Kajian Timur Tengah

Beranda » Syria

Category Archives: Syria

Apakah Indonesia Akan Di-Suriah-kan?

sampang[Copas dari status FB saya]

Pagi-pagi buka FB, menemukan ada friend yang menyatakan bahwa isu Indonesia akan di-Suriah-kan adalah sesuatu yang konyol. Buktinya, sampai sekarang Indonesia baik-baik saja. Sebagai salah satu di antara sedikit orang yang “berdarah-darah” gara-gara nulis soal Suriah sejak 2011, saya merasa perlu menjawab. Sudah saya jawab di status yang bersangkutan. Tapi sepertinya penting juga diketahui umum, jadi saya copas di sini (dengan sejumlah editan).

  1. Pihak yang “berjihad” menggulingkan rezim di Suriah adalah Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dan ormas-ormas yang didanai Saudi-berafiliasi dg Al Qaida, ISIS, dll. IM (dan HT) pada 1982 pernah berusaha menggulingkan rezim dengan dibantu oleh AS, Jordan, dan Israel, tapi gagal. Yang penting dilihat: ketiga faksi ini ada cabangnya di Indonesia, dan sangat aktif menguasai wacana. Mereka sangat aktif menyebarkan kebencian terhadap kaum Syiah di Indonesia (mengaitkannya dengan Suriah) sejak 2011. Pada 2012, peristiwa Sampang terjadi, pemerintah tak mampu melakukan rekonsiliasi sampai sekarang.

Dari info A1 yang saya dapatkan, Arab Saudi sejak 2012 juga menggelontorkan dana besar-besaran (bahkan di puncak “panas”-nya isu ini di Indonesia, langsung diantar oleh Bandar bin Sultan, ketua intel Saudi) kepada ormas-ormas itu dengan tujuan “memerangi” Syiah. Sebagai bukti, lihat betapa masifnya spanduk anti-Syiah dipasang di seluruh Indonesia, satu spanduk 200rb, di satu kota saja bisa habis 2M. Ini di seluruh Indonesia. Buku anti-Syiah dicetak jutaan copy, dibagikan gratis. Tentu naif sekali bila mengira Syiah adalah target akhir (krn Syiah di Indonesia sangat sedikit, tidak signifikan). Target besarnya tentu sesuatu yang lain.

(lebih…)

Dari Jabar ke Palestina, Suriah, Balik ke Indonesia

kekeringan-sukabumi-620x330

warga menderita kekeringan (beritadaerah.co.id)

Barusan saya menonton film dokumenter, ada sebuah desa di Jawa Barat yang kaya sumber air bersih, kini kesulitan air. Ada ratusan perusahaan menyedot air di kabupaten dimana desa tsb berada. Perusahaan terbanyak yang menyedot air di sana adalah perusahaan air mineral terkenal. Produknya dijual ke berbagai penjuru Indonesia dan per tahun meraih keuntungan triliunan rupiah. Sementara, warga sekitar harus mandi dan mencuci di air yang keruh.[1]

Dan kalau dicek, siapa pemilik saham perusahaan air minum tersebut, ternyata sebuah perusahaan milik asing, yang masuk daftar boikot Zionis.[2]

Jadi begini, di dunia ini ada gerakan boikot produk-produk perusahaan yang berinvestasi di Israel atau terbukti mengirimkan dana untuk Israel. Kok bisa tahu? Karena di Barat transparansi informasi cukup bagus, jadi bisa dilacak. Jadi, ini bukan gerakan asal boikot atau asal-benci-Yahudi. Yang diboikot adalah perusahaan yang memberi keuntungan kepada Israel.

(lebih…)

Berunding dengan Kelompok Pemakan Jantung

tim-anderson

photo: by Dr. Tim Andersonfrom Sidney Univ, follow his FB to get valid information about Syria.

 

Bangsa Suriah yang mencintai tanah airnya (bukan mengabdi pada kepentingan Zionis dan Wahabi*) memang terpaksa menelan pil pahit. Dalam perundingan 23-24 Januari di Astana, Kazakhstan, delegasi Suriah terpaksa harus duduk semeja dengan kelompok teroris Jaish Al Islam, yang diketuai oleh Mohammed Alloush. Mohammed adalah saudara Zahran Alloush (sudah tewas). Pada November 2015, teroris ini menempatkan ratusan tentara Suriah dan keluarga mereka di 100 kandang/kerangkeng dan menyerukan “rasakan kesakitan di dunia ini sebelum kalian merasakannya di akhirat”.

Sekedar info, kelompok-kelompok teror di Suriah sering berseteru satu sama lain, dan akhirnya muncul nama yang berubah-ubah seiring berubahnya koalisi. Yang perlu dicari adalah “organisasi akar”-nya. Kelompok Alloush berasal dari Ikhwanul Muslimin.

IM juga membentuk Free Syrian Army. Sebuah video mengerikan diunggah secara online pada tanggal 12 Mei 2013. Dalam video tersebut, terlihat seorang milisi pemberontak yang mengenakan perlengkapan militer, sedang menyayat bagian dada sesosok jenazah, yang disebut sebagai tentara Syria, lalu memasukkan jantung mayat itu ke mulut. Video itu terverifikasi karena diunggah sendiri oleh mereka (artinya: tidak bisa lagi dibela dengan menyebut ‘itu fitnah’). Orang di dalam video itu, si pemakan jantung, adalah Abu Sakkar, pendiri kelompok militan Farouq Brigade (berafiliasi dg FSA). Ini mengingatkan kita pada tokoh Hindun yang memakan jantung Hamzah, paman Nabi setelah perang Uhud. Apa sumber dari perilaku keji seperti ini? Tak lain: kebencian.

Perundingan di Astana, mempertemukan kelompok IM dan pemerintah sekuler Suriah, merupakan bertemunya dua kelompok yang berseteru sejak lama. Pada tahun 1980an, IM menggalang pemberontakan bersenjata untuk menggulingkan Hafez Assad. (dengan didukung oleh negara-negara asing, terutama negara Barat, Jordan, dan Israel..negara-negara yang sama yang kini juga mendukung mereka menggulingkan Bashar Assad). Saat itu, Hafez mengambil tindakan keras menghadapi pemberontakan bersenjata ini.

Dan sekedar info saja, IM ini organisasi transnasional, cabang dan akivisnya tersebar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tak heran bila mereka di Indonesia ini berisik sekali soal Suriah (negara pembela Palestina paling depan), jauh lebih berisik dibandingkan pembelaan mereka terhadap Palestina yang jelas-jelas dijajah Israel.

Saya menentang perang dan pembunuhan. Tapi sekedar menyodorkan perspektif: bila aktivis IM di Indonesia (tau kan, siapa??) dapat duit dan senjata dari AS, lalu angkat senjata, main bom sana-sini, menurutmu, apa yang akan dilakukan oleh Presiden dan TNI? Think!

(lebih…)

Film: Topeng Teror White Helmets

Sejak awal perang Suriah, foto dan video hoax sudah sangat banyak disebarkan, bahkan oleh media-media mainstream. Bila foto dan video yang digunakan adalah foto dan video lama yang didaur ulang (misal, BBC menggunakan foto mayat di Irak yang disebut sebagai korban senjata kimia Assad) umumnya mudah terbongkar. Namun ada juga foto dan video hoax yang “sengaja dibuat”. Untuk membongkarnya, perlu pengetahuan medis, misalnya cara pertolongan pertama pada korban senjata kimia, atau reaksi/ekpresi korban senjata kimia yang asli, sehingga bisa mendeteksi keanehan akting orang-orang dalam sebuah video. Misalnya yang dilakukan oleh Robert Stuart saat membongkar hoax video BBC.

White Helmets adalah lembaga “relawan” yang sangat terkenal , dipuji-puji, sering menjadi sumber pemberitaan media Barat, dan bahkan dinominasikan meraih Nobel. Video-video “penyelamatan” yang diproduksi WH sangat tipikal (skenario mirip), bahkan ada anak yang sama muncul di beberapa video yang berbeda.  Bocah di Kursi Oranye adalah salah satu video karya WH yang paling terkenal. Cara membongkar hoaxnya adalah dengan mengamati seksama videonya: ambulans yang canggih dan mulus (padahal konon sedang di zona perang yang selalu dibombardir Rusia), si anak disuruh duduk begitu sana bermenit-menit, bukannya langsung ditangani dokter, melacak jejak digital orang yang muncul di dalam film itu (Mahmoud Raslan), dst.

omran-daqneesh

Mahmoud Raslan dan Bocah di Kursi Oranye (Omran Daqneesh)

Film ini memiliki nilai penting karena dibuat pasca pembebasan Aleppo timur, sehingga jurnalis Anna News bisa datang langsung ke 5 markas White Helmets dan mewawancarai penduduk lokal di sekitar markas, dan menemukan berbagai hal mengejutkan tentang organisasi ini.

Disclaimer: penerjemahan ini bukan karya profesional, semata-mata ingin membantu teman-teman yang kesulitan memahami bahasa Inggris. Jadi harap maklumi saja kalau banyak kekurangan di sana-sini. Diterjemahkan bebas dari subtitle English (video asli bhs Rusia).

Israel, Simpatisan ‘Mujahidin’, dan Suriah

mccain5

Senator AS John McCain di markas “mujahidin” (lihat gambar bendera di atas)

Pagi ini saya membaca sebuah artikel menarik dari Yurgen Alifia, kandidat master di Oxford University [1]. Tulisan itu sebenarnya tentang Anies Baswedan, tapi yang ingin saya bahas di sini adalah bagian tulisan itu yang mengutip wawancara Yurgen dengan Prof Mearsheimer. Mearsheimer dan rekannya, Stephen Walt [keduanya adalah pakar Hubungan Internasional] pernah menulis paper jurnal berjudul “The Israel Lobby and US Foreign Policy”. Dalam paper itu (yang kemudian dijadikan buku), keduanya menyimpulkan bahwa kebijakan luar negeri AS telah menjauh dari kepentingan bangsa AS sendiri karena terlalu menuruti keinginan Israel.

Wawancara Yurgen dengan Mearsheimer benar-benar “wow” buat saya. Ini saya copas ya:

(lebih…)

London VS Tehran :)

tehran-londonDi tulisan saya sebelumnya, saya kutip tulisan jurnalis Inggris papan atas, Robert Fisk, yang menyatakan bahwa cara media Barat menyajikan berita tentang Aleppo menyalahi kaidah jurnalisme (ia pun mengakui bahwa media massa Barat telah membohongi publik selama bertahun-tahun).

Nah, ada seorang dosen jurnalistik yang pernah S3 di Inggris (tak tahu saya, lulus atau tdk) yang sepertinya tak paham kaidah jurnalisme yang benar sehingga tulisan-tulisannya tentang Suriah sangat berpihak pada Al Qaida* (alias “mujahidin”) dan kalau ada yang membantahnya, yang bisa dia katakan cuma syiah, syiah, syiah. Terakhir, dia “membantah” (secara terbuka, di FB) tulisan-tulisan saya bukan dengan meng-counter data yang saya berikan, tetapi etapi menyebut saya pembohong [hey, bukannya para simpatisan “mujahidin” yang kedapatan berkali-kali pakai foto hoax soal Suriah? Saya ada filenya pdf 123 hal, bisa diunduh [1] Kok jadi maling teriak maling nih 🙂 ] dan menyoroti background saya yang pernah S2 di Iran. It’s an argumentum ad hominem fallacy, you know? 🙂

Betapa lucunya. Karena saya pernah dapat beasiswa S2 dari pemerintah Iran di Fakultas Teologi di Tehran University, tulisan saya harus ditolak. Sementara, tulisan orang yang dapat beasiswa S2-S3 dari Inggris, belajar dari dosen-dosen “kafir”, harus diterima 😀

(kata “kafir” ini satire lho ya, kawan-kawan non-Muslim jangan tersinggung 🙂  )

[Sekedar info, saya cuma kuliah 1 semester belajar bahasa Persia dan 1 semester matrikulasi. Saya tidak lanjutkan karena, antara lain, saya tidak terlalu berminat di bidang ini. Tapi minimalnya saya jadi tahu kultur belajar di Tehran, antara lain mahasiswinya kritis2, tanya-jawab dengan dosen jadi seolah “berantem”. Gelar master dan doktor saya dapat dari HI Unpad.]

Medsos Adalah Fana, Kebencian Abadi?

isis1Kalimat yang saya pakai jadi judul itu saya ambil dari status seseorang yang nge-tag saya. Saya baca dini hari ketika suasana sepi, sehingga membuat saya mikir lama. Saya teringat cerita yang disampaikan seorang dosen Sejarah Peradaban Islam. Dulu, orang menerima kabar dari mulut ke mulut. Dulu banyak orang-orang Syam (Suriah saat ini) yang membenci Sayyidina Ali bin Abi Thalib karena mengiranya sebagai sosok yang meninggalkan sholat. Sampai suatu hari, Ali ditikam/dibunuh orang (yang agamanya Islam juga) di saat beliau sedang sholat Subuh. Kabar itu akhirnya sampai ke Syam dan orang-orang pun kaget, lho ternyata Ali itu sholat, tho?

Dulu, sebelum Revolusi Islam Iran 1979, buku-buku yang ditulis tentang “kesesatan Syiah” sangat sedikit dan dulu tidak ada perseteruan politik antara Sunni-Syiah. Yang ada, oposisi versus penguasa. Makanya ada istilah “rafidhah” (penolak) yang disematkan kepada kelompok oposisi. Pokoknya, kalau melawan penguasa, pastilah kamu Rafidhah, apapun mazhabnya. Dan rupanya, karena sebagian kaum Syiah di zaman dulu menjadi oposisi penguasa, akhirnya Rafidhah diidentikkan dengan Syiah dan kebencian disebarluaskan kepada Syiah. So, akarnya politik, ketakutan pada oposisi, keinginan untuk mempertahankan kekuasaan. Penguasanya boleh mati, tapi kebencian terus menurun kepada generasi berikutnya.

(lebih…)

Surat untuk Tempo tentang Anne “Bana” Frank dari Aleppo

(Surat ini juga dikirim via email ke redaktur Tempo)

Kepada Yth.

Pemimpin Redaksi Majalah Tempo

di

Jakarta

Majalah Tempo edisi 19-25 Desember 2016  memuat artikel berjudul “Anne Frank dari Aleppo Timur” (AFAT). Artikel tersebut ditulis Sita Planasari dengan sumber The Star,The Telegraph, The New York Times. AFAT bercerita tentang seorang anak usia 7 tahun, Bana Alabed yang secara sangat aktif bercuit di Twitter, menceritakan bahwa dia dan keluarganya dalam kondisi gawat karena dibombardir terus oleh tentara Suriah dan Rusia.

Sebagai sebuah media yang dikenal hebat dalam investigasi, artikel AFAT seharusnya juga didasari dengan investigasi online yang lebih lincah. Sejak dari kalimat pertama, penulis seharusnya sudah memiliki kecerdasan untuk mengendus keanehan, mengapa Bana Al Abed yang baru berusia 7 tahun sudah memiliki 200.000 [sekarang bahkan lebih dari 300.000] follower di Twitternya? Dengan sedikit mengecek, akan ketahuan bahwa akun Twitter Bana baru dibuat pada September 2016.

Follower pertama Bana adalah jurnalis Aljazeera, Abdul Aziz Ahmed. Pengecekan di akun Facebook dan Twitter keluarga Bana memperlihatkan bahwa ayah dan ibunya adalah anggota kelompok militan. Kata “militan” adalah eufemisme, karena cara-cara beroperasi mereka bersifat terorisme.

(lebih…)

Surat Terbuka Tentang Suriah, Untuk Kang Emil

Assalamualaikum,

Kang Emil, kumaha damang?
Perkenalkan saya Dina, bukan orang Sunda. Tapi, karena saya menikah dengan urang Sunda, dan seluruh proses studi saya dari S1 hingga S3-Hubungan Internasional saya jalani di Bandung (Unpad), ikatan emosional saya dengan Sunda sangatlah kuat. Di banyak kota di Indonesia yang saya kunjungi, banyak yang mengira bahwa saya adalah orang Sunda karena saya sudah terhegemoni oleh logat Sunda.

Saya terdorong menulis surat ini setelah melihat 2 postingan di Fanpage Kang Emil tentang Suriah. Postingan pertama, share foto bertajuk Save Aleppo.

rk1g

Masih di hari yang sama, selang beberapa jam kemudian, kang Emil memposting status tanpa foto.

rk1f

Selengkapnya kalimat Kang Emil:

rk1c

Saya mencermati perbandingan jumlah share  dan komentar di kedua status itu. Buat saya, ini menjadi bukti bahwa isu Suriah adalah isu monolog. Gerakan “Save Aleppo” dianggap sebagai fakta yang tak perlu dipertanyakan lagi. Status “Save Aleppo” di-share 25ribu lebih tapi hanya ada 3100 komentar. Sementara status yang mengajak untuk fokus saja pada isu kemanusiaan, hanya di-share 5300  kali tapi dikomentari 3700 kali.[data 19/12, 20.00]

Saya menemukan banyak komentar menyalah-nyalahkan nada “netral” Kang Emil. Antara lain:

(lebih…)

Suriah: Menjawab Para Bigot

bigotBigot. Saya belum tahu apa padanannya dalam bahasa Indonesia. Bigot adalah bahasa Inggris, artinya “a person who is intolerant toward those holding different opinions” (orang yang intoleran terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan dirinya).

Apakah artinya kita harus sependapat dengan orang lain? Tentu tidak. Tapi cara mengungkapkan ketidaksependapatan itu yang menentukan seseorang itu bigot atau bukan. Bigot akan mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan kasar dan ad hominem (menjatuhkan sisi personal lawannya, misalnya “dia  ngomong begitu karena antek China!” atau “Dia kan Syiah, jangan dipercaya!”). Intimidasi terhadap saya bahkan ancaman kekerasan plus menggunakan foto anak-anak saya sebagai meme jahat. Benar-benar “sakit” mereka itu.

Sejak 3 hari yll (15 Des), FB saya diblokir 30 hari karena dituduh “melanggar standar komunitas”. Tentu artinya ini ada banyak bigot me-report saya. Teman facebook saya, Dandhy Dwi Laksono, menulis status yang menyatakan kecamannya pada aksi-aksi pembungkaman seperti ini (bukan hanya terhadap saya, tapi dia juga menyinggung aksi pembungkaman terhadap situs yang menyuarakan berbagai fakta soal Papua).

Dan kemarin saya melihat sekilas, banyak sekali para bigot membanjiri postingannya dengan komen-komen khas para bigot. Ada dua yang secara acak saya “tangkap” dan saya bahas di sini.

(lebih…)