Arsip 2007 ~ Sekarang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.662 pengikut lainnya.

[Makalah Seminar] Perempuan dan Globalisasi

Ilham, seorang perempuan Yazidi di kamp pengungsian (26 Feb 2015). Dia baru diselamatkan setelah diculik ISIS pada Agustus 2014 dan diperkosa oleh jihadis. (sumber foto: Straits Times 14/4)

Ilham, seorang perempuan Yazidi di kamp pengungsian (26 Feb 2015). Dia baru diselamatkan setelah diculik ISIS pada Agustus 2014 dan diperkosa oleh jihadis. (sumber foto: Straits Times 14/4)

Dalam seminar internasional di Makassar (9 April 2015), saya sebenarnya sudah menyiapkan makalah, tapi rupanya panitia memang tidak mengagendakan pembagian makalah tersebut. Lalu, ada seorang peserta seminar meminta file makalah, saya janjikan untuk saya upload di blog saya. Jadi ini pemenuhan janji saja.

Berikut ini makalah singkat yang saya tulis untuk seminar tersebut, saya tambahkan data yang kebetulan saya dapatkan hari ini, yaitu laporan PBB terbaru, bahwa JIHADIS MENGGUNAKAN PEMERKOSAAN PEREMPUAN SEBAGAI STRATEGI PERANG.

===

Perempuan dan Globalisasi: Think Global Act Local

Dina Y. Sulaeman*

Globalisasi adalah fenomena semakin terhubungnya antar-negara dan antar-individu di dunia, baik melalui hubungan ekonomi, politik, maupun sosial. Berkat kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi, lalu-lintas orang, barang, jasa, dan ide menjadi semakin mudah sehingga seolah-olah batas antarnegara menjadi kabur.

Di balik berbagai kemudahan dan kenyamanan hidup, serta ‘kemajuan’ yang diberikan oleh globalisasi, sesungguhnya ada masalah besar yang diderita oleh mayoritas manusia di bumi. Arus globalisasi didorong oleh kekuatan-kekuatan ekonomi dunia (korporasi) yang ingin mencari profit yang lebih besar dengan cara menguasai sumber-sumber ekonomi di berbagai penjuru dunia. Dengan cara ini, akumulasi uang terbanyak berada di tangan segelintir manusia, sementara sebagian besar penduduk bumi harus bekerja keras memperebutkan sisanya.

Archer (2009) memetakan ada tiga dampak negatif globalisasi bagi perempuan. Secara umum, menurut Archer, dampak globalisasi memang beragam. Perempuan yang berada dalam tingkat ekonomi dan sosial tinggi lebih mampu meraih keuntungan dari globalisasi. Misalnya, mereka mampu berbisnis online dengan pendapatan yang sangat besar. Namun, bagi perempuan yang berada di tingkat ekonomi dan sosial yang lemah, globalisasi justru semakin memarjinalisasi dan memiskinkan mereka.

(lebih…)

Yemen for Dummies

Sebenarnya, mencerna konflik Yaman itu tidak sulit-sulit amat. Asal punya basis logika yang kuat, sudah cukup. Berikut ini analisis singkat dan logis yang saya adaptasi dari status dan komen cerdas beberapa orang di Facebook.

 

Pemberontak di Suriah dan Libya diberi julukan mujahid. Pemberontak di Yaman disebut bughot. Kok bisa??

Di Iran tidak ada kedutaan AS dan Israel, tapi Iran disebut “sekutu Israel”. Di Saudi ada pangkalan militer AS dan di Qatar ada Kedutaan Israel. Tapi mereka disebut “anti Amerika dan Israel”. Kok bisa?

Sumber: Fafa Azami

 

yemen-saudi 1

 

Apakah alasan Arab Saudi menyerang Yaman?

  1. Jika karena alasan Syiah, bukankah di Arab Saudi sendiri juga banyak Syiah?
  2. Jika dengan alasan membasmi pemberontak (bughot), mengapa pemberontak di Suriah malah didukung Arab Saudi?
  3. Jika dengan alasan Syiah, mengapa Arab Saudi tidak segera menyerang Iran yang jelas-jelas Syiah dan menjadi pendukung rezim Suriah dan milisi Houthi di Yaman?

Sumber: Kyai Zainal

yemen-saudi 2

Apakah alasan Arab Saudi menyerang Yaman?

  1. Jika Arab Saudi sedang memberikan bantuan kemanusiaan untuk warga Yaman, mengapa menggunakan bom, korban yg berjatuhan pun dari pihak sipil (wanita dan anak kecil)?
  2. Jika Arab Saudi sedang memperjuangkan agama Islam, mengapa dibantu AS dan Israel?
  3. Jika Arab Saudi sedang membantu sesama Arab (rezim Mansur Hadi yang minta perlindungan), bukankah Palestina juga sangat Arab? Mengapa setelah berlalu puluhan tahun, Saudi tak juga menyerang Israel yang menindas warga Arab Palestina?
  4. Jika Arab Saudi ingin menegakkan demokrasi (melindungi rezim Mansur Hadi), bukankah Arab Saudi sendiri adalah rezim monarkhi non- demokratis?

Sumber: Muhammad Dudi  Hari Saputra

 

yemen-saudi 3

Mereka dulu mengatakan, “Kami serang dulu Suriah, setelah itu baru kami ke Palestina untuk taklukkan Israel.”

Kini, saat menyerang Yaman, mereka berkata, “Raja Salman meniru Salahudin Al Ayubi, menyerang Syiah dulu, baru melawan Romawi.”

Mereka pura-pura lupa: yang menjual senjata ke Arab Saudi adalah AS. Apakah mereka kira AS mau menjual senjata-senjata itu bila digunakan Arab Saudi untuk menyerang Israel?!

Sumber: Ismail Amin

yemen-saudi 4

Saat Hosni Mubarak digulingkan melalui aksi-aksi demo masif rakyatnya sendiri, Arab Saudi secara resmi menentang penggulingan itu, tapi tak melakukan apapun.

Saat Presiden Mursi dikudeta, Saudi mengucapkan selamat pada Jenderal Al Sisi dan memasukkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris.

Saat Presiden Bashar Assad diperangi oposisi dan pemberontak, Saudi mendukung (dan membiayai) pemberontak itu.

Saat rakyat Bahrain berdemo besar-besaran untuk menuntut raja dari dinasti Al Khalifah mundur, Saudi mengirim pasukannya untuk menembaki dan menangkap para demonstran.

Saat rakyat Palestina lebih 60 tahun berjuang melawan Israel yang menjajah tanah air mereka, Saudi diam saja.

Saat rakyat Yaman dari berbagai faksi dan mazhab berdemo besar-besaran memprotes rezim Mansour al Hadi, Saudi membombadir Yaman.

Kesimpulan: peta lawan-dan-kawan Saudi sangatlah acak, tidak melulu Sunni atau melulu Syiah. Jadi akar konflik bukan mazhab, tapi kepentingan (uang & kekuasaan).

Sumber: Ismail Amin

 

Baca pemetaan konflik di Yaman: Ada Apa dengan Yaman?

Ada Apa dengan Yaman?

Ada apa dengan Yaman? Sebaiknya kita lihat dulu petanya.

Sumber peta: www.nystromnet.com

Di peta terlihat bahwa Yaman berbatasan darat dengan Arab Saudi, dan menguasai perairan strategis Bab el Mandab dan teluk Aden, dan bahkan menguasai pulau Socotra yang kini menjadi pangkalan militer AS. Jalur perairan ini sangat penting karena menjadi tempat lewatnya kapal-kapal tanker pembawa minyak dari Teluk Persia ke Eropa (melewati Terusan Suez). AS sangat berambisi mengontrol jalur minyak ini dan di saat yang sama, secara ekonomi Iran pun terancam bila AS sampai menguasai jalur tersebut. Selain itu, meski saat ini produksi minyak Yaman hanya 0,2% dari total produksi minyak dunia, negeri ini menyimpan cadangan minyak yang sangat sangat besar.

Kelompok-kelompok Utama dalam Konflik Yaman:

  1. Ikhwanul Muslimin vs Imam Yahya (Syiah Zaidiyah)

Yaman tadinya berada di bawah kekuasaan Imperium Ottoman. Kemudian, setelah Ottoman kalah dalam Perang Dunia I, Inggris menguasai Yaman selatan (terutama wilayah Aden yang menguasai jalur laut); sementara Yaman utara dikuasai oleh Imam Yahya yang bermazhab Syiah Zaidiah, yang membentuk Kerajaan Yaman. Italia mengakui pemerintahan Imam Yahya, sementara Inggris menentangnya karena tekad Imam Yahya adalah mengusir Inggris dan menyatukan Yaman.

Inggris (dan Mesir) membacking gerakan “Free Yemenis” yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin. Gerakan ini pada tahun 1962 berhasil menggulingkan pemerintahan Imam Yahya dan memproklamasikan “Republik Arab Yaman.”

Pemerintahan baru ini memperluas gerakan untuk menguasai Yaman selatan (yang dikuasai Inggris), dengan meminta bantuan militer dari Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser yang mengirim 70.000 tentara ke Yaman (1962-1965).

Inggris, yang memusuhi Nasser akibat aksinya menasionalisasi Terusan Suez tahun 1956, menggunakan konflik internal Yaman untuk melemahkan Nasser, dengan bantuan Mossad, CIA, intelijen Arab Saudi, dan SAVAK (intel Iran zaman Syah Pahlevi). Selama tahun 1960-an, AS menyuplai perlengkapan militer Arab Saudi senilai 500 juta Dollar (agar Arab Saudi semakin kuat dan memegang kendali dalam konflik di Yaman). Tahun 1968, Nasser mundur dari Yaman, dan setahun sebelumnya, Inggris juga angkat kaki dari negara itu.

Namun, kelompok pro Naser masih eksis hingga sekarang dan menjadi salah satu aktor utama politik Yaman, yaitu the Nasserite Unionist People’s Organization.

  1. Partai Sosialis vs Ikhwanul Muslimin

Tahun 1967, the National Liberation Front (NLF) yang berhaluan Marxis menguasai Yaman selatan dan membentuk negara independen (Republik Rakyat Demokratik Yaman). Sementara itu, sejak tahun 1978, Republik Arab Yaman dipimpin oleh Presiden Ali Abdullah Saleh.

(lebih…)

Perempuan dan ISIS

dua wanita italia yang disandera isis

dua wanita italia yang disandera jihadis

Berita tentang 16 WNI yang “hilang” di Turki dan dicurigai bergabung dengan ISIS, membuat saya teringat pada tulisan William Blum (penulis buku “Demokrasi, Ekspor AS Paling Mematikan”).

Blum menulis dalam artikelnya:

Setelah melihat beberapa video aksi ISIS di internet, yang penuh dengan berbagai adegan menjijikkan, terutama terhadap kaum wanita, pemikiran saya adalah: berikan kepada mereka (ISIS) negara untuk mereka sendiri. Siapapun yang ingin meninggalkan negara itu, akan ditolong untuk keluar. Siapa saja yang ingin datang, dibiarkan datang, namun mereka tidak boleh keluar lagi tanpa melalui seleksi ketat, untuk mengetahui apakah mereka sudah kembali ‘menjadi manusia’. Bagaimanapun juga, karena dipastikan hanya sedikit perempuan yang mau tinggal di negara ISIS, negara itu tidak akan bertahan lama.

Kalimat terakhir menggelitik saya: ‘dipastikan hanya sedikit perempuan yang mau tinggal di negara ISIS’.

Lalu, mengapa anak-anak gadis dari Eropa berdatangan ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS? Mengapa juga perempuan-perempuan Indonesia banyak yang mendukung ISIS (setidaknya, begitulah mereka berkoar-koar di media sosial; salah satunya seorang perempuan cantik -sepertinya ini akun asli- mengirim inbox kepada saya, menyatakan memang pernah ke Suriah, entah apa yang dia ‘alami’ di sana, saya tak mau repot-repot bertanya, karena jelas sekali dia pendukung  mujahidin)? Di antara 16 WNI yang “hilang” di Turki (yang terindikasi bergabung dengan ISIS) ada 5 perempuan, yang bahkan di antaranya membawa anak usia 1 tahun.

Ini info yang saya dapatkan selama ini:

1. Para gadis muda Eropa itu jatuh cinta kepada para jihadis yang mereka jumpai di internet, lalu mengambil keputusan nekad meninggalkan keluarga mereka. Ini sama sekali tidak mengherankan, kasusnya sama saja dengan sekian banyak kasus anak gadis atau ibu-ibu alay yang jatuh cinta pada rekan facebooknya. Hanya saja, untuk kasus ISIS, ada embel-embel “jihad”-nya. Jadi, untuk para Ibu yang masih “manusia”, harap berhati-hati memperhatikan anak-anak gadisnya yang gemar berjejaring sosial.

2. Khusus utk perempuan Indonesia, saya amati dari komentar-komentar mereka di media sosial, mereka mengira kehidupan di bawah rezim ISIS adalah kehidupan yang baik-baik saja. Mereka tidak terpengaruh oleh banyaknya video yang menunjukkan kebrutalan ISIS karena “yang diperlakukan demikian adalah orang kafir.” Salah satu komentator di medsos menulis, “Yang takut sama ISIS/jihadis itu adalah hanyalah orang-orang kafir dan syiah”. Jadi, selama mereka tidak kafir dan tidak syiah, mereka kira, mereka akan baik-baik saja, bahkan hidup tenteram di sana. Apalagi, para jihadis ISIS dan sejenisnya (mereka punya banyak nama, saling berseteru satu sama lain, tapi perilaku dan ideologinya sama saja; antara lain Jabhah Al Nusra yang didukung Turki) menerima gaji besar ratusan hingga ribuan dollar perbulan. Sungguh sangat menggiurkan bagi orang-orang berekonomi lemah di Indonesia yang telah dicekoki radikalisme. Apalagi yang lebih indah buat orang semacam mereka: beribadah, berjihad, dapat gaji dollar pula? (Saya baca profil salah satu keluarga yang “hilang” di Turki di detik, ternyata mereka keluarga radikal yang miskin; penampilan celana cingkrang dan istrinya pakai cadar; tidak mau bergaul dengan tetangga).

Tapi tunggu saja. Saya percaya pada prediksi William Blum: hanya sedikit perempuan yang mau tinggal di negara ISIS. Selama mereka masih punya sedikit otak dan hati (dan masih hidup, tentu saja), lambat laun mereka akan sadar sudah dibodoh-bodohi. Syukur-syukur ketika mereka sadar, negara (pemerintah) Indonesia mau membayar uang tebusan, seperti yang dilakukan pemerintah Italia.

italian women isis2

dua wanita italia sblm disandera jihadis

 

[note: di berbagai berita, kedua perempuan Italia itu disebut “aktivis kemanusiaan”, namun, bila dilihat dari facebook mereka, mereka banyak berteman dengan para jihadis, dan bahkan posting foto dengan bendera oposisi; dan disimpulkan bahwa ceritanya sama saja: kedua wanita ini awalnya ‘terpesona’ pada jihadis lewat internet dan datang ke Suriah, lalu menyesal dan minta dipulangkan; dan Italia harus membayar 12 Juta Dollar sebagai tebusan.]

Mengapa ISIS Membenci Naskah Kuno?

Saat berdiskusi dengan seorang dosen filologi, saya jadi sadar betapa berharganya naskah kuno bagi sebuah bangsa. Bahkan eksistensi bangsa itu bisa terjaga bila naskah kunonya dijaga dan dipelajari.

Misalnya saja, dari Surat Emas Raja-Raja Nusantara, terbukti bahwa selama lebih dari empat ratus tahun, raja-raja di Nusantara menulis surat dalam bahasa Melayu dengan huruf Jawi (Huruf Arab-Persia) kepada para raja di luar negeri. Salah satunya,  surat Sultan Iskandar Muda dari Aceh pada tahun 1615, yang ditujukan kepada Raja James I. Perhatikan: surat itu tidak dalam bahasa Inggris. Artinya, para raja dan pembesar di mancanegara-lah yang harus mempelajari bahasa Melayu. Artinya, saat itu, siapa yang lebih dominan dan lebih berkuasa? Jelas nenek moyang kita, bangsa Melayu. Dan keunggulan budaya itu tentu tidak ujug-ujug muncul tahun 1600-an itu, pasti ada proses panjang yang mendahuluinya.

Lalu, mengapa situasinya kini sangat berbalik? Mengapa yang disebut-sebut sebagai budaya ‘nenek moyang kita’ bukan budaya yang unggul ini; yang pasti membuat rasa nasionalisme dan rasa bangga sebagai Indonesia membuncah, dan akan memicu keberanian saat bernegosiasi dengan bangsa lain. Tidak seperti sekarang: orang Indonesia cenderung inferior di hadapan orang Barat.

(lebih…)

Balada Republika dan Piyungan :)

Tanpa saya duga, surat terbuka saya yang saya tulis dengan penuh rasa hormat pada Ust Arifin Ilham (karena saya suka pada amalan-amalan dzikir), menyebar cukup luas di media sosial & online. Dari blog ini saja dalam 2 hari sudah dishare 10.000 kali lebih via FB. Setelah itu, barulah muncul info-info, bahwa memang ada ‘perubahan’ pada diri beliau. Di antaranya, ada yang kasih liat video beliau berteriak “jihaaad!!” dengan mimik wajah yang membuat saya kaget. Lebih kaget dibanding saat membaca berita ini (yang jadi referensi utama saya saat nulis surat terbuka itu). Laa hawlaa wa laa quwwata illa billah… semoga Allah menjaga negeri ini supaya tetap damai.

Dari sekian banyak komentar, tanggapan, baik yang mendukung maupun mencaci-maki saya, yang ingin saya komentari cuma dua hal: Republika dan PKS Piyungan. Pertama, Republika. Menarik sekali, tanpa saya minta (lha emang siapa saya sampai bisa ‘meminta’), Republika memuat utuh surat saya itu. Link-nya juga sudah tersebar, saya sempat SS salah satu yang diposting teman:

Capture-republika

Jejak di Google juga masih ada:

google

Kemarin, surat itu seharian bertengger di deretan teratas top-five (artinya, terbanyak dibaca). Pagi ini saya mendapat informasi, isi surat itu sudah dihapus oleh Republika. Silahkan saja coba klik http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/02/17/njvnlg-soal-syiah-ini-surat-terbuka-untuk-ustaz-arifin-ilham

Pertanyaannya: mengapa dihapus? Pembungkaman suara? Pemberangusan kritik? Hegemoni kuasa dalam pembentukan narasi? Jawab saja sendiri, ini pertanyaan yang sangat mudah dijawab.

(lebih…)

Surat Terbuka Untuk Ustadz Arifin Ilham

Yang saya hormati, Ustadz Arifin Ilham,

Assalamualaikum ww. Perkenalkan, saya Dina Y. Sulaeman, seorang ibu rumah tangga biasa, yang senang belajar dan menulis. Kecintaan saya untuk menuntut ilmu mendorong saya untuk kuliah lagi di program doktor Hubungan Internasional; sama sekali tak ada karir yang menuntut saya untuk itu. Tulisan-tulisan saya selama ini, kelihatannya cukup banyak diapresiasi orang; dalam arti, bukan tulisan ngawur. Bahkan ada tulisan saya yang sempat dimuat di majalah Az-Zikra yang Antum terbitkan, Ustadz.

Hanya saja, sejak saya aktif memberikan penjelasan tentang bagaimana sebenarnya konflik Suriah, saya tiba-tiba dimusuhi oleh kelompok-kelompok radikal pro-jihad Suriah. Dan tiba-tiba saja, seorang ibu rumah tangga seperti saya mendapat ‘kehormatan’ dinobatkan jadi “Tokoh Syiah Indonesia” oleh media-media pro-jihad Suriah, yang pemiliknya adalah teman-teman Antum sendiri, Ustadz. Meskipun isi artikel berjudul Tokoh Syiah itu fitnah, tapi setidaknya tiba-tiba saja ada gelar ‘tokoh’ dilekatkan kepada saya. Siapa tahu gelar ini (meskipun ngawur), membuat saya dianggap sah untuk lancang menyurati seorang tokoh besar seperti Antum.

Ada pesan penting yang ingin saya sampaikan kepada Antum, Ustadz. Tolong, ingatlah lagi kronologi konflik Suriah, dengan mengaitkannya pada konflik Libya. Mengapa? Karena saya tahu, Antum sangat dirugikan oleh konflik Libya. Saya baca berita tahun 2011, bantuan dari Libya untuk yayasan Antum terputus gara-gara perang.

Saya juga beberapa kali menulis tentang Libya. Salah satu pegangan utama saya adalah kata-kata antum di Facebook, Ustadz, yaitu bahwa sesungguhnya Presiden Qaddafi adalah seorang hafiz Quran dan sangat consern pada Islam. Ini yang antum tulis waktu itu Ustadz:

“Alhamdulillah, sudah 3 X ke Libya, & 2 X sholat berjamaah di lapangan Moratania & Lapangan Tripoli sholat berjamaah yg dihadiri 873 ulama seluruh dunia & rakyat Libya, dg Imam langsung Muammar Qoddafy, bacaan panjang hampir 100 ayat AlBaqoroh, sbgn besar jamaah menangis, sebelumnya syahadat 456 muallaf dari suku2 Afrika, & dakwah beliau sll mengingatkan ttg ancaman Zionis & Barat, Pemimpin Arab boneka AS, selamatkan Palestina, Afghan & Irak…inilah kesanku pd almarhum, sahabatku FIllah.”

Pernyataan Antum itu mematahkan tuduhan kaum ‘mujahidin’ Libya (yang disebarkan juga oleh media-media pro-jihad di Indonesia) bahwa Qaddafi adalah thoghut, kafir, musuh Islam; dan membuktikan kebohongan gerakan jihad mereka.

Saat konflik Libya baru meletus, data yang bisa saya dapat sangat sedikit, karena terhambatnya arus informasi dari sana (tapi kemudian segalanya menjadi jelas setelah ada jurnalis-jurnalis independen yang nekad masuk ke sana dengan taruhan nyawa). Di awal, saya pakai data-data dari PBB, bahwa HDI dan GDP Libya adalah tertinggi di Afrika (artinya, Libya adalah negara yang sangat-sangat makmur). Kesaksian beberapa orang yang pernah di Libya juga menambah keyakinan saya bahwa data ini sama sekali tidak cocok dengan skenario ‘gelombang demokratisasi’. Terlepas dari keburukan alm. Qaddafi (yang digambarkan media massa Barat, jadi saya tidak tahu pasti benar-tidaknya, Antum yang lebih kenal alm. Qaddafi, Ustadz), fakta tak terbantahkan adalah beliau menggunakan kekayaan alam untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

(lebih…)

Catatan Tentang Mereka yang “Cuci Tangan”

Kenji Goto

Pagi ini terpaksa mengawali hari dengan membaca berita mengerikan: pilot Jordania dibakar hidup-hidup oleh ISIS. Dan sialnya, saya sempat membaca komen dari suporter “mujahidin” Indonesia: tabayun dulu, siapa tahu itu foto hoax, kalaupun itu benar, siapa yang jamin itu orang Islam yang melakukannya, berita dari media Barat jangan dipercaya…

Stupid comments, as always.

Hari ini, para suporter mujahidin (saya tak perlu sebut nama-nama harakah-nya, Anda pasti sudah tahulah, ormas dan partai mana yang dulu sering berkoar-koar mendukung “jihad” di Suriah) sekarang cenderung tiarap, diam, pura-pura tak tahu, dan mengaku tak ada kaitan dengan ISIS (atau berlindung di balik teori : Ini semua konspirasi Israel dan AS!) Jangankan hari ini, saat ISIS sudah sedemikian brutal secara terang-terangan, dulu pun ketika “jihad” sudah hampir dipastikan tidak bisa menumbangkan Assad, mereka sudah berusaha cuci tangan: “mereka yang berjihad di Suriah itu atas nama pribadi” (bukan atas nama harakah).

Tapi tentu saja, tangan berdarah mereka (baik secara langsung di medan perang, ataupun melalui kata-kata di media sosial, media cetak, dll) tidak bisa menghapus catatan dokumentasi, catatan sejarah.

Bahkan sejak sebelum ISIS “terkenal”, sebelum Al Baghdadi mendeklarasikan diri secara terang-terangan, metode pembantaian barbar ala abad pertengahan sudah dilakukan oleh ‘mujahidin’. Dan waktu itu, para suporter masih berkoar-koar soal jihad dan masih beramai-ramai menggalang dana demi para mujahidin (dan belum ‘cuci tangan’ atau ‘pura-pura tak punya kaitan’).

Salah satu dokumentasinya, pembantaian barbar yang dilakukan oleh “mujahidin’ terhadap orang-orang yang dituduh sebagai shabiha (milisi loyalis Assad) pada September 2013.  Waktu itu tak banyak muslim (Indonesia) yang protes, sebagian mungkin karena tak tahu, tapi sebagian yang lain jelas karena ideologi kebencian yang mereka miliki: ‘toh mereka Syiah, memang layak dibantai’. Jadi, catat, pembantaian ini bukan atas nama ISIS, tapi kelakuannya sama. (Artinya, jangan karena sibuk dengan ISIS, lalu melupakan kelompok ‘mujahidin’ lain -termasuk para suporternya di Indonesia- yang sebenarnya ideologinya sama). Saya tidak sanggup menaruh foto-foto kejadian tersebut, silahkan klik link ini atau ini.

Reaksi atas aksi barbar para “mujahidin” baru mulai ramai setelah pembantaian dilakukan di bawah bendera “Islamic State” dan korbannya meluas kepada orang Sunni (Sunni adalah mazhab mayoritas di Syria, sekitar 70%), Kristen, Druze, Kurdi (ini bukan agama, tapi etnis), orang Amerika, orang Inggris, Jepang, dll.

Berikut ini adalah pengakuan fotografer yang mendokumentasikan kejadian barbar di Syria bulan September 2013 itu (versi bhs Inggris dimuat di link yang saya berikan di atas):

(lebih…)

JeSuisCharlie VS JeSuisJihadMughniyah

Aslinya begini:

Israelis watch bombings of Gaza from Sderot hillside

Orang Israel menonton bombardir terhadap Gaza sambil santai , Juli 2014 (sumber foto: The Guardian)

Lalu, ada yang membuat karikatur begini dan dimuat di  The Sydney Morning Herald (SMH):

Kartun karya Glen Le Lievre

Kartun karya Glen Le Lievre

Seminggu kemudian, tanggal 15 Agustus 2014, setelah diprotes oleh kalangan pro-Israel karena SMH dianggap “Violated Standards of Practice that all press must adhere to in Australia according to the Australian Press Council in its linking of “symbols of the Jewish faith” to criticism of Israel”, SMH pun meminta maaf.

Dalam artikel berjudul “We apologise: publishing cartoon in original form was wrong”, SMH menulis: The Herald now appreciates that, in using the Star of David and the kippah in the cartoon, the newspaper invoked an inappropriate element of religion, rather than nationhood, and made a serious error of judgment.

Jadi, yang dipermasalahkan adalah penggunaan simbol bintang David dan topi kippah dalam kartun, yang dianggap melecehkan simbol keagamaan Yahudi.
(lebih…)

Charlie Hebdo dan Absurditas di Tanah Voltaire

(terjemahan: saya bukan Charlie)

(terjemahan: saya bukan Charlie)

Oleh: Dina Y. Sulaeman* (Dimuat di Sindo Weekly Magazine**, 15/1/2015)

Charb, Cabu, Wolinski dan Tignous tewas. Empat kartunis Perancis yang gemar mengolok-olok lewat kartun yang mereka publikasikan itu seolah menjadi tumbal bagi kebebasan berbicara (freedom of speech). Kebebasan berbicara konon salah satu kredo utama di Perancis. Kredo yang dibangun oleh Voltaire, “Saya tidak menyetujui perkataan Anda, tapi saya akan membela hak Anda untuk mengatakannya.”

Pembunuhan atas empat kartunis dan tujuh orang lainnya yang bekerja di tabloid satire Charlie Hebdo, serta seorang polisi, sesungguhnya dipenuhi kejanggalan. Sulit diterima bahwa dua bersaudara keturunan Aljazair yang bekerja sebagai pengantar pizza, Said dan Cherif Kouachi, bebas mendapatkan logistik yang sempurna: Kalashnikov, roket peluncur, amunisi, rompi, sepatu tentara, dan Citroen hitam. Keduanya pernah ditangkap pada kasus terorisme tahun 2008, sehingga semestinya selalu dalam pengawasan Sous-direction de l’anti-terrorisme (Sub Direkturat Anti Terorisme).

Polisi mengetahui identitas Kouachi bersaudara karena mereka kebetulan (?) meninggalkan kartu identitas di Citroen hitam. Sungguh mirip dengan peristiwa 911. Penyelidik mengetahui identitas pengebom Menara Kembar WTC dari paspor yang ditemukan di sela-sela puing-puing bangunan. Gilad Atzmon, penulis Yahudi yang selalu mengkritik Israel pun menulis, “Sejak kapan seorang teroris membawa kartu identitas saat beraksi?”

Namun, tak urung, diskusi publik dipenuhi oleh perdebatan mengenai ‘kebebasan berbicara’. Narasi yang terus diulang: Islam anti kritik dan anti kebebasan, dan lebih suka melawan pena dengan pedang. Sayangnya, narasi itu memang memiliki konteks yang nyata. Citra Islam akhir-akhir ini semakin buram akibat aksi-aksi pemenggalan kepala oleh ISIS. Mereka membunuh –dengan cara terbrutal yang bisa dibayangkan manusia modern—siapa saja yang bukan bagian dari mereka, baik itu Muslim Sunni dan Syiah, Alawi, Kurdi, Kristen, atau Yazidi. Sesama jihadis tetapi berbeda ‘imam’, tak luput dari aksi barbar ISIS. Ini pula agaknya yang dimaksud Charlie Hebdo dalam salah satu kartun satirenya: bahkan Nabi Muhammad pun dipenggal oleh ISIS.

(lebih…)

New Release 2013

prahara suriah

New Release (2013)

"dokter cilik"
obama
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
"pelangi di persia"
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.662 pengikut lainnya.