Arsip 2007 ~ Sekarang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.849 pengikut lainnya.

ISIS dan Ideologi “Anti-Perbedaan”

ISIS dan Perempuan Dulu, saya pernah menulis tentang ‘mengapa anak-anak gadis banyak yang kabur bersama lelaki yang baru dikenalnya di FB?’ Jawaban utamanya, karena jablay (jarang dibelai orang tua) dan kurang kasih sayang di rumah.

Sekarang, muncul fenomena baru: anak-anak gadis (terutama dari AS dan Eropa) banyak yang kabur dari rumah untuk bergabung dengan ISIS. Bagaimana bisa? Ternyata jawabannya sama saja: mereka gadis-gadis yang jablay, kurang kasih sayang, dan jatuh cinta pada ‘mujahidin’ setelah berkomunikasi intens melalui berbagai media sosial (medsos).

Yang lebih menarik, saya dapati info bahwa anasir ISIS benar-benar mengurusi satu-persatu “korban”-nya di internet. NYTimes menulis reportase bagaimana seorang gadis Nasrani dari Amerika bernama Alex (26 tahun) dibujuk dengan sangat sabar dan perlahan oleh teman online-nya, bernama Faisal. Alex adalah gadis yang kesepian, meskipun hidup bersama neneknya. Faisal terus “mendampingi” Alex. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari berkomunikasi lewat Twitter, Skype dan email. Bahkan, sesekali Faisal mengirimi uang dan hadiah. Target akhir Faisal adalah Alex pergi ke Suriah untuk menjadi istri “mujahidin”. (lebih…)

LAWAN!

hoax1Kemarin, dua teman membuat album foto “Melawan Hoax”. Menurut saya itu keren sekali. Out of the box. Hingga saat ini, yang share sudah 658 kali (dalam tempo 19 jam). Upaya perlawanan seperti ini penting banget didukung.

Jangan disangka satu upaya kecil dari kita (bahkan sekedar like dan share) gak ada efeknya. Saya pernah jadi ‘saksi sejarah’. Periode 2012-2014 adalah heboh-hebohnya perang Suriah. Saya sejak 2012 sudah memprediksikan efek Perang Suriah bagi kehidupan sosial di Indonesia (yaitu meningkatnya kebencian antarumat, serta potensi penyebaran jihad ke Indonesia). Waktu itu saya dan beberapa teman aktif di medsos (sebenarnya kontribusi saya juga sangat sedikit, maklum ibuk-ibuk RT banyak urusan) mencoba meluruskan berbagai informasi ttg Suriah.

Soalnya, “mereka” itu menggunakan berbagai informasi sesat untuk menggalang dana dan kebencian umat; mereka keliling masjid-masjid di seluruh Indonesia dengan membawa foto-foto dan film-film palsu “pembantaian terhadap kaum Sunni di Suriah”. Dalam majlis-majlis itu, umat Syiah dicaci-maki, dikafir-kafirkan, lalu jamaah dimintai dana untuk “membantu saudara Sunni di Suriah”. Kemana uang itu pergi? Tebak saja sendiri. Yang jelas, para “mujahidin” itu dapat gaji ratusan-ribuan dollar perbulan. Menurut pengamatan saya, upaya pelurusan info via medsos cukup berhasil, minimalnya saya lihat sudah sangat banyak orang berkomentar keren karena paham peta konflik ini.

Lalu, bulan Februari lalu, Ustadz Arifin Ilham dengan mimik muka geram berteriak “Jihaaaad!” di depan layar TV hanya gara-gara ada keributan antara sekelompok orang (isu yang diedarkan: orang Syiah memukuli santri ust Arifin). Saya menulis surat terbuka untuk sang ustadz di blog, menjelaskan peta konflik dunia, kaitan Suriah, Libya, dan “jihad” di Indonesia. Tulisan itu pun menyebar luas. Bahkan saya diwawancarai Metro TV.

(lebih…)

NOPE, NOPE, NOPE

Saat ditanya wartawan soal komitmennya membantu pengungsi Rohingya, PM Australia, Tony Abbot menjawab enteng, “Nope, nope, nope.” (tidak, tidak, tidak)

Abbot memang ahli dalam urusan melempar tanggung jawab soal pengungsi kepada Indonesia. Beberapa waktu lalu, dia membeli lifeboat berwarna oranye dari Singapura. Lalu, ketika ada kapal berisi pencari suaka yang masuk ke perairan Australia, aparat menangkap penumpangnya, lalu memaksa mereka masuk ke lifeboat itu dan digiring masuk ke perairan Indonesia. Setelah terdampar di Indonesia, otomatis tanggung jawabnya jatuh ke tangan Indonesia. Padahal Indonesia tidak menandatangani Konvensi PBB tentang pengungsi; Australia menandatanganinya. Tapi Indonesia sudah menjalankan kewajiban kemanusiaannya dengan menampung lebih dari 11 ribu pengungsi dari 41 negara; termasuk yang ‘dibuang’ oleh Australia. Padahal Indonesia bukan tujuan para pengungsi. Semua juga tahu, sulit cari kerja dengan penghasilan tinggi di Indonesia. Mereka ingin ke Malaysia dan Australia; tapi terdampar di sini

Indonesia sudah berbuat sangat banyak dan melampaui kewajibannya (istilahnya: sudah ‘extramile’) untuk Rohingya selama ini (jadi mengevaluasinya tidak bisa sebatas sebulan terakhir saja, dengan dilandasi kebencian pada pemerintah saat ini). Jumlah pengungsi Rohingya dan Bangladesh (mereka sering disangka sama karena berasal dari kapal yang sama) di Indonesia 1346 orang.

Tahun 2012, JK datang langsung ke Myanmar membawa bantuan; Menlu Marty juga ke Myanmar tahun 2014 menyampaikan komitmen bantuan 1 Juta Dollar dan bertemu langsung dengan warga etnis Rohingya *sayangnya tidak sambil nangis* dan pada Desember 2014, Wamenlu AM Fachir meresmikan 4 sekolah bantuan Indonesia di 3 desa di Rakhine (daerah konflik) dengan menggunakan dana 1 juta dollar itu. Civil society pun tak kalah sigap, misalnya MER-C yang sudah dua kali mengirim misi bantuan medis ke Rakhine.

Jadi, bantulah Rohingya dengan ‘pride’ atau kebanggaan sebagai bangsa. Kita ini bahkan jauh lebih beradab dari Australia. Juga ingatlah, masih ada 90.000 pengungsi domestik (mereka yang terusir dari kampung halaman karena berbagai konflik SARA) yang jauh lebih penting dibantu agar bisa kembali ke kampung halaman. Jangan selalu sibuk mengurus tetangga sementara saudara sendiri diabaikan.

Jangan kayak oknum di foto (kanan), yang menggunakan foto kapal perang milik Indonesia (KRI Sultan Iskandar Muda 367) untuk mengelu-elukan pemerintah negara asing: “Amanat Presiden Turki Erdogan kepada Pemerintah Indonesia dan Malaysia: …Jangan halang armada kapal perang kami memasuki perairan Indonesia dan Malaysia…” Memalukan.

klik untuk memperbesar

klik untuk memperbesar

Rohingya dan Kita

warga Rohingya di Kamp Birem-Bayeun, Aceh (foto: JPNN)

warga Rohingya di Kamp Birem-Bayeun, Aceh (foto: JPNN)

Berikut ini copas status facebook saya, plus tambahan komentar yang saya tulis atas komentar orang (dg pengeditan). Dicopas di sini sebagai arsip.

ROHINGYA Sore tadi saya beruntung -dalam perjalanan pulang dari kampus- semobil dengan dua pakar HI *yang berkali-kali masuk tivi*. Saya sempat bertanya soal Rohingya.

Pakar pertama jawab: “Oh, itu masalah humanity, tentu harus dibantu. Soal dana bukan masalah, banyak, kita bisa klaim dari UNHCR.” Pakar kedua menjawab, “Betul, dana berlimpah. Bahkan Australia juga siap bantu. Tapi, yang harus dipikirkan dampak sosialnya. Mereka akan menetap di sini, sulit dipulangkan. Makanya Australia lebih suka kasih uang daripada mereka sendiri yang mengurus langsung para pengungsi (secara umum, tidak hanya Rohingya).”

Saya pernah merasakan secara langsung seperti apa “dampak sosial” yang dimaksud oleh pakar HI di atas, waktu saya berada di Iran yang menampung sekitar 4 juta pengungsi dari Afghanistan korban Taliban dan Amerika. Saya merasakan (sedikit) bagaimana rasanya jadi pengungsi Afghan karena saya sering disangka orang Afghan (konon wajah saya mirip Afghani *hiks*) dan mengalami beberapa hal yang tidak mengenakkan.
Saya tidak akan ceritakan detil isi percakapan kami selanjutnya. Yang membuat saya merenung lama: jika yang akan jadi masalah adalah ‘dampak sosial’, maka yang dibutuhkan adalah welas asih. Tapi, seberapa panjangkah “nafas” orang Indonesia untuk mampu berwelas asih dalam jangka panjang kepada para pengungsi itu? Semua kita tahu bahwa bangsa kita ini cepat panas, cepat dingin dan lupa. Kalau ada muatan politik dan agama, baru heboh. Setelah itu sepi.
Agaknya, inilah yang harus digaungkan oleh para pengusung “Save Rohingya”. Jangan melulu terpaku soal urusan bantuan materil. tapi mulailah mengedepankan wacana ‘bantuan’ berupa welas asih jangka panjang. Welas asih itu sesuatu inheren, yang harus ditumbuhkan dalam diri. Anda tidak disebut welas asih ketika masih berpikir “siapa” yang dibantu (kalau segolongan dibantu; kalau tidak, cuekin saja, kalau perlu difitnah-fitnah sebagai justifikasi untuk tidak membantu). Perjuangan untuk bisa memberikan keadilan kepada Rohingya masih sangat panjang. Jangan berharap sebulan-dua bulan urusan ini akan selesai. Prediksinya adalah: bertahun-tahun ke depan, orang Rohingya akan tetap berada di sini. (Saya akan usahakan menulis artikel ilmiahnya).
Jadi, setidaknya, mulailah dari diri sendiri. Serukan bantuan dengan tulus. Jangan sambil menyindir, memaki, menyebarkan berita bohong, menyebarkan kebencian, dan mempolitisasi isu demi kepentingan golongan. Selama pola pikir kebencian masih terus bercokol, nafas kita tidak akan panjang dalam membantu mereka. Dalam waktu singkat kita akan tersengal-sengal, lalu diam dan pura-pura lupa.

(lebih…)

[Public Lecture] Global Leadership by Dina Y. Sulaeman

Tanggal 29 April-2 Mei 2015, digelar Konferensi Pelajar/Mahasiswa Asia Afrika di Gedung Merdeka (selanjutnya akan disingkat AASC- Asian-African Student Conference), Bandung. Saya diminta memberikan kuliah umum dengan tema ‘Global Leadership’. Sebelum saya menuliskan di sini, apa yang saya sampaikan dalam kuliah umum itu, saya ingin bercerita sedikit tentang sejarah AASC.

AASC pertama kali diselenggarakan tahun 1956, setahun setelah Konperensi Asia-Afrika pertama. Delegasi Indonesia waktu itu diketuai oleh Emil Salim. AASC 2015 dibuka oleh Wakil Menlu, Bpk AM Fachir dan diawali dengan keynote speech dari Bapak Emil Salim. Dalam pidatonya, Emil Salim mengenang, banyak peserta AASC yang di kemudian hari menjadi menteri-menteri di negara mereka (termasuk Emil Salim sendiri).

aasc2015

Pimpinan AASC 2015

Andrew Philips dan Tim Dunne (keduanya pemikir HI terkemuka dari Australia), menulis, ada 3 nilai penting KAA, yaitu:

  1. KAA menghasilkan “statemen melawan kolonialisme” pertama yang paling sistematik. Imperialisme Eropa telah runtuh pasca Perang Dunia II, namun, berkumpulnya 24 negara yang baru merdeka dalam KAA, telah mempercepat keruntuhannya. [Pasca KAA, semakin banyak bangsa terjajah yang meraih kemerdekaannya; pada tahun 1965, sudah ada 75 negara merdeka]. Menariknya, KAA tidak hanya anti-imperialisme Barat. Beberapa negara peserta KAA yang pro-Barat juga mengkritik dominasi Uni Soviet di Eropa Timur. Karena itulah komunike akhir KAA mengkritik kolonialisme “dalam segala bentuk” (in all its manifestations).
  1. KAA menandai masuknya China sebagai kekuatan politik baru dunia. Diundangnya China membuat khawatir sebagian negara peserta KAA. Dari 29 negara yang menghadiri, 22 di antaranya tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Menlu China, Zhou Enlai, berhasil menghapus ketakutan ini dengan menekankan kerjasama damai. [Enlai mengawali pidatonya dengan kalimat “Saya datang tidak untuk bertengkar…”]
  2. KAA membuka jalan bagi munculnya bentuk baru diplomasi keamanan; yaitu tidak memihak pada salah satu kekuatan besar dunia (Gerakan Non Blok).
AASC 1956 sumber: http://aasc2015.com/?p=323

AASC 1956 sumber: http://aasc2015.com/?p=323

Potensi munculnya kekuatan baru dunia yang menentang imperialisme modern (penjajahan ekonomi) membuat AS dan negara-negara Barat lainnya sangat mengkhawatirkan KAA. Sejak awal mereka berusaha menjegal terlaksananya KAA dengan berbagai cara, antara lain melalui intimidasi media (“beggars who never will learn“). Sebelum KAA, belum pernah ada pemimpin Asia dan Afrika yang berani menyelenggarakan konferensi internasional tanpa sponsor dari AS/Eropa (atau Soviet).

(lebih…)

[Makalah Seminar] Perempuan dan Globalisasi

Ilham, seorang perempuan Yazidi di kamp pengungsian (26 Feb 2015). Dia baru diselamatkan setelah diculik ISIS pada Agustus 2014 dan diperkosa oleh jihadis. (sumber foto: Straits Times 14/4)

Ilham, seorang perempuan Yazidi di kamp pengungsian (26 Feb 2015). Dia baru diselamatkan setelah diculik ISIS pada Agustus 2014 dan diperkosa oleh jihadis. (sumber foto: Straits Times 14/4)

Dalam seminar internasional di Makassar (9 April 2015), saya sebenarnya sudah menyiapkan makalah, tapi rupanya panitia memang tidak mengagendakan pembagian makalah tersebut. Lalu, ada seorang peserta seminar meminta file makalah, saya janjikan untuk saya upload di blog saya. Jadi ini pemenuhan janji saja.

Berikut ini makalah singkat yang saya tulis untuk seminar tersebut, saya tambahkan data yang kebetulan saya dapatkan hari ini, yaitu laporan PBB terbaru, bahwa JIHADIS MENGGUNAKAN PEMERKOSAAN PEREMPUAN SEBAGAI STRATEGI PERANG.

===

Perempuan dan Globalisasi: Think Global Act Local

Dina Y. Sulaeman*

Globalisasi adalah fenomena semakin terhubungnya antar-negara dan antar-individu di dunia, baik melalui hubungan ekonomi, politik, maupun sosial. Berkat kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi, lalu-lintas orang, barang, jasa, dan ide menjadi semakin mudah sehingga seolah-olah batas antarnegara menjadi kabur.

Di balik berbagai kemudahan dan kenyamanan hidup, serta ‘kemajuan’ yang diberikan oleh globalisasi, sesungguhnya ada masalah besar yang diderita oleh mayoritas manusia di bumi. Arus globalisasi didorong oleh kekuatan-kekuatan ekonomi dunia (korporasi) yang ingin mencari profit yang lebih besar dengan cara menguasai sumber-sumber ekonomi di berbagai penjuru dunia. Dengan cara ini, akumulasi uang terbanyak berada di tangan segelintir manusia, sementara sebagian besar penduduk bumi harus bekerja keras memperebutkan sisanya.

Archer (2009) memetakan ada tiga dampak negatif globalisasi bagi perempuan. Secara umum, menurut Archer, dampak globalisasi memang beragam. Perempuan yang berada dalam tingkat ekonomi dan sosial tinggi lebih mampu meraih keuntungan dari globalisasi. Misalnya, mereka mampu berbisnis online dengan pendapatan yang sangat besar. Namun, bagi perempuan yang berada di tingkat ekonomi dan sosial yang lemah, globalisasi justru semakin memarjinalisasi dan memiskinkan mereka.

(lebih…)

Yemen for Dummies

Sebenarnya, mencerna konflik Yaman itu tidak sulit-sulit amat. Asal punya basis logika yang kuat, sudah cukup. Berikut ini analisis singkat dan logis yang saya adaptasi dari status dan komen cerdas beberapa orang di Facebook.

 

Pemberontak di Suriah dan Libya diberi julukan mujahid. Pemberontak di Yaman disebut bughot. Kok bisa??

Di Iran tidak ada kedutaan AS dan Israel, tapi Iran disebut “sekutu Israel”. Di Saudi ada pangkalan militer AS dan di Qatar ada Kedutaan Israel. Tapi mereka disebut “anti Amerika dan Israel”. Kok bisa?

Sumber: Fafa Azami

 

yemen-saudi 1

 

Apakah alasan Arab Saudi menyerang Yaman?

  1. Jika karena alasan Syiah, bukankah di Arab Saudi sendiri juga banyak Syiah?
  2. Jika dengan alasan membasmi pemberontak (bughot), mengapa pemberontak di Suriah malah didukung Arab Saudi?
  3. Jika dengan alasan Syiah, mengapa Arab Saudi tidak segera menyerang Iran yang jelas-jelas Syiah dan menjadi pendukung rezim Suriah dan milisi Houthi di Yaman?

Sumber: Kyai Zainal

yemen-saudi 2

Apakah alasan Arab Saudi menyerang Yaman?

  1. Jika Arab Saudi sedang memberikan bantuan kemanusiaan untuk warga Yaman, mengapa menggunakan bom, korban yg berjatuhan pun dari pihak sipil (wanita dan anak kecil)?
  2. Jika Arab Saudi sedang memperjuangkan agama Islam, mengapa dibantu AS dan Israel?
  3. Jika Arab Saudi sedang membantu sesama Arab (rezim Mansur Hadi yang minta perlindungan), bukankah Palestina juga sangat Arab? Mengapa setelah berlalu puluhan tahun, Saudi tak juga menyerang Israel yang menindas warga Arab Palestina?
  4. Jika Arab Saudi ingin menegakkan demokrasi (melindungi rezim Mansur Hadi), bukankah Arab Saudi sendiri adalah rezim monarkhi non- demokratis?

Sumber: Muhammad Dudi  Hari Saputra

 

yemen-saudi 3

Mereka dulu mengatakan, “Kami serang dulu Suriah, setelah itu baru kami ke Palestina untuk taklukkan Israel.”

Kini, saat menyerang Yaman, mereka berkata, “Raja Salman meniru Salahudin Al Ayubi, menyerang Syiah dulu, baru melawan Romawi.”

Mereka pura-pura lupa: yang menjual senjata ke Arab Saudi adalah AS. Apakah mereka kira AS mau menjual senjata-senjata itu bila digunakan Arab Saudi untuk menyerang Israel?!

Sumber: Ismail Amin

yemen-saudi 4

Saat Hosni Mubarak digulingkan melalui aksi-aksi demo masif rakyatnya sendiri, Arab Saudi secara resmi menentang penggulingan itu, tapi tak melakukan apapun.

Saat Presiden Mursi dikudeta, Saudi mengucapkan selamat pada Jenderal Al Sisi dan memasukkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris.

Saat Presiden Bashar Assad diperangi oposisi dan pemberontak, Saudi mendukung (dan membiayai) pemberontak itu.

Saat rakyat Bahrain berdemo besar-besaran untuk menuntut raja dari dinasti Al Khalifah mundur, Saudi mengirim pasukannya untuk menembaki dan menangkap para demonstran.

Saat rakyat Palestina lebih 60 tahun berjuang melawan Israel yang menjajah tanah air mereka, Saudi diam saja.

Saat rakyat Yaman dari berbagai faksi dan mazhab berdemo besar-besaran memprotes rezim Mansour al Hadi, Saudi membombadir Yaman.

Kesimpulan: peta lawan-dan-kawan Saudi sangatlah acak, tidak melulu Sunni atau melulu Syiah. Jadi akar konflik bukan mazhab, tapi kepentingan (uang & kekuasaan).

Sumber: Ismail Amin

 

Baca pemetaan konflik di Yaman: Ada Apa dengan Yaman?

Ada Apa dengan Yaman?

Ada apa dengan Yaman? Sebaiknya kita lihat dulu petanya.

Sumber peta: www.nystromnet.com

Di peta terlihat bahwa Yaman berbatasan darat dengan Arab Saudi, dan menguasai perairan strategis Bab el Mandab dan teluk Aden, dan bahkan menguasai pulau Socotra yang kini menjadi pangkalan militer AS. Jalur perairan ini sangat penting karena menjadi tempat lewatnya kapal-kapal tanker pembawa minyak dari Teluk Persia ke Eropa (melewati Terusan Suez). AS sangat berambisi mengontrol jalur minyak ini dan di saat yang sama, secara ekonomi Iran pun terancam bila AS sampai menguasai jalur tersebut. Selain itu, meski saat ini produksi minyak Yaman hanya 0,2% dari total produksi minyak dunia, negeri ini menyimpan cadangan minyak yang sangat sangat besar.

Kelompok-kelompok Utama dalam Konflik Yaman:

  1. Ikhwanul Muslimin vs Imam Yahya (Syiah Zaidiyah)

Yaman tadinya berada di bawah kekuasaan Imperium Ottoman. Kemudian, setelah Ottoman kalah dalam Perang Dunia I, Inggris menguasai Yaman selatan (terutama wilayah Aden yang menguasai jalur laut); sementara Yaman utara dikuasai oleh Imam Yahya yang bermazhab Syiah Zaidiah, yang membentuk Kerajaan Yaman. Italia mengakui pemerintahan Imam Yahya, sementara Inggris menentangnya karena tekad Imam Yahya adalah mengusir Inggris dan menyatukan Yaman.

Inggris (dan Mesir) membacking gerakan “Free Yemenis” yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin. Gerakan ini pada tahun 1962 berhasil menggulingkan pemerintahan Imam Yahya dan memproklamasikan “Republik Arab Yaman.”

Pemerintahan baru ini memperluas gerakan untuk menguasai Yaman selatan (yang dikuasai Inggris), dengan meminta bantuan militer dari Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser yang mengirim 70.000 tentara ke Yaman (1962-1965).

Inggris, yang memusuhi Nasser akibat aksinya menasionalisasi Terusan Suez tahun 1956, menggunakan konflik internal Yaman untuk melemahkan Nasser, dengan bantuan Mossad, CIA, intelijen Arab Saudi, dan SAVAK (intel Iran zaman Syah Pahlevi). Selama tahun 1960-an, AS menyuplai perlengkapan militer Arab Saudi senilai 500 juta Dollar (agar Arab Saudi semakin kuat dan memegang kendali dalam konflik di Yaman). Tahun 1968, Nasser mundur dari Yaman, dan setahun sebelumnya, Inggris juga angkat kaki dari negara itu.

Namun, kelompok pro Naser masih eksis hingga sekarang dan menjadi salah satu aktor utama politik Yaman, yaitu the Nasserite Unionist People’s Organization.

  1. Partai Sosialis vs Ikhwanul Muslimin

Tahun 1967, the National Liberation Front (NLF) yang berhaluan Marxis menguasai Yaman selatan dan membentuk negara independen (Republik Rakyat Demokratik Yaman). Sementara itu, sejak tahun 1978, Republik Arab Yaman dipimpin oleh Presiden Ali Abdullah Saleh.

(lebih…)

Perempuan dan ISIS

dua wanita italia yang disandera isis

dua wanita italia yang disandera jihadis

Berita tentang 16 WNI yang “hilang” di Turki dan dicurigai bergabung dengan ISIS, membuat saya teringat pada tulisan William Blum (penulis buku “Demokrasi, Ekspor AS Paling Mematikan”).

Blum menulis dalam artikelnya:

Setelah melihat beberapa video aksi ISIS di internet, yang penuh dengan berbagai adegan menjijikkan, terutama terhadap kaum wanita, pemikiran saya adalah: berikan kepada mereka (ISIS) negara untuk mereka sendiri. Siapapun yang ingin meninggalkan negara itu, akan ditolong untuk keluar. Siapa saja yang ingin datang, dibiarkan datang, namun mereka tidak boleh keluar lagi tanpa melalui seleksi ketat, untuk mengetahui apakah mereka sudah kembali ‘menjadi manusia’. Bagaimanapun juga, karena dipastikan hanya sedikit perempuan yang mau tinggal di negara ISIS, negara itu tidak akan bertahan lama.

Kalimat terakhir menggelitik saya: ‘dipastikan hanya sedikit perempuan yang mau tinggal di negara ISIS’.

Lalu, mengapa anak-anak gadis dari Eropa berdatangan ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS? Mengapa juga perempuan-perempuan Indonesia banyak yang mendukung ISIS (setidaknya, begitulah mereka berkoar-koar di media sosial; salah satunya seorang perempuan cantik -sepertinya ini akun asli- mengirim inbox kepada saya, menyatakan memang pernah ke Suriah, entah apa yang dia ‘alami’ di sana, saya tak mau repot-repot bertanya, karena jelas sekali dia pendukung  mujahidin)? Di antara 16 WNI yang “hilang” di Turki (yang terindikasi bergabung dengan ISIS) ada 5 perempuan, yang bahkan di antaranya membawa anak usia 1 tahun.

Ini info yang saya dapatkan selama ini:

1. Para gadis muda Eropa itu jatuh cinta kepada para jihadis yang mereka jumpai di internet, lalu mengambil keputusan nekad meninggalkan keluarga mereka. Ini sama sekali tidak mengherankan, kasusnya sama saja dengan sekian banyak kasus anak gadis atau ibu-ibu alay yang jatuh cinta pada rekan facebooknya. Hanya saja, untuk kasus ISIS, ada embel-embel “jihad”-nya. Jadi, untuk para Ibu yang masih “manusia”, harap berhati-hati memperhatikan anak-anak gadisnya yang gemar berjejaring sosial.

2. Khusus utk perempuan Indonesia, saya amati dari komentar-komentar mereka di media sosial, mereka mengira kehidupan di bawah rezim ISIS adalah kehidupan yang baik-baik saja. Mereka tidak terpengaruh oleh banyaknya video yang menunjukkan kebrutalan ISIS karena “yang diperlakukan demikian adalah orang kafir.” Salah satu komentator di medsos menulis, “Yang takut sama ISIS/jihadis itu adalah hanyalah orang-orang kafir dan syiah”. Jadi, selama mereka tidak kafir dan tidak syiah, mereka kira, mereka akan baik-baik saja, bahkan hidup tenteram di sana. Apalagi, para jihadis ISIS dan sejenisnya (mereka punya banyak nama, saling berseteru satu sama lain, tapi perilaku dan ideologinya sama saja; antara lain Jabhah Al Nusra yang didukung Turki) menerima gaji besar ratusan hingga ribuan dollar perbulan. Sungguh sangat menggiurkan bagi orang-orang berekonomi lemah di Indonesia yang telah dicekoki radikalisme. Apalagi yang lebih indah buat orang semacam mereka: beribadah, berjihad, dapat gaji dollar pula? (Saya baca profil salah satu keluarga yang “hilang” di Turki di detik, ternyata mereka keluarga radikal yang miskin; penampilan celana cingkrang dan istrinya pakai cadar; tidak mau bergaul dengan tetangga).

Tapi tunggu saja. Saya percaya pada prediksi William Blum: hanya sedikit perempuan yang mau tinggal di negara ISIS. Selama mereka masih punya sedikit otak dan hati (dan masih hidup, tentu saja), lambat laun mereka akan sadar sudah dibodoh-bodohi. Syukur-syukur ketika mereka sadar, negara (pemerintah) Indonesia mau membayar uang tebusan, seperti yang dilakukan pemerintah Italia.

italian women isis2

dua wanita italia sblm disandera jihadis

 

[note: di berbagai berita, kedua perempuan Italia itu disebut “aktivis kemanusiaan”, namun, bila dilihat dari facebook mereka, mereka banyak berteman dengan para jihadis, dan bahkan posting foto dengan bendera oposisi; dan disimpulkan bahwa ceritanya sama saja: kedua wanita ini awalnya ‘terpesona’ pada jihadis lewat internet dan datang ke Suriah, lalu menyesal dan minta dipulangkan; dan Italia harus membayar 12 Juta Dollar sebagai tebusan.]

Mengapa ISIS Membenci Naskah Kuno?

Saat berdiskusi dengan seorang dosen filologi, saya jadi sadar betapa berharganya naskah kuno bagi sebuah bangsa. Bahkan eksistensi bangsa itu bisa terjaga bila naskah kunonya dijaga dan dipelajari.

Misalnya saja, dari Surat Emas Raja-Raja Nusantara, terbukti bahwa selama lebih dari empat ratus tahun, raja-raja di Nusantara menulis surat dalam bahasa Melayu dengan huruf Jawi (Huruf Arab-Persia) kepada para raja di luar negeri. Salah satunya,  surat Sultan Iskandar Muda dari Aceh pada tahun 1615, yang ditujukan kepada Raja James I. Perhatikan: surat itu tidak dalam bahasa Inggris. Artinya, para raja dan pembesar di mancanegara-lah yang harus mempelajari bahasa Melayu. Artinya, saat itu, siapa yang lebih dominan dan lebih berkuasa? Jelas nenek moyang kita, bangsa Melayu. Dan keunggulan budaya itu tentu tidak ujug-ujug muncul tahun 1600-an itu, pasti ada proses panjang yang mendahuluinya.

Lalu, mengapa situasinya kini sangat berbalik? Mengapa yang disebut-sebut sebagai budaya ‘nenek moyang kita’ bukan budaya yang unggul ini; yang pasti membuat rasa nasionalisme dan rasa bangga sebagai Indonesia membuncah, dan akan memicu keberanian saat bernegosiasi dengan bangsa lain. Tidak seperti sekarang: orang Indonesia cenderung inferior di hadapan orang Barat.

(lebih…)

New Release 2013

prahara suriah

New Release (2013)

"dokter cilik"
obama
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
"pelangi di persia"
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 5.849 pengikut lainnya.