Kajian Timur Tengah

Beranda » Posts tagged 'Suriah' (Laman 2)

Tag Archives: Suriah

Apakah Sunni = Takfiri?

Dina Y. Sulaeman*
Mau tak mau, ada beberapa istilah yang sepertinya harus kita pahami bersama saat menganalisis atau membaca analisis tentang konflik Timur Tengah. Beberapa istilah yang sering muncul dalam membahas konflik Suriah adalah takfiri dan wahabi. Era Muslim baru-baru ini dalam sebuah artikel yang mengutip pidato Sayyid Hassan Nasrallah, membuat judul yang provokatif : Hasan Nasrallah : Kami Tidak akan Biarkan Suriah Jatuh Ke ‘Takfiri’ (Muslim Sunni).

Eits, sebentar, judul ini cukup mengganggu pikiran saya. Takfiri adalah perilaku mengkafir-kafirkan sesama muslim dan melakukan kekerasan terhadap orang yang mereka anggap kafir. Apakah benar takfiri itu adalah muslim Sunni? Saya tanya kepada Anda semua yang mengaku Sunni, apakah Anda menyukai perilaku demikian? Apakah Anda menyukai perilaku main serang ke sebuah lembaga atau sebuah kampung hanya dengan alasan lembaga itu kafir atau penduduk kampung itu kafir (muslim tapi karena dinilai ‘sesat’, jadi dikategorikan kafir)? Atau apa Anda setuju dengan perilaku pemberontak Suriah yang makan jantung mayat atau memutilasi mayat sambil berteriak takbir? Saya yakin, jawaban sebagian besar dari kita semua adalah TIDAK.

Baru-baru ini ada kejadian yang menurut saya membuktikan bahwa kaum takfiri itu beda dengan Sunni. Kejadian ini berlangsung di kantor Grand Shaikh Al-Azhar Kairo Mesir (Masyikhah). Wah, para syekh Al Azhar ini kurang Sunni apa? Mereka kan benar-benar Sunni tulen, sudah tingkat ulama ‘Grand” pula? Tapi, kantor mereka digeruduk oleh para demonstran dari kalangan ‘Islam radikal’ (ini istilah yang dipakai dalam berita ini. Tapi, di berita itu disebutkan pula bahwa mereka meneriakkan yel-yel dan cacian terhadap instansi Al-Azhar, Grand Shaikh Al-Azhar Prof. DR. Ahmad Thayeb, dan seluruh pegawai Al-Azhar. Mereka menyatakan bahwa Al-Azhar adalah instansi kafir. So tak salah lagi, inilah kaum takfiri itu. Bahwa para penentang ulama Al Azhar adalah kaum takfiri, bisa dibaca juga dalam pernyataan seorang Syekh Al Azhar, Dr. Ahmad Karimah di sini.

Saya pun bertanya kepada Bapak Agus Nizami, blogger http://www.kabarislam.wordpress.com dan owner web http://www.media-islam.or.id yang aktif memberikan analisis konflik Timur Tengah dengan menggunakan landasan teks agama.  Berikut kutipan diskusi kami.

(lebih…)

Iklan

Gerakan Transnasional di Suriah: Refleksi untuk Indonesia

Oleh: Dr. Ainur Rofiq Al-Amin*

Salah satu faktor determinan berlarutnya masalah Suriah adalah masuknya negara asing. Baik negara asing penyokong oposisi, seperti Amerika, negara Uni Eropa, serta Arab Saudi, Qatar, dan Turki; maupun negara asing pendukung rezim seperti Rusia, China, dan Iran.

Tidak hanya negara asing, Suriah menjadi destinasi “jihad” gerakan Islam transnasional. Bisa disebut Jabhat al-Nusrah yang berafiliasi dengan al-Qaidah yang ideologi alirannya masuk Wahabi. Banyak para kombatannya dari berbagai negara Timur Tengah, bahkan dari Barat. Demikian juga brigade Ansarul Khilafah dan afiliasinya. Hampir bisa dipastikan, kelompok minoritas ini adalah simpatisan dan aktivis Hizbut Tahrir.

Setelah terbentuknya Syrian National Council (SNC), kelompok oposisi terbelah. SNC berupaya menumbangkan kediktatoran Basyar Assad. Sedang kelompok Jabhah al-Nusrah yang akhirnya bergabung dengan Ansar al-Khilafah menginginkan negara Islam atau negara Khilafah.

Tentu kelompok Islam transnasional ini berkontribusi besar dalam gerakan bersenjata dan aksi bom bunuh diri. Perang di Suriah ini telah memakan banyak korban mulai dari anak-anak, hingga tokoh besar Ahlussunnah, Said Ramadhan al-Buthi. Bahkan yang ganjil, masjid ikut diledakkan, serta mayat sahabat Nabi diambil jenazahnya oleh kelompok Takfiri (NU Online 07/05/2013).

(lebih…)

Dan Oposisi Suriah Pun Ribut…

Oposisi Suriah minimalnya ada 3 kubu: (1) kubu pendukung Khilafah (dan karenanya didukung oleh Hizbut Tahrir), terdiri dari gabungan berbagai kelompok bersenjata, antara lain Jabhah Al Nusra yang baru-baru ini terbukti berafiliasi dengan Al Qaida Irak (2) kubu ‘moderat’ (bergabung dalam Syrian National Council, bermarkas di luar negeri dan tak henti-hentinya berunding dgn Barat, sambil menyuplai senjata untuk milisi Free Syrian Army), didominasi oleh Ikhwanul Muslimin (3) kubu anti-Assad tapi juga antiperang dan anti-intervensi asing; mrk tinggal di Suriah, tergabung dalam National Coalition Body (suara mereka nyaris tak terdengar karena tidak dipedulikan media massa mainstream).

Nah, mereka ini sudah gontok-gontokan di antara mereka sendiri. Kalau kubu pertama, ributnya pake senjata (minimalnya 300 tewas di Aleppo pada pertengahan Mei). Kubu kedua, ributnya lebih ‘elegan’ karena pada pake jas keren dan di hotel mewah, dan dihadiri pejabat Amrik dan Prancis. Tapi inti keributan sih tetap saja berpusar pada jatah dan kekuasaan. Keributan tsb sempat terekam dalam video berikut ini.

(lebih…)

Tanggapan Balik atas Kritikan Wawancara dengan Jurnalis Syria

Wawancara saya (sebenarnya awalnya tidak saya niatkan wawancara, tapi lebih untuk ngobrol-ngobrol) dengan jurnalis senior Syria, mengundang banyak tanggapan, mulai yang diungkapkan terbuka di FB atau melalui inbox dan email. Selain tanggapan positif, banyak juga tanggapan negatif yang mempertanyakan validitas narasumber (yang identitasnya saya tutupi atas permintaan sang jurnalis, karena alasan keamanan), ada juga yang melempar fitnah sektarian (bawa-bawa isu Sunni-Syiah), dan ada juga yang ‘baik hati’: menawarkan untuk mengenalkan saya pada aktivis atau jurnalis pro-pemberontak.

Wow, kebayang kalau saya wawancara sama orang tersebut, yang ada mungkin debat kali ya..? Soalnya untuk kasus Suriah, karena saya sudah lama menelitinya, kepala saya penuh dengan banyak data. Tidak mungkin saya akan diam saja kalau si narasumber berbicara sesuatu yang tidak valid. Misalnya, dia berbicara sesuatu yang menurut pengetahuan saya itu tidak benar, pasti akan saya kasih argumen bantahan; lalu dia akan membantah lagi, dan saya bantah lagi dengan menyodorkan bukti-bukti yang saya punya.. dan seterusnya.. (masih untung kalau gak dikafir-kafirin)… Eh.. jadinya bukan wawancara dong yaaa..?

Lagipula, ngapain saya repot-repot wawancara jurnalis pro-pemberontak? Tinggal buka saja CNN, Time, Telegraph, Fox News, New York Time, AlJazeera, Eramuslim, Hidayatullah, Arrahmah, Media Umat, dll dengan gampang akan ditemukan pemberitaan pro-pemberontak dari para jurnalis itu (unik sekali, baru kali ini media muslim bisa bahu-membahu dengan media Barat dalam membahas isu jihad).

Bukankah media internasional sudah menghegemoni opini publik dengan berita pro-pemberontak? Kenapa musti marah kalau ada yang berusaha memberikan berita penyeimbang (dan lucunya, sambil menuduh ‘tidak berimbang’)?

Dalam setiap konflik, umumnya akan ada dua atau lebih versi pemberitaan. Allah sudah mengaruniai kita akal dan nurani; pakai keduanya untuk meneliti setiap berita.

Ini saya kutip tulisan Russ Baker, jurnalis AS, yang banyak mengkritisi pemberitaan yang dilakukan media Barat yang tidak berimbang (melulu memberitakan versi pemberontak):

“Anda tidak perlu menjadi fans Assad untuk menemukan [fakta] bahwa adalah penting untuk mendengar pendapatnya. … Ini mengingatkan saya pada sebuah aturan yang kita pelajari di sekolah jurnalistik, namun kini sepertinya sudah diabaikan: untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, lakukan upaya maksimal untuk berbicara dengan kedua pihak.”

Coba baca kembali media-media Barat, yang meskipun banyak memelintir berita-berita soal Suriah (dari sudut pandang kubu antiperang tentunya; tapi kalau dari sudut pandang kubu pemberontak, pemberitaan media Barat itu malah sangat menguntungkan mereka). Mereka itu biasanya berterus-terang bahwa sumber mereka tidak bisa terverifikasi.

Misalnya, pemberitaan BBC soal foto jenazah pembantaian di Houla, meski sudah langsung menuduh bahwa Assad pelakunya; BBC menyebut: foto ini, yang tidak bisa diverifikasi secara independen, diyakini adalah jenazah anak-anak korban pembantaian Houla yang akan dimakamkan. Dan tak lama kemudian terbukti itu foto korban teroris di Irak (fotografernya sendiri yang buka mulut di FB). Atau, wawancara koran Telegraph pada seorang anak yang mengaku bernama Ali, meski sangat tendensius, tetap menulis ‘kesaksian Ali tidak bisa kami verifikasi’.  Ali diwawancarai melalui Skype, si wartawan Telegraph tidak kenal/bertemu langsung, dan Ali dihadirkan oleh aktivis oposisi. Dari sisi jurnalistik ini ada cacat. Anehnya, pemberitaan dari sumber-sumber seperti ini diterima begitu saja oleh dunia internasional (termasuk kaum muslim).

Lalu, bagaimana dengan media Islam yang pro pemberontak?

(lebih…)

Wawancara Dina Sulaeman dengan Jurnalis Syria

Dina Y. Sulaeman*

wawancara1

 

 

Atas jasa seorang teman, saya terhubung dengan seorang jurnalis senior Syria. Atas seizin sang jurnalis, perbincangan saya dengannya saya tuliskan di sini. Namun untuk menjaga keamanannya, identitasnya tidak bisa diungkap. Foto yang saya saya taruh di sini pun saya samarkan pada bagian wajahnya. Kita sebut saja namanya Mr. As-Souri. Sebenarnya, pertanyaan yang saya ajukan kepadanya hanyalah sekedar konfirmasi atas apa yang sudah saya ketahui selama ini. Namun perbincangan ini memiliki nilai penting karena –dalam penelitian ilmiah dengan metode kualitatif—perbincangan saya dengannya bisa disebut sebagai ‘data primer’.

 

Dina [D] : Di kota mana Anda tinggal?
As-Souri [S]: di kota *****

D: Ah ya.. saya dengar kota itu. Itu daerah asal seorang ulama yang gencar menggerakkan aksi pemberontakan melawan pemerintah. Namanya ******* Apa pendapat Anda tentang dia?
S: Anda mau jawaban yang sebenarnya?

D: Tentu saja.
S: Dia pria yang buruk, pernah ada skandal seks. Lalu dia pergi ke luar negeri dan sekarang tinggal di luar negeri.

D: Tapi saya lihat di internet, ada demo-demo warga yang mengelu-elukan namanya?
S: Ya, memang dia punya pendukung tapi tak banyak, mungkin 5-10%

D: Jadi, apa yang terjadi sebenarnya di Syria?
S: Baik, saya akan jelaskan dengan adil dan terus-terang. Usia saya sudah ** tahun. Sepanjang hidup saya, saya bahkan tidak tahu apa agama tetangga-tetangga saya. Saya tidak peduli apa mazhab orang yang duduk di sebelah saya. Begitulah kehidupan kami. Yang penting bagi kami adalah hati dan perilakunya. Syria adalah untuk semua orang, Kristen, Sunni, Syiah, Druze, Alawi, Yahudi…

D: Tapi ada kelompok pemberontak, Jabhah al-Nusrah yang mendeklarasikan khilafah.

(lebih…)

PKS, Kita, dan Perkembangan Terbaru di Syria

Dina Y. Sulaeman*

Silang sengkarut informasi terkait kasus korupsi PKS membuat saya menyimpulkan satu hal: kita umumnya memang hanya mau mendengar apa yang ingin kita dengar; bukan mendengar apa yang memang benar. Saya seorang facebooker. Teman facebook saya yang berjumlah 5000 orang, berasal dari berbagai kalangan. Dan ini memberikan keuntungan bagi saya sebagai penulis. Di newsfeed saya terpampang ribuan postingan dari sudut pandang yang sangat beragam. Untuk kasus PKS, para pendukung PKS sejak kemarin  memposting link-link berjudul “AF minta maaf kepada PKS” atau “mengapa televisi menghentikan tayangan live setelah AF memberi kesaksian yang menunjukkan ketidakbersalahan LHI”. Sebaliknya, mereka yang kontra, akan memberikan link berita yang tidak disebut-sebut oleh para simpatisan PKS, misalnya rekaman pembicaraan LHI dan AF soal perempuan dan uang. Padahal, rekaman itu diputar dalam sidang yang sama, di hari yang sama. Seorang facebooker bahkan menulis ulang pernyataan-pernyataan elit PKS yang tadinya mengaku tidak kenal AF, akhirnya di persidangan terbukti mereka semua pernah berhubungan dengan AF.

Saya tidak akan fokus pada kasus AF-LHI ini. Yang ingin saya soroti, lagi-lagi, soal bagaimana kita menyikapi informasi. Sepertinya, kita tidak lagi menghiraukan frasa bijak ‘perhatikan apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan’. Betul, kredibilitas sumber memang berpengaruh pada kualitas informasi. Tetapi, ketika sama-sama tidak kredibel, tentu dibutuhkan kecerdasan dan akal. Sungguh tidak logis bila mengatakan Tempo atau Kompas tidak kredibel (karena dianggap terbukti berkali-kali melakukan disinformasi dalam berbagai kasus), tapi di saat yang sama, justru percaya 100%  pada informasi ala twitternya TrioMacan atau twitternya entah siapa.

Dan inilah yang terjadi untuk kasus Syria yang saya cermati selama dua tahun terakhir. Saya telah menerima SMS dari seorang aktivis, sebut saja inisial A. A percaya pada analisis saya soal Syria dan mengirim SMS kepada temannya B, sesama aktivis, untuk mendiskusikan hal itu. B menjawab dengan marah: Saudara dibunuh kok ga marah? Foto keliru aja diributin. Bashar al Kalb [kalb=anjing] dibantu anjing pudel syiah bersama temannya yahudi dan orang musyrik dan kafir membantai saudara saya di suriah adalah FAKTA.

(lebih…)