Makalah Seminar Internasional Tentang Perempuan Muslim

Berikut beberapa soft file makalah dalam Int’l Seminar, “Islamic World: Women’s Role and Responsibility of Muslim Women” 17 Des 2011 di Univ. Muhammadiyah Jakarta.

Pembicara yang hadir 11 orang, dibagi dalam 3 komisi.

Comission 1 :
The Views of the Leader of the Islamic Republic of Iran (Imam Khomeini and Imam Khamene’i) about Women
Speakers :

1. Dr. Tahereh Nazari (Iran)
2. Prof. Dr. Hj. Tuty Alawiyah (Univ. As-Syafi’iyah-Indonesia)
3. Dina Yulianti Sulaeman, M.Si (Indonesia)
4. Zubaidah Sangwiman (Thailand)

Comission 2 :
The Role of Muslim Women in the Development of Culture, Knowledge and Social of Islamic Society
Speakers :
1. Dr. Fereshteh Ruh Afza (Iran)
2. Prof. Dr. Hj. Masyitoh, M.Ag (Rector of UMJ)
3. Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA (Unhas-Indonesia)

Comission 3 :
The Barriers and challenges of Muslim women today and seeking the solutions in facing it (challenge of law, employment and gender equality)
Speakers :
1. Shayesteh Khuy (Iran)
2. Farah Jafri (India)
3. Prof. Dr. Amani Lubis (UIN Jakarta-Indonesia)
4. Chusnul Mariyah, Ph.D (UI-Indonesia)

(ada satu lagi dari Malaysia..sy lupa namanya)

Makalah Tahereh Nazari
Makalah Prof Amany
makalah Prof Masyitoh
Makalah_Chusnul Mar’iyah
Makalah_Dwia Aries
Makalah Dina

2 Komentar

Filed under Uncategorized

Serangan Militer ke Iran: Kisah dari Pulau Diego Garcia

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

 

Berita-berita tentang ancaman serangan militer dari AS dan Israel terhadap Iran akhir-akhir ini semakin intens. Dalam doktrin militer AS, Iran memang dikategorikan sebagai ‘ancaman utama bagi kestabilan di Timur Tengah dan Asia Tengah’. Menurut Chomsky, kestabilan dalam terminologi AS bermakna ‘berada di dalam kontrol AS’. Artinya, bila ada sebuah rezim yang tidak berada dalam cengkeraman kontrol AS, rezim itu menjadi ancaman bagi ‘kestabilan’. Dalam menghadapi ‘ancaman’ ini, AS sudah melakukan berbagai langkah. Antara lain sejak November lalu, AS dan Eropa beramai-ramai memperketat sanksi:  bank Inggris memutus hubungan finansial dengan bank sentral Iran, Kanada menutup pintu ekspor untuk barang-barang yang dianggap berkaitan dengan industri petrokimia, gas, dan minyak Iran, beberapa negara Eropa mem-black-list tokoh-tokoh Iran yang dianggap berperan penting dalam proyek nuklir, dll.

Hal yang tidak banyak dibahas adalah kisah dari sebuah pulau bernama Diego Garcia. Seiring dengan meningkatnya intensitas ancaman serangan ke Iran, pemerintahan Obama juga diberitakan telah menambah kapasitas militernya di pulau Diego Garcia. Konon di sana bercokol lebih dari 2000 tentara, pelabuhan yang muat untuk 30 kapal perang, tempat pembuangan limbah nuklir, stasiun mata-mata satelit, dan tempat hiburan untuk para tentara: mall, bar, dan lapangan golf. Pada bulan Maret 2010, Sunday Herald melaporkan bahwa AS telah mengirimkan 10 kontainer berisi amunisi ke Diego Garcia, di antara bom “Blu” yang mampu meledakkan struktur bawah tanah secara masif. Kapal-kapal selam bertenaga nuklir yang bisa meluncurkan rudal Tomahawk  juga ‘mangkal’ di sana; rudal Tomahawk sendiri bisa dipasangi hulu ledak nuklir.

Pada masa perang Irak, John Pilger mencatat bahwa ada berita sekilas yang berbunyi, “Pengebom Amerika, B-52 dan Stealth, tadi malam dilepaskan dari  sebuah pulau-tak berpenduduk-milik-Inggris untuk mengebom Irak dan Afghanistan.”

Ya, Diego Garcia ternyata adalah sebuah pulau yang dijadikan pangkalan militer AS; salah satu yang terbesar di dunia. Serangan-serangan udara AS ke Irak dan Afghanistan diketahui dilancarkan dari Diego Garcia. Namun, di balik kecanggihan perlengkapan militer yang disimpan di sana, Diego Garcia menyimpan kisah pilu yang semakin menunjukkan wajah bengis negara-negara arogan dan haus perang: AS dan Inggris.

Continue reading

7 Komentar

Filed under Afganistan, Amerika, Irak, Nuklir Iran, Politik Iran, Studi Hubungan Internasional

Era Perdagangan Perempuan

Oleh: Dina Y. Sulaeman

Dalam rangka menyiapkan makalah untuk sebuah seminar internasional tentang perempuan yang disponsori Kedutaan Besar Iran di Jakarta, saya menelaah salah satu pidato Iranian Supreme Leader (Rahbar), Ayatullah Khamenei. Ada hal yang menarik dalam pidato itu. Rahbar mengaitkan pandangan Barat yang salah terhadap perempuan dengan kondisi buruk perempuan pada hari ini. Barat, menurut Rahbar, memandang perempuan sebagai ‘pihak yang dimanfaatkan’ dan laki-laki sebagai ‘pihak yang memanfaatkan’. Rahbar menyebutkan bahwa salah satu akibat dari pandangan yang salah ini, hari ini human trafficking (perdagangan manusia), yang di dalamnya meliputi perdagangan kaum perempuan, merupakan industri yang paling cepat pertumbuhannya di dunia.

Entah kebetulan atau memang sudah demikian diatur-Nya, saya kemudian menonton DVD berjudul “The Whistleblower”; awalnya hanya untuk sekedar refreshing. Ternyata film itu diangkat dari kisah nyata, menceritakan seorang polisi perempuan dari AS, bernama Kathryn Bolkovac, yang bergabung dalam pasukan penjaga perdamaian PBB di Bosnia, tahun 1990-an. Suatu hari, Kathryn menemukan dua gadis muda dalam kondisi sangat buruk (luka-luka parah). Rupanya, keduanya kabur dari sebuah bar. Kathryn pun berusaha menyelidiki kasus itu.

Ternyata, di dekat lokasi pangkalan pasukan perdamaian PBB itu ada sebuah bar yang penuh dengan gadis-gadis muda pekerja seks. Di dalam bar itu, Kathryn menemukan paspor-paspor gadis-gadis itu, dari berbagai negara di Eropa Timur. Selain itu, Kathryn juga mendapati foto-foto sadis: gadis-gadis itu diperlakukan dengan sangat mengerikan (saya berkali-kali memejamkan mata pada adegan-adegan ini, tidak sanggup menatapnya). Yang membuat Kathryn shock, pelaku kekejaman yang terekam dalam foto-foto itu adalah teman-temannya sendiri, para anggota pasukan penjaga perdamaian.

Kathryn kemudian mendatangi sebuah rumah penampungan gadis-gadis terlantar. Di sanalah kedua gadis yang luka-luka tadi dirawat. Ibu tua petugas rumah penampungan itu berujar, “Gadis-gadis ini bukan pelacur. Mereka diperlakukan seperti anjing.”

Penyelidikan Kathryn terus bergulir. Dia menemukan bahwa telah terjadi perdagangan perempuan; gadis-gadis dari berbagai negara di Eropa Timur dibawa ke Bosnia, untuk dijadikan pelacur. Dan karena mereka dianggap ‘pelacur’, maka oleh pihak PBB, kegiatan ini dilegalkan. Seperti kata pejabat PBB di Bosnia (dalam film itu), “The girls are the whores of the war. It happens.” Perlu diketahui, pada saat itu ada 21.000 tentara PBB, tentara NATO, birokrat, dan petugas administrasi yang bercokol di Bosnia, demi ‘menjaga perdamaian’. Merekalah yang menjadi pelanggan pusat-pusat seks itu.

Setelah melakukan penelaahan lebih lanjut, saya pun mengetahui bahwa ternyata dalam pandangan Barat, pelacuran adalah sesuatu yang ‘legal’, dalam arti: toh si perempuan yang memilih untuk menjual tubuh mereka; jadi, itu ‘hak’ mereka dan konsekuensinya harus mereka tanggung sendiri.

Continue reading

4 Komentar

Filed under Amerika, PBB, Studi Hubungan Internasional

Ada Apa Amerika?

Dina Y. Sulaeman*

Sejak bulan September, gelombang demonstrasi mulai melanda kota-kota di AS di bawah bendera ‘Occupy Wall Street’ (Duduki Wall Street). Pada demonstran menyuarakan protes mereka kepada Wall Street yang mereka anggap sudah sangat rakus. Dalam hitung-hitungan para demonstran itu, dari seluruh kekayaan AS, 40%-nya dikuasai oleh 1% saja, yaitu pengusaha-penguasaha elit. Sementara, 60% sisanya, harus dibagi-bagi di antara 99% rakyat AS.  Itulah sebabnya, di antara spanduk-spanduk yang dibawa para demonstran banyak yang bertuliskan “We’re the 99%”. Mereka memrotes sistem kapitalisme yang memberikan peluang bagi 1% orang untuk mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya, dan membiarkan 99% orang lain hidup menderita.

Situs resmi OWS menyatakan bahwa gerakan mereka adalah tanpa pemimpin (leaderless) dan menggunakan taktik gerakan ‘musim semi Arab’ (Arab Spring).  Namun, ada pertanyaan krusial yang belum pernah dikemukakan oleh para penggagas  OWS, siapa sebenarnya yang mereka protes? Mereka menyebut kapitalisme dan Wall Street? Lalu apa itu kapitalisme? Ideologi-kah, atau ada ‘sosok manusia’-nya sehingga bisa digulingkan?

Continue reading

2 Komentar

Filed under Amerika, Studi Hubungan Internasional

Jepang, Antara Cinta dan Dendam

Dina Y. Sulaeman*

 

Sebuah buku berjudul Japanese Militarism and Its War Crimes in Asia Pasific Region (Hendrajit, ed) dikirim kepada saya, oleh penerbitnya, Global Future Institute. Tak ayal, buku ini membuat saya kembali merenung, mengenang kembali perjalanan saya ke Jepang tahun 1996. Ketika itu, saya diterima dengan hangat oleh keluarga-keluarga Jepang yang menjadi host saya, diajak berwisata ke berbagai tempat, serta dibelikan berbagai souvenir. Efek kunjungan singkat (atas kebaikan hati sebuah perusahaan Jepang) itu adalah, saya sulit membayangkan orang-orang Jepang sebagai orang-orang yang kejam, pelaku pembantaian nenek-moyang kita, memerkosa gadis-gadis Indonesia, menjadikan mereka sebagai pelacur, dan memperbudak kakek-kakek kita dulu untuk bekerja di berbagai proyek.

Dulu, tentu saja saya belajar sejarah di sekolah. Meski romusha disebut secara sekilas, yang lebih tertanam di benak saya adalah ‘jasa’ orang Jepang dalam kemerdekaan Indonesia. Bayangkan saja, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia  dibentuk atas persetujuan Jenderal Terauchi pada 7 Agustus 1945.  Bahkan, teks proklamasi dirumuskan di rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol Jakarta. Hanya baru-baru ini saja saya mendapatkan perspektif lain, dari sebuah buku yang ditulis H. Bambang Setyo, MSc. “Telaah Kritis Dasar Falsafah Negara Republik Indonesia dalam Perspektif Aqidah Islam.” Dalam buku itu, Bambang mengkritisi, mengapa Panitia Persiapan Kemerdekaan Kemerdekaan, termasuk juga Soekarno dan Hatta justru membahas teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda?  Padahal, sudah ada rancangan ‘Pernyataan Indonesia Merdeka’ yang sudah disetujui secara bulat oleh Badan Penyelidik  pada 14 Juni 1945.  Bambang mensinyalir adanya faktor ‘psiko-politik’ yang mengaitkan antara tempat dirancangnya isi teks Proklamasi dengan pengabaian kesepakatan Badan Penyelidik.

Continue reading

3 Komentar

Filed under Indonesia, Studi Hubungan Internasional

Perampokan a la NATO

Qaddafi memang sasaran empuk. Sikapnya yang eksentrik serta track record kekerasan yang dilakukannya terhadap para oposannya membuat NATO dengan mudah meraih dukungan dunia saat melancarkan operasi menjarah Libya. Langkah awal NATO adalah dengan membekukan aset-aset Libya. Alasan yang mereka berikan tentu saja: itu uang Qaddafi, hasil korupsi atas kekayaan rakyatnya. Karena itulah, tak banyak yang memrotes. Seolah-olah negara-negara Barat memang berhak membekukan uang orang-orang yang dituduh korupsi. Total aset Libya yang dibekukan Barat berjumlah $150 milyar dollar, $100 milyar dollar di antaranya berada dalam genggaman negara-negara yang bergabung dalam agresi NATO ke Libya.

Pertanyaannya, kemana uang itu sekarang? Siapa yang memanfaatkannya? Sebelum sampai ke jawaban, ada fakta menarik yang tak banyak diketahui publik: Libya ternyata tidak punya hutang luar negeri. Libya adalah negara kaya, dengan cadangan minyak terkaya di Afrika.

Lalu, NATO dengan alasan ‘humanitarian intervention’ membombardir puluhan ribu target sipil: fasilitas kesehatan, sekolah, sistem distribusi air, rumah, masjid, jalanan, atau perkantoran. Bahkan rumah Qaddafi pun tak luput dari bombardir, sehingga menewaskan tiga cucu Qaddafi, dan anak-menantu Qaddafi. Kini, Libya telah porakporanda. Seharusnya, ‘uang Qaddafi’ yang dibekukan itu dikembalikan kepada rakyat Libya, minimalnya kepada NTC, yang dengan sekejap meraih pengakuan dari negara-negara NATO sebagai ‘pemerintahan transisi yang sah di Libya’. Tapi bagaimana kenyataannya?

Negara-negara NATO kini beramai-ramai menawarkan bantuan untuk merekonstruksi Libya yang sudah hancur itu. Dalam perundingan di Paris, para pemimpin negara-negara NATO setuju untuk mencairkan milyaran dollar uang yang dibekukan itu untuk membantu pemerintahan transisi Libya membangun kembali fasilitas pelayanan publik. Hanya, parahnya, dana itu akan diberikan dalam bentuk hutang!

Financial Post (10/9) melaporkan, beberapa hari setelah pemimpin negara-negara NATO menyetujui pencairan aset Libya yang dibekukan itu, diadakan pertemuan G8 di Marseille. Dalam pertemuan itu, negara-negara G8 setuju untuk menggelontorkan dana pinjaman sebesar 38 milyar dollar kepada negara-negara Arab, dan ‘menawarkan kepada Libya untuk menerima dana pinjaman itu’. Wakil dari NTC hadir dalam pertemuan di Marseille tersebut.

Siapa saja negara-negara G8 yang ‘berbaik hati’ memberikan pinjaman kepada negara-negara Arab yang kacau-balau akibat berbagai aksi penggulingan rezim itu? Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, AS, Kanada, dan Rusia. Sementara itu, asset $150 milyar dollar Libya yang dibekukan itu, ternyata berada di Perancis, AS, Inggris, Belgia, Netherland, Italia, Kanada. Benar-benar sebuah ‘kebetulan’ bahwa negara-negara ini sebagiannya bergabung di G8, dan semuanya bersama-sama bergabung dalam NATO.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa sedemikian ‘kebetulan’: aset Libya berada di negara-negara agresor Libya? Seolah-olah terlihat wajar bahwa para koruptor menanamkan uang di negeri-negeri Barat. Namun, fakta lain menunjukkan bahwa ternyata ada orang-orang yang selama ini mengelola keuangan Qaddafi dan merekalah yang kini bersatu dalam barisan anti-Qaddafi.

Pada tahun 2008, dibentuk The Libyan Investment Authority. Lembaga inilah yang menginvestasikan uang rakyat Libya di berbagai negara Barat. Tokoh-tokoh LIA antara lain adalah Mohamed Layas, yang sebulan sebelum dimulainya aksi pemberontakan di Libya (Januari), menyimpan uang atas nama LIA sebesar 32 juta dollar di bank AS. Lima pekan kemudian (Februari), AS membekukan aset Libya.

Tokoh lainnya adalah Farhat Bengdara. Bengdara adalah politisi kelahiran Benghazi. Selain sebagai anggota LIA, dia juga Gubernur Bank Sentral Libya. Aksi pemberontakan Libya pecah di Benghazi (tanah kelahiran Bengdara) pada 17 Februari. Pada 21 Februari, Bengdara meninggalkan Libya dan tinggal di Turki sejak saat itu. Sungguh sebuah kebetulan, hanya 4 hari kemudian, PBB menerapkan ‘no fly zone’ di Libya.

Banyak orang menyebut-nyebut dengan nada ejekan, bahwa pembahasan ‘di balik layar’ seperti ini adalah teori konspirasi. Namun, sesungguhnya segalanya sangat masuk akal. Negara-negara NATO adalah negara-negara kapitalis yang tidak akan membuang-buang uang hanya demi ‘menolong’ orang Afrika. Dan serbuan ala NATO tidak akan terjadi hanya dengan perencanaan mendadak. Segala sesuatunya harus dipersiapkan dengan matang, termasuk pendanaannya. Sumber dana termudah tentu saja, dengan merekrut orang-orang di sekeliling Qaddafi untuk menyimpan uang di bank-bank negara-negara NATO, lalu ‘dibekukan’ atas nama kemanusiaan. Dan kini, dengan dana yang sama, mereka menawarkan hutang kepada pemerintahan transisi Libya untuk merekonstruksi negeri yang sudah mereka porakporandakan itu.

8 Komentar

Filed under Amerika, kajian timur tengah, NATO, Studi Hubungan Internasional

Hegemoni Epistemic Community

 

 

 

HEGEMONI EPISTEMIC COMMUNITY

 

File PDF di atas adalah abstrak dan bab 1 tesis saya dengan judul:

HEGEMONI EPISTEMIC COMMUNITY

DALAM PROGRAM HARM REDUCTION UNAIDS (JOINT UNITED NATIONS PROGRAMME ON HIV/AIDS):

STUDI PADA  DI LSM RUMAH CEMARA

PROGRAM PASCASARJANA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS PADJADJARAN

BANDUNG

2011

 

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under epistemic community, Studi Hubungan Internasional, UNAIDS

Tragedi 9-11: Ternyata, Penguasa WTC adalah Pengusaha Zionis

©Dina Y. Sulaeman

Teror 9-11 sudah berlalu 10 tahun. Tetapi selubung misteri masih melingkupi. Pemerintah AS memang telah merilis laporan resmi komisi penyelidikan 9-11. Sebenarnya, sebelum penyelidikan tuntas pun, Bush sudah langsung menyatakan bahwa Al Qaida adalah pelaku terori 9-11 dan menyerukan “perang melawan terorisme” dengan menggunakan kata ‘crusade’ (perang Salib). Bush mengatakan, “this crusade, this war on terrorism is going to take a while.”  Namun, hasil penyelidikan resmi itu sama sekali tidak mampu menjawab berbagai pertanyaan ‘sederhana’ terkait keanehan kejadian 9-11.

Pertanyaan-pertanyaan ‘sederhana’ itu, antara lain: bagaimana seorang pilot amatiran yang konon baru lulus pelatihan pilot, bisa menabrak Menara Kembar WTC secara tepat? Bila kita memandang kota dari tempat yang sangat tinggi, pemandangan yang terlihat adalah datar bagaikan seperti selembar peta. Menurut Thierry Mayssan, penulis buku 9/11: The Big Lie, untuk menabrak menara WTC, pesawat perlu terbang sangat rendah dan kemampuan terbang serendah itu sangat sulit dilakukan oleh pilot yang sangat berpengalaman sekalipun.

Kedua, tak lama setelah ditabrak, Menara Kembar yang sangat kokoh itu runtuh dengan ‘rapi’ (seperti sedang mengalami demolition atau peruntuhan gedung tua dengan memasang bom pada tempat-tempat yang sudah diperhitungkan secara cermat). Bahkan berbagai dokumentasi foto/video memperlihatkan potongan besi baja yang ‘rapi’ (terpotong menyerong, khas demolition). Namun, laporan komisi penyelidikan menyatakan bahwa terbakarnya bahan bakar pesawat menimbulkan panas yang melelehkan struktur logam utama kedua bangunan.

Teori ini disangkal keras oleh William Manning, editor majalah profesional “Fire Engineering”. Menurutnya, “Kerusakan bangunan akibat ditabrak pesawat dan ledakan dari bahan bakar pesawat tersebut tidak cukup untuk meruntuhkan menara WTC.” Manning juga memertanyakan, mengapa besi-besi reruntuhan WTC segera dijual ke China, padahal penelitian belum tuntas? Padahal, lazimnya dalam peristiwa-peristiwa kebakaran atau ledakan, semua barang di lokasi kejadian tidak boleh dipindahkan hingga penelitian tuntas.

Namun sebelum membahas lebih lanjut tentang bagaimana proses hancurnya WTC, perlu dicari tahu dulu, siapa sebenarnya yang menguasai gedung WTC yang hancur itu?

Jurnalis independen Christopher Bollyn, memberikan jawabannya. Ada dua nama yang menguasai WTC, yaitu Larry Silverstein dan Lewis Eisenberg. Silverstein dan partnernya, Frank Lowy (pria Australia-Israel) adalah developer real estat. Mereka memiliki hak sewa selama 99 tahun atas WTC. Sementara itu, Eisenberg berperan dalam melakukan privatisasi properti WTC dan mengatur negosiasi yang akhirnya memberikan hak sewa kepada properti itu kepada Silverstein dan Lowy. Ketika WTC hancur, Silverstein dan Lowy meraup milyaran dollar uang dari perusahaan asuransi.

Silverstein dan Lowy meraih hak sewa atas WTC tak lama sebelum terjadinya teror 9-11, tepatnya tanggal 26 Juli 2001. Silverstein menguasai the 10.6 juta-kaki persegi ruang perkantoran di kompleks WTC, dan Lowy menguasai 427.000 juta-kaki persegi mall di kompleks WTC.

Silverstein dan Eisenberg dikenal sebagai pendukung utama Israel, dan punya jabatan tinggi di lembaga pencarian dana untuk Israel di AS. Keduanya sama-sama memiliki jabatan tinggi di the United Jewish Appeal (UJA), sebuah organisasi ‘amal’ Zionis yang sangat kaya. Silverstein sendiri pernah menjabat sebagai ketua United Jewish Appeal-Federation of Jewish Philanthropies of New York, Inc. Ini adalah organisasi yang mengumpulkan dana ratusan juta dollars setiap tahun untuk disalurkan kepada lembaga-lembaga Zionis di AS dan Israel.

Eisenberg memainkan peranan penting dalam proses jatuhnya hak sewa WTC kepada Silverstein dan Lowy. Padahal, keduanya sebenarnya bukanlah pemenang dari proses lelang gedung itu . Pemberi tawaran tertinggi sebenarnya adalah Vornado Realty Trust, tapi dengan berbagai cara, Eisenberg menjegalnya, sehingga Vornado muncur, dan membuka pintu bagi Silverstein dan Lowy.

Yang agak luput dari pembicaraan terkait 9-11 adalah runtuhnya gedung WTC 7 (gedung lain di sekitar Menara Kembar WTC), pada sore hari 9 September 2001 itu. Tidak ada pesawat yang menabrak gedung setinggi 47 lantai itu, namun tetap runtuh. Siapa pemiliknya? Tak lain tak bukan, Silverstein. Lagi-lagi, ditemukan bukti-bukti bahwa bom-lah penyebab runtuhnya WTC 7.

Kembali pada teori runtuhnya WTC, secara umum ada dua teori. Teori resmi dari pemerintah AS adalah menara kembar itu runtuh karena bahan bakar pesawat yang terbakar menimbulkan panas yang melelehkan struktur logam utama kedua bangunan. Sebaliknya, para peneliti independen mengatakan bahwa tidak mungkin ‘hanya’ ditabrak pesawat, gedung setangguh WTC bisa hancur total (seharusnya, hanya kerusakan di beberapa lantai saja, yang dekat dengan titik tabrakan). Selain itu, di lokasi juga ditemukan bukti-bukti (antara lain, video dan foto-foto yang menunjukkan adanya 5-6 kawah bekas ledakan yang luas dan dalam) mengarahkan pada simpulan bahwa ada ledakan bom berkekuatan sangat besar yang sebelumnya sudah ditanam di dalam gedung.

Bila teori kedua ini yang dianggap lebih masuk akal, logikanya, perlu sepasukan penuh orang untuk membawa berton-ton bom ke dalam gedung WTC dan meletakkannya secara cermat, supaya bisa meruntuhkan gedung raksasa itu dengan ‘rapi’. Tak mungkin aksi penanaman bom ini dilakukan dengan diam-diam tanpa ketahuan pemilik gedung. Tentu pertanyaan selanjutnya adalah “siapa yang memiliki akses penuh terhadap WTC sebelum terjadinya 9-11?”

Lagi-lagi, jawabannya adalah Silversten. Dialah yang menguasai hak sewa selama 99 tahun atas WTC sejak 26 Juli 2001.

Bacaan lanjutan: file PDF hasil penelitian (Prof. Em) Dr. Steven E. Jones (ahli fisika) berjudul “Why Indeed Did the WTC Buildings Collapse?” bisa diunduh di sini.

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Afganistan, Amerika, kajian timur tengah, Studi Hubungan Internasional

Kebohongan Media Mainstream Soal Libya

©Dina Y. Sulaeman

Moammar Qaddafi memang bukan pemimpin yang baik. Salah satu bukti kebrutalannya adalah aksi ‘pelenyapan’ Imam Mousa Sadr. Pada 25 Agustus 1978,  tokoh pendiri Hizbullah-Lebanon, Imam Musa Sadr, bersama dua orang yaitu, Syeikh Muhammad Yaqub dan Abbas Badruddin, pimpinan redaksi kantor berita Lebanon, tiba di Libya. Menurut rencana tanggal 29 atau 30 Agustus, mereka akan berdialog dengan Presiden Libya, Qaddafi. Namun sejak itu hingga kini Imam Musa Sadr raib tanpa jejak. Amnesty Internasional pada tahun 1988 melaporkan bahwa Qaddafi telah melakukan penangkapan, penahanan sewenang-wenang, penghilangan paksa, penyiksaan, serta hukuman mati terhadp para oposannya. Tahun 1996, menurut Amnesty Internasional, terjadi pembantaian massal terhadap 1.200 orang di penjara Abu Slim.

Tapi, kebrutalan Qaddafi tidak seharusnya membuat kita tidak peduli (apalagi mendukung) terhadap apa yang dilakukan oleh NATO di Libya. Qaddafi saat ini sepertinya sedang menghadapi karmanya, menghadapi detik-detik pembalasan atas berbagai kejahatan yang pernah dilakukannya selama ini. Namun, kita juga perlu mencermati skenario yang dilakukan NATO dalam mengobarkan perang di Libya.

Continue reading

4 Komentar

Filed under Amerika, Libya, NATO

Serapuh Sarang Laba-Laba…

(copas dari note fb Dr. Muhsin Labib)

Saudara-saudaraku sekalian, sejak kemenangan Hizbullah beberapa tahun silam dalam suatu perang global yang super sengit, banyak hal yang sudah terjadi. Rangkaian keajaiban yang tak terpikirkan berlangsung di sekitar kita dan di seantero dunia. Rezim paling kuat pendukung Zionis di Mesir tiba-tiba saja tumbang. Seperti sarang laba-laba yang koyak, rezim ini pun semburat dan kocar-kacir. Tak ada yang bisa menggantikan kekalahan besar AS-Israel dengan tumbangnya Mubarok ini.

Tak hanya itu. Bola salju revolusi terus membesar dan melaju gencar di berbagai negara Timteng lain, seperti di Yaman dan Bahrain. Banyak yang kini mulai berharap bola salju raksasa ini akan berpuncak dng menggilas rezim zionis-Arab Saudi. Tak ayal lagi, runtuhnya kerajaan dusta yang berpijak di atas legitimasi–meminjam istilah Imam Khomeini–”Islam Amerika” ini akan menyebarkan kemerdekaan bangsa-bangsa Muslim di Timteng dan dunia Islam lainnya.

Bersamaan dengan itu, yang tak kalah mengejutkannya adalah meletusnya gelombang protes massal yang menghantam daratan Eropa. Meski media mainstream mencoba untuk menutup-nutupinya, tapi media alternatif dan jejaring sosial mampu menggambarkan serunya aksi massa di Yunani, Spanyol, Italia, Jerman, Inggris (London), dan kota-kota Eropa lain yang pasti segera menyusul.

Siapa yang pernah membayangkan semua ini bakal terjadi, persis di saat kita melaksanakan demo anti Israel pada Jum’at terakhir Ramadhan tahun silam?

Siapa pula yang menduga bahwa AS tiba-tiba berada di tubir kebangkrutan ekonomi? Siapa yang menyangka bahwa Israel makin digrogoti oleh krisis multidimensional?

Maka itu, saudara-saudaraku, janganlah sampai kita tertinggal kereta kemenangan dan kemuliaan ini. Ayo hadirilah kembali demo Al Quds tahun ini, agar tahun depan kita menyaksikan rentetan kemenangan yang di luar semua dugaan kita. Tak mustahil di waktu dekat ini, generasi kita akan menyaksikan menyingsingnya fajar kemenangan akbar di ufuk peradaban umat. Sejarah mengajarkan pada kita betapa kemenangan itu “amr” Allah, dan betapa “amr” itu memancarkan sifat Kun Fayakun. (Bbm Musa Kazhim)

Photo: washington post

Note: Demo Yaumul Quds, diadakan di Jakarta dan bbrp kota lain setiap Jumat terakhir di bulan Ramadhan. Mari bergabung! Info: VOP

2 Komentar

Filed under Amerika, Indonesia, Indonesia-Israel, kajian timur tengah, Palestina