Kajian Timur Tengah

Beranda » Turki

Category Archives: Turki

Tragedi RS Al Kindi

Tepat 8 tahun yang lalu, Desember 2013, sejumlah tentara Suriah yang menjaga Rumah Sakit Al-Kindi di Aleppo, dieksekusi para “jihadis”. Sebagian netizen menjuluki para tentara ini “the last man of Aleppo” (para lelaki terakhir di Aleppo).

RS Al Kindi diserbu oleh beberapa milisi teroris, seperti FSA, Harakah Fajr Al Syam (sebagian besar termasuk militan berkebangsaan Turki), Ahrar al-Sham, Jabhat al-Nusra.

Mereka menyerbu Rumah Sakit Al-Kindi pada Desember 2013 dengan mengirim dua truk – bunuh diri yang memuat sekitar 40 ton bahan peledak. Lalu, mereka menduduki RS itu dan membunuhi orang-orang yang masih bertahan/tertahan di sana. Pada Mei 2014, para teroris meledakkan RS ini, setelah mereka mencuri isinya, senilai miliaran pound Suriah.

(lebih…)

Daraa

Karena besok saya akan webinar, membahas hoaks (saya khusus bahas hoaks Suriah, narsum lain, bahas topik lain), saya jadi teringat pada kisah kota Daraa.

Dulu, di akhir tahun 2011, saya pernah menulis soal Daraa, kota tempat dimulainya aksi-aksi demo menentang Bashar Assad. Banyak yang menyamakan aksi demo ini dengan aksi demo di negara-negara Timteng lainnya di masa yang sama (Arab Spring). Padahal tidak, yang terjadi di Suriah berbeda (demikian pula Libya).

Di Daraa, sebelum aksi demo yang menurut media Barat “damai”, senjata-senjata sudah disiapkan, masuk dari Jordan. Tentara-tentara berbahasa non-Arab sudah berdatangan di perbatasan Jordan-Suriah. Lalu, ketika terjadi bentrokan antara polisi dan demonstran, media Barat (dan media-media nasional di Indonesia yang cuma modal copas-terjemah) dengan sangat masif menyebarluaskan narasi: Assad diktator, membantai rakyatnya sendiri.

(lebih…)

Jurnalis Perang Perempuan

Saya sering salut pada jurnalis perang perempuan. Dulu, saya pernah ingin seperti mereka, terjun langsung ke medan-medan perang. Tapi jalan hidup saya sesuatu yang lain lagi.

Tentu saja, tidak semua jurnalis perang layak dipuji karena ada juga yang memberitakan propaganda bahkan hoaks (yang mengikuti Perang Suriah pasti tahu) karena mereka bekerja di media mainstream. Media mainstream sudah terbukti berkali-kali menjadi corong kepentingan pemodal yang menginginkan perang.

Dalam Perang Suriah, Aljazeera termasuk media mainstream yang menyebarkan propaganda antipemerintah Suriah (dan berpihak kepada pemberontak/jihadis). Bahkan, beberapa kali kedapatan memberitakan info palsu. Yang sudah 10 tahun bersama saya mengikuti Perang Suriah, pasti tahu. Info-info palsu media mainstream soal Suriah berkali-kali didebunk oleh saya (dan oleh teman-teman lain).

[Semoga mereka yang sekarang sibuk men-debunk hoaks soal Taliban bisa ingat bahwa mereka dulu produsen hoaks soal Suriah.]

(lebih…)

Absurd

(1)

Kata teman saya, banyak fans Erdogan yang happy banget atas kemenangan Taliban. Saya juga lihat di twitter, akun yang berafiliasi dengan partai you know whatlah itu, yang di saat yang sama, kita juga tahu mereka ini pingin “pinjam” Erdogan buat jadi presiden di Indonesia, juga aktif men-debunk propaganda palsu soal Taliban.

Memang betul sih, banyak info hoax beredar, misalnya, video pembantaian ISIS atau Al Nusra, dibilang Taliban. Menurut laporan PBB, Taliban memang melakukan berbagai aksi kekerasan (di antaranya, pembantaian massal di Mazhar-i Sharif 1998), tapi pakai foto palsu ya tetap salah.

Nah, kepada fans Taliban-yang-juga-fans-Erdogan ini [karena, mungkin aja ada fans Taliban yang bukan fans Erdogan], saya mau kasih info sedikit, tentara Turki tuh hadir di Afghanistan lho, menjadi bagian dari pasukan NATO. Dan NATO ini posisinya adalah MEMBANTU Amerika melawan Taliban dan Al Qaida.

(lebih…)

Cara Menjadi Pengamat Timteng Yang “Bener”

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/547067159959637

Menjadi pengamat Timteng yang “bener” (yang didasarkan pada riset, membaca, dan mendengar sebanyak-banyaknya, baik info yang ada di media, maupun saluran-saluran lain) tidak mudah. Lebih mudah memang baca sedikit, lalu asal komentar.

Berusaha menjadi pengamat yang “bener” pun sering disalahpahami.

Misalnya, kalau menulis soal kejahatan AS di Afghanistan dan setuju penarikan mundur tentara AS, komentator pro AS akan bilang “oh, jadi lo pro Taliban?”

Di saat yang sama, saat mengkritisi kejahatan pada “jihadis” di Suriah dan kelakuan para pengepul donasi Suriah, dengan cepat berbagai tuduhan keji dilemparka oleh fans mereka.

Karena kajian Timteng itu penting (karena ada dampaknya pada kehidupan di Indonesia), saya ingin kasih “nasehat” kepada semua pihak yang berminat pada isu-isu Timur Tengah: silakan cek di video ini lihat betapa kompleks situasinya.

(lebih…)

Menyoal Donasi untuk Palestina

Karena sedang “rame” soal donasi untuk Palestina, saya merasa perlu berkomentar nih..

Tanggapan saya:

1. Publik sudah banyak yang tahu “cerita” soal donasi Suriah selama 10 tahun terakhir, yang SEBAGIAN terbukti jatuh ke tangan pemberontak/teroris Jaysh al Islam, kebetulan diliput oleh Euro News Channel [1]. Sebagian pengepul donasi Suriah pun jelas-jelas berafiliasi dengan para pemberontak/teroris ini (terlihat dari bendera FSA yang mereka kibarkan saat mengumpulkan donasi).

Pengalaman ini seharusnya dijadikan momentum oleh pihak berwenang untuk mulai melakukan AUDIT yang JELAS untuk setiap penggalangan donasi, untuk isu apapun.

Kebaikan dan kedermawanan bangsa Indonesia perlu dilindungi oleh pemerintah melalui regulasi dan pengawasan yang ketat.

Audit yang JELAS itu: bukan sekedar kata-kata dan foto bukti transfer: “sudah kok, disampaikan ke lembaga anu.” Atau sekedar foto beberapa orang Palestina pegang dus bantuan.

(lebih…)

“GHOUTA Timur Digempur, Suriah Kembali Berdarah-darah”.

Demikian judul kampanye pada laman website resmi organisasi kemanusiaan berbasis di Jakarta, Aksi Cepat Tanggap (ACT). Dalam kampanye bertanggal 21 Februari itu, ACT menyatakan, sejak 19 Februari (2018), militer Suriah membombardir daerah pinggiran Ibukota Damaskus itu dan mengakibatkan sediktnya 250 warga sipil tewas.

Gempuran Suriah atas Ghouta Timur, satu dari sedikit wilayah yang masih dikendalikan pemberontak bersenjata, memicu ‘histeria’ global, terutama di media Barat. Mereka bahkan menyebutnya “Neraka di Dunia”. Di media sosial, tagar #SaveGhouta pun mewabah. Di Indonesia, ACT menjadi yang terdepan dalam kampanye ini.

Baliho ‘Selamatkan Ghouta’ milik ACT telihat di berbagai sudut jalan utama Jakarta dan sekitarnya. Di sisi Jalan TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan, misalnya, terpampang baliho berlatar merah selebar enam meter. Foto bangunan yang luluh lantak dan tiga anak menangis memenuhi hampir tigaperempat bagian baliho. Di bagian bawah baliho, ACT menulis dua nomor rekening dengan pesan ‘Stop Suriah Memerah Darah’.“

(lebih…)

AS cuma memberi label teroris pada Al Nusra dan ISIS. Bagaimana dengan milisi-milisi lain di Suriah, seperti Free Syrian Army, Jaysh al Islam, dll (yang sering disebut “mujahidin” oleh para pendukungnya di Indonesia)?

Apa yang membedakan antara teroris dan bukan teroris?

Simak jawabannya dalam Serial Kajian Timur Tengah #2 bersama Dina Sulaeman

Video ini sekaligus jawaban untuk Ihsanul Faruqi, Misi Medis Suriah, dll. yang mengumpulkan donasi untuk Suriah dengan menebar narasi hoax “rezim Syiah membantai Sunni”.

https://www.youtube.com/watch?v=9kic_50wW40

Omongan Ihsanul Faruqi, orang-orang Golden Future, Misi Medis Suriah, Tengku Azhar, Fauzi Baadilla, dll… intinya cuma satu: sedang membela diri, menyatakan TIDAK mendukung terorisme.

Lalu siapa milisi bersenjata yang ada di Aleppo, Idlib, Ghouta, dll itu? Oh, itu sih “mujahidin” yang sedang memerangi rezim laknat, bla..bla..

Nah, dengan melihat video 5 menit ini, orang waras langsung bisa kok memutuskan siapa yang teroris, siapa yang sedang membela keutuhan negaranya.

Video bebas didownload dan disebar sendiri di berbagai platform.

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/179214633926195

Podcast Master Deddy yang mengundang saya telah direspons oleh banyak dari mereka. Secara serempak, beramai-ramai membuat “bantahan atas pernyataan Dina Sulaeman”.

Umumnya isi bantahan itu (selain mencaci-maki, ada juga yang mendoakan kematian saya) menceritakan sangat banyak kebohongan.

Antara lain kebohongan mereka: Assad melarang umat Muslim belajar baca Quran, melarang puasa, membenci Sunni, dll.

Bantahan atas sebagian kebohongan “mereka” itu ada di video ini. (Sebagian, karena saking banyak kebohongan mereka, tentu tidak cukup dibahas di 1-2 video).

Saya harap banyak yang bersedia men-sharenya. Kita semua harus semakin berani bersuara melawan “mereka” itu.

Salut pada Lion Fikyanto yang berani bersuara, menceritakan pengalamannya selama 9 tahun tinggal di Suriah (sejak 2011 sampai sekarang). Lion adalah mahasiswa Sunni Indonesia di Suriah

.https://www.youtube.com/watch?v=Cg2rDEmTxsY