Kajian Timur Tengah

Beranda » Perang Melawan Terorisme » Yaman: Perang Obama Selanjutnya?

Yaman: Perang Obama Selanjutnya?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Semua seperti kebetulan. Kebetulan, sepekan sebelum Natal, AS mengebom beberapa lokasi di Yaman yang dicurigai sebagai sarang Al Qaida. Kebetulan juga, di awal Desember, saat mengumumkan penambahan 30.000 pasukan AS ke Afghan, Obama sudah menyebut-nyebut Yaman,  “Where al Qaeda and its allies attempt to establish a foothold — whether in Somalia or Yemen or elsewhere — they must be confronted by growing pressure and strong partnerships.”

Selama tahun 2009 pun, AS sudah menggelontorkan dana 70 million dollar untuk membantu pemerintah Yaman memberantas terorisme.

Lalu, kebetulan pula, di malam Natal seorang pemuda Nigeria yang latar belakangnya dengan sangat mudah dilacak bahwa dia punya kecederungan radikal dan konon punya link dg Al Qaida di Yemen, bisa lolos pemeriksaan di bandara, lalu melenggang naik Northwest 253 menuju Detroit. (Padahal, sudah umum diketahui, orang-orang dengan nama Islami pasti mengalami pemeriksaan jauh lebih ketat di bandara-bandara di negara Barat-bahkan cenderung berupa pelecehan-, dibanding orang dengan mana ‘biasa’). Kebetulan pula, dia membawa bahan peledak dan kebetulan, ada penumpang lain yang memergokinya. Gagallah upaya peledakan pesawat dengan 300 penumpang itu.

(Pertanyaan: owalaaa… pada kemana ya, para petugas FBI-CIA yang canggih seperti di film2 itu?).

Lalu, Al Qaida, entah dari mana, mengirimkan pesan lewat internet mengakui bahwa upaya peledakan Northwest 253 didalangi oleh mereka. Dan sudah bisa ditebak cerita selanjutkan: para politisi dan media AS beramai-ramai berteriak bahwa Yaman adalah sarang teroris. Obama pun mengeluarkan heroiknya, “Kami akan terus menggunakan semua elemen kekuatan nasional untuk melucuti dan mengalahkan kekerasan kaum ekstrimis yang mengancam kita, tak peduli apa mereka dari Afghanistan, Pakistan, Yemen, atau Somalia, atau dimanapun mereka merencanakan upaya penyerangan terhadap tanah air AS.

Pemerintahan Obama pun mengumumkan akan menaikkan dana bantuan pemberantasan terorisme kepada pemerintah Yaman 3 kali lipat pada tahun 2010 ini (3×70 million dollar!)

Pertanyaan besarnya:

1. Mengapa semua ‘kebetulan’ itu bisa terjadi? Mengapa Obama sedemikian ngotot ingin melanjutkan perang? Benarkah demi melindungi rakyat AS? Mengapa bukan pengamanan bandara saja yang masih bolong-bolong itu diperkuat? Lalu, menyumbang 4 x 70 Million dollar ke Yaman, di saat perekomian AS masih sangat kacau akibat krisis global, tidakkah itu justru merugikan rakyat AS sendiri?

2. Apa apa sebenarnya di Yaman? Mengapa pemerintah Yaman tenang-tenang saja ada tentara asing membunuhi 120 warganya? Siapa sebenarnya yang jadi sasaran perang melawan terorisme di Yaman?

Berikut ini jawaban untuk pertanyaan pertama (jawaban untuk pertanyaan kedua, insya Allah saya tulis lain waktu).

a. Kebetulan yang selalu berulang

Tahun 1898, secara misterius, kapal USS Maine tenggelam di perairan Kuba, publik AS marah dan meletuslah “Spanish-American War”. Hasilnya, kemenangan ada di pihak AS; hegemoni Spanyol di negara-negara Amerika Selatan bisa dienyahkan dan AS lah yang menjadi dominan di sana.

Tahun 1941, Jepang menyerang Pearl Harbour dan menewaskan lebih dari 2000 personil militer AS. Publik AS marah, dan tentara AS pun mendapat justifikasi untuk melibatkan diri di PD II. Kelak kemudian diketahui bahwa Washington sebenarnya sudah tahu ada rencana penyerangan itu, namun tetap diam demi kepentingan yang lebih besar. Pasca PD II, AS pun meraih posisi sebagai kekuatan superpower dunia.

Tahun 1964, bentrokan di Teluk Tonkin memberi justifikasi bagi Presiden Lyndon Johnson untuk memberangkatkan pasukan perangnya di Vietnam.

Yang paling mutakhir adalah tahun 2001. Orang-orang yang latar belakangnya sudah diketahui ada link dengan Al Qaida diizinkan masuk AS, ikut pelatihan pilot, dan akhirnya menerbangkan pesawat yang kemudian menabrakkan diri ke Menara WTC. Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab, mengapa pesawat itu bisa lolos dari radar; sistem pertahanan udara AS sedemikian canggihnya, sehingga bila ada pesawat yang keluar jalur, dalam sekejap squad khusus akan terbang mengejar dan menembaknya. Tapi, kemana semua sistem pertahanan canggih itu?

Tragedi 9/11 memberi justifikasi dan dukungan publik bagi dilancarkannya Perang Melawan Terorisme yang dimulai pada era Bush. Era Obama, isu terorisme tetap dipakai untuk melanjutkan pendudukan Irak, mengekskalasi perang di Afghanistan, lalu memperluasnya ke perbatasan Pakistan, dan kini rencananya, ke Yaman.

b. Perang memang merugikan RAKYAT AS, tapi menguntungkan kaum elit

Ya, ya, ya, rakyat AS memang sedang mengalami krisis ekonomi. Pengangguran meningkat tinggi. Orang-orang banyak kehilangan rumah karena tak sanggup bayar cicilan. Biaya kesehatan meroket tinggi sementara subsidi semakin dikurangi. Tapi itu kan RAKYAT?

Sementara, pengambil keputusan perang bukanlah RAKYAT. Mereka adalah pemilik saham di perusahaan-perusahaan minyak, senjata, bahkan perusahaan keamanan privat. Perang adalah industri dan tambang uang. Dan, mesin-mesin perang pun kembali disiapkan. Pabrik-pabrik senjata tak perlu lagi khawatir kekurangan pembeli. Industriawan minyak akan berpesta karena perang akan menaikkan harga minyak. Perang masih akan terus berlangsung lama.

Seperti kata senator Yahudi pro Zionis AS, Joe Lieberman, “Iraq was yesterday’s war, Afghanistan is today’s war. If we don’t act preemptively, Yemen will be tomorrow’s war.”

Iklan

10 Komentar

  1. F4iz mengatakan:

    Membaca tulisan-tulisan Bu Dina, ternyata begitu ya kondisi dunia saat ini….. Terima kasih, Bu.. 🙂

  2. Wahyudi mengatakan:

    after Yemen, Iran ?

    • dinasulaeman mengatakan:

      @Wahyudi: kalau elit AS masih rada waras sih, kayaknya enggak. Soalnya selama ini yg jadi sasaran kan negara2 gagal atau hampir gagal (failed state) spt Afgan, Irak, Yemen, ke-3 nya negara yg sangat lemah. Beda dgn Iran yg masih sangat kuat. Kecuali kalo elit AS sdh (terlalu) kehilangan akal sehat, apa saja bisa terjadi.

  3. Syaifullah Zaini mengatakan:

    Salam bu Dina, seandainya sebagian besar wanita Indonesia memiliki kapasitas dan kualitas seperti bu Dina, tentu keadaannya tidak seperti yang kita saksikan sekarang, materialis, hedonis dan primitif dan tidak sadar sedang dijadikan jajahan AS dan Zionis (la’natullah alaik).

  4. Wahyudi mengatakan:

    Itu sebabnya Iran berusaha dilemahkan dg menciptakan kerusuhan2 / demo2 kelompok oposisi ?

  5. rio2000 mengatakan:

    kasihan rakyat amerika – dibodohi elit amerika

    persis kaya indonesia cicak selalu kalah sama buaya :mrgreen:

  6. Padly mengatakan:

    setelah Yaman…Indonesia mungkin gak Bu? kan Indon juga negara gagal…(udah gatal nih tangan, hehehe)

  7. […] menggelontorkan dana ratusan juta dollar untuk membantu Presiden Saleh memberantas terorisme (baca bagian 1). Jauh-jauh hari, Al Fadhli, pemimpin gerakan Koalisi Selatan yang beraliran Salafi dalam […]

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: