Kajian Timur Tengah

Arsip 2007 ~ Sekarang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 6.394 pengikut lainnya

Rohingya, Yaman, dan Para ‘Jihadis’ (2)

oilcurse

Di antara para pembaca tulisan bagian (1), ada yang masih salah paham maksud tulisan saya. Ada yang salah paham karena sentimen agama (seolah-olah, dengan membahas keterlibatan korporasi dalam konflik Myanmar, artinya anti Islam karena tidak peduli pada Rohingya), ada yang karena bekerja di perusahaan yang bergelimang uang berkat perang sehingga punya kepentingan untuk menyalahpahamkan (menggeser diskusi ke arah lain), ada juga karena memang benar-benar belum paham karena tulisan saya yang terlalu singkat.

Jadi khusus untuk golongan ke-3, yang saya asumsikan memang ingin terus belajar, saya putuskan untuk melanjutkan tulisan tersebut.

Dalam menganalisis konflik dengan perspektif ekonomi-politik, rumusnya begini: follow the money. Lihat kemana aliran uang terbesar mengalir, di sanalah aktor utama konflik ini berada, di sanalah akar konflik. Dalam konflik, ada yang disebut “akar”, ada yang disebut “pemicu”. Pemicu konflik, bisa apa saja, bergantung daerahnya.

(lebih…)

Iklan

Rohingya, Yaman, dan Para ‘Jihadis’ (1)

arsaRupanya, meskipun sudah membuat 5 tulisan, masih ada hal penting yang belum saya bahas, yaitu keberadaan “jihadis” Rohingya di Myanmar.

Saya masih belum sempat meneliti mendalam tentang ARSA (soalnya, saya pengamat Timteng, bukan Asia Tenggara). Tapi dari pernyataan resmi pemerintah Myanmar dan pemberitaan media-media internasional disebutkan bahwa ada kelompok bersenjata bernama Pasukan Keselamatan Rohingya Arakan (Arakan Rohingya Salvation Army, ARSA).

Keberadaan ARSA menjadi dalih bagi kekerasan yang dilakukan oleh tentara Myanmar terhadap kaum Rohingya. Narasinya: tentara menggrebek kamp-kamp pengungsi Rohingya untuk menangkapi milisi ARSA, karena sebelumnya mereka telah menembaki tentara.

Suu Kyi juga membela perilaku tentara dengan mengkambinghitamkan teroris. Seperti diberitakan BBC, Suu Kyi mengatakan bahwa banyak informasi salah yang beredar; dan informasi itu disebar untuk mendukung “kepentingan teroris.”

Menurut BBC, Suu Kyi tak menjelaskan lebih lanjut pihak yang ia sebut sebagai “teroris.” Namun selama ini, pemerintah Myanmar selalu menyebut ARSA sebagai teroris.

Okelah, teroris memang harus ditangkapi. Densus kita juga berjuang keras menangkapi teroris. Problemnya, seperti dilaporkan Burma Human Rights Network, militer tak hanya menghincar ARSA, tapi juga membantai orang Rohingya yang tak terkait dengan serangan itu.

Akibat serbuan militer sejak 2 pekan lalu, selain 400-an orang Rohingya tewas, 120 ribuan lainnya mengungsi keluar dari Rakhine, menuju perbatasan Bangladesh. Padahal di sana sudah ada 400.000 pengungsi yang hidup dalam kamp-kamp yang amat buruk dan menyedihkan. Bangladesh yang juga negara miskin, tak sanggup lagi menampung, sehingga melarang masuk pengungsi yang baru.

(lebih…)

Rohingya dan Analisis Geopolitik & Ekonomi-Politik

Myanmar oil and gas pipeline

Beberapa kali saya tulis (baik di FB, FP, maupun buku), dalam menganalisis konflik itu ada 4 faktor yang harus diteliti, dua di antaranya yang terpenting adalah trigger (pemicu) dan pivot (akar). Dua faktor ini sering dicampuradukkan, yang trigger dianggap sebagai akar konflik dan orang berputar-putar berdebat di sana.

Konflik Rohingya kalau dipetakan, ada dua lapis: lapisan pertama atau permukaan-nya diframing sebagai konflik agama. Pasalnya, si pelaku beragama Buddha (yang ekstrimnya, tentu saja, tidak bisa digeneralisasi; tokoh-tokoh Buddha di Indonesia sudah berlepas diri dari para ekstrimis ini), dan si korban beragama Islam. Lapisan pertama ini yang sering digoreng sebagian pihak di dalam negeri untuk kepentingan politik dan uang. (Penjelasannya, baca lagi status saya sebelumnya [1])

Di sisi lain, rekam jejak biksu Wirathu yang secara provokatif membangkitkan kebencian kepada Muslim juga tidak bisa dipungkiri. Artinya, memang ada upaya pihak-pihak ekstrim di Myanmar yang memanfaatkan agama untuk mengeskalasi konflik. Tapi, ini BUKAN AKAR, ini adalah TRIGGER, pemicu.

Pemicu itu adalah sesuatu yang bikin publik marah lalu menjustifikasi kekerasan. Samalah seperti orang yang demen jihad di Indonesia, lihat foto-foto bocah berdarah di Suriah, langsung teriak jihad lawan Syiah, padahal ternyata foto hoax.

Lalu, akarnya di mana? Mereka yang terbiasa untuk menggunakan perspektif ekonomi-politik dan geopolitik dalam menganalisis konflik, sambil merem pun sudah menduga kuat bahwa pasti ada faktor kekayaan yang sangat besar di sana, yang sedang diperebutkan. Inilah analisis lapisan kedua-nya, yang lebih dalam.

Sepintas ini seolah tulisan konspirasi. Tapi tunggu, saya jelaskan dulu, dengan mengupas kasus Timteng karena saya memang lebih consern di Timteng.

(lebih…)

Pesan-Pesan untuk Kalian (Tentang Rohingya)

THAILAND-SEASIA-MIGRANTSBerikut ini pesan saya untuk 3 pihak:

-yang pingin jihad ke Myanmar
-yang pingin nyumbang dana
-yang bilang “kalian tu nyebelin sih, ga beradab, pantesan aja diusir melulu”

A. Buat yang ngotot ingin berjihad ke Myanmar

Marah? Harus dan wajar. Namun nalar dan akal sehat jangan sampai menguap dari didihan darahmu.

Tak pernahkah kau berpikir, sekali menjejakkan kaki di sana dengan tujuan ‘mulia’ itu, engkau praktis di bawah komando sesuatu yang bukan dalam kuasamu?

Mampukah engkau menolak perintah untuk berbuat kerusakan di luar tujuan kedatanganmu? Bisakah engkau sekonyong-konyong pulang kapanpun kau mau?

Konflik Syria adalah blueprint dari pola ini. Puluhan ribu ‘jihadis’ asing berbondong-bondong tiba ke Syria, dengan niat ‘menolong’ – namun mereka malah menyebabkan kondisi menjadi semakin parah.

(lebih…)

Rohingya dan Komoditas Politik Domestik

biksu-ashin-wirasthuTulisan terbaru saya di Geotimes

“Mereka [orang Burma] mengatakan, jika kamu menyebut diri Rohingya, kamu akan dilempar ke laut!” kata seorang pria Rohingya, seperti diceritakan jurnalis Emanuel Stoakes yang mengunjungi kamp pengungsi di Sittwe, Provinsi Rakhine, 2013.

Dalam pernyataan itu terkandung akar konflik Rohingya di Myanmar. Pemerintah Myanmar sejak deklarasi kemerdekaan 1948 menolak memberikan status warga negara kepada etnis Rohingya. Mereka selalu menyebut orang-orang Rohingya sebagai orang ‘Bengali’ yang seharusnya menjadi warga Bangladesh, bukan Myanmar. Hal ini bertentangan dengan fakta bahwa selama berabad-abad etnis Rohingya telah hidup di tanah yang kini bernama Myanmar itu.

Status stateless (tak punya negara) yang dialami 140.000 orang Rohingya membuat segala hak-hak kemanusiaan mereka terabaikan. Etnis Rohingya adalah salah satu dari beberapa suku minoritas di Myanmar yang menderita penindasan dan diskriminasi dari junta militer Myanmar yang didominasi suku Burma. Del Spiegel pada tahun 2007 melaporkan bagaimana kondisi salah satu suku minoritas yang mengalami penindasan itu, yaitu suku Karen yang mayoritas beragama Kristiani.

Selanjutnya:   https://geotimes.co.id/kolom/internasional/rohingya-dan-komoditas-politik-domestik/

Rohingya dan Kita (1-2)

Berikut ini copas dari 2 status facebook saya, mengenai Rohingya.

Bagian 1

Sejumlah orang menanyakan pendapat saya mengenai kasus Rohingya. Berikut ini beberapa poin pemikiran saya, sebagian pernah saya tulis di paper saya yang diikutsertakan dalam konferensi internasional, “Debating ‘National Interest’ Vis A Vis Refugees: Indonesia’s Rohingya Case”, sebagian pernah saya tulis di blog.

Sejak awal deklarasi kemerdekaan Myanmar tahun 1948 (semula dijajah oleh Inggris), negeri tersebut sudah memiliki konflik antaretnis, karena etnis Burma yang merupakan 2/3 dari populasi mendominasi 100-an etnis lainnya, seperti etnis Shan, Karen, Rakhine, Rohingya, Kachine, dan Mon.

Menurut keterangan narasumber penelitian saya saat menulis paper tentang Rohingya, secara umum, umat Islam baik-baik saja di Myanmar, ada masjid-masjid yang berdiri di sana, dan umat Muslim bisa beribadah dengan aman. Yang jadi masalah adalah: etnis Rohingya yang ‘kebetulan’ Muslim adalah etnis minoritas yang tidak diakui sebagai warga negara Myanmar. Akibat status ‘stateless’ ini, mereka mengalami diskriminasi dan penindasan. Suku Kachin dan Karen juga mengalami penindasan dari rezim Myanmar, agama mereka umumnya Kristiani.

(lebih…)

Tim Jihad Washington

Artikel yang ditulis Andre Vltchek ini menarik untuk dibaca. Andre mewawancarai banyak orang selain saya, antara lain seorang alumni “jihad” Afghanistan. Penuturan si alumni ini memperlihatkan pola yang sama dengan ‘jihad’ Suriah: dulu dia pergi ke Afghanistan karena konon katanya warga Muslim diserang oleh kaum komunis; sekarang kelompok yang sama ‘jihad’ ke Suriah karena konon warga Sunni dibantai Syiah. Kloter yang terakhir ini yang bikin repot, ketika ISIS keok di Suriah, mereka harus dibiayai pulang ke Indonesia dan harus pula dibiayai untuk ikut program deradikalisasi (entah ada manfaatnya atau tidak).

Silahkan baca di sini: Washington’s Jihadi Express: Indonesia-Afghanistan-Syria-Philippines

Ini pernyataan saya yang dikutip Andre:

“Jihad in Indonesia – against the Western imperialism? Oh no, no way…” smiles Dina Y. Sulaeman, an Indonesian political analyst, an author of the book “Salju Di Aleppo” (Snow of Aleppo):

“Jihad in which Indonesians want to participate is based on hate… In my book, I explain that the Indonesian fighters in Syria are mainly affiliated with several groups: ‘Ikhwanul Muslimin’, ‘Hizbut Tahrir’ and Al Qaeda/ISIS. Unfortunately these groups have supporters in Indonesia. They keep spreading fake photos and videos about Syria, to ignite sympathy, even anger of Indonesian people, so they give donations or even join jihad. It’s a good deal for them. They are waging ‘holy war’, they’ll go to heaven, and plus they get paid. They accuse president Assad of being ‘infidel’. That’s their rallying cry.”

“Indonesian mass media ‘coverage’ is only directly translating what is said by the Western media: the CNN, the BBC and others…. If not those, then at least Al-Jazeera which is often even worse… As a result, Indonesians are ‘very concerned’ about Syria.’ Of course, in my books I’m trying to correct the misconceptions, but the propaganda apparatus is so powerful.”

Palestina: Selalu Ada Buah Busuk dalam Keranjang

Joko Widodo, Mahmoud AbbasKalau kita membahas perjuangan kemerdekaan Indonesia, apa yang Anda bayangkan? Heroisme para pejuang, kan? Terbayang gak, kalau di antara para pejuang kemerdekaan itu ada orang-orang yang brengsek? Ah, rasanya gak mungkin!

Tapi coba baca catatan peneliti sejarah, kang Hendi Jo dalam bukunya “Zaman Perang”. Di situ Anda akan temukan bahwa jalannya perang tidaklah hitam putih. Selalu ada tokoh antagonis di pihak terjajah, selalu ada tokoh protagonis di pihak penjajah. Anda bisa baca juga catatan-catatannya di Facebook. Misalnya, ini saya kutip:

(lebih…)

Jawaban untuk Pembela Israel (File PDF)

palestine-oppressionMenyusul bentrokan, aksi kekerasan, dan tindakan diskriminatif yang dilakukan oleh tentara Israel terhadap warga Palestina di kawasan Al Aqsha pada Juli 2017, Direktur ICMES, Dr. Dina Y. Sulaeman menulis serangkaian tulisan mengenai konflik Palestina-Israel di laman Fanpage-nya.

Berikut ini kompilasi tulisan tersebut, yang isinya adalah membongkar cacat logika (falasi) para pembela Israel, mengupas sejarah konflik, serta mengajukan solusi yang mungkin diambil, dengan berbasis data dan perspektif studi HI (bukan berdasarkan klaim teologis).

Silahkan unduh file-nya di sini: PALESTINA ADALAH KITA

Simak juga wawancara Dr. Dina Y. Sulaeman dengan Metro TV mengenai konflik ini.

Mengapa Mereka Membenci Patung?

patung

Patung dewa di kompleks kelenteng Tuban ditutupi kain setelah diprotes sebagian pihak

 

Kasus ‘penolakan’ terhadap patung-patung yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia, menurut saya, adalah sebuah alarm tentang menguatnya sebuah ideologi yang mengerikan, di tengah masyarakat kita. Mungkin baru alarm, baru gejala.

Orang bisa saja mengabaikan dan berkata, “Ah itu sih segelintir orang ekstrim saja!” Tapi kalau dibiarkan, dan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas masalah ini (misalnya Dirjen Kebudayaan) tidak mengambil tindakan yang signifikan, dampaknya bisa mengerikan. Hal ini dapat kita pelajari dari fenomena di Timur Tengah.

Pada Desember 2013, Robert Fisk, jurnalis dari The Guardian melaporkan bahwa Al Qaida Suriah (Jabhah Al Nusra) telah menghancurkan situs-situs bersejarah. Patung penyair Abu Tammam Habib ibn Aws di Daraa diledakkan, patung penyair al-Ma’arri, dipenggal kepalanya. Patung Harun Al Rasyid di Raqqa pun tak luput dari ‘pembantaian’ mereka. Makam Hujr ibn Adi (salah satu sahabat Rasulullah SAW) di pinggiran Damaskus dibongkar. Sebatang pohon tua berusia 150 tahun di kota Atmeh pun menjadi korban: ditebang habis. Seorang “jihadis” mengatakan kepada wartawan Perancis bahwa pohon itu ditebang karena sudah jadi sesembahan warga. Jadi, inilah “jihad” mereka: menggorok leher orang-orang ‘kafir’ Suriah, membasmi patung, makam, dan pohon.

Lalu Fisk menulis, “Tetapi, bukankah ini cerita lama? Bukankah dulu Taliban juga menghancurkan patung Buddha di Bamiyan, sebagaimana rezim Saud membongkar bangunan-bangunan kuno di Mekah; seperti juga para ‘Islamis’ yang menghancurkan makam-makam di Pakistan? Belum lagi bila kita sebut penghancuran di Timbuktu.”

(lebih…)

New Release 2013

prahara suriah

New Release (2013)

"dokter cilik"
obama
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
"pelangi di persia"