Kajian Timur Tengah

Beranda » Sosial Iran

Category Archives: Sosial Iran

Kenangan: Obrolan di Persian Kabab

Hari Sabtu kemarin adalah awal musim semi di Iran dan dirayakan sebagai hari tahun baru (Nowruz). Menurut film pendek yang ditayangkan BBC, Nowruz bukan cuma dirayakan di Iran, tapi juga di Tajikistan, Rusia, India, Turki, Irak; dan totalnya ada 300 juta orang sedunia yang merayakan awal musim semi ini. [1]

Beberapa teman dari Iran mengirimkan WA ucapan selamat Nowruz ke saya, tentu sebagai bagian dari tradisi mereka saja. Soalnya, di Indonesia kan tidak ada musim semi.

Lalu masuk WA dari seorang teman, orang Indonesia, yang menikah dengan pria Iran. Namanya Shinta. Dia juga mengucapkan selamat tahun baru.

Saya jadi teringat pertemuan saya pertama kali dengan Shinta, bulan Januari 2021. Shinta dan suaminya membuka kedai kebab Persia (bisa cek di GoFood: Persian Kabab) di Lotte Mart, Bintaro. Karena kebetulan saya ada urusan di Bintaro, sekalian kopdar deh.

Shinta adalah pembaca tulisan-tulisan saya di FB, lalu kami bertegur sapa via FB dan berlanjut di WA. Jadi, Shinta dari jauh “menyaksikan” perjalanan saya selama ini, ups and down hidup saya “gara-gara” menulis soal Suriah.

Sebaliknya, saya tidak tahu apa-apa tentang Shinta, sampai pertemuan kami itu. Rupanya, di saat saya (dan netizen lainnya) sibuk “perang” di dunia maya bertahun-tahun melawan narasi media mainstream + narasi pro-radikalis/teroris Suriah, Shinta mengalami “pertempuran” yang riil [tahun 2014-2016; ISIS berdiri 2013].

Di kedai kebabnya, dia menghadapi hinaan orang-orang. Mall itu ramai oleh pengunjung, dan ada saja orang yang mampir sekedar untuk melemparkan hinaan. Iran, kafir! Syiah sesat!

Untungnya, suami Shinta waktu itu belum bisa bahasa Indonesia, jadi dia tidak menangkap kekasaran orang-orang Indonesia yang termakan hoax soal Suriah itu.

[hoax -nya: “Syiah membantai Sunni di Suriah”… Karena mazhab mayoritas di Iran adalah Syiah dan Iran membantu pemerintah Suriah dalam melawan ISIS dan milisi teror lainnya, Shinta yang berjualan makanan Iran jadi sasaran kebencian para pendukung teroris itu.]

Saya terharu mendengar kisah Shinta. Rasanya, “penderitaan” saya dulu ga ada apa-apanya. Setidaknya, radikalis/pro-teroris Suriah itu tidak bicara kasar secara langsung di depan saya. Mereka “cuma” main ancam atau menghina di medsos, mengghibah, main boikot (kalau saya diundang jadi pembicara, mereka berupaya membubarkan; saya dulu punya TK, mereka hasut ortu-ortu agar keluar dari TK saya, dll).

Anyway, Shinta terus bertahan, dan lambat-laun, seiring dengan keoknya ISIS (dan kelompok teroris lainnya ) di Suriah (mulai akhir tahun 2016), hate speech yang dialaminya juga semakin berkurang. Bisnisnya juga semakin maju. Kehidupan pernikahannya juga semakin membahagiakan karena status suaminya akhirnya disetujui untuk menjadi Permanent Residence (KITAP). Dengan ekspresi ceria, Shinta bercerita bahwa berbeda dari era pemerintahan yang dulu, kini urusan birokrasi terkait pernikahan campur jauh lebih mudah.

Sambil mengobrol, Shinta dengan cekatan menyiapkan berbagai jenis kebab yang dipesan pembeli (umumnya via GoFood). Dulu dia ada pegawai, tapi sekarang, gara-gara c*v*d, penjualan menurun drastis sehingga Shinta sendirian mengurus kedainya. Sang suami mempersiapkan bahan-bahan masakan di rumah. Namun itulah hidup, selalu ada naik dan turun. Tugas kita adalah menjalaninya dengan sabar.

Saya menyantap kebab buatan Shinta dengan lahap, enak banget. Shinta juga menyiapkan minuman hangat, terbuat dari saffron. Hm.. rasa lezatnya masih terbayang sampai sekarang.

Sebelum pulang, Shinta mendesak saya untuk datang lagi sekeluarga, dan menginap di Bintaro. Shinta janji akan memasakkan masakan Iran khusus buat saya sekeluarga. Benar-benar tawaran yang menggiurkan.

Sejujurnya, saya terharu sekali, tapi saya tahan-tahan. Saya teringat ceritanya tentang kesulitannya di masa lalu, dan kesulitan saya sendiri. Tapi, Allah selalu memberi ganti dengan kebahagiaan. Memang demikian janji-Nya kan, setiap kesulitan selalu datang bersama kemudahan.

Saya ingin memeluknya, tapi terhalang protolol c*v*d.

Di tahun baru ini, saya mengucapkan doa ini buat Shinta:

روزهای سلامتی، شادی، پیروزی، مهر و دوستی و عشق را برای شما آرزومندم ..عید نوروزتان مبارک باد.

(Artinya, tanyakan saja pada google translate ya)

[1] https://www.youtube.com/watch?v=on9KQ5UTq4U&t=24s

Mengapa Israel Membunuh Saintis Iran?

Seorang saintis top Iran, Dr. Mohsen Fakhrizadeh, gugur akibat serangan teror (Jumat, 27/11/2020). Dr. Mohsen mengepalai Organisasi Riset dan Inovasi Pertahanan Iran. Selain mengurusi proyek nuklir Iran, dia juga terlibat dalam pembuatan test-kit Covid dan vaksin Covid, yang kini sedang di tahap ujicoba pada manusia.

Pemerintah Iran dengan segera menyebut Israel sebagai pelaku pembunuhan ini. Mereka yang mengikuti dengan intens konflik Iran-Israel akan tahu, bahwa ini bukanlah tuduhan kosong.

Alasannya, pertama, karena yang paling berkepentingan dengan tewasnya saintis Iran adalah Israel. Dalam berbagai forum, mulai dari sekelas Sidang Umum PBB, hingga wawancara biasa, para petinggi Israel sangat sering menyebut nuklir Iran sebagai ancaman bagi dunia.

(lebih…)

Analisis Kebijakan Politik Luar Negeri Iran di Timur Tengah “Benarkah Iran Teroris?”

Sudah lama saya tidak update di fanpage ini ya.. Harap maklum, seperti biasa, akhir semester (dan menyambut semester baru) terlalu banyak urusan.

Tapi ini ada acara webinar seru lagi nih.. Silakan gabung bagi yang berminat mengkaji isu aktual soal Timteng. Kan akhir-akhir ini rame lagi tuh tuduhan bahwa “Iran adalah negara pendukung teroris”.. Nah, isu ini akan didiskusikan oleh para mahasiswa Indonesia di Timteng, dari Iran (Ismail Amin), Suriah (Lion Fikyanto), Saudi (Muhammad Ridho Sastrawijaya), dan Yaman (Muhammad Syauqi al-Muhdhar).

Narsumnya: saya (Dina Y. Sulaeman, dosen HI Unpad), Kiki Mikail (dosen Ilmu Politik UIN Palembang), dan pak Ali Muhtarom (dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten).

Cara ikut: klik aja channel Youtube PPI Dunia (https://www.youtube.com/channel/UCAeyYG_Q75jC2BqmWy4aZ8Q) pada hari SABTU 18 JULI 15.30 WIB.

Menjawab Dua Pertanyaan (3)

Sekarang saya akan menjawab pertanyaan kedua: bila benar ada yang disebut illuminati atau freemasonry, mengapa Iran tidak pernah menyebutnya? Bukankah Iran selama ini selalu mengklaim melawan kezaliman global?

Baik, saya akan menjawab ini karena terkait juga dengan para komentator di FP ini. Begini, saat saya nulis tentang Bill Gates, ada banyak komentator yang menulis: NWO (New World Order), illuminati, atau freemasonry. Ada juga yang menyebut istilah Dajjal. Teman-teman Kristiani, ada yang komen dengan menyebut “kaum anti-Kristus” dan mengutip Alkitab.

Begini, soal NWO, “penyembah setan”, kelompok “anti-Kristus”, “Dajjal” itu ada orang-orang yang khusus mengkajinya. Mereka punya dalil tersendiri, misalnya analisis simbol-simbol atau teks agama (misalnya hadis atau Alkitab).

Buat saya, bebas saja bila ada yang suka membahas masalah itu dan saya tidak merendahkan. Yang penting, pesan saya, jangan gegabah mencocok-cocokkan; misalnya setiap simbol segitiga disebut simbol illuminati. Atau dicampurkan dengan analisis sektarian yang ngawur (misalnya, “kaum Syiah adalah pengikut Dajjal dan temanan sama Israel”). Logika kritis tetap dipakai ya.

Mari kita simak video di bawah ini

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/224927751942701/?t=0

Sekarang pertanyaannya : apakah benar ada kekuatan beasr yang mengendalikan dunia ini?

(lebih…)

Soft Power Iran

Kemarin ada beberapa komentator bertanya, apakah kekuatan (power) militer Iran mampu melawan AS?

Sebelum dijawab, saya jelaskan sedikit, dalam studi Hubungan Internasional, power dibagi dua: hard power dan soft power. Hard power dimaknai sebagai kekuatan material, misalnya senjata, jumlah pasukan, dan uang yang dimiliki sebuah negara.

Bila memakai kalkulasi hard power, faktanya, kekuatan Iran masih jauh di bawah AS. Apalagi, doktrin militer Iran adalah defensive (bertahan, tidak bertujuan menginvasi negara lain). Iran hanya menganggarkan 14 miliar USD (2,5% GDP) untuk belanja militer (dan ini hanya sepersepuluh dibanding total belanja militer gabungan semua negara Teluk). Sebaliknya, AS adalah negara dengan anggaran militer terbesar di dunia, 3,1% GDP atau setara 610 miliar USD [1]. Bahkan, AS telah membangun pangkalan-pangkalan militer di berbagai negara di sekeliling Iran.

Di video ini, ada penjelasan dari Menlu Iran, Javad Zarif, bagaimana dan mengapa Iran membangun hard powernya (membuat senjata).

Tapi, ada bentuk power yang lain, yaitu soft power. Secara ringkas bisa dikatakan bahwa substansi soft power adalah sikap persuasif dan kemampuan meyakinkan pihak lain; sementara hard power menggunakan kekerasan dan pemaksaan dalam upayanya menundukkan pihak lawan.

Professor HI dari Tehran University, Manouchehr Mohammadi, mengidentifikasi ada 10 sumber kekuatan soft power Iran, saya bahas tiga saja, selebihnya silakan baca di artikel aslinya. [2]

(lebih…)

Deradikalisasi Salah Kaprah

Ini menyambung tulisan saya kemarin. Ada komentator yang bilang: “Perempuan itu tidak boleh dipaksa-paksa cara berpakaiannya! Emangnya bu Dina mau kalau pemerintah memaksa ibu pakai kebaya?”

Awalnya saya kesal. Ibaratnya, saya sudah membahas isu sampai bab 7, eh dia komen soal isu di bab 1. Masa saya harus ulangi lagi? Tapi, pagi ini, saya pikir, pertanyaan itu memang perlu dijawab.

Jadi begini ya, sejak lama, saya mendeteksi ada upaya deradikalisasi versi AS yang sedang dikembangkan di Indonesia. Mengapa? Karena saya tahu ada duit AS (dalam jumlah besar) yang sedang disebar ke berbagai kalangan sipil untuk proyek-proyek deradikalisasi.

Tentu, saya sepakat dengan pentingnya deradikalisasi. Yang sudah lama kenal saya, tahu bahwa saya bertahun-tahun jadi korban bullying jahat kelompok radikal/simpatisan jihadis. Jadi jelas saya bukan di kubu mereka.

Tapi, kerisauan saya, KEMANA konsep deradikalisasi yang fundingnya dari Barat itu dibawa?

(lebih…)

Apakah Kewajiban Berhijab Memundurkan Perempuan?

Kemarin saya lihat ada video yang isinya memperingatkan publik akan bahaya radikalisme. Tapi contoh yang dipakai adalah Afghanistan dan Iran, diperlihatkan bahwa dulu perempuan di 2 negara itu bebas tidak pakai jilbab, sekarang tertindas karena pemaksaan syariat (pakai jilbab). Saya pun menulis ini. Ada grafik/tabel, untuk melihatnya, cek ke web ya.

***

Apakah Kewajiban Berhijab Memundurkan Perempuan?

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah: bergantung sistem dan kinerja pemerintahan yang mewajibkan hijab tersebut. Kita tidak bisa menggeneralisasi, masing-masing negara atau provinsi (di Indonesia ada provinsi dengan Perda Syariah) yang mewajibkan hijab memiliki kondisi yang berbeda.

Misalnya, kewajiban hijab di Afghanistan dan Iran, sangat berbeda output-nya karena di Afghanistan, kelompok yang berkeras mewajibkan hijab adalah Taliban yang berhaluan Wahabi; sementara di Iran pemerintahan dibangun atas syariah versi Syiah Ja’fariah. Jadi, saat bicara soal Syiah, perlu juga ditanyakan ‘Syiah versi mana?’ Shah Pahlevi pun bermazhab Syiah; akhir-akhir ini juga muncul “Syiah London” yang kontroversial.

(lebih…)

IRAN 2019


 

NED dan Demo di Iran

Note: sebelum membaca ini, silahkan baca dulu tulisan saya sebelumnya, “Siapa Jejaring NED di Indonesia?” [1] dan “Template” [2] biar tidak perlu mengulang-ulang, apa itu NED dan CANVAS

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/429831111295449/?t=0

**

Kalau ada yang bilang NED dan CANVAS tidak menargetkan Iran, itu namanya HHB [Halu-Halu Berjamaah]. Lha di negeri-negeri yang berbaik-baik sama AS saja mereka bekerja, masa untuk Iran mereka adem ayem?

Nah kalau kita googling, dengan mudah ketemu info antara lain: CANVAS saat ini memberi pelatihan kepada aktivis pro-demokrasi di lebih 50 negara, termasuk Iran. Handbook pelatihan CANVAS telah didownload 17.000 kali di Iran -thn 2015. [3]

Sementara itu, kalau cek ke web resmi NED, disebutkan bahwa untuk Iran (tahun 2018) NED sudah mengeluarkan dana untuk program akuntabilitas & pemerintahan, HAM, kebebasan informasi dan jurnalisme. Kalau dihitung (dana disebar ke beberapa organisasi), totalnya mencapai 600 ribu-an USD. [4]

Upaya untuk mengganggu Iran kebanyakan dengan penyebaran opini khas NED dkk: sistem Iran tidak demokratis, buktinya: adanya kekuasaan besar di tangan ulama, pemaksaan pakai jilbab, LGBT dihukum mati, penerapan syariat Islam [yang dianggap menindas perempuan], dll. Intinya, massa diprovokasi untuk membenci sistem pemerintahan.

(lebih…)

Demo di Irak dan Relasi Iran-Irak

Hari-hari ini Irak dilanda demonstrasi besar. Isu yang diangkat, tak jauh bedalah dengan isu-isu demo di berbagai negara berkembang, yaitu mengecam pemerintah yang dituduh korup, tidak menyediakan lapangan kerja, harga-harga mahal, dan bahkan: memprotes kerjasama Irak dengan China. Mirip ya dengan fenomena di sebuah negara di Asia Tenggara?

Pertanyaannya: mengapa harus bakar-bakaran? Mengapa melakukan perusakan fasilitas umum sehingga akhirnya bentrok dengan aparat? Kelihatan ya, “template” demo-nya? (Baca tulisan saya sebelumnya yang berjudul “template”).

Yang tidak banyak orang tahu: kedutaan besar AS di Baghdad adalah kedutaan yang terbesar yang dimiliki AS di seluruh dunia. Luasnya 42 hektar, dengan staf lebih dari 16.000 orang, termasuk 2000-an diplomat asli AS. Belum kalau dihitung “aktivis” dari berbagai negara asing (setahu saya, dulu juga ada tuh orang Indonesia), yang bebas keluar masuk Irak, blusukan kemana-mana. Yang tidak banyak orang tahu juga: massa diprovokasi melalui medsos, 79% cuitan seruan demo berasal dari Arab Saudi. Tentu media massa Barat tak ketinggalan memanaskan situasi.

(lebih…)