Kajian Timur Tengah

Beranda » Tata Pemerintahan Global

Category Archives: Tata Pemerintahan Global

Dunia Kita (3)

bilderberg1Repost FB

Tulisan ini [bagian terakhir, sudah ya, habis ini beneran saya off FB sampai lebaran] akan membahas mengenai anggota Imperium. Yang dimaksud Imperium adalah korporasi-korporasi raksasa dunia + politisi elit dunia yang memiliki kekuasaan untuk mengatur dunia melalui kekuatan ekonomi-politik raksasa yang mereka miliki. Nah, mereka ini saling terkoneksi dan bertemu secara teratur setahun sekali di sebuah konferensi yang disebut Bilderberg.

Sebentar, sebelum muncul tuduhan ini bakal menjadi tulisan ala teori konspirasi, saya pastikan informasi yang saya tuliskan bersumber dari media-media sekuler (the Guardian, BBC, artikelnya Pepe Escobar, dll) yang semata-mata mengait-ngaitkan berbagai fakta dengan cara rasional. Btw, konspirasi itu sebenarnya sesuatu yang ‘wajar’. Konspirasi adalah kesepakatan di balik layar, dan hampir semua tahu, para politisi pasti melakukan sangat banyak konspirasi. Bahkan di olahraga pun kadang ada konspirasinya (misalnya mengatur skor). Yang salah adalah kalau ujug-ujug menuduh konspirasi tanpa argumen yang jelas, hanya mencocok-cocokkan.

Jurnalis Pepe Escobar, menulis, “Jadi apa yang dibicarakan 150 orang elit, 2/3-nya dari Eropa Barat, sisanya dari AS? Dapat diprediksi, yang dilakukan para menteri keuangan dan CEO dari mega-korporasi itu adalah ‘memelihara sistem dunia’ atau ‘turbo-financial capitalism’, dan perlunya mengubah beberapa hal kecil, sehingga sebenarnya tidak ada perubahan sama sekali [dalam sistem dunia].”

(lebih…)

Shiva, Pangan, dan Perdamaian Dunia

DINA-SULAIMAN-OKE

Tulisan saya terbaru di www.nefosnews,com

Mengapa petani kita harus hidup miskin? Sekitar 57 persen dari 68 persen penduduk miskin di pedesaan adalah petani. Padahal, mereka memproduksi sesuatu yang dibutuhkan oleh semua orang: pangan. Mengapa setelah 69 tahun Indonesia merdeka, kita semakin tak mampu mencukupi kebutuhan pangan secara swadaya? Pada tahun 2013 saja, kita telah mengeluarkan dana Rp 175 triliun untuk impor produk pertanian. Ironisnya, bahan pangan yang kita impor adalah bahan pangan yang seharusnya bisa kita tanam sendiri: sayuran, beras, jagung, kedelai, singkong, kelapa, lada, gula, cabai, bawang merah, bawang putih, dan lain-lain.

Dalam kurun 10 tahun (2003-2013), ada 5 juta petani Indonesia yang memilih berhenti bertani. Mengapa?

Seorang perempuan India telah menjelaskan jawaban atas pertanyaan di atas, sejak bertahun-tahun yang lalu. Perempuan itu bernama Vandana Shiva, seorang doktor di bidang fisika kuantum yang kemudian lebih memilih untuk berjuang di bidang pertanian.

Pada tanggal 18 Agustus lalu, Shiva datang ke Indonesia untuk memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia. Dan kembali, seolah tak pernah lelah, dia menjelaskan lagi jawaban atas pertanyaan di atas.

Selengkapnya, silahkan klik tulisan di website :  Shiva, Pangan, dan Perdamaian Dunia

Kilas Balik: Genderang Perang di Syria (2011)

Baru nyadar, ternyata tulisan saya tahun 2011, tentang keterlibatan Barat dan Israel dalam konflik  Suriah, belum dimuat di blog ini. Tulisan ini saya buat bersama M. Arief Pranoto (research Associate di Global Future Institute). Saat itu, media mainstream masih menutup-nutupi banyak fakta. Info didapat dari jurnalis-jurnalis independen, antara lain kontributor Global Research (Canada). Kini, setelah dua tahun berlalu, apa yang kami tulis itu menjadi terungkap dengan sangat jelas: AS memang sangat berambisi menggulingkan Assad, demi membela Israel.

Tulisan berikut dimuat di IRIB Indonesia pada 22 Desember 2011.

Genderang Perang di Syria: Konspirasi dari Jordan dan Turki

Dina Y. Sulaeman dan M. Arief Pranoto

Some of the US forces that left the Ain al-Assad Air base in Iraq last Thursday, did not come back to the USA or its base in Germany, but were transferred to Jordan during the evening hours.”(Global Research, 12 Desember 2011).

Berita-berita dari luar media mainstream mulai menguak rencana negara-negara adidaya untuk menggulingkan Bashir Al Assad, Presiden Syria. Tentara AS yang konon sudah ditarik pulang, ternyata justru dipindahkan ke Yordania. Tepatnya, ke Pangkalan Udara King Hussein di Al Mafraq. Laporan lain menyebutkan bahwa ratusan tentara yang berbicara dalam bahasa-bukan-Arab terlihat mondar-mandir di antara pangkalan al-Mafraq dan desa-desa di perbatasan Yordania-Syria. Menurut Global Research, disinyalir, tentara-tentara asing itu adalah serdadu NATO.

Al Mafraq adalah nama daerah perbatasan di Yordania. Jaraknya sekitar 10 kilometer dari Syria. Bagi Yordania, Al Mafraq boleh dibilang “wilayah konspirasi” karena konspirasi yang dijalin oleh Yordania, Inggris, dan Israel guna menggulingkan pemerintahan di Syria pada masa lalu memilih Al Mafraq sebagai pusat kegiatan. Tokoh perintis di Al Mafraq bernama Salim Hatoom, seorang mayor yang gagal melakukan kudeta terhadap Presiden Suriah Nureddin al-Atassi dan Salah Jadid dekade 1960-an. Pada September 1968, ia melarikan diri ke Yordania dan mendirikan kamp militer di Al Mafraq. Dari tempat ini pula, ia memulai ‘karir’ sebagai pemberontak terhadap pemerintah Syria.

Tampaknya kisah Hatoom, meskipun tak sukses, mengilhami Syrian Islamic Brotherhood dan sayap militernya, At-Taleeah ​​alIslamiyyah al-Muqatilah  untuk melakukan perjuangan  -atau pemberontakan- terhadap Hafez Al Assad, Presiden Syria (1971- 2000). Mereka menggunakan pola-pola yang sama dengan Hatoom:  dilatih oleh militer Yordania dan intelijen Israel, lalu turun ke jalanan kota-kota di Syria untuk melakukan kekacauan, merusak fasilitas umum, bahkan kalau perlu melakukan pembunuhan terhadap orang-orang tidak bersalah. Tujuannya, tidak lain ialah menciptakan destabilisasi politik dalam negara. Tak heran bila aksi-aksi demo itu sampai berani menyerang markas militer dan bahkan menggunakan roket.

Agaknya, sejarah Syria kini tengah berulang. Sejak musim semi lalu, banyak serdadu Syria yang melarikan diri dan ditampung dalam di kamp militer di sebelah barat kota Salt, Yordania. Mereka kemudian diinvestigasi oleh intelijen militer Israel (AMAN), di bawah pengawasan intelijen Jordan. Tujuannya adalah untuk mengorek mencari informasi terkait kekuatan militer Syria pasca tahun 2006.

(lebih…)

Chavez, In Memoriam

Dina Y. Sulaeman*

chavez

Chavez adalah pemimpin yang fenomenal dan spirit perjuangannya melintasi batas agama dan bangsa. Saat dunia beramai-ramai melakukan pembunuhan karakter terhadap Ahmadinejad dan pemerintahan Islam Iran, yang tampil sebagai pembela terdepan justru seorang Nasrani dari Amerika Latin: Hugo Chavez. Saat pemimpin negara-negara Arab berbaik-baik dengan Israel, justru Chavez menolak dubes Israel. Menyusul operasi ‘Menuang Timah’ yang dilancarkan Israel di Gaza 2009, Chavez mengecam keras Israel dan menyebut bahwa holocaust tengah terjadi di Gaza. Dia pun mengusir Dubes Israel keluar dari Venezuela. Saat negara-negara Arab bergandengan tangan dengan AS, Prancis, dan Inggris untuk menyuplai dana dan senjata kepada Al Qaida (atau kelompok yang ‘sejenis’ Al Qaida) di Syria, Chavez justru mengirimkan minyak untuk membantu bangsa Syria yang sedang diblokade ekonominya.  Dengan blak-blakan Chavez menyindir Barat, “Mereka berkata, ‘kami akan beri sanksi pemerintah.. kami akan membekukan aset mereka.. kami akan memblokade mereka, mengebom mereka, demi membela rakyat.’ Wow, betapa sinisnya. Tapi itulah imperium, itulah kegilaan imperium.”

Sebagaimana juga pemimpin negara-negara yang berani melawan ‘imperium’, Chavez pun tak luput dari ancaman kudeta dan pembunuhan, serta pembunuhan karakter.  Kejadian tahun 2002 adalah salah satu upaya terbesar yang dilakukan imperium untuk menggulingkan Chavez, meski gagal. Saat itu, Chavez mengalami pembunuhan karakter yang dilakukan oleh media-media mainstream AS. Saat itu, sebagaimana juga sekarang, standar objektivitas jurnalistik telah dibuang lewat jendela. Chavez difitnah. Sementara lawannya, yang sebagian besar terdiri dari kaum oligarki Venezuela dan kalangan menengah ke atas, dicitrakan sebagai pejuang demokrasi. Pernyataan dari pihak oposisi dilaporkan sebagai fakta dan diperlakukan dengan penuh respek, sementara pernyataan dari pihak pemerintah dicemooh.

Mari kita lihat beberapa kutipan dari New York Times antara Maret-April 2002. Pada 26 Maret, New York Times menulis, “Para pegawai (pemerintahan) pemberontak telah memberi energi bagi gerakan oposisi yang terpecah-pecah namun terus tumbuh, yang menggunakan protes regular di jalanan untuk melemahkan Mr Chavez yang memiliki gaya aristocrat dan memiliki kebijakan sayap kiri yang telah menindas orang-orang yang jumlahnya terus bertambah. …”

(lebih…)