Kajian Timur Tengah

Beranda » rohingya

Category Archives: rohingya

Iklan

Diplomasi Zaman Now vs Diplomasi Era Zadoel

Debat Keempat Pilpres kemarin saya ikuti dengan seksama karena temanya cocok dengan bidang studi saya, Hubungan Internasional. Ada hal yang menarik untuk ditelaah, soal diplomasi dan ‘kepentingan nasional’.

Pertanyaan dari panelis adalah, “…Keberhasilan dalam diplomasi internasional tergantung pada kemampuan negara menawarkan keunggulannya kepada negara-negara lain. Keunggulan tersebut bisa dalam bentuk kebudayaan, ekonomi, pertahanan, dan gagasan solutif. …Menurut Bapak apa keunggulan bangsa Indonesia yang akan ditawarkan dalam diplomasi internasional dan bagaimana strategi utk mewujudkannya?

Jawaban Presiden Jokowi, keunggulan kita adalah “Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.”

Hal ini direspon Capres Prabowo bahwa diplomat asing itu “menghitung kekuatan kita”. Yang dimaksud Prabowo adalah kekuatan militer, karena selanjutnya yang disebutnya adalah ‘berapa kapal selam, pesawat, peluru kendali yang kita punya?’

Dalam tulisan singkat ini, saya hanya ingin menjelaskan bahwa secara paradigmatik, kedua tokoh ini berbeda bagai bumi dan langit.

(lebih…)

Iklan

Tentang China dan Uyghur (1) : Metodologi

Kasus Uyghur sebenarnya pengulangan dari konflik-konflik lain yang disikapi emosional oleh orang Indonesia. Jadi, ini adalah tulisan ‘metodologis’, tentang bagaimana cara kita menyikapi konflik yang terjadi nuh jauh di luar sana.

Mengapa ini penting? Karena melelahkan sekali, juga tidak mungkin, bila kita harus mengecek satu-satu setiap isu yang disebar; perlu langkah metodologis yang kita kuasai sehingga dengan cepat mampu menangkap ‘bau’ hoax.

Tahap pertama: FAKTA

Fakta artinya: benarkah terjadi? Ketika disebut “orang Muslim dibunuh pemerintah China” atau “orang Sunni dibunuh orang Syiah”, perlu dicek (1) benarkah terjadi? (2) kalau benar, dalam kondisi apa, atas alasan apa?

(lebih…)

Rohingya, Yaman, dan Para ‘Jihadis’ (2)

oilcurse

Di antara para pembaca tulisan bagian (1), ada yang masih salah paham maksud tulisan saya. Ada yang salah paham karena sentimen agama (seolah-olah, dengan membahas keterlibatan korporasi dalam konflik Myanmar, artinya anti Islam karena tidak peduli pada Rohingya), ada yang karena bekerja di perusahaan yang bergelimang uang berkat perang sehingga punya kepentingan untuk menyalahpahamkan (menggeser diskusi ke arah lain), ada juga karena memang benar-benar belum paham karena tulisan saya yang terlalu singkat.

Jadi khusus untuk golongan ke-3, yang saya asumsikan memang ingin terus belajar, saya putuskan untuk melanjutkan tulisan tersebut.

Dalam menganalisis konflik dengan perspektif ekonomi-politik, rumusnya begini: follow the money. Lihat kemana aliran uang terbesar mengalir, di sanalah aktor utama konflik ini berada, di sanalah akar konflik. Dalam konflik, ada yang disebut “akar”, ada yang disebut “pemicu”. Pemicu konflik, bisa apa saja, bergantung daerahnya.

(lebih…)

Rohingya, Yaman, dan Para ‘Jihadis’ (1)

arsaRupanya, meskipun sudah membuat 5 tulisan, masih ada hal penting yang belum saya bahas, yaitu keberadaan “jihadis” Rohingya di Myanmar.

Saya masih belum sempat meneliti mendalam tentang ARSA (soalnya, saya pengamat Timteng, bukan Asia Tenggara). Tapi dari pernyataan resmi pemerintah Myanmar dan pemberitaan media-media internasional disebutkan bahwa ada kelompok bersenjata bernama Pasukan Keselamatan Rohingya Arakan (Arakan Rohingya Salvation Army, ARSA).

Keberadaan ARSA menjadi dalih bagi kekerasan yang dilakukan oleh tentara Myanmar terhadap kaum Rohingya. Narasinya: tentara menggrebek kamp-kamp pengungsi Rohingya untuk menangkapi milisi ARSA, karena sebelumnya mereka telah menembaki tentara.

Suu Kyi juga membela perilaku tentara dengan mengkambinghitamkan teroris. Seperti diberitakan BBC, Suu Kyi mengatakan bahwa banyak informasi salah yang beredar; dan informasi itu disebar untuk mendukung “kepentingan teroris.”

Menurut BBC, Suu Kyi tak menjelaskan lebih lanjut pihak yang ia sebut sebagai “teroris.” Namun selama ini, pemerintah Myanmar selalu menyebut ARSA sebagai teroris.

Okelah, teroris memang harus ditangkapi. Densus kita juga berjuang keras menangkapi teroris. Problemnya, seperti dilaporkan Burma Human Rights Network, militer tak hanya menghincar ARSA, tapi juga membantai orang Rohingya yang tak terkait dengan serangan itu.

Akibat serbuan militer sejak 2 pekan lalu, selain 400-an orang Rohingya tewas, 120 ribuan lainnya mengungsi keluar dari Rakhine, menuju perbatasan Bangladesh. Padahal di sana sudah ada 400.000 pengungsi yang hidup dalam kamp-kamp yang amat buruk dan menyedihkan. Bangladesh yang juga negara miskin, tak sanggup lagi menampung, sehingga melarang masuk pengungsi yang baru.

(lebih…)

Rohingya dan Analisis Geopolitik & Ekonomi-Politik

Myanmar oil and gas pipeline

Beberapa kali saya tulis (baik di FB, FP, maupun buku), dalam menganalisis konflik itu ada 4 faktor yang harus diteliti, dua di antaranya yang terpenting adalah trigger (pemicu) dan pivot (akar). Dua faktor ini sering dicampuradukkan, yang trigger dianggap sebagai akar konflik dan orang berputar-putar berdebat di sana.

Konflik Rohingya kalau dipetakan, ada dua lapis: lapisan pertama atau permukaan-nya diframing sebagai konflik agama. Pasalnya, si pelaku beragama Buddha (yang ekstrimnya, tentu saja, tidak bisa digeneralisasi; tokoh-tokoh Buddha di Indonesia sudah berlepas diri dari para ekstrimis ini), dan si korban beragama Islam. Lapisan pertama ini yang sering digoreng sebagian pihak di dalam negeri untuk kepentingan politik dan uang. (Penjelasannya, baca lagi status saya sebelumnya [1])

Di sisi lain, rekam jejak biksu Wirathu yang secara provokatif membangkitkan kebencian kepada Muslim juga tidak bisa dipungkiri. Artinya, memang ada upaya pihak-pihak ekstrim di Myanmar yang memanfaatkan agama untuk mengeskalasi konflik. Tapi, ini BUKAN AKAR, ini adalah TRIGGER, pemicu.

Pemicu itu adalah sesuatu yang bikin publik marah lalu menjustifikasi kekerasan. Samalah seperti orang yang demen jihad di Indonesia, lihat foto-foto bocah berdarah di Suriah, langsung teriak jihad lawan Syiah, padahal ternyata foto hoax.

Lalu, akarnya di mana? Mereka yang terbiasa untuk menggunakan perspektif ekonomi-politik dan geopolitik dalam menganalisis konflik, sambil merem pun sudah menduga kuat bahwa pasti ada faktor kekayaan yang sangat besar di sana, yang sedang diperebutkan. Inilah analisis lapisan kedua-nya, yang lebih dalam.

Sepintas ini seolah tulisan konspirasi. Tapi tunggu, saya jelaskan dulu, dengan mengupas kasus Timteng karena saya memang lebih consern di Timteng.

(lebih…)

Pesan-Pesan untuk Kalian (Tentang Rohingya)

THAILAND-SEASIA-MIGRANTSBerikut ini pesan saya untuk 3 pihak:

-yang pingin jihad ke Myanmar
-yang pingin nyumbang dana
-yang bilang “kalian tu nyebelin sih, ga beradab, pantesan aja diusir melulu”

A. Buat yang ngotot ingin berjihad ke Myanmar

Marah? Harus dan wajar. Namun nalar dan akal sehat jangan sampai menguap dari didihan darahmu.

Tak pernahkah kau berpikir, sekali menjejakkan kaki di sana dengan tujuan ‘mulia’ itu, engkau praktis di bawah komando sesuatu yang bukan dalam kuasamu?

Mampukah engkau menolak perintah untuk berbuat kerusakan di luar tujuan kedatanganmu? Bisakah engkau sekonyong-konyong pulang kapanpun kau mau?

Konflik Syria adalah blueprint dari pola ini. Puluhan ribu ‘jihadis’ asing berbondong-bondong tiba ke Syria, dengan niat ‘menolong’ – namun mereka malah menyebabkan kondisi menjadi semakin parah.

(lebih…)

Rohingya dan Komoditas Politik Domestik

biksu-ashin-wirasthuTulisan terbaru saya di Geotimes

“Mereka [orang Burma] mengatakan, jika kamu menyebut diri Rohingya, kamu akan dilempar ke laut!” kata seorang pria Rohingya, seperti diceritakan jurnalis Emanuel Stoakes yang mengunjungi kamp pengungsi di Sittwe, Provinsi Rakhine, 2013.

Dalam pernyataan itu terkandung akar konflik Rohingya di Myanmar. Pemerintah Myanmar sejak deklarasi kemerdekaan 1948 menolak memberikan status warga negara kepada etnis Rohingya. Mereka selalu menyebut orang-orang Rohingya sebagai orang ‘Bengali’ yang seharusnya menjadi warga Bangladesh, bukan Myanmar. Hal ini bertentangan dengan fakta bahwa selama berabad-abad etnis Rohingya telah hidup di tanah yang kini bernama Myanmar itu.

Status stateless (tak punya negara) yang dialami 140.000 orang Rohingya membuat segala hak-hak kemanusiaan mereka terabaikan. Etnis Rohingya adalah salah satu dari beberapa suku minoritas di Myanmar yang menderita penindasan dan diskriminasi dari junta militer Myanmar yang didominasi suku Burma. Del Spiegel pada tahun 2007 melaporkan bagaimana kondisi salah satu suku minoritas yang mengalami penindasan itu, yaitu suku Karen yang mayoritas beragama Kristiani.

Selanjutnya:   https://geotimes.co.id/kolom/internasional/rohingya-dan-komoditas-politik-domestik/

Rohingya dan Kita (1-2)

Berikut ini copas dari 2 status facebook saya, mengenai Rohingya.

Bagian 1

Sejumlah orang menanyakan pendapat saya mengenai kasus Rohingya. Berikut ini beberapa poin pemikiran saya, sebagian pernah saya tulis di paper saya yang diikutsertakan dalam konferensi internasional, “Debating ‘National Interest’ Vis A Vis Refugees: Indonesia’s Rohingya Case”, sebagian pernah saya tulis di blog.

Sejak awal deklarasi kemerdekaan Myanmar tahun 1948 (semula dijajah oleh Inggris), negeri tersebut sudah memiliki konflik antaretnis, karena etnis Burma yang merupakan 2/3 dari populasi mendominasi 100-an etnis lainnya, seperti etnis Shan, Karen, Rakhine, Rohingya, Kachine, dan Mon.

Menurut keterangan narasumber penelitian saya saat menulis paper tentang Rohingya, secara umum, umat Islam baik-baik saja di Myanmar, ada masjid-masjid yang berdiri di sana, dan umat Muslim bisa beribadah dengan aman. Yang jadi masalah adalah: etnis Rohingya yang ‘kebetulan’ Muslim adalah etnis minoritas yang tidak diakui sebagai warga negara Myanmar. Akibat status ‘stateless’ ini, mereka mengalami diskriminasi dan penindasan. Suku Kachin dan Karen juga mengalami penindasan dari rezim Myanmar, agama mereka umumnya Kristiani.

(lebih…)