Kajian Timur Tengah

Beranda » Resolusi Konflik

Category Archives: Resolusi Konflik

Analisis Konflik: Aggravating Factor

Sebelum ini, baik di seminar, di blog, atau di fanpage, saya berkali-kali menjelaskan bahwa dalam menganalisis konflik, ada 4 faktor yang perlu diteliti, akar, pemicu, faktor yang memperuncing konflik (aggravating factor) dan faktor mobilisasi. Dalam perang Suriah, menurut saya, perdagangan senjata dan NGO Barat masuk ke dalam aggravating factor ini. Kalau pedagang senjata sih sudah jelas ya, mereka memang ingin dapat keuntungan dari jualan senjata, karena itulah mereka ingin perang selalu ada.

Bagaimana dengan NGO? Mereka ini antara lain perannya:

(1) terlibat dalam suplai senjata dan rekrutmen petempur

NGO seperti ini biasanya berkedok menggalang dana, namun kemudian penyalurannya malah kepada kelompok teroris yang menjadi proxy Imperium untuk mengganggu sebuah negara. Selengkapnya bisa dibaca di Banjir Senjata ke Teroris Syria, Dari Mana?” (karya Wendy Wong)

(2) memprovokasi massa di daerah konflik agar memilih opsi yang disukai oleh para juragan perang. Misalnya, untuk Kurdistan Irak, aktivis NGO Barat akan mendorong publik di sana agar sepakat untuk bereferendum. Seolah-olah ini demokratis dan menuju kepada situasi yang lebih baik. Tapi lagi-lagi, kalau dilihat dari peta besar konflik (taruh 4 faktornya secara utuh), NGO-NGO itu tak lebih dari perpanjangan tangan juragan perang (yaitu Imperium).

Pembahasannya agak rumit buat orang yang terbiasa berpikir hitam putih (kalau kamu menolak A, pasti kamu golongan B, padahal ada banyak kemungkinan di antara A dan B, misalnya A’, A”, ..dst). (lebih…)

Iklan

Merenungi Perang Salib

Dina Y. Sulaeman

I have given Jerusalem my whole life. First, I thought we were fighting for God. Then I realized we were fighting for wealth and land. I was ashamed
(Tiberias, Kingdom of Heaven)

Ada tulisan singkat tentang sejarah Perang Salib di sebuah web yang bagi saya menarik karena cara penulisannya yang singkat tapi ‘hidup’. Tanpa perlu berpikir keras dan waktu panjang, pembaca bisa menangkap situasi seputar Perang Salib. Namun ada bagian-bagian yang membuat saya memikirkannya lebih jauh.

(1)    Penekanan ke-Sunni-an atau Ke-Syiah-an Para Aktor Perang

[Setelah jatuhnya Jerusalem ke tangan Tentara Salib] Khalifah di Baghdad tidak mau repot-repot mengajak kaum muslimin untuk membela tempat-tempat suci mereka. Para Emir dari Dinasti Seljuk di seluruh dunia Muslim pun terlalu sibuk bertempur satu sama lain. Dan imperium Syiah Fatimiyah di Mesir bersekutu dengan Tentara Salib untuk merugikan Dinasti Seljuk yang Sunni. … Selama era itu, Mesir berada di bawah kendali dari Syiah Fatimiyah. Mereka bekerja sama dengan Tentara Salib untuk merugikan seluruh umat Islam.

Benarkah? Katakanlah benar bahwa Dinasti Fatimiah memang kejam, despotik, dll (sebagaimana juga Dinasti Seljuk, dan dinasti-dinasti Arab yang memang selalu  bertempur satu sama lain), lalu mengapa ditekankan masalah ‘Syiah’-nya?

(lebih…)

Pemetaan Konflik Mesir

Dina Y. Sulaeman*

Pengantar: Dalam artikel panjang ini penulis akan melakukan pemetaan konflik dengan harapan agar publik bisa melihat situasinya dengan lebih jernih. Ini penting karena opini publik Indonesia atas konflik ini terlihat mulai keruh oleh sikap-sikap takfiriah. Yang tidak mendukung Mursi dituduh anti-Islam. Bahkan banyak yang seenaknya berkata: yang anti-Mursi pasti Syiah atau Yahudi (dan keduanya bersekongkol!). Jelas ini pernyataan yang tidak logis, tidak cerdas, dan semata didasarkan pada kebencian yang membabi-buta. Sebaliknya, yang menolak kudeta pun, belum tentu pro-Mursi atau pro-takfiri. Bahkan, negara yang paling awal mengecam penggulingan Mursi dan menyebutnya sebagai kudeta militer justru Iran. Sebaliknya, yang pertama kali memberikan ucapan selamat kepada militer Mesir justru Arab Saudi.

(1)   Ikhwanul Muslimin

Muhammad Mursi, doktor lulusan AS dan aktivis Ikhwanul Muslimin (IM) naik ke tampuk kekuasaan dengan memenangi 52% suara dalam pemilu bulan Juni 2012. Jumlah turn-out vote saat itu hanya sekitar 50%. Artinya, secara real Mursi hanya mendapatkan dukungan seperempat dari 50 juta rakyat Mesir yang memiliki hak suara (karena ‘lawan’ Mursi saat itu hanya satu orang, Ahmad Shafiq, mantan perdana menteri era Mubarak). Dalam posisi seperti ini, bila benar-benar menganut azas demokrasi, idealnya Mursi melakukan pembagian kekuasaan dengan berbagai pihak.

Awalnya, Mursi memang memberikan sebagian jabatan dalam kabinetnya kepada tokoh-tokoh yang tadinya berada di pemerintahan interim militer. Namun sikap kompromistis Mursi tak bertahan lama. Pada bulan Agustus 2012, Mursi mulai melakukan ‘pembersihan’ di tubuh pemerintahannya. Bahkan pada bulan November 2012, Mursi mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa semua produk hukum yang dihasilkan anggota parlemen (yang didominasi Ikhwanul Muslimin) tidak bisa dibatalkan pengadilan. Dekrit ini ditentang kaum sekuler dan minoritas karena mengkhawatirkan produk UU yang meng- ‘Ikhwanisasi’ Mesir. Mereka pun berdemo besar-besaran di Tahrir Square.

Situasi semakin memanas seiring dengan sikap sektarianisme yang ditunjukkan para aktivis IM dan aliansi utama mereka, kalangan Salafi. Bila pada era Mubarak semua sikap politik-relijius  dari semua pihak diberangus, pada era Mursi yang terjadi adalah pembiaran kelompok berideologi takfiri (gemar mengkafirkan pihak lain) untuk menyebarluaskan pidato-pidato kebencian melalui berbagai kanal televisi dan radio.

Tidak cukup dengan pidato, aksi-aksi kekerasan fisik pun mereka lakukan. Korban sikap radikal mereka ini bahkan ulama Al Azhar. Pada 28 Mei 2013 kantor Grand Sheikh Al Azhar diserbu kelompok takfiri yang meneriakkan caci-maki, menyebut Al-Azhar sebagai institusi kafir. Tudingan ini dilatarbelakangi sikap moderat yang selalu diambil ulama Al Azhar dalam berbagai isu. Label kafir memang sering disematkan oleh pihak  pro-Mursi terhadap para penentangnya.  Puncaknya adalah peristiwa pembantaian terhadap orang-orang Syiah yang sedang mengadakan acara maulid Nabi di kawasan Zawiyat Abu Musallem.

Dalam kebijakan luar negerinya, Mursi pun tidak mendahulukan kepentingan nasional Mesir, melainkan kepentingan ideologis transnasional IM. Dalam konflik Suriah misalnya, di mana IM Suriah berperan aktif, Mursi memilih berpihak kepada kelompok oposisi. Mursi bahkan menjadi tuan rumah bagi muktamar para ulama di Kairo pada Juni 2012 yang merekomendasikan jihad, bantuan dana, dan suplai senjata untuk pemberontak Suriah. Ratusan jihadis asal Mesir pun ternyata sudah tewas di Suriah. Istilah gampangnya: negara sedang susah kok malah menghabiskan energi untuk ngurusin perang di negara lain?

(lebih…)

Islam: Terorisme atau Cinta?

Upaya mengaitkan pengeboman di Boston dengan kata ‘jihad’ semakin terlihat. Meski mengakui bahwa penyelidikan masih berlangsung, Foreign Policy 22 April merilis artikel berjudul ‘Boston’s Jihadist Past’ (Masa Lalu Pejuang Jihad Boston). Inilah proses stigmatisasi dan stereotyping media Barat terhadap kata ‘jihad’. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah esensi Islam adalah cinta? Lalu mengapa kini Islam justru seolah identik dengan kekerasan? Konflik yang paling dominan terjadi di Timur Tengah, yang justru didominasi kaum muslim. Apa yang sebenarnya tengah terjadi?

Dalam diskusi bertajuk Islam: Risalah Cinta Semesta yang digelar Masjid Salman dan Penerbit Mizan, serta didukung oleh Studia Humanika, 19 April 2013, dua pembicara, Yasraf Amir Piliang (YAP) dan Haidar Bagir (HB), berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan ini melalui perspektif masing-masing.

YAP menguraikan bahwa ada tiga bagian dalam  masalah ini: akar kekerasan, realitas kekerasan, dan citra kekerasan.

1. Realitas kekerasan, yaitu: berbagai aksi terorisme yang dilakukan muslim (misalnya, Al Qaida), atau kekerasan yang dilakukan kelompok-kelompok Islam terhadap umat agama lain, atau terhadap mazhab/aliran yang dianggap sesat.

2. Citra kekerasan. Citra adalah sesuatu yang artifisial, dikonstruksi, dan bahkan disimulasi dengan tujuan untuk menciptakan citra tertentu. Hal ini terkait dengan politik media global. Mereka melakukan ideologisasi Islam; mereka menyebarkan opini bahwa Islam adalah agama yang berideologi kekerasan. Media global adalah ruang perang ‘simbol’ antarkepentingan untuk menguasai opini publik. Artinya, opini publik dibangun melalui perang informasi di ruang publik. Media memiliki dua pilihan: de-re (menyampaikan sesuai realitas) atau de-dicto (menyampaikan sesuai kepentingan sekelompok tertentu). Media Barat telah melakukan de-dicto, membangun opini publik tentang Islam sebagai agama kekerasan.

(lebih…)

Resolusi Konflik Syria

Ada yang bertanya kepada saya, Perang Syria ini perang politik atau perang antarmazhab?

Kalau menggunakan teori Resolusi Konflik, dalam menganalisis konflik, kita perlu melihat petanya secara luas. Bayangkan kalau Anda mau meneliti konflik di Sampang, Madura (rumah-rumah penduduk di sebuah desa dibakar massa dan hartanya dijarah). Anda bisa membuka peta dan hanya memusatkan mata Anda pada wilayah Sampang (dan semata-mata melihat: ini gara-gara adanya aliran ‘sesat’ di desa itu), tapi bisa juga Anda memperlebar fokus. Anda bisa pandang peta Indonesia dan dunia secara keseluruhan, termasuk laut di Madura yang kaya minyak, Anda juga perhatikan wilayah Arab Saudi, Qatar, Israel, Amerika Serikat.

Jadi, kalau Anda mau melihat konflik Syria hanya pada fakta bahwa Assad itu dari sekte Alawi (yang konon katanya kafir dan zalim), dan karena itu harus digulingkan demi menegakkan agama Allah, itu artinya Anda hanya fokus pada satu titik kecil di peta dan melupakan wilayah-wilayah lain di peta yang sebenarnya mungkin lebih berpengaruh.

Minimalnya ada empat faktor yang terlibat dalam sebuah konflik, yaitu triggers (pemicu), pivotal (akar), mobilizing (peran pemimpin), dan aggravating (faktor yang memperburuk situasi konflik). Keempat faktor ini umumnya berjalin berkelindan dalam sebuah konflik, sehingga sering menimbulkan kesalahan persepsi.

Saya sendiri, lebih setuju pada analisis para pakar politik Timur Tengah yang menyebutkan bahwa faktor mazhab hanya triggering, pemicu. Yang namanya pemicu, ibarat pistol, nggak akan meletus kalau tidak ada yang menarik pelatuknya. Berusaha menyelesaikan konflik di pertanyaan siapa yang narik pelatuknya (misalnya, siapa yang salah: Assad yg zalim, atau kelompok yang memberontak sehingga pemerintah mau tak mau harus melawan? Atau; apa benar Alawi itu kafir? Kalau kafir apa wajib diperangi, dst, yang akan melibatkan perdebatan teologis yang tidak ada ujungnya) tidak akan menyelesaikan masalah (istilahnya: konflik tidak bisa teresolusi).

(lebih…)