November 9, 2009

Perang Irak, Obama, Realis/Idealis

Tulisan berikut ini agak spesifik HI, mungkin agak sulit dipahami oleh pembaca yg tidak berbasis HI, terutama terkait istilah ‘idealis’ dan ‘realis’. Singkatnya, kaum idealis berpandangan bahwa dunia bisa lebih damai bila negara-negara direformasi (didemokratisasi) karena dalam pandangan mereka, negara yang demokratis akan cenderung tidak memilih untuk berperang. Sebaliknya, kaum realis menilai bahwa negara-negara berada dalam situasi yang anarkhi, sifat alami negara-negara adalah membela kepentingan nasional mereka; apapun boleh dilakukan demi kepentingan nasional, kalau perlu: perang.

Awalnya, saya pikir, karena realis disebut-sebut sebagai mazhab terkuat dalam HI, berkembang di AS, dan pastinya mempengaruhi pandangan para politisi AS; maka perang Irak merupakan produk mazhab realis. Alur logikanya: Irak adalah demi memperkuat posisi AS di Timteng (bila AS berhasil membuktikan kejayaannya di Irak, negara-negara Timteng akan takut dan mau tunduk kepada AS), penguasaan sumber minyak Irak.

Ternyata..pikiran saya salah sama sekali. Justru orang-orang realis menolak Perang Irak. Argumen lengkapnya baca tulisan Mearsheimer di sini (atau baca tulisan saya di sini)

Ternyata, realis juga bisa dibaca: biarkan negara dalam bentuk apa adanya; tak perlu direformasi; yang harus dipikirkan oleh negara A adalah kepentingan dirinya sendiri dan negara A harus mampu ‘bermain’ di tengah berbagai bentuk negara itu; kalaupun negara A demokratis, bila demi kepentingannya, silahkan saja bekerjasama dengan negara komunis. Tak perlu idealis-idealisan, gitu lah intinya. Kalau pinjam kata-katanya Paul Wolfowitz : In the words of one leading realist, the principal purpose of U.S. foreign policy should be “to manage relations between states” rather than “alter the nature of states.”

Nah, yang aneh, Obama ternyata disebut-sebut sebagai tokoh berhaluan realis (dan karena itu, sekarang saya paham mengapa bbrp dosen saya sedemikian optimistis pada Obama, yaitu karena mereka kebanyakan berhaluan realis-meski sebagian ngakunya sih, tidak bermazhab). Terpilihnya Obama –kata Brent Scowcroft– adalah a rejection of the younger Bush “in favor of realism.”

Tapi, benarkah Obama seorang realis? Jawabannya saya temukan dari tulisan Paul Wolfowitz, yang dengan sengit membela diri dari kecaman kaum realis akibat peran besarnya dalam Perang Irak. PW membela diri dengan mengatakan bhw justru Perang Irak adalah demi kepentingan nasional, “the purpose of the war was to remove a threat to national and international security”.

Nah, menurut PW, Obama masih belum jelas, realis atau idealis karena masih mendua. PW menyebut faktanya:

-Idealis:  Di Moscow, Obama berbicara dengan nada idealis  “Governments which serve their own people survive and thrive; governments which serve only their own power do not.”

Di Cairo pun, dia idealis, “Government of the people and by the people sets a single standard for all who would hold power.”

Di Ghana, ke-idealis-an Obama semakin jelas: “No person wants to live in a society where the rule of law gives way to the rule of brutality and bribery. That is not democracy; that is tyranny, and now is the time for it to end.”

Obama mendukung demokrasi di Pakistan, dan bahkan melanjutkan Perang Irak, demi demokrasi.

-Realis:  Obama tidak banyak membantu kaum reformis di Iran [artinya, dalam pandangan idealis, Obama seharusnya habis2an membantu proses 'demokratisasi' di Iran. Tentu saja, dalam pandangan Iran, pemerintah AS ada di balik berbagai kerusuhan di Iran]

Obama berbaik-baik dengan Russia, sampai2 membuat para pemuka Eropa Timur (termasuk mantan presiden Cheko Vaclav Havel dan mantan President Polandia Lech Walesa menulis surat terbuka pada Obama, yg antara lain menyatakan “our region suffered when the United States succumbed to ‘realism.’”

Dengan China, Obama juga bersikap ‘realis’, karena tidak mau terlalu campur tangan urusan dalam negeri China dan lebih fokus ke bisnis. Kata Obama, “it won’t let human rights interfere with bilateral cooperation.”

Anyway, saya sudah bisa meraba bahwa keduanya, baik realis ataupun idealis sesungguhnya adalah ideologi yang rapuh dan going no where… Kalau istilah mantiq-nya tanaqud (bertentangan secara fundamental di dalam tubuhnya sendiri). Cuma saya masih belum mampu mengungkapkan apa dan bagaimananya. Mudah2an suatu saat saya bisa menulis buku tentang ini.

Btw, masih dari si pencinta perang PW, dia menyatakan bahwa “Neoconservatism arose in the 1970s as a critique of realism”. PW juga mengklaim dirinya “democratik realis”. Terkait Obama, PW punya istilah sendiri, yaitu “pragmatis’  Waduh, tambah kacau deh.

Oktober 19, 2009

Jundullah, Teror di Iran, dan Catatan untuk Eramuslim

Beberapa kali saya membaca artikel di Eramuslim yang menyebutkan bahwa kaum Sunni ditindas di Iran, mesjid-mesjid Sunni dibakar, dan bahkan lebih bombastis lagi, ‘ulama’ Sunni dibunuhi. Sudah pasti, Eramuslim tidak melakukan investigasi sendiri ke Iran, melainkan mengutip dari situs-situs lain yang juga wallahua’lam kredibilitasnya.

Tentu saja, melihat rendahnya kualitas pemberitaan (yang kental sekali nuansa kebencian dan sentimen), saya merasa tak perlu repot-repot menghiraukan artikel seperti itu (dan juga tak mau merendahkan diri untuk me-link artikel2 yang saya maksud itu di sini; silahkan cari sendiri bila berminat). Anyway ini bukan blog Syiah, tapi konsern di bidang kajian timur tengah (dan hubungan internasional). Itulah sebabnya saya suka mendelete komen-komen yang masuk yang menyeret-nyeret perdebatan relijius. Kalau mau, silahkan ribut masalah Sunni-Syiah di blog orang lain saja.

Tapi, kejadian terakhir di Iran, pengeboman oleh Jundullah, membuat saya mau tak mau mengaitkan tuduhan Eramuslim itu dengan fakta Jundullah. Perlu dicatat, saya menulis artikel ini dalam posisi netral, nor Sunni nor Shii; bahkan sumber utama dalam tulisan ini adalah investigasi jurnalis terkemuka AS, Seymour Hersh. So, ketika menyebut ‘Sunni’ dalam mendeskripsikan Jundullah yang kebetulan memang ‘Sunni’ itu hanya pengungkapan fakta semata, bukan dalam rangka menjelek-jelekkan mazhab. Pengindentifikasian Sunni atau Syiah atas aktor-aktor yang terlibat dalam kasus ini tak bisa dihindarkan.

Baca terus →

Oktober 13, 2009

Perang dan Hadiah Nobel (Howard Zinn)

Saya kaget saat mendengar bahwa Barack Obama mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian. Sebuah shock, sesungguhnya, untuk berpikir bahwa seorang presiden yang sedang memimpin dua perang diberi Nobel Perdamaian. Namun kemudian saya teringat bahwa Woodrow Wilson, Theodore Roosevelt, dan Henry Kissinger juga menerima Nobel Perdamaian. Komite (Panitia) Nobel Perdamaian terkenal atas penilaian mereka yang dangkal, didominasi oleh retorika dan gerakan kosong, serta mengabaikan pelanggaran terang-terangan terhadap perdamaian dunia.

Ya, Wilson mendapat Nobel karena ‘jasa’-nya membentuk Liga Bangsa-Bangsa, sebuah lembaga yang tidak efektif yang tidak melakukan apapun untuk mencegah perang. Tetapi, Wilson telah membombardir pantai Mexico, mengirim tentara ke Haiti, dan Republik Dominika. Wilson juga membawa AS ke kancah pembantaian di Eropa dalam PD I; perang yang bisa dipastikan sebagai perang yang paling bodoh dan mematikan.

Benar, Theodore Roosevelt telah memediasi perdamaian antara Jepang dan Russia. Tapi dia adalah pencinta perang, yang berpartisipasi dalam penaklukan Cuba oleh AS, berpura-pura membebaskannya dari Spanyol sambil memperkuat rantai AS di pulau kecil itu. Dan sebagai presiden, dia telah memimpin perang berdarah untuk menaklukkan Filipina, bahkan memberi selamat kepada seorang jenderal AS yang telah membantai 600 penduduk desa di Filipina. Panitia Nobel tak memberikan hadiah Nobel pada Mark Twain, yang mengkritik Roosevelt dan perang, tidak juga kepada William James, pemimpin liga anti-imperialist.
Oh ya, komite Nobel melihat bahwa adalah layak untuk memberi hadiah perdamaian kepada Henry Kissinger, karena dia telah menandatangani perjanjian damai final yang mengakhiri perang Vietnam; perang yang salah satu arsiteknya adalah dia sendiri. Kissinger, jelas-jelas mendukung perang ekspansionis  Nixon itu, dengan mengebom desa-desa petani di Vietnam, Laos dan Kamboja. Kissinger, yang sangat cocok dengan gelar ‘penjahat perang’ itu, telah diberi hadiah perdamaian!
Seseorang seharusnya diberi hadiah Nobel Perdamaian bukan atas dasar janji yang mereka buat, sebagaimana Obama –seorang pembuat janji yang fasih—tetapi atas dasar pencapaian riil/nyata dalam mengakhiri perang. Obama telah melanjutkan aksi militer yang mematikan dan tidak manusiawi di Iraq, Afghanistan, dan Pakistan. Komite Nobel Perdamaian seharusnya pensiun dan menyerahkan dana raksasa [yang mereka kelola] kepada beberapa organisasi perdamaian internasional  yang tidak terpesona oleh ‘bintang’ dan retorika, dan memiliki pemahaman atas sejarah.

(translated from an article by Howard Zinn, Profesor Emeritus of Political Science, by Dina Y Sulaeman)

Oktober 11, 2009

Benarkah Ahmadinejad Yahudi?

Sebenarnya sih.. males menanggapi isu yang udah lama beredar di internet ini: Ahmadinejad itu Yahudi. Tapi setelah koran mapan macam Kompas dan Telegraph memuat isu murahan ini dalam koran mereka (dan dikutip pula oleh koran2 level dua dan berbagai situs).. ya terpaksa juga deh, ikut nimbrung.

Pertama: kalau emang Ahmadinejad Yahudi, emangnya kenapa? Bukankah ini malah menjadi bukti bahwa Iran adalah negara yang demokratis dan pluralistis (dalam kerangka ‘toleransi’ ya, bukan dalam arti ‘membenarkan semua agama’). Buktinya, orang Yahudi pun bisa mendapat tempat terhormat di Iran. Screening capres di Iran sangat ketat, jadi seandainya Ahmadinejad memang Yahudi, pasti sudah diketahui oleh KPU Iran (dan para ulamanya). Dan ternyata dia lolos screening tuh, artinya, seandainya dia Yahudi, lagi-lagi, ini bukti bahwa Iran itu demokratis dan pluralistis. Itu..kalau MEMANG benar Ahmadinejad Yahudi.

Kedua: dalil yang dipakai Telegraph (dan dikutip pula oleh Kompas) adalah “karena dulu nama family Ahmadinejad adalah Saburjian”.  Saburjian, kata koran itu, adalah nama keluarga yang umum dipakai oleh orang Yahudi. Nah, klaim ini perlu dikritisi lagi. Apa benar orang Yahudi di Iran pakai nama Saburjian? Saya tak menemukan data valid tentang hal ini. Bahkan, kata Saburjian ini tak saya temui di kamus Moin (kamus Farsi-Farsi yang tebalnya setengah meter). Padahal, kata Telegraph (dan Kompas), Saburjian ini konon artinya “penenun Sabour”. Sabour sendiri katanya nama selendang khas Yahudi. Aneh juga kok kamus sekaliber Moin tak memuat kata itu. Atau mungkin ada yang punya kamus itu dan bisa memberi tahu saya, kata itu ada di halaman berapa?

Setelah konsultasi dengan teman di Iran (thanks to bro Alireza and Qanaatgar), saya dapat info begini. Ada kemungkinan bahwa Saburjian itu adalah nama pasvand. Istilah pasvand itu berbeda dengan family-name. Jadi, sebelum orang Iran mengenal tradisi family-name, mereka biasa memakai nama belakang yang merujuk pada pekerjaannya atau tempat tinggalnya. Misalnya, ada seorang kolega saya dulu di IRIB, nama belakangnya Jourab Duz. Itu ternyata nama pasvand yang berhubungan pekerjaan nenek moyangnya, penjahit kaos kaki. Sekarang, dia mengganti namanya dengan family-name, Khedmat-jou (=pencari pengabdian). Karena menurut istrinya, nama itu harus diganti karena bisa jadi bahan cemoohan teman-teman anaknya.

Ada juga teman saya dulu, nama belakangnya “Ranjkesh”, artinya, “Orang yang menderita”. Setelah menikah, istrinya meminta dia mengganti nama. Sekarang family name-nya “Raoufy” (dari kata Ar-Rauf, salah satu nama Allah, artinya ‘lembut’). Ada lagi sopir kantor IRIB nama belakangnya “Bi-khiyal” (=orang yang gak bisa mikir bener; ngawur; ngaco). Aneh ya? Tapi dia gak ganti nama. Mungkin karena istrinya gak minta, :D . Ada juga teman lain, namanya Yaser. Dia punya nama belakang “Shuri” (=ceria). Dia baru-baru ini ganti nama dengan nama yang lebih mentereng, “Mousavi-nia” (Mousavi mengacu pada nama family terkemuka di Iran, keluarga Mousavi). Teman saya Muhammad Qanaatgar nama aslinya Muhammad Lemodahi; Lemodahi adalah nama tempat yg sekarang tak ada lagi (musnah/punah). Dia lalu ganti nama dengan Qanaatgar (=orang yang qona’ah).

Jadi, perihal Om Mahmud ganti nama (dan itupun, ayahnya yg mengganti, pada saat usianya 4 thn) dari Saburjian menjadi nama yang lebih mentereng “Ahmadinejad”(= ras Ahmadi, Ahmadi=Muhammad), sebenarnya bukan hal aneh di Iran dan memang diakomodasi oleh hukum. Mereka tinggal datang ke Sabt-e Ahwal, yaitu instansi khusus yang mengurusi dokumen2 pribadi (surat nikah, akte lahir, dll).

Terkadang, ada nama-nama yang sudah jadi ‘milik’ keluarga besar tertentu. Misalnya nama Mousavi, itu sudah jadi hak milik keluarga Ayatollah Mousavi Hamedani. Makanya teman kami Yaser saat mau pakai family-name Mousavi, dia musti minta izin pada keluarga Ayatullah Mousavi kalau mau pake nama itu. Daripada ruwet, dia tambah aja dengan “nia”, jadilah namanya skrg Yaser Mousavi-nia.

Nah, balik lagi ke namanya Om Mahmud. Nama Saburjian kemungkinan adalah nama pasvand, bisa jadi nama suatu tempat di Iran yang kini tidak dikenali lagi, atau bisa juga nama pekerjaan (tapi ini juga blm jelas, seperti saya tulis tadi, kata Sabour tdk saya temukan di kamus Moin). Melihat ke kebiasaan orang2 Iran untuk ganti nama pasvand dengan family-name yang lebih mentereng, sangat biasa kalau babenya Om Mahmud juga ganti nama. Yang pasti, sejauh ini tak ada bukti bahwa Saburjian benar2 nama klan Yahudi.

Begitu…

Oktober 5, 2009

Kalau di Iran, Ini Namanya Pelanggaran HAM

Kalau polisi Iran menghadang aksi para demonstran dengan mengacungkan senjata, memukul, dan menembakkan gas air mata, mereka akan disebut pelanggar HAM danmedia-media di seluruh dunia ramai-ramai menyebutkan “terjadi pelanggaran HAM di Iran”. Bagaimana bil hal serupa terjadi di AS? Ah, biasa saja tuh!

KTT G-20 di Pittsburgh bulan September 2009 memakan biaya sekitar 20 jt dollar, kantor-kantor diliburkan, sekolah-sekolah ditutup, banyak ruas jalanan diblokir sehingga mengganggu akses warga, 12.000 polisi dan tentara didatangkan ke Pittsburgh dengan menggunakan pakaian militer sangat lengkap, seolah akan berperang. Dan di KTT itu, Obama masih tak lupa untuk kembali menuduh Iran sedang mengembangkan senjata nuklir.

Foto2 ini diambil saat demonstran AS memprotes G20 dan kapitalisme, gambar lengkap bisa dilihat di sini (sumber: guardian.co.uk)

Polisi siap siaga dengan pentungan dan pakaian perang

Pittsburgh-G20-Protest-02

Polisi AS Siap Menembak

Pittsburgh-G20-Protest-03

Para demonstran sudah siap dengan pelindung mata, karena tahu, pasti akan ditembaki gas air mata

Pittsburgh-G20-Protest-05

Ternyata, benar, gas air mata ditembakkan

Pittsburgh-G20-Protest-06

Kesakitan

Pittsburgh-G20-Protest-04

Sebagian demonstran juga ditangkap, salah satu adegan penangkapan bisa dilihat di sini:

Oktober 4, 2009

Wishful Thinking from Tehran

Ini sebenarnya artikel lama, tapi baru saya temukan hari ini di fesbuk. Artikel di bawah ini aslinya berjudul Wishful Thinking from Tehran, secara sangat bagus menganalisis situasi politik dalam negeri Iran, ditulis oleh Abbas Barzegar, kandidat PhD dlm bidang ‘religious studies’ di Emory University, Atlanta, Georgia. Republika menyadur tulisan itu ke dalam bhs Indonesia:

Saya berada di Iran, tepatnya seminggu, guna mengikuti pesta demokrasi pada Pemilu Iran 2009. Semenjak saya tiba di sana, sedikit orang di negeri ini yang ragu bahwa calon incumbent Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang provokatif ini bakal memenangkan Pemilu.

Sopir taksi yang menyertai saya mengingatkan bahwa Si Presiden telah mengunjungi semua provinsi di Irak dua kali dalam empat tahun terakhir ini. “Iran itu bukan (hanya) Teheran,” katanya.

Ketika saya menanyai para pendukung (Mir Hossein) Mousavi, apakah tokoh usungan mereka itu benar-benar akan meraih dukungan tidak hanya di ibukota (Teheran), mereka mengutarakan jawaban-jawaban optimistis gaya Obama seperti, “Ya, kita bisa,” “Saya kira begitu,” “Jika anda memilih.”
Baca terus →

September 26, 2009

Analisis Kebijakan Luar Negeri AS terhadap Israel pada Era Obama

Mulai skrg saya insya Allah akan mengupload paper2 yang saya tulis, yang kira2 bermanfaat untuk dipelajari, khususnya buat mhsw jurusan HI. Paper berikut ini menggunakan teori dari William Coplin dalam menganalisis kebijakan luar negeri AS trhdp Israel pada era Obama.

——–

Analisis Kebijakan Luar Negeri AS terhadap Israel pada Era Obama (Januari-Agustus 2009)

© Dina Y. Sulaeman

Tugas Mata Kuliah Matrikulasi ”Analisis Kebijakan Luar Negeri”

Program Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

BKU Hubungan Internasional

Pendahuluan
Gideon Levy, kolumnis terkemuka Israel yang anti-pendudukan, menulis artikel di Haaretz dengan judul “Obama’s America is Not Delivering the Good.” Dalam artikel itu, Levy menilai bahwa janji-janji perubahan yang dibawa Obama ternyata tidak dipenuhi. Levy menulis,

“Pidato Cairo telah menyalakan [semangat] separoh dunia. Menjadikan permukiman sebagai prioritas utama membangkitkan harapan bahwa pada akhirnya, seorang negarawan yang duduk di Gedung Putih memahami bahwa akar dari semua kejahatan adalah pendudukan dan akar dari kejahatan pendudukan adalah permukiman. Dari Kairo, terlihat kemungkinan untuk melucuti permukiman itu. Langit adalah batasnya. Lalu, pemerintahan [Obama] jatuh pada jebakan yang dibuat Israel dan tidak memperlihatkan tanda-tanda perbaikan.”

Selanjutnya, Levy mendeskripsikan situasi dalam negeri Israel. Menurut Levy, para pejabat Israel dengan cepat mengendus sinyal bahwa tidak ada yang perlu ditakuti dari Obama. Tak heran bila Menteri Pertahanan Ehud Barak segera mendeklarasikan bahwa ‘there is no Palestinian partner’. Wakil Perdana Menteri Eli Yishai dan Ketua Parlemen Reuven Rivlin juga memastikan bahwa Israel tidak akan menghentikan pembangunan apapun. Para pemukim (settler) Israel terus memindahkan rumah mereka ke Jerusalem Timur. “Israel sekali lagi diizinkan untuk melakukan apapun yang mereka sukai,” tulis Levy.

Konflik Permukiman
Ada berbagai perspektif yang bisa dipakai dalam membahas konflik Israel-Palestina. Ada yang membahasnya dengan merunut ke sejarah pra-1948 (pra-deklarasi berdirinya Israel). Kejadian tentang era pra-1948 bisa dibaca di buku karya penulis Israel, DR. Ilan Pappe, “The Ethnic Cleansing of Palestine”. Pappe menyebutkan bahwa Israel didirikan dengan mengusir dan membunuhi penduduk asli di tanah Palestina. Dengan sudut pandang seperti ini, keberadaan Israel sebagai sebuah negara adalah illegal.

Baca terus →

September 16, 2009

911: Kebohongan Amerika

Fakta yang ditulis dalam artikel di bawah ini, sebenarnya sudah lama ditulis oleh jurnalis independen, Christopher Bollyn. Anda bisa cek laporan lengkapnya di: http://www.bollyn.com/911, plus foto2 dan berbagai link lain sebagai pendukung datanya.

Lalu, ada satu lagi laporan investigasi 911, ditulis sejak bbrp tahun yll oleh orang anonymous, isinya sangat mengejutkan: http://www.apfn.org/apfN/WTC_STF.htm

Tapi, setahu saya, inilah pertama kalinya ada artikel mengupas kebohongan AS ttg WTC yg ditulis dalam bhs Indonesia dan dimuat di media terkemuka. Salut buat Pak Hasan Syukur dan Republika!

===

Skenario Runtuhnya WTC

Oleh : Hasan Syukur
(Wartawan)

Setiap 11 September, rakyat Amerika mengenang tragedi runtuhnya menara kembar World Trade Centre (WTC) di New York, AS, yang memakan banyak korban. Gedung kembar itu hancur luluh bagaikan gedung tua yang diledakkan oleh bahan peledak dari dalam setelah ditabrak dua pesawat terbang komersial. Hari itu, jaringan televisi AS meliput secara live dari lokasi peristiwa. Tayangan itu terbidik dari beberapa sudut dan terlihat langsung oleh jutaan pemirsa televisi. Pers AS lalu seperti menyanyikan lagu koor, mengutip keterangan resmi: ‘Menara itu runtuh diserang oleh teroris Muslim yang digerakkan oleh Usamah Bin Laden dari Afghanistan’. Tapi, tak semua pers mengikuti koor itu.

Theiry Meyssan, seorang jurnalis asal Prancis mencoba melihat peristiwa itu secara objektif. ”Saya akan menjungkirbalikkan seluruh versi resmi serangan 11 September 2001,” katanya. Hasil investigative reporting -nya itu kemudian ia tuangkan ke dalam sebuah buku berjudul 9/11 The Big Lie America , diterjemahkan penerbit Jalan Lurus dengan judul, Bohong Besar Amerika , Bandung, 2003.

Inilah cerita versi Thierry Meyssan: Kedua pesawat itu diidentifikasikan oleh FBI sebagai Boeing 767. Pesawat itu menghantam tepat pada sasarannya. Peristiwa ini sangat musykil. Dipandang dari ketinggian yang jauh, sebuah kota akan tampak seperti selembar peta dan semua acuan visual yang lazim menjadi hilang. Untuk menabrak menara, pesawat perlu dipraposisikan pada ketinggian sangat rendah. ‘Karya’ itu merupakan prestasi luar biasa bahkan pilot yang sangat berpengalaman pun sulit melakukannya. Konon yang melakukannya adalah pilot yang baru lulus latihan.

Namun, ada satu cara lain untuk mendapat hasil demikian, yakni…..

Baca terus →

Juli 17, 2009

Direct selling: Pelangi di Persia

Karena ada beberapa teman mengeluhkan pengen baca buku Pelangi di Persia, tapi udah dicari di toko gak ada (maklumlah ini terbitnya udah lama, Des 2007), saya terpikir untuk melakukan direct selling aja.

Buat temen2 yang minat beli, silahkan kirim email ke dina_rana@yahoo.com.

Iran-full-4

Harga toko: 63.000

Discount  + ongkos kirim: 50.000

(jadi Rp. 50.000 udah termasuk ongkos kirim, wilayah Indonesia aja ya.. kalau luar negeri ga sanggup..)

Ini review dari beberapa pembaca buku ini:

(dikutip dari goodreads: http://www.goodreads.com/book/show/5208325.Pelangi_di_Persia_Menyusuri_Eksotisme_Iran)

Rini wrote:

Membaca buku ini pada saat-saat mencontreng yang sedang heboh memang tepat. Bagian paling menarik adalah penelusuran politik dan permainan media, khususnya Amerika, tentang pidato Ahmadinejad yang diterjemahkan ‘begitu saja’ sehingga ia menimbulkan kesan bahwa Islam itu anti damai dan Iran adalah ’sarang’ teroris. Padahal setelah ditelisik naskah aslinya, beliau tidak menghendaki Israel dihapuskan atau dibasmi, melainkan rezim Zionisnya saja yang kejam tak terkira.

Buku ini bukan sekadar panduan travelling atau memoar biasa, tetapi sangat mengayakan wawasan. Tidak benar, Iran tertutup. Tidak benar, Iran menindas wanita. Buktinya ada yang belajar kungfu dan menjadi polisi. Tidak benar pula seni diberangus total.

Sungguh, aku tidak menyesal membeli dan membaca buku ini. Kalaupun ada kekurangannya, adalah pada penyuntingan. Yang paling mengganggu adalah kalimat Ahmadinejad yang begini: be angry at us, dan </i>die of this anger</i>! Seandainya kejanggalan tersebut tidak terjadi, maka aku akan memberinya lima bintang secara bulat.

Nadiah wrote:

Buku ini adalah salah satu buku non-fiksi yang sangat saya minati. Pandangan saya tentang sebuah negeri bernama Iran banyak berubah setelah membaca buku ini.

Dina Y. Sulaeman dan suaminya, Otong Sulaeman, menyajikan beragam kisah, peristiwa dan tempat-tempat yang luar biasa yang mereka lewati di Iran. Bagi saya, buku ini bukan sekedar buku tentang sebuah negeri, melainkan juga buku yang bernilai relijius.

Satu kisah yang ditulis Otong bahkan membuat saya menangis tersedu-sedu dan begitu haru, mengingat kembali indahnya rasa ikhlas, merasakan kembali nikmatnya cinta Ilahi. Kisah itu adalah kisah Mehdy, seorang supir taksi yang membawa Otong berkeliling di suatu kota di Iran — kisah inilah yang membuat saya memberi 5 bintang untuk buku ini.

Pemaparan tentang sistem pemilihan di Iran yang begitu simpel membuat saya sedih dengan sistem di sini. Andaikan warga Indonesia seperti itu juga, bersemangat dan jujur dalam memilih, tentunya tidak perlu repot-repot memesan kotak suara atau tinta khusus (yang nyatanya mudah hilang juga) sehingga menghabiskan uang rakyat.

Satu lagi yang membuat saya terkesan dengan Iran, yaitu gerbong kereta yang dipisahkan antara perempuan dan laki-laki — meski ada juga gerbong campuran untuk suami istri). Kapan ya, Indonesia bisa seperti itu?

Andai buku ini dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar dunia barat dapat melihat Iran (dan/atau Islam) dengan cara berbeda…atau sudah?

—-

Dhini wrote:

buat siapa aja yang merasa iran sebagai negara yang “mengerikan” dan “kaku”, baca deh buku ini…

penulisnya udah 8 tahun tinggal di sana.. dan buku ini semacam catatan keseharian serta interaksinya dengan masyarakat iran.

sbg negara yg pernah jadi salah satu pusat peradaban kuno dunia.. dan sekaligus negara yang sering dapat embargo ekonomi dari Paman Sam, ternyata masih banyak sisa peninggalan kebudayaan Persia yang dapat ditemukan di sana…

bagus.. banget deh…!!!

Juni 28, 2009

Obama, CIA, Ahmadinejad (Paul Joseph Watson)

Catatan:

Artikel ini saya sarikan dari tulisan Paul Joseph Watson “Obama Claims CIA Involvement In Iran “Patently False”. Dan ini merupakan posting terakhir saya di blog ini terkait pilpres Iran 2009. I’m going back to my daily routine. Tulisan ini dan tulisan2 sebelumnya di blog ini sudah lebih dari cukup untuk menjawab berbagai tuduhan seputar Iran. Saya bukan sedang membela Iran karena Iran tak butuh pembelaan siapapun, apalagi dari orang kayak saya. Tapi, saya hanya sekedar ingin membantu memberikan jawaban kepada orang-orang yang punya pertanyaan dalam hati mereka…

Obama, CIA, Ahmadinejad (Paul Joseph Watson)

President Barack Obama akhirnya menanggapi berbagai analisis dan tulisan yang menyebutkan bahwa CIA ada di belakang kekisruhan politik yang terjadi di Iran pasca-pemilu. Menurut Obama, tuduhan itu “sangat salah”.

Padahal, bukti-bukti menunjukkan bahwa justru keterlibatan CIA dalam menciptakan ketidakstabilan di Iran atas persetujuan pemerintah AS dan programnya sudah dimulai sejak dua tahun yll. Pada bulan May 2007, President George W. Bush telah menyetujui CIA untuk melakukan operasi hitam dengan tujuan menumbangkan rezim di Iran. Langkah yang dilakukan adalah: dengan propaganda dan penyebaran informasi sesat, dan dengan membiayai Jundullah, salah satu kaki-tangan Al-Qaeda yang pernah diketuai otak 9/11 Khalid Sheikh Mohammed. Kelompok ini merupakan tertuduh pelaku sejumlah pengeboman di Iran yang bertujuan mendestabilisasi pemerintahan Ahmadinejad.

Selain itu, organisasi terroris Mujahedeen-e Khalq, yang dulu pernah dikendalikan oleh intelijen Irak di bawah Saddam Hussein saat ini bekerja khusus untuk CIA dan melakukan berbagai pengeboman di Iran. Sejumlah besar anggota Mujahedeen-e Khalq ditahan oleh pemerintah Iran, menyusul berbagai kerusuhan pasca pemilu. CIA juga dilaporkan telah mendistribusikan 400 juta dollars di dalam Iran untuk memunculkan revolusi.

Program CIA yang disetujui Bush ini juga meliputi pendanaan kelompok-kelompok oposisi dan menyediakan perlengkapan komunikasi yang mampu membuat para demonstran bisa tetap berkomunikasi meskipun ada sensor pemerintah. Twitter dan web-web jaringan social telah memainkan peranan kunci dalam hal ini. Pemerintah AS bahkan meminta Twitter.com untuk menunda proses maintenance yang telah dijadwalkan, supaya orang Iran bisa tetap memanfaatkan Twitter untuk melaporkan situasi kerusuhan.

CIA dan Mossad telah menciptakan feed palsu Twitter dan membanjiri rakyat Iran dengan SMS yang mendorong mereka untuk terlibat dalam kerusuhan. Menurut Thierry Meyssan, sblm penghitungan selesai, SMS gelap sudah tersebarluas, isinya “Mousavi dinyatakan Menang oleh KPU”. Langkah ini dilakukan untuk mempersiapkan publik agar mau terima tuduhan kecurangan yang dilemparkan Mousavi jika ia kalah. Meyssan juga menulis bahwa CIA dan Mossad menggunakan Twitter untuk menyebarkan laporan palsu tentang pertempuran bersenjata dan kematian, yang tidak pernah dikonfimasi, untuk membangkitkan amarah rakyat Iran karena mengira teman-teman sebangsa mereka sedang diperlakukan brutal oleh pemerintah.

Fakta lain juga menujukkan bahwa account Twitter yang digunakan untuk mengirim pesan-pesan selama protests adalah account yang baru saja dibuat dan sebelum aksi protes dimulai, account itu tidak pernah dipakai untuk mengirim pesan. (Artinya, account itu memang sengaja dibuat untuk mengacau situasi di Iran—Dina)

Dua tokoh neokonservatif yang punya kaitan erat dengan kalangan militer AS, seperti John Bolton dan Henry Kissinger selama bertahun-tahun yang lalu telah menyerukan CIA untuk mendanai sebuah “Revolusi Berwarna” di Iran untuk mengubah rezim di sana.

Dan sejarah juga mencatat, CIA sebelumnya pada 1953 pernah mendalangi sebuah kudeta di Iran, yang menggulingkan Perdana Menteri yang terpilih secara demokratis, Mohammed Mossadegh, melalui “Operasi Ajax”. Skenario yang dilakukan pada saat itu adalah dengan aksi-aksi pengeboman dan pembunuhan, lalu pemerintah Mossadegh dituduh sebagai pelaku semua tragedi berdarah itu. Selama masa “Operasi Ajax”, CIA juga menyuap pejabat pemerintahan Iran, bisnismen, dan reporter, serta membayar orang-orang Iran untuk turun ke jalan berdemo menentang Mossadegh.

Penutup (oleh Dina)

Dalam pidatonya di Kairo, Obama mengakui peran AS dalam “mengkudeta sebuah pemerintahan yang terpilih secara demokratis”. Mossadegh memang akhirnya tumbang, dan naiklah Syah Reza Pahlevi sebagai Raja Iran. Konsesi-konsesi atas ladang minyak dan gas di Iran yang sangat kaya (yang tadinya oleh Mossadegh dinasionalisasi) akhirnya kembali ke perusahaan-perusahaan AS. Tahun 1979, Syah Pahlevi ditumbangkan oleh aksi-aksi demonstrasi rakyat di bawah pimpinan Imam Khomeini.

Dan kini, tahun 2009, CIA ingin mengulangi skenario yang serupa. Namun rupanya Iran sudah berubah. Rezim Mullah ternyata tak sama denganRezim Mossadegh. Setelah melalui dua pekan gelombang kerusuhan (dan menggunakan simbol warna hijau, meniru-niru “Revolusi Berwarna” di beberapa negara Balkan yang didanai oleh AS), Rezim Mullah tetap bertahan. Dan situasi kini kembali seperti apa yang memang sudah terjadi selama 30 tahun terakhir: anjing mengonggong kafilah berlalu.