Kajian Timur Tengah

Beranda » Tata Pemerintahan Global

Category Archives: Tata Pemerintahan Global

Pandemi berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya…

Sudah lebih dari dua tahun berlalu sejak covid “resmi” jadi pandemi. Sebagian besar rakyat sudah menjalani hidup normal, Tapi masih ada yang masih mempertahankan ketakutan dan narasi untuk memperpanjang proyek pandemi. Sekarang, keputusannya ada di tangan kita sendiri.

Apa masih mau menerima begitu saja ramalan dari BG yang bukan ahli virus (tapi mungkin memang ahli virus komputer)? Media di Indonesia sangat sering mewawancarai epidemiolog, dan orangnya biasanya itu lagi itu lagi. Apa masih belum mau peduli, apa beda epidemiolog dan virolog?

Berita terbaru, Indonesia sudah impor vaksin cacar monyet, dan seperti biasa, media pun mewawancarai epidemiolog yang mendukung/mengendors keputusan ini.

Apa masih mau terima saja info dari media, atau MEMILIH BELAJAR MANDIRI, belajar dasar-dasar virologi, imunologi, dan vaksinologi dari orang yang benar-benar meneliti virus?

(lebih…)

DIPLOMASI (dan kelakuan Kompas)

Barusan saya buka twitter, sedang trending “Putin”. Saat saya klik, banyak cuitan mengejek Pak Jokowi. Pasalnya, ada berita dari Kompas berjudul “Ukraina Bantah Zelensky Titip Pesan pada Putin.” Akibatnya, Presiden RI diejek dan ditertawakan oleh sebagian rakyatnya sendiri.

Saat diklik, judulnya beda lagi: “Pesan Tak Tertulis Zelensky untuk Putin melalui Jokowi

Isi berita Kompas mengutip TASS (media Rusia). Jadi, saya cek ke berita aslinya di TASS:

Judul: Zelensky’s message delivered by Indonesian president to Putin wasn’t in writing — Kremlin [Pesan Zelensky yang disampaikan oleh presiden Indonesia kepada Putin tidak tertulis — Kremlin]

Isi berita: Pesan dari Presiden Ukraina Vladimir Zelensky yang disampaikan Presiden Indonesia Joko Widodo kepada pemimpin Rusia Vladimir Putin tidak tertulis, kata Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan, Jumat.

(lebih…)

National Interest

Kepentingan nasional (national interest) biasanya selalu dijadikan patokan utama sebuah negara dalam bertindak. Meski, memang sering juga dipertanyakan, siapa sih yang menentukan ‘national interest’? Apa benar-benar rakyat, atau elit? Kalau rakyat, gimana cara rakyat menetapkan mana yang national interest atau bukan?

Contohnya, AS, saat ini sangat kerepotan menghadapi naiknya harga BBM gara-gara konflik Rusia vs Ukraina sendiri. Dan sebenarnya: gara-gara keputusan AS sendiri untuk mengembargo Rusia. Nah, elit AS menganggap ini national interest AS. Tapi apa rakyatnya setuju? Belum tentu.

Baru-baru ini, CNN mewawancarai Brian Deese, penasehat Joe Biden. Si reporter, “Apa yang Anda katakan kepada keluarga yang mengatakan, ‘Kami tidak mampu membayar $4,85 per galon selama berbulan-bulan, apalagi bertahun-tahun!’..?

(lebih…)

Kedaulatan Pangan

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/2147304338776269

[Jangan gagal fokus ya: yang dibahas ini aspek kedaulatan pangannya, bukan perangnya].

Embargo di berbagai lini terhadap Rusia yang dilakukan oleh negara-negara Barat (dan negara-negara non-Barat pengekornya, misalnya, Jepang) ternyata tidak berhasil membuat Rusia takluk. Justru yang sekarang teriak-teriak soal “food security” malah Barat. Lha kalian yang mengembargo, malah sekarang kalian yang bingung sendiri.

Apa tidak terpikir oleh kalian (Barat) bahwa selama 8 tahun pasca kudeta 2014, kalian sudah mempersiapkan Ukraina untuk berperang melawan Rusia (dengan menyuplai senjata dan melatih tentara), tentu sudah pasti Rusia juga melakukan persiapan penuh, di berbagai lini.

Pertanian, pastilah salah satu fokus utama Rusia, karena yang paling penting dipersiapkan sebuah negara yang bersiap-siap mau perang adalah PANGAN. Ini jangan dimaknai sebagai dukungan atas perang ya. Tapi sejak dulu Bung Karno pun sudah bilang, bahwa PANGAN adalah hidup matinya sebuah bangsa. Percuma punya militer kuat, senjata banyak, tapi kalau pangan kurang, ya keok juga.

Persisnya seperti ini kata Bung Karno:

(lebih…)

Soros dan Virus

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/998932677293343

Menyambung tulisan saya sebelumnya soal “konspirasi.” Mereka yang aktif mengamati politik global, tentu kenal nama George Soros. Menyebut namanya sering diidentikkan dengan “teori konspirasi” (sama seperti kalau kita sebut nama Bill Gates). Padahal, sangat mungkin untuk membahas Soros dengan data dan pengambilan konklusi yang logis.

Dalam krisis moneter Asia 1998, yang akhirnya membuat Suharto lengser, dan Indonesia beralih menjadi negara yang lebih demokratis (dan di saat yang sama, lebih neoliberal, lebih membuka pintu lebar-lebar bagi investor asing), Soros berperan penting.

Dalam berbagai revolusi berwarna di Eropa timur, juga penggulingan rezim-rezim di Timur Tengah, kita bisa menemukan data valid mengenai peran NGO-NGO “demokrasi” yang didirikan Soros. Untuk Rusia, NGO/yayasannya Soros (Open Society) sudah lama berupaya menumbangkan Putin dengan cara klasik “gerakan demokratisasi.” Tahun 2015, akhirnya Rusia melarang semua aktivitas yayasan Soros dengan alasan “mengancam keamanan negara.” Lalu, Soros pun terang-terangan, berkali-kali, mengatakan Putin harus ditumbangkan.

(lebih…)

Pelaku Utama Kejahatan di Muka Bumi

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman

Ini sama sekali bukan teori konspirasi, buktinya sudah sangat banyak. Artikel jurnal, buku, makalah, laporan riset, sangat banyak mengungkap bahwa AS telah melakukan kejahatan kemanusiaan di berbagai penjuru dunia, baik secara langsung ataupun melalui proxy (kaki-tangan)-nya.

Intisari dari video ini (bahwa AS adalah pelaku utama kejahatan di muka bumi sambil menuduh pihak lain sebagai pelanggar HAM) sudah sering disampaikan pemimpin Iran, Suriah, ataupun pimpinan Hez.

Menarik disimak, narasi yang sama disampaikan oleh jubir Kemenlu China, Zhao Lijian (wakil direktur Departemen Informasi Kementerian Luar Negeri Tiongkok), dengan mengenang kejahatan kemanusiaan yang dilakukan AS di beberapa negara Asia.

(untuk WNI yang tinggal di AS tidak perlu sensi, yang dibahas ini kan elit/pemerintah, bukan rakyat.)

Apa Putin Jadi Datang ke Indonesia untuk G20?

Tidak tahu, kan masih lama (15 November), apapun bisa terjadi. Jawaban terbaru dari Kemenlu kemarin (Kamis, 21 April) dalam press briefing mingguan yang digelar secara daring:

1. Yang diberitakan Kompas:

“Kalau KTT masih lama. Ini pembahasannya masih dinamis. Kembali lagi, bukan pada saatnya saya menjawab pertanyaan itu,” ujar Duta Besar Dian Triansyah Djani. [1]

2. Yang diberitakan CNN Indonesia:

“Sebagai presidensi, tentunya, dan sesuai dengan presidensi-presidensi sebelumnya adalah untuk mengundang semua anggota G20,” kata Staf Khusus Menteri Luar Negeri untuk Program Prioritas, Dian Triansyah Djani [2]

Jadi, ya kita tunggu saja, bagaimana cerita akhirnya.

(lebih…)

Indonesia Mau Belajar Pertanian ke Israel? (1)

Tentu saja ini sangat absurd. Indonesia sudah sangat banyak ahli yang mampu memaksimalkan produksi tanaman pangan. Masalahnya tinggal di kebijakan dan implementasi. Disertasi saya membahas soal ini, jadi saya tidak asal klaim. Salah satu informan riset saya adalah Prof. Mubiar (alm) dari ITB. Beliau berhasil menciptakan sebuah metode penanaman padi yang berbasis kearifan lokal Sunda, dengan tingkat panen yang sangat tinggi dengan modal rendah (tanpa perlu bergantung pada benih pabrik, insektisida kimia, dan pupuk pabrik).

Ketika saya tanya beliau, “Mengapa metode ini tidak diimplementasikan secara besar-besaran di seluruh Indonesia?” Beliau menjawab, “Itu juga pertanyaan saya.” Metode beliau ini sudah sampai kok ke level elit, sudah pernah panen massal juga dihadiri Pak SBY.

Karena itulah, sangat absurd kalau pertanian digadang-gadang sebagai “pintu” untuk membuka hubungan diplomatik Indonesia-Israel. Berita Jerusalem Post (11 Jan 2022) yang saya tampilkan screenshotnya ini, berjudul “Bagaimana pertanian membuat menteri pertahanan Indonesia berbicara tentang normalisasi dengan Israel.”

Berikut ini saya terjemahkan sebagian isinya:

**

(lebih…)

“Normalisasi” Itu Seharusnya Kayak Gini

Istilah “normalisasi” dengan Israel, sebenarnya agak aneh. Indonesia didorong pihak-pihak tertentu untuk “menormalisasi” hubungan dengan Israel. Indonesia kan tidak pernah menjalin hubungan diplomatik sebelumnya dengan Israel dengan alasan “penjajahan Israel pada Palestina.” Jadi apanya yang dinormalkan? Menormalkan [=menganggap normal] penjajahan?

Ada fenomena yang lebih tepat disebut “normalisasi”, misalnya kembalinya hubungan baik antara Suriah dan Yordania. Selama perang Suriah, Yordania sudah berkhianat kepada tetangganya itu, dengan menyuplai senjata kepada para “demonstran” di Daraa dan membiarkan perbatasannya ditempati “pasukan-pasukan asing yang tidak berbahasa Arab” (demikian dilaporkan sejumlah media, di tahun 2011, di awal-awal konflik Suriah).

(lebih…)

Persahabatan Iran dan Venezuela

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/922840101689915

Kedua negara ini sama-sama disanksi habis-habisan oleh AS. Yang satu negara Muslim, yang satu negara mayoritas Kristiani. Persamaan di antara keduanya ada dua: keduanya menolak tunduk pada kemauan AS dan sama-sama mendukung penuh perjuangan Palestina. Keduanya juga bekerja sama dalam mengatasi kesulitan ekonomi akibat embargo AS.

Pada 12 Juni 2020, Alex Saab, seorang pengusaha Venezuela yang berstatus diplomat, telah diculik, lalu dipenjara oleh AS, diadili dengan tuduhan pencucian uang dan korupsi.

Saab ditangkap di Cape Verde, sebuah negara kecil di samudera Atlantik, ketika pesawatnya mengisi bahan bakar (Saab baru kembali dari Iran, menuju Venezuela).

(lebih…)