Kajian Timur Tengah

Beranda » Articles posted by dinasulaeman

Author Archives: dinasulaeman

“Jika minyak dan pengaruh adalah imbalan yang dikejar dalam Perang Irak dan pascaperang, maka Chinalah –bukan Amerika—yang memenangkannya, tanpa pernah melepaskan satu tembakan pun.” (Jamil Anderlini)

Tulisan terbaru di ic-mes.org “Bagaimana China Berjaya di Timur Tengah Tanpa Tembakan Peluru” (terjemahan tulisan Ramzy Baroud). “

https://ic-mes.org/…/bagaimana-china-berjaya-di-timur…/

Menilik Pemerintahan Baru Taliban-Afghanistan, Pakar dari Unpad Sebut Memprihatinkan dan Ingkar Janji

Taliban telah mengumumkan pemerintahan baru Afghanistan pada Selasa 7 September 2021 lalu.

Kelompok Taliban menunjuk Mullah Hasan Akhund, seorang teman dekat mendiang pendiri Mullah Omar, sebagai kepala pemerintahan.

Pengumuman itu disampaikan juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid dalam konferensi pers di Kabul.

Menanggapi hal tersebut, Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Dina Yulianti menilai, hal ini memprihatinkan.

“Terdapat hal yang memprihatinkan dari kabinet sementara yang ditetapkan Taliban. Pertama, tidak ada menteri perempuan, kedua, tidak ada menteri dari kalangan minoritas, dan ketiga, tidak ada keterlibatan tokoh-tokoh dari pemerintahan sebelumnya,” ujar Dina kepada FIXINDONESIA.COM pada Kamis 9 September 2021.

Menurut Dina hal itu bertentangan dengan janji-jani Taliban setelah mereka menguasai Kabul. Pasalnya kata Dina sebelumnya kelompok Taliban itu mengatakan akan membentuk pemerintahan inklusif dan melindungi hak-hak perempuan.

(lebih…)

Artikel jurnal yang saya tulis (bersama dua kolega) menjadi most popular paper.

Isinya: kajian hukum internasional terhadap pembunuhan atas Jend Qassem Soleimani (dia datang ke Irak dengan pesawat sipil, dengan status sebagai undangan pemerintah Irak, dibunuh oleh militer AS yang menduduki Irak dengan alasan melawan ISIS; padahal Jend Soleimani berperan sangat penting membantu pemerintah Irak melawan ISIS).

Yang berminat membaca, bisa download free di sini: https://scholarhub.ui.ac.id/ijil/vol18/iss4/6/

(written in English)

Puzzle Afghanistan

Karena saya punya ketertarikan khusus pada jurnalis perempuan di kawasan perang (pernah saya tulis https://www.facebook.com/watch?v=1180457479100579), saya terus ngepoin IGnya Charlotte Bellis (Aljazeera). Hari ini dia posting foto dengan para Taliban di bandara Hamid Karzai, Kabul. Pakaian dan sepatu yang dipakainya santai banget (Foto-1). Setelah itu, si Taliban mengajari Bellis cara pakai Humvee yang ditinggal tentara AS. Sejak awal Taliban menguasai Kabul 15 Agustus 2021, Bellis ya kayak gitu penampilannya.

Beda dengan Clarissa Ward (CNN), yang full hijab dan berbaju hitam-hitam saat meliput “kemenangan” Taliban (foto-2).

Beberapa hari sebelum Taliban menguasai Kabul, Ward mewawancarai komandan ISIS-K, di Kabul. Jadi, ISIS-K ada di Kabul dong. AS dan tentara Afghan -sebelum Taliban mengambil alih kota- kok santai aja? Wartawan CNN aja tahu dimana nongkrongnya ISIS-K.

[Lalu setelah ada bom ISIS, AS balas membombardir. Tapi seperti biasa, saat AS mengebom teroris, korban yang lebih banyak justru rakyat sipil. Dan jangan lupa, pasca kekalahan ISIS tahun 2017 di Irak dan Suriah, ribuan milisi ISIS diterbangkan oleh helikopter AS dan helikopter ‘tak dikenal’, ke Afghanistan; ini diungkap pejabat Iran & Rusia.]

(lebih…)

Karena di postingan sebelumnya (video Putin), ada yang ngata-ngatain Putin (“kan dulu Soviet juga menginvasi Afghanistan”), silakan baca tulisan John Pilger ini, sudah kami terjemahkan.

Di sini bisa diketahui, bagaimana awalnya Afghan dipimpin oleh raja (sistem monarkhi), lalu si raja dikudeta oleh kelompok sosialis People’s Democratic Party of Afghanistan (PDPA).

Saat itu era Perang Dingin, jadi AS tidak rela ada pemerintahan yang pro-Soviet. AS pun menggelontorkan dana 500 juta USD, di antaranya untuk membentuk Mujahidin, dengan tujuan menggulingkankan pemerintahan PDPA ini. Lalu, Soviet masuk untuk membela PDPA, dst.

Silakan klik untuk membaca selengkapnya https://ic-mes.org/…/john-pilger-sejarah-afghanistan…/

Antara Afghanistan, Libya, Suriah, dan Palestina

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/430823678307054

[Poin penting: homebase Al Qaida adalah Afghanistan dan Al Qaida (berdiri 1998) menggunakan Afghanistan untuk mendirikan kamp-kamp pelatihan mereka atas seizin rezim Taliban yang berkuasa di pada era 1996-2001.]

Gerakan Al Qaida ada di berbagai penjuru dunia, termasuk di Suriah, Libya, bahkan Indonesia. Nama yang dipakai beda-beda di tiap negara.

Di Libya, Al Qaida bernama Libyan Islamic Fighting Group (LIFG). Pendirinya bernama Abdelhakim Belhaj. Al Qaida Libya mengadakan aksi-aksi demo anti-Qaddafi dan melakukan berbagai serangan bersenjata, yang tentu saja dilawan tentara pemerintah. Tapi yang muncul: tuduhan bahwa Qaddafi melakukan pembunuhan massal.

Upaya penggulingan Qaddafi ini didukung AS. Dewan Keamanan PBB mengizinkan NATO untuk “mengambil langkah yang diperlukan.” Dan NATO pun membombardir Libya. Alasannya: untuk menyelamatkan bangsa Libya dari kediktatoran Qaddafi.

(lebih…)

Terkuak! Ini Awal Mula Hubungan Indonesia-Afghanistan Terjalin

Pengamat Timur Tengah, Dina Yulianti mengisahkan awal mula hubungan IndonesiaAfghanistan terjalin. 

Menurut Dina, Afghanistan adalah di antara negara-negara yang paling awal mengakui kemerdekaatn RI, yaitu pada tahun 1947. Pada tahun 1961 Presiden Sukarno pernah berkunjung ke Afghanistan

“Lalu Presiden Afghanistan, Karzai datang ke Jakarta 2012 dan Presiden Ghani tahun 2017. Presiden Jokowi melakukan kunjungan balasan tahun 2018,” ungkapnya kepada FIXINDONESIA.COM, Selasa 31 Agustus 2021. 

Dina menjelaskan, selama masa kekuasaan Taliban 1996-2001, pemerintah Indonesia menutup KBRI Kabul dan baru dibuka kembali tahun 2004. 

Kemudian pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah Indonesia berupaya berperan aktif untuk memediasi kelompok-kelompok yang bertikai di sana. 

“Antara lain waktu itu dengan bantuan BIN, berhasil dijalin hubungan dengan para ulama di berbagai provinsi,” ujar wanita yang juga menjabat sebagai dosen di Universitas Padjadjaran. 

(lebih…)

Jurnalis Perang Perempuan

Saya sering salut pada jurnalis perang perempuan. Dulu, saya pernah ingin seperti mereka, terjun langsung ke medan-medan perang. Tapi jalan hidup saya sesuatu yang lain lagi.

Tentu saja, tidak semua jurnalis perang layak dipuji karena ada juga yang memberitakan propaganda bahkan hoaks (yang mengikuti Perang Suriah pasti tahu) karena mereka bekerja di media mainstream. Media mainstream sudah terbukti berkali-kali menjadi corong kepentingan pemodal yang menginginkan perang.

Dalam Perang Suriah, Aljazeera termasuk media mainstream yang menyebarkan propaganda antipemerintah Suriah (dan berpihak kepada pemberontak/jihadis). Bahkan, beberapa kali kedapatan memberitakan info palsu. Yang sudah 10 tahun bersama saya mengikuti Perang Suriah, pasti tahu. Info-info palsu media mainstream soal Suriah berkali-kali didebunk oleh saya (dan oleh teman-teman lain).

[Semoga mereka yang sekarang sibuk men-debunk hoaks soal Taliban bisa ingat bahwa mereka dulu produsen hoaks soal Suriah.]

(lebih…)

Absurd

(1)

Kata teman saya, banyak fans Erdogan yang happy banget atas kemenangan Taliban. Saya juga lihat di twitter, akun yang berafiliasi dengan partai you know whatlah itu, yang di saat yang sama, kita juga tahu mereka ini pingin “pinjam” Erdogan buat jadi presiden di Indonesia, juga aktif men-debunk propaganda palsu soal Taliban.

Memang betul sih, banyak info hoax beredar, misalnya, video pembantaian ISIS atau Al Nusra, dibilang Taliban. Menurut laporan PBB, Taliban memang melakukan berbagai aksi kekerasan (di antaranya, pembantaian massal di Mazhar-i Sharif 1998), tapi pakai foto palsu ya tetap salah.

Nah, kepada fans Taliban-yang-juga-fans-Erdogan ini [karena, mungkin aja ada fans Taliban yang bukan fans Erdogan], saya mau kasih info sedikit, tentara Turki tuh hadir di Afghanistan lho, menjadi bagian dari pasukan NATO. Dan NATO ini posisinya adalah MEMBANTU Amerika melawan Taliban dan Al Qaida.

(lebih…)

Pengamat Unpad: Bapak Presiden, Jangan Dukung Taliban, Pemerintahan De Facto Belum Terbentuk

Situasi politik Afghanistan telah menyedot perhatian dunia internasional. Dorongan agar pemerintah Indonesia mengakui kekuasaan kelompok Taliban juga datang dari berbagai tokoh di Indonesia, salah satunya dari tokoh Partai Keadilan Sejahtera, hidayat Nurwahid dalam diskusi virtual bertajuk “Masa Depan Afghanistan dan Peran Diplomasi Perdamaian Indonesia” yang diselenggarakan Center for Reform.

Namun pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran, Dina Yulianti berpendapat lain. Menurutnya, pemerintah Indonesia belum bisa memberikan dukungan kepada kelompok Taliban

(lebih…)