Arsip 2007 ~ Sekarang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 218 pengikut lainnya.

PKS, Kita, dan Perkembangan Terbaru di Syria

Dina Y. Sulaeman*

Silang sengkarut informasi terkait kasus korupsi PKS membuat saya menyimpulkan satu hal: kita umumnya memang hanya mau mendengar apa yang ingin kita dengar; bukan mendengar apa yang memang benar. Saya seorang facebooker. Teman facebook saya yang berjumlah 5000 orang, berasal dari berbagai kalangan. Dan ini memberikan keuntungan bagi saya sebagai penulis. Di newsfeed saya terpampang ribuan postingan dari sudut pandang yang sangat beragam. Untuk kasus PKS, para pendukung PKS sejak kemarin  memposting link-link berjudul “AF minta maaf kepada PKS” atau “mengapa televisi menghentikan tayangan live setelah AF memberi kesaksian yang menunjukkan ketidakbersalahan LHI”. Sebaliknya, mereka yang kontra, akan memberikan link berita yang tidak disebut-sebut oleh para simpatisan PKS, misalnya rekaman pembicaraan LHI dan AF soal perempuan dan uang. Padahal, rekaman itu diputar dalam sidang yang sama, di hari yang sama. Seorang facebooker bahkan menulis ulang pernyataan-pernyataan elit PKS yang tadinya mengaku tidak kenal AF, akhirnya di persidangan terbukti mereka semua pernah berhubungan dengan AF.

Saya tidak akan fokus pada kasus AF-LHI ini. Yang ingin saya soroti, lagi-lagi, soal bagaimana kita menyikapi informasi. Sepertinya, kita tidak lagi menghiraukan frasa bijak ‘perhatikan apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan’. Betul, kredibilitas sumber memang berpengaruh pada kualitas informasi. Tetapi, ketika sama-sama tidak kredibel, tentu dibutuhkan kecerdasan dan akal. Sungguh tidak logis bila mengatakan Tempo atau Kompas tidak kredibel (karena dianggap terbukti berkali-kali melakukan disinformasi dalam berbagai kasus), tapi di saat yang sama, justru percaya 100%  pada informasi ala twitternya TrioMacan atau twitternya entah siapa.

Dan inilah yang terjadi untuk kasus Syria yang saya cermati selama dua tahun terakhir. Saya telah menerima SMS dari seorang aktivis, sebut saja inisial A. A percaya pada analisis saya soal Syria dan mengirim SMS kepada temannya B, sesama aktivis, untuk mendiskusikan hal itu. B menjawab dengan marah: Saudara dibunuh kok ga marah? Foto keliru aja diributin. Bashar al Kalb [kalb=anjing] dibantu anjing pudel syiah bersama temannya yahudi dan orang musyrik dan kafir membantai saudara saya di suriah adalah FAKTA.

(more…)

Mengenang Al Nakba

Nakba Day, atau Al Yaum Al Nakba, atau Hari Malapetaka adalah hari peringatan didirikannya Israel dari sudut pandang bangsa Palestina. Proklamasi pendirian Israel tanggal 14 Mei 1948 bagi orang-orang Zionis merupakan perwujudan dari ‘cita-cita bersejarah kaum Yahudi’. Namun bagi bangsa Palestina, hari itu adalah hari malapetaka, yang menjadi tonggak dari pengusiran ratusan ribu orang Palestina. Pengusiran itu terus berlanjut hingga hari ini, 65 tahun kemudian. Kini diperkirakan lima juta orang Palestina hidup terusir, tersebar ke berbagai wilayah; atau jadi pengungsi namun masih di wilayah Palestina. Banyak di antara mereka masih memegang kunci dan sertifikat rumah-rumah mereka yang kini sudah dihancurkan, atau ditempati orang Israel.

536271_220531904715801_1283003541_n

Kronologi Al Nakba

Kronologi tragedi Al Nakba sangatlah panjang dan luas dimensinya, namun dalam buku ini penulis membatasi penulisan kronologi  pada gelombang kedatangan imigran Yahudi Zionis, pengusiran bangsa Palestina dari tanah air mereka, serta upaya bangsa Palestina sendiri sejak awal dalam memperjuangkan kemerdekaan. (Bahkan, menariknya, upaya awal perjuangan bangsa Palestina adalah melalui jalur politik; hal ini membuktikan bahwa bangsa Palestina pada saat itu relatif sudah maju dari sisi politik. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa ada penduduk  asli di kawasan itu dan mereka menolak bila tanah mereka direbut begitu saja oleh orang-orang Zionis. Artinya, klaim Zionis bahwa Palestina adalah ‘tanah tak bertuan yang diperuntukkan bagi bangsa tak bertanah’ adalah salah.)

(more…)

Keseksian Iran

Menjelang Pilpres Iran beberapa pekan lagi, tiba-tiba di FB muncul link soal Iran, yang merujuk ke sebuah artikel di Kompasiana berjudul provokatif Sedang Berada di Negara Islam, Tapi Pak Dahlan Iskan Tidak Bisa Jumatan??

Artikel itu mengutip beberapa bagian dari catatan perjalanan Dahlan Iskan ke Iran. Ada 3 poin yang dikutip si Kompasianer: soal sholat Jumat (ceritanya, saat pak DI tiba di Bandara Internasional Imam Khomeini, waktu sholat Jumat sudah tiba. Pak DI pingin Jumatan, tapi tidak ada masjid di bandara yang menyelenggarakan sholat Jumat, karena di Teheran, Jumatan cuma diselenggarakan di Universitas Tehran, sekitar 2 jam dari bandara), soal hijab perempuan Iran (ada yang rambutnya kliatan), dan soal adanya Coca Cola di Iran. Tiga cerita itu dikutip dalam konteks menyindir: kok di negara Islam begitu ya..??

Mungkin berkat link di FB itu pula, hanya dalam sehari (padahal itu artikel lama, 12 September 2012), pembacanya langsung melonjak jadi 6000-an (kemarin saat saya kasih komen di artikel itu, masih 4000-an). Iran sepertinya memang negara seksi, banyak dipuji, banyak dicaci, tapi berita soal Iran terus dicari.

Menanggapi artikel itu, saya memberikan tanggapan berikut:

Salam. Saya pernah tinggal di Iran 8 th (1999-2007), bekerja sebagai jurnalis di IRIB. Perkara sholat Jumat, di Iran memang sholat Jumat dianggap sebagai upaya konsolidasi politik. Jadi, di satu kota, sholat Jumat akan dipusatkan di satu tempat. Artinya, masjid tak mungkin menampung. Di Teheran, shaf sholat Jumat panjangnya berkilo-kilo meter, pusatnya di sebuah halaman luas Universitas Teheran, lalu meluber ke jalanan di sekelilingnya. Khutbah yang disampaikan pun isinya selain masalah akhlak, juga masalah politik terkait isu-isu aktual. [Di Teheran, warga Sunni bisa Jumatan di Pakistan School atau orang Indonesia bisa Jumatan di embassy]

Terkait baju, perempuan di Iran apapun agama dan bangsanya (termasuk turis asing yang Iran), wajib berjilbab. Namun, model jilbab yang dipakai akan sesuai dengan kesalehan masing-masing. Ada yang berjilbab dg serius karena menyadari itu kewajiban, ada yang juga yang asal-asalan, yang penting ada kerudung nempel di kepala. Tidak seperti yang diberitakan media Barat :”ada sikap reprsif pemerintah”, yang ditulis pak Dahlan justru bukti bhw pemerintah memang tdk represif. Paling-paling secara berkala diturunkan polisi2 wanita utk menasehati perempuan di jalan2 yg jilbabnya ga bener (tdk ditangkap atau direpresi).

Soal Coca-Cola dll minuman itu, memang benar ada. Tapi saya sudah tanya ke org Iran, ada yg bilang itu merek palsu (dibikin2 saja oleh org Iran, kan org Iran tdk mengikatkan diri ke aturan WTO), ada juga yg bilang asli. Wallahu a’lam. Yang jelas, orang Iran itu umumnya sangat sadar politik: yang mereka benci dan tentang adalah politik dan elit AS yang secara politis sudah menzalimi mereka. Tapi, org AS/Barat sebagai individu tetap mrk hormati. Karena itulah saya menemukan org2 AS studi di Iran (salah seorangnya dulu tetangga saya), dan banyak turis-turis bule yg datang ke Iran.

Sekalian info deh, saya sudah menuliskan pengalaman saya itu di buku berjudul Journey to Iran.

 

Lalu, lewat inbox FB, malah ada yang menanggapi komen saya itu, nanya-nanya soal Syiah. Saya jawab,

(more…)

Seruan dari Pemakaman

Video ini rekaman pidato Mufti Syria, Syekh Ahmad Hassoun, seorang ulama Sunni, pada hari pemakaman anaknya, Sarya. Sarya adalah seorang mahasiswa Hubungan Internasional yang gugur dibunuh teroris pada usia 22 tahun, Oktober 2011. Sarya dan profesornya, Dr. Mohammad al-Omar, sedang dalam perjalanan menuju Ibla University. Dengan suara menahan tangis Syekh Hassoun menyebut-nyebut kebaikan Sarya yang rajin sholat tahajud, puasa sunnah, dan selalu bercita-cita ingin pergi berjihad ke Palestina.

Meskipun ini kejadian ini sudah berlalu hampir 2 tahun, namun karena konflik Syria masih berlanjut, dan ada beberapa poin penting dari pidato Syekh Hassoun, saya rasa penting untuk kita amati bersama. Di antara poin penting dari pidato Syekh Hassoun: apa sebenarnya sikap ulama seperti Syekh Hassoun (dan ulama lain yang berada di kubu yang sama: antiperang; namun malah dituduh  sebagai antek pemerintah),  seruannya pada para pengguna internet, dan apa solusi yang ditawarkannya dalam mengakhiri konflik ini.
Seruan untuk Pemimpin dan Ulama Arab, serta HAMAS

“Saya serukan kepada semua ibu para syuhada, semua anak dari para syuhada, semua ayah para syuhada, atas nama semua istri para syuhada, untuk berkata kepada semua orang yang membunuh:  Berhentilah kalian. Berhentilah kalian membunuhi anak-anak bangsa ini.  Kami tidak mempersiapkan pemuda-pemuda kami untuk dibantai oleh bangsa sendiri. Sesungguhnya kami persiapkan mereka untuk syahid di tanah Palestina. Dengarkanlah wahai para pemimpin Arab! Saya mempersiapkan anak saya untuk syahid di Palestina. Tapi kalian menolak. Kalian menarik duta-duta besar dari tanah kami. Padahal, Amerika, Perancis, Inggris, duta-dutanya masih tetap di tanah kami. Kalian malah tidak membiarkan duta besar kalian tetap di sini untuk
menjalin komunikasi sesama saudara (Arab). Kami menantikan kalian para duta yang mulia untuk datang ke Syria,  untuk bertemu dengan rakyat dan pemimpin, dan mendamaikan sesama manusia. Kami tidak mengharapkan kalian mengirimkan fatwa-fatwa.”

“Wahai para Ulama. Wahai orang-orang yang mulia. Para syeikh Al Azhar, wahai Syeikh Al Qordhowi,  wahai yang berdiri dan berkhutbah dan mengeluarkan fatwa untuk membunuh 1/3 rakyat Syria. Kini anakku telah kembali kepada Allah…”

“Ya Allah, darah kami akan menjadi saksi di hadapan-Mu, bagi siapa yang berfatwa untuk membunuh kami, bagi siapa yang memotivasi orang-orang untuk membunuh rakyat Syria,  bagi siapa yang mengirimkan senjata ke Syria,  bagi siapa yang mengirimkan uang  [untuk pemberontakan di] Syria …”

“Wahai saudaraku, wahai Abal Walid, wahai Khalid Masy’al! Katakan pada orang-orang Arab, siapa yang merangkulmu di Syria ? Katakan pada HAMAS, siapa yang merangkulmu di Syria ? Katakan pada rakyat Gaza siapa yang menangisi darah kalian di Syria?…”

(more…)

Ahmadinejad Diculik?

Ahmadinejad dan pasukan Sepah-e Pasdaran

Ahmadinejad dan pasukan Sepah-e Pasdaran

Sebuah berita yang terdengar aneh soal Iran dirilis Kompas, “Ahmadinejad Ditangkap Pengawal Revolusi”. Sebenarnya sekilas saja, buat yang cukup mengenal kultur politik di Iran, akan segera menangkap berita ini terlalu mengada-ada. Tapi tak apalah, iseng-iseng saya tulis sedikit, sekedar untuk membuktikan bahwa yang disebut ‘penyesatan informasi’ itu memang ada.Semoga saja kita semua bisa semakin kritis membaca berita, untuk isu apapun (bukan cuma soal Iran; ini hanya contoh kasus saja), apalagi kalau isu itu berpotensi memecah-belah kerukunan bangsa Indonesia.

Di paragraph pertama, Kompas menyebut sumbernya ‘The Guardian Express’ yang dikutip pula oleh Jerusalem Post dan Daily Beast (so, you know deh lah). Perlu diketahui, ini media berbeda dengan  The Guardian yang terkenal (dari Inggris) itu. Tapi di paragraph selanjutnya, Kompas mengaburkannya dengan menyebut ‘The Guardian’ saat mengutip informasi. Bahkan di akhir tulisan memberikan link ke The Guardian yang di Inggris. Dengan menyebut The Guardian, bobot berita memang terkesan lebih credible, karena pamor The Guardian memang beda dengan The Guardian Express dari AS itu.

Berikut ini beberapa poin berita dari Kompas dan kesalahannya (yang dalam […] dari Kompas):

[Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad ditangkap dan ditahan selama tujuh jam pada Senin (29/4/2013) lalu]. Faktanya:  Senin 29 April 2013, Ahmadinejad berada di Tabriz , sekitar 800 km dari Tehran.

(more…)

Segera Terbit: Prahara Suriah

Alhamdulillah… sebentar lagi insya Allah buku ‘Prahara Suriah’ akan terbit. Ini covernya.

603686_10201010635896833_563716365_n

Endorsments:

Layak dibaca siapa saja yang ingin mengetahui lebih jelas, dan bersikap, atas perang brutal di Suriah yang mengaduk emosi. Benarkah sesederhana konflik pemerintah Assad versus oposisi? Tirani versus demokrasi? Sunni versus Syiah? Siapa saja pemain asing yang terlibat? Tak hanya memetakan konflik Suriah lebih jelas dan rinci, Dina Sulaeman juga membongkar propaganda sesat media mainstream (baik di Barat, Dunia Arab, maupun Indonesia) dalam menyajikan “fakta” tentang Suriah.
[Farid Gaban | Jurnalis, pernah meliput Perang Bosnia]

(more…)

Perempuan Sebagai Pelopor Revolusi

Makalah berikut ini saya presentasikan dalam Seminar Nasional bertema “Indonesia, Perempuan dan Jati Diri Bangsa”. Menurut saya, cocok diupload di blog ini karena sudut pandang saya global: bagaimana kondisi perempuan secara global dan Indonesia ada di dalamnya. Nasib buruk perempuan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari situasi global umat manusia, khususnya kaum muslimin, sedunia. Visi global kaum perempuan sangat dibutuhkan dalam upaya menyelesaikan kondisi buruk kaum perempuan karena semua problem ini berjalin berkelindan.

Perempuan Sebagai Pelopor Revolusi

Dina Y. Sulaeman

Sekilas Statistik Kondisi Perempuan Di Dunia

  • Perempuan usia 15-44 tahun lebih beresiko mengalami pemerkosaan dan KDRT dibanding mengalami kanker, kecelakaan mobil, perang, atau malaria.

  • Di Australia, Kanada, dan Israel 40-70 %  dari jumlah perempuan yang tewas terbunuh adalah akibat pembunuhan oleh partner (suami/pacar) mereka.

  • Di AS, 1/3 dari jumlah perempuan yang tewas terbunuh adalah akibat pembunuhan oleh partner (suami/pacar) mereka.

  • Di Afrika Selatan, seorang perempuan dibunuh setiap 6 jam, oleh partner intim mereka.

  • Di India, 22 perempuan dibunuh setiap harinya terkait masalah mas kawin.

  • Di Guatemala, rata-rata dua perempuan dibunuh setiap harinya.

  • Jumlah perempuan yang mengalami kekerasan seksual yang dilakukan pria asing (non partner) setelah usia 15 tahun adalah kurang dari 1 % di Ethiopia dan Bangladesh, dan 10-12 % di Peru, Samoa, Tanzania.

  • Di Switzerland, 22,3% perempuan pernah mengalami kekerasan seksual yang dilakukan pria asing (non partner)  sepanjang hidup mereka.

  • Di Kanada,  54% perempuan usia 15-19 tahun mengalami kekerasan seksual saat pacaran.

  • 40 -50 % perempuan di Uni Eropa kekerasan dan pelecehan seksual di tempat kerja mereka.

  • Di AS, 83 % perempuan usia 12 -16 tahun mengalami pelecehan seksual di sekolah.

  • Di negara-negara Asia-Pasifik,  30 -40 % perempuan pekerja mengalami kekerasan seksual di tempat kerja meliputi verbal dan fisik.

  • Di banyak masyarakat,  korban pemerkosaan, perempuan yang dicurigai pernah melakukan hubungan seks sebelum pernikahan, dan perempuan yang dituduh berzina, dibunuh oleh keluarga mereka karena dianggap merusak kehormatan keluarga. Pembunuhan yang diistilahkan “honour killing” ini setiap tahunnya (di seluruh dunia) dilakukan terhadap rata-rata 5000 perempuan.

  • Diperkirakan 2,5 juta orang diselundupkan setiap tahunnya, untuk dipekerjakan di sebagai pelacuran dan budak. 80% dari angka itu adalah perempuan dan anak-anak.[1]

  • Selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70 persen di Indonesia.[2] 93,7 persen remaja Indonesia (SMP-SMA) pernah melakukan hubungan seks dan 21,2 % remaja putri pernah melakukan aborsi.[3] Kaum perempuan paling banyak mengalami kekerasan dan penganiayaan oleh orang-orang terdekatnya serta tindak perkosaan di lingkungan komunitasnya sendiri[4]

Kesimpulan umum yang bisa diambil: kondisi perempuan di dunia, baik di Barat maupun di Timur masih sangat memprihatinkan.  Jargon liberalisme versus penindasan agama tidak bisa lagi dijadikan justifikasi untuk menilai kondisi perempuan. Dengan kata lain, kondisi buruk perempuan di negara-negara muslim tidak bisa dianggap sebagai akibat dari ‘penindasan agama’ karena terbukti, di negara-negara Barat yang menganut paham ‘kebebasan perempuan’ pun kondisinya juga sangat memprihatinkan.

Karena itu, dalam makalah ini, penulis tidak akan membahas isu liberalisme. Sudah terlalu banyak bukti yang menunjukkan kegagalan konsep liberalisme dalam memuliakan perempuan.  Liberalisme bukan lagi alternatif yang layak dipilih oleh kaum muslimah. Namun,  bila berpaling kepada ajaran Islam pun, masih banyak keraguan yang muncul saat melihat realitas buruknya kondisi kaum perempuan di negara-negara muslim.

Di manakah letak persoalannya dan di mana jalan keluar?

(more…)

Ke-lebay-an Argo

Berikut ini beberapa poin yang saya sampaikan dalam diskusi film ‘Argo’ yang diadakan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Unpad.

1.      Kronologi peristiwa

  • Revolusi Islam menang/Syah Pahlevi terguling: 11 Feb 1979
  • Penyanderaan Kedubes AS di Teheran: 4 Nov 1979-20 Jan 1981 (444 hari), dilakukan oleh mahasiswa.
  • 18 Nov 1979: Imam Khomeini perintahkan mahasiswa utk bebaskan sandera wanita dan sandera berkulit hitam.
  • 28 Jan 1980: Canadian Caper operation (operasi penyelamatan 6 pegawai kedubes AS, dilakukan oleh pemerintah Kanada bersama CIA; inilah yang diceritakan dalam film Argo)
  • 24 April 1980: Operasi Eagle Claw untuk menyelamatkan para sandera (gagal; pesawat-pesawat tempur AS yang sudah sampai di gurun Tabas tiba-tiba diserang angin gurun dan bertabrakan satu sama lain; Imam Khomeini mengomentari kejadian ini sebagai ‘pertolongan Tuhan’)
  • 27 Juli 1980: Shah meninggal di Kairo
  • Sept 1980: Irak serang Iran (didorong AS-US)
  • 19 Januari 1981: Perjanjian Algiers (AS berjanji tidak lagi mengintervensi politik dan militer Iran; berjanji mencairkan aset Iran yang dibekukannya, dan berjanji menghentikan sanksi ekonomi terhadap Iran; sebaliknya, Iran berjanji membayar hutang -yang dilakukan era Shah-kepada AS). Sandera pun dibebaskan. Namun sampai kini semua janji itu tidak ditepati AS.

Situasinya begini. AS punya sejarah perilaku yang membuat sakit hati banyak orang Iran. Pada tahun 1953 AS mendalangi penggulingan Perdana Menteri Iran, Mohammad Mossadegh.  Ini bukan teori konspirasi, bahkan sudah diakui Menlu Madeleine Albright (tahun 2000) dan Obama (2009). Padahal, Mossadegh terpilih melalui pemilu demokratis. Mossadegh tidak disukai AS karena ia menasionalisasi kilang-kilang minyak Iran. Upaya penggulingan dilakukan dengan merekayasa demo di Teheran (dihadiri 8000 demonstran bayaran). Setelah tumbangnya Mossadegh, Iran dikuasai Shah Pahlevi yang sangat patuh pada AS. Bahkan, pada tanggal  13 Oktober tahun 1964, Shah mau menandatangani perjanjian Kapitulasion, yang isinya seluruh warga negara AS yang tinggal di Iran memiliki kekebalan hukum atas setiap perbuatannya. Seandainya ada warga AS yang melakukan kejahatan di Iran, maka tidak ada lembaga hukum Iran yang bisa mengadilinya, dan yang bersangkutan hanya bisa diadili di negaranya sendiri, yaitu AS. Imam Khomeini melakukan penentangan atas perjanjian ini dan kemudian dibuang ke luar negeri. Namun justru dari luar negerilah Imam Khomeini semakin mengobarkan revolusi, sampai akhirnya Shah terguling tanggal 11 Februari 1979.

Upaya penggulingan Shah dilakukan melalui demo-demo masif di seantero Iran, dan salah satu unsur yang sangat berperan dalam berbagai aksi demo itu adalah mahasiswa. Ketika Shah terguling dan kabur ke AS, mahasiwa Iran yang tergabung dalam perkumpulan ‘Mahasiswa Pengikut Garis Imam’ mencurigai Kedubes AS sebagai pihak yang berperan dalam berbagai upaya destabilisasi politik (antara lain dengan membiayai dan mendukung kelompok-kelompok antirevolusi). Setelah Kedubes AS diduduki, mereka memang menemukan sangat banyak dokumen yang membuktikan bahwa CIA melakukan aksi mata-mata dan upaya subversif di Iran.

2.      Ke-lebay-an Argo

Dalam film ini, agen CIA bernama Tony Mendez digambarkan sebagai jagoan yang menyelamatkan enam karyawan Kedubes AS yang pada peristiwa penyanderaan Kedubes berhasil kabur dan bersembunyi di Dubes Kanada. Film ini buat saya sangat membosankan, kecuali di bagian akhir, detik-detik ketika ketujuh warga AS yang menyamar jadi warga Kanada itu berusaha naik pesawat Swiss Air. Mereka sempat dikejar-kejar petugas keamanan Iran, namun, akhirnya pesawat itu terbang dan meninggalkan Iran.

Masalahnya, kejadian itu ternyata fiksi. Menurut salah seorang karyawan kedubes AS, Lee Schatz, situasi saat mereka meninggalkan bandara baik-baik saja. Bisa lihat di video di bawah ini (termasuk juga kesaksian mantan mahasiswa Iran pelaku pendudukan Kedubes AS)

Bahkan, Ken Taylor (yang saat kejadian itu bertugas sebagai Dubes Kanada dan terlibat langsung dalam peristiwa ini) memberikan kritikan berikut ini:

(more…)

Islam: Terorisme atau Cinta?

Upaya mengaitkan pengeboman di Boston dengan kata ‘jihad’ semakin terlihat. Meski mengakui bahwa penyelidikan masih berlangsung, Foreign Policy 22 April merilis artikel berjudul ‘Boston’s Jihadist Past’ (Masa Lalu Pejuang Jihad Boston). Inilah proses stigmatisasi dan stereotyping media Barat terhadap kata ‘jihad’. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah esensi Islam adalah cinta? Lalu mengapa kini Islam justru seolah identik dengan kekerasan? Konflik yang paling dominan terjadi di Timur Tengah, yang justru didominasi kaum muslim. Apa yang sebenarnya tengah terjadi?

Dalam diskusi bertajuk Islam: Risalah Cinta Semesta yang digelar Masjid Salman dan Penerbit Mizan, serta didukung oleh Studia Humanika, 19 April 2013, dua pembicara, Yasraf Amir Piliang (YAP) dan Haidar Bagir (HB), berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan ini melalui perspektif masing-masing.

YAP menguraikan bahwa ada tiga bagian dalam  masalah ini: akar kekerasan, realitas kekerasan, dan citra kekerasan.

1. Realitas kekerasan, yaitu: berbagai aksi terorisme yang dilakukan muslim (misalnya, Al Qaida), atau kekerasan yang dilakukan kelompok-kelompok Islam terhadap umat agama lain, atau terhadap mazhab/aliran yang dianggap sesat.

2. Citra kekerasan. Citra adalah sesuatu yang artifisial, dikonstruksi, dan bahkan disimulasi dengan tujuan untuk menciptakan citra tertentu. Hal ini terkait dengan politik media global. Mereka melakukan ideologisasi Islam; mereka menyebarkan opini bahwa Islam adalah agama yang berideologi kekerasan. Media global adalah ruang perang ‘simbol’ antarkepentingan untuk menguasai opini publik. Artinya, opini publik dibangun melalui perang informasi di ruang publik. Media memiliki dua pilihan: de-re (menyampaikan sesuai realitas) atau de-dicto (menyampaikan sesuai kepentingan sekelompok tertentu). Media Barat telah melakukan de-dicto, membangun opini publik tentang Islam sebagai agama kekerasan.

(more…)

Dan Iran pun Cabut Subsidi BBM-Transportasi

Dina Y. Sulaeman

Pemerintah mulai mewacanakan lagi pengurangan subsidi BBM.  Seperti biasa, tulisan seorang pengamat ekonomi soal ‘kebohongan subsidi BBM’ kembali disebarluaskan di media sosial (FB, blog, dll).  Argumen soal ‘kebohongan subsidi’ memang membuat nyaman masyarakat yang memang umumnya anti pencabutan subsidi. Namun, menurut sebagian orang, hitung-hitungan yang dilakukan sang pengamat ekonomi ini sangat banyak menyederhanakan, terlalu banyak berasumsi, dan banyak variabel yang  tidak dilibatkan, terutama yang dari segi keteknikan. Saya tidak akan membahas detil soal hitungan ini karena bukan bidang saya. Yang jelas, di internet kita bisa menemukan cukup banyak tulisan yang dengan detil menjelaskan dimana letak kesalahan kalkulasi sang pengamat ekonomi.

Ada argumen yang banyak diulang-ulang oleh pihak-pihak yang antipencabutan subsidi, yang saya tahu pasti kesalahannya, yaitu argumen yang melibatkan Iran. Iran disebut-sebut sebagai negara yang menjual minyak dengan harga sangat rendah kepada rakyatnya, yaitu Rp 1287/liter. Ini tidak benar. Harga bensin di Iran saat ini minimalnya 4000 IRR/liter dan ada pembatasan pembelian; akan saya jelaskan nanti. (IRR= Iranian Riyal; per 21 April 2013, 4000 IRR= Rp3160)[1]

Yang mungkin akan mengejutkan banyak orang, Iran pun MENCABUT subsidi BBM-nya. Pernah di suatu masa, harga bensin di Iran memang sangat murah, sekitar Rp1500/liter. Tapi, itu bukan harga asli, melainkan disubsidi 80%.

Sejak akhir tahun 2006, pembelian bensin bersubsidi dibatasi (setiap mobil cuma boleh beli bensin 120 liter/bulan/mobil), dan akhirnya mulai akhir 2010 subsidi pun dikurangi. Menariknya, semua itu terjadi tanpa gejolak (tentu saja, kalau protes-protes minor, selalu ada dalam masyarakat Iran yang memang karakternya outspoken –blak-blakan-itu). Yang lebih menarik, Wamen ESDM kita dulu, Dr. Widjajono Partowidagdo (alm) pernah berkunjung ke Iran untuk mempelajari apa yang dilakukan Iran dalam efisiensi energi. Tapi, sayang sebelum beliau bisa mengaplikasikan apapun , beliau meninggal dunia (yang menurut pengamatan sebagian orang, agak ‘misterius’).

(more…)

"journey to iran"
"dokter cilik"
obama
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
"pelangi di persia"
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 218 pengikut lainnya.