Kajian Timur Tengah

Beranda » Suriah

Category Archives: Suriah

Para Pemakan Bangkai

Pada Juni 2013, Presiden Obama akhirnya menandatangani persetujuannya untuk mengirim senjata kepada ‘pemberontak’ Suriah (atau ’mujahidin’, atau teroris, silahkan pilih istilah yang mau dipakai).[1] Sebenarnya Obama sangat ragu-ragu dalam hal ini, namun tekanan dari para pengkritik, sejumlah penasehat, bahkan mantan Presiden AS, Bill Clinton, akhirnya membuat Obama sepakat. Pengumuman keputusan ini disampaikan oleh penasehat keamanan nasionalnya, Benjamin J. Rhodes, sementara di saat yang sama Obama hadir dalam acara ‘gay pride’ (kebanggaan kaum homo) di Gedung Putih.
 
Tapi, hei, mengirim senjata jelas butuh uang. Darimana? Sumbernya adalah negara yang sama yang selama ini menjadi penyumbang CIA dalam berbagai aksinya: Arab Saudi. CIA dan Saudi telah membentuk misi pelatihan ‘pemberontak’ dengan sandi ‘Timber Sycamore’. Dalam pelaksanaan misi ini, Saudi Arabia bertugas menyediakan senjata dan uang, sementara CIA melatih ‘pemberontak’ menggunakan AK-47 dan misil anti tank. Sebelumnya pun, Saudi dan Qatar telah menyalurkan senjata ke Suriah selama lebih dari setahun, lewat Turki. Di antaranya, FN-6 misil buatan China.
 
Di pihak Saudi, pimpinan proyeknya adalah Pangeran Bandar bin Sultan, yang saat itu menjadi ketua badan intel Saudi. Dialah yang memerintahkan agar badan intel Saudi membeli ribuan AK-47s jutaan amunisi dari Eropa Timur untuk diberikan kepada pemberontak Suriah. CIA membantu mengkoordinir pembelian ini, antara lain dalam kontrak pembelian senjata besar-besaran dari Kroasia tahun 2012. Hingga musim panas tahun 2012, suplai senjata dan uang mengalir ke milisi-milisi pemberontak, melalui Turki.

Review Buku “Salju di Aleppo”

Media

Oleh: Nurani Soyomukti*

Saya sudah baca buku ini (“Membongkar Kuasa Media”, Ziauddin Sardar) kira-kira hampir sepuluh tahun lalu. Lalu buku ini, bersama ratusan buku lainnya, berdiri di rak buku saya. Saya baru menjamahnya kembali beberapa malam lalu, lalu saya kumpulkan dalam satu ruang rak bersama buku-buku sejenis, buku-buku tentang kajian komunikasi dan media.

Buku ini ditulis lebih lama sebelum diterbitkan oleh Resist Book, Yogya, dengan edisi terjemahan (bahasa Indonesia). Tentu waktu itu belum ada Media Sosial, jadi dalam buku ini tidak dibahas soal saluran komunikasi atau media komunikasi yang belakangan ini berkembang seperti facebook, dll. Waktu itu media memang hanya bisa dimiliki oleh pemodal besar baik swasta ataupun negara. Jadi memang membongkar kuasa media dengan serta merta akan bicara pada kekuasaan besar, terutama monopoli media dan konglomerasi media.

buku salju di aleppo

sumber foto kiri: FB Nurani Soyomukti; foto kanan: FB Banin Muhsin

Sekarang peran medsos amat luar biasa. ‘Opinion maker’ tidak perlu media cetak atau elektronik. Seorang pesohor bukan lagi harus pengamat politik, tokoh pemerintahan, tokoh masyarakat, atau artis yang sering ditampilkan di media.

Selebritis tak lagi dibesarkan di media cetak atau elektronik. Sekarang ada istilah “Seleb Medsos”–istilah ini sering terngiang dan saya ucapkan setelah hadir di acara diskusi yang dihadiri mbak Dina Sulaeman di IAIN Tulungagung beberapa minggu yang lalu.

(lebih…)

ISIS Dibentuk AS, Lalu Umat Islam Ngapain?

Serangan rudal AS ke Suriah tanggal 7 April lalu memberikan “angin segar” buat ISIS yang semula posisinya sudah terdesak. Pasalnya, yang diserbu AS adalah pangkalan militer yang selama ini dijadikan basis tentara Suriah dalam melawan ISIS. Lalu, serbuan-serbuan AS selanjutnya (dan sebelumnya) yang konon dalam rangka menggempur ISIS selalu saja salah sasaran, yang tewas malah rakyat sipil di Suriah dan Irak. Sudah banyak pengamat menuliskan analisis, dengan berbagai data, bahwa ada AS di balik ISIS. Di video di bawah ini juga ada pengakuan dari Hillary Clinton bahwa AS-lah yang mendanai Al Qaeda, “kakek” yang akhirnya melahirkan ISIS.

Sejarah memang sudah mencatat bahwa AS adalah penjahat perang nomer wahid. Namun, ada satu hal yang penting dicatat terkait ISIS: organisasi teror ini tidak lahir dari ruang hampa. ISIS tidak muncul tiba-tiba saja. Ada sejarah panjang ideologis yang harus diperhatikan dalam mencermati fenomena ISIS.

(lebih…)

Anak-Anak Itu Tewas, Tapi Oleh Siapa?

syria-child-refugees5

anak-anak Suriah di kamp pengungsi

Seperti dulu saat saya nulis tentang “bocah di kursi oranye“, para pendukung “mujahidin” (terutama ibuk-ibuk) ngamuk-ngamuk atas tulisan saya terkait kasus senjata kimia di Idlib. Antara lain mereka menyebut saya tidak punya perasaan, masa liat foto anak-anak setragis itu saya tak tersentuh? Lho, justru saya nulis terus ttg Suriah karena prihatin dengan kondisi anak-anak di sana. Tapi buat mereka, indikasi “prihatin” atas Suriah adalah mendukung “mujahidin”.

Padahal yang saya lakukan adalah memberikan informasi pembanding. Coba lihat tulisan-tulisan saya, bahkan memasang foto mereka pun saya tidak tega, selalu saya gunakan foto yang tidak memunculkan kengerian. Status ini pun tidak saya pasang foto jasad anak-anak itu.

Untuk bocah-bocah yang tewas di Idlib (yang foto dan videonya disebarkan oleh pihak “oposisi” alias “jihadis”, bukan oleh jurnalis langsung), faktanya memang mereka tewas.

PERTANYAANNYA: tewas karena apa, oleh siapa?

Gerak Cepat Para Pengumpul Dana

Segera setelah berita mengenai serangan senjata kimia di Idlib merebak (baca status saya sebelumnya yang mendeteksi berbagai kejanggalan atas berita ini), ormas-ormas pengumpul dana pun bergerak cepat. Salah satunya Aksi Cepat Tanggap (ACT) ini. Perhatikan skrinsyut kiri: mereka menyebut serangan senjata kimia di Idlib dg menggunakan klorin. Padahal dokter yang mengaku menangani pasien di Idlib menyebut gas sarin (dr. Shajul Islam, skrinsyut kanan).

ACT

Dalam situsnya, Direktur ACT, Ahyudin, memuji-muji Turki, Erdogan, dan IHH (Insan Hak ve Hurriyetleri ve Insani Yardim Vakfi/ Yayasan untuk Hak Azasi Manusia, Kebebasan dan Bantuan Kemanusiaan), sebuah LSM terbesar di Turki.

Menurut Ahyudin, “Semua yang diperlihatkan IHH, selaras dengan visi ACT. Tidak keliru kalau jika ACT merapat ke IHH dan menyerap inspirasi darinya.” ACT menyerahkan bantuan warga Indonesia untuk Suriah melalui IHH. [1]

Lembaga lain yang juga menyalurkan bantuan ke IHH adalah Indonesian Humanitarian Relief yang dipimpin Ustadz Bakhtiar Nasir. Sebuah video yang diunggah oleh channel Euronews pada Desember 2016 memperlihatkan ada kardus-kardus bertuliskan Indonesia Humanitarian Relief yang ditemukan di markas milisi bersenjata (Jaish al Islam) di distrik al-Kalasa, Aleppo timur. (simak videonya di sini)

(lebih…)

Serangan Senjata Kimia di Idlib

white helmetsIdlib adalah tempat berkumpulnya milisi bersenjata alias “jihadis” dari berbagai faksi (sehingga di antara mereka pun saling bantai). Pada operasi pembebasan Aleppo Desember 2016, berbagai faksi milisi “jihadis” itu dievakuasi ke Idlib untuk berkumpul dengan sesama mereka di sana. Kemarin konon warga Idlib diserang dengan menggunakan gas sarin. Tentu saja, yang dituduh pelakunya adalah tentara Assad dan Rusia,

Secara sekilas ada beberapa kejanggalan (yang memang sudah biasa ditemukan dalam berbagai kasus yang melibatkan White Helmets lainnya selama ini), antara lain:

(lebih…)

HTI: Gagal Paham Suriah (2)

al-zara1

pembantaian di Al Zara oleh Ahrar al Sham, foto dan video, klik link.

Baca bagian 1

Setelah Al Nusra resmi masuk daftar organisasi teroris internasional, situs HTI memberikan ‘endorsment’ pada kelompok Ahrar al Sham, yang sebenarnya juga masih ‘bersepupu’ dengan Al Qaida. Ahrar al Sham punya bendera sendiri, tapi terkadang juga mengibarkan bendera khas HT.

Aksi-aksi Ahrar al Sham sangat jauh dari pengetahuan kita tentang bagaimana dulu Rasulullah berperang. Salah satu bukti yang jelas, karena ada videonya dan mereka sendiri yang mengunggahnya, pada Mei 2016 Ahrar al Sham melakukan aksi brutal pembantaian massal di desa al-Zara. Dengan bangga mereka berpose di atas mayat perempuan dan anak-anak.  Rusia sudah lama menuntut Dewan Keamanan PBB agar kelompok ini dimasukkan juga ke daftar teroris internasional namun selalu diveto AS dengan alasan ‘akan menyulitkan upaya negosiasi’.

Saya sering menulis: jangan dipusingkan dengan nama ratusan kelompok ‘jihad’ di Suriah. Yang perlu dilihat adalah basis ideologi dan cara-cara tempur mereka, semuanya sama. Basis ideologi mereka semua sama yaitu takfirisme (gampang mengkafirkan pihak lain yang tak sepaham serta menghalalkan darahnya).  Itulah sebabnya mereka pun akhirnya saling membunuh satu sama lain, seperti yang terjadi di Idlib atau di Hama akhir-akhir ini. Bahkan sesama ‘mujahidin’ pun bisa berubah status jadi kafir.

(lebih…)

HTI: Gagal Paham Suriah (1)

Baru-baru ini beredar di medsos, foto baliho HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang berisi propaganda ‘bendera Rasulullah’. Karena saya sejak 2011 sudah mengikuti konflik Suriah, maaf saja, melihat bendera itu langsung teringat pada bendera salah satu kelompok “jihad” (tapi sudah masuk ke dalam list teroris internasional PBB), yaitu Jabhah Al Nusra. Pada saat yang hampir bersamaan, tokoh HTI (tapi sudah keluar dan kini jadi Sekjen Forum Umat Islam, ormas yang juga aktif menyerukan “jihad” ke Suriah) Muhammad Al-Khaththath, ditangkap polisi dengan tuduhan makar.

Saya pun teringat pada acara “Pengajian Umum dan Bedah buku HTI, Gagal Paham Khilafah”. yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa NU ITB dan Komunitas Anak Peduli Bangsa Bandung (27/1/2017). Dalam tulisan berikut ini saya akan memaparkan ulang apa yang saya sampaikan dalam acara tersebut, agar kita bisa mengambil benang merah dari dua fenomena yang saya sebut di atas.

alnusra-hti

(lebih…)

Dari Aleppo ke Jakarta: Mari Menjadi Hoax Buster

hoax
Pernah dengar nama ‘drone emprit’? Sejak beberapa bulan terakhir, saya memfollow penemunya, seorang PhD lulusan Belanda, bernama Ismail Fahmi. Beliau aktif menuliskan analisisnya atas percakapan di medsos dengan menggunakan ‘drone emprit’ ini. Nah, dua hari yang lalu, saya berkesempatan hadir di seminarnya. Penjelasan gampangnya begini, ketika sebuah isu menjadi heboh di media sosial, drone emprit bisa memantau percakapan di twitter, siapa yang pertama ngetwit, siapa yang RT/re-tweet (manusia asli atau robot), dst.

Harap maklum kalau saya tak terlalu fasih menjelaskan. Tapi untuk isu Aleppo, saya bisa menjelaskan lebih banyak karena nyambung dengan apa yang saya kaji selama ini. Begini, di salah satu status pak Ismail (yang juga pernah dipresentasikan dalam seminar di Bdg), drone emprit mendeteksi bahwa tweet tentang Aleppo pada Desember 2016 berawal dari beberapa akun tertentu yang saya ‘kenal’ dengan baik. Mereka adalah para seleb medsos dari Aleppo seperti Bana Al Abed, Bilal Abdul Kareem, Lina Shamy dll. [1], lihat foto 1.

Makelar Perang: Bernard Henry Levy

 

levy

BHL dan milisi bersenjata Libya

Dalam setiap perang, selalu ada ‘pembisik’ yang membisiki dan mendorong para elit/pengambil keputusan untuk mengobarkan perang. Beberapa tahun ini terakhir, para pembisik alias makelar perang ini mulai narsis, dan menunjukkan perannya secara terang-terangan. Di antaranya adalah seorang (mengaku) filsuf bernama Bernard Henry Levy (BHL).

Ia adalah pria keturunan Yahudi yang lahir di Aljazair pada tahun 1948 namun dibesarkan di Prancis. Penampilannya yang mahal membuatnya tampak lebih mirip selebritis, atau James Bond yang dengan gagah berani terjun ke daerah berbahaya. Dalam film dokumenter berjudul ‘The Oath of Tobruk’ yang disutradarai dan dibintanginya sendiri, BHL menampilkan dirinya sebagai sosok yang memainkan peran penting dalam me-lobby para pemimpin negara-negara Barat untuk menggulingkan Qaddafi.

(lebih…)