Kajian Timur Tengah

Arsip 2007 ~ Sekarang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 6.398 pengikut lainnya

Logika Timteng (1)

brainRepost dari Fanpage

Sepekan yang lalu, saya sudah berpikir untuk mengurangi fesbukan karena ada beberapa pekerjaan saya (misalnya ngedit buku dan jurnal) yang terbengkalai. Penyebabnya karena menejemen waktu saya yang buruk, dan sebagiannya akibat terlalu banyak  berinteraksi di medsos. Tapi beberapa hal yang saya alami sepekan terakhir membuat saya berpikir ulang. Di antaranya, kata-kata berikut ini:

-Yang ibu sampaikan itu tidak benar! Saya mendengar dari ustad anu, tidak demikian kejadian di Suriah! Dia punya foto dan videonya!

-Ibu, kata Pak Jokowi, kita harus memisahkan antara agama dan politik. Tapi kita kan orang Islam? Masak kita harus menanggalkan keislaman kita dalam menganalisis politik?

-Bayangkan Mbak… jilbabku tuh udah selebar ini, masak aku dikatain kafir, munafik, anti Islam, hanya karena aku membela Ahok?

Sebenarnya, bila kita punya basis ilmu logika yang mantap (ga perlu sampai tahap ruwet-ruwet yang kalau di kampus filsafat musti dipelajari 3 semester itu), kalimat-kalimat itu tidak perlu muncul/terjadi. Pembahasannya, nanti ya.

Sekarang saya ingin mencari akar masalahnya dulu. Mengapa sih, orang di zaman sekarang sulit untuk berpikir logis? Mengapa dengan mudah kita temukan orang, atau tokoh, (atau mungkin kita sendiri) yang melakukan falasi (kesalahan berpikir)?

(lebih…)

Review Buku “Salju di Aleppo”

Media

Oleh: Nurani Soyomukti*

Saya sudah baca buku ini (“Membongkar Kuasa Media”, Ziauddin Sardar) kira-kira hampir sepuluh tahun lalu. Lalu buku ini, bersama ratusan buku lainnya, berdiri di rak buku saya. Saya baru menjamahnya kembali beberapa malam lalu, lalu saya kumpulkan dalam satu ruang rak bersama buku-buku sejenis, buku-buku tentang kajian komunikasi dan media.

Buku ini ditulis lebih lama sebelum diterbitkan oleh Resist Book, Yogya, dengan edisi terjemahan (bahasa Indonesia). Tentu waktu itu belum ada Media Sosial, jadi dalam buku ini tidak dibahas soal saluran komunikasi atau media komunikasi yang belakangan ini berkembang seperti facebook, dll. Waktu itu media memang hanya bisa dimiliki oleh pemodal besar baik swasta ataupun negara. Jadi memang membongkar kuasa media dengan serta merta akan bicara pada kekuasaan besar, terutama monopoli media dan konglomerasi media.

buku salju di aleppo

sumber foto kiri: FB Nurani Soyomukti; foto kanan: FB Banin Muhsin

Sekarang peran medsos amat luar biasa. ‘Opinion maker’ tidak perlu media cetak atau elektronik. Seorang pesohor bukan lagi harus pengamat politik, tokoh pemerintahan, tokoh masyarakat, atau artis yang sering ditampilkan di media.

Selebritis tak lagi dibesarkan di media cetak atau elektronik. Sekarang ada istilah “Seleb Medsos”–istilah ini sering terngiang dan saya ucapkan setelah hadir di acara diskusi yang dihadiri mbak Dina Sulaeman di IAIN Tulungagung beberapa minggu yang lalu.

(lebih…)

ISIS Dibentuk AS, Lalu Umat Islam Ngapain?

Serangan rudal AS ke Suriah tanggal 7 April lalu memberikan “angin segar” buat ISIS yang semula posisinya sudah terdesak. Pasalnya, yang diserbu AS adalah pangkalan militer yang selama ini dijadikan basis tentara Suriah dalam melawan ISIS. Lalu, serbuan-serbuan AS selanjutnya (dan sebelumnya) yang konon dalam rangka menggempur ISIS selalu saja salah sasaran, yang tewas malah rakyat sipil di Suriah dan Irak. Sudah banyak pengamat menuliskan analisis, dengan berbagai data, bahwa ada AS di balik ISIS. Di video di bawah ini juga ada pengakuan dari Hillary Clinton bahwa AS-lah yang mendanai Al Qaeda, “kakek” yang akhirnya melahirkan ISIS.

Sejarah memang sudah mencatat bahwa AS adalah penjahat perang nomer wahid. Namun, ada satu hal yang penting dicatat terkait ISIS: organisasi teror ini tidak lahir dari ruang hampa. ISIS tidak muncul tiba-tiba saja. Ada sejarah panjang ideologis yang harus diperhatikan dalam mencermati fenomena ISIS.

(lebih…)

Anak-Anak Itu Tewas, Tapi Oleh Siapa?

syria-child-refugees5

anak-anak Suriah di kamp pengungsi

Seperti dulu saat saya nulis tentang “bocah di kursi oranye“, para pendukung “mujahidin” (terutama ibuk-ibuk) ngamuk-ngamuk atas tulisan saya terkait kasus senjata kimia di Idlib. Antara lain mereka menyebut saya tidak punya perasaan, masa liat foto anak-anak setragis itu saya tak tersentuh? Lho, justru saya nulis terus ttg Suriah karena prihatin dengan kondisi anak-anak di sana. Tapi buat mereka, indikasi “prihatin” atas Suriah adalah mendukung “mujahidin”.

Padahal yang saya lakukan adalah memberikan informasi pembanding. Coba lihat tulisan-tulisan saya, bahkan memasang foto mereka pun saya tidak tega, selalu saya gunakan foto yang tidak memunculkan kengerian. Status ini pun tidak saya pasang foto jasad anak-anak itu.

Untuk bocah-bocah yang tewas di Idlib (yang foto dan videonya disebarkan oleh pihak “oposisi” alias “jihadis”, bukan oleh jurnalis langsung), faktanya memang mereka tewas.

PERTANYAANNYA: tewas karena apa, oleh siapa?

Cara Menganalisis Berita dalam Kasus Senjata Kimia di Idlib

idlib9

Foto di Idlib yang dimuat NYT, bukankah seharusnya yang berpakaian lengkap mirip seperti yg dikenakan pasien, adalah tim medis?

Berkali-kali mahasiswa menanyakan kepada saya, bagaimana cara kita menelaah berita dari media mainstream. Berikut ini contohnya. Kasus yang akan kita pelajari adalah berita dari New York Times (NYT), ditulis tanggal 4 April 2017, di hari yang sama dengan kejadian serangan senjata kimia tersebut. Penulisnya Anne Barnard dan Michael R. Gordon yang melaporkan dari Beirut (Lebanon). [1]
1.    Sebuah berita (news) yang valid adalah ketika wartawan telah melakukan cross-check di lapangan. Robert Fisk, jurnalis senior asal Inggris, pernah menulis bahwa melaporkan berita dengan hanya bersumber dari satu pihak, tanpa ada wartawan yang mengkonfirmasi dengan matanya sendiri atas hal-hal yang mereka laporkan, adalah salah. [2]
Berita NYT ditulis dari Beirut, dan wartawannya (Bannard dan Gordon) tidak datang langsung ke lapangan. NYT menyebut narasumbernya: ‘saksi’, dokter, dan tenaga medis (Paragraf. 3) Foto dan video yang digunakan sebagai data disuplai oleh aktivis yang diunggah di internet (P.  9). Tanpa evaluasi yang seksama atas info-info tersebut,  NYT sejak di paragraf 1 sudah memberikan kesimpulan bahwa pelakunya adalah pemerintah Suriah.

(lebih…)

Gerak Cepat Para Pengumpul Dana

Segera setelah berita mengenai serangan senjata kimia di Idlib merebak (baca status saya sebelumnya yang mendeteksi berbagai kejanggalan atas berita ini), ormas-ormas pengumpul dana pun bergerak cepat. Salah satunya Aksi Cepat Tanggap (ACT) ini. Perhatikan skrinsyut kiri: mereka menyebut serangan senjata kimia di Idlib dg menggunakan klorin. Padahal dokter yang mengaku menangani pasien di Idlib menyebut gas sarin (dr. Shajul Islam, skrinsyut kanan).

ACT

Dalam situsnya, Direktur ACT, Ahyudin, memuji-muji Turki, Erdogan, dan IHH (Insan Hak ve Hurriyetleri ve Insani Yardim Vakfi/ Yayasan untuk Hak Azasi Manusia, Kebebasan dan Bantuan Kemanusiaan), sebuah LSM terbesar di Turki.

Menurut Ahyudin, “Semua yang diperlihatkan IHH, selaras dengan visi ACT. Tidak keliru kalau jika ACT merapat ke IHH dan menyerap inspirasi darinya.” ACT menyerahkan bantuan warga Indonesia untuk Suriah melalui IHH. [1]

Lembaga lain yang juga menyalurkan bantuan ke IHH adalah Indonesian Humanitarian Relief yang dipimpin Ustadz Bakhtiar Nasir. Sebuah video yang diunggah oleh channel Euronews pada Desember 2016 memperlihatkan ada kardus-kardus bertuliskan Indonesia Humanitarian Relief yang ditemukan di markas milisi bersenjata (Jaish al Islam) di distrik al-Kalasa, Aleppo timur. (simak videonya di sini)

(lebih…)

Serangan Senjata Kimia di Idlib

white helmetsIdlib adalah tempat berkumpulnya milisi bersenjata alias “jihadis” dari berbagai faksi (sehingga di antara mereka pun saling bantai). Pada operasi pembebasan Aleppo Desember 2016, berbagai faksi milisi “jihadis” itu dievakuasi ke Idlib untuk berkumpul dengan sesama mereka di sana. Kemarin konon warga Idlib diserang dengan menggunakan gas sarin. Tentu saja, yang dituduh pelakunya adalah tentara Assad dan Rusia,

Secara sekilas ada beberapa kejanggalan (yang memang sudah biasa ditemukan dalam berbagai kasus yang melibatkan White Helmets lainnya selama ini), antara lain:

(lebih…)

HTI: Gagal Paham Suriah (2)

al-zara1

pembantaian di Al Zara oleh Ahrar al Sham, foto dan video, klik link.

Baca bagian 1

Setelah Al Nusra resmi masuk daftar organisasi teroris internasional, situs HTI memberikan ‘endorsment’ pada kelompok Ahrar al Sham, yang sebenarnya juga masih ‘bersepupu’ dengan Al Qaida. Ahrar al Sham punya bendera sendiri, tapi terkadang juga mengibarkan bendera khas HT.

Aksi-aksi Ahrar al Sham sangat jauh dari pengetahuan kita tentang bagaimana dulu Rasulullah berperang. Salah satu bukti yang jelas, karena ada videonya dan mereka sendiri yang mengunggahnya, pada Mei 2016 Ahrar al Sham melakukan aksi brutal pembantaian massal di desa al-Zara. Dengan bangga mereka berpose di atas mayat perempuan dan anak-anak.  Rusia sudah lama menuntut Dewan Keamanan PBB agar kelompok ini dimasukkan juga ke daftar teroris internasional namun selalu diveto AS dengan alasan ‘akan menyulitkan upaya negosiasi’.

Saya sering menulis: jangan dipusingkan dengan nama ratusan kelompok ‘jihad’ di Suriah. Yang perlu dilihat adalah basis ideologi dan cara-cara tempur mereka, semuanya sama. Basis ideologi mereka semua sama yaitu takfirisme (gampang mengkafirkan pihak lain yang tak sepaham serta menghalalkan darahnya).  Itulah sebabnya mereka pun akhirnya saling membunuh satu sama lain, seperti yang terjadi di Idlib atau di Hama akhir-akhir ini. Bahkan sesama ‘mujahidin’ pun bisa berubah status jadi kafir.

(lebih…)

HTI: Gagal Paham Suriah (1)

Baru-baru ini beredar di medsos, foto baliho HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang berisi propaganda ‘bendera Rasulullah’. Karena saya sejak 2011 sudah mengikuti konflik Suriah, maaf saja, melihat bendera itu langsung teringat pada bendera salah satu kelompok “jihad” (tapi sudah masuk ke dalam list teroris internasional PBB), yaitu Jabhah Al Nusra. Pada saat yang hampir bersamaan, tokoh HTI (tapi sudah keluar dan kini jadi Sekjen Forum Umat Islam, ormas yang juga aktif menyerukan “jihad” ke Suriah) Muhammad Al-Khaththath, ditangkap polisi dengan tuduhan makar.

Saya pun teringat pada acara “Pengajian Umum dan Bedah buku HTI, Gagal Paham Khilafah”. yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa NU ITB dan Komunitas Anak Peduli Bangsa Bandung (27/1/2017). Dalam tulisan berikut ini saya akan memaparkan ulang apa yang saya sampaikan dalam acara tersebut, agar kita bisa mengambil benang merah dari dua fenomena yang saya sebut di atas.

alnusra-hti

(lebih…)

Petani Kendeng dan Ideologi Pertanian Kita

kamisan

Kamisan Bandung 23/3/17

(1) Sebelum Berdebat, Lihat Dulu Akar Masalahnya

Sore ini  untuk pertama kalinya saya bergabung dengan aksi Kamisan, dengan mengenakan baju dan kerudung hitam. Acara ini diawali dengan membaca doa untuk Yu Patmi, petani penolak pabrik semen, yang meninggal dunia hari Selasa lalu. Lalu, dibacakan syair dan berbagai orasi.

Mungkin ada yang heran, mengapa saya yang biasanya nulis Kajian Timteng, tiba-tiba akhir-akhir ini ‘ikut campur’ dalam isu petani dan kedaulatan pangan. Jawabnya sederhana saja: karena saya pernah menelitinya. Selama tiga tahun terakhir, saya membaca ratusan buku dan jurnal serta mewawancarai puluhan narasumber terkait kedaulatan pangan.  Saya tidak mengklaim diri orang yang paling paham, namun setidaknya saya pernah membaca lebih banyak daripada sekedar artikel buatan buzzer.

Sejak 1952, Bung Karno sudah memetakan prioritas bangsa ini: pangan adalah hidup mati bangsa. Kalau kita bisa menanam sendiri, mengapa harus impor? Kalau kita bergantung pada impor, lalu tiba-tiba ada perang atau masalah lain, sehingga beras dari luar tidak bisa masuk, bagaimana? Mau berinovasi apapun, mau punya senjata secanggih apapun; kalau tidak ada pangan, mati kita.

Tapi, ada sanggahan: penduduk Indonesia itu 250 juta coy! Bagaimana mungkin petani bisa memenuhi kebutuhan seluruh rakyat? Karena produksi mereka ga cukup, makanya kita impor!

Nah, di sinilah problem besar kita. Mengapa tidak dikondisikan agar para petani mampu memproduksi pangan sampai surplus?

Akar masalahnya adalah pada ideologi pertanian yang kita pilih. Di UU Pangan 2012, dua konsep yang punya ideologi  bertolak belakang malah disatukan: kedaulatan pangan dan ketahanan pangan. Bahkan pembuat UU pun masih galau, mau kedaulatan, atau mau ketahanan?

Kedaulatan pangan artinya kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri (diproduksi sendiri).  Sebaliknya konsep ‘ketahanan pangan’ memandang bahwa yang penting pangan ada, tersedia di pasar. Bahwa sumbernya impor, tak jadi soal.

Yang jelas, di Nawa Cita, yang dicantumkan adalah kedaulatan pangan. Jadi, yang seharusnya dilakukan adalah mengerahkan segala upaya untuk memproduksi pangan sebanyak-banyaknya, agar tidak perlu impor lagi (yang diimpor adalah yang memang tak bisa ditanam di Indonesia). Ada banyak hal yang harus dilakukan untuk mencapainya, kali ini saja jelaskan 1 saja: melindungi petani.

(lebih…)

New Release 2013

prahara suriah

New Release (2013)

"dokter cilik"
obama
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
"pelangi di persia"