kalau pun mau demo, tentu demo yang tulus, bukan dengan misi mengganggu pemerintah negara kita.

Atau, dengan menyebarkan pemikiran tandingan, klarifikasi, mengenai betapa mulianya Nabi Muhammad; jauh sekali dari yang digambarkan oleh Charlie Hebdo dan majalah kurang ajar lainnya. Bisa lewat gambar (buku cerita), lagu, atau film, atau menyebarkan kata-kata beliau (hadis).

Allahumma shalli alaa Muhammad wa aali Muhammad

———————

[1] Film Nabi Muhammad: https://ikmaltv.com/?post=qpotyngmzt (film ini ada terjemahan versi terbaru, diterjemahkan dari bahasa Persia langsung. Kalau yang beredar berbulan-bulan yll kan diterjemahkan dari bahasa Turki, jadi ada yang tidak akurat).

[2] https://www.thenation.com/article/archive/defend-charlie-hebdos-publishing-disgusting-cartoons-about-muslims-yes-give-them-award-i/

Tulisan bagian (1): https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/719342085326701

Beberapa Poin Penting Soal Kasus Prancis

1. Pemerintah RI sudah mengeluarkan pernyataan resmi: mengecam keras aksi kekerasan, tapi juga mengecam tindakan penghinaan terhadap agama Islam. Kata Presiden Jokowi, “Kebebasan berekspresi yang mencederai kehormatan, kesucian, serta kesakralan nilai-nilai dan simbol agama sama sekali tidak bisa dibenarkan dan harus dihentikan.”Saya mendukung pernyataan ini.

2. Muncul beberapa upaya membela Macron dengan menyebut pidatonya dipelintir. Tapi, poin penting dari pidato Macron yang memicu ketersinggungan sebagian umat Muslim adalah soal kartun menghina Nabi, yang dibuat tabloid Charlie Hebdo, tidak dibahas. Tonton video ini, biar jelas apa perkataan Macron sebenarnya yang memicu kemarahan, awalnya tersebar di Timur Tengah, lalu meluas kemana-mana. Lihat mulai menit 1:07; Macron memuji Paty (guru yang secara demonstratif menunjukkan karikatur Nabi di kelasnya) sebagai “pahlawan” dan Macron menyatakan “tidak akan menarik kartun itu.” FYI, tidak semua Presiden Prancis sekoplak Macron (dan orang-orang Indonesia pembela Macron). Tahun 2006 itu, ketika pertama kali Charlie Hebdo bikin onar (dengan menerbitkan kartun penghinaan terhadap Nabi Muhammad), Presiden Prancis Jacques Chirac menyebut ini “provokasi terang-terangan” yang dapat mengobarkan kemarahan. “Apa pun yang dapat melukai keyakinan orang lain, khususnya keyakinan agama, harus dihindari”, kata Chirac.

3. Presiden Macron bicara soal fundamentalisme Islam, terorisme, kekerasan (catet ya: INI PUN DILAWAN sebagian besar umat Muslim); tapi dia membiarkan orang-orang yang melakukan provokasi, atas nama “kebebasan”. Ibaratnya, udah tau ada segelintir orang yang ngamukan, eh malah dipancing-pancing supaya ngamuk. Jangan lupa, Prancis juga yang mensponsori “jihad” di Suriah (silakan baca buku saya Prahara Suriah).

4. Ada yang bilang: ngapain tersinggung, toh yang digambar itu bukan Nabi Muhammad? Emang lo tau wajah Nabi? Coba pelajari teori hermeneutik: sebuah karya itu selalu lahir dari konteks. Artinya, kita dalam menganalisis sebuah karya (teks, lukisan, lagu) seharusnya teliti pula konteksnya. Teliti petunjuk-petunjuk yang dibuat oleh si pembuat karya, sebenarnya apa yang dia sasar? Dan begitulah cara kita membaca karikatur selama ini, kan? Contoh, tanpa disebut nama, kita bisa paham bahwa sebuah karikatur sedang membahas seorang pejabat. Dari mana kita paham? Ya dari konteks dan segala petunjuk/simbol yang ada di karikatur itu.

5. Pada tahun 2006, cover tabloid Charlie Hebdo ada gambar orang Arab berserban hitam, dengan judul: “Mahomet débordé par les intégristes” (“Muhammad kewalahan oleh fundamentalis”), lalu ada balon berisi tulisan “C’est dur d’être aimé par des cons” (“sulitnya dicintai oleh kaum bodoh”). Waktu itu, organisasi Islam di Prancis melakukan tuntutan ke pengadilan, tapi kalah. (Inilah kasus yang dikritik Chirac, poin 2.)Tahun 2011, cover Charlie Hebdo berjudul “Sharia Hebdo”, bergambar seorang Arab berserban dengan balon berisi kalimat “hukum cambuk 100 kali kalau tidak mati ketawa”.Di dalam tabloid ini, ada kartun-kartun yang mengolok-olok perilaku yang mereka sebut “syariah” dan di cover belakang, ada gambar laki-laki yang buruk sekali, dengan hidung merah seperti badut, ditulis “Mahomet”, dengan kalimat “Islam itu cocok dengan humor”.Siapa Mahomet yang dimaksud? Di dalam tabloid itu, di bagian editorial, disebutkan “Editorial, oleh Muhammad”.. di akhir kalimat disebutkan “Muhammad Rasul Allah”. Jadi, CH mengolok-olok, menyebutkan bahwa edisi “Sharia Hebdo” ini dieditori oleh Nabi Muhammad. [1] Lalu, September 2020, CH malah mempublikasi ulang karikaturnya itu, padahal sudah jelas telah terjadi kekerasan akibat karikatur itu di tahun 2011 dan banyak nyawa yang melayang.Orang normal akan membaca karikatur karya CH ini dengan cara normal pula, yaitu melihat konteksnya: ini sedang bicara soal Nabi Muhammad dan umat Muslim; ini sedang memprovokasi, mengejek, menghina. Terlalu mengada-ada mencari tafsiran lainnya. Kalaupun ada tafsiran, biasanya menggeser fokus, misalnya, “Ya kan emang bener, ada kelompok-kelompok teroris atas nama Islam?” [dan ga usah komen ngajarin saya soal ini karena saya sejak 2011 sudah menulis soal Suriah yang jadi target penghancuran oleh Al Qaida, dan kemudian ISIS]. Jadi, fokus pada isu awal: Charlie Hebdo menggambar seseorang yang sangat jelas bisa ditafsirkan sebagai sosok Nabi Muhammad, dengan CARA BURUK.

6. Orang tersinggung BERBEDA dengan orang ngamuk dan main penggal ya. JANGAN KOPLAK dengan menuduh orang yang tersinggung ketika Nabinya dihina SAMA DENGAN teroris yang melakukan aksi kekerasan.Tersinggung, marah, adalah sebuah hak pribadi. Jadi, ketika (sebagian) umat Muslim TERSINGGUNG karena Nabi Muhammad, yang sedemikian dicintainya, dibuatkan karikatur yang amat-sangat buruk, itu adalah HAK. Siapa Anda melarang-larang kami tersinggung? Adakah UU yang melarang manusia tersinggung?Yang SALAH dan melanggar hukum adalah mengungkapkan ketersinggungan itu dengan pembunuhan/terorisme. Ini sangat jelas, JANGAN dipelintir dengan menyamaratakan bahwa semua umat Muslim yang tersinggung sama dengan teroris. Lalu, apa cara bijak mengungkapkan protes atas kekurangajaran Charlie Hebdo? Ya banyak, misalnya demo damai, menulis di medsos, bikin acara diskusi, atau boikot. Boikot ga perlu diejek, itu kan hak pribadi. Duit-duit mereka, terserah mereka mau beli suatu produk atau tidak.

7. Sekedar info tambahan: kalau betul di Prancis ada kebebasan sehingga tulisan/gambar apapun yang dibuat orang tidak boleh dihukum, lalu mengapa Zeon, kartunis Prancis, ditahan tahun 2015 karena membuat kartun soal Zionis (tapi dia dituduh membuat kartun “anti-Yahudi” padahal Zeon sendiri seorang Yahudi). Lalu pernah ada kasus komedian Prancis M’bala M’bala yang ditahan karena dituduh melakukan gestur anti-Yahudi [istilah di Barat: “antisemit”]. Mengapa Prancis melarang sikap antipati pada Yahudi, tapi melindungi orang yang menggambar –dengan cara amat buruk– Nabi yang sedemikian diagungkan umat Muslim?

Jadi, menurut saya, sikap pemerintah RI adalah yang terbaik: mengecam aksi-aksi kekerasan atas nama agama, tetapi juga mengecam penghinaan terhadap agama.

Allahumma shalli alaa Muhammad wa aali Muhammad.—–

[1] baca sebagian terjemahan kartun Charle Hebdo di sini: https://bogardiner.wordpress.com/…/a-closer-look-at…/

Mengenang Qaddafi

Tanggal 20 Oktober 2011 adalah hari terbunuhnya pemimpin Libya, Moammar Qaddafi. Ada banyak versi berita tentang Qaddafi. Sangat banyak media yang mengisahkan hal-hal buruk tentangnya.

Namun, untuk cross-check, kita bisa merujuk data dari PBB. Tahun 2010, Libya adalah negara dengan Human Development Index (HDI) tertinggi di Afrika, dan di peringkat 57 dunia. Ini adalah posisi yang jauh lebih baik daripada Indonesia yang pada tahun yang sama, cuma di peringkat 112.

Dalam situs UNDP dicantumkan bahwa pengukuran HDI dimaksudkan untuk mengetahui kondisi kehidupan manusia, dengan berbasis tiga hal berikut ini: kehidupan yang sehat, panjang umur, dan kreatif; memiliki pengetahuan, serta memiliki akses terhadap sumber daya yang diperlukan untuk memiliki kehidupan yang layak.

(lebih…)