Arsip 2007 ~ Sekarang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.147 pengikut lainnya.

Ikut Bandung Historical Study Games, Yuk?

Originally posted on Dina Y. Sulaeman:

Seperti pernah saya posting di sini , Museum Konperensi Asia Afrika mau mengadakan peringatan hari besar bangsa Asia Afrika selama sepekan, yaitu 18 – 24 April 2014. Acara itu antara lain dilakukan dengan merekrut ratusan relawan yang akan bergotong-royong menyukseskan acara.

Dengan berbagai latar belakang idealisme *jiyaaaaah* saya mendorong Kirana untuk mendaftar jadi relawan. Pertama, biar dapat wawasan baru, terutama mengenai sejarah Asia-Afrika. Kedua, biar dapat pengalaman baru dalam memberikan ‘pelayanan masyarakat’. Ketiga, biar tau cara bekerja dalam tim, Keempat, biar rasa cinta bangsa-nya semakin terpupuk.. dan lain-lain deh, banyak.

Apakah Rana dengan sukarela ikut? Hoho..tentu saja tidak. Rana masih 13 tahun dan langsung membelalakkan mata, “Apa?! Trus aku nanti ngapain di sana?” Saya jelaskan sebisanya. Dia sama sekali ga tertarik. Saya bujuk, “Ya minimalnya dicoba dulu dong, Sayang…”  Akhirnya Rana pun mendaftar dan  terdaftar resmi jadi relawan deh :)

Dengan ogah-ogahan, pada hari Ahad yll, dia datang ke acara…

View original 222 more words

Jadi Relawan Peringatan 59 Tahun Konferensi Asia Afrika Yuk?

logoMilan Kundera pernah menulis, “Perjuangan melawan kekuasaan [yang zalim] adalah perjuangan ingatan melawan lupa.” Inilah fungsi penting sejarah, sebagai media untuk melawan lupa. Bangsa yang tidak mempelajari sejarah, akan mengalami amnesia, dan lagi-lagi terjebak dalam lubang kesalahan yang sama, hanya berbeda model.

Inilah kita, bangsa yang sepertinya sedang menderita lupa. Pemimpin silih berganti, namun nasib tak jua beranjak. Semakin lama negeri ini justru semakin terjerat imperialisme berkedok investasi asing, liberalisme pasar, soft loan, atau structural adjustment programme.  Pemilu datang dan pergi, tak jua kita mampu mengangkat seorang pejuang sebagai pemimpin. Ayat-ayat dan nilai-nilai moral dijejalkan ke otak kita sejak kecil, namun selalu saja ada orang-orang yang mau saja diperalat untuk memberangus dan menindas saudara sebangsanya atas nama Tuhan. Saat membaca koran atau menonton televisi, sungguh terasa negeri ini kian oleng, kian carut-marut.

Semangat Konferensi Asia-Afrika Bandung adalah semangat kebangkitan melawan imperialisme. Meskipun sudah merdeka, namun penjajahan masih ada. Pidato Bung Karno di Konferensi Asia Afrika yang ternyata masih sangat relevan dengan kondisi bangsa ini, hari ini. “Kolonialisme juga memiliki penampilan yang modern, dalam bentuk kontrol ekonomi, kontrol intelektual, dan juga kontrol fisik yang dilakukan sekelompok kecil orang asing dalam sebuah bangsa,” seru bung Karno waktu itu.  

Banyak dari kita yang lupa pada spirit itu. Semakin hari, justru kita semakin terjajah. Kekayaan alam dijual habis-habisan, demi komisi yang tak seberapa. Rakyat masih mau diadu-domba, sehingga perhatiannya teralihkan, tak lagi peduli pada hal-hal penting, terutama penjajahan neo-imperialisme.

Adakah teman-teman yang ingin bergabung dalam kegiatan “menolak lupa”? Atau, mungkin, seperti saya: saya ingin anak saya yang sudah remaja untuk  mengenal sejarah bangsanya. Kalau disuruh baca sendiri buku-buku sejarah, mungkin agak sulit. Tapi minimalnya kita bisa menstimulasinya dengan berbagai cara, dan mudah-mudahan, keingintahuannya muncul, dan akhirnya tertarik untuk membaca buku-buku sejarah.

Nah… ini ada ajangnya nih; Rekrutmen Terbuka Relawan Sahabat MKAA:

Menyambut Peringatan 59 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) Tahun 2014, Museum KAA mengundang keterlibatan masyarakat, khususnya generasi muda di Kota Bandung untuk bergabung dengan Korps Relawan Sahabat Museum KAA (SMKAA). Para relawan itu akan bergotong royong mensukseskan peringatan hari besar bangsa Asia Afrika yang digelar selama sepekan, yaitu 18 – 24 April 2014 di Museum KAA – Gedung Merdeka.

Silahkan baca selengkapnya dan isi formulirnya di sini.

Nasib Muslim Tatar dan Jihad Ukraina

Analisis terbaru saya, dimuat di www.LiputanIslam.com

Nasib Muslim Tatar : Isu Jihad Baru di Ukraina?

Doku Umarov dan pasukan jihadnya

Doku Umarov dan pasukan jihadnya

Mereka yang intens mengikuti konflik Suriah dan Timteng pada umumnya, semestinya merasakan adanya alarm yang berbunyi, saat membaca tulisan koran Republika edisi cetak halaman 25 (10/3) berjudul “Tanda X di Pintu Rumah Muslim Crimea”. Track record Republika yang ikut bergabung dalam koor media mainstream soal Suriah, menyebarluaskan ilusi bahwa konflik di Suriah adalah kekejian kaum Syiah pro-Assad terhadap kaum Sunni (salah satunya bisa dibaca di artikel ini: Syria di Republika), membuat saya melihat tulisan itu dengan cara berbeda.

Dalam artikel yang ditulis oleh Ferry Kisihandi (dan bersumber dari Reuters, jaringan berita milik keluarga Rothschild) diceritakan tragedi 1944, ketika diktator Soviet, Josef Stalin, memerintahkan polisi membuat tanda X pada pintu-pintu rumah Muslim Tatar. Dalam beberapa hari, 200 ribu Muslim diusir dari rumahnya dan dikirim ke wilayah Uzbekistan. Ribuan orang kehilangan nyawa dalam perjalanan itu. Pada 1960-an, Uni Soviet mulai mengizinkan Muslim Tatar yang masih hidup di pengasingan untuk kembali ke Krimea.

Menurut Republika, pengusiran tahun 1944 itu berpotensi berulang pada tahun ini, menyusul masuknya tentara Rusia ke Krimea dan menghendaki Krimea memisahkan diri dari Ukraina. Pasalnya, Muslim Tatar warga Krimea lebih memilih untuk bergabung dengan Ukraina. Dan pilihan itu melahirkan konsekuensi, karena akhir-akhir ini muncul goresan tanda X di pintu-pintu rumah beberapa muslim Krimea, tulis Republika.

Mengingat mayoritas kaum muslim kelihatannya sedemikian mudah diprovokasi tanpa mau sejenak merenung dan mencari ‘berita di balik berita’, isu penindasan Muslim Tatar saya perkirakan akan dipakai untuk menggalang jihad melawan Rusia. Masih belum luput dari ingatan, betapa mudahnya kaum Muslim di Indonesia diprovokasi dengan berbagai foto dan video palsu. Mereka pun rela merogoh kocek dalam-dalam, sehingga terkumpul ratusan juta rupiah tanpa audit yang jelas, demi ‘menolong kaum Sunni yang ditindas Assad’. Jihadis dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari Indonesia berbondong-bondong datang ke Suriah demi menggulingkan Assad. Dan ironisnya, akhir-akhir ini di antara mereka (para jihadis) malah saling bunuh dengan cara-cara barbar, karena perebutan wilayah, jarahan, dan legitimasi (mana yang ‘khilafah asli’).

Umat muslim dunia kebanyakan menerima saja apa yang dicekokkan media kepada mereka. Dan ironisnya, sejak kasus Suriah, banyak media berlabel Islam yang bergotong royong dengan media mainstream tanpa mau mengaitkan konflik lokal dengan konstelasi politik global. Dalam artikel saya berjudul L’Ukraine est une autre Syrie (Ukraina adalah Suriah yang lain), saya sudah menulis berbagai persamaan antara konflik Suriah dan Ukraina. Berbeda dengan Suriah yang perlu dua tahun sebelum (sebagian) publik menyadari konspirasi Barat, di Ukraina, kecurangan Barat terungkap dengan sangat cepat.

Baca selanjutnya di LiputanIslam.com ya :)

Politik Luar Negeri Iran: Perspektif Global

ICWAIndonesia Council on World Affairs (ICWA), sebuah lembaga yang didirikan almarhum Ali Alatas, mantan Menlu Indonesia, kemarin menyelenggarakan sebuah forum kuliah politik dengan pembicara Menlu Iran, Dr. Javad Zarif. ICWA adalah lembaga yang beranggotakan para diplomat yang berada di Indonesia (baik diplomat Indonesia maupun negara-negara sahabat), serta para akademisi dan think tank di bidang politik luar negeri. Peneliti Global Future Institute, Dina Y. Sulaeman, berkesempatan hadir dalam acara tersebut dan menuliskan laporannya berikut ini.
***

Mohammad Javad Zarif. Wajahnya penuh senyum, dengan tatapan mata jenaka. Suasana yang awalnya formal jadi terasa segar melihat gesturnya yang rendah hati dan ramah. Saat berpidato, Menlu Iran ini menunjukkan kemampuan orasi yang luar biasa. Terkadang nadanya sangat tegas dan penuh semangat, terkadang menyelipkan humor dan membuat hadirin tergelak. Dengan bahasa Inggris yang sangat lancar, selama sekitar 45 menit tanpa teks, dia menjelaskan kebijakan luar negeri Iran dari perspektif global. Argumen-argumennya memakai logika universal yang berpijak pada ke-kita-an, bukan ‘saya’ atau ‘mereka’.

Berakhirnya Era Zero-Sum

Dalam kuliah politik bertajuk Foreign Policy of the Islamic Republic of Iran: A Global Perspective yang diselenggarakan Indonesia Council on World Affairs (ICWA), 7 Maret 2014, Menlu Iran Javad Zarif menjelaskan bahwa era politik zero-sum sudah habis. Di zaman globalisasi ini, apapun yang terjadi di satu sudut bumi, akan berpengaruh pada hampir semua penduduk bumi.  Misalnya, masalah perubahan iklim;  tidak ada satu negara pun yang mengklaim bisa menghadapinya seorang diri; selalu membutuhkan kerjasama antarnegara.

Hubungan internasional kini tidak lagi didominasi oleh dua negara besar (AS dan Uni Soviet) yang mendeterminasi arah kebijakan global seperti era Perang Dingin. Dunia tengah beralih dari community of nations (komunitas negara-negara) ke arah global community (komunitas global), di mana individu, kelompok, jaringan, mampu mempengaruhi hubungan internasional, dan artinya mampu berperan untuk mengubah situasi ke arah yang baik bagi kemanusiaan.

Dalam situasi seperti  ini, isu security (keamanan) tidak mungkin lagi dipandang sebagai isu zero-sum (aku menang, engkau kalah). Sebuah negara tidak mungkin lagi meraih keamanan dengan cara mengorbankan keamanan negara-negara lain.  Tidak ada yang bisa aman, ketika pihak lain tidak aman. Bukti terbesar dari pendapat ini adalah Tragedi 9/11. Mr. Zarif menceritakan, dirinya pernah bertugas di PBB, New York, sebelum dan setelah 9/11. Dengan matanya sendiri dia melihat ekspresi cemas dan ketakutan orang-orang New York.

Zarif bertanya retoris, “Bagaimana mungkin AS, sebuah negara dengan bujet militer terbesar di dunia, ternyata tak mampu memberikan keamanan kepada warganya sendiri? Bahkan gedung yang seharusnya paling aman, Pentagon, juga tak luput dari serangan teroris.”

(lebih…)

L’Ukraine est une autre Syrie

Dina Y. Sulaeman*

Bernard Henri Levy di Kiev (9/2/2014)

Bernard Henri Levy di Kiev (9/2/2014)

Membaca berbagai berita tentang Ukraina, terasa bagai deja vu. Terlepas dari perbedaan besar isu penyebab konflik di kedua negara, kerusuhan di Ukraina terlihat jelas menggunakan template atau cetakan yang sama dengan Suriah. L’Ukraine est une autre Syrie. Ukraina adalah Suriah yang lain.

Kehadiran tokoh Zionis-Prancis, Bernard-Henri Levy, di depan lautan manusia yang memenuhi Maidan –singkatan dari Maidan Nezalezhnosti  atau Lapangan Kemerdekaan—di Kiev, menjadi simbol utama kesamaan template itu. Levy adalah seorang makelar perang. Dia dulu memprovokasi masyarakat Barat untuk ‘membantu’ rakyat Suriah menggulingkan Assad (sebelumnya, juga hadir di Libya, di depan para demonstran anti-Qaddafi). Kini di Kiev, dia berpidato berapi-api, menyeru rakyat Ukraina, “Les gens de Maidan, vous avez un rêve qui vous unit. Votre rêve est l’Europe!” (wahai orang-orang Maidan, kalian punya mimpi yang mempersatukan kalian. Mimpi kalian adalah Eropa!)

Ya, Ukraina memang tengah diadu-domba dengan menggunakan isu Uni Eropa. Sebagian rakyat setuju bergabung dengan UE, sebagian lagi menolak. Pengalaman Yunani yang bangkrut akibat bergabung dengan UE membuat banyak orang sadar, UE dan pasar bebas Eropa bukanlah gerbang kemakmuran bagi rakyat banyak. Hanya segelintir yang diuntungkan,dan para kapitalis kelas kakap Eropalah yang jauh lebih banyak mengeruk laba.
(lebih…)

Kerry, Perubahan Iklim, dan Utang Indonesia (Full)

Berikut ini selengkapnya tulisan saya yang dimuat di Nefosnews.com, tapi dengan penambahan konten: penjelasan lebih lengkap tentang apa itu carbon credit (saya copas 5 paragraf dari buku saya, Obama Revealed; di buku secara detil saya jelaskan berjalin-berkelindannya bisnis karbon dan para pejabat AS; terlepas dari isu lingkungan, bagi mereka, it’s all about big-big money )

Kerry, Perubahan Iklim, dan Utang Indonesia

Dina Y. Sulaeman*

Menlu Amerika Serikat, John Kerry, datang ke Indonesia. Kali ini, misi yang dibawanya ternyata terkait dengan perubahan iklim. Kerry menyebut, indikasi perubahan iklim global antara lain banjir di Indonesia dan badai salju di AS. “Lihat, banjir yang terjadi di kota ini satu meter saja, bisa mengancam banyak orang dan merugikan ekonomi hingga miliaran,” kata Kerry.

Dulu, perubahan iklim disebut “global warming”. Namun seiring dengan banyaknya ilmuwan yang menentang tesis adanya pemanasan global ini, media pun menggunakan istilah “perubahan iklim”.

Kerry pun sepertinya mengakui adanya penentangan sebagian saintis. “Ini bukan opini. Ini fakta, ilmu pengetahuan yang tidak bisa disangkal,” kata Kerry, di Jakarta, pada Minggu (16/2/2014, detikcom).

Terlepas dari pro-kontra kebenaran isu perubahan iklim ini, yang jelas, ada uang triliunan dolar yang terlibat di sini. Tak heran bila Kerry menyatakan, AS siap memimpin dunia untuk menangani perubahan iklim.

Promosi tentang bahaya perubahan iklim memang dilakukan cukup gencar. Banyak pihak yang tergerak (atau dipaksa oleh peraturan suatu negara) untuk ikut berpartisipasi dalam program melawan “perubahan iklim”. Orang-orang tenar dunia seperti kelompok musik Rolling Stones, menunjukkan kepedulian pada lingkungan dengan cara membeli carbon credit.

(lebih…)

Kerry, Perubahan Iklim, dan Utang Indonesia

Ini tulisan terbaru saya di http://www.nefosnews.com

Kerry, Perubahan Iklim, dan Utang Indonesia

dina_sulaemanMenlu Amerika Serikat, John Kerry, datang ke Indonesia. Kali ini, misi yang dibawanya ternyata terkait dengan perubahan iklim. Kerry menyebut, indikasi perubahan iklim global antara lain banjir di Indonesia dan badai salju di AS. “Lihat, banjir yang terjadi di kota ini satu meter saja, bisa mengancam banyak orang dan merugikan ekonomi hingga miliaran,” kata Kerry.

Dulu, perubahan iklim disebut  “global warming”. Namun seiring dengan banyaknya ilmuwan yang menentang tesis adanya pemanasan global ini, media pun menggunakan istilah  “perubahan iklim”.

Kerry pun sepertinya mengakui adanya penentangan sebagian saintis.  “Ini bukan opini. Ini fakta, ilmu pengetahuan yang tidak bisa disangkal,” kata Kerry, di Jakarta, pada Minggu (16/2/2014, detikcom).

Terlepas dari pro-kontra kebenaran isu perubahan iklim ini, yang jelas, ada uang triliunan dolar yang terlibat di sini. Tak heran bila Kerry menyatakan, AS siap memimpin dunia untuk menangani perubahan iklim.

Promosi tentang bahaya perubahan iklim memang dilakukan cukup gencar. Banyak pihak yang tergerak (atau dipaksa oleh peraturan suatu negara) untuk ikut berpartisipasi dalam program melawan “perubahan iklim”. Orang-orang tenar dunia seperti kelompok musik Rolling Stones, menunjukkan kepedulian pada lingkungan dengan cara membeli carbon credit.

Selengkapnya, silahkan klik : Kerry, Perubahan Iklim, dan Utang Indonesia

Liputan Detik.com Tentang Iran

tim futsal perempuan Iran (foto:PressTV)

tim futsal perempuan Iran (foto:PressTV)

Majalah digital Detik, hari Sabtu yang lalu membahas Iran dari berbagai aspek. Saya termasuk salah satu narasumber yang dihubungi reporternya. Hasil liputannya menarik untuk disimak. Bisa download di sini:

Liputan Detikcom Tentang Iran

Update Suriah: Baiat dari Indonesia?

1011441_10151793563878498_989807462_nDi blog ini, saya jarang posting ulang tulisan orang lain. Tapi tulisan yang ini penting untuk diketahui para pemerhati konflik Timteng, khususnya Suriah. Meskipun saya sudah menulis  buku Prahara Suriah, namun perkembangan detil akhir-akhir ini memang agak terlewatkan oleh saya. Nah, di tulisan berikut ini ada penjelasannya dengan cukup detil. Angin “jihad” sudah melanda Indonesia rupanya. Semoga Tuhan melindungi NKRI.

Jihad Palsu Suriah Mengancam Indonesia
[sumber: www.liputanislam.com]

Di awal pemberontakan, kelompok pemberontak yang digawangi oleh FSA dan al-Nusra memiliki musuh yang sama, yaitu Pemerintah Suriah dan pendukungnya. Namun memasuki tahun ketiga, mereka mulai saling memerangi satu sama lain. Pertikaian ini ditutup rapat-rapat, dan saat diungkap oleh media independent atau media yang pro Assad, mereka pun membantah keras. Namun kini, para pendukung kelompok-kelompok jihadis sudah tidak ragu lagi untuk saling serang satu sama lain.

ISIS boneka buatan Iran dan Suriah?

Seperti yang dikabarkan oleh Koepas (media online); Dr. Abdul Aziz Al – Fauzan, seorang professor fiqh perbandingan di Arab Saudi, menegaskan bahwa organisasi Negara Islam di Irak dan Syam, yang dikenal sebagai ” Daish/ISIS ” , adalah boneka buatan intelijen Iran dan Suriah untuk menggugurkan Revolusi Suriah .

Artinya, ISIS adalah antek Syiah. Pernyataan dari Dr Abdul Aziz ini, melahirkan pertanyaan baru yaitu:

Di Suriah, ISIS memerangi Tentara Suriah. Apakah ini berarti Pemerintah Suriah sedang melakukan konspirasi dengan menciptakan ISIS lalu memerangi ISIS lewat Tentara Suriah?

(lebih…)

Berkah Rouhani: Munculnya Optimisme Hubungan Indonesia-Iran

Dina Y. Sulaeman*
Photo by Ebrahim Noroozi/AP

Photo by Ebrahim Noroozi/AP

Angin segar yang dibawa Presiden Rouhani tampaknya tidak hanya berhembus di perundingan nuklir P5+1, namun juga memberi prospek baru hubungan Indonesia-Iran. Hal ini terungkap dalam Forum Kajian Kebijakan Luar Negeri (FKKLN) bertajuk “Optimalisasi Hubungan Indonesia Iran di Bawah Pemerintahan Presiden Hassan Rouhani Pasca Pelonggaran Sanksi Iran oleh Negara Barat.” Research associate Global Future Institute, Dina Y. Sulaeman, yang diundang hadir dalam FKKLN, menuliskan laporannya berikut ini.

Persepsi negatif. Inilah kata kunci yang patut diberi garis tebal dalam diskusi FKKLN sehari penuh di hotel Aston Tropicana, Bandung (8/2). Hampir semua pembicara, mulai dari Listyowati (Direktur Asia Selatan, Ditjen Aspasaf Kemlu), Andy Rachmianto (Direktur Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata Kemlu), Ibnu Hadi (Direktur Amerika Utara dan Tengah Kemlu), Dian Wirengjurit (Dubes Indonesia untuk Iran), Azyumardi Azra (Direktur Pascasarjana UIN Jakarta), Abdul Mu’ti (Sekretaris Dewan Pendidikan Muhammadiyah), dan Trias Kuncahyono (Wapemred Kompas) menyampaikan potensi besar hubungan Indonesia-Iran yang menguntungan kepentingan nasional Indonesia, dari berbagai aspek. Namun, ada sejumlah kendala yang muncul dan sebagian besarnya terkait dengan persepsi negatif tentang Iran.

Listyowati menyampaikan data-data hubungan bilateral Indonesia-Iran. Sejauh ini sudah 53 dokumen kerjasama bilateral yang ditandatangani, melalui berbagai mekanisme, mulai dari Joint Committee on Economic and Trade, hingga Joint Cultural Commission.  Sayangnya, belum semuanya terlaksana. Selain itu, volume perdagangan kedua negara pada tahun 2013 ini menurun karena berkurangnya impor  migas dari Iran.  Tahun 2012, volume dagang  Indonesia-Iran USD 1,26 M, namun 2013 hanya USD 495,45. Kedua negara saling membutuhkan: Indonesia butuh migas murah dari Iran, sebaliknya Iran sangat membutuhkan kertas, minyak nabati, teh, kopi, dari Indonesia. Iran bahkan sudah memberikan komitmen investasi di Indonesia: refinery, petrokimia, pembangkit listrik, nuklir, manufaktur, transportasi udara, kesehatan, dll.

Namun demikian, selama ini ada kendala besar yaitu sistem perbankan yang masih menghalangi transfer uang dari Indonesia-Iran (dan sebaliknya). Yang menarik, Listyowati juga menyebutkan bahwa meskipun di level G to G (antar pemerintah) hubungan Indonesia –Iran tidak ada masalah, di level grass-root ada kendala, yaitu isu Sunni-Syiah di Indonesia. Akhir-akhir ini kelompok radikal di Indonesia telah melakukan gerakan anti-Syiah sambil melakukan pelecehan terhadap lambang-lambang negara Iran.

(lebih…)

New Release 2013

prahara suriah

New Release (2013)

"dokter cilik"
obama
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
"pelangi di persia"
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.147 pengikut lainnya.