Kajian Timur Tengah

Beranda » Syria

Category Archives: Syria

Unlearn ISIS

Unlearn artinya, kurang lebih, melepaskan diri dari apa yang sudah dipelajari selama ini. Manusia lahir dengan kebahagiaan, penuh prasangka baik. Namun lambat laun dia belajar untuk bersedih dan mencurigai orang lain. Seseorang tidak terlahir untuk membenci orang yang berbeda dari diri dan kelompoknya, apalagi membunuhnya. Dia belajar (learn) untuk itu.

Lama-lama, manusia pun ‘ahli’ dalam hal itu. Dia ahli dalam bersedih dan galau, sehingga lupa cara untuk bahagia. Ada pula yang sedemikian ahlinya dalam membenci sehingga ia menganggap benar pembunuhan kepada orang yang tak seideologi dengannya. Lalu, bagaimana caranya untuk melepaskan hal-hal yang sudah dikuasai? Caranya adalah dengan unlearn.

Ketika ISIS sudah terusir dari Suriah tahun 2017, beberapa LSM berupaya melatih masyarakat di kawasan Raqqa dan Deir el Zour yang selama 3 tahun dikuasai ISIS untuk unlearn ideologi yang sudah ditanamkan oleh ISIS kepada mereka selama tiga tahun terakhir.

(lebih…)

Iklan

Issam Zehreddin, Singa Pribumi Suriah

issam

 Jend. Zehreddin sedang memeluk keluarga tentara yang gugur melawan ISIS di Deir Ezzour.

Bagi orang Suriah, pribumi adalah seluruh warga negara Suriah. Ada beberapa di antara mereka yang kemudian angkat senjata melawan pemerintah yang sah. Yang pertama kali angkat senjata adalah anasir Ikhwanul Muslimin yang dibacking Turki, Qatar, AS, dll. IM memang punya track record sebelumnya melakukan aksi kudeta dengan bantuan senjata dari AS. Kelompok Hizbut Tahrir Suriah juga mengklaim angkat senjata, mereka berbaiat kepada kelompok-kelompok teror seperti Jabhah al Nusra yang tak lain, Al Qaida versi Suriah.

Alasan yang mereka kemukakan: pemerintah Suriah adalah rezim Syiah yang kejam kepada kaum Sunni. Dengan alasan itu, mereka mengundang kaum Sunni dari seluruh dunia untuk berperang (atau menyumbang dana “jihad”). Terbentuklah kelompok-kelompok “jihad” yang jumlahnya ratusan, dengan milisi yang datang dari berbagai penjuru dunia. Di tengah-tengah mereka, muncul kelompok yang paling ganas, ISIS.

ISIS kemudian buka cabang di berbagai negara; sehingga banyak orang lupa pada aktor utama, Ikhwanul Muslimin jauh lebih dulu buka cabang dan bahkan mendominasi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Oleh media Barat, jihadis IM (dalam berbagai nama milisi) disebut sebagai “moderate rebels”, jadi tidak dikategorikan teroris, meski aksi-aksinya tak jauh beda dari ISIS.

Ratusan kelompok teror di Suriah, sulit disebut sebagai “pribumi” karena mereka dibiayai negara-negara asing; dan sebagian pasukannya pun berasal dari negara-negara asing (termasuk Indonesia). Karena itu “perjuangan” mereka di Suriah tidak bisa disebut revolusi karena unsur asingnya terlalu besar.

(lebih…)

Libya, Suriah, dan Klaim Dakwah/Antikekerasan HTI

HTI

Republika (24/10) menurunkan berita dengan judul bombastis:  “Aksi Tolak Perppu Ormas Jadi Lautan Bendera Tauhid”. Ngawurnya ada dua, pertama apakah sih definisi bendera tauhid sebenarnya (apa kalau tidak pakai bendera itu artinya tidak bertauhid?) Apakah bendera HTI itu bendera tauhid? Ini silahkan didiskusikan dengan ahli agama, setahu saya sih tidak demikian. Kedua, judul itu jelas ingin membangun opini: Perppu Ormas (sekarang sudah jadi UU) adalah anti Islam. Menariknya, wartawan Republika itu juga menyebutkan bahwa tidak ada satupun bendera merah putih yang terlihat.

HTI selalu mengklaim diri sebagai semata-mata organisasi dakwah Islam dan atas alasan itu, Perppu Ormas (kini UU) secara salah kaprah disebut anti Islam. Padahal yang disasar ormas-ormas yang ideologinya membahayakan NKRI (anti Pancasila, pro kekerasan, dll).

Jawaban untuk Klaim HTI

(1) HTI Organisasi Dakwah?

Klaim bahwa HTI adalah organisasi dakwah bertentangan dengan pernyataan yang dimuat di situs-situs HT di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang secara jelas menyatakan bahwa Hizbut Tahrir adalah partai politik yang memiliki tujuan untuk mendirikan kekhalifahan Islam.

Saat diwawancarai oleh Aiman dari Kompas TV (12/6), Ismail Yusanto mengelak menjawab, bagaimana proses terbentuknya kekhilafahan serta siapa dan dari negara mana asal sang khalifah.

(lebih…)

Tim Jihad Washington

Artikel yang ditulis Andre Vltchek ini menarik untuk dibaca. Andre mewawancarai banyak orang selain saya, antara lain seorang alumni “jihad” Afghanistan. Penuturan si alumni ini memperlihatkan pola yang sama dengan ‘jihad’ Suriah: dulu dia pergi ke Afghanistan karena konon katanya warga Muslim diserang oleh kaum komunis; sekarang kelompok yang sama ‘jihad’ ke Suriah karena konon warga Sunni dibantai Syiah. Kloter yang terakhir ini yang bikin repot, ketika ISIS keok di Suriah, mereka harus dibiayai pulang ke Indonesia dan harus pula dibiayai untuk ikut program deradikalisasi (entah ada manfaatnya atau tidak).

Silahkan baca di sini: Washington’s Jihadi Express: Indonesia-Afghanistan-Syria-Philippines

Ini pernyataan saya yang dikutip Andre:

“Jihad in Indonesia – against the Western imperialism? Oh no, no way…” smiles Dina Y. Sulaeman, an Indonesian political analyst, an author of the book “Salju Di Aleppo” (Snow of Aleppo):

“Jihad in which Indonesians want to participate is based on hate… In my book, I explain that the Indonesian fighters in Syria are mainly affiliated with several groups: ‘Ikhwanul Muslimin’, ‘Hizbut Tahrir’ and Al Qaeda/ISIS. Unfortunately these groups have supporters in Indonesia. They keep spreading fake photos and videos about Syria, to ignite sympathy, even anger of Indonesian people, so they give donations or even join jihad. It’s a good deal for them. They are waging ‘holy war’, they’ll go to heaven, and plus they get paid. They accuse president Assad of being ‘infidel’. That’s their rallying cry.”

“Indonesian mass media ‘coverage’ is only directly translating what is said by the Western media: the CNN, the BBC and others…. If not those, then at least Al-Jazeera which is often even worse… As a result, Indonesians are ‘very concerned’ about Syria.’ Of course, in my books I’m trying to correct the misconceptions, but the propaganda apparatus is so powerful.”

Mengapa Mereka Membenci Patung?

patung

Patung dewa di kompleks kelenteng Tuban ditutupi kain setelah diprotes sebagian pihak

 

Kasus ‘penolakan’ terhadap patung-patung yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia, menurut saya, adalah sebuah alarm tentang menguatnya sebuah ideologi yang mengerikan, di tengah masyarakat kita. Mungkin baru alarm, baru gejala.

Orang bisa saja mengabaikan dan berkata, “Ah itu sih segelintir orang ekstrim saja!” Tapi kalau dibiarkan, dan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas masalah ini (misalnya Dirjen Kebudayaan) tidak mengambil tindakan yang signifikan, dampaknya bisa mengerikan. Hal ini dapat kita pelajari dari fenomena di Timur Tengah.

Pada Desember 2013, Robert Fisk, jurnalis dari The Guardian melaporkan bahwa Al Qaida Suriah (Jabhah Al Nusra) telah menghancurkan situs-situs bersejarah. Patung penyair Abu Tammam Habib ibn Aws di Daraa diledakkan, patung penyair al-Ma’arri, dipenggal kepalanya. Patung Harun Al Rasyid di Raqqa pun tak luput dari ‘pembantaian’ mereka. Makam Hujr ibn Adi (salah satu sahabat Rasulullah SAW) di pinggiran Damaskus dibongkar. Sebatang pohon tua berusia 150 tahun di kota Atmeh pun menjadi korban: ditebang habis. Seorang “jihadis” mengatakan kepada wartawan Perancis bahwa pohon itu ditebang karena sudah jadi sesembahan warga. Jadi, inilah “jihad” mereka: menggorok leher orang-orang ‘kafir’ Suriah, membasmi patung, makam, dan pohon.

Lalu Fisk menulis, “Tetapi, bukankah ini cerita lama? Bukankah dulu Taliban juga menghancurkan patung Buddha di Bamiyan, sebagaimana rezim Saud membongkar bangunan-bangunan kuno di Mekah; seperti juga para ‘Islamis’ yang menghancurkan makam-makam di Pakistan? Belum lagi bila kita sebut penghancuran di Timbuktu.”

(lebih…)

Konflik-Konflik Pembuka Tabir

topeng
 
Suriah membuka tabir kelompok-kelompok Islam radikal (istilah yang tepat sebenarnya ‘ekstrim’), tapi ngaku-ngaku gerakan dakwah damai (kayak yang barusan dibubarkan itu, dan para pembelanya, termasuk yang berafiliasi dengan IM itu lho). Di Suriah terbukti, ideologi mereka sebenarnya sama sekali tidak toleran, bahkan menghalalkan kekerasan terhadap orang-orang yang “bukan kelompok kami”.
 
Palestina membuka tabir, mana netizen yang toleran asli, mana orang-orang yang sebenarnya juga rasis tapi ‘menunggangi’ gerakan kelompok toleran dan nasionalis yang sedang berjuang melawan kelompok intoleran/ekstrim muslim. Pas giliran intoleransi dan kebrutalan Yahudi-Israel yang dibahas, langsung deh keluar aslinya.
 
Tapi orang-orang ‘tercerahkan’ akan selalu mampu melihat peta konflik dengan jernih, tidak akan tertipu oleh kedok kedua kelompok yang pemikirannya setali tiga uang itu.

Kisah Nur dan ISIS

Sejak 2011 sampai kini, saya sudah nulis soal Suriah, mungkin jumlahnya sudah mencapai ribuan (karena banyak juga yang saya tulis anonim, soalnya banyak yang alergi duluan baca nama saya 🙂 ).

Sejak beberapa tahun belakangan ini, sudah banyak aktivis medsos yang ikut aktif meluruskan info ttg Suriah di medsos, alhamdulillah…, luar biasa… Wartawan-wartawan media mainstream juga sudah ada (sedikit) yang turun tangan, meski dengan halus, mencoba melakukan perlawanan atas hegemoni informasi. Tapi semua itu tak cukup, masih sangat banyak yang tertipu. Semua yang ‘tercerahkan’ seharusnya ikut turun tangan, minimalnya sekedar share berita yang mengungkap siapa itu ISIS, Al Nusra, dan sejenisnya; atau bahwa ada AS dan Israel di balik semua ini. (contoh: “Israel Danai Pemberontak Suriah” http://internasional.republika.co.id/…/ortqnu335-israel-dan…).

Ini kisah tentang ex-Direktur PTSP BP Batam Ir Dwi Djoko Wiwoho. Ia tertipu dan berangkat ke Suriah bersama keluarganya. Kebetulan, AFP mewawancarai seorang perempuan, yang diduga anak pak Dwi, namanya Nur.

Menurut Nur, saat ini ayahnya dan saudara laki-lakinya dipenjara ISIS.

“Ada banyak (tentara ISIS) yang bercerai, kemudian menikah lagi untuk dua minggu atau dua bulan,” katanya.

“Banyak pria datang ke tempat saya dan berkata kepada ayah saya, ‘Saya menginginkan anak perempuan Anda’,” katanya.

“Ke mana saja mereka selalu membicarakan wanita,” katanya getir

Nur mengaku tertarik pindah ke Suriah setelah melihat foto dan video tentang Negara Islam atau Daulah Islamiyah yang diunggah ISIS ke internet.

“Semua bohong … ketika kami memasuki wilayah ISIS, masuk ke negara mereka, yang kami lihat sangat berbeda dengan apa yang mereka katakan di internet,” kata Nur.

Nur saat ini berada di kamp pengungsi Ain Issa, sekitar 50 kilometer di utara Raqqa.Bersama ribuan orang lainnya, Nur meninggalkan kota Raqqa yang kini tengah digempur Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung militer Amerika Serikat.

Ini video cuplikan rekaman Nur, terlihat sesekali ia bicara bahasa Indonesia.

Dengan sepenuh hati saya mendoakan di pagi bulan Ramadhan ini, agar Nur dan perempuan-perempuan Indonesia lainnya, bisa segera pulang dengan selamat lalu mereka menyebarkan kebenaran kepada publik. Wabil khusus saya doakan seorang gadis cantik yang awal-awal konflik Suriah sering ‘menyerang’ saya di FB, bahkan menginbox, dan dia bilang dia akan ke Suriah dalam waktu dekat. Saya waktu itu bilang ke dia, “Hati-hati Dik… jangan mau tertipu kayak gini.”

Entah dimana dia sekarang. Semoga dia baik-baik saja.

sumber video: https://www.youtube.com/watch?v=n3aFQEiegRA
sumber berita: http://batam.tribunnews.com/…/mengerikan-putri-djoko-cerita…

Beli Buku ‘Salju di Aleppo’

cover-salju-aleppo

Pemesanan: Hatim (SMS/WA: 0878-8299-8696)/email: icmes.indonesia@gmail.com

“Ingatlah bahwa kalian lebih kuat daripada perang ini, dengan cara memiliki harapan dan imajinasi”

Kalimat ini saya cantumkan di cover depan buku “Salju di Aleppo”. Ini kalimat yang dituliskan Pierre Le Corf di kartu-kartu yang menyertai bingkisan Natal yang dibagikannya untuk anak-anak Aleppo, baik di pengungsian, rumah sakit, maupun sekolah. Anak-anak, apapun agamanya, mendapatkan hadiah ini. Bahkan yang membungkus dan menyiapkan hiasan pun ibu-ibu berjilbab. Inilah kehidupan warga Suriah yang asli, penuh toleransi pada sesama, apapun agama dan mazhabnya.

Ketika Natal 2016 tiba, pohon Natal besar penuh lampu dipasang dan yang merayakannya tak hanya umat Kristiani, tetapi semuanya. Mereka tak hanya merayakan Natal, tapi juga bebasnya Aleppo timur setelah hampir 5 tahun dikuasai milisi bersenjata. Terusirnya milisi bersenjata juga membawa arti penting bagi warga Aleppo barat karena selama ini milisi bersenjata yang bercokol di Aleppo timur hampir setiap hari mengirim mortar, bom bunuh diri, dan sniper. Rumah sakit tak pernah sepi dari korban yang berdatangan akibat serangan mereka yang mengaku “mujahidin” ini. Namun yang diberitakan media selalu saja “korban” di Aleppo timur (dalam video-video rekayasa produksi White Helmets). Fenomena itu diceritakan oleh Le Corf, pria Perancis yang selama setahun tinggal di Aleppo barat, sebagiannya saya kutip di buku, juga beberapa fotonya (atas seizin Le Corf tentu saja).

Manipulasi informasi soal Aleppo (dan Suriah secara umum) sedemikian masif sehingga ketika rakyat Aleppo bersuka cita atas bebasnya Aleppo timur, yang diterima orang Indonesia adalah “ada genosida di Aleppo” dan para pengepul dana dengan sigap menggalang uang warga yang histeris. Di buku saya ungkap berbagai data mengenai manipulasi informasi itu.

Di video ini, anak-anak Suriah menyanyikan kesedihan, sekaligus harapan mereka. Membuat air mata menetes saat menontonnya. Saya sudah kasih terjemahan Indonesia. Bila ingin ikut menyanyi, teksnya ada di bawah. Namun jangan heran antara teks dan yang terdengar ada perbedaan (karena si penyanyi menggunakan logat khas Suriah). Penyanyinya bernama Ansam, yang buta sejak lahir. Video ini diproduksi Unicef, lembaga yang menurut pengamatan saya, selama ini baik dan netral dalam penyaluran bantuan untuk anak-anak Suriah.

“من قلـب الدمـار والنـار جـرح كبيـر
بالصوت العالي بدي قول بس الصوت صغير
يمكن نحنا ولاد زغار بس صرختنا من القلب
بـدنــا نـمحي كـل الـخـوف ونـكـون الـتـغـيـير
بأعـلى صوت بدي قــول
بالاغـنية كل شي معقول
حــدا يـسـمـع حـدا يـشوف
طـفـولـتـنـا بـدنــا يـاهــــا…
بالـصـوت الـواحـد أمـلنــا أكـتـر
رح منصير أقوى وطفولتنا تكبر
بالهاغـنـيـة لـعــم نـكـتـبـهــــــــا
بـوجـع وخوف ودموع الـعـين
رجـعـــت دقــــــات الـقـــلـــــب
عالحيـاة… عالحيـاة … عالحياة
رح ترجع الوجوه تضوي هالعتم الطويل
والاحلام اللي بـنـينـاها كـلا رح بـتصــير
بأعـلى صوت بدي قــول
بالاغـنية كل شي معقول
حــدا يـسـمـع حـدا يـشوف
طـفـولـتـنـا بـدنــا يـاهــــا
بالـصـوت الـواحـد أمـلنــا أكـتـر
رح منصير أقوى وطفولتنا تكبر
بالهاغـنـيـة لـعــم نـكـتـبـهــــــــا
بـوجـع وخوف ودموع الـعـين
رجـعـــت دقــــــات الـقـــلـــــب
والـضحكـات عـم تـنـبع مـن كـل مكان
والـدقـات بالـقـلب عـم ترجع من جديد…”

 

 

 

Buku Salju di Aleppo bisa didapat dengan memesan langsung, via Hatim (SMS/WA: 0878-8299-8696)

Wawancara Epic Presiden Belarusia & BBC

Dalam sebuah seminar, seperti biasa saya bicara soal Suriah, saya kasih tahu berbagai manipulasi informasi yang terjadi. Pembicara pembanding rupanya pro-“mujahidin”. Dia bantah sana-sini, ya saya bantah balik, tho. Saya siap dengan berbagai data, jadi ya tinggal ditunjukkan saja (kalau mau tau koleksi data saya, bisa baca buku Salju di Aleppo, lengkap saya kasih link-link sumbernya).

Eh.. di akhir acara, orang ini (yang bergelar doktor), bilang begini, “Coba lihat, sejak awal sampai akhir Bu Dina sama sekali tidak menyebut nama Ummul Mukminin Aisyah dan Umar bin Khattab ra! Saya juga pernah ke Suriah! Di sana itu masjidnya kumuh dan kusam, bukti bahwa Assad tidak menghormati masjid! (dst, bergaya Ustadz, diakhiri : pokoknya kebenaran sudah saya sampaikan..bla..bla..)

Saya benar-benar gemes dan sudah siap menyerang balik. Eeeeh.. oleh moderator acara langsung ditutup. Membuat saya benar-benar dongkol, di pesawat dalam perjalanan pulang saya gelisah sekali, bahkan sampai keesokan harinya. Baru lega setelah makan di warung ikan bakar khas Makasar (apa hubungannya coba, tapi demikianlah yang terjadi).

Mari dipikir, apa kepentingannya saya harus menyebut Ummul Mukminin Aisyah dan Umar bin Khattab ra dalam presentasi saya soal konflik Suriah kontemporer? Paling jauh yang bisa saya bahas terkait Suriah kontemporer adalah sejarah Perang Dunia I yang berakhir, antara lain, dengan jatuhnya Suriah dan Lebanon ke bawah mandat Perancis.

Lalu, masjid-masjid di Suriah yang usianya ribuan tahun adalah situs sejarah, maksud lo, apa musti dihancurkan dan dipugar menjadi masjid-masjid kinclong ala Saudi?

Capedeh…

Tapi kekesalan saya dulu itu, kini akhirnya terwakili oleh omelan panjang lebar Presiden Belarusia kepada reporter BBC ini. Seperti berkali-kali sudah saya tulis (di buku Salju di Aleppo juga dibahas), Inggris dan BBC merupakan aktor penting dalam proyek agenda penggulingan pemerintah Suriah. Selama konflik Suriah, BBC aktif melakukan framing, bahkan beberapa kali kedapatan melakukan manipulasi informasi, dalam kasus Suriah.

Dan Presiden Belarusia sangat paham itu, sehingga dia omelin tuh sang reporter BBC. Benar-benar epic.

Para Pemakan Bangkai

Pada Juni 2013, Presiden Obama akhirnya menandatangani persetujuannya untuk mengirim senjata kepada ‘pemberontak’ Suriah (atau ’mujahidin’, atau teroris, silahkan pilih istilah yang mau dipakai).[1] Sebenarnya Obama sangat ragu-ragu dalam hal ini, namun tekanan dari para pengkritik, sejumlah penasehat, bahkan mantan Presiden AS, Bill Clinton, akhirnya membuat Obama sepakat. Pengumuman keputusan ini disampaikan oleh penasehat keamanan nasionalnya, Benjamin J. Rhodes, sementara di saat yang sama Obama hadir dalam acara ‘gay pride’ (kebanggaan kaum homo) di Gedung Putih.
 
Tapi, hei, mengirim senjata jelas butuh uang. Darimana? Sumbernya adalah negara yang sama yang selama ini menjadi penyumbang CIA dalam berbagai aksinya: Arab Saudi. CIA dan Saudi telah membentuk misi pelatihan ‘pemberontak’ dengan sandi ‘Timber Sycamore’. Dalam pelaksanaan misi ini, Saudi Arabia bertugas menyediakan senjata dan uang, sementara CIA melatih ‘pemberontak’ menggunakan AK-47 dan misil anti tank. Sebelumnya pun, Saudi dan Qatar telah menyalurkan senjata ke Suriah selama lebih dari setahun, lewat Turki. Di antaranya, FN-6 misil buatan China.
 
Di pihak Saudi, pimpinan proyeknya adalah Pangeran Bandar bin Sultan, yang saat itu menjadi ketua badan intel Saudi. Dialah yang memerintahkan agar badan intel Saudi membeli ribuan AK-47s jutaan amunisi dari Eropa Timur untuk diberikan kepada pemberontak Suriah. CIA membantu mengkoordinir pembelian ini, antara lain dalam kontrak pembelian senjata besar-besaran dari Kroasia tahun 2012. Hingga musim panas tahun 2012, suplai senjata dan uang mengalir ke milisi-milisi pemberontak, melalui Turki.