Kajian Timur Tengah

Beranda » Yaman

Category Archives: Yaman

Yaman yang Terlupakan

yemen-saudi-2

Seseorang bertanya di Fanpage saya, mengapa sedikit sekali tulisan tentang Yaman. Tulisan ini menjawab pertanyaan itu.

Konflik di Yaman memang seolah terlupakan oleh publik Indonesia. Padahal korban bombardir Saudi di Yaman (sejak Maret 2015) sangat mengerikan: 11.403 orang tewas,19.343 luka (yang tewas dan luka, mayoritas prp dan anak). Jumlah bangunan yang hancur: 380.366 bangunan perumahan, 719 sekolah, 108 gedung universitas, 263 rumah sakit, 675 masjid, dan 1.553 gedung pemerintah (data Nov 2016) [1]

Sebab sepinya suara soal Yaman, sederhana saja. Yang amat berisik soal Suriah di Indonesia adalah ormas-ormas yang mendapatkan dana dari negara-negara Arab dan Teluk. Padahal, di Yaman, agresornya adalah Arab Saudi dengan dibantu AS, Israel, dan negara-negara Arab. Bisa distop aliran dananya kalau mereka berani membela rakyat Yaman (sebagaimana mereka mengaku “membela” rakyat Suriah). Ormas-ormas itu hanya bisa berteriak Syiah-Syiah untuk menjelaskan konflik Yaman (seolah, karena orang Yaman sebagiannya Syiah, sah-sah saja dibombardir Saudi. Data UNHCR: 53% populasi Muslim Yaman adalah Sunni, dan 45% Syiah). Selain itu, media massa internasional juga sangat berisik memberitakan soal Suriah (dengan berpihak kepada pemberontak/teroris).

Dan karena keberisikan mereka soal Suriah itulah saya jadi jarang menulis soal Yaman. Waktu saya yang amat terbatas, habis untuk membahas berbagai hoax mereka soal Suriah.

Untuk mencerna konflik Yaman sebenarnya tidak sulit-sulit amat. Asal punya basis logika yang kuat, sudah cukup. Berikut ini analisis “gampang”-nya:

(lebih…)

Nestapa Yaman: Perbincangan dengan Perempuan Ansharullah (2)

Houthi Tidak Sama dengan Ansarullah
[baca bagian pertama]

Yaman adalah negara termiskin di semenanjung Arab, tapi di saat yg sama, banyak miliarder yang berasal dari Yaman.

Yaman adalah negara termiskin di semenanjung Arab, tapi di saat yg sama, banyak miliarder yang berasal dari Yaman.

Saya melakukan re-check pada media-media online. Hampir semua, terutama media Barat, menyamakan Houthi dan Ansarullah. Namun ada blog milik perempuan inteletual Yaman, Atiaf Alwazir yang memberi pernyataan senada dengan Elham. Menurutnya, bahkan ada di antara pemimpin gerakan Ansarullah yang merupakan Imam bermazhab Syafii. Juga, tidak semua penganut mazhab Syiah Zaidi adalah suku Houthi.

Senada dengan tulisan saya sebelumnya Ada Apa dengan Yaman, Alwazir juga menyebut bahwa analisis pro-Arab Saudi melupakan faktor penting: mengapa rakyat Yaman bangkit pada tahun 2011 seiring dengan fenomena Arab Spring? Bukankah presiden mereka saat itu Presiden Ali Abdullah Saleh adalah penganut Syiah Zaidi? Tak lain, karena kondisi perekonomian yang sangat buruk, bukan karena mazhab. Setelah Ali Abdullah Saleh terguling, ia justru melarikan diri ke Arab Saudi dan mendapat perlindungan dari rezim Bani Saud (wow, Arab Saudi melindungi Syiah Zaidi?).

Menurut Alwazir, perjuangan Ansarullah meraih momentum setelah pada 29 Juli 2014, secara mendadak presiden pengganti, Mansour Hadi, menaikkan harga BBM 60-90% sehingga memunculkan amarah rakyat. Di samping itu banyak janji reformasi yang tidak dipenuhi Hadi. Situasi ini menambah keanggotaan Ansarullah secara signifikan, dari berbagai kalangan (minus Wahabi).

Alwazir menulis, “Meskipun isu sektarian dieksploitasi oleh berbagai kelompok, seperti Al Qaida yang memanfaatkan kebangkitan etnis Houthi untuk merekrut anggota baru dengan [jargon] ‘membela Sunni, penting untuk diingat bahwa rakyat Yaman yang memerangi Al Qaida tidak semuanya Syiah, dan tidak semuanya suku Houthi.”

Siapa Hussein Badruddin Al Houthi?

(lebih…)

Nestapa Yaman: Perbincangan dengan Perempuan Ansharullah

Dina Y. Sulaeman

anak-anak Yaman bermain di puing mobil yang dibom Saudi (foto: Washington Post)

anak-anak Yaman bermain di puing mobil yang dibom Saudi (foto: Washington Post)

Perempuan berjilbab hitam itu berpostur kecil dan berkulit sawo matang, seperti orang Indonesia kebanyakan. Matanya bundar dan cerah, memancarkan optimisme. Saya melihatnya di sebuah restoran hotel di Teheran. Dengan bahasa Arab ‘amiyah (yang tak terlalu saya pahami), dia sepertinya bercerita pada teman semejanya bahwa setiap orang Yaman memiliki senjata. Arab Saudi takkan bisa mengalahkan kami, katanya. Saya mendatangi mejanya, sambil berharap dia bisa bahasa Inggris. Ternyata bisa. Saya memperkenalkan diri sebagai penulis dari Indonesia. Benar dugaan saya, dia perempuan Yaman. Namanya Elham. Saya beruntung, mendapat narasumber primer: Elham adalah anggota Ansharullah. Dia bertugas di divisi perempuan, dengan fokus meningkatkan taraf pendidikan kaum perempuan. Elham berjuang dengan ilmu, bukan dengan senjata. Namun sejak usia 5 tahun dia sudah mahir mengokang bedil, diajari oleh ayahnya sendiri.

“Seperti apa situasi negaramu, sehari-hari?” tanya saya.

“Kamu tidak akan percaya ini. Kami menjalani hari dengan sangat normal. Kami tetap ke sekolah, ke pasar. Kami sama sekali tidak takut pada apapun,” jawab Elham.

“Arab Saudi membombardir Yaman secara masif, kan?”

“Ya, setiap kali ada pesawat muncul di udara, kami semua akan menengok ke atas. Sebagian bahkan segera naik ke loteng, untuk melihat, kawasan mana yang dijatuhi bom. Lalu merekamnya dengan handphone dan mengunggahnya di internet.”

“Kalian bangsa pemberani ya? Saya dengar tadi Anda bilang, semua rumah di Yaman menyimpan senjata? Mengapa?”

“Sejak dulu bangsa kami selalu dijajah bangsa asing. Dan sudah menjadi tradisi kami untuk melawan. Sejak kecil kami sudah diajari memegang senjata. Semua rumah pasti menyimpan senjata; ini adalah simbol kehormatan kami.”

“Banyak yang bilang, konflik di negaramu saat ini adalah Syiah melawan dominasi Sunni?” tanya saya.

“Tidak, tidak. Ini perjuangan semua bangsa Yaman, Sunni,  Syiah Zaidi, Syiah 12 Imam, dan Sufi, melawan Amerika dan Wahabi,” jawabnya tegas.

Serangan Arab Saudi

(lebih…)

Yemen for Dummies

Sebenarnya, mencerna konflik Yaman itu tidak sulit-sulit amat. Asal punya basis logika yang kuat, sudah cukup. Berikut ini analisis singkat dan logis yang saya adaptasi dari status dan komen cerdas beberapa orang di Facebook.

 

Pemberontak di Suriah dan Libya diberi julukan mujahid. Pemberontak di Yaman disebut bughot. Kok bisa??

Di Iran tidak ada kedutaan AS dan Israel, tapi Iran disebut “sekutu Israel”. Di Saudi ada pangkalan militer AS dan di Qatar ada Kedutaan Israel. Tapi mereka disebut “anti Amerika dan Israel”. Kok bisa?

Sumber: Fafa Azami

 

yemen-saudi 1

 

Apakah alasan Arab Saudi menyerang Yaman?

  1. Jika karena alasan Syiah, bukankah di Arab Saudi sendiri juga banyak Syiah?
  2. Jika dengan alasan membasmi pemberontak (bughot), mengapa pemberontak di Suriah malah didukung Arab Saudi?
  3. Jika dengan alasan Syiah, mengapa Arab Saudi tidak segera menyerang Iran yang jelas-jelas Syiah dan menjadi pendukung rezim Suriah dan milisi Houthi di Yaman?

Sumber: Kyai Zainal

yemen-saudi 2

Apakah alasan Arab Saudi menyerang Yaman?

  1. Jika Arab Saudi sedang memberikan bantuan kemanusiaan untuk warga Yaman, mengapa menggunakan bom, korban yg berjatuhan pun dari pihak sipil (wanita dan anak kecil)?
  2. Jika Arab Saudi sedang memperjuangkan agama Islam, mengapa dibantu AS dan Israel?
  3. Jika Arab Saudi sedang membantu sesama Arab (rezim Mansur Hadi yang minta perlindungan), bukankah Palestina juga sangat Arab? Mengapa setelah berlalu puluhan tahun, Saudi tak juga menyerang Israel yang menindas warga Arab Palestina?
  4. Jika Arab Saudi ingin menegakkan demokrasi (melindungi rezim Mansur Hadi), bukankah Arab Saudi sendiri adalah rezim monarkhi non- demokratis?

Sumber: Muhammad Dudi  Hari Saputra

 

yemen-saudi 3

Mereka dulu mengatakan, “Kami serang dulu Suriah, setelah itu baru kami ke Palestina untuk taklukkan Israel.”

Kini, saat menyerang Yaman, mereka berkata, “Raja Salman meniru Salahudin Al Ayubi, menyerang Syiah dulu, baru melawan Romawi.”

Mereka pura-pura lupa: yang menjual senjata ke Arab Saudi adalah AS. Apakah mereka kira AS mau menjual senjata-senjata itu bila digunakan Arab Saudi untuk menyerang Israel?!

Sumber: Ismail Amin

yemen-saudi 4

Saat Hosni Mubarak digulingkan melalui aksi-aksi demo masif rakyatnya sendiri, Arab Saudi secara resmi menentang penggulingan itu, tapi tak melakukan apapun.

Saat Presiden Mursi dikudeta, Saudi mengucapkan selamat pada Jenderal Al Sisi dan memasukkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris.

Saat Presiden Bashar Assad diperangi oposisi dan pemberontak, Saudi mendukung (dan membiayai) pemberontak itu.

Saat rakyat Bahrain berdemo besar-besaran untuk menuntut raja dari dinasti Al Khalifah mundur, Saudi mengirim pasukannya untuk menembaki dan menangkap para demonstran.

Saat rakyat Palestina lebih 60 tahun berjuang melawan Israel yang menjajah tanah air mereka, Saudi diam saja.

Saat rakyat Yaman dari berbagai faksi dan mazhab berdemo besar-besaran memprotes rezim Mansour al Hadi, Saudi membombadir Yaman.

Kesimpulan: peta lawan-dan-kawan Saudi sangatlah acak, tidak melulu Sunni atau melulu Syiah. Jadi akar konflik bukan mazhab, tapi kepentingan (uang & kekuasaan).

Sumber: Ismail Amin

 

Baca pemetaan konflik di Yaman: Ada Apa dengan Yaman?

Ada Apa dengan Yaman?

Ada apa dengan Yaman? Sebaiknya kita lihat dulu petanya.

Sumber peta: www.nystromnet.com

Di peta terlihat bahwa Yaman berbatasan darat dengan Arab Saudi, dan menguasai perairan strategis Bab el Mandab dan teluk Aden, dan bahkan menguasai pulau Socotra yang kini menjadi pangkalan militer AS. Jalur perairan ini sangat penting karena menjadi tempat lewatnya kapal-kapal tanker pembawa minyak dari Teluk Persia ke Eropa (melewati Terusan Suez). AS sangat berambisi mengontrol jalur minyak ini dan di saat yang sama, secara ekonomi Iran pun terancam bila AS sampai menguasai jalur tersebut. Selain itu, meski saat ini produksi minyak Yaman hanya 0,2% dari total produksi minyak dunia, negeri ini menyimpan cadangan minyak yang sangat sangat besar.

Kelompok-kelompok Utama dalam Konflik Yaman:

  1. Ikhwanul Muslimin vs Imam Yahya (Syiah Zaidiyah)

Yaman tadinya berada di bawah kekuasaan Imperium Ottoman. Kemudian, setelah Ottoman kalah dalam Perang Dunia I, Inggris menguasai Yaman selatan (terutama wilayah Aden yang menguasai jalur laut); sementara Yaman utara dikuasai oleh Imam Yahya yang bermazhab Syiah Zaidiah, yang membentuk Kerajaan Yaman. Italia mengakui pemerintahan Imam Yahya, sementara Inggris menentangnya karena tekad Imam Yahya adalah mengusir Inggris dan menyatukan Yaman.

Inggris (dan Mesir) membacking gerakan “Free Yemenis” yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin. Gerakan ini pada tahun 1962 berhasil menggulingkan pemerintahan Imam Yahya dan memproklamasikan “Republik Arab Yaman.”

Pemerintahan baru ini memperluas gerakan untuk menguasai Yaman selatan (yang dikuasai Inggris), dengan meminta bantuan militer dari Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser yang mengirim 70.000 tentara ke Yaman (1962-1965).

Inggris, yang memusuhi Nasser akibat aksinya menasionalisasi Terusan Suez tahun 1956, menggunakan konflik internal Yaman untuk melemahkan Nasser, dengan bantuan Mossad, CIA, intelijen Arab Saudi, dan SAVAK (intel Iran zaman Syah Pahlevi). Selama tahun 1960-an, AS menyuplai perlengkapan militer Arab Saudi senilai 500 juta Dollar (agar Arab Saudi semakin kuat dan memegang kendali dalam konflik di Yaman). Tahun 1968, Nasser mundur dari Yaman, dan setahun sebelumnya, Inggris juga angkat kaki dari negara itu.

Namun, kelompok pro Naser masih eksis hingga sekarang dan menjadi salah satu aktor utama politik Yaman, yaitu the Nasserite Unionist People’s Organization.

  1. Partai Sosialis vs Ikhwanul Muslimin

Tahun 1967, the National Liberation Front (NLF) yang berhaluan Marxis menguasai Yaman selatan dan membentuk negara independen (Republik Rakyat Demokratik Yaman). Sementara itu, sejak tahun 1978, Republik Arab Yaman dipimpin oleh Presiden Ali Abdullah Saleh.

(lebih…)

Suriah dan Hari Toleransi Internasional

Menulis tentang Suriah, seperti menjadi sebuah titik balik buat saya. Awalnya saya tidak menyadari sensitivitas masalah Suriah. Saya menulis analisis apa adanya, sebagaimana juga saya menulis analisis tentang konflik di negeri-negeri lain di Timur Tengah. Hingga tiba-tiba masuk inbox-inbox  di FB dan email-email yang mengata-ngatai saya Syiah, bukan Islam, kafir, ‘percuma berkerudung kalau membela Assad’, saya baru menyadari ada sesuatu yang ‘besar’ dalam konflik Suriah ini. Semakin lama, keanehan semakin muncul: mengapa orang-orang yang selama ini membela Palestina malah berbalik badan dan mendukung penggulingan rezim Assad, yang selama ini justru memberikan pelayanan terbaik di Timteng (menurut UNHCR) kepada para pengungsi Palestina?

Padahal, tesis yang saya bangun sejak awal menulis tentang Suriah adalah bahwa ada Israel dan AS di balik konflik Suriah dan fakta ini semakin hari, semakin terang-benderang. Namun tetap saja banyak orang tak mampu menangkap fakta itu. Sebagian rakyat awam tak mampu menangkap fakta, karena akses informasi yang terbatas. Ketika para ustadz dengan fasih berorasi di masjid-masjid, berkisah tentang ‘kekejaman kaum Syiah membantai kaum Sunni Suriah’, itulah yang mereka percayai. Tapi, sebagian orang tidak mau menangkap fakta, bukan tidak mampu. Misalnya saja, para facebooker dan mereka yang familiar dengan internet.

Seharusnya mereka lebih bisa meneliti, betapa luar biasanya distorsi informasi yang dilakukan media internasional, termasuk media-media berlabel Islam. Perang di Suriah bukan perang Sunni-Syiah. Tapi ada pasukan asing datang dari berbagai negara ke Suriah, bekerjasama dengan segelintir warga Suriah, untuk menggulingkan rezim Assad. Alasan yang mereka kemukakan dalam memerangi Assad adalah karena Assad adalah Syiah. Padahal, tentara Suriah mayoritasnya Sunni; mayoritas warga Suriah pun Sunni. Bom tidak memiliki mata: sehingga yang tewas akibat bom-bom yang diledakkan para pemberontak tentu saja mayoritasnya Sunni.

Ini bukan tentang mazhab. Ini tentang uang dan kekuasaan. Tentu panjang sekali kalau saya jelaskan lagi. Silahkan saja baca di blog ini, di kategori ‘Syria‘, atau yang lebih terstruktur, di buku Prahara Suriah.

Dan karena isunya mazhab, maka konflik Suriah pun dibawa-bawa hingga ke Indonesia. Mereka menggalang dana dengan membangkitkan kebencian. Seharusnya, mereka yang familiar dengan internet meluangkan waktu sedikit untuk mendeteksi foto-foto palsu yang digunakan oleh lembaga-lembaga yang menggalang dana itu.

Salah satunya foto ini:

 Capture3

Syria Care salah satu lembaga yang gencar menyebarluaskan sentimen kebencian terhadap Syiah di Indonesia-Malaysia, dengan memanfaatkan konflik Suriah, dan ujung-ujungnya menggalang dana.

(lebih…)

Yaman: Perang Obama Selanjutnya? (3)

Sebelum menjawab, sebaiknya melihat ke peta dulu:

Sumber peta: www.nystromnet.com Sumber peta: http://www.nystromnet.com

Yaman berbatasan dengan Arab Saudi di utara, Laut Merah di Barat, Teluk Aden dan Laut Arab di selatan, di seberang Teluk Aden ada Somalia, Jibouti. Di sebelah Jibouti berderet Eritrea, Sudan, dan Mesir. Dengan demikian, semua negara itu (Arab Saudi, Mesir, Somalia, Jibouti, Eritrea, Sudan, dan Yaman saling berhadapan dengan Selat Mandab (Bab el Mandab) yang super-strategis.  Tanker-tanker minyak dari Teluk Persia harus lewat ke Selat Mandab, baru kemudian melewati Kanal Suez, dan menuju Mediterania.

(lebih…)

Yaman: Perang Obama Selanjutnya? (2)

Di Yaman, setiap satu dari tiga orang memiliki senapan.  Senapan, granat, atau bahkan ranjau dijual bebas di pasar. Tapi, “kebetulan” mereka orang Arab dan orang Arab sudah sejak lama distereotipkan dengan kekerasan. Karena itu, orang Arab yang memegang senapan dipandang berbahaya dan identik dengan teroris. Lebih parah lagi, Yemen disebut-sebut sebagai failed state (negara gagal) dan failed state sering dinyatakan sebagai ‘tempat berlindung yang aman (safe haven) bagi berkembangnya terorisme’.  Karena itulah, tuduhan bahwa Al Qaida sedang bersarang di Yaman sangat mudah diterima oleh opini publik.

Padahal, senapan dan senjata memang budaya Yaman sejak lama, mungkin sama seperti budaya orang Jawa (zaman dulu) pegang keris atau suku Aborigin yang membawa boomerang kemana-mana. Itu budaya mereka, seperti kata  Prof Ahmed al Kibsi pada BBC, “Just as you have your tie, the Yemeni will carry his gun.”  Di balik kesukaan orang Yaman membawa senjata, jurnalis Inggris Patrick Cockburn melihat orang Arab Yaman dengan cara berbeda, “The Yemenis are exceptionally hospitable.. Yemenis are intelligent, humorous, sociable and democratic, infinitely preferable as company to the arrogant and ignorant playboys of the Arab oil states in the rest of the Arabian Peninsula.”

(lebih…)

Yaman: Perang Obama Selanjutnya?

Semua seperti kebetulan. Kebetulan, sepekan sebelum Natal, AS mengebom beberapa lokasi di Yaman yang dicurigai sebagai sarang Al Qaida. Kebetulan juga, di awal Desember, saat mengumumkan penambahan 30.000 pasukan AS ke Afghan, Obama sudah menyebut-nyebut Yaman,  “Where al Qaeda and its allies attempt to establish a foothold — whether in Somalia or Yemen or elsewhere — they must be confronted by growing pressure and strong partnerships.”

Selama tahun 2009 pun, AS sudah menggelontorkan dana 70 million dollar untuk membantu pemerintah Yaman memberantas terorisme.

Lalu, kebetulan pula, di malam Natal seorang pemuda Nigeria yang latar belakangnya dengan sangat mudah dilacak bahwa dia punya kecederungan radikal dan konon punya link dg Al Qaida di Yemen, bisa lolos pemeriksaan di bandara, lalu melenggang naik Northwest 253 menuju Detroit. (Padahal, sudah umum diketahui, orang-orang dengan nama Islami pasti mengalami pemeriksaan jauh lebih ketat di bandara-bandara di negara Barat-bahkan cenderung berupa pelecehan-, dibanding orang dengan mana ‘biasa’). Kebetulan pula, dia membawa bahan peledak dan kebetulan, ada penumpang lain yang memergokinya. Gagallah upaya peledakan pesawat dengan 300 penumpang itu.

(Pertanyaan: owalaaa… pada kemana ya, para petugas FBI-CIA yang canggih seperti di film2 itu?).

(lebih…)