Kajian Timur Tengah

Beranda » Studi Hubungan Internasional

Category Archives: Studi Hubungan Internasional

Covid-19 dan Teori Konspirasi

Kalau ada yang nulis, “Virus Covid-19 itu dibuat oleh AS demi menguasai dunia”, apa komentar Anda? Mereka yang sudah paham bahwa AS (pemerintah & elit-nya ya, bukan rakyatnya) memang sepanjang sejarah melakukan banyak kejahatan kemanusiaan, biasanya cukup terbuka (tidak harus setuju, tapi setidaknya mau menelaah argumen yang diberikan).

Tapi ada juga sebagian orang yang langsung mengejek, “Elo tuh pake teori konspirasi!”

Label “teori konspirasi” memang banyak dipakai orang untuk menghina upaya-upaya membongkar sebuah kejahatan global. Padahal sebenarnya konspirasi itu kan memang ‘biasa’ terjadi, misalnya, fenomena main sabun dalam pertandingan sepakbola (dua tim bersekongkol untuk mengatur pertandingan). Publik tahu darimana? Ya dari indikasi-indikasi, misal ada ‘keanehan’ yang dirasakan.

(lebih…)

Iran dan Covid-19

Permintaan Iran kepada IMF untuk memberi pinjaman uang dalam rangka penanganan Covid-19 memunculkan banyak pertanyaan, intinya: apakah Iran akhirnya tunduk kepada Barat?

Selama ini, IMF dikenal sebagai perpanjangan tangan negara-negara kaya Barat untuk mengacak-acak perekonomian negara berkembang. Pasalnya , IMF (dan Bank Dunia) saat memberi pinjaman selalu memberi syarat: negara penerima pinjaman harus meliberalisasi ekonominya. Antara lain: harus menghemat fiskal, harus memprivatisasi BUMN, dan menderegulasi keuangan dan pasar tenaga kerja.

Menurut Thomas Gangale, dampak dari kebijakan liberalisasi ekonomi ini justru negatif, antara lain dikuranginya pelayanan pemerintah dan subsidi makanan telah memberi pukulan kepada masyarakat kelas menengah ke bawah. BUMN yang dijual untuk membayar utang kepada IMF justru dibeli oleh perusahaan swasta yang kemudian menghentikan pelayanan bersubsidi dan menaikkan harga-harga untuk mencari keuntungan sebanyak mungkin. Kebijakan moneter seperti penaikan suku bunga dengan tujuan untuk menarik investor asing justru menghancurkan perusahaan domestik sehingga pengangguran meningkat. [1]

(lebih…)

Corona alias Covid 19 ini benar-benar menjadi ujian bagi manusia di berbagai level, mulai individu hingga negara, bahkan aliansi/komunitas negara. Siapa kawan sejati, dan siapa kawan yang hanya mau bersama di saat suka, semakin terlihat jelas.

Juga, fenomena ini semakin membongkar hipokritas (kemunafikan) Barat yang selama ini mengaku sebagai penjunjung HAM dan demokrasi. Dalam kondisi yang sangat sulit seperti sekarang, Iran dibiarkan kewalahan sendiri, embargo tidak dicabut, sehingga bahkan untuk mengimpor peralatan medis dan obat-obatan pun tidak bisa. Untungnya kemudian China datang membawa bantuan yang diangkut dalam 8 pesawat Mahan Air.

(lebih…)

Milisi teror yang dihadapi oleh tentara Suriah memang bukan kaleng-kaleng. Mereka punya senjata lengkap, disuplai oleh negara-negara kaya raya (plus dari uang sumbangan rakyat berbagai negara, termasuk Indonesia).

Jadi aneh bila ini dibilang “perang saudara” atau
“rezim menindas rakyat”. Rakyat model apa yang punya persediaan senjata sekuat/lebih kuat dari negara?

Beberapa tahun pertama perang (2012- akhir 2016), tentara Suriah kelabakan, bahkan sekitar 70% wilayahnya dikuasai milisi teror ini. Karena itulah Suriah minta bantuan Iran, Rusia, dan Hizbullah. Sejak Desember 2016, posisi berbalik, satu persatu wilayah Suriah berhasil dibebaskan. Kini tersisa 1 provinsi yang berbatasan dg Turki, Idlib. Inilah front terakhir para teroris. Turki dan AS pun turun tangan membantu para teroris ini.

[kalau dishare, pengantar dari saya tidak terbawa, perlu dicopas dulu]

https://web.facebook.com/theSyriainsider/videos/138045994227094/?t=0

Siapa tahu ada yang butuh tulisan ilmiah, bukan sekedar analisis ringan di medsos. Ditulis thn 2016, tapi masih relevan untuk mengetahui aspek ideologi pemimpin dalam mengindentifikasi national interest dalam kebijakan luar negeri Turki.

Di tulisan ini, bab kajian teori dan daftar pustaka sengaja tidak ditampilkan karena tadinya, paper ini akan dikembangkan lagi untuk keperluan publikasi (jurnal). Tapi meski sudah 3 thn berlalu, paper yang rencanakan itu belum beres juga. Soalnya, perubahan sikap beliau ini sangat cepat. Jadi ribet. Nunggu konflik selesai ajalah, baru dianalisis.

*Kesimpulan*

(lebih…)

Bahasa Diplomatik Putin dan Erdogan

Kemarin, Putin dan Erdogan bertemu di Moskow. Kesepakatan mereka: semua pihak, termasuk para “jihadis” melakukan gencatan senjata di Idlib. Kita tunggu saja, siapa yang pertama kali mengkhianati. Kemungkinan besar sih milisi teror yang akan ngebom duluan, setelah “amunisi” yang dijanjikan AS datang. [1]

Menarik juga menafsirkan bahasa diplomatik yang dipakai kedua tokoh ini.[2]

Di awal percakapannya, Putin menyatakan selamat datang, dan turut belasungkawa atas kematian tentara Turki. Lalu, Putin mengatakan, “Seperti saya sudah sampaikan kepada Anda lewat telepon, tidak ada, termasuk tentara Suriah, yang mengetahui/menyadari lokasi tentara Anda.”

Secara tersirat, yang dimaksud Putin, “Makanya tentara lo jangan gabung dengan “jihadis” dong.. kan kami sedang mengebomi para “jihadis”, siapa sangka tentara lo bareng sama mereka?”

(lebih…)

“Demokrasi Itu untuk Kaum Kafir”

Setelah Aleppo sepenuhnya bebas dari teroris, netizen dari Lebanon bernama Hadi Nasrallah ini (background pendidikannya HI, dan selama ini aktif di medsos melawan narasi Barat dan propagandis Al Qaida) datang ke Aleppo.

Ia mendatangi pinggiran Idlib, melewati tol Aleppo-Damaskus yang sudah dibuka lagi. Di jalan, ia mendapati 200 papan pengumuman yang tertulis ‘Jabhah Al Nusra’ (artinya, dibuat oleh JN alias Al Qaida).

Salah satu di antara isinya: demokrasi adalah untuk orang kafir.

Sungguh aneh, AS yang sering dijadikan kiblat demokrasi dan memerangi berbagai negeri demi demokrasi, justru membantu JN dkk di Idlib. Bukan cuma AS, bahkan Turki yang mengaku negeri demokratis sampai terjun ke Idlib berperang langsung melindungi JN dkk.

Suporter JN di Indonesia juga mengharamkan demokrasi. Jadi kalau mereka berkuasa, tentu akan ada plang kayak gini di berbagai sudut kota.


[kalau link ini dishare, pengantar dari saya tidak terbawa, jadi harus dicopas dulu]

Banyak yang nanya di komen, juga di inbox, ada apa di India. Saya bukan ahli India (dan kasus yang ada saat ini di India tidak terkait dengan Timteng).

Jadi, Anda yang nanya kemarin, nonton ini saja. Video berasal dari Deutsche Welle (DW, media Jerman), tapi yang ini ada terjemahan Indonesianya. Singkat dan jelas.

*ZSM ga usah nyolot soal judul video (apa hubungannya dg Israel?) Tentu suka-suka yang bikin video terjemahan ya, dan itu bukan saya. Tapi saya bantu kasih penjelasan: ada kemiripan situasi, Israel kan juga sdg mengupayakan agar Israel hanya untuk orang Yahudi. Sedang di India, ada upaya (dari sebagian politisi rasis) untuk membentuk “India hanya untuk Hindu”. Padahal, India adalah negara yang menyatakan sebagai demokratis dan sekuler. UU yang diskriminatif atas dasar agama tentu bertentangan dengan demokrasi dan sekularisme.

Tom Duggan ini jurnalis asal Inggris yang stay di Damaskus dan aktif memberitakan konflik Suriah (yang membantah narasi media mainstream). Dia mengabarkan, ada bom mobil lagi yang meladak di pinggiran Damaskus (kemarin), minimalnya ada 1 korban tewas.

Saya sempat mengontak seorang rekan yang tinggal di sana, dia cerita, sejak awal Feb ini ada 6x ledakan bom mobil di Damaskus. Kemungkinan pelakunya para teroris yang mengaku bertobat dan dapat amnesti dari pemerintah. Makanya bisa berkeliaran di Damaskus. Seiring kekalahan “teman-teman sepengajian” mereka di Idlib, mereka ngamuk lagi rupanya dan main bom lagi 😦