Kajian Timur Tengah

Arsip 2007 ~ Sekarang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 6.352 pengikut lainnya

Bagaimana Media Mendistorsi Informasi

distorsi-informasi Perhatikan foto kiri. Anda bisa lihat, yang sebenarnya korban, di layar televisi malah terlihat seperti pelaku kejahatan.

Inilah yang banyak dilakukan media mainstream (dan media nasional Indonesia, yang cuma menerjemahkan berita-berita dari Barat begitu saja). Ibarat hitungan 1-100, media memberitakan kejadian mulai dari hitungan 50, 60, atau 70, sehingga publik kehilangan konteks.

Contohnya, kisah Palestina. Yang ramai diberitakan media pro-Israel (dan memang faktanya, pemilik saham perusahaan-perusahaan media terbesar di dunia adalah orang-orang pro-Israel) adalah serangan Hamas (dan kelompok-kelompok pejuang Palestina lainnya) terhadap Israel. Atas dasar itu, Hamas dimasukkan ke daftar organisasi teroris internasional. Informasi ini dilepaskan dari konteks sejarah: bagaimana konflik bermula?

(lebih…)

Neoliberalisme dan Timteng

zombieDari tulisan sebelumnya (Dari Jabar ke Palestina, Suriah, Lalu Balik ke Indonesia), muncul komentar-komentar yang khas banget, yang sebelumnya sudah sering saya baca. Ini saya tulis dengan kalimat saya sendiri:

“Ya memang demikianlah cara kerja kapitalisme! Wajar dong kalau mereka ingin laba sebesar-besarnya? Mereka udah ngeluarin modal, bikin pabrik, emang gampang bikin pabrik? Kalau ada orang sengsara, miskin, ya itu salah mereka sendiri! Kalau ada yang protes, pasti itu LSM yang ga kebagian duit! Rakyat yang di daerahnya kekeringan, itu salah mereka sendiri, atau salah pemerintah, atau salah pembalakan liar, dll.”

“Timur Tengah berperang, itu salah orang-orang Arab sendiri ga mau bersatu, jangan salahkan Israel! Wajar dong perusahaan-perusahaan Zionis itu berusaha mencari laba sebanyak-banyaknya! Salah sendiri orang Arab bodoh-bodoh, ga bisa bikin ekplorasi minyak sendiri, ga bisa menjadi penemu-penemu hebat kayak orang Israel!”

Saya ingin mengajak sedikit berpikir filosofis. Kita sejak kecil memang dididik dengan cara ini: hidup ini persaingan, dan kalau ada yang kalah, miskin, terpinggirkan, itu salahmu sendiri.

(lebih…)

Dari Jabar ke Palestina, Suriah, Balik ke Indonesia

kekeringan-sukabumi-620x330

warga menderita kekeringan (beritadaerah.co.id)

Barusan saya menonton film dokumenter, ada sebuah desa di Jawa Barat yang kaya sumber air bersih, kini kesulitan air. Ada ratusan perusahaan menyedot air di kabupaten dimana desa tsb berada. Perusahaan terbanyak yang menyedot air di sana adalah perusahaan air mineral terkenal. Produknya dijual ke berbagai penjuru Indonesia dan per tahun meraih keuntungan triliunan rupiah. Sementara, warga sekitar harus mandi dan mencuci di air yang keruh.[1]

Dan kalau dicek, siapa pemilik saham perusahaan air minum tersebut, ternyata sebuah perusahaan milik asing, yang masuk daftar boikot Zionis.[2]

Jadi begini, di dunia ini ada gerakan boikot produk-produk perusahaan yang berinvestasi di Israel atau terbukti mengirimkan dana untuk Israel. Kok bisa tahu? Karena di Barat transparansi informasi cukup bagus, jadi bisa dilacak. Jadi, ini bukan gerakan asal boikot atau asal-benci-Yahudi. Yang diboikot adalah perusahaan yang memberi keuntungan kepada Israel.

(lebih…)

Yaman yang Terlupakan

yemen-saudi-2

Seseorang bertanya di Fanpage saya, mengapa sedikit sekali tulisan tentang Yaman. Tulisan ini menjawab pertanyaan itu.

Konflik di Yaman memang seolah terlupakan oleh publik Indonesia. Padahal korban bombardir Saudi di Yaman (sejak Maret 2015) sangat mengerikan: 11.403 orang tewas,19.343 luka (yang tewas dan luka, mayoritas prp dan anak). Jumlah bangunan yang hancur: 380.366 bangunan perumahan, 719 sekolah, 108 gedung universitas, 263 rumah sakit, 675 masjid, dan 1.553 gedung pemerintah (data Nov 2016) [1]

Sebab sepinya suara soal Yaman, sederhana saja. Yang amat berisik soal Suriah di Indonesia adalah ormas-ormas yang mendapatkan dana dari negara-negara Arab dan Teluk. Padahal, di Yaman, agresornya adalah Arab Saudi dengan dibantu AS, Israel, dan negara-negara Arab. Bisa distop aliran dananya kalau mereka berani membela rakyat Yaman (sebagaimana mereka mengaku “membela” rakyat Suriah). Ormas-ormas itu hanya bisa berteriak Syiah-Syiah untuk menjelaskan konflik Yaman (seolah, karena orang Yaman sebagiannya Syiah, sah-sah saja dibombardir Saudi. Data UNHCR: 53% populasi Muslim Yaman adalah Sunni, dan 45% Syiah). Selain itu, media massa internasional juga sangat berisik memberitakan soal Suriah (dengan berpihak kepada pemberontak/teroris).

Dan karena keberisikan mereka soal Suriah itulah saya jadi jarang menulis soal Yaman. Waktu saya yang amat terbatas, habis untuk membahas berbagai hoax mereka soal Suriah.

Untuk mencerna konflik Yaman sebenarnya tidak sulit-sulit amat. Asal punya basis logika yang kuat, sudah cukup. Berikut ini analisis “gampang”-nya:

(lebih…)

Berunding dengan Kelompok Pemakan Jantung

tim-anderson

photo: by Dr. Tim Andersonfrom Sidney Univ, follow his FB to get valid information about Syria.

 

Bangsa Suriah yang mencintai tanah airnya (bukan mengabdi pada kepentingan Zionis dan Wahabi*) memang terpaksa menelan pil pahit. Dalam perundingan 23-24 Januari di Astana, Kazakhstan, delegasi Suriah terpaksa harus duduk semeja dengan kelompok teroris Jaish Al Islam, yang diketuai oleh Mohammed Alloush. Mohammed adalah saudara Zahran Alloush (sudah tewas). Pada November 2015, teroris ini menempatkan ratusan tentara Suriah dan keluarga mereka di 100 kandang/kerangkeng dan menyerukan “rasakan kesakitan di dunia ini sebelum kalian merasakannya di akhirat”.

Sekedar info, kelompok-kelompok teror di Suriah sering berseteru satu sama lain, dan akhirnya muncul nama yang berubah-ubah seiring berubahnya koalisi. Yang perlu dicari adalah “organisasi akar”-nya. Kelompok Alloush berasal dari Ikhwanul Muslimin.

IM juga membentuk Free Syrian Army. Sebuah video mengerikan diunggah secara online pada tanggal 12 Mei 2013. Dalam video tersebut, terlihat seorang milisi pemberontak yang mengenakan perlengkapan militer, sedang menyayat bagian dada sesosok jenazah, yang disebut sebagai tentara Syria, lalu memasukkan jantung mayat itu ke mulut. Video itu terverifikasi karena diunggah sendiri oleh mereka (artinya: tidak bisa lagi dibela dengan menyebut ‘itu fitnah’). Orang di dalam video itu, si pemakan jantung, adalah Abu Sakkar, pendiri kelompok militan Farouq Brigade (berafiliasi dg FSA). Ini mengingatkan kita pada tokoh Hindun yang memakan jantung Hamzah, paman Nabi setelah perang Uhud. Apa sumber dari perilaku keji seperti ini? Tak lain: kebencian.

Perundingan di Astana, mempertemukan kelompok IM dan pemerintah sekuler Suriah, merupakan bertemunya dua kelompok yang berseteru sejak lama. Pada tahun 1980an, IM menggalang pemberontakan bersenjata untuk menggulingkan Hafez Assad. (dengan didukung oleh negara-negara asing, terutama negara Barat, Jordan, dan Israel..negara-negara yang sama yang kini juga mendukung mereka menggulingkan Bashar Assad). Saat itu, Hafez mengambil tindakan keras menghadapi pemberontakan bersenjata ini.

Dan sekedar info saja, IM ini organisasi transnasional, cabang dan akivisnya tersebar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tak heran bila mereka di Indonesia ini berisik sekali soal Suriah (negara pembela Palestina paling depan), jauh lebih berisik dibandingkan pembelaan mereka terhadap Palestina yang jelas-jelas dijajah Israel.

Saya menentang perang dan pembunuhan. Tapi sekedar menyodorkan perspektif: bila aktivis IM di Indonesia (tau kan, siapa??) dapat duit dan senjata dari AS, lalu angkat senjata, main bom sana-sini, menurutmu, apa yang akan dilakukan oleh Presiden dan TNI? Think!

(lebih…)

Trump dan Era Post-Truth (Pasca Kebenaran)

trumpMenyambung tulisan saya sebelumnya soal Hoax CNN dan Trump, saya ingin membahas sesuatu yang agak filosofis. Kemenangan Trump bikin banyak orang baper, termasuk orang-orang Indonesia (di fesbuk, minimalnya). Ada yang kuatir bahwa Trump akan dengan mudah menekan tombol perang nuklir (padahal yg selama ini sesumbar akan menuklir Iran adalah Hillary), ada yang kuatir rasisme akan semakin merebak di AS, dll.

Tapi, memang kemenangan Trump di luar dugaan banyak orang karena media mainstream AS habis-habisan membully Trump. Ada TV yang menyiarkan acara kuis yang menjelek-jelekkan Trump atau menyamakan wajah Trump dengan monyet. Ada koran terkenal menurunkan tulisan dengan judul “Trump, kandidat sampah”. Ada USA Today yang menyerukan, “Plis pilih siapa aja asal jangan Trump”. Sebaliknya, Hillary mendapatkan dukungan penuh dari media mainstream. Jadi, secara teori memang seharusnya Hillary yang menang.

Dan ketika akhirnya Trump menang, media massa mainstream dan para analis papan atas AS, termasuk juga Presiden Obama, segera menuduh ini akibat merebaknya fake news atau hoax yang disebarkan oleh media-media non-mainstream, yang “memfitnah” Hillary. Sebagian orang menggunakan kata “post-truth” (pasca kebenaran). Kata ini sedemikian sering dipakai sehingga kamus bahasa Inggris Oxford menobatkan post-truth sebagai “kata tahun ini”.

(lebih…)

Hoax CNN

trump-cnn-1345-380x218Video ini membuat saya tertawa. Trump dengan gaya khasnya (yang tentu saja dibenci banget oleh para haters-nya) dengan tajam mengatai CNN sebagai “fake news” alias pembuat berita palsu alias produsen hoax. Ya ampun, kapan lagi ada dalam sejarah, seorang presiden-terpilih AS mengata-ngatai CNN dengan blak-blakan begini? Lol

Saya mengamati komen-komen yang beredar di berbagai fanpage di AS. Para haters Trump tentu saja marah-marah dan malu (kok bisa-bisanya AS punya presiden kayak gini). Tapi, pendukung Trump dan kelompok “anyone but Hillary” (jadi, sebenarnya tidak pro-Trump, tapi yang penting jangan Hillary) banyak yang tertawa. Facebookers pro-Suriah juga terbahak-bahak membahas video ini.

(lebih…)

Film: Topeng Teror White Helmets

Sejak awal perang Suriah, foto dan video hoax sudah sangat banyak disebarkan, bahkan oleh media-media mainstream. Bila foto dan video yang digunakan adalah foto dan video lama yang didaur ulang (misal, BBC menggunakan foto mayat di Irak yang disebut sebagai korban senjata kimia Assad) umumnya mudah terbongkar. Namun ada juga foto dan video hoax yang “sengaja dibuat”. Untuk membongkarnya, perlu pengetahuan medis, misalnya cara pertolongan pertama pada korban senjata kimia, atau reaksi/ekpresi korban senjata kimia yang asli, sehingga bisa mendeteksi keanehan akting orang-orang dalam sebuah video. Misalnya yang dilakukan oleh Robert Stuart saat membongkar hoax video BBC.

White Helmets adalah lembaga “relawan” yang sangat terkenal , dipuji-puji, sering menjadi sumber pemberitaan media Barat, dan bahkan dinominasikan meraih Nobel. Video-video “penyelamatan” yang diproduksi WH sangat tipikal (skenario mirip), bahkan ada anak yang sama muncul di beberapa video yang berbeda.  Bocah di Kursi Oranye adalah salah satu video karya WH yang paling terkenal. Cara membongkar hoaxnya adalah dengan mengamati seksama videonya: ambulans yang canggih dan mulus (padahal konon sedang di zona perang yang selalu dibombardir Rusia), si anak disuruh duduk begitu sana bermenit-menit, bukannya langsung ditangani dokter, melacak jejak digital orang yang muncul di dalam film itu (Mahmoud Raslan), dst.

omran-daqneesh

Mahmoud Raslan dan Bocah di Kursi Oranye (Omran Daqneesh)

Film ini memiliki nilai penting karena dibuat pasca pembebasan Aleppo timur, sehingga jurnalis Anna News bisa datang langsung ke 5 markas White Helmets dan mewawancarai penduduk lokal di sekitar markas, dan menemukan berbagai hal mengejutkan tentang organisasi ini.

Disclaimer: penerjemahan ini bukan karya profesional, semata-mata ingin membantu teman-teman yang kesulitan memahami bahasa Inggris. Jadi harap maklumi saja kalau banyak kekurangan di sana-sini. Diterjemahkan bebas dari subtitle English (video asli bhs Rusia).

Israel, Simpatisan ‘Mujahidin’, dan Suriah

mccain5

Senator AS John McCain di markas “mujahidin” (lihat gambar bendera di atas)

Pagi ini saya membaca sebuah artikel menarik dari Yurgen Alifia, kandidat master di Oxford University [1]. Tulisan itu sebenarnya tentang Anies Baswedan, tapi yang ingin saya bahas di sini adalah bagian tulisan itu yang mengutip wawancara Yurgen dengan Prof Mearsheimer. Mearsheimer dan rekannya, Stephen Walt [keduanya adalah pakar Hubungan Internasional] pernah menulis paper jurnal berjudul “The Israel Lobby and US Foreign Policy”. Dalam paper itu (yang kemudian dijadikan buku), keduanya menyimpulkan bahwa kebijakan luar negeri AS telah menjauh dari kepentingan bangsa AS sendiri karena terlalu menuruti keinginan Israel.

Wawancara Yurgen dengan Mearsheimer benar-benar “wow” buat saya. Ini saya copas ya:

(lebih…)

London VS Tehran :)

tehran-londonDi tulisan saya sebelumnya, saya kutip tulisan jurnalis Inggris papan atas, Robert Fisk, yang menyatakan bahwa cara media Barat menyajikan berita tentang Aleppo menyalahi kaidah jurnalisme (ia pun mengakui bahwa media massa Barat telah membohongi publik selama bertahun-tahun).

Nah, ada seorang dosen jurnalistik yang pernah S3 di Inggris (tak tahu saya, lulus atau tdk) yang sepertinya tak paham kaidah jurnalisme yang benar sehingga tulisan-tulisannya tentang Suriah sangat berpihak pada Al Qaida* (alias “mujahidin”) dan kalau ada yang membantahnya, yang bisa dia katakan cuma syiah, syiah, syiah. Terakhir, dia “membantah” (secara terbuka, di FB) tulisan-tulisan saya bukan dengan meng-counter data yang saya berikan, tetapi etapi menyebut saya pembohong [hey, bukannya para simpatisan “mujahidin” yang kedapatan berkali-kali pakai foto hoax soal Suriah? Saya ada filenya pdf 123 hal, bisa diunduh [1] Kok jadi maling teriak maling nih 🙂 ] dan menyoroti background saya yang pernah S2 di Iran. It’s an argumentum ad hominem fallacy, you know? 🙂

Betapa lucunya. Karena saya pernah dapat beasiswa S2 dari pemerintah Iran di Fakultas Teologi di Tehran University, tulisan saya harus ditolak. Sementara, tulisan orang yang dapat beasiswa S2-S3 dari Inggris, belajar dari dosen-dosen “kafir”, harus diterima 😀

(kata “kafir” ini satire lho ya, kawan-kawan non-Muslim jangan tersinggung 🙂  )

[Sekedar info, saya cuma kuliah 1 semester belajar bahasa Persia dan 1 semester matrikulasi. Saya tidak lanjutkan karena, antara lain, saya tidak terlalu berminat di bidang ini. Tapi minimalnya saya jadi tahu kultur belajar di Tehran, antara lain mahasiswinya kritis2, tanya-jawab dengan dosen jadi seolah “berantem”. Gelar master dan doktor saya dapat dari HI Unpad.]

New Release 2013

prahara suriah

New Release (2013)

"dokter cilik"
obama
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
"pelangi di persia"