Kajian Timur Tengah

Beranda » Suriah

Category Archives: Suriah

Issam Zehreddin, Singa Pribumi Suriah

issam

 Jend. Zehreddin sedang memeluk keluarga tentara yang gugur melawan ISIS di Deir Ezzour.

Bagi orang Suriah, pribumi adalah seluruh warga negara Suriah. Ada beberapa di antara mereka yang kemudian angkat senjata melawan pemerintah yang sah. Yang pertama kali angkat senjata adalah anasir Ikhwanul Muslimin yang dibacking Turki, Qatar, AS, dll. IM memang punya track record sebelumnya melakukan aksi kudeta dengan bantuan senjata dari AS. Kelompok Hizbut Tahrir Suriah juga mengklaim angkat senjata, mereka berbaiat kepada kelompok-kelompok teror seperti Jabhah al Nusra yang tak lain, Al Qaida versi Suriah.

Alasan yang mereka kemukakan: pemerintah Suriah adalah rezim Syiah yang kejam kepada kaum Sunni. Dengan alasan itu, mereka mengundang kaum Sunni dari seluruh dunia untuk berperang (atau menyumbang dana “jihad”). Terbentuklah kelompok-kelompok “jihad” yang jumlahnya ratusan, dengan milisi yang datang dari berbagai penjuru dunia. Di tengah-tengah mereka, muncul kelompok yang paling ganas, ISIS.

ISIS kemudian buka cabang di berbagai negara; sehingga banyak orang lupa pada aktor utama, Ikhwanul Muslimin jauh lebih dulu buka cabang dan bahkan mendominasi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Oleh media Barat, jihadis IM (dalam berbagai nama milisi) disebut sebagai “moderate rebels”, jadi tidak dikategorikan teroris, meski aksi-aksinya tak jauh beda dari ISIS.

Ratusan kelompok teror di Suriah, sulit disebut sebagai “pribumi” karena mereka dibiayai negara-negara asing; dan sebagian pasukannya pun berasal dari negara-negara asing (termasuk Indonesia). Karena itu “perjuangan” mereka di Suriah tidak bisa disebut revolusi karena unsur asingnya terlalu besar.

(lebih…)

Iklan

Mereka yang Menulis dalam Sunyi

vanessa

Clara Connolly dkk saat mengganggu acara Media on Trial

Selama 6 tahun terakhir, banyak orang Indonesia ‘menyerang’ saya akibat tulisan-tulisan saya soal Suriah. Padahal sebenarnya bukan cuma saya yang menulis dalam narasi anti-mainstream soal Suriah (berlawanan dengan narasi media mainstream), ada banyak, tapi awalnya, kebanyakan dalam bahasa Inggris. Akhir-akhir ini sudah sangat banyak facebooker dan netizen yang bersuara sama dengan saya, alhamdulillah. Saya tak perlu lagi sering menulis karena sudah banyak yang lain.

Tapi dulu, di awal-awal, ini adalah pekerjaan yang ‘sunyi’. Ada beberapa facebooker yang bekerja diam-diam di balik layar, membuat beberapa fanpage, ‘berperang’ melawan fanpage-fanpage pro-‘mujahidin’ (dan seperti biasa, FP pro-teroris ini menyebarkan berita hoax sambil menyerukan penggalangan dana). [1]

(lebih…)

All About Kurdi

BHL Kurdi-2

Barzani (Kurdi) dan BHL, makelar perang Zionis

Referendum Kurdi Irak (menginginkan kemerdekaan penuh dari Irak, membentuk negara khusus Kurdi) telah membuat pembahasan tentang Kurdi semakin intens di media. Yang banyak dikemukakan oleh media Barat (dan diulang-ulang oleh sebagian netizen adalah: mereka adalah suku yang tertindas dan ingin meraih kemerdekaan.

Pertanyaannya: mengapa Israel yang sangat gigih mendukung kemerdekaan Kurdi, mengapa Barat menjadikan milisi Kurdi sebagai pion baru dalam mendestabilisasi Timteng? Sudah banyak diketahui, milisi ISIS di Suriah kini berganti baju, bergabung dengan SDF (milisi Suriah yang dibentuk AS, mayoritas anggotanya orang Kurdi) atau Peshmerga (tentara Kurdi di Irak).

(lebih…)

Libya, Suriah, dan Klaim Dakwah/Antikekerasan HTI

HTI

Republika (24/10) menurunkan berita dengan judul bombastis:  “Aksi Tolak Perppu Ormas Jadi Lautan Bendera Tauhid”. Ngawurnya ada dua, pertama apakah sih definisi bendera tauhid sebenarnya (apa kalau tidak pakai bendera itu artinya tidak bertauhid?) Apakah bendera HTI itu bendera tauhid? Ini silahkan didiskusikan dengan ahli agama, setahu saya sih tidak demikian. Kedua, judul itu jelas ingin membangun opini: Perppu Ormas (sekarang sudah jadi UU) adalah anti Islam. Menariknya, wartawan Republika itu juga menyebutkan bahwa tidak ada satupun bendera merah putih yang terlihat.

HTI selalu mengklaim diri sebagai semata-mata organisasi dakwah Islam dan atas alasan itu, Perppu Ormas (kini UU) secara salah kaprah disebut anti Islam. Padahal yang disasar ormas-ormas yang ideologinya membahayakan NKRI (anti Pancasila, pro kekerasan, dll).

Jawaban untuk Klaim HTI

(1) HTI Organisasi Dakwah?

Klaim bahwa HTI adalah organisasi dakwah bertentangan dengan pernyataan yang dimuat di situs-situs HT di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang secara jelas menyatakan bahwa Hizbut Tahrir adalah partai politik yang memiliki tujuan untuk mendirikan kekhalifahan Islam.

Saat diwawancarai oleh Aiman dari Kompas TV (12/6), Ismail Yusanto mengelak menjawab, bagaimana proses terbentuknya kekhilafahan serta siapa dan dari negara mana asal sang khalifah.

(lebih…)

Rohingya, Yaman, dan Para ‘Jihadis’ (2)

oilcurse

Di antara para pembaca tulisan bagian (1), ada yang masih salah paham maksud tulisan saya. Ada yang salah paham karena sentimen agama (seolah-olah, dengan membahas keterlibatan korporasi dalam konflik Myanmar, artinya anti Islam karena tidak peduli pada Rohingya), ada yang karena bekerja di perusahaan yang bergelimang uang berkat perang sehingga punya kepentingan untuk menyalahpahamkan (menggeser diskusi ke arah lain), ada juga karena memang benar-benar belum paham karena tulisan saya yang terlalu singkat.

Jadi khusus untuk golongan ke-3, yang saya asumsikan memang ingin terus belajar, saya putuskan untuk melanjutkan tulisan tersebut.

Dalam menganalisis konflik dengan perspektif ekonomi-politik, rumusnya begini: follow the money. Lihat kemana aliran uang terbesar mengalir, di sanalah aktor utama konflik ini berada, di sanalah akar konflik. Dalam konflik, ada yang disebut “akar”, ada yang disebut “pemicu”. Pemicu konflik, bisa apa saja, bergantung daerahnya.

(lebih…)

Pesan-Pesan untuk Kalian (Tentang Rohingya)

THAILAND-SEASIA-MIGRANTSBerikut ini pesan saya untuk 3 pihak:

-yang pingin jihad ke Myanmar
-yang pingin nyumbang dana
-yang bilang “kalian tu nyebelin sih, ga beradab, pantesan aja diusir melulu”

A. Buat yang ngotot ingin berjihad ke Myanmar

Marah? Harus dan wajar. Namun nalar dan akal sehat jangan sampai menguap dari didihan darahmu.

Tak pernahkah kau berpikir, sekali menjejakkan kaki di sana dengan tujuan ‘mulia’ itu, engkau praktis di bawah komando sesuatu yang bukan dalam kuasamu?

Mampukah engkau menolak perintah untuk berbuat kerusakan di luar tujuan kedatanganmu? Bisakah engkau sekonyong-konyong pulang kapanpun kau mau?

Konflik Syria adalah blueprint dari pola ini. Puluhan ribu ‘jihadis’ asing berbondong-bondong tiba ke Syria, dengan niat ‘menolong’ – namun mereka malah menyebabkan kondisi menjadi semakin parah.

(lebih…)

Mengapa Mereka Membenci Patung?

patung

Patung dewa di kompleks kelenteng Tuban ditutupi kain setelah diprotes sebagian pihak

 

Kasus ‘penolakan’ terhadap patung-patung yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia, menurut saya, adalah sebuah alarm tentang menguatnya sebuah ideologi yang mengerikan, di tengah masyarakat kita. Mungkin baru alarm, baru gejala.

Orang bisa saja mengabaikan dan berkata, “Ah itu sih segelintir orang ekstrim saja!” Tapi kalau dibiarkan, dan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas masalah ini (misalnya Dirjen Kebudayaan) tidak mengambil tindakan yang signifikan, dampaknya bisa mengerikan. Hal ini dapat kita pelajari dari fenomena di Timur Tengah.

Pada Desember 2013, Robert Fisk, jurnalis dari The Guardian melaporkan bahwa Al Qaida Suriah (Jabhah Al Nusra) telah menghancurkan situs-situs bersejarah. Patung penyair Abu Tammam Habib ibn Aws di Daraa diledakkan, patung penyair al-Ma’arri, dipenggal kepalanya. Patung Harun Al Rasyid di Raqqa pun tak luput dari ‘pembantaian’ mereka. Makam Hujr ibn Adi (salah satu sahabat Rasulullah SAW) di pinggiran Damaskus dibongkar. Sebatang pohon tua berusia 150 tahun di kota Atmeh pun menjadi korban: ditebang habis. Seorang “jihadis” mengatakan kepada wartawan Perancis bahwa pohon itu ditebang karena sudah jadi sesembahan warga. Jadi, inilah “jihad” mereka: menggorok leher orang-orang ‘kafir’ Suriah, membasmi patung, makam, dan pohon.

Lalu Fisk menulis, “Tetapi, bukankah ini cerita lama? Bukankah dulu Taliban juga menghancurkan patung Buddha di Bamiyan, sebagaimana rezim Saud membongkar bangunan-bangunan kuno di Mekah; seperti juga para ‘Islamis’ yang menghancurkan makam-makam di Pakistan? Belum lagi bila kita sebut penghancuran di Timbuktu.”

(lebih…)

Konflik-Konflik Pembuka Tabir

topeng
 
Suriah membuka tabir kelompok-kelompok Islam radikal (istilah yang tepat sebenarnya ‘ekstrim’), tapi ngaku-ngaku gerakan dakwah damai (kayak yang barusan dibubarkan itu, dan para pembelanya, termasuk yang berafiliasi dengan IM itu lho). Di Suriah terbukti, ideologi mereka sebenarnya sama sekali tidak toleran, bahkan menghalalkan kekerasan terhadap orang-orang yang “bukan kelompok kami”.
 
Palestina membuka tabir, mana netizen yang toleran asli, mana orang-orang yang sebenarnya juga rasis tapi ‘menunggangi’ gerakan kelompok toleran dan nasionalis yang sedang berjuang melawan kelompok intoleran/ekstrim muslim. Pas giliran intoleransi dan kebrutalan Yahudi-Israel yang dibahas, langsung deh keluar aslinya.
 
Tapi orang-orang ‘tercerahkan’ akan selalu mampu melihat peta konflik dengan jernih, tidak akan tertipu oleh kedok kedua kelompok yang pemikirannya setali tiga uang itu.

Kisah Nur dan ISIS

Sejak 2011 sampai kini, saya sudah nulis soal Suriah, mungkin jumlahnya sudah mencapai ribuan (karena banyak juga yang saya tulis anonim, soalnya banyak yang alergi duluan baca nama saya 🙂 ).

Sejak beberapa tahun belakangan ini, sudah banyak aktivis medsos yang ikut aktif meluruskan info ttg Suriah di medsos, alhamdulillah…, luar biasa… Wartawan-wartawan media mainstream juga sudah ada (sedikit) yang turun tangan, meski dengan halus, mencoba melakukan perlawanan atas hegemoni informasi. Tapi semua itu tak cukup, masih sangat banyak yang tertipu. Semua yang ‘tercerahkan’ seharusnya ikut turun tangan, minimalnya sekedar share berita yang mengungkap siapa itu ISIS, Al Nusra, dan sejenisnya; atau bahwa ada AS dan Israel di balik semua ini. (contoh: “Israel Danai Pemberontak Suriah” http://internasional.republika.co.id/…/ortqnu335-israel-dan…).

Ini kisah tentang ex-Direktur PTSP BP Batam Ir Dwi Djoko Wiwoho. Ia tertipu dan berangkat ke Suriah bersama keluarganya. Kebetulan, AFP mewawancarai seorang perempuan, yang diduga anak pak Dwi, namanya Nur.

Menurut Nur, saat ini ayahnya dan saudara laki-lakinya dipenjara ISIS.

“Ada banyak (tentara ISIS) yang bercerai, kemudian menikah lagi untuk dua minggu atau dua bulan,” katanya.

“Banyak pria datang ke tempat saya dan berkata kepada ayah saya, ‘Saya menginginkan anak perempuan Anda’,” katanya.

“Ke mana saja mereka selalu membicarakan wanita,” katanya getir

Nur mengaku tertarik pindah ke Suriah setelah melihat foto dan video tentang Negara Islam atau Daulah Islamiyah yang diunggah ISIS ke internet.

“Semua bohong … ketika kami memasuki wilayah ISIS, masuk ke negara mereka, yang kami lihat sangat berbeda dengan apa yang mereka katakan di internet,” kata Nur.

Nur saat ini berada di kamp pengungsi Ain Issa, sekitar 50 kilometer di utara Raqqa.Bersama ribuan orang lainnya, Nur meninggalkan kota Raqqa yang kini tengah digempur Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung militer Amerika Serikat.

Ini video cuplikan rekaman Nur, terlihat sesekali ia bicara bahasa Indonesia.

Dengan sepenuh hati saya mendoakan di pagi bulan Ramadhan ini, agar Nur dan perempuan-perempuan Indonesia lainnya, bisa segera pulang dengan selamat lalu mereka menyebarkan kebenaran kepada publik. Wabil khusus saya doakan seorang gadis cantik yang awal-awal konflik Suriah sering ‘menyerang’ saya di FB, bahkan menginbox, dan dia bilang dia akan ke Suriah dalam waktu dekat. Saya waktu itu bilang ke dia, “Hati-hati Dik… jangan mau tertipu kayak gini.”

Entah dimana dia sekarang. Semoga dia baik-baik saja.

sumber video: https://www.youtube.com/watch?v=n3aFQEiegRA
sumber berita: http://batam.tribunnews.com/…/mengerikan-putri-djoko-cerita…

Beli Buku ‘Salju di Aleppo’

cover-salju-aleppo

Pemesanan: Hatim (SMS/WA: 0878-8299-8696)/email: icmes.indonesia@gmail.com

“Ingatlah bahwa kalian lebih kuat daripada perang ini, dengan cara memiliki harapan dan imajinasi”

Kalimat ini saya cantumkan di cover depan buku “Salju di Aleppo”. Ini kalimat yang dituliskan Pierre Le Corf di kartu-kartu yang menyertai bingkisan Natal yang dibagikannya untuk anak-anak Aleppo, baik di pengungsian, rumah sakit, maupun sekolah. Anak-anak, apapun agamanya, mendapatkan hadiah ini. Bahkan yang membungkus dan menyiapkan hiasan pun ibu-ibu berjilbab. Inilah kehidupan warga Suriah yang asli, penuh toleransi pada sesama, apapun agama dan mazhabnya.

Ketika Natal 2016 tiba, pohon Natal besar penuh lampu dipasang dan yang merayakannya tak hanya umat Kristiani, tetapi semuanya. Mereka tak hanya merayakan Natal, tapi juga bebasnya Aleppo timur setelah hampir 5 tahun dikuasai milisi bersenjata. Terusirnya milisi bersenjata juga membawa arti penting bagi warga Aleppo barat karena selama ini milisi bersenjata yang bercokol di Aleppo timur hampir setiap hari mengirim mortar, bom bunuh diri, dan sniper. Rumah sakit tak pernah sepi dari korban yang berdatangan akibat serangan mereka yang mengaku “mujahidin” ini. Namun yang diberitakan media selalu saja “korban” di Aleppo timur (dalam video-video rekayasa produksi White Helmets). Fenomena itu diceritakan oleh Le Corf, pria Perancis yang selama setahun tinggal di Aleppo barat, sebagiannya saya kutip di buku, juga beberapa fotonya (atas seizin Le Corf tentu saja).

Manipulasi informasi soal Aleppo (dan Suriah secara umum) sedemikian masif sehingga ketika rakyat Aleppo bersuka cita atas bebasnya Aleppo timur, yang diterima orang Indonesia adalah “ada genosida di Aleppo” dan para pengepul dana dengan sigap menggalang uang warga yang histeris. Di buku saya ungkap berbagai data mengenai manipulasi informasi itu.

Di video ini, anak-anak Suriah menyanyikan kesedihan, sekaligus harapan mereka. Membuat air mata menetes saat menontonnya. Saya sudah kasih terjemahan Indonesia. Bila ingin ikut menyanyi, teksnya ada di bawah. Namun jangan heran antara teks dan yang terdengar ada perbedaan (karena si penyanyi menggunakan logat khas Suriah). Penyanyinya bernama Ansam, yang buta sejak lahir. Video ini diproduksi Unicef, lembaga yang menurut pengamatan saya, selama ini baik dan netral dalam penyaluran bantuan untuk anak-anak Suriah.

“من قلـب الدمـار والنـار جـرح كبيـر
بالصوت العالي بدي قول بس الصوت صغير
يمكن نحنا ولاد زغار بس صرختنا من القلب
بـدنــا نـمحي كـل الـخـوف ونـكـون الـتـغـيـير
بأعـلى صوت بدي قــول
بالاغـنية كل شي معقول
حــدا يـسـمـع حـدا يـشوف
طـفـولـتـنـا بـدنــا يـاهــــا…
بالـصـوت الـواحـد أمـلنــا أكـتـر
رح منصير أقوى وطفولتنا تكبر
بالهاغـنـيـة لـعــم نـكـتـبـهــــــــا
بـوجـع وخوف ودموع الـعـين
رجـعـــت دقــــــات الـقـــلـــــب
عالحيـاة… عالحيـاة … عالحياة
رح ترجع الوجوه تضوي هالعتم الطويل
والاحلام اللي بـنـينـاها كـلا رح بـتصــير
بأعـلى صوت بدي قــول
بالاغـنية كل شي معقول
حــدا يـسـمـع حـدا يـشوف
طـفـولـتـنـا بـدنــا يـاهــــا
بالـصـوت الـواحـد أمـلنــا أكـتـر
رح منصير أقوى وطفولتنا تكبر
بالهاغـنـيـة لـعــم نـكـتـبـهــــــــا
بـوجـع وخوف ودموع الـعـين
رجـعـــت دقــــــات الـقـــلـــــب
والـضحكـات عـم تـنـبع مـن كـل مكان
والـدقـات بالـقـلب عـم ترجع من جديد…”

 

 

 

Buku Salju di Aleppo bisa didapat dengan memesan langsung, via Hatim (SMS/WA: 0878-8299-8696)