Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Luar Negeri (Laman 2)

Category Archives: Politik Luar Negeri

Akhirnya..bikin podcast juga. Sebenarnya niatnya sudah lama, tapi tertunda. Kebetulan karena banyak yang protes atas pernyataan saya di Podcast Deddy Corbuzier, saya mulai sajalah bikin podcast. Antara lain isinya menjawab protes “mereka”. Tapi, tentu saja tujuan besarnya adalah menjelaskan Timur Tengah dengan panduan/basis keilmuan Hubungan Internasional, bukan didasari afiliasi ini-itu. https://www.youtube.com/watch?v=do9tqGjFgZ8

Lanjutan Tanggapan untuk Pengepul Donasi Suriah

Kemarin saya menjawab omongannya Fauzi Baadilla dan “emak histeris” ya. Sekarang saya jawab omongannya Misi Medis Suriah (MMS) dan Ihsanul Faruqi yang bekerja di Golden Future Foundation (GF).

MMS mengatakan, “kami tidak mendukung teroris, karena yang disebut teroris itu ISIS dan Al Qaeda.”

Sayangnya, jejak digital membuktikan hal sebaliknya. Salah satu jejak digital aktivis MMS (dan orang GF) itu ada di berita CNN yang saya screen shot ini.

Poin-poinnya:-Relawan MMS, Fathi Nasrullah Attamimi, sempat terkepung ISIS saat hendak menyalurkan bantuan berupa tujuh buah mobil ambulans yang dibeli dari NGO Inggris di Turki.

-Baku tembak terjadi antara ISIS dengan para “kelompok pejuang” [perhatikan CNN menggunakan istilah “pejuang”]

(lebih…)

Tips Mendeteksi Argumen yang Lemah/Bohong

Orang ini niatnya mau menjawab kritikan terhadap para pengepul donasi yang “masuk Suriah secara ilegal”. Karena, kan dipertanyakan, kok ga kerja sama dengan KBRI Damaskus, kok ga kerja sama dengan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Suriah? KBRI dan PPI siap kok membantu.

Pertanyaan ini pernah ditanyakan oleh seorang wartawan. Jawabannya “Gimana mau minta izin ke pemerintah Suriah, kan mereka yang membantai rakyatnya sendiri”? [1]

Nah kan, ketahuan ya, mereka berpihak ke mana, dan menyebarkan narasi apa.

Kembali ke foto ini.Si orang yang upload foto ini berniat pamer: “Kami ini masuk secara legal ke Suriah, ini buktinya kami sudah izin Turki.”

Masuk ke Suriah, izinnya ke Turki?Kok bisa terjadi? Saya yakin, follower di FP ini sudah paham, tulalitnya dimana.

Anyway, ini bisa jadi tips juga nih:kalau mau mendeteksi, apakah seseorang argumennya lemah atau sedang mempertahankan kebohongan: perhatikan, dia pakai kata “syiah” (menyerang/mencaci orang lain yang berbeda pendapat dengannya sebagai “syiah”) atau tidak?

😃

–[1] https://www.indopress.id/…/kabut-bantuan-selamatkan-ghouta

Antara Aleppo dan Idlib

Kejadian di Aleppo dulu, sebenarnya mirip dengan kondisi Idlib sekarang. Dulu, Aleppo timur dikuasai teroris selama 4 tahun. Desember 2016, tentara Suriah, dibantu pasukan sukarelawan (rakyat sipil yang angkat senjata demi membela tanah air), dibantu oleh Rusia dan Iran, memulai operasi untuk mengambil alih kembali Aleppo.

Media mainstream + media radikal + pengepul donasi serempak menggemakan “Save Aleppo.” Padahal, kenyataannya rakyat Aleppo justru bahagia karena lepas dari teroris.

(lebih…)

Tentang terorisme dan radikalisme di Indonesia

https://youtu.be/6Zq-3kzDcjI

Ancaman dari Facebook

Beberapa hari yll, postingan saya bulan Januari, berupa foto Jend. QS dan info webinar tentang beliau, dihapus FB disertai ancaman pemblokiran page.

Hari ini muncul ancaman lagi, dengan menyebut kesalahan yang sama disertai tuduhan “Anda telah melanggar standar komunitas kami terus-menerus”.

Terus-menerus? Lha saya baru sekali itu posting foto Jend QS.

(lebih…)

Telah terbit: “Message for Humanity – Selections of essays and writings by Andre Vltchek”. Buku ini berisi 15 esai dan tulisan karya Andre Vltchek yang dipilih oleh 11 teman, kolega, dan kawan Andre dari berbagai belahan dunia. Mereka menjelaskan mengapa esai / tulisan tersebut penting bagi kemanusiaan.

[Saya, Dina Y. Sulaeman, salah satu di antara yang mendapatkan kehormatan untuk berbagi dalam buku ini.]

Buku ini mencakup berbagai masalah di berbagai wilayah seperti Afghanistan, Suriah, China, Oseania.

Jurnalis senior terkemuka, John Pilger, menulis uraian singkat untuk buku ini. Dia menulis: “Andre Vltchek is humanity’s and journalism’s immeasurable loss. Andre honoured the description ‘maverick’ — he was a maverick without peer. Whenever a vital issue was pushed into the recesses of our memory, Andre would rescue it and remind us why we should never forget: why we should keep fighting for what was right. Perhaps above all, he understood the nature of imperialism and tore away its modern disguises with his powerfully moral, bracing prose. I salute him.”

Buku ini diterbitkan oleh Badak Merah Pte. Ltd. Buku (edisi kindle) bisa dibeli di: https://www.amazon.com/dp/B08RDXJ31S/

“Anda Tidak Perlu Jadi Yahudi untuk Menjadi Zionis”

Alhamdulillah, meskipun media Israel (dan digemakan oleh media lokal) berusaha menggiring opini publik Indonesia, “pemerintah Indonesia akan menormalisasi hubungan dengan Israel”, Kemenlu sudah menyatakan tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel dan akan tetap konsisten membela Palestina.

Indonesia adalah negara demokratis dan suara masyarakat sangat berperan dalam pengambilan keputusan. Indonesia berbeda dengan UAE, Bahrain, Maroko; mereka adalah negara monarki. Apa kata pemimpinnya, itulah yang dilakukan. Rakyat ga bisa protes. Sementara, sudah bukan rahasia bahwa sejak Arab Spring, raja-raja Arab ketakutan akan digulingkan oleh rakyatnya. Mereka butuh perlindungan agar tetap di singgasananya dan yang menawarkan perlindungan adalah AS.

Sebaliknya, pemerintah Indonesia didukung rakyatnya dan tidak butuh perlindungan kekuatan asing.

(lebih…)

Berita yang terlewat…

Ada berita yang terlewat: “Indonesia membuka layanan calling visa untuk Israel”

Saya copas sebagian isinya;

Saat seluruh perbatasan Indonesia masih ditutup untuk kunjungan orang asing karena pandemik COVID-19, pemerintah mendadak membuka layanan “calling visa”. Layanan ini dibuka untuk delapan negara, termasuk Israel, Ketujuh negara lain adalah Afghanistan, Guinea, Korea Utara, Kamerun, Liberia, Nigeria dan Somalia.

Dalam keterangan tertulisnya, Kabag Humas dan Umum Dirjen Imigrasi, mengatakan: alasan dibukanya kembali pelayanan calling visa ialah karena banyaknya tenaga ahli dan investor yang berasal dari negara-negara calling visa.

Menilik situasi, waktu, serta alasan dibukanya layanan calling visa ini menarik. Sampai saat ini, praktis Indonesia masih menutup perbatasannya dari kunjungan warga negara asing, sesuai dengan Permenhukham No. 1/2020, yang kemudian diganti dengan Permenhukman No. 26/2020 tentang Visa dan Izin Tinggal Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru.

Jadi, kalau payung besar penutupan perbatasan negara untuk perlindungan dari COVID-19 masih diberlakukan, mengapa justru Ditjen Imigrasi secara khusus membuka layanan calling visa untuk delapan negara itu? Alasan tenaga ahli, investor, kawin campur menurut saya kurang cocok dikenakan ke delapan negara, mengingat kondisi ekonomi dan politik yang sama atau di bawah Indonesia. Kecuali Israel.

Mungkinkah, ketujuh negara itu hanyalah “pelengkap” bagi Israel?

Baca selengkapnya tulisan jurnalis senior, Uni Lubis, membahas masalah ini: https://www.idntimes.com/opinion/politic/amp/uni-lubis/mendadak-pemerintah-indonesia-buka-visa-calling-untuk-israel

——————–

Komentar saya: pihak-pihak yang menghendaki dibukanya hubungan diplomatik Indonesia-Israel memang kelihatannya semakin kuat. Kalau masih ada yang berani bersuara dukung Palestina biasanya langsung dicap “radikal” dan disamakan dengan kelompok onoh yang memang -sayangnya- terbukti radikal.

Padahal pembela Palestina itu sangat luas faksinya.. bahkan orang-orang non-Muslim pun sangat gigih menjadi pembela Palestina (misalnya, para aktivis BDS di negara-negara Barat atau aktivis di Amerika Latin).

Pembelaan pada Palestina dan penolakan atas penjajahan Israel, mengecam kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan Israel adalah AMANAH UUD 1945 kita: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Semoga pemerintah Indonesia bisa tetap menjaga amanah ini, dan tidak tertipu oleh jargon-jargon kosong seperti “kalau mau mendamaikan dua pihak ya harus berteman dengan kedua pihak dong!” atau “Israel itu negara sangat kaya dan sangat canggih, kita bisa untung besar kalau buka hubungan diplomatik dengan Israel!”

Sekedar mengingatkan: tanggal 29 November adalah hari yang ditetapkan PBB sebagai “Hari Solidaritas Internasional Bersama Bangsa Palestina”

Mengapa Israel Membunuh Saintis Iran?

Seorang saintis top Iran, Dr. Mohsen Fakhrizadeh, gugur akibat serangan teror (Jumat, 27/11/2020). Dr. Mohsen mengepalai Organisasi Riset dan Inovasi Pertahanan Iran. Selain mengurusi proyek nuklir Iran, dia juga terlibat dalam pembuatan test-kit Covid dan vaksin Covid, yang kini sedang di tahap ujicoba pada manusia.

Pemerintah Iran dengan segera menyebut Israel sebagai pelaku pembunuhan ini. Mereka yang mengikuti dengan intens konflik Iran-Israel akan tahu, bahwa ini bukanlah tuduhan kosong.

Alasannya, pertama, karena yang paling berkepentingan dengan tewasnya saintis Iran adalah Israel. Dalam berbagai forum, mulai dari sekelas Sidang Umum PBB, hingga wawancara biasa, para petinggi Israel sangat sering menyebut nuklir Iran sebagai ancaman bagi dunia.

(lebih…)