Kajian Timur Tengah

Arsip 2007 ~ Sekarang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 6.455 pengikut lainnya

Iklan

HTI, Indonesia, Libya, dan Suriah

HTI

Foto atas: demo HTI di Jakarta/Foto bawah: teroris di Suriah kibarkan beberapa bendera, Ahrar Al Sham, FSA, dan Al Nusra

 

HTI selalu mengklaim diri sebagai semata-mata organisasi dakwah Islam dan atas alasan itu, UU Ormas (kini UU) secara salah kaprah disebut anti Islam. Padahal yang disasar UU Ormas adalah ormas yang ideologinya membahayakan NKRI (anti Pancasila, pro kekerasan, dll). Tokoh ex-HTI pun mengajukan gugatan ke PTUN minta pencabutan pembubaran ormas mereka.

Untuk argumen teologis, para pakar sudah dihadirkan pihak pemerintah dalam persidangan. Tentu saja, para pakar ini dibully di medsos oleh para pembela HTI, bahkan dengan cara&tuduhan yang sangat kasar.

Untuk argumen politik, saya bisa menjelaskan dimana bahayanya HTI, dengan cara menyimak rekam jejak mereka dalam isu Timteng.

(lebih…)

Iklan

Menjawab Para Pembela ACT

ghouta2

Tentara Suriah mengevakuasi warga E.Ghouta yang sudah lebih 5 thn disandera teroris. Sumber foto

Postingan saya di Fanpage berjudul “Kemana Uangnya Mengalir?” (saya copas di sini), mendapatkan respon cukup luas. Para pembela ACT dan pembela “mujahidin” beramai-ramai menuliskan komentar. Sebagian dihapus karena sangat kasar. Tapi ada juga yang dengan santun menyampaikan argumen bantahan. Anda bisa baca diskusinya di sini.

Dari semua sanggahan yang diberikan itu, tak ada satupun yang menyentuh persoalan sesungguhnya. Istilah anak jaman now: ngeles.

Berikut ini tanggapan umum saya :

Dalam wawancara Indopress.id dengan ACT ada poin penting yang saya garisbawahi: ACT TIDAK MINTA IZIN KEPADA PEMERINTAH SURIAH DAN MENUDUH PEMERINTAH MENGEBOM WARGANYA SENDIRI. Di situ juga ada wawancara dg NGO yg lain, yaitu Dr Joserizal yang mengatakan: LSM kemanusiaan tidak boleh memihak.

Dari berbagai jejak digital, mulai bendera, partner yang dipakai, yaitu IHH Turki (dengan segala rekam jejaknya, termasuk pernah ditangkap polisi Turki kedapatan bawa senjata), narasi yang selama ini dipakai oleh ACT (yaitu menuduh pemerintah Suriah yg mengebom warga sipil, padahal kejadiannya sebaliknya; para teroris di E. Ghoutalah yg selalu mengebom warga sipil Damaskus –ini diverifikasi juga oleh ulama Suriah, Dr. Sawwaf yang diwawancara Kompas TV), serta klarifikasi dengan mahasiswa Indonesia di Suriah, pembaca dapat (dan berhak) menganalisis, kepada siapa ACT berpihak.

(lebih…)

In Memoriam, Syekh Buthy

syekh buthyHari ini (21 Maret) adalah tepat 5 tahun sejak gugur syahidnya Syekh Dr. Said Ramadhan al Buthy.

Saya mendengar namanya dari seseorang yang tinggal di Damaskus. Saat itu, Maret 2013. Ia bertanya pada saya, “Gimana bu, jadi nulis buku tentang Suriah?”

Saya jawab, saya tak sanggup menyelesaikan naskah buku saya itu karena saya tak kuat dengan segala bully-an yang saya terima. Lalu dia berkata, “Wah ibu saja dibegitukan, apalagi Syekh Buthy ya (yang beliau alami jauh lebih dahsyat)?”

Saya pun mencari tahu lebih banyak dan mengetahui bahwa beliau ulama besar Aswaja yang justru menentang “jihad” Suriah.

Tapi tiba-tiba, datang kabar, beliau gugur syahid akibat ledakan bom bunuh diri yang dilakukan “jihadis”.[1]

(lebih…)

Kemana Uangnya Mengalir?

Berkali-kali saya ditanyai pengunjung fanpage  soal ACT. Ada yang bertanya polos juga: lho kok di video ini [1] , warga Ghouta bilang kelaparan ya? Kan ACT katanya sudah kirim makanan ke Ghouta?

Akhirnya, ada juga media yang melakukan liputan serius terhadap ACT, wawancara langsung ke ACT, mempertanyakan, kemana uang donasi masyarakat Indonesia diserahkan? Sekaligus juga cover-both sides, wawancara dengan pihak-pihak lain untuk konfirmasi.

Antara lain yang bikin saya ‘wow’:

(lebih…)

Pernyataan Ulama Sunni Suriah Soal “Bantuan”

syekh sawwaf suriah

Di jalanan Bandung banyak sekali spanduk minta sumbangan untuk Ghouta. Di mal-mal, anak-anak muda ‘mengemis’ pada pengunjung mal agar menyumbang untuk Ghouta.

Nih, tonton video ini, supaya tahu, seperti apa situasi Ghouta sebenarnya.

Mengapa mereka [tukang minta sumbangan dan para simpatisannya] terus berkeras mempertahankan semua kebohongan ketika sekian banyak bukti sudah dipaparkan?

Soalnya, siapa yang mau ganti biaya bikin spanduk dan baliho raksasa yang sudah terlanjur dibuat itu? Kamu?

(lebih…)

Mengkritisi Laporan Amnesty International

Amnesty International

Infografis dibuat oleh Dr. Tim Anderson, akademisi Australia, penulis buku The Dirty War on Syria

Karena ada yang membantah pendapat saya dengan menyebut-nyebut Amnesty Internasional,  saya merasa perlu kasih penjelasan. Belajar kritis lagi yuk. Berikut ini saya kutip dari buku “Salju di Aleppo”.

Amnesty Internasional (AI) adalah salah satu lembaga yang sangat berpengaruh dalam menggiring opini publik ketika menilai mana yang benar dan mana yang salah dalam Perang Suriah. Sejak awal konflik, yaitu sejak awal munculnya demo-demo massa di Daraa, AI dengan cepat merilis laporan berjudul “Deadly detention: Deaths in custody amid popular protest in Syria”. [1]

Laporan itu dirilis Agustus 2011, padahal demo pertama di Daraa terjadi Maret 2011. Artinya dalam waktu 5 bulan, AI sudah membuat laporan dengan kesimpulan: pemerintah Suriah melakukan kejahatan kemanusiaan (crimes against humanity) dan menyerukan dunia internasional mengambil tindakan menghukum pemerintah Suriah.

(lebih…)

Mengapa Suriah Penting Dipahami Orang Indonesia?

protes rakyat lawan teroris1

warga East Ghouta demo mengusir teroris, bendera Suriah mereka kibarkan (sumber)

Barusan saya melihat video seorang mantan pejabat tinggi yang mengendorse publik agar menyumbang untuk rakyat Ghouta via sebuah lembaga donasi. Menyumbang untuk korban perang tentu baik dan mulia. Tapi masalahnya, narasi yang beliau katakan persis plek versi Barat dan versi kubu pro-jihadis: “Kita sangat sedih mendengar berita bahwa di Ghouta timur telah terjadi pengeboman terhadap penduduk sipil…”

Beliau dan siapa saja yang berpendapat serupa karena “mendengar berita”, perlu menonton video berikut ini, wawancara pengamat politik dari Inggris, Dr. Marcus Papadopoulos (ada terjemahan Indonesia).

Atau, bisa juga tonton video jurnalis cantik AS Rania Khalek.

(lebih…)

Kalau Hoax, Bagaimana dengan Video-Video Itu?

White Helmet Idlib

QUIZ: perhatikan dua foto White Helmets ini, diklaim sbg kejadian “serangan gas kimia Assad” di Idlib 2017. Dimana kejanggalannya? Jawaban akan saya berikan di akhir tulisan

Di antara komentar di postingan saya di Fanpage [tentang undangan tabayun dari Alsyami untuk UAS, ada di blog ini juga] ada pertanyaan yang penting dijawab khusus [meski ini sebenarnya dulu sudah pernah saya tulis]: kalau berita tentang kekejaman pemerintah Suriah kepada rakyatnya sendiri adalah hoax; lalu bagaimana dengan foto-foto dan video yang tersebar itu? Bukankah jelas-jelas ada anak-anak yang mati akibat senjata kimia di dalam video itu?

Jawabannya:

(1) Siapa sumber foto dan video itu? Tak lain, White Helmets. Dari mana kita tahu? Kadang dalam video ada logo WH atau tulisan “Syrian Civil Defence” (nama lain White Helmets), atau kalaupun tidak, perhatikan, umumnya selalu ada orang berhelm putih dalam video.

Bahkan media Barat (yang dianggap kredibel dan dijadikan rujukan oleh media terkemuka di Indonesia) pun sumber infonya adalah WH. Dalam asas jurnalistik, WH seharusnya diperlakukan sebagai sumber info yang PARTISAN (karena mereka ini memihak kubu “jihadis” dan ada bukti foto dan video memperlihatkan mereka bersenjata, bahkan menembaki warga sipil dan tentara Suriah). Dengan demikian info dari mereka harus diverifikasi dan DIKONFIRMASI kepada pihak yang berseberangan. Sayangnya, media mainstream tidak melakukan asas mendasar jurnalistik ini (cover both sides).

(lebih…)

Ketika Mahasiswa dan Alumni Suriah Berani Angkat Bicara

mhsw suriah

salah satu majelis ilmu agama di Damaskus (foto:Lion Fikyanto)

Sungguh, beberapa hari terakhir saya merasa lega, menyaksikan beberapa mahasiswa Indonesia di Suriah dan Ikatan Alumni Suriah berani bersuara ‘keras’ melawan hoax soal Suriah. Biar bagaimanapun, mereka tinggal bertahun-tahun di Suriah, merasakan dan menyaksikan sendiri atmosfer kehidupan di sana.

Seorang mahasiswa bernama Lion Fikyanto menceritakan betapa majelis-majelis ilmu mazhab Sunni sangat hidup di Suriah:

Beginilah hari-hari ku sebagai pelajar di Ibukota Suriah yang bernama “Damaskus” dibawah kekuasaan yang mereka sebut Taghut, Fir’aun dll,jadwalku mengaji full dari hari ke hari, berpindah tempat dari satu masjid ke masjid lainnya,itu diluar kesibukan kampus tentunya, silahkan tanya kepada seluruh anggota PPI Damaskus, satu sama lain pasti tidak akan cocok jadwal mengajinya, karena kita memilih masing-masing sehingga ga jarang jika kita tak pernah sepakat untuk ngaji bersama.

Masjid-masjid selalu penuh dengan kajian keilmuan, halaqah-halaqah Al-Qur’an, Alhadist dengan Aqidah Ahlussunah wal Jama’ah(Asy’ari & Maturidi) berpegang teguh pada Madzhab Fiqh 4(Hanafi,Maliki, Syafi’i,Hanbali) serta berdasarkan konsep Ihsan(Tasawuf) yang berarti Tazkiyah untuk mengimbangi semua keilmuan tersebut.

Demi Allah! Kemanapun kaki ini melangkah, pasti selalu ada setiap Masjid yang membuka Talaqqi, mulai dari yang bertaraf anak2, remaja, bahkan untuk semua kalangan, mulai dari yang private(satu guru utk,satu atau dua murid) atau yang dibuka untuk Umum, sampai-sampai akupun tak sanggup melayani Ambisi menuntut ilmuku karena saking padatnya Jadwal yang bertabrakan dengan jadwal pengajian lainnya,

(lebih…)

Analisis Kritis Terhadap Media (Kasus East Ghouta)

teroris east ghouta

teroris di East Ghouta menentang senapan

Saya akan mengambil contoh kasus, berita yang dirilis DW (media Jerman) berjudul “UN pleads for ceasefire in Syria’s Ghouta as over 300 dead in strikes”.[1] Mengapa bukan berita media Indonesia? Karena, media sekelas DW biasanya dianggap valid/credible. Sementara, media-media mainstream di Indonesia umumnya hanya menggunakan berita terjemahan /tulis ulang berita dari media Barat. Untuk koran Kompas, biasanya mengaku menggunakan “jurnalis” dari Timteng, yaitu Mustafa Abd Rahman. Dia tinggal di Kairo, tidak meliput langsung ke Suriah. Jadi sebenarnya yang dia lakukan sama saja: menerjemahkan /menulis ulang berita dari media lain (cuma kesannya jadi “keren” karena tulisan dia dikirim dari Kairo; tapi keren tidak sama dengan valid).

Langkah pertama saat membaca berita, perhatikan sumbernya: apakah DW meliput langsung ke lapangan? TIDAK, media Jerman ini hanya mengutip dari Reuters, AFP, dpa, AP. Jadi sekelas DW pun sebenarnya sama saja seperti koran-koran Indonesia.  (lebih…)

New Release 2013

prahara suriah

New Release (2013)

"dokter cilik"
obama
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
"pelangi di persia"