Kajian Timur Tengah

Beranda » Afrika Selatan » Sports and IR (Olahraga dan Hubungan Internasional)

Sports and IR (Olahraga dan Hubungan Internasional)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

Hari ini saya berkesempatan bertemu dan selfie dengan Menpora Imam Nahrawi saat beliau memberikan kuliah umum di Unpad Training Center Bandung. Ini saya share foto hasil kamera hp saya jadi harap maklum kalau rada blur). Foto selfienya? Buat kolpri aja 🙂

Yang ingin saya share ini adalah isi sebagian kuliah pak Imam yang menurut saya menarik untuk diteliti lebih lanjut oleh penstudi HI. Apalagi, saya tadi google, rupanya sudah ada yang menulis di jurnal bahwa olahraga dapat menjadi subjek atau alat dalam HI.

Olahraga dapat digunakan oleh negara atau blok geopolitik untuk menampilkan superioritas mereka atau karakteristik lain yang diinginkan. Kemenangan dalam olahraga dapat digunakan oleh negara untuk menunjukkan kekuatannya (Kobierecki, 2013).

Nah, proses Indonesia mencapai kesuksesan dalam Asian Games 2018 (menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang masuk 10 besar, bahkan duduk di rangking ke-4 setelah China, Jepang, dan Korsel) ternyata menyimpan banyak hal yang menarik.

Pak Imam menceritakan, di awal prosesnya, yang dilakukan adalah meninjau kembali ‘kontrak kerja’ (or something like that, saya lupa namanya). Dalam kontrak awal banyak hal yang dianggap tidak menguntungkan Indonesia.

Menurut Pak Imam, Pak Jokowi memerintahkan negosiasi ulang dan berpesan, “Tunjukkan bahwa kita bangsa yang besar!”

Dalam negosiasi ulang itu, ada 6 poin yang diminta Indonesia, yaitu daerah pelaksana minimal 3: Jakarta, Palembang, Jabar; olahraga asli Indonesia harus masuk (pencak silat), semua properti harus dikembalikan ke pemerintah, 100% voluntir haruslah orang Indonesia; 70% perangkat pertandingan harus dari Indonesia; dan sponsor harus 50-50 (50 dari dalam Indonesia; sisanya dari luar; di kontrak sebelumnya 70% dari luar).

Nego berhasil kecuali 1, Jabar tidak bisa dicantumkan sebagai penyelenggara, jadi hanya disebut 2 kota saja.

Yang saya garis bawahi, tips negosiasi dari Pak Imam, “Rupanya, kalo kita paksa bisa juga, asal kita percaya diri.”

Yup, faktor kunci dalam negosiasi itu memang kepercayaan diri yang tinggi. Para mahasiswa HI yang berminat jadi diplomat, pesan ini pegang baik-baik ya!

Hal lain yang menarik, faktor penting dalam kesuksesan para atlit meraih sedemikian banyak medali, selain bonus yang sangat besar, ternyata adalah pendekatan personal.

Menpora menceritakan bahwa presiden mengurusi sampai hal detil, misalnya dengan langsung mengontak Menpora bahwa ada matras pemain taekwondo di sebuah daerah yang rusak. Menpora pun melakukan pendekatan personal ke tiap atlit, menanyakan hal-hal di luar masalah latihan, misalnya kondisi tempat tidur, uang di dompet, mantan pacar, dll.

Pak Imam menyimpulkan, “Jadi untuk meraih prestasi, jangan pernah meremehkan hal-hal terkecil sekalipun.”

Saya pernah menulis di Fanpage ini, mengutip perkataan Nelson Mandela, “Olahraga memiliki kekuatan untuk mengubah dunia … ia memiliki kekuatan untuk menginspirasi. Ia memiliki kekuatan untuk menyatukan orang-orang dengan cara yang tidak dimiliki oleh yang lain. Olahraga berbicara kepada para pemuda dalam bahasa yang mereka pahami. Olahraga dapat menciptakan harapan di saat ketika yang ada hanya keputusasaan. Olahraga lebih kuat daripada pemerintah dalam merobohkan penghalang rasial.”

Afrika Selatan dulu adalah negara yang rasial, apartheid, dimana kaum kulit putih menindas kaum kulit hitam. Rezim apartheid Afsel runtuh tahun awal 1990-an berkat aksi boikot ekonomi dari berbagai negara dan masyarakat sipil dunia (hal inilah yang kini tengah diupayakan para aktivis antipenjajahan di seluruh dunia terhadap Israel; sebuah negara apartheid dan rasis; di antaranya melalui gerakan#BDS ).

Namun luka akibat rasialisme yang sudah berlangsung lama tak bisa sembuh begitu saja. Yang dilakukan Presiden Mandela antara lain adalah menggunakan pertandingan rugby sebagai upaya menjebol tembok kebencian. Secara tradisional, rugby sebagai olahraga kaum kulit putih dianggap sebagai simbol dari opresi terhadap warga kulit hitam, sehingga rugby tidak mereka sukai. Mandela hadir dalam Rugby World Cup 1995 dengan menggunakan jersey hijau-emas yang saat itu sangat diasosiakan dengan rasisme, sementara para anggota tim rugby Afsel berbesar hati belajar menyanyikan lagu kebangsaan baru Afsel (yang semula adalah lagu protes kaum kulit hitam).

Indonesia, yang sejak beberapa tahun terakhir terpecah-belah akibat digunakannya SARA dalam politik membutuhkan sebuah perekat baru, perasaan ‘kekitaan’, harapan, dan perasaan bangga sebagai orang Indonesia. Olahraga bisa menyediakan hal itu.

Hanifan, atlit pencak silat, telah menunjukkan upayanya dalam hal ini. Ia meraih emas, memberikan kegembiraan dan kebanggan bagi bangsa Indonesia, lalu merangkul kedua calon presiden Indonesia.

“…..bangsa Indonesia itu harus saling menghargai, khan banyak di media sosial yang saling memaki. Padahal, Indonesia tidak seperti itu, saya ingin mempererat silaturahmi,” kata Hanifan (dikutip dari Tribunnews 29/8).

Mari men ❤ i Indonesia

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: