Kajian Timur Tengah

Arsip 2007 ~ Sekarang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 6.368 pengikut lainnya

Logika Timteng (5)

FALASI – 1

FALASI (fallacy) adalah kesalahan proses berpikir, bisa terjadi pada pendefinisian, penggunaan premis, penggunaan data, penarikan kesimpulan, dan semua aspek logika lainnya.

Falasi terkadang mengantarkan kepada kesimpulan yang benar. Akan tetapi, seandainya itu terjadi, hal tersebut hanyalah sebuah kebetulan.

Jenis-Jenis Falasi:

(1) Argumentum ad hominem, yaitu membantah argumen seseorang dengan menyerang personalitas orang tersebut, bukan menyerang argumennya.

Contoh:

A: Bashar Assad itu bukan pemimpin sempurna, tapi dalam konflik ini, dia ada dalam posisi sebagai presiden yang sah yang negaranya sedang diperangi oleh milisi bersenjata yang dibiayai AS, Inggris, Perancis, Saudi, Qatar, dll. Secara de facto, dia diserang dan diperangi pihak asing dan serangan ini adalah pelanggaran hukum internasional. Dalam perspektif realis, Assad berhak melawan invasi asing demi mempertahankan pemerintahannya.

B: Anda berkata demikian karena Anda Syiah! [*bayangkan ada backsound: tettoooot….]

(lebih…)

Logika Timteng (4)

assad sholatDi bagian sebelumnya kita bahas DEFINISI. Kini kita masuk ke ARGUMENTASI, yaitu penalaran yang disampaikan dalam rangka meyakinkan pihak lain.

Ingat kata kuncinya adalah ‘penalaran’ atau proses berpikir. Karena itu, bila ada orang yang beragumentasi dengan cara begini: “Assad itu diktator Syiah yang kejam, saya tahu dari ustadz X yang pernah datang ke Suriah.” –> ini bukan argumentasi; kalimat tersebut mengandung fallacy (kesalahan berpikir). Tentang fallacy akan dibahas di bagian 5.

Sekarang kita mempelajari PENALARAN, yaitu proses penarikan kesimpulan dari satu atau lebih proposisi (pernyataan).

(lebih…)

Logika Timteng (3)

moslem women

sumber foto: WikiHow

Ada komentator yang membantah saya dengan mengatakan “definisi itu relatif”. Jawaban saya: kalau mau relatif-relatifan, pembahasannya beda lagi, bukan di ilmu logika yang ini (yang sedang saya sampaikan ini). Dalam ilmu logika yang ini (yang sedang saya sampaikan) tidak ada relatif-relatifan, hanya dua pilihan: kalimat Anda salah atau benar (ingat 4 hukum dasar logika kemarin).

 

Ilmu logika yang sedang saya sampaikan ini punya asumsi bahwa hakikat itu ada, sementara di luar sana ada pemikiran bahwa segala sesuatu itu relatif, bahkan termasuk logika itu pun relatif. Buat saya, kalau semuanya relatif, buang saja otak dan akal kita. Saya sedang menulis untuk orang yang percaya bahwa hakikat itu ada dan akal itu adalah sesuatu yang bisa dipakai. Kalau Anda ada di luar dua wilayah itu, tidak perlu repot-repot mempelajari apa yang saya tulis. Jelas ya?

Dan, seperti saya tulis di awal, pelajaran yang saya sampaikan memang sederhana dan karena itu banyak dilakukan penyederhanaan (dan menyederhanakan sesuatu yang rumit bukan kerjaan yang mudah). (lebih…)

Logika Timteng (2)

assad-qaddafiLogika, secara singkat berarti: cara berpikir yang benar, yang dinyatakan dalam kata-kata.

Ada 4 hukum dasar logika (perlu dihafal nih):

  1. Hukum kesamaan: sesuatu itu adalah sesuatu itu sendiri. Bashar Assad, ya Bashar Assad. Bashar Assad jelas bukan Moammar Qaddafi.
  2. Hukum kontradiksi: Libya pasti bukan Suriah (tidak mungkin kita bilang: negara ini adalah Libya sekaligus Suriah)
  3. Hukum penyisihan jalan tengah: kalau Libya, pasti bukan Suriah, pasti bukan juga setengah Libya, setengah Suriah (ga bisa “setengah-setengah”)
  4. Hukum cukup alasan: sesuatu itu berubah jika memiliki alasan yang cukup. Contohnya, “siang berubah jadi malam, setelah matahari tenggelam”. Tidak logis kita bikin kalimat: “Pada pukul 12.00 WIB, tiba-tiba saja siang berubah jadi malam.” Atau “Assad itu dulunya baik, mau menampung jutaan pengungsi dari Palestina dan Irak, mau melindungi dan membantu HAMAS, tapi sejak 2012 dia membantai rakyatnya sendiri dengan senjata kimia”.

 

Jadi, bila kita menemukan situs Hizbut Tahrir menulis “Qaddafi adalah pemimpin tiran”, sementara situs PBB  menulis, “Pendapatan perkapita Libya (sebelum 2011) mencapai 14.581 Dollar  dan Human Development Index Libya adalah yang tertinggi di Afrika”, alarm di otak kita harus segera menyala.

Baca hukum no. 2: tidak logis ada dua hal kontradiktif dalam satu entitas: tiran tapi sekaligus bisa bikin makmur rakyatnya. Jadi, perlu digali lagi, mana informasi yang lebih benar.

(lebih…)

Logika Timteng (1)

brainRepost dari Fanpage

Sepekan yang lalu, saya sudah berpikir untuk mengurangi fesbukan karena ada beberapa pekerjaan saya (misalnya ngedit buku dan jurnal) yang terbengkalai. Penyebabnya karena menejemen waktu saya yang buruk, dan sebagiannya akibat terlalu banyak  berinteraksi di medsos. Tapi beberapa hal yang saya alami sepekan terakhir membuat saya berpikir ulang. Di antaranya, kata-kata berikut ini:

-Yang ibu sampaikan itu tidak benar! Saya mendengar dari ustad anu, tidak demikian kejadian di Suriah! Dia punya foto dan videonya!

-Ibu, kata Pak Jokowi, kita harus memisahkan antara agama dan politik. Tapi kita kan orang Islam? Masak kita harus menanggalkan keislaman kita dalam menganalisis politik?

-Bayangkan Mbak… jilbabku tuh udah selebar ini, masak aku dikatain kafir, munafik, anti Islam, hanya karena aku membela Ahok?

Sebenarnya, bila kita punya basis ilmu logika yang mantap (ga perlu sampai tahap ruwet-ruwet yang kalau di kampus filsafat musti dipelajari 3 semester itu), kalimat-kalimat itu tidak perlu muncul/terjadi. Pembahasannya, nanti ya.

Sekarang saya ingin mencari akar masalahnya dulu. Mengapa sih, orang di zaman sekarang sulit untuk berpikir logis? Mengapa dengan mudah kita temukan orang, atau tokoh, (atau mungkin kita sendiri) yang melakukan falasi (kesalahan berpikir)?

(lebih…)

Review Buku “Salju di Aleppo”

Media

Oleh: Nurani Soyomukti*

Saya sudah baca buku ini (“Membongkar Kuasa Media”, Ziauddin Sardar) kira-kira hampir sepuluh tahun lalu. Lalu buku ini, bersama ratusan buku lainnya, berdiri di rak buku saya. Saya baru menjamahnya kembali beberapa malam lalu, lalu saya kumpulkan dalam satu ruang rak bersama buku-buku sejenis, buku-buku tentang kajian komunikasi dan media.

Buku ini ditulis lebih lama sebelum diterbitkan oleh Resist Book, Yogya, dengan edisi terjemahan (bahasa Indonesia). Tentu waktu itu belum ada Media Sosial, jadi dalam buku ini tidak dibahas soal saluran komunikasi atau media komunikasi yang belakangan ini berkembang seperti facebook, dll. Waktu itu media memang hanya bisa dimiliki oleh pemodal besar baik swasta ataupun negara. Jadi memang membongkar kuasa media dengan serta merta akan bicara pada kekuasaan besar, terutama monopoli media dan konglomerasi media.

buku salju di aleppo

sumber foto kiri: FB Nurani Soyomukti; foto kanan: FB Banin Muhsin

Sekarang peran medsos amat luar biasa. ‘Opinion maker’ tidak perlu media cetak atau elektronik. Seorang pesohor bukan lagi harus pengamat politik, tokoh pemerintahan, tokoh masyarakat, atau artis yang sering ditampilkan di media.

Selebritis tak lagi dibesarkan di media cetak atau elektronik. Sekarang ada istilah “Seleb Medsos”–istilah ini sering terngiang dan saya ucapkan setelah hadir di acara diskusi yang dihadiri mbak Dina Sulaeman di IAIN Tulungagung beberapa minggu yang lalu.

(lebih…)

ISIS Dibentuk AS, Lalu Umat Islam Ngapain?

Serangan rudal AS ke Suriah tanggal 7 April lalu memberikan “angin segar” buat ISIS yang semula posisinya sudah terdesak. Pasalnya, yang diserbu AS adalah pangkalan militer yang selama ini dijadikan basis tentara Suriah dalam melawan ISIS. Lalu, serbuan-serbuan AS selanjutnya (dan sebelumnya) yang konon dalam rangka menggempur ISIS selalu saja salah sasaran, yang tewas malah rakyat sipil di Suriah dan Irak. Sudah banyak pengamat menuliskan analisis, dengan berbagai data, bahwa ada AS di balik ISIS. Di video di bawah ini juga ada pengakuan dari Hillary Clinton bahwa AS-lah yang mendanai Al Qaeda, “kakek” yang akhirnya melahirkan ISIS.

Sejarah memang sudah mencatat bahwa AS adalah penjahat perang nomer wahid. Namun, ada satu hal yang penting dicatat terkait ISIS: organisasi teror ini tidak lahir dari ruang hampa. ISIS tidak muncul tiba-tiba saja. Ada sejarah panjang ideologis yang harus diperhatikan dalam mencermati fenomena ISIS.

(lebih…)

Anak-Anak Itu Tewas, Tapi Oleh Siapa?

syria-child-refugees5

anak-anak Suriah di kamp pengungsi

Seperti dulu saat saya nulis tentang “bocah di kursi oranye“, para pendukung “mujahidin” (terutama ibuk-ibuk) ngamuk-ngamuk atas tulisan saya terkait kasus senjata kimia di Idlib. Antara lain mereka menyebut saya tidak punya perasaan, masa liat foto anak-anak setragis itu saya tak tersentuh? Lho, justru saya nulis terus ttg Suriah karena prihatin dengan kondisi anak-anak di sana. Tapi buat mereka, indikasi “prihatin” atas Suriah adalah mendukung “mujahidin”.

Padahal yang saya lakukan adalah memberikan informasi pembanding. Coba lihat tulisan-tulisan saya, bahkan memasang foto mereka pun saya tidak tega, selalu saya gunakan foto yang tidak memunculkan kengerian. Status ini pun tidak saya pasang foto jasad anak-anak itu.

Untuk bocah-bocah yang tewas di Idlib (yang foto dan videonya disebarkan oleh pihak “oposisi” alias “jihadis”, bukan oleh jurnalis langsung), faktanya memang mereka tewas.

PERTANYAANNYA: tewas karena apa, oleh siapa?

Cara Menganalisis Berita dalam Kasus Senjata Kimia di Idlib

idlib9

Foto di Idlib yang dimuat NYT, bukankah seharusnya yang berpakaian lengkap mirip seperti yg dikenakan pasien, adalah tim medis?

Berkali-kali mahasiswa menanyakan kepada saya, bagaimana cara kita menelaah berita dari media mainstream. Berikut ini contohnya. Kasus yang akan kita pelajari adalah berita dari New York Times (NYT), ditulis tanggal 4 April 2017, di hari yang sama dengan kejadian serangan senjata kimia tersebut. Penulisnya Anne Barnard dan Michael R. Gordon yang melaporkan dari Beirut (Lebanon). [1]
1.    Sebuah berita (news) yang valid adalah ketika wartawan telah melakukan cross-check di lapangan. Robert Fisk, jurnalis senior asal Inggris, pernah menulis bahwa melaporkan berita dengan hanya bersumber dari satu pihak, tanpa ada wartawan yang mengkonfirmasi dengan matanya sendiri atas hal-hal yang mereka laporkan, adalah salah. [2]
Berita NYT ditulis dari Beirut, dan wartawannya (Bannard dan Gordon) tidak datang langsung ke lapangan. NYT menyebut narasumbernya: ‘saksi’, dokter, dan tenaga medis (Paragraf. 3) Foto dan video yang digunakan sebagai data disuplai oleh aktivis yang diunggah di internet (P.  9). Tanpa evaluasi yang seksama atas info-info tersebut,  NYT sejak di paragraf 1 sudah memberikan kesimpulan bahwa pelakunya adalah pemerintah Suriah.

(lebih…)

Gerak Cepat Para Pengumpul Dana

Segera setelah berita mengenai serangan senjata kimia di Idlib merebak (baca status saya sebelumnya yang mendeteksi berbagai kejanggalan atas berita ini), ormas-ormas pengumpul dana pun bergerak cepat. Salah satunya Aksi Cepat Tanggap (ACT) ini. Perhatikan skrinsyut kiri: mereka menyebut serangan senjata kimia di Idlib dg menggunakan klorin. Padahal dokter yang mengaku menangani pasien di Idlib menyebut gas sarin (dr. Shajul Islam, skrinsyut kanan).

ACT

Dalam situsnya, Direktur ACT, Ahyudin, memuji-muji Turki, Erdogan, dan IHH (Insan Hak ve Hurriyetleri ve Insani Yardim Vakfi/ Yayasan untuk Hak Azasi Manusia, Kebebasan dan Bantuan Kemanusiaan), sebuah LSM terbesar di Turki.

Menurut Ahyudin, “Semua yang diperlihatkan IHH, selaras dengan visi ACT. Tidak keliru kalau jika ACT merapat ke IHH dan menyerap inspirasi darinya.” ACT menyerahkan bantuan warga Indonesia untuk Suriah melalui IHH. [1]

Lembaga lain yang juga menyalurkan bantuan ke IHH adalah Indonesian Humanitarian Relief yang dipimpin Ustadz Bakhtiar Nasir. Sebuah video yang diunggah oleh channel Euronews pada Desember 2016 memperlihatkan ada kardus-kardus bertuliskan Indonesia Humanitarian Relief yang ditemukan di markas milisi bersenjata (Jaish al Islam) di distrik al-Kalasa, Aleppo timur. (simak videonya di sini)

(lebih…)

New Release 2013

prahara suriah

New Release (2013)

"dokter cilik"
obama
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
"pelangi di persia"