Kajian Timur Tengah

Beranda » Syria

Category Archives: Syria

Kisah Seorang Lelaki Penumpas ISIS

Lelaki ini tidak bisa disebut namanya karena algoritma Facebook hari-hari terakhir ini sepertinya disetel untuk memblokir akun-akun yang menyebut namanya.

Mengapa mereka sedemikian takut pada lelaki ini, sehingga segala upaya dilakukan agar namanya hilang dari ingatan publik? Nanti saya ceritakan.

Dini hari, hari ini, tanggal 3 Januari, 2 tahun yang lalu, lelaki ini dan sahabatnya, serta para pengawal mereka, dibunuh oleh militer AS. Presiden Trump secara terbuka mengakui bahwa dia menginstruksikan pembunuhan itu. Sedemikian besarkah pengaruh si lelaki ini di Timur Tengah sehingga pembunuhan atasnya dilakukan secara “resmi” oleh AS? Apa yang sudah dilakukannya?

(lebih…)

Tragedi RS Al Kindi

Tepat 8 tahun yang lalu, Desember 2013, sejumlah tentara Suriah yang menjaga Rumah Sakit Al-Kindi di Aleppo, dieksekusi para “jihadis”. Sebagian netizen menjuluki para tentara ini “the last man of Aleppo” (para lelaki terakhir di Aleppo).

RS Al Kindi diserbu oleh beberapa milisi teroris, seperti FSA, Harakah Fajr Al Syam (sebagian besar termasuk militan berkebangsaan Turki), Ahrar al-Sham, Jabhat al-Nusra.

Mereka menyerbu Rumah Sakit Al-Kindi pada Desember 2013 dengan mengirim dua truk – bunuh diri yang memuat sekitar 40 ton bahan peledak. Lalu, mereka menduduki RS itu dan membunuhi orang-orang yang masih bertahan/tertahan di sana. Pada Mei 2014, para teroris meledakkan RS ini, setelah mereka mencuri isinya, senilai miliaran pound Suriah.

(lebih…)

Israel Kembali Menyerang Suriah

Tanggal 15 Desember 2021, sekitar pukul 12:50 waktu setempat, “Israel melakukan serangan udara dengan beberapa rudal ke arah Golan dan menargetkan beberapa posisi di selatan,” demikian dilaporkan kantor berita Suriah -SANA, hari Kamis (16 Des).

Pertahanan udara Suriah berhasil menembak jatuh sebagian besar rudal. Serangan tersebut menyebabkan kematian seorang tentara Suriah dan kerusakan material.[1]

(lebih…)

“Normalisasi” Itu Seharusnya Kayak Gini

Istilah “normalisasi” dengan Israel, sebenarnya agak aneh. Indonesia didorong pihak-pihak tertentu untuk “menormalisasi” hubungan dengan Israel. Indonesia kan tidak pernah menjalin hubungan diplomatik sebelumnya dengan Israel dengan alasan “penjajahan Israel pada Palestina.” Jadi apanya yang dinormalkan? Menormalkan [=menganggap normal] penjajahan?

Ada fenomena yang lebih tepat disebut “normalisasi”, misalnya kembalinya hubungan baik antara Suriah dan Yordania. Selama perang Suriah, Yordania sudah berkhianat kepada tetangganya itu, dengan menyuplai senjata kepada para “demonstran” di Daraa dan membiarkan perbatasannya ditempati “pasukan-pasukan asing yang tidak berbahasa Arab” (demikian dilaporkan sejumlah media, di tahun 2011, di awal-awal konflik Suriah).

(lebih…)

Politisasi Kasus HW

Kasus HW ini kasus kriminal. Dia harus dihukum seberat-beratnya, sebaiknya dikebiri juga. Para korban juga harus diberi perlindungan sebaik-baiknya, disembuhkan traumanya, dll.

Demikian juga para “ustat”/ “guru” yang melakukan aksi-aksi kejahatan seksual di berbagai lembaga pendidikan lain, semua harus dihukum. Jangan sampai yang viral baru diurus, yang ga viral diem-diem aja. Kasus semacam ini sudah banyak sebelumnya, tapi baru ini yang benar-benar diviralkan.

Nah, pertanyaannya, mengapa kasus ini tiba-tiba diviralkan dan mengapa timing-nya dipilih sekarang (mulai tanggal 9 Desember)? Padahal sejak 3 November sudah masuk pengadilan, sejak Mei sudah diketahui pihak berwenang? Saya merasa tahu jawabannya, tapi tidak semua yang diketahui bijak untuk diumbar ke publik.

(lebih…)

Pakar : Wahabisme Sumber Doktrin Perpecahan Umat

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COM – Pakar “Wahabisme, Sumber Doktrin Perpecahan Umat”, Dina Yulianti Sulaeman dalam wawancaranya dengan Tehran Times, sebuah media berbahasa Inggris paling terkemuka di Iran mengatakan bahwa Wahabisme “tidak mendorong pemikiran rasionalis”. “Doktrin yang dikemukakan Wahabisme adalah purifikasi dan takfirisme. Doktrin-doktrin seperti itu akan menimbulkan perpecahan dan konflik di antara dunia Muslim,” kata Dina.

Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran ini berpendapat bahwa peradaban Islam membutuhkan rasionalitas dan persatuan. “Jadi, bagaimana mungkin ajaran seperti itu menjadi pemimpin dunia Islam?”, dia bertanya.

Berikut ini teks wawancaranya:

T: Apa evaluasi Anda tentang beberapa ketegangan sektarian di Asia Barat/Timur Tengah yang disponsori oleh Barat untuk menabur benih perselisihan antara Syiah dan Sunni?

(lebih…)

Resistensi (Muqawwamah)

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/363896935493346

Resistensi adalah kunci penting dalam melawan imperialisme modern. Resistensi tidak bermakna ofensif (menyerang), tetapi bertahan. Resistensi bermakna melawan, kadang dengan diam; kadang dengan tindakan.

Resistensi artinya tetap teguh di jalan yang diyakini benar; meski ada badai datang melanda; meski kemungkinan untuk berhasil terasa sangat kecil. Resistensi artinya meyakini bahwa kebenaran pasti akan menang, badai pasti berlalu; meski entah kapan, tapi pasti.

Itulah yang membuat Suriah mampu bertahan, meski diserbu teroris bersenjata sangat lengkap yang berasal dari 80-an negara; yang didukung oleh negara-negara kaya di dunia, baik dari Barat maupun Teluk. Suriah sempat nyaris tumbang, bahkan ISIS pernah ‘berhasil’ merampas kota Raqqa dan dijadikan “ibu kota kekhalifahan.” Tapi berkat resistensi (termasuk resistensi yang diberikan oleh sahabat-sahabat Suriah), negeri yang diberkahi itu bertahan.

(lebih…)

Menolak Lupa: Rekam Jejak FAO dalam Perang Suriah

FAO (Farid Okbah) ditangkap Densus 88. Lalu, ada tokoh yang menyebut bahwa radikalisme diangkat untuk “mengalihkan isu PCR”.

Kalau kata saya sih, bisnis PCR tetap harus lanjut diusut (termasuk diusut juga: secara sains, apa perlu razia swab massal dilakukan kepada orang-orang sehat; kepada anak-anak sekolah?). Tapi, radikalisme dan terorisme memang ADA, ga usah ditutupi pakai ngeles sana-sini.

Perang Suriah selama 10 tahun telah merekam isi pikiran FAO dkk dengan jelas. Melalui halaman facebooknya, maupun ceramahnya, FAO gencar menyebarkan postingan yang menggiring opini masyarakat bahwa perang saudara yang terjadi di Suriah adalah perang antara Sunni vs Syiah. Ketika para “ulama” terkenal menyuarakan hal seperti ini, tidaklah mengherankan banyak masyarakat Indonesia yang mengira saudaranya sesama Aswaja sedang dibantai dan untuk itu mereka rela merogoh kocek untuk menyumbang.

Di antara jejak digital FAO terkait Suriah:

(lebih…)

Iran Melawan Embargo AS

AS telah mengembargo Iran selama puluhan tahun, termasuk menghalangi Iran untuk menjual minyaknya. Iran melakukan perlawanan dengan tetap menjualnya, tentu saja ke negara yang berani membeli. Negara-negara yang berada di bawah tekanan AS tidak berani membeli, karena akan kena sanksi oleh AS. Korea Selatan misalnya, pernah menjadi pembeli minyak Iran, tapi setelah terancam sanksi AS, akhirnya berhenti membeli di tahun 2018, dan bahkan tidak membayar uang minyak tsb selama 3 tahun (sampai sekarang). Alasan mereka, karena transfer uang ke Iran terhalang aturan embargo AS. Korsel punya utang 7,8 M USD ke Iran.

Upaya AS menjegal penjualan minyak Iran juga melalui penghadangan langsung kapal tanker yang membawa minyak Iran. di perairan internasional. Pernah ada kapal tanker yang membawa minyak Iran juga (ke Venezuela), lalu dicuri oleh AS. Hal ini bisa terjadi karena awak kapal tanker tsb (bukan orang Iran), bekerja sama dengan AS.

(lebih…)

Daraa

Karena besok saya akan webinar, membahas hoaks (saya khusus bahas hoaks Suriah, narsum lain, bahas topik lain), saya jadi teringat pada kisah kota Daraa.

Dulu, di akhir tahun 2011, saya pernah menulis soal Daraa, kota tempat dimulainya aksi-aksi demo menentang Bashar Assad. Banyak yang menyamakan aksi demo ini dengan aksi demo di negara-negara Timteng lainnya di masa yang sama (Arab Spring). Padahal tidak, yang terjadi di Suriah berbeda (demikian pula Libya).

Di Daraa, sebelum aksi demo yang menurut media Barat “damai”, senjata-senjata sudah disiapkan, masuk dari Jordan. Tentara-tentara berbahasa non-Arab sudah berdatangan di perbatasan Jordan-Suriah. Lalu, ketika terjadi bentrokan antara polisi dan demonstran, media Barat (dan media-media nasional di Indonesia yang cuma modal copas-terjemah) dengan sangat masif menyebarluaskan narasi: Assad diktator, membantai rakyatnya sendiri.

(lebih…)