Kajian Timur Tengah

Beranda » Zionisme

Category Archives: Zionisme

Iklan

Akhirnya, Israel Mengaku Bahwa Mereka Bantu Teroris Suriah

Bahwa AS dan Israel selama ini ada di balik para “pemberontak moderat” Suriah (sebutan media mainstream untuk para milisi teror afiliasi Al Qaida), kami (kubu antiperang) sih sudah lama tahu. Yang memahami geopolitik Timteng, pasti sejak pagi-pagi sudah paham big picture-nya, sehingga saya bahkan sudah menuliskan peran AS-Israel ini sejak 2011.

Kalau yang menolak informasi ini adalah para fans Al Qaida di Indonesia, biasalah. Yang tidak biasa kalau ada orang-orang yang sok toleran dan sok antiterorisme, tapi berkeras menolak analisis bahwa AS dan Israel ada di belakang para teroris ini. Bahkan ada lho, sosok yang digadang-gadang ‘pengamat Timteng yang meliput langsung di lapangan’ dalam debat di medsos seolah meminta kuitansi (untuk membuktikan klaim bahwa suplai dana dan senjata untuk para teroris ini adalah AS, Israel; selain negara-negara Teluk tentunya).

Jadi, informasi ini buat mereka ya: orang-orang sok toleran dan sok moderat tapi selalu pro AS dan Israel itu. Nih, koran dari negara pujaan kalian sendiri yang nulis, masih denial?

(lebih…)

Iklan

Sedang mempresentasikan paper berjudul “Intertwine between Technology and Diplomacy: Indonesian e-Diplomacy in Achieving Palestinian Independence” di The 7th International Conference on Business, International Relations, and Diplomacy (ICOBIRD), BINUS University (5-6 Sept 2018)

Salah satu rekomendasi paper ini, pemerintah perlu lebih aktif lagi menggunakan Twitter dalam berdiplomasi untuk membantu Palestina mencapai kemerdekaannya.

Miko Peled Membongkar Tiga Mitos Israel

Hingga hari ini, kejahatan Israel masih terus berlanjut, terutama perampasan tanah dan penghancuran rumah-rumah milik warga Palestina di Tepi Barat dan Jerusalem. Sementara itu wilayah Gaza telah diblokade sejak 2007 hingga sekarang (sehingga kesulitan mendapatkan akses pangan, obat-obatan, air, bahan bakar, dan perekonomian pun lumpuh).

Ketika warga Gaza sejak 22 pekan terakhir bangkit berdemonstrasi untuk menentang penjajahan Israel dan menuntut hak kembali ke rumah-tanah mereka yang dirampas Isral (Great March of Return), tentara Israel membalasnya dengan serangan brutal senjata tajam dan gas air mata, sehingga menewaskan ratusan orang dan melukai ribuan lainnya.

Untuk mereka yang ingin menelaah lebih dalam mengenai Palestina, silahkan membaca terjemahan pidato Miko Peled ini. Miko adalah seorang Yahudi, warga Israel, dan anak seorang jenderal Israel.

(lebih…)

Tentang Nuklir Iran dan Israel …

AS dan Israel berupaya menekan negara-negara dunia agar mengembargo Iran, dengan alasan Iran memiliki senjata nuklir. Dalam video ini, terlihat betapa PM Malaysia, Mahathir Mohammad dengan lugas menolak tekanan AS terhadap Malaysia dan mengemukakan alasan logis, mengapa program nuklir Iran sama sekali tidak berbahaya.

Di video ini, Mahathir menyatakan bahwa Iran cuma punya dua hulu ledak nuklir, sementara negara-negara lain punya hulu ledak nuklir jauh lebih banyak (jadi, siapa yang lebih bahaya?).

Meskipun saya lebih percaya bahwa Iran TIDAK PUNYA senjata nuklir satu pun (karena IAEA pun tak pernah bisa membuktikannya dan menyatakan bahwa Iran selalu mematuhi aturan IAEA), namun pernyataan Mahathir [bahwa Malaysia tidak akan mematuhi AS agar mengembargo Iran] sungguh logis dan seharusnya diikuti pemimpin negara-negara lainnya.

Di video ini, juga ada wawancara Mehdi Hasan dengan Danny Ayalon, mantan Wakil Menlu Israel, yang ngeles setengah mati saat ditanya tentang berapa senjata nuklir Israel. Mehdi sangat ahli bersilat lidah, sehingga Danny akhirnya terpojok dan berkata “so what” [iya, Israel punya sekian ratus hulu ledak nuklir, so what? lo mau apa?].

Isu nuklir Iran sebenarnya menunjukkan hipokritas negara-negara adidaya + Israel dalam hubungan internasional.

Silahkan simak pembahasan mendalam mengenai nuklir Iran dalam artikel “Perjanjian Nuklir Iran dan Kepentingan AS-Israel di Timur Tengah” karya
Kiki Mikail (dosen Politik Islam di UIN Raden Fatah Palembang).

(lebih…)

Pengepul donasi Suriah pantang mundur, karena yang mau dibodohi tetap banyak…

Tadi pagi saya dapat info, ada lembaga yang mengumpulkan dana untuk Suriah, kali ini dengan “menjual penderitaan warga Daraa” yang konon lari dari kekejaman Assad. Yang lucu, orang Indonesia di video itu berkata, “Saat ini mereka mengungsi di Golan, wilayah yang dikuasai Israel, sebab ini tempat yang aman”. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1607377879367740&id=616022258503312

Hahaha, yang aman buat mereka adalah wilayah Israel rupanya. 😀

Ada beberapa video terkait direbutnya kembali kota Daraa dari tangan teroris oleh pemerintah Suriah.

(lebih…)

Kala Jurnalis Jepang Membela Palestina…

…akankah dia dituduh sebagai “Syiah” dan “membela Palestina demi kepentingan pribadi” atau “pembela teroris”? [ini adalah tuduhan yang biasa dilemparkan oleh para fans Israel asal Indonesia]

Tidak. Yang saya dapati saat dulu berkunjung ke Jepang, mereka itu santun-santun. Rasanya tidak mungkin menuduh sembarangan, apalagi mengatai “gukguk” kepada lawan debatnya [seperti kelakuan ZSM di sini].

Tapi jurnalis Jepang ini tetap mendapat kritikan, yaitu “Mengapa kamu melakukan hal-hal yang melampaui peran sebagai jurnalis?”

Dia menjawab, “Identitas sebenarnya dari seorang jurnalis adalah menjadi seorang manusia.”

Untuk memahami penjajahan yang dialami Palestina, seseorang memang harus jadi manusia sejati. Hanya manusia sejati yang mampu menemukan inti/hakikat.

Manusia sejati bisa berpikir jernih, tidak terdistraksi oleh fakta parsial (yang sering disodorkan fans Israel) :

(lebih…)

Israel Membantu White Helmets Demi Apa?

Pagi ini saya baca twitter PM Israel Netanyahu (lihat foto), intinya…”Saya dikontak Presiden AS dan PM Kanada, dan beberapa negara lain, yang meminta bantuan Israel agar menyelamatkan anggota White Helmets. … Kami tidak akan berhenti melakukan aksi di Suriah MELAWAN UPAYA IRAN membangun pangkalan militer di sana.”

Perhatikan frasa ‘melawan Iran’.

Pada bulan Maret 2016, Wikileaks mempublikasikan email Hillary Clinton. Tertulis di dalam email itu, “Hubungan strategis antara Iran dan rezim Bashar Assad membahayakan keamanan Israel… Berakhirnya rezim Assad akan mengakhiri aliansi berbahaya ini… Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak mengatakan bahwa ‘penggulingan Assad akan menjadi serangan besar kepada Iran… ini akan amat melemahkan Hizbullah di Lebanon, Hamas dan Jihad Islam di Gaza.”

AS memiliki kebijakan khusus untuk membuka dokumen-dokumen rahasia kepada publik setelah melewati jangka waktu. Dalam dokumen rahasia CIA tahun 1983 yang sudah bisa diakses publik, terlihat bahwa AS berencana menyerang Suriah. Dalam dokumen ini disebutkan bahwa Suriah adalah penghalang bagi kepentingan AS di Lebanon dan Teluk karena rezim Assad menutup jalur pipa minyak Irak. CIA merekomendasikan agar Pemerintah AS meningkatkan tekanan kepada Assad dengan merancang diam-diam serangan militer di perbatasan Irak, Israel, dan Turki.

(lebih…)

Anak-Anak Palestina

Awal musim panas di Beit Sira, sebuah desa sekitar 15 kilometer dari Ramallah, Tepi Barat. Mahmoud Rafat Badran (15) siang itu baru saja bersenang-senang di kolam renang bersama beberapa sepupunya. Mereka pulang ke rumah dengan menggunakan mobil. Tiba-tiba saja, di Rute 443, seorang tentara Israel (IDF) menghujani mobil mereka dengan peluru. Mahmoud tewas dan beberapa saudaranya terluka parah. IDF kemudian merilis statemen bahwa terjadi salah tembak dan akan menyelidiki kasus ini.

Mahmoud hanya satu dari sekitar 2 juta anak-anak Palestina di Tepi Barat yang setiap hari mengalami berbagai ancaman. Menurut The Palestinian Medical Relief Society (PMRS), anak-anak di Tepi Barat sangat dibatasi mobilitasnya. Anak-anak itu harus melewati posko pemeriksaan militer yang sangat mengancam keselamatan mereka di banyak tempat saat bepergian antardesa dan antarkota.

(lebih…)

Pengajaran Kebencian di Sekolah Israel

Muslim, NonMuslim, dan Gerakan Antiradikalisme

Pembela Israel yang satu itu (dia nonMuslim), menuduh ibu Menlu Retno sebagai pendukung teroris. Alasannya, Kemenlu mengecam keras serangan oleh tentara Israel kepada warga Palestina yang sedang berdemo di perbatasan Gaza dan Israel.

Kata dia, di antara para demonstran itu ada Hamas, dan Hamas adalah teroris. Artinya pemerintah Indonesia dukung teroris.

Kalaupun bisa kita buktikan bahwa demo itu adalah demo tanpa senjata yang rutin sudah dilakukan bangsa Palestina (demo ‘right of return’, yaitu menuntut hak kembali ke tanah dan rumah mereka yang dirampas Israel) sejak lama bahkan sebelum Hamas didirikan, dia akan cari alasan lain.

Kalau dikatakan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak sama dengan terorisme, dia akan sodorkan fakta-fakta parsial. Kalau mentok, dia akan salahkan Nabi Musa.

Pokoknya yang penting Palestina itu salah, Israel harus dibela.

NonMuslim yang satu lagi mengklaim bahwa bendera bintang Daud yang dikibarkan di Papua adalah “lambang tauhid umat Kristen”.

Ketika ada umat Kristiani yang lulusan Seminari (pak Felix) membantahnya dan mengatakan bahwa bintang Daud tidak terkait dengan iman Kristiani, dia ngeles: saya tak pernah sebut ‘iman Kristiani’. DIa mengklaim diri sebagai umat Kristiani taat sambil mencaci saudara seimannya.

Lha kan dia jelas menulis ‘lambang tauhid umat Kristen’. Tauhid itu kan terkait iman?

Mumet?


Lihat Lebih Sedikit

simak video di link https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/438347819924812/

Hamas dan Buah Busuk dalam Keranjang

Pembela Israel (sebagiannya tidak mau mengaku dan berlindung di balik kata ‘netral’ atau ‘moderat’) sering menggunakan Hamas sebagai dalil bagi kesalahan Palestina.

Saat aksi demo “March of Return” (menuntut hak kembali ke tanah dan rumah yang dirampas Israel) dihadapi dengan gas air mata dan peluru mematikan (bahkan jurnalis dan paramedis pun ditembaki) oleh Israel, mereka berdalih: itu gara-gara Hamas! Yang demo itu Hamas, mereka teroris! Mereka itu dapat duit jutaan Dollar tapi berbuat kejahatan kepada orang Palestina! Kalau tidak ada Hamas, Israel tidak mungkin menyerang!”

Pengacara HAM Palestina, Noura Erekat ketika diwawancarai media AS, CBC News, berkata, “Jika kita terus melihat Hamas sebagai sumber masalah, artinya kita men-dehumanisasi [menganggap bukan manusia] bangsa Palestina yang sudah melakukan demo melawan Israel selama 70 tahun, sejak belum didirikannya Hamas.”[1]

Supaya orang Indonesia lebih mudah membayangkan situasinya: apa yang Anda bayangkan soal pejuang kemerdekaan kita dulu? Heroisme para pejuang, kan? Terbayang gak, kalau di antara para pejuang kemerdekaan itu ada orang-orang yang brengsek? Ah, rasanya gak mungkin!

(lebih…)