Arsip 2007 ~ Sekarang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.640 pengikut lainnya.

Ada Apa dengan Yaman?

Ada apa dengan Yaman? Sebaiknya kita lihat dulu petanya.

Sumber peta: www.nystromnet.com

Di peta terlihat bahwa Yaman berbatasan darat dengan Arab Saudi, dan menguasai perairan strategis Bab el Mandab dan teluk Aden, dan bahkan menguasai pulau Socotra yang kini menjadi pangkalan militer AS. Jalur perairan ini sangat penting karena menjadi tempat lewatnya kapal-kapal tanker pembawa minyak dari Teluk Persia ke Eropa (melewati Terusan Suez). AS sangat berambisi mengontrol jalur minyak ini dan di saat yang sama, secara ekonomi Iran pun terancam bila AS sampai menguasai jalur tersebut. Selain itu, meski saat ini produksi minyak Yaman hanya 0,2% dari total produksi minyak dunia, negeri ini menyimpan cadangan minyak yang sangat sangat besar.

Kelompok-kelompok Utama dalam Konflik Yaman:

  1. Ikhwanul Muslimin vs Imam Yahya (Syiah Zaidiyah)

Yaman tadinya berada di bawah kekuasaan Imperium Ottoman. Kemudian, setelah Ottoman kalah dalam Perang Dunia I, Inggris menguasai Yaman selatan (terutama wilayah Aden yang menguasai jalur laut); sementara Yaman utara dikuasai oleh Imam Yahya yang bermazhab Syiah Zaidiah, yang membentuk Kerajaan Yaman. Italia mengakui pemerintahan Imam Yahya, sementara Inggris menentangnya karena tekad Imam Yahya adalah mengusir Inggris dan menyatukan Yaman.

Inggris (dan Mesir) membacking gerakan “Free Yemenis” yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin. Gerakan ini pada tahun 1962 berhasil menggulingkan pemerintahan Imam Yahya dan memproklamasikan “Republik Arab Yaman.”

Pemerintahan baru ini memperluas gerakan untuk menguasai Yaman selatan (yang dikuasai Inggris), dengan meminta bantuan militer dari Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser yang mengirim 70.000 tentara ke Yaman (1962-1965).

Inggris, yang memusuhi Nasser akibat aksinya menasionalisasi Terusan Suez tahun 1956, menggunakan konflik internal Yaman untuk melemahkan Nasser, dengan bantuan Mossad, CIA, intelijen Arab Saudi, dan SAVAK (intel Iran zaman Syah Pahlevi). Selama tahun 1960-an, AS menyuplai perlengkapan militer Arab Saudi senilai 500 juta Dollar (agar Arab Saudi semakin kuat dan memegang kendali dalam konflik di Yaman). Tahun 1968, Nasser mundur dari Yaman, dan setahun sebelumnya, Inggris juga angkat kaki dari negara itu.

Namun, kelompok pro Naser masih eksis hingga sekarang dan menjadi salah satu aktor utama politik Yaman, yaitu the Nasserite Unionist People’s Organization.

  1. Partai Sosialis vs Ikhwanul Muslimin

Tahun 1967, the National Liberation Front (NLF) yang berhaluan Marxis menguasai Yaman selatan dan membentuk negara independen (Republik Rakyat Demokratik Yaman). Sementara itu, sejak tahun 1978, Republik Arab Yaman dipimpin oleh Presiden Ali Abdullah Saleh.

Runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1990 membuat kedua pemerintahan Yaman yang memang lemah memutuskan memulai negosiasi untuk bersatu. Pada Mei 1990, terbentuklah pemerintahan persatuan dengan nama Republik Arab Yaman, dengan Ali Abdullah Saleh sebagai presiden dan Ali Salim Beidh (semula Presiden Yaman selatan, berasal dari partai sosialis) menjadi wakil presiden. Untuk menundukkan orang-orang sosialis, Saleh bekerja sama dengan anasir Ikhwanul Muslimin (Partai Islah atau Partai Reformasi didirikan 13 Sept 1993. Menurut pendirinya, Syekh Abdullah bin Hasan al-Ahmar, tujuan utama didirikannya partai ini adalah untuk melawan orang-orang sosialis). Saleh harus menggunakan tangan Partai Islah, karena partainya sendiri (the General People’s Congress) terikat perjanjian unifikasi dengan Partai Sosialis.

Namun belakangan, IM dan Sosialis (dan Nasserite) justru bergabung untuk melawan Saleh; mereka membentuk Joint Meeting Parties (JMP).

  1. Rezim Saleh Vs Ikhwanul Muslimin

Kekuasaan Ikhwanul Muslimin (IM) di Yaman sangat besar sejak mereka berhasil menggulingkan Imam Yahya. Mereka menguasai separuh institusi pendidikan di Yaman (dan mendapatkan dana yang besar dari Arab Saudi). Tokoh IM juga menjadi pejabat di Dinas Intel dan berperan besar dalam membungkam kelompok kiri dan komunis. Empat menteri penting juga dijabat orang IM (menkeu, mendagri, mendiknas, dan menkeh). Pejabat-pejabat penting di pemerintahan pun banyak yang dipegang tokoh IM.

Pengaruh besar IM ini membuat khawatir Presiden Saleh dan sejak tahun 2001, ia mulai melucuti kekuasaan IM dengan cara merombak sistem pendidikan. Sejak itu konflik antara kedua faksi ini semakin meluas. Bila pada pilpres 1999, IM (Partai Islah/Partai Reformis) mencalonkan Saleh sebagai kandidat presiden, tahun 2006 mereka mendukung lawan Saleh, Faisal Bin Shamlan (namun Saleh tetap menang pilpres).

  1. Rezim Saleh vs Sosialis dan Suku Houthi (Ansarullah)

Meskipun memiliki cadangan minyak yang kaya dan posisi yang sangat strategis, Yaman adalah negara miskin, menghadapi krisis pangan, dan ketidakadilan ekonomi. Berbagai gerakan pemberontakan terhadap Rezim Saleh bermunculan. Tahun 1994, Wapres Ali Salim Beidh (sosialis) mundur dan kelompok sosialis kemudian angkat senjata dan terjadilah perang sipil. Presiden Saleh, dibantu oleh Arab Saudi (dan Partai Islah/Ikhwanul Muslimin) akhirnya menundukkan pemberontakan itu.

Sejak tahun 2004, suku Houthi yang bermazhab Syiah Zaidiyah menuntut otonomi khusus di wilayah Saada sebagai protes atas diskriminasi dan penindasan dari rezim Saleh. Tuntutan ini dihadapi dengan senjata oleh Saleh (lagi-lagi dibantu Arab Saudi), dan meletuslah perang sipil yang menewaskan lebih dari 5000 tentara dan rakyat sipil (suku Houthi) pada rentang 2004-2008.

  1. Rezim Saleh – Amerika – Al Qaida – Kelompok Salafi

Tahun 2009, kelompok Salafi (Gerakan Yaman Selatan/ al Hirak al Janoubi) yang dipimpin kelompok Tareq Al Fadhli angkat senjata melawan rezim Saleh. Al Fadhli adalah alumnus jihad Afganistan yang berperan membantu Saleh dalam membungkam faksi sosialis. Al Fadhli dan iparnya, Jenderal Mohsen Al Ahmar, kemudian menjadi tokoh penting dalam pemerintahan Saleh. Mohsen adalah pelindung utama Saleh dalam menghadapi berbagai pemberontakan, termasuk dalam upaya membungkam suku Houthi. Namun bulan madu Saleh-Mohsen mulai buyar sejak tahun 2000, karena kekhawatiran Saleh bila kubu Mohsen kelak akan merebut kekuasaan dari kubu Saleh. Kekuasaan Mohsen kemudian dilucuti satu demi satu. Mohsen pun bersekutu dengan keturunan Husein Al Ahmar (pendiri Partai Islah/Reformis) untuk menggulingkan Saleh.

Di masa ini, muncul aktor baru di Yaman, yaitu Al Qaida Arab Peninsula (AQAP) yang memproklamasikan diri pada tahun 2009. Dua tokoh utama AQAP, anehnya, adalah dua warga Arab Saudi alumni Guantanamo, Abu-Sayyaf al-Shihri dan Abu-al-Harith Muhammad al-Awfi. William Engdahl menyebut fakta ini memunculkan kecurigaan bahwa tujuan utama CIA dan Pentagon melakukan teknik brutal kepada tawanan Guantanamo sejak September 2001 adalah untuk mentraining ‘sleeper terrorists’ (teroris tidur) yang sewaktu-waktu bisa diaktifkan sesuai komando intelijen AS. Di saat yang hampir bersamaan, Presiden Saleh membebaskan 700 narapidana teroris dengan alasan ‘mereka sudah berkelakuan baik’.

Mengingat donatur utama Al Qaida adalah Arab Saudi, dan pembentukan Al Qaida memang didalangi AS dan Arab Saudi (hal ini sudah diakui oleh Hillary Clinton), tentu kemunculan Al Qaida di Yaman adalah demi kepentingan AS.

Meski Al Fadhli menolak tuduhan bahwa dia bekerja sama dengan Al Qaida, namun AS tetap membombardir Yaman dengan alasan mengejar Al Qaida. Antara 2009-2011, korban serangan bom yang diluncurkan pesawat tempur AS (dengan seizin Presiden Saleh) telah menewaskan ratusan rakyat sipil Yaman, termasuk anak-anak.

Atas alasan untuk menumpas Al Qaida pula, pada tahun 2010, Presiden Saleh dan Jenderal Petraeus dari AS bertemu. Petraeus menjanjikan bantuan “dana keamanan” 14 kali lipat lebih besar (dana total sejak 2008 hingga 2010 yang diterima Saleh dari AS mencapai 500 juta dollar), dan imbalannya, Saleh mengizinkan Pulau Socotra untuk dipenuhi dengan berbagai peralatan militer canggih AS.

Namun, akhirnya pada Juni 2014, Al Fadhli menyatakan bergabung dengan Al Qaida. Dan sejak 2015, ISIS menyatakan ikut bergabung dengan Al Qaida Yaman. Pada 21 Maret 2015, ISIS mengebom sebuah masjid di Sanaa (ibu kota Yaman), yang jamaahnya sebagian besar muslim Syiah Zaidiah yang tengah menunaikan sholat Jumat (142 tewas, 351 lainnya terluka).

Era Arab Spring

Melihat track record Presiden Saleh yang selalu berperang dengan rakyatnya sendiri dan kemiskinan yang semakin mencekik rakyat, tentu tidak mengherankan bila pada tahun 2011, seiring dengan gelombang Arab Spring, rakyat Yaman (dari berbagai suku dan mazhab) bangkit berdemo menuntut pengunduran dirinya. Masifnya gerakan demo di Yaman akhirnya berujung pada tergulingnya Saleh yang telah berkuasa 33 tahun. Ia melarikan diri pada November 2011 ke Arab Saudi, dan digantikan oleh Mansur Hadi. Namun, tahun 2012, Saleh kembali ke Yaman dan dilindungi oleh Mansur Hadi. Anak Saleh, Jenderal Ahmed Ali, bahkan tetap memiliki kekuasaan penting di militer. Dalam situasi ini, Al Qaida melakukan aksi-aksi pengeboman, termasuk mengebom istana kepresidenan, menambah kacau situasi di Yaman.

Singkat kata, pasca keberhasilan rakyat menggulingkan Saleh, yang berkuasa di Yaman adalah elit-elit lama, termasuk anasir Al Qaida. Faksi-faksi yang banyak berjuang dalam upaya penggulingan Saleh justru disingkirkan, termasuk suku Houthi (gerakan Ansarullah). Ini memunculkan ketidakpuasan rakyat yang semula berharap terjadinya reformasi.

Gerakan Ansarullah bahkan berhasil menggalang demo besar-besaran (rakyat umum, tidak sebatas suku Houthi) sejak Agustus 2014, menuntut diturunkannya harga BBM dan dilakukannya reformasi politik. Menyusul aksi demo ini, Perdana Menteri Salim Basindwa mundur dari jabatannya dan Presiden Mansur Hadi bersedia menandatangani perjanjian dengan Ansarullah, yang isinya Mansur bersedia membentuk pemerintahan baru dengan melibatkan Ansarullah dan semua partai politik yang ada. Perjanjian ini menandai semakin meluasnya pengaruh Ansarullah (Syiah Houthi) di pusat kekuasaan Yaman. Namun kemudian, Mansur Hadi memilih lari ke Arab Saudi dan meminta bantuan militer dari Saudi. Sejak 26 Maret 2015, Arab Saudi dibantu negara-negara Teluk dan Israel, serta didukung oleh AS membombardir Yaman.

Kesimpulan saya, suku Houthi (Ansarullah) hanyalah satu dari sekian banyak aktor yang terlibat konflik di Yaman dan awalnya tidak dominan. Yaman sejak awal telah dilanda konflik internal yang ruwet, melibatkan sangat banyak suku, ‘aliran agama’, kelompok bisnis, dan dinasti/keluarga (yang saya tulis di atas hanya ringkasan saja). Namun, kesolidan dan strategi Ansarullah dalam membangkitkan kekuatan rakyat tertindas rupanya berhasil membawa mereka naik ke permukaan melawan dominasi elit yang berkuasa selama 37 tahun terakhir. Dan ‘gara-gara’ kelompok ini bermazhab Syiah, dengan segera isu yang dimainkan adalah isu mazhab.

Namun yang perlu dicatat, lihat lagi peta di awal tulisan ini, potensi ekonomi dan geopolitik yang sangat besarlah yang menjadi pivotal factor bagi negara-negara kuat untuk menggelontorkan dana sangat besar untuk membiayai faksi-faksi yang berseteru di Yaman.

Aktor asing terkuat di Yaman, tentu saja AS, yang sejak 2001 menggelontorkan ratusan juta dollar (triliunan rupiah) untuk rezim Saleh. AS juga menginvestasi dana dan perlengkapan militer tercanggihnya di Pulau Socotra. Di saat yang sama, AS meraup untung besar dari perdagangan senjata ke negara-negara Arab dan Teluk. Kemudian ketika pemerintahan boneka terbentuk, perusahaan-perusahaan AS pula yang dipastikan akan mendapatkan berbagai kontrak infrastruktur dan minyak (seperti yang terjadi di Libya dan Irak).[ditulis oleh Dina Y. Sulaeman untuk http://www.ic-mes.org]

Ref:

http://www.longwarjournal.org/archives/2014/06/yemeni_tribal_leader_joins_aqa.php

https://www.stratfor.com/weekly/20110420-islamist-militancy-pre-and-post-saleh-yemen

http://www.al-monitor.com/pulse/originals/2013/09/yemen-brotherhood-losses-unknown-future.html#

http://english.al-akhbar.com/node/16346

http://business.financialpost.com/2015/03/26/why-yemen-that-produces-less-oil-than-denmark-is-roiling-energy-markets-this-morning/?__lsa=61a7-8c88

www.globalresearch.ca/yemen-american-weapons-once-more-landed-up-in-the-wrong-hands-mistakenly-in-the-hands-of-al-qaeda/5437988

www.globalresearch.ca/the-yemen-hidden-agenda-behind-the-al-qaeda-scenarios-a-strategic-oil-transit-chokepoint/16786

www.globalresearch.ca/yemen-and-the-militarization-of-strategic-waterways/17460

www.globalresearch.ca/yemen-the-covert-apparatus-of-the-american-empire/21306

http://www.nytimes.com/2015/03/26/world/middleeast/al-anad-air-base-houthis-yemen.html?_r=3

dll.

 

Perempuan dan ISIS

dua wanita italia yang disandera isis

dua wanita italia yang disandera jihadis

Berita tentang 16 WNI yang “hilang” di Turki dan dicurigai bergabung dengan ISIS, membuat saya teringat pada tulisan William Blum (penulis buku “Demokrasi, Ekspor AS Paling Mematikan”).

Blum menulis dalam artikelnya:

Setelah melihat beberapa video aksi ISIS di internet, yang penuh dengan berbagai adegan menjijikkan, terutama terhadap kaum wanita, pemikiran saya adalah: berikan kepada mereka (ISIS) negara untuk mereka sendiri. Siapapun yang ingin meninggalkan negara itu, akan ditolong untuk keluar. Siapa saja yang ingin datang, dibiarkan datang, namun mereka tidak boleh keluar lagi tanpa melalui seleksi ketat, untuk mengetahui apakah mereka sudah kembali ‘menjadi manusia’. Bagaimanapun juga, karena dipastikan hanya sedikit perempuan yang mau tinggal di negara ISIS, negara itu tidak akan bertahan lama.

Kalimat terakhir menggelitik saya: ‘dipastikan hanya sedikit perempuan yang mau tinggal di negara ISIS’.

Lalu, mengapa anak-anak gadis dari Eropa berdatangan ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS? Mengapa juga perempuan-perempuan Indonesia banyak yang mendukung ISIS (setidaknya, begitulah mereka berkoar-koar di media sosial; salah satunya seorang perempuan cantik -sepertinya ini akun asli- mengirim inbox kepada saya, menyatakan memang pernah ke Suriah, entah apa yang dia ‘alami’ di sana, saya tak mau repot-repot bertanya, karena jelas sekali dia pendukung  mujahidin)? Di antara 16 WNI yang “hilang” di Turki (yang terindikasi bergabung dengan ISIS) ada 5 perempuan, yang bahkan di antaranya membawa anak usia 1 tahun.

Ini info yang saya dapatkan selama ini:

1. Para gadis muda Eropa itu jatuh cinta kepada para jihadis yang mereka jumpai di internet, lalu mengambil keputusan nekad meninggalkan keluarga mereka. Ini sama sekali tidak mengherankan, kasusnya sama saja dengan sekian banyak kasus anak gadis atau ibu-ibu alay yang jatuh cinta pada rekan facebooknya. Hanya saja, untuk kasus ISIS, ada embel-embel “jihad”-nya. Jadi, untuk para Ibu yang masih “manusia”, harap berhati-hati memperhatikan anak-anak gadisnya yang gemar berjejaring sosial.

2. Khusus utk perempuan Indonesia, saya amati dari komentar-komentar mereka di media sosial, mereka mengira kehidupan di bawah rezim ISIS adalah kehidupan yang baik-baik saja. Mereka tidak terpengaruh oleh banyaknya video yang menunjukkan kebrutalan ISIS karena “yang diperlakukan demikian adalah orang kafir.” Salah satu komentator di medsos menulis, “Yang takut sama ISIS/jihadis itu adalah hanyalah orang-orang kafir dan syiah”. Jadi, selama mereka tidak kafir dan tidak syiah, mereka kira, mereka akan baik-baik saja, bahkan hidup tenteram di sana. Apalagi, para jihadis ISIS dan sejenisnya (mereka punya banyak nama, saling berseteru satu sama lain, tapi perilaku dan ideologinya sama saja; antara lain Jabhah Al Nusra yang didukung Turki) menerima gaji besar ratusan hingga ribuan dollar perbulan. Sungguh sangat menggiurkan bagi orang-orang berekonomi lemah di Indonesia yang telah dicekoki radikalisme. Apalagi yang lebih indah buat orang semacam mereka: beribadah, berjihad, dapat gaji dollar pula? (Saya baca profil salah satu keluarga yang “hilang” di Turki di detik, ternyata mereka keluarga radikal yang miskin; penampilan celana cingkrang dan istrinya pakai cadar; tidak mau bergaul dengan tetangga).

Tapi tunggu saja. Saya percaya pada prediksi William Blum: hanya sedikit perempuan yang mau tinggal di negara ISIS. Selama mereka masih punya sedikit otak dan hati (dan masih hidup, tentu saja), lambat laun mereka akan sadar sudah dibodoh-bodohi. Syukur-syukur ketika mereka sadar, negara (pemerintah) Indonesia mau membayar uang tebusan, seperti yang dilakukan pemerintah Italia.

italian women isis2

dua wanita italia sblm disandera jihadis

 

[note: di berbagai berita, kedua perempuan Italia itu disebut “aktivis kemanusiaan”, namun, bila dilihat dari facebook mereka, mereka banyak berteman dengan para jihadis, dan bahkan posting foto dengan bendera oposisi; dan disimpulkan bahwa ceritanya sama saja: kedua wanita ini awalnya ‘terpesona’ pada jihadis lewat internet dan datang ke Suriah, lalu menyesal dan minta dipulangkan; dan Italia harus membayar 12 Juta Dollar sebagai tebusan.]

Mengapa ISIS Membenci Naskah Kuno?

Saat berdiskusi dengan seorang dosen filologi, saya jadi sadar betapa berharganya naskah kuno bagi sebuah bangsa. Bahkan eksistensi bangsa itu bisa terjaga bila naskah kunonya dijaga dan dipelajari.

Misalnya saja, dari Surat Emas Raja-Raja Nusantara, terbukti bahwa selama lebih dari empat ratus tahun, raja-raja di Nusantara menulis surat dalam bahasa Melayu dengan huruf Jawi (Huruf Arab-Persia) kepada para raja di luar negeri. Salah satunya,  surat Sultan Iskandar Muda dari Aceh pada tahun 1615, yang ditujukan kepada Raja James I. Perhatikan: surat itu tidak dalam bahasa Inggris. Artinya, para raja dan pembesar di mancanegara-lah yang harus mempelajari bahasa Melayu. Artinya, saat itu, siapa yang lebih dominan dan lebih berkuasa? Jelas nenek moyang kita, bangsa Melayu. Dan keunggulan budaya itu tentu tidak ujug-ujug muncul tahun 1600-an itu, pasti ada proses panjang yang mendahuluinya.

Lalu, mengapa situasinya kini sangat berbalik? Mengapa yang disebut-sebut sebagai budaya ‘nenek moyang kita’ bukan budaya yang unggul ini; yang pasti membuat rasa nasionalisme dan rasa bangga sebagai Indonesia membuncah, dan akan memicu keberanian saat bernegosiasi dengan bangsa lain. Tidak seperti sekarang: orang Indonesia cenderung inferior di hadapan orang Barat.

(lebih…)

Balada Republika dan Piyungan :)

Tanpa saya duga, surat terbuka saya yang saya tulis dengan penuh rasa hormat pada Ust Arifin Ilham (karena saya suka pada amalan-amalan dzikir), menyebar cukup luas di media sosial & online. Dari blog ini saja dalam 2 hari sudah dishare 10.000 kali lebih via FB. Setelah itu, barulah muncul info-info, bahwa memang ada ‘perubahan’ pada diri beliau. Di antaranya, ada yang kasih liat video beliau berteriak “jihaaad!!” dengan mimik wajah yang membuat saya kaget. Lebih kaget dibanding saat membaca berita ini (yang jadi referensi utama saya saat nulis surat terbuka itu). Laa hawlaa wa laa quwwata illa billah… semoga Allah menjaga negeri ini supaya tetap damai.

Dari sekian banyak komentar, tanggapan, baik yang mendukung maupun mencaci-maki saya, yang ingin saya komentari cuma dua hal: Republika dan PKS Piyungan. Pertama, Republika. Menarik sekali, tanpa saya minta (lha emang siapa saya sampai bisa ‘meminta’), Republika memuat utuh surat saya itu. Link-nya juga sudah tersebar, saya sempat SS salah satu yang diposting teman:

Capture-republika

Jejak di Google juga masih ada:

google

Kemarin, surat itu seharian bertengger di deretan teratas top-five (artinya, terbanyak dibaca). Pagi ini saya mendapat informasi, isi surat itu sudah dihapus oleh Republika. Silahkan saja coba klik http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/02/17/njvnlg-soal-syiah-ini-surat-terbuka-untuk-ustaz-arifin-ilham

Pertanyaannya: mengapa dihapus? Pembungkaman suara? Pemberangusan kritik? Hegemoni kuasa dalam pembentukan narasi? Jawab saja sendiri, ini pertanyaan yang sangat mudah dijawab.

(lebih…)

Surat Terbuka Untuk Ustadz Arifin Ilham

Yang saya hormati, Ustadz Arifin Ilham,

Assalamualaikum ww. Perkenalkan, saya Dina Y. Sulaeman, seorang ibu rumah tangga biasa, yang senang belajar dan menulis. Kecintaan saya untuk menuntut ilmu mendorong saya untuk kuliah lagi di program doktor Hubungan Internasional; sama sekali tak ada karir yang menuntut saya untuk itu. Tulisan-tulisan saya selama ini, kelihatannya cukup banyak diapresiasi orang; dalam arti, bukan tulisan ngawur. Bahkan ada tulisan saya yang sempat dimuat di majalah Az-Zikra yang Antum terbitkan, Ustadz.

Hanya saja, sejak saya aktif memberikan penjelasan tentang bagaimana sebenarnya konflik Suriah, saya tiba-tiba dimusuhi oleh kelompok-kelompok radikal pro-jihad Suriah. Dan tiba-tiba saja, seorang ibu rumah tangga seperti saya mendapat ‘kehormatan’ dinobatkan jadi “Tokoh Syiah Indonesia” oleh media-media pro-jihad Suriah, yang pemiliknya adalah teman-teman Antum sendiri, Ustadz. Meskipun isi artikel berjudul Tokoh Syiah itu fitnah, tapi setidaknya tiba-tiba saja ada gelar ‘tokoh’ dilekatkan kepada saya. Siapa tahu gelar ini (meskipun ngawur), membuat saya dianggap sah untuk lancang menyurati seorang tokoh besar seperti Antum.

Ada pesan penting yang ingin saya sampaikan kepada Antum, Ustadz. Tolong, ingatlah lagi kronologi konflik Suriah, dengan mengaitkannya pada konflik Libya. Mengapa? Karena saya tahu, Antum sangat dirugikan oleh konflik Libya. Saya baca berita tahun 2011, bantuan dari Libya untuk yayasan Antum terputus gara-gara perang.

Saya juga beberapa kali menulis tentang Libya. Salah satu pegangan utama saya adalah kata-kata antum di Facebook, Ustadz, yaitu bahwa sesungguhnya Presiden Qaddafi adalah seorang hafiz Quran dan sangat consern pada Islam. Ini yang antum tulis waktu itu Ustadz:

“Alhamdulillah, sudah 3 X ke Libya, & 2 X sholat berjamaah di lapangan Moratania & Lapangan Tripoli sholat berjamaah yg dihadiri 873 ulama seluruh dunia & rakyat Libya, dg Imam langsung Muammar Qoddafy, bacaan panjang hampir 100 ayat AlBaqoroh, sbgn besar jamaah menangis, sebelumnya syahadat 456 muallaf dari suku2 Afrika, & dakwah beliau sll mengingatkan ttg ancaman Zionis & Barat, Pemimpin Arab boneka AS, selamatkan Palestina, Afghan & Irak…inilah kesanku pd almarhum, sahabatku FIllah.”

Pernyataan Antum itu mematahkan tuduhan kaum ‘mujahidin’ Libya (yang disebarkan juga oleh media-media pro-jihad di Indonesia) bahwa Qaddafi adalah thoghut, kafir, musuh Islam; dan membuktikan kebohongan gerakan jihad mereka.

Saat konflik Libya baru meletus, data yang bisa saya dapat sangat sedikit, karena terhambatnya arus informasi dari sana (tapi kemudian segalanya menjadi jelas setelah ada jurnalis-jurnalis independen yang nekad masuk ke sana dengan taruhan nyawa). Di awal, saya pakai data-data dari PBB, bahwa HDI dan GDP Libya adalah tertinggi di Afrika (artinya, Libya adalah negara yang sangat-sangat makmur). Kesaksian beberapa orang yang pernah di Libya juga menambah keyakinan saya bahwa data ini sama sekali tidak cocok dengan skenario ‘gelombang demokratisasi’. Terlepas dari keburukan alm. Qaddafi (yang digambarkan media massa Barat, jadi saya tidak tahu pasti benar-tidaknya, Antum yang lebih kenal alm. Qaddafi, Ustadz), fakta tak terbantahkan adalah beliau menggunakan kekayaan alam untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

(lebih…)

Catatan Tentang Mereka yang “Cuci Tangan”

Kenji Goto

Pagi ini terpaksa mengawali hari dengan membaca berita mengerikan: pilot Jordania dibakar hidup-hidup oleh ISIS. Dan sialnya, saya sempat membaca komen dari suporter “mujahidin” Indonesia: tabayun dulu, siapa tahu itu foto hoax, kalaupun itu benar, siapa yang jamin itu orang Islam yang melakukannya, berita dari media Barat jangan dipercaya…

Stupid comments, as always.

Hari ini, para suporter mujahidin (saya tak perlu sebut nama-nama harakah-nya, Anda pasti sudah tahulah, ormas dan partai mana yang dulu sering berkoar-koar mendukung “jihad” di Suriah) sekarang cenderung tiarap, diam, pura-pura tak tahu, dan mengaku tak ada kaitan dengan ISIS (atau berlindung di balik teori : Ini semua konspirasi Israel dan AS!) Jangankan hari ini, saat ISIS sudah sedemikian brutal secara terang-terangan, dulu pun ketika “jihad” sudah hampir dipastikan tidak bisa menumbangkan Assad, mereka sudah berusaha cuci tangan: “mereka yang berjihad di Suriah itu atas nama pribadi” (bukan atas nama harakah).

Tapi tentu saja, tangan berdarah mereka (baik secara langsung di medan perang, ataupun melalui kata-kata di media sosial, media cetak, dll) tidak bisa menghapus catatan dokumentasi, catatan sejarah.

Bahkan sejak sebelum ISIS “terkenal”, sebelum Al Baghdadi mendeklarasikan diri secara terang-terangan, metode pembantaian barbar ala abad pertengahan sudah dilakukan oleh ‘mujahidin’. Dan waktu itu, para suporter masih berkoar-koar soal jihad dan masih beramai-ramai menggalang dana demi para mujahidin (dan belum ‘cuci tangan’ atau ‘pura-pura tak punya kaitan’).

Salah satu dokumentasinya, pembantaian barbar yang dilakukan oleh “mujahidin’ terhadap orang-orang yang dituduh sebagai shabiha (milisi loyalis Assad) pada September 2013.  Waktu itu tak banyak muslim (Indonesia) yang protes, sebagian mungkin karena tak tahu, tapi sebagian yang lain jelas karena ideologi kebencian yang mereka miliki: ‘toh mereka Syiah, memang layak dibantai’. Jadi, catat, pembantaian ini bukan atas nama ISIS, tapi kelakuannya sama. (Artinya, jangan karena sibuk dengan ISIS, lalu melupakan kelompok ‘mujahidin’ lain -termasuk para suporternya di Indonesia- yang sebenarnya ideologinya sama). Saya tidak sanggup menaruh foto-foto kejadian tersebut, silahkan klik link ini atau ini.

Reaksi atas aksi barbar para “mujahidin” baru mulai ramai setelah pembantaian dilakukan di bawah bendera “Islamic State” dan korbannya meluas kepada orang Sunni (Sunni adalah mazhab mayoritas di Syria, sekitar 70%), Kristen, Druze, Kurdi (ini bukan agama, tapi etnis), orang Amerika, orang Inggris, Jepang, dll.

Berikut ini adalah pengakuan fotografer yang mendokumentasikan kejadian barbar di Syria bulan September 2013 itu (versi bhs Inggris dimuat di link yang saya berikan di atas):

(lebih…)

JeSuisCharlie VS JeSuisJihadMughniyah

Aslinya begini:

Israelis watch bombings of Gaza from Sderot hillside

Orang Israel menonton bombardir terhadap Gaza sambil santai , Juli 2014 (sumber foto: The Guardian)

Lalu, ada yang membuat karikatur begini dan dimuat di  The Sydney Morning Herald (SMH):

Kartun karya Glen Le Lievre

Kartun karya Glen Le Lievre

Seminggu kemudian, tanggal 15 Agustus 2014, setelah diprotes oleh kalangan pro-Israel karena SMH dianggap “Violated Standards of Practice that all press must adhere to in Australia according to the Australian Press Council in its linking of “symbols of the Jewish faith” to criticism of Israel”, SMH pun meminta maaf.

Dalam artikel berjudul “We apologise: publishing cartoon in original form was wrong”, SMH menulis: The Herald now appreciates that, in using the Star of David and the kippah in the cartoon, the newspaper invoked an inappropriate element of religion, rather than nationhood, and made a serious error of judgment.

Jadi, yang dipermasalahkan adalah penggunaan simbol bintang David dan topi kippah dalam kartun, yang dianggap melecehkan simbol keagamaan Yahudi.
(lebih…)

Charlie Hebdo dan Absurditas di Tanah Voltaire

(terjemahan: saya bukan Charlie)

(terjemahan: saya bukan Charlie)

Oleh: Dina Y. Sulaeman* (Dimuat di Sindo Weekly Magazine**, 15/1/2015)

Charb, Cabu, Wolinski dan Tignous tewas. Empat kartunis Perancis yang gemar mengolok-olok lewat kartun yang mereka publikasikan itu seolah menjadi tumbal bagi kebebasan berbicara (freedom of speech). Kebebasan berbicara konon salah satu kredo utama di Perancis. Kredo yang dibangun oleh Voltaire, “Saya tidak menyetujui perkataan Anda, tapi saya akan membela hak Anda untuk mengatakannya.”

Pembunuhan atas empat kartunis dan tujuh orang lainnya yang bekerja di tabloid satire Charlie Hebdo, serta seorang polisi, sesungguhnya dipenuhi kejanggalan. Sulit diterima bahwa dua bersaudara keturunan Aljazair yang bekerja sebagai pengantar pizza, Said dan Cherif Kouachi, bebas mendapatkan logistik yang sempurna: Kalashnikov, roket peluncur, amunisi, rompi, sepatu tentara, dan Citroen hitam. Keduanya pernah ditangkap pada kasus terorisme tahun 2008, sehingga semestinya selalu dalam pengawasan Sous-direction de l’anti-terrorisme (Sub Direkturat Anti Terorisme).

Polisi mengetahui identitas Kouachi bersaudara karena mereka kebetulan (?) meninggalkan kartu identitas di Citroen hitam. Sungguh mirip dengan peristiwa 911. Penyelidik mengetahui identitas pengebom Menara Kembar WTC dari paspor yang ditemukan di sela-sela puing-puing bangunan. Gilad Atzmon, penulis Yahudi yang selalu mengkritik Israel pun menulis, “Sejak kapan seorang teroris membawa kartu identitas saat beraksi?”

Namun, tak urung, diskusi publik dipenuhi oleh perdebatan mengenai ‘kebebasan berbicara’. Narasi yang terus diulang: Islam anti kritik dan anti kebebasan, dan lebih suka melawan pena dengan pedang. Sayangnya, narasi itu memang memiliki konteks yang nyata. Citra Islam akhir-akhir ini semakin buram akibat aksi-aksi pemenggalan kepala oleh ISIS. Mereka membunuh –dengan cara terbrutal yang bisa dibayangkan manusia modern—siapa saja yang bukan bagian dari mereka, baik itu Muslim Sunni dan Syiah, Alawi, Kurdi, Kristen, atau Yazidi. Sesama jihadis tetapi berbeda ‘imam’, tak luput dari aksi barbar ISIS. Ini pula agaknya yang dimaksud Charlie Hebdo dalam salah satu kartun satirenya: bahkan Nabi Muhammad pun dipenggal oleh ISIS.

(lebih…)

Demokrasi Kaum Penjahat

sumber gambar: pgk.or.id

sumber gambar: pgk.or.id

Membaca berita-berita tentang pengangkatan pejabat ini-itu selama beberapa waktu terakhir (yang sulit dicari justifikasinya, selain ‘balas jasa’ dan bagi-bagi kekuasaan), saya jadi teringat pada sebagian isi tulisan William Liddle tahun 2001. Di dalamnya ia mengutip tulisan Olle Tornquist tahun 1999. Meski sudah berlalu sekitar 15 tahun, tapi tetap terasa ‘familiar’…

Olle Tornquist seorang pengamat kawakan perkembangan politik di Indonesia, pernah meramalkan kemungkinan datangnya hantu “demokrasi kaum penjahat”. Dalam bentuk seperti ini, demokrasi hanya akan terjadi secara formal, tetapi tidak diiringi oleh partisipasi rakyat yang sungguh-sungguh dalam pemilu dan dalam pembentukan kebijakan pemerintah. Mengutip Tornquist: “Hasil yang mungkin lebih terlihat karenanya lebih merupakan “demokrasi kaum penjahat” yang didukung oleh militer yang di dalamnya pejabat-pejabat di semua tingkat mampu bertahan, menarik sekutu militer dan pengusaha, mengooptasi beberapa pembangkang, serta memobilisasi dukungan massa melalui populisme Islam—semua ini akan berlangsung sebelum para aktivis demokrasi sejati serta rakyat kebanyakan mampu mengorganisasikan diri” (Bulletin of Concerned Asian Scholars, Vol 30:3,1999)

Perkiraan Tornquist mengenai Indonesia –minus referensi pada populisme Islam—merupakan deskripsi akurat terhadap politik demokratis sebagaimana yang telah berkembang di Thailand pada 1990-an dan di Filipina sejak kemerdekaannya pada 1946. Di Indonesia, demokrasi kaum penjahat telah ditanamkan, kebanyakan selama periode Soeharto atau sebelumnya, serta beberapa kali sejak era reformasi, di ladang-ladang yang subur dan dirawat dengan baik.

Kita dapat melihat manuver-manuver mereka yang sangat jitu di tengah-tengah peran politik militer yang masih terus berlangsung, baik secara institusional maupun sebagai perwira secara individual. Tanda-tanda ‘demokrasi kaum penjahat’ terlihat pula dalam korupsi yang muncul dalam parti-partai politik, di saat para pemimpin berupaya untuk memaksimalkan kemampuan perang catur mereka dalam pemilihan legislatif berikutnya. Ia juga mulai muncul di provinsi-provinsi dan kotamadya dalam bentuk politikus lokal yang kekuasaannya bergantung lebih pada akses ke sumber-sumber keuangan serta kekuatan militer atau kuasi-militer daripada bergantung pada kemampuan atau kemauan untuk mewakili rakyat pemilihnya.

(dikutip dari tulisan R. William Liddle, dalam pengantar buku “Menjauhi Demokrasi Kaum Penjahat”, Juan J. Linz, et al, 2001:17, Mizan)

Lalu, apa demokrasi sepenuhnya buruk dan kita kembali saja ke khilafah (seperti kata sebagian orang yang gemar demo -tanpa demokrasi mereka tak mungkin boleh demo — sambil meneriakkan anti demokrasi dan antinasionalisme)?

Di buku yang sama, dijelaskan soal demokrasi yang terkonsolidasi:

Demokrasi tidak sebatas masalah pemilu. Yang harus mendapatkan banyak perhatian adalah konsolidasi demokrasi. Selain penyelenggaraan negara, ada lima syarat agar demokrasi dapat dikonsolidasikan (hlm 41):

  1. Harus diciptakan kondisi bagi berkembangnya masyarakat sipil yang bebas dan aktif
  2. Harus ada masyarakat politik yang relatif otonom
  3. Semua tokoh politik utama, terutama pemerintah dan aparat negara harus benar-benar tunduk pada aturan hukum yang melindungi kebebasan individu dan masyarakat
  4. Harus ada birokrasi negara yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah demokratis yang baru
  5. Harus ada masyarakat ekonomi yang dilembagakan

Jadi, gerakan demokratisasi tahun 1998 sebenarnya belum selesai, ada PR besar yang seharusnya dilakukan, yaitu konsolidasi demokrasi. Sayangnya, hingga hari ini, proses itu masih terus dibajak oleh ‘para penjahat’ sehingga konsolidasi itu tak pernah terwujud.

Siapa yang harusnya berperan untuk mengubah? Kita, masyarakat sipil. Tak mungkin sebuah negara menjadi baik ketika masyarakatnya masih bermental buruk. Indonesia strong from home, demikian slogan seorang ahli parenting. Pejabat hari ini adalah anak kecil di masa lalu. Orang yang tak kenal takut membela bangsanya, adalah hasil didikan orang tua dan gurunya di masa lalu. Begitu pula sebaliknya.

Taliban dan Berpikir Sistemik

taliban-flag1Taliban dengan darah dingin membantai 132 anak-anak sekolah di Pakistan. Menarik mengamati tanggapan publik atas kasus ini. Sebagian mengecam keras, mengapa Islam dan Allah dijadikan alasan untuk membunuh anak-anak. Sebagian lagi, terutama media-media takfiri (dan simpatisannya) yang selama ini memang dikenal sebagai pendukung Taliban (termasuk petinggi partai you-know-who yang pernah menulis puisi memuja Osama Bin Laden), tentu saja bungkam atau berupaya menjustifikasi (dan mengalihkan isu dengan memblow-up penyanderaan di Sidney yang dilakukan oleh penjahat buronan pemerintah Iran -dan diberi suaka oleh Australia.) Lalu bagaimana dengan ribuan warga Pakistan yang sejak 2004 dibantai bak tikus oleh drone (pesawat tanpa awak) AS? Lalu, bagaimana dengan tewasnya anak-anak muda di Paniai, Papua, baru-baru ini? Mengapa tidak banyak komentar dari bangsa ini? (Untuk pembantaian di Pakistan, presiden kita dengan sigap menulis komen di facebooknya).

Saya ingin mengajak Anda untuk berpikir sistemik: holistik, memandang konflik dalam sebuah peta besar; tidak fokus pada konflik tertentu saja. Taliban, ya, memang sadis dan sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin. Tapi, faktanya, mereka muslim dan mengaku (mengira) sedang memperjuangkan Islam. Dan, banyak simpatisan Taliban merasa sedang berjihad karena mengira yang sedang dilawan oleh Taliban adalah AS. Dan, memang faktanya, pemerintah AS adalah pelaku kejahatan kemanusiaan terbesar di dunia sepanjang sejarah (silahkan baca buku William Blum, orang AS, betapa pemerintah AS telah melakukan sangat-sangat banyak pembunuhan di muka bumi ini di balik kedok demokrasi. Judul bukunya “Demokrasi, Ekspor AS yang Paling Mematikan”).

Jadi, tidak bisa melepaskan fenomena Taliban dengan keberadaan AS. Sebagian (terutama yang tidak suka bila sebuah konflik dikaitkan dengan AS) akan buru-buru menyebut ini teori konspirasi. Tidak. Teori konspirasi adalah mengait-ngaitkan sejumlah fenomena satu sama lain dengan dilandasi khayalan (contoh: melihat simbol mirip Bintang Daud di sebuah masjid, langsung menuduh DKM-nya Zionis, padahal siapa tahu si desainer sekedar tulalit, tak paham simbol Bintang Daud). Tapi, jika kita mengungkapkan adanya konspirasi antara aktor-aktor politik, lengkap dengan bukti-bukti valid, itu bukan teori konspirasi.

brezenskiMisalnya, baca wawancara Counterpunch dengan Zbigniew Brzezinski, penasehat presiden Carter (dan presiden-presiden AS berikutnya, termasuk Obama) mengakui bahwa CIA mendanai Mujahidin Afghanistan. Versi Inggris ada di sini, versi kutipan-terjemahan saya copas dari sini:

Jurnalis:Mantan Direktur CIA, Robert Gates, menyatakan dalam memoarnya “From the Shadows”, bahwa CIA mulai memberikan bantuan kepada Mujahadin di Afghanistan 6 bulan sebelum Soviet menginvasi Afghanistan. Pada masa itu, Anda adalah penasehat keamanan Presiden Carter. Karena itu Anda memainkan peran dalam urusan itu. Benarkah demikian?

(lebih…)

New Release 2013

prahara suriah

New Release (2013)

"dokter cilik"
obama
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
"pelangi di persia"
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.640 pengikut lainnya.