Arsip 2007 ~ Sekarang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.615 pengikut lainnya.

Mengapa ISIS Membenci Naskah Kuno?

Saat berdiskusi dengan seorang dosen filologi, saya jadi sadar betapa berharganya naskah kuno bagi sebuah bangsa. Bahkan eksistensi bangsa itu bisa terjaga bila naskah kunonya dijaga dan dipelajari.

Misalnya saja, dari Surat Emas Raja-Raja Nusantara, terbukti bahwa selama lebih dari empat ratus tahun, raja-raja di Nusantara menulis surat dalam bahasa Melayu dengan huruf Jawi (Huruf Arab-Persia) kepada para raja di luar negeri. Salah satunya,  surat Sultan Iskandar Muda dari Aceh pada tahun 1615, yang ditujukan kepada Raja James I. Perhatikan: surat itu tidak dalam bahasa Inggris. Artinya, para raja dan pembesar di mancanegara-lah yang harus mempelajari bahasa Melayu. Artinya, saat itu, siapa yang lebih dominan dan lebih berkuasa? Jelas nenek moyang kita, bangsa Melayu. Dan keunggulan budaya itu tentu tidak ujug-ujug muncul tahun 1600-an itu, pasti ada proses panjang yang mendahuluinya.

Lalu, mengapa situasinya kini sangat berbalik? Mengapa yang disebut-sebut sebagai budaya ‘nenek moyang kita’ bukan budaya yang unggul ini; yang pasti membuat rasa nasionalisme dan rasa bangga sebagai Indonesia membuncah, dan akan memicu keberanian saat bernegosiasi dengan bangsa lain. Tidak seperti sekarang: orang Indonesia cenderung inferior di hadapan orang Barat.

(lebih…)

Balada Republika dan Piyungan :)

Tanpa saya duga, surat terbuka saya yang saya tulis dengan penuh rasa hormat pada Ust Arifin Ilham (karena saya suka pada amalan-amalan dzikir), menyebar cukup luas di media sosial & online. Dari blog ini saja dalam 2 hari sudah dishare 10.000 kali lebih via FB. Setelah itu, barulah muncul info-info, bahwa memang ada ‘perubahan’ pada diri beliau. Di antaranya, ada yang kasih liat video beliau berteriak “jihaaad!!” dengan mimik wajah yang membuat saya kaget. Lebih kaget dibanding saat membaca berita ini (yang jadi referensi utama saya saat nulis surat terbuka itu). Laa hawlaa wa laa quwwata illa billah… semoga Allah menjaga negeri ini supaya tetap damai.

Dari sekian banyak komentar, tanggapan, baik yang mendukung maupun mencaci-maki saya, yang ingin saya komentari cuma dua hal: Republika dan PKS Piyungan. Pertama, Republika. Menarik sekali, tanpa saya minta (lha emang siapa saya sampai bisa ‘meminta’), Republika memuat utuh surat saya itu. Link-nya juga sudah tersebar, saya sempat SS salah satu yang diposting teman:

Capture-republika

Jejak di Google juga masih ada:

google

Kemarin, surat itu seharian bertengger di deretan teratas top-five (artinya, terbanyak dibaca). Pagi ini saya mendapat informasi, isi surat itu sudah dihapus oleh Republika. Silahkan saja coba klik http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/02/17/njvnlg-soal-syiah-ini-surat-terbuka-untuk-ustaz-arifin-ilham

Pertanyaannya: mengapa dihapus? Pembungkaman suara? Pemberangusan kritik? Hegemoni kuasa dalam pembentukan narasi? Jawab saja sendiri, ini pertanyaan yang sangat mudah dijawab.

(lebih…)

Surat Terbuka Untuk Ustadz Arifin Ilham

Yang saya hormati, Ustadz Arifin Ilham,

Assalamualaikum ww. Perkenalkan, saya Dina Y. Sulaeman, seorang ibu rumah tangga biasa, yang senang belajar dan menulis. Kecintaan saya untuk menuntut ilmu mendorong saya untuk kuliah lagi di program doktor Hubungan Internasional; sama sekali tak ada karir yang menuntut saya untuk itu. Tulisan-tulisan saya selama ini, kelihatannya cukup banyak diapresiasi orang; dalam arti, bukan tulisan ngawur. Bahkan ada tulisan saya yang sempat dimuat di majalah Az-Zikra yang Antum terbitkan, Ustadz.

Hanya saja, sejak saya aktif memberikan penjelasan tentang bagaimana sebenarnya konflik Suriah, saya tiba-tiba dimusuhi oleh kelompok-kelompok radikal pro-jihad Suriah. Dan tiba-tiba saja, seorang ibu rumah tangga seperti saya mendapat ‘kehormatan’ dinobatkan jadi “Tokoh Syiah Indonesia” oleh media-media pro-jihad Suriah, yang pemiliknya adalah teman-teman Antum sendiri, Ustadz. Meskipun isi artikel berjudul Tokoh Syiah itu fitnah, tapi setidaknya tiba-tiba saja ada gelar ‘tokoh’ dilekatkan kepada saya. Siapa tahu gelar ini (meskipun ngawur), membuat saya dianggap sah untuk lancang menyurati seorang tokoh besar seperti Antum.

Ada pesan penting yang ingin saya sampaikan kepada Antum, Ustadz. Tolong, ingatlah lagi kronologi konflik Suriah, dengan mengaitkannya pada konflik Libya. Mengapa? Karena saya tahu, Antum sangat dirugikan oleh konflik Libya. Saya baca berita tahun 2011, bantuan dari Libya untuk yayasan Antum terputus gara-gara perang.

Saya juga beberapa kali menulis tentang Libya. Salah satu pegangan utama saya adalah kata-kata antum di Facebook, Ustadz, yaitu bahwa sesungguhnya Presiden Qaddafi adalah seorang hafiz Quran dan sangat consern pada Islam. Ini yang antum tulis waktu itu Ustadz:

“Alhamdulillah, sudah 3 X ke Libya, & 2 X sholat berjamaah di lapangan Moratania & Lapangan Tripoli sholat berjamaah yg dihadiri 873 ulama seluruh dunia & rakyat Libya, dg Imam langsung Muammar Qoddafy, bacaan panjang hampir 100 ayat AlBaqoroh, sbgn besar jamaah menangis, sebelumnya syahadat 456 muallaf dari suku2 Afrika, & dakwah beliau sll mengingatkan ttg ancaman Zionis & Barat, Pemimpin Arab boneka AS, selamatkan Palestina, Afghan & Irak…inilah kesanku pd almarhum, sahabatku FIllah.”

Pernyataan Antum itu mematahkan tuduhan kaum ‘mujahidin’ Libya (yang disebarkan juga oleh media-media pro-jihad di Indonesia) bahwa Qaddafi adalah thoghut, kafir, musuh Islam; dan membuktikan kebohongan gerakan jihad mereka.

Saat konflik Libya baru meletus, data yang bisa saya dapat sangat sedikit, karena terhambatnya arus informasi dari sana (tapi kemudian segalanya menjadi jelas setelah ada jurnalis-jurnalis independen yang nekad masuk ke sana dengan taruhan nyawa). Di awal, saya pakai data-data dari PBB, bahwa HDI dan GDP Libya adalah tertinggi di Afrika (artinya, Libya adalah negara yang sangat-sangat makmur). Kesaksian beberapa orang yang pernah di Libya juga menambah keyakinan saya bahwa data ini sama sekali tidak cocok dengan skenario ‘gelombang demokratisasi’. Terlepas dari keburukan alm. Qaddafi (yang digambarkan media massa Barat, jadi saya tidak tahu pasti benar-tidaknya, Antum yang lebih kenal alm. Qaddafi, Ustadz), fakta tak terbantahkan adalah beliau menggunakan kekayaan alam untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

(lebih…)

Catatan Tentang Mereka yang “Cuci Tangan”

Kenji Goto

Pagi ini terpaksa mengawali hari dengan membaca berita mengerikan: pilot Jordania dibakar hidup-hidup oleh ISIS. Dan sialnya, saya sempat membaca komen dari suporter “mujahidin” Indonesia: tabayun dulu, siapa tahu itu foto hoax, kalaupun itu benar, siapa yang jamin itu orang Islam yang melakukannya, berita dari media Barat jangan dipercaya…

Stupid comments, as always.

Hari ini, para suporter mujahidin (saya tak perlu sebut nama-nama harakah-nya, Anda pasti sudah tahulah, ormas dan partai mana yang dulu sering berkoar-koar mendukung “jihad” di Suriah) sekarang cenderung tiarap, diam, pura-pura tak tahu, dan mengaku tak ada kaitan dengan ISIS (atau berlindung di balik teori : Ini semua konspirasi Israel dan AS!) Jangankan hari ini, saat ISIS sudah sedemikian brutal secara terang-terangan, dulu pun ketika “jihad” sudah hampir dipastikan tidak bisa menumbangkan Assad, mereka sudah berusaha cuci tangan: “mereka yang berjihad di Suriah itu atas nama pribadi” (bukan atas nama harakah).

Tapi tentu saja, tangan berdarah mereka (baik secara langsung di medan perang, ataupun melalui kata-kata di media sosial, media cetak, dll) tidak bisa menghapus catatan dokumentasi, catatan sejarah.

Bahkan sejak sebelum ISIS “terkenal”, sebelum Al Baghdadi mendeklarasikan diri secara terang-terangan, metode pembantaian barbar ala abad pertengahan sudah dilakukan oleh ‘mujahidin’. Dan waktu itu, para suporter masih berkoar-koar soal jihad dan masih beramai-ramai menggalang dana demi para mujahidin (dan belum ‘cuci tangan’ atau ‘pura-pura tak punya kaitan’).

Salah satu dokumentasinya, pembantaian barbar yang dilakukan oleh “mujahidin’ terhadap orang-orang yang dituduh sebagai shabiha (milisi loyalis Assad) pada September 2013.  Waktu itu tak banyak muslim (Indonesia) yang protes, sebagian mungkin karena tak tahu, tapi sebagian yang lain jelas karena ideologi kebencian yang mereka miliki: ‘toh mereka Syiah, memang layak dibantai’. Jadi, catat, pembantaian ini bukan atas nama ISIS, tapi kelakuannya sama. (Artinya, jangan karena sibuk dengan ISIS, lalu melupakan kelompok ‘mujahidin’ lain -termasuk para suporternya di Indonesia- yang sebenarnya ideologinya sama). Saya tidak sanggup menaruh foto-foto kejadian tersebut, silahkan klik link ini atau ini.

Reaksi atas aksi barbar para “mujahidin” baru mulai ramai setelah pembantaian dilakukan di bawah bendera “Islamic State” dan korbannya meluas kepada orang Sunni (Sunni adalah mazhab mayoritas di Syria, sekitar 70%), Kristen, Druze, Kurdi (ini bukan agama, tapi etnis), orang Amerika, orang Inggris, Jepang, dll.

Berikut ini adalah pengakuan fotografer yang mendokumentasikan kejadian barbar di Syria bulan September 2013 itu (versi bhs Inggris dimuat di link yang saya berikan di atas):

(lebih…)

JeSuisCharlie VS JeSuisJihadMughniyah

Aslinya begini:

Israelis watch bombings of Gaza from Sderot hillside

Orang Israel menonton bombardir terhadap Gaza sambil santai , Juli 2014 (sumber foto: The Guardian)

Lalu, ada yang membuat karikatur begini dan dimuat di  The Sydney Morning Herald (SMH):

Kartun karya Glen Le Lievre

Kartun karya Glen Le Lievre

Seminggu kemudian, tanggal 15 Agustus 2014, setelah diprotes oleh kalangan pro-Israel karena SMH dianggap “Violated Standards of Practice that all press must adhere to in Australia according to the Australian Press Council in its linking of “symbols of the Jewish faith” to criticism of Israel”, SMH pun meminta maaf.

Dalam artikel berjudul “We apologise: publishing cartoon in original form was wrong”, SMH menulis: The Herald now appreciates that, in using the Star of David and the kippah in the cartoon, the newspaper invoked an inappropriate element of religion, rather than nationhood, and made a serious error of judgment.

Jadi, yang dipermasalahkan adalah penggunaan simbol bintang David dan topi kippah dalam kartun, yang dianggap melecehkan simbol keagamaan Yahudi.
(lebih…)

Charlie Hebdo dan Absurditas di Tanah Voltaire

(terjemahan: saya bukan Charlie)

(terjemahan: saya bukan Charlie)

Oleh: Dina Y. Sulaeman* (Dimuat di Sindo Weekly Magazine**, 15/1/2015)

Charb, Cabu, Wolinski dan Tignous tewas. Empat kartunis Perancis yang gemar mengolok-olok lewat kartun yang mereka publikasikan itu seolah menjadi tumbal bagi kebebasan berbicara (freedom of speech). Kebebasan berbicara konon salah satu kredo utama di Perancis. Kredo yang dibangun oleh Voltaire, “Saya tidak menyetujui perkataan Anda, tapi saya akan membela hak Anda untuk mengatakannya.”

Pembunuhan atas empat kartunis dan tujuh orang lainnya yang bekerja di tabloid satire Charlie Hebdo, serta seorang polisi, sesungguhnya dipenuhi kejanggalan. Sulit diterima bahwa dua bersaudara keturunan Aljazair yang bekerja sebagai pengantar pizza, Said dan Cherif Kouachi, bebas mendapatkan logistik yang sempurna: Kalashnikov, roket peluncur, amunisi, rompi, sepatu tentara, dan Citroen hitam. Keduanya pernah ditangkap pada kasus terorisme tahun 2008, sehingga semestinya selalu dalam pengawasan Sous-direction de l’anti-terrorisme (Sub Direkturat Anti Terorisme).

Polisi mengetahui identitas Kouachi bersaudara karena mereka kebetulan (?) meninggalkan kartu identitas di Citroen hitam. Sungguh mirip dengan peristiwa 911. Penyelidik mengetahui identitas pengebom Menara Kembar WTC dari paspor yang ditemukan di sela-sela puing-puing bangunan. Gilad Atzmon, penulis Yahudi yang selalu mengkritik Israel pun menulis, “Sejak kapan seorang teroris membawa kartu identitas saat beraksi?”

Namun, tak urung, diskusi publik dipenuhi oleh perdebatan mengenai ‘kebebasan berbicara’. Narasi yang terus diulang: Islam anti kritik dan anti kebebasan, dan lebih suka melawan pena dengan pedang. Sayangnya, narasi itu memang memiliki konteks yang nyata. Citra Islam akhir-akhir ini semakin buram akibat aksi-aksi pemenggalan kepala oleh ISIS. Mereka membunuh –dengan cara terbrutal yang bisa dibayangkan manusia modern—siapa saja yang bukan bagian dari mereka, baik itu Muslim Sunni dan Syiah, Alawi, Kurdi, Kristen, atau Yazidi. Sesama jihadis tetapi berbeda ‘imam’, tak luput dari aksi barbar ISIS. Ini pula agaknya yang dimaksud Charlie Hebdo dalam salah satu kartun satirenya: bahkan Nabi Muhammad pun dipenggal oleh ISIS.

(lebih…)

Demokrasi Kaum Penjahat

sumber gambar: pgk.or.id

sumber gambar: pgk.or.id

Membaca berita-berita tentang pengangkatan pejabat ini-itu selama beberapa waktu terakhir (yang sulit dicari justifikasinya, selain ‘balas jasa’ dan bagi-bagi kekuasaan), saya jadi teringat pada sebagian isi tulisan William Liddle tahun 2001. Di dalamnya ia mengutip tulisan Olle Tornquist tahun 1999. Meski sudah berlalu sekitar 15 tahun, tapi tetap terasa ‘familiar’…

Olle Tornquist seorang pengamat kawakan perkembangan politik di Indonesia, pernah meramalkan kemungkinan datangnya hantu “demokrasi kaum penjahat”. Dalam bentuk seperti ini, demokrasi hanya akan terjadi secara formal, tetapi tidak diiringi oleh partisipasi rakyat yang sungguh-sungguh dalam pemilu dan dalam pembentukan kebijakan pemerintah. Mengutip Tornquist: “Hasil yang mungkin lebih terlihat karenanya lebih merupakan “demokrasi kaum penjahat” yang didukung oleh militer yang di dalamnya pejabat-pejabat di semua tingkat mampu bertahan, menarik sekutu militer dan pengusaha, mengooptasi beberapa pembangkang, serta memobilisasi dukungan massa melalui populisme Islam—semua ini akan berlangsung sebelum para aktivis demokrasi sejati serta rakyat kebanyakan mampu mengorganisasikan diri” (Bulletin of Concerned Asian Scholars, Vol 30:3,1999)

Perkiraan Tornquist mengenai Indonesia –minus referensi pada populisme Islam—merupakan deskripsi akurat terhadap politik demokratis sebagaimana yang telah berkembang di Thailand pada 1990-an dan di Filipina sejak kemerdekaannya pada 1946. Di Indonesia, demokrasi kaum penjahat telah ditanamkan, kebanyakan selama periode Soeharto atau sebelumnya, serta beberapa kali sejak era reformasi, di ladang-ladang yang subur dan dirawat dengan baik.

Kita dapat melihat manuver-manuver mereka yang sangat jitu di tengah-tengah peran politik militer yang masih terus berlangsung, baik secara institusional maupun sebagai perwira secara individual. Tanda-tanda ‘demokrasi kaum penjahat’ terlihat pula dalam korupsi yang muncul dalam parti-partai politik, di saat para pemimpin berupaya untuk memaksimalkan kemampuan perang catur mereka dalam pemilihan legislatif berikutnya. Ia juga mulai muncul di provinsi-provinsi dan kotamadya dalam bentuk politikus lokal yang kekuasaannya bergantung lebih pada akses ke sumber-sumber keuangan serta kekuatan militer atau kuasi-militer daripada bergantung pada kemampuan atau kemauan untuk mewakili rakyat pemilihnya.

(dikutip dari tulisan R. William Liddle, dalam pengantar buku “Menjauhi Demokrasi Kaum Penjahat”, Juan J. Linz, et al, 2001:17, Mizan)

Lalu, apa demokrasi sepenuhnya buruk dan kita kembali saja ke khilafah (seperti kata sebagian orang yang gemar demo -tanpa demokrasi mereka tak mungkin boleh demo — sambil meneriakkan anti demokrasi dan antinasionalisme)?

Di buku yang sama, dijelaskan soal demokrasi yang terkonsolidasi:

Demokrasi tidak sebatas masalah pemilu. Yang harus mendapatkan banyak perhatian adalah konsolidasi demokrasi. Selain penyelenggaraan negara, ada lima syarat agar demokrasi dapat dikonsolidasikan (hlm 41):

  1. Harus diciptakan kondisi bagi berkembangnya masyarakat sipil yang bebas dan aktif
  2. Harus ada masyarakat politik yang relatif otonom
  3. Semua tokoh politik utama, terutama pemerintah dan aparat negara harus benar-benar tunduk pada aturan hukum yang melindungi kebebasan individu dan masyarakat
  4. Harus ada birokrasi negara yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah demokratis yang baru
  5. Harus ada masyarakat ekonomi yang dilembagakan

Jadi, gerakan demokratisasi tahun 1998 sebenarnya belum selesai, ada PR besar yang seharusnya dilakukan, yaitu konsolidasi demokrasi. Sayangnya, hingga hari ini, proses itu masih terus dibajak oleh ‘para penjahat’ sehingga konsolidasi itu tak pernah terwujud.

Siapa yang harusnya berperan untuk mengubah? Kita, masyarakat sipil. Tak mungkin sebuah negara menjadi baik ketika masyarakatnya masih bermental buruk. Indonesia strong from home, demikian slogan seorang ahli parenting. Pejabat hari ini adalah anak kecil di masa lalu. Orang yang tak kenal takut membela bangsanya, adalah hasil didikan orang tua dan gurunya di masa lalu. Begitu pula sebaliknya.

Taliban dan Berpikir Sistemik

taliban-flag1Taliban dengan darah dingin membantai 132 anak-anak sekolah di Pakistan. Menarik mengamati tanggapan publik atas kasus ini. Sebagian mengecam keras, mengapa Islam dan Allah dijadikan alasan untuk membunuh anak-anak. Sebagian lagi, terutama media-media takfiri (dan simpatisannya) yang selama ini memang dikenal sebagai pendukung Taliban (termasuk petinggi partai you-know-who yang pernah menulis puisi memuja Osama Bin Laden), tentu saja bungkam atau berupaya menjustifikasi (dan mengalihkan isu dengan memblow-up penyanderaan di Sidney yang dilakukan oleh penjahat buronan pemerintah Iran -dan diberi suaka oleh Australia.) Lalu bagaimana dengan ribuan warga Pakistan yang sejak 2004 dibantai bak tikus oleh drone (pesawat tanpa awak) AS? Lalu, bagaimana dengan tewasnya anak-anak muda di Paniai, Papua, baru-baru ini? Mengapa tidak banyak komentar dari bangsa ini? (Untuk pembantaian di Pakistan, presiden kita dengan sigap menulis komen di facebooknya).

Saya ingin mengajak Anda untuk berpikir sistemik: holistik, memandang konflik dalam sebuah peta besar; tidak fokus pada konflik tertentu saja. Taliban, ya, memang sadis dan sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin. Tapi, faktanya, mereka muslim dan mengaku (mengira) sedang memperjuangkan Islam. Dan, banyak simpatisan Taliban merasa sedang berjihad karena mengira yang sedang dilawan oleh Taliban adalah AS. Dan, memang faktanya, pemerintah AS adalah pelaku kejahatan kemanusiaan terbesar di dunia sepanjang sejarah (silahkan baca buku William Blum, orang AS, betapa pemerintah AS telah melakukan sangat-sangat banyak pembunuhan di muka bumi ini di balik kedok demokrasi. Judul bukunya “Demokrasi, Ekspor AS yang Paling Mematikan”).

Jadi, tidak bisa melepaskan fenomena Taliban dengan keberadaan AS. Sebagian (terutama yang tidak suka bila sebuah konflik dikaitkan dengan AS) akan buru-buru menyebut ini teori konspirasi. Tidak. Teori konspirasi adalah mengait-ngaitkan sejumlah fenomena satu sama lain dengan dilandasi khayalan (contoh: melihat simbol mirip Bintang Daud di sebuah masjid, langsung menuduh DKM-nya Zionis, padahal siapa tahu si desainer sekedar tulalit, tak paham simbol Bintang Daud). Tapi, jika kita mengungkapkan adanya konspirasi antara aktor-aktor politik, lengkap dengan bukti-bukti valid, itu bukan teori konspirasi.

brezenskiMisalnya, baca wawancara Counterpunch dengan Zbigniew Brzezinski, penasehat presiden Carter (dan presiden-presiden AS berikutnya, termasuk Obama) mengakui bahwa CIA mendanai Mujahidin Afghanistan. Versi Inggris ada di sini, versi kutipan-terjemahan saya copas dari sini:

Jurnalis:Mantan Direktur CIA, Robert Gates, menyatakan dalam memoarnya “From the Shadows”, bahwa CIA mulai memberikan bantuan kepada Mujahadin di Afghanistan 6 bulan sebelum Soviet menginvasi Afghanistan. Pada masa itu, Anda adalah penasehat keamanan Presiden Carter. Karena itu Anda memainkan peran dalam urusan itu. Benarkah demikian?

(lebih…)

Pelatihan

Originally posted on Dina Y. Sulaeman:

HonorSaya terhenyak saat membaca sebuah berita. Seorang penulis yang sangat terkenal di Indonesia (tapi terkenal bukan karena karya tulisnya, melainkan karena status facebook-nya), mengadakan pelatihan menulis. Yang ikut hanya 10 orang. Yah, kalau mau dijustifikasi, memang lebih efektif melatih 10 orang daripada ratusan. Tapi, dalam ‘iklan’ pelatihan itu, tidak ditulis dibatasi 10 orang, dan kesannya ingin mencari sebanyak mungkin peserta.

Kenapa kok saya terhenyak? Karena, saya jadi ingat kejadian beberapa waktu lalu. Si penulis itu kan dari golongan ‘mereka’. Yah you know who lah. Itu lho, mereka yang berada dalam barisan besar pendukung media-media takfiri yang gemar sekali menyebarkan berita fitnah. (Oya, yang saya maksud “mereka” ini juga nggak satu ‘manhaj’, tapi akar ideologinya sama; untuk isu-isu tertentu, mereka saling bekerja sama dalam menyebarkan fitnah dan kebencian; untuk isu lain, di antara mereka pun saling cela).

Ceritanya, gara-gara ‘mereka’, dua acara saya di dua universitas dibatalkan. Mereka mengintimidasi panitia. Alasan…

View original 559 more words

Harga BBM dan Bank Dunia

logo-bank-duniaArgumen bahwa pencabutan subsidi BBM memang perlu dilakukan, sudah banyak ditulis. Saya juga pernah menulis bagaimana Iran yang jauh lebih kaya minyak daripada Indonesia juga mencabut subsidi BBM-nya (namun prosesnya sangat panjang, rakyat Iran diberi berbagai fasilitas untuk berpindah ke bahan bakar gas dulu, baru harga bensin naik).

Pertanyaannya, mengapa sekarang? Mengapa baru sebulan setelah dilantik, Presiden Jokowi sudah menaikkan harga BBM (apapun istilahnya: pengurangan subsidi, pengalihan subsidi, dll)? Mengapa tidak dilakukan dulu hal-hal kreatif untuk menambah pundi-pundi APBN (misalnya, menyingkirkan Mafia Migas dulu,  menghentikan subsidi bunga obligasi rekap perbankan sisa “warisan” BLBI era krisis moneter 1997/98 atau melakukan subsidi silang harga BBM)?

Rizal Ramli menulis, keputusan itu diambil karena tekanan Bank Dunia. Berita yang dirilis Antara pada Maret 2014 juga menegaskan bahwa Bank Dunia merekomendasikan kenaikan BBM Rp2000. Soal Bank Dunia ini yang akan saya tulis secara singkat.

Sebenarnya bukan fakta baru bahwa Indonesia ini berada di bawah tekanan berbagai lembaga donor. Ketika Anda berhutang banyak, sangat banyak, pada lembaga-lembaga rente, mau tak mau Anda harus menuruti kemauan mereka. Jadi, siapapun presidennya, opsi pencabutan subsidi BBM pasti diambil (Prabowo pun pernah menyatakan dukungan atas pencabutan subsidi BBM dan menyebut subsidi BBM = membakar uang. Sila tonton rekamannya di youtube).

Ada 10 lembaga donor terbesar Indonesia (=lembaga yang memberi hutang kepada Indonesia), yaitu: Asian Development Bank (jumlah utang: 96T), Bank Dunia (jumlah utang: 122 T) , Japan International Cooperation Agency (jumlah utang: 226T), Australian Agency for International Development, Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria, Agence Française de Développement, United States Agency for International Development, United Nations, Millennium Challenge Corp. dan Federal Ministry for Economic Cooperation and Development (data tahun 2012). Total utang pemerintah Indonesia: 123M USD (sekitar 1476T). Total utang swasta kepada asing: 146M USD (1752T).

Lalu, apa yang disarankan oleh Bank Dunia kepada Indonesia? Sama sekali tidak mengagetkan, sama saja dengan yang disarankan oleh IMF yang memberikan ‘pertolongan’ kepada Pak Harto saat Indonesia hampir kolaps diterjang krisis moneter 1998: privatisasi, pencabutan subsidi, deregulasi (demi kenyamanan investor asing). Bukan cuma Bank Dunia, lembaga-lembaga donor (=renternir) lainpun punya resep yang senada-seirama dengan IMF. (Untuk lebih jelasnya, silahkan baca tulisan saya sebelumnya : Kejamnya Liberalisme Ekonomi).

Mari kita baca dokumen STRATEGI KEMITRAAN Bank Dunia untuk  Indonesia tahun fiskal 2013-2015. Minimalnya, ada lima kalimat yang senada “subsidi BBM menyerap sebagian besar anggaran yang sebetulnya dapat digunakan bagi infrastruktur dan perlindungan sosial” (meskipun redaksi tidak persis).

Dalam tabel saya kutip dari dokumen itu, terlihat sekali kemiripan program Bank Dunia dengan program Jokowi:

Tujuan Jangka     Panjang Indonesia Kendala Kelompok Bank Dunia akan Berkontribusi pada: Tonggak Pembangunan Indikatif Jangka Menengah Mode Keterlibatan Kelompok Bank Dunia
Infrastruktur

Meningkatkan taraf dan efisiensi investasi publik dan swasta dalam infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan dan memperkuat daya saing

Kurangnya investasi infrastruktur; tidak mungkin didukung oleh investasi publik saja -Peningkatan kilometer efektif jalan nasional yang akan dipelihara dan dibangun-mengurangi hambatan infrastruktur kelistrikan untuk memenuhi kebutuhan-meningkatkan investasi swasta pada infrastruktur -mengurangi kebutuhan subsidi PLN

-dibentuknya mekanisme dana pendamping pemerintah [kartu indonesia sehat, dll?]

-setidaknya satu transaksi Kemitraan Publik Swasta untuk proyek air baku

Pembiayaan untuk: Transportasi kawasan timur Indonesia, Proyek perbaikan jalan kawasan barat Indonesia, pemeliharaan aset jalan, DPL konektivitas, Pembangunan transmisi I&II, Energi terbarukan untuk Listrik, .. investasi oleh IFC pada listrik, air, pelabuhan, perkapalan, dan logistik, telekomunikasi, minyak,dan gasPengetahuan: Kajian Industri Konstruksi Jalan, Layanan Konsultasi mengenai layanan dan subsidi energi, Dana Pendamping Pemerintah, dll

 

Secara umum, kelihatannya program-program tersebut baik-baik saja. Tentu saja, saat ini masih terlalu pagi untuk menilai bagaimana Jokowi melaksanakan janjinya (bahwa subsidi dialihkan untuk infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan rakyat). Meskipun, berdasarkan track record kinerja Bank Dunia selama ini (baik di Indonesia maupun di negara Dunia Ketiga lainnya), bisa diprediksikan bagaimana hasilnya. Anggoro,  peneliti dari Institute of Global Justice (2008) menulis, kerugian yang diderita Indonesia karena menerima pinjaman dari Bank Dunia antara lain:

-Indonesia kehilangan hasil dari pengilangan minyak dan penambangan mineral (karena diberikan untuk membayar hutang dan karena proses pengilangan dan penambangan itu dilakukan oleh perusahaan-perusahaan transnational partner Bank Dunia)
-Jebakan hutang yang semakin membesar, karena mayoritas hutang diberikan dengan konsesi pembebasan pajak bagi perusahaan-perusahaan AS dan negara donor lainnya.
-Hutang yang diberikan akhirnya kembali dinikmati negara donor karena Indonesia harus membayar “biaya konsultasi” kepada para pakar asing, yang sebenarnya bisa dilakukan oleh para ahli Indonesia sendiri.
-Hutang juga dipakai untuk membiayai penelitian-penelitian yang tidak bermanfaat bagi Indonesia melalui kerjasama-kerjasama dengan lembaga penelitian dan universitas-universitas.
-Bahkan, sebagian hutang dipakai untuk membangun infrastuktur demi kepentingan perusahaan-perusahaan asing, seperti membangun fasilitas pengeboran di ladang minyak Caltex atau Exxon Mobil. Pembangunan infrastruktur itu dilakukan bukan di bawah kontrol pemerintah Indonesia, tetapi langsung dilakukan oleh Caltex dan Exxon. (selengkapnya, baca tulisan saya: Peran Bank Dunia dalam Kemunduran Ekonomi Indonesia)

New Release 2013

prahara suriah

New Release (2013)

"dokter cilik"
obama
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
"pelangi di persia"
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.615 pengikut lainnya.