Kajian Timur Tengah

Beranda » Zionis Israel

Category Archives: Zionis Israel

Jawaban untuk Pembela Israel (File PDF)

palestine-oppressionMenyusul bentrokan, aksi kekerasan, dan tindakan diskriminatif yang dilakukan oleh tentara Israel terhadap warga Palestina di kawasan Al Aqsha pada Juli 2017, Direktur ICMES, Dr. Dina Y. Sulaeman menulis serangkaian tulisan mengenai konflik Palestina-Israel di laman Fanpage-nya.

Berikut ini kompilasi tulisan tersebut, yang isinya adalah membongkar cacat logika (falasi) para pembela Israel, mengupas sejarah konflik, serta mengajukan solusi yang mungkin diambil, dengan berbasis data dan perspektif studi HI (bukan berdasarkan klaim teologis).

Silahkan unduh file-nya di sini: PALESTINA ADALAH KITA

Simak juga wawancara Dr. Dina Y. Sulaeman dengan Metro TV mengenai konflik ini.

Iklan

Tentang Palestina (4b): Dimana Jalan Keluar?

women in black

Women in Black (baca ket. foto di bawah)

Setelah sebelumnya saya paparkan opsi yang ada (one state solution, dan two state solution), masyarakat sipil antiperang dan pembela rakyat tertindas bisa melakukan diseminasi ide. Artinya, setelah ‘ajek’ mikirnya, Anda bisa bersuara dengan tegas. Jangan ragu dan mudah digoyahkan oleh argumen-argumen para pembela Israel yang seolah intelek, padahal penuh falasi (jadi, pelajari juga baik-baik seri Falasi Logika Para Pembela Israel).

(2) Melakukan Aksi Boikot

Tentu saja, akan banyak yang nyinyir mendengar ide ini. Biasanya seperti kaset rusak mereka akan mengulang-ulang kalimat ini: “Lu aja fesbukan, itu kan buatan Yahudi?! Sana hidup sama onta aja!”  Nanti akan terjawab di akhir tulisan ini.

(lebih…)

Tentang Palestina (4a): Dimana Jalan Keluar?

israel-kids

seorang pria Israel dan putranya

Para pembela Israel suka komen menye-menye: “Israel ini negara kecil di tengah kepungan negara-negara Arab! Mereka setiap saat berada dalam ancaman orang-orang Arab rasis! Kenapa sih, orang-orang Arab itu ga mau bertetangga baik-baik saja dengan kaum Yahudi?”

 

Pertama, kalimat di atas melupakan bagaimana proses “tetangga baru” (Yahudi imigran) datang ke Palestina; melupakan fakta bahwa sebelum Yahudi Zionis Eropa berambisi membuat negara-rasis-khusus Yahudi, orang-orang Yahudi-Arab hidup berdampingan ribuan tahun dengan warga Kristen-Arab dan Muslim-Arab di Palestina; melupakan kejadian pembantaian dan pengusiran besar-besaran yang dilakukan milisi “jihad” Yahudi tahun 1947-1948 (periode antara Resolusi 181/1947 dengan deklarasi Israel Mei 1948), dst.

Kedua, kalimat di atas melupakan fakta bahwa rezim-rezim monarkhi Arab justru mesra dengan Israel. Malah raja/emir Arab itu pembela setia Israel. Mereka rela angkat senjata demi Israel (misalnya, Saudi, Qatar, Jordan, dkk memerangi Suriah, demi apa? Demi kerang ajaib? Demi Israel, Om!)

(lebih…)

Tentang Palestina (3): Mengapa Orang Indonesia Harus Membela Palestina?

demo pro palestina
Alasan 1: Nasionalisme Indonesia
Para pembela Israel berkulit sawo matang terus mengulang-ulang narasi bahwa “Yang teroris adalah orang Arab Palestina, yang jadi korban adalah Israel.” Persis seperti yang dikatakan Obama berulang-ulang selama ia menjadi Presiden AS, “Amerika berkomitmen pada keamanan Israel. Dan kita akan selalu mendukung hak Israel untuk membela dirinya di hadapan ancaman yang nyata. Selama bertahun-tahun Hamas telah meluncurkan ribuan roket kepada warga Israel yang tak berdosa.”
Saya sudah jelaskan tentang falasi non-causa pro-causa, nah kalimat Obama ini salah satu contohnya (baca lagi tulisan saya seri falasi para pembela Israel).
Sekarang saya ingin bertanya: para pembela Israel ini patuh pada Presiden AS atau Presiden Indonesia?
Pak Jokowi dalam pembukaan KTT LB OKI di Jakarta Maret 2016, mengatakan, ”Pada tahun 1962, Bapak Bangsa Indonesia, Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, Bung Karno, menegaskan: “… selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel’… Kami bangsa Indonesia konsisten dengan janji tersebut. Hari ini, Indonesia berdiri bersama dengan negara-negara OKI untuk meneruskan perjuangan yang belum selesai itu.”
Jadi, pemerintah kita sejak zaman Pak Sukarno sampai hari ini selalu berada di pihak Palestina. Sama sekali tidak ada ‘pertanyaan’, mana yang jadi ‘korban’ (upaya blaming the victim). Ini sesuatu yang sudah jadi fakta: Palestina itu dijajah oleh Israel, titik. Pembukaan UUD 45 memberi mandat kepada bangsa Indonesia untuk membela bangsa-bangsa terjajah.
Jadi para pembela Israel berkulit sawo matang itu memang patut dipertanyakan nasionalismenya: mengapa mereka patuh sama Presiden Presiden AS dan Israel? Mengapa narasi yang mereka sampaikan malah membeo perkataan Presiden AS dan Israel? Apa bedanya mereka dengan warga Turki kaburan di Indonesia yang lebih memuja Erdogan, atau warga Indonesia yang berbaiat pada ‘negara’ illegal nun jauh di sana (ISIS)?

Tentang Palestina (2): Holocaust

auschwitz kamar gas

turis yang sedang berkunjung ke kamp Auschwitz

[Baca dulu Tentang Palestina (1) dan Serial Falasi Para Pembela Israel]

Holocaust secara etimologis berasal dari bahasa Yunani, holo berarti keseluruhan (whole) dan kaustos berarti terbakar/dibakar (burnt). Holocaust didefinisikan sebagai kerusakan besar yang terutama ditimbulkan oleh pembakaran, yang mengakibatkan tewasnya manusia dalam jumlah besar (klaim pihak Zionis: ada 6 juta Yahudi tewas akibat Holocaust). Holocaust menjadi dalih utama atas klaim NEGARA KHUSUS YAHUDI HARUS DIBENTUK.

Di dunia Barat, ada kelompok sejarawan yang disebut “revisionis” (sejarawan yang melakukan penelitian dan rekonstruksi ulang sejarah PD II), antara lain Frederick Toben, Garaudy, Faurisson. Dalam proses penelitian mereka, kasus Holocaust pun terbahas. Saya akan kutip sedikit saja, penjelasan lebih banyak bisa baca di soft-file buku saya (link ada di footnote).

Frederick Toben

Toben menyatakan bahwa sepanjang sejarah, teknologi tidak saja menyediakan alat, tetapi juga memberikan keterbatasan. Keterbatasan teknologi adalah absolut, karena itu jika kesimpulan sejarah diambil berdasarkan aspek teknologi, hasilnya absolut juga. Sebagai contoh, sangat mudah untuk membuktikan apakah sebuah diary yang ditulis dengan tinta, yang diklaim berasal dari zaman perang (tahun 1940-1945), asli atau tidak. Bila analisis terhadap tinta menunjukkan bahwa jenis tinta itu baru dipasarkan tahun 1950, kita bisa menyimpulkan bahwa diary itu palsu.

(lebih…)

Untuk Para Bigot Pembela Israel

demo anti israelAda kalimat bagus dari seorang Ph.D bidang ilmu politik, Airlangga Pribadi: “Kalau fundamentalisme adalah faham yang berusaha membumikan pembacaan literal atas teks suci sebagai proyek politik dengan mengabaikan pandangan orang lain yang tidak mengimani teks suci tersebut; maka adakah yang lebih fundamentalis dari Zionisme? Adakah beda Zionisme dan paham ISIS dari corak fundamentalisme? Tidak ada!”

Ini ya, saya jelaskan dengan kalimat yang lebih sederhana: para bigot pro Zionis (dan orang Zionis-nya tentu saja) sebenarnya sama saja dengan para bigot pro-ISIS (dan anggota ISIS).

Mengapa? Karena mereka sama-sama keras kepala berpegang pada kitab/data/cerita/mitos versi mereka. Tak mau sedikit pun berendah hati mencoba membaca hasil penelitian orang lain. Buku-buku atau artikel yang ditulis dengan kerja keras, menghabiskan waktu lama untuk mengecek berbagai data, dengan seenaknya dicaci-maki dan dilawan dengan copas-copas propaganda murahan.

Berikut ini ada beberapa data saya kasih. Tentu saya tidak berharap para bigot pro Israel itu akan mau membacanya, seperti juga yang saya alami selama 5 tahun menulis tentang jihad palsu di Suriah.

Tapi saya yakin, ini berguna untuk mereka yang “sedang mencari”, atau memang butuh data.

1. Wawancara saya dengan Gilad Atzmon, seorang Yahudi (bahkan mantan tentara Israel) yang tercerahkan dan akhirnya berdiri di pihak Palestina. http://ic-mes.org/politics/interview-with-gilad-atzmon/
Gilad menulis buku yang amat filosofis (tetapi relatif mudah dicerna) mengenai apa itu Yahudi, Judaisme, agamakah, atau kesukuan/ras? Dia mendeteksi akar persoalan di Palestina dari hal2 fundamental. Sangat bermanfaat untuk dibaca.

(lebih…)

Tentang Palestina (1): Berdirinya Israel dan Pengkhianatan Arab

tenda palestina 1948

tenda-tenda pengungsi Palestina pasca perang 1948, di Lebanon

[Catatan: setelah seri “Logika Falasi Para Pembela Israel”, saya lanjutkan seri berikutnya. Sebaiknya, baca dulu seri logika falasi.]

Dalam dokumen resmi PBB [1] disebutkan bahwa pada 1947, Special Committee on Palestine (UNSCOP) yang dibentuk untuk menyelesaikan masalah Palestina (yang saat itu berada di bawah kekuasaan/mandat Inggris) memutuskan untuk membagi 3 wilayah tersebut, 56% untuk warga Yahudi, 44% untuk warga Arab, dan kota Yerusalem menjadi wilayah internasional. Saat itu, delegasi Yahudi menerima tapi keberatan atas jumlah wilayah yang diberikan kepada mereka [ingin lebih luas lagi], sementara delegasi Palestina dan delegasi negara-negara Arab menolaknya, dengan alasan: melanggar Piagam PBB yang menjamin hak setiap orang untuk memutuskan nasibnya sendiri.

Ini yang dicantumkan dalam dokumen itu (perhatikan kata ‘negara’ yang dipakai di kalimat ini), “Mereka [Palestina dan negara-negara Arab] mengatakan bahwa Majelis telah mengusulkan sebuah rencana yang tidak layak bagi PBB dan bahwa bangsa Arab Palestina akan menolak segala bentuk skema yang dimaksudkan untuk membagi, mensegregasi, atau memecah NEGARA mereka, atau yang akan memberikan hak istimewa kepada minoritas.” [yang dimaksud minoritas adalah imigran Yahudi]

Mengenai situasi ini ada penjelasan yang simpel, disampaikan seorang jamaah haji Palestina, “Mereka itu pendatang yang membeli tanah dengan ukuran kecil, lalu mendirikan negara di atasnya dan mengganggu tetangga-tetangganya.” [2]

Meskipun ada penentangan dari pihak Palestina dan negara-negara Arab lainnya, Resolusi Pembagian Wilayah (UN Partition Plan 1947) tetap disahkan (33 suara setuju, 13 menolak, 10 abstain). Dari banyak sumber yang lain disebutkan bahwa AS telah memberikan ‘tekanan yang sangat besar’ kepada negara-negara Amerika Latin agar menyetujui resolusi ini, mereka pun terpaksa setuju karena kuatir kehilangan bantuan dari AS (antara lain dicatat oleh Richard Harman dalam bukunya America Betrayed).

(lebih…)

Falasi Logika Para Pembela Israel (3-tamat)

partmap3Dulu (2007-2011) ketika saya masih sering ‘perang’ di blog melawan para pembela Israel, saya pernah komen kesal, “Ngomong sama kalian nih kayak ngomong sama tembok ya!” Pasalnya, apapun yang saya tulis, mereka akan balik lagi ke teks-teks agama, ke klaim-klaim sejarah jadul, ke tuduhan-tuduhan yang tidak terverifikasi.

Eh, sekarang, model-model debat seperti ini masih mereka pakai rupanya (baca komen-komen di status saya sebelumnya). Padahal saya sedang menguliti falasi klaim-klaim mereka, tapi komentarnya balik lagi ke teks agama dan klaim sejarah (plus komen tak nyambung, misalnya: tanahnya kan sudah dibeli Israel, diusir kok mewek! Atau ‘Palestina itu tanah yang tandus ga ada orangnya!).

Sorry to say, di titik ini mereka ini setali tiga uang dengan para bigot pro-jihad palsu Suriah. Kedua kelompok ini sama-sama tekstualis, “Pokoknya ini kata Hadis /ini kata Alkitab/ini catatan sejarah versi saya! Apapun yang kautulis, pokoknya aku yang benar!” Para komentator pro Israel ini, meski santun dan seolah pintar berargumen, terlihat sekali mereka MENGABAIKAN apapun yang saya tulis.

Tapi no problemo buat saya, akan saya lanjutkan mengupas falasi mereka 🙂

Di bagian-2 saya tulis: sesuatu yang masih debatable (diperdebatkan) tidak bisa dijadikan premis, sehingga tidak bisa diambil kesimpulan yang logis.

Saya ulangi lagi dengan contoh:

(lebih…)

Falasi Logika Para Pembela Israel (2)

palestina1Dari sekian banyak komentar yang datang dari para pembela Israel, saya simpulkan, mereka berkeras mengemukakan 2 poin ini:

  1. Hak untuk tinggal di suatu wilayah berdasarkan kepada klaim sejarah
  2. Hak untuk melakukan kejahatan (pengusiran, pembunuhan) atas dasar hak no. 1

Dengan asumsi bahwa mereka ini (para pembela Israel) lebih mampu berargumen dengan cara-cara beradab, saya akan mengupas kedua poin itu dengan teknik logika.

Premis mayor: setiap bangsa berhak untuk kembali ke tempat dimana nenek moyangnya pernah tinggal lebih dulu (dibanding penduduk yang ada di tempat itu)

Premis minor: Yahudi adalah bangsa yang nenek moyangnya pernah tinggal lebih dulu di Palestina

Kesimpulan: Orang Yahudi (dari negara manapun ia berasal) berhak kembali dan tinggal di Palestina

Mari kita uji satu-persatu premisnya:

Premis Mayor. Apa yang dimaksud ‘berhak tinggal’? Kalau ‘berhak tinggal’ dengan MENGIKUTI ATURAN HUKUM yang berlaku saat itu, tentu premis mayor ini benar.

(lebih…)

Falasi Logika Para Pembela Israel

palestina1947-2008Dulu, sejak saya aktif menulis tentang konflik Palestina di blog dan kompasiana (sekitar tahun 2007), saya juga banyak diserang (tapi tidak semasif setelah saya nulis tentang Suriah, mulai 2011 akhir). Para penyerang saya itu amat pro-Israel, mengata-ngatai saya seenaknya, antara lain penganut teori konspirasi, bigot, kurang baca sejarah, pro teroris, dll. Setelah konflik Suriah meledak, mereka ongkang-ongkang kaki, mungkin sambil tertawa, karena yang menyerang saya sudah amat banyak dan sadis (yaitu orang-orang Islam pro-jihadis alias teroris Suriah).

Kini, konflik Suriah agak mereda, dan kejahatan Israel kembali jadi sorotan, sehingga para pembela Israel ini mulai bangkit bergerilya di medsos. Kali ini saya coba mengupas logical fallacy-nya orang-orang ini.

Ada penulis status fesbuk nulis gini. “Nggak kebayang betapa frustasinya tentara Israel ngadepin orang Palestina, mau dikerasin mewek, bilangnya melanggar HAM, kalo ga diantisipasi, nyawa bisa melayang kapan aja.”

Dalam bab falasi (silahkan baca lagi status kuliah logika di fanpage ini), ada yang disebut Falasi Non Causa Pro Causa, berargumentasi yang salah karena keliru mengindentifikasi sebab. Dalam kalimat di atas, yang dianggap sebagai sebab kekerasan/kejahatan tentara Israel adalah sikap orang Palestina-nya. Israel hanya defensif demi melindungi nyawa.

Logika ini disampaikan banyak media, coba perhatikan, kalimat yang diulang-ulang adalah, “Bentrokan ini terjadi setelah dua tentara Israel dibunuh oleh warga Palestina…” Dulu ketika serangan besar Israel ke Gaza, yang diberitakan “Serangan ini terjadi setelah Hamas melemparkan roket ke Israel…”

Sayangnya, yang berfalasi ini bukan cuma orang-orang pro-Israel, tapi juga yang sebenarnya pro-Palestina, tapi tidak menyadari adanya falasi dalam kalimat ini.

(lebih…)