Kajian Timur Tengah

Beranda » Uncategorized

Category Archives: Uncategorized

Bourne Ultimatum

Tadi pagi saya terbangun dengan pikiran yang lelah. Saya mimpi dikejar-kejar, mau dibunuh, entah oleh siapa. Mungkin ini gara-gara film yang saya tonton sebelum tidur, Bourne Ultimatum. Film ini amat-sangat seru (mungkin karena itu terbawa mimpi). Bercerita tentang agen CIA bernama Jason Bourne yang pernah mengikuti program yang memodifikasi perilaku [diberi nama program Treadstone, kemudian dilanjutkan dengan nama Blackbriar].

Program itu membuatnya menjadi pembunuh yang sangat ahli, tapi ia lupa siapa saja yang ia bunuh; bahkan lupa siapa dirinya sebenarnya. Proyek Treadstone/Blackbriar bertujuan menciptakan agen-agen CIA yang siap diperintah membunuh “demi melindungi rakyat AS”. Namun, Bourne selalu merasa gelisah, ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Upayanya ini mengancam kerahasiaan program Blackbriar sehingga ia dikejar-kejar oleh agen CIA lain, untuk dibunuh.

Karena penasaran, saya coba google. Ternyata, CIA memang pernah membuat program modifikasi perilaku, namanya “MKUltra”, dimulai tahun 1953. Awalnya program ini tentu saja rahasia karena prosedurnya ilegal, namun terungkap ke publik pada tahun 1970-an sehingga dihentikan pemerintah AS pada 1977. Tahun 2001, dokumen-dokumen rahasia MKUltra dibuka untuk publik (karena aturan di AS memang demikian).

(lebih…)

Siapa yang Radikal? (2)

Baru saya sadari, selain kaum Muslim tekstualis (kaum takfiri, jihadis), ternyata ada satu pihak lagi yang yang tersinggung dengan istilah “radikal”. Siapa mereka? Itulah orang-orang “pejuang kebebasan” atau “antifasis” atau “antioligarki” atau “libertarian” atau SJW (social justice warrior). Ya pokoknya yang itu-itulah, yang anti kemapanan, maunya protes melulu. Pasalnya mereka itu menganggap diri radikal sejak dulu dan merasa radikal adalah istilah keren penuh heroisme. Kok enak aja, tiba-tiba dikatain identik dengan ISIS, Al Qaida, dll? 😀

Nah kalau kelompok Muslim tekstualis itu menolak disebut radikal dengan alasan “ini sebutan yang memojokkan Islam!”, para “pejuang antifasis” (atau apalah apalah itu, whatever mereka mau menamakan diri) marah karena menurut mereka “radikal” istilah yang maknanya positif.

(lebih…)

Radikalisme itu ada di pikiran, bukan baju.

Dalam konteks Indonesia dan dunia saat ini, yang dimaksud ‘narasi radikal’ adalah narasi Islam yang sudah diselewengkan atau dengan istilah lain, “narasi takfirisme” [mengkafir-kafirkan pihak lain yang tidak sekelompok].

[Saya ulangi: radikalisme bisa muncul di semua agama dan isme, tapi kali ini saya KHUSUS bahas soal radikalisme dalam tubuh Islam].

Jadi, radikalisme seharusnya dilawan dengan cara mematahkan narasi-narasi radikal itu, dengan dalil aqli dan naqli. Libatkan para ustad-ustad yang ahli debat di bidang ini. Gimana cara memilihnya? Lihat rekaman youtube mereka, apa sudah terbukti mereka mampu berdebat melawan kaum takfiri dengan “adu ayat”?

Pertemukan ustad-ustad ini dengan kelompok radikal untuk mematahkan narasi mereka. Mereka pakai ayat, kita pakai ayat juga. Minta para ustad ini menulis buku (atau, para ustad tinggal ngomong, tim penulis yang menyalin dan membuatnya buku saku) lalu sebar luaskan ke seluruh penjuru negeri. Karena ini pula yang dilakukan kaum radikal: mereka membuat buku-buku radikal dan dibagi-bagi gratis atau dijual murah ke seluruh Indonesia.

(lebih…)

Call for Paper: Jurnal ICMES (The Journal of Middle East Studies) Vol 3 No. 2

Terbit Desember 2019

Deadline 10 hari lagi (31 Okt)

Naskah yang dimuat berbahasa Indonesia.

https://ic-mes.org/jurnal/index.php/jurnalICMES

Seorang follower fanpage ini yang berasal dari Ambon meminta doa dari kita semua.

“Do’akan kami yang Ada di kota Ambon. Maluku bu. Sudah dua Minggu ini Gempa terjadi setiap hari. selepas 6,8 sr. Kamis Tgl 10-10-2019 Pukul 14:00 WiT . Terjadi Gempa Dengan skala 5,2 sr. yang menyenabkan gedung rusak , Dan terdapa Korban Luka2. Terimakasih.”

Mari kita berdoa sepenuh hati supaya saudara-saudara kita di Ambon, dan dimana saja yang saat sedang menderita kesusahan (karena bencana, mengungsi karena kerusuhan, terusir dari kampung halaman, dan berbagai penderitaan lainnya) selalu mendapatkan perlindungan dari Allah, diberi jalan keluar dari segala kesusahan, dan diberi kekuatan dalam menghadapi segala cobaan.

Ya Allah, lindungilah bangsa kami, jauhkan kami dari malapetaka. Aamiin ya Rabb.

https://regional.kompas.com/read/2019/10/10/17530431/gempa-ambon-sejumlah-kantor-pemerintahan-dan-rumah-warga-hancur

(PDF) NKRI Bersyariah Atau Ruang Publik yang Manusiawi (Denny JA)

NKRI Bersyariah Denny JA

Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari 21 pakar, yang mewakili berbagai bidang keilmuan dan minat. Mereka menanggapi tulisan karya Denny JA, yang beredar luas di media sosial, yang berjudul “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?”

Tulisan Denny JA ini tidak hadir begitu saja. Tulisan Denny sebenarnya berangkat dari keprihatinan, menyusul hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, yang melakukan survei analisis pro-Pancasila. Ternyata menurut survei, dalam 13 tahun terakhir, persentase publik pro-Pancasila terus menurun sebanyak 10 persen.

Para pakar ini dianggap mampu memberi masukan, saran, kritik, dan pencerahan terkait topik yang diajukan, yakni soal pilihan krusial antara NKRI Bersyariah dan Ruang Publik yang Manusiawi.

Diharapkan, berbagai tulisan dan sumbangan pemikiran dari para pakar itu akan bisa membantu memperkaya pemikiran kita. Yakni, untuk memperoleh pencerahan dan kejelasan arah gerak bangsa ke depan, serta langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk “membangkitkan kembali” dasar negara Pancasila.

(kutipan pengantar dari editor: Dr. Satrio Arismunandar)

Daftar judul tulisan dan nama penulis di buku ini:

NKRI Bersyariah atau Ruang Publik y ang Manusiawi? Denny JA

NKRI Bersyariah dan Ruang Publik Inklusif dalam Pusaran Kekuasaan Indonesia PascaOtoritarianisme (Airlangga Pribadi Kusman)

Ruang Publik yang Manusiawi bersama Pancasila (E. Fernando M. Manullang)

Islam Mementingkan Sasaran, Bukan Sarana (Nurul H. Maarif)

Islam Simbolik dan Islam Substantif: Problema Nilai Islamisitas dalam Politik Indonesia (Al Chaidar)

Visi Ketuhanan dan Ruang Publik yang Manusiawi (Trisno S. Sutanto)

Apakah Indonesia Kurang Syar’i? (Rumadi Ahmad)

NKRI Adil dan Beradab! Catatan untuk Denny JA (Adian Husaini)

Apalagi yang Mau Dituntut Umat Islam? (Asvi Warman Adam)

NKRI Bersyariah atau Eksploitasi Simbol Agama? (Kastorius Sinaga)

Mengarahkan Gerakan NKRI Bersyariah (Abdul Moqsith Ghazali)

Genealogi Indonesia (Komaruddin Hidayat)

NKRI Bersyariah, Piagam Jakarta dalam Praksis Wahabis (AE Priyono)

Menguji Konsep NKRI Bersyariah dalam Politik Global (Dina Y. Sulaeman)

Istilah NKRI Bersyariah Adalah Sesat Nalar dan Distorsi Islam (Husain Heriyanto)

Pancasila dan Pentingnya Mengelaborasi Pengertian Syariah dalam Ruang Publik  (Budhy Munawar-Rachman)

Risiko “Berbaju Agama” di Ruang Publik yang Majemuk (I Gede Joni Suhartawan)

Syariah, Perda Syariah dan Negara (Azyumardi Azra, CBE)

Undang-undang dan Perda Syariah: Ada atau Tidak Ada? (Yusril Ihza Mahendra)

NKRI Telah Bersyariah (Satya Arinanto)

NKRI Bersyariah vs Ruang Publik yang Manusiawi: Mencari Jiwa dan Jati Diri Bangsa (Nursyahbani Katjasungkana)

Para Distopian Negara Syariah (Ahmad Gaus AF)

Ebook silahkan download dengan mengklik tautan ini:

Denny JA_NKRI Bersyariah atau Ruang Publik Yang Manusiawi (Polemik)

Khilafah in Context

Salah satu tips penting agar kata-kata Anda berdampak pada audiens: katakan/tulislah sesuatu yang ada konteksnya. Dengan kata lain, hantarkan tulisan dengan konteks yang langsung nyambung dengan audiens.

Misalnya, ibu ingin menasehati anak agar rajin belajar. Nasehati ia saat ada konteksnya, misalnya si anak sedang tergila-gila pada Gundam dan ingin sekali bisa kuliah di Jepang. “Belajar yang rajin dari sekarang, biar dapat beasiswa!”

Sebaliknya, penulis/pembicara pun harus menyadari bahwa audiens akan menangkap perkataan mereka sesuai dengan konteks yang ada. Jangan salahkan kalau tulisan Anda ditangkap berbeda, karena Anda yang tidak sadar konteks.

Contohnya, ada seorang ustadz 212 yang baru-baru ini saja bicara soal jahatnya hoax. Dia juga menyeru kedua kubu baik 01 dan 02 jangan saling ejek atau saling hina. Dia kasih nasehat soal akhlak, dan bahwa perilaku para politisi sekarang ini merupakan pelanggaran atas ayat 11 dan 12 surah Al-Hujurat. Well, perkataannya bagus. Tapi konteksnya sudah telat.

Kemana saja dia, ketika ada kemarin-kemarin ada hoax-hoax jahat tersebar? Setahu saya, dia tidak memberi komentar soal hoax penganiayaan RS atau hoax 7 kontainer.

Akibatnya, kata-katanya yang baik dan benar itu “ke laut aja”, tidak berdampak pada audiens, bahkan diolok-olok.

(lebih…)

Saya berkali-kali bilang, kalau meneliti sesuatu jangan melulu berdasarkan ‘katanya’, coba ditelaah sumber-sumber aslinya.

Jadi, soal Libya, Suriah, atau Yaman, jangan menyadarkan diri pada “katanya ustad” atau “kata media mainstream Barat” melulu, coba lakukan cross check dengan seksama. Kalau dapat foto “korban kekejian Assad Syiah la’natulloh” coba manfaatkan google image karena selama ini selalu saja terbukti fotonya hoax.

Manusia dikaruniai akal untuk meneliti, menyaring informasi, dan menganalisis.

Jubir HTI Ismail Yusanto menyatakan HTI tak punya bendera. Ia tak mengaku bahwa bendera hitam yang dikibar-kibarkan HTI dalam aksi demonya selama ini, yang ditaruh/ditempel di kantor pusatnya (saya pernah riset ke sana tahun 2011) adalah bendera HTI.

Nah, bagaimana kalau disimak saja di buku yang diterbitkan HTI sendiri?

(lebih…)

Bocah Yaman

Foto tragis bocah ini kemungkinan besar tidak akan menjadi headline di media massa internasional. Tidak akan disebarkan dengan penuh semangat oleh orang-orang yang mengaku “pejuang kemanusiaan” dan hobi pakai tagar Save Humanity (sambil memberi nomer rekening bila Anda ingin menyumbang).

Bocah ini sedang memeluk erat jasad ayahnya, yang tewas dalam pengeboman yang dilakukan oleh rezim Arab Saudi pada 24/4/2018. Ayah dan anak itu sedang berada di sebuah pesta pernikahan. Pernikahan, sama sekali bukan aksi teror yang patut dilawan dengan senjata. Pernikahan adalah ikatan suci dan kegembiraan di tengah nestapa sebuah negeri yang 3 tahun terakhir dibombardir dan diblokade Arab Saudi dengan bantuan AS dan senjata-senjata yang diimpor dari negeri-negeri Barat.

Tetapi, rezim kriminal perang itu mengebomnya, menewaskan 50-an orang, termasuk ayah si bocah. Dia memeluk jasad sang ayah erat-erat dan menolak dipisahkan oleh warga yang hendak menolongnya. Dia menyatakan bahwa sang ayah hanya tidur dan sebentar lagi bangun lalu membawanya pulang.

(lebih…)

Mereka yang Berlumuran Darah Suriah

Tucker-Assad

Serangan senjata kimia di Douma telah dijadikan alasan oleh para elit global untuk melemparkan ancaman perang besar. Dunia menanti, apa yang akan terjadi beberapa jam/hari ke depan. Berbagai spekulasi dan dugaan diajukan. Dubes AS untuk AS, Nikki Haley, sudah menyatakan AS akan bertindak “melindungi rakyat Suriah” dengan atau tanpa izin PBB.

Hailey, yang di depan lembaga lobby Zionis terbesar AS, AIPAC, pernah berkata akan “menendang” siapa saja yang menghalangi kepentingan Israel di PBB, akan melindungi rakyat Suriah, #eh?

Narasi bahwa ‘Assad pelaku penggunaan senjata kimia di Ghouta’ disampaikan masif oleh elit global dan disebarluaskan oleh media mainstream global dan lokal. Anehnya, pilihan yang diberikan elit global adalah perang. Mengapa mereka tidak melakukan penyelidikan dulu dengan kepala dingin?

Tentu saja karena tujuan utama mereka memang perang, dan yang dibutuhkan hanya alasan (pre-text), bukan penyelidikan.

Yang membuat saya miris adalah perilaku para cheerleader perang ini di Indonesia.

Perlu diketahui, orang Indonesia yang mendukung perang Suriah (penggulingan terhadap rezim Assad) secara garis besar terbagi 3 kubu:

(lebih…)