Kajian Timur Tengah

Beranda » Sosial Iran

Category Archives: Sosial Iran

Menjawab Dua Pertanyaan (3)

Sekarang saya akan menjawab pertanyaan kedua: bila benar ada yang disebut illuminati atau freemasonry, mengapa Iran tidak pernah menyebutnya? Bukankah Iran selama ini selalu mengklaim melawan kezaliman global?

Baik, saya akan menjawab ini karena terkait juga dengan para komentator di FP ini. Begini, saat saya nulis tentang Bill Gates, ada banyak komentator yang menulis: NWO (New World Order), illuminati, atau freemasonry. Ada juga yang menyebut istilah Dajjal. Teman-teman Kristiani, ada yang komen dengan menyebut “kaum anti-Kristus” dan mengutip Alkitab.

Begini, soal NWO, “penyembah setan”, kelompok “anti-Kristus”, “Dajjal” itu ada orang-orang yang khusus mengkajinya. Mereka punya dalil tersendiri, misalnya analisis simbol-simbol atau teks agama (misalnya hadis atau Alkitab).

Buat saya, bebas saja bila ada yang suka membahas masalah itu dan saya tidak merendahkan. Yang penting, pesan saya, jangan gegabah mencocok-cocokkan; misalnya setiap simbol segitiga disebut simbol illuminati. Atau dicampurkan dengan analisis sektarian yang ngawur (misalnya, “kaum Syiah adalah pengikut Dajjal dan temanan sama Israel”). Logika kritis tetap dipakai ya.

Mari kita simak video di bawah ini

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/224927751942701/?t=0

Sekarang pertanyaannya : apakah benar ada kekuatan beasr yang mengendalikan dunia ini?

(lebih…)

Soft Power Iran

Kemarin ada beberapa komentator bertanya, apakah kekuatan (power) militer Iran mampu melawan AS?

Sebelum dijawab, saya jelaskan sedikit, dalam studi Hubungan Internasional, power dibagi dua: hard power dan soft power. Hard power dimaknai sebagai kekuatan material, misalnya senjata, jumlah pasukan, dan uang yang dimiliki sebuah negara.

Bila memakai kalkulasi hard power, faktanya, kekuatan Iran masih jauh di bawah AS. Apalagi, doktrin militer Iran adalah defensive (bertahan, tidak bertujuan menginvasi negara lain). Iran hanya menganggarkan 14 miliar USD (2,5% GDP) untuk belanja militer (dan ini hanya sepersepuluh dibanding total belanja militer gabungan semua negara Teluk). Sebaliknya, AS adalah negara dengan anggaran militer terbesar di dunia, 3,1% GDP atau setara 610 miliar USD [1]. Bahkan, AS telah membangun pangkalan-pangkalan militer di berbagai negara di sekeliling Iran.

Di video ini, ada penjelasan dari Menlu Iran, Javad Zarif, bagaimana dan mengapa Iran membangun hard powernya (membuat senjata).

Tapi, ada bentuk power yang lain, yaitu soft power. Secara ringkas bisa dikatakan bahwa substansi soft power adalah sikap persuasif dan kemampuan meyakinkan pihak lain; sementara hard power menggunakan kekerasan dan pemaksaan dalam upayanya menundukkan pihak lawan.

Professor HI dari Tehran University, Manouchehr Mohammadi, mengidentifikasi ada 10 sumber kekuatan soft power Iran, saya bahas tiga saja, selebihnya silakan baca di artikel aslinya. [2]

(lebih…)

Deradikalisasi Salah Kaprah

Ini menyambung tulisan saya kemarin. Ada komentator yang bilang: “Perempuan itu tidak boleh dipaksa-paksa cara berpakaiannya! Emangnya bu Dina mau kalau pemerintah memaksa ibu pakai kebaya?”

Awalnya saya kesal. Ibaratnya, saya sudah membahas isu sampai bab 7, eh dia komen soal isu di bab 1. Masa saya harus ulangi lagi? Tapi, pagi ini, saya pikir, pertanyaan itu memang perlu dijawab.

Jadi begini ya, sejak lama, saya mendeteksi ada upaya deradikalisasi versi AS yang sedang dikembangkan di Indonesia. Mengapa? Karena saya tahu ada duit AS (dalam jumlah besar) yang sedang disebar ke berbagai kalangan sipil untuk proyek-proyek deradikalisasi.

Tentu, saya sepakat dengan pentingnya deradikalisasi. Yang sudah lama kenal saya, tahu bahwa saya bertahun-tahun jadi korban bullying jahat kelompok radikal/simpatisan jihadis. Jadi jelas saya bukan di kubu mereka.

Tapi, kerisauan saya, KEMANA konsep deradikalisasi yang fundingnya dari Barat itu dibawa?

(lebih…)

Apakah Kewajiban Berhijab Memundurkan Perempuan?

Kemarin saya lihat ada video yang isinya memperingatkan publik akan bahaya radikalisme. Tapi contoh yang dipakai adalah Afghanistan dan Iran, diperlihatkan bahwa dulu perempuan di 2 negara itu bebas tidak pakai jilbab, sekarang tertindas karena pemaksaan syariat (pakai jilbab). Saya pun menulis ini. Ada grafik/tabel, untuk melihatnya, cek ke web ya.

***

Apakah Kewajiban Berhijab Memundurkan Perempuan?

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah: bergantung sistem dan kinerja pemerintahan yang mewajibkan hijab tersebut. Kita tidak bisa menggeneralisasi, masing-masing negara atau provinsi (di Indonesia ada provinsi dengan Perda Syariah) yang mewajibkan hijab memiliki kondisi yang berbeda.

Misalnya, kewajiban hijab di Afghanistan dan Iran, sangat berbeda output-nya karena di Afghanistan, kelompok yang berkeras mewajibkan hijab adalah Taliban yang berhaluan Wahabi; sementara di Iran pemerintahan dibangun atas syariah versi Syiah Ja’fariah. Jadi, saat bicara soal Syiah, perlu juga ditanyakan ‘Syiah versi mana?’ Shah Pahlevi pun bermazhab Syiah; akhir-akhir ini juga muncul “Syiah London” yang kontroversial.

(lebih…)

IRAN 2019


 

NED dan Demo di Iran

Note: sebelum membaca ini, silahkan baca dulu tulisan saya sebelumnya, “Siapa Jejaring NED di Indonesia?” [1] dan “Template” [2] biar tidak perlu mengulang-ulang, apa itu NED dan CANVAS

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/429831111295449/?t=0

**

Kalau ada yang bilang NED dan CANVAS tidak menargetkan Iran, itu namanya HHB [Halu-Halu Berjamaah]. Lha di negeri-negeri yang berbaik-baik sama AS saja mereka bekerja, masa untuk Iran mereka adem ayem?

Nah kalau kita googling, dengan mudah ketemu info antara lain: CANVAS saat ini memberi pelatihan kepada aktivis pro-demokrasi di lebih 50 negara, termasuk Iran. Handbook pelatihan CANVAS telah didownload 17.000 kali di Iran -thn 2015. [3]

Sementara itu, kalau cek ke web resmi NED, disebutkan bahwa untuk Iran (tahun 2018) NED sudah mengeluarkan dana untuk program akuntabilitas & pemerintahan, HAM, kebebasan informasi dan jurnalisme. Kalau dihitung (dana disebar ke beberapa organisasi), totalnya mencapai 600 ribu-an USD. [4]

Upaya untuk mengganggu Iran kebanyakan dengan penyebaran opini khas NED dkk: sistem Iran tidak demokratis, buktinya: adanya kekuasaan besar di tangan ulama, pemaksaan pakai jilbab, LGBT dihukum mati, penerapan syariat Islam [yang dianggap menindas perempuan], dll. Intinya, massa diprovokasi untuk membenci sistem pemerintahan.

(lebih…)

Demo di Irak dan Relasi Iran-Irak

Hari-hari ini Irak dilanda demonstrasi besar. Isu yang diangkat, tak jauh bedalah dengan isu-isu demo di berbagai negara berkembang, yaitu mengecam pemerintah yang dituduh korup, tidak menyediakan lapangan kerja, harga-harga mahal, dan bahkan: memprotes kerjasama Irak dengan China. Mirip ya dengan fenomena di sebuah negara di Asia Tenggara?

Pertanyaannya: mengapa harus bakar-bakaran? Mengapa melakukan perusakan fasilitas umum sehingga akhirnya bentrok dengan aparat? Kelihatan ya, “template” demo-nya? (Baca tulisan saya sebelumnya yang berjudul “template”).

Yang tidak banyak orang tahu: kedutaan besar AS di Baghdad adalah kedutaan yang terbesar yang dimiliki AS di seluruh dunia. Luasnya 42 hektar, dengan staf lebih dari 16.000 orang, termasuk 2000-an diplomat asli AS. Belum kalau dihitung “aktivis” dari berbagai negara asing (setahu saya, dulu juga ada tuh orang Indonesia), yang bebas keluar masuk Irak, blusukan kemana-mana. Yang tidak banyak orang tahu juga: massa diprovokasi melalui medsos, 79% cuitan seruan demo berasal dari Arab Saudi. Tentu media massa Barat tak ketinggalan memanaskan situasi.

(lebih…)

Untuk yang tertarik dengan studi terorisme, ini pembahasan yang menggelitik: AS memasukkan IRGC (Garda Revolusi Iran) sebagai organisasi teroris asing (Foreign Terrorist Organization/FTO). Iran membalas, mendeklarasikan bahwa CENTCOM (Komando Sentral AS) dan segenap tentara AS di Timur Tengah adalah “organisasi teroris”. Nah bagaimana analisisnya? Siapa yang sebenarnya bisa dikategorikan FTO?

Silahkan dibaca, ditulis oleh Prihandono Wibowo (Staf Pengajar di UPN “Veteran” Jawa Timur)

Masalah Pelabelan “Teroris” Terhadap Garda Revolusi Iran

Demokrasi, Palestina, dan Para Pecundang di Indonesia

  Tanggal 21-22 Mei lalu, kita menyaksikan amuk massa para pecundang. Mereka mengklaim sedang berdemokrasi dan melakukan aksi ‘damai’, tapi melanggar aturan dan melakukan aksi-aksi brutal. Aparat yang memang bertugas menjaga ketertiban, disalahkan dan disebut melanggar HAM dan membungkam demokrasi.

Apakah demokrasi bermakna ‘boleh melakukan apa saja dan berkata apa saja’? Orang waras akan menjawab TIDAK. Kebebasan kita akan selalu dihalangi oleh kebebasan orang lain, sehingga lahirlah aturan.

Demokrasi memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk berserikat dan berkumpul. Tetapi, ada aturannya: jam demo, tidak menggunakan kekerasan, tidak merusak properti orang lain. Para pelanggar aturan ini wajib dihukum (dalangnya apalagi, lebih wajib lagi ditangkap dan diajukan ke pengadilan). Ini sungguh sesuatu yang logis.

(lebih…)

Seandainya ini foto dari Teheran (atau Damaskus)…

Kalau kejadian ini (aksi protes, dihadapi dengan gas air mata) terjadi di Teheran, seorang so called “pengamat Timur Tengah senior” , akan segera menulis di koran terkemuka: inilah kegagalan rezim Mullah!

Dia pernah menulis, “Ideologi kubu konservatif dapat dikenali dari kebijakan luar negeri yang resisten terhadap Barat dan pandangan budaya Iran lebih kaya ketimbang bangsa lain. Akibatnya, parabola dilarang, internet dikontrol, ada pengawas kode berpakaian. AKIBATNYA program kerja pemerintahan kubu moderat tidak maksimal.”

Jadi logika dia: karena parabola dilarang, internet dikontrol, perempuan musti pake hijab —> EKONOMI susah!

Penulis perempuan [feminist] pun banyak yang demen menimpakan masalah di Iran pada urusan hijab. Seolah-olah gara-gara pake hijablah ekonomi sebuah negara ruwet.

(lebih…)