Kajian Timur Tengah

Beranda » Zionisme

Category Archives: Zionisme

Hajj and the struggle against the apartheid regime of Israel

TEHRAN- One of the messages of Hajj is to fight racism. Everyone who performs Hajj must perform tawaf and sa’i. During tawaf, a pilgrim must also circle the tomb of Sayidah Hajar, which is attached to one part of the Kaaba. Then, he or she must perform sa’i, to run back and forth, from Safa to Marwah. 

Sa’i is a Hajj ritual that imitates what Hajar did. Who is Hajar? She was a black slave who was married to Prophet Ibrahim. In the sight of Allah, even a black slave woman turned out to have a very noble degree. Allah says the noblest among humans is the most pious, not the richest, or a specific gender or race. Therefore, Muslims should fight racism in this world. One nation that is still a victim of racism is the Palestinian nation. Palestine is colonized by the Zionist-Israel group, who claimed to be nobler and had the right to carry out occupation and various crimes against humanity against the Palestinian people.

In April 2021, Human Rights Watch issued a report describing Israel as committing apartheid and persecution towards the Palestinian people. Israel formally implemented an apartheid system of government that separated social, economic, and political life based on race. The Israeli Jews get far more special rights and facilities than Palestinians.
The legal term “apartheid” has long been used by observers, writers, or diplomats who support the Palestinian cause. The 1973 International Convention on the Suppression and Punishment of the Crime of Apartheid and the 1998 Rome Statute for the International Criminal Court (ICC) define apartheid as a crime against humanity as consisting of three main elements: the intention to maintain the dominance of one racial group over another; systematic oppression by dominant groups over marginalized groups; and inhuman actions (HRW, 2021). 

(lebih…)

Lincoln Memorial, Saksi Perubahan Opini Publik AS Terhadap Israel

Oleh:
Dina Yulianti
Dosen Prodi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran

Not another nickel, not another dime, no more money for Israel’s crime

FIXINDONESIA.COM – Siapa yang menyangka, akan tiba suatu hari ketika Lincoln Memorial –tempat dimana para presiden terpilih AS membacakan pidato kemenangan mereka di hadapan ratusan ribu massa—menjadi lokasi aksi demonstrasi pro-Palestina. Teriakan ‘tidak ada sepeser uangpun lagi untuk kejahatan Israel’ tadi diserukan di podium oleh seorang perempuan berkerudung.

Seorang pria kulit hitam, Anthony Lorenzo Green, aktivis gerakan Black Lives Matters, berseru, “Saya membawa pesan dari komunitas kulit hitam di Washington DC, komunitas yang ditindas setiap hari oleh polisi yang dilatih oleh militer Israel!” 

Demonstrasi di Lincoln Memorial berlangsung 29 Mei 2021, dihadiri sekitar 20.000 massa yang berasal dari berbagai ras dan agama, termasuk kaum Yahudi. Demonstrasi serupa terjadi di berbagai kota AS. Bahkan di New York, anak-anak muda Yahudi berorasi mendukung Palestina. Seorang gadis Yahudi dengan suara bergetar berkata, “Tidak ada justifikasi (pembenaran) bagi pembunuhan anak-anak di Palestina, yang dilakukan Israel, pada hari Idul Fitri.”

Di kalangan politisi, suara-suara pro-Palestina juga sangat mengemuka. Kondisi ini jauh berbeda dengan tahun 2014. Pada 8 Juli 2014, Israel memulai serangan bomnya ke Jalur Gaza. Serangan itu berhenti 50 hari kemudian, tanggal 26 Agustus 2014, menewaskan 2000 lebih warga Gaza, di antaranya 326 anak-anak. Namun saat itu dunia sedang disibukkan oleh ISIS yang berada di masa “kejayaan”-nya, mengontrol sepertiga wilayah Suriah dan 40% wilayah di Irak. Aksi-aksi teror ISIS membuat opini publik teralihkan dari Palestina. Terenggutnya 2000 nyawa di Gaza tak banyak mendapat respon.

(lebih…)

Israel dan Sistem Apartheid

Oleh :

Dina Yulianti (Dosen Prodi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran)

FIXINDONESIA.COM – Kata “apartheid” biasanya identik dengan Afrika Selatan. Kata ini memang berasal dari Afrika Selatan, yang bermakna pemisahan atau segregasi. Pada tahun 1948, Afrika Selatan secara resmi menerapkan sistem pemerintahan apartheid yang memisahkan kehidupan sosial, ekonomi, dan politik berdasarkan ras.

Kaum kulit putih memiliki status dan hak-hak yang jauh lebih besar dibandingkan kaum kulit hitam. Pada tahun 1994, rezim apartheid tumbang. Kini, di tahun 2021, tiba-tiba saja, Human Right Watch mengeluarkan laporan yang menyebut Israel sebagai pemerintahan apartheid.

Penyebutan Israel sebagai rezim apartheid sebenarnya sudah sering dilakukan oleh para pengamat, penulis, atau diplomat yang mendukung Palestina.

Konvensi Internasional 1973 tentang Penindasan dan Hukuman Kejahatan Apartheid dan Statuta Roma 1998 untuk Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mendefinisikan apartheid sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan yang terdiri dari tiga elemen utama: niat untuk mempertahankan dominasi satu kelompok ras atas yang lain;  penindasan sistematis oleh kelompok dominan atas kelompok yang terpinggirkan; dan tindakan tidak manusiawi.

(lebih…)

Haji dan Palestina

Selamat Idul Adha untuk teman-teman Muslim follower fp ini. Mohon maaf lahir dan batin.

Salah satu spirit dan pesan haji adalah berjuang melawan rasisme dan penindasan.

Apa buktinya?

Salah satu ritual haji adalah tawaf dan sa’i. Tawaf adalah mengelilingi Ka’bah. Ada makam yang menempel di Ka’bah (Hijr Ismail), sehingga saat tawaf, kita juga mengelilinginya (dan menyampaikan doa). Makam siapakah itu? Makam Siti Hajar.

(lebih…)

AS Mengancam Negara-Negara Arab yang Mau Menormalisasi Hubungan dengan Suriah

Pasangan ini (Bashar dan Asma) selama bertahun-tahun dicitrakan sebagai penjahat keji, pembunuh massal rakyatnya sendiri, oleh media Barat (dan media pro-teroris). Mereka diperangi selama 10 tahun oleh milisi-milisi “jihad” (alias teroris) yang datang dari berbagai penjuru dunia (termasuk ekstremis dari Indonesia). Milisi-milisi teror ini dipasok dana dan senjata oleh AS, Inggris, Israel, Turki, dan negara-negara Teluk.

Tapi, mereka tetap bertahan, tidak melarikan diri ke luar negeri, tetap melindungi rakyat dari penjagalan para teroris. Mereka tidak mungkin bisa bertahan bila benar mayoritas rakyat menolak mereka. Waktu pun membuktikan bahwa mayoritas rakyat Suriah mendukung mereka (Assad kembali menang pilpres bulan lalu, dengan suara mayoritas).

Negara-negara Arab pensupport “jihadis” juga sudah mulai memperbaiki hubungan, misalnya UAE, Bahrain, Oman kembali membuka kedutaan mereka di Damaskus.

Namun, baru-baru ini, AS mengancam negara-negara Arab yang ingin menormalisasi hubungan dengan Suriah. Pejabat AS untuk Urusan Timur Dekat (Acting Assistant Secretary for Near Eastern Affairs), Joey Hood, mengingatkan, jika negara-negara Arab memilih jalur normalisasi, mereka berisiko terkena tekanan ekonomi dari Amerika Serikat. [1]

AS memberlakukan “Caesar Act”, yaitu undang-undang untuk menghalangi transaksi bisnis dengan pemerintahan Assad.

Untuk membangun kembali Suriah yang sudah diporakporandakan oleh “jihadis” selama 10 tahun, yang dibutuhkan Suriah adalah:

(lebih…)

Menyoal Donasi untuk Palestina

Karena sedang “rame” soal donasi untuk Palestina, saya merasa perlu berkomentar nih..

Tanggapan saya:

1. Publik sudah banyak yang tahu “cerita” soal donasi Suriah selama 10 tahun terakhir, yang SEBAGIAN terbukti jatuh ke tangan pemberontak/teroris Jaysh al Islam, kebetulan diliput oleh Euro News Channel [1]. Sebagian pengepul donasi Suriah pun jelas-jelas berafiliasi dengan para pemberontak/teroris ini (terlihat dari bendera FSA yang mereka kibarkan saat mengumpulkan donasi).

Pengalaman ini seharusnya dijadikan momentum oleh pihak berwenang untuk mulai melakukan AUDIT yang JELAS untuk setiap penggalangan donasi, untuk isu apapun.

Kebaikan dan kedermawanan bangsa Indonesia perlu dilindungi oleh pemerintah melalui regulasi dan pengawasan yang ketat.

Audit yang JELAS itu: bukan sekedar kata-kata dan foto bukti transfer: “sudah kok, disampaikan ke lembaga anu.” Atau sekedar foto beberapa orang Palestina pegang dus bantuan.

(lebih…)

Benarkah Dulu Yordania Menjajah Palestina?

Kali ini saya akan membahas soal aneksasi Yordania ke Tepi Barat pada tahun 1949-1967.

Peristiwa aneksasi ini sering dipakai para ZSM untuk membela Israel. Sebenarnya, membantahnya bisa pakai kaidah logika. Ada kesalahan logika yang diistilahkan “whataboutism”(atau istilah dalam ilmu mantiq “tabrir”). Misalnya, seseorang ditangkap polisi karena maling. Si maling membela diri, “Si Jalu juga maling, kok ga ditangkap?” Jadi, dia membela kesalahannya dengan menunjuk kesalahan yang sama, yang dilakukan orang lain.

Inilah yang dilakukan para ZSM: menunjukkan bahwa Yordania dulu menganeksasi Tepi Barat, jadi sah-sah saja dong kalo sekarang Israel juga menduduki Tepi Barat. “Kenapa dulu Yordania tidak disebut penjajah dan sekarang Israel disebut penjajah?” kata mereka ini.

Baiklah, bisa saja kita sebut Yordania DULU menjajah, biar mereka puas. Kalau betul Yordania dulu menjajah, ya itu salah. Kesalahan Yordania tidak membuat Israel jadi benar kan?

(lebih…)

Apa Benar Hamas Menggunakan “Tameng Manusia” Seperti Kata Israel (dan Para ZSM)?

Dalam sebuah webinar (21 Mei), Prof Makarim Wibisono, mantan Duta Besar Indonesia untuk PBB dan Pelapor Khusus PBB mengenai situasi HAM di wilayah Palestina, menyampaikan banyak informasi menarik.

Pemaparan beliau penting untuk disimak (terutama bagi mahasiswa HI, untuk tahu bagaimana cara kerja diplomat).

Antara lain, info yang membuat saya berkata “wow” (dalam hati) saat pertama kali menyimak:

Prof Makarim menceritakan bahwa sebagai Pelapor Khusus PBB mengenai situasi HAM di Palestina, beliau tidak diberi izin oleh Israel untuk masuk ke Palestina. Tapi suatu saat, ada Dubes Israel untuk PBB menemui beliau. Si Dubes Israel ini memberi iming-iming, “Anda ini kan Pelapor Khusus PBB pertama yang bukan Kaukasia [biasanya jabatan ini dipegang orang kulit putih]… kami akan memberi Anda izin masuk ke Palestina, dan Anda akan jadi orang pertama yang kami izinkan masuk… Tapi, ada syaratnya….”

Apa syaratnya?

(lebih…)

Ada orang bernama Luthfie Assyaukani, salah satu founder Jaringan Islam Liberal (latar belakang pendidikannya Islamic Studies, bukan HI/Politik Internasional) menulis begini di FB-nya:

Bulan Sabit Syiah

Ancaman terbesar bagi stabilitas di Timur Tengah bukanlah Israel, tapi Bulan Sabit Syiah. Pernyataan ini saya dengar dari Prof. Ruhaini Dzuhayatin, tenaga ahli di Kantor Staf Presiden yang juga dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dalam sebuah diskusi tentang konflik Israel-Palestina baru-baru ini.

(lebih…)

PEMETAAN PENDUKUNG PALESTINA VS PENDUKUNG ISRAEL DI INDONESIA

(Ini pemetaan berdasarkan afiliasi agama ya)

PENDUKUNG PALESTINA:

1. Pendukung dari kalangan Muslim “radikalis” (mereka ini yang suka demo dengan bawa-bawa bendera hitam yang mereka klaim bendera “tauhid”). Mereka ini mengaku membela Palestina didasarkan agama dan sering pakai ayat untuk mendukung narasi mereka.

Tapi, mereka ini sebenarnya kaum gagal paham geopolitik Timteng. Mereka mengaku mendukung Palestina, tapi mendukung “jihad” di Suriah, padahal pemerintah Suriah adalah salah satu pendukung perjuangan bersenjata bangsa Palestina yang terjajah.

Kaum radikalis ini tidak sadar bahwa mereka sedang membantu Zionis. Kebencian kepada kaum Syiah [pemerintah Suriah dituduh Syiah] membuat mereka semakin teradikalisasi, lalu pro-terorisme (tapi mereka sebut “jihad”).

(lebih…)