Kajian Timur Tengah

Beranda » Turki

Category Archives: Turki

Mengapa Mereka Mendadak Heboh Soal Aleppo?

Di bawah ini saya copas status dr Joserizal yang menjelaskan mengapa kok mendadak para fans Erdogan di Indonesia (*presiden yang tertukar*) secara masif dan serempak menebar hashtag “save Aleppo” dan sibuk menggalang dana. Asal dijamin sampai ke warga sipil korban perang sih, kita dukung dong. Masalahnya, seperti kata Dubes Djoko, kan di tengah jalan bantuan itu sering diserobot pemberontak. Thanks to Allah, akhirnya kubu pro-mujahidin keceplosan ngaku bahwa senjata mrk dapat dari AS  dan bahwa dana yg mrk kumpulkan di Indonesia adalah utk mujahidin (lihat foto di bawah) Selain itu, kenapa sih pake menyebar foto-foto palsu dan memfitnah orang? Apa berbuat baik itu boleh saja didului dengan kejahatan?

(lebih…)

Merenungi Perang Salib

Dina Y. Sulaeman

I have given Jerusalem my whole life. First, I thought we were fighting for God. Then I realized we were fighting for wealth and land. I was ashamed
(Tiberias, Kingdom of Heaven)

Ada tulisan singkat tentang sejarah Perang Salib di sebuah web yang bagi saya menarik karena cara penulisannya yang singkat tapi ‘hidup’. Tanpa perlu berpikir keras dan waktu panjang, pembaca bisa menangkap situasi seputar Perang Salib. Namun ada bagian-bagian yang membuat saya memikirkannya lebih jauh.

(1)    Penekanan ke-Sunni-an atau Ke-Syiah-an Para Aktor Perang

[Setelah jatuhnya Jerusalem ke tangan Tentara Salib] Khalifah di Baghdad tidak mau repot-repot mengajak kaum muslimin untuk membela tempat-tempat suci mereka. Para Emir dari Dinasti Seljuk di seluruh dunia Muslim pun terlalu sibuk bertempur satu sama lain. Dan imperium Syiah Fatimiyah di Mesir bersekutu dengan Tentara Salib untuk merugikan Dinasti Seljuk yang Sunni. … Selama era itu, Mesir berada di bawah kendali dari Syiah Fatimiyah. Mereka bekerja sama dengan Tentara Salib untuk merugikan seluruh umat Islam.

Benarkah? Katakanlah benar bahwa Dinasti Fatimiah memang kejam, despotik, dll (sebagaimana juga Dinasti Seljuk, dan dinasti-dinasti Arab yang memang selalu  bertempur satu sama lain), lalu mengapa ditekankan masalah ‘Syiah’-nya?

(lebih…)

Erdogan Kena Batunya ?

Oleh : Dina Y. Sulaeman*

Menyusul terjadinya aksi demo di berbagai kota di Turki yang dihadapi dengan represif oleh polisi Turki, Menteri Penerangan Suriah Omran Al-Zoabi menyerukan Erdogan agar turun dari jabatannya. Al-Zoabi juga menyatakan, “Erdogan mengendalikan negaranya dengan cara-cara teror, menghancurkan peradaban dan prestasi rakyat Turki.”

Pernyataan Al Zoabi ini bisa dianggap sebagai sindiran telak untuk Erdogan. Masih tak luput dari ingatan para pemerhati konflik Suriah, bulan November 2011, Erdogan menyeru kepada Assad, “Untuk kesejahteraan rakyatmu sendiri dan kawasan, tanggalkan saja kursi itu.”

(lebih…)

Erdogan dan Netanyahu Berdamai?

Dina Y. Sulaeman

Perd-net-maherdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meminta maaf kepada Turki atas serangan tentara Israel terhadap kapal Mavi Marmara di laut Gaza. Permintaan maaf itu disampaikan Netanyahu pada hari Jumat 22 Maret. Laporan dari berbagai media awalnya menyebutkan bahwa permintaan maaf itu diterima Erdogan. AP menulis bahwa kantor Erdogan menyatakan, “perdana menteri kami menerima permintaan maaf itu atas nama rakyat Turki.”

Berbagai media menyebutkan pula bahwa, permintaan maaf ini disampaikan Netanyahu melalui percakapan telepon yang dilakukan dari Bandara Ben Gurion, saat mengantar Obama yang akan terbang meninggalkan Israel setelah berkunjung tiga hari. Dan saat itu pun, Obama pun sempat berbicara dengan Erdogan.

Erdogan butuh dua hari untuk memberikan pernyataan terbuka atas berita itu. Pada hari Ahad, (24/3), Erdogan menyatakan tidak akan buru-buru memperbaiki hubungan antara kedua negara. “Kami telah mengatakan,  ‘permintaan maaf harus dilakukan, kompensasi harus dibayar, dan blokade terhadap Palestina harus dicabut. Tidak akan ada normalisasi tanpa hal ini.’,” kata Erdogan.

Permintaan maaf Israel ini mengejutkan dari sisi: sejak kapan Israel memiliki budaya minta maaf? Selama lebih dari 60 tahun Israel telah membantai warga Palestina dan mengusir mereka dari rumah-rumah dan ladang-ladang pertanian mereka. Mengapa tak pernah meminta maaf? Mengapa baru sekarang Israel meminta maaf, itupun hanya kepada Turki, dan mengapa dilakukan bersama Obama?

(lebih…)

Miskalkulasi AS dan Turki

Dina Y. Sulaeman

Menlu AS, John Kerry awal bulan ini mengunjungi Turki untuk membicarakan masalah Syria. Namun, seperti diduga, tak ada yang bisa dilakukan. Semua sudah terlanjur, jalan keluar konflik masih terlihat gelap.

Presiden Obama selama ini menggandeng Turki untuk mencapai tujuannya di Syria, yaitu menggulingkan Assad dari tampuk kekuasaan. Di hadapan public, AS berusaha mengesankan bahwa yang diinginkannya adalah solusi yang menjamin kehidupan damai bagi semua umat beragama dan seluruh etnis di Syria. Namun, AS justru menggandeng pihak-pihak yang tidak memiliki interes dalam hal pluralisme. Turki adalah salah satu di antaranya. Turki justru memperburuk situasi sektarian (perseteruan antarmazhab) di Syria, alih-alih berkontribusi memberikan solusi yang damai dan pluralistik.

Obama selama ini telah menginvestasikan modal politik yang cukup besar di Turki dan membina hubungan erat dengan Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan. Para pejabat Amerika dan Turki telah mengadakan pertemuan rutin perencanaan operasional sejak musim panas 2012, untuk mencari jalan mempercepat kejatuhan Assad. Dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan surat kabar Turki, ‘Milliyet’, Obama mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Turki atas ‘kepemimpinan yang mereka berikan dalam upaya untuk mengakhiri kekerasan di Suriah dan memulai proses transisi politik.’

(lebih…)

Antara Mesir, Iran, dan Syria

Dina Y. Sulaeman*

“Saya yakin di era baru ini, bangsa Mesir akan bergerak menuju puncak kehormatan dan kemajuan.”

[ucapan selamat Ahmadinejad kepada Mursi, atas keberhasilan referendum Mesir, 25/12/12]

Menarik sekali mengamati fenomena Mesir akhir-akhir ini. Setelah sebelumnya pemimpin Barat dan medianya sangat pro-revolusi Mesir, memberikan dukungan besar-besaran atas apa yang mereka sebut ‘proses demokratisasi Mesir’, angin pun berbalik. Sejak Presiden Mursi ‘nekad’ mengeluarkan Dekrit 22 November, media Barat beramai-ramai menghujatnya. Simak saja liputan CNN, AlJazeera (yang meskipun bermarkas di Qatar namun sejatinya corong Barat di Timur Tengah), atau New York Times. Sudut pandang pemberitaan mereka seragam: kelangsungan revolusi Mesir telah terancam; demokrasi telah disingkirkan oleh Ikhwanul Muslimin. Dengan gaya liputan yang seperti biasanya selama ini, mereka mewawancarai orang-orang di jalanan yang anti Mursi, sehingga seolah-olah sebagian besar rakyat Mesir memang marah pada Mursi. Tokoh-tokoh anti-Mursi pun naik daun, diwawancarai berkali-kali dan suara mereka seolah menjadi mewakili keinginan rakyat Mesir. Demo anti Mursi dibesar-besarkan, sementara demo pro-Mursi tidak diliput seimbang.

Dan, tentu saja, media-media yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin pun berjuang sebisanya meng-counter pemberitaan Barat itu. Blogger-blogger dari Al Azhar sibuk menulis, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di Mesir. Intinya, menurut versi mereka, sesungguhnya niat Mursi itu baik, karena tanpa dekrit, upaya perumusan konstitusi baru Mesir akan selalu diganggu oleh kelompok yang pro-Mubarak dan pro-Barat.

Hey, tidakkah ini seharusnya menimbulkan deja vu?

(lebih…)

Petraeus: Antara Perselingkuhan dan Upaya Penggulingan Assad

Tulisan ini sebenarnya hanya sekedar menstruktur-ulang berbagai fakta yang berserakan di berbagai berita yang dipublikasikan media massa (dan sumbernya bisa dibaca dengan mengklik setiap link yang ada di tulisan ini), sehingga menjadi sebuah pemikiran yang runut. Saya menerjemahkannya, dengan  menambahkan sedikit pendahuluan, dari Washington Blog. (Dina Y. Sulaeman)

Mundurnya Petraeus seolah sederhana: tindakan ksatria seorang jenderal yang malu karena telah mengkhianati istrinya, sehingga tak pantas lagi memimpin sebuah lembaga negara.  Namun, benarkah demikian? Waktu pengunduran diri Direktur CIA, Petraeus, menjadi lebih menarik diperhatikan jika dilihat dari sisi bahwa dia mundur hanya beberapa hari sebelum dia dijadwalkan untuk bersaksi di bawah sumpah di depan Komite Parlemen yang mengusut skandal konsulat di Benghazi. Banyak yang berspekulasi bahwa ini bukanlah kasus perselingkuhan, melainkan upaya untuk menghindari pemberian kesaksian atas Benghazi.

Bila dirunut lagi, aksi penyerangan itu diawali dengan datangnya massa ke gedung konsulat AS di kota Benghazi. Mereka melakukan demo menyuarakan protes mereka atas pembuatan film yang menghina Nabi Muhammad. Lalu,  tiba-tiba sekitar 20 militan datang dengan membawa RPG7 dan membardir gedung konsulat sehingga menewaskan Dubes AS beserta 3 stafnya. Penyerangan seperti ini jelas memerlukan persiapan. Ini bukanlah proses ‘alami’ : ada demo, lalu situasi memanas, dan terjadilah aksi anarkhi. Bahkan sumber dari AS sendiri menyatakan bahwa penyerangan itu terlihat sudah direncanakan dan menjadi aksi demo sebagai pengalihan perhatian (CNN 13/9). Bila dilihat dari ‘sejarah’-nya, Konsulat AS di Benghazi sebelumnya (7 Juni 2012) juga pernah dibom  oleh  teroris yang memiliki link dengan Al Qaida, yaitu kelompok Omar Abdul Rahman. Para pengebom meninggalkan leaflet yang berisi pernyataan bahwa serangan itu sebagai  balasan atas tewasnya salah satu pimpinan mereka, Abu Yahya al Libi. Mereka juga menjanjikan akan melakukan serangan lagi terhadap AS. Tidak ada korban tewas dalam aksi terorisme bulan Juni itu.

Apa yang sebenarnya terjadi di Benghazi, tentu memerlukan penyelidikan, yang sepertinya akan terhambat karena pengunduran diri Petraeus. Tetapi, kita, publik awam, bisa melihat ada banyak kejanggalan dalam peristiwa ini. Di antara hal yang mengejutkan adalah bahwa Pemerintah AS tidak pernah meminta perlindungan  atau adanya pengakuan dari orang semacam Letnan Colonel Anthony Shaffer yang menyebutkan bahwa Presiden Obama secara personal menyaksikan  kejadian penyerangan itu secara langsung (real time) melalui video feeds pesawat pengintai yang terbang di atas konsulat AS di Benghazi.

Klaim-klaim ini hanya bisa dinilai, dan semua informasi yang simpang-siur ini bisa dipahami, jika kita menelaah terlebih dulu latar belakangnya secara lebih mendalam.

Banyak Teroris Syria yang Datang dari Libya

Gerilyawan Libya yang berperan dalam penggulingan Qaddafi, dengan dukungan NATO dan AS, sebagian besarnya terdiri dari teroris Al Qaeda .

Menurut laporan tahun 2007 yang dirilis oleh West Point’s Combating Terrorism Center’s center, kota Benghazi adalah salah satu markas Al Qaeda’s dan markas untuk pengiriman pasukan Al Qaeda ke Irak, sebelum penggulingan Qaddafi. Al Qaeda saat ini mengontrol sebagian besar Libya.  Bahkan, bendera Al Qaeda dikibarkan di gedung pengadilan Benghazi courthouse sesaat setelah Qaddafi terguling.

(Kebetulan, Qaddafi hampir menyerang Benghazi pada tahun 2011, empat tahun setelah laporan the West Point itu. Qaddafi mengklaim – dan kemudian benar terbukti– bahwa Benghazi adalah markas Al Qaeda dan sumber utama dari pemberontakan di Libya.  Tetapi pesawat-pesawat NATO menghentikan aksi Qaddafi, dan melindungi Benghazi.)

(lebih…)

Benarkah Iran dan Israel Main Mata?

Benarkah Iran dan Israel Main Mata?

Oleh: Husein Sarallah

Belakangan ini kita sering mendengar beberapa pengamat Timur Tengah yang tampil di layar kaca TVOne mengutarakan bahwa Iran dan Israel itu sebenarnya main mata. Tujuan pernyataan ini sebenarnya ingin menunjukkan adanya konspirasi di balik retorika Iran dalam memusuhi Israel dan membantu rakyat Palestina. Mereka ingin membangun argumen bahwa Iran itu cuma berpura-pura dalam dukungannya pada Palestina dan perlawanannya terhadap Israel.

Mereka biasanya membawa dalil bahwa Iran tidak pernah menghantam Israel dengan roket atau rudal balistiknya. Demikian pula sekutu Iran dari kalangan Arab seperti Suriah juga tidak menghajar Israel. Bukti lain yang biasanya diajukan ialah pertemuan sejumlah pemimpin Iran dengan rabbi-rabbi Yahudi dari kelompok Naturei Karta (yang sebenarnya justru merupakan kelompok Yahudi anti Zionis Israel).

(lebih…)

Angelina Jolie, Syria, dan Humanitarian Intervention

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

(Tulisan ini sudah dimuat di website IRIB Indonesia)

Meski secara de facto upaya para pemberontak telah gagal menggulingkan Bashar Assad, namun konflik di Syria masih belum reda.  Negara-negara Barat, Turki, dan Arab (Saudi, Qatar, Emirat, Libya)  yang selama ini mendukung kelompok pemberontak  (mulai dari dana, senjata, dan bahkan mengirim pasukan untuk membantu kelompok pemberontak), masih terus melancarkan upaya-upaya untuk menghalangi proses stabilisasi di Syria.

Kebenaran di Syria satu persatu mulai terungkap (antara lain, pelanggaran hukum internasional yang dilakukan oleh AS dan sekutunya dengan mengirim pasukan dan senjata secara illegal ke Syria; laporan-laporan dari media Barat sendiri tentang aksi brutal para pemberontak dalam membunuhi orang-orang pro Assad), namun AS dan sekutunya tetap tak mau berhenti mengganggu Syria.

Kabar terakhir menyebutkan bahwa empat senator AS, salah satunya John McCain, menyerukan agar AS memberikan bantuan senjata kepada pemberontak Syria. Obama dan PM Turki, Erdogan, juga diberitakan telah bertemu untuk membahas pemberian bantuan peralatan kepada para pemberontak.

Saya tidak ingin membahas lebih lanjut tentang hipokritas Barat dan betapa media Barat telah berhasil menipu banyak orang, melakukan pembunuhan karakter terhadap Assad, bahkan sampai-sampai ada orang Indonesia yang menggalang dana untuk ‘korban’ Assad. Saya ingin menyoroti masalah ‘bantuan internasional’ dari sisi kajian Hubungan Internasional.

(lebih…)

Kunjungan Obama ke Turki: Babak Baru Hubungan Islam-Amerika?

Artikel ini tadinya saya kirim ke Republika, tapi sampai skrg tak dimuat, mungkin krn agak telat (dikirim 3 hr stlh kunjungan itu), atau krn mmg topik ini sedang kurang diminati (isu pemilu akhir2 ini lebih diminati). Mau saya posting utuh di sini, ee..file-nya dirusak anak saya.. untung ada back-upnya , tapi tdk persis spt yg saya susun utk Republika. Anyway, tetap enak dibaca kok:)


Kunjungan Obama ke Turki: Babak Baru Hubungan Islam-Amerika?

oleh: Dina Y. Sulaeman

April 2009, Presiden AS Barack Obama memulai tur luar negeri untuk pertama kalinya. Diawali dengan menghadiri KTT G-20 di London, berlanjut ke Paris, Praha, dan berakhir di Istanbul, Turki. Kunjungan ke Turki seolah menandai dimulainya babak baru hubungan Dunia Islam dan Amerika. Akibat teror dan genosida Israel di Gaza, kemarahan dunia Islam pada Israel dan negara sekutu utamanya, Amerika Serikat, semakin memuncak. Namun kini, dalam pidatonya di depan Parlemen Turki, Obama tampak ingin menarik simpati dunia muslim.”Biarkan saya katakan sejelas mungkin, Amerika Serikat tidak dan tidak akan pernah memerangi Islam,” kata Obama. Obama pun menyanjung Islam dengan menyebutnya, ”AS telah diperkaya oleh kaum muslim Amerika.”

Dengan sangat empatik, Obama juga menyatakan keinginan AS untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan Islam. ”Saya juga ingin menjelaskan bahwa hubungan Amerika dengan komunitas Muslim, Dunia Muslim, tidak bisa, dan tidak akan bisa, hanya didasarkan pada perlawanan terhadap terorisme. Kami mencari hubungan yang lebih luas, didasarkan pada kepentingan bersama dan saling menghormati. Kami akan mendengar dengan hati-hati, kami akan menjembatani kesalahpahaman, dan kami akan mencari persamaan. Kami akan menghormati, bahkan ketika kami tidak setuju,” jelas Obama.[i]

Koran-koran terkemuka AS seperti New York Times dan Washington Post dalam liputan mereka juga lebih memfokuskan pada pesan perdamaian dengan dunia Islam ini. Pidato yang disiarkan langsung ke negara-negara Arab oleh Al Jazeera dan Al Arabiya itu disebut-sebut sebagai ’upaya untuk menjalin ikatan dengan Islam’.[ii] Koran Turki, Hurriyet, mengomentari, “Sikap Obama yang simpatik telah memenangkan hati masyarakat Turki.”[iii] Menlu Mesir Ahmed Abul Gheit menyebut pidato Obama “langkah pertama dan penting untuk meredakan ketegangan antara AS dan Dunia Muslim.”[iv]

Namun, ada poin penting dalam pidato Obama yang tak banyak diulas, yaitu, proposal yang diajukan Obama kepada Turki terkait konflik Timur Tengah.

(lebih…)