Kajian Timur Tengah

Beranda » Rusia

Category Archives: Rusia

Iklan

Analisis Berita: Bagaimana Detik.com Memberitakan Idlib

Isi berita saya copas utuh, catatan dari saya ada di dalam [….]
—-
***Serangan udara yang disebut dilakukan pihak rezim bersama sekutunya, Rusia, menewaskan 12 orang di barat laut Suriah. Korban tewas ini terdiri dari warga sipil dan tiga orang anak.

Dilansir AFP, Jumat (26/7/2019), rezim Suriah dan Rusia telah meningkatkan serangan sejak akhir April. Serangan ini dilakukan di wilayah Idlib, di mana wilayah ini memiliki penduduk sebanyak 3 juta orang.

Pengeboman yang dilakukan, disebut telah meruntuhkan pusat kesehatan dan sekolah. Hal ini juga mengakibatkan lebih dari 330.000 orang meningalkan rumah masing-masing.Kelompok-kelompok yang memberikan bantuan mengecam kejadian yang telah membunuh dengan sebagian korbannya merupakan anak-anak. Save the Children mengatakan jumlah anak-anak yang terbunuh selama empat minggu terakhir, telah melebihi jumlah korban anak-anak yang tewas sepanjang tahun lalu.

“Situasi saat ini di Idlib adalah mimpi buruk,” kata badan amal Sonia Khush.

“Sudah jelas bahwa sekali lagi anak-anak telah terbunuh dan terluka dalam serangan tanpa pandang bulu,” tuturnya.***
—–

(lebih…)

Iklan

#10yearschallenge of Syria

Sedang musim bikin foto #10yearschallenge ya? Konflik Suriah dimulai 2011, sekarang 2019, belum 10 tahun, tapi semoga bisa selesai sepenuhnya tanpa menunggu 10 tahun.

Apa hasil perang ini?

Tentu saja, kehancuran sebagian besar wilayah Suriah (yang harus dibangun lagi dengan biaya yang amat sangat besar) dan penderitaan teramat pahit yang diderita warganya (yang entah kapan bisa disembuhkan).

Dalam perspektif geopolitik, inilah ‘hasil’ Perang Suriah. Saya terjemahkan dari sebagian tulisan Elijah Magnier, seorang analis Timteng senior.

***

Suriah kini menjadi pusat perhatian publik sedunia, terutama di Timur Tengah. Posisinya bahkan lebih kuat daripada 2011. Suriah kini memiliki rudal presisi canggih yang dapat menghantam setiap bangunan di Israel. Assad juga memiliki sistem pertahanan udara yang tidak akan pernah ia impikan sebelum 2011, karena pelanggaran udara yang dilakukan terus-menerus oleh Israel yang berarti mengganggu kepentingan Rusia. Hizbullah telah membangun pangkalan untuk rudal presisi jarak jauh dan menengah di pegunungan dan telah menciptakan ikatan yang amat kuat dengan Suriah; sesuatu yang tidak akan pernah bisa dibangun jika saja perang Suriah tak terjadi. Iran juga telah membentuk persaudaraan strategis dengan Suriah berkat perannya dalam mengalahkan agenda perubahan rezim [yang dilancarkan Barat]. Dukungan NATO terhadap ISIS telah menciptakan ikatan kuat antara Suriah dan Irak; sesuatu yang tidak dapat diciptakan sebelumnya. Irak kini memiliki keleluasaan untuk mengebom lokasi ISIS di Suriah tanpa perlu izin dari otoritas Suriah (menyusul restu penuh dari Assad kepada Irak untuk bergabung dalam perang melawan ISIS). Tentara Irak bahkan bisa masuk ke Suriah kapan saja mereka memutuskan untuk menyerbu ISIS. Aliansi anti-Israel tidak pernah lebih kuat dari sekarang. Inilah hasil dari perang 2011-2018 yang dipaksakan [Barat] kepada Suriah.”

***

Orang-orang di foto ini adalah sebagian para tokoh dunia yang pernah meneriakkan “Assad harus pergi” tapi merekalah yang ‘pergi’ duluan [dalam arti tidak berkuasa lagi; atau ada juga yang meninggal]. Di Indonesia sejak 2012 juga ada beberapa tokoh yang meneriakkan kata-kata yang sama, yang saat ini sudah ‘pergi’ duluan. Tak perlulah disebut namanya.

***

Perang Suriah dimulai dan dipertahankan dengan menggunakan kebohongan, yang disebarkan dengan amat canggih dan tersistematis, sampai-sampai hampir semua orang di dunia ini percaya bahwa rezim Assad itu bajingan yang harus dilengserkan. Bagi mereka, sulit untuk menerima bahwa media-media terkemuka dunia bisa melakukan kebohongan. (Bahkan sebagian muslim mau mengorbankan nyawa untuk berperang di Suriah). Padahal, bila kita amati sejarah, Suriah bukan pertama kalinya. Dalam satu abad terakhir, sangat banyak kebohongan yang disebarkan AS untuk memicu perang, detilnya baca di sini: https://dinasulaeman.wordpress.com/2013/09/06/sejarah-kebohongan-perang-as/

Kematian Khashoggi dan Implikasi Geopolitiknya

Banyak yang menulis dengan penuh puji-pujian padanya: jurnalis yang adil, progresif, pengkritik Rezim Saud. Banyak pula yang heran, mengapa dunia sedemikian heboh atas tewasnya satu orang Khashoggi di tangan rezim Saud, tapi tak terlalu peduli pada nasib 30 juta warga Yaman yang setiap hari dibombardir serta diblokade sehingga tidak mendapat akses makanan dan obat-obatan, oleh rezim yang sama?

Saya akan cerita sedikit saja. Begini, to the point: Khashoggi adalah pengikut Ikhwanul Muslimin dan pendukung “mujahidin” (tepatnya, “teroris”, karena cara-cara teror barbar mereka sudah masuk kategori terorisme) di Suriah. Kita tahu, saya sudah sering tulis, sebagian “mujahidin” Suriah, terutama yang mendapat sumbangan dana dari Turki dan Qatar (dan lembaga-lembaga donasi dari Indonesia) memang berideologi Ikhwanul Muslimin.

Dalam tulisannya di Washington Post 3 Juli 2018, Khashoggi mengatakan, “Ini waktunya buat AS untuk masuk [ke Suriah] dan menegakkan otoritas tradisionalnya di kawasan. …AS adalah satu-satunya ‘broker’ [makelar] yang jujur dalam upaya internasional untuk menciptakan perdamaian dan keadilan untuk rakyat Suriah. Template [pola] yang cocok untuk Suriah adalah apa yang saat ini DILAKUKAN TURKI di Afrin… Wilayah yang dikontrol Assad diperintah dengan penuh ketakutan dan kehilangan harapan.” [1]

(lebih…)

Hoax Demi Kekuasaan

Denny Siregar baru-baru ini menulis soal Nayirah, gadis 15 tahun yang mengaku sebagai perawat di Kuwait. Dengan sangat meyakinkan, ia menangis menceritakan betapa bayi-bayi dikeluarkan dari inkubator, lalu dibuang ke lantai. Presiden AS saat itu, Bush sr. mengutip ‘kesaksian’ Nayirah berkali-kali dalam pidatonya, sampai akhirnya Kongres menyetujui dimulainya Perang Teluk I.

Sekitar setahun kemudian, ketika semua sudah terlanjur, ketika ratusan ribu nyawa melayang akibat bom AS, baru ketahuan siapa sebenarnya Nayirah. Ia ternyata putri Dubes Kuwait untuk AS. Skenario kesaksiannya dirancang oleh sebuah perusahaan Public Relation besar dan mahal, Hill & Knowlton. [1]

Akting Nayirah bukan satu-satunya kebohongan yang dipakai para kapitalis perang selama ini. Perang Suriah juga menampilkan banyak aktor/aktris yang berbohong.

Saya sudah berkali-kali menulis soal hoax White Helmets. Ada pula aktris cilik, Bana Al Abed. Dia disebut Tempo sebagai ‘Anne Frank dari Suriah’. Saya pun menulis surat kritik kepada redaktur Tempo, ini saya copas sebagian:

(lebih…)

Senjata Rusia di Tangan ISIS?

Tulisan saya beberapa waktu lalu, menerjemahkan sebagian isi artikel Jerusalem Post tentang pengakuan militer Israel bahwa mereka selama ini menyuplai senjata, uang, bahkan juga makanan, kepada “mujahidin”, ada yang menanggapi bahwa foto yang SAYA pakai di tulisan itu adalah senjata buatan Rusia (garis bawah: *saya pakai*). Nah, ada seleb ZSM demi membela Israel, berpanjang-panjang nulis status soal foto yang saya pakai itu. Padahal foto yang saya pakai tidak bisa dijadikan argumen untuk membantah berita dari Jerusalem Post itu.

Khas SOP [standard operating procedure] ZSM (dan ini juga khas fans “mujahidin” kalau Anda sering debat dengan mereka, pasti hafal), pakai satu kata atau clue yang bisa digoreng, lalu sibukkan audiens dengan point itu, sehingga diskusi bergeser. Yang awalnya soal berita dari Jerusalem Post [bahwa Israel membantu “mujahidin”] jadi kemana-mana.

Jadi, saya akui saja: saya tidak paham senjata. Jika ditunjukkan foto senjata ke saya, saya tidak tahu jenisnya, apalagi produsennya. Tapi tidak paham ‘benda’-nya tidak berarti tidak paham konteks, konstelasi, dan perspektif geopolitiknya.

Nah tanggapan saya:

(lebih…)

Prahara Aleppo (2)

The White Helmets

Aleppo adalah kota terbesar di Suriah. Sejak 2012, jihadis/teroris dari berbagai kubu menduduki Aleppo. Mereka sempat menguasai 70% kota, namun tentara Suriah (SAA) kemudian melancarkan operasi pembebasan Aleppo. Saat ini, tinggal wilayah selatan Aleppo yang diduduki oleh jihadis/teroris.

Sejak 23 April 2016, jihadis/teroris di Aleppo secara masif menghujani wilayah Aleppo yang dikontrol SAA dengan mortar, rocket, dan Hell Cannon (sebelumnya, selama 2012-2016 mereka juga sering menyerang secara sporadis,  kali ini benar-benar masif). Korban terbesar adalah warga sipil, termasuk anak-anak. Awalnya media Barat bungkam (hanya media-media Suriah, PressTV, XinHua, RT, dan media-media alternatif  lainnya yang ‘berteriak’). Namun setelah SAA melakukan serangan balasan untuk membebaskan Aleppo dari jihadis/teroris, dengan serempak muncul pemberitaan masif dari media Barat/pro-jihadis: SAA dan Rusia membunuhi warga sipil Aleppo.

Salah satu korban serangan bom adalah RS Al Quds (di wilayah yang dikuasai jihadis/teroris dibom), 27 April 2016. Berita versi Barat/jihadis, pelakunya adalah SAA atau Rusia. Namun Rusia memiliki data bahwa pesawat yang terbang di udara Aleppo pada hari itu justru satu pesawat dari pihak koalisi anti ISIS (yang dimaksud: kubu AS&Turki).  AS dengan segala kecanggihan militernya tentu seharusnya juga punya data radar, tinggal diperlihatkan saja ke publik, kalau memang benar pengebomnya Suriah/Rusia. Modus sama telah terjadi pada 10 Februari 2016. Saat itu dua rumah sakit di Aleppo dibom dan jubir Pentagon langsung menyebut Rusia sebagai pelakunya, tanpa menyebut waktu dan koordinat lokasi serangan. Jubir Menhan Rusia membalas dengan mengungkap data rinci bahwa pada hari itu jam 10:55 GMT dua pesawat AS A-10 memasuki udara Suriah melalui Turki dan terbang langsung ke Aleppo dan mengebom 9 target di sana. Pada Oktober 2015, pesawat AS juga mengebom beberapa pusat pembangkit listrik di Aleppo.

(lebih…)

Nasib Muslim Tatar dan Jihad Ukraina

Analisis terbaru saya, dimuat di www.LiputanIslam.com

Nasib Muslim Tatar : Isu Jihad Baru di Ukraina?

Doku Umarov dan pasukan jihadnya

Doku Umarov dan pasukan jihadnya

Mereka yang intens mengikuti konflik Suriah dan Timteng pada umumnya, semestinya merasakan adanya alarm yang berbunyi, saat membaca tulisan koran Republika edisi cetak halaman 25 (10/3) berjudul “Tanda X di Pintu Rumah Muslim Crimea”. Track record Republika yang ikut bergabung dalam koor media mainstream soal Suriah, menyebarluaskan ilusi bahwa konflik di Suriah adalah kekejian kaum Syiah pro-Assad terhadap kaum Sunni (salah satunya bisa dibaca di artikel ini: Syria di Republika), membuat saya melihat tulisan itu dengan cara berbeda.

Dalam artikel yang ditulis oleh Ferry Kisihandi (dan bersumber dari Reuters, jaringan berita milik keluarga Rothschild) diceritakan tragedi 1944, ketika diktator Soviet, Josef Stalin, memerintahkan polisi membuat tanda X pada pintu-pintu rumah Muslim Tatar. Dalam beberapa hari, 200 ribu Muslim diusir dari rumahnya dan dikirim ke wilayah Uzbekistan. Ribuan orang kehilangan nyawa dalam perjalanan itu. Pada 1960-an, Uni Soviet mulai mengizinkan Muslim Tatar yang masih hidup di pengasingan untuk kembali ke Krimea.

Menurut Republika, pengusiran tahun 1944 itu berpotensi berulang pada tahun ini, menyusul masuknya tentara Rusia ke Krimea dan menghendaki Krimea memisahkan diri dari Ukraina. Pasalnya, Muslim Tatar warga Krimea lebih memilih untuk bergabung dengan Ukraina. Dan pilihan itu melahirkan konsekuensi, karena akhir-akhir ini muncul goresan tanda X di pintu-pintu rumah beberapa muslim Krimea, tulis Republika.

Mengingat mayoritas kaum muslim kelihatannya sedemikian mudah diprovokasi tanpa mau sejenak merenung dan mencari ‘berita di balik berita’, isu penindasan Muslim Tatar saya perkirakan akan dipakai untuk menggalang jihad melawan Rusia. Masih belum luput dari ingatan, betapa mudahnya kaum Muslim di Indonesia diprovokasi dengan berbagai foto dan video palsu. Mereka pun rela merogoh kocek dalam-dalam, sehingga terkumpul ratusan juta rupiah tanpa audit yang jelas, demi ‘menolong kaum Sunni yang ditindas Assad’. Jihadis dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari Indonesia berbondong-bondong datang ke Suriah demi menggulingkan Assad. Dan ironisnya, akhir-akhir ini di antara mereka (para jihadis) malah saling bunuh dengan cara-cara barbar, karena perebutan wilayah, jarahan, dan legitimasi (mana yang ‘khilafah asli’).

Umat muslim dunia kebanyakan menerima saja apa yang dicekokkan media kepada mereka. Dan ironisnya, sejak kasus Suriah, banyak media berlabel Islam yang bergotong royong dengan media mainstream tanpa mau mengaitkan konflik lokal dengan konstelasi politik global. Dalam artikel saya berjudul L’Ukraine est une autre Syrie (Ukraina adalah Suriah yang lain), saya sudah menulis berbagai persamaan antara konflik Suriah dan Ukraina. Berbeda dengan Suriah yang perlu dua tahun sebelum (sebagian) publik menyadari konspirasi Barat, di Ukraina, kecurangan Barat terungkap dengan sangat cepat.

Baca selanjutnya di LiputanIslam.com ya 🙂

Kemenangan Tentara Syria, Humor Putin, dan Hizbut Tahrir

Dina Y. Sulaeman*

Tentara Arab Syria (Syrian Arab Army, SAA) telah berhasil merebut kembali Al Qusayr, kota yang menjadi pusat kekuatan pemberontak. Persis seperti diprediksikan jurnalis Syria yang saya wawancarai di sini. Setelah dikepung 3 pekan oleh SAA yang dibantu tentara Hizbullah Lebanon, akhirnya, kelompok pemberontak telah mengeluarkan statemen bahwa mereka menarik pasukannya pada hari Rabu dini hari kemarin (5 Juni).

Pada hari yang sama, Presiden Rusia Vladimir Putin, yang dikenal suka bercanda sarkastis, mengeluarkan pernyataan di KTT Uni Eropa-Rusia, soal rencana negosiasi Jenewa (antara Assad dan oposisi). Dia menyatakan melihat video pemberontak yang memakan jantung mayat tentara Suriah, lalu berkata, “Saya harap mereka itu tidak muncul dalam negosiasi Jenewa. Kalau muncul, saya akan kesulitan untuk menjamin keselamatan delegasi Rusia.”  LOL

Pada tanggal 4 Juni (sehari sebelumnya), situs Global Muslim merilis pernyataan Jubir Hizbut Tahrir Indonesia, Ismail Yusanto: ‘Anggota Hizbut Tahrir Terlibat Jihad Di Suriah Secara Personal’ . Wow, sounds familiar? Mirip sekali dengan pernyataan standar berbagai lembaga yang ketahuan bersalah, “Bukan kami yang melakukannya, itu oknum.”

(lebih…)