Kajian Timur Tengah

Beranda » Syria

Category Archives: Syria

Film: Topeng Teror White Helmets

Sejak awal perang Suriah, foto dan video hoax sudah sangat banyak disebarkan, bahkan oleh media-media mainstream. Bila foto dan video yang digunakan adalah foto dan video lama yang didaur ulang (misal, BBC menggunakan foto mayat di Irak yang disebut sebagai korban senjata kimia Assad) umumnya mudah terbongkar. Namun ada juga foto dan video hoax yang “sengaja dibuat”. Untuk membongkarnya, perlu pengetahuan medis, misalnya cara pertolongan pertama pada korban senjata kimia, atau reaksi/ekpresi korban senjata kimia yang asli, sehingga bisa mendeteksi keanehan akting orang-orang dalam sebuah video. Misalnya yang dilakukan oleh Robert Stuart saat membongkar hoax video BBC.

White Helmets adalah lembaga “relawan” yang sangat terkenal , dipuji-puji, sering menjadi sumber pemberitaan media Barat, dan bahkan dinominasikan meraih Nobel. Video-video “penyelamatan” yang diproduksi WH sangat tipikal (skenario mirip), bahkan ada anak yang sama muncul di beberapa video yang berbeda.  Bocah di Kursi Oranye adalah salah satu video karya WH yang paling terkenal. Cara membongkar hoaxnya adalah dengan mengamati seksama videonya: ambulans yang canggih dan mulus (padahal konon sedang di zona perang yang selalu dibombardir Rusia), si anak disuruh duduk begitu sana bermenit-menit, bukannya langsung ditangani dokter, melacak jejak digital orang yang muncul di dalam film itu (Mahmoud Raslan), dst.

omran-daqneesh

Mahmoud Raslan dan Bocah di Kursi Oranye (Omran Daqneesh)

Film ini memiliki nilai penting karena dibuat pasca pembebasan Aleppo timur, sehingga jurnalis Anna News bisa datang langsung ke 5 markas White Helmets dan mewawancarai penduduk lokal di sekitar markas, dan menemukan berbagai hal mengejutkan tentang organisasi ini.

Disclaimer: penerjemahan ini bukan karya profesional, semata-mata ingin membantu teman-teman yang kesulitan memahami bahasa Inggris. Jadi harap maklumi saja kalau banyak kekurangan di sana-sini. Diterjemahkan bebas dari subtitle English (video asli bhs Rusia).

Israel, Simpatisan ‘Mujahidin’, dan Suriah

mccain5

Senator AS John McCain di markas “mujahidin” (lihat gambar bendera di atas)

Pagi ini saya membaca sebuah artikel menarik dari Yurgen Alifia, kandidat master di Oxford University [1]. Tulisan itu sebenarnya tentang Anies Baswedan, tapi yang ingin saya bahas di sini adalah bagian tulisan itu yang mengutip wawancara Yurgen dengan Prof Mearsheimer. Mearsheimer dan rekannya, Stephen Walt [keduanya adalah pakar Hubungan Internasional] pernah menulis paper jurnal berjudul “The Israel Lobby and US Foreign Policy”. Dalam paper itu (yang kemudian dijadikan buku), keduanya menyimpulkan bahwa kebijakan luar negeri AS telah menjauh dari kepentingan bangsa AS sendiri karena terlalu menuruti keinginan Israel.

Wawancara Yurgen dengan Mearsheimer benar-benar “wow” buat saya. Ini saya copas ya:

(lebih…)

London VS Tehran :)

tehran-londonDi tulisan saya sebelumnya, saya kutip tulisan jurnalis Inggris papan atas, Robert Fisk, yang menyatakan bahwa cara media Barat menyajikan berita tentang Aleppo menyalahi kaidah jurnalisme (ia pun mengakui bahwa media massa Barat telah membohongi publik selama bertahun-tahun).

Nah, ada seorang dosen jurnalistik yang pernah S3 di Inggris (tak tahu saya, lulus atau tdk) yang sepertinya tak paham kaidah jurnalisme yang benar sehingga tulisan-tulisannya tentang Suriah sangat berpihak pada Al Qaida* (alias “mujahidin”) dan kalau ada yang membantahnya, yang bisa dia katakan cuma syiah, syiah, syiah. Terakhir, dia “membantah” (secara terbuka, di FB) tulisan-tulisan saya bukan dengan meng-counter data yang saya berikan, tetapi etapi menyebut saya pembohong [hey, bukannya para simpatisan “mujahidin” yang kedapatan berkali-kali pakai foto hoax soal Suriah? Saya ada filenya pdf 123 hal, bisa diunduh [1] Kok jadi maling teriak maling nih 🙂 ] dan menyoroti background saya yang pernah S2 di Iran. It’s an argumentum ad hominem fallacy, you know? 🙂

Betapa lucunya. Karena saya pernah dapat beasiswa S2 dari pemerintah Iran di Fakultas Teologi di Tehran University, tulisan saya harus ditolak. Sementara, tulisan orang yang dapat beasiswa S2-S3 dari Inggris, belajar dari dosen-dosen “kafir”, harus diterima 😀

(kata “kafir” ini satire lho ya, kawan-kawan non-Muslim jangan tersinggung 🙂  )

[Sekedar info, saya cuma kuliah 1 semester belajar bahasa Persia dan 1 semester matrikulasi. Saya tidak lanjutkan karena, antara lain, saya tidak terlalu berminat di bidang ini. Tapi minimalnya saya jadi tahu kultur belajar di Tehran, antara lain mahasiswinya kritis2, tanya-jawab dengan dosen jadi seolah “berantem”. Gelar master dan doktor saya dapat dari HI Unpad.]

Medsos Adalah Fana, Kebencian Abadi?

isis1Kalimat yang saya pakai jadi judul itu saya ambil dari status seseorang yang nge-tag saya. Saya baca dini hari ketika suasana sepi, sehingga membuat saya mikir lama. Saya teringat cerita yang disampaikan seorang dosen Sejarah Peradaban Islam. Dulu, orang menerima kabar dari mulut ke mulut. Dulu banyak orang-orang Syam (Suriah saat ini) yang membenci Sayyidina Ali bin Abi Thalib karena mengiranya sebagai sosok yang meninggalkan sholat. Sampai suatu hari, Ali ditikam/dibunuh orang (yang agamanya Islam juga) di saat beliau sedang sholat Subuh. Kabar itu akhirnya sampai ke Syam dan orang-orang pun kaget, lho ternyata Ali itu sholat, tho?

Dulu, sebelum Revolusi Islam Iran 1979, buku-buku yang ditulis tentang “kesesatan Syiah” sangat sedikit dan dulu tidak ada perseteruan politik antara Sunni-Syiah. Yang ada, oposisi versus penguasa. Makanya ada istilah “rafidhah” (penolak) yang disematkan kepada kelompok oposisi. Pokoknya, kalau melawan penguasa, pastilah kamu Rafidhah, apapun mazhabnya. Dan rupanya, karena sebagian kaum Syiah di zaman dulu menjadi oposisi penguasa, akhirnya Rafidhah diidentikkan dengan Syiah dan kebencian disebarluaskan kepada Syiah. So, akarnya politik, ketakutan pada oposisi, keinginan untuk mempertahankan kekuasaan. Penguasanya boleh mati, tapi kebencian terus menurun kepada generasi berikutnya.

(lebih…)

Surat untuk Tempo tentang Anne “Bana” Frank dari Aleppo

(Surat ini juga dikirim via email ke redaktur Tempo)

Kepada Yth.

Pemimpin Redaksi Majalah Tempo

di

Jakarta

Majalah Tempo edisi 19-25 Desember 2016  memuat artikel berjudul “Anne Frank dari Aleppo Timur” (AFAT). Artikel tersebut ditulis Sita Planasari dengan sumber The Star,The Telegraph, The New York Times. AFAT bercerita tentang seorang anak usia 7 tahun, Bana Alabed yang secara sangat aktif bercuit di Twitter, menceritakan bahwa dia dan keluarganya dalam kondisi gawat karena dibombardir terus oleh tentara Suriah dan Rusia.

Sebagai sebuah media yang dikenal hebat dalam investigasi, artikel AFAT seharusnya juga didasari dengan investigasi online yang lebih lincah. Sejak dari kalimat pertama, penulis seharusnya sudah memiliki kecerdasan untuk mengendus keanehan, mengapa Bana Al Abed yang baru berusia 7 tahun sudah memiliki 200.000 [sekarang bahkan lebih dari 300.000] follower di Twitternya? Dengan sedikit mengecek, akan ketahuan bahwa akun Twitter Bana baru dibuat pada September 2016.

Follower pertama Bana adalah jurnalis Aljazeera, Abdul Aziz Ahmed. Pengecekan di akun Facebook dan Twitter keluarga Bana memperlihatkan bahwa ayah dan ibunya adalah anggota kelompok militan. Kata “militan” adalah eufemisme, karena cara-cara beroperasi mereka bersifat terorisme.

(lebih…)

Surat Terbuka Tentang Suriah, Untuk Kang Emil

Assalamualaikum,

Kang Emil, kumaha damang?
Perkenalkan saya Dina, bukan orang Sunda. Tapi, karena saya menikah dengan urang Sunda, dan seluruh proses studi saya dari S1 hingga S3-Hubungan Internasional saya jalani di Bandung (Unpad), ikatan emosional saya dengan Sunda sangatlah kuat. Di banyak kota di Indonesia yang saya kunjungi, banyak yang mengira bahwa saya adalah orang Sunda karena saya sudah terhegemoni oleh logat Sunda.

Saya terdorong menulis surat ini setelah melihat 2 postingan di Fanpage Kang Emil tentang Suriah. Postingan pertama, share foto bertajuk Save Aleppo.

rk1g

Masih di hari yang sama, selang beberapa jam kemudian, kang Emil memposting status tanpa foto.

rk1f

Selengkapnya kalimat Kang Emil:

rk1c

Saya mencermati perbandingan jumlah share  dan komentar di kedua status itu. Buat saya, ini menjadi bukti bahwa isu Suriah adalah isu monolog. Gerakan “Save Aleppo” dianggap sebagai fakta yang tak perlu dipertanyakan lagi. Status “Save Aleppo” di-share 25ribu lebih tapi hanya ada 3100 komentar. Sementara status yang mengajak untuk fokus saja pada isu kemanusiaan, hanya di-share 5300  kali tapi dikomentari 3700 kali.[data 19/12, 20.00]

Saya menemukan banyak komentar menyalah-nyalahkan nada “netral” Kang Emil. Antara lain:

(lebih…)

Suriah: Menjawab Para Bigot

bigotBigot. Saya belum tahu apa padanannya dalam bahasa Indonesia. Bigot adalah bahasa Inggris, artinya “a person who is intolerant toward those holding different opinions” (orang yang intoleran terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan dirinya).

Apakah artinya kita harus sependapat dengan orang lain? Tentu tidak. Tapi cara mengungkapkan ketidaksependapatan itu yang menentukan seseorang itu bigot atau bukan. Bigot akan mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan kasar dan ad hominem (menjatuhkan sisi personal lawannya, misalnya “dia  ngomong begitu karena antek China!” atau “Dia kan Syiah, jangan dipercaya!”). Intimidasi terhadap saya bahkan ancaman kekerasan plus menggunakan foto anak-anak saya sebagai meme jahat. Benar-benar “sakit” mereka itu.

Sejak 3 hari yll (15 Des), FB saya diblokir 30 hari karena dituduh “melanggar standar komunitas”. Tentu artinya ini ada banyak bigot me-report saya. Teman facebook saya, Dandhy Dwi Laksono, menulis status yang menyatakan kecamannya pada aksi-aksi pembungkaman seperti ini (bukan hanya terhadap saya, tapi dia juga menyinggung aksi pembungkaman terhadap situs yang menyuarakan berbagai fakta soal Papua).

Dan kemarin saya melihat sekilas, banyak sekali para bigot membanjiri postingannya dengan komen-komen khas para bigot. Ada dua yang secara acak saya “tangkap” dan saya bahas di sini.

(lebih…)

Kekalapan Imperium Pasca Bebasnya Aleppo

Tulisan terbaru saya, dimuat di LiputanIslam.com

Kekalapan Imperium Pasca Bebasnya Aleppo

Oleh: Dina Y. Sulaeman, Direktur ICMES

Seiring dengan kembalinya kontrol Aleppo ke tangan pemerintah Suriah, setelah lima tahun dikuasai oleh kelompok-kelompok teroris, mesin-mesin propaganda Imperium bereaksi dengan kalap. Secara serempak mereka memproduksi dan menyebarkan berita yang menggambarkan bahwa tentara Suriah melakukan pembantaian massal di kota itu. Para pejabat Barat dan PBB mengeluarkan pernyataan mendiskreditkan pemerintah Suriah. Beberapa aktivis media sosial yang selama ini memang sudah punya rekam jejak menjadi provokator konflik Suriah, menjadi pelaku utamanya, dan kemudian disiarkan ulang oleh media-media mainstream.

Misalnya Lina Shamy dan Mr. Alhamdo, tampil dalam rekaman yang disiarkan ulang oleh BBC. Dalam video itu, Lina dalam bahasa Inggris mengatakan, “To everyone who can hear me, we are here exposed to a genocide” (kepada siapapun yang mendengar kami, di sini kami terancam pembunuhan massal). Hanya dengan sedikit melakukan pelacakan di akun facebooknya, kita akan menemukan bahwa Lina adalah seseorang yang memiliki rekam jejak pertemanan akrab dengan “jihadis”. Mr. Alhamdo yang sering dikutip sebagai narasumber oleh media Barat dalam melaporkan “pembunuhan massal oleh Assad” saat dicek rekam jejaknya, juga sangat terkait dengan kelompok-kelompok “jihad”. Alhamdo juga orang di balik akun twitter “Bana of Aleppo” yang menulis “Lebih baik Perang Dunia III meletus, daripada membiarkan Assad dan Rusia melakukan Holocaust di Aleppo”.

Selengkapnya, silahkan mampir ke situsnya.

 

Hoax Aleppo dan Logika Media Mainstream

Belajar logika lagi yuk. Seorang komentator di Facebook yang setau saya tingkat pendidikannya cukup tinggi, menyanggah status saya sebelumnya tentang White Helmets dan Bocah di Kursi Oranye dengan hujatan ‘delusional’ plus argumen kurang-lebih “semua media besar sudah memberitakan, kok menganggap kejadian si bocah itu palsu?” [sambil nyindir pulak: kecuali media Iran dan Rusia]. Padahal yang saya lakukan hanya memberikan pengimbangan berita yang berupa analisis video. Alih-alih memberi analisis sanggahan, dia malah ber-logical fallacy.

Dalam ilmu logika, argumen seperti itu masuk kategori kesalahan (fallacy) jenis “argumentum ad populum” (menganggap sesuatu itu benar hanya karena banyak orang mempercayainya). Atau bisa juga masuk ke “argumentum ad verecundiam” (menganggap sesuatu itu benar karena ada pakar atau institusi yang dianggap ‘hebat’ yang mengatakannnya).

Coba pikir, apakah hanya karena semua media mainstream memberitakan, sebuah berita DIPASTIKAN benar?

Belum luput dari ingatan, betapa seluruh media mainstream memberitakan bahwa Irak menyimpan senjata pembunuh massal. Atas alasan itu AS dan sekutunya menggempur Irak pada 2003, menggulingkan Saddam Husein, mendudukinya sampai sekarang. Data 2013, sedikitnya ada setengah juta orang Irak tewas akibat pendudukan AS sejak 2003. Pada 2011, dari mulut para pemimpin AS sendiri, muncul pengakuan: TIDAK ADA SENJATA PEMBUNUH MASSAL di Irak.

Di era digital ini, kebohongan akan terus terekam, tak terhapus. Dalam video berikut ini, kedua versi pernyataan mereka disandingkan (awalnya bilang ada senjata pembunuh massal, lalu th 2011 bilang “nggak, saya ga pernah bilang gitu”).

Media-media mainstream sudah banyak sekali rekam jejak kebohongannya terkait perang di Timteng, naif sekali kalau kita menelan mentah-mentah apa yang mereka tulis tanpa mencari berita pembanding.

Fall of Aleppo?

aleppo5Tulisan ini saya ambil dari status facebook Helmi Aditya. Bagus sekali, meski yang diungkapkannya adalah kenyataan yang pahit sekali.

==

Fall of Aleppo?

Mau tahu betapa masifnya efek pembebasan Aleppo bagi AS, NATO dan Sekutunya?

Bersiaplah untuk gelombang propaganda fitnah, bejibun ‘last call’ yang berceloteh tanpa bukti, yang bahkan tidak bisa diverifikasi apakah pemerannya warga Aleppo atau bukan. Ambil contoh Bilal Abdul Kareem, yang lahir dan tumbuh besar di AS.

Beragam sumber anonim akan menghiasi berita-berita, membeberkan kesaksian tanpa bukti tentang bagaimana tentara Syria mengeksekusi warga sipil, dan bahkan memperkosa mereka. Beragam headline akan mengudara, menyelipkan kata ‘diduga’ dalam setiap tuduhan yang konsisten, mempermainkan persepsi publik. Beragam gambar pembantaian akan di daur ulang, dengan mengambil caption ‘Aleppo’.

Jumlah 250.000 warga sipil yang dinyatakan terjebak di Aleppo oleh Media Mainstream (MSM), dari dulu ditanggapi Syria dengan serius. Dan dengan modal itu pula lah, kehati-hatian dalam operasi militer menyebabkan proses pembebasan Aleppo berjalan begitu lama. (lebih…)