Kajian Timur Tengah

Beranda » Studi Hubungan Internasional

Category Archives: Studi Hubungan Internasional

Iklan

Diplomasi Zaman Now vs Diplomasi Era Zadoel

Debat Keempat Pilpres kemarin saya ikuti dengan seksama karena temanya cocok dengan bidang studi saya, Hubungan Internasional. Ada hal yang menarik untuk ditelaah, soal diplomasi dan ‘kepentingan nasional’.

Pertanyaan dari panelis adalah, “…Keberhasilan dalam diplomasi internasional tergantung pada kemampuan negara menawarkan keunggulannya kepada negara-negara lain. Keunggulan tersebut bisa dalam bentuk kebudayaan, ekonomi, pertahanan, dan gagasan solutif. …Menurut Bapak apa keunggulan bangsa Indonesia yang akan ditawarkan dalam diplomasi internasional dan bagaimana strategi utk mewujudkannya?

Jawaban Presiden Jokowi, keunggulan kita adalah “Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.”

Hal ini direspon Capres Prabowo bahwa diplomat asing itu “menghitung kekuatan kita”. Yang dimaksud Prabowo adalah kekuatan militer, karena selanjutnya yang disebutnya adalah ‘berapa kapal selam, pesawat, peluru kendali yang kita punya?’

Dalam tulisan singkat ini, saya hanya ingin menjelaskan bahwa secara paradigmatik, kedua tokoh ini berbeda bagai bumi dan langit.

(lebih…)

Iklan

Prahara Suriah, Hoax, Media Sosial, Perpecahan Bangsa

Banyak orang resah melihat semakin meningkatnya radikalisme di Indonesia dan semakin kerasnya friksi antarumat akibat perbedaan posisi politik. Banyak yang luput memahami fenomena ini dari perspektif geopolitik global, khususnya yang terkait dengan Perang Suriah.

Inilah era Facebook, Twitter, dan WA, ketika perang tidak hanya terjadi di Damaskus, Homs, Idlib, atau Aleppo, melainkan merasuk hingga ke rumah dan mimbar-mimbar di Indonesia. Kemarahan terhadap orang-orang yang terlibat perang nun jauh di sana, ditumpahkan melalui narasi penuh kebencian di berbagai forum, disertai dengan berbagai foto dan video palsu, dengan tujuan merekrut petempur dan donasi.

(lebih…)

BEDAH BUKU “PRAHARA SURIAH” & “SALJU DI ALEPPO”

BEDAH BUKU “PRAHARA SURIAH” & “SALJU DI ALEPPO” (karya Dina Y. Sulaeman) dan “MUSIM SEMI SURIAH” (karya Trias Kuncahyono)

HOAX…MEDIA SOSIAL…PERPECAHAN BANGSA

Narasumber :
1. Kombes Pol.R.Ahmad Nurwahid,S.E.,M.M., Kabagbanops Densus 88 AT POLRI
2. Prof Dr Henry Subiakto, Staf Ahli Menkominfo
3. M.Najih Arromadhoni, Sekjen Alumni Suriah
4. Trias Kuncahyono, Penulis Buku
5. Dr. Dina Y. Sulaeman, Penulis Buku
Moderator: Dr. Ahmad Najib Burhani

Lokasi : Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat
Tanggal : Jum’at, 18 Januari 2019
Waktu : 13.00 – 16.00 WIB

Suriah dan Orang-Orang Prancis

Kerusuhan di Prancis yang sudah berlangsung sekitar 3 pekan memunculkan deja vu bagi orang-orang yang intens mengamati Perang Suriah; bisa terlihat di berbagai komentar netizen [umumnya yang dari Barat/Timteng] di Twitter.

Rana Harbi, selebtwit cantik dari Lebanon menulis, “Bayangkan bila beberapa negara memutuskan mengirimkan senjata senilai miliaran [dollar] kepada para demonstran di Prancis, memaksakan berbagai sanksi [terhadap pemerintah Perancis], dan membantu semua kelompok antipemerintah; termasuk kelompok-kelompok dengan ideologi ekstrim; lalu membuat koalisi untuk mengebom Prancis. Keterlaluan? Nah, itulah yang sedang terjadi di Suriah sejak 2011!”

Seseorang entah siapa, membuat akun bernama ‘Benoite Abedoux’ [plesetan dari selebtiwit cilik asal Suriah, Bana Al Abed]. Isi tweet-nya bikin saya tertawa miris; mirip sekali dengan apa yang selama ini dicuit oleh Bana yang mengaku berada di Aleppo timur.

(lebih…)

Wawancara dengan Andre Vltchek tentang Timteng

Jurnalis Andre Vltchek dalam beberapa waktu terakhir telah mengunjungi beberapa negara Timur Tengah. ICMES mewawancarainya untuk mengetahui lebih jauh, kondisi terkini dan dinamika yang terjadi pada bangsa-bangsa Timur Tengah saat ini.

***

…ada proses perubahan besar di kawasan dan ada harapan besar; dan kini bangsa Arab melihat bahwa ada solusi yang mungkin diraih, bahwa Arab bukan lagi menjadi pihak yang dikalahkan, bahwa mereka bisa memperjuangkan kepentingan mereka. Ini adalah momentum yang penting saat ini. Dan para pemimpin negara-negara Arab yang umumnya dididik oleh Barat kini gemetar ketakutan karena selama berdekade-dekade mereka sudah menjual kepentingan bangsa kepada Barat; dan masa ini sedang mendekati akhir…

***

Selengkapnya:
http://ic-mes.org/politics/wawancara-dengan-andre-vltchek-tentang-kondisi-terkini-bangsa-bangsa-timteng/

Call for Paper Jurnal ICMES Vol. 2 No. 2 (terbit Desember 2018)

Jurnal ICMES diterbitkan oleh lembaga penelitian independen Indonesia Center for Middle East Studies (ICMES). Jurnal ICMES telah terindeks di GARUDA, ISDJ, dan Google Scholar dan artikel yang dipublikasikan dalam jurnal ini melewati prosedur peer-review.

Jurnal ICMES mengundang para peneliti dan penulis untuk berkontribusi dalam kajian Timur Tengah dengan mengirimkan artikel analisis dalam berbagai aspek, mulai dari politik, ekonomi, militer, energi, budaya, dan sejarah.

• Artikel merupakan karya ilmiah orisinil yang belum pernah dipublikasikan.
• Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, 6.000 – 7000 kata.
• Artikel meliputi: judul, nama lengkap penulis, instansi penulis, e-mail, abstrak, kata-kata kunci, pendahuluan, landasan teori/metodologi, pembahasan, penutup/kesimpulan, dan daftar pustaka.
• Abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sebanyak 150-200 kata.
• Kata-kata kunci ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, maksimal 5 kata.
• Kata atau istilah yang belum diubah menjadi kata Indonesia diketik dengan huruf italic/cetak miring.

Batas waktu pengiriman: 25 Oktober 2018

Informasi lebih lanjut: http://ic-mes.org/jurnal/index.php/jurnalICMES/about/submissions

Rohingya dan Komoditas Politik Domestik

biksu-ashin-wirasthuTulisan terbaru saya di Geotimes

“Mereka [orang Burma] mengatakan, jika kamu menyebut diri Rohingya, kamu akan dilempar ke laut!” kata seorang pria Rohingya, seperti diceritakan jurnalis Emanuel Stoakes yang mengunjungi kamp pengungsi di Sittwe, Provinsi Rakhine, 2013.

Dalam pernyataan itu terkandung akar konflik Rohingya di Myanmar. Pemerintah Myanmar sejak deklarasi kemerdekaan 1948 menolak memberikan status warga negara kepada etnis Rohingya. Mereka selalu menyebut orang-orang Rohingya sebagai orang ‘Bengali’ yang seharusnya menjadi warga Bangladesh, bukan Myanmar. Hal ini bertentangan dengan fakta bahwa selama berabad-abad etnis Rohingya telah hidup di tanah yang kini bernama Myanmar itu.

Status stateless (tak punya negara) yang dialami 140.000 orang Rohingya membuat segala hak-hak kemanusiaan mereka terabaikan. Etnis Rohingya adalah salah satu dari beberapa suku minoritas di Myanmar yang menderita penindasan dan diskriminasi dari junta militer Myanmar yang didominasi suku Burma. Del Spiegel pada tahun 2007 melaporkan bagaimana kondisi salah satu suku minoritas yang mengalami penindasan itu, yaitu suku Karen yang mayoritas beragama Kristiani.

Selanjutnya:   https://geotimes.co.id/kolom/internasional/rohingya-dan-komoditas-politik-domestik/

Bandung dan Bung Karno

(Dimuat di harian Pikiran Rakyat, 30 September 2014)

sumber foto: roberni.com

sumber foto: roberni.com

Pengantar: Saya beruntung diundang dalam acara international gala dinner untuk memperingati HUT ke-204 kota Bandung, di Gedung Merdeka. Meski saya cuma duduk dan ngobrol-ngobrol saja sama beberapa orang, sambil menikmati rendang ala chef (yang rasa dagingnya jauh lebih lembut dibanding rendang di warung Padang :D), tapi aura Gedung Merdeka, seperti biasa -setiap kali saya masuk ke sana- selalu memberi inspirasi. Setiap masuk ruangan itu, saya teringat pada betapa heroiknya Konperensi Asia Afrika 1955. Indonesia sebagai penggagas dan tuang rumah konperensi ini, sempat dihina-hina oleh media Barat (dikatai “beggars who never will learn“), tapi para negarawan Indonesia zaman itu berhasil membuktikan bahwa Indonesia mampu melaksanakan konperensi besar yang membawa cita-cita besar itu dengan baik. DR. Roeslan Abdulgani dalam bukunya “Bandung Connection” menceritakan dengan detil pelaksanaan konperensi itu. Ini bagian yang mengharukan:

[penjaga Gedung Merdeka] “Pak, lapor! Gedung Merdeka bocor! Di bagian ruang sidang pleno. Payah Pak! Basah dimana-mana. Air menggenang di lantai!”

mkaa2

suasana gala dinner, di kejauhan, meja Surya Paloh dan Walikota Bandung Ridwan Kamil

Tanpa menyelesaikan makan siang, saya [Roeslan Abdulgani] meloncat ke dalam mobil… Memang keadaan di dalam Gedung merdeka mengerikan… Tempat duduk delegasi di bagian barat dan tempat balkan bawah untuk para menteri dan pembesar-pembesar lain basah kuyup. …Kita yang di dalam gedung, termasuk Ir Srigati Santoso, saya, dan staf saya beserta belasan petugas-petugas lainnya terus memobilisasi lap-lap pel, dan goni-goni dan ember-ember air yang ada. Sambil melepaskan celana, jas, kemeja, kaos kaki, dan sepatu, dan hanya mengenakan celana dan kaos dalam saja, kita semua mengepel lantai, mengeringkan kursi-kursi, dan meja-meja dengan goni-gini dan lap-lap yang dapat menyerap air. Pintu gedung kirta tutup rapat sampai 14.45, mencegah jangan sampai ada delegasi yang kepagian datang.  Akhirnya dalam waktu 45 menit itu semua kelihatan bersih dan kering kembali. Kita semua dapat bernafas lega kembali.

Dalam pembukaan Konperensi itu, Bung Karno mengingatkan

“…janganlah melihat kolonialisme dalam bentuk klasiknya saja, seperti yang kita di Indonesia dan saudara-saudara kita berbagai-bagai wilayah Asia dan Afrika, mengenalnya. Kolonialisme mempunyai juga baju modern, dalam bentuk penguasaan ekonomi, penguasaan intelektuil, penguasaan materiil yang nyata, dilakukan oleh sekumpulan kecil orang-orang asing yang tinggal di tengah-tengah rakyat.”

Sayangnya, peringatan Bung Karno ini masih jadi ‘kenyataan’ di Indonesia. Kita hingga hari ini masih terjajah secara ekonomi dan intelektual. Berikut ini tulisan saya, yang terinspirasi oleh aura Gedung Merdeka.

(lebih…)

Membantu Palestina Tanpa Pencitraan

palestine-oppressionIni saran untuk Presiden baru Indonesia, kalau benar-benar ingin membela Palestina, begini caranya… (dimuat di Sindo Weekly Magazine, 17 Juli 2014).

Membantu Palestina Tanpa Pencitraan

Dina Y. Sulaeman

(penulis, penstudi Hubungan Internasional)

Masyarakat Indonesia kembali dilanda histeria duka lara menyaksikan di layar kaca, warga Gaza bergelimpangan akibat serangan rudal dan bom Israel. Seruan penggalangan dana kembali dilakukan. Para capres pun berlomba memberikan pernyataan akan menyumbang uang bermilyar-milyar. Umpatan dan caci maki terhadap ‘Zionis la’natullah’ menggema di facebook atau twitter. Seolah dengan semua ini, rasa bersalah karena membiarkan Palestina dijajah selama 66 tahun (sejak 1948) sedikit terobati.

Tapi, bukankah bahkan PBB pun tak berdaya menghentikan sepak terjang Israel? Paul Findley dalam bukunya “Deliberate Deceptions: Facing the Facts About US-Israeli Relationship” (1995) menyebutkan bahwa Israel melalui kolusinya dengan pemerintah AS telah berhasil mencegah PBB mengambil langkah konkret penyelesaian konflik. Lebih dari 65 resolusi kecaman kepada Israel dirilis Dewan Keamanan PBB atas berbagai serangannya ke Gaza, Tepi Barat, Jordan, Lebanon, dan Tunisia.

Mari kita baca salah satu isinya. Resolusi 1860/8 Januari 2009 yang dirilis menyusul serangan ‘Operasi Menuang Timah’ Israel ke Gaza, penuh dengan kalimat-kalimat normatif: menyatakan keprihatinan mendalam atas kekerasan yang terjadi, menyatakan keprihatinan mendalam atas memburuknya krisis kemanusiaan di Gaza, menyerukan gencatan senjata sesegera mungkin, dan mengutuk semua kekerasan terhadap warga sipil dan semua aksi terorisme.

Adakah efek dari resolusi seperti ini? Tidak.

(lebih…)

Say No to ISIS, ISIS Bukan Sunni

Sejak awal, saya mendedikasikan blog ini untuk Kajian Timur Tengah dari perspektif studi politik internasional (bukan studi agama). Bahkan saat membahas Palestina pun, selama ini saya menggunakan argumen-argumen politik, bukan agama. Tapi, sejak konflik Suriah, agama/mazhab sangat dominan diposisikan sebagai akar masalah (pivotal factor). Kalau saya, lebih setuju melihat agama trigger/pemicu, bukan akar; akarnya adalah ekonomi. Rumusnya: follow the money, lihat siapa yang meraup keuntungan terbesar dari konflik. Selengkapnya aplikasi teori resolusi konflik untuk Suriah baca di sini:https://dinasulaeman.wordpress.com/2013/03/23/resolusi-konflik-syria/)

Kini, seiring merebaknya teror mengerikan yang dilakukan ISIS/ISIL di Irak, media-media mainstream dan media-media nasional (apalagi media Islam-takfiri), kembali terjebak (atau sengaja) memetakan konflik ini sebagai Sunni vs Syiah. Mereka menyebut ISIS/ISIL sebagai militan Sunni yang sedang melawan Syiah. Benarkah? Mau tak mau, para penstudi HI perlu mengetahui ‘pemetaan mazhab’ ini, supaya tidak salah kaprah saat menganalisis.

Berikut saya posting ulang tulisan lama saya. Yang jelas, saya yakin, setiap Sunni sejati (bukan takfiri), pasti menolak bila militan sesadis para pembantai ini dikatakan sebagai ‘pejuang Sunni’:

notorious isis-2notorious isis-3

 

Sunni = Takfiri?

Dina Y. Sulaeman*
Mau tak mau, ada beberapa istilah yang sepertinya harus kita pahami bersama saat menganalisis atau membaca analisis tentang konflik Timur Tengah. Beberapa istilah yang sering muncul dalam membahas konflik Suriah adalah takfiri dan wahabi. Era Muslim baru-baru ini dalam sebuah artikel yang mengutip pidato Sayyid Hassan Nasrallah, membuat judul yang provokatif : Hasan Nasrallah : Kami Tidak akan Biarkan Suriah Jatuh Ke ‘Takfiri’ (Muslim Sunni).

Eits, sebentar, judul ini cukup mengganggu pikiran saya. Takfiri adalah perilaku mengkafir-kafirkan sesama muslim dan melakukan kekerasan terhadap orang yang mereka anggap kafir. Apakah benar takfiri itu adalah muslim Sunni? Saya tanya kepada Anda semua yang mengaku Sunni, apakah Anda menyukai perilaku demikian? Apakah Anda menyukai perilaku main serang ke sebuah lembaga atau sebuah kampung hanya dengan alasan lembaga itu kafir atau penduduk kampung itu kafir (muslim tapi karena dinilai ‘sesat’, jadi dikategorikan kafir)? Atau apa Anda setuju dengan perilaku pemberontak Suriah yang makan jantung mayat atau memutilasi mayat sambil berteriak takbir? Saya yakin, jawaban sebagian besar dari kita semua adalah TIDAK.

Baru-baru ini ada kejadian yang menurut saya membuktikan bahwa kaum takfiri itu beda dengan Sunni. Kejadian ini berlangsung di kantor Grand Shaikh Al-Azhar Kairo Mesir (Masyikhah). Wah, para syekh Al Azhar ini kurang Sunni apa? Mereka kan benar-benar Sunni tulen, sudah tingkat ulama ‘Grand” pula? Tapi, kantor mereka digeruduk oleh para demonstran dari kalangan ‘Islam radikal’ (ini istilah yang dipakai dalam berita ini. Tapi, di berita itu disebutkan pula bahwa mereka meneriakkan yel-yel dan cacian terhadap instansi Al-Azhar, Grand Shaikh Al-Azhar Prof. DR. Ahmad Thayeb, dan seluruh pegawai Al-Azhar. Mereka menyatakan bahwa Al-Azhar adalah instansi kafir. So tak salah lagi, inilah kaum takfiri itu. Bahwa para penentang ulama Al Azhar adalah kaum takfiri, bisa dibaca juga dalam pernyataan seorang Syekh Al Azhar, Dr. Ahmad Karimah di sini.

Saya pun bertanya kepada Bapak Agus Nizami, blogger http://www.kabarislam.wordpress.com dan owner web http://www.media-islam.or.id yang aktif memberikan analisis konflik Timur Tengah dengan menggunakan landasan teks agama.  Berikut kutipan diskusi kami.

(lebih…)