Kajian Timur Tengah

Beranda » Uncategorized

Category Archives: Uncategorized

Logika Timteng (6-tamat)

FALASI – 2

Jenis-Jenis Falasi (lanjutan)
(6) Argumentum ad Populum adalah beragumen dengan berdasarkan “banyak orang yang mengatakan hal itu.”

Contoh:
A: “Qaddafi itu pemimpin zalim! Memang layak ditumbangkan oleh mujahidin!”
B: Apa buktinya? Kalau dia zalim kok bisa Libya jadi negara dengan kualitas pembangunan manusianya terbaik se-Afrika? Kok bisa semua digratiskan, kesehatan, pendidikan, dll.
A: Semua ustadz dan ustadzah kita bilang demikian kok!
.
A: Kisah “bocah di kursi oranye itu” di Aleppo itu kemungkinan besar “staged” (dibuat/direkayasa), karena beberapa kejanggalan berikut ini.. [penjelasan].
B: Anda ngawur! Semua media besar, New York Times, BBC, CNN, sudah memberitakan kasus ini!
.

(lebih…)

Cara Menganalisis Berita dalam Kasus Senjata Kimia di Idlib

idlib9

Foto di Idlib yang dimuat NYT, bukankah seharusnya yang berpakaian lengkap mirip seperti yg dikenakan pasien, adalah tim medis?

Berkali-kali mahasiswa menanyakan kepada saya, bagaimana cara kita menelaah berita dari media mainstream. Berikut ini contohnya. Kasus yang akan kita pelajari adalah berita dari New York Times (NYT), ditulis tanggal 4 April 2017, di hari yang sama dengan kejadian serangan senjata kimia tersebut. Penulisnya Anne Barnard dan Michael R. Gordon yang melaporkan dari Beirut (Lebanon). [1]
1.    Sebuah berita (news) yang valid adalah ketika wartawan telah melakukan cross-check di lapangan. Robert Fisk, jurnalis senior asal Inggris, pernah menulis bahwa melaporkan berita dengan hanya bersumber dari satu pihak, tanpa ada wartawan yang mengkonfirmasi dengan matanya sendiri atas hal-hal yang mereka laporkan, adalah salah. [2]
Berita NYT ditulis dari Beirut, dan wartawannya (Bannard dan Gordon) tidak datang langsung ke lapangan. NYT menyebut narasumbernya: ‘saksi’, dokter, dan tenaga medis (Paragraf. 3) Foto dan video yang digunakan sebagai data disuplai oleh aktivis yang diunggah di internet (P.  9). Tanpa evaluasi yang seksama atas info-info tersebut,  NYT sejak di paragraf 1 sudah memberikan kesimpulan bahwa pelakunya adalah pemerintah Suriah.

(lebih…)

Medsos Adalah Fana, Kebencian Abadi?

isis1Kalimat yang saya pakai jadi judul itu saya ambil dari status seseorang yang nge-tag saya. Saya baca dini hari ketika suasana sepi, sehingga membuat saya mikir lama. Saya teringat cerita yang disampaikan seorang dosen Sejarah Peradaban Islam. Dulu, orang menerima kabar dari mulut ke mulut. Dulu banyak orang-orang Syam (Suriah saat ini) yang membenci Sayyidina Ali bin Abi Thalib karena mengiranya sebagai sosok yang meninggalkan sholat. Sampai suatu hari, Ali ditikam/dibunuh orang (yang agamanya Islam juga) di saat beliau sedang sholat Subuh. Kabar itu akhirnya sampai ke Syam dan orang-orang pun kaget, lho ternyata Ali itu sholat, tho?

Dulu, sebelum Revolusi Islam Iran 1979, buku-buku yang ditulis tentang “kesesatan Syiah” sangat sedikit dan dulu tidak ada perseteruan politik antara Sunni-Syiah. Yang ada, oposisi versus penguasa. Makanya ada istilah “rafidhah” (penolak) yang disematkan kepada kelompok oposisi. Pokoknya, kalau melawan penguasa, pastilah kamu Rafidhah, apapun mazhabnya. Dan rupanya, karena sebagian kaum Syiah di zaman dulu menjadi oposisi penguasa, akhirnya Rafidhah diidentikkan dengan Syiah dan kebencian disebarluaskan kepada Syiah. So, akarnya politik, ketakutan pada oposisi, keinginan untuk mempertahankan kekuasaan. Penguasanya boleh mati, tapi kebencian terus menurun kepada generasi berikutnya.

(lebih…)

Pengumuman: Saya Punya Fanpage

fanpageSudah sejak beberapa tahun yang lalu, teman-teman Facebook mendorong saya untuk membuat Fanpage. Alasannya, sudah beberapa kali saya diblokir Facebook karena di-report kelompok tertentu. Tapi saya selalu enggan.

Alasan pertama, karena merasa tidak ada waktu mengurusnya. Kedua, karena komentator di FP sulit dikontrol. Semua orang bisa dengan mudah me-like lalu menyemburkan amarahnya. Saya sudah membaca di banyak tempat, betapa kasarnya kata-kata sebagian haters yang tidak suka tulisan saya. Alih-alih counter-argument, mereka malah mencaci-maki. Dan masalahnya, saya ini ibuk-ibuk biasa yang baper dan sensi. Saya sudah nyaman di akun Facebook saya, memegang kendali sepenuhnya. Yang berani ngomong kasar, unfriend saja. Yang hobi nyindir ala ibuk-ibuk arisan (yang melakukan ini bahkan termasuk bapak-bapak) juga unfriend saja. Suami-istri saja bisa cerai kalau tidak nyaman, apalagi sekedar teman facebook. Saya tidak sanggup membalas kekasaran dengan kekasaran, tapi juga tak terima kalau dimaki-maki. Buat apa repot-repot, bila bisa hidup nyaman dengan meng-klik tombol unfriend?

Tapi setelah diblokir 30 hari dengan all-in, tidak bisa posting status, komen, inbox, bahkan, sial, me-like komentar orang pun tidak bisa, saya merasa memang kini sudah waktunya. Banyak sekali yang ingin saya sampaikan dan share di FB di hari-hari penuh prahara ini (gara-gara konflik Suriah), tak bisa saya lakukan.

Dan inilah Fanpage saya, resmi, satu-satunya. Seperti akun saya, juga cuma satu, tidak ada kloningan. Kalau ada akun lain muncul pakai nama saya, jelas bukan saya. Twitter pun saya tak punya, sehingga ada bila ada akun twitter dengan nama saya, sudah pasti bukan saya.

Semua postingan di Fanpage ini adalah tulisan saya, yang saya buat dengan tujuan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di Timur Tengah. Perspektif yang saya pakai bukan agama, melainkan geopolitik dan ekonomi politik. Konflik Suriah membuktikan bahwa apa yang terjadi di Timur Tengah sangat berpengaruh pada situasi politik dan sosial-budaya Indonesia.

Betapa friksi antar anak bangsa sejak 2012 semakin keras, dan berimbas pada cara pandang kita terhadap politik domestik. Sebagai penstudi Hubungan Internasional, saya sudah dibekali berbagai teori sebagai alat untuk menganalisis. Jadi adalah tanggung jawab saya untuk menyampaikan analisis yang berbasis teori (meski seringkali tidak saya tampakkan dalam tulisan, agar lebih ringan dan enak dibaca) dan cara-cara pengambilan kesimpulan yang kredibel, bukan asumsi, apalagi kebencian. Tujuan saya adalah: demi INDONESIA DAMAI. Bagaimana kehidupan anak-anak kita di sama depan adalah tanggung jawab kita semua. Apakah mereka akan hidup damai sehingga mampu membangun negeri ini dengan sepenuh pikiran dan tenaga; ataukah mereka kan seperti kita hari ini, menghabiskan waktu untuk bertengkar sesama anak bangsa?

Perlu saya sampaikan dua hal:
1. Aturan komentar di Fanpage ini: tidak boleh mengumbar kebencian, menggunakan SARA, apalagi mencaci-maki. Setiap komentar yang bertentangan dengan aturan ini akan diblokir.
2. Saya dibantu oleh 3 admin yang akan membantu saya ‘berpatroli’ mengamati komentar yang masuk. Bila diperlukan, mereka kan menginformasikan kepada saya untuk menjawab. Dan bila ada yang melanggar aturan (1), merekalah yang akan memblokir. Mungkin sesekali mereka juga yang akan membantu menjawab komen-komen. Jadi jangan heran kalau terkadang gaya bahasa di kolom komen agak berbeda dengan saya. Tapi untuk status, dijamin semua tulisan asli saya.

Tulisan pengantar ini ditayangkan juga di blog ini untuk verifikasi bahwa Fanpage ini memang milik saya.

Demikian sekilas info. Terimakasih banyak atas begitu banyaknya dukungan yang diberikan untuk saya selama beberapa hari terakhir ini (dan tentu saja, selama 5 tahun terakhir ini).

Tabik,

Dina

Suriah: Menjawab Para Bigot

bigotBigot. Saya belum tahu apa padanannya dalam bahasa Indonesia. Bigot adalah bahasa Inggris, artinya “a person who is intolerant toward those holding different opinions” (orang yang intoleran terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan dirinya).

Apakah artinya kita harus sependapat dengan orang lain? Tentu tidak. Tapi cara mengungkapkan ketidaksependapatan itu yang menentukan seseorang itu bigot atau bukan. Bigot akan mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan kasar dan ad hominem (menjatuhkan sisi personal lawannya, misalnya “dia  ngomong begitu karena antek China!” atau “Dia kan Syiah, jangan dipercaya!”). Intimidasi terhadap saya bahkan ancaman kekerasan plus menggunakan foto anak-anak saya sebagai meme jahat. Benar-benar “sakit” mereka itu.

Sejak 3 hari yll (15 Des), FB saya diblokir 30 hari karena dituduh “melanggar standar komunitas”. Tentu artinya ini ada banyak bigot me-report saya. Teman facebook saya, Dandhy Dwi Laksono, menulis status yang menyatakan kecamannya pada aksi-aksi pembungkaman seperti ini (bukan hanya terhadap saya, tapi dia juga menyinggung aksi pembungkaman terhadap situs yang menyuarakan berbagai fakta soal Papua).

Dan kemarin saya melihat sekilas, banyak sekali para bigot membanjiri postingannya dengan komen-komen khas para bigot. Ada dua yang secara acak saya “tangkap” dan saya bahas di sini.

(lebih…)

Kekalapan Imperium Pasca Bebasnya Aleppo

Tulisan terbaru saya, dimuat di LiputanIslam.com

Kekalapan Imperium Pasca Bebasnya Aleppo

Oleh: Dina Y. Sulaeman, Direktur ICMES

Seiring dengan kembalinya kontrol Aleppo ke tangan pemerintah Suriah, setelah lima tahun dikuasai oleh kelompok-kelompok teroris, mesin-mesin propaganda Imperium bereaksi dengan kalap. Secara serempak mereka memproduksi dan menyebarkan berita yang menggambarkan bahwa tentara Suriah melakukan pembantaian massal di kota itu. Para pejabat Barat dan PBB mengeluarkan pernyataan mendiskreditkan pemerintah Suriah. Beberapa aktivis media sosial yang selama ini memang sudah punya rekam jejak menjadi provokator konflik Suriah, menjadi pelaku utamanya, dan kemudian disiarkan ulang oleh media-media mainstream.

Misalnya Lina Shamy dan Mr. Alhamdo, tampil dalam rekaman yang disiarkan ulang oleh BBC. Dalam video itu, Lina dalam bahasa Inggris mengatakan, “To everyone who can hear me, we are here exposed to a genocide” (kepada siapapun yang mendengar kami, di sini kami terancam pembunuhan massal). Hanya dengan sedikit melakukan pelacakan di akun facebooknya, kita akan menemukan bahwa Lina adalah seseorang yang memiliki rekam jejak pertemanan akrab dengan “jihadis”. Mr. Alhamdo yang sering dikutip sebagai narasumber oleh media Barat dalam melaporkan “pembunuhan massal oleh Assad” saat dicek rekam jejaknya, juga sangat terkait dengan kelompok-kelompok “jihad”. Alhamdo juga orang di balik akun twitter “Bana of Aleppo” yang menulis “Lebih baik Perang Dunia III meletus, daripada membiarkan Assad dan Rusia melakukan Holocaust di Aleppo”.

Selengkapnya, silahkan mampir ke situsnya.

 

Pengumuman: Saya Diblokir FB 30 Hari

Seperti sudah diduga… dulu juga terjadi berkali-kali, ketika saya bersuara vokal soal Suriah, menentang narasi yang dikemukakan kaum “mujahidin”, para simpatisannya langsung beramai-ramai melaporkan saya ke Facebook.

Saya merasa perlu mengumumkan, karena saya tidak bisa membalas komentar di postingan dan tidak bisa mengirim inbox padahal ada beberapa orang yang sedang berkomunikasi dengan saya lewat inbox dan saya tidak punya no hape mereka.

Sampai jumpa 30 hari lagi. Tapi saya akan terus update di blog ini. Kalau ingin follow, bisa masukkan alamat email di side bar kiri beranda (home page) blog ini (klik tombol “ikuti”).

Ini screenshot pemblokiran dari FB:

fb1

fb2

Mengapa Mereka Mendadak Heboh Soal Aleppo?

Di bawah ini saya copas status dr Joserizal yang menjelaskan mengapa kok mendadak para fans Erdogan di Indonesia (*presiden yang tertukar*) secara masif dan serempak menebar hashtag “save Aleppo” dan sibuk menggalang dana. Asal dijamin sampai ke warga sipil korban perang sih, kita dukung dong. Masalahnya, seperti kata Dubes Djoko, kan di tengah jalan bantuan itu sering diserobot pemberontak. Thanks to Allah, akhirnya kubu pro-mujahidin keceplosan ngaku bahwa senjata mrk dapat dari AS  dan bahwa dana yg mrk kumpulkan di Indonesia adalah utk mujahidin (lihat foto di bawah) Selain itu, kenapa sih pake menyebar foto-foto palsu dan memfitnah orang? Apa berbuat baik itu boleh saja didului dengan kejahatan?

(lebih…)

Prahara Aleppo (2)

The White Helmets

Aleppo adalah kota terbesar di Suriah. Sejak 2012, jihadis/teroris dari berbagai kubu menduduki Aleppo. Mereka sempat menguasai 70% kota, namun tentara Suriah (SAA) kemudian melancarkan operasi pembebasan Aleppo. Saat ini, tinggal wilayah selatan Aleppo yang diduduki oleh jihadis/teroris.

Sejak 23 April 2016, jihadis/teroris di Aleppo secara masif menghujani wilayah Aleppo yang dikontrol SAA dengan mortar, rocket, dan Hell Cannon (sebelumnya, selama 2012-2016 mereka juga sering menyerang secara sporadis,  kali ini benar-benar masif). Korban terbesar adalah warga sipil, termasuk anak-anak. Awalnya media Barat bungkam (hanya media-media Suriah, PressTV, XinHua, RT, dan media-media alternatif  lainnya yang ‘berteriak’). Namun setelah SAA melakukan serangan balasan untuk membebaskan Aleppo dari jihadis/teroris, dengan serempak muncul pemberitaan masif dari media Barat/pro-jihadis: SAA dan Rusia membunuhi warga sipil Aleppo.

Salah satu korban serangan bom adalah RS Al Quds (di wilayah yang dikuasai jihadis/teroris dibom), 27 April 2016. Berita versi Barat/jihadis, pelakunya adalah SAA atau Rusia. Namun Rusia memiliki data bahwa pesawat yang terbang di udara Aleppo pada hari itu justru satu pesawat dari pihak koalisi anti ISIS (yang dimaksud: kubu AS&Turki).  AS dengan segala kecanggihan militernya tentu seharusnya juga punya data radar, tinggal diperlihatkan saja ke publik, kalau memang benar pengebomnya Suriah/Rusia. Modus sama telah terjadi pada 10 Februari 2016. Saat itu dua rumah sakit di Aleppo dibom dan jubir Pentagon langsung menyebut Rusia sebagai pelakunya, tanpa menyebut waktu dan koordinat lokasi serangan. Jubir Menhan Rusia membalas dengan mengungkap data rinci bahwa pada hari itu jam 10:55 GMT dua pesawat AS A-10 memasuki udara Suriah melalui Turki dan terbang langsung ke Aleppo dan mengebom 9 target di sana. Pada Oktober 2015, pesawat AS juga mengebom beberapa pusat pembangkit listrik di Aleppo.

(lebih…)

Logika Boikot Zionis

boikotKTT Luar Biasa OKI 2016 telah mengeluarkan resolusi dan Deklarasi Jakarta yang menurut saya, cukup tegas dan ‘bertenaga’. Kita patut bangga, karena dalam proses perumusan resolusi dan deklarasi semacam ini dalam konferensi internasional, peran tuan rumah (dalam hal ini Kemlu RI) sangat signifikan. Tentu saja, kita musti wait n see untuk melihat bagaimana implementasinya.
Namun, ada satu poin dalam resolusi itu yang bisa dilakukan oleh kita, masyarakat sipil, yaitu boikot. Biasanya, seruan boikot akan ditanggapi sinis, “Lu aja fesbukan, itu kan buatan Yahudi?!”
Berikut ini penjelasan singkat soal boikot.
1. Perusahaan yang diboikot adalah perusahaan yang menyalurkan sebagian labanya untuk mendukung Israel. Israel bisa tegak sampai hari ini karena sebagian besar biaya operasional pemerintahannya disumbang (istilah mereka: ‘tzedakah’) perusahaan-perusahaan transnasional. [catatan: di resolusi/deklarasi OKI, disebut yang diboikot adalah ‘perusahaan yang ada di wilayah pendudukan; tapi gerakan boikot Zionis internasional sebenarnya jauh lebih luas]
2. Boikot adalah bentuk solidaritas. Ini masalah hati, Kang. #eaaa. Ketika kamu tahu bahwa sebuah perusahaan menyalurkan profitnya untuk mensupport rezim penjajah, hatimu menolak memakai produk itu dan memilih produk lain.
3. Tujuan boikot adalah memberikan tekanan kuat kepada Israel dan para pendukungnya, dengan harapan rezim Zionis bisa kepepet, bahkan tumbang, sehingga bisa dibentuk rezim baru yang demokratis dan mengembalikan hak-hak bangsa Palestina. Gerakan boikot internasional pernah berhasil menumbangkan Rezim Apartheid di Afrika Selatan, sehingga kita boleh optimis bahwa bila umat manusia pencinta keadilan dan perdamaian bersatu memboikot Israel (dan para pendukungnya), kita juga bisa menumbangkan Rezim Zionis.
Btw, dampaknya sudah pernah sedikit terlihat, misalnya pada tahun 2014, perusahaan2 Israel sudah kompak menekan Netanyahu bahwa “kestabilan ekonomi hanya bisa dicapai kalau Israel berdamai dengan Palestina” [http://mondoweiss.net/2014/01/business-confront-netanyahu/].
4. Boikot Israel bukan urusan umat Islam semata, tapi seluruh umat yang peduli pada kemanusiaan. Gereja Vatikan sudah menarik sahamnya dari Caterpillar, karena buldoser2 Caterpillar digunakan untuk menghancurkan rumah-rumah orang Palestina. Lembaga investasi terbesar di Belanda PGGM, tahun 2014 telah memutuskan tidak berinvestasi di Israel karena kejahatan Israel terhadap Palestina. Di Irlandia, supermarket-supermarket telah menolak memasukkan buah-buahan asal Israel.
5. Bagaimana bila kita tak punya alternatif? Misal, produk A sudah jelas pendukung Israel, tapi kita terpaksa menggunakannya. Jawaban saya: ibarat jawab soal ujian, kalau 10 soal bisa jawab 8 ya sudah lumayan, biarlah yang 2 salah karena terpaksa. Tapi, jujurlah pada diri sendiri, terpaksa, atau sekedar memenuhi selera? *aku tuh ga bisaaaa… kalau gak pake komestik produk A*
Demikian, semoga dipahami. Mari kita ingat, bahwa membela bangsa yang terjajah adalah mandat UUD 1945. Dan kalau mau sedikit berpikir lebih luas, sebenarnya, melawan Israel adalah membela kepentingan nasional kita sendiri (silahkan baca-baca secara mendalam, siapa sebenarnya yang ada di balik berbagai konflik di dunia ini, pasti ketemu: perusahaan-perusahaan trasnnasional, terutama migas, rekonstruksi, dan senjata. Lalu siapa pemiliknya? Cek saja sendiri).
—-
* web yang menurut saya credible memberi info ttg perusahaan2 yang pro Israel: http://inminds.com/   Merek2 yang diboikot: http://inminds.com/boycott-brands.html