Kajian Timur Tengah

Beranda » Sosial Iran

Category Archives: Sosial Iran

Iklan

Netanyahu Kena Prank?

PM Israel, Netanyahu, dalam pidatonya di depan Sidang Umum PBB (seperti biasa) menyerang Iran dan menuduhnya membuat senjata nuklir (sungguh tak tahu malu, bukankah Israel yang memiliki ratusan hulu ledak nuklir dan menolak bergabung dengan IAEA?).

Dia mengatakan, berkat dicabutnya sanksi ekonomi terhadap Iran, “Mereka menghasilkan $15 Miliar USD dan menggunakannya untuk pemerintahan yang agresif, untuk menaklukkan Timur Tengah, membunuh siapa saja yang tidak setuju dengannya, dan berkampanye untuk menghancukan Israel.”

[perhatikan, narasi Netanyahu soal ‘kejahatan Iran’ persis ustadz-ustadz dari ormas-ormas radikal di Indonesia, tentu saja para ustadz itu selalu mengaku anti-Israel]

Netanyahu menunjukkan foto yang diklaimnya sebagai gudang rahasia senjata nuklir Iran. Tertulis di foto itu : Maher Alley, Turquzabad.

(lebih…)

Iklan

Kunjungan Anak Sang Jenderal Israel ke Iran

Dulu saya pernah ceritakan di fanpage ini tentang Miko Peled. Ia adalah anak dari seorang jenderal di IDF (tentara Israel). Miko sendiri Yahudi asli, lahir dan besar di Yerusalem. Dalam sebuah video ia menceritakan sulitnya proses yang ia lalui saat menyadari bahwa bangsanya telah melakukan kejahatan besar terhadap bangsa Palestina. Ia juga menulis buku “The General’s Son” yang menceritakan pengalaman pribadinya dan apa yang sesungguhnya terjadi di Palestina. [1]

Baru-baru ini, Miko ternyata datang ke Iran dan berbicara di beberapa forum, antara lain di depan anak-anak SMA di kota Yazd. Tulisan lengkapnya silahkan baca sendiri [2].

Ada seorang siswa yang mengajukan pernyataan, dan dijawab dengan sangat menarik oleh Miko. Saya terjemahkan sebagian tulisannya.

========
Seorang pemuda tinggi dan tampan berdiri, dan berkata, “Palestina cuma bisa dibebaskan jika ada Hitler lagi.” Para orang dewasa di ruangan itu terlihat tidak nyaman atas perkataan ini. Tetapi, ini adalah kesempatan. Saya paham bahwa jika ada anak SMA mengungkapkan apa yang dia pikirkan, meskipun Anda tidak suka, itu adalah kesempatan emas.

Saya mengingatkan anak itu tentang pernyataan pemimpin Iran [Ayatullah Khamenei], bahwa 25 tahun dari sekarang, Israel tidak akan ada lagi.

Saya menantang anak itu, dan yang lain di ruangan, untuk berpikir: apakah yang sebenarnya dimaksud oleh Ayatullah Khamenei? Apakah dia menginginkan kematian orang lain? Apakah dia menghendaki perempuan dan anak-anak menderita dan menjadi pengungsi?

(lebih…)

Apakah Syiah = Takfiri? (1)

Dina Y. Sulaeman*

Akhir-akhir ini saya ditanyai beberapa orang tentang fenomena beberapa orang Syiah di medsos yang dalam status FB/twitter mereka melaknat-laknat para Sahabat Rasulullah. Oleh karena itu saya merasa perlu menulis khusus tentang topik ini, sebagai sekuel dari tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Apakah Sunni = Takfiri?” Kalau dulu saya mewawancarai Ustadz NU yang aktif di medsos, yaitu Bapak Agus Nizami; kali ini saya mewawancarai seorang ustadz Syiah yang juga aktif di medsos, yaitu Dr. Muhsin Labib. [**Apa..?? Taqiyah? Oh ok, ntar saya tanya, “Bapak taqiyah apa enggak ini?”]

Sebelumnya, saya ingin menceritakan pengalaman empiris saya sebagai orang yang pernah 8 tahun tinggal di Iran dan bergaul akrab dengan tetangga-tetangga (jadi saya bukan jenis expat yang hidup eksklusif). Saya datang ke rumah mereka, mereka main ke rumah saya; kami ke pasar bersama, dan saya juga sesekali datang ke majlis-majlis taklim mereka (cerita lengkap, plus tentang piknik keliling Iran, ada di buku Journey to Iran). Nah, selama 8 tahun itu, saya GAK KETEMU sama yang aneh-aneh itu: melaknat-laknat Sahabat dan Ummul Mukminin Aisyah ra, mut’ah sembarangan, makan tai Imam (astaga!), melukai diri sendiri saat Asyura (itu pawai peringatan Asyura tiap tahun wira-wiri depan apartemen saya), dll.

Tahun 2012, saya dan 16 cendekiawati+jurnalis Indonesia diundang dalam konferensi Women and Islamic Awakening (mayoritas undangan dari 85 negara adalah perempuan-perempuan Sunni). Di acara pembukaan, Presiden Ahmadinejad hadir. Dia baru masuk ruangan aja, tepuk tangan membahana, sebagian besar hadirin (lebih dari 1000 perempuan hadir) berdiri spontan, menyambutnya bak selebritis. Saat ia pidato –spontan, tanpa teks- tentang kemuliaan posisi perempuan dalam Islam dan perjuangan melawan Israel, sebagian teman menyatakan meneteskan air mata karena terharu (cerita lengkap pengalaman ibuk-ibuk yang hadir di konferensi ini ada di buku A Note from Tehran).

(lebih…)

Apakah Syiah = Takfiri (2)

nototakfiriTulisan ini sekuel dari tulisan saya sebelumnya Apakah Sunni = Takfiri?

Baca dulu bagian pertama ya.

Berikut ini kutipan diskusi saya dengan Dr. Muhsin Labib

Dina Y. Sulaeman (DYS): Apakah faham takfiri sebenarnya ada dalam Syiah?

Dr. Muhsin Labib (DML):   Begini, kita mulai dulu dari ajaran Wahabisme. Di Wahabi, doktrin dasarnya adalah purifikasi atau upaya pemurnian Islam dari hal-hal yang dipandang syirik dan bid’ah (misalnya, menolak ziarah kubur, tawasulan, atau pesta ulang tahun). Doktrin seperti ini meniscayakan munculnya paham takfirisme, “semua Muslim yang terkontaminasi syirik dan bid’ah adalah kafir”. Tentu, ada juga orang Wahabi yang tidak seekstrim ini. Ada orang yang dengan alasan kehati-hatian, menolak segala bentuk perilaku yang disebut syirik dan bid’ah oleh ulama Wahabi, tapi mereka tidak mengkafir-kafirkan orang lain. Biasanya ini Wahabi yang ikut-ikutan saja. Wahabisme ini berbeda dari Sunni. Sunni tidak mengenal doktrin takfirisme , karena itu kita lihat orang-orang NU melakukan tahlilan, ziarah kubur, dan cenderung lebih terbuka pada perbedaan.

Sekarang, apakah Syiah mengenal doktrin takfirisme ini? Tidak. Tapi, ada juga orang-orang Syiah yang berlebih-lebihan (istilahnya ghuluw, atau ekstrim) dalam mencintai Ahlul Bait, terutama Ali, sehingga mereka melaknat para Sahabat yang menurut catatan sejarah mengambil sikap oposisi terhadap Ali. Jadi ghuluw atau ekstrimitas itu bukan doktrin Syiah, tapi perilaku sebagian penganut Syiah.

Jadi, Wahabi adalah bentuk ekstrimitas dalam membenci, sementara ekstrimitas dalam Syiah adalah ekstrim dalam mencintai. Kita bisa lihat ekstrimitas itu ada dalam semua ajaran, baik Islam maupun non-Islam. Dan apapun yang ekstrim, tentu salah. Sikap yang harus diambil semua pihak, baik Sunni, Syiah, atau agama apapun, adalah moderat.

DYS: apa makna moderat yang Bapak maksudkan?

DML: Moderat itu tidak melepaskan rasio (akal) dalam menerima sebuah ajaran. Semua orang harus kritis dalam menerima ajaran, tidak taklid buta. Khusus dalam Syiah, yang dipandang boleh menafsirkan teks-teks agama adalah orang-orang yang memiliki ilmu untuk itu, ada prosedur, ada hirarki, ada asas kompetensi. Jadi tidak semua orang boleh membuat fatwa seenaknya. Tapi, kaum Syiah pun didorong untuk tetap kritis. Saya istilahkan, “taklid yang matanya tetap berbinar”. Ya kita taklid pada ulama, tapi kita juga kritis, ini beneran ulama, atau tidak? Kita selalu pakai akal. Jadi, kalau ada orang yang mengaku ulama, lalu mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan akal sehat, kaum Syiah seharusnya langsung waspada. Ulama yang fatwanya bertentangan dengan akal sehat pasti bukan ulama.

DYS: Mengapa ada ulama yang suka melaknat-laknat Sahabat, tapi ada juga ulama yang melarangnya. Siapa yang memiliki otoritas dan seharusnya diikuti orang Syiah?

(lebih…)

Yahudi di Iran

Copy-paste status saya di Facebook:

Sinagog di Isfahan (foto: dok pribadi Dina)

Sinagog di Isfahan (foto: dok pribadi Dina)

Banyak artikel bertebaran yang menulis bahwa Iran sebenarnya di balik layar sobatan sama Israel, dengan argumen: di Iran banyak sinagog dan orang Yahudi bebas berkeliaran di sana. Menurut saya, ini argumen aneh. Republik Islam Iran kan berdiri tahun 1979, setelah terjadi revolusi rakyat menggulingkan Shah Pahlevi. Sementara, orang Yahudi sudah hidup di Iran sejak 2500 tahun sebelumnya di Iran. Trus, memangnya, dalam negara Islam, orang-orang Yahudi musti diusirin atau dibuang ke laut, gitu? Atau, mereka dipaksa masuk Islam dan ga boleh beribadah sesuai ajaran Yahudi? Enggak kan? (Eh, kalau negara Islam versi ISIS, mungkin demikian, silahkan tanya sama orang-orang ISIS).

Baru-baru ini, bertebaran berita bahwa kedutaan besar Israel telah dibuka di Iran. Beberapa orang saya lihat sudah memposting status bahwa berita tersebut sebenarnya hoax, yang seperti biasa ditelan mentah-mentah oleh sebagian pihak.

(lebih…)

Liputan Detik.com Tentang Iran

tim futsal perempuan Iran (foto:PressTV)

tim futsal perempuan Iran (foto:PressTV)

Majalah digital Detik, hari Sabtu yang lalu membahas Iran dari berbagai aspek. Saya termasuk salah satu narasumber yang dihubungi reporternya. Hasil liputannya menarik untuk disimak. Bisa download di sini:

Liputan Detikcom Tentang Iran

Iran Bekerjasama dengan Israel?

Tuduhan ini sering diungkapkan oleh ‘pengamat’ dengan dua model:

-pengamat ‘takfiri’ : mereka memakai teori konspirasi yang salah kaprah, misalnya Iran itu pura-pura saja anti-Israel karena sebenarnya Syiah itu sama saja dengan Yahudi, buktinya di Iran banyak orang Yahudi dibiarkan hidup, tetapi orang Sunni dibunuhi. Kesalahan argumen ini tentu saja dari validitas datanya. Siapa bilang orang Sunni di Iran dibunuhi? Sunni, Yahudi, Majusi, Kristen, dan Syiah Iran hidup berdampingan dengan damai, dan semua mazhab dilindungi haknya oleh undang-undang.Baru-baru ini, seorang wanita muslim Sunni bahkan terpilih menjadi walikota di kota Kalat, provinsi Sistan-Baluchistan. Bisa dibaca di sini.

-pengamat ‘intelektual’: rasanya jarang ada intelektual yang menggunakan teori konspirasi kebablasan untuk menyebut adanya kerjasama di balik layar antara Iran dan Israel; tapi bukannya tidak ada. Antara lain, Dinna Wisnu Ph,D, dosen Hubungan Internasional dari Univ Paramadina. Tulisannya bisa dibaca di sini.

Purkon Hidayat, jurnalis dari Iran Broadcasting (IRIB), menulis tanggapan atas tulisan itu dengan mengoperasionalisasikan teori speech act-nya Onuf. Saya sangat menikmati tulisan ini. Mantap! Silahkan membacanya di sini:

Trita Parsi, Iran dan Israel  (bagian 1)

Trita Parsi, Iran, dan Israel (bagian 2)

Tulisan saya sebelumnya, untuk membantah teori konspirasi kebablasan adanya kerjasama Iran-Israel, bisa baca di sini:

Mengapa Iran Tak Serang Israel?

Ada lagi tulisan lain yang sederhana, tak pakai teori-teori, hanya pakai data empirik, tapi cukup telak menjawab pertanyaan ini,

Kenapa Iran Tak Pernah Menyerang Israel?

Iran dan Opera Bouffe (Purkon Hidayat)

Ini tulisan bagus, terutama buat beberapa mahasiswa yang mengontak saya, yang minta saran dalam penulisan untuk skripsi/tesis soal Iran. Intinya, gunakan paradigma yang integral saat menganalisis Iran.

 

Iran dan Opera Bouffe

Oleh: Purkon Hidayat

Lebih dari seabad lalu, Morgan Shuster pernah berseloroh menyebut politik Iran seperti Opera Bouffe. Sebuah opera dengan para pemain yang gonta-ganti kostum begitu cepat dan tidak mudah ditebak. Bagi saya banker Amerika itu tidak sedang bercanda. Ia serius di tengah kebingungannya menganalisis Iran. Itu bukan hanya menimpa Shuster. Betapa banyak para analis dan politikus kecele.

Mungkin, Jimmy Carter perlu ditanya sekedar mengingatkan tentang prediksinya yang meleset mengenai Iran. Lebih dari tiga dekade silam, ketika kedutaan AS di Tehran diduduki para mahasiswa, sang Presiden Paman Sam itu pernah sesumbar, “Tehran akan kita kuasai dalam hitungan jam.” Dan Pentagon pun mengirimkan pasukan elit militer terbaiknya dari kapal induk yang diparkir di salah satu negara Arab.

Operasi militer dengan sandi Eagle Claw ini menggunakan Hercules C-130, jenis pesawat tercanggih kala itu. Tapi, tim militer yang dibanggakan tersebut luluh lantak dihantam badai di Tabas, Iran Tengah. Sisanya, melarikan diri tunggang langgang. Misi Gedung Putih gagal, Carter pucat pasi. Amerika merana dipermalukan sebuah negara kecil yang baru saja mendeklarasikan sistem kenegaraan barunya.

Gagal menjalankan operasi militernya sendirian, Washington tidak kehilangan akal. Diktator Irak Saddam Hussein diprovokasi untuk menginvasi Iran. AS pun memasok kebutuhan militer pemimpin rezim Baath Irak itu. Tapi prediksi Barat kembali meleset. Alih-alih bertekuk lutut dan menyerah, Iran dengan bendera barunya “Republik Islam” yang baru seumur jagung justru memberikan perlawanan telak terhadap rezim Saddam Irak yang dibantu negara-negara Barat dan Arab.

(lebih…)

Rick Steves (Travelwriter) on Iran

Film ini buat saya menarik banget. Rick Steves seolah sedang ‘menceritakan’ ulang apa yang saya tulis di di buku Journey to Iran (tentu saja dengan menggunakan perspektifnya sbg traveler non-muslim Amerika). Foto-foto yang ditampilkan juga membuat saya tersenyum dan membatin, “eeh..aku pernah ke sana..” Dan saya jadi agak iri pada Steves. Orang-orang desa Abyaneh (desa kuno berusia ribuan tahun) ramah dan mau difoto oleh Steves… padahal pas saya dulu ke sana, mereka sama sekali  ga mau difoto (bahkan ada orang Iran yang nekad memfoto penduduk asli, langsung dibentak oleh seorang nenek2…)

Buat ibu-ibu peserta World Conference on Women and Islamic Awakening, film ini juga bisa buat nostalgia (terutama saat lihat foto kota Isfahan, wanita-wanita Iran, juga lobby hotel Esteghlal, pemandangan kota Tehran dari jendela hotel, makanannya.. dan inget gak, itu lho minuman kayak susu yang rasanya aseeem banget :D)

Thank’s buat M. Fahdillah Rhani yang sharing video ini, dengan mengutipkan kata-kata Mark Twain’s : “Travel is fatal to prejudice, bigotry, and narrow-mindedness, and many of our people need it sorely on these accounts. Broad, wholesome, charitable views of men and things cannot be acquired by vegetating in one little corner of the earth all one’s lifetime.”

dan ini film dokumenter yang dibuat Steves:

Review “A Note From Tehran”

Catatan buat penstudi HI: ini bisa masuk ke pembahasan tentang ‘diplomasi budaya’

Review A Note From Tehran

Dina Y. Sulaeman

Tepat setahun yang lalu, saya berada di Tehran. Sebelumnya, sejak 1999-2007 saya pernah tinggal di Iran. Awalnya untuk kuliah S2 karena saya mendapat beasiswa di Tehran University, jurusan Hukum Islam. Baru kuliah satu semester, saya mendapati bahwa memang bidang tersebut sama sekali tidak saya minati. Seiring dengan itu, saya kerepotan mengurus bayi (kalau pakai istilah seorang pakar parenting, waktu itu saya mengalami sindrom gajatu ‘gagap jadi ortu’). Kuliah pun saya tinggalkan dan saya fokus mengurus anak. Ketika anak saya telah usia dua tahun, saya bekerja sebagai jurnalis di IRIB, dengan memanfaatkan kemampuan bahasa Indonesia, Inggris, dan Persia saya. Lumayan, bisa menabung Dollar. Seiring dengan semua itu pula, saya aktif menjadi blogger dan mencatat warna-warni kehidupan saya selama di Iran di blog saya. Catatan itu akhirnya menjadi buku dengan judul Pelangi di Persia (lalu terbit ulang dengan judul Journey to Iran).

Kembali lagi ke Tehran setelah lima tahun berlalu, tentu saja memberi banyak kesan baru. Apalagi, bila dulu status saya TKW (tenaga kerja wanita, meski agak mentereng karena kerjanya di kantor), kali ini saya datang sebagai intelektual muslimah yang diundang hadir dalam Konferensi “Perempuan dan Kebangkitan Islam”. Saya bersama 16 perempuan Indonesia lainnya (intelektual, jurnalis, aktivis) lolos seleksi setelah mengirimkan paper yang terkait dengan tema kebangkitan Islam. Kali ini, saya (kami) dilayani dengan fasilitas VIP dan menginap di hotel bintang lima, dikawal ketat ala tamu negara, dan diajak jalan-jalan ke berbagai kota dengan pesawat carteran.

Memang judulnya adalah Konferensi Islam, tetapi, dari sudut pandang HI, bagi saya ini adalah sebuah investasi besar di bidang diplomasi budaya, yang dilakukan Iran. Bayangkan saja, ada 1000 perempuan dari 85 negara yang diundang hadir, sebagian besar dari mereka bermahzab Sunni, selain bertemu langsung dengan intelektual perempuan Iran, menyaksikan langsung kiprah perempuan Iran, juga diajak jalan-jalan ke berbagai kota di Iran. Pengalaman empiris seperti itu tak pelak akan menimbulkan semacam ‘prejudice breaking’ (memecah prasangka) bagi mereka yang selama ini hanya ‘mendengar’ tentang Iran (dan yang didengar biasanya lebih banyak yang negatifnya).

Mungkin ada yang mengatakan, tentu saja yang ‘keliatan’ oleh peserta adalah yang bagus-bagusnya saja. Namun, sebagian dari kami para peserta Indonesia sebenarnya juga melihat yang buruk-buruknya, misalnya, koordinasi panitia yang keliatan kurang rapi, atau, acara konferensi yang terlalu Arab (yang diutamakan untuk bicara di mimbar orang-orang dari negara Arab melulu, untung akhirnya setelah memaksa, delegasi Indonesia bisa bicara di mimbar dan mendapat tepukan meriah karena presentasi yang sangat bagus, jauh beda dengan delegasi Arab yang kebanyakan isinya membosankan). Namun, cerita-cerita soal Quran yang beda, sholatnya menyembah Ali bukan Allah, perempuan yang ditindas, orang Sunni yang dibunuhi, dll, tidak kami temukan.

Perempuan Indonesia, di manapun, memang hobi belanja. Sebenarnya kami dilarang bepergian sendiri tanpa dikawal. Karena belanja itu penting buat ibu-ibu, akhirnya panitia membentuk beberapa kelompok shopping. Beberapa ibu Indonesia, termasuk saya, shopping dengan dikawal dua bodyguard ganteng yang tidak sabaran (pengennya belanja cepet-cepet dan segera pulang ke hotel).

(lebih…)