Kajian Timur Tengah

Beranda » Turki

Category Archives: Turki

ACT: “Pemerintah yang Syiah”??

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/437446604955340

Dalam konpersnya, ACT mengatakan:

“Bantuan ke Suriah itu kan ditanya, apakah ACT mengirimkan untuk pemerintah yang Syiah atau pemberontak yang ISIS? Kami sampaikan, untuk kemanusiaan itu tidak boleh bertanya kepada siapa yang kami bantu? Agamanya apa enggak penting. Kami berikan bantuan, mereka Syiah atau ISIS, karena mereka korban perang. Jadi kalau dibawa kemana-mana, kami jadi bingung. Dana yang disebut untuk teroris itu dana yang mana?” ujarnya (Tempo, 4 Juli 2022).

KOMENTAR SAYA:

(lebih…)

Melawan Lupa: “Kemana Donasi Mengalir?”

ACT pernah didatangi wartawan beberapa tahun yll. Inti masalah yang ditanyakan si wartawan “Kalau benar untuk Ghouta, masuknya lewat mana bro??”

Copas: jarak Ghouta Timur dari perbatasan Turki mencapai 450-an kilometer atau setara dengan jarak Jakarta-Semarang. Wilayah ini berbeda dengan Aleppo yang hanya 90-an kilometer dari perbatasan Turki, sehingga bantuan yang dikirim saat ramainya tagar SaveAleppo memiliki peluang lebih besar sampai ke tangan yang berhak ketimbang Ghouta Timur. Terlebih, jalur menuju Ghouta Timur dari Turki kini telah diambil alih oleh militer Suriah.

(lebih…)
https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/414222987006561

Israel dideklarasikan Mei 1948. Hubungan diplomatik Turki-Israel secara resmi dibuka Maret 1949. Sampai hari ini. Jadi tidak perlu heran kalau kedua menteri ini (Israel-Turki) berdialog hangat seperti terlihat di video.

Sebaliknya, Indonesia sejak era presiden Sukarno hingga hari ini selalu konsisten menolak membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Ada banyak pihak di Indonesia yang mengupayakan agar pemerintah Indonesia berubah posisi. Israel sendiri melalui yayasan dan NGO-nya melakukan berbagai upaya untuk menarik simpati kaum muda Indonesia, misalnya, memberikan beasiswa belajar pertanian, atau belajar koperasi, ke Israel. Lalu, membiayai kunjungan seleb-seleb medsos ke Israel, digelarnya forum-forum “toleransi” dll.

(lebih…)

Beda antara “Teori Konspirasi” dan “Konspirasi”

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/407861997880195

Jika dilihat dari sejarahnya, istilah teori konspirasi dulu dimunculkan oleh media-media AS (saat heboh terbunuhnya JFK) untuk membungkam pertanyaan kritis mengenai “siapa dalang dari semua ini?”

Hingga kini, seolah mempertanyakan “siapa dalangnya?” dari sebuah fenomena, dianggap “teori konspirasi.” Bahkan, sekedar mempertanyakan peran Bill Gates dalam pandemi, ada saja yang mengejek “ah elo pake teori konspirasi!”

Memang, sering terjadi, orang mencocok-cocokkan berbagai fakta dan membuat “teori.” Kalau yang model ini, ya cocok disebut “teori konspirasi,” karena masih sebatas teori, dan terpeleset pada sikap mencocok-cocokkan. Fakta-fakta parsialnya mungkin benar, tapi digabung-gabung semaunya sehingga membentuk kisah yang halu.

(lebih…)

Gimana Kabar “Jihadis” dari Suriah di Ukraina?

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/1406270366471099

Beberapa waktu yll saya menulis soal pengiriman “jihadis” dari Suriah. Sumbernya Al Mayadeen. Nah, ada komentator nyinyir soal foto (karena Al Mayadeen ternyata pakai foto lama, tapi sebenarnya, kalau pakai logika, informasi pengiriman “jihadis” ini kan diam-diam, jadi memang tidak/belum ada fotonya). Lalu ada juga yang nyinyir karena Al Mayadeen memasukkan info yang salah soal pertemuan Putin dengan pemimpin Jerman.

Saya sudah menuliskan update info di status tsb (mengoreksi soal foto dan soal pertemuan Putin).

Tapi, yang PALING PENTING DIPERHATIKAN adalah: benarkah ada pengiriman “jihadis” dari Idlib ke Ukraina?

(lebih…)

Pandangan Assad soal Konflik Rusia-Ukraina

Beberapa komentator yang sempat saya baca (tidak semuanya terbaca, tentu saja, saya harus bagi waktu dengan pekerjaan utama), ada yang sedemikian lugunya “Kok AS yang disalahin?! Udah jelas Rusia yang menyerang duluan?!” Ada juga orang yang sok tau, menulis status sinis, “Pokoknya semua salah Amerika!”

Nah, terus-terang saya tidak punya kesabaran untuk menjelaskan kepada mereka yang unyu-unyu ini. Padahal, mungkin saja mereka ini memang serius bertanya karena ga paham. Mungkin benar-benar unyu-unyu karena usia muda, atau usia udah tua tapi kemarin-kemarin tidak tertarik pada politik internasional.

Tapi saya memang paling kesel kalau ada yang nanya bab 1 padahal saya sudah lanjut bahas bab 8 atau 9. Jadi silakan nanya aja ke orang lain. Atau simak pidato Mr. Bashar Assad ini. Eh, tapi nanti ada lagi follower orang-orang yang sok tau soal Timur Tengah, dan nanya lagi, “Assad kan diktator? Masa didengerin kata-katanya?”

(lebih…)

Mengenang Serena Shim

Dua hari yang lalu, di sebuah akun di Twitter (saya lupa akun apa) ada yang mengucapkan selamat Hari Perempuan Internasional (tanggal 8 Maret) sambil mengenang jurnalis perempuan bernama Serena Shim.

Kematian Serena Shim sangat terkait dengan konflik Suriah. Dia warga AS, tapi bekerja untuk Press TV (Iran). Dia meliput di perbatasan Suriah-Turki dan pada 2013 telah melaporkan bahwa pasukan ISIS dan milisi Al Qaida lainnya secara bebas masuk ke Suriah melalui perbatasan Turki; ada kamp-kamp pelatihan teroris yang disamarkan sebagai ‘kamp pengungsi’, dan ada suplai senjata dari Pangkalan Udara AS Incirlik di Turki kepada teroris di kamp-kamp tersebut.

Pada Oktober 2014, Serena tewas secara mencurigakan dalam kecelakaan mobil di perbatasan Turki-Suriah. Usianya baru 29 tahun.

Tahun 2014 bisa disebut “masa jaya”-nya para “jihadis” (dari berbagai nama, berbagai kelompok), nyaris 80% wilayah Suriah mereka kuasai. Militer Suriah sudah kewalahan, dan kemudian minta tolong kepada negara-negara sahabatnya, termasuk Iran dan Rusia.

(lebih…)

“Jihadis” dari Idlib Sudah Tiba di Ukraina

Sebenarnya sejak 1 Maret 2022, Wakil Menlu Suriah, Bashar Jaafari, sudah memperingatkan bahwa sangat mungkin milisi ISIS dan milisi Al Qaida dari Suriah akan dikirim oleh AS ke Ukraina. Karena, sejak lama Suriah mengetahui bahwa AS mengirimkan milisi “jihad” ke kawasan konflik lainnya, antara lain Afghanistan. Karena itu, sangat mungkin, AS akan mengirim mereka juga ke Ukraina. [1]

Akhirnya, kemarin (8/3) Al Mayadeen mengkonfirmasi perkiraan itu. “Jihadis” dari Idlib, yang berasal dari kelompok Hay’at Tahrir Al Syam (HTS) sudah tiba di Ukraina. HTS ini semula bernama Jabhah Al Nusra (JN). JN ini sudah resmi masuk list teroris oleh PBB, lalu mereka ganti nama. JN dan berbagai milisi lain (ada ratusan nama) di Suriah adalah “keturunan” dari Al Qaida, makanya sering disamakan saja penyebutannya: “Al Qaida.”

INILAH SEBABNYA saya membuat podcast khusus untuk membahas soal Rusia dan Islam. Supaya banyak yang melek dan paham, seperti apa sebenarnya kondisi kaum Muslim di Rusia. Supaya, kalau di Indonesia mulai lagi ada yang berisik, menyeru “jihad” ke Ukraina untuk melawan apa yang mereka sebut “rezim komunis Rusia yang anti-Islam,” Anda sekalian sudah punya informasi yang benar, dan bisa berpartisipasi dalam mengedukasi publik.[2]

(lebih…)

Tragedi RS Al Kindi

Tepat 8 tahun yang lalu, Desember 2013, sejumlah tentara Suriah yang menjaga Rumah Sakit Al-Kindi di Aleppo, dieksekusi para “jihadis”. Sebagian netizen menjuluki para tentara ini “the last man of Aleppo” (para lelaki terakhir di Aleppo).

RS Al Kindi diserbu oleh beberapa milisi teroris, seperti FSA, Harakah Fajr Al Syam (sebagian besar termasuk militan berkebangsaan Turki), Ahrar al-Sham, Jabhat al-Nusra.

Mereka menyerbu Rumah Sakit Al-Kindi pada Desember 2013 dengan mengirim dua truk – bunuh diri yang memuat sekitar 40 ton bahan peledak. Lalu, mereka menduduki RS itu dan membunuhi orang-orang yang masih bertahan/tertahan di sana. Pada Mei 2014, para teroris meledakkan RS ini, setelah mereka mencuri isinya, senilai miliaran pound Suriah.

(lebih…)

Daraa

Karena besok saya akan webinar, membahas hoaks (saya khusus bahas hoaks Suriah, narsum lain, bahas topik lain), saya jadi teringat pada kisah kota Daraa.

Dulu, di akhir tahun 2011, saya pernah menulis soal Daraa, kota tempat dimulainya aksi-aksi demo menentang Bashar Assad. Banyak yang menyamakan aksi demo ini dengan aksi demo di negara-negara Timteng lainnya di masa yang sama (Arab Spring). Padahal tidak, yang terjadi di Suriah berbeda (demikian pula Libya).

Di Daraa, sebelum aksi demo yang menurut media Barat “damai”, senjata-senjata sudah disiapkan, masuk dari Jordan. Tentara-tentara berbahasa non-Arab sudah berdatangan di perbatasan Jordan-Suriah. Lalu, ketika terjadi bentrokan antara polisi dan demonstran, media Barat (dan media-media nasional di Indonesia yang cuma modal copas-terjemah) dengan sangat masif menyebarluaskan narasi: Assad diktator, membantai rakyatnya sendiri.

(lebih…)