Arsip 2007 ~ Sekarang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.145 pengikut lainnya.

Sihir Obama Mulai Terkuak?

cover obamaSaya ingin cerita pengalaman saya menulis buku Obama Revealed (2010) (revealed = terungkap/terkuak). Naskah buku itu selesai tahun 2009. Awalnya disambut dengan antuasias oleh penerbit X. Tapi mereka minta waktu untuk diskusi dengan marketing. Beberapa hari kemudian tiba email jawaban, kurang lebih; “Toko buku ‘anu’ tidak akan mau memajang buku ini mbak. Kalau mbak mau, tunggu saja sampai angin berbalik, ketika kritikan terhadap Obama bisa diterima publik.” [info: si penerbit itu rupanya sangat bergantung pada distribusi yang dilakukan toko buku 'anu']

Ya, waktu itu, seluruh dunia ‘tergila-gila’ pada Obama. Kritikan pada Obama seolah diharamkan. Tapi, entah kenapa, saya seperti ditakdirkan jadi penulis nekad. Seorang akademisi yang memberi kata sambutan pada buku saya Prahara Suriah juga menyebut saya penulis yang berani mengambil resiko karena (nekad) menulis sesuatu yang sedang berlangsung (jadi, nggak nunggu semua settle dulu, sudah tahu dulu kemana angin akan berhembus, baru menganalisis). Tulisan saya tentang Suriah memang sukses membuat saya dibully habis-habisan (bahkan diancam kekerasan fisik oleh seorang ustadz garis keras yang menganggap Suriah adalah ladang ‘jihad’) karena menentang pendapat mainstream.

Tapi setelah tiga tahun berlalu (sejak konflik Suriah meletus), angin pun bertiup ke arah yang saya prediksikan. Saya mencoba menahan diri untuk tidak berkata “Kata gue dulu juga apaaaa..?!” Karena saya sebenarnya tidak ‘berjuang’ sendirian. Ada banyak orang hebat yang membantu saya (memberi masukan, info-info mengenai pemalsuan informasi soal Suriah, dll), ada para jurnalis independen yang menjadi rujukan saya, ada teman-teman yang setia mendukung saya. Dan ada suami saya, serta editor/penerbit, yang tak bosan-bosan mendorong saya menulis buku itu.

Nah, balik ke Obama. Saat begitu banyak orang yang terpesona pada sihirnya, saya justru sangat skeptis. Ga mungkin Obama akan membuat perubahan dalam politik luar negeri AS, kata saya. Dan saya pun menulis buku itu. Saya selesaikan hanya dalam dua pekan.

Setelah naskah ditolak penerbit X, saya kirim ke penerbit Y. Mereka juga antusias dan mulai menggarapnya. Tiba-tiba saja, saat akan naik cetak, dihentikan oleh pemilik sahamnya, seorang tokoh terkenal (makanya, saya sejak itu tak terlalu percaya integritas tokoh tersebut). Saya benar-benar heran awalnya. Kenapa ya? Apa karena si tokoh ini lulusan Amerika sehingga tidak rela Presiden AS ini saya ‘kuliti’ habis-habisan?

Karena naskah sudah siap cetak, akhirnya penerbit Y menawarkan naskah itu ke penerbit Z. Direktur penerbit Z menelpon saya, kurang lebih gini katanya, “Naskahnya bagus Mbak.. tapi kami terlanjur bikin buku yang memuji-muji Obama. Saya pikir, itu pula alasan Bapak *tiiit* menolak menerbitkan buku Mbak. Kan dia juga sudah menerbitkan buku yang menyanjung Obama. Gimana kalau naskah Mbak ini saya kasih ke penerbit Q? Saya juga punya saham di sana kok.”

Walhasil buku itu pun diterbitkan oleh penerbit Q (ya, sekarang sih, saya sebut saja namanya: Aliya Publishing), penerbit yang baru berdiri, namanya pun baru saat itu saya dengar. Penjualannya buruk sekali, saya bahkan tak pernah melihatnya di toko buku manapun. Tapi saya lewat pertemanan berhasil menjual ratusan eksemplar buku itu. Bahkan sampai hari ini ada saja yang ingin beli buku itu (biasanya mahasiswa yang mau skripsi), tapi sayang saya tak punya lagi stoknya. Penerbit itu pun sudah bangkrut. Saya coba kontak orangnya, tak ada respon.

Inti cerita ini adalah: pencitraan Obama memang ‘industri’ yang luar biasa, bahkan imbasnya sampai ke Indonesia; dan saya termasuk korbannya : ‘diberangus’ saat menulis sesuatu yang berbeda dari yang dikehendaki ‘industri’ ini.

(lebih…)

Q&A: Benarkah Yahudi itu Beda Dengan Zionis?

giladBenarkah Yahudi itu Beda Dengan Zionis? Selama ini, dalam tulisan-tulisan saya, saya jawab ‘ya’. Buktinya, ada orang-orang Yahudi yang menolak Israel dan Zionisme, misalnya para Rabi Yahudi yang tergabung dalam Neturei Karta.

Tapi, sejak saya baca buku Gilad Atzmon (The Wandering Who), berteman dengannya di facebook dan mengikuti blognya, saya mendapatkan pemahaman yang lain. Inti pemikiran Atzmon adalah: konflik di Palestina justru sebenarnya berakar dari ideologi rasisme Yahudi. Mengapa perdamaian sulit sekali tercapai hingga kini? Karena memang world-view-nya orang Yahudi yang merasa lebih mulia dari ras lain (apapun itu, tidak hanya Arab), sehingga menyulitkan negosiasi dan rekonsiliasi.

Pemikiran Atzmon ini mendapat penentangan dari sesama Yahudi (mereka berkeras, harusnya sebut yang salah itu ‘Zionis’, tidak ada kaitan dengan ‘keyahudian’), dan bahkan dari sebagian aktivis Palestina sendiri, misalnya Ali Abunimah. Abunimah mengecam Atzmon karena menggunakan the J-word (blak-blakan menyebut ‘Yahudi’, ini dianggap ‘tidak sopan’ karena ‘akan menyinggung saudara-saudara kita kaum Yahudi’). Abunimah bahkan menggalang petisi untuk ‘mengingkari’ (disavow) Atzmon. Tapi, banyak juga akademisi dan aktivis pro-Palestina (baik itu Yahudi, Arab, maupun orang-orang Barat) yang menyetujui pemikirannya. Professor Marc Elis, seorang teologis Yahudi, bahkan menyebut Atzmon sebagai ‘nabi baru’ karena memberikan pencerahan kepada orang Yahudi.

Buku Atzmon sendiri sangat filosofis, tapi relatif mudah dicerna (terutama kalau setidaknya Anda pernah belajar sedikit filsafat); hanya saja, saya kesulitan mengungkapkan kembali dalam bahasa Indonesia. Tapi ini ada wawancara Atzmon dengan Alimuddin Usmani, yang relatif lebih mudah saya terjemahkan, yang bisa merangkum apa sebenarnya yang dipikirkan Atzmon:

(lebih…)

Penjelasan Soal Adanya Tentara Israel yang Muslim

Pagi ini saya dapati, berita di Republika tentang adanya ribuan muslim yang jadi tentara Israel, banyak disebar ulang di jejaring sosial. Untung saja yang merilis berita ini Republika. Coba kalau Kompas atau Tempo, pasti sebagian orang langsung teriak-teriak ‘media kafir tukang fitnah!’ Penjelasan dari fenomena ini sebenarnya sederhana saja. Kita tinggal merunut sejarah terbentuknya Israel-Palestina.

Pada tahun 1947, PBB mengeluarkan resolusi 181 yang membagi tiga wilayah Palestina: 56.5% untuk pendirian negara Yahudi, 43% untuk negara Arab, dan Jerusalem menjadi wilayah internasional. Tapi kelak, pada tahun 1967 –setelah terjadinya Perang 6 Hari Arab-Israel—Israel menduduki Sinai, Golan, dan seluruh wilayah Palestina.

Perhatikan, awalnya seluruh wilayah adalah Palestina (warna hijau), kini wilayah Palestina sangat sedikit (sekitar 3%)

Perhatikan, awalnya seluruh wilayah adalah Palestina (warna hijau), kini wilayah Palestina sangat sedikit (sekitar 3%)

Wilayah Palestina saat itu tidak kosong, bangsa Palestina (baik Arab Islam, Arab Kristen, maupun Arab Yahudi) menyebar di seluruh wilayah. Jadi, ketika tanah mereka dibagi tiga, ada yang berada di wilayah yang dijatah untuk Israel, ada yang hidup di wilayah yang dijatah untuk Palestina.

Lalu, orang Yahudinya ada berapa banyak? Orang Yahudi ‘asli’ yang sejak lama hidup berbaur dengan bangsa Arab, memang ada, tapi tidak banyak (dan mereka ini justru dianggap rendahan oleh Israel, sama seperti warga Arab Islam&Kristen). Setelah Theodor Herzl, pada 1896 menyerukan pendirian sebuah negara Yahudi, Jewish Colonization Association (Asosiasi Kolonisasi Yahudi, didirikan 1891 di London) memulai pendanaan dalam mendirikan permukiman Zionis di Palestina.

(lebih…)

Palestina Adalah Kita

Berikut ini tulisan terbaru saya di Nefosnews.com. Pembelaan pada Palestina seharusnya tidak sekedar histeria mengutuk serangan fisik di Gaza tapi melupakan aspek ekonomi-politik internasional. Tulisan ini mencoba mengangkat aspek ekonomi-politik internasional itu.

Palestina Adalah Kita

Dina Y. Sulaeman

DINA-SULAIMAN-OKEHiruk-pikuk perdebatan Pilpres di media sosial, akhir-akhir berganti dengan seruan “Peduli Palestina”. Kedua pasangan capres yang tengah menanti hasil real count KPU pun sama-sama telah mengeluarkan pernyataan kepedulian pada Palestina. Ini bisa dijadikan indikasi bahwa ada pertalian nurani yang kuat antara bangsa Indonesia dan Palestina.

Presiden Soekarno pun pada tahun 1962 dengan tegas menolak kehadiran Israel (dan Taiwan) dalam Asian Games 1962 di Jakarta. “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel,” kata Bung Karno saat itu.

Penjajahan Israel atas Palestina merupakan aib besar sepanjang sejarah manusia modern pasca PD II. Aib yang dimulai dari Resolusi PBB 181/1947 yang menyetujui dibangunnya sebuah negara khususYahudi di atas tanah yang telah ditempati bangsa Arab Palestina selama ribuan tahun. PBB mengalokasikan 56,5 persen wilayah Palestina untuk pendirian negara Yahudi, 43 persen untuk negara Arab, dan Jerusalem menjadi wilayah internasional. Tapi kelak, pada tahun 1967 –setelah terjadinya Perang 6 Hari Arab-Israel—Israel menduduki Sinai, Golan, dan seluruh wilayah Palestina.

Selengkapnya, silahkan klik Palestina Adalah Kita

One States Solution, Jalan Keluar untuk Palestina-Israel

gazaOleh: Dina Y. Sulaeman*

PBB, AS, (bahkan juga pemerintah Indonesia), mengusulkan solusi dua negara (two states solution) untuk mendamaikan Palestina-Israel. Tawaran solusi ini adalah: Israel dan Palestina menjadi dua negara yang hidup berdampingan secara damai.

Ada lobang besar dalam tawaran ini, yaitu sifat alami (nature) dari Rezim Zionis sendiri. Penyelesaian dengan cara mendirikan dua negara terpisah yang berdampingan secara damai, sementara wilayah Palestina sendiri (Tepi Barat dan Gaza) letaknya terpisah satu sama lain, sulit terwujud. Sifat alami Rezim Zionis sejak didirikan adalah menyerang, mengusir, dan menduduki wilayah milik orang-orang Palestina. Terbukti, hingga hari ini, Israel masih terus melakukan kekerasan, yang dibalas oleh para pejuang Palestina; pembangunan permukiman terus dilanjutkan, bahkan ditambah pula dengan pembangunan Tembok Zionis. Israel juga melancarkan perang terbuka secara terang-terangan, seolah mengejek dunia internasional yang tidak mampu berbuat apa-apa. Pada tahun 2006, Israel membombardir Gaza dengan  Summer Rains and Autumn Clouds Operation, tahun 2009 dengan ‘Cast Lead Operation’, tahun 2012 dengan ‘Pillar of Defence Operation, dan kini tahun 2014 aksinya diulang lagi dengan diberi nama ‘Protective Edge Operation’.

Dr. Ilan Pappe, sejarawan Yahudi, mengatakan,

Two-state solution lebih merupakan sebuah cara untuk mengatur sejenis pemisahan antara penjajah dan yang dijajah, daripada sebuah solusi permanen yang terkait dengan kriminalitas Israel tahun 1948, dengan keberadaan 20% orang Palestina di dalam wilayah Israel, dan dengan populasi para pengungsi yang terus meningkat sejak 1948.

Ketika ide two-state menjadi landasan dari proses perdamaian, ide itu memberikan payung bagi Israel untuk meneruskan operasi pendudukannya tanpa takut. Hal ini karena pemerintah Israel, siapapun perdana menterinya, dianggap terlibat dalam proses perdamaian—dan Anda tidak bisa mengkritik sebuah negara yang terlibat dalam proses perdamaian.

Di bawah kedok ‘proses perdamaian’, atau bisa juga disebut “di bawah kedok dua negara untuk dua bangsa, permukiman-permukiman diperluas, kekerasan dan penindasan terhadap bangsa Palestina semakin mendalam.[1]

Virginia Tilley, profesor ilmu politik asal AS, penulis buku The One State Solution, juga menyatakan kepesimisannya atas ide two-state solution.

“Two-state solution untuk konflik Israel-Palestina adalah ide, dan kemungkinan, yang waktunya telah habis. Kematian ide ini dikaburkan oleh tontonan sehari-hari: wacana ‘Peta Jalan’ yang tak berguna, lingkaran pembunuhan yang dilakukan tentara Israel dan bom bunuh diri orang Palestina, pertarungan politik internal Palestina, penghancuran rumah-rumah dan angka kematian – semua memperlihatkan konflik yang selalu mendominasi wilayah itu.”[2]

 Di Mana Jalan Keluar?

(lebih…)

Ternyata, ISIS yang Menculik Tiga Remaja Israel Itu

three-boys

tiga warga Israel yang terbunuh (sumber: times of israel)

Riuhnya urusan pilpres di Indonesia membuat banyak pihak lupa pada nasib Palestina. Padahal, seperti berkali-kali saya tulis di blog ini, membela Palestina pada dasarnya membela ‘kita’.Israel ‘hidup’ hingga hari ini, mampu melanjutkan kejahatannya di Palestina, tak pernah bisa diajak bernegosiasi secara adil demi kehidupan damai di Palestina, berkat suplai uang dari seluruh dunia, melalui perusahaan-perusahaan transnasional (terutama minyak dan gas) yang dikuasai oleh orang-orang kaya Zionis. Demi meraup uang sebanyak-banyaknya, mereka berbuat makar di berbagai penjuru dunia lewat aktivitas ekonomi kotornya. Ini membuat Gilad Atzmon (penulis Yahudi yang gigih mengkritik Israel dan Zionisme) menyimpulkan, “Kita semua ini adalah bangsa Palestina dan kita memiliki satu musuh yang sama (yaitu Israel)”

Saya juga pernah menulis bahwa pola ‘jihad’ kelompok-kelompok radikal Islam ternyata bersesuaian dengan agenda Israel. Mereka justru   memorak-porandakan negara-negara yang memang ingin dipecah-pecah menjadi negara-negara kecil oleh Israel. Agenda Israel itu bisa dibaca dalam dokumen The Oded Yinon’s Plan.

Sejak Juni lalu, Israel meningkatkan serangannya terhadap Palestina. Alasan yang dipakai Israel: untuk mencari tiga warga Yahudi hilang di dekat Al-Khalil (Hebron) di bagian selatan Tepi Barat pada Kamis (12/6).  Israel menuduh HAMAS terlibat dalam penculikan tersebut sehingga militernya melancarkan operasi di Gaza dan Tepi Barat, dan menangkap lebih dari 600 orang Palestina, termasuk anggota parlemen, mantan tahanan dan pemimpin masyarakat. Mereka menggeledah setiap rumah bahkan hingga ke pemakaman dan saluran air. Padahal, baik Hamas maupun Fatah menolak mentah-mentah tuduhan ini.

Dan, siapakah ternyata penculik dan pembunuh ketiga warga Israel? Tak lain, organisasi teror ‘cabang’ ISIS. Lagi-lagi aksi mereka sesuai dengan pola sebelumnya di Suriah dan Irak: membuka jalan masuk bagi Israel. Di Suriah, kehadiran Front Al Nusra dan ISIS (keduanya ‘anak kandung Al Qaida, namun akhirnya berseteru satu sama lain), telah melemahkan pemerintahan Assad, satu-satunya negara Arab yang menolak berdamai dengan Israel (dan bahkan penjadi tuan rumah terbaik bagi para pengungsi Palestina, baca: Syria: Prahara di Negeri Pengungsi). Di Irak, perpecahan antar suku dan mazhab yang dipicu oleh ISIS, berpotensi memunculkan perpecahan dan terbentuknya negara-negara kecil  berlandaskan mazhab (persis seperti yang diagendakan oleh The Oded Yinon’s Plan). Tapi untungnya, bangsa Irak tidak terprovoklasi dan bahkan bersatu-pada melawan ISIS. Keuntungan bagi Israel: minyak Irak kini leluasa mengalir ke Israel (dulu Saddam menghentikan ekspor minyaknya ke Israel).

Berikut berita tentang siapa pelaku penculikan dan pembunuhan warga Israel itu, yang saya copas dari situs Liputan Islam:

Sebuah kelompok yang menamakan diri “Ansar al-Daulah al-Islamiyyah fi Bait al-Maqdis” menyatakan bertanggungjawab atas penculikan dan pembunuhan tiga pemuda Yahudi di al-Khalil. Mereka mengancam masih akan menyerang Israel. Tapi, naifnya, mereka juga mengancam akan menyerang para pemimpin Palestina.

“Aksi ini dilakukan dalam rangka membantu kekhalifahan Islam dan Abu Bakar al-Baghdadi,” ungkap kelompok tersebut dalam situs resminya, sebagaimana diberitakan kantor berita Palestina, Maan Senin (1/7/2014).

Ansar al-Daulah al-Islamiyyah juga menyatakan bertanggungjawab atas penembakan roket dari Jalur Gaza dan serangan terhadap sasaran-sasaran Israel dalam satu setengah bulan terakhir. Kelompok ekstrimis itu mengancam masih akan melancarkan operasi serangan terhadap sasaran-sasaran Israel di wilayah pendudukan.

Lebih lanjut, kelompok itu juga mengancam akan menyerang pemerintah dan para pemimpin Palestina di Tepi Barat maupun Jalur Gaza.

Kelompok ini diduga kuat terafiliasi dengan jaringan teroris al-Qaeda dan Daulat Islam Irak dan Suriah (ISIS). Mereka juga mengecam Hamas dan menganggapnya sebagai gerakan ambisius.

Semula kelompok itu bernama “Ansar Bait al-Maqdis”, namun berganti nama setelah ada deklarasi kekhalifahan Abu Bakar al-Baghdadi Ahad (29/6/14) .

Sejak terjadi penemuan tiga mayat warga Yahudi korban penculikan tersebut pada Senin malam (30/6/14) tentara Israel mempersengit serangannya terhadap Palestina. Malam itu tentara Israel mendatangi dan meledakkan rumah dua warga Palestina di al-Khalil yang dituduh Israel sebagai pelaku penculikan. Rumah keduanya hancur bersama semua isi yang ada di dalamnya. Satu di antara dua rumah itu merupakan bangunan apartemen yang dihuni oleh 25 orang.

Tentara Israel juga mendatangi Jenin, Tepi Barat, dan membunuh seorang pemuda Palestina. Israel menuduh Hamas sebagai pelaku penculikan, namun Hamas membantahnya. (mm/liputanislam.com)

 

Tentu saja, media Israel tidak mengungkap ini. Times of Israel misalnya, menyebut Hizbullah-lah pelaku penculikan itu. Dan berita dari media Israel itulah yang disebarluaskan oleh media-media di Indonesia. Contohnya, ini:

sumber foto: LiputanIslam.com

sumber foto: LiputanIslam.com

Jangan lupa pula, bahwa ISIS  sudah memiliki cabang di Indonesia. 

 

(Re-blog) Catatan Seorang Korban Kampanye Hitam

RUMORSSaya benar-benar berempati pada Ucu Agustin, penulis blog yang akan saya link-kan di bawah ini. Foto-fotonya dicuri begitu saja dari facebook, lalu diedit dan dia dikatain PKI. Foto itu lalu disebarluaskan untuk memfitnah capres tertentu (Anda pasti sudah bisa menebak siapa). Saya sangat berempati padanya karena pernah mengalami kasus mirip. Ketika para akhi-ukhti sedang merasa berjihad ‘mendukung saudara-saudara Sunni di Suriah’, semua orang yang berani bersuara berbeda (bahkan dengan argumen yang valid dan jelas sekalipun) mereka hantam, termasuk saya. Foto saya dan keluarga (jadi, termasuk wajah dua putra-putri saya yang masih innocence) diambil tanpa izin dari facebook, disebarluaskan dengan kata-kata “Syiah”, “bukan Islam”, “layak dibakar”. Entah apa yang ada di otak mereka -para akhi dan ukhti itu- saat mengata-ngatai kami: sesat, kafir, Qurannya beda, penyembah Ali, najis, babi betina, dll.

Fitnah yang terlanjur tersebar tidak akan bisa ditarik lagi. Kata seorang sufi, menebar fitnah bagai menebar bulu burung di pasar, akan terbang melayang kemana-mana, tak akan bisa dikumpulkan lagi. Saya dulu pernah menulis klarifikasi di blog ini, tanpa berharap fitnah akan mereda (karena itu harapan sia-sia belaka), tapi hanya sebagai hujjah (argumen), sehingga kelak ketika para akhi dan ukhti itu ditanyai malaikat di Padang Mahsyar, mereka tidak bisa lagi menjawab ‘khilaf’ atau ‘tidak tahu’.

Begitupun upaya Ucu untuk klarifikasi, tidak akan bisa mengumpulkan lagi air yang terlanjur tertuang di padang sahara. Ucu pun berkata di akhir tulisannya Kita tak bisa memotong kepala Hydra. Tapi, tulisannya ini akan dicatat oleh sejarah dan malaikat. Dan para penyebar fitnah kelak tidak bisa menjawab ‘khilaf’ atau ‘tak tahu’ jika ditanya malaikat, mengapa mereka sedemikian enteng menyebar fitnah.

Ok Ucu, kita belum saling kenal secara pribadi, tapi sampai batas-batas tertentu kita senasib. Doa saya untuk Anda. Hanya ini yang bisa saya bantu, menyebarkan tulisan Anda.

Catatan Seorang Korban Kampanye Hitam

Oleh: Ucu Agustin

Hari ini adalah hari pertama dari serangkaian tiga hari tenang menjelang tanggal 9 Juli 2014. Pada hari Rabu 9 Juli 2014 nanti, seluruh rakyat Indonesia akan memberikan suaranya untuk melakukan Pemilihan Umum Calon Presiden RI masa bakti 2014–2019. Ini untuk ketiga kalinya dalam sejarah negeri kami, kami rakyat, akan memilih secara langsung sang presiden.
Saya tak tahu apa yang akan terjadi di hari-hari tenang yang dimulai hari ini sampai dengan 8 Juli 2014 nanti. Apakah benar-benar akan terjadi ketenangan? Akankah riuh rendah kampanye capres hilang sebentar sebelum hari pencoblosan Rabu, 9 Juli? Ataukah justru di hari-hari tersebut, keadaan akan lebih ramai tapi dalam suasana yang dari luar tampak atau seolah terlihat damai dan tenang? Isu serangan fajar yang berisi adanya rencana penyebaran uang untuk rakyat hingga bisa dibeli suaranya di hari pencoblosan, santer terdengar.

Saya sendiri, saya tak tenang.

5 Juli 2014 pagi, kemarin, itu adalah hari terakhir saya membuka timeline twitter Triomacan2000 yang memiliki nama akun resmi @TM2000Back. Di sana, bau kebencian, hasutan serta dengki demikian kuat, menyengat hidung dan membuat saya tak lagi mampu memiliki energi positif setiap kali selesai melihat isi timeline di akun yang pernah di-suspend langsung oleh twitter pada tanggal 13 Juni tersebut.

Dari cuitan-cuitannya, sangat jelas akun yang mencap dirinya sendiri sebagai “akun intelijen publik” itu, sedang melakukan kampanye hitam terhadap calon presiden dari PIDP, Jokowi. Isu yang digorengnya sekarang: PKI. Komunisme.

Catatan ini ada hubungannya dengan isu tersebut.

Melalui catatan ini, saya ingin memberikan keterangan tentang foto saya yang telah direkayasa sedemikian rupa oleh pihak tak bertanggung jawab dengan cara mengambil foto-foto tanpa ijin, alias dicuri dari wall Facebook saya. Oleh orang tak bertanggungjawab tersebut, foto-foto itu disatukan, diedit, lalu diberi display teks di atasnya dengan kalimat-kalimat mengarahkan serta menuduh, penuh fitnah, dan akhirnya disebarkan dengan sengaja secara viral.

Selengkapnya, silahkan baca di blog Ucu Agustin: http://ucuagustinfilms.blogspot.com/2014/07/catatan-seorang-korban-kampanye-hitam.html

Say No to ISIS, ISIS Bukan Sunni

Sejak awal, saya mendedikasikan blog ini untuk Kajian Timur Tengah dari perspektif studi politik internasional (bukan studi agama). Bahkan saat membahas Palestina pun, selama ini saya menggunakan argumen-argumen politik, bukan agama. Tapi, sejak konflik Suriah, agama/mazhab sangat dominan diposisikan sebagai akar masalah (pivotal factor). Kalau saya, lebih setuju melihat agama trigger/pemicu, bukan akar; akarnya adalah ekonomi. Rumusnya: follow the money, lihat siapa yang meraup keuntungan terbesar dari konflik. Selengkapnya aplikasi teori resolusi konflik untuk Suriah baca di sini:http://dinasulaeman.wordpress.com/2013/03/23/resolusi-konflik-syria/)

Kini, seiring merebaknya teror mengerikan yang dilakukan ISIS/ISIL di Irak, media-media mainstream dan media-media nasional (apalagi media Islam-takfiri), kembali terjebak (atau sengaja) memetakan konflik ini sebagai Sunni vs Syiah. Mereka menyebut ISIS/ISIL sebagai militan Sunni yang sedang melawan Syiah. Benarkah? Mau tak mau, para penstudi HI perlu mengetahui ‘pemetaan mazhab’ ini, supaya tidak salah kaprah saat menganalisis.

Berikut saya posting ulang tulisan lama saya. Yang jelas, saya yakin, setiap Sunni sejati (bukan takfiri), pasti menolak bila militan sesadis para pembantai ini dikatakan sebagai ‘pejuang Sunni’:

notorious isis-2notorious isis-3

 

Sunni = Takfiri?

Dina Y. Sulaeman*
Mau tak mau, ada beberapa istilah yang sepertinya harus kita pahami bersama saat menganalisis atau membaca analisis tentang konflik Timur Tengah. Beberapa istilah yang sering muncul dalam membahas konflik Suriah adalah takfiri dan wahabi. Era Muslim baru-baru ini dalam sebuah artikel yang mengutip pidato Sayyid Hassan Nasrallah, membuat judul yang provokatif : Hasan Nasrallah : Kami Tidak akan Biarkan Suriah Jatuh Ke ‘Takfiri’ (Muslim Sunni).

Eits, sebentar, judul ini cukup mengganggu pikiran saya. Takfiri adalah perilaku mengkafir-kafirkan sesama muslim dan melakukan kekerasan terhadap orang yang mereka anggap kafir. Apakah benar takfiri itu adalah muslim Sunni? Saya tanya kepada Anda semua yang mengaku Sunni, apakah Anda menyukai perilaku demikian? Apakah Anda menyukai perilaku main serang ke sebuah lembaga atau sebuah kampung hanya dengan alasan lembaga itu kafir atau penduduk kampung itu kafir (muslim tapi karena dinilai ‘sesat’, jadi dikategorikan kafir)? Atau apa Anda setuju dengan perilaku pemberontak Suriah yang makan jantung mayat atau memutilasi mayat sambil berteriak takbir? Saya yakin, jawaban sebagian besar dari kita semua adalah TIDAK.

Baru-baru ini ada kejadian yang menurut saya membuktikan bahwa kaum takfiri itu beda dengan Sunni. Kejadian ini berlangsung di kantor Grand Shaikh Al-Azhar Kairo Mesir (Masyikhah). Wah, para syekh Al Azhar ini kurang Sunni apa? Mereka kan benar-benar Sunni tulen, sudah tingkat ulama ‘Grand” pula? Tapi, kantor mereka digeruduk oleh para demonstran dari kalangan ‘Islam radikal’ (ini istilah yang dipakai dalam berita ini. Tapi, di berita itu disebutkan pula bahwa mereka meneriakkan yel-yel dan cacian terhadap instansi Al-Azhar, Grand Shaikh Al-Azhar Prof. DR. Ahmad Thayeb, dan seluruh pegawai Al-Azhar. Mereka menyatakan bahwa Al-Azhar adalah instansi kafir. So tak salah lagi, inilah kaum takfiri itu. Bahwa para penentang ulama Al Azhar adalah kaum takfiri, bisa dibaca juga dalam pernyataan seorang Syekh Al Azhar, Dr. Ahmad Karimah di sini.

Saya pun bertanya kepada Bapak Agus Nizami, blogger http://www.kabarislam.wordpress.com dan owner web http://www.media-islam.or.id yang aktif memberikan analisis konflik Timur Tengah dengan menggunakan landasan teks agama.  Berikut kutipan diskusi kami.

(lebih…)

Jokowi, Anis, dan Palestina

free-palestineKata beberapa pengamat politik yang secara selintas saya dengar di televisi atau saya baca di media online, Debat Capres hanya akan bermanfaat untuk swing voters (mereka yang belum menentukan pilihan), sementara bagi pemilih fanatik, apapun yang dikatakan Capres lawan, tidak akan memberi efek.

Sebagai seorang swing voter yang sejak 2001 mulai aktif menulis tentang perjuangan Palestina, terus-terang saja, saya respek pada pernyataan Jokowi dalam Debat Capres tadi malam (22/6/2014): akan membantu kemerdekaan Palestina dan akan mendukung masuknya Palestina sebagai negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Memang sangat mungkin, apa yang disampaikan Jokowi adalah ‘jualan’ atau hasil masukan timses-nya yang paham, bahwa di luar sana ada banyak swing voter yang pro-Palestina. Tapi, menurut saya, yang penting itu adalah keberanian Jokowi mengucapkannya. Sehingga, saya kelak bisa mengkritiknya bila dia tidak melakukan apa yang diucapkannya itu. Sama seperti saya bisa mengkritik Tifatul Sembiring menteri dari PKS, yang tak melakukan apa yang selama ini digembar-gemborkan PKS melalui demo-demo mereka. Surat terbuka saya untuk Tifatul bisa dibaca di sini: http://dinasulaeman.wordpress.com/2010/02/06/selamat-datang-israel-surat-untuk-pak-tifatul/

Dan pagi ini, saya  membaca sebuah berita di media online sungguh mengecewakan (tapi, tidak mengejutkan, karena itu artinya bersesuaian dengan mantan Presiden PKS, Tifatul), Presiden PKS Anis Matta menyebut misi Jokowi soal Palestina itu tidak penting. Saya membandingkan dengan beberapa media online lain, untuk mengecek akurasinya kalimat Anis ini, di media lain kata ‘penting’ memang tak diucapkan, tapi rupanya itu penambahan redaktur sesuai dengan konteks yang ditangkap. Selengkapnya kalimat Anis:

Bisnis.com:

“Tidak (terlalu penting), jadi itu bukan suatu yang spesifik. Itu sudah ada dalam konstitusi kita,”

Beritasatu.com:

“Tidak (penting),” kata Anis singkat saat ditanya wartawan usai debat capres di Hotel Holiday Inn, Jakarta, Minggu (22/6).

Lagipula, menurut dia, membantu kemerdekaan Palestina adalah tugas konstitusi.

“Bagi siapa yang memimpin pemerintahan. Jadi itu bukan suatu yang spesifik. Itu sudah ada dalam konstitusi kita,” kata Anis. 

Merdeka.com:

“Tidak, jadi itu bukan suatu yang spesifik. Hal itu sudah ada dalam konstitusi kita,” kata dia usai debat capres ketiga di hotel Holiday Inn Jakarta Utara, Minggu (22/6)

(lebih…)

Gilad Atzmon: Irak, AS, dan Lobi Yahudi

israel lobbyGilad Atzmon, penulis Yahudi yang selama ini gigih mengkritik Israel dan membela Palestina dan menyatakan “Kita semua ini adalah bangsa Palestina dan kita memiliki satu musuh yang sama. [yaitu Israel]”, memberi tahu kita bahwa kekacauan di Timur Tengah, termasuk perang Irak dan Suriah, adalah agenda Yahudi-Zionis. Ironisnya, justru sebagian kaum muslimin (termasuk media-medianya) mengira dan mempropagandakan bahwa konflik di Suriah dan Irak adalah lahan ‘jihad’. Mengapa mereka tak mengerahkan jihad itu ke Israel? Afalaa ta’qiluun (tidakkah kalian berpikir?)

Berikut ini terjemahan lepas saya atas artikel Gilad Atzmon.

Irak, AS, dan Lobi Yahudi

Menarik diperhatikan, betapa media-media arus utama mengerahkan energi dan upayanya untuk mengalihkan perhatian publik dari fakta penting: bahwa kekacauan di Irak saat ini adalah akibat langsung dari dominasi politik Yahudi di Barat selama dua dekade terakhir.

Ketika Amerika dan Inggris meluncurkan Perang Teluk kedua, sebuah perang yang kriminal, sesungguhnya yang memprovokasi mereka Zionis Neocons, sekelompok orang Yahudi yang sangat berpengaruh. Yang mereka dengungkan untuk memicu perang adalah “kita perlu membebaskan rakyat Irak dari diktator”. Kelompok Zionis Neocon ini pula yang mendorong AS, Inggris, dan negara-negara Barat lain untuk mengintervensi Iran, Libya, dan yang terbaru, Suriah.

Tapi Zionis Neocon bukan satu-satunya pemain Yahudi dalam permainan bengis ini. Mereka ditentang oleh kaum Yahudi progresif yang sebagian besarnya didanai oleh George Soros dan Open Society Institute-nya. Mereka disebut sebagai ‘Yahudi baik’ karena seolah antiperang. Namun sesungguhnya, mereka juga ingin menghancurkan Timur Tengah, namun dengan strategi yang berbeda. Mereka berencana untuk menghancurkan umat Islam melalui penggunaan Politik Identitas dengan menyebarluaskan paham pro-Gay, Lesbian, Feminis di wilayah tersebut.

Mengapa orang-orang Yahudi ini campur tangan dalam kehidupan Arab dan Muslim? Apa yang memotivasi George Soros dan Paul Wolfowitz untuk ‘merevolusi’ atau ‘membebaskan’ orang yang hidup ribuan mil jauhnya dari Manhattan atau Washington? Mengapa Lord Goldsmith (anggota Parlemen Inggris) memberikan lampu hijau untuk keterlibatan Inggris dalam perang Irak? Apa yang mendorong penulis Jewish Chronicle, David Aaronovitch untuk mengkampanyekan ‘perang kemanusiaan’ yang kriminal itu? Apa yang mendorong Lord Levy untuk menggalang dana perang bersama Tony Blair?

Pada tahun 2007, Amerika profesor ilmu politik James Petras, John Mearsheimer dan Stephen Walt mencapai kesimpulan bahwa kebijakan luar negeri Amerika didominasi oleh lobi Israel. Tentunya, istilah ‘Israel Lobby’ hanyalah sopan santun, nama politik yang (dianggap) benar untuk Lobi Yahudi. Tapi apa yang memotivasi lobi Yahudi untuk menghancurkan Irak, Libya dan Suriah? Apakah komitmen mereka terhadap Negara Yahudi?

Tidak butuh waktu lama bagi orang-orang Yahudi yang berpengaruh untuk belajar bahwa membeli seorang politisi Barat jauh lebih murah daripada membeli tank. Ketika Anda membeli seorang politisi Amerika atau Inggris, ia akan datang dengan tank dan tentara-tentara muda akan bersedia mati untuk Zion.

Tapi George Soros, pedagang Zionis yang sangat canggih, menggunakan metode yang lebih murah untuk mencapai kepentingan Yahudi di Timur Tengah. Alih-alih membeli politisi profesional, ia menginvestasikan uangnya untuk membeli aktor marginal dan identitas politik. Dia membuat LSM menjadi suatu sistem yang efektif untuk menjinakkan pemimpin potensial (di Timteng). Dia mendukung ‘kelompok kebaikan’ yang juga sangat baik untuk orang-orang Yahudi.

Tapi di sini ada masalah. Para pedagang Yahudi ini dan para pialang saham yang menjalankan AIAPC, LFI, CFI, Crif, dan Open Society Institute memang unggul dalam menjual komoditas dan saham. Mereka menunjukkan bakat dalam menciptakan kebutuhan palsu dan konsumerisme di tengah masyarakat Barat. Tapi mereka sesungguhnya tidak tertarik dalam memajukan Amerika dan Inggris. Mereka mengabdikan diri untuk kepentingan ras mereka sendiri, meskipun mereka pun sering tidak sepakat, apa sebenarnya kepentingan mereka itu.

Meskipun mungkin tidak sengaja, lobi Yahudi sering gagal untuk mencapai kepentingan jangka panjang Israel. Kehancuran Irak, misalnya, telah membuat Iran menjadi kekuatan super regional. Kegagalan Lobi Yahudi terbukti dari ketidakmampuan mereka memprediksi, bahwa aksi mereka hanya akan memperkuat Iran. Selain itu, telah menjadi jelas dalam beberapa hari terakhir bahwa Iran diposisikan secara unik untuk menyelamatkan Amerika dari kekacauan yang diakibatkan oleh Lobi Yahudi. Jelas, ini bukan kabar baik bagi Israel dan lobi.

[note: Media Barat menyebarluaskan berita bahwa Iran akan bekerjasama dengan AS untuk menyelesaikan konflik Irak, dan hal ini sudah dibantah oleh Iran--Dina].

Jika Amerika dan Inggris ingin tetap menjadi negara-negara besar, mereka harus mengidentifikasi faktor-faktor perusak dalam politik, media, dan keuangan mereka. Mereka harus meneliti motif lobi Yahudi dan mengenali bahaya dari kelompok ini. Kinilah waktunya untuk mengembangkan obat penawar yang diperlukan dalam menangani racun politik yang akut ini.[]
Note:

-Gilad Atzmon adalah penulis buku The Wandering Who? Sebuah Studi Politik Identitas dan Kekuatan Yahudi

-tentang betapa besar pengaruh lobi Yahudi dalam politik luar negeri AS, bisa dibaca di buku saya Obama Revealed

-tentang hakikat perang Suriah (yang kini telah meluas ke Irak) bisa dibaca di buku saya Prahara Suriah

-buku Israel Lobby in US Foreign Policy karya profesor HI, Mearsheimer, bisa diunduh gratis di internet, penting dibaca, terutama oleh penstudi HI.

New Release 2013

prahara suriah

New Release (2013)

"dokter cilik"
obama
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
"pelangi di persia"
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.145 pengikut lainnya.