Kajian Timur Tengah

Beranda » Uncategorized

Category Archives: Uncategorized

Iklan

(PDF) NKRI Bersyariah Atau Ruang Publik yang Manusiawi (Denny JA)

NKRI Bersyariah Denny JA

Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari 21 pakar, yang mewakili berbagai bidang keilmuan dan minat. Mereka menanggapi tulisan karya Denny JA, yang beredar luas di media sosial, yang berjudul “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?”

Tulisan Denny JA ini tidak hadir begitu saja. Tulisan Denny sebenarnya berangkat dari keprihatinan, menyusul hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, yang melakukan survei analisis pro-Pancasila. Ternyata menurut survei, dalam 13 tahun terakhir, persentase publik pro-Pancasila terus menurun sebanyak 10 persen.

Para pakar ini dianggap mampu memberi masukan, saran, kritik, dan pencerahan terkait topik yang diajukan, yakni soal pilihan krusial antara NKRI Bersyariah dan Ruang Publik yang Manusiawi.

Diharapkan, berbagai tulisan dan sumbangan pemikiran dari para pakar itu akan bisa membantu memperkaya pemikiran kita. Yakni, untuk memperoleh pencerahan dan kejelasan arah gerak bangsa ke depan, serta langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk “membangkitkan kembali” dasar negara Pancasila.

(kutipan pengantar dari editor: Dr. Satrio Arismunandar)

Daftar judul tulisan dan nama penulis di buku ini:

NKRI Bersyariah atau Ruang Publik y ang Manusiawi? Denny JA

NKRI Bersyariah dan Ruang Publik Inklusif dalam Pusaran Kekuasaan Indonesia PascaOtoritarianisme (Airlangga Pribadi Kusman)

Ruang Publik yang Manusiawi bersama Pancasila (E. Fernando M. Manullang)

Islam Mementingkan Sasaran, Bukan Sarana (Nurul H. Maarif)

Islam Simbolik dan Islam Substantif: Problema Nilai Islamisitas dalam Politik Indonesia (Al Chaidar)

Visi Ketuhanan dan Ruang Publik yang Manusiawi (Trisno S. Sutanto)

Apakah Indonesia Kurang Syar’i? (Rumadi Ahmad)

NKRI Adil dan Beradab! Catatan untuk Denny JA (Adian Husaini)

Apalagi yang Mau Dituntut Umat Islam? (Asvi Warman Adam)

NKRI Bersyariah atau Eksploitasi Simbol Agama? (Kastorius Sinaga)

Mengarahkan Gerakan NKRI Bersyariah (Abdul Moqsith Ghazali)

Genealogi Indonesia (Komaruddin Hidayat)

NKRI Bersyariah, Piagam Jakarta dalam Praksis Wahabis (AE Priyono)

Menguji Konsep NKRI Bersyariah dalam Politik Global (Dina Y. Sulaeman)

Istilah NKRI Bersyariah Adalah Sesat Nalar dan Distorsi Islam (Husain Heriyanto)

Pancasila dan Pentingnya Mengelaborasi Pengertian Syariah dalam Ruang Publik  (Budhy Munawar-Rachman)

Risiko “Berbaju Agama” di Ruang Publik yang Majemuk (I Gede Joni Suhartawan)

Syariah, Perda Syariah dan Negara (Azyumardi Azra, CBE)

Undang-undang dan Perda Syariah: Ada atau Tidak Ada? (Yusril Ihza Mahendra)

NKRI Telah Bersyariah (Satya Arinanto)

NKRI Bersyariah vs Ruang Publik yang Manusiawi: Mencari Jiwa dan Jati Diri Bangsa (Nursyahbani Katjasungkana)

Para Distopian Negara Syariah (Ahmad Gaus AF)

Ebook silahkan download dengan mengklik tautan ini:

Denny JA_NKRI Bersyariah atau Ruang Publik Yang Manusiawi (Polemik)

Iklan

Khilafah in Context

Salah satu tips penting agar kata-kata Anda berdampak pada audiens: katakan/tulislah sesuatu yang ada konteksnya. Dengan kata lain, hantarkan tulisan dengan konteks yang langsung nyambung dengan audiens.

Misalnya, ibu ingin menasehati anak agar rajin belajar. Nasehati ia saat ada konteksnya, misalnya si anak sedang tergila-gila pada Gundam dan ingin sekali bisa kuliah di Jepang. “Belajar yang rajin dari sekarang, biar dapat beasiswa!”

Sebaliknya, penulis/pembicara pun harus menyadari bahwa audiens akan menangkap perkataan mereka sesuai dengan konteks yang ada. Jangan salahkan kalau tulisan Anda ditangkap berbeda, karena Anda yang tidak sadar konteks.

Contohnya, ada seorang ustadz 212 yang baru-baru ini saja bicara soal jahatnya hoax. Dia juga menyeru kedua kubu baik 01 dan 02 jangan saling ejek atau saling hina. Dia kasih nasehat soal akhlak, dan bahwa perilaku para politisi sekarang ini merupakan pelanggaran atas ayat 11 dan 12 surah Al-Hujurat. Well, perkataannya bagus. Tapi konteksnya sudah telat.

Kemana saja dia, ketika ada kemarin-kemarin ada hoax-hoax jahat tersebar? Setahu saya, dia tidak memberi komentar soal hoax penganiayaan RS atau hoax 7 kontainer.

Akibatnya, kata-katanya yang baik dan benar itu “ke laut aja”, tidak berdampak pada audiens, bahkan diolok-olok.

(lebih…)

Saya berkali-kali bilang, kalau meneliti sesuatu jangan melulu berdasarkan ‘katanya’, coba ditelaah sumber-sumber aslinya.

Jadi, soal Libya, Suriah, atau Yaman, jangan menyadarkan diri pada “katanya ustad” atau “kata media mainstream Barat” melulu, coba lakukan cross check dengan seksama. Kalau dapat foto “korban kekejian Assad Syiah la’natulloh” coba manfaatkan google image karena selama ini selalu saja terbukti fotonya hoax.

Manusia dikaruniai akal untuk meneliti, menyaring informasi, dan menganalisis.

Jubir HTI Ismail Yusanto menyatakan HTI tak punya bendera. Ia tak mengaku bahwa bendera hitam yang dikibar-kibarkan HTI dalam aksi demonya selama ini, yang ditaruh/ditempel di kantor pusatnya (saya pernah riset ke sana tahun 2011) adalah bendera HTI.

Nah, bagaimana kalau disimak saja di buku yang diterbitkan HTI sendiri?

(lebih…)

Bocah Yaman

Foto tragis bocah ini kemungkinan besar tidak akan menjadi headline di media massa internasional. Tidak akan disebarkan dengan penuh semangat oleh orang-orang yang mengaku “pejuang kemanusiaan” dan hobi pakai tagar Save Humanity (sambil memberi nomer rekening bila Anda ingin menyumbang).

Bocah ini sedang memeluk erat jasad ayahnya, yang tewas dalam pengeboman yang dilakukan oleh rezim Arab Saudi pada 24/4/2018. Ayah dan anak itu sedang berada di sebuah pesta pernikahan. Pernikahan, sama sekali bukan aksi teror yang patut dilawan dengan senjata. Pernikahan adalah ikatan suci dan kegembiraan di tengah nestapa sebuah negeri yang 3 tahun terakhir dibombardir dan diblokade Arab Saudi dengan bantuan AS dan senjata-senjata yang diimpor dari negeri-negeri Barat.

Tetapi, rezim kriminal perang itu mengebomnya, menewaskan 50-an orang, termasuk ayah si bocah. Dia memeluk jasad sang ayah erat-erat dan menolak dipisahkan oleh warga yang hendak menolongnya. Dia menyatakan bahwa sang ayah hanya tidur dan sebentar lagi bangun lalu membawanya pulang.

(lebih…)

Mereka yang Berlumuran Darah Suriah

Tucker-Assad

Serangan senjata kimia di Douma telah dijadikan alasan oleh para elit global untuk melemparkan ancaman perang besar. Dunia menanti, apa yang akan terjadi beberapa jam/hari ke depan. Berbagai spekulasi dan dugaan diajukan. Dubes AS untuk AS, Nikki Haley, sudah menyatakan AS akan bertindak “melindungi rakyat Suriah” dengan atau tanpa izin PBB.

Hailey, yang di depan lembaga lobby Zionis terbesar AS, AIPAC, pernah berkata akan “menendang” siapa saja yang menghalangi kepentingan Israel di PBB, akan melindungi rakyat Suriah, #eh?

Narasi bahwa ‘Assad pelaku penggunaan senjata kimia di Ghouta’ disampaikan masif oleh elit global dan disebarluaskan oleh media mainstream global dan lokal. Anehnya, pilihan yang diberikan elit global adalah perang. Mengapa mereka tidak melakukan penyelidikan dulu dengan kepala dingin?

Tentu saja karena tujuan utama mereka memang perang, dan yang dibutuhkan hanya alasan (pre-text), bukan penyelidikan.

Yang membuat saya miris adalah perilaku para cheerleader perang ini di Indonesia.

Perlu diketahui, orang Indonesia yang mendukung perang Suriah (penggulingan terhadap rezim Assad) secara garis besar terbagi 3 kubu:

(lebih…)

Ghouta is Saved

ghouta bebas 23mar2018

warga Ghouta timur bergembira karena dibebaskan dari cengkeraman “mujahidin”

Jauh berkebalikan dengan narasi para pengumpul donasi “Save Ghouta”, kenyataannya justru Ghouta saat ini bebas. Ghouta is saved.

Meskipun mereka setiap hari terus menghujani Damaskus dengan mortir, pemerintah Suriah tetap menawarkan amnesti untuk warga asli Suriah yang mau meletakkan senjata, atau mereka memilih bergabung dengan milisi asing untuk dievakuasi ke Idlib (salah satu provinsi di Suriah yang berbatasan dengan Turki).

Menurut Fanpage Dimashq al An (Damascus Now) pada 24 Maret 2018, milisi Al Nushra dan Failaq Rahman yang berada di Jobar, Hazzeh, Erbin, dan Zamalka setuju untuk dipindahkan ke Idlib. Besok mereka mulai diangkut bis-bis berwarna hijau itu. Sejak kemarin mereka pun mulai membakar dokumen-dokumen dan meledakkan gudang persenjataan mereka di 4 wilayah tersebut.

Pertanyaannya, mengapa harus dimusnahkan?

(lebih…)

AS Mengakui Tak Punya Bukti Soal Serangan Gas Kimia di Suriah

US-DEFENSE-MATTISTanggal 2 Feb lalu (sudah lama ya, saya terlewat), Menhan AS, Jim Mattis menyatakan bahwa AS tidak punya bukti untuk mengkonfirmasi laporan dari kelompok-kelompok relawan (aid groups) yang menyatakan bahwa pemerintah Suriah menggunakan gas sarin terhadap warganya sendiri. [1]

Pernyataan Menhan AS itu ditulis oleh New York Times di paragraf pertama. Tentu saja, di kalimat-kalimat selanjutnya penuh tuduhan-tuduhan lain. Dan beginilah cara kita menganalisis berita, cari kata-kata yang bernilai data, lalu komparasikan dengan data-data lainnya. Jadi, saya tidak pernah menganjurkan “abaikan media mainstream”; melainkan: baca dengan kritis, ambil data yang valid dari sana. Pernyataan Menhan AS ini contohnya.

Ok, catet, AS tidak punya bukti atas serangan gas sarin di Suriah. Dan kita tahu, Trump meluncurkan 59 Tomahawk ke Suriah dengan alasan Assad membunuh warganya dengan sarin.

Dari April 2017 hingga Februari 2018 (sekarang) adalah waktu yang cukup lama. Dulu, AS  butuh sekitar 8 tahun untuk mengakui bahwa Irak tidak punya senjata pembunuh massal; padahal alasan itu yang dipakai AS untuk menginvasi Irak dan memporak-porandakan Negeri 1001 Malam itu.

(lebih…)

Kembali ke Palestina dan Yaman

kaka cafe

Diskusi di Kafe Kaka (Geostrategy Study Club) Bandung

Dalam sebuah diskusi publik di Bandung tentang Palestina (14/12), ada yang bertanya, “Apa kemungkinan akan terjadi selanjutnya? Apakah akan ada perang?”

Waktu itu, Trump baru saja mengumumkan pengakuan AS atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel dan kecaman dari masyarakat dunia sangat kuat, termasuk dari Presiden Indonesia, Joko Widodo.

Jawaban saya, kurang lebih, “Para pejuang Palestina di Gaza sudah menyatakan siap berperang; Iran dan Hizbullah sudah menyatakan siap sepenuhnya mendukung. Tapi apakah akan terjadi perang? Prediksi saya, TIDAK. Israel SANGAT TAKUT berperang all out seperti itu. Anda pernah lihat kan, di medsos sering tersebar foto-foto tentara Israel yang sedang menangis? Saya perkirakan akan ada upaya diplomatik tertentu, untuk menganulir masalah ini, entah apa, tapi yang jelas, perang tidak akan terjadi dalam waktu dekat.”

(lebih…)

Palestina: Selalu Ada Buah Busuk dalam Keranjang

Joko Widodo, Mahmoud AbbasKalau kita membahas perjuangan kemerdekaan Indonesia, apa yang Anda bayangkan? Heroisme para pejuang, kan? Terbayang gak, kalau di antara para pejuang kemerdekaan itu ada orang-orang yang brengsek? Ah, rasanya gak mungkin!

Tapi coba baca catatan peneliti sejarah, kang Hendi Jo dalam bukunya “Zaman Perang”. Di situ Anda akan temukan bahwa jalannya perang tidaklah hitam putih. Selalu ada tokoh antagonis di pihak terjajah, selalu ada tokoh protagonis di pihak penjajah. Anda bisa baca juga catatan-catatannya di Facebook. Misalnya, ini saya kutip:

(lebih…)

Aleppo Sebagai Pemicu Ekstrimisme

salju di aleppo cet-3

Buku “Salju di Aleppo” cetakan 3 segera terbit.

Semoga buku ini bisa semakin banyak tersebar dan semakin banyak yang membaca. Proses penyebaran radikalisme (tepatnya: ekstrimisme dalam beragama) sudah dimulai sejak lama. Namun, untuk ‘meledak’, butuh trigger, butuh pemicu, butuh isu yang membangkitkan amarah.

Sejak 2012, konflik Suriah-lah yang dijadikan trigger itu untuk membangkitkan sektarianisme dan ekstrimisme di Indonesia. Sejak itulah ujaran kebencian melanda publik dengan dahsyat, awalnya memang terkait isu Suriah, namun terjadi proses imitasi (karena sudah terbiasa), merembet ke berbagai isu. Bom, bunuh, bakar, gantung, penggal, metode yang biasa dipakai para ‘jihadis’ di Suriah, diimitasi di negeri ini, baik secara verbal maupun secara fisik (benar-benar terjadi).

Jadi, karena triggernya di Suriah, publik perlu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan tidak tertipu oleh propaganda sebagian pihak yang terus menghembus-hembuskan kebencian di tengah publik, sekaligus menggalang dana yang menguntungkan segelintir pihak.

(Foto kanan: buku Salju di Aleppo bahkan sampai ke Alaska, AS, dengan proses titip-menitip. Saya benar-benar terharu lihat foto ini. Di dalam foto ini tersirat tekad untuk menggali pengetahuan dan ketulusan pertemanan -meski hanya berjumpa di dunia maya.)

Pemesanan: WA/SMS ke mas Hatim 0878 8299 8696