Kajian Timur Tengah

Beranda » Articles posted by dinasulaeman

Author Archives: dinasulaeman

Iklan

Israel di Balik Kisruh Venezuela (2)

Kudeta (gagal) di Venezuela awal 2019 ini dipimpin oleh Presidan AS, Donald Trump dan kubu neokonservatif (neocon) AS. Kubu ini awalnya tidak menyukai Trump, namun kini mereka kembali mendominasi arah kebijakan luar negeri AS.

Apa itu kubu neocon? Ini adalah kelompok elit di pemerintahan AS yang punya tujuan ideologis menjaga keamanan Israel. Pakar HI, Robert Gilpin, pernah menulis artikel jurnal berjudul “War is Too Important to Be Left to Ideological Amateurs’ [Perang terlalu penting untuk diserahkan kepada amatir ideologis] blak-blakan menyatakan bahwa arsitek perang Irak adalah kelompok neocon yang bertujuan untuk melakukan “restrukturisasi radikal atas relasi geopolitik di kawasan dengan tujuan untuk menciptakan keamanan jangka panjang bagi Israel.”

Itu kan perang Irak, apa kaitannya dengan Venezuela? Nah, itulah mengapa dipakai istilah ‘ideologi’: ideologi neocon adalah ideologi perang demi Israel, namun sejalan dengan itu, ada uang besar yang bermain dalam industri perang. Kelompok neocon yang berlumuran darah di Irak, Libya, Yaman, dan Suriah, dan sejak 40 thn yll berupaya menumpahkan darah di Iran, adalah kelompok yang sama yang secara terbuka melakukan upaya kudeta di Venezuela.

(lebih…)

Iklan

(Lagi-Lagi) Ada Israel di Balik Venezuela

Ada berita yang dirilis media Israel sekitar 2 hari yll (dan sudah diberitakan ulang oleh MSM, dan diterjemahkan oleh media-media di Indonesia): “presiden jadi-jadian” Venezuela, Juan Guaido menyatakan akan ‘menstabilkan kembali hubungan Venezuela-Israel’. Israel, yang mengaku negara paling demokratis di Timteng, sudah mengakui Guaido sebagai ‘presiden’ Venezuela, padahal Guaido mendeklarasikan diri sendiri sebagai presiden, tanpa melalui pemilu.

Sungguh ini pembuktian pernyataan saya dan banyak pengamat Timteng lainnya (yang bukan ‘jubir lokal AS&Israel, tentu saja) bahwa dalam banyak sekali konflik di muka bumi ini [termasuk di Indonesia], ada tangan-tangan Israel. Biasanya, pernyataan ini akan segera ditertawakan oleh para jubir lokal AS&Israel, disebut sebagai ‘teori konspirasi’. Padahal yang disebut teori konspirasi itu adalah ketika kita ‘mencocok-cocokan’ tanpa data. Kalau ada data yang valid tentu tidak bisa disebut ‘teori konspirasi’.

Tapi, lagi-lagi, biasanya, apapun data yang kita kasih akan direndahkan, ditolak, atau diabaikan oleh mereka ini, apalagi bila sumber infonya bukan MSM (mainstream media/media arus utama, contoh, CNN, New York Times, Fox, dll). Atau, kalau perlu, sekalian jatuhkan (hina) kredibilitas si penulis yang melawan mereka. Memang demikianlah SOP (standar operating procedur) mereka ini.

[Lucunya, cara mereka ini persis sama seperti kaum radikalis pendukung ‘mujahidin’ Suriah (ISIS, Alqaida, dkk), tanya kenapa?]

(lebih…)

Venezuela dan Pelajaran Buat Indonesia

Rasanya geli sekali kalau membaca jubir lokal AS mengata-ngatai Chavez dan Maduro sebagai hipokrit: teriak-teriak anti-AS tetapi jualan minyak tetap ke AS; sambil menasehati netizen agar selalu berbaik sangka pada Elang Gundul.

Apakah bila suatu negara jual barang ke AS, artinya negara itu harus tunduk pada kemauan politik AS, tanpa syarat? Bahkan harus nurut saja ketika AS mendukung laki-laki-bodoh-entah-siapa-yang-tak-ikut pemilu sebagai presiden? Logika macam apa itu?

Venezuela jual minyak ke AS jelas karena ada kebutuhan dari pihak AS juga. Supply and demand. Ketika AS menolak membeli, dalam kondisi normal, Venezuela bisa cari pasar lain. Tapi situasi berbeda karena AS selalu memberi sanksi semaunya. [Hal serupa terjadi di Iran: AS melarang negara-negara lain –baik dengan bujukan atau ancaman—membeli minyak dan berinvestasi di Iran.]

Dan yang jelas, sanksi yang diberikan Trump adalah KECURANGAN: minyak Venezuela sudah/sedang masuk ke AS, tetapi uangnya tidak dibayarkan. Padahal uang itu sangat dibutuhkan Venezuela untuk membeli pangan dan obat-obatan.

(lebih…)

Catatan Bedah Buku Prahara Suriah

bedahbukusuriah

Al ilmu nuurun, ilmu itu cahaya. Sebagaimana logo Muhammadiyah, matahari yang bersinar, kemarin di PP Muhammadiyah telah berlangsung sebuah diskusi yang penting, yang pada hakikatnya upaya mencari ilmu atau cahaya terang. Sebaliknya, para penyebar hoax dan pengusung ideologi takfiri&radikalisme, pada hakikatnya  orang-orang yang ingin agar umat terus berada dalam kegelapan, agar tak bertemu dengan cahaya.

Acara yang berlangsung pada Jumat siang-sore itu (18 Jan 2019) bertajuk ‘Prahara Suriah, Hoax, Media Sosial, dan Perpecahan Bangsa.’ Acara ini diadakan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, dengan narasumber: Kombes Pol.R.Ahmad Nurwahid, S.E.,M.M., (Kabagbanops Densus 88 AT POLRI), Prof Dr Henry Subiakto (Staf Ahli Menkominfo),  M.Najih Arromadhoni (Sekjen Alumni Suriah), dan Trias Kuncahyono (Penulis Buku ‘Musim Semi Suriah’). Saya sebagai penulis buku Prahara Suriah dan Salju di Aleppo juga hadir dalam acara ini. Moderator diskusi adalah intelektual muda Dr. Ahmad Najib Burhani.

Karena banyak yang ingin tahu isi acara ini, saya coba buatkan catatan singkat ya.

(lebih…)

#10yearschallenge of Syria

Sedang musim bikin foto #10yearschallenge ya? Konflik Suriah dimulai 2011, sekarang 2019, belum 10 tahun, tapi semoga bisa selesai sepenuhnya tanpa menunggu 10 tahun.

Apa hasil perang ini?

Tentu saja, kehancuran sebagian besar wilayah Suriah (yang harus dibangun lagi dengan biaya yang amat sangat besar) dan penderitaan teramat pahit yang diderita warganya (yang entah kapan bisa disembuhkan).

Dalam perspektif geopolitik, inilah ‘hasil’ Perang Suriah. Saya terjemahkan dari sebagian tulisan Elijah Magnier, seorang analis Timteng senior.

***

Suriah kini menjadi pusat perhatian publik sedunia, terutama di Timur Tengah. Posisinya bahkan lebih kuat daripada 2011. Suriah kini memiliki rudal presisi canggih yang dapat menghantam setiap bangunan di Israel. Assad juga memiliki sistem pertahanan udara yang tidak akan pernah ia impikan sebelum 2011, karena pelanggaran udara yang dilakukan terus-menerus oleh Israel yang berarti mengganggu kepentingan Rusia. Hizbullah telah membangun pangkalan untuk rudal presisi jarak jauh dan menengah di pegunungan dan telah menciptakan ikatan yang amat kuat dengan Suriah; sesuatu yang tidak akan pernah bisa dibangun jika saja perang Suriah tak terjadi. Iran juga telah membentuk persaudaraan strategis dengan Suriah berkat perannya dalam mengalahkan agenda perubahan rezim [yang dilancarkan Barat]. Dukungan NATO terhadap ISIS telah menciptakan ikatan kuat antara Suriah dan Irak; sesuatu yang tidak dapat diciptakan sebelumnya. Irak kini memiliki keleluasaan untuk mengebom lokasi ISIS di Suriah tanpa perlu izin dari otoritas Suriah (menyusul restu penuh dari Assad kepada Irak untuk bergabung dalam perang melawan ISIS). Tentara Irak bahkan bisa masuk ke Suriah kapan saja mereka memutuskan untuk menyerbu ISIS. Aliansi anti-Israel tidak pernah lebih kuat dari sekarang. Inilah hasil dari perang 2011-2018 yang dipaksakan [Barat] kepada Suriah.”

***

Orang-orang di foto ini adalah sebagian para tokoh dunia yang pernah meneriakkan “Assad harus pergi” tapi merekalah yang ‘pergi’ duluan [dalam arti tidak berkuasa lagi; atau ada juga yang meninggal]. Di Indonesia sejak 2012 juga ada beberapa tokoh yang meneriakkan kata-kata yang sama, yang saat ini sudah ‘pergi’ duluan. Tak perlulah disebut namanya.

***

Perang Suriah dimulai dan dipertahankan dengan menggunakan kebohongan, yang disebarkan dengan amat canggih dan tersistematis, sampai-sampai hampir semua orang di dunia ini percaya bahwa rezim Assad itu bajingan yang harus dilengserkan. Bagi mereka, sulit untuk menerima bahwa media-media terkemuka dunia bisa melakukan kebohongan. (Bahkan sebagian muslim mau mengorbankan nyawa untuk berperang di Suriah). Padahal, bila kita amati sejarah, Suriah bukan pertama kalinya. Dalam satu abad terakhir, sangat banyak kebohongan yang disebarkan AS untuk memicu perang, detilnya baca di sini: https://dinasulaeman.wordpress.com/2013/09/06/sejarah-kebohongan-perang-as/

Prahara Suriah, Hoax, Media Sosial, Perpecahan Bangsa

Banyak orang resah melihat semakin meningkatnya radikalisme di Indonesia dan semakin kerasnya friksi antarumat akibat perbedaan posisi politik. Banyak yang luput memahami fenomena ini dari perspektif geopolitik global, khususnya yang terkait dengan Perang Suriah.

Inilah era Facebook, Twitter, dan WA, ketika perang tidak hanya terjadi di Damaskus, Homs, Idlib, atau Aleppo, melainkan merasuk hingga ke rumah dan mimbar-mimbar di Indonesia. Kemarahan terhadap orang-orang yang terlibat perang nun jauh di sana, ditumpahkan melalui narasi penuh kebencian di berbagai forum, disertai dengan berbagai foto dan video palsu, dengan tujuan merekrut petempur dan donasi.

(lebih…)

BEDAH BUKU “PRAHARA SURIAH” & “SALJU DI ALEPPO”

BEDAH BUKU “PRAHARA SURIAH” & “SALJU DI ALEPPO” (karya Dina Y. Sulaeman) dan “MUSIM SEMI SURIAH” (karya Trias Kuncahyono)

HOAX…MEDIA SOSIAL…PERPECAHAN BANGSA

Narasumber :
1. Kombes Pol.R.Ahmad Nurwahid,S.E.,M.M., Kabagbanops Densus 88 AT POLRI
2. Prof Dr Henry Subiakto, Staf Ahli Menkominfo
3. M.Najih Arromadhoni, Sekjen Alumni Suriah
4. Trias Kuncahyono, Penulis Buku
5. Dr. Dina Y. Sulaeman, Penulis Buku
Moderator: Dr. Ahmad Najib Burhani

Lokasi : Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat
Tanggal : Jum’at, 18 Januari 2019
Waktu : 13.00 – 16.00 WIB

PENGUMUMAN

Kemungkinan besar, terkait dua postingan terakhir saya, ada pihak-pihak yang lapor ke FB sehingga akun personal saya dinonaktifkan oleh FB.

Bersama ini diumumkan:
1. Saya tidak membuat akun baru dengan nama Dina Sulaeman.

2. Apabila fanpage ini tumbang juga, tulisan saya selanjutnya bisa dibaca di blog: www. dinasulaeman.wordpress.com

Tetap berpikir merdeka 🙂

Tentang Beliau

Februari 2015, dengan lantang dan wajah marah beliau meneriakkan “jihad melawan Syiah” hanya gara-gara ada insiden penurunan spanduk di komplek Az Zikra oleh sekelompok orang. Apa isi spanduknya? Spanduk yang mencaci Syiah.

Orang-orang itu kemudian dipenjara, dan mengalami banyak masalah (antara lain, masalah ekonomi, karena tidak bisa bekerja menghidupi keluarga).

Metro Realitas pernah membuat film dokumenter untuk menginvestigasi kasus ini.

Saya sebagai peneliti Timteng (tapi juga berstatus ibu RT), termasuk yang diwawancarai. Karena berkomunikasi dengan reporternya, saya jadi tahu bahwa dalam pembuatan film tsb Metro mengikuti standar jurnalistik peliputan: semua pihak diwawancarai secara berimbang, termasuk polisi dan pihak Az Zikra, juga para pengamat yang netral, seperti Buya Syafii.

Menjelang penayangan film itu, gerombolan tertentu aktif di medos dan grup2 WA, menyerukan ‘kirim sms ke redaktur Metro TV untuk membatalkan tayangan pro-Syiah’.

(lebih…)

Menguji Konsep NKRI Bersyariah dalam Politik Global

ibu kota isis raqqa

Raqqa (eks ‘ibu kota’ ISIS), 2018/New York Times

Dina Y. Sulaeman*

“Kalau pemerintah zolim, tentara jahat, polisi jahat, main tangkap, main tembak, rakyat hartanya dijarah, tanahnya dirampas, syariat Islam disingkirkan, kita besok perlu ISIS atau tidak?!” suara Sang Pengkhotbah menggelegar.

“Perluuu…!!” teriak jamaahnya.

“Takbiiir…!” pekik Sang Pengkhotbah.

Potongan dialog itu sontak terngiang di telinga, saat membaca tulisan Denny J.A. berjudul “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?” Pasalnya, Sang Pengkhotbah adalah Habib Rizieq Shihab (HRS), pengusung ide NKRI Bersyariah.

Denny dalam tulisannya mengkritisi ide ini dengan menantang HRS untuk menetapkan dulu apa indeks ‘bersyariah’ itu dan kemudian indeks tersebut diuji dalam skala global untuk mencari negara mana yang masuk kategori ‘bersyariah’ yang bisa dijadikan rujukan.

Denny mengutip hasil penelitian Yayasan Islamicity Indeks yang menemukan bahwa 10 negara yang paling tinggi “indeks Islami”-nya (antara lain: pemerintahan yang bersih, pemerataan kemakmuran, dan penghormatan pada HAM) justru bukan negara-negara yang penduduknya mayoritas Muslim.

Sebelum melangkah jauh ke indeksasi yang membutuhkan kemampuan berpikir metodologis yang tinggi, dalam tulisan ini saya akan menunjukkan adanya tiga watak dasar para pengusung NKRI Bersyariah, yaitu takfirisme, ekstrimisme, dan kegagalan dalam berpikir metodologis, yang ketiganya menjadi penghalang terbesar dalam mewujudkan sebuah pemerintahan yang mampu menyediakan ruang publik yang manusiawi berlandaskan nilai-nilai Islam

Mengglorifikasi ISIS, Tetapi Mengusulkan NKRI Bersyariah?

HRS dalam dua ceramahnya (diupload di youtube tahun 2014 dan 2015) menjustifikasi kehadiran ISIS dengan kalimat ini, “Mengapa ISIS muncul? Karena ketidakadilan yang sudah kelewat batas di Irak!” atau “Di Irak banyak kezaliman, muncul ISIS, wajar tidak?!” (dan dijawab beramai-ramai oleh hadirin: ‘wajaar..!’).[1]

(lebih…)