Arsip 2007 ~ Sekarang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 6.001 pengikut lainnya

Dimanakah Ribuan Al Nimr Itu, Alwi?

al nimrOleh: Dina Y. Sulaeman*

Tulisan ini adalah tanggapan atas tulisan “Ada Banyak Al Nimr di Iran” yang ditulis Alwi Alatas (AA) di http://www.hidayatullah.com. Di judul AA menyebut “banyak”, tetapi di dalam artikel, dia menyebut “ribuan”. Saya akan memulai tulisan ini dengan mengutip pidato Ayatullah Khamenei yang dikritisi AA di akhir tulisannya, karena inilah poin terpenting dalam tulisan AA maupun tulisan ini.

The Almighty God shall not ignore the innocents’ blood and the unjustly spilled blood will backfire on the politicians and the executives of this regime very quickly. The Muslim world and the entire world must feel responsible towards this issue,” kata Ayatullah Khamenei, dikutip AA dari situs berbahasa Inggris.

AA berkomentar, ““Tuan Khamena’i, apakah Anda tidak merasa bertanggung jawab atas tumpahnya ribuan ‘darah tak berdosa’ di Iran, di bawah pemerintahan Anda sendiri? Darah-darah itu pada satu hari nanti akan memercik juga ke wajah Anda, di dunia ini, di dalam lembaran-lembaran Sejarah.”

AA tidak mengutip lanjutan perkataan Khamenei, “این عالمِ مظلوم نه مردم را به حرکت مسلحانه تشویق می‌کرد و نه به صورت پنهانی اقدام به توطئه کرده بود، بلکه تنها کار او، انتقاد علنی و امر به معروف و نهی از منکرِ برخاسته از تعصب و غیرت دینی بود.” (Ulama mazlum ini [Syekh Nimr] tidak memprovokasi rakyat untuk melakukan gerakan bersenjata, dan tidak pula secara sembunyi-sembunyi melakukan konspirasi; satu-satunya yang dilakukannya adalah mengkritik secara terang-terangan, serta amar ma’ruf nahi munkar yang didasari kecintaan pada agama).[1]

Di sinilah POIN PENTING-nya: Iran tidak mengkritik model hukuman mati, tetapi ALASAN Syekh Nimr dihukum mati. Iran menerapkan hukuman mati, seperti juga di Arab Saudi, Indonesia, atau AS (ada 58 negara di dunia yang menerapkan hukuman mati).

Kemudian, AA mengambil rujukan utamanya dari Iran Human Rights. Dalam situsnya, IHR menyatakan Iran Human Rights condemns the death penalty for any crime (IHR mengutuk hukuman mati untuk SEMUA KEJAHATAN). [2] Artinya, dalam pandangan IHR, kejahatan terorisme, upaya kudeta, pembunuhan, bandar narkoba, atau apapun, tidak boleh dihukum mati. Dan karena AA mengakui IHR sebagai sumber valid, seharusnya dia tak perlu menulis “Terlepas dari tepat tidaknya eksekusi yang dilakukan pemerintah Saudi,…”. AA seharusnya tak perlu malu-malu mengakui bahwa dia sepakat dengan IHR: Arab Saudi salah karena menghukum mati Syekh Nimr.

Manipulasi Informasi

Dalam tulisan singkat ini, saya tidak membahas tepat/tidaknya hukuman mati. Saya sekadar ingin membuktikan benar atau salahnya klaim AA bahwa di Iran, “ada ribuan Al Nimr di Iran” dan “kaum Sunni dihukum mati karena memiliki hubungan dengan kelompok Salafi.”

(lebih…)

Daud Melawan Goliath

republika1Fariba, tetangga saya di Teheran (2003-2007) mudah sekali sedih dan stress. Pasalnya, suaminya selalu berada dalam bahaya. Suaminya anggota Garda Revolusi Iran, dan sewaktu-waktu “menghilang” untuk misi anti-terorisme. Fariba selalu ketakutan, suatu saat giliran suaminya yang syahid dibunuh teroris. Dan benar saja, tahun 2009, saat saya sudah di Indonesia, suaminya dan beberapa rekannya syahid dalam aksi bom bunuh diri yang dilakukan teroris di Zahedan (perbatasan Pakistan).

Sejak Republik Islam Iran dibentuk dan AS ditendang keluar Iran (padahal sebelumnya AS sedemikian berkuasa di Iran, baik ekonomi maupun politik), aksi-aksi teror tak habis-habisnya menyerang Iran. Sejak 1979-2014, korban terorisme di Iran (bom bunuh diri/ledakan bom) mencapai 17.180 orang, menjadikan Iran sebagai negara dengan korban terorisme terbesar di dunia. Sebagian yang menjadi korban tewas itu adalah para pejabat tinggi negara seperti Presiden Rajai, PM Bahonar, Ketua MA Beheshti, dan Panglima Militer Shirazi. Ayatollah Khamenei sendiri tangan kanannya kisut dan tak bisa digerakkan akibat terkena serpihan bom saat sedang berceramah di Masjid Abu Dzar, Teheran (1981). Beberapa tahun terakhir, yang menjadi korban teror adalah ilmuwan-ilmuwan nuklir Iran.

Jurnalis investigatif terkemuka, Seymour Hersh (2008) pernah menulis laporannya tentang kucuran dana AS untuk membiayai kelompok-kelompok teror (antara lain, Jundullah, the Mujahideen-e-Khalq/MEKdan kelompok separatis Kurdithe Party for a Free Life in Kurdistan/PJAK). Tim Shipman dari the Telegraph sebelumnya (2007) juga sudah merilis informasi bahwa Bush meluncurkan “operasi hitam” untuk menggulingkan rezim. Pada tahun itu pula, pemerintah Iran mengumumkan telah menangkap 10 anggota Jundullah membawa uang cash USD500.000 bersama “peta daerah sensitif” dan “peralatan mata-mata modern”.

(lebih…)

Logika yang Tertukar

brainCopas dari status Facebook saya:

LOGIKA YANG TERTUKAR

Kemarin ada yang share status saya “Pertanyaan Buat Kalian” dengan gaya khas kaum you know who. Saya bahas di sini semata-mata pingin share cara menganalisis pernyataan orang demi mencerdaskan bangsa. Anggap saja ini lanjutan pelajaran LOGIKA WARUNG yang dulu itu ya  :D

Ini saya copas argumen dia:

=============
Waspada dengan orang pintar yang menyesatkan. Seperti artikel terlampir ini. Saya kutip salah satunya : “apakah ceramah dan demo mengkritik pemerintah boleh dijatuhi hukuman pancung?”
Ya tentu saja boleh, kalau memang ada aturan hukum demikian di negeri tsb :) Dina Sulaeman ini seperti orang naif saja.
Bolehkah kita protes aturan hukum Saudi tsb ? Tentu saja juga boleh.
Bolehkan kita membakar kedutaan besar Saudi ? TIDAK BOLEH. Ini kesalahan fatal di Iran.
Di ‪#‎semua‬ Peradaban, di semua zaman; sejak dulu sampai sekarang, semuanya sama :
———
wakil negara (duta besar / ambassador) itu dijamin keselamatannya.
———
Mencederai duta besar itu artinya hanya satu : tantangan perang !
Ini bahasa yang universal, dipahami di mana saja.
Gerombolan pro Syiah ini memang bodoh + membodohkan.
Waspada.
=================

(lebih…)

Pertanyaan Buat Kalian

khilafah

foto: Antara

Syekh Nimr tewas dipancung (dan sebelumnya, ternyata dia disiksa dulu hingga tangan dan kakinya patah, dan jasadnya tidak dikembalikan ke keluarganya). Keponakannya, Ali Mohammed al-Nimr yang berusia 17 tahun juga telah dijatuhi vonis pancung dan lalu setelah tewas, badannya akan disalib. Hukuman macam apa ini?! Kesalahan Ali karena ikut demo memprotes pemerintah. Nasib Ali belum diketahui.

Saya membuka youtube, mendengarkan ceramahnya yang memang frontal mengkritik pemerintah. Tapi dia jauh berbeda dengan Syekh ‘Arifi yang berpidato berapi-api sampai berkeringat, menyerukan angkat senjata (tentu saja bukan untuk menggulingkan Arab Saudi, tapi Assad). Dia justru menyerukan agar “melawan senjata dengan teriakan”. Saya baca lagi berbagai berita, membandingkan mana yang kelihatan netral, mana yang jelas sekali membela Bani Saud. Kesimpulan saya, memang dia tak pernah angkat senjata, membentuk pasukan, apalagi bergabung dengan Al Qaida/ISIS. Dia hanya “berteriak” (berceramah, mengkritik pemerintah).

Berbagai website berlabel Islam beramai-ramai memuat berita yang menjelek-jelekkan Syekh Nimr (sehingga pantas untuk dipenggal). Seorang profesor Indonesia yang jadi rujukan banyak orang soal kondisi domestik Arab Saudi juga berputar-putar menulis, yang ujungnya satu: Syekh Nimr sah saja dipancung.

Saya tanya kepada mereka yang setuju pada hukuman pancung atas Syekh Nimr: apa kalian setuju bila ustadz Abu Jibril, Felix Siaw, atau Jonru dipancung? Pasti jawabannya tidak. Mana tega kita bila Felix, ustadz imut-imut anti-foto-sefie dan penulis buku imut-pink ‘Udah Putusin Aja’ itu dipancung. Ya kan?

(lebih…)

Merdeka

girl with raised hands and broken chains

Komentar teman saya orang Iran, saat chat via LINE, “Sebelum kasus Syekh Nimr, Arab Saudi, Bahrain, dan Sudan sudah menurunkan level diplomatik, mereka cuma punya konsulat di Iran. Jadi, kasus Syekh Nimr cuma alasan yang dibuat-buat untuk memutuskan hubungan diplomatik. Apalagi UAE. Yang kemarin menyerang konsulat Saudi itu orang-orang bayaran konsulat UAE, dan sudah ditangkap untuk kemudian diadili pemerintah. Mengapa harus takut dikucilkan pemerintah negara-negara “ngaco”? Santai saja…”

Nasionalisme rakyat Iran sudah teruji 36 tahun terakhir ini (sejak berdirinya Republik Islam). Diembargo obat-obatan? Bikin sendiri. Diembargo senjata? Bikin sendiri. Diembargo jaringan perbankan Rothschild? Pedagang selalu punya jalan keluar, life goes on. Dikucilkan? Nggak takut. Diperangi? Lawan.

Iran bukan negara kaya. Embargo (terutama boikot perbankan) tetap memberikan kesulitan ekonomi bagi Iran. Dalam sebuah diskusi, orang KADIN mengeluhkan perdagangan dengan Iran sulit dilakukan karena Bank Indonesia tidak mau memberi jaminan L/C (tanya kenapa?). Kesulitan sama tentu dirasakan Iran, misalnya, pingin beli kertas langsung dari Indonesia (biar lebih murah) gak bisa, musti lewat Malaysia karena Bank Malaysia kasih jalan. Produk Indonesia, tapi belinya lewat M’sia, enak amat tuh si makelar. Makanya Iran mau jual minyak murah ke Indonesia asal ga lewat makelar. Kenapa ga terwujud? Jawaban ada di bawah.

(lebih…)

Syekh Nimr

Status Facebook saya tentang Syekh Nimr memicu diskusi menarik, sehingga perlu saya dokumentasikan di sini.

Awalnya, saya menulis status ini:

SYEKH NIMR

Semalaman ini, di timeline saya banyak info tentang eksekusi hukuman mati terhadap ulama Syiah di Arab Saudi, Syekh Nimr. Saya pun mencari di youtube ceramah-ceramahnya, ternyata memang dia keras mengkritik Rezim Saudi, tak heran bila kuping Raja dan para pangeran kaya raya itu kepanasan lalu memutuskan untuk memenggalnya.

Sikap seseorang kepada pemenggalan Syekh Nimr pasti sangat bergantung bagaimana ia memandang Rezim Saud. Bila baginya Rezim Saud adalah rezim suci penjaga Haramain, yang bahkan dosanya dalam tragedi Mina pun tak boleh dikritik (dan yang mengkritik disebut Syiah), maka Syekh Nimr pantas dipenggal karena mengganggu stabilitas negara.

Tapi, gambar ini memberikan perspektif lain.

isis hitam-putih

(lebih…)

Kebodohan

abuharahap1KEBODOHAN

Tahun baru 2016 di timeline saya berseliweran status atau link yang membahas berita fitnah terbaru produksi kaum ‘you know who’. Beritanya tentang ‘Abu Nuaim, Penyair Irak yang Digantung pemerintah Irak yang berada di bahwa kendali Iran”. Tentu saja hoax, itu foto orang Iran pembunuh 5 perempuan yang dijatuhi hukuman gantung tahun 2011.

Yang terbanyak dikritik adalah situs portalpiyungandotcom (nama baru dari pkspiyungan) dan nugarislurusdotcom (pakai nama NU, tapi tentu saja mereka bukan NU ‘asli’) sebagai web yang menyebarkan berita tersebut (dan telah di-share ribuan kali). Tapi, ada yang ‘lupa’dikritisi, yaitu akun-akun pribadi yang gaungnya sangat besar. Misalnya, akun Abu Harahap yang saya screenshot ini (dia dipanggil ‘ustadz’ oleh friend-nya), sejak posting tanggal 31 Desember, statusnya sudah dishare 15.201 kali.

(lebih…)

Pejuang Kemanusiaan

archipelagoSejak konflik Libya 2011, saya menemukan bahwa di dunia ini ada yang disebut ‘jurnalis independen’. Mereka tidak terikat pada media mainstream. Jangan harap berita dan artikel yang mereka tulis bisa kita baca di situs-situs terkenal macam CNN atau Aljazeera. Tapi yang mereka lakukan sangat berarti untuk dunia, meskipun mungkin baru dirasakan ‘nanti’ atau ‘kelak’.

Misalnya saja, saat saya menulis tentang Libya tahun 2011, sebenarnya saya sejak awal sudah mendeteksi bahwa serangan masif media internasional mendiskreditkan Moamar Qaddafi sangat terkait dengan proyek minyak Imperium. Tapi bagaimana saya bisa menuliskannya kalau data-data dari lapangan sangat minim? Yang tersedia umumnya berita senada, disuguhkan oleh media mainstream dan diberitakan ulang oleh media-media lokal (yang ironisnya, tiba-tiba saja untuk kasus Libya, media-media “kafir” bisa senada dengan media-media “Islam”).

Jadi, waktu itu saya stay tune di globalresearch.ca. Dari situs itu saya tahu ada beberapa jurnalis pemberani mempertaruhkan nyawa untuk memberitakan kejadian yang sebenarnya di Libya, antara lain Mehdi Darius Nazemroaya dan Thierry Mayssan. Dari merekalah ‘dunia’ (yang mau membaca media anti-mainstream, tentu saja) tahu bahwa ada demo sangat besar di Tripoli MENDUKUNG Qaddafi; bahwa NATO tidak sedang melakukan humanitarian intervention, tetapi membombardir Libya habis-habisan.

Berita yang mereka bawa jelas menghantam narasi media Barat + media “Islam” bahwa Qaddafi adalah rezim “thoghut” yang dibenci rakyatnya, sampai-sampai rakyatnya meminta bantuan NATO. Lalu NATO turun tangan ‘membantu’ dengan cara menghancur-leburkan infrastruktruktur Libya. Lalu, tentu saja untuk membangun kembali, pemerintah baru Libya berhutang ke Barat dan proyek-proyek rekonstruksi diserahkan kepada perusahaan Barat. Ini cerita lama, terulang terus, tapi opini publik mudah sekali tertipu berkali-kali.

Mehdi dan Thierry sempat hampir mati dibunuh para sniper saat mereka berada di Libya. Nasib lebih tragis dialami oleh jurnalis perempuan cantik, Sherena Shim. Di saat kaum “Islamis” mengelu-elukan Erdogan dan Turki, dia justru mengungkap support Turki dan Barat kepada ISIS. Dia mati dalam kecelakaan misterius, di perbatasan Turki-Suriah, tak lama setelah itu (Okt 2014). Tanggal 27 Desember kemarin, Naji Jerf, jurnalis Suriah pembuat film dokumenter anti-ISIS, tewas akibat tembakan di kepalanya, juga di Turki.

Jurnalis anti-mainstream lain yang saya hormati adalah Andre Vltchek. Dia keliling dunia dan memberitakan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Imperium. Andre istimewa karena banyak menulis tentang Indonesia. Pertama kali saya terpana membaca tulisannya yang berjudul Jakarta Kota Fasis. Lalu, saya membaca bukunya yang sudah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia, “Indonesia, Archipelago of Fear”.

Beberapa waktu yang lalu, saya dan putri saya Kirana, berkesempatan bertemu dengannya. Kami berbincang-bincang cukup lama, hampir dua jam. Dan saya mendapat jawaban dari beberapa pertanyaan yang mengganggu saya selama ini. Lalu saya membaca ulang buku Andre. Rupanya diskusi langsung dengan Andre memberi saya ‘mata’ yang berbeda saat kembali membaca buku itu. Menurut saya, buku ini penting sekali dibaca orang Indonesia. Mungkin nanti saya akan tuliskan panjang lebar di blog, tapi sekarang saya cuma ingin cerita bahwa Kirana melakukan wawancara singkat dengan Andre dan sudah ditulis di blognya. Ada yang menohok dalam jawaban Andre: “sulit buatmu untuk bisa jadi pejuang kemanusiaan, karena lingkunganmu pasti akan mencegahmu; di Indonesia orang-orang masih egois…”

Waduh… saya jadi bertanya dalam hati, benarkah saya ingin anak saya jadi pejuang kemanusiaan? Relakah saya kalau kelak dia tewas terbunuh saat menyuarakan kebenaran seperti Sherena Shim? Ah, jangan jauh-jauh punya impian idealis, bila sekarang saja, saya sudah berkeberatan dengan impiannya sekolah di luar negeri dan mendoktrinnya, “Masuk HI Unpad aja, biar kakak ga jauh dari mama!”

Interview Kirana dengan Andre, bisa dibaca di kiranams.wordpress.com

Jejak Israel di Nigeria

al-quds-nigeriaOleh: Dina Y. Sulaeman

Di bandara internasional Hammad, Doha, saya melihat pria yang mengenakan jubah coklat dan serban putih itu. Ekspresi wajahnya tenang, seolah tak terusik oleh lalu-lalang orang dari berbagai penjuru dunia yang transit di bandara ini untuk melanjutkan perjalanan entah kemana. Namanya Syekh Ibrahim Zakzaky. Saya mengenali wajahnya, karena dia ‘terkenal’ sebagai ulama yang setiap tahun menggalang demo anti-Israel (Al Quds Day, hari Jumat terakhir setiap Ramadhan) di Nigeria yang dihadiri ratusan ribu orang. Tiba-tiba saja, dua hari ini saya kembali membaca namanya di berbagai media: tentara Nigeria mengepung rumahnya, menembaki jamaahnya, dan menahannya.

Ibrahim Zakzaky sudah beraktivitas sosial-politik berhaluan Islam sejak mahasiswa tahun 1970-an (antara lain menjadi Sekjen Muslim Student Society Nigeria) dan beberapa kali dipenjara dalam kurun 1980-1990. Namun baru dalam kurun 1 tahun terakhir ia dan pengikutnya mengalami intimidasi bersenjata, yaitu…

 

Selengkapnya: http://ic-mes.org/military/jejak-israel-di-nigeria/

Pemetaan Kasus Freeport

riza chalidKemarin di TIM saya berbincang panjang dengan seorang narsum penelitian saya, seorang aktivis civil society. Di sela-sela pembicaraan kami, masalah Freeport juga terobrolkan. Saya pikir perlu dicatat di sini, siapa tahu memberi pencerahan untuk mereka yang bingung.

Jadi begini pemetaannya. Jokowi itu didukung oleh kubu Neolib (pengusaha asing, Bank Dunia, dll). Apa karena Jokowi neolib? BUKAN. Tapi karena Jokowi lebih bisa diharapkan kejujurannya. Jokowi diprediksikan tidak akan korup dan “memalak”. Dia adalah generasi baru pengusaha Indonesia yang bekerja keras dan profesional. Tokoh seperti inilah yang disukai kalangan bisnismen neolib. Itulah sebabnya, Bank Dunia (salah satu pilar struktur neolib dunia) mensponsori KPK, misalnya. Bagi Bank Dunia, yang jadi tujuan bukan Indonesia yang bebas korupsi demi kesejahteraan rakyat Indonesia (peduli amat sama rakyat Indonesia!), tapi demi kenyamanan bisnis TNC/MNC (perusahaan transnasional/multinasional).

Jokowi dan orang-orang sejenisnya (bisnismen yang bersih dan pekerja keras) digolongkan dalam kubu “borjuasi nasional”.

(lebih…)

New Release 2013

prahara suriah

New Release (2013)

"dokter cilik"
obama
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
"pelangi di persia"
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 6.001 pengikut lainnya