Kajian Timur Tengah

Beranda » Turki (Laman 2)

Category Archives: Turki

Iklan

Selalu Ada Israel di Balik Bebagai Kekacauan

Akhir-akhir ini beruntun muncul peristiwa yang (menurut saya) berjalin-berkelindan:

1. Aksi demo bela Palestina, tapi anehnya, digagas oleh kelompok-kelompok yang selama 7 tahun terakhir justru berperan aktif dalam membawa narasi perang Suriah ke Indonesia. (Suriah adalah penyuplai logistik untuk pejuang Palestina dan pelayan bagi jutaan pengungsi Palestina).

Kelompok-kelompok ini bicara atas nama Islam, tapi aktivitasnya terkait Suriah malah sejalan dengan kepentingan Israel. Imbasnya pun dirasakan oleh bangsa Indonesia: radikalisme/esktrimisme semakin marak sejak konflik Suriah dibawa-bawa ke Indonesia oleh mereka demi menggalang dana dan merekrut petempur. [1]

2. Aksi terorisme beruntun di berbagai kota di Indonesia. Siapa pelakunya? Tak lain teroris yang berjejaring dengan kelompok-kelompok teror di Suriah.

(lebih…)

Iklan

AKSI BELA PALESTINA, ATAU BELA TERORIS?

Saya sudah menulis ratusan, mungkin ribuan, artikel soal Suriah (saya menulis pertama kali tentang konflik Suriah Desember 2011, sekarang Mei 2018). Dan sering saya sampaikan: ada Israel di balik agenda penggulingan Assad.

Ini bukan teori konspirasi karena saya mengajukan bukti. Teori konspirasi itu kalau didasarkan khayalan, mencocok-cocokkan.

Antara lain buktinya adalah dokumen-dokumen CIA yang declassified (sudah boleh diakses publik) yang isinya rencana AS sejak tahun 1980-an untuk menggulingkan pemerintah Suriah demi Israel. Ada pula email Hillary Clinton yang dirilis Wikileaks (Maret 2016). Tertulis di dalam email itu, “Hubungan strategis antara Iran dan rezim Bashar Assad membahayakan keamanan Israel… “ [1]

Bukti lainnya adalah perilaku Israel selama konflik Suriah. Bila benar Israel adalah negara demokratis dan antiteroris (demikian kata fans Israel, terutama ZSM Indonesia), mengapa mereka tidak membombardir Golan saja, dimana banyak teroris ISIS dan Al Nusra, bercokol? Mengapa yang dilakukan Israel justru membombardir tentara Suriah yang hampir mengalahkan teroris, lalu merawat para teroris yang terluka di rumah sakit Israel, bahkan dibesuk oleh Netanyahu? [2]

(lebih…)

Mengapa Mengidolakan Erdogan?

Erdogan naik daun dan dipuja (sebagian) kaum muslimin dunia sejak tahun 2009. Tapi, sejak Pakde Jokowi jadi presiden, entah mengapa, pemuja Erdogan di Indonesia semakin histeris. Banyak sekali mitos yang mereka buat tentang Erdogan. Padahal periode 2009-2013 mereka tidak sehisteris itu.

Kekaguman sebagian orang pada Erdogan bermula dari kejadian di sebuah konferensi internasional di Davos, Swiss, Januari 2009. Saat itu, Erdogan blak-blakan mengkritik Israel dengan mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel Simon Peres membunuh anak-anak dan wanita-wanita tak berdosa di Gaza. Setelah berbicara demikian, Erdogan melakukan aksi walk out dari konferensi tersebut.

Karena umat muslim umumnya sangat bersimpati pada Palestina, bisa dimaklumi bila peristiwa itu dalam sekejap menaikkan pamor Erdogan. Tahun 2010, sikap keras Erdogan terhadap Israel berlanjut dengan aksi pengiriman bantuan ke Gaza. Bantuan itu dibawa para aktivis pembela Palestina dengan menggunakan kapal milik Turki, yang bernama Mavi Marmara. Dengan gagah berani, kapal berserta para penumpangnya melabrak blokade laut tentara Israel.

(lebih…)

Mengapa Mereka Mendadak Heboh Soal Aleppo?

Di bawah ini saya copas status dr Joserizal yang menjelaskan mengapa kok mendadak para fans Erdogan di Indonesia (*presiden yang tertukar*) secara masif dan serempak menebar hashtag “save Aleppo” dan sibuk menggalang dana. Asal dijamin sampai ke warga sipil korban perang sih, kita dukung dong. Masalahnya, seperti kata Dubes Djoko, kan di tengah jalan bantuan itu sering diserobot pemberontak. Thanks to Allah, akhirnya kubu pro-mujahidin keceplosan ngaku bahwa senjata mrk dapat dari AS  dan bahwa dana yg mrk kumpulkan di Indonesia adalah utk mujahidin (lihat foto di bawah) Selain itu, kenapa sih pake menyebar foto-foto palsu dan memfitnah orang? Apa berbuat baik itu boleh saja didului dengan kejahatan?

(lebih…)

Merenungi Perang Salib

Dina Y. Sulaeman

I have given Jerusalem my whole life. First, I thought we were fighting for God. Then I realized we were fighting for wealth and land. I was ashamed
(Tiberias, Kingdom of Heaven)

Ada tulisan singkat tentang sejarah Perang Salib di sebuah web yang bagi saya menarik karena cara penulisannya yang singkat tapi ‘hidup’. Tanpa perlu berpikir keras dan waktu panjang, pembaca bisa menangkap situasi seputar Perang Salib. Namun ada bagian-bagian yang membuat saya memikirkannya lebih jauh.

(1)    Penekanan ke-Sunni-an atau Ke-Syiah-an Para Aktor Perang

[Setelah jatuhnya Jerusalem ke tangan Tentara Salib] Khalifah di Baghdad tidak mau repot-repot mengajak kaum muslimin untuk membela tempat-tempat suci mereka. Para Emir dari Dinasti Seljuk di seluruh dunia Muslim pun terlalu sibuk bertempur satu sama lain. Dan imperium Syiah Fatimiyah di Mesir bersekutu dengan Tentara Salib untuk merugikan Dinasti Seljuk yang Sunni. … Selama era itu, Mesir berada di bawah kendali dari Syiah Fatimiyah. Mereka bekerja sama dengan Tentara Salib untuk merugikan seluruh umat Islam.

Benarkah? Katakanlah benar bahwa Dinasti Fatimiah memang kejam, despotik, dll (sebagaimana juga Dinasti Seljuk, dan dinasti-dinasti Arab yang memang selalu  bertempur satu sama lain), lalu mengapa ditekankan masalah ‘Syiah’-nya?

(lebih…)

Erdogan Kena Batunya ?

Oleh : Dina Y. Sulaeman*

Menyusul terjadinya aksi demo di berbagai kota di Turki yang dihadapi dengan represif oleh polisi Turki, Menteri Penerangan Suriah Omran Al-Zoabi menyerukan Erdogan agar turun dari jabatannya. Al-Zoabi juga menyatakan, “Erdogan mengendalikan negaranya dengan cara-cara teror, menghancurkan peradaban dan prestasi rakyat Turki.”

Pernyataan Al Zoabi ini bisa dianggap sebagai sindiran telak untuk Erdogan. Masih tak luput dari ingatan para pemerhati konflik Suriah, bulan November 2011, Erdogan menyeru kepada Assad, “Untuk kesejahteraan rakyatmu sendiri dan kawasan, tanggalkan saja kursi itu.”

(lebih…)

Erdogan dan Netanyahu Berdamai?

Dina Y. Sulaeman

Perd-net-maherdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meminta maaf kepada Turki atas serangan tentara Israel terhadap kapal Mavi Marmara di laut Gaza. Permintaan maaf itu disampaikan Netanyahu pada hari Jumat 22 Maret. Laporan dari berbagai media awalnya menyebutkan bahwa permintaan maaf itu diterima Erdogan. AP menulis bahwa kantor Erdogan menyatakan, “perdana menteri kami menerima permintaan maaf itu atas nama rakyat Turki.”

Berbagai media menyebutkan pula bahwa, permintaan maaf ini disampaikan Netanyahu melalui percakapan telepon yang dilakukan dari Bandara Ben Gurion, saat mengantar Obama yang akan terbang meninggalkan Israel setelah berkunjung tiga hari. Dan saat itu pun, Obama pun sempat berbicara dengan Erdogan.

Erdogan butuh dua hari untuk memberikan pernyataan terbuka atas berita itu. Pada hari Ahad, (24/3), Erdogan menyatakan tidak akan buru-buru memperbaiki hubungan antara kedua negara. “Kami telah mengatakan,  ‘permintaan maaf harus dilakukan, kompensasi harus dibayar, dan blokade terhadap Palestina harus dicabut. Tidak akan ada normalisasi tanpa hal ini.’,” kata Erdogan.

Permintaan maaf Israel ini mengejutkan dari sisi: sejak kapan Israel memiliki budaya minta maaf? Selama lebih dari 60 tahun Israel telah membantai warga Palestina dan mengusir mereka dari rumah-rumah dan ladang-ladang pertanian mereka. Mengapa tak pernah meminta maaf? Mengapa baru sekarang Israel meminta maaf, itupun hanya kepada Turki, dan mengapa dilakukan bersama Obama?

(lebih…)

Miskalkulasi AS dan Turki

Dina Y. Sulaeman

Menlu AS, John Kerry awal bulan ini mengunjungi Turki untuk membicarakan masalah Syria. Namun, seperti diduga, tak ada yang bisa dilakukan. Semua sudah terlanjur, jalan keluar konflik masih terlihat gelap.

Presiden Obama selama ini menggandeng Turki untuk mencapai tujuannya di Syria, yaitu menggulingkan Assad dari tampuk kekuasaan. Di hadapan public, AS berusaha mengesankan bahwa yang diinginkannya adalah solusi yang menjamin kehidupan damai bagi semua umat beragama dan seluruh etnis di Syria. Namun, AS justru menggandeng pihak-pihak yang tidak memiliki interes dalam hal pluralisme. Turki adalah salah satu di antaranya. Turki justru memperburuk situasi sektarian (perseteruan antarmazhab) di Syria, alih-alih berkontribusi memberikan solusi yang damai dan pluralistik.

Obama selama ini telah menginvestasikan modal politik yang cukup besar di Turki dan membina hubungan erat dengan Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan. Para pejabat Amerika dan Turki telah mengadakan pertemuan rutin perencanaan operasional sejak musim panas 2012, untuk mencari jalan mempercepat kejatuhan Assad. Dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan surat kabar Turki, ‘Milliyet’, Obama mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Turki atas ‘kepemimpinan yang mereka berikan dalam upaya untuk mengakhiri kekerasan di Suriah dan memulai proses transisi politik.’

(lebih…)

Antara Mesir, Iran, dan Syria

Dina Y. Sulaeman*

“Saya yakin di era baru ini, bangsa Mesir akan bergerak menuju puncak kehormatan dan kemajuan.”

[ucapan selamat Ahmadinejad kepada Mursi, atas keberhasilan referendum Mesir, 25/12/12]

Menarik sekali mengamati fenomena Mesir akhir-akhir ini. Setelah sebelumnya pemimpin Barat dan medianya sangat pro-revolusi Mesir, memberikan dukungan besar-besaran atas apa yang mereka sebut ‘proses demokratisasi Mesir’, angin pun berbalik. Sejak Presiden Mursi ‘nekad’ mengeluarkan Dekrit 22 November, media Barat beramai-ramai menghujatnya. Simak saja liputan CNN, AlJazeera (yang meskipun bermarkas di Qatar namun sejatinya corong Barat di Timur Tengah), atau New York Times. Sudut pandang pemberitaan mereka seragam: kelangsungan revolusi Mesir telah terancam; demokrasi telah disingkirkan oleh Ikhwanul Muslimin. Dengan gaya liputan yang seperti biasanya selama ini, mereka mewawancarai orang-orang di jalanan yang anti Mursi, sehingga seolah-olah sebagian besar rakyat Mesir memang marah pada Mursi. Tokoh-tokoh anti-Mursi pun naik daun, diwawancarai berkali-kali dan suara mereka seolah menjadi mewakili keinginan rakyat Mesir. Demo anti Mursi dibesar-besarkan, sementara demo pro-Mursi tidak diliput seimbang.

Dan, tentu saja, media-media yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin pun berjuang sebisanya meng-counter pemberitaan Barat itu. Blogger-blogger dari Al Azhar sibuk menulis, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di Mesir. Intinya, menurut versi mereka, sesungguhnya niat Mursi itu baik, karena tanpa dekrit, upaya perumusan konstitusi baru Mesir akan selalu diganggu oleh kelompok yang pro-Mubarak dan pro-Barat.

Hey, tidakkah ini seharusnya menimbulkan deja vu?

(lebih…)

Petraeus: Antara Perselingkuhan dan Upaya Penggulingan Assad

Tulisan ini sebenarnya hanya sekedar menstruktur-ulang berbagai fakta yang berserakan di berbagai berita yang dipublikasikan media massa (dan sumbernya bisa dibaca dengan mengklik setiap link yang ada di tulisan ini), sehingga menjadi sebuah pemikiran yang runut. Saya menerjemahkannya, dengan  menambahkan sedikit pendahuluan, dari Washington Blog. (Dina Y. Sulaeman)

Mundurnya Petraeus seolah sederhana: tindakan ksatria seorang jenderal yang malu karena telah mengkhianati istrinya, sehingga tak pantas lagi memimpin sebuah lembaga negara.  Namun, benarkah demikian? Waktu pengunduran diri Direktur CIA, Petraeus, menjadi lebih menarik diperhatikan jika dilihat dari sisi bahwa dia mundur hanya beberapa hari sebelum dia dijadwalkan untuk bersaksi di bawah sumpah di depan Komite Parlemen yang mengusut skandal konsulat di Benghazi. Banyak yang berspekulasi bahwa ini bukanlah kasus perselingkuhan, melainkan upaya untuk menghindari pemberian kesaksian atas Benghazi.

Bila dirunut lagi, aksi penyerangan itu diawali dengan datangnya massa ke gedung konsulat AS di kota Benghazi. Mereka melakukan demo menyuarakan protes mereka atas pembuatan film yang menghina Nabi Muhammad. Lalu,  tiba-tiba sekitar 20 militan datang dengan membawa RPG7 dan membardir gedung konsulat sehingga menewaskan Dubes AS beserta 3 stafnya. Penyerangan seperti ini jelas memerlukan persiapan. Ini bukanlah proses ‘alami’ : ada demo, lalu situasi memanas, dan terjadilah aksi anarkhi. Bahkan sumber dari AS sendiri menyatakan bahwa penyerangan itu terlihat sudah direncanakan dan menjadi aksi demo sebagai pengalihan perhatian (CNN 13/9). Bila dilihat dari ‘sejarah’-nya, Konsulat AS di Benghazi sebelumnya (7 Juni 2012) juga pernah dibom  oleh  teroris yang memiliki link dengan Al Qaida, yaitu kelompok Omar Abdul Rahman. Para pengebom meninggalkan leaflet yang berisi pernyataan bahwa serangan itu sebagai  balasan atas tewasnya salah satu pimpinan mereka, Abu Yahya al Libi. Mereka juga menjanjikan akan melakukan serangan lagi terhadap AS. Tidak ada korban tewas dalam aksi terorisme bulan Juni itu.

Apa yang sebenarnya terjadi di Benghazi, tentu memerlukan penyelidikan, yang sepertinya akan terhambat karena pengunduran diri Petraeus. Tetapi, kita, publik awam, bisa melihat ada banyak kejanggalan dalam peristiwa ini. Di antara hal yang mengejutkan adalah bahwa Pemerintah AS tidak pernah meminta perlindungan  atau adanya pengakuan dari orang semacam Letnan Colonel Anthony Shaffer yang menyebutkan bahwa Presiden Obama secara personal menyaksikan  kejadian penyerangan itu secara langsung (real time) melalui video feeds pesawat pengintai yang terbang di atas konsulat AS di Benghazi.

Klaim-klaim ini hanya bisa dinilai, dan semua informasi yang simpang-siur ini bisa dipahami, jika kita menelaah terlebih dulu latar belakangnya secara lebih mendalam.

Banyak Teroris Syria yang Datang dari Libya

Gerilyawan Libya yang berperan dalam penggulingan Qaddafi, dengan dukungan NATO dan AS, sebagian besarnya terdiri dari teroris Al Qaeda .

Menurut laporan tahun 2007 yang dirilis oleh West Point’s Combating Terrorism Center’s center, kota Benghazi adalah salah satu markas Al Qaeda’s dan markas untuk pengiriman pasukan Al Qaeda ke Irak, sebelum penggulingan Qaddafi. Al Qaeda saat ini mengontrol sebagian besar Libya.  Bahkan, bendera Al Qaeda dikibarkan di gedung pengadilan Benghazi courthouse sesaat setelah Qaddafi terguling.

(Kebetulan, Qaddafi hampir menyerang Benghazi pada tahun 2011, empat tahun setelah laporan the West Point itu. Qaddafi mengklaim – dan kemudian benar terbukti– bahwa Benghazi adalah markas Al Qaeda dan sumber utama dari pemberontakan di Libya.  Tetapi pesawat-pesawat NATO menghentikan aksi Qaddafi, dan melindungi Benghazi.)

(lebih…)