Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Luar Negeri

Category Archives: Politik Luar Negeri

Iklan

Di Universitas Pertahanan (Sentul)

Presentasi paper “Towards a New Concept of Counterterrorism in Indonesia: a Gender-Sensitive Approach”.

Perempuan yang tergabung dalam organisasi teroris itu sebenarnya pelaku saja, atau sekaligus juga korban? Korban doktrin radikal, korban sistem patriarki puritan versi Wahabi.
Tapi kalau dianggap korban, kok seolah perempuan itu tak berdaya banget, tak bisa membebaskan diri dari penjajahan pemikiran?

*silahkan saja kalau mau komen dan diskusi tapi mohon maaf sedang tidak bisa diskusi, masih banyak PR 🙂

** nanti kalau paper saya sudah dipublish, akan dishare di sini.

Iklan

Menyambung Status Kemarin…

Menanggapi berbagai komen (sebagian sih sudah saya jawab langsung), ada yang perlu saya jelaskan. Ingat, ini bukan dalam rangka membela teroris atau tidak bersimpati sama korban ISIS ya (saya akan blokir orang-orang yang berani komen kayak gini lagi, sialan bener).

1. Kasus yang kita bahas adalah: petempur ISIS dan keluarganya asal Indonesia yang SEDANG DITAWAN oleh otoritas Kurdi Suriah (=pemerintah daerah). FYI, Kurdi itu suku, agamanya mayoritas Muslim Sunni.

2. Mereka ini ditahan karena MENYERAH. Jadi, secara hukum internasional, mereka harus “dilindungi”, ga bisa ditembakin semena-mena oleh SAA (tentara Suriah). Coba saja Assad berani melakukan pembantaian massal kepada mereka, besoknya pesawat tempur NATO akan langsung menyerbu dengan tuduhan “Assad melakukan kejahatan kemanusiaan”.

(lebih…)

Eks-ISIS, Dipulangkan atau Tidak?

Konvensi internasional mengatur bahwa tidak boleh ada satu manusia pun yang stateless (tak berwarga negara). Makanya kita membantu Rohingya, yang tidak diakui sebagai warga negara oleh pemerintah Myanmar.

Nah, orang-orang Indonesia yang bergabung dengan ISIS, jika tidak diakui oleh Indonesia (sebagai negeri kelahiran mereka), lalu, siapa yang harus mengurus? Anda bayangkan posisi Suriah saat ini: sudahlah diperangi 8 tahun, warganya dibantai secara brutal, diusir, diperkosa, diperbudak oleh orang-orang ISIS ini (yang datang dari berbagai penjuru dunia), apakah kini juga harus terus menampung dan mengurus mereka?

Dan memang, hukum internasionalnya: negara asal yang seharusnya mengurus.

Tapi kan tidak adil, mengerikan? Masa kita harus menerima para radikal itu? Kalau mereka mengebom di sini gimana? Kalau mereka menyebarkan virus radikalisme di sini gimana?

(lebih…)

Mesir dan Mursi

Berikut ini beberapa tulisan lama saya soal Mesir pasca tergulingnya Mursi:
1. Pemetaan Konflik Mesir
https://dinasulaeman.wordpress.com/2013/07/28/pemetaan-konflik-mesir/
2. Ikhwanul Muslimin vs Militer: Analisis Psikologi Politik https://dinasulaeman.wordpress.com/2013/11/03/ikhwanul-muslimin-vs-militer-analisis-psikologi-politik/
3. Kedok Militer Mesir Akhirnya Terungkap https://dinasulaeman.wordpress.com/2013/11/30/kedok-militer-mesir-akhirnya-terungkap/
4. Mesir Pada Akhirnya
https://dinasulaeman.wordpress.com/2014/05/19/mesir-pada-akhirnya/

Ini tulisan baru, pernah diposting di fanpage ini tgl 9 Juni 2019
“Indonesia, Pelajarilah Perilaku Ikhwanul Muslimin di Suriah”
https://dinasulaeman.wordpress.com/2019/06/11/indonesia-pelajarilah-perilaku-ikhwanul-muslimin-di-suriah/

Ini yang lebih lama lagi, tahun 2012, mengenai apa yang dilakukan Mursi saat datang ke Teheran:
Dua Suara Miring dari KTT GNB Tehran
https://dinasulaeman.wordpress.com/2012/09/03/dua-suara-miring-dari-ktt-gnb-tehran/

Foto: Mursi mengibarkan bendera Mesir dan bendera FSA (pemberontak Suriah).

Innalillaahi wa inna ilahi roojiuun, lahul Faatihah.

Late post.
Tanggal 5 April yang lalu saya diwawancarai Kumparan dot com terkait proklamasi Trump atas kedaulatan Israel di Golan.

https://kumparan.com/@kumparannews/tujuan-trump-akui-golan-bantu-israel-atau-persiapan-hadapi-pemilu-1qpLMprs0RE

Catatan Harian Warga AS: “Kelompok Teroris Adalah Sekutu Kita”

Artikel ini bagus sekali, menjelaskan ‘apa yang dipikirkan dan dilakukan elit AS’ di berbagai penjuru dunia, mulai dari Afghanistan tahun 1980-an, lalu Eropa Timur, lalu Afrika, Timur Tengah, bahkan Indonesia.

Ditulis oleh orang AS, Chris Kanthan (penulis buku “Deconstructing the Syrian War”). Sudah diterjemahkan ICMES ke Bahasa Indonesia.

Cara nulisnya juga menarik dan mudah dicerna. Wajib baca bila ingin memahami bagaimana peran yang dilakukan kelompok-kelompok “jihad” atas nama Islam untuk membantu elit AS menguasai sumber daya alam di berbagai penjuru dunia.

https://ic-mes.org/politics/catatan-harian-warga-as-kelompok-teroris-adalah-sekutu-kita/

Prahara Suriah, Hoax, Media Sosial, Perpecahan Bangsa

Banyak orang resah melihat semakin meningkatnya radikalisme di Indonesia dan semakin kerasnya friksi antarumat akibat perbedaan posisi politik. Banyak yang luput memahami fenomena ini dari perspektif geopolitik global, khususnya yang terkait dengan Perang Suriah.

Inilah era Facebook, Twitter, dan WA, ketika perang tidak hanya terjadi di Damaskus, Homs, Idlib, atau Aleppo, melainkan merasuk hingga ke rumah dan mimbar-mimbar di Indonesia. Kemarahan terhadap orang-orang yang terlibat perang nun jauh di sana, ditumpahkan melalui narasi penuh kebencian di berbagai forum, disertai dengan berbagai foto dan video palsu, dengan tujuan merekrut petempur dan donasi.

(lebih…)

BEDAH BUKU “PRAHARA SURIAH” & “SALJU DI ALEPPO”

BEDAH BUKU “PRAHARA SURIAH” & “SALJU DI ALEPPO” (karya Dina Y. Sulaeman) dan “MUSIM SEMI SURIAH” (karya Trias Kuncahyono)

HOAX…MEDIA SOSIAL…PERPECAHAN BANGSA

Narasumber :
1. Kombes Pol.R.Ahmad Nurwahid,S.E.,M.M., Kabagbanops Densus 88 AT POLRI
2. Prof Dr Henry Subiakto, Staf Ahli Menkominfo
3. M.Najih Arromadhoni, Sekjen Alumni Suriah
4. Trias Kuncahyono, Penulis Buku
5. Dr. Dina Y. Sulaeman, Penulis Buku
Moderator: Dr. Ahmad Najib Burhani

Lokasi : Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat
Tanggal : Jum’at, 18 Januari 2019
Waktu : 13.00 – 16.00 WIB

China dan Timur Tengah

Masih saja beberapa orang nanyain pendapat saya tentang Uyghur, cuma mohon maaf banget, masih belum sempat menuliskannya.

Sementara, ini saya share artikel saya yang baru saja tayang, berjudul “Strategi Soft Power dalam Ekspansi Ekonomi China Di Timur Tengah: Studi Kasus Kerjasama China-Iran” [dimuat di Jurnal Mandala, UPN Veteran Jakarta]

**
Intinya adalah: China sangat bersemangat menjalin hubungan baik dengan negara-negara Timteng dan Sejak 2010, China telah menggantikan AS sebagai partner perdagangan terkuat di kawasan.

Di saat yang sama, semua tahu, China mengalami ‘pembunuhan karakter’ (dicitrakan sebagai ‘ancaman’), sehingga China berupaya kuat untuk menunjukkan kepada negara-negara Timur Tengah bahwa dirinya bukanlah ancaman. Uniknya, China mampu menjalin hubungan baik dengan semua pihak, bahkan termasuk dengan negara-negara Timteng yang satu sama lain saling berseteru.

Misalnya, ketika di saat yang sama China seolah menjadi ‘pelindung’ bagi Iran di tengah embargo yang dilancarkan AS (China merupakan partner dagang terbesar Iran, yaitu sekitar 22,3% dari nilai total perdagangan Iran), China merupakan partner yang serius bagi Arab Saudi yang merupakan rival Iran di kawasan.

(lebih…)

Suriah dan Orang-Orang Prancis

Kerusuhan di Prancis yang sudah berlangsung sekitar 3 pekan memunculkan deja vu bagi orang-orang yang intens mengamati Perang Suriah; bisa terlihat di berbagai komentar netizen [umumnya yang dari Barat/Timteng] di Twitter.

Rana Harbi, selebtwit cantik dari Lebanon menulis, “Bayangkan bila beberapa negara memutuskan mengirimkan senjata senilai miliaran [dollar] kepada para demonstran di Prancis, memaksakan berbagai sanksi [terhadap pemerintah Perancis], dan membantu semua kelompok antipemerintah; termasuk kelompok-kelompok dengan ideologi ekstrim; lalu membuat koalisi untuk mengebom Prancis. Keterlaluan? Nah, itulah yang sedang terjadi di Suriah sejak 2011!”

Seseorang entah siapa, membuat akun bernama ‘Benoite Abedoux’ [plesetan dari selebtiwit cilik asal Suriah, Bana Al Abed]. Isi tweet-nya bikin saya tertawa miris; mirip sekali dengan apa yang selama ini dicuit oleh Bana yang mengaku berada di Aleppo timur.

(lebih…)