Kajian Timur Tengah

Beranda » Posts tagged 'Palestina'

Tag Archives: Palestina

Iklan

Antara Teheran dan Gaza

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

[Dimuat di harian Singgalang (Padang) edisi hari ini (19/1)]

Agaknya, kata “Poros Setan” yang pernah diucapkan George W. Bush sudah sering didengar warga dunia. Yang dimaksud dengan “Poros Setan” oleh Bush adalah Iran, Suriah, dan Korea Utara. Iran dan Suriah dianggap ‘setan’ oleh Bush karena mendukung Hamas, sebuah organisasi yang oleh AS dan sekutunya dikategorikan sebagai ‘teroris’. Padahal, bila kita sedikit saja membaca sejarah Palestina, dengan segera kita akan menangkap siapa yang teroris dan siapa yang menjadi korban teroris. Meski pembagian wilayah Israel-Palestina sudah ditetapkan oleh PBB tahun 1947 melalui Resolusi 181, namun Israel tak pernah berhenti memperluas wilayahnya. Tahun 1967, Israel bahkan menjajah Jalur Gaza dan Tepi Barat (dua kawasan terpisah yang sudah ditetapkan PBB sebagai wilayah Palestina).

Melalui perundingan Oslo 1993-1995, Israel bersedia mengembalikan sebagian wilayah jajahannya itu kepada Otoritas Palestina. Namun, di luar proses perundingan itu, Israel tak pernah henti memperluas wilayahnya dengan cara mendirikan permukiman Yahudi di atas ladang-ladang dan reruntuhan rumah orang-orang Palestina. Hal ini bertentangan dengan Konvensi Jenewa IV pasal 29 menyebutkan, “pihak penjajah tidak boleh memindahkan sebagian penduduknya di kawasan yang sedang dijajahnya.” Berlanjutnya pembangunan permukiman Israel itu (yang disertai dengan perebutan tanah, penyerangan kepada perkampungan-perkampungan Palestina di sekelilingnya) membuat PBB akhirnya pada bulan April 2005 mengeluarkan ‘kutukan’, namun tanpa sanksi apapun. Sehingga tetap saja Israel bergerak mencaplok tanah orang-orang Palestina. Bulan Agustus 2008, Human Right Watch kembali mengeluarkan pernyataan kecaman atas pembangunan permukiman, dengan menyebutnya sebagai “pelanggaran serius atas hak asasi warga Palestina.”

Lalu, tidakkah bangsa Palestina berhak berjuang untuk merebut kembali tanah air mereka? Bahkan kenyataannya, mereka kini berjuang bukan untuk merebut kembali tanah air, melainkan untuk mempertahankan secuil tanah yang masih tersisa. Dan salahkah bila ada negara Islam seperti Iran memutuskan untuk mem-backing Hamas, pejuang garis depan di Palestina?

Bukti-bukti dukungan Iran kepada Hamas memang sangat banyak dan jelas. Pada bulan Desember 1990, untuk pertama kalinya,

(lebih…)

Iklan

Gencatan Senjata Sepihak Israel: Taktik Propaganda Baru!

Berita besar itu akhirnya tiba (17/1): Israel umumkan gencatan senjata sepihak. Bahkan Ehud Olmert mengeluarkan kalimat ‘hiburan’ kepada rakyat Palestina: “Kami tidak membenci Anda, kami tidak ingin melukai Anda.”

Namun, koresponden PressTV melaporkan dari Gaza, setelah pengumuman Olmert itu, tentara Israel masih terus menghujani Gaza dengan bom fosfor putih (yg menimbulkan luka bakar mengerikan di tubuh manusia, dan sesungguhnya dilarang dipakai dalam perang).

Mudah-mudahan dunia tak tertipu oleh strategi baru Israel ini. Usaha menipu opini public terlihat jelas dari berbagai pemberitaan media Barat, misalnya:

AP (18/1) memberitakan, “Hanya bbrp jam stlh pengumuman gencatan senjata, militan melemparkan roket ke selatan Israel sehingga mengancam proses perdamaian. Serangan ini kemudian dibalas oleh Israel…” Berita itu juga mengutip Jubir Israel Mark Regev yg mengancam “Bila Hamas masih meneruskan serangan terhadap pasukan kami, maka tidak ada yg bisa disalahkan bila kami melakukan serangan balasan dan memakan korban rakyat sipil.” (video rekaman siaran tivi ini bisa dilihat di Yahoo News, video berjudul “Gaza Rockets Threaten to Shatter Cease Fire”)

Kini, sedang ada penggiringan opini bahwa Israel sudah mau berdamai, tapi Hamas yg keras kepala. Padahal bila dicermati pengumuman gencatan senjata Olmert, ada poin2 yang membuat kita menyimpulkan bahwa pengumuman itu omong kosong belaka dan sekedar mencari simpati dunia:

1. Olmert menyatakan tidak akan menarik pasukan dari Gaza

2. Olmert tidak menyatakan apapun tentang blokade Gaza (artinya, blokade masih diteruskan)

Hamas menyatakan tidak akan berhenti berjuang sampai:

1. seluruh tentara Israel angkat kaki dari Jalur Gaza

2.Israel menghentikan blokadenya atas Jalur Gaza yang sudah berlangsung sekitar 19 bln.

Mudah2an dunia tak segera melupakan bahwa sejak serangan Israel ke Gaza 27 Des, 1200 warga Gaza gugur syahid dan 6000 lainnya terluka. Hingga kinipun, bom fosfor putih masih terus diledakkan di Gaza…


sumber berita Press TV: ini dan itu.

[video] Jerit Histeris Dokter Palestina

Dr.Izz el-Deen Aboul Aish adalah orang Palestina. Dia spesialis gynecologi di sebuah rumah sakit di Israel. Secara rutin dia pulang-pergi Palestina-Israel untuk bekerja. Rumahnya di kawasan Jalur Gaza, memiliki delapan anak dan mengasuhnya sendirian karena istrinya sudah meninggal karena jantung. Kepada teman-temannya, dia selalu bercerita tentang putri-putrinya dengan penuh rasa sayang, dan mengatakan, “Putriku adalah keseluruhan hidupku.”

Dr.Izz el-Deen Aboul Aish sangat terkenal di Israel karena sering menjadi narasumber di televisi Israel (dia menguasai bahasa Hebrew). Dia selalu mendapat kesulitan keluar-masuk Israel utk ke rumahsakit (dipersulit oleh tentara Zionis di perbatasan), namun dedikasinya pada dunia medis membuatnya bertahan.

Sejak Israel menyerang Gaza, dia dan keluarganya terkurung di rumah mereka di Jalur Gaza. Aboul Aish menjadi nara sumber untuk menceritakan bagaimana situasi di Jalur Gaza. Aboul Aish bercerita, dia menidurkan putri-putrinya di pinggir dinding kamar, supaya kalau tiba-tiba ada bom yang meruntuhkan rumah, putrinya tak kena reruntuhan atap.

Hari itu (Jumat, 17/1), Dr. Aboul Aish dijadwalkan untuk diwawancarai TV 10 ISrael. Tiba-tiba, beberapa menit sblm jdwal, Dr. Aboul Aish menelpon presenter TV Shlomi Eldar (dan disiarkan life, karena acara memang sedang berlangsung dan sedang mewawancarai narasumber lain). Percakapan telpon itu sangat mengerikan. Aboul Aish berteriak-teriak histeris, campuran bahasa Arab dan Hebrew, “Ya Allah… Ya Rabb… Shlomi (memanggil nama presenter TV)… Ya Allah.. anakku terbunuh seketika…!! ” Jeritan histeris Aboul Aish disiarkan langsung selama 3 menit, sampai Shlomi Eldar tak sanggup lagi menahan emosi (sedih) dan minta undur diri dari kamera. Kamera kemudian menyorot ke presenter TV perempuan yang terlihat pucat dan gugup.

Berikut rekaman video jeritan Aboul Aish yang mencekam.

Cerita lengkap kejadian itu, bisa dibaca di sini:

Foto Dr Aboul Aish saat dia tiba di rumah sakit membawa jenazah 3 putrinya yg syahid dan anggota keluarganya yang terluka:

dokter

Sejarah Tidak Dimulai dengan Roket Qassam (Haaretz.com)

Ini jawaban untuk mereka yg memaki2 Hamas, menyalah2kan Hamas, dan mengatakan, “Perang ini adalah kesalahan Hamas! Mengapa Hamas nekad melemparkan roket ke Israel!”

Artikel di bawah ini ditulis oleh orang Yahudi Israel sendiri, dimuat di koran terkemuka Israel : Haaretz.

Buat Anda yang berkali-kali posting komen memaki-maki saya, saya sarankan, baca tulisan ini baik-baik (dan sori, saya tidak akan meloloskan komen murahan yang berisi caci-maki. Bila Anda kontra pada pendapat saya, silahkan sampaikan pendapat Anda sendiri dengan elegan dan sopan!). Orang Israel aja (sebagian) bisa mikir bahwa memang mereka sendiri yang salah kok, mengapa Anda malah membela Israel dan menyalah-nyalahkan Hamas?

***


History did not begin with the Qassams
By Amira Hass (Haaretz.com
)

(diterjemahkan oleh Dina Y. Sulaeman; frasa dalam […] adalah penjelasan dari Dina)

Sejarah tidak dimulai dengan roket Qassam. Tapi bagi kita, orang Israel, sejarah selalu dimulai ketika orang Palestina melukai kita dan kemudian luka itu dilepaskan dari konteksnya sama sekali. Kita berpikir bahwa bila kita menimbulkan luka yang lebih besar lagi di tubuh Palestina, mereka akhirnya akan belajar [untuk tidak melukai kita]. Sebagian orang menyebut hal ini sebagai ‘keberhasilan’.

Namun ‘pelajaran’ itu tetap abstrak bagi sebagian besar orang Israel. Media Israel memberitakan informasi yang minim, miskin kebenaran, serta penuh [cerita tentang] jenderal dan orang-orang sejenis mereka . Informasi itu tidak memberi kebanggaan bagi keberhasilan kita: anak-anak yang dibantai dan jasad-jasad yang terkubur di bawah puing-puing, orang-orang terluka yang mati kehabisan darah karena tentara kita menembaki kru ambulans, gadis kecil yang kakinya diamputasi karena lukanya sangat parah akibat [tembakan] berbagai jenis senjata, ayah yang hancur berlinangan air mata, pemukiman pendudukan yang hancur lebur, luka bakar mengerikan akibat fosfor putih [zat kimia yang dipakai pasukan Israel], dan ‘mini-transfer’—puluhan ribu penduduk yang sudah terusir dari rumah mereka dan masih terusir hingga kini, diperintahkan untuk tinggal berjejalan di sebuah area yang secara kontinyu semakin mengecil, dan berada di bawah hujan bom dan granat.

Sejak Otoritas Palestina didirikan, mesin PR (Public Relation) Israel membesar-besarkan bahaya ancaman militer yang ditimbulkan orang Palestina kepada kita. Ketika mereka berpindah dari [penggunaan] batu ke senapan, dari bom Molotov ke bom bunuh diri, dari bom jalanan ke Qassam, dari Qassam ke Grad [peluru kendali], dari PLO ke Hamas, kita berkata dengan nada menang, “Kami sudah bilang, kan? Mereka itu anti Yahudi.” Dan karena itu, kita berhak untuk bersikap buas.

Hal yang membuat militer Israel mampu melakukan kebuasannya –kata yang tepat tak saya temukan di kamus saya- adalah isolasi step-by-step Jalur Gaza. Isolasi itu membuat penduduk Gaza menjadi objek yang abstrak, tanpa nama dan alamat -selain alamat orang-orang bersenjata, dan tanpa sejarah sejak hari yang ditetapkan oleh agen keamanan Shin Bet.

Pengepungan Gaza tidak dimulai ketika Hamas menguasai organ keamanan di sana, atau ketika Gilad Shalit ditawan, atau ketika Hamas terpilih dalam pemilu demokratis. Pengepungan itu dimulai th 1991-sebelum ternjadi bom bunuh diri. Dan sejak itu, proses pengepungan menajdi semakin canggih dan mencapai puncaknya tahun 2005.

Mesin PR Israel dengan gembira menampilkan proses penarikan pasukan [thn 2005] sebagai berakhirnya pendudukan, tanpa tahu malu menutupi fakta sesungguhnya. Isolasi dan penutupan [Gaza] disebut-sebut sebagai ‘keperluan militer’. Tapi kita adalah gadis dan bujang yang sudah besar, dan kita paham bahwa ‘keperluan militer’ dan kebohongan yang terus-menerus itu demi mecapai tujuan negara. Tujuan Israel adalah untuk menggagalkan ‘solusi dua negara’ yang diharapkan dunia sejak Perang Dingin berakhir tahun 1990. Ini bukanlah solusi yang sempurna, tapi orang Palestina akhirnya bersedia menerimanya.

Gaza bukanlah kekuatan militer yang menyerang tetangganya yang kecil dan pencinta damai, Israel. Gaza adalah wilayah yang dijajah Israel tahun 1967, bersama dengan Tepi Barat. Penduduknya adalah bagian dari bangsa Palestina, yang kehilangan tanah dan tanah airnya pada tahun 1948.

Pada tahun 1993, Israel memiliki kesempatan emas untuk membuktikan kepada dunia bahwa apa yang dikatakan orang tentang kita tidaklah benar, bahwa Israel bukan negara kolonialis. Bahwa pengusiran sebuah bangsa dari tanah air mereka demi pendirian [negara] Yahudi bukanlah basis dan inti dari keberadaan Israel. Pada tahun 1990-an [proses perundingan Oslo], Israel memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa [kejadian] tahun 1948 bukanlah paradigma Israel.

Tapi, Israel melepaskan kesempatan itu. Bahkan, Israel mempercanggih teknik perampokan tanah dan pengusiran orang-orang dari rumah mereka; dan mengepung orang-orang Palestina di wilayah yang terisolasi. Dan sekarang, selama hari-hari yang gelap ini, Israel sedang membuktikan bahwa 1948 tidak pernah berakhir

Laporan dari Gaza oleh Kayhan News

Laporan berikut ini sulit Anda dapatkan di media2 pro Barat; benar-benar laporan yg luar biasa! Saya terjemahkan dari koran terbesar di Iran, Kayhan, dari bahasa aslinya (Farsi). Sejarah kemenangan Hizbullah tahun 2005 insya Allah akan segera terulang!

**

Laporan dari Gaza oleh Kayhan News

“Saya tidak ragu bahwa Hamas akan dapat kami lenyapkan dan operasi ini; meskipun operasi ini tidak bertujuan untuk melenyapkan Hamas. Pada umumnya, Hamas-lah yang harus mengajukan permintaan gencatan senjata.”

Kata-kata ini disampaikan oleh Menlu Israel pd tgl 3 Januari atau sepekan sesudah dimulainya perang melawan rakyat Gaza dalam pertemuan dengan Nicholas Sarkozy, Presiden Prancis.

*

Bukti-bukti banyak yang menunjukkan bahwa para pemimpin Zionis pada akhir hari ketiga perang sudah mengetahui bahwa kemungkinan untuk melemahkan Hamas secara total sudah tertutup, dan prediksi awal sebagaimana disampaikan oleh Meir Degan, Direktur Mossad mengenai kehancuran insfrastuktur dan kematian tokoh-tokoh utama Hamas dan Jihad Islam, ternyata salah besar.

(lebih…)

Sikap Diam Obama

Dimuat di Republika Kamis 8 Januari 2009

Oleh Dina Y. Sulaeman*

Pemilu Amerika 2008 belum lama berlalu. Histeria para fans Obama di seluruh dunia, termasuk Indonesia, belum hilang dari ingatan. Sepanjang bulan November 2008, televisi Indonesia tak habis-habisnya menayangkan liputan positif mengenai Obama. Bahkan mantan pembantunya pun muncul di layar hanya sekedar untuk menceritakan bagaimana masa kecil Obama. Optimisme para narasumber yang diundang berbagai stasiun TV Indonesia terhadap Obama telah menebar citra bahwa Obama adalah pahlawan baru yang akan membawa dunia kepada kehidupan yang lebih baik. Amerika adalah pemimpin dunia, bila pemimpin AS adalah pembawa perdamaian, tentu dunia juga akan damai, begitu kira-kira logika yang tersirat dari ucapan para pengamat politik yang tampil di TV.

Padahal, bila sedikit saja kita mencermati isi pidato atau tulisan Obama terkait rencana kebijakan politik luar negerinya, kita bisa menyimpulkan bahwa Obama tak akan membuat gebrakan baru. New York Times edisi 14 Juli 2008 memuat tulisan Obama yang mengungkapkan rencana absurdnya:

(lebih…)

Surabaya Dulu, Gaza Sekarang

Sebenarnya, sudah berkali-kali saya menulis bahwa Palestina adalah korban.. bahwa yg terjadi di Palestina adalah penjajahan. Namun dari komen yg masuk ke blog ini, masih saja ada pertanyaan sepertinya terus meragukan inti konflik itu… masih saja mengutak-atik, dulu nenek moyang-buyutnya siapa yg hidup di Palestina..dst..

Tulisan berikut sangat bagus, ditulis oleh lulusan HI UI dan sedang master di Jepang. Mudah2an lewat tulisan ini, mrk yg masih memandang miring pada perjuangan bangsa Palestina, bisa tercerahkan.

***

Surabaya Dulu, Gaza Sekarang

Oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad

Surabaya, 1945 .  Langit gelap. Bukan oleh awan yang hendak menurunkan hujan. Angkasa dipenuhi pesawat sekutu yang bergemuruh. Di dalamnya, para serdadu masih menyisakan keangkuhan. Mereka baru saja menghancurkan pasukan Jepang di Front Pasifik. Dari langit, mereka menebar ancaman: “menyerah, atau hancur”.

Beberapa pekan sebelumnya, pengibaran bendera Belanda memicu amarah para perindu kemerdekaan. Seorang pejuang mencabik warna biru dari bendera Belanda di Tunjungan, menggemakan pesan bahwa negeri ini tak rela kembali dijajah. Tentara sekutu menjawab dengan salakan senapan, bersembunyi di balik alasan “memulihkan perdamaian dan ketertiban”. Jiwa-jiwa merdeka itu berontak. Brigadier Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris di Surabaya, terbunuh. Sekutu murka.

Rakyat gelisah. Surabaya telah lama dikenal sebagai salah satu pusat perlawanan. Laskar-laskar dari berbagai pesantren dan daerah banyak yang menjadikan kota ini sebagai markas. Di kota ini pulalah, Cokroaminoto dan Soekarno muda mendiskusikan cita-cita kemerdekaan.

Suara dari lelaki kurus itu menghapus semua keraguan.

“Saudara-saudara rakyat Surabaya.
Bersiaplah! Keadaan genting.
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak.
Baru kalau kita ditembak.
Maka kita akan ganti menyerang mereka itu.
Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin merdeka.
Dan untuk kita saudara-saudara.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap.
Merdeka atau mati.
Dan kita yakin, Saudara-saudara.
Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah Saudara-saudara!
Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!”

Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya itu akan terus dikenang sebagai tonggak kemerdekaan Indonesia. Semua yang mengaku mencintai negeri ini tidak layak untuk menjadikan peristiwa itu berdebu di pojokan sejarah.

***

Gaza, peralihan tahun 2008-2009. Kota padat berpenduduk sekitar 1,5 juta orang –mayoritas pengungsi akibat  pengusiran biadab Israel sejak tahun 1948, 1967, dan ekspansi ilegal pemukiman yahudi yang tak pernah menghormati perjanjian yang dibuatnya sendiri- itu mencekam. Sejak 27 Desember 2008, pesawat-pesawat Israel yang dilengkapi dengan bom-bom terbaru kiriman Washington membombardir kota ini. Ehud Barak, Menteri
Pertahanan Israel, menyatakan bahwa operasi berjudul “Cast Lead” ini akan
memakan waktu lama. Hingga hari ini, 510 orang telah meninggal dunia dan ribuan luka-luka. Tidak ada jurnalis diizinkan masuk. Bantuan medis pun kesulitan.

Demonstrasi bergolak dari Jakarta sampai Eropa. Dari Jordania hingga Amerika. Posko bantuan dibuka di mana-mana, meskipun masih sangat kurang dibandingkan kebutuhan penduduk Gaza.

***

Hati saya sakit saat ada yang berkata: “Ngapain kita ngurusin Palestina, wong
negeri kita saja masih amburadul”.

Semoga kita tidak melupakan sejarah bahwa Al-Hajj Amin Al Husaini, Mufti
Palestina, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan Indonesia di radio internasional.

Alasan yang sepintas terlihat nasionalis ini adalah pengkhianatan kejam pada nasionalisme Indonesia itu sendiri. Preambule Undang-undang Dasar 1945 mendeklarasikan dengan jelas perlawanan pada segala bentuk penjajahan. Soekarno dan Hatta berkali-kali menandaskan bahwa nasionalisme Indonesia tumbuh di taman kemanusiaan. “Jangan pikirkan hal lain kecuali Indonesia” adalah logika yang menghina keindonesiaan.

Hati saya lebih sakit lagi saat ada yang mengatakan “Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai dan menembakkan roket! Media di Indonesia terlalu berpihak pada Palestina, nih…gak berimbang!”

Lalu, yang berimbang itu seperti apa? Seperti media massa Barat yang lebih

menyalahkan HAMAS, menyiarkan propaganda Israel bahwa serangan ini adalah respon dari tindakan HAMAS menyerang Israel, menyalahkan sikap HAMAS yang memutus gencatan senjata? Sepertinya kita harus menelaah peringatan Finkelstein, seorang ilmuwan Yahudi, dalam bukunya Beyond Chutzpah: On the Misuse of Anti-Semitism and Abuse of History dan Image and Reality of Israel-Palestinian Conflict. Sejarah telah dibajak untuk tidak pernah mengkritisi Israel dan media massa pun tidak bebas dari pembajakan ini.

Untuk melihat bias media barat dalam isu Palestina, silakan buka http://www.ifamericansknew.org .

Bahkan, menurut saya, media di Indonesia masih terlalu berpihak pada Israel… Tidak ada yang menyebutkan fakta bahwa pemutusan gencatan bersenjata oleh HAMAS itu didahului oleh surat protes gerakan perlawanan itu atas terbunuhnya 4 orang petani di Gaza oleh tentara Israel. Tidak ada yang mengingatkan bahwa Israel terus melanggar perjanjian damai yang disepakatinya sendiri dengan membiarkan pemukiman ilegal terus tumbuh. Kita juga tak boleh lupa dengan tembok pemisah apartheid Israel yang memutus akses rakyat Palestina pada kebutuhan vital kehidupan. Belum lagi blokade Gaza yang lebih kejam dari Blokade Berlin pada masa Perang Dingin.

“Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai…”

Sampaikan pernyataan itu pada Bung Tomo dan para pendiri negeri ini.
Alhamdulillah, para pendiri negeri ini menolak iming-iming perdamaian palsu di bawah ketiak Ratu Belanda. Soekarno bahkan menantang: “Ini dadaku, mana dadamu!”

Kalau kita menggunakan logika yang sama, berarti kita mendukung Agresi Militer Belanda pada tahun 1948. “Itu kan salah para pejuang kemerdekaan Indonesia yang tidak mau damai!”

Tidak banyak yang mengingatkan bahwa Israel berdiri dengan berkubang darah pembersihan etnis yang menghalalkan pembantaian dan pengusiran terhadap penduduk asli Palestina (Ilan Pappe: The Ethnic Cleansing of Palestine ). Komunitas Yahudi yang hidup dalam perdamaian di bawah Khilafah Utsmaniyah tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan saudara-saudara mereka yang mengungsi dari kebiadaban Eropa dan membawa ide rasis radikal untuk mendirikan Israel (Amy Dockser Marcus, Jerusalem 1913). Bayangkan, komunitas yahudi saat itu yang sekecil komunitas
muslim di Swedia saat ini tiba-tiba menuntut Negara sendiri dengan luas wilayah yang melebihi luas wilayah penduduk aslinya. Kalau muslim di Swedia tiba-tiba menuntut mendirikan Negara Islam, mereka pasti segera dicokok dan dilabeli teroris.

Memori pembantaian ini dihapus dari sejarah dunia dan dari kesadaran rakyat Israel. Pada saat yang bersamaan, kenangan pahit ini terus hidup di antara rakyat Palestina. Maka, sangat sulit bagi orang Palestina untuk menerima perdamaian yang tidak pernah berpihak pada mereka, lha wong keberadaan Israel saja tidak legal! Wajar jika popularitas HAMAS semakin lama justru semakin meningkat. Indonesia saat itu tegas tidak mengakui Israel karena melihat fakta ini. Sayang, kini banyak yang sudah lupa. Banyak yang terjebak dalam narasi fiktif  “Israel yang cinta damai terancam keberadaannya oleh HAMAS yang ekstrimis yang tidak mau damai”.

Kalaupun kita harus menerima fakta bahwa berdasarkan hukum rimba Israel itu eksis, tidak berarti bahwa kita berhak menyalahkan mereka yang menghendaki perdamaian sejati yang lahir dari kemerdekaan. Saya mendukung proses perdamaian, tapi harus dengan dialog yang adil dan terbuka yang melibatkan HAMAS sebagai kekuatan riil di Timur Tengah. Tidak sekedar perjanjian sepihak yang dibuat AS dan Israel lalu dipaksakan pada Palestina.

Kemanusiaan. Keindonesiaan. Islam. Ketiganya memaksa saya berpihak pada yang lemah dan tertindas.

“If you stand for nothing, you will fall for anything” (Malcolm X)

sumber: blognya Shofwan Al Banna  (http://alwaysthink.multiply.com)

Siapa yang Berhak Memiliki Palestina (2)

Dalam tulisan sebelumnya, saya meng-copas sejarah Palestina yang ditulis oleh Harun Yahya. Mungkin bermanfaat buat mereka yang ingin tahu, sebenarnya dulu itu, milik siapakah Palestina?

Namun, saya berpendapat, meneliti kasus Palestina-Israel harus ditarik sejak era Imperium Utsmani. Saat itu, bangsa Palestina memiliki wakil di parlemen Utsmani, yang menunjukkan bahwa memang ada entitas yang mendiami wilayah Palestina dan mereka telah memiliki tatanan social politik yang relative maju pada zamannya.[1]

Pada tahun 1914: Perang Dunia I dimulai dan pada bulan November tahun yang sama, Menlu Inggris, Balfour, mengeluarkan deklarasi Balfour yang berisi dukungan Inggris bagi terbentuknya negara bagi kaum Yahudi di Palestina. PD I berakhir tahun 1918 dengan runtuhnya Imperium Utsmani. Seiring dengan itu, gelombang imigran Yahudi berdatangan ke Palestina secara bertahap, sehingga pada thn 1921 populasi Yahudi di Palestina meningkat jadi 12% dengan kepemilikan tanah 3% (dari luas total tanah). [2]

Pada bulan Januari-Juni 1919, para pemenang perang melakukan konferensi untuk bagi-bagi wilayah, tapi disebut dengan Konferensi Damai” di Paris digelar. Dalam konferensi inilah disepakati bahwa nama “Palestina” digunakan untuk wilayah tertentu yang sudah ditetapkan, yaitu wilayah yang hari ini terdiri dari Israel, Palestina, dan Yordania. Yordania diputuskan untuk menjadi negara tersendiri pada tahun 1946.

Sejak itu pula, proses pendirian negara khusus Yahudi di atas tanah Palestina dimulai. Pembebasan tanah (melalui pembelian atau pemaksaan pembelian), pengusiran, pembunuhan dilakukan oleh organisasi-organisasi Yahudi Zionis.

Pada 29 November 1947 PBB mengeluarkan Resolusi 181 berisi rencana pembagian wilayah Palestina (UN Partition Plan), yang mengalokasikan 56.5% wilayah Palestina untuk pendirian negara Yahudi, 43% untuk negara Arab, dan Jerusalem menjadi wilayah internasional. Tapi kelak, pada tahun 1967 –setelah terjadinya Perang 6 Hari Arab-Israel—Israel menduduki Sinai, Golan, dan seluruh wilayah Palestina.

Untuk menaklukkan kawasan-kawasan yang oleh Resolusi 181 dijadikan ‘jatah’ wilayah untuk Israel (faktanya, di kawasan didiami oleh orang-orang Palestina, orang-orang Zionis melancarkan operasi militer (disebut Plan Dalet) dengan dipimpin Ben Gurion. Operasi-operasi ini dapat dilaksanakan dalam bentuk berikut ini: menghancurkan desa-desa (dengan membakar, meledakkan, dan menanam ranjau di reruntuhan desa itu)… atau menyisir kawasan pegunungan dan melakukan operasi pengontrolan dengan mengikuti petunjuk ini: mengepung desa-desa dan melakukan pencarian di dalam desa-desa itu. Bila ada perlawanan, kekuatan bersenjata harus dilenyapkan dan penduduk desa diusir hingga keluar dari perbatasan negara.

Tahap pertama operasi (1947-1948), pasukan Zionis mengusir 780.000 warga Palestina dari tanah mereka, tahap kedua 452.780 warga diusir, selanjutnya, 347.220 lagi diusir, dan tahap ketiga (1954) 800.000 warga Palestina diusir. Selain pengusiran, dalam operasi Plan Dalet itu, ratusan desa dan jutaan hektar ladang dihancurkan, pembantaian massal dilakukan di desa2 yang penduduknya menolak angkat kaki (salah satu yang paling tragis: pembantaian massal di desa Deir Yassin). Mereka yang lari mengungsi, hidup di tenda-tenda pengungsian di luar kawasan ‘jatah’ Israel, dan sampai kini, mereka terus hidup di sana, atau mengungsi lagi ke tempat-tempat lain (termasuk ke luar negeri). Total jumlah pengungsi Palestina hari ini sudah mencapai lebih dari 5 juta orang!

Tahun 1948, negara Israel diproklamasikan.

Dengan melihat sejarah pendirian Israel, siapa yang masih bisa mengatakan bahwa Israel adalah negara yang legal dan mereka memang berhak memiliki Palestina?

Lalu, apa solusinya? Bagaimana nasib orang-orang Yahudi Zionis yang sudah beranak-cucu di Israel? Lalu, apa yang harus dilakukan dengan 5 juta pengungsi Palestina itu? Bila mereka dikembalikan ke tanah mereka, bukankah di sana sudah bercokol orang2 Yahudi Zionis? Apa mereka harus diusir? Di mana jalan keluar?

Jawaban lengkapnya, silahkan dibaca di buku Ahmadinejad on Palestine… (penulis: Dina Y Sulaeman, penerbit: Pustaka IIMaN)

Maaf, bukannya mau jualan… tapi tak mungkin kan, semua isi buku saya tulis di sini? Bisa diamuk ama penerbitnya deh 😀


[1] Dina Y. Sulaeman, Ahmadinejad on Palestine, penerbit: Pustaka IIMaN

[2] Kronologis yg lebih detil bisa dibaca di buku Ahmadinejad on Palestine

Ahmadinejad: 7 Penderitaan yang Diakibatkan oleh Rezim Zionis

Dalam peringatan Intifadhah Palestina yang dilangsungkan di Teheran tanggal 26 Farvardin 1385 (15 April 2006), Ahmadinejad secara lebih detail memetakan permasalahan di Palestina. Dia menyimpulkan, minimalnya ada tujuh penderitaan yang diakibatkan oleh Rezim Zionis, yang ternyata tidak menimpa orang Palestina saja, melainkan juga umat manusia secara global.[1]

(lebih…)

Pesan Pemimpin Iran, Ayatullah Khamenei, Menyusul Pembantaian Sadis Warga Palestina di Gaza

Bismillahirrahmanirrahim
Innalillahi wa Inna ilahi raji’un

Kejahatan besar yang dilakukan Rezim Zionis Israel di Gaza dan pembantaian ratusan warga; laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tertindas, sekali lagi menunjukkan wajah bengis serigala-serigala zionis yang haus darah dan membuka kedoknya yang selama bertahun-tahun tersembunyi di balik tabir kedustaan. Kejahatan ini sekaligus menjadi peringatan bagi mereka yang lalai dan para pencari ‘damai’, akan bahaya besar dari kehadiran kelompok kafir harbi ini di jantung negeri umat Islam. Duka yang ditimbulkan oleh pembantaian sadis ini sangat memukul hati setiap insan Muslim, bahkan menyentak siapa saja yang memiliki hati nurani dan kehormatan, di manapun dia berada. Akan tetapi duka yang lebih besar dari itu adalah sikap bungkam bernuansa dorongan yang ditunjukkan oleh sejumlah rezim Arab dan yang mengaku menjadi bagian dari dunia Islam. Bukankah para penguasa negeri-negeri Muslim sepatutnya membela warga Gaza yang tertindas dan berhadap-hadapan dengan rezim perampas, kafir dan agresor, bukan malah menunjukkan sikap yang membuat para pejabat zionis menyebut mereka sebagai pihak yang setuju dengan kejahatan besar itu. Adakah petaka yang lebih besar dari ini?

(lebih…)