Kajian Timur Tengah

Beranda » terrorism

Category Archives: terrorism

Laith Marouf

Laith Marouf (seorang penulis yang aktif memberitakan konflik di berbagai penjuru dunia), menulis status (saya terjemahkan):

“Setelah 2011, Imperium [kekuatan kapitalis Barat] mengambil cadangan senjata mereka di Libya dan Ukraina lalu menyerahkannya kepada Al Qaida dan ISIS untuk menghancurkan Suriah. Ketika senjata-senjata itu tidak cukup, Imperium mengambil semua persediaan senjata dari negara-negara eks Soviet yang berada di bawah kendalinya, dan memindahkannya ke Suriah. Ketika tidak cukup juga, setiap pabrik senjata dari Ukraina hingga Beograd memproduksi senjata hingga kapasitas maksimum untuk memenuhi kebutuhan pasukan Contras [pasukan “jihadis”]; yang sekarang juga diaktifkan di Yaman. Setiap hari pesawat mendarat di Turki, Yordania, Irak dan Saudi; membawa 100 ton senjata dan menyebabkan kematian lebih dari setengah juta warga Suriah dan Yaman dalam 8 tahun.”

Kebetulan saya (dan kolega) pernah menulis artikel jurnal yang membahas pelanggaran perjanjian internasional mengenai penjualan senjata, yang dilakukan oleh sejumlah negara, yang digunakan untuk aktivitas terorisme di Suriah. Dengan kata lain, statusnya Laith ini terkonfirmasi di artikel saya itu.

Silahkan dibaca bila tertarik. Artikel berbahasa Indonesia ya, judul di web otomatis yang muncul B. Inggris.

https://ic-mes.org/jurnal/index.php/jurnalICMES/article/view/17

Revolusi Berkedok Agama

Di status sebelumnya (Lithium di Bolivia), saya tuliskan kesamaan pola agenda “penggulingan rezim” antara Bolivia dan Suriah, yaitu perebutan sumber daya alam. Nah, di video ini terlihat kesamaan kedua: Elang Gundul [AS] menggunakan kelompok agama radikal/fundamentalis sebagai proxy. Apa itu proxy? Istilah lainnya “kaki tangan”. Mereka dibiayai, dilatih, didukung melalui propaganda media, dll, oleh AS, untuk menggulingkan rezim-rezim yang tidak sejalan dengan kepentingan AS. Tapi pelakunya tetap saja orang lokal.

Biasanya kalau saya bilang: “di belakang ISIS/Al Qaida ada AS” yang ngamuk ada 2: pembela AS dan pendukung ISIS.

Pembela AS biasanya akan mengolok-olok “kamu pakai teori konspirasi!”. Di kolom komen saya taruh video anggota parlemen AS yang berpidato di depan parlemen AS, mengecam pemerintahnya yang selama bertahun-tahun mendanai ISIS dan Al Qaida. Kalian mau lebih Amerika dari anggota parlemen Amerika?

(lebih…)

Israel Mengebom Damaskus dan Gaza (Lagi)

Kemarin, Selasa dini hari (12/11/2019) Israel mengebom dua target sekaligus, dalam jeda waktu sekitar 1 jam: kediaman Baha’ Abu Atha di Gaza dan kediaman Akram Ajour di Damaskus. Abu Atha tewas, Akram Ajour selamat (tapi anaknya dan cucu perempuannya tewas).

Kedua orang itu adalah pimpinan Jihad Islam, sebuah milisi perlawanan di Gaza. Dari info ini, ada beberapa poin yang perlu dicatat:

1. Suriah sejak dulu adalah pendukung utama pejuang Palestina melawan Israel. Hamas dan Jihad Islam punya markas di Damaskus. Anehnya, banyak orang yang mengaku pro Palestina malah mendukung penggulingan Assad. Ini artinya mereka belum paham geopolitik, mungkin hanya dengar info dari ustad-ustad IM/HTI/Al Qaida.

(lebih…)

Pendiri White Helmets Tewas Bunuh Diri?

Baru saja berbagai media memberitakan matinya pendiri White Helmets, James Le Mesurier. Ia tewas terjatuh dari balkon apartemennya di Istanbul. Entah bunuh diri, entah dibunuh. [1]

Saya nyaris speechless. Saya teringat kejadian Agustus 2016, ketika menulis klarifikasi tentang kisah “si bocah di kursi oranye” yang diproduksi White Helmets. Tulisan saya dibalas sangat sadis oleh para “ikhwan” dan “akhwat”, yaitu dengan mencuri foto saya yang sedang memangku anak, lalu membuat meme sadis dan disebar masif. Karena bawa-bawa anak saya, rasa sakit hati saya saat itu tentu lebih besar.

Lalu saya menulis ini (status FB tahun 2016, sedikit diedit supaya lebih ringkas):

***

Alih-alih memberikan jawaban yang logis untuk menjawab argumen-argumen yang saya berikan, mereka malah sibuk menghujat, membully, dan bahkan membuat meme yang menggunakan foto saya dan anak saya.

(lebih…)

Siapa yang Radikal? (2)

Baru saya sadari, selain kaum Muslim tekstualis (kaum takfiri, jihadis), ternyata ada satu pihak lagi yang yang tersinggung dengan istilah “radikal”. Siapa mereka? Itulah orang-orang “pejuang kebebasan” atau “antifasis” atau “antioligarki” atau “libertarian” atau SJW (social justice warrior). Ya pokoknya yang itu-itulah, yang anti kemapanan, maunya protes melulu. Pasalnya mereka itu menganggap diri radikal sejak dulu dan merasa radikal adalah istilah keren penuh heroisme. Kok enak aja, tiba-tiba dikatain identik dengan ISIS, Al Qaida, dll? 😀

Nah kalau kelompok Muslim tekstualis itu menolak disebut radikal dengan alasan “ini sebutan yang memojokkan Islam!”, para “pejuang antifasis” (atau apalah apalah itu, whatever mereka mau menamakan diri) marah karena menurut mereka “radikal” istilah yang maknanya positif.

(lebih…)

Maulid di Damaskus

Selamat merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW kepada teman-teman Muslim. Semoga kita bisa semakin menghayati dan mengaktualisasikan nilai “Islam rahmatan lil alamin” dalam perilaku kita sehari-hari. Aamiin YRA.

Untuk pemerhati konflik Suriah, di link di bawah ini ada kumpulan foto peringatan Maulid Nabi di Damaskus (2018).
Tampak Presiden Assad dan para ulama serta hadirin lainnya menunaikan sholat (Isya) berjamaah sebelum acara tsb. Tampak juga foto Dr. Taufik Al Buthy yang sedang membaca doa. https://id.abna24.com/news//suasana-peringatan-maulid-nabi-muhammad-saw-di-damaskus-suriah_917456.html

Dr Taufik ini pernah berkunjung ke Indonesia dan memberi penjelasan soal konflik Suriah. Silahkan baca di sini: https://www.nu.or.id/post/read/103556/ke-suriah-atas-nama-jihad-syekh-taufiq-al-buthi-mereka-tidak-mengerti-islam

Dr. Taufik adalah putra alm. Syekh Buthy, ulama terkemuka Suriah yang gugur syahid akibat bom bunuh diri yang dilakukan teroris. Saat itu, beliau sedang berceramah di dalam masjid.

(lebih…)

Tiba-tiba teringat Assad, dia bilang [kepada negara-negara penyokong “jihadis” yang menyerbu Suriah selama 8 tahun], “Terorisme bukan kartu yang bisa Anda mainkan lalu Anda masukkan lagi ke kantong. Seperti kalajengking, ia akan menggigit Anda kapan saja.”

Ini nasehat yang juga sangat patut diingat oleh setiap elit di Indonesia. Memelihara kelompok radikal dan menjadikan mereka sebagai kartu politik belaka [indikasinya: tidak pernah mau bertindak tegas, terstruktur, dan sistematis menghadapi radikalis] adalah tindakan berbahaya yang menghancurkan bangsa ini. Dan negara ini bagaikan kapal, kalau tenggelam, semua ikut tenggelam, termasuk yang memeliharanya dan menjadikannya alat politik.

Semoga Allah menjaga bangsa ini.

sumber meme: @SyrianperNews

Propaganda Kucing dan Bangau ala “Jihadis”

Dulu, di medsos, para petempur ISIS (yang berasal dari negara Barat) mempropagandakan “jihad” dengan memposting foto-foto mereka bersama kucing-kucing lucu. Si kucing ditaruh di sebelah senapan, atau senjata lainnya. Sasarannya gadis-gadis muda di Barat, demi membuat mereka terpesona pada “kegagahan” sekaligus “kelembutan” para teroris itu, lalu mau meninggalkan negara mereka demi bergabung dengan ISIS (sekarang banyak perempuan dari Eropa itu yang berada di kamp penampungan di Suriah setelah ISIS kalah, mereka memohon-mohon supaya boleh pulang).

Untuk yang tertarik dengan studi terorisme, ini pembahasan yang menggelitik: AS memasukkan IRGC (Garda Revolusi Iran) sebagai organisasi teroris asing (Foreign Terrorist Organization/FTO). Iran membalas, mendeklarasikan bahwa CENTCOM (Komando Sentral AS) dan segenap tentara AS di Timur Tengah adalah “organisasi teroris”. Nah bagaimana analisisnya? Siapa yang sebenarnya bisa dikategorikan FTO?

Silahkan dibaca, ditulis oleh Prihandono Wibowo (Staf Pengajar di UPN “Veteran” Jawa Timur)

Masalah Pelabelan “Teroris” Terhadap Garda Revolusi Iran

Presiden Turki Erdogan dijuluki oleh beberapa analis geopol (misalnya, Pepe Escobar) ‘Sultan Teflon’ karena dia licin sekali, anti lengket, bisa berpindah haluan dengan sangat enteng. Kalau pakai perspektif HI, Erdogan ini bisa disebut tipe realis tulen, apapun yang penting buat negaranya, itulah yang ia lakukan, bahkan bila harus membantai tetangga sendiri. Baru hari ini Erdogan tertawa-tawa bersama Assad dan istrinya, menyebut Assad ‘my brother’, esoknya dia sudah memberi dukungan pada milisi bersenjata untuk menggulingkan Assad.
 
Selama bertahun-tahun (sejak 2012) ia membuka perbatasan Turki-Suriah untuk lalu-lalang pasukan teror termasuk ISIS untuk keluar-masuk Suriah, serta membeli minyak yang dicolong dari kilang-kilang Suriah, namun kini (17 September 2019) ia menceramahi para pemimpin negara Muslim soal ukhuwah. Padahal dulu Maret 2015, dia menyatakan mendukung intervensi Saudi di Yaman dan bahkan siap bantu logistik. Benar-benar sultan anti lengket.
 
Anda bisa tonton di video ini, pernyataan terbaru Erdogan soal Yaman. Patut diakui, apa yang dikatakan Erdogan kali ini benar adanya. Kata dia, “Kita harus melihat bagaimana konflik ini dimulai, siapa yang menyebabkannya? Mereka telah menghancurkan Yaman.” Siapa? Tak lain, Arab Saudi. Saat Yaman mengalami konflik internal, Saudi ikut campur dengan membombardir warga sipil serta infrastruktur sipil. Sebelum menjatuhkan bom pertama kalinya (Maret 2015), Menlu Saudi saat itu, Adel Al Juber ke Washington dan bertemu Obama, minta restu.