Kajian Timur Tengah

Beranda » Sosial Iran

Category Archives: Sosial Iran

Apakah Syiah = Takfiri? (1)

Dina Y. Sulaeman*

Akhir-akhir ini saya ditanyai beberapa orang tentang fenomena beberapa orang Syiah di medsos yang dalam status FB/twitter mereka melaknat-laknat para Sahabat Rasulullah. Oleh karena itu saya merasa perlu menulis khusus tentang topik ini, sebagai sekuel dari tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Apakah Sunni = Takfiri?” Kalau dulu saya mewawancarai Ustadz NU yang aktif di medsos, yaitu Bapak Agus Nizami; kali ini saya mewawancarai seorang ustadz Syiah yang juga aktif di medsos, yaitu Dr. Muhsin Labib. [**Apa..?? Taqiyah? Oh ok, ntar saya tanya, “Bapak taqiyah apa enggak ini?”]

Sebelumnya, saya ingin menceritakan pengalaman empiris saya sebagai orang yang pernah 8 tahun tinggal di Iran dan bergaul akrab dengan tetangga-tetangga (jadi saya bukan jenis expat yang hidup eksklusif). Saya datang ke rumah mereka, mereka main ke rumah saya; kami ke pasar bersama, dan saya juga sesekali datang ke majlis-majlis taklim mereka (cerita lengkap, plus tentang piknik keliling Iran, ada di buku Journey to Iran). Nah, selama 8 tahun itu, saya GAK KETEMU sama yang aneh-aneh itu: melaknat-laknat Sahabat dan Ummul Mukminin Aisyah ra, mut’ah sembarangan, makan tai Imam (astaga!), melukai diri sendiri saat Asyura (itu pawai peringatan Asyura tiap tahun wira-wiri depan apartemen saya), dll.

Tahun 2012, saya dan 16 cendekiawati+jurnalis Indonesia diundang dalam konferensi Women and Islamic Awakening (mayoritas undangan dari 85 negara adalah perempuan-perempuan Sunni). Di acara pembukaan, Presiden Ahmadinejad hadir. Dia baru masuk ruangan aja, tepuk tangan membahana, sebagian besar hadirin (lebih dari 1000 perempuan hadir) berdiri spontan, menyambutnya bak selebritis. Saat ia pidato –spontan, tanpa teks- tentang kemuliaan posisi perempuan dalam Islam dan perjuangan melawan Israel, sebagian teman menyatakan meneteskan air mata karena terharu (cerita lengkap pengalaman ibuk-ibuk yang hadir di konferensi ini ada di buku A Note from Tehran).

(lebih…)

Iklan

Apakah Syiah = Takfiri (2)

nototakfiriTulisan ini sekuel dari tulisan saya sebelumnya Apakah Sunni = Takfiri?

Baca dulu bagian pertama ya.

Berikut ini kutipan diskusi saya dengan Dr. Muhsin Labib

Dina Y. Sulaeman (DYS): Apakah faham takfiri sebenarnya ada dalam Syiah?

Dr. Muhsin Labib (DML):   Begini, kita mulai dulu dari ajaran Wahabisme. Di Wahabi, doktrin dasarnya adalah purifikasi atau upaya pemurnian Islam dari hal-hal yang dipandang syirik dan bid’ah (misalnya, menolak ziarah kubur, tawasulan, atau pesta ulang tahun). Doktrin seperti ini meniscayakan munculnya paham takfirisme, “semua Muslim yang terkontaminasi syirik dan bid’ah adalah kafir”. Tentu, ada juga orang Wahabi yang tidak seekstrim ini. Ada orang yang dengan alasan kehati-hatian, menolak segala bentuk perilaku yang disebut syirik dan bid’ah oleh ulama Wahabi, tapi mereka tidak mengkafir-kafirkan orang lain. Biasanya ini Wahabi yang ikut-ikutan saja. Wahabisme ini berbeda dari Sunni. Sunni tidak mengenal doktrin takfirisme , karena itu kita lihat orang-orang NU melakukan tahlilan, ziarah kubur, dan cenderung lebih terbuka pada perbedaan.

Sekarang, apakah Syiah mengenal doktrin takfirisme ini? Tidak. Tapi, ada juga orang-orang Syiah yang berlebih-lebihan (istilahnya ghuluw, atau ekstrim) dalam mencintai Ahlul Bait, terutama Ali, sehingga mereka melaknat para Sahabat yang menurut catatan sejarah mengambil sikap oposisi terhadap Ali. Jadi ghuluw atau ekstrimitas itu bukan doktrin Syiah, tapi perilaku sebagian penganut Syiah.

Jadi, Wahabi adalah bentuk ekstrimitas dalam membenci, sementara ekstrimitas dalam Syiah adalah ekstrim dalam mencintai. Kita bisa lihat ekstrimitas itu ada dalam semua ajaran, baik Islam maupun non-Islam. Dan apapun yang ekstrim, tentu salah. Sikap yang harus diambil semua pihak, baik Sunni, Syiah, atau agama apapun, adalah moderat.

DYS: apa makna moderat yang Bapak maksudkan?

DML: Moderat itu tidak melepaskan rasio (akal) dalam menerima sebuah ajaran. Semua orang harus kritis dalam menerima ajaran, tidak taklid buta. Khusus dalam Syiah, yang dipandang boleh menafsirkan teks-teks agama adalah orang-orang yang memiliki ilmu untuk itu, ada prosedur, ada hirarki, ada asas kompetensi. Jadi tidak semua orang boleh membuat fatwa seenaknya. Tapi, kaum Syiah pun didorong untuk tetap kritis. Saya istilahkan, “taklid yang matanya tetap berbinar”. Ya kita taklid pada ulama, tapi kita juga kritis, ini beneran ulama, atau tidak? Kita selalu pakai akal. Jadi, kalau ada orang yang mengaku ulama, lalu mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan akal sehat, kaum Syiah seharusnya langsung waspada. Ulama yang fatwanya bertentangan dengan akal sehat pasti bukan ulama.

DYS: Mengapa ada ulama yang suka melaknat-laknat Sahabat, tapi ada juga ulama yang melarangnya. Siapa yang memiliki otoritas dan seharusnya diikuti orang Syiah?

(lebih…)

Yahudi di Iran

Copy-paste status saya di Facebook:

Sinagog di Isfahan (foto: dok pribadi Dina)

Sinagog di Isfahan (foto: dok pribadi Dina)

Banyak artikel bertebaran yang menulis bahwa Iran sebenarnya di balik layar sobatan sama Israel, dengan argumen: di Iran banyak sinagog dan orang Yahudi bebas berkeliaran di sana. Menurut saya, ini argumen aneh. Republik Islam Iran kan berdiri tahun 1979, setelah terjadi revolusi rakyat menggulingkan Shah Pahlevi. Sementara, orang Yahudi sudah hidup di Iran sejak 2500 tahun sebelumnya di Iran. Trus, memangnya, dalam negara Islam, orang-orang Yahudi musti diusirin atau dibuang ke laut, gitu? Atau, mereka dipaksa masuk Islam dan ga boleh beribadah sesuai ajaran Yahudi? Enggak kan? (Eh, kalau negara Islam versi ISIS, mungkin demikian, silahkan tanya sama orang-orang ISIS).

Baru-baru ini, bertebaran berita bahwa kedutaan besar Israel telah dibuka di Iran. Beberapa orang saya lihat sudah memposting status bahwa berita tersebut sebenarnya hoax, yang seperti biasa ditelan mentah-mentah oleh sebagian pihak.

(lebih…)

Liputan Detik.com Tentang Iran

tim futsal perempuan Iran (foto:PressTV)

tim futsal perempuan Iran (foto:PressTV)

Majalah digital Detik, hari Sabtu yang lalu membahas Iran dari berbagai aspek. Saya termasuk salah satu narasumber yang dihubungi reporternya. Hasil liputannya menarik untuk disimak. Bisa download di sini:

Liputan Detikcom Tentang Iran

Iran Bekerjasama dengan Israel?

Tuduhan ini sering diungkapkan oleh ‘pengamat’ dengan dua model:

-pengamat ‘takfiri’ : mereka memakai teori konspirasi yang salah kaprah, misalnya Iran itu pura-pura saja anti-Israel karena sebenarnya Syiah itu sama saja dengan Yahudi, buktinya di Iran banyak orang Yahudi dibiarkan hidup, tetapi orang Sunni dibunuhi. Kesalahan argumen ini tentu saja dari validitas datanya. Siapa bilang orang Sunni di Iran dibunuhi? Sunni, Yahudi, Majusi, Kristen, dan Syiah Iran hidup berdampingan dengan damai, dan semua mazhab dilindungi haknya oleh undang-undang.Baru-baru ini, seorang wanita muslim Sunni bahkan terpilih menjadi walikota di kota Kalat, provinsi Sistan-Baluchistan. Bisa dibaca di sini.

-pengamat ‘intelektual’: rasanya jarang ada intelektual yang menggunakan teori konspirasi kebablasan untuk menyebut adanya kerjasama di balik layar antara Iran dan Israel; tapi bukannya tidak ada. Antara lain, Dinna Wisnu Ph,D, dosen Hubungan Internasional dari Univ Paramadina. Tulisannya bisa dibaca di sini.

Purkon Hidayat, jurnalis dari Iran Broadcasting (IRIB), menulis tanggapan atas tulisan itu dengan mengoperasionalisasikan teori speech act-nya Onuf. Saya sangat menikmati tulisan ini. Mantap! Silahkan membacanya di sini:

Trita Parsi, Iran dan Israel  (bagian 1)

Trita Parsi, Iran, dan Israel (bagian 2)

Tulisan saya sebelumnya, untuk membantah teori konspirasi kebablasan adanya kerjasama Iran-Israel, bisa baca di sini:

Mengapa Iran Tak Serang Israel?

Ada lagi tulisan lain yang sederhana, tak pakai teori-teori, hanya pakai data empirik, tapi cukup telak menjawab pertanyaan ini,

Kenapa Iran Tak Pernah Menyerang Israel?

Iran dan Opera Bouffe (Purkon Hidayat)

Ini tulisan bagus, terutama buat beberapa mahasiswa yang mengontak saya, yang minta saran dalam penulisan untuk skripsi/tesis soal Iran. Intinya, gunakan paradigma yang integral saat menganalisis Iran.

 

Iran dan Opera Bouffe

Oleh: Purkon Hidayat

Lebih dari seabad lalu, Morgan Shuster pernah berseloroh menyebut politik Iran seperti Opera Bouffe. Sebuah opera dengan para pemain yang gonta-ganti kostum begitu cepat dan tidak mudah ditebak. Bagi saya banker Amerika itu tidak sedang bercanda. Ia serius di tengah kebingungannya menganalisis Iran. Itu bukan hanya menimpa Shuster. Betapa banyak para analis dan politikus kecele.

Mungkin, Jimmy Carter perlu ditanya sekedar mengingatkan tentang prediksinya yang meleset mengenai Iran. Lebih dari tiga dekade silam, ketika kedutaan AS di Tehran diduduki para mahasiswa, sang Presiden Paman Sam itu pernah sesumbar, “Tehran akan kita kuasai dalam hitungan jam.” Dan Pentagon pun mengirimkan pasukan elit militer terbaiknya dari kapal induk yang diparkir di salah satu negara Arab.

Operasi militer dengan sandi Eagle Claw ini menggunakan Hercules C-130, jenis pesawat tercanggih kala itu. Tapi, tim militer yang dibanggakan tersebut luluh lantak dihantam badai di Tabas, Iran Tengah. Sisanya, melarikan diri tunggang langgang. Misi Gedung Putih gagal, Carter pucat pasi. Amerika merana dipermalukan sebuah negara kecil yang baru saja mendeklarasikan sistem kenegaraan barunya.

Gagal menjalankan operasi militernya sendirian, Washington tidak kehilangan akal. Diktator Irak Saddam Hussein diprovokasi untuk menginvasi Iran. AS pun memasok kebutuhan militer pemimpin rezim Baath Irak itu. Tapi prediksi Barat kembali meleset. Alih-alih bertekuk lutut dan menyerah, Iran dengan bendera barunya “Republik Islam” yang baru seumur jagung justru memberikan perlawanan telak terhadap rezim Saddam Irak yang dibantu negara-negara Barat dan Arab.

(lebih…)

Rick Steves (Travelwriter) on Iran

Film ini buat saya menarik banget. Rick Steves seolah sedang ‘menceritakan’ ulang apa yang saya tulis di di buku Journey to Iran (tentu saja dengan menggunakan perspektifnya sbg traveler non-muslim Amerika). Foto-foto yang ditampilkan juga membuat saya tersenyum dan membatin, “eeh..aku pernah ke sana..” Dan saya jadi agak iri pada Steves. Orang-orang desa Abyaneh (desa kuno berusia ribuan tahun) ramah dan mau difoto oleh Steves… padahal pas saya dulu ke sana, mereka sama sekali  ga mau difoto (bahkan ada orang Iran yang nekad memfoto penduduk asli, langsung dibentak oleh seorang nenek2…)

Buat ibu-ibu peserta World Conference on Women and Islamic Awakening, film ini juga bisa buat nostalgia (terutama saat lihat foto kota Isfahan, wanita-wanita Iran, juga lobby hotel Esteghlal, pemandangan kota Tehran dari jendela hotel, makanannya.. dan inget gak, itu lho minuman kayak susu yang rasanya aseeem banget :D)

Thank’s buat M. Fahdillah Rhani yang sharing video ini, dengan mengutipkan kata-kata Mark Twain’s : “Travel is fatal to prejudice, bigotry, and narrow-mindedness, and many of our people need it sorely on these accounts. Broad, wholesome, charitable views of men and things cannot be acquired by vegetating in one little corner of the earth all one’s lifetime.”

dan ini film dokumenter yang dibuat Steves:

Review “A Note From Tehran”

Catatan buat penstudi HI: ini bisa masuk ke pembahasan tentang ‘diplomasi budaya’

Review A Note From Tehran

Dina Y. Sulaeman

Tepat setahun yang lalu, saya berada di Tehran. Sebelumnya, sejak 1999-2007 saya pernah tinggal di Iran. Awalnya untuk kuliah S2 karena saya mendapat beasiswa di Tehran University, jurusan Hukum Islam. Baru kuliah satu semester, saya mendapati bahwa memang bidang tersebut sama sekali tidak saya minati. Seiring dengan itu, saya kerepotan mengurus bayi (kalau pakai istilah seorang pakar parenting, waktu itu saya mengalami sindrom gajatu ‘gagap jadi ortu’). Kuliah pun saya tinggalkan dan saya fokus mengurus anak. Ketika anak saya telah usia dua tahun, saya bekerja sebagai jurnalis di IRIB, dengan memanfaatkan kemampuan bahasa Indonesia, Inggris, dan Persia saya. Lumayan, bisa menabung Dollar. Seiring dengan semua itu pula, saya aktif menjadi blogger dan mencatat warna-warni kehidupan saya selama di Iran di blog saya. Catatan itu akhirnya menjadi buku dengan judul Pelangi di Persia (lalu terbit ulang dengan judul Journey to Iran).

Kembali lagi ke Tehran setelah lima tahun berlalu, tentu saja memberi banyak kesan baru. Apalagi, bila dulu status saya TKW (tenaga kerja wanita, meski agak mentereng karena kerjanya di kantor), kali ini saya datang sebagai intelektual muslimah yang diundang hadir dalam Konferensi “Perempuan dan Kebangkitan Islam”. Saya bersama 16 perempuan Indonesia lainnya (intelektual, jurnalis, aktivis) lolos seleksi setelah mengirimkan paper yang terkait dengan tema kebangkitan Islam. Kali ini, saya (kami) dilayani dengan fasilitas VIP dan menginap di hotel bintang lima, dikawal ketat ala tamu negara, dan diajak jalan-jalan ke berbagai kota dengan pesawat carteran.

Memang judulnya adalah Konferensi Islam, tetapi, dari sudut pandang HI, bagi saya ini adalah sebuah investasi besar di bidang diplomasi budaya, yang dilakukan Iran. Bayangkan saja, ada 1000 perempuan dari 85 negara yang diundang hadir, sebagian besar dari mereka bermahzab Sunni, selain bertemu langsung dengan intelektual perempuan Iran, menyaksikan langsung kiprah perempuan Iran, juga diajak jalan-jalan ke berbagai kota di Iran. Pengalaman empiris seperti itu tak pelak akan menimbulkan semacam ‘prejudice breaking’ (memecah prasangka) bagi mereka yang selama ini hanya ‘mendengar’ tentang Iran (dan yang didengar biasanya lebih banyak yang negatifnya).

Mungkin ada yang mengatakan, tentu saja yang ‘keliatan’ oleh peserta adalah yang bagus-bagusnya saja. Namun, sebagian dari kami para peserta Indonesia sebenarnya juga melihat yang buruk-buruknya, misalnya, koordinasi panitia yang keliatan kurang rapi, atau, acara konferensi yang terlalu Arab (yang diutamakan untuk bicara di mimbar orang-orang dari negara Arab melulu, untung akhirnya setelah memaksa, delegasi Indonesia bisa bicara di mimbar dan mendapat tepukan meriah karena presentasi yang sangat bagus, jauh beda dengan delegasi Arab yang kebanyakan isinya membosankan). Namun, cerita-cerita soal Quran yang beda, sholatnya menyembah Ali bukan Allah, perempuan yang ditindas, orang Sunni yang dibunuhi, dll, tidak kami temukan.

Perempuan Indonesia, di manapun, memang hobi belanja. Sebenarnya kami dilarang bepergian sendiri tanpa dikawal. Karena belanja itu penting buat ibu-ibu, akhirnya panitia membentuk beberapa kelompok shopping. Beberapa ibu Indonesia, termasuk saya, shopping dengan dikawal dua bodyguard ganteng yang tidak sabaran (pengennya belanja cepet-cepet dan segera pulang ke hotel).

(lebih…)

Keseksian Iran

Menjelang Pilpres Iran beberapa pekan lagi, tiba-tiba di FB muncul link soal Iran, yang merujuk ke sebuah artikel di Kompasiana berjudul provokatif Sedang Berada di Negara Islam, Tapi Pak Dahlan Iskan Tidak Bisa Jumatan??

Artikel itu mengutip beberapa bagian dari catatan perjalanan Dahlan Iskan ke Iran. Ada 3 poin yang dikutip si Kompasianer: soal sholat Jumat (ceritanya, saat pak DI tiba di Bandara Internasional Imam Khomeini, waktu sholat Jumat sudah tiba. Pak DI pingin Jumatan, tapi tidak ada masjid di bandara yang menyelenggarakan sholat Jumat, karena di Teheran, Jumatan cuma diselenggarakan di Universitas Tehran, sekitar 2 jam dari bandara), soal hijab perempuan Iran (ada yang rambutnya kliatan), dan soal adanya Coca Cola di Iran. Tiga cerita itu dikutip dalam konteks menyindir: kok di negara Islam begitu ya..??

Mungkin berkat link di FB itu pula, hanya dalam sehari (padahal itu artikel lama, 12 September 2012), pembacanya langsung melonjak jadi 6000-an (kemarin saat saya kasih komen di artikel itu, masih 4000-an). Iran sepertinya memang negara seksi, banyak dipuji, banyak dicaci, tapi berita soal Iran terus dicari.

Menanggapi artikel itu, saya memberikan tanggapan berikut:

Salam. Saya pernah tinggal di Iran 8 th (1999-2007), bekerja sebagai jurnalis di IRIB. Perkara sholat Jumat, di Iran memang sholat Jumat dianggap sebagai upaya konsolidasi politik. Jadi, di satu kota, sholat Jumat akan dipusatkan di satu tempat. Artinya, masjid tak mungkin menampung. Di Teheran, shaf sholat Jumat panjangnya berkilo-kilo meter, pusatnya di sebuah halaman luas Universitas Teheran, lalu meluber ke jalanan di sekelilingnya. Khutbah yang disampaikan pun isinya selain masalah akhlak, juga masalah politik terkait isu-isu aktual. [Warga Sunni bebas saja ikut sholat Jumat ini.. tapi kalau mau bikin sholat Jumat sendiri juga dipersilahkan; di Teheran, warga Sunni bisa Jumatan di Pakistan School atau orang Indonesia bisa Jumatan di embassy]

Terkait baju, perempuan di Iran apapun agama dan bangsanya (termasuk turis asing yang Iran), wajib berjilbab. Namun, model jilbab yang dipakai akan sesuai dengan kesalehan masing-masing. Ada yang berjilbab dg serius karena menyadari itu kewajiban, ada yang juga yang asal-asalan, yang penting ada kerudung nempel di kepala. Tidak seperti yang diberitakan media Barat :”ada sikap reprsif pemerintah”, yang ditulis pak Dahlan justru bukti bhw pemerintah memang tdk represif. Paling-paling secara berkala diturunkan polisi2 wanita utk menasehati perempuan di jalan2 yg jilbabnya ga bener (tdk ditangkap atau direpresi).

Soal Coca-Cola dll minuman itu, memang benar ada. Tapi saya sudah tanya ke org Iran, ada yg bilang itu merek palsu (dibikin2 saja oleh org Iran, kan org Iran tdk mengikatkan diri ke aturan WTO), ada juga yg bilang asli. Wallahu a’lam. Yang jelas, orang Iran itu umumnya sangat sadar politik: yang mereka benci dan tentang adalah politik dan elit AS yang secara politis sudah menzalimi mereka. Tapi, org AS/Barat sebagai individu tetap mrk hormati. Karena itulah saya menemukan org2 AS studi di Iran (salah seorangnya dulu tetangga saya), dan banyak turis-turis bule yg datang ke Iran.

Sekalian info deh, saya sudah menuliskan pengalaman saya itu di buku berjudul Journey to Iran.

Lalu, lewat inbox FB, malah ada yang menanggapi komen saya itu, nanya-nanya soal Syiah. Saya jawab,

(lebih…)

Dan Iran pun Cabut Subsidi BBM-Transportasi

Dina Y. Sulaeman

Pemerintah mulai mewacanakan lagi pengurangan subsidi BBM.  Seperti biasa, tulisan seorang pengamat ekonomi soal ‘kebohongan subsidi BBM’ kembali disebarluaskan di media sosial (FB, blog, dll).  Argumen soal ‘kebohongan subsidi’ memang membuat nyaman masyarakat yang memang umumnya anti pencabutan subsidi. Namun, menurut sebagian orang, hitung-hitungan yang dilakukan sang pengamat ekonomi ini sangat banyak menyederhanakan, terlalu banyak berasumsi, dan banyak variabel yang  tidak dilibatkan, terutama yang dari segi keteknikan. Saya tidak akan membahas detil soal hitungan ini karena bukan bidang saya. Yang jelas, di internet kita bisa menemukan cukup banyak tulisan yang dengan detil menjelaskan dimana letak kesalahan kalkulasi sang pengamat ekonomi.

Ada argumen yang banyak diulang-ulang oleh pihak-pihak yang antipencabutan subsidi, yang saya tahu pasti kesalahannya, yaitu argumen yang melibatkan Iran. Iran disebut-sebut sebagai negara yang menjual minyak dengan harga sangat rendah kepada rakyatnya, yaitu Rp 1287/liter. Ini tidak benar. Harga bensin di Iran saat ini minimalnya 4000 IRR/liter dan ada pembatasan pembelian; akan saya jelaskan nanti. (IRR= Iranian Riyal; per 21 April 2013, 4000 IRR= Rp3160)[1]

Yang mungkin akan mengejutkan banyak orang, Iran pun MENCABUT subsidi BBM-nya. Pernah di suatu masa, harga bensin di Iran memang sangat murah, sekitar Rp1500/liter. Tapi, itu bukan harga asli, melainkan disubsidi 80%.

Sejak akhir tahun 2006, pembelian bensin bersubsidi dibatasi (setiap mobil cuma boleh beli bensin 120 liter/bulan/mobil), dan akhirnya mulai akhir 2010 subsidi pun dikurangi. Menariknya, semua itu terjadi tanpa gejolak (tentu saja, kalau protes-protes minor, selalu ada dalam masyarakat Iran yang memang karakternya outspoken –blak-blakan-itu). Yang lebih menarik, Wamen ESDM kita dulu, Dr. Widjajono Partowidagdo (alm) pernah berkunjung ke Iran untuk mempelajari apa yang dilakukan Iran dalam efisiensi energi. Tapi, sayang sebelum beliau bisa mengaplikasikan apapun , beliau meninggal dunia (yang menurut pengamatan sebagian orang, agak ‘misterius’).

(lebih…)