Kajian Timur Tengah

Beranda » Syria

Category Archives: Syria

Antara Hong Kong, Ukraina, Libya, Suriah

Ada kejadian ‘aneh’ di Hong Kong. Sejak akhir pekan kemarin, kelompok neo-Nazi atau sayap kanan Ukraina yang berperan penting dalam kudeta Ukraina 2014 berada di Hong Kong untuk ‘berpartisipasi’ dalam aksi separatisme di sana. [1] Apa kaitan ideologi neo-Nazi dan aktivis separatisme Hong Kong? Mungkin tidak ada. Tapi yang jelas, aktivis “demokrasi” di Ukraina maupun Hong Kong sama-sama penerima dana dari NED. [2]

Saya coba googling untuk mencari tahu, ternyata pada 29/8/ 2019, aktivis “demokrasi” (atau tepatnya: separatisme) HK mengadakan acara nobar di 40 tempat. Film yang ditayangkan adalah film “Winter on Fire: Ukraine’s Fight for Freedom”, film propaganda karya sutradara Israel kelahiran Rusia, Evgeny Afineevsky.

Sebelumnya lagi, 19 Agustus, Afineevsky membuat surat terbuka untuk warga HK, menasihati mereka agar melihat bahwa “harapan itu benar-benar terletak di tangan generasi muda saat ini, yang percaya pada perubahan dan kebebasan, bahkan jika harga kebebasan itu ditebus dengan nyawa mereka.” Para aktivis HK mengatakan, “Revolusi Ukraina merupakan inspirasi terbesar bagi warga HK”. [3]

Kejadian ini membuat saya teringat pada tulisan lama saya. Judulnya: L’Ukraine est une autre Syrie (Ukraina adalah Suriah yang lain).

(lebih…)

Laith Marouf

Laith Marouf (seorang penulis yang aktif memberitakan konflik di berbagai penjuru dunia), menulis status (saya terjemahkan):

“Setelah 2011, Imperium [kekuatan kapitalis Barat] mengambil cadangan senjata mereka di Libya dan Ukraina lalu menyerahkannya kepada Al Qaida dan ISIS untuk menghancurkan Suriah. Ketika senjata-senjata itu tidak cukup, Imperium mengambil semua persediaan senjata dari negara-negara eks Soviet yang berada di bawah kendalinya, dan memindahkannya ke Suriah. Ketika tidak cukup juga, setiap pabrik senjata dari Ukraina hingga Beograd memproduksi senjata hingga kapasitas maksimum untuk memenuhi kebutuhan pasukan Contras [pasukan “jihadis”]; yang sekarang juga diaktifkan di Yaman. Setiap hari pesawat mendarat di Turki, Yordania, Irak dan Saudi; membawa 100 ton senjata dan menyebabkan kematian lebih dari setengah juta warga Suriah dan Yaman dalam 8 tahun.”

Kebetulan saya (dan kolega) pernah menulis artikel jurnal yang membahas pelanggaran perjanjian internasional mengenai penjualan senjata, yang dilakukan oleh sejumlah negara, yang digunakan untuk aktivitas terorisme di Suriah. Dengan kata lain, statusnya Laith ini terkonfirmasi di artikel saya itu.

Silahkan dibaca bila tertarik. Artikel berbahasa Indonesia ya, judul di web otomatis yang muncul B. Inggris.

https://ic-mes.org/jurnal/index.php/jurnalICMES/article/view/17

Revolusi Berkedok Agama

Di status sebelumnya (Lithium di Bolivia), saya tuliskan kesamaan pola agenda “penggulingan rezim” antara Bolivia dan Suriah, yaitu perebutan sumber daya alam. Nah, di video ini terlihat kesamaan kedua: Elang Gundul [AS] menggunakan kelompok agama radikal/fundamentalis sebagai proxy. Apa itu proxy? Istilah lainnya “kaki tangan”. Mereka dibiayai, dilatih, didukung melalui propaganda media, dll, oleh AS, untuk menggulingkan rezim-rezim yang tidak sejalan dengan kepentingan AS. Tapi pelakunya tetap saja orang lokal.

Biasanya kalau saya bilang: “di belakang ISIS/Al Qaida ada AS” yang ngamuk ada 2: pembela AS dan pendukung ISIS.

Pembela AS biasanya akan mengolok-olok “kamu pakai teori konspirasi!”. Di kolom komen saya taruh video anggota parlemen AS yang berpidato di depan parlemen AS, mengecam pemerintahnya yang selama bertahun-tahun mendanai ISIS dan Al Qaida. Kalian mau lebih Amerika dari anggota parlemen Amerika?

(lebih…)

(Berita 2015) Asma Al Assad: Dukungan Indonesia Sangat Berarti bagi Kami

Tetap beroperasinya Kedutaan Besar Republik Indonesia dengan kehadiran seorang Duta Besar di Damaskus merupakan dukungan yang amat besar bagi pemerintah dan rakyat Suriah. Sementara banyak negara-negara lain yang meninggalkan Suriah dengan menarik Duta Besar dan menutup kedutaannya di Damaskus.

Hal itu terungkap dalam pertemuan antara istri Duta Besar RI untuk Suriah, Rosa Triana Harjanto, dengan Ibu Negara Suriah, Asmaa al-Assad, di kantor Ibu Negara di daerah Qasiyoun Damaskus pada Sabtu, 4 Juli 2015.

Pada pertemuan penuh keakraban itu, Rosa Harjanto menyampaikan bahwa Indonesia akan terus mendukung penyelesaian konflik dengan damai di Suriah. Maka dari itu, Indonesia tetap mempertahankan KBRI dan duta besarnya di Damaskus meskipun di tengah kecamuk peperangan dan krisis yang melanda. “Sahabat yang baik tentu tidak akan meninggalkan temannya yang sedang kesulitan,” ujar Rosa mengutip perkataan Dubes Djoko Harjanto.

(lebih…)

Mantan Dubes RI untuk Suriah, Bp. Djoko Harjanto Meninggal Dunia :(

**

Innalillaahi wa innaa ilaihi roojiun. Menurut info dari fanpage PPI Suriah, mantan Dubes RI untuk Suriah (2013-2019), Bp. Djoko Harjanto, meninggal dunia. Saya sungguh menaruh respek yang sangat tinggi pada beliau. Di masa ketika tidak ada elit yang berani berbicara blak-blakan tentang apa yang terjadi di Suriah (mungkin karena takut distigma Syiah, takut kepentingan ekonomi/politik-nya terganggu), beliau dengan gamblang menceritakan apa yang terjadi di sana. Penjelasan beliau mengkonfirmasi apa yang kami -rakyat facebooker jelata antiperang- sampaikan selama bertahun-tahun sebelumnya (konflik dimulai 2011). Semoga husnul khatimah Bapak, alfaatihah ma’as shalawat…

Berikut ini saya copas sebagian wawancara beliau dengan Republika.

***

Republika (21 Maret 2016). Ada alasan kuat, mengapa Pemerintah Republik Indonesia, hingga saat ini, masih menempatkan duta besarnya di Suriah. Padahal, separuh dari 63 kedutaan besar di negara yang dirundung konflik itu, sudah tidak beroperasi.

Menurut Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (Dubes LBBP) Republik Indonesia untuk Suriah, Djoko Harjanto, Suriah, memiliki jasa tak sedikit untuk Indonesia. Ketika Suriah bergabung dengan Mesir dalam Republik Persatuan Arab (RPA), Suriah adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, saat muncul persoalan Timor-Timor, dukungan Suriah ke RI sangat kuat. “Disuruh apa saja untuk mendukung kita, mereka mau,” katanya kepada wartawan Republika, Nashih Nashrullah.

(lebih…)

Israel Mengebom Damaskus dan Gaza (Lagi)

Kemarin, Selasa dini hari (12/11/2019) Israel mengebom dua target sekaligus, dalam jeda waktu sekitar 1 jam: kediaman Baha’ Abu Atha di Gaza dan kediaman Akram Ajour di Damaskus. Abu Atha tewas, Akram Ajour selamat (tapi anaknya dan cucu perempuannya tewas).

Kedua orang itu adalah pimpinan Jihad Islam, sebuah milisi perlawanan di Gaza. Dari info ini, ada beberapa poin yang perlu dicatat:

1. Suriah sejak dulu adalah pendukung utama pejuang Palestina melawan Israel. Hamas dan Jihad Islam punya markas di Damaskus. Anehnya, banyak orang yang mengaku pro Palestina malah mendukung penggulingan Assad. Ini artinya mereka belum paham geopolitik, mungkin hanya dengar info dari ustad-ustad IM/HTI/Al Qaida.

(lebih…)

Pendiri White Helmets Tewas Bunuh Diri?

Baru saja berbagai media memberitakan matinya pendiri White Helmets, James Le Mesurier. Ia tewas terjatuh dari balkon apartemennya di Istanbul. Entah bunuh diri, entah dibunuh. [1]

Saya nyaris speechless. Saya teringat kejadian Agustus 2016, ketika menulis klarifikasi tentang kisah “si bocah di kursi oranye” yang diproduksi White Helmets. Tulisan saya dibalas sangat sadis oleh para “ikhwan” dan “akhwat”, yaitu dengan mencuri foto saya yang sedang memangku anak, lalu membuat meme sadis dan disebar masif. Karena bawa-bawa anak saya, rasa sakit hati saya saat itu tentu lebih besar.

Lalu saya menulis ini (status FB tahun 2016, sedikit diedit supaya lebih ringkas):

***

Alih-alih memberikan jawaban yang logis untuk menjawab argumen-argumen yang saya berikan, mereka malah sibuk menghujat, membully, dan bahkan membuat meme yang menggunakan foto saya dan anak saya.

(lebih…)

Contoh Kasus

***
Status sebelumnya saya hapus karena ga tega sama oknum ibu ini. Ini saya posting ulang dengan disamarkan namanya 🙂

***

Ini komentator di status saya sebelumnya yang menjawab Fahri Hamzah. Ini adalah contoh kasus, seperti apa sih hasil dari industri radikalisme itu [yang kata Fahri “cuma satu dua ceramah”].

Hasil dari ceramah kaum radikalis yang sangat masif adalah semakin banyaknya orang-orang yang merasa lebih suci dan merasa berhak menghina orang lain (istilah lainnya: kaum takfiri, suka mengkafir-kafirkan orang lain). Salah satu bentuk hinaannya adalah “kamu ga paham Quran”, “kamu Muslim?”, atau “kamu Syiah!”

Khusus untuk tuduhan Syiah, ini sangat terkait dengan Perang Suriah. Para “industrialis perang Suriah” berkepentingan untuk membuat orang Muslim Sunni membenci Syiah sehingga mau direkrut jadi “jihadis” atau setidaknya mau merogoh kocek untuk menyumbang gerakan “jihad”.

Mereka tidak (mau) tahu bahwa ulama-ulama besar sepakat bahwa Syiah adalah salah satu mazhab yang diakui dalam Islam (baca Deklarasi Amman). Tidak mau tahu bahwa mayoritas ulama-ulama Sunni di Suriah justru mendukung Bashar Assad dan pemerintahan Assad sama sekali bukan rezim Syiah.

Ibu ini radikalnya masih di level verbal dan mungkin masih level awam.

Semakin diprovokasi (oleh pemilik “industri”), mereka ini akan semakin teradikalisasi. Saya sudah kenyang dimaki-maki jauuuh… lebih kasar oleh kelompok ini, selama 8 tahun terakhir (selama Perang Suriah berlangsung). Sungguh ngeri, mereka mengaku membela Islam tapi kasarnya benar-benar level binatang. Something wrong with their brain. Zombie.

Dan level selanjutnya, beralih ke level “menyetujui kekerasan” dan bahkan menjadi pelaku kekerasan itu sendiri. Contohnya, perempuan yang bawa anaknya sendiri sambil bawa bom bunuh diri di gereja.

Ibu ini sepertinya tidak pro ISIS (karena mengatai perempuan ISIS tidak paham Quran), tapi kelompok “jihad” itu bukan cuma ISIS. Di antara kelompok-kelompok “jihad” yang berbeda (dan simpatisannya) biasanya memang suka saling mengkafirkan.

***
Yang belum baca tulisan saya soal “industri radikalisme” ini linknya: https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/1185451128313011/)

Maulid di Damaskus

Selamat merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW kepada teman-teman Muslim. Semoga kita bisa semakin menghayati dan mengaktualisasikan nilai “Islam rahmatan lil alamin” dalam perilaku kita sehari-hari. Aamiin YRA.

Untuk pemerhati konflik Suriah, di link di bawah ini ada kumpulan foto peringatan Maulid Nabi di Damaskus (2018).
Tampak Presiden Assad dan para ulama serta hadirin lainnya menunaikan sholat (Isya) berjamaah sebelum acara tsb. Tampak juga foto Dr. Taufik Al Buthy yang sedang membaca doa. https://id.abna24.com/news//suasana-peringatan-maulid-nabi-muhammad-saw-di-damaskus-suriah_917456.html

Dr Taufik ini pernah berkunjung ke Indonesia dan memberi penjelasan soal konflik Suriah. Silahkan baca di sini: https://www.nu.or.id/post/read/103556/ke-suriah-atas-nama-jihad-syekh-taufiq-al-buthi-mereka-tidak-mengerti-islam

Dr. Taufik adalah putra alm. Syekh Buthy, ulama terkemuka Suriah yang gugur syahid akibat bom bunuh diri yang dilakukan teroris. Saat itu, beliau sedang berceramah di dalam masjid.

(lebih…)

Rojava, Kurdi, dan Anarkisme (2)

Rojava, sebuah “negara otonom” yang dideklarasikan sepihak oleh sebagian populasi Kurdi di utara Suriah pada tahun 2012 telah menjadi semacam laboratorium bagi implementasi konsep ‘negeri impian’ kaum anarki. Konsep politik yang digunakan Rojava disebut ‘libertarian municipalism’ (dikemukakan Murray Bookchin), yang ‘di atas kertas’ memperjuangkan demokrasi sekular, pemberdayaan perempuan, komunalisme (tatanan yang diatur bersama oleh masyarakat; yang merupakan antitesis dari birokrasi pemerintahan ala negara).

(1) Kritik Filosofis

Di dalam Piagam Kontrak Sosial Rojava, tertulis:
“Di bawah piagam ini, kami, orang-orang dari Daerah Otonomi [Rojava] …. membangun masyarakat yang bebas dari otoriterisme, militerisme, sentralisme, dan intervensi otoritas agama dalam urusan publik, Piagam ini mengakui integritas wilayah Suriah…”

Di Pasal 3 disebutkan bahwa Daerah Otonomi ini terdiri dari tiga “canton”, yaitu Afrin, Jazirah dan Kobane, dimana komunitas etnis dan agama, (Kurdi, Arab, Syria, Chechen, Armenia, Muslim, Kristen, dan Yazidi) secara damai hidup berdampingan dalam persaudaraan.

Dari kutipan di atas, perhatikan kata “wilayah” dan “komunitas”. Di tulisan bagian 1 saya sudah menjelaskan filosofi dasar anarki, yaitu menolak segala bentuk otoritas.
Apa itu wilayah? Siapa yang menetapkan wilayah X berada di bawah pemerintahan tertentu? Siapa yang berhak menjadi penduduk di wilayah X? Tidakkah konsep wilayah meniscayakan otoritas? Lalu, tidakkah komunitas dibatasi oleh aturan dan otoritas? Apa yang membedakan komunitas Kurdi dengan Arab, komunitas Muslim dengan Kristen? Tidakkah di dalamnya ada aturan, ada batasan, ada hirarki?

(lebih…)