Kajian Timur Tengah

Arsip 2007 ~ Sekarang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 6.105 pengikut lainnya

Bocah di Kursi Oranye dan NFZ

orange boyKompilasi status FB
Alih-alih memberikan jawaban yang logis untuk menjawab argumen-argumen yang saya berikan, mereka malah sibuk menghujat, membully, dan bahkan membuat meme yang menggunakan foto saya dan anak saya.
Kalian ikhwan akhwat soleh/ah, ga ingat sama akhiratkah, kok berani-beraninya berbuat demikian? Semoga kalian gak kaget kelak catatan amal kalian kosong karena sudah ditransfer ke saya.
Berikut ini video tentang White Helmets, “aktor” dalam video bocah di kursi oranye. Mereka menampilkan diri sebagai relawan, tapi sebenarnya mereka adalah jihadis/teroris yang berganti baju dari hitam menjadi rompi&helm putih. Dalam video ini terlihat mereka membawa senjata (relawan bawa senjata?), atau mereka berteriak-teriak Allahu Akbar di tengah para jihadis/teroris berbaju hitam. Atau, setelah seorang jihadis/teroris melakukan eksekusi mati pada seseorang, langsung anggota WH datang dan membungkus jasad korban (jadi, WH ada di tempat itu saat eksekusi mati). Atau WH berpose bersama mayat-mayat tentara Suriah.

Kisah Bocah di Kursi Oranye

aleppoCopas Status FB

Baca timeline pagi-pagi, banyak yang share foto bocah Suriah yang disebut sebagai korban bom. Berita ini disebarluaskan media Barat (dan diberitakan ulang berbagai media Indonesia).

Sekedar memberikan berita pembanding, silahkan baca analisis di sini

Beberapa poin yang saya ambil dari artikel tsb:
1. Di artikel ini ada analisis foto dan video, serta pembandingan dengan foto seorang anak yang ‘asli’ korban bom tapi tidak diberitakan luas.
2. Jurnalis yang disebut mengambil foto si bocah (Omran Daqneesh) bernama “Mahmoud Raslan”, tapi jika di-google, tidak ada rekam jejak karyanya yang lain.
3. Beberapa keanehan: si bocah terlihat dibawa ke dalam ambulan yang baru (in a brand new, very well equipped ambulance). Ada sekitar 15 pria berdiri di tempat itu dan tidak melakukan apapun (perhatikan: mrk katanya berada di lokasi yang “baru saja dibom”, tidak takut ada bom susulan?). Minimalnya ada 2 laki-laki disamping si videografer yang mengambil foto/video.
4. Di video diperlihatkan bahwa relawan yang menolong adalah White Helmets yang baru-baru ini mengajukan diri untuk menjadi pemenang Nobel Perdamaian 2016 (baca tulisan saya sebelumnya ttg siapa funding WH dan bahwa personel WH tak lain dari “jihadis” Al Qaida/Al Nusra yang berganti baju).

(lebih…)

Sejarah yang Berulang, Dari VOC ke IMF

VOC

medali VOC (sumber foto: huiberts.info)

Di bawah ini saya copas tulisan Sofia Abdullah di facebooknya. Sofia tekun sekali menelaah buku-buku sejarah dan naskah-naskah kuno, beberapa tulisannya pernah saya baca di media online. Tulisannya berikut ini memberi perspektif baru tentang sejarah Indonesia, menarik sekali. Antara lain, bahwa sebenarnya VOC adalah perusahaan multinasional yang menghalalkan segala cara demi meraup keuntungan sebesar-besarnya. Jadi, yang menjajah Nusantara pada awalnya bukan Belanda, melainkan korporasi global.

 

Sejarah berulang hingga kini, ketika kita secara lahiriah merdeka, tapi sejatinya sedang terjajah oleh korporasi global (bukan cuma Indonesia, tetapi juga kebanyakan negara-negara berkembang lainnya). Tengok saja bagaimana perilaku korporasi global hari ini yang memonopoli perdagangan dunia dengan cara-cara kasar, antara lain:
-melobi para politisi untuk meloloskan UU yang menguntungkan mereka; dana pembuatan UU itu pun digelontorkan oleh “lembaga sosial” yang sebenarnya perpanjangan tangan korporasi (baca buku Kudeta Putih, Hadi, et al)
-menggunakan kekuatan IMF dan Bank Dunia untuk memaksakan proyek-proyek yang sebenarnya tidak urgen, dan hanya membuat bangsa-bangsa terjerat utang semakin besar (baca buku John Perkins)
-memaksakan aturan-aturan di WTO agar sesuai dengan kepentingan mereka (baca buku Power in Global Governance, Barnet et al,)

Sedikit info ttg IMF: pemilik saham terbesar dalam IMF adalah AS, Jepang, Jerman, Inggris, dan Prancis (disebut G-5). Kekuatan dominasi G-5 terlihat jelas ketika sebuah negara meminjam uang kepada IMF. IMF baru mengucurkan dana pinjaman bila negara itu telah melaksanakan syarat-syarat yang ditetapkan IMF: mencabut subsidi, meningkatkan pajak, liberalisasi pasar, dan meningkatkan suku bunga. Semua persyaratan itu ujung-ujungnya hanya menguntungkan negara-negara pemegang saham terbesar di IMF dan Bank Dunia (keduanya saling bersekutu; oleh Stiglitz disebut sebagai “pilar globalisasi/pasar bebas”; untuk bisa ngutang di Bank Dunia harus jadi anggota IMF). (Baca: Brics, G20, IMF)

Jadi, terlihat ya, bahwa sejarah itu berulang?

==

Hebatnya Indonesiaku!!

Oleh Sofia Abdullah

Selama bertahun-tahun disekolah, kita di beri pemahaman bahwa Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun!! Entah darimana awalnya pernyataan salah kaprah ini, karena negeri Belanda-nya saja baru resmi terbentuk tahun 1815!! (lih. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Netherlands)

350 tahun adalah masa kedatangan bangsa Eropa ke negeri ini, karena sifat mereka yg kasar, Rasis dan ingin menguasai pasaran, penduduk nusantara spontan tidak menyukai mereka dan pada umumnya mengambil sikap bermusuhan. Namun ada juga beberapa bangsa Eropa yg awalnya diterima oleh beberapa penguasa di tanah air karena sikap mereka yg sopan dan menunjukkan sikap mau bekerja sama.

(lebih…)

Perempuan Israel

Copas status FB

peledSeorang profesor perempuan Israel bernama Nurit Peled Elhanan aktif menyuarakan penghentian pendudukan Palestina sejak putrinya, Smadar, 13 tahun, tewas akibat bom bunuh diri di Jerusalem, September 1997. Alih-alih membenci orang Palestina, justru muncul kesadaran dalam diri Elhanan, bahwa berbagai kekerasan yang terjadi di Palestina-Israel bersumber dari pendudukan dan kebrutalan militer Zionis sendiri.

Pada 2007, dia pernah berpidato yang isinya menggetarkan, dan membuktikan bahwa semua manusia sudah dikaruniai fitrah yang sama oleh Tuhan, fitrah kemanusiaan dan kasih-sayang. Namun kemudian faktor-faktor eksternal (antara lain, pendidikan yang salah) menutupi fitrah dalam diri sebagian orang sehingga menjelma menjadi makhluk-makhluk yang kejam.

Berikut terjemahannya, saya salin dari buku saya, Ahmadinejad on Palestine.

(lebih…)

Pasar Bebas VS Keimanan

Copas Status FB

globalization-pictureDi grup WA/FB berseliweran tulisan yang tesis intinya “melawan pasar bebas dengan keimanan dan menjauhi kemalasan”. Tadinya mau diam saja, tapi lama-lama yang ga tahan juga. Maaf kalau ada teman-teman yang tersinggung dengan tulisan ini. Tapi saya merasa perlu menyampaikan pendapat saya, kebetulan disertasi saya ya seputar masalah ini juga.

Begini, kalau mau bicara globalisasi, itu bahasan ekonomi-politik, kok malah kita diceramahi soal keimanan, menjauhi rasa malas, dll? Di pasar di daerah saya, jam 2 dini hari para pedagangnya sudah jualan (baca: 2 dini hari!), baik yang jual maupun yang beli, apa pantas disebut pemalas? Mereka bekerja keras mencari nafkah, tapi karena modal yang kecil, barang yg dijualbelikan impor (misal, bwbg putih, cabe, bahkan garam, impor), keuntungan terbesar diraih importir, bukan penjual di pasar, bukan pula konsumen. Tetangga saya ketika cabe melonjak tinggi, ya ga beli cabe. Apa dia malas, sampai ga mampu beli cabe? No, dia kerja jadi guru honorer di SMA dg honor 250rb sebulan (saya ga salah ketik), suaminya satpam di bank, tapi sistem outsourcing, sewaktu-waktu bisa dipecat, bergadang melulu jagain bank, dg gaji 1 jutaan. Malas? Tidak beriman?

Kalau kita liat kondisi globalisasi dg kacamata ekonomi-politik, kita akan lihat bahwa membanjirnya barang impor adalah masalah politik. Mengapa ketika petani surplus bawang, garam, atau beras, keran impor dibuka? Mentan bilang, beras cukup, tapi Mendag buka impor (ini terjadi bukan cuma jaman Jokowi, zaman SBY juga ya begini ini yang terjadi). Ini politik atau masalah keimanan?

(lebih…)

Refleksi Yaumul Quds, Persatuan Yahudi vs Persatuan Muslim

demo al quds bandung

Demo Hari Al Quds di Bandung 2011

Dina Y. Sulaeman*

AS dikuasai oleh kaum Yahudi, fakta ini sudah banyak diketahui dan diterima orang. Meski jumlah Yahudi hanya 5% dari total penduduk AS (sekitar 5 juta orang) tetapi mereka menguasai mayoritas bisnis dan finansial di AS. Bahkan The Fed yang berkuasa mencetak mata uang dollar (dan pemerintah AS harus membeli dollar kepada the Fed) sebenarnya adalah konsorsium bank-bank milik Yahudi.

Namun, bagaimana sejarahnya sampai Yahudi bisa berkuasa di AS, dan akhirnya menancapkan kekuasaan bisnis di seantero dunia?

Buku ‘The International Jew’ yang ditulis mendiang Henry Ford menceritakan sejarahnya. Berikut ini beberapa kutipan dari buku tersebut.
(lebih…)

Dunia Kita (3)

bilderberg1Repost FB

Tulisan ini [bagian terakhir, sudah ya, habis ini beneran saya off FB sampai lebaran] akan membahas mengenai anggota Imperium. Yang dimaksud Imperium adalah korporasi-korporasi raksasa dunia + politisi elit dunia yang memiliki kekuasaan untuk mengatur dunia melalui kekuatan ekonomi-politik raksasa yang mereka miliki. Nah, mereka ini saling terkoneksi dan bertemu secara teratur setahun sekali di sebuah konferensi yang disebut Bilderberg.

Sebentar, sebelum muncul tuduhan ini bakal menjadi tulisan ala teori konspirasi, saya pastikan informasi yang saya tuliskan bersumber dari media-media sekuler (the Guardian, BBC, artikelnya Pepe Escobar, dll) yang semata-mata mengait-ngaitkan berbagai fakta dengan cara rasional. Btw, konspirasi itu sebenarnya sesuatu yang ‘wajar’. Konspirasi adalah kesepakatan di balik layar, dan hampir semua tahu, para politisi pasti melakukan sangat banyak konspirasi. Bahkan di olahraga pun kadang ada konspirasinya (misalnya mengatur skor). Yang salah adalah kalau ujug-ujug menuduh konspirasi tanpa argumen yang jelas, hanya mencocok-cocokkan.

Jurnalis Pepe Escobar, menulis, “Jadi apa yang dibicarakan 150 orang elit, 2/3-nya dari Eropa Barat, sisanya dari AS? Dapat diprediksi, yang dilakukan para menteri keuangan dan CEO dari mega-korporasi itu adalah ‘memelihara sistem dunia’ atau ‘turbo-financial capitalism’, dan perlunya mengubah beberapa hal kecil, sehingga sebenarnya tidak ada perubahan sama sekali [dalam sistem dunia].”

(lebih…)

Dunia Kita (2)

dunia kitaDi tulisan  “Dunia Kita (1), saya memberi link ke artikelnya Andre Vltchek (ia minta Rusia dan China untuk menyelamatkan Venezuela yang hampir tumbang dikuasai oleh Imperium). Jadi, secara global, ada negara-negara yang posisinya berlawanan dengan Imperium, yang terbesar dan terkuat adalah Rusia dan China. Di Timteng, Iran, Irak, Suriah, dan Hizbullah pun bersekutu dengan kedua kekuatan ini.

Pertanyaannya: Apa artinya kalau mau melawan Imperium, Indonesia juga harus bersekutu dengan China? Siapa yang jamin Indonesia akan jaya kalau kerjasama dengan China? Konon produk/proyek China di Indonesia banyak yang ga mutu [ini KONON ya, saya tidak mendalaminya]. Lalu, China juga mendatangkan pekerja dari China, padahal Indonesia surplus tenaga kerja (misal: kasus PLTU di Bali).

Cara melihatnya begini:

(1) Di tataran global, perlu diakui, memang Rusia dan China adalah dua negara yang punya kekuatan untuk melawan Imperium. Tak ada pilihan lain bagi negara-negara yang lebih kecil yang dalam keadaan terjepit, selain bekerja sama dengan keduanya. Misalnya, Iran dan Suriah; mereka melawan Imperium sendirian jelas sangat sulit. Sejauh ini Iran dan Suriah berkali-kali sudah ditolong oleh Rusia dan China lewat kekuasaan veto di PBB. Kalau dua negara besar itu tidak melakukan veto, NATO sudah dari kemarin-kemarin menyerbu Suriah (sebagaimana yang terjadi di Libya, hanya dalam hitungan hari, Qaddafi sudah tumbang diserbu NATO). Kalau Rusia tidak terjun langsung ke medan perang ‘menjaga’ Suriah, mungkin NATO (yang sebenarnya juga sudah menyerang Suriah, namun alasannya untuk membasmi ISIS) juga sudah merebut Damaskus.

(lebih…)

Dunia Kita

konflik timtengRepost Status FB

Umat Islam Indonesia yang baperan selalu merasa mereka adalah korban dari ‘kekuatan besar di luar sana’ yang anti-Islam. Padahal, di saat yang sama, kalau mau objektif melihat, justru orang-orang berjubah dan berpenampilan saleh-lah yang membawa agenda ‘kekuatan besar di luar sana’ untuk mengacaukan negeri ini. Lihat saja medsos kita penuh oleh perdebatan soal halal-haram, kafir-muslim, sementara hal-hal fundamental jadi terabaikan. Misalnya saja, perdebatan orang soal Ahok, karena diseret ke isu kafir-muslim, sentimen yang muncul menjadi tidak akurat lagi. Kasus-kasus reklamasi (kaitannya dengan lingkungan dan nasib nelayan, tidak hanya di Jakarta, tapi di seluruh Indonesia) yang sebenarnya berakar dari kerakusan para pemilik kapital, sulit terbahas dengan objektif, karena selalu ada unsur sentimen/kepentingan.

Dan sejatinya, seluruh konflik di dunia ini memang muncul akibat kerakusan para pemilik kapital global. Mereka ini sering diistilahkan sebagai ‘imperium’, atau sering juga langsung disebut “Amerika” [sebagai negara representasi imperium, negara yang paling depan menjalankan proyek-proyek Imperium] atau “Barat”. Saya akan pakai istilah Imperium.

(lebih…)

Kisah Mereka yang Buta Geopolitik

geopoliticsRepost status FB

Dalam sebuah forum yang bikin saya geregetan itu, si pembicara ‘lawan’ saya (orang ANNAS, doktor lho, ckckck) mengatakan begini, “Kalau benar Iran melawan Israel, mengapa tidak ada satu peluru pun dikirim Iran ke Israel?

Pertanyaan yang buta geopolitik ini sebenarnya dapat dengan mudah dijawab, namun moderator langsung menutup acara tanpa memberikan kesempatan kepada saya untuk menanggapi.

Orang itu mungkin pura-pura lupa bahwa Iran selama ini mengirimkan bantuan senjata dan dana ke Hamas dan para pejuang Palestina. Selain itu, bila negara-negara Arab, terutama yang berbatasan darat dengan Palestina, tidak mau mengirim senjata ke Palestina, apalagi berperang langsung melawan Israel, tentu sangat konyol bila Iran harus mengirim pasukan ke Palestina yang jauhnya 1500 km dari Teheran. Belum sampai ke Palestina, pesawat Iran tentu sudah ditembak jatuh oleh negara-negara Arab sekutu Israel. Atau, oleh tentara AS yang bercokol di pangkalan militernya di Saudi, Qatar, Bahrain, UAE, Turki, dan Mesir.

Belum lagi masalah dana. Saudi yang kaya raya aja sekarang kocar-kacir ekonominya gegara menyerang Yaman dan mendanai mujahidin asing menyerang Suriah (IMF memprediksi, dalam 5 thn ke depan Saudi akan kehabisan uang). Trus, Iran yang GDP-nya bahkan lebih rendah dari Indonesia, dan bujet militernya hanya 7 M USD pertahun (doktrin militernya pun defensif), elu suruh perang head to head melawan Israel yang bujet militernya 15 M USD pertahun dan didukung semua negara Arab (kecuali Suriah-Lebanon) + AS-Prancis-Inggris. Memangnya perang itu kalkulasinya pake dengkul ya, bukan pake otak?!

Mungkin benar kata orang bijak, kebodohan memang tak ada batasnya.

–dialog berikut ini aslinya saya dapat dari WA lalu saya adaptasi:

ANDA SEHAT?

A: Iran itu sekutu Zionis!
B: Apakah Anda temukan kedubes/konsulat Israel di Iran?
A: Tidak
B: Apakah ada konsulat Saudi di Israel?
A: Sudah ada rencana dan tandatangan MoU untuk itu.
B: Apakah ada pangkalan militer Amerika di Iran?
A: Tidak
B: Apakah ada pangkalan militer AS di Saudi?
A: Ada
B: Arab Saudi dibantu Israel dan Amerika menyerang Yaman. Sementara Iran membantu tentara Yaman membela tanah airnya. Arab-AS menyuplai senjata dan dana pada mujahidin untuk menghancurkan Suriah, sedang rumah sakit Israel merawat para mujahidin yang terluka biar bisa perang lagi. Sementara, Iran membantu tentara Suriah mempertahankan tanah airnya. Jadi, siapa yang bekerjasama dengan Zionis?”
A: Iran
B: ANDA SEHAT???

Kalau mau baca lebih jauh kalkulasi perang Iran-Israel: https://dinasulaeman.wordpress.com/2012/11/21/mengapa-iran-tak-serang-israel/

New Release 2013

prahara suriah

New Release (2013)

"dokter cilik"
obama
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
"pelangi di persia"