Kajian Timur Tengah

Beranda » Studi Hubungan Internasional

Category Archives: Studi Hubungan Internasional

“Jika minyak dan pengaruh adalah imbalan yang dikejar dalam Perang Irak dan pascaperang, maka Chinalah –bukan Amerika—yang memenangkannya, tanpa pernah melepaskan satu tembakan pun.” (Jamil Anderlini)

Tulisan terbaru di ic-mes.org “Bagaimana China Berjaya di Timur Tengah Tanpa Tembakan Peluru” (terjemahan tulisan Ramzy Baroud). “

https://ic-mes.org/…/bagaimana-china-berjaya-di-timur…/

Artikel jurnal yang saya tulis (bersama dua kolega) menjadi most popular paper.

Isinya: kajian hukum internasional terhadap pembunuhan atas Jend Qassem Soleimani (dia datang ke Irak dengan pesawat sipil, dengan status sebagai undangan pemerintah Irak, dibunuh oleh militer AS yang menduduki Irak dengan alasan melawan ISIS; padahal Jend Soleimani berperan sangat penting membantu pemerintah Irak melawan ISIS).

Yang berminat membaca, bisa download free di sini: https://scholarhub.ui.ac.id/ijil/vol18/iss4/6/

(written in English)

Antara Afghanistan, Libya, Suriah, dan Palestina

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/430823678307054

[Poin penting: homebase Al Qaida adalah Afghanistan dan Al Qaida (berdiri 1998) menggunakan Afghanistan untuk mendirikan kamp-kamp pelatihan mereka atas seizin rezim Taliban yang berkuasa di pada era 1996-2001.]

Gerakan Al Qaida ada di berbagai penjuru dunia, termasuk di Suriah, Libya, bahkan Indonesia. Nama yang dipakai beda-beda di tiap negara.

Di Libya, Al Qaida bernama Libyan Islamic Fighting Group (LIFG). Pendirinya bernama Abdelhakim Belhaj. Al Qaida Libya mengadakan aksi-aksi demo anti-Qaddafi dan melakukan berbagai serangan bersenjata, yang tentu saja dilawan tentara pemerintah. Tapi yang muncul: tuduhan bahwa Qaddafi melakukan pembunuhan massal.

Upaya penggulingan Qaddafi ini didukung AS. Dewan Keamanan PBB mengizinkan NATO untuk “mengambil langkah yang diperlukan.” Dan NATO pun membombardir Libya. Alasannya: untuk menyelamatkan bangsa Libya dari kediktatoran Qaddafi.

(lebih…)

Jurnalis Perang Perempuan

Saya sering salut pada jurnalis perang perempuan. Dulu, saya pernah ingin seperti mereka, terjun langsung ke medan-medan perang. Tapi jalan hidup saya sesuatu yang lain lagi.

Tentu saja, tidak semua jurnalis perang layak dipuji karena ada juga yang memberitakan propaganda bahkan hoaks (yang mengikuti Perang Suriah pasti tahu) karena mereka bekerja di media mainstream. Media mainstream sudah terbukti berkali-kali menjadi corong kepentingan pemodal yang menginginkan perang.

Dalam Perang Suriah, Aljazeera termasuk media mainstream yang menyebarkan propaganda antipemerintah Suriah (dan berpihak kepada pemberontak/jihadis). Bahkan, beberapa kali kedapatan memberitakan info palsu. Yang sudah 10 tahun bersama saya mengikuti Perang Suriah, pasti tahu. Info-info palsu media mainstream soal Suriah berkali-kali didebunk oleh saya (dan oleh teman-teman lain).

[Semoga mereka yang sekarang sibuk men-debunk hoaks soal Taliban bisa ingat bahwa mereka dulu produsen hoaks soal Suriah.]

(lebih…)

Cara Menjadi Pengamat Timteng Yang “Bener”

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/547067159959637

Menjadi pengamat Timteng yang “bener” (yang didasarkan pada riset, membaca, dan mendengar sebanyak-banyaknya, baik info yang ada di media, maupun saluran-saluran lain) tidak mudah. Lebih mudah memang baca sedikit, lalu asal komentar.

Berusaha menjadi pengamat yang “bener” pun sering disalahpahami.

Misalnya, kalau menulis soal kejahatan AS di Afghanistan dan setuju penarikan mundur tentara AS, komentator pro AS akan bilang “oh, jadi lo pro Taliban?”

Di saat yang sama, saat mengkritisi kejahatan pada “jihadis” di Suriah dan kelakuan para pengepul donasi Suriah, dengan cepat berbagai tuduhan keji dilemparka oleh fans mereka.

Karena kajian Timteng itu penting (karena ada dampaknya pada kehidupan di Indonesia), saya ingin kasih “nasehat” kepada semua pihak yang berminat pada isu-isu Timur Tengah: silakan cek di video ini lihat betapa kompleks situasinya.

(lebih…)

Pengamat Timur Tengah: Ini Penyebab Taliban Berkuasa Tanpa Perlawanan

FIXINDONESIA.COM – Pengamat Timur Tengah yang juga Dosen Prodi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Dina Yulianti menyebutkan, jika melihat pemberitaan baik di media nasional dan internasional, proses pengambilalihan kota demi kota di Afghanistan berjalan cepat dan nyaris tidak ada perlawanan. Bahkan ibu kota pun (Kabul) jatuh ke tangan Taliban nyaris tanpa perlawanan. 

“Presiden Afghanistan pergi begitu saja, padahal sudah berjanji akan terus berjuang melawan Taliban. Ada dua kemungkinan, pertama Taliban punya kekuatan yang besar. Namun, ini kontradiktif dengan informasi bahwa jumlah pasukan Taliban cuma enam puluh ribuan. Sementara pasukan Afghanistan yang dipersenjatai dan dilatih AS selama ini mencapai tiga ratus ribuan,” kata Dina kepada FIXINDONESIA.COM, Selasa 17 Agustus 2021. 

Menurutnya, kemungkinan kedua, Taliban mendapatkan dukungan dari sebagian warga Afghanistan sehingga mereka begitu saja menyerahkan kendali kota kepada Taliban.

(lebih…)

Afghanistan: Mungkinkah Berdamai dengan Taliban?

Dina Yulianti (Dosen Prodi Hubungan Internasional Unpad)

FIXINDONESIA.COM – Kondisi di Afghanistan semakin genting pascapenarikan tentara Amerika Serikat. Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Afghanistan, Deborah Lyons, melaporkan bahwa situasi keamanan memburuk dan telah terjadi kondisi darurat kemanusiaan. Menurut Lyons, “Afghanistan sekarang berada pada titik balik yang berbahaya. Ada dua kemungkinan di depan, negosiasi perdamaian yang sejati atau justru krisis yang tragis” (UNAMA, 2021).

Konflik dan kekerasan terutama terjadi karena Taliban mulai bergerak dari kota ke kota untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan pemerintahan Afghanistan. Media massa memberitakan bahwa upaya pengambilalihan kekuasaan itu dilakukan dengan kekerasan sehingga selain menjatuhkan banyak korban jiwa, juga memicu pengungsian besar-besaran warga dari berbagai kota ke arah Kabul.

(lebih…)

Hajj and the struggle against the apartheid regime of Israel

TEHRAN- One of the messages of Hajj is to fight racism. Everyone who performs Hajj must perform tawaf and sa’i. During tawaf, a pilgrim must also circle the tomb of Sayidah Hajar, which is attached to one part of the Kaaba. Then, he or she must perform sa’i, to run back and forth, from Safa to Marwah. 

Sa’i is a Hajj ritual that imitates what Hajar did. Who is Hajar? She was a black slave who was married to Prophet Ibrahim. In the sight of Allah, even a black slave woman turned out to have a very noble degree. Allah says the noblest among humans is the most pious, not the richest, or a specific gender or race. Therefore, Muslims should fight racism in this world. One nation that is still a victim of racism is the Palestinian nation. Palestine is colonized by the Zionist-Israel group, who claimed to be nobler and had the right to carry out occupation and various crimes against humanity against the Palestinian people.

In April 2021, Human Rights Watch issued a report describing Israel as committing apartheid and persecution towards the Palestinian people. Israel formally implemented an apartheid system of government that separated social, economic, and political life based on race. The Israeli Jews get far more special rights and facilities than Palestinians.
The legal term “apartheid” has long been used by observers, writers, or diplomats who support the Palestinian cause. The 1973 International Convention on the Suppression and Punishment of the Crime of Apartheid and the 1998 Rome Statute for the International Criminal Court (ICC) define apartheid as a crime against humanity as consisting of three main elements: the intention to maintain the dominance of one racial group over another; systematic oppression by dominant groups over marginalized groups; and inhuman actions (HRW, 2021). 

(lebih…)

Kisah Amerika yang Angkat Kaki dari “Kuburan Imperium”

Oleh:
Dina Yulianti
Dosen Prodi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran

FIXINDONESIA.COM – Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, beberapa hari lalu mengumumkan bahwa misi perang AS di Afghanistan akan resmi berakhir pada tanggal 31 Agustus.

Namun demikian, proses penarikan pasukan telah berlangsung dan Bagram Airfield, pangkalan militer AS terbesar di Afghanistan, telah diserahkan kepada Pasukan Pertahanan dan Keamanan Nasional Afghanistan. AS juga telah menyelesaikan penyerahan tujuh pangkalan militer lainnya.

Menurut CBS News 9 Juli, komandan pasukan NATO di Afghanistan, Jenderal Scott Miller, juga akan segera angkat kaki dan menyerahkan pasukan yang tersisa di bawah tanggung jawab seorang jenderal bintang dua.

Pengumuman Biden ini merupakan sebuah peristiwa bersejarah, dimana akhirnya AS meninggalkan kancah perang yang telah berlangsung 20 tahun. AS pergi dari Afghanistan dengan membawa kekalahan, bila ditinjau dari tujuan awal perang tersebut, yaitu “untuk membubarkan basis operasi terorisme di Afghanistan dan untuk mengalahkan rezim Taliban” (pidato Presiden Bush, 2001). 

Kini, ketika AS angkat kaki, justru power Taliban semakin kuat. Bahkan AS terpaksa bernegosiasi panjang, duduk semeja dengan Taliban sebelum akhirnya angkat kaki. Kini, proses perundingan tengah berlangsung antara pemerintah Afghanistan dan Taliban untuk membicarakan masa depan negara mereka.

Invasi AS (bersama pasukan NATO) ke Afghanistan dimulai pada 7 Oktober 2001. Invasi itu dilakukan menyusul serangan teror 911 (9 September 2001) terhadap beberapa target, antara lain gedung WTC di New York, yang menewaskan ribuan orang.

Pemerintah AS menuduh Al Qaida sebagai pelaku serangan dan dengan segera menggalang dukungan internasional untuk melancarkan “Perang Melawan Terorisme.” Bahkan Bush pernah mengancam negara-negara yang enggan bergabung dalam perang itu dengan kalimat, “Kalau tidak bersama kami, berarti kalian sedang melawan kami” (you’re either with us or against us in the fight against terror).

(lebih…)

Lincoln Memorial, Saksi Perubahan Opini Publik AS Terhadap Israel

Oleh:
Dina Yulianti
Dosen Prodi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran

Not another nickel, not another dime, no more money for Israel’s crime

FIXINDONESIA.COM – Siapa yang menyangka, akan tiba suatu hari ketika Lincoln Memorial –tempat dimana para presiden terpilih AS membacakan pidato kemenangan mereka di hadapan ratusan ribu massa—menjadi lokasi aksi demonstrasi pro-Palestina. Teriakan ‘tidak ada sepeser uangpun lagi untuk kejahatan Israel’ tadi diserukan di podium oleh seorang perempuan berkerudung.

Seorang pria kulit hitam, Anthony Lorenzo Green, aktivis gerakan Black Lives Matters, berseru, “Saya membawa pesan dari komunitas kulit hitam di Washington DC, komunitas yang ditindas setiap hari oleh polisi yang dilatih oleh militer Israel!” 

Demonstrasi di Lincoln Memorial berlangsung 29 Mei 2021, dihadiri sekitar 20.000 massa yang berasal dari berbagai ras dan agama, termasuk kaum Yahudi. Demonstrasi serupa terjadi di berbagai kota AS. Bahkan di New York, anak-anak muda Yahudi berorasi mendukung Palestina. Seorang gadis Yahudi dengan suara bergetar berkata, “Tidak ada justifikasi (pembenaran) bagi pembunuhan anak-anak di Palestina, yang dilakukan Israel, pada hari Idul Fitri.”

Di kalangan politisi, suara-suara pro-Palestina juga sangat mengemuka. Kondisi ini jauh berbeda dengan tahun 2014. Pada 8 Juli 2014, Israel memulai serangan bomnya ke Jalur Gaza. Serangan itu berhenti 50 hari kemudian, tanggal 26 Agustus 2014, menewaskan 2000 lebih warga Gaza, di antaranya 326 anak-anak. Namun saat itu dunia sedang disibukkan oleh ISIS yang berada di masa “kejayaan”-nya, mengontrol sepertiga wilayah Suriah dan 40% wilayah di Irak. Aksi-aksi teror ISIS membuat opini publik teralihkan dari Palestina. Terenggutnya 2000 nyawa di Gaza tak banyak mendapat respon.

(lebih…)