Kajian Timur Tengah

Arsip 2007 ~ Sekarang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 6.469 pengikut lainnya

Iklan

Trump, Saudi, dan Gerakan ‘Ganti Presiden’ di Indonesia

Trump baru-baru ini berpidato, “AS yang melindungi Saudi selama ini. Kalau saja tidak ada AS, hanya dua minggu, sudah tumbang itu kerajaan! Jadi saya bilang ke King Salman, ‘King! Anda harus bayar perlindungan ini!’”

Buat sebagian fesbuker pengamat Timteng, pidato Trump ini hanya membuka kedok. Selama ini kita juga tahu bahwa AS adalah ‘centeng’-nya Saudi. Tapi, fakta ini ditutupi oleh gaya diplomatis presiden-presiden AS sebelumnya. Sementara Trump, justru fakta ini dipakai untuk menyombongkan dirinya.

Yang perlu dicatat di sini: mengapa Saudi bisa runtuh hanya dua pekan kalau saja tidak ada AS? Mudah sekali jawabannya, rezim Bani Saud yang bercorak monarkhi ini memang didirikan atas bantuan Barat. Lebih dari itu, sejarah mencatat betapa pembentukan rezim ini diwarnai dengan proses penaklukan dan peperangan. Selama 3 tahun terakhir rezim ini pun dengan berdarah dingin membantai warga Yaman dan memblokade mereka sehingga menderita wabah kelaparan dan kolera yang parah.

Selama era Perang Dunia I, Inggris memberikan senjata dan uang kepada klan Saud (untuk membantu Inggris melawan Ottoman), lalu pada 1915 Inggris mengakui klan Saud sebagai pemimpin di provinsi Nejed. Saat itu, Bani Saud menerima £5,000 per bulan dari Inggris.

(lebih…)

Iklan

Hoax Demi Kekuasaan

Denny Siregar baru-baru ini menulis soal Nayirah, gadis 15 tahun yang mengaku sebagai perawat di Kuwait. Dengan sangat meyakinkan, ia menangis menceritakan betapa bayi-bayi dikeluarkan dari inkubator, lalu dibuang ke lantai. Presiden AS saat itu, Bush sr. mengutip ‘kesaksian’ Nayirah berkali-kali dalam pidatonya, sampai akhirnya Kongres menyetujui dimulainya Perang Teluk I.

Sekitar setahun kemudian, ketika semua sudah terlanjur, ketika ratusan ribu nyawa melayang akibat bom AS, baru ketahuan siapa sebenarnya Nayirah. Ia ternyata putri Dubes Kuwait untuk AS. Skenario kesaksiannya dirancang oleh sebuah perusahaan Public Relation besar dan mahal, Hill & Knowlton. [1]

Akting Nayirah bukan satu-satunya kebohongan yang dipakai para kapitalis perang selama ini. Perang Suriah juga menampilkan banyak aktor/aktris yang berbohong.

Saya sudah berkali-kali menulis soal hoax White Helmets. Ada pula aktris cilik, Bana Al Abed. Dia disebut Tempo sebagai ‘Anne Frank dari Suriah’. Saya pun menulis surat kritik kepada redaktur Tempo, ini saya copas sebagian:

(lebih…)

Netanyahu Kena Prank?

PM Israel, Netanyahu, dalam pidatonya di depan Sidang Umum PBB (seperti biasa) menyerang Iran dan menuduhnya membuat senjata nuklir (sungguh tak tahu malu, bukankah Israel yang memiliki ratusan hulu ledak nuklir dan menolak bergabung dengan IAEA?).

Dia mengatakan, berkat dicabutnya sanksi ekonomi terhadap Iran, “Mereka menghasilkan $15 Miliar USD dan menggunakannya untuk pemerintahan yang agresif, untuk menaklukkan Timur Tengah, membunuh siapa saja yang tidak setuju dengannya, dan berkampanye untuk menghancukan Israel.”

[perhatikan, narasi Netanyahu soal ‘kejahatan Iran’ persis ustadz-ustadz dari ormas-ormas radikal di Indonesia, tentu saja para ustadz itu selalu mengaku anti-Israel]

Netanyahu menunjukkan foto yang diklaimnya sebagai gudang rahasia senjata nuklir Iran. Tertulis di foto itu : Maher Alley, Turquzabad.

(lebih…)

Call for Paper Jurnal ICMES Vol. 2 No. 2 (terbit Desember 2018)

Jurnal ICMES diterbitkan oleh lembaga penelitian independen Indonesia Center for Middle East Studies (ICMES). Jurnal ICMES telah terindeks di GARUDA, ISDJ, dan Google Scholar dan artikel yang dipublikasikan dalam jurnal ini melewati prosedur peer-review.

Jurnal ICMES mengundang para peneliti dan penulis untuk berkontribusi dalam kajian Timur Tengah dengan mengirimkan artikel analisis dalam berbagai aspek, mulai dari politik, ekonomi, militer, energi, budaya, dan sejarah.

• Artikel merupakan karya ilmiah orisinil yang belum pernah dipublikasikan.
• Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, 6.000 – 7000 kata.
• Artikel meliputi: judul, nama lengkap penulis, instansi penulis, e-mail, abstrak, kata-kata kunci, pendahuluan, landasan teori/metodologi, pembahasan, penutup/kesimpulan, dan daftar pustaka.
• Abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sebanyak 150-200 kata.
• Kata-kata kunci ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, maksimal 5 kata.
• Kata atau istilah yang belum diubah menjadi kata Indonesia diketik dengan huruf italic/cetak miring.

Batas waktu pengiriman: 25 Oktober 2018

Informasi lebih lanjut: http://ic-mes.org/jurnal/index.php/jurnalICMES/about/submissions

Global Research

Tulisan saya tentang Irak dimuat di Global Research.

Untuk versi bahasa Indonesia, tunggu beberapa hari ini ya, insya Allah akan saya upload di web ICMES.

https://www.globalresearch.ca/washingtons-divide-an…/5653854

Senjata Rusia di Tangan ISIS?

Tulisan saya beberapa waktu lalu, menerjemahkan sebagian isi artikel Jerusalem Post tentang pengakuan militer Israel bahwa mereka selama ini menyuplai senjata, uang, bahkan juga makanan, kepada “mujahidin”, ada yang menanggapi bahwa foto yang SAYA pakai di tulisan itu adalah senjata buatan Rusia (garis bawah: *saya pakai*). Nah, ada seleb ZSM demi membela Israel, berpanjang-panjang nulis status soal foto yang saya pakai itu. Padahal foto yang saya pakai tidak bisa dijadikan argumen untuk membantah berita dari Jerusalem Post itu.

Khas SOP [standard operating procedure] ZSM (dan ini juga khas fans “mujahidin” kalau Anda sering debat dengan mereka, pasti hafal), pakai satu kata atau clue yang bisa digoreng, lalu sibukkan audiens dengan point itu, sehingga diskusi bergeser. Yang awalnya soal berita dari Jerusalem Post [bahwa Israel membantu “mujahidin”] jadi kemana-mana.

Jadi, saya akui saja: saya tidak paham senjata. Jika ditunjukkan foto senjata ke saya, saya tidak tahu jenisnya, apalagi produsennya. Tapi tidak paham ‘benda’-nya tidak berarti tidak paham konteks, konstelasi, dan perspektif geopolitiknya.

Nah tanggapan saya:

(lebih…)

Akhirnya, Israel Mengaku Bahwa Mereka Bantu Teroris Suriah

Bahwa AS dan Israel selama ini ada di balik para “pemberontak moderat” Suriah (sebutan media mainstream untuk para milisi teror afiliasi Al Qaida), kami (kubu antiperang) sih sudah lama tahu. Yang memahami geopolitik Timteng, pasti sejak pagi-pagi sudah paham big picture-nya, sehingga saya bahkan sudah menuliskan peran AS-Israel ini sejak 2011.

Kalau yang menolak informasi ini adalah para fans Al Qaida di Indonesia, biasalah. Yang tidak biasa kalau ada orang-orang yang sok toleran dan sok antiterorisme, tapi berkeras menolak analisis bahwa AS dan Israel ada di belakang para teroris ini. Bahkan ada lho, sosok yang digadang-gadang ‘pengamat Timteng yang meliput langsung di lapangan’ dalam debat di medsos seolah meminta kuitansi (untuk membuktikan klaim bahwa suplai dana dan senjata untuk para teroris ini adalah AS, Israel; selain negara-negara Teluk tentunya).

Jadi, informasi ini buat mereka ya: orang-orang sok toleran dan sok moderat tapi selalu pro AS dan Israel itu. Nih, koran dari negara pujaan kalian sendiri yang nulis, masih denial?

(lebih…)

Mengapa Irlandia Aktif Membela Palestina?

Dalam video 1 menit 54 detik ini, Anda akan lihat bagaimana orang-orang bule Irlandia, anggota Parleman, membela Palestina dan menyepakati UU yang melarang masuknya produk-produk dari kawasan pendudukan Palestina (kawasan Palestina yang dirampas dan djadikan permukiman illegal oleh orang-orang Israel).

“Lho, orang Irlandia kan bukan Muslim?” Mungkin, orang-orang yang selalu saja memandang konflik Palestina-Israel adalah konflik agama akan bertanya demikian.

Simak penjelasannya di artikel karya dosen HI UI Rostamaji Korniawan berikut ini. Dimuat di Jurnal ICMES (jurnal kajian Timteng). Dan sekali lagi, tenang, meski ini artikel jurnal, tetap enak dibaca n ga bikin mumet. 🙂 Kita perlu membiasakan diri baca-baca tulisan panjang biar pemahaman kita bisa lebih utuh.

http://ic-mes.org/jurnal/index.php/jurnalICMES/article/…/4/6

simak video selengkapnya di https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/2163982557163667/

Sedang mempresentasikan paper berjudul “Intertwine between Technology and Diplomacy: Indonesian e-Diplomacy in Achieving Palestinian Independence” di The 7th International Conference on Business, International Relations, and Diplomacy (ICOBIRD), BINUS University (5-6 Sept 2018)

Salah satu rekomendasi paper ini, pemerintah perlu lebih aktif lagi menggunakan Twitter dalam berdiplomasi untuk membantu Palestina mencapai kemerdekaannya.

Trump dan Suriah

Dulu, ketika Trump belum jadi presiden, dia cukup waras dengan mengingatkan publik AS, “Kebanyakan pemberontak Suriah adalah jihadis-radikal-Islamis yang membunuhi orang-orang Kristen; mengapa kita harus membantu mereka?” (foto 1)

Tapi setelah ia menjadi presiden, dia mentweet, menyalahkan Obama, kurang-lebih, “Kalau saja dulu Obama menyerang Suriah secara langsung, Assad sudah mati dan masalah Suriah sudah selesai!” (foto 2)

Beberapa bulan ini, tentara Suriah sudah berhasil merebut kembali hampir semua wilayah yang semula dikuasai oleh “mujahidin” (yang dibantu AS, Inggris, Qatar, Saudi, UAE, dll). Para “mujahidin” warga Suriah yang bersedia menyerah dan bergabung kembali dengan negaranya, diberi amnesti. “Jihadis” asing (atau warga Suriah tapi tak mau bergabung kembali) dikirim ke Idlib.

Jadi, Idlib (provinsi yang berbatasan dengan Turki) adalah tempat berkumpulnya sangat banyak “jihadis” (alias teroris, karena mereka sebenarnya adalah anggota milisi-milisi yang berafiliasi Al Qaida, dan seluruh dunia sudah mengakui bahwa Al Qaida adalah teroris; mereka yang di Idlib sebenarnya adalah Al Qaida tapi dengan berbagai nama baru).

(lebih…)

New Release 2013

prahara suriah

New Release (2013)

"dokter cilik"
obama
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
"pelangi di persia"