Februari 6, 2010

Selamat Datang Israel! (Surat untuk Pak Tifatul)

Assalamualaikum Pak Tifatul,

Saya masih ingat betapa ramainya kerumunan massa partai Bapak yang berjubel sambil meneriakkan jargon-jargon keadilan di beberapa sudut jalan Jakarta pada masa kampanye pilpres yang lalu. Berbagai spanduk mereka bawa untuk mengekspresikan kecaman pada kekejaman Israel dalam serangannya Ke Gaza pada tahun 2009 silam. ‘Save Palestine’, ‘Zionism Destroy Humanity: Act Now’, ‘One Man One Dollar to Save Palestine’, adalah di antara spanduk yang saya ingat persis.

Walau aksi ini dianggap kalangan tertentu sebagai pemanfaatan tragedi kemanusiaan dalam meraih simpati publik dalam masa kampanye politik, namun Bapak dengan gagah berani tetap istiqamah dalam meneriakkan aksi dukungan pada pejuang kemanusiaan Palestina. Apalagi, aksi ini adalah salah satu bentuk manifestasi dari salah satu misi partai Bapak, yaitu:

Ikut memberikan kontribusi positif dalam menegakkan keadilan dan menolak kedhaliman khususnya terhadap negeri-negeri muslim yang tertindas.

Karena itulah, partai Bapak dengan penuh keberanian mengecam agresi Israel ke Gaza yang diberi nama “Operasi Menuang Timah” (Cast Lead) itu. Bahkan, tak hanya sekedar kecaman, partai Bapak juga menginstrusikan para calegnya agar menyisihkan sebagian dana kampanye untuk disumbangkan ke Palestina. Bapak pun berkata kepada media:

“Insya Allah kita akan menghidupkan kembali ‘one man one dollar to save Palestine’.”
Baca terus →

Februari 6, 2010

Gaza Wants to Eat!

Sam Husseini, seorang aktivis politik dan kemanusiaan asal AS, menulis catatan ringan pengalamannya saat mengikuti aksi kemanusiaan untuk mengantarkan bahan bantuan ke Gaza. Rombongan yang dipimpin Galloway itu tertahan di Mesir. Mesir menyatakan akan mengizinkan rombongan kemanusiaan itu masuk bila mereka sudah mendapatkan izin dari Israel. Catatan ringan ini menarik, dan menambah satu lagi argumen, mengapa Palestina harus kita dukung, yaitu: karena persoalan Palestina sangat terkait dengan persoalan kemerdekaan umat manusia di seluruh dunia. Kasus Mesir adalah contoh pahit betapa penjajahan atas Palestina juga menyebabkan pemerintah Mesir menjadi budak Israel dan rakyat Mesir diberangus kemerdekaan mereka untuk membantu penduduk Gaza. Padahal Gaza dan Mesir berbatasan darat, mereka adalah dua entitas yang benar-benar bertetangga dan benar-benar bersaudara (sesama etnis Arab).

*

Lewat tengah malam, aku tak bisa tidur. Aku pergi keluar mencari makanan atau mungkin segelas anggur untuk membantuku tidur. [Di jalan] kulihat rombongan CodePink dan Gaza Freedom March (=LSM aktivis perdamaian). Mereka bilang akan pergi ke kedubes Prancis [untuk menanggapi] seruan ini:

Baca terus →

Februari 2, 2010

Mitos Tanah yang Dijanjikan

Ada banyak argumen untuk sampai pada kesimpulan bahwa pendudukan Israel terhadap Palestina adalah illegal. Tulisan berikut ini menyoroti keillegalan itu dari sisi mitos “Tanah yang Dijanjikan”. Pada posting berikutnya, saya akan mengutip tulisan Sam Husseini, aktivis perdamaian asal AS yang menyoroti dari sisi lain yang –menurut saya-sangat menarik.

Mitos Tanah yang Dijanjikan

by: Muhammad Anis

Tanah yang dijanjikan (the promised land) adalah isu utama yang digunakan sebagai dalih dalam menggalang gerakan Zionisme dan menegakkan Negara Yahudi (the jewish state) yang digagas oleh Theodore Hertzl. Isu inilah yang kemudian dijadikan alasan untuk mengagresi tanah Palestina, mengusir warganya, dan melakukan pembantaian demi pembantaian hingga detik ini.

Kebohongan semacam inilah yang seringkali dijadikan alat oleh Israel untuk memengaruhi negara-negara di dunia, agar mereka mau memaklumi aksi Israel tersebut, sebagaimana kebohongan tragedi holocaust yang penuh manipulasi itu.

Sejarah “tanah yang dijanjikan” dalam kacamata Islam sebenarnya sebagai berikut. Allah SWT berkehendak melengkapi rahmat-Nya bagi Bani Israel, karena itu Musa as berkata kepada mereka: “Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu.” (QS. al-Maidah: 21). Ketika Bani Israel mendengar ini, mereka enggan karena takut terhadap para thaghut (penguasa zalim) yang tinggal di sana.

Baca terus →

Januari 23, 2010

Bisnis Opium AS di Afghanistan

Pertanyaan besar: mengapa mengapa AS sedemikian ngotot menduduki Afghanistan, mengirim pasukan 70.000 pasukan (dan terus akan ditambah dengan target 10.000 pasukan), dan menghabiskan 30 milyar dollar pertahun untuk membiayai perang? Benarkah alasannya karena ada teroris di sana? Prof. Peter Scott Dale memberikan jawabannya: bisnis opium.

Berikut ini ringkasan dari artikel yang ditulis Dale (diterjemahkan oleh tim Global Future Institute). Versi lengkap terjemahan artikel ini bisa dibaca di The Global Review.

Sejarah Kehancuran Afghanistan

Sejak masa kekuasaan Kerajaan Dinasti Durani di abad 18, Afghanistan sudah masuk kategori negara yang menjadi obyek rampasan dan jarahan berbagai kepentingan negara-negara asing.

Meski secara teknis Afghanistan bukan negara yang jadi jajahan suatu negara asing, namun Afghanistan praktis berada dalam orbit pengaruh Kerajaan Inggris dan Rusia. Yang ketika itu Inggris dan Rusia bersaing keras untuk berebut pengaruh di Afghanistan. Sehingga, netralitas Afghanistan masa itu, bukan karena kemauan dari kerajaan Afghanistan itu sendiri, melainkan karena kesepakatan antara Inggris dan Rusia.

Baca terus →

Januari 18, 2010

Ketika Premis Wahyu Diabaikan

Tulisan berikut ini sekilas tak ada kaitan dgn Studi HI, tapi sbnrnya berkaitan juga kok. Penstudi HI pasti mempelajari ideologi liberalisme, neolib, dll. Masalah ideologi ini dalam HI sering dibicarakan dalam kerangka hubungan antar-negara, padahal sebenarnya sangat bersentuhan juga dgn kondisi masyarakat di sebuah negara.

——————-

Demi perkuliahan filsafat ilmu, saya membaca buku karya Prof. Herman Soewardi (alm): Roda Berputar, Bumi Bergulir. Buku ini ternyata hebat: berhasil menjawab pertanyaan besar saya ‘bisakah ilmu bersintesis dengan agama (Islam)?’ Oya, tentu sebagai muslim saya selama ini menerima saja doktrin bahwa ilmu dan agama itu bisa sejalan, tapi saya pun butuh jawaban yang ‘ilmiah’, bukan sekedar doktrin. Saya menemukannya di buku itu.

Intinya, menurut Prof Herman, pengetahuan dibangun dari premis yang kemudian dideduksi oleh akal. Jika premisnya empiris, maka premis itu akan terikat ruang dan waktu, sehingga hasil deduksi (pengetahuan) juga akan terikat ruang dan waktu. Sebaliknya, jika premis sudah punya kebenaran mutlak, universal, dan transendental, pengetahuan yang dihasilkan pun akan universal dan tidak terikat ruang dan waktu.

Baca terus →

Januari 15, 2010

Yaman: Perang Obama Selanjutnya? (3)

Sebelum menjawab, sebaiknya melihat ke peta dulu:

Sumber peta: www.nystromnet.com Sumber peta: www.nystromnet.com

Yaman berbatasan dengan Arab Saudi di utara, Laut Merah di Barat, Teluk Aden dan Laut Arab di selatan, di seberang Teluk Aden ada Somalia, Jibouti. Di sebelah Jibouti berderet Eritrea, Sudan, dan Mesir. Dengan demikian, semua negara itu (Arab Saudi, Mesir, Somalia, Jibouti, Eritrea, Sudan, dan Yaman saling berhadapan dengan Selat Mandab (Bab el Mandab) yang super-strategis.  Tanker-tanker minyak dari Teluk Persia harus lewat ke Selat Mandab, baru kemudian melewati Kanal Suez, dan menuju Mediterania.

Baca terus →

Januari 15, 2010

Yaman: Perang Obama Selanjutnya? (2)

Di Yaman, setiap satu dari tiga orang memiliki senapan.  Senapan, granat, atau bahkan ranjau dijual bebas di pasar. Tapi, “kebetulan” mereka orang Arab dan orang Arab sudah sejak lama distereotipkan dengan kekerasan. Karena itu, orang Arab yang memegang senapan dipandang berbahaya dan identik dengan teroris. Lebih parah lagi, Yemen disebut-sebut sebagai failed state (negara gagal) dan failed state sering dinyatakan sebagai ‘tempat berlindung yang aman (safe haven) bagi berkembangnya terorisme’.  Karena itulah, tuduhan bahwa Al Qaida sedang bersarang di Yaman sangat mudah diterima oleh opini publik.

Padahal, senapan dan senjata memang budaya Yaman sejak lama, mungkin sama seperti budaya orang Jawa (zaman dulu) pegang keris atau suku Aborigin yang membawa boomerang kemana-mana. Itu budaya mereka, seperti kata  Prof Ahmed al Kibsi pada BBC, “Just as you have your tie, the Yemeni will carry his gun.”  Di balik kesukaan orang Yaman membawa senjata, jurnalis Inggris Patrick Cockburn melihat orang Arab Yaman dengan cara berbeda, “The Yemenis are exceptionally hospitable.. Yemenis are intelligent, humorous, sociable and democratic, infinitely preferable as company to the arrogant and ignorant playboys of the Arab oil states in the rest of the Arabian Peninsula.”

Baca terus →

Januari 9, 2010

Yaman: Perang Obama Selanjutnya?

Semua seperti kebetulan. Kebetulan, sepekan sebelum Natal, AS mengebom beberapa lokasi di Yaman yang dicurigai sebagai sarang Al Qaida. Kebetulan juga, di awal Desember, saat mengumumkan penambahan 30.000 pasukan AS ke Afghan, Obama sudah menyebut-nyebut Yaman,  “Where al Qaeda and its allies attempt to establish a foothold — whether in Somalia or Yemen or elsewhere — they must be confronted by growing pressure and strong partnerships.”

Selama tahun 2009 pun, AS sudah menggelontorkan dana 70 million dollar untuk membantu pemerintah Yaman memberantas terorisme.

Lalu, kebetulan pula, di malam Natal seorang pemuda Nigeria yang latar belakangnya dengan sangat mudah dilacak bahwa dia punya kecederungan radikal dan konon punya link dg Al Qaida di Yemen, bisa lolos pemeriksaan di bandara, lalu melenggang naik Northwest 253 menuju Detroit. (Padahal, sudah umum diketahui, orang-orang dengan nama Islami pasti mengalami pemeriksaan jauh lebih ketat di bandara-bandara di negara Barat-bahkan cenderung berupa pelecehan-, dibanding orang dengan mana ‘biasa’). Kebetulan pula, dia membawa bahan peledak dan kebetulan, ada penumpang lain yang memergokinya. Gagallah upaya peledakan pesawat dengan 300 penumpang itu.

(Pertanyaan: owalaaa… pada kemana ya, para petugas FBI-CIA yang canggih seperti di film2 itu?).

Baca terus →

Januari 7, 2010

Viva Palestina!

Bahkan seorang ilmuwan politik pernah berkata: aneh sekali bila Indonesia mau membantu penyelesaian konflik di Palestina! Atas dasar apa? Atas dasar Islam kah? Bukankah negara-negara yang lebih “Islam” seperti Yordan, Mesir, Saudi, justru berbaik-baik dengan Israel? Mengapa Indonesia sok-sokan mau ikut menyelesaikan konflik Palestina-Israel? Sok-sokan memutuskan hubungan dgn Israel pula? Analoginya, bagaimana mungkin kita mau mendamaikan si Fulan yang berantem sama si Fulanah, tapi kita cuma mau berteman sama Fulan dan menolak berdialog dengan Fulanah? Harusnya, kita berdialog dengan kedua pihak (Fulan dan Fulanah), baru kita bisa mendamaikan keduanya.

Waktu saya mendengar argumentasi demikian dari seseorang yang berilmu tinggi, saya terdiam. Saya tak punya argumen bantahan.

Tapi, ketika saya menonton video di bawah ini, saya mendapatkan jawabannya. Di dalam video ini ada rekaman wawancara dengan George Galloway, mantan anggota parlemen Inggris, yang selama ini sangat vokal menyuarakan protes terhadap aksi pelanggaran HAM yang dilakukan Israel. Galloway bersama tim Viva Palestina menempuh jarak ribuan kilo, mempertaruhkan nyawa, untuk membawa bahan makanan, obat-obatan, dll, ke Gaza. Di perbatasan Mesir, konvoi Viva Palestina tertahan, sempat bentrok dengan polisi, ada beberapa tim kemanusiaan yang terluka dan ditawan.

Reporter bertanya kepada Galloway, mengapa tidak lewat rute Israel saja?

Jawab Galloway (ini terjemahan bebas, berdasarkan ingatan saja, silahkan tonton sendiri utk detilnya): kami tidak akan meminta bantuan apapun, termasuk izin masuk (visa) karena selama Israel masih melakukan kejahatan kemanusiaan kami tidak akan mengakui Israel.

Reporter: apa tujuan Viva Palestina?

Galloway menjawab : tujuan utama tentu untuk menghantarkan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Gaza yang telah mengalami blokade selama dua tahun lebih; tapi tujuan yang lebih penting lagi, untuk memberitahukan kepada dunia bahwa ada pemblokadean terhadap Gaza.

That’s the point.

Baca terus →

Januari 7, 2010

Mengapa Kita -apapun agamanya-Harus Dukung Palestina?

(jawaban ini diberikan oleh Ahmadinejad dalam salah satu pidatonya; dikutip dari buku Ahmadinejad on Palestine)

Karena…

1. Kekejaman Rezim Zionis telah mencorengkan arang di wajah orang-orang beriman, apapun agamanya. Rezim ini melakukan pembunuhan kontinyu, perusakan rumah-rumah dan ladang pertanian, merusak tampat-tempat suci, masjid, dan gereja, menyerang kawasan-kawasan permukiman dan non-permukiman secara kontinyu, serta melakukan teror-teror yang sudah direncanakan dan (bahkan) diumumkan terlebih dahulu. (Perilaku rezim ini) tidak hanya menginjak-injak kehormatan bangsa Palestina tetapi juga kehormatan semua kaum muslimin dan kaum pencinta kebebasan di dunia. Manusia yang beriman dan berhati nurani, apapun agamanya, sudah sepntasnya merasa terhina bila melihat saudaranya-sesama umat manusia-diinjak-injak dan diperlakukan dengan sedemikian hina.

2….

Baca terus →