Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Luar Negeri

Category Archives: Politik Luar Negeri

Untuk yang berminat membaca artikel-artikel kajian Timur Tengah, silakan download gratis di web ini.

https://ic-mes.org/jurnal/index.php/jurnalICMES/issue/view/6

Judul:
1. Peranan Diplomat Indonesia dalam Memperjuangkan Palestina di PBB (Masa Presidency of the UNSC Mei 2019) oleh Teuku Rezasyah

2. Penggunaan Leksikon Allāh Sebagai Ekspresi Tuhan: Pengaruh Budaya Arab dalam Penerjemahan Bibel Ke Bahasa Arab oleh Yuangga Kurnia Yahya

3. Perbandingan Nitaqat dan Tawteen: Kebijakan Ketenagakerjaan di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab oleh Safira Novia Safitry dan Agus Haryanto

4. Perbedaan Pandangan Politik antara Al Azhar dan Ikhwan Al Muslimin dalam Merespon Kudeta Militer Tahun 2013 oleh Muhammad Anas dan Yon Machmudi

5. Security Dilemma dalam Ketegangan AS-Iran Pasca Serangan Kapal Tanker di Teluk Oman oleh Fenny Rizka Salsabila dan Dina Yulianti.

Untuk yang punya naskah, bisa kirim juga ke jurnal ini. Untuk edisi Juni 2020, naskah paling lambat disubmit tgl 20 April.

Covid-19 dan Teori Konspirasi

Kalau ada yang nulis, “Virus Covid-19 itu dibuat oleh AS demi menguasai dunia”, apa komentar Anda? Mereka yang sudah paham bahwa AS (pemerintah & elit-nya ya, bukan rakyatnya) memang sepanjang sejarah melakukan banyak kejahatan kemanusiaan, biasanya cukup terbuka (tidak harus setuju, tapi setidaknya mau menelaah argumen yang diberikan).

Tapi ada juga sebagian orang yang langsung mengejek, “Elo tuh pake teori konspirasi!”

Label “teori konspirasi” memang banyak dipakai orang untuk menghina upaya-upaya membongkar sebuah kejahatan global. Padahal sebenarnya konspirasi itu kan memang ‘biasa’ terjadi, misalnya, fenomena main sabun dalam pertandingan sepakbola (dua tim bersekongkol untuk mengatur pertandingan). Publik tahu darimana? Ya dari indikasi-indikasi, misal ada ‘keanehan’ yang dirasakan.

(lebih…)

Iran dan Covid-19

Permintaan Iran kepada IMF untuk memberi pinjaman uang dalam rangka penanganan Covid-19 memunculkan banyak pertanyaan, intinya: apakah Iran akhirnya tunduk kepada Barat?

Selama ini, IMF dikenal sebagai perpanjangan tangan negara-negara kaya Barat untuk mengacak-acak perekonomian negara berkembang. Pasalnya , IMF (dan Bank Dunia) saat memberi pinjaman selalu memberi syarat: negara penerima pinjaman harus meliberalisasi ekonominya. Antara lain: harus menghemat fiskal, harus memprivatisasi BUMN, dan menderegulasi keuangan dan pasar tenaga kerja.

Menurut Thomas Gangale, dampak dari kebijakan liberalisasi ekonomi ini justru negatif, antara lain dikuranginya pelayanan pemerintah dan subsidi makanan telah memberi pukulan kepada masyarakat kelas menengah ke bawah. BUMN yang dijual untuk membayar utang kepada IMF justru dibeli oleh perusahaan swasta yang kemudian menghentikan pelayanan bersubsidi dan menaikkan harga-harga untuk mencari keuntungan sebanyak mungkin. Kebijakan moneter seperti penaikan suku bunga dengan tujuan untuk menarik investor asing justru menghancurkan perusahaan domestik sehingga pengangguran meningkat. [1]

(lebih…)

Corona alias Covid 19 ini benar-benar menjadi ujian bagi manusia di berbagai level, mulai individu hingga negara, bahkan aliansi/komunitas negara. Siapa kawan sejati, dan siapa kawan yang hanya mau bersama di saat suka, semakin terlihat jelas.

Juga, fenomena ini semakin membongkar hipokritas (kemunafikan) Barat yang selama ini mengaku sebagai penjunjung HAM dan demokrasi. Dalam kondisi yang sangat sulit seperti sekarang, Iran dibiarkan kewalahan sendiri, embargo tidak dicabut, sehingga bahkan untuk mengimpor peralatan medis dan obat-obatan pun tidak bisa. Untungnya kemudian China datang membawa bantuan yang diangkut dalam 8 pesawat Mahan Air.

(lebih…)

Milisi teror yang dihadapi oleh tentara Suriah memang bukan kaleng-kaleng. Mereka punya senjata lengkap, disuplai oleh negara-negara kaya raya (plus dari uang sumbangan rakyat berbagai negara, termasuk Indonesia).

Jadi aneh bila ini dibilang “perang saudara” atau
“rezim menindas rakyat”. Rakyat model apa yang punya persediaan senjata sekuat/lebih kuat dari negara?

Beberapa tahun pertama perang (2012- akhir 2016), tentara Suriah kelabakan, bahkan sekitar 70% wilayahnya dikuasai milisi teror ini. Karena itulah Suriah minta bantuan Iran, Rusia, dan Hizbullah. Sejak Desember 2016, posisi berbalik, satu persatu wilayah Suriah berhasil dibebaskan. Kini tersisa 1 provinsi yang berbatasan dg Turki, Idlib. Inilah front terakhir para teroris. Turki dan AS pun turun tangan membantu para teroris ini.

[kalau dishare, pengantar dari saya tidak terbawa, perlu dicopas dulu]

https://web.facebook.com/theSyriainsider/videos/138045994227094/?t=0

Siapa tahu ada yang butuh tulisan ilmiah, bukan sekedar analisis ringan di medsos. Ditulis thn 2016, tapi masih relevan untuk mengetahui aspek ideologi pemimpin dalam mengindentifikasi national interest dalam kebijakan luar negeri Turki.

Di tulisan ini, bab kajian teori dan daftar pustaka sengaja tidak ditampilkan karena tadinya, paper ini akan dikembangkan lagi untuk keperluan publikasi (jurnal). Tapi meski sudah 3 thn berlalu, paper yang rencanakan itu belum beres juga. Soalnya, perubahan sikap beliau ini sangat cepat. Jadi ribet. Nunggu konflik selesai ajalah, baru dianalisis.

*Kesimpulan*

(lebih…)

Bahasa Diplomatik Putin dan Erdogan

Kemarin, Putin dan Erdogan bertemu di Moskow. Kesepakatan mereka: semua pihak, termasuk para “jihadis” melakukan gencatan senjata di Idlib. Kita tunggu saja, siapa yang pertama kali mengkhianati. Kemungkinan besar sih milisi teror yang akan ngebom duluan, setelah “amunisi” yang dijanjikan AS datang. [1]

Menarik juga menafsirkan bahasa diplomatik yang dipakai kedua tokoh ini.[2]

Di awal percakapannya, Putin menyatakan selamat datang, dan turut belasungkawa atas kematian tentara Turki. Lalu, Putin mengatakan, “Seperti saya sudah sampaikan kepada Anda lewat telepon, tidak ada, termasuk tentara Suriah, yang mengetahui/menyadari lokasi tentara Anda.”

Secara tersirat, yang dimaksud Putin, “Makanya tentara lo jangan gabung dengan “jihadis” dong.. kan kami sedang mengebomi para “jihadis”, siapa sangka tentara lo bareng sama mereka?”

(lebih…)

Muda, cantik, cerdas, pemberani. Salut banget sama Carla Ortiz.
Dia datang ke Aleppo, meliput langsung detik-detik pembebasan Aleppo timur 2016

Antara lain yang dia saksikan: sebelum pembebasan Aleppo tentara Suriah membuat koridor kemanusiaan dimana warga sipil dipersilahkan keluar sebelum perang terjadi

Lalu dia datang ke bekas markas White Helmets, dan ia temukan bendera yang kata orang HTI “bendera tauhid” di sana. Anehnya, Netflix bikin film yang memuji-muji WH dan dapat piala Oscar.

https://web.facebook.com/cerdasgeopolitik/videos/337048067070454/?t=0

Mengapa Sesama pro Jihadis Jadi Saling Serang?

Adakah yang heran, mengapa negara-negara sesama pendukung “jihad” Suriah (Saudi, Emirat, Mesir) tiba-tiba menyerang Turki, memblow up rekam jejak digital hubungan Erdogan-Israel? Padahal mereka ini selama 8 tahun bersekutu dalam proyek jihad penggulingan Assad.

Fanpage sebelah (Sahara) tadi posting video lagi, ternyata bahkan Syekh Aid Al Qarni ikut marah-marah ke om Erdie. (Tau kan, beliau itu penulis buku Laa Tahzan, yang sangat digemari akhi wal ukhti. Semoga tidak ada bunuh diri massal saking stress melihat ulama pujaan kok berbalik arah).

[Dalam waktu singkat video tsb diblokir sama FB. Tapi ada copy-nya di youtube [1]]

(lebih…)