Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Luar Negeri (Laman 3)

Category Archives: Politik Luar Negeri

Antara Aleppo dan Idlib

Kejadian di Aleppo dulu, sebenarnya mirip dengan kondisi Idlib sekarang. Dulu, Aleppo timur dikuasai teroris selama 4 tahun. Desember 2016, tentara Suriah, dibantu pasukan sukarelawan (rakyat sipil yang angkat senjata demi membela tanah air), dibantu oleh Rusia dan Iran, memulai operasi untuk mengambil alih kembali Aleppo.

Media mainstream + media radikal + pengepul donasi serempak menggemakan “Save Aleppo.” Padahal, kenyataannya rakyat Aleppo justru bahagia karena lepas dari teroris.

(lebih…)

Tentang terorisme dan radikalisme di Indonesia

https://youtu.be/6Zq-3kzDcjI

Ancaman dari Facebook

Beberapa hari yll, postingan saya bulan Januari, berupa foto Jend. QS dan info webinar tentang beliau, dihapus FB disertai ancaman pemblokiran page.

Hari ini muncul ancaman lagi, dengan menyebut kesalahan yang sama disertai tuduhan “Anda telah melanggar standar komunitas kami terus-menerus”.

Terus-menerus? Lha saya baru sekali itu posting foto Jend QS.

(lebih…)

Telah terbit: “Message for Humanity – Selections of essays and writings by Andre Vltchek”. Buku ini berisi 15 esai dan tulisan karya Andre Vltchek yang dipilih oleh 11 teman, kolega, dan kawan Andre dari berbagai belahan dunia. Mereka menjelaskan mengapa esai / tulisan tersebut penting bagi kemanusiaan.

[Saya, Dina Y. Sulaeman, salah satu di antara yang mendapatkan kehormatan untuk berbagi dalam buku ini.]

Buku ini mencakup berbagai masalah di berbagai wilayah seperti Afghanistan, Suriah, China, Oseania.

Jurnalis senior terkemuka, John Pilger, menulis uraian singkat untuk buku ini. Dia menulis: “Andre Vltchek is humanity’s and journalism’s immeasurable loss. Andre honoured the description ‘maverick’ — he was a maverick without peer. Whenever a vital issue was pushed into the recesses of our memory, Andre would rescue it and remind us why we should never forget: why we should keep fighting for what was right. Perhaps above all, he understood the nature of imperialism and tore away its modern disguises with his powerfully moral, bracing prose. I salute him.”

Buku ini diterbitkan oleh Badak Merah Pte. Ltd. Buku (edisi kindle) bisa dibeli di: https://www.amazon.com/dp/B08RDXJ31S/

“Anda Tidak Perlu Jadi Yahudi untuk Menjadi Zionis”

Alhamdulillah, meskipun media Israel (dan digemakan oleh media lokal) berusaha menggiring opini publik Indonesia, “pemerintah Indonesia akan menormalisasi hubungan dengan Israel”, Kemenlu sudah menyatakan tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel dan akan tetap konsisten membela Palestina.

Indonesia adalah negara demokratis dan suara masyarakat sangat berperan dalam pengambilan keputusan. Indonesia berbeda dengan UAE, Bahrain, Maroko; mereka adalah negara monarki. Apa kata pemimpinnya, itulah yang dilakukan. Rakyat ga bisa protes. Sementara, sudah bukan rahasia bahwa sejak Arab Spring, raja-raja Arab ketakutan akan digulingkan oleh rakyatnya. Mereka butuh perlindungan agar tetap di singgasananya dan yang menawarkan perlindungan adalah AS.

Sebaliknya, pemerintah Indonesia didukung rakyatnya dan tidak butuh perlindungan kekuatan asing.

(lebih…)

Berita yang terlewat…

Ada berita yang terlewat: “Indonesia membuka layanan calling visa untuk Israel”

Saya copas sebagian isinya;

Saat seluruh perbatasan Indonesia masih ditutup untuk kunjungan orang asing karena pandemik COVID-19, pemerintah mendadak membuka layanan “calling visa”. Layanan ini dibuka untuk delapan negara, termasuk Israel, Ketujuh negara lain adalah Afghanistan, Guinea, Korea Utara, Kamerun, Liberia, Nigeria dan Somalia.

Dalam keterangan tertulisnya, Kabag Humas dan Umum Dirjen Imigrasi, mengatakan: alasan dibukanya kembali pelayanan calling visa ialah karena banyaknya tenaga ahli dan investor yang berasal dari negara-negara calling visa.

Menilik situasi, waktu, serta alasan dibukanya layanan calling visa ini menarik. Sampai saat ini, praktis Indonesia masih menutup perbatasannya dari kunjungan warga negara asing, sesuai dengan Permenhukham No. 1/2020, yang kemudian diganti dengan Permenhukman No. 26/2020 tentang Visa dan Izin Tinggal Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru.

Jadi, kalau payung besar penutupan perbatasan negara untuk perlindungan dari COVID-19 masih diberlakukan, mengapa justru Ditjen Imigrasi secara khusus membuka layanan calling visa untuk delapan negara itu? Alasan tenaga ahli, investor, kawin campur menurut saya kurang cocok dikenakan ke delapan negara, mengingat kondisi ekonomi dan politik yang sama atau di bawah Indonesia. Kecuali Israel.

Mungkinkah, ketujuh negara itu hanyalah “pelengkap” bagi Israel?

Baca selengkapnya tulisan jurnalis senior, Uni Lubis, membahas masalah ini: https://www.idntimes.com/opinion/politic/amp/uni-lubis/mendadak-pemerintah-indonesia-buka-visa-calling-untuk-israel

——————–

Komentar saya: pihak-pihak yang menghendaki dibukanya hubungan diplomatik Indonesia-Israel memang kelihatannya semakin kuat. Kalau masih ada yang berani bersuara dukung Palestina biasanya langsung dicap “radikal” dan disamakan dengan kelompok onoh yang memang -sayangnya- terbukti radikal.

Padahal pembela Palestina itu sangat luas faksinya.. bahkan orang-orang non-Muslim pun sangat gigih menjadi pembela Palestina (misalnya, para aktivis BDS di negara-negara Barat atau aktivis di Amerika Latin).

Pembelaan pada Palestina dan penolakan atas penjajahan Israel, mengecam kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan Israel adalah AMANAH UUD 1945 kita: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Semoga pemerintah Indonesia bisa tetap menjaga amanah ini, dan tidak tertipu oleh jargon-jargon kosong seperti “kalau mau mendamaikan dua pihak ya harus berteman dengan kedua pihak dong!” atau “Israel itu negara sangat kaya dan sangat canggih, kita bisa untung besar kalau buka hubungan diplomatik dengan Israel!”

Sekedar mengingatkan: tanggal 29 November adalah hari yang ditetapkan PBB sebagai “Hari Solidaritas Internasional Bersama Bangsa Palestina”

Mengapa Israel Membunuh Saintis Iran?

Seorang saintis top Iran, Dr. Mohsen Fakhrizadeh, gugur akibat serangan teror (Jumat, 27/11/2020). Dr. Mohsen mengepalai Organisasi Riset dan Inovasi Pertahanan Iran. Selain mengurusi proyek nuklir Iran, dia juga terlibat dalam pembuatan test-kit Covid dan vaksin Covid, yang kini sedang di tahap ujicoba pada manusia.

Pemerintah Iran dengan segera menyebut Israel sebagai pelaku pembunuhan ini. Mereka yang mengikuti dengan intens konflik Iran-Israel akan tahu, bahwa ini bukanlah tuduhan kosong.

Alasannya, pertama, karena yang paling berkepentingan dengan tewasnya saintis Iran adalah Israel. Dalam berbagai forum, mulai dari sekelas Sidang Umum PBB, hingga wawancara biasa, para petinggi Israel sangat sering menyebut nuklir Iran sebagai ancaman bagi dunia.

(lebih…)

Diskusi Dina Y. Sulaeman dengan Gus Najih, Habib Nuruzzaman, dan Eko Kuntadhi

https://www.youtube.com/watch?v=GJw3opEYdv0

Antara Biden dan Trump, Mana yang Lebih Baik untuk Timur Tengah?

Konflik antara Amerika Serikat dengan Timur Tengah telah berlangsung sejak lama dalam beberapa dekade terakhir. Permasalahannya adalah Amerika Serikat (AS) sering kali menerapkan kebijakan-kebijakan ektrem, terlebih pada masa kekuasaan Donald Trump yang membuat hubungan antara AS dan negara-negara Timur Tengah semakin memanas. Lalu, bagaimanakah dampak Pilpres AS 2020 terhadap negara-negara di Timur Tengah?

Silakan baca selengkapnya, wawancara saya dengan Ketik Unpad 🙂https://ketik.unpad.ac.id/…/antara-biden-dan-trump-mana…

Salah Kaprah Soal Boikot

Membaca berbagai aksi boikot yang berupa perusakan (dan tentu saja langsung jadi bahan ejekan rame-rame), saya jadi merasa perlu nulis, apa sih esensi boikot itu?

Saya jelaskan dulu posisi saya: saya tidak memboikot produk Prancis, tapi selama bertahun-tahun BERUSAHA (sebisa saya) menghindari membeli produk-produk yang terbukti memberikan sebagian profitnya kepada Israel; atau jelas-jelas bikin pabriknya di atas tanah pendudukan Palestina (Occupied Palestine). Kalau kebetulan ada produk Prancis yang juga dukung Zionis, nah produk ini juga saya hindari.

Ada 7 poin penting soal boikot ini.

(lebih…)