Arsip 2007 ~ Sekarang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.162 pengikut lainnya.

Teori Konspirasi dan Mafia Migas

mafiaOleh: Dina Y. Sulaeman

Saya, terus terang saja, tidak (belum) mampu menulis analisis politik mikro Indonesia; saya hanya bisa menganalisis secara makro saja, tidak sampai ke personal aktornya. Masalah utama ada di data. Sejak kuliah di S3 HI, saya jadi kenal dengan banyak orang yang membuat saya agak takjub. Mereka ini pejabat di instansinya masing-masing. Saya mendapat banyak cerita off the record tentang politik dalam negeri. Apakah semua omongan itu benar? Saya tidak mampu mengeceknya. Jadi, saya tidak menjadikan semua omongan di kelas atau di warung tegal dekat kampus kami itu sebagai bahan tulisan.

Berbeda situasinya dengan saat saya menulis tentang politik AS. Dalam buku saya Obama Revealed (saya tulis saat seluruh dunia termasuk Indonesia tergila-gila pada Obama-sampai-sampai buku itu terhalang diterbitkan oleh penerbit besar karena bosnya rupanya pro Obama), saya mencoba membuktikan bahwa kabinet Obama sangat kental kaitannya dengan Zionis. Data-data yang saya pakai valid, bukan rumor. Misal, menteri X, ternyata komisaris di perusahaan Y (dan itu data resmi perusahaan tersebut, yang bisa diakses publik, bukan info bisik-bisik). Dan ternyata saham perusahaan Y dimiliki Z. Lalu, bisa dicek juga, siapa Z, ternyata orang Yahudi. Lalu, ditelusuri, apa saja selama ini yang dikatakan Z, apakah pro Israel atau tidak (karena belum tentu setiap Yahudi pro-Israel). Dari situlah saya ambil kesimpulan. Di AS, semua data mudah sekali diakses, data itu valid digunakan untuk penelitian (cara penelitian dan penulisan yang sama juga pernah digunakan oleh Prof Hubungan Internasional favorit saya, John J. Mearsheimer dalam makalahnya tentang lobby Israel dalam Polugri AS). Dan semua sumber data saya itu, saya tuliskan lengkap di catatan kaki.

[Cara yang sama juga saya gunakan dalam menulis buku Prahara Suriah, karena aktor utama konflik adalah AS, data dan buktinya juga dengan mudah diakses, sehingga saya bisa memberikan argumen bahwa AS-Israel-lah yang ada di belakang para "mujahidin" –tentu saja para "mujahidin" menyangkalnya, dan bak katak dalam tempurung tetap merasa sedang berjuang menegakkan Khilafah Islam].

Sejak tadi malam, saya membaca beberapa media online sudah memberitakan dua menteri Kabinet Kerja Jokowi sebagai mafia migas (Rini Soemarno dan Sudirman Said). Dan sumbernya adalah pernyataan seorang analis politik, sebut saja Mr. XYZ. Tapi saya tidak menemukan sumber data yang dipakai Mr XYZ. Okelah dia mungkin sumbernya dari omongan-omongan orang dalam (seperti saya juga tahu beberapa hal di balik layar, dari obrolan di warung tegal bersama teman kuliah saya). Tapi, masalahnya, layakkah kita percaya begitu saja?

(lebih…)

Beda-Sama antara Demokrasi Terpimpin dan Orba (Prof Abdul Hadi)

Tulisan berikut ini menarik sekali dan membuka wawasan saya, sehingga saya merasa perlu menyimpannya di sini. Disalin dari facebook Prof Abdul Hadi WM.

Perbedaan dan Persamaan antara Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru

Berikut ini saya sampaikan cuplikan dari makalah saya beberapa tahun yang lalu mengenai perbedaan dan persamaan Orde Baru dan rezim sebelumnya, yaitu rezim Demokrasi Terpimpin yang didukung oleh PKI, elemen-elemen TNI dan kelompok-kelompok Islamo-phobia. Lantas apa persamaannya? Persamaannya ialah kedua rezim ini menjalankan pemerintahan sentralistik, otoriter, dan hegemonik. Karena itu keduanya cenderung tidak domokratis. Kecenderungan tidak demokratis ini dimulai dengan jelas ketika presiden RI yang pertama mengumumkan Dektrit Presiden pada bulan Juli 1959 dengan dalih kembali ke UUD 45 dan sekaligus membubarkan parlemen hasil pemilihan umum 1955. Tidak lama kemudian eks wakil presiden Muhammad Hatta menulis risalah berjudul Demokrasi Kita. Dikatakan antara lain dalam buku itu bahwa demokrasi bisa dimatikan untuk sementara waktu dan nanti akan bangkit kembali.

Tetapi apa persamaannya? Baik Demokrasi Terpimpin maupun Orde Baru sama-sama berhasil menanamkan ingatan kolektif yang buruk ke dalam kesadaran kita, yaitu ingatan bahwa cara berpolitik yang baik ialah dengan memaksakan pendapat, menggempur pikiran orang melalui penguasaan makna, menabur wacana phobia ini dan itu, dan berusaha menjawab persoalan tanpa menyentuh substansi permasalahan yang sebenarnya. Marilah saya ambil contoh penggunaan logo ’goyong royong’ pada masa Demokrasi Terpimpin dan asas kekeluargaan pada masa Orde baru yang ternyata menyuburkan KKN.

Penggunaan logo ’gotong royong’ untuk menegakkan etos persatuan pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965) dilakukan dengan alasan bahwa gotong royong merupakan intipati Pancasila setelah diperas sedemikian rupa. Sebagai nilai budaya yang penting, sebenarnya gotong royong sangat bagus sejauh diberi makna yang luas dan dihayati dengan semangat persatuan benar-benar. Pada tahun 1930an Muhammad Hatta menggunakan istilah kolektivisme, yang sebenarnya mengandung makna yang sama dengan gotong royong. Lebih jauh istilah ini dapat dipadankan dengan solidaritas, suatu prinsip yang penting dalam mendirikan negara di samping prinsip subsidiaritas. Tetapi sementara para petinggi negara dan pemimpin menyerukan pentingnya gotong royong, di samping slogan dan semboyan lain, orang yang sama bersemangat menanamkan benih perpecahan dan memupuk dendam kesumat berkepanjangan. Misalnya melalui nyanyian ”Nasakom bersatu, singkirkan kepala batu…”. Artinya persatuan dan gotong royong diperlukan untuk menyingkirkan golongan-golongan yang berseberangan dengan pandangan penguasa atau rezim yang berkuasa.

Konsekwensi dari itu ialah dibubarkannya beberapa partai politik yang enggan memberikan dukungan kepada proyek mercu suar rezim Demokrasi Terpimpin yang menggunakan logo-logo seperti Nasakom, Manipol Usdek dan lain-lain. Beberapa media cetak juga diberangus dan dilarang, termasuk tiga penerbitan Indonesia Raya, Abadi dan Pedoman, yang pada masa Orde Baru juga dibreidel karena sikap kritisnya terhadap pemerintah. Anehnya apabila Muhammad Hatta mengatakan bahwa itu menandakan matinya demokrasi, H. Benda justru berpendapat bahwa dengan diberlakukannya Demokrasi Terpimpin (setelah Dekrit Presiden 1959) bangsa Indonesia menemukan kembali kepribadiannya yang asli.

(lebih…)

Harrison Ford dan Hutan Indonesia

Kesampingkan dulu soal ‘siapa’ Menhut yang ada di video ini (yang kebetulan berasal dari kubu KMP, dan akhir-akhir ini -betapa menyedihkan- sepertinya mengkritisi apapun jadi dianggap bernuansa KIH vs KMP). Kesampingkan dulu soal gaya Harrison Ford yang (mungkin) mengganggu rasa nasionalisme. Saya mengajak Anda untuk fokus pada isu kerusakan hutan di Indonesia. Di video ini terlihat jelas bahwa bangsa ini selama bertahun-tahun telah menyia-nyiakan kekayaan alam yang diberikan Tuhan; hutan dibabat secara masif untuk diganti dengan kebun sawit, yang ternyata sangat merugikan rakyat Indonesia (dan hanya menguntungkan segelintir pengusaha kaya dan kroni-kroni mereka). Video ini menunjukkan bukti dari kejahatan ekonomi neolib.

Ironis, kisah pilu masyarakat yang tanahnya dirampas oleh perkebunan sawit (berbekal izin pemerintah) seolah tak terdengar, karena media nasional kita tak gencar memberitakannya. Misalnya, pernahkah Anda mendengar nama Eva Bande? Perempuan ini dipenjara karena memperjuangkan tanahnya yang dirampas oleh KLS, perusahaan sawit di Banggai, Sulteng. KLS merampas lahan petani di Desa Piondo, Singkoyo, Moilong, Tou, Sindang Sari, Bukit Jaya, dan beberapa desa lain. Secara keseluruhan tanah-tanah petani digusur KLS seluas 7.000 hektar. Sejak 1996, KLS membuka perkebunan sawit skala besar di Toili Kabupaten Banggai. KLS mendapat izin pengelolaan hutan tanaman industri (HTI) 13.000 hektar dengan dana pinjaman pemerintah untuk penanaman sengon dan akasia Rp11 miliar. Hingga kini dana tidak dikembalikan dan lahan HTI malah jadi kebun sawit.

Atau, apakah Anda tahu, apa yang terjadi pada masyarakat Buol yang tanahnya dirampas oleh perusahaan milik Hartati Murdaya? Dulu mereka bertani. Setelah melalui berbagai negosiasi, mereka diperkerjakan di kebun sawit milik Hartati, dengan kondisi yang amat buruk. Kisah selengkapnya dibaca di sini. Hartati kemudian ditangkap KPK karena terbukti menyuap Bupati Buol. Dia hanya dihukum 22 bulan dan denda 150 juta. Tapi bagaimana dengan nasib ribuan petani yang kini hidup miskin, bagaimana masa depan anak-anak mereka?

Ironis, mengapa harus orang asing yang mengingatkan orang Indonesia tentang kejahatan ini? Saya mengenal salah satu LSM (dari beberapa LSM) yang aktif membantu rakyat Buol untuk menuntut hak mereka; dan LSM (yang saya kenal) itu memang dibiayai asing. Tapi, apakah kemudian karena ‘asing’, lalu kasus Buol (dan kasus-kasus kejahatan lingkungan lainnya) diabaikan dengan kata-kata “itu upaya asing untuk mengacau Indonesia!” ? Apakah karena kesal pada Harrison Ford yang Amerika, kita menutup mata pada realitas? Setidaknya, setelah dilabrak oleh Ford, ada sedikit perubahan yang terjadi (tiga perusahaan sawit yang merampas kawasan hutan lindung di Tessa Nilo, mengembalikan lahan kepada pemerintah). Mengapa setelah ‘dikejar-kejar’ oleh LSM asing, pemerintah baru bergerak? Kemana rakyat Indonesia, yang seharusnya lebih peduli terhadap tanah dan hutannya?

Saya pikir, menonton video ini penting, untuk melihat apa yang sudah ‘mereka’ (para pengusaha -entah lokal atau asing- dan pemerintah) lakukan pada hutan milik kita semua. Saya juga meminta anak saya menontonnya, supaya ia tahu, apa yang sedang terjadi di  negeri ini.

(Ada teks terjemahan bahasa Indonesia)

Resolusi PBB Tentang ISIS

John McCain dan para pemberontak Suriah

John McCain dan para pemberontak Suriah

Pada tanggal 24 September 2014, Obama memimpin sidang Dewan Keamanan PBB; ini sebuah momen yang langka. Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat (15-0) mengeluarkan resolusi yang isinya memerintahkan kepada negara-negara anggota PBB agar melarang warga mereka melakukan perjalanan untuk bergabung dengan ISIS.

Dalam sidang itu, Obama mengatakan, tidak ada satu negara pun dapat melawan ancaman ISIS/IS, yang dalam beberapa bulan terakhir telah ‘mencemooh’ batas kedaulatan untuk memindahkan milisi, sumber daya dan uang, serta untuk memulai serangan. Sebagian besar pemimpin dunia pada pertemuan tersebut mendukung pernyataan Obama, terutama negara- negara Arab yang bergabung dengan koalisi militer AS melawan ISIS (dan mereka sejak sekitar tanggal 20-an September sudah mulai menyerang Suriah dengan alasan menggempur ISIS).

Menurut Chossudovsky, yang tidak disebut dalam pemberitaan media massa, adalah bahwa para kepala negara-negara yang mendukung kampanye AS melawan IS, sebagaimana disarankan oleh agen intelejen mereka, sebenarnya sangat menyadari bahwa intelijen AS adalah arsitek –diam-diam- dari IS, dan menjadi bagian dari jaringan sangat luas entitas teroris ini. Negara-negara anggota DK PBB, sebagiannya dipaksa untuk mendukung Resolusi yang disponsori AS; sebagian lainnya terlibat dalam agenda teror AS.

Jangan dilupakan, Saudi Arabia, Qatar,  telah membiayai dan melatih teroris ISIS (sebelum kemudian berganti nama jadi IS) atas nama AS.  Israel memberikan perlindungan kepada ISIS di dataran tinggi Golan, NATO bekerja sama dengan Turki [Turki adalah anggota NATO] sejak Maret 2011 telah terlibat dalam mengkoordinasikan proses rekrutmen jihadis yang dikirim ke Suriah. Lebih jauh lagi, brigade-brigade di Suriah dan Irak diintegrasikan oleh para penasehat militer dan pasukan khusus Barat.

mcCain sedang rapat dengan pemberontak Suriah

mcCain sedang rapat dengan pemberontak Suriah

Semua ini diketahui dan terdokumentasikan, hampir tidak ada kepala negara yang memiliki keberanian untuk menunjukkan absurditas resolusi DK PBB yang disetujui penuh pada September 24; selain Presiden Argentina, Cristina Fernandez yang mengkritik AS yang telah mempersenjatai pemberontak oposisi Suriah dan mentraining mereka di kamp-kamp di Arab Saudi. Dia juga menyebut kasus Afganistan dimana AS-lah yang mempersenjatai mujahidin Afghanistan melawan penjajah Soviet, dan kasus Irak, dimana AS memberikan bantuan militer kepada pemerintah Saddam Hussein pada 1980-an (dalam memerangi Iran).

“Absurditas” pun bukan istilah yang tepat karena yang kita saksikan sesungguhnya adalah sebuah kejahatan yang dilakukan di bawah naungan PBB.

Meskipun diplomasi internasional memang sering didasarkan pada ‘tipuan’, namun AS sudah terang-terangan melakukan kebohongan politik luar negeri. Apa yang kita saksikan saat ini adalah penghancuran total dari bangunan praktik diplomasi. Dalam kasus ISIS, ada kebenaran yang disembunyikan [the “Forbidden Truth”] yaitu bahwa IS adalah instrumen Washington; dan aset intelijen AS.

Resolusi DK PBB menyeru negara-negara anggota untuk “suppress the recruiting, organizing, transporting, equipping” and financing of foreign terrorist fighters.”

Secara khusus, resolusi itu menunjuk kepada ISIS, Al Nusrah, dll: the particular and urgent need to implement this resolution with respect to those foreign terrorist fighters who are associated with ISIL [Islamic State of Iraq and the Levant], ANF [Al-Nusrah Front] and other cells, affiliates, splinter groups or derivatives of Al-Qaida…”

Bukankah nama-nama kelompok yang disebut itu adalah ‘pejuang oposisi’ yang selama ini dilatih dan direkrut oleh sekutu militer Barat [Qatar, Jordan, Turki, Arab Saudi], dalam upaya untuk menggulingkan pemerintahan Bashar Al Assad?

Yang dilakukan Obama saat ini adalah tahap lanjutan dari proyek George W. Bush tahun 2001, saat dia mengancam dunia “kalau kalian tidak bersama kami, maka kalian adalah musuh kami.” Kini AS dalam Sidang PBB mengajak dunia internasional untuk bergabung dalam “Perang Melawan ISIS”, padahal AS sendiri yang terlibat dalam menciptakan sebuah jaringan teror itu. ISIS telah dimanfaatkan untuk memuluskan keinginan AS untuk menggulingkan pemerintah berdaulat di Suriah dan Irak. Ironisnya, PBB pun terlibat dalam usaha ini.
referensi:

-http://www.globalresearch.ca/the-terrorists-r-us-the-islamic-state-big-lie-and-the-criminalization-of-the-united-nations/5404146

- http://www.usnews.com/news/articles/2014/09/24/obama-led-un-security-council-unanimously-passes-anti-isis-resolution

 

Bandung dan Bung Karno

(Dimuat di harian Pikiran Rakyat, 30 September 2014)

sumber foto: roberni.com

sumber foto: roberni.com

Pengantar: Saya beruntung diundang dalam acara international gala dinner untuk memperingati HUT ke-204 kota Bandung, di Gedung Merdeka. Meski saya cuma duduk dan ngobrol-ngobrol saja sama beberapa orang, sambil menikmati rendang ala chef (yang rasa dagingnya jauh lebih lembut dibanding rendang di warung Padang :D), tapi aura Gedung Merdeka, seperti biasa -setiap kali saya masuk ke sana- selalu memberi inspirasi. Setiap masuk ruangan itu, saya teringat pada betapa heroiknya Konperensi Asia Afrika 1955. Indonesia sebagai penggagas dan tuang rumah konperensi ini, sempat dihina-hina oleh media Barat (dikatai “beggars who never will learn“), tapi para negarawan Indonesia zaman itu berhasil membuktikan bahwa Indonesia mampu melaksanakan konperensi besar yang membawa cita-cita besar itu dengan baik. DR. Roeslan Abdulgani dalam bukunya “Bandung Connection” menceritakan dengan detil pelaksanaan konperensi itu. Ini bagian yang mengharukan:

[penjaga Gedung Merdeka] “Pak, lapor! Gedung Merdeka bocor! Di bagian ruang sidang pleno. Payah Pak! Basah dimana-mana. Air menggenang di lantai!”

mkaa2

suasana gala dinner, di kejauhan, meja Surya Paloh dan Walikota Bandung Ridwan Kamil

Tanpa menyelesaikan makan siang, saya [Roeslan Abdulgani] meloncat ke dalam mobil… Memang keadaan di dalam Gedung merdeka mengerikan… Tempat duduk delegasi di bagian barat dan tempat balkan bawah untuk para menteri dan pembesar-pembesar lain basah kuyup. …Kita yang di dalam gedung, termasuk Ir Srigati Santoso, saya, dan staf saya beserta belasan petugas-petugas lainnya terus memobilisasi lap-lap pel, dan goni-goni dan ember-ember air yang ada. Sambil melepaskan celana, jas, kemeja, kaos kaki, dan sepatu, dan hanya mengenakan celana dan kaos dalam saja, kita semua mengepel lantai, mengeringkan kursi-kursi, dan meja-meja dengan goni-gini dan lap-lap yang dapat menyerap air. Pintu gedung kirta tutup rapat sampai 14.45, mencegah jangan sampai ada delegasi yang kepagian datang.  Akhirnya dalam waktu 45 menit itu semua kelihatan bersih dan kering kembali. Kita semua dapat bernafas lega kembali.

Dalam pembukaan Konperensi itu, Bung Karno mengingatkan

“…janganlah melihat kolonialisme dalam bentuk klasiknya saja, seperti yang kita di Indonesia dan saudara-saudara kita berbagai-bagai wilayah Asia dan Afrika, mengenalnya. Kolonialisme mempunyai juga baju modern, dalam bentuk penguasaan ekonomi, penguasaan intelektuil, penguasaan materiil yang nyata, dilakukan oleh sekumpulan kecil orang-orang asing yang tinggal di tengah-tengah rakyat.”

Sayangnya, peringatan Bung Karno ini masih jadi ‘kenyataan’ di Indonesia. Kita hingga hari ini masih terjajah secara ekonomi dan intelektual. Berikut ini tulisan saya, yang terinspirasi oleh aura Gedung Merdeka.

(lebih…)

Timur Tengah dan Kejahatan Industri Pertanian

peta the fertile crescent

peta the fertile crescent

Dina Y. Sulaeman

Siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas konflik di Timur Tengah? Ada banyak versi jawaban yang bisa diberikan. Namun, ada hal yang menarik yang baru saya temukan setelah mengikuti kuliah umum Dr. Vandana Shiva di UI pada 18 Agustus 2014, yang disponsori  Yayasan Kehati dan Mantasa. Tulisan ini bukan ringkasan isi kuliah tersebut (silahkan menonton videonya di Youtube), melainkan refleksi saya.

Industri pertanian global adalah (salah satu) pihak yang bertanggung jawab atas kemiskinan umat manusia. Kata FAO, hari ini, produksi pangan dunia sebenarnya cukup untuk memberi makan semua orang. Namun karena yang menghasilkan pangan adalah industri, pangan itu dijual di pasar bebas dengan harga tinggi, sehingga banyak orang miskin tak mampu membelinya. Orang yang semula tidak miskin pun jatuh miskin karena mahalnya pangan. Tahun 2013, ada 800 juta orang di seluruh dunia yang kekurangan pangan, termasuk di Indonesia.

Kekurangan bahan pangan berdampak panjang, yaitu penurunan kualitas pertumbuhan fisik dan intelektual anak-anak. Di masa depan, anak-anak yang lemah ini akan menjadi generasi yang lemah dan tidak memiliki daya saing, sehingga tidak mampu mempertahankan negaranya dari agresi ekonomi maupun militer yang dilancarkan negara lain. Siapa yang akan diuntungkan dalam kondisi ini? Jelas negara-negara kaya dan kuat, dan mereka pula yang menguasai industri pertanian global saat ini.

Dalam artikelnya di The Observer, Rami Zurayk menulis bahwa di Mesir, roti dikenal dengan nama aish, yang bermakna “life”. Wilayah bulan sabit yang subur, yang membentang dari sungai Nil hingga sungai Tigris dan Eufrat (diistilahkan Fertile Crescent) adalah tanah yang pertama kali menghasilkan gandum dan kacang-kacangan, dalam sejarah dunia. Namun, kini justru wilayah itulah yang menjadi pengimpor pangan terbesar di dunia. Kecuali Suriah, negara-negara di wilayah itu hanya menghasilkan gandum sangat sedikit, sehingga harus mengimpor.

Penyebabnya adalah karena rezim-rezim di wilayah itu telah dijajah oleh IMF dan Bank Dunia. Mereka memberikan hutang, namun harus dibayar dengan industrialisasi dan liberalisasi pertanian, pengurangan subsidi pertanian. Petani didorong (atau dipaksa) untuk menanam buah-buahan dan sayuran untuk ekspor, dan melepaskan produksi gandum yang sangat penting bagi kecukupan pangan lokal. Yang mendapatkan keuntungan besar dari situasi ini adalah segelintir pengusaha industri pertanian yang berkolusi dengan rezim; dan rezim-rezim di Mesir, Tunisia, dll, didukung oleh AS. Jangan lupakan bahwa ada tiga perusahaan yang mengontrol 90% gandum dunia, Cargill, ADM,dan Bunge yang ketiganya berbasis di AS. Ketika rakyat di Fertile Crescent (kecuali Suriah) tidak mampu lagi memproduksi sendiri gandumnya, sudah tentu para pedagang gandum transional yang mengeruk untung besar.

Tulisan ini dimuat di http://www.liputanislam.com. Selengkapnya, klik Timur Tengah dan Kejahatan Industri Pertanian

ISIS dan Sejarah Panjang Ideologi Kebencian

John McCain dan para pemberontak Suriah

John McCain dan para pemberontak Suriah

ulisan berikut ini pernah dimuat di Harian Pikiran Rakyat, 26 Agustus 2014; yang dimuat ada sedikit editan, ini versi asli. Pesannya satu: ISIS memang dibentuk oleh tangan makar AS (dan kini AS pula yang berlagak seperti pahlawan, ingin menggempur ISIS). Tapi siapa yang benar-benar berlumuran darah kaum muslim di Irak dan Suriah secara langsung? Siapa yang bergabung dengan ISIS? Siapa yang melakukan berbagai aksi brutal yang mengerikan itu? Orang-orang Islam, bukan? Mengapa mereka melakukannya? Dalam tulisan ini saya memberikan jawabannya.

ISIS dan Sejarah Panjang Ideologi Kebencian

Dina Y. Sulaeman

Kesadisan dan kebrutalan kelompok teror ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) membuat dunia terperangah. Menyusul maraknya Deklarasi Baiat kepada ISIS yang dilakukan oleh berbagai ormas di Indonesia, serta munculnya video seruan jihad dari anggota ISIS asal Indonesia yang kini berada di Suriah/Irak, Pemerintah Indonesia pun akhirnya mengambil langkah tegas.

“Pemerintah tidak mengizinkan paham ISIS berkembang di Indonesia. Setiap upaya pengembangbiakan paham ISIS harus dicegah, Indonesia tidak boleh jadi tempat persemaian,” Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko polhukam) Djoko Suyanto (4/8/2014).

Dan, berbagai ormas dan partai Islam pun segera mengeluarkan pernyataan kecaman terhadap ISIS di Indonesia. Tentu saja ini adalah langkah positif. Namun, ada satu hal yang terlupakan: ISIS tidak lahir dari ruang hampa. ISIS tidak muncul tiba-tiba saja. Ada sejarah panjang ideologis yang harus diperhatikan dalam mencermati fenomena ISIS di Indonesia.

(lebih…)

Pemikiran Imam Khomeini dalam Hubungan Internasional

Sebentar lagi Indonesia akan punya Menlu baru. Kita semua tentunya mengharapkan Menlu yang ‘berani’ dan memimpin korps diplomatik yang gigih memperjuangkan kepentingan nasional. Biasanya, diplomat-diplomat negara maju dan kuat akan memaksakan keinginannya, dengan berbalut bahasa diplomatik yang ‘santun’. Sementara diplomat negara-negara berkembang atau miskin seringkali hanya bisa manut. Yang terlihat tampil beda adalah diplomat Iran. Meskipun dari negara berkembang, diplomat Iran selalu terlihat penuh percaya diri saat bernegosiasi. Meskipun menyuarakan hal-hal yang ‘puritan’, namun tetap bisa satu level dalam berbagai negosiasi internasional bersama para diplomat Barat. Dari mana sumber sikap diplomasi seperti ini? Di antaranya, adalah doktrin HI yang dibangun oleh Pemimpin Revolusi Iran, Imam Khomeini. Berikut saya posting makalah singkat saya yang pernah saya sampaikan di sebuah forum diskusi beberapa waktu yll.

Pemikiran Imam Khomeini dalam Hubungan Internasional

Dina Y. Sulaeman*

Harga berbagai komoditi di Indonesia, terutama pangan dan BBM sangat rentan dengan perubahan yang terjadi di luar negeri. Misalnya, harga tahu-tempe, makanan ‘termurah’ rakyat Indonesia, bisa melambung tinggi gara-gara kekeringan melanda AS. Sebabnya tak lain karena 2/3 kebutuhan kedelai kita diimpor dari AS. Untuk membangun kedaulatan pangan pun, pemerintah tak berdaya karena terbelenggu oleh perjanjian internasional, Agreement of Agriculture yang memerintahkan negara-negara mengurangi subsidi untuk petani dan subsidi ekspor, serta memperkecil bea impor.

Inilah kenyataan di Indonesia, dan juga yang dialami hampir semua negara berkembang. Bila dunia dilihat sebagai lingkaran besar, akan terlihat negara-negara kuat dan kapitalis berada di pusat lingkaran, sementara negara-negara berkembang dan miskin berada di pinggiran. Negara pusat akan mempengaruhi ekonomi dan politik dunia, sementara negara-negara berkembang dan miskin terpaksa hanya mengikuti permainan.

Kita tidak bisa lagi melihat persoalan domestik sebagai sesuatu yang terpisah dari persoalan global. Konflik Sampang tidak bisa dilihat semata-mata konflik warga desa di Madura, tapi sangat kental dengan kepentingan negara-negara asing, terutama negara-negara berhaluan Salafi-Wahabi. Saat melihat konflik Suriah di televisi, kita tidak bisa lagi mengatakan ‘itu urusan mereka’, karena terbukti, angin panas konflik Suriah menerpa masyarakat Indonesia dengan sangat keras. Berbagai konflik bernuansa sektarian, ujaran-ujaran kebencian (hate-speech) atas nama mazhab yang semakin masif di tengah publik Indonesia adalah angin panas dari Suriah.

Nah gejala-gejala seperti inilah yang -antara lain- dipelajari oleh penstudi Hubungan Internasional (HI). Pemikiran HI di dunia ini sangat diwarnai oleh pemikiran Barat. Diplomat-diplomat di seluruh dunia, biasanya cara pandangnya sama. Diplomat negara maju dan kuat akan petantang-petenteng, memaksakan keinginannya, berbalut bahasa diplomatik. Sementara diplomat negara-negara berkembang atau miskin seringkali hanya bisa manut. Yang terlihat tampil beda adalah diplomat Iran. Meskipun dari negara berkembang, diplomat Iran selalu terlihat penuh percaya diri saat bernegosiasi. Meskipun menyuarakan hal-hal yang ‘puritan’, namun tetap bisa satu level dalam berbagai negosiasi internasional bersama para diplomat Barat.

Dari sisi ini menarik sekali dibahas, bagaimana dulu Imam Khomeini membangun paradigma HI yang akhirnya mewarnai cara-cara diplomasi pemerintah Iran.

(lebih…)

Amnesia Ketiga: Mereka Yang Mendadak Anti-Hoax

Menggelikan sekali melihat para pendukung ‘jihad’ Suriah dengan ‘suka cita’ menyebarluaskan berita klarifikasi tentang video palsu penyembelihan jurnalis AS, James Foley. Seolah dengan cara itu mereka menyelamatkan muka yang telah tercoreng akibat perilaku brutal ISIS. Seolah dengan cara itu mereka membalas kecaman dunia terhadap jihad salah kaprah yang mereka dukung, dengan berkata, “Tuh kan, ini video hoax! Makanya tabayun, cek and ricek! Para jihadis di Suriah itu sedang memperjuangkan khilafah dan tegaknya syariat, makanya difitnah oleh musuh-musuh Islam.”

Saya belum pernah berkomentar tentang video penyembelihan Foley. Pertama, karena saya tidak sanggup lagi melihat video brutal. Sudah cukup saya jatuh sakit selama dua bulan selama penulisan buku Prahara Suriah, akibat rasa shock saat harus memverifikasi foto-foto dan video-video sadis. Padahal itupun saya banyak mendapatkan bantuan dari blogger dan facebooker dari berbagai penjuru dunia yang sama-sama berjuang untuk membongkar kepalsuan jihad Suriah.

Mereka, para pendukung jihad itu (bersama media mainstream sekelas CNN, BBC, dll), menyatakan bahwa foto-foto dan video-video itu bukti-bukti kekejaman Assad (dan atas alasan itulah Assad harus digulingkan, kata mereka). Dan ternyata itu semua foto dan video hoax. Di antara buktinya, bisa dibaca di buku saya Prahara Suriah, atau bisa download Kumpulan Pemalsuan Data Konflik Suriah yang dibuat para blogger (bila link tidak bisa dibuka, google saja dengan kata kunci ‘kumpulan pemalsuan data konflik suriah’, saya lihat banyak yang upload di web masing-masing).

Sekedar contoh saja, ini salah satu foto yang disebarluaskan para simpatisan jihad itu (sekalian minta donasi):

foto-palsu-iraq3Dan ternyata itu foto korban bom mobil di Irak (dan harap ingat, kelompok yang gemar melakukan pembunuhan dengan bom mobil di Irak, Suriah, Lebanon adalah Al Qaida dan afiliasinya)

foto-asli-iraq3

Atau, tonton di video pendek yang saya buat ini:

 

Kedua, sayapun sejak awal memang sengaja menanti. Video palsu soal Suriah (dan aneh bin ajaibnya, selama ini peminat terbesarnya justru para pendukung jihad itu, mereka menyebarluaskan dengan semangat ‘dakwah’) sudah terlalu banyak dibuat. Cepat atau lambat akan muncul klarifikasi video tersebut. Atau, bila video itu benar, juga akan muncul konfirmasi dari pihak berwenang, misalnya PBB.

Dan benar saja, muncul beberapa artikel analisis tentang kehoaxan video itu. Satu yang saya tonton penuh (karena tidak ada adegan berdarah) adalah video ini (video ini hanya membahas apakah yang disembelih benar Foley atau bukan; dan tidak membahas apakah kejadian penyembelihan asli atau hoax):

(lebih…)

Shiva, Pangan, dan Perdamaian Dunia

DINA-SULAIMAN-OKE

Tulisan saya terbaru di www.nefosnews,com

Mengapa petani kita harus hidup miskin? Sekitar 57 persen dari 68 persen penduduk miskin di pedesaan adalah petani. Padahal, mereka memproduksi sesuatu yang dibutuhkan oleh semua orang: pangan. Mengapa setelah 69 tahun Indonesia merdeka, kita semakin tak mampu mencukupi kebutuhan pangan secara swadaya? Pada tahun 2013 saja, kita telah mengeluarkan dana Rp 175 triliun untuk impor produk pertanian. Ironisnya, bahan pangan yang kita impor adalah bahan pangan yang seharusnya bisa kita tanam sendiri: sayuran, beras, jagung, kedelai, singkong, kelapa, lada, gula, cabai, bawang merah, bawang putih, dan lain-lain.

Dalam kurun 10 tahun (2003-2013), ada 5 juta petani Indonesia yang memilih berhenti bertani. Mengapa?

Seorang perempuan India telah menjelaskan jawaban atas pertanyaan di atas, sejak bertahun-tahun yang lalu. Perempuan itu bernama Vandana Shiva, seorang doktor di bidang fisika kuantum yang kemudian lebih memilih untuk berjuang di bidang pertanian.

Pada tanggal 18 Agustus lalu, Shiva datang ke Indonesia untuk memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia. Dan kembali, seolah tak pernah lelah, dia menjelaskan lagi jawaban atas pertanyaan di atas.

Selengkapnya, silahkan klik tulisan di website :  Shiva, Pangan, dan Perdamaian Dunia

New Release 2013

prahara suriah

New Release (2013)

"dokter cilik"
obama
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
"pelangi di persia"
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.162 pengikut lainnya.