Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Luar Negeri

Category Archives: Politik Luar Negeri

Iklan

Late post.
Tanggal 5 April yang lalu saya diwawancarai Kumparan dot com terkait proklamasi Trump atas kedaulatan Israel di Golan.

https://kumparan.com/@kumparannews/tujuan-trump-akui-golan-bantu-israel-atau-persiapan-hadapi-pemilu-1qpLMprs0RE

Iklan

Catatan Harian Warga AS: “Kelompok Teroris Adalah Sekutu Kita”

Artikel ini bagus sekali, menjelaskan ‘apa yang dipikirkan dan dilakukan elit AS’ di berbagai penjuru dunia, mulai dari Afghanistan tahun 1980-an, lalu Eropa Timur, lalu Afrika, Timur Tengah, bahkan Indonesia.

Ditulis oleh orang AS, Chris Kanthan (penulis buku “Deconstructing the Syrian War”). Sudah diterjemahkan ICMES ke Bahasa Indonesia.

Cara nulisnya juga menarik dan mudah dicerna. Wajib baca bila ingin memahami bagaimana peran yang dilakukan kelompok-kelompok “jihad” atas nama Islam untuk membantu elit AS menguasai sumber daya alam di berbagai penjuru dunia.

https://ic-mes.org/politics/catatan-harian-warga-as-kelompok-teroris-adalah-sekutu-kita/

Prahara Suriah, Hoax, Media Sosial, Perpecahan Bangsa

Banyak orang resah melihat semakin meningkatnya radikalisme di Indonesia dan semakin kerasnya friksi antarumat akibat perbedaan posisi politik. Banyak yang luput memahami fenomena ini dari perspektif geopolitik global, khususnya yang terkait dengan Perang Suriah.

Inilah era Facebook, Twitter, dan WA, ketika perang tidak hanya terjadi di Damaskus, Homs, Idlib, atau Aleppo, melainkan merasuk hingga ke rumah dan mimbar-mimbar di Indonesia. Kemarahan terhadap orang-orang yang terlibat perang nun jauh di sana, ditumpahkan melalui narasi penuh kebencian di berbagai forum, disertai dengan berbagai foto dan video palsu, dengan tujuan merekrut petempur dan donasi.

(lebih…)

BEDAH BUKU “PRAHARA SURIAH” & “SALJU DI ALEPPO”

BEDAH BUKU “PRAHARA SURIAH” & “SALJU DI ALEPPO” (karya Dina Y. Sulaeman) dan “MUSIM SEMI SURIAH” (karya Trias Kuncahyono)

HOAX…MEDIA SOSIAL…PERPECAHAN BANGSA

Narasumber :
1. Kombes Pol.R.Ahmad Nurwahid,S.E.,M.M., Kabagbanops Densus 88 AT POLRI
2. Prof Dr Henry Subiakto, Staf Ahli Menkominfo
3. M.Najih Arromadhoni, Sekjen Alumni Suriah
4. Trias Kuncahyono, Penulis Buku
5. Dr. Dina Y. Sulaeman, Penulis Buku
Moderator: Dr. Ahmad Najib Burhani

Lokasi : Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat
Tanggal : Jum’at, 18 Januari 2019
Waktu : 13.00 – 16.00 WIB

China dan Timur Tengah

Masih saja beberapa orang nanyain pendapat saya tentang Uyghur, cuma mohon maaf banget, masih belum sempat menuliskannya.

Sementara, ini saya share artikel saya yang baru saja tayang, berjudul “Strategi Soft Power dalam Ekspansi Ekonomi China Di Timur Tengah: Studi Kasus Kerjasama China-Iran” [dimuat di Jurnal Mandala, UPN Veteran Jakarta]

**
Intinya adalah: China sangat bersemangat menjalin hubungan baik dengan negara-negara Timteng dan Sejak 2010, China telah menggantikan AS sebagai partner perdagangan terkuat di kawasan.

Di saat yang sama, semua tahu, China mengalami ‘pembunuhan karakter’ (dicitrakan sebagai ‘ancaman’), sehingga China berupaya kuat untuk menunjukkan kepada negara-negara Timur Tengah bahwa dirinya bukanlah ancaman. Uniknya, China mampu menjalin hubungan baik dengan semua pihak, bahkan termasuk dengan negara-negara Timteng yang satu sama lain saling berseteru.

Misalnya, ketika di saat yang sama China seolah menjadi ‘pelindung’ bagi Iran di tengah embargo yang dilancarkan AS (China merupakan partner dagang terbesar Iran, yaitu sekitar 22,3% dari nilai total perdagangan Iran), China merupakan partner yang serius bagi Arab Saudi yang merupakan rival Iran di kawasan.

(lebih…)

Suriah dan Orang-Orang Prancis

Kerusuhan di Prancis yang sudah berlangsung sekitar 3 pekan memunculkan deja vu bagi orang-orang yang intens mengamati Perang Suriah; bisa terlihat di berbagai komentar netizen [umumnya yang dari Barat/Timteng] di Twitter.

Rana Harbi, selebtwit cantik dari Lebanon menulis, “Bayangkan bila beberapa negara memutuskan mengirimkan senjata senilai miliaran [dollar] kepada para demonstran di Prancis, memaksakan berbagai sanksi [terhadap pemerintah Perancis], dan membantu semua kelompok antipemerintah; termasuk kelompok-kelompok dengan ideologi ekstrim; lalu membuat koalisi untuk mengebom Prancis. Keterlaluan? Nah, itulah yang sedang terjadi di Suriah sejak 2011!”

Seseorang entah siapa, membuat akun bernama ‘Benoite Abedoux’ [plesetan dari selebtiwit cilik asal Suriah, Bana Al Abed]. Isi tweet-nya bikin saya tertawa miris; mirip sekali dengan apa yang selama ini dicuit oleh Bana yang mengaku berada di Aleppo timur.

(lebih…)

Assad Must Go Curse (Kutukan “Assad Harus Pergi”)

Para elit dunia yang ada di foto ini, semuanya pernah mengucapkan kalimat “Assad harus pergi”. Tapi mereka duluan yang pergi, baik dalam arti lengser maupun pergi ke akhirat. Korban terbaru adalah John McCain, senator AS, makelar perang Suriah; dia tewas akibat kanker otak.

Dari Indonesia pun ada. Misalnya Bapak kita yang suka curhat itu, dulu pernah menyarankan agar Assad mundur saja (setelah ketemuan dengan “ulama” pro-teroris di Istana Bogor), eh.. malah dia yang lengser duluan.

Lalu, beberapa tokoh partai anu yang pro-teroris Suriah (mereka sebut “mujahidin”) sebagian sudah lengser atau tak jelas karirnya (ada yang dipenjara, ada yang dipecat oleh partainya sendiri, ada pingin nyalon jadi presiden -minimalnya wapres dah- tapi ga laku).

Bagaimana dengan partai politik tapi mengaku “organisasi dakwah” (HTI) yang mengaku berbaiat pada Jabhah al Nusrah? Nyungsep, dibubarin.

Siapa lagi? Ada itu tuh… ustadz dari radio ‘rujaks’ yang jauh-jauh ke Suriah nganterin donasi warga Indonesia (ke tangan “mujahidin” tentu saja), sudah wafat duluan.

(lebih…)

Pemikiran Imam Khomeini dalam Hubungan Internasional

Sebentar lagi Indonesia akan punya Menlu baru. Kita semua tentunya mengharapkan Menlu yang ‘berani’ dan memimpin korps diplomatik yang gigih memperjuangkan kepentingan nasional. Biasanya, diplomat-diplomat negara maju dan kuat akan memaksakan keinginannya, dengan berbalut bahasa diplomatik yang ‘santun’. Sementara diplomat negara-negara berkembang atau miskin seringkali hanya bisa manut. Yang terlihat tampil beda adalah diplomat Iran. Meskipun dari negara berkembang, diplomat Iran selalu terlihat penuh percaya diri saat bernegosiasi. Meskipun menyuarakan hal-hal yang ‘puritan’, namun tetap bisa satu level dalam berbagai negosiasi internasional bersama para diplomat Barat. Dari mana sumber sikap diplomasi seperti ini? Di antaranya, adalah doktrin HI yang dibangun oleh Pemimpin Revolusi Iran, Imam Khomeini. Berikut saya posting makalah singkat saya yang pernah saya sampaikan di sebuah forum diskusi beberapa waktu yll.

Pemikiran Imam Khomeini dalam Hubungan Internasional

Dina Y. Sulaeman*

Harga berbagai komoditi di Indonesia, terutama pangan dan BBM sangat rentan dengan perubahan yang terjadi di luar negeri. Misalnya, harga tahu-tempe, makanan ‘termurah’ rakyat Indonesia, bisa melambung tinggi gara-gara kekeringan melanda AS. Sebabnya tak lain karena 2/3 kebutuhan kedelai kita diimpor dari AS. Untuk membangun kedaulatan pangan pun, pemerintah tak berdaya karena terbelenggu oleh perjanjian internasional, Agreement of Agriculture yang memerintahkan negara-negara mengurangi subsidi untuk petani dan subsidi ekspor, serta memperkecil bea impor.

Inilah kenyataan di Indonesia, dan juga yang dialami hampir semua negara berkembang. Bila dunia dilihat sebagai lingkaran besar, akan terlihat negara-negara kuat dan kapitalis berada di pusat lingkaran, sementara negara-negara berkembang dan miskin berada di pinggiran. Negara pusat akan mempengaruhi ekonomi dan politik dunia, sementara negara-negara berkembang dan miskin terpaksa hanya mengikuti permainan.

Kita tidak bisa lagi melihat persoalan domestik sebagai sesuatu yang terpisah dari persoalan global. Konflik Sampang tidak bisa dilihat semata-mata konflik warga desa di Madura, tapi sangat kental dengan kepentingan negara-negara asing, terutama negara-negara berhaluan Salafi-Wahabi. Saat melihat konflik Suriah di televisi, kita tidak bisa lagi mengatakan ‘itu urusan mereka’, karena terbukti, angin panas konflik Suriah menerpa masyarakat Indonesia dengan sangat keras. Berbagai konflik bernuansa sektarian, ujaran-ujaran kebencian (hate-speech) atas nama mazhab yang semakin masif di tengah publik Indonesia adalah angin panas dari Suriah.

Nah gejala-gejala seperti inilah yang -antara lain- dipelajari oleh penstudi Hubungan Internasional (HI). Pemikiran HI di dunia ini sangat diwarnai oleh pemikiran Barat. Diplomat-diplomat di seluruh dunia, biasanya cara pandangnya sama. Diplomat negara maju dan kuat akan petantang-petenteng, memaksakan keinginannya, berbalut bahasa diplomatik. Sementara diplomat negara-negara berkembang atau miskin seringkali hanya bisa manut. Yang terlihat tampil beda adalah diplomat Iran. Meskipun dari negara berkembang, diplomat Iran selalu terlihat penuh percaya diri saat bernegosiasi. Meskipun menyuarakan hal-hal yang ‘puritan’, namun tetap bisa satu level dalam berbagai negosiasi internasional bersama para diplomat Barat.

Dari sisi ini menarik sekali dibahas, bagaimana dulu Imam Khomeini membangun paradigma HI yang akhirnya mewarnai cara-cara diplomasi pemerintah Iran.

(lebih…)

Politik Luar Negeri Iran: Perspektif Global

ICWAIndonesia Council on World Affairs (ICWA), sebuah lembaga yang didirikan almarhum Ali Alatas, mantan Menlu Indonesia, kemarin menyelenggarakan sebuah forum kuliah politik dengan pembicara Menlu Iran, Dr. Javad Zarif. ICWA adalah lembaga yang beranggotakan para diplomat yang berada di Indonesia (baik diplomat Indonesia maupun negara-negara sahabat), serta para akademisi dan think tank di bidang politik luar negeri. Peneliti Global Future Institute, Dina Y. Sulaeman, berkesempatan hadir dalam acara tersebut dan menuliskan laporannya berikut ini.
***

Mohammad Javad Zarif. Wajahnya penuh senyum, dengan tatapan mata jenaka. Suasana yang awalnya formal jadi terasa segar melihat gesturnya yang rendah hati dan ramah. Saat berpidato, Menlu Iran ini menunjukkan kemampuan orasi yang luar biasa. Terkadang nadanya sangat tegas dan penuh semangat, terkadang menyelipkan humor dan membuat hadirin tergelak. Dengan bahasa Inggris yang sangat lancar, selama sekitar 45 menit tanpa teks, dia menjelaskan kebijakan luar negeri Iran dari perspektif global. Argumen-argumennya memakai logika universal yang berpijak pada ke-kita-an, bukan ‘saya’ atau ‘mereka’.

Berakhirnya Era Zero-Sum

Dalam kuliah politik bertajuk Foreign Policy of the Islamic Republic of Iran: A Global Perspective yang diselenggarakan Indonesia Council on World Affairs (ICWA), 7 Maret 2014, Menlu Iran Javad Zarif menjelaskan bahwa era politik zero-sum sudah habis. Di zaman globalisasi ini, apapun yang terjadi di satu sudut bumi, akan berpengaruh pada hampir semua penduduk bumi.  Misalnya, masalah perubahan iklim;  tidak ada satu negara pun yang mengklaim bisa menghadapinya seorang diri; selalu membutuhkan kerjasama antarnegara.

Hubungan internasional kini tidak lagi didominasi oleh dua negara besar (AS dan Uni Soviet) yang mendeterminasi arah kebijakan global seperti era Perang Dingin. Dunia tengah beralih dari community of nations (komunitas negara-negara) ke arah global community (komunitas global), di mana individu, kelompok, jaringan, mampu mempengaruhi hubungan internasional, dan artinya mampu berperan untuk mengubah situasi ke arah yang baik bagi kemanusiaan.

Dalam situasi seperti  ini, isu security (keamanan) tidak mungkin lagi dipandang sebagai isu zero-sum (aku menang, engkau kalah). Sebuah negara tidak mungkin lagi meraih keamanan dengan cara mengorbankan keamanan negara-negara lain.  Tidak ada yang bisa aman, ketika pihak lain tidak aman. Bukti terbesar dari pendapat ini adalah Tragedi 9/11. Mr. Zarif menceritakan, dirinya pernah bertugas di PBB, New York, sebelum dan setelah 9/11. Dengan matanya sendiri dia melihat ekspresi cemas dan ketakutan orang-orang New York.

Zarif bertanya retoris, “Bagaimana mungkin AS, sebuah negara dengan bujet militer terbesar di dunia, ternyata tak mampu memberikan keamanan kepada warganya sendiri? Bahkan gedung yang seharusnya paling aman, Pentagon, juga tak luput dari serangan teroris.”

(lebih…)

Reposisi Kebijakan Politik Luar Negeri RI di Kawasan Timur Tengah

Copas dari situs resmi Kementerian Luar Negeri Indonesia:

ImageHandler.ashxDirektorat Timur Tengah, Kemlu RI bekerja sama dengan Museum KAA menggelar selama sehari penuh acara Focus Group Discussion: “Reposisi Kebijakan Politik Luar Negeri (polugri) RI di Kawasan Timur Tengah” di Museum KAA pada hari Rabu, 28/08/2013, Pkl. 09.00-16.00WIB.

Diskusi, yang dimoderatori Teuku Rezasyah (Direktur Pusat Demokrasi, Diplomasi, dan Pertahanan Indonesia), menghadirkan sejumlah narasumber, yaitu Febrian A. Ruddyard (Direktur Timur Tengah) Broto Wardoyo (Dosen Kajian Timur Tengah, UI), Kusnanto Anggoro (Dosen Pasca Sarjana, UI), dan Dina Y. Sulaeman (Pakar Kajian Timur Tengah).

Dalam kata sambutannya, Febrian A. Ruddyard (Direktur Timur Tengah) menyampaikan bahwa diskusi bertujuan sebagai public consultation guna menyerap feedback dari masyarakat terhadap kebijakan polugri di Kawasan Timur Tengah.

Selain itu, ia menjelaskan sengaja memilih Museum KAA sebagai tempat diskusi karena peran Semangat Bandung yang lahir pada peristiwa KAA 1955 adalah ikon Diplomasi Perjuangan Indonesia.

“Monopoli interpretasi terhadap polugri dianggap sudah usang. Aspirasi dan perhatian publik pada isu-isu internasional di sosial media terbukti efektif membentuk opini publik”, kata Febrian.

Febrian juga menegaskan pentingnya mengedepankan konsep inklusifitas publik untuk menjaring feedback yang solutif terutama dalam merespon isu Timur Tengah.

“Selama ini Timur Tengah adalah selalu menjadi isu paling sensitif bagi publik di Indonesia dibandingkan kawasan-kawasan lain di dunia,” tutupnya.

Dalam sesi diskusi, berbagai analisa dan konsep reposisi kebijakan polugri yang dipaparkan para narasumber diarahkan kepada empat pilar pemutakhiran kebijakan Politik Luar Negeri RI di Kawasan Timur Tengah.

Keempat pilar dimaksud adalah kawasan Timur Tengah yang damai, sejahtera, dan demokratis berdasarkan nilai-nilai demokrasi atas kehendak rakyat serta bebas nuklir dan senjata pemusnah massal lainnya.

Menanggapi itu, Broto Wardoyo menyoroti beberapa hal terkait memanasnya situasi di Timur Tengah, di antaranya demokrasi di Timur Tengah pasca era Perang Dingin, isu terorisme, peningkatan kelas menengah baru, dan transisi politik.

Senada dengan Broto, Kusnanto Anggoro memandang perlunya kehadiran sinergisitas lintas aktor dalam melakukan reposisi kebijakan polugri untuk Kawasan Timur Tengah.

Sudut pandang sosial media muncul dalam presentasi Dina Y. Sulaeman. Maraknya rekayasa informasi di dunia maya dalam kasus Timur Tengah menjadi sorotan utama Dina.

“Ini tentu saja berdampak kurang baik terhadap pembentukan opini publik, terutama pada kebijakan polugri RI di Kawasan Timur Tengah”, kata Dina.

Seakan mempertegas rekomendasi Kusnanto Anggoro, Dina mendorong peningkatan aktifitas sosialisasi kebijakan polugri RI terhadap Kawasan Timur Tengah.

“Sosialisasi perlu dilakukan hingga ke tingkat bawah. Ini penting guna membangun persepsi yang benar tentang konflik Timteng di tengah masyarakat,” tambah Dina.

Diskusi ini juga sukses menjaring aspirasi dari berbagai unsur pemerintah dan elemen masyarakat yang turut hadir dalam diskusi itu.

Di penghujung diskusi, sebuah rekomendasi hasil serapan aspirasi peserta disampaikan oleh Teuku Rezasyah kepada Direktur Timur Tengah.

“Diharapkan rekomendasi ini bermanfaat guna mereposisi kebijakan polugri RI di Kawasan Timur Tengah” tutup Reza. (Sumber : Dit. Infomed/sppnkaa/dsa)

—-

Catatan/refleksi (bukan notulensi) yang saya tulis setelah mengikuti diskusi ini, bisa baca di sini.