Kajian Timur Tengah

Beranda » Posts tagged 'Suriah'

Tag Archives: Suriah

Iklan

Disertasi tentang Hipokritas Humanitarian Intervention

Dina Y. Sulaeman*

Humanitarian intervention (intervensi kemanusiaan, untuk selanjutnya dalam tulisan ini disingkat HI) bisa didefinisikan sebagai penggunaan kekuatan militer lintas nasional untuk menghentikan atau mencegah penderitaan manusia dalam skala besar (Bakry, 2013). HI dilakukan NATO di Libya pada tahun 2011 dengan alasan bahwa saat itu telah terjadi pembunuhan massal rakyat sipil oleh rezim Qaddafi. PBB  menyetujui HI dengan tujuan mencegah pembantaian yang lebih besar lagi. Serangan militer NATO terhadap Libya ini disebut ‘intervensi kemanusiaan’, sebuah frasa yang terdengar positif dan bertujuan baik.

Namun, benarkah demikian adanya? Dalam disertasi yang disusun oleh Umar Suryadi Bakry, kita bisa mendapatkan jawabannya secara ilmiah. Bakry adalah Doktor  Hubungan Internasional lulusan universitas dalam negeri pertama di Indonesia (Universitas Padjadjaran), yang lulus dengan yudisium cumlaude pada tanggal 27 September 2013. Dalam disertasinya yang berjudul Intervensi Kemanusiaan NATO di Libya: Perspektif Konstruktivis, Bakry menjelaskan bahwa pada dasarnya, HI memiliki itikad baik untuk melindungi umat manusia dari pelanggaran HAM berat yang dilakukan pemerintah suatu negara. HI dianggap sah bila memenuhi empat kriteria berikut ini:

  1. Just cause:  intervensi militer boleh dilakukan bila negara sasaran perang itu benar-benar dalam kondisi bencana kemanusiaan; bila ada realitas ‘kehilangan jiwa dalam skala besar’ atau ‘pembersihan etnis dalam skala besar’.
  2. Just intention: intervensi militer harus dilakukan dengan tujuan yang benar, yaitu untuk menghentikan penderitaan manusia.
  3. Just authority: keputusan intervensi militer harus diambil oleh otoritas yang paling berhak (yaitu PBB)
  4. Last resort: intervensi militer hanya boleh dilakukan ‘jika dan hanya jika’ semua upaya damai lain sudah dilakukan dan tidak menemui hasil.

Hasil penelitian Bakry menemukan bahwa dari keempat kriteria itu, hanya criteria just authority yang terpenuhi dalam operasi HI di Libya (yaitu bahwa keputusan intervensi memang diambil oleh Dewan Keamanan PBB). Untuk just cause, sama sekali belum ada data akurat yang menyebutkan berapa jumlah korban kekejaman Qaddafi. Untuk just intention, penelitian Bakry menemukan bahwa motif utama para negara-negara pendukung perang Libya sesungguhnya bukanlah untuk menyelamatkan rakyat Libya, melainkan untuk menggulingkan Qaddafi. Sementara itu kriteria last resort juga tidak terpenuhi, mengingat sangat pendeknya jarak antara fenomena ‘krisis kemanusiaan’ di Libya dengan pengambilan keputusan intervensi militer oleh DK PBB. Ini menunjukkan bahwa komunitas internasional sebenarnya belum melakukan upaya damai yang cukup sebelum memutuskan menyerbu Libya.

(lebih…)

Iklan

Perang Suriah dan Nalar Kemanusiaan

Dina Y. Sulaeman*

Common sense alias akal sehat adalah frasa yang diulang-ulang oleh beberapa tokoh dunia dalam menyikapi serangan senjata kimia di Suriah yang terjadi di Ghouta, pinggiran Damaskus, tanggal 21 Agustus lalu. Vladimir Putin, Presiden Rusia, di Vladivostock (30/8) mengatakan, “Kita harus bersandar pada akal sehat. Tentara Suriah sedang dalam posisi ofensif dan tengah mengepung para pemberontak di beberapa wilayah. Dalam kondisi seperti ini, amat konyol bila menyerahkan kartu truf kepada mereka yang selama ini selalu menyerukan intervensi militer asing, apalagi dilakukan tepat ketika datangnya misi inspeksi PBB.”

Tentu saja, Assad pun mengatakan hal senada, “Adakah negara yang menggunakan senjata kimia atau senjata pemusnah massal di sebuah tempat dimana pasukannya sendiri terkonsentrasi di sana? Hal ini jelas bertentangan dengan akal sehat!”

George Galloway, dengan berapi-api mengingatkan anggota Parlemen Inggris agar menggunakan logikanya, “Pemerintahan Assad cukup buruk sehingga mungkin saja menggunakan senjata kimia, tetapi apakah mereka cukup gila untuk melakukannya? Untuk melancarkan serangan senjata kimia di Damaskus tepat pada hari yang sama ketika Inspektur Senjata Kimia PBB datang ke Damaskus? Ini pasti definisi baru dari kegilaan. Dan bila Assad sedemikian buruk dan gilanya, bagaimana mungkin dulu PM Tony Blair mengundangnya ke London, bahkan diterima Ratu di Istana Buckhingham?”

(lebih…)

‘Revolusi’ di Parlemen Inggris

Video ini menarik banget. Kita bisa tahu bagaimana proses pengambilan keputusan di Parlemen Inggris. Argumen versus argumen, disampaikan secara efektif, nggak lebay, dan tentu saja, tanpa caci-maki. Para anggota parlemen yang pro-Israel, mendasarkan argumennya dalam mendukung invasi ke Suriah pada Holocaust (karena katanya Hitler dulu membantai Yahudi juga pakai senjata kimia).

Lalu, di menit 3:35, ada anggota parlemen yang mengingatkan bahwa dulu Israel menggunakan gas fosfor putih untuk membantai rakyat Gaza, dan Obama yang aktif mengirim drone ke Pakistan. [Menurut laporan tahun 2012, lebih dari 3000 orang tewas akibat 344 serangan drone sejak tahun 2004 (dan 292 di antaranya terjadi pada masa pemerintahan Obama: 23 Januari 2009 -2 September 2012).]

Dan yang paling seru tentu saja adu argumen antara George Galloway dengan beberapa anggota parlemen lainnya (menit ke 18:30-26:05). Seru, karena gaya bicara Galloway yang khas, berapi-api, tapi tetap ada unsur jenaka, sehingga berkali-kali menimbulkan tawa. Salah satu kalimat Galloway, “Pemerintahan Assad mungkin cukup buruk untuk melakukannya [serangan senjata kimia], tapi apa dia cukup gila untuk melakukannya di Damaskus pada hari yang sama ketika tim inspeksi PBB datang ke Damaskus?.. dan kalau dia sedemikian buruknya, mengapa dulu Ratu sampai menerimanya di istana Buckingham, dan mengapa dulu perdana menteri [Blair] mengupayakan agar dia diberi penghargaan dari Ratu?” [Namun pemberian penghargaan itu batal dilakukan; agaknya karena Assad tetap menolak menghentikan konfrontasinya dengan Israel. Bahkan dalam jumpa pers bersama Blair, Assad dengan tegas menolak tuduhan bahwa pihaknya melindungi organisasi teroris. Menurutnya, kantor Hamas dan Jihad Islam yang berada di Damaskus adalah ‘kantor juru bicara rakyat Palestina’, bukan kantor teroris. Ini kejadian tahun 2002]

The Oded Yinon’s Plan

The Oded Yinon’s Plan telah menjelaskan semuanya. Dokumen ini adalah dokumen yang  paling eksplisit, detil, dan jelas terkait strategi orang-orang Zionis di Timur Tengah. The Oded Yinon’s Plan (Rencana Oded Yinon) dimuat di Kivunim [Arah], sebuah jurnal yang diterbitkan oleh Departemen Informasi Organisasi Zionis Dunia. Dokumen ini kemudian diterjemahkan dan  dipublikasikan oleh Association of Arab-American University Graduates pada tahun 1982. Mungkin timbul pertanyaan, mengapa Zionis mempublikasikan dokumen ini? Jawabannya diberikan oleh Israel Shahak, penerjemah dokumen ini ke dalam bahasa Inggris. Menurutnya, publikasi dokumen ini ditujukan untuk orang-orang Yahudi sedunia agar mereka lebih memahami (dan mendukung) strategi politik Israel. Dalam perhitungan mereka (dan ini terbukti hingga sekarang), bangsa-bangsa Timur Tengah tidak akan terlalu peduli pada dokumen ini dan tidak akan melakukan langkah-langkah strategis untuk melawan rencana dan strategi jangka panjang Zionis ini.

sumber: www.ccun.org

sumber foto: http://www.ccun.org

Poin terpenting dalam dokumen ini adalah bahwa untuk mewujudkan Israel Raya,  negara-negara Arab perlu dipecah-pecah ke dalam negara-negara yang [lebih] kecil. Rencana ini berjalan berdasarkan dua premis; untuk bisa bertahan, Israel harus 1) menjadi sebuah imperium kekuatan regional 2) mempengaruhi pembagian seluruh kawasan ke dalam negara-negara kecil, dengan cara pembubaran semua negara-negara Arab yang ada. Negara kecil yang dimaksud di sini adalah negara yang berlandaskan etnis atau mazhab. Negara-negara kecil berdasarkan etnis atau mazhab itu di satu sisi akan lemah, sehingga akan menjadi ‘satelit’ Israel dan di sisi lain, menjadi legitimasi bagi Israel. Bila ada negara lain yang berdiri atas dasar etnis atau mazhab, artinya sah pula Israel memegang teguh konsep ‘negara khusus Yahudi’-nya.

dua paragraf di atas dikutip dari buku Prahara Suriah

(lebih…)

Video Prahara Suriah

Video ini saya tampilkan dalam acara launching buku Prahara Suriah. Isinya antara lain kompilasi beberapa bukti manipulasi informasi soal Suriah, fatwa Qaradhawi dan jawaban dari Grand Mufti Suriah (ulama Sunni), Syekh Hassoun.

Dalam acara launching, salah satu pembicara, Agus Nizami, mempresentasikan power point berikut ini:

Konflik Suriah Berdasarkan Al Quran dan Hadits

 

Argumentum ad Hominem (Dina Sulaeman)

Sejak saya menulis soal Suriah, banyak sekali  ‘serangan’ verbal (komen-komen jahat dan super jahat di medsos) yang saya dapatkan. Isu Suriah memang unik, jauh beda dengan isu Palestina, padahal sebenarnya musuh yang dihadapi sama: Israel. Khusus Suriah, siapa saja yang mengkritik kelompok pemberontak, sering dituduh Syiah, tanpa peduli pada argumen yang diberikannya. Padahal, betapa banyak bukti menunjukkan bahwa yang anti-pemberontak pun banyak dari kalangan Sunni. Misalnya Mufti Besar Suriah, Syekh Ahmad Hassoun (anaknya tewas dibunuh gara-gara itu), Syekh Ramadan Al Buthy (beliau gugur syahid dibom, gara-gara itu), dan Syekh Seifeddin, ulama Aleppo (beliau juga syahid, dan jasadnya dimutilasi, kepalanya dipenggal dan ditaruh di menara masjid).

Update: mengapa demikian? Mengapa mereka marah sekali ketika ada yang membongkar masalah Suriah? Jawabannya ada di sini: Terungkapnya Jati Diri Para Aktor Suriah. Tak lain tak bukan, para “mujahidin” alias teroris di Suriah itu berafiliasi dengan ormas-ormas tertentu di Indonesia.

Nah, Dr. Joserizal dari MER-C menolak mengirimkan timnya ke Suriah karena alasan keamanan (kan sudah ada fatwa dari Yusuf Qaradhawi, siapa saja yang tidak mendukung pemberontak, baik itu ulama sekalipun, harus dibunuh). Masa’ dokter musti milih-milih korban yang akan ditolong? Kalau ternyata korbannya dari pihak pemerintah, apa nanti dokternya juga halal dibunuh? Penolakan Dr. Jose juga berakibat dia dituduh Syiah.

(Dan ternyata, seperti yang ditulis pak Nasihin Masha di Republika, fenomena ini banyak dialami pihak-pihak lain juga. Bisa baca di sini: Indonesia dan Fitnah Suriah.)

Saya pun menulis status di FB mengomentari hal ini, membela dr Jose. Dua hari kemudian, giliran saya yang ‘diserang’. Nama saya ditaruh di urutan kedua list Tokoh Syiah Indonesia oleh situs pembela teroris di Suriah (arrahmah) dan semua nama yang ditaruh di list itu diposisikan sebagai orang jahat yang perlu diwaspadai. Ini adalah fitnah yang benar-benar ngawur. Saya bukan Syiah dan beberapa nama yang ditulis di list itu juga belum tentu Syiah.

Ini status saya yang membela dr Jose itu. Saya cuma bisa berpesan, mari kita budayakan berpikir ilmiah, cerdas, dan jernih. Seperti kata Syekh Syaltut, “Fanatik kepada afiliasi politik dapat merusak cara berpikir ilmiah.”

(lebih…)

Suriah dan Masa Depan Dunia

Dina Y. Sulaeman*

(Dimuat di Sindo Weekly Magazine No. 16 Thn II)

Aroma busuk perang Suriah telah menguar hingga ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Berbagai fatwa yang menyulut permusuhan dan kebencian diterbangkan oleh angin dengan sedemikian jauh, hingga baunya tercium sampai di Indonesia. Yusuf Qaradhawi, misalnya, berfatwa agar kaum Sunni berjihad melawan Syiah di Suriah. Padahal untuk pembebasan Palestina pun tak pernah ia sampai berfatwa sevulgar itu. Tak heran bila saat tulisan ini dibuat, sebuah ormas Islam sedang mengadakan road show penggalangan dana ke 35 kota se-Indonesia untuk membantu ‘umat muslim Sunni yang dibantai oleh rezim Syiah Suriah’. Dari beberapa lokasi awal saja, diberitakan sudah lebih dari seratus juta rupiah terkumpul.

Suriah, yang semula tak banyak dikenal rakyat Indonesia tiba-tiba menjadi sebuah isu penting, menyamai atau bahkan melebihi Palestina yang sejak lama menjadi sumber keprihatinan Muslimin Indonesia. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun sampai mengeluarkan ‘saran’ agar Presiden Suriah Bashar al-Assad mengundurkan diri dari jabatannya. Saran SBY ini disampaikan dalam pertemuannya dengan ahli tafsir asal Suriah, Syekh Muhammad Ali Ash-Shobuni, di Istana Presiden Bogor (7/1/2013).  Dari sisi etika diplomasi, ini sungguh sebuah pernyataan yang serius. Buat negara-negara Barat yang sangat sering mengabaikan etika diplomasi, hal ini mungkin biasa. Tapi, buat SBY yang selama ini selalu ‘hati-hati’ dalam memberikan pernyataan, ini jelas luar biasa. Wow. Bila terhadap Israel yang sudah terbukti brutal, SBY tidak pernah menuntut agar Rezim Zionis dibubarkan dan digantikan oleh rezim yang demokratis, lalu mengapa terhadap Assad, SBY bertindak demikian?

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik Suriah memang bukan konflik biasa dan akan membawa efek bagi Indonesia. Konflik ini perlu diwaspadai karena Indonesia adalah negara yang multietnis, agama, dan mazhab, sehingga menyimpan potensi konflik yang cukup besar.

(lebih…)

Soal Senjata Kimia Assad

Soal Senjata Kimia Assad

Dina Y. Sulaeman*

603686_10201010635896833_563716365_nKonflik di Suriah memasuki tahap baru. Setelah tentara Suriah berhasil mengalahkan para pemberontak (dan ribuan dari mereka terbukti adalah pasukan asing dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia), AS dan sekutunya mulai melancarakan serangan propanda baru: Assad menggunakan senjata kimia. Tujuan akhirnya, apa lagi kalau bukan menggalang persetujuan internasional untuk menyerang Suriah, sebagaimana dulu AS menyerang Irak (dengan alasan Saddam punya senjata biologis, dan kemudian terbukti bohong belaka).

Berikut ini, saya terjemahkan yang sangat bagus dari Robert Fisk, jurnalis senior Inggris yang bahkan sudah meliput Suriah sejak masa Hafez Al Assad.

Semakin besar kebohongan, orang akan semakin percaya. Kita tahu siapa yang mengatakan ini, tetapi [rumus] ini tetap dipakai.’Bashar al-Assad memiliki senjata kimia. Dia mungkin menggunakannya terhadap rakyatnya sendiri. Dan bila dia melakukannya, Barat akan merespon.’ Kita telah mendengar kalimat ini sejak tahun lalu dan Assad pun sudah berkali-kali menjawab bahwa jika dia benar-benar punya senjata kimia, dia tidak akan menggunakannya terhadap rakyatnya sendiri.

Tetapi sekarang Washington sedang memainkan ‘mantra gas’ ini lagi: ’Bashar al-Assad memiliki senjata kimia. Dia mungkin menggunakannya terhadap rakyatnya sendiri. Dan bila dia melakukannya…

Well, bila dia melakukannya, Obama dan Madame Clinton [sekarang posisi menlu AS sudah digantikan Kerry—pent] dan NATO akan sangat, sangat marah. Selama sepekan yang lalu, semua orang-orang yang mengaku-ngaku pakar, yang bahkan tidak tahu di mana letak Suriah di atas peta, telah memperingatkan kita atas bahaya mustard gas, chemical agents, atau biological agents yang mungkin dimiliki dan mungkin digunakannya. Dan sumbernya? Para spesialis khayalan yang tidak memperingatkan kita tentang 9/11 tetapi berkeras mengatakan bahwa Saddam punya senjata pembunuh massal pada 2003; mereka disebut “sumber intelijen militer yang namanya tidak diungkap”  (unnamed military intelligence sources, disingkat UMIS).

Dan sekarang, coup de théâtre. Seseorang dari Canadian Broadcasting Corporation menelepon saya minggu ini untuk berbicara tentang penggunaan senjata kimia oleh Hafez al-Assad di Hama selama pemberontakan Muslim Sunni di kota pada tahun 1982. Sumber-sumber mereka, lagi-lagi adalah UMIS yang sama. Tapi saya kebetulan pernah datang ke Hama pada bulan Februari 1982 (dan itulah sebabnya orang Kanada ini menelpon saya). Meskipun saya lihat jelas bahwa tentara Suriah di bawah Hafez Al Assad memang membantai rakyatnya sendiri (yang, by the way, ‘rakyat’ ini adalah para pembantai pejabat rezim berikut keluarga mereka), tidak ada yang pernah menggunakan senjata kimia. Tidak seorang prajurit pun yang saya lihat di Hama membawa masker gas. Tidak ada warga sipil membawa masker gas. Sama sekali tidak ada bau khas berbahaya yang pernah saya dan para jurnalis cium setelah penggunaan senjata kimia oleh Saddam (yang waktu itu masih berstatus sekutu Barat) terhadap tentara Iran di tahun 1980-an. Dan tak satu pun dari puluhan korban sipil Suriah yang telah saya wawancarai selama 30 tahun sejak tahun 1982 pernah menyebutkan penggunaan gas [di Hama].

(lebih…)

Apa Sebenarnya Kata Rakyat Suriah?

Para pendukung jihad di Suriah selalu mengulang-ulang klaim bahwa rakyat Suriah menderita di bahwa Assad dan menginginkan tergulingnya Assad. Bahkan sebagian mereka mengklaim, rakyat Suriah ingin mendirikan khilafah. Pertanyaannya: seberapa banyak ‘rakyat’ yang mereka sebut ini?Apakah mayoritas? Kalau mayoritas, tanpa perlu perang, Assad sudah sejak setahun atau dua tahun lalu bisa ditumbangkan, seperti Mubarak atau Ben Ali.

Yang perlu diakui, ADA bagian rakyat Suriah yang tak menginginkan perang. Mungkin mereka memang mencintai Assad, tapi mungkin juga yang mereka cintai adalah negeri dan kehidupan damai mereka selama ini. Mari kita bayangkan bila tiba-tiba saja di Jawa Barat muncul pasukan mujahidin yang ingin memisahkan Jawa Barat dari NKRI. Mereka mengaku memperjuangkan kepentingan rakyat Jabar, tapi yang terjadi justru hancur leburnya gedung-gedung, sekolah, universitas, fasilitas publik, dll (misalnya lho, naudzu billah.. tapi seperti inilah yang terjadi di Suriah).

Foto-foto berikut ini membuktikan bahwa ADA rakyat Suriah yang memang tak mendukung aksi jihad. Saat melihat foto-foto Suriah, perhatikan benderanya. Bila orang-orang membawa bendera merah-putih-hitam, itu adalah bendera resmi Suriah dan yang mengibarkannya pastilah pro Assad, atau pro Suriah (sangat mungkin tidak pro Assad tapi mereka tak mau negara mereka dihancurkan milisi bayaran dari luar negeri). Sebaliknya, bila mereka membawa bendera hijau-putih-hitam, artinya mereka ini pendukung terorisme (tentu saja, mereka menyebutnya ‘jihad’, meski itu diwarnai dengan pengeboman di berbagai fasilitas publik termasuk sekolah dan universitas; bom bunuh diri, membantai dan memutilasi para ulama Sunni, antara lain Syekh Buthy dan Syekh Seifeddin, membongkar kuburan sahabat Nabi, serta memakan jantung mayat tentara Suriah). Perlu diketahui, bendera hijau-putih-hitam adalah bendera Suriah saat masih dijajah Prancis.

Ini foto pendukung pemberontak. (Sangat disayangkan, sebagian pendukung terorisme di Suriah justru mereka yang dulu dibela oleh rezim Assad, misalnya Khaled Meshal dan Ismail Haniyah).

foto1

Ismail Haniyah (kiri)

Khaled Meshal dan para elit Hamas kibarkan bendera pro-pemberontak.

Khaled Meshal dan para elit Hamas kibarkan bendera pro-pemberontak.

Maher Zein dalam konser penggalangan dana untuk Free Syrian Army

Maher Zein dalam konser penggalangan dana untuk Free Syrian Army

Adnan Ar'our, salah satu pemimpin spiritual pemberontak, tinggal di Saudi, dalam khutbahnya dia menyeru bahwa 'orang-orang Alawi akan dicincang dan dagingnya diberikan ke anjing'

Adnan Ar’our, salah satu pemimpin spiritual pemberontak, tinggal di Saudi, dalam khutbahnya dia menyeru bahwa ‘orang-orang Alawi akan dicincang dan dagingnya diberikan ke anjing’

Bernard Henry Levy, tokoh Zionis yang jadi makelar perang Libya dan Syria

Bernard Henry Levy, tokoh Zionis yang jadi makelar perang Libya dan Syria

Berikut ini, foto-foto demo pro Assad, perhatikan warna benderanya.

demo pro-Assad-2demo pro Assaddemo pro-Assad-1demo pro-Assad-3

Berikut ini foto demo warga kota Al Qusayr yang gembira setelah kota mereka dibebaskan oleh tentara Suriah (hampir dua tahun kota ini dijadikan basis suplai senjata dan pasukan dari luar negeri oleh para “mujahidin”)

demo Al Qusayr-2demo Al Qusayr-3demo Al Qusayr

(lebih…)

Gilad Atzmon: Israel Kalah di Suriah

Dina Y. Sulaeman*

Sudah lama saya ingin menulis tentang isi buku Gilad Atzmon, seperti saya janjikan di sini. Tapi belum sempat juga. Atzmon adalah seorang penulis Yahudi yang ‘tercerahkan’. Dia lahir dan besar di Israel dan merenungkan berbagai paradoks yang ditemuinya di tanah kelahirannya itu. Akhirnya dia memilih keluar dan kemudian menulis buku “The Wandering Who”. Buku ini membongkar ideologi dan filosofi Yahudi dan Zionisme hingga ke akarnya. Tak pelak, dia pun dibenci oleh para Zionis, meski di saat yang sama, mampu mencerahkan banyak orang Yahudi. Yang aneh, bahkan sebagian aktivis Palestina pun memrotes buku itu, antara lain Ali Abunimah. Mereka  telah membuat petisi menuduh Gilad sebagai rasis. Buku  itu seolah menjadi ‘pembeda’ bagi mereka yang mengaku aktivis pembela Palestina. Ada mereka yang benar-benar menginginkan kemerdekaan Palestina, dan mereka ini mendukung buku Atzmon. Tapi ada banyak juga yang sebenarnya hanya ingin kekuasaan dan uang melalui aktivitasnya itu. Kehadiran buku ini juga membongkar kedok sebagian kelompok perdamaian Yahudi, karena sebagian kelompok  Yahudi yang mengklaim diri antipenjajahan di Palestina, justru menolak isi buku ini. Di sini terlihat bahwa mereka sebenarnya hanya ingin melakukan pencitraan saja, tapi tidak benar-benar menginginkan tegaknya keadilan di Palestina.

Di blognya, Atzmon aktif mengkritik sepak terjang Israel dengan sudut pandang yang unik, sudut pandang seorang Yahudi yang benar-benar memahami esensi Israel dan keyahudian. Tulisan terbaru di blog Atzmon adalah tentang sepak terjang Israel di Suriah dan menurut saya menarik dicermati. Saya akan terjemahkan sebagiannya, berikut ini.

(lebih…)