Arsip 2007 ~ Sekarang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.165 pengikut lainnya.

Timur Tengah dan Kejahatan Industri Pertanian

peta the fertile crescent

peta the fertile crescent

Dina Y. Sulaeman

Siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas konflik di Timur Tengah? Ada banyak versi jawaban yang bisa diberikan. Namun, ada hal yang menarik yang baru saya temukan setelah mengikuti kuliah umum Dr. Vandana Shiva di UI pada 18 Agustus 2014, yang disponsori  Yayasan Kehati dan Mantasa. Tulisan ini bukan ringkasan isi kuliah tersebut (silahkan menonton videonya di Youtube), melainkan refleksi saya.

Industri pertanian global adalah (salah satu) pihak yang bertanggung jawab atas kemiskinan umat manusia. Kata FAO, hari ini, produksi pangan dunia sebenarnya cukup untuk memberi makan semua orang. Namun karena yang menghasilkan pangan adalah industri, pangan itu dijual di pasar bebas dengan harga tinggi, sehingga banyak orang miskin tak mampu membelinya. Orang yang semula tidak miskin pun jatuh miskin karena mahalnya pangan. Tahun 2013, ada 800 juta orang di seluruh dunia yang kekurangan pangan, termasuk di Indonesia.

Kekurangan bahan pangan berdampak panjang, yaitu penurunan kualitas pertumbuhan fisik dan intelektual anak-anak. Di masa depan, anak-anak yang lemah ini akan menjadi generasi yang lemah dan tidak memiliki daya saing, sehingga tidak mampu mempertahankan negaranya dari agresi ekonomi maupun militer yang dilancarkan negara lain. Siapa yang akan diuntungkan dalam kondisi ini? Jelas negara-negara kaya dan kuat, dan mereka pula yang menguasai industri pertanian global saat ini.

Dalam artikelnya di The Observer, Rami Zurayk menulis bahwa di Mesir, roti dikenal dengan nama aish, yang bermakna “life”. Wilayah bulan sabit yang subur, yang membentang dari sungai Nil hingga sungai Tigris dan Eufrat (diistilahkan Fertile Crescent) adalah tanah yang pertama kali menghasilkan gandum dan kacang-kacangan, dalam sejarah dunia. Namun, kini justru wilayah itulah yang menjadi pengimpor pangan terbesar di dunia. Kecuali Suriah, negara-negara di wilayah itu hanya menghasilkan gandum sangat sedikit, sehingga harus mengimpor.

Penyebabnya adalah karena rezim-rezim di wilayah itu telah dijajah oleh IMF dan Bank Dunia. Mereka memberikan hutang, namun harus dibayar dengan industrialisasi dan liberalisasi pertanian, pengurangan subsidi pertanian. Petani didorong (atau dipaksa) untuk menanam buah-buahan dan sayuran untuk ekspor, dan melepaskan produksi gandum yang sangat penting bagi kecukupan pangan lokal. Yang mendapatkan keuntungan besar dari situasi ini adalah segelintir pengusaha industri pertanian yang berkolusi dengan rezim; dan rezim-rezim di Mesir, Tunisia, dll, didukung oleh AS. Jangan lupakan bahwa ada tiga perusahaan yang mengontrol 90% gandum dunia, Cargill, ADM,dan Bunge yang ketiganya berbasis di AS. Ketika rakyat di Fertile Crescent (kecuali Suriah) tidak mampu lagi memproduksi sendiri gandumnya, sudah tentu para pedagang gandum transional yang mengeruk untung besar.

Tulisan ini dimuat di http://www.liputanislam.com. Selengkapnya, klik Timur Tengah dan Kejahatan Industri Pertanian

ISIS dan Sejarah Panjang Ideologi Kebencian

John McCain dan para pemberontak Suriah

John McCain dan para pemberontak Suriah

ulisan berikut ini pernah dimuat di Harian Pikiran Rakyat, 26 Agustus 2014; yang dimuat ada sedikit editan, ini versi asli. Pesannya satu: ISIS memang dibentuk oleh tangan makar AS (dan kini AS pula yang berlagak seperti pahlawan, ingin menggempur ISIS). Tapi siapa yang benar-benar berlumuran darah kaum muslim di Irak dan Suriah secara langsung? Siapa yang bergabung dengan ISIS? Siapa yang melakukan berbagai aksi brutal yang mengerikan itu? Orang-orang Islam, bukan? Mengapa mereka melakukannya? Dalam tulisan ini saya memberikan jawabannya.

ISIS dan Sejarah Panjang Ideologi Kebencian

Dina Y. Sulaeman

Kesadisan dan kebrutalan kelompok teror ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) membuat dunia terperangah. Menyusul maraknya Deklarasi Baiat kepada ISIS yang dilakukan oleh berbagai ormas di Indonesia, serta munculnya video seruan jihad dari anggota ISIS asal Indonesia yang kini berada di Suriah/Irak, Pemerintah Indonesia pun akhirnya mengambil langkah tegas.

“Pemerintah tidak mengizinkan paham ISIS berkembang di Indonesia. Setiap upaya pengembangbiakan paham ISIS harus dicegah, Indonesia tidak boleh jadi tempat persemaian,” Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko polhukam) Djoko Suyanto (4/8/2014).

Dan, berbagai ormas dan partai Islam pun segera mengeluarkan pernyataan kecaman terhadap ISIS di Indonesia. Tentu saja ini adalah langkah positif. Namun, ada satu hal yang terlupakan: ISIS tidak lahir dari ruang hampa. ISIS tidak muncul tiba-tiba saja. Ada sejarah panjang ideologis yang harus diperhatikan dalam mencermati fenomena ISIS di Indonesia.

(lebih…)

Pemikiran Imam Khomeini dalam Hubungan Internasional

Sebentar lagi Indonesia akan punya Menlu baru. Kita semua tentunya mengharapkan Menlu yang ‘berani’ dan memimpin korps diplomatik yang gigih memperjuangkan kepentingan nasional. Biasanya, diplomat-diplomat negara maju dan kuat akan memaksakan keinginannya, dengan berbalut bahasa diplomatik yang ‘santun’. Sementara diplomat negara-negara berkembang atau miskin seringkali hanya bisa manut. Yang terlihat tampil beda adalah diplomat Iran. Meskipun dari negara berkembang, diplomat Iran selalu terlihat penuh percaya diri saat bernegosiasi. Meskipun menyuarakan hal-hal yang ‘puritan’, namun tetap bisa satu level dalam berbagai negosiasi internasional bersama para diplomat Barat. Dari mana sumber sikap diplomasi seperti ini? Di antaranya, adalah doktrin HI yang dibangun oleh Pemimpin Revolusi Iran, Imam Khomeini. Berikut saya posting makalah singkat saya yang pernah saya sampaikan di sebuah forum diskusi beberapa waktu yll.

Pemikiran Imam Khomeini dalam Hubungan Internasional

Dina Y. Sulaeman*

Harga berbagai komoditi di Indonesia, terutama pangan dan BBM sangat rentan dengan perubahan yang terjadi di luar negeri. Misalnya, harga tahu-tempe, makanan ‘termurah’ rakyat Indonesia, bisa melambung tinggi gara-gara kekeringan melanda AS. Sebabnya tak lain karena 2/3 kebutuhan kedelai kita diimpor dari AS. Untuk membangun kedaulatan pangan pun, pemerintah tak berdaya karena terbelenggu oleh perjanjian internasional, Agreement of Agriculture yang memerintahkan negara-negara mengurangi subsidi untuk petani dan subsidi ekspor, serta memperkecil bea impor.

Inilah kenyataan di Indonesia, dan juga yang dialami hampir semua negara berkembang. Bila dunia dilihat sebagai lingkaran besar, akan terlihat negara-negara kuat dan kapitalis berada di pusat lingkaran, sementara negara-negara berkembang dan miskin berada di pinggiran. Negara pusat akan mempengaruhi ekonomi dan politik dunia, sementara negara-negara berkembang dan miskin terpaksa hanya mengikuti permainan.

Kita tidak bisa lagi melihat persoalan domestik sebagai sesuatu yang terpisah dari persoalan global. Konflik Sampang tidak bisa dilihat semata-mata konflik warga desa di Madura, tapi sangat kental dengan kepentingan negara-negara asing, terutama negara-negara berhaluan Salafi-Wahabi. Saat melihat konflik Suriah di televisi, kita tidak bisa lagi mengatakan ‘itu urusan mereka’, karena terbukti, angin panas konflik Suriah menerpa masyarakat Indonesia dengan sangat keras. Berbagai konflik bernuansa sektarian, ujaran-ujaran kebencian (hate-speech) atas nama mazhab yang semakin masif di tengah publik Indonesia adalah angin panas dari Suriah.

Nah gejala-gejala seperti inilah yang -antara lain- dipelajari oleh penstudi Hubungan Internasional (HI). Pemikiran HI di dunia ini sangat diwarnai oleh pemikiran Barat. Diplomat-diplomat di seluruh dunia, biasanya cara pandangnya sama. Diplomat negara maju dan kuat akan petantang-petenteng, memaksakan keinginannya, berbalut bahasa diplomatik. Sementara diplomat negara-negara berkembang atau miskin seringkali hanya bisa manut. Yang terlihat tampil beda adalah diplomat Iran. Meskipun dari negara berkembang, diplomat Iran selalu terlihat penuh percaya diri saat bernegosiasi. Meskipun menyuarakan hal-hal yang ‘puritan’, namun tetap bisa satu level dalam berbagai negosiasi internasional bersama para diplomat Barat.

Dari sisi ini menarik sekali dibahas, bagaimana dulu Imam Khomeini membangun paradigma HI yang akhirnya mewarnai cara-cara diplomasi pemerintah Iran.

(lebih…)

Amnesia Ketiga: Mereka Yang Mendadak Anti-Hoax

Menggelikan sekali melihat para pendukung ‘jihad’ Suriah dengan ‘suka cita’ menyebarluaskan berita klarifikasi tentang video palsu penyembelihan jurnalis AS, James Foley. Seolah dengan cara itu mereka menyelamatkan muka yang telah tercoreng akibat perilaku brutal ISIS. Seolah dengan cara itu mereka membalas kecaman dunia terhadap jihad salah kaprah yang mereka dukung, dengan berkata, “Tuh kan, ini video hoax! Makanya tabayun, cek and ricek! Para jihadis di Suriah itu sedang memperjuangkan khilafah dan tegaknya syariat, makanya difitnah oleh musuh-musuh Islam.”

Saya belum pernah berkomentar tentang video penyembelihan Foley. Pertama, karena saya tidak sanggup lagi melihat video brutal. Sudah cukup saya jatuh sakit selama dua bulan selama penulisan buku Prahara Suriah, akibat rasa shock saat harus memverifikasi foto-foto dan video-video sadis. Padahal itupun saya banyak mendapatkan bantuan dari blogger dan facebooker dari berbagai penjuru dunia yang sama-sama berjuang untuk membongkar kepalsuan jihad Suriah.

Mereka, para pendukung jihad itu (bersama media mainstream sekelas CNN, BBC, dll), menyatakan bahwa foto-foto dan video-video itu bukti-bukti kekejaman Assad (dan atas alasan itulah Assad harus digulingkan, kata mereka). Dan ternyata itu semua foto dan video hoax. Di antara buktinya, bisa dibaca di buku saya Prahara Suriah, atau bisa download Kumpulan Pemalsuan Data Konflik Suriah yang dibuat para blogger (bila link tidak bisa dibuka, google saja dengan kata kunci ‘kumpulan pemalsuan data konflik suriah’, saya lihat banyak yang upload di web masing-masing).

Sekedar contoh saja, ini salah satu foto yang disebarluaskan para simpatisan jihad itu (sekalian minta donasi):

foto-palsu-iraq3Dan ternyata itu foto korban bom mobil di Irak (dan harap ingat, kelompok yang gemar melakukan pembunuhan dengan bom mobil di Irak, Suriah, Lebanon adalah Al Qaida dan afiliasinya)

foto-asli-iraq3

Atau, tonton di video pendek yang saya buat ini:

 

Kedua, sayapun sejak awal memang sengaja menanti. Video palsu soal Suriah (dan aneh bin ajaibnya, selama ini peminat terbesarnya justru para pendukung jihad itu, mereka menyebarluaskan dengan semangat ‘dakwah’) sudah terlalu banyak dibuat. Cepat atau lambat akan muncul klarifikasi video tersebut. Atau, bila video itu benar, juga akan muncul konfirmasi dari pihak berwenang, misalnya PBB.

Dan benar saja, muncul beberapa artikel analisis tentang kehoaxan video itu. Satu yang saya tonton penuh (karena tidak ada adegan berdarah) adalah video ini (video ini hanya membahas apakah yang disembelih benar Foley atau bukan; dan tidak membahas apakah kejadian penyembelihan asli atau hoax):

(lebih…)

Shiva, Pangan, dan Perdamaian Dunia

DINA-SULAIMAN-OKE

Tulisan saya terbaru di www.nefosnews,com

Mengapa petani kita harus hidup miskin? Sekitar 57 persen dari 68 persen penduduk miskin di pedesaan adalah petani. Padahal, mereka memproduksi sesuatu yang dibutuhkan oleh semua orang: pangan. Mengapa setelah 69 tahun Indonesia merdeka, kita semakin tak mampu mencukupi kebutuhan pangan secara swadaya? Pada tahun 2013 saja, kita telah mengeluarkan dana Rp 175 triliun untuk impor produk pertanian. Ironisnya, bahan pangan yang kita impor adalah bahan pangan yang seharusnya bisa kita tanam sendiri: sayuran, beras, jagung, kedelai, singkong, kelapa, lada, gula, cabai, bawang merah, bawang putih, dan lain-lain.

Dalam kurun 10 tahun (2003-2013), ada 5 juta petani Indonesia yang memilih berhenti bertani. Mengapa?

Seorang perempuan India telah menjelaskan jawaban atas pertanyaan di atas, sejak bertahun-tahun yang lalu. Perempuan itu bernama Vandana Shiva, seorang doktor di bidang fisika kuantum yang kemudian lebih memilih untuk berjuang di bidang pertanian.

Pada tanggal 18 Agustus lalu, Shiva datang ke Indonesia untuk memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia. Dan kembali, seolah tak pernah lelah, dia menjelaskan lagi jawaban atas pertanyaan di atas.

Selengkapnya, silahkan klik tulisan di website :  Shiva, Pangan, dan Perdamaian Dunia

Deskripsi Kebrutalan ISIS

Baiat terhadap ISIS, di Syahida Inn UIN Ciputat, Jakarta, Juli 2014

Baiat terhadap ISIS, di Syahida Inn UIN Ciputat, Jakarta, Juli 2014

Saya menemukan kalimat-kalimat yang dengan tepat mendeskripsikan seperti apa kebrutalan ISIS, berikut ini:

“Binatang buas bernama ISIS yang tidak membedakan antara kawan, lawan dan mitra seperjanjian adalah ancaman bagi semua. Dalam sejarah tidak ada yang menyerupai kekejaman ISIS. Mereka mengubur anak-anak kecil dan kaum wanita Yazidi. Entah bagaimana mereka bisa sedemikian kejam. Lihatlah aksi mereka di Suriah dan Irak, mereka membunuh semua orang. Ada yang beranggapan bahwa di Irak terjadi perang Syiah-Sunni. Berapa jumlah Syiah di Salahuddin dan Nineveh, sedangkan ISIS telah menghancurkan semua masjid dan membabat para pemuka agama komunitas-komunitas adat Ahlussunnah yang enggan membaiat mereka?”

“ISIS tak kenal belas kasih kepada Sunni, Syiah, Kristen, Yazidi dan lain-lain. Mana ada logika agama yang membolehkan penjebakan dan pengepungan puluhan ribu orang ke gunung supaya mereka mati tercekik kelaparan dan kehausan, apalagi di depan mata khalayak dunia?”

“Bahaya hewan buas yang tidak membedakan umat Islam Syiah dan Sunni serta umat Kristiani, Druze, Yazidi, Arab dan Kurdi ini, kian hari kian berkembang dan membesar. Di Suriah dan Irak memang ada pihak-pihak yang berjuang melawan ISIS, tapi tampaknya fasilitas dan perlengkapan yang telah diberikan kepada mereka sangat banyak dan besar, dan inilah yang membangkitkan kekhawatiran semua orang, dan sudah seharusnya mereka khawatir.”

“Sebagian pemimpin Kurdi beranggapan bahwa ISIS akan berhenti di satu titik dan bukan ancaman bagi wilayah otonomi Kurdistan. Ini terjadi mungkin karena ada jaminan-jaminan tertentu dari ISIS dan para pendukungnya di kawasan. Nyatanya sekarang ISIS sudah berada di kawasan yang berjarak sekitar 30-40 kilometer dari Arbil, dan kitapun lantas mendengar teriakan minta tolong mereka (Kurdi) kepada Amerika, Barat, Iran, Irak dan lain-lain.”

“Karakteristik ISIS antara lain ialah memanfaatkan para penganut faham Wahhabi dan simpatisan al-Qaeda. Karena itu ISIS menarik para anggota Front al-Nusra, terutama dengan imbalan uang Dolar Amerika Serikat, dan tidak ada persoalan antarmereka dari segi ideologi, pemikiran dan perilaku. Perbedaan antara mereka hanya berkenaan dengan masalah kekhalifahan, antara Abu Muhammad al-Julani dan Abu Bakar al-Baghdadi.”

Deskripsi di atas adalah kata-kata Sayid Hasan Nasrallah, Sekjen Hizbullah. Hizbullah telah bertempur langsung melawan ISIS dan kelompok teror-jihad lainnya, di perbatasan Suriah-Lebanon. (Sumber: www.liputanislam.com)

“Sekarang kami berkeyakinan bahwa setiap orang yang berkemampuan harus terlibat dalam perang ini demi membela Lebanon, Suriah, Irak, Palestina dan semua kawasan, serta demi membela umat Islam, Kristen dan penganut agama-agama minoritas. Semua polemik pemikiran, strategis, taktik dan politik harus dikesampingkan, karena sekarang ada sebuah bahaya besar yang sedang melakukan aksi pendudukan, pergerakan dan pembunuhan mengerikan yang tak mengenal ketentuan dan batasan pemikiran, moral, kemanusiaan dan syariat apapun,” kata Nasrallah.

Bila Anda cukup kuat mental untuk melihat foto-foto brutal penjagalan yang dilakukan ISIS, silahkan klik ini

Amnesia Kedua: ISIS Adalah Pengalihan Isu Gaza ?!

salah satu individu yang menyebut ISIS adalah pengalihan isu Gaza, masih banyak yang lain

salah satu individu yang menyebut ISIS adalah pengalihan isu Gaza, masih banyak yang lain

Kalian ciptakan narasi baru: ISIS adalah ‘aktor’ baru yang tiba-tiba muncul. Blow-up berita tentang ISIS adalah pengalihan atas isu Gaza. Lihatlah di Gaza, umat Islam sedang berjuang melawan Israel. Tapi kini gara-gara ISIS, Israel bisa semena-mena menggempur Gaza tanpa ada kepedulian dari dunia.

Maaf, saya terpaksa katakan, inilah bentuk amnesia kalian yang lain.

Induk ISIS adalah Al Qaida; Al Qaida muncul sejak 1988 di Afghanistan. Al Qaida menyebar ke berbagai penjuru dunia dengan berbagai nama dan kedok, salah satunya ISIS. Jadi, dalam menganalisis, perhatikan ideologi dan geneologinya, jangan terpaku pada nama. (btw, coba browsing: tokoh politik di Indonesia yang pernah membuat puisi memuja Osama bin Laden).

Lalu, coba ingat, bukankah sudah 66 tahun Israel menjajah bangsa Palestina? Sejak berdiri tahun 1948, Israel terus membunuh, mengusir dari rumah dan tanah; menghancurkan kebun-kebun bangsa Arab-Palestina. Sejak 2005 Israel memblokade Gaza sehingga distribusi orang, barang, jasa sangat terhambat. Warga Gaza seolah berada dalam penjara terbesar di dunia.

Lalu, selama ini, apa yang kalian lakukan untuk membantu Palestina? “Hanya” demo, orasi, penggalangan dana (tentu saja, bantuan dana tetap penting, tapi tidak cukup, ini hanya panadol yang menghilangkan rasa sakit sementara).

Lalu, apa yang dilakukan para jihadis untuk Palestina selama ini? Tidak ada. Mereka justru sibuk meledakkan bom di negeri-negeri muslim.

Ada 3 kekuatan yang riil membantu Palestina (dengan politik, dana, dan senjata) selama ini:

  1. Hizbullah: organisasi militan ini berdiri dengan tujuan melawan Israel (karena Israel dulu juga menjajah wilayah Lebanon selatan) dan menjaga Lebanon agar Israel tidak kembali lagi. Hizbullah bukan tentara resmi Lebanon, sehingga tidak bisa disebut representasi ‘negara’. Backing utama logistik Hizbullah adalah Iran.
  2. Suriah: inilah negara Arab terakhir yang tetap menentang Israel, setelah tumbangnya Saddam. Saddam, meskipun tokoh zalim (terutama terhadap Iran: Saddam memerangi Iran selama 8 tahun, termasuk dengan senjata kimia yang sadis), namun ia menentang Israel. Dia memutus jalur minyak Kirkuk-Haifa yang sebelumnya menjadi urat nadi kehidupan Israel. Begitu Saddam digulingkan AS, minyak itu kembali mengalir bebas. Sedangkan Suriah memberikan perlindungan kepada tokoh-tokoh Hamas, menampung para pengungsi Palestina. UNHCR menyebut Suriah sebagai negara yang memberikan pelayanan terbaik di antara semua negara-negara Arab lain. Pengungsi Palestina diperlakukan sama dengan warga asli Suriah. Suriah adalah negara sosialis yang memberikan layanan kesehatan dan sekolah gratis, serta subsidi berbagai bahan pokok. Suriah juga menyuplai bantuan senjata kepada Hamas. Salah satu buktinya, dalam perang tahun ini, Hamas ketahuan menggunakan roket M302 Khaibar dari Suriah.
  3. Iran: selain menyuplai dana segar untuk Hamas secara rutin (digunakan untuk menjalankan roda pemerintahan), Iran juga menyuplai senjata dan teknologi militer. Salah satu buktinya: Hamas menggunakan roket Fajr 5 yang dibuat Iran.

Lalu, apa yang dilakukan ISIS (dan para kelompok mujahidin lain dengan berbagai ‘nama’, tapi jika dilihat ideologi dan geneologinya, mereka sama saja) selama ini?

  1. Mereka justru memorak-porandakan Suriah. Pembantaian dengan cara sangat barbar (kepala digorok, dipanggang, ditendang-tendang bak bola, memakan jantung mayat) yang dilakukan ISIS bukan hanya terhadap muslim Syiah, tetapi juga muslim Sunni (termasuk ulamanya, seperti Syekh Buthi), dan Kristen (termasuk dengan menancapkan salib ke dalam mulut jasad Kristen).
  2. Di Irak, pasca Saddam mereka melakukan berbagai pemboman dan pembunuhan atas dasar mazhab untuk adu-domba. Kehadiran mereka membuat Irak tak pernah berhenti bergolak (dan minyak Irak tetap leluasa mengalir ke Israel). Dan kebrutalan ISIS di Irak-lah yang kini membuat dunia terperangah. Bagaimana mungkin ada manusia (mengaku muslim pula) melakukan kejahatan masif sedemikian sadis dan brutal?
  3. Di Lebanon, dalam perang Gaza tahun ini, ketika Hizbullah sudah ancang-ancang membantu Gaza (dan sudah meluncurkan roket-roketnya ke wilayah Israel), justru Al Nusra (organisasi teror ‘keturunan Al Qaida juga) menyerang Hizbullah.
  4. Target utama ISIS (dan organisasi teror sejenis) adalah Iran (selama ini  narasi yang mereka ungkapkan sebagai landasan perjuangan adalah :melawan rezim Syiah; bahkan menyebut Iran sebagai sekutu Israel, karena itu Iran harus dilawan). Iran memang belum tersentuh, tetapi berbagai kepentingan Iran di luar negeri sudah kena, antara lain pengeboman kedubes Iran di Lebanon. Iran ‘diganggu’ melalui tekanan politik dan embargo oleh Barat dan Israel.

Intinya, kekuatan-kekuatan yang memback-up pejuang Gaza untuk melawan Israel justru diganggu dengan sangat dahsyat oleh ISIS.

Jadi, siapa yang ‘mengalihkan’ siapa?

Think!

Amnesia-nya Mereka Yang Mendadak Anti ISIS

Ada segelintir orang (termasuk saya) yang sejak 2012 mengingatkan bahayanya konflik di Suriah, yang apinya akan menyebar kemana-mana, termasuk Indonesia. Tapi, suara-suara kami lenyap ditelan dahsyatnya propaganda media mainstream, media nasional, media berlabel ‘Islam’, ustadz-ustadz yang aktif di media sosial, dan para netizen awam yang bak kerbau dicocok hidung men-share berita-berita pro-“mujahidin” dan narasi-narasi kebencian. Saat itu, para penjagal di Suriah itu dianggap layak disebut ‘mujahidin’ karena konon mereka Sunni yang sedang melawan rezim -konon- Syiah kafir terlaknat.

Ketika fakta kesadisan para penjagal itu sudah tak bisa ditutup-tutupi lagi dan tak bisa lagi diterima akal sehat manusia normal, dan memiliki nama “ISIS”, semua berteriak-teriak “Itu buatan Amerika dan Israel!” Dan seolah dengan teriakan itu, gugur sudah dosa-dosa mereka yang dulu menyebarkan berita palsu soal Suriah dan mengintimidasi segelintir orang yang berani bersuara berbeda. Kalian berusaha sebarkan narasi bahwa ISIS adalah organisasi ‘sesat’ (seperti kata salah satu pengamat yang sering masuk TVOne: jihadnya benar, tapi caranya salah; kelompok jihad yang lain itu benar, tapi ISIS ini salah).

Seolah, dengan menyebutnya ‘anti Amerika-Israel’,maka yang salah adalah bule-bule di luar sana, bukan kalian, para pendukung ‘jihad’ Suriah, yang aktif berkoar-koar mendukung jihad Suriah sejak 2012.

Oya? Sedemikian hebatnya-kah orang AS dan Israel, sehingga bisa membuat ratusan ribu muslim dari berbagai penjuru dunia datang dengan sukarela ke Suriah untuk mempertaruhkan nyawa, “berjihad”, menjagal sambil berteriak Allahu Akbar? Apa ratusan ribu jihadis itu robot yang bisa disetir dengan remote control?

Tidak, tentu saja.

Betapa amnesianya kalian. Kalian lupakan sejarah kemunculan ISIS. Tanpa dukungan kalian, ISIS hari ini tak akan muncul.

Kalianlah yang bersalah atas lahirnya ISIS: kalian yang sekarang berteriak-teriak ISIS buatan AS, tapi di masa lalu (dan bahkan sampai sekarang) menyebarluaskan paham kebencian pada ‘orang yang berbeda’. Kalian, yang berkeliling Indonesia, menyebarkan kebencian, sambil menggalang dana, yang kalian salurkan kepada para jihadis.

Kalian, yang dalam pengajian-pengajian kalian menolak mengajarkan persaudaraan, cinta kasih, cinta pada negara, kesetiaan pada bangsa dan negara. Kalian, yang mengajarkan bahwa kesetiaan itu harus diberikan kepada syekh-syekh entah darimana, yang kalian bahkan tak begitu tahu nama aslinya, sosoknya, kepribadian, dan kesehariannya. Kalian, para ibu, para guru, para ustad/ustadzah yang di status-status facebook kalian, men-share tulisan-tulisan kebencian, hanya karena berpikir: ini kata ustadz saya, pasti benar, tak perlu lagi diverifikasi.

Kalianlah yang bersalah: kalian yang sekarang cuci tangan dan menolak ISIS, padahal di AD/ART organisasi kalian mengandung ideologi yang sama dengan ideologi ISIS. Hanya bedanya, ISIS sudah menjelma menjadi monster nyata yang menakutkan semua orang. Sementara kalian masih sekedar menuliskannya di AD/ART, masih sekedar berkoar-koar di mimbar-mimbar, masih sekedar mengumbar kebencian dalam setiap kesempatan. Termasuk juga, kalian, pejabat yang menolak menutup situs-situs penyebar kebencian dan penyokong utama jihad Suriah. Termasuk kalian: ormas yang menolak bersikap tegas menghentikan penyebaran narasi kebencian di negeri ini, padahal jelas-jelas mengatasnamakan ormas kalian. Kalian tahu salah, tapi diam saja.

AS dan Israel memang punya andil besar dalam konflik Timteng. Tapi jangan amnesia, andil kalian lebih besar lagi.

Semoga dengan ‘membesar’-nya ISIS, bayi yang tanpa sadar sudah kalian lahirkan dan besarkan, kalian menjadi sadar, betapa bahayanya ideologi kalian itu.

klik foto untuk memperbesar

amnesia-1

salah satu tokoh/ormas yang amnesia, masih banyak lagi yang lain, baik ormas, maupun individu (sumber foto: facebook)

McCain!

Saya sedang kesulitan waktu untuk membahas fenomena kunjungan McCain ke Indonesia. Jadi, saya hanya sekedar mengingatkan saja, siapa itu McCain. Dia datang ke Indonesia untuk “meminta seluruh negara mengantisipasi gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), karena gerakan ini semakin menuai ancaman” (baca beritanya di sini)

McCain seolah cuci tangan, dan mengaburkan opini publik Indonesia, mengenai fakta penting bahwa dirinya-lah yang sejak awal terlibat mendukung pemberontakan para ‘mujahidin’ di Libya dan Suriah. Lahirnya ISIS tidak bisa dilepaskan dari lahirnya gerakan ‘mujahidin’ menggulingkan rezim yang mereka sebut ‘thoghut’ (Qaddafi dan Assad). Saya sudah menjelaskan panjang lebar di blog ini (dan di buku saya Prahara Suriah).

Kedatangan McCain membawa sesuatu yang busuk. Dari track record-nya membuat kerusuhan di Libya dan Suriah, rakyat Indonesia perlu sangat waspada. Jangan pernah mau terjebak dalam upaya adu domba yang bisa berujung pada konflik bersenjata yang mengerikan. Satu kubu sudah terbentuk, yaitu Islamis garis keras pendukung ISIS (atau dengan berbagai nama, tapi dengan ideologi yang sama: menganggap orang selain mereka sebagai kafir yang wajib dibunuh). Kubu lain, adalah kita, rakyat Indonesia yang nasionalis, yang tidak akan membiarkan mereka menghancurkan negeri ini, sebagaimana mereka menghancurkan Libya, Suriah, dan Irak.

Berikut beberapa foto yang membuktikan keterlibatan McCain dalam pemberontakan bersenjata di Suriah dan Libya.

McCain bertemu dengan pemberontak Libya dan menyeerukan agar dunia internasional memberikan bantuan kepada para pemberontak ini (sumber dan foto-foto lainnya, klik ini):

Sen-John-McCain-visits-Libya_5_1McCain bertemu dengan pemberontak Suriah (baca beritanya di sini):

JohnMcCaininSyriaMcCain mengadakan meeting dengan para pemberontak Suriah.

mcCain SuriahDi jejaring sosial dan media online beredar ‘analisis’ bahwa salah seorang dalam foto di atas terlihat mirip dengan Al Baghdadi (Khalifah ISIS), tapi saya tidak bisa memverifikasinya. Silahkan dilihat sendiri, seberapa miripnyakah?

McCain SyriaUntuk mengetahui lebih jauh tentang konflik Suriah dan betapa masifnya pemutarbalikan fakta oleh media mainstream (dan media nasional, plus media berlabel ‘Islam’ di Indonesia), bisa tonton film pendek berdurasi 11 menit ini:

 

Curhat untuk Pak Jonan (Dirut KAI)

Tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan Dirut KAI, Pak Jonan, apalagi untuk menyebutnya ‘pencitraan’. Saya salut atas kerja keras Pak Jonan yang mau bela-belain 15 hari memantau kinerja perusahaan yang dipimpinnya. Ini jauh lebih baik daripada sikap sebagian pejabat kita yang korupsi di sana-sini (atau, main sinetron, misalnya). Tapi, kritik ilmiah tetap penting. Inilah yang ingin saya sampaikan kepada Pak Jonan.

Pak Jonan tidur di KA

Pak Jonan tidur di KA

Saya adalah pengguna kereta api yang benar-benar ekonomi (kereta lokal Cicalengka-Bandung-Padalarang). Tak terhitung lagi berapa kali saya terjepit di antara sesaknya penumpang. Saya hanya bersyukur, saat itu saya tak membawa anak kecil, seperti ibu-ibu lain yang saya lihat. Saya bersyukur, masih kuat untuk melompat setinggi satu meter, karena jarak antara pintu kereta dengan ‘tanah’ stasiun sedemikian tinggi. Entah bagaimana nasib nenek-nenek atau bapak-bapak sepuh. Tapi pernah, saya tak sanggup melompat setinggi itu karena menggendong anak saya Reza. Saat saya mencoba lari ke gerbong lain yang berhenti di ‘trotoar’, kereta sudah terlanjur bergerak dan saya terbawa hingga ke stasiun berikut. Sepertinya, untuk naik kereta lokal ini, orang musti punya keahlian meloncat, Pak.

Ini foto yang memperlihatkan maksud saya (soal jauhnya jarak antara pintu kereta dan ‘tanah’ stasiun, yang tidak ada ‘trotoar’):

Saya benar-benar mengalami, berdiri (dan HARUS berdiri, kalau tidak, tidak akan kebagian tiket) selama satu jam penuh untuk mengantri tiket. Ini foto saat saya berdiri mengantri 1 jam itu (pada bulan puasa kemarin). Antrian mengular di stasiun Bandung, semua ingin membeli tiket pulang ke Cicalengka/Padalarang:

antrian1antrian2

Sedih sekali saya melihat ibu-ibu yang membawa anak kecil, dan ibu-bapak tua, yang berdiri dalam antrian selama sejam, bareng saya. Si anak menangis karena kelelahan. Saya mulai mengantri DUA jam sebelum kereta berangkat. Mengapa loket tidak dibuka saja terus, supaya pembeli segera mendapat tiket, dan duduk tenang menunggu datangnya kereta? Apa Bapak pikir, karena kami rakyat jelata, kami tidak punya kerjaan dan sukarela menghabiskan waktu satu jam sambil berdiri di depan loket tertutup? Kalau saja saya saat itu datang lambat, sudah pasti saya kehabisan tiket. Jadi, saya berdiri di depan loket mulai dua jam sebelum kereta berangkat itu bukan pilihan, tapi terpaksa. Mengapa frekuensi kereta lokal ini tidak diperbanyak?

Pak Jonan memang berhasil membuat kereta api semakin nyaman, tapi hanya untuk SEBAGIAN orang. Saya mengakui kenyamanan kereta saat ini: ada AC di kereta ekonomi lokal ini, ada charger HP, tidak ada lagi pedagang asongan (dari perspektif saya: mereka menyebalkan karena selalu mondar-mandir di tengah penumpang yang berdiri berdesakan; tapi dari perspektif para pedagang itu: mereka punya hak untuk mencari uang dengan berjualan kan?) dan tak ada lagi pengemis; penumpang pun dibatasi (sehingga meskipun berdesakan, tidak separah zaman dulu sebelum pak Jonan jadi Dirut). Lalu, ada kereta Patas AC dengan nomor tempat duduk. Jadi, dengan membayar tiket 6,6 x lipat, seseorang bisa menikmati layanan itu: dipastikan dapat duduk nyaman di kereta ber-AC. Saya highlight ya: membayar tiket 6,6 kali lipat (ekonomi: 1500, patas AC 10.000). Buat saya, alhamdulillah, bukan masalah. Tapi bagaimana dengan tetangga saya: suami dan ketiga anaknya setiap hari harus naik kereta untuk ke kantor dan kampus? Suaminya itu guru, mana kuat membayar tiket @20.000 sehari (pp) untuk dirinya dan 3 anaknya (artinya sehari Rp80.000)?

Dulu, masih ada sistem abonemen yang meringankan biaya para commuter (beli tiket khusus untuk 1 bulan). Dulu ada pilihan, naik ekonomi atau patas murah (tidak pakai AC dan tidak pakai nomer tempat duduk), sehingga orang ekonomi lemah masih bisa memilih. Tapi kini, dengan mahalnya tiket, mereka terpaksa naik ekonomi.

(lebih…)

New Release 2013

prahara suriah

New Release (2013)

"dokter cilik"
obama
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
"pelangi di persia"
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.165 pengikut lainnya.