Kajian Timur Tengah

Beranda » Syria

Category Archives: Syria

Vlog seorang turis perempuan yang berkunjung ke Aleppo Juni 2019. Beda dari vlog-vlog turis umumnya, kata-kata si vlogger sangat dalam dan menyentuh emosi. Dia juga bilang di akhir video bahwa saat mengedit videonya, dia berkali-kali meneteskan air mata.

https://www.youtube.com/watch?v=ZTaoyJpr-YE

Vlog-nya tentang Damaskus lebih ceria https://youtu.be/_dR61b8U_Ac

Video: Turki Menggunakan Pengungsi Sebagai Senjata

Penggunaan pengungsi/migran sebagai senjata untuk menekan negara lain bukan hal baru. Anda bisa baca di artikel Kelly Greenhil, Weapons of Mass Migration: Forced Displacement as an Instrument of Coercion; Strategic Insights, v. 9, issue 1 (2010).

Di video ini terihat jelas bagaimana Turki menggunakan pengungsi untuk menekan Uni Eropa agar mau membantunya mempertahankan Idlib (supaya tidak diambil alih oleh Suriah; padahal Idlib adalah wilayah Suriah). Akibatnya, hari ini Yunani menghadapi krisis pelanggaran perbatasan yang terorganisasi, masif, dan ilegal yang dibacking oleh Turki.

Hal yang jadi catatan dari arus pengungsi dari Turki ke Yunani:
-Yunani sepertinya dipilih jadi “korban” karena negara inilah yang menolak NATO membantu Turki di Idlib.
-Kebanyakan pengungsi yang dilepas adalah laki-laki muda, kuat, dan sebagian terlihat eks milisi teror (lihat video)
-Kebanyakan pengungsi yang dilepas adalah non Suriah, melainkan: Afghanistan, 64%, Pakistan, 19%, Iraq, Iran, Morocco, Ethiopia, Bangladesh, Egypt: 5.4%, Τurki, 5%, Suriah, 4% dan Somalia, 2.6% (sumber data: https://bit.ly/2VYzawW)

Sumber video: akun jubir pemerintah Yunani, Stelios Petsas https://bit.ly/3aF3Y9Y

Milisi teror yang dihadapi oleh tentara Suriah memang bukan kaleng-kaleng. Mereka punya senjata lengkap, disuplai oleh negara-negara kaya raya (plus dari uang sumbangan rakyat berbagai negara, termasuk Indonesia).

Jadi aneh bila ini dibilang “perang saudara” atau
“rezim menindas rakyat”. Rakyat model apa yang punya persediaan senjata sekuat/lebih kuat dari negara?

Beberapa tahun pertama perang (2012- akhir 2016), tentara Suriah kelabakan, bahkan sekitar 70% wilayahnya dikuasai milisi teror ini. Karena itulah Suriah minta bantuan Iran, Rusia, dan Hizbullah. Sejak Desember 2016, posisi berbalik, satu persatu wilayah Suriah berhasil dibebaskan. Kini tersisa 1 provinsi yang berbatasan dg Turki, Idlib. Inilah front terakhir para teroris. Turki dan AS pun turun tangan membantu para teroris ini.

[kalau dishare, pengantar dari saya tidak terbawa, perlu dicopas dulu]

https://web.facebook.com/theSyriainsider/videos/138045994227094/?t=0

Siapa tahu ada yang butuh tulisan ilmiah, bukan sekedar analisis ringan di medsos. Ditulis thn 2016, tapi masih relevan untuk mengetahui aspek ideologi pemimpin dalam mengindentifikasi national interest dalam kebijakan luar negeri Turki.

Di tulisan ini, bab kajian teori dan daftar pustaka sengaja tidak ditampilkan karena tadinya, paper ini akan dikembangkan lagi untuk keperluan publikasi (jurnal). Tapi meski sudah 3 thn berlalu, paper yang rencanakan itu belum beres juga. Soalnya, perubahan sikap beliau ini sangat cepat. Jadi ribet. Nunggu konflik selesai ajalah, baru dianalisis.

*Kesimpulan*

(lebih…)

Bahasa Diplomatik Putin dan Erdogan

Kemarin, Putin dan Erdogan bertemu di Moskow. Kesepakatan mereka: semua pihak, termasuk para “jihadis” melakukan gencatan senjata di Idlib. Kita tunggu saja, siapa yang pertama kali mengkhianati. Kemungkinan besar sih milisi teror yang akan ngebom duluan, setelah “amunisi” yang dijanjikan AS datang. [1]

Menarik juga menafsirkan bahasa diplomatik yang dipakai kedua tokoh ini.[2]

Di awal percakapannya, Putin menyatakan selamat datang, dan turut belasungkawa atas kematian tentara Turki. Lalu, Putin mengatakan, “Seperti saya sudah sampaikan kepada Anda lewat telepon, tidak ada, termasuk tentara Suriah, yang mengetahui/menyadari lokasi tentara Anda.”

Secara tersirat, yang dimaksud Putin, “Makanya tentara lo jangan gabung dengan “jihadis” dong.. kan kami sedang mengebomi para “jihadis”, siapa sangka tentara lo bareng sama mereka?”

(lebih…)

Ini kejadian kemarin (Rabu, 4 Maret). Sumber video dan berita: Euronews.

 
Terjemahan berita Euronews:
 
Pertikaian pecah di parlemen Turki pada hari Rabu selama diskusi yang tegang mengenai keterlibatan militer Turki di Suriah. Video memperlihatkan puluhan legislator dari partai Presiden Erdogan dan dari partai oposisi utama saling mendorong. Dalam rekaman itu, beberapa terlihat melemparkan pukulan sementara yang lain mencoba untuk memisahkan mereka.
 
Bentrokan dimulai ketika Engin Ozkoc dari oposisi Republican People’s Party (CHP) mengambil alih mimbar. Selama konferensi pers tak lama sebelumnya, Ozkoc menyebut Erdogan “tidak terhormat, tercela, rendah dan berbahaya”.
 
Dia juga menuduh presiden mengirim anak-anak rakyat Turki untuk berperang sementara keturunan Erdogan sendiri diduga menghindari dinas militer jangka panjang.
 
Dalam pidatonya kepada anggota partainya, Erdogan sendiri telah menuduh partai oposisi “tidak terhormat, tercela, rendah dan berkhianat” karena mempertanyakan keterlibatan militer Turki di provinsi Idlib.
 
Ketegangan memuncak menyusul kematian lebih dari 50 tentara Turki di Idlib dalam sebulan terakhir, termasuk 33 yang tewas dalam serangan Kamis (27/2).
 
Turki mengirim ribuan tentara ke Suriah untuk membantu mencegah tentara Suriah yang didukung Rusia merebut kembali provinsi Idlib dan untuk mendukung “pejuang oposisi” Suriah yang bersembunyi di sana.
 
—-
Istilah “pejuang oposisi” saya kasih tanda kutip: khas media Barat, selalu saja menutupi siapa sebenarnya yang ada di Idlib. Follower FP ini tentu sudah tau, bahwa mereka sebenarnya milisi teror Al Qaida (dalam berbagai nama).
 
==

Ibrahim Mohammad ini juga aktif update soal pertempuran Turki-Suriah. Silakan difollow.

Di statusnya ini dia memasang foto seorang ibu tentara Turki yang menangisi anaknya yang tewas. Lalu dia memuat ulang surat dari seorang bernama Dr. Insaf Hamad, ibu dari martir (syahid) Khuder Khazem.

Terjemahannya sbb:

“Dengan perbedaan besar. Saya merasakan sakit Anda karena saya adalah seorang ibu seperti Anda. Karena hati saya sudah robek sejak 8 tahun yang lalu dengan cara yang sama seperti hati Anda terkoyak. Ratusan ribu ibu di negara saya telah meneriakkan tangisan Anda. Dan telah menitikkan air mata yang sama, beberapa dari mereka telah mengalami situasi ini dua kali, tiga, empat kali atau bahkan lebih …

Tetapi ada perbedaan besar, Nyonya, antara Anda dan kami.

Anak-anak kami mati syahid di tanah kami, ketika mereka mempertahankannya di tangan teroris; teroris yang didukung oleh presiden Anda dan partai Ikhwanul Musliminnya dengan uang, senjata, pelatihan, dan segalanya.

Adapun putra Anda dan rekan-rekannya, mereka dibunuh dengan di tanah yang bukan tanah mereka, dan karena itu, mereka dipermalukan. Mereka bukan hanya agresor, tetapi mereka bertarung berdampingan dengan penjahat dan tentara bayaran demi kegilaan bosmu, fantasi, impian, dan ambisi Ottoman.

Maafkan, saya tidak pernah bisa bersimpati kepada Anda. Bagaimana saya akan melakukannya, sementara bagian dari negara saya diduduki oleh tentara kriminal Anda. Kami orang-orang Suriah tidak lupa pada pendudukan Lewaa Iskenderun yang dicuri dari kami, jadi bagaimana kami melupakan pendudukan Anda di Afrin, Tel Abyad, Ras al-Ain, dan daerah lainnya, dimana anak-anak Anda berada di bawah komando gerombolan teroris dan kami menemukan mereka di pedesaan Idlib.

Mungkin .. saya katakan mungkin ..
Saya akan bersimpati dengan Anda jika Anda berteriak di hadapan bos Anda yang gila dan mencegahnya menyeret putra Anda ke tanah selain tanah airnya, dan memperjuangkan hal yang sebenarnya tidak memberi kehormatan untuknya. Apa kehormatan bagi mereka yang menduduki tanah orang lain dan bertarung bersama kelompok yang sudah masuk dalam daftar teroris internasional..?!

Saya punya satu harapan .. Bahwa air mata Anda dan air mata ibu-ibu lain akan membangunkan ‘kesadaran yang tertidur’ dari para penguasa Anda dan orang-orang Anda yang mendukung mereka.

Meskipun saya ragu itu akan terjadi. Sejarah hanya memberi kami pengalaman pahit bersama Anda. Memori kami tentang Anda hanyalah tentang penemuan tiang yang memalukan dan pembantaian memalukan yang dilakukan nenek moyang Anda. Dan semua hari-hari gelap yang kami alami selama 400 tahun selama Anda menduduki negeri saya. Dan kini Ikhwanul Muslimin yang menyuruh Anda untuk menghidupkan kembali kenangan menyakitkan itu dengan rasa sakit yang baru.

Maaf, saya tidak pernah bisa bersimpati dengan Anda. Kakek buyut saya meninggal di tangan kakek-nenek Anda dalam pembantaian Al-Telal. Dan beberapa kakek-nenek saya berikutnya meninggal di tangan kakek-nenek Anda juga. Adapun putra saya satu-satunya, dia meninggal di tangan orang yang diberi senjata, uang, dan tempat yang aman oleh presiden Anda. Anak Anda mungkin salah satu dari mereka yang membantu para penjahat itu, melatihnya dan memberinya senjata, untuk melakukan kejahatan mereka.”


[jika dishare, teks terjemahan tdk akan terbawa, jadi hrs dicopas dulu]

“Demokrasi Itu untuk Kaum Kafir”

Setelah Aleppo sepenuhnya bebas dari teroris, netizen dari Lebanon bernama Hadi Nasrallah ini (background pendidikannya HI, dan selama ini aktif di medsos melawan narasi Barat dan propagandis Al Qaida) datang ke Aleppo.

Ia mendatangi pinggiran Idlib, melewati tol Aleppo-Damaskus yang sudah dibuka lagi. Di jalan, ia mendapati 200 papan pengumuman yang tertulis ‘Jabhah Al Nusra’ (artinya, dibuat oleh JN alias Al Qaida).

Salah satu di antara isinya: demokrasi adalah untuk orang kafir.

Sungguh aneh, AS yang sering dijadikan kiblat demokrasi dan memerangi berbagai negeri demi demokrasi, justru membantu JN dkk di Idlib. Bukan cuma AS, bahkan Turki yang mengaku negeri demokratis sampai terjun ke Idlib berperang langsung melindungi JN dkk.

Suporter JN di Indonesia juga mengharamkan demokrasi. Jadi kalau mereka berkuasa, tentu akan ada plang kayak gini di berbagai sudut kota.


[kalau link ini dishare, pengantar dari saya tidak terbawa, jadi harus dicopas dulu]

Bukan cuma AS yang bantu-bantu para teroris di Idlib.
Tapi juga Prancis.
Simak selengkapnya di tulisan ini

Jejak Prancis di Tengah Para Teroris Idlib

AS secara terang-terangan membantu para teroris di Idlib.

Foto ini adalah Duta Besar AS untuk PBB, Kelly Craft, bersalaman (ada video dan foto lain juga), berpose bersama anggota White Helmets. Saya sudah sering menulis, siapa WH ini, yang tak lain anggota milisi teroris yang berganti baju supaya tampil seolah ‘relawan kemanusiaan’.

Craft menjanjikan bantuan untuk para pengungsi Idlib. Craft datang bersama pejabat AS lainnya, Perwakilan Khusus AS untuk Suriah, James Jeffrey.

Jeffrey mengatakan, “Kami siap untuk menyediakan – seperti dikatakan Presiden – amunisi.. Turki adalah sekutu NATO. Kami punya program penjualan alat militer yang sangat-sangat besar; sebagian besar dari peralatan militer Turki menggunakan perlengkapan [produk] AS. Kami akan memastikan bahwa perlengkapan itu siap [disuplai]. Sebagai rekan NATO, kami berbagi informasi intelijen…dan kami akan memastikan bahwa Turki memiliki apa yang mereka butuhkan di sini [Suriah].” [1]

(lebih…)